SEHARI BEDAH BUKU DAN BEDAH KEHIDUPAN

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang menghidupkan hati hamba-hamba-Nya yang beriman dengan Ilmu dan Hidayah, menunjuki jalan lurus dan memberikan pertolongan guna menindaklanjuti jalan itu untuk beramal sholeh dalam rangka melaksanakan pengabdian hakiki kepada-Nya, maka jadilah, seorang hamba yang awalnya tidak tahu apa-apa menjadi mengerti, yang awalnya dho’if menjadi kuat, yang awalnya hina menjadi mulia, menjadi makluk sempurna (Insan Kamil). Menjadi manusia yang mampu menapak kehidupan ke depan, mampu melawati segala rintangan dan menundukkan tantangan untuk mencapai segala cita-cita dan harapan. Sholawat dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Habiibinaa, Baginda Rasulullah SAW, Para Keluarga dan Sahabat serta Pengikut-Pengikutnya sampai hari kiamat, semoga Allah meridhoi mereka.

Manusia yang terlahir tidak tahu apa-apa dan papa, dalam menjalani hidup dan kehidupannya, meski dilengkapi dengan penglihatan, pendengaran, akal dan pikiran yang sehat, namun terkadang kebanyakan cenderung terjebak dalam kebutaan matahati. Tidak memiliki kreasi dan kecerdasan batin serta kepekaan rasa terhadap proses romantika kehidupan yang sedang dijalani, terlebih daya cipta untuk meningkatkan taraf kehidupan, sehingga menjadi manusia yang cenderung bermalas-malasan, jumud dan kurang produktif, bahkan sebagian mereka malah berbuat khianat, berbuat kerusakan di muka bumi dan menzalimi diri sendiri, hal itu sebagi akibat karena mereka itu kurang memiliki pandangan masa depan yang cemerlang terhadap akibat perbuatan yang dilakukan. Itu bisa terjadi, karena sebagian besar manusia, kesibukannya dalam mengelola kehidupan duniawi yang sementara ini hanya dilakukan atas dasar nafsu syahwat dan akal belaka sehingga kering dari inspirasi dan jauh dari sumber Intuisi.

Dengan ilmu dan amal sholeh yang benar, sesungguhnya manusia berpotensi menjadi makhluk sempurna “Insan Kamil”, menjadi manusia yang sehat lahir dan batinnya, menjadi kholifah Allah di muka bumi. Lahirnya penuh dengan inspirasi dan batinnya dekat dengan sumber intuisi, namun itu manakala ilmu dan amal sholeh tersebut mencakup dua aspek, yakni ilmu lahir dan ilmu batin, amal sholeh lahir dan amal sholeh batin. Untuk mencapai hal tersebut, pengamalan ilmu dan pelaksanaan amal sholeh harus terbimbing oleh guru ahlinya. Untuk itulah, maka manusia tidak boleh cepat puas hanya dengan ilmu dan pemahaman yang telah dimiliki, melainkan harus terus rajin belajar, menambah ilmu pengetahuan, mengadakan pengamatan dan penelitian, memadukan ilmu lahir dengan ilmu batin, mempertemukan konsep bumi dan konsep langit, memadukan ayat-ayat yang tersurat dengan ayat-ayat yang tersirat.

Ilmu yang sudah didapat harus diamalkan dengan sungguh-sungguh, tapi bukan dalam arti hanya untuk diajarkan kepada orang lain saja sehingga dengan itu orang berilmu tersebut mendapatkan sumber kehidupan, melainkan diterapkan dalam kehidupan, membaca realita dan fenomena dengan pikiran positif dan benar tanpa salah prasangka. Padahal semua orang tahu bahwa kehidupan ini tidak ubahnya seperti samudera lepas tanpa tepi, tidak selalu tenang dan damai, bahkan lebih sering bergolak tidak terkendali. Untuk menyikapi hal tersebut, tentunya manusia tidak cukup hanya membekali dirinya dengan ilmu yang lahir saja, melainkan harus dibarengani dengan hidayah dan pertujuk yang tiada henti, hidayah dan petunjuk Allah itulah yang dimaksudkan dengan intuisi, karena tanpa intuisi mustahil manusia mampu menerbitkan daya cipta pada dirinya sendiri. Meminjam ungkapan para ahli, tanpa ispirasi dan intuisi keberadaan manusia di muka bumi ini tiada arti.

 

Akhirnya, ketika seorang salik telah berhasil membangun jati dirinya sebagai “Insan Kamil”, menjadi kholifah bumi, “Kholifatulloh Fil Ardhi”, maka keberadaannya di muka bumi tidak sia-sia, menjadi pribadi yang produktif dan penuh daya cipta dan bahkan jadi seperti pelita yang memancarkan sinar. Menjadi manusia utama yang tidak hanya mampu menerangi jalan bagi para musafir jalanan saja, namun juga menarik laron-laron nakal untuk berkumpul dan mencari jalan kehidupan di dalam komunitas yang berhasil dibangunnya. Itulah para Insan Mulia, dimana saja mereka berada mampu membagi rahmat Allah bagi yang berhak menerima, sebagaimana telah dilakukan oleh para pendahulu mereka, para tokoh hidupan yang hasil karyanya masih dapat kita nikmati sampai sekarang  karena telah berhasil mengikuti uswatun hasanah yang utama, yakni Habiibinaa Baginda Nabi Muhammad SAW.

Semarang, 5 Nofember 2011

Muhammad Luthfi Ghozal

Percikan Samudera Hikmah : Syarah Kitab al-Hikam

Penulis: Muhammad Luthfi Ghozali 

:: Pengasuh Ponpes Al-Fithrah, Gunungpati ::

Penerbit: Siraja, 2011

Kitab al-Hikam karya Syekh Ibn Atthaillah al-Iskandari, Mursyid besar generasi ketiga dalam Tarekat Syadziliyyah, menempati kedudukan khusus dan istimewa dalam tradisi Tasawuf secara umum. Pengaruhnya tak diragukan lagi; membentang ke hampir semua wilayah Islam yang ada di muka bumi. Bahkan bisa dikatakan, kitab al-Hikam menjadi sumber utama untuk memahami perspektif ajaran Tasawuf dalam tradisi Syadziliyyah pada khususnya, dan sekaligus untuk memahami tema universal dalam psikologi-ruhani-mistis di dalam kerangka ajaran Tasawuf pada umumnya, sehingga ia juga dibaca dan diepelajari oleh para sufi dan ahli tarekat di luar Syadziliyyah.

Telah banyak syarah (penjelasan) atas al-Hikam yang ditulis oleh sufi-sufi generasi selanjutnya, seperti seperti Abdullah As-Syarqawi (Syarh al-Hikam), Abdul Majid as-Syarnubi (Syarh al-Hikam), Syekh Ahmad Zarruq (al-Futuhat ar-Rahmaniyyah dan Miftah al-Fadhail), Ibn Abbad ar-Rundi (Syarh al-Hikam) dan Ibn Ajibah (Iqazh al-Himam). Syarah ini dipakai sebagai sumber sekunder untuk mengajarkan kitab al-Hikam di berbagai zawiyah tarekat di seluruh dunia, termasuk pula di kalangan pesantren di Indonesia.

Buku ini adalah salah satu dari sedikit syarah al-Hikam yang lahir dari penulis asli Indonesia – dan karenanya syarah ini memiliki posisi yang unik. Ada beberapa alasan. Pertama, setiap karya keruhanian, selain memuat tema yang universal, juga mengandung elemen “lokal,”  yakni setidaknya dipengaruhi oleh faktor kapabilitas penulisnya (daya nalar, maqam spiritual, kemampuan bahasa, dan sebagainya), oleh faktor ruang (lingkungan yang membentuk penulisnya), dan waktu (zaman di mana sebuah karya ditulis). Karena itu, karya semacam ini mampu membawa pembaca yang hidup dalam tata-situsi ruang dan waktu yang relatif sama untuk memahami suatu dunia yang lain, sebuah dunia ruhani, yang sumbernya berasal dari tata-situasi yang berbeda dalam hal bahasa, jarak dan waktu. Karya semacam ini bisa menyentuh unsur humanitas esensial pembaca dengan cara membangkitkan kebutuhan dan aspirasi bersama, karena ditulis dalam konteks yang relatif familiar dari segi bahasa, budaya dan waktu. Kedua, syarah ini ditulis bukan hanya berdasarkan analisis intelektual belaka; tetapi, ia juga ditulis berdasarkan pengalaman ruhani penulis, dan berdasarkan interaksi “esoteris” penulis dengan setiap elemen lahir dan batin yang dikandung dalam kitab al-Hikam.

Kyai M. Luthfi Ghozali, sebagai imam khususi dalam Tarekat Qadiriyyah-Naqsybandiyyah al-Utsmaniyyah, telah melakukan semacam olah-ruhani sebelum dan selama menulis syarah ini. Karenanya, ada unsur “kesinambungan ruhaniah” dalam syarah ini dengan kitab aslinya (dan, boleh jadi, dengan penulisnya); hal ini pada gilirannya menyebabkan syarah ini memiliki nilai lebih dan otoritatif.

Untuk lebih memahami dan mengapresiasi karya spiritual klasik ini, ada baiknya kita tengok dulu situasi historis yang melingkupi penulis al-Hikam dan tradisi tasawuf pada zamannya – tata-situasi dan pribadi macam apa yang melahirkan seorang tokoh tasawuf dan karya yang dirawat dan berpengaruh besar dalam dunia Islam selama berabad-abad?

Dalam tasawuf ada ungkapan yang memiliki makna berlapis: “sufi adalah putra waktu.” Maka, zaman seperti apakah yang telah membentuk karakter luar biasa seperti yang dicontohkan oleh Syekh Ibn Atthaillah dan banyak sufi agung lainnya? Dunia Tasawuf pada saat itu mengalami apa yang bisa dikatakan sebagai kristalisasi ajaran, yang salah satu ekspresinya adalah lahirnya tarekat dan penulisan risalah-risalah penting tentang ajaran Tasawuf. Tetapi di sini kami hanya akan membatasi diri pada tradisi yang relevan dengan Syekh Atthaillah, yakni tasawuf maghribi pada umumnya, dan tradisi Tarekat Syadziliyyah pada khususnya.

Tarekat Syadziliyyah, yang didirikan oleh Syekh Abu Hasan al-Syadzili, berakar dalam tradisi tasawuf maghribi. Kecenderungan utama Tasawuf Maghribi sangat dipengaruhi oleh seorang sufi besar, seorang yang diyakini telah menempati maqam Qutb a;-Awliya, Syekh Abu Madyan dari Tilimsani. Syekh Abu Madyan ini menguasai kandungan kitab Tasawuf penting, semisal ar-Risalahkarya Abu Al-Qasim Al-Qusyairi dan Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali.. Syekh Abu Madyan juga berteman dan berguru kepada Syekh Ahmad Rifa’i, seorang Wali Qutub pendiri Tarekat Rifa’iyyah di Irak. Selain itu Syekh Abu Madyan juga menerima khirqah (jubah kesufian) dari Sulthan al-Awliya Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.  Syekh Abu Madyan ini hidup sezaman dengan sufi agung lainnya dari kawasan Andalusia (Spanyol), Syekh Akbar Ibn ‘Arabi, sufi masyhur sekaligus kontroversial karena dianggap sebagai tokoh penting dalam penyebaran ajaran wahdat al-wujud. Salah satu murid Syekh Abu Madyan yang juga dianggap sampai ke posisi Qutub adalah Syekh Abdus Salam ibn Masyisy. Beliau ini mengabdikan diri untuk berdakwah. Keinginannya adalah menjaga kemurnian ajaran Islam di tengah-tengah suku Berber yang gemar pada praktik perdukunan dan sihir. Belakangan beliau kemudian mengundurkan diri di puncak gunung yang bernama Jabal ‘Alam, yang berada di kawasan Habt di Maghribi. Di sinilah kelak beliau bertemu dengan murid utamanya, yang juga penerus spiritualnya yang masyhur, Syekh Abu Hasan al-Syadzili.

Seperti yang sering terjadi di lembaga apapun, pendiri Syadziliyyah mewariskan “ruh”, bukan kerangka “bangunan”. Beliau menyerahkan pengembangan kerangkanya kepada para pewarisnya. Murid pertama yang mengemban amanah penting ini adalah Syekh Abu Abbas al-Mursi. Syekh Abbas al-Mursi inilah orang pertama yang membangun zawiyah khusus di sekitar masjid Aleksandria, Mesir. Salah satu murid yang berhasil menangkap “ruh” ajaran Syekh Abu Hasan Syadzili melalui Syekh Abbas al-Mursi adalah Syekh Ibn Atthaillah, melalui karyanya yang paling terkenal, Kitab al-Hikam. Berkat popularitas al-Hikam ini, tarekat Syadziliyyah bisa diterima kembali di kawasan Afrika Utara, tempat di mana tarekat ini pernah disingkirkan dari sana.

Nama lengkapnya Syekh Ibn Atthaillah adalah Syekh Ahmad ibn Abi Bakr Muhammad ibn Abi Muhammad Abdul Karim ibn Abdur Rahman ibn Abdullah ibn Ahmad ibn Isa ibn al-Husain ibn Athaillah al-Iskandari. Diperkirakan beliau lahir sekitar tahun 650 H. Sejak kecil beliau telah dipersiapkan untuk menjadi ahli fiqh mazhab Maliki. Beliau berguru kepada ulama-ulama yang terbaik di bidangnya, seperti bidang tata bahasa, hadits, tafsir, ilmu kalam dan fiqh. Kakeknya cenderung kurang menyukai ajaran Sufi dan bahkan memusuhi Syekh Abu Abbas al-Mursi, guru besar  generasi kedua dalam Tarekat Syadziliyyah. Bahkan Syekh Athaillah sendiri pada mulanya berseberangan dengan Syekh Abbas al-Mursi. Pada masa mudanya Syekh Ibn Athaillah sudah terkenal sebagai faqih mazhab Maliki yang mumpuni. Beliau pernah beradu argumentasi dengan beberapa murid Syekh Abu Abbas al-Mursi.

Namun akhirnya beliau menemui langsung Syekh Abu Abbas al-Mursi untuk membahas beberapa masalah agama. Pertemuan ini menjadi saat yang menentukan dalam hidupnya. Beliau akhirnya justru menjadi murid Syekh Abu Abbas al-Mursi dan menjadi salah satu murid kesayangannya. Bahkan Syekh Abu Abbas al-Mursi sudah meramalkan bahwa Syekh Ibn Athaillah tidak akan meninggal sebelum menjadi dai yang menyeru ke Jalan Allah. Dan perkiraannya itu terbukti. Di Kairo, Syekh Ibn Athaillah menghabiskan sisa hidupnya sebagai Guru Sufi sekaligus faqih bermazhab Maliki yang termasyhur. Selain menjadi Mursyid Tarekat Syadiziliyyah, Syekh Ibn Athaillah juga menjadi juru dakwah dan mengajar di berbagai madrasah dan institusi besar seperti Al-Azhar. Pada masa-masa ini pula Syekh Athaillah dikenal juga membela ajaran Sufi dari serangan Ibn Taimiyyah. Syekh Ibn Athaillah sendiri sempat bertemu dengan Ibn Taimiyyah dan melakukan dialog. Namun dialog ini tidak menimbulkan perdebatan sengit lebih lanjut dan diakhiri dengan sikap saling menghormati. Syekh Ibn Athaillah meninggal pada bulan Jumadilakhir tahun 709 H/1309 M. Makamnya di al-Qarrafah al-Kubra hingga kini terkenal sebagai makam keramat dan diziarahi oleh banyak orang Islam.

Syekh Atthaillah mewariskan beberapa karya. Kitab al-Hikam adalah kitab yang meski sangat populer namun menurut menurut keterangan Syekh Zarruq, kitab ini tidak ditulis sendiri oleh Syekh Ibn Athaillah, namun didiktekan kepada muridnya yang bernama Syekh Taqiyyuddin as-Subki, seorang ahli fiqh dan kalam yang terkenal akan ketelitian dan kejujurannya.  Kitab karyanya yang lain adalah Miftah al-Falah wa Mishbah al-Arwah, yang berisi penjelasan tentang metode zikir. Di dalamnya beliau memaparkan beberapa jenis zikir dan Asma Allah yang cocok untuk berbagai kondisi murid. Kitab At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir merupakan penjelasan ajaran Tarekat Syadiziliyyah tentang berbagai bentuk kebajikan, seperti ikhlas, harapan, cinta, dan sebagainya. Lathaif al-Minan merupakan kitab yang menjelaskan biografi dua tokoh Tarekat Syadziliyyah dan ajaran-ajarannya, yakni biografi Syekh Abu Hasan al-Syadzili dan Syekh Abu Abbas al-Mursi. Di dalamnya juga dipaparkan keterangan tentang Wali Allah dan beberapa amalan utama (zikir, hizb dan doa) dua Wali Allah tersebut.  Kitab Al-Qash al-Mujarrad fi Ma’rifat al-Ism al-Mufrad, yang menyajikan pembahasan ringkas Asma al-Husna, dengan pemaparan teori metafisika Asma al-Husna. Kitab Taj al-Arus al-Hawi li Tahdzib an-Nufus, berisi kutipan-kutipan dari al-Hikam, at-Tanwir dan Lathaif.

Mengenai karamahnya, Al-Munawi dalam Kitab Al-Kawakib al-Durriyyah mengisahkan, “Syekh Kamal ibn Humam berziarah ke makam Syekh Athaillah dan membacakan surat Hud. Sampai pada ayat yang artinya, “Di antara mereka ada yang celaka dan bahagia …” mendadak beliau mendengar suara Syekh Athaillah dari makam: “Wahai Kamal, tak ada yang celaka di antara kita.” Kisah karamah lainnya menyebutkan bahwa suatu ketika seorang muridnya menunaikan haji. Di Mekah murid itu melihat Syekh Ibn Athaillah sedang thawaf. Dia juga melihat gurunya itu berada di maqam Ibrahim dan Arafah. Saat pulang sang murid bertanya kepada teman-temannya apakah waktu itu sang guru berangkat haji. Semua murid bersaksi bahwa Syekh Athaillah tidak pergi haji waktu itu. Murid itu terkejut dan kemudian menemui Syekh Athaillah. Wali Allah ini kemudian bertanya kepada si murid, “Siapa yang kau temui di sana?” Muridnya menjawan, “Saya melihat guru ada di sana…” Syekh Athaillah menjawab, “Rijal Allah itu bisa memenuhi dunia. Kalau saja Wali Qutub dipanggil dari liang lahatnya, niscaya dia akan menjawab.”

***

Demikian sketsa ringkas biografi Syekh Athailah. Sebelum kami tutup pengantar ringkas ini, perlu diperhatikan bahwa kitab al-Hikam ini adalah kitab tasawuf yang bernilai sastra. Dalam konteks ini, al-Hikam adalah kesusastraan esoterik (spiritual). Kandungannya tak hanya berhubungan dengan  makna lahir dan makna batin, makna simbol, atau keindahan, tetapi mengandung semacam elemen “kegaiban” dan “pencerahan spiritual” karena ia lahir dari wilayah gaib yang suci. Tulisan sufi dan Wali, adalah atsar (jejak) dari seorang mukmin – dan seperti sabda Nabi, “atsarun mu’minin barakatun” (jejak orang mukmin itu berkah). Karenanya, para pengamal tasawuf pada umumnya, dan tarekat pada khususnya, dalam membaca kitab tasawuf, apapun bentuknya, tidak sekedar untuk mendapatkan ilmu, untuk menikmati pesona keindahannya, tetapi juga untuk mengharapkan barakah, sesuatu manfaat gaib yang mengalir tanpa disadari oleh akal dan bahkan tanpa diketahui kesadaran kita.

Karya Tasawuf yang agung itu, jika dibaca dengan benar dan dengan segala kerendahan hati, dan apalagi jika dengan bimbingan Mursyid, akan bersifat seperti badai yang membuka pintu persepsi, kesadaran dan intuisi kita. Kekuatan transformatifnya mampu mengguncang aristektur keyakinan kita, mengubah cara pandang kita, dan menguak berbagai lapisan dimensi yang melampaui batasan ruang dan waktu – dimensi yang lazim kita sebut dimensi keruhanian, yang gaib dan memuat misteri hikmah yang mencerahkan. Kekuatan transformatif inilah yang membuat banyak karya Sufi tak pernah aus oleh gesekan zaman, menjadi mata air inspirasi yang tiada habisnya, sehingga seakan-akan kitab-kitab Tasawuf semacam itu menjadi semacam “karya abadi.” Dan pada akhirnya, semoga setelah membacasyarah yang elok ini, meminjam ungkapan seorang sastrawan besar, “we are not the same when we put down the the work as we were when we took it up.”

Sumber: http://rumahcahaya.blogspot.com/2011/09/percikan-samudera-hikmah-syarah-kitab.html

MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI

Percikan Samudera Hikmah: Syarah Hikam Ibnu Atho’illah As Sakandari

Jakarta: Siraja, 2011

Ed. 1. Cet. 1;xvi, 596 hlm; 23 cm

ISBN 978-979-3542-13-3

Cetakan Ke-1, Oktober 2011

Bagi yang berminat silahkan pesan/sms di :

Nama : Tri Maskurin

Hp. 085726337391

Harga : Rp 120 000,- (belum ongkos kirim)

TIADA KEBERHASILAN TANPA PENGORBANAN

 Allahu Akbar, 9X Allahu Akbar walillahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Ta’ala, Tuhan Semesta Alam, yang tiada henti hentinya telah melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita semua, umat manusia di seluruh belahan bumi ini, terlebih kepada kita pribadi saat ini, di saat yang sangat berbahagia seperti saat ini, dimana kita tertakdir dapat bersimpuh dihadapan-Nya, mendapat kesempatan untuk menghadapkan segala kerendahan dan kehinaan diri di hadapan Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Perkasa di masjid yang mulia ini untuk melaksanakan sholat Idul Adha, untuk memperingati kejadian besar dalam sejarah kemanusiaan yang tiada tandingnya, pengorbanan hidup yang dilakukan oleh manusia-manusia pilihan, Nabiyullah Ibrahim as beserta keluarganya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Habiibina Baginda Nabi Muhammad SAW, yang dengan perjuangan dan pengorbanannya telah berhasil menancapkan sendi-sendi keimanan dan tauhid di dada umatnya, juga kepada keluarga dan sahabatnya serta pengikut-pengikutnya sampai hari kiamat yang telah melanjutkan tongkat estafet perjuangan, sambung menyambung sehingga hasilnya bisa kita nikmati sampai saat ini.

Pengorbanan besar yang telah tercatat dalam sejarah kemanusiaan yang telah dilakukan oleh manusia-manusia pilihan tersebut seakan-akan telah menjadi pondasi bangunan yang kokoh kuat ketika Allah berkehendak menghidupkan dan membangun tanah Mekkah yang asalnya mati dan gersang menjadi kota yang makmur penuh keberkahan, tanah dimana Baitullah akan dibangun di muka bumi ini. Pengorbanan besar itu hari ini kita peringati, bersama-sama kaum mu’minin seluruh dunia, diperingati tidak sekedar untuk mengenang peristiwa besar itu saja, namun juga harus mampu kita jadikan pelajaran dan tauladan untuk menyemangati hidup kita, agar kita mendapat kekuatan untuk menempuh jalan kehidupan dengan segala tantangan dan romantikanya.

Allahu Akbar, 3X Allahu Akbar walillahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah

Idul Adha identik dengan Idul Qurban, tapi qurban yang dimaksud bukan sekedar melaksanakan kurban dengan hewan qurban, seperti sapi maupun kambing sebagaimana lazimnya orang beriman melaksanakan qurban di hari raya Idul Qurban seperti saat ini. Qurban yang dimaksud adalah mengurbankan sebagian dari yang kita miliki dan kita cintai, baik harta benda maupun penghormatan untuk diberikan kepada orang-orang yang lebih membutuhkannya, hal itu dilakukan semata-mata untuk melaksanakan “ta’abbudan lillah”, semata-mata untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah dalam rangka memperingati dan mengenang pengurbanan besar yang dilakukan oleh Nabiyullah Ibrahim as beserta keluarganya.

Peristiwa pengurbanan besar tersebut dimulai ketika Beliau Nabiyullah Ibrahim as dengan tulus ihlas melaksanakan perintah Allah untuk menempatkan sebagian anggota keluarganya di tanah Mekkah Al-Mukarromah, supaya di tanah itu manusia mendirikan sholat dan beribadah kepada Allah SWT. Siti Hajar dan Isma’il, salah satu Istri dari dua istri tercinta dan putranya yang saat itu masih dalam susuan, mereka berdua harus ditempatkan di tanah tandus tanpa tumbuhan, tanah yang terpencil dan terasing yang tidak berpenghuni, lalu ditinggalkan begitu saja oleh Sang Suami tercinta tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu akan tujuannya dengan bekal hidup yang pas-pasan.

Ketika saatnya Nabi Ibrahim as melangkahkan kaki hendak meninggalkan mereka berdua, Sang Istri bertanya: “Wahai Suamiku, apakah kami berdua akan engkau tinggalkan ditempat yang sepi ini ?. Nabi Ibrahim meneruskan langkahnya tanpa menoleh dan juga tidak menjawab. Istrinya mengejar dan bertanya lagi, namun dengan sikap yang sama Sang Suami tetap meneruskan langkahnya. Akhirnya sambil berlari-lari kecil Siti Hajar bertanya lagi yang ke tiga kalinya: “Wahai suamiku, apakah engkau diperintah Allah dalam hal ini?”. Baru Nabi Ibrahim as menjawab meski tetap tanpa menoleh, karena takut hatinya terpengaruh oleh keadaan tersebut sehingga berakibat berubah pendiriannya hingga tidak mampu melaksanakan perintah yang secara nalar tidak logis itu: “Benar wahai Istriku, aku diperintah Allah untuk melakukan ini”.

Siti Hajar adalah seorang istri yang setia dan tabah, dia sudah mengenal dengan benar bahwa suaminya adalah seorang Nabi dan utusan Allah yang patuh dan tabah pula dalam melaksanakan perintah Tuhannya. Seorang Istri yang sering menyaksikan dan melihat dengan kasat mata atas kelebihan-kelebihan yang dimiliki suaminya, atas pertolongan dan mu’jizat Allah yang sering diturunkan kepada suaminya dalam menyelesaikan segala tantangan hidup yang harus dihadapi, dengan keyakinan kuat dan kesadaran penuh atas resiko kehidupan yang dapat terjadi, dia menjawab dengan mantap: “Wahai suamiku, jika ini memang perintah Allah, maka laksanakan saja, aku yakin Allah tidak akan menelantarkan kami berdua disini”. Lalu Siti Hajar membalikkan badannya dan melangkah kembali ke tempat semula untuk mengikuti kehendak suami yang ditaati itu tanpa sedikitpun berprasangka buruk, padahal dirinya bukan satu-satunya istri Nabi Ibrahim as. Siti Hajar kemudian tinggal berdua bersama putranya ditempat yang sepi dan terpencil itu tanpa ada tempat berlindung dan bernaung, siang bergelut dengan udara panas dan debu, dan malam berselimut dengan dingin yang mengigit. Dengan segala resiko kehidupan yang bisa terjadi, mereka berdua bertahan hidup entah sampai kapan dengan bekal makanan yang sangat terbatas.

Nabi Ibrahim as kemudian meneruskan perjalanan pulang ke Palastina, meninggalkan Istri dan Anaknya di tempat yang sunyi dan tidak ada kehidupan itu dalam penjagaan Allah. Ketika  perjalanannya telah sampai di suatu tempat yang tidak terlihat oleh Istrinya, Nabi Ibrahim menghadap kearah Istri dan Anaknya berada seraya berdo’a kepada Allah dengan do’a yang sangat mustajabah, doa yang diabadikan Allah di dalam kitab suci al-Qur’an al-Karim:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tumbuhan di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.(QS.Ibrahim/37)

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah

Meski hati Siti Hajar yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak akan menelantarkan diri dan anaknya, namun melaksanakan keyakinan tersebut ternyata tidak segampang seperti ketika diucapkan. Dia berdua harus menghadapi penderitaan yang amat sangat, sampai-sampai nyawanya dan nyawa anaknya hampir-hampir direnggut oleh kematian. Ketika bekal makanan yang dibawa dari rumah sudah habis dimakan, padahal air tidak mungkin bisa didapat ditempat yang kering itu, sedangkan anak yang digendongan menangis tiada henti minta disusui, padahal air susu sudah tidak keluar lagi karena perut sudah sekian lama tidak terisi makanan, maka sang Ibu mencoba untuk mencari pertolongan. Dengan sisa tenaga yang ada Siti Hajar berlari-lari kecil antara dua bukit yang ada di sekitar tempat itu, bukit Shofa dan Marwa. Dari atas dua bukit tersebut dia melihat kesana-kemari, berharap dapat menemukan manusia yang bisa memberikan pertolongan kepadanya, namun sampai 7X pulang pergi, hasilnya tetap nihil juga, Sang Ibu yang sedang mencari makanan untuk anaknya yang sedang kelaparan itu tidak juga menjumpai seorangpun yang bisa memberikan pertolonggan kepadanya. Peristiwa ini diabadikan Allah dengan firman-Nya:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.(QS.al-Baqoroh/158)

Ketika maut hampir merenggut jiwa, dua hamba Allah yang sedang terkapar sedang meregang nyawa, sang anak sudah tidak mampu lagi menangis karena kehabisan daya untuk mengeluarkan suara, sang ibu bahkan sudah tidak mampu lagi sekedar untuk meneteskan air mata karena badannya hampir kering karena kehabisan cairan, disaat yang sangat kritis itu Allah menurunkan pertolongan-Nya. Sayup-sayup Sang Ibu mendengar suara seperti datang dari kejahuan, dengan sisa kekuatan yang ada dan tanpa membuka pelupuk mata dengan suara lirih dia berkata: “Wahai yang memperdengarkan suara kepadaku, andai engkau mampu menolongku, siapapun kamu, tolonglah aku”. Ketika membuka matanya, reman-remang sang Ibu melihat seorang laki-laki gagah perkasa berdiri dihadapannya. Itulah Malikat Jibril yang diturunkan Allah dimuka bumi dalam sosok manusia. Makhluk mulia itu mendapatkan perintah bukan sekedar untuk menolong dua jiwa yang hampir mati itu, namun juga, berkat kesabaran seorang Istri yang taat kepada Suaminya itu, Makhluk Langit tersebut akan membuka pintu Rahmat Allah di muka bumi, menancapkan sumber keberkahan langit di tanah yang tandus dan kering itu, sekaligus sebagai peresmian dimulainya skenario besar, peletakan batu pertama bagi projek pembangunan kota Mekkah al-Mukarromah yang di dalamnya ada “Kakbah Baitullah”, tempat yang akan diziarahi oleh orang-orang beriman sepanjang zaman.

Malaikat Jibril as berkata: “Wahai hamba Allah yang ihlas dan tabah, engkau jangan takut dan kuwatir, sungguh Allah tidak akan menelantarkan kalian berdua. Di tempat yang mulia ini, anakmu itu bersama bapaknya akan membangun “baitullah”, tempat yang akan didatangi orang-orang beriman dari seluruh penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah haji sehingga tempat ini akan menjadi kota yang rame, makmur dan penuh keberkahan”. Lalu malaikat Jibril menancapkan sayapnya di tanah, dan dari lubang tanah yang ditancapi sayap makhluk mulia itu kemudian Allah memancarkan sumber mata air yang tidak berhenti memancar sepanjang zaman, sumur Zamzam yang penuh berkah, yang keberkahan airnya terbukti sampai sekarang. Sumur Ajaib yang setiap tahun keberkahan airnya ditunggu-tunggu oleh orang-orang beriman dimana saja berada, sebagai oleh-oleh dari sanak saudara yang sedang melaksanakan ibadah Haji di tanah Haram, ternyata sumbernya dahulu digali oleh semangat pengorbanan yang luar biasa, dipompa dengan air mata yang hampir kering dari seorang wanita yang mulia, istri yang sekaligus juga ibu dari dua manusia yang mulia pula, yaitu Istri Nabi Ibrahim as dan Ibu Nabi Isma’il as. Ini adalah peristiwa besar yang tidak boleh dilupakan oleh setiap hati orang beriman. Untuk itu, maka peristiwa tersebut setiap saat diperingati dalam pelaksanaan Sa’i antara bukit Sofa dan Marwa baik dalam pelaksaan ibadah Haji maupun ibadah Umrah.

Ujian hidup yang dicanangkan dalam peristiwa sejarah tersebut dinyatakan Allah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya ini benar-benar merupakan suatu ujian yang nyata”.(QS.ash Shafaat/108). Maksudnya, keberhasilan hidup yang didambakan oleh setiap jiwa yang merdeka, kebahagiaan yang diharapkan oleh setiap manusia yang sehat, ternyata tidak datang dengan sendirinya turun dari langit, melainkan harus ditempuh dan diperjuangkan melalui porses ujian yang tidak ringan, demikianlah pelajaran yang dapat kita petik dari peristiwa sejarah kemanusian ini, dan itu adalah merupakan sunnatullah yang tidak ada berubahan untuk selamanya, baik berlaku bagi orang-orang terdahulu maupun orang-orang kemudian, bahkan berlaku bagi kita semua. Ujian hidup tersebut juga dinyatakan Allah dengan firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqoroh/155-157)

Allahu Akbar, 3X Allahu Akbar walillahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah

Pengorbanan seorang Istri yang setia dan tabah untuk menuruti kehendak Suaminya yang diyakininya sedang dalam rangka melaksanakan perintah Tuhannya, ternyata mampu menurunkan keberkahan Allah yang abadi di muka bumi ini. Memancarkan sumber air ditempat yang semestinya tidak mungkin ada air. Mendatangkan sumber kehidupan bagi manusia banyak ditempat yang asalnya sepi dan terpencil. Menurunkan mu’jizat Allah yang sangat terang benderang dalam sejarah zaman. Peristiwa tersebut telah dicatat dalam sejarah kemanusiaan dan bahkan harus diperingati oleh setiap pribadi Muslim pada setiap tahunnya, kita semua diwajibkan melaksanakan Ibadah Haji bagi yang mampu yang salah satu tujuannya adalah untuk memperingati peristiwa sejarah tersebut, itu terbukti dengan manasik haji yang dilakukan dalam ritual haji oleh orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji di Makkah Al-Mukarromah. Lalu sekarang kita boleh pertanya kepada diri sendiri, pengorbanan apa yang sudah kita lakukan untuk kejayaan kita sendiri, untuk mencapai peningkatan tarap hidup yang kita tuntut dan dambahkan selama ini, untuk keberhasilan hidup kita sendiri bukan keberhasilan orang lain. Apakah kita hanya boleh menuntut saja tanpa berbuat apa-apa sementara orang lain harus berkorban dan bahkan dikorbankan …?? Kita selalu berharap hidup enak tapi enggan melaksanakan perjuangan.., Apa mungkin hal demikian bisa dicapai ..?? Padahal fenomena sejarah telah berbicara dengan terang benderang..!!

Inilah hikmah terbesar dari peringatan hari besar IDUL QURBAN yang sedang kita peringati hari ini, bukan hanya untuk memperingati peristiwa sejarah kemanusia itu saja, namun juga untuk membangkitkan semangat dan kesadaran dalam jiwa kita, dimana setiap pribadi Muslim harus siap berkorban untuk kebahagiannya sendiri. Setiap kita harus siap menyongsong keberhasilan dan peningkatan hidup dengan perjuangan dan pengorbanan. Dimulai dari diri sendiri untuk tidak berpangkutangan saja dan bermalas-malasan dan ketika berakibat hidupnya tidak juga meningkat kemudian orang mengkambinghitamkan nasib dan takdir. Padahal nasib dan takdir itu harus dimulai dari diri sendiri, “siapa beramal sholeh maka itu untuk dirinya sendiri”. Maksudnya, barangsiapa menanam kebaikan maka akan menuai kebajikan dan barangsiapa menanam kemalasan akan menuai kehancuran, itu berlaku untuk diri sendiri bukan untuk orang lain. Itulah sunnahtullah yang tidak ada perubahan untuk selama-lamanya. Yang dimaksud menanam itu adalah siap melaksanakan perjuangan dan pengorbanan terlebih dahulu setelah itu baru orang boleh bersenang-senang. “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian”.

قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون :   وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم  .

        وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين

Percikan Samudera Hikmah: Syarah Kitab Hikam

Review: 
Percikan Samudera Hikmah : Syarah Kitab al-Hikam
Penulis: Muhammad Luthfi Ghozali 
:: Pengasuh Ponpes Al-Fithrah, Gunungpati ::
Penerbit: Siroja, 2011
Kitab al-Hikam karya Syekh Ibn Atthaillah al-Iskandari, Mursyid besar generasi ketiga dalam Tarekat Syadziliyyah, menempati kedudukan khusus dan istimewa dalam tradisi Tasawuf secara umum. Pengaruhnya tak diragukan lagi; membentang ke hampir semua wilayah Islam yang ada di muka bumi. Bahkan bisa dikatakan, kitab al-Hikam menjadi sumber utama untuk memahami perspektif ajaran Tasawuf dalam tradisi Syadziliyyah pada khususnya, dan sekaligus untuk memahami tema universal dalam psikologi-ruhani-mistis di dalam kerangka ajaran Tasawuf pada umumnya, sehingga ia juga dibaca dan diepelajari oleh para sufi dan ahli tarekat di luar Syadziliyyah.
Telah banyak syarah (penjelasan) atas al-Hikam yang ditulis oleh sufi-sufi generasi selanjutnya, seperti seperti Abdullah As-Syarqawi (Syarh al-Hikam), Abdul Majid as-Syarnubi (Syarh al-Hikam), Syekh Ahmad Zarruq (al-Futuhat ar-Rahmaniyyah dan Miftah al-Fadhail), Ibn Abbad ar-Rundi (Syarh al-Hikam) dan Ibn Ajibah (Iqazh al-Himam). Syarah ini dipakai sebagai sumber sekunder untuk mengajarkan kitab al-Hikam di berbagai zawiyah tarekat di seluruh dunia, termasuk pula di kalangan pesantren di Indonesia.
Buku ini adalah salah satu dari sedikit syarah al-Hikam yang lahir dari penulis asli Indonesia – dan karenanya syarah ini memiliki posisi yang unik. Ada beberapa alasan. Pertama, setiap karya keruhanian, selain memuat tema yang universal, juga mengandung elemen “lokal,”  yakni setidaknya dipengaruhi oleh faktor kapabilitas penulisnya (daya nalar, maqam spiritual, kemampuan bahasa, dan sebagainya), oleh faktor ruang (lingkungan yang membentuk penulisnya), dan waktu (zaman di mana sebuah karya ditulis). Karena itu, karya semacam ini mampu membawa pembaca yang hidup dalam tata-situsi ruang dan waktu yang relatif sama untuk memahami suatu dunia yang lain, sebuah dunia ruhani, yang sumbernya berasal dari tata-situasi yang berbeda dalam hal bahasa, jarak dan waktu. Karya semacam ini bisa menyentuh unsur humanitas esensial pembaca dengan cara membangkitkan kebutuhan dan aspirasi bersama, karena ditulis dalam konteks yang relatif familiar dari segi bahasa, budaya dan waktu. Kedua, syarah ini ditulis bukan hanya berdasarkan analisis intelektual belaka; tetapi, ia juga ditulis berdasarkan pengalaman ruhani penulis, dan berdasarkan interaksi “esoteris” penulis dengan setiap elemen lahir dan batin yang dikandung dalam kitab al-Hikam.
Kyai M. Luthfi Ghozali, sebagai imam khususi dalam Tarekat Qadiriyyah-Naqsybandiyyah al-Utsmaniyyah, telah melakukan semacam olah-ruhani sebelum dan selama menulis syarah ini. Karenanya, ada unsur “kesinambungan ruhaniah” dalam syarah ini dengan kitab aslinya (dan, boleh jadi, dengan penulisnya); hal ini pada gilirannya menyebabkan syarah ini memiliki nilai lebih dan otoritatif.
Untuk lebih memahami dan mengapresiasi karya spiritual klasik ini, ada baiknya kita tengok dulu situasi historis yang melingkupi penulis al-Hikam dan tradisi tasawuf pada zamannya – tata-situasi dan pribadi macam apa yang melahirkan seorang tokoh tasawuf dan karya yang dirawat dan berpengaruh besar dalam dunia Islam selama berabad-abad?
Dalam tasawuf ada ungkapan yang memiliki makna berlapis: “sufi adalah putra waktu.” Maka, zaman seperti apakah yang telah membentuk karakter luar biasa seperti yang dicontohkan oleh Syekh Ibn Atthaillah dan banyak sufi agung lainnya? Dunia Tasawuf pada saat itu mengalami apa yang bisa dikatakan sebagai kristalisasi ajaran, yang salah satu ekspresinya adalah lahirnya tarekat dan penulisan risalah-risalah penting tentang ajaran Tasawuf. Tetapi di sini kami hanya akan membatasi diri pada tradisi yang relevan dengan Syekh Atthaillah, yakni tasawuf maghribi pada umumnya, dan tradisi Tarekat Syadziliyyah pada khususnya.
            Tarekat Syadziliyyah, yang didirikan oleh Syekh Abu Hasan al-Syadzili, berakar dalam tradisi tasawuf maghribi. Kecenderungan utama Tasawuf Maghribi sangat dipengaruhi oleh seorang sufi besar, seorang yang diyakini telah menempati maqam Qutb a;-Awliya, Syekh Abu Madyan dari Tilimsani. Syekh Abu Madyan ini menguasai kandungan kitab Tasawuf penting, semisal ar-Risalahkarya Abu Al-Qasim Al-Qusyairi dan Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali.. Syekh Abu Madyan juga berteman dan berguru kepada Syekh Ahmad Rifa’i, seorang Wali Qutub pendiri Tarekat Rifa’iyyah di Irak. Selain itu Syekh Abu Madyan juga menerima khirqah (jubah kesufian) dari Sulthan al-Awliya Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.  Syekh Abu Madyan ini hidup sezaman dengan sufi agung lainnya dari kawasan Andalusia (Spanyol), Syekh Akbar Ibn ‘Arabi, sufi masyhur sekaligus kontroversial karena dianggap sebagai tokoh penting dalam penyebaran ajaran wahdat al-wujud. Salah satu murid Syekh Abu Madyan yang juga dianggap sampai ke posisi Qutub adalah Syekh Abdus Salam ibn Masyisy. Beliau ini mengabdikan diri untuk berdakwah. Keinginannya adalah menjaga kemurnian ajaran Islam di tengah-tengah suku Berber yang gemar pada praktik perdukunan dan sihir. Belakangan beliau kemudian mengundurkan diri di puncak gunung yang bernama Jabal ‘Alam, yang berada di kawasan Habt di Maghribi. Di sinilah kelak beliau bertemu dengan murid utamanya, yang juga penerus spiritualnya yang masyhur, Syekh Abu Hasan al-Syadzili.
            Seperti yang sering terjadi di lembaga apapun, pendiri Syadziliyyah mewariskan “ruh”, bukan kerangka “bangunan”. Beliau menyerahkan pengembangan kerangkanya kepada para pewarisnya. Murid pertama yang mengemban amanah penting ini adalah Syekh Abu Abbas al-Mursi. Syekh Abbas al-Mursi inilah orang pertama yang membangun zawiyah khusus di sekitar masjid Aleksandria, Mesir. Salah satu murid yang berhasil menangkap “ruh” ajaran Syekh Abu Hasan Syadzili melalui Syekh Abbas al-Mursi adalah Syekh Ibn Atthaillah, melalui karyanya yang paling terkenal, Kitab al-Hikam. Berkat popularitas al-Hikam ini, tarekat Syadziliyyah bisa diterima kembali di kawasan Afrika Utara, tempat di mana tarekat ini pernah disingkirkan dari sana.
            Nama lengkapnya Syekh Ibn Atthaillah adalah Syekh Ahmad ibn Abi Bakr Muhammad ibn Abi Muhammad Abdul Karim ibn Abdur Rahman ibn Abdullah ibn Ahmad ibn Isa ibn al-Husain ibn Athaillah al-Iskandari. Diperkirakan beliau lahir sekitar tahun 650 H. Sejak kecil beliau telah dipersiapkan untuk menjadi ahli fiqh mazhab Maliki. Beliau berguru kepada ulama-ulama yang terbaik di bidangnya, seperti bidang tata bahasa, hadits, tafsir, ilmu kalam dan fiqh. Kakeknya cenderung kurang menyukai ajaran Sufi dan bahkan memusuhi Syekh Abu Abbas al-Mursi, guru besar  generasi kedua dalam Tarekat Syadziliyyah. Bahkan Syekh Athaillah sendiri pada mulanya berseberangan dengan Syekh Abbas al-Mursi. Pada masa mudanya Syekh Ibn Athaillah sudah terkenal sebagai faqih mazhab Maliki yang mumpuni. Beliau pernah beradu argumentasi dengan beberapa murid Syekh Abu Abbas al-Mursi.
            Namun akhirnya beliau menemui langsung Syekh Abu Abbas al-Mursi untuk membahas beberapa masalah agama. Pertemuan ini menjadi saat yang menentukan dalam hidupnya. Beliau akhirnya justru menjadi murid Syekh Abu Abbas al-Mursi dan menjadi salah satu murid kesayangannya. Bahkan Syekh Abu Abbas al-Mursi sudah meramalkan bahwa Syekh Ibn Athaillah tidak akan meninggal sebelum menjadi dai yang menyeru ke Jalan Allah. Dan perkiraannya itu terbukti. Di Kairo, Syekh Ibn Athaillah menghabiskan sisa hidupnya sebagai Guru Sufi sekaligus faqih bermazhab Maliki yang termasyhur. Selain menjadi Mursyid Tarekat Syadiziliyyah, Syekh Ibn Athaillah juga menjadi juru dakwah dan mengajar di berbagai madrasah dan institusi besar seperti Al-Azhar. Pada masa-masa ini pula Syekh Athaillah dikenal juga membela ajaran Sufi dari serangan Ibn Taimiyyah. Syekh Ibn Athaillah sendiri sempat bertemu dengan Ibn Taimiyyah dan melakukan dialog. Namun dialog ini tidak menimbulkan perdebatan sengit lebih lanjut dan diakhiri dengan sikap saling menghormati. Syekh Ibn Athaillah meninggal pada bulan Jumadilakhir tahun 709 H/1309 M. Makamnya di al-Qarrafah al-Kubra hingga kini terkenal sebagai makam keramat dan diziarahi oleh banyak orang Islam.
            Syekh Atthaillah mewariskan beberapa karya. Kitab al-Hikam adalah kitab yang meski sangat populer namun menurut menurut keterangan Syekh Zarruq, kitab ini tidak ditulis sendiri oleh Syekh Ibn Athaillah, namun didiktekan kepada muridnya yang bernama Syekh Taqiyyuddin as-Subki, seorang ahli fiqh dan kalam yang terkenal akan ketelitian dan kejujurannya.  Kitab karyanya yang lain adalah Miftah al-Falah wa Mishbah al-Arwah, yang berisi penjelasan tentang metode zikir. Di dalamnya beliau memaparkan beberapa jenis zikir dan Asma Allah yang cocok untuk berbagai kondisi murid. Kitab At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir merupakan penjelasan ajaran Tarekat Syadiziliyyah tentang berbagai bentuk kebajikan, seperti ikhlas, harapan, cinta, dan sebagainya. Lathaif al-Minan merupakan kitab yang menjelaskan biografi dua tokoh Tarekat Syadziliyyah dan ajaran-ajarannya, yakni biografi Syekh Abu Hasan al-Syadzili dan Syekh Abu Abbas al-Mursi. Di dalamnya juga dipaparkan keterangan tentang Wali Allah dan beberapa amalan utama (zikir, hizb dan doa) dua Wali Allah tersebut.  Kitab Al-Qash al-Mujarrad fi Ma’rifat al-Ism al-Mufrad, yang menyajikan pembahasan ringkas Asma al-Husna, dengan pemaparan teori metafisika Asma al-Husna. Kitab Taj al-Arus al-Hawi li Tahdzib an-Nufus, berisi kutipan-kutipan dari al-Hikam, at-Tanwir dan Lathaif.
            Mengenai karamahnya, Al-Munawi dalam Kitab Al-Kawakib al-Durriyyah mengisahkan, “Syekh Kamal ibn Humam berziarah ke makam Syekh Athaillah dan membacakan surat Hud. Sampai pada ayat yang artinya, “Di antara mereka ada yang celaka dan bahagia …” mendadak beliau mendengar suara Syekh Athaillah dari makam: “Wahai Kamal, tak ada yang celaka di antara kita.” Kisah karamah lainnya menyebutkan bahwa suatu ketika seorang muridnya menunaikan haji. Di Mekah murid itu melihat Syekh Ibn Athaillah sedang thawaf. Dia juga melihat gurunya itu berada di maqam Ibrahim dan Arafah. Saat pulang sang murid bertanya kepada teman-temannya apakah waktu itu sang guru berangkat haji. Semua murid bersaksi bahwa Syekh Athaillah tidak pergi haji waktu itu. Murid itu terkejut dan kemudian menemui Syekh Athaillah. Wali Allah ini kemudian bertanya kepada si murid, “Siapa yang kau temui di sana?” Muridnya menjawan, “Saya melihat guru ada di sana…” Syekh Athaillah menjawab, “Rijal Allah itu bisa memenuhi dunia. Kalau saja Wali Qutub dipanggil dari liang lahatnya, niscaya dia akan menjawab.”
***
            Demikian sketsa ringkas biografi Syekh Athailah. Sebelum kami tutup pengantar ringkas ini, perlu diperhatikan bahwa kitab al-Hikam ini adalah kitab tasawuf yang bernilai sastra. Dalam konteks ini, al-Hikam adalah kesusastraan esoterik (spiritual). Kandungannya tak hanya berhubungan dengan  makna lahir dan makna batin, makna simbol, atau keindahan, tetapi mengandung semacam elemen “kegaiban” dan “pencerahan spiritual” karena ia lahir dari wilayah gaib yang suci. Tulisan sufi dan Wali, adalah atsar (jejak) dari seorang mukmin – dan seperti sabda Nabi, “atsarun mu’minin barakatun” (jejak orang mukmin itu berkah). Karenanya, para pengamal tasawuf pada umumnya, dan tarekat pada khususnya, dalam membaca kitab tasawuf, apapun bentuknya, tidak sekedar untuk mendapatkan ilmu, untuk menikmati pesona keindahannya, tetapi juga untuk mengharapkan barakah, sesuatu manfaat gaib yang mengalir tanpa disadari oleh akal dan bahkan tanpa diketahui kesadaran kita.
            Karya Tasawuf yang agung itu, jika dibaca dengan benar dan dengan segala kerendahan hati, dan apalagi jika dengan bimbingan Mursyid, akan bersifat seperti badai yang membuka pintu persepsi, kesadaran dan intuisi kita. Kekuatan transformatifnya mampu mengguncang aristektur keyakinan kita, mengubah cara pandang kita, dan menguak berbagai lapisan dimensi yang melampaui batasan ruang dan waktu – dimensi yang lazim kita sebut dimensi keruhanian, yang gaib dan memuat misteri hikmah yang mencerahkan. Kekuatan transformatif inilah yang membuat banyak karya Sufi tak pernah aus oleh gesekan zaman, menjadi mata air inspirasi yang tiada habisnya, sehingga seakan-akan kitab-kitab Tasawuf semacam itu menjadi semacam “karya abadi.” Dan pada akhirnya, semoga setelah membacasyarah yang elok ini, meminjam ungkapan seorang sastrawan besar, “we are not the same when we put down the the work as we were when we took it up.”
Sumber: http://rumahcahaya.blogspot.com/2011/09/percikan-samudera-hikmah-syarah-kitab.html

KHUTBAH IDUL FITHRI 2011, Ponpes Assalafi Al-Fithrah Gunungpati Semarang

Judul : “Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam Perspektif Keseimbangan Hidup” 

Allahu Akbar x9 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Tema pembicaraan yang akan disampaikan khotib dalam khutbah Id kali ini untuk mengetengahkan pesan dari sebuah hadist Baginda Habiibinaa Rasulullah SAW. Dimana di dalam pesan tersebut mengandung peringatan keras bagi kita, umat Muhammad SAW. Karena kerasnya pesan itu, sekiranya kita mau merenungkan dengan seksama dan mendalam, barangkali akan menjadikan bulu kuduk kita berdiri. Betapa tidak, yang dinyatakan didalam pesan tersebut adalah, bahwa ada satu golongan manusia yang hidupnya akan menjadi terkucil dan terasing walau berada ditengah masyarakat rame. Mereka akan merasakan kesendirian hidup meski sedang dalam kebersamaan dengan teman-teman, tiada perlindungan dan pertolongan, susah tanpa tahu pangkal penyebabnya, sedih tanpa mengerti sumber permasalahannya. Jalan yang akan dilalui kedepan nampak gelap gulita, tidak mengetahui arah yang harus ditempuh, tidak ada jalan keluar bagi pemecahan persoalan-persoalan hidup yang sedang dihadapi.

Mereka bahkan bagaikan dilempar dari langit kemudian disambar oleh burung atau dihempaskan angin ketempat yang terpencil. Itulah keadaan orang-orang yang berdo’a kepada Allah Ta’ala akan tetapi do’anya tidak dikabulkan. Kalau mereka meminta, permintaannya tidak diberikan kalau meminta pertolongan pertolongan-Nya tidak diturunkan.

Hadist tersebut diriwayatkan oleh Iman Ibnu Majah dan Iman Ibnu Hiban RA.:

عن عائشة رضي الله عنها قالت :   دخل عليّ النبى صلى الله عليه وسلم. فعرفت فى وجهه أن قد حضره شىء . فتوضاء وما كلّم احدا. فلصقت بالحجرة استمع ما يقول . فقعد على المنبر , فحمد الله وأثنى عليه وقال:” يأيها الناس ان الله يقول لكم : مروا بالمعروف وانتهوا عن المنكر قبل أن تدعوا فلا اجيب لكم وتسألوني فلا اعطيكم وتستنصروني فلا أنصركم . فما زاد عليهن حتى نزل.

Dari A’isyah ra berkata :”Nabi saw telah masuk kepadaku, maka aku lihat di wajahnya, seakan-akan telah terjadi sesuatu, kemudian Beliau mengambil air wudzu dan tidak berkata sedikitpun, maka aku mendekat ke dinding mendengarkan apa yang akan disabdakan. Kemudian beliau duduk di mimbar, memuji kepada Allah dan mengagungkan-Nya seraya bersabda: ”Wahai manusia sungguh Allah berfirman kepada kalian: memerintahlah kepada yang ma’ruf dan mencegahlah kepada yang mungkar, sebelum engkau berdo’a maka do’amu tidak Aku kabulkan dan engkau meminta kepada-Ku maka tidak Aku berikan dan engkau minta tolong kepada-Ku maka tidak Aku berikan pertolongan kepadamu. Baginda Nabi SAW tidak menambahkan lagi selain itu sampai beliau turun dari mimbar.

Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Jika orang tidak mau melaksanakan Amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka do’anya tidak dikabulkan, permintaannya tidak dipenuhi, pertolongan dari-Nya tidak diturunkan.

Ya Allah, apakah benar ada orang yang berdo’a tapi do’anya tidak dikabulkan? Padahal Engkau telah berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Apakah benar ada orang meminta, tapi permintaannya tidak diperkenankan? Padahal Engkau berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Apakah bisa hal itu terjadi, padahal sungguh benar firman Allah dan sungguh benar sabda Rasulullah dan Allah sedikitpun tidak akan mengingkari janji-janji-Nya.

Kalau memang harus demikian kejadiannya, maka yang pasti bukan ayat-ayat dan hadist itu yang salah, melainkan ada yang harus dikoreksi dari apa yang telah diperbuat oleh manusia sehingga terjadi hal yang sangat menggetarkan hati dan menggugah perasaan itu. Kalau demikian kejadiannya, lantas bagaimana tindakan manusia selanjutnya? Apa yang harus mereka lakukan ketika jauh dari Rahmat Allah?, jauh dari perlindungan dan pertolongan Allah. Bagaikan orang yang pulang kampung, di tengah kota yang luas, ketika didapati pintu-pintu sudah tertutup rapat, padahal suasana gelap dan mencekam, tentu orang tersebut akan tinggal sendiri dengan kebingungan, tidak ada tempat berlindung dan tidak ada perlindungan dari kedinginan dan bahaya.

Dalam keadaan demikian, hayalan yang menghantui pikiran terkadang datang lebih seram dari kenyataan. Hal tersebut disebabkan, karena kabel yang menghubungkan diri dengan pusat energi yang Maha Tangguh telah putus, segala jaringan dan infrastuktur telah hancur, tinggal sendiri dalam kebingungan, tidak ada pedoman, tidak ada landasan pijakan. Jalan didepan semakin hari semakin suram, tidak ada kepercayaan diri, serba takut dan serba kuatir yang akhirnya orang tersebut akan terjatuh dalam kegelapan dan terombang ambing oleh hayalan bahkan kadang-kadang ilmu dan rasional menjelma menjadi harimau dan serigala yang senantiasa siap menerkam dan mati didalam keputusasaan.

Allah SWT. memberikan gambaran keadaan mereka itu dalam sebuah tamsil :

فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ (الحج31

“Maka seakan-akan jatuh dari langit lalu disambar burung atau dihempaskan angin ketempat yang terpencil”

Itulah keadaan orang-orang yang sengsara, berdo’a kepada Allah akan tetapi do’anya tidak diperkenankan dan meminta anugrah-Nya tapi tidak dikabulkan, meminta pertolongan kepada-Nya tapi tidak kunjung ditolong-Nya. Itulah nasib orang yang enggan melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, meski dengan sedaif-daif iman.

Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Telah berlaku kehendak Allah, menjadikan manusia sebagai kholifah-Nya di muka bumi. Telah berlaku sunnatullah, memberikan potensi kepada manusia sebagai kekuatan penggerak dan sumberdaya di alam semesta ini, baik dengan tenaga dan akal maupun perasaannya. Hal tersebut supaya kehidupan di muka bumi berjalan aktif dan dinamis, tidak monoton. Supaya ada gairah dan semangat, maka manusia adalah yang bekerja, melaksanakan dan menghasilkan sesuatu. Manusia ialah yang membikin peraturan dan meletakkan undang-undang, ia juga sekaligus tenaga penggerak dan pelaksana, bahkan sebagai sutradara yang sekaligus sebagai aktornya, sampai batas yang sudah ditentukan oleh Allah kepadanya, dimana selama itu manusia telah mencurahkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk memakmurkan segala sarana yang sudah disiapkan di sekelilingnya.

Allah SWT. telah memilih manusia sebagai sarana yang bekerja di muka bumi ini dan itulah memang yang sudah ditetapkan-Nya sejak alam semesta ini diciptakan. Atas dasar sunnah itulah, maka manusia dapat mengenali dan menguasai alam sekelilingnya, mengetahui rahasia-rahasia kehidupan yang tersembunyi di dalamnya, bahkan menguasai kunci-kunci rahasia bagi ahlinya untuk membuka simpul-simpul kehidupan yang mestinya tertutup dan dirahasiakan. Dengan ilmu dan urusan Allah pula, manusia kemudian dapat mengenal Tuhannya dan menggapai apa-apa yang diharapkan dan dicita-citakan dalam hidupnya.

Sejak ilmu pengetahuan itu pertama kali diajarkan kepadanya dan kemudahan-kemudahan yang sudah diperoleh, sampai ia menghasilkan apa-apa yang bisa dihasilkan, semua itu tidak akan terjadi kecuali dengan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala kepadanya, itulah sistem yang sejak pertamakali diciptakan bersamaan dengan penciptaan alam semesta ini, sistem tersebut tidak akan pernah dirobah lagi oleh Allah kecuali manusia sendiri yang merobahnya.

Begitu pula kehidupan manusia yang walaupun ia telah dinaungi peraturan dan hukum-hukum dari Sang Pencipta Tunggal, aturan yang bersesuaian dengan perikemanusiaan, yakni Agama Islam yang sesuai dengan fithrah manusia, yang didalamnya sudah lengkap mengandung tatacara kehidupan, seperti undang-undang politik, perekonomian, sosial dan budaya serta kemakmuran dan akhlaqul karimah. Sungguh sistem tersebut tidak dapat berdiri tetap kalau sekiranya tidak bersesuaian dengan sunnahtullah. Bahkan keseimbangan dari keduanyalah yang akan menjadikan kemanfaatan dan mengahasilakan segala tujuan.

Sunnatullah itulah yang menjadikan manusia ulet bekerja di atas muka bumi ini dan berlaku sebagai sarana buat memperteguh pekerjaan. Sunnahtullah itu adalah apa yang ditegaskan Allah dengan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (الرعد.13

Allah tidak merobah keadaan suatu bangsa sehingga bangsa itu sendiri yang merobah dirinya.

Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Allah SWT. Yang Maha Kuasa dengan sendiri-Nya, menciptakan dan mengatur langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya menurut kehendak yang digariskan dan ditetapkan-Nya dan menurut kehendak-Nya pula menjadikan manusia sebagai unsur yang bergerak di dalamnya dengan membawa jiwa dan raga yang membuahkan akal, amal dan perasaan. Bukankah manusia dari asal kejadiannya, daging dan tulang dan bahkan polah dasar cara hidupnya, menjalani hidup di muka bumi ini, sama keadannya seperti binatang melata …?, akan tetapi dengan takdir Allah manusia mendapat kemulyaan sebagai penggerak yang bekerja di dalam roda kehidupan yang memang sesuai dengan tabiatnya. Manusialah yang berbuat, bekerja dan berusaha, mereka tidak tinggal diam dan membeku saja. Mengingat dasar itulah, maka hendaklah manusia menganjurkan berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran bahkan beriman dan berberamal sholeh, maka manusia benar-benar akan menjadi sebaik-baik umat yang ada di alam ini demikian itu yang ditegaskan Allah dengan firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ (ال عمران 110

Manusia diperintah, kalau melihat kemungkaran hendaklah ia merobahnya dengan tangannya kalau tidak mampu maka dengan lisannya dan kalau tidak mampu juga maka dengan hatinya walaupun itu adalah sedaif-daif iman.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Kebajikan atau kejahatan bukan sesuatu yang sempit yang hanya bisa terjadi dengan suatu kejadian atau hanya terjadi di suatu lokasi yang ada di belahan bumi ini, akan tetapi segala urusan manusia, besar maupun kecil, bisa dilakukan sebagai kebajikan atau kejahatan. Oleh karenanya manusia harus cermat mengikuti segala proses yang terjadi dalam kehidupannya, memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan melaksanakannya dengan benar dan tepat, menegakkan kebajikan dan menjauhkan diri dari kemungkaran, kalau tidak demikian, maka manusia sendirilah yang akan menanggung akibat yang buruk, yaitu kerusakan dan kehancuran. Ini adalah sunnahtullah yang tidak akan pernah berobah lagi. Maka berlakulah sunnah pula, menurut dasarnya, bahwa hendaklah manusia menganjurkan kebajikan dan mencegah kemungkaran.

Segala pilihan dan langkah, pasti membawa dampak dan konsekwensi, akan tetapi manusia pula adalah satu-satunya sarana untuk mengatur dan memilih langkah dan pilihan yang akan dijalani. Dikala manusia beriman dan beramal sholeh, menganjurkan berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran, maka kebathilan tidak berkesempatan hidup subur berkepanjangan, yang hak akan menjadi kekuatan yang kuat dan yang akan dapat memimpin dan menguasai segala perkara. Akan tetapi manakala yang terjadi sebaliknya, manusia hanya tinggal diam saja, tidak ada kepedulian sama sekali dengan sekitarnya, mereka tidur dari tugas suci, tidak menganjurkan berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran. Kesibukan mereka hanya melakukan pekerjaan yang terbatas hanya yang berhubungan dengan urusan sekitar perut dan pusat saja, maka kejahatan akan tumbuh subur, kemungkaran akan menjadi merajalela yang pada akhirnya kemaksiatan akan menguasai dan memimpin pola kehidupan yang ada, demikianlah yang berlaku sunnah dalam sejarah kehidupan manusia sebelum kita yang kemudian menjadikan penyebab hancurnya suatu generasi dan suku bangsa.

Namun jika keadaan umat mau hidup sadar, memperhatikan urusan masyarakatnya, menunaikan segala hak dan kewajibannya, saling mencukupi segala kekurangan, mengisi kekosongan, meningkatkan yang sudah ada, meluruskan yang bengkong, memelihara kelapangan dan mengusahakan kemudahan, menggapai pertolongan, menggalang kebersamaan, maka itulah umat yang bahagia dan jaya. Adapun umat yang lalai dan malas bekerja, tidak ada kepedulian kepada alam sekitarnya, maka itulah umat yang celaka yang telah dihinggapi penyakit kehinaan.

Masyarakat yang suka saling nasehat menasehati, menganjurkan berbuar ma’ruf dan menegur kemungkaran, itulah ciri-ciri masyarakat yang kokoh kuat, maju kedepan membawa perbaikan dan mengangkat derajat kemulyaan. Sebaliknya masyarakat yang anggotanya senang berbuat kemungkara dan membiarkan kejahatan, saling menjegal dan menjagal, maka itulah ciri-ciri masyarakat yang bobrok dan terbelakang.

Menurut sunnahtullah manusia-lah yang harus mengadakan perobahan, bukan berarti Allah SWT. lemah, tidak sanggup berbuat banyak, akan tetapi itu adalah sistem atau sarana dan sebab-sebab, supaya menusia dapat menggapai kemulyaan yang memang diperuntukkan untuknya, untuk menduduki derajat yang mulya disisi-Robb-Nya yang sudah disediakn-Nya baginya, yakni menjadi kholifah Allah dimuka bumi ini. Manakala manusia tidak menempatkan dirinya pada kedudukan tersebut, maka ia akan terlepas dari derajat kemulyaan itu dan akan terjerumus kepada derajat kehinaan sebagai derajat binatang melata bahkan lebih hina lagi.

Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Mana mungkin orang berdo’a dapat dikabulkan tanpa bekerja dan hanya berpangku tangan saja ??. Manusia akan mendapatkan sesuai apa yang telah diusahakannya, demikian yang ditegaskan Allah di dalam Firmannya. Maka jalan Allah telah jelas dan terang benderang di depan kita, kemudahan-kemudahan, pertolongan dan pemberian, hanya dari jalan itu datangnya, karena dengan melalui jalan itu berarti manusia telah memegang janji Allah dan Allah SWT sedikitpun tidak akan mengingkari janji-Nya. Maka siapa yang ingin memperoleh kemenangan hendaklah menghadapkan dirinya kepada Pemberi kemenangan yang sudah mengajarkan suatu konsep yang simpel dan sederhana akan tetapi membawa ma’na strategis dan universal, konsep itu ialah : “HENDAKLAH KAMU MENGANJURKAN BERBUAT MA’RUF DAN MENCEGAH KEMUNGKARAN”.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Jika kita mau memperhatikan fenomena yang terjadi di Negeri kita belakangan ini, dimana-mana korupsi merajalela, kecurangan dan manipulasi seakan-akan telah menjadi budaya hidup yang tidak terkendali. Para pengelola Negara yang mestinya melindungi uang Negara malah menjadi seperti tikus-tikus yang menggerogoti pundi-pundi. Pimpinan yang mestinya harus memberikan contoh dan teladan yang baik, malah terkadang menjebak bawahan untuk melakukan kecurangan, bahkan bila perlu mengorbankan teman seperjuangan yang selama ini membantu pemenangan dalam pilihan demi usaha menyelamatkan diri dari ancaman hukum akibat perbuatan memperkaya diri sendiri dengan menyalahgunakan wewenang dan jabatan. Kalau kita mau merenunginya, kejadian tersebut terjadi, pasti berawal dari permasalahan yang sedang kita bicarakan ini, kebanyakan mereka itu hanya mementingkan diri sendiri, tidak mau melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.

Adalah hukum keseimbangan, ketika kebaikan dan kebajikan yang semestinya menjadi obat dan penawar racun duniawi sudah tidak lagi berfungsi, entah karena kuwalitasnya menurun atau kuwantitasnya berkurang sehingga tidak cukup untuk mempertahankan hukum keseimbangan, maka bahtera hidup berangsur-angsur akan menjadi limbung dan bahkan tenggelam, keadaan inilah yang terjadi belakangan ini di Negri tercinta ini. Jika hal tersebut dibiarkan saja tanpa ada perbaikan. Tanpa ada orang yang mau dan mampu merubah keadaan untuk menjadi lebih baik, tanpa ada orang yang berani melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, maka dalam waktu yang tidak lama manusia akan tahu akibatnya. Datangnya siksa yang akan meliputi kehidupan tidak akan terelakkan lagi, minimal hati mereka itu akan digerogoti rasa was-was dan takut sehingga menjadikan eksistensinya hangus. Ini juga sunnatullah, diminta atau ditolak, bila saatnya tiba, sunnah itu pasti akan datang juga. Bukan karena Allah membalas dendam kepada manusia atau berbuat kerusakan di muka bumi, akan tetapi manusia sendiri yang telah merusak jatidirinya dengan amal perbuatan yang telah dilakukan. Kita berlindung kepada Allah dari akibat buruk yang dilakukan oleh kebanyakan manusia di muka bumi.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Marilah kita mengadakan perenungan ke dalam, namun tidak hanya renungan kosong tanpa tindaklanjut yang berarti, melainkan untuk dasar mengadakan perbaikan dimanapun kita berada. Kita mulai dari diri sendiri, kemudian anak istri dan keluarga terdekat, teman sejawat dan kerabat, untuk bersama-sama melaksanakan anjuran suci ini, yakni melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, saling berbagi dalam kebaikan, saling nasehat menasehati dalam kebajikan dan saling doa mendoakan. Dimulai dari ucapan dan perbuatan supaya hati kita menjadi bersih dan suci, itu dilakukan untuk melaksanakan pengabdian hakiki kepada Allah Robbul Alamiin, dengan itu semoga hari-hari kita kedepan semakin menjadi lebih baik, karena do’a-do’a yang kita panjatkan mendapatkan ijabah, dan disaat kita bermunajat, permohonan kita dikabulkan-Nya dan kalau kita minta pertolongan dari-Nya, pertolongan itu segera diturunkan-Nya, sehingga kita mampu mengadakan perubahan dan membangun keseimbangan hidup, meski hanya untuk diri sendiri dan jama’ah yang hidup dalam komunitas kecil kita, menjadi komunitas yang kuat karena dekat dengan perlindungan dan pertolongan dari Tuhan Semesta Alam, …. amiin ya mujibas sa’iliin.

قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون :   لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم . ثم رددناه أسفل سافلين . إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات فلهم أجر غير ممنون .

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم

        وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين

ASSALAMUALAIKUM WR. WB

Dengan rahmat dan ridho Allah Ta’ala kami mengharap kehadiran
Bapak/Ibu/Saudara/Saudari/Wali Santri dalam acara:
HAFLAH DZIKIR, MAULIDURRASUL SAW DAN HAUL

SULTHONIL AULIYA ASY-SYEKH ABDUL QODIR AL-JILANY RA
ASY-SYEKH MUHAMMAD UTSMAN AL-ISHAQY RA
ASY-SYEKH AHMAD ASRORI AL-ISHAQY RA
DAN KIRIM DOA BERSAMA

Dalam rangka haflah akhirus sanah
PONDOK PESANTREN ASSALAFI AL-FITHRAH
Sumurrejo, Gunungpati, SEMARANG

Hari     SELASA (Malam Rabu)
Tanggal  19 Juli 2011/17 Sya’ban 1432
Jam      19.30 – Selesai
Tempat   Ponpes Assalafi AL-FITHRAH
KM 4 Jalan Raya Ungaran – Gunungpati
Sumurrejo, Gunungpati SEMARANG

Atas kehadiran, peran serta, dukungan dan doanya
kami haturkan terima kasih yang tak terhingga
“Jazakumullahu Khoiron Katsiro”

WASSALAMUALAIKUM WR WB
Keluarga Besar
Pondok Pesantren Assalafi AL-FITHRAH
Sumurrejo Gunungpati SEMARANG

BARU TERBIT, BUKU ILMU LADUNI

Posted: 12 Februari 2011 in ilmu thoriqoh, info

ILMU LADUNI, MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI

EDISI TERBATAS

Imam Suyuti ra. berkata:
Banyak orang mengira mendapatkan “Ilmu Laduni” itu sangat sulit. Mereka berkata Ilmu Laduni itu berada diluar jangkauan manusia, padahal tidak demikian. Untuk mendapatkan Ilmu Laduni ini hanya dengan jalan membangun sebab-sebab yang dapat menghasilkan akibat. Adapun sebab-sebab itu adalah amal dan zuhud.  Kemudian beliau meneruskan: Ilmu-ilmu Al-Qur’an dan apa saja yang memancar darinya sangat luas, bagaikan samudera yang tidak bertepi, dan Ilmu Laduni merupakan alat yang mutlak bagi seseorang untuk menafsirkan ayat-ayatnya.

Yang dimaksud Ilmu laduni ialah: “’ILMU LADDUNNIYYAH ROBBANIYYAH”, Yaitu Ilmu pemberian atau warisan langsung dari kehendak atau urusan Allah SWT., Robbul ‘Alamin. Berupa ilham spontan yang memancar dari dalam lubuk hati kemudian  memancar lagi melalui akal dan fikir, dari hati seorang hamba yang sedang rindu dan menunggu titah Junjungannya. Ilmu laduni ini berupa pemahaman-pemahaman yang konkrit dan logis serta alasan-alasan yang kuat dan dapat diterima akal sehat, bahkan terkadang berupa penemuan-penemuan ilmiyah yang dinamis dan aplikatif.

Ilmu laduni ini sangat dibutuhkan bagi setiap pribadi yang dinamis, bukan hanya untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran saja atau yang disebut ayat yang tersurat, tetapi juga untuk membaca dan menafsirkan ayat-ayat yang tersirat, yakni tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat dibaca oleh matahati yang cemerlang dari kejadian-kejadian alam, dari romantika kehidupan yang selalu berputar antara senang dan susah, antara bahagia dan derita. Dengan Ilmu Laduni yang menerangi matahati, maka dalam keadaan bagaimanapun seorang hamba tidak akan pernah salah persangka kepada kehendak Tuhannya.

Buku ILMU LADUNI ini buah karya :
Muhammad Luthfi Ghozali
Semarang: abshor, 2011
Halaman.  xxxii + 576 (613 hal).
Ukuran.14×20
ISBN 979 – 152961 – 2

Disain Sampul: M. Luthfi Gh.
Lay Out: M. Luthfi Gh.
Editor:  Arif Hidayat, S.H.I., M.H.
Drs. Ali Murtadho, M.Pd.
Cetakan III Agustus 2011

Penerbit:
Abshor, Semarang
Jl. Raya Ungaran Gunungpati KM. 4
Sumurrejo Gunungpati Semarang
Tlp. (024) 70794008 SMS. 0815 7526 4914
E-mail: malfi_ali@yahoo.com

Anda bisa mendapatkan buku ini melalui bagian penjualan:
Nama     : TRI MASKURIN
HP No    : 0857 2633 7391

Harga Rp, 120 000,- belum termasuk ongkos kirim

 

NGAJI HIKAM (Sumber Inayah)
Menyambut Maulid Nabi Besar Muhammad saw.

Asy-Syeikh Al-Imam Al-Arif Billah, Abi Fadil Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah Al-Assakandary Radliyallaahu ‘Anhu berkata:

Allah mengetahui bahwa sesungguhnya seorang hamba sangat ingin mengetahui tetang kenyataan rahasia “Inayah”, maka Allah berfirman: “Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS:3/74. dan Allah mengetahui apabila mereka dibiarkan begitu saja dengan apa yang sudah dipahami, mereka akan meninggalkan amal dan bergantung kepada kehendak azali, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56.

Merupakan tugas pokok seorang Kholifah Bumi adalah bagaimana fungsi hidupnya mampu menebarkan rahmat Allah Ta’ala di muka bumi. Dalam arti menyampaikan rahman – rahim Allah Ta’ala kepada bumi dan isinya melalui karakter pengabdian yang dijalani, memancarkan Nur Allah Ta’ala melalui sinar wajah yang sejuk cerminan hati yang suci dan bersih, membangun sendi-sendi kehidupan melalui amal bakti dan pengabdian hakiki, menyampaikan inayah Allah Ta’ala kepada yang berhak melalui inayah yang telah didapatkan, menyampaikan pertolongan Allah Ta’ala kepada yang berhak medapatkan melalui pertolongan yang telah diturunkan, bahkan mengirimkan inspirasi dan ilham kepada hati melalui inspirasi dan ilham yang sudah tersimpan dalam perbendaharaan diri pribadi, akhirnya mendatangkan hajat kebutuhan umat, baik yang lahir maupun batin dari perbendaharaan ghaib yang tersimpan di sisi-Nya melalui do’a dan munajat yang dipanjatkan setiap petang dan pagi. Untuk itulah Rasulullah Muhammad saw diutus di muka bumi, maka melalui pelaksanaan akhlakul karimah yang terpancarkan oleh prilaku Beliau, rahmat Allah Ta’ala menyebar keseluruh alam semesta.

Rasulullah Muhammad saw diutus di muka bumi ini bukan sekedar untuk membawa agama baru supaya agama lama hilang, namun dengan agama baru itu beliau telah mengemas kasih sayang. Hal itu dilakukan supaya kehidupan makhluk di muka bumi menjadi aman, makmur dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala menegaskan dengan firman-Nya

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ – الأنبياء:21/107

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. QS:21107

Itulah rahasia fungsi kekholifahan khusus yang dikhususkan bagi baginda Nabi SAW. yakni melalui nubuwah dan risalah yang diemban, beliau telah menebarkan rahmat Allah Ta’ala kepada alam semesta.

Oleh karena manusia adalah sumber tenaga dan pengelola potensi kehidupan bumi, maka dengan agama yang dibawa, manusia terlebih dahulu harus menjadi baik, baik perangai maupun amal perbuatan, dengan itu supaya kehidupan secara keseluruhan menjadi baik pula, karena apabila manusia jelek maka kehidupan juga akan menjadi rusak. Allah Ta’ala menjelaskan dengan firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ – الرم:30/41

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). QS:30/41.

Supaya di muka bumi tidak terjadi kerusakan dan juga supaya manusia tidak menanggung akibat kerusakan tersebut, maka manusia terlebih dahulu harus dibuat menjadi baik, terutama hatinya, untuk itulah agama diturunkan dan seorang Nabi, baik sebagai pemimpin (qudwah) maupun sebagai panutan (uswah), diutus di tengah-tengah manusia. Apabila manusia hatinya telah menjadi baik maka seluruh angota tubuhnya akan menjadi baik yang selanjutnya kehidupan di muka bumi akan menjadi baik pula.

Sejak terutusnya baginda Nabi saw. sampai sekarang sejarah telah membuktikan, dari tanah tandus dan gersang telah menyebar kemakmuran ke segenap pelosok dunia, baik kemakmuran aspek jasmani maupun ruhani. Bahkan kehidupan manusia di seluruh belahan bumi ini, secara lahir hampir-hampir ditopang oleh hasil bumi yang dikeluarkan dari tempat dimana saat itu baginda Nabi saw menjalankan aktifitas hidup dan pengabdian. Itulah sunnah yang ada, bahwa keberkahan Allah Ta’ala yang tersimpan di dalam perbendaharan ghaib telah mampu tergali dan dipancarkan kepada alam lahir melalui rahasia keberkahan hati dan akhlakul karimah yang agung.

Hanya Rasulullah Muhammad saw. yang mampu melakukan karena baginda Nabi saw. adalah seorang kholifah bumi sepanjang zaman. Beliau tidak diutus hanya untuk suku bangsanya sendiri sebagaimana para rasul dan para Nabi terdahulu, melainkan untuk manusia secara keseluruhan. Oleh karenanya, bahkan sebelum kelahirannya, Baginda Nabi saw. telah dijadikan wasilah di dalam do’a-do’a yang dipanjatkan oleh orang-orang yang menunggu kedatangannya, walau ketika beliau telah berada di tengah-tengah mereka, sebagian besar orang yang menunggu itu malah mengingkari kenabian yang diemban, bahkan sampai sekarang. Karena hanya sedikit orang yang benar-benar mengenali fungsi kekholifahan itu, maka jarang orang yang mampu memanfaatkan untuk kepentingan hidupnya sendiri.

Kebesaran dan kekhususan Anugerah tersebut tergambar dari pernyataan Allah Ta’ala, bahwa Allah SWT. telah mencurahkan rahmat dan keselamatan kepada beliau dan kemudian para malaikat-Nya, selanjutnya orang-orang beriman diperintah untuk menggapai Anugera Agung itu melalui membaca sholawat kepada Baginda Nabi. Allah SWT. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا – الأحزاب:33/56

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. QS:33/56.

Adakah Amugerah yang lebih besar dari itu, satu-satunya pernyataan Rabbul Alamin yang tidak pernah diberikan kepada siapapun selain Beliau , bahkan sekalipun kepada para Malaikat. Rasululllah Muhammad saw. adalah satu-satunya manusia yang terpilih untuk menyebarkan rahmat-Nya secara universal kepada alam semesta ini, bahkan bukan di alam dunia saja, tetapi juga di akhirat nanti, hanya baginda Nabi satu-satunya manusia yang mendapatkan hak memberikan syafaat kepada umat manusia secara keseluruhan. Syafaat Nabi inilah merupakan rahmat Allah Ta’ala terbesar dan terakhir setelah hari kiyamat sebelum masing-masing ahlinya ditempatkan di neraka atau di surga.

Dengan syafa’at di tangan baginda Nabi saw. akan menyelamatkan banyak orang dari siksa neraka jahanam di hari kiyamat nanti. Rasulullah saw. telah menegaskan hal tersebut dengan sabdanya:

حَدِيثُ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي كَانَ كُلُّ نَبِيٍّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى كُلِّ أَحْمَرَ وَأَسْوَدَ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَلَمْ تُحَلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَيِّبَةً طَهُورًا وَمَسْجِدًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ بَيْنَ يَدَيْ مَسِيرَةِ شَهْرٍ وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Aku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang Nabi sebelumku. Semua Nabi sebelumku hanya diutus khusus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada manusia yang berkulit merah dan hitam yaitu seluruh manusia. Dihalalkan untukku harta rampasan perang, sedangkan tidak pernah dihalalkan kepada seorang Nabipun sebelumku. Disediakan untukku bumi yang subur lagi suci sebagai tempat untuk sujud yaitu sembahyang. Maka barang siapa apabila tiba waktu sembahyang walau dimanapun dia berada hendaklah dia mengerjakan sembahyang. Aku juga diberikan pertolongan dapat membuat musuh merasa takut dari jarak perjalanan selama satu bulan. Aku juga diberikan hak untuk memberi syafaat.

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tayamum hadits nomor 419 – Lima Solat Fardu hadits nomor 2890.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Masjid Dan Tempat Solat hadits nomor 810.
• Riwayat Nasa’i di dalam Kitab Mandi Dan Tayamum hadist nomor 429 – Masjid 718.
• Riwayat Ahmad Ibnu Hambal di dalam Kitab Juzuk 3 Muka Surat 304.
• Riwayat Ad-Darimi di dalam Kitab Sholat hadits nomor 1353.

Bahkan di tengah-tengah umat yang ingkar, keberadaan beliau semasa hidupnya mampu menjadi sebab tertahannya siksa Allah Ta’ala yang semestinya harus diturunkan kepada orang yang berbuat dosa. Demikian yang dinyatakan di dalam hadits Nabi saw.:

حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ أَبُو جَهْلٍ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ فَنَزَلَتْ ( وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ) إِلَى آخِرِ الْآيَةِ *

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a berkata: Abu Jahal berdoa: Wahai tuhanku sekiranya al-Quran ini benar datang dari sisi-Mu, maka turunkanlah hujan batu dari langit atau timpakan kepada kami siksaan yang pedih. Lalu turunlah ayat

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَام

Yang artinya: Dan Allah tidak sekali-kali akan menyiksa mereka, sedangkan engkau wahai Muhammad ada di antara mereka dan mengapa mereka tidak patut disiksa oleh Allah sedangkan mereka menghalang-halangi orang-orang Islam dari Masjidil Haram. hingga akhir ayat.

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an hadits nomor 4281.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Suasana Hari Kiyamat, Surga Dan Neraka hadits nomor 5004.

Hanya malalui gengaman tangan suci Syafi’ina Muhammad Rasulullah saw. “Rahmat Nubuwah” itu dari sumber rahasia yang azali dilimpahkan ke alam semesta sebagai “Rahmat Lil ‘Alamin”. Selanjutnya rahmat utama itu disebarkan  dan memasuki setiap lini kehidupan umat manusia di berbagai pelosok belahan bumi melalui uluran tangan Ulama-ulama pewaris dan penerus perjuangan. Mereka itu sebagai kholifah bumi zamannya yang sekaligus adalah Ahli Bait Beliau saw,. Para Ahli Baitinnabi ra. tersebut telah meneruskan tongkat estafet perjuangan para pendahulunya, menyampaikan “rahmat nubuwah” yang diterima dari tangan sang datuk menjadi “rahmat walayah” di tangan mereka untuk disampaikan kepada umat sebagai “inayah” dari Allah Ta’ala, hal itu dimaksudkan supaya masing-masing hati yang selamat menerima Nur Tauhid Dan Nur Iman serta hidayah dari-Nya.

Tidak henti-hentinya mutiara zaman itu bepergian dari satu tempat ketempat lain, sambil berdagang menyeru manusia kepada jalan Allah Ta’ala, baik melalui dakwah maupun dzikir, baik melalui perjuangan maupun do’a-do’a, silih berganti sambung menyambung sampai saat hari kiyamat datang nanti. Dengan upaya seperti itu menyebabkan banyak orang hatinya menjadi simpatik dan memeluk agama islam. Bahkan sebagian dari mereka ada yang dijadikan menantu oleh raja-raja setempat yang akhirnya berdirilah kerajaan islam disana-sini, sejarah telah membuktikannya. Bahwa di tanah jawa yang dahulu penduduknya bukan penganut agama islam, berkat kegigihan perjuangan dan kekuasaan serta akhlakul karimah yang mereka pancarkan – dari sembilan Wali Songo delapannya adalah dzurriyatur rasul ra. – bersama-sama penduduk negeri sebagai pembela dan pengikut yang setia, dengan inayah Allah Ta’ala yang ada di tangan, mereka berhasil memberantas sarang-sarang kemusyrikan dan kezaliman, sarang-sarang kemungkaran dan kemunafikan serta menancapkan sendi-sendi tauhid dan islam dengan penuh rahmatan lil ‘alamin sehingga mayoritas penduduk tanah jawa itu menjadi muslimin yang penuh persaudaraan dan kedamaian, bahkan sampai sekarang, alhamdulillah, masih di tangan mereka pula panji-panji islam semakin hari semakin menancap di dalam hati mayoritas penduduknya.

Sejak dahulu sampai sekarang, dimanapun mereka berada, para ahli bait Nabi itu tidak henti-hentinya mengajak manusia di jalan Allah Ta’ala, ada yang melalui dakwah dan tulisan-tulisan, ada yang melaui dzikir dan mujahadah, ada yang melalui dzikir maulid dan dzikir manaqibnya. Sebagaimana yang telah dilakukan Sang Datuk dahulu, semuanya itu hanyalah dijadikan sarana bagaimana supaya manusia berbondong-bondong mendatangi panggilan Tuhannya. Maka dimana-mana, diseluruh pelosok dunia, asal mereka berada, manusia yang selamat hatinya berbondong-bondong mengerumuni mereka. Mengulurkan tangan menyambut uluran tangan mereka, mengharapkan dan mencari syafa’at dan keberkahan Allah Ta’ala yang sudah dilimpahkan kepada mereka, menggapai rahmat khusus yang diberikan secara khusus oleh Allah Ta’ala kepada mereka.

Asy-Syekh Ibnu Athoillah ra. berkata: [Allah mengetahui bahwa sesungguhnya seorang hamba sangat ingin mengetahui tentang kenyataan rahasia “Inayah”, maka Allah berfirman: “Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS:3/74.]

Barang siapa ingin mengetahui tentang kenyataan rahasia “Inayah” atau rahmat Allah Ta’ala yang paling utama itu, maka demikianlah sunnah telah terjadi, tidak peduli, baik orang-orang kafir dan orang yang benci mengakui atau tidak, realita tidak memperdulikan lagi dengan mereka, karena sejarah telah membuktikan terhadap apa yang telah dinyatakan Allah Ta’ala dengan firman-Nya:

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ – ال عمران:3/74

Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar. QS:3/74.

Allah SWT. Tuhan Semesta Alam Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah dan Yang Mempunyai Karunia yang Besar, sejak zaman azali telah menghendaki dan menentukan, bahwa “Rahmat Utama” itu telah dianugerahkan secara khusus hanya kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. Nabi akhir zaman yang sekaligus sebagai penutup para Nabi, sebagai “Rahmatan Lil ‘Alamin”, untuk supaya disampaikan kepada seluruh makhluk di seluruh alam semesta. Maka sejak itu sampai hari kiyamat dan bahkan di hari akhirat nanti, manusia mendatanginya dengan berbondong-bondong dari segala penjuru belahan bumi, mengulurkan tangan untuk menggapai limpahan rahmat dan syafaat dari Baginda Nabi saw. bagaikan laron-laron mengerumuni lampu di kegelapan malam untuk mencari jalan kehidupan.

Dengan itu Allah Ta’ala menentukan bahwa ketaatan kepada Rasul saw berarti pula ketaatan kepada Allah SWT., artinya hanya dengan mengikuti baginda Nabi saw. di jalan yang sudah ditempuhnya, disitulah letak jalan kepada Allah yang sebenarnya yaitu: ”Jalan yang lurus, – jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang yang telah Allah anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang tersesat”. Allah SWT. telah menegaskan dengan firman-Nya:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا – النساء:4/80

Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. QS:4/80.

Kalau ada orang belum pernah mengetahui, sehingga tidak mengenali “jalan lurus” yang telah siapkan Allah Ta’ala di balik rahasia ayat di atas, maka sejak sekarang hendaknya mencurahkan segala perhatian dengan bersungguh-sungguh, dengan mengadakan penelitian dan latihan yang mendalam, supaya sejak sekarang juga dapat menemukan dan mengenali “jalan lurus” itu yang selanjutnya dapat menempuhnya dengan benar. Jika tidak, sehingga selama hidupnya tidak dapat mengenali “jalan lurus” itu, dan apabila ketidaktahuan itu kemudian terlanjur dibawa keliang kubur, maka mereka tinggal menunggu apa yang akan terjadi disana, karena Allah Ta’ala telah memberikan peringatan dengan firman-Nya:

يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا(71)وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا – الإسراء:17/72

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. – Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). QS17/71-72.

Oleh karena selama hidup di dunia orang beriman telah mengikuti seorang pemimpin yang dapat membimbing jalan ibadah, maka di akhirat nanti mereka kembali akan dihidupkan bersama-sama dengan pemimpin tersebut. Akan tetapi, oleh karena sebagian besar manusia tidak pernah mengenali “jalan lurus” tersebut, mereka hanya melihat dengan mata lahir sedang mata batinnya buta, hanya mengelola kehidupan duniawi yang sementara dengan melupakan kehidupan ukhrowi yang selama-lamanya, maka di akhirat nanti mata itu akan menjadi lebih buta lagi dan mereka akan lebih tersesat dari jalan yang sebenarnya.

Dari “Rahmat Utama” yang ada di tangan “Manusia Utama” itu, kemudian terbentuklah jaringan persaudaraan antara sesama manusia dengan tulus dan ikhlas, saling mencintai semata-mata hanya karena Allah Ta’ala dan ukhuwah itu telah mengakar kuat dari porosnya, yang sekarang cabang dan rantingnya telah menyebar sampai kepada pelosok belahan bumi yang terpencil sekalipun. Itulah Ukhuwah Islamiyah, semenjak panji-panji pertama telah dikibarkan dengan jerih payah dan bahkan dengan bersimbah darah oleh para tokoh utamanya di bawah pimpinan langsung seorang Manusia yang paling utama (Rasul saw.), sampai sekarang dan bahkan selama-lamanya, panji-panji itu akan tetap berkibar, bahkan gaungnya semakin besar. Terbukti dengan semakin besarnya minat anggotanya untuk menenggak kesejukan minuman yang disajikan oleh ukhuwah itu lewat ibadah haji di Haramain (Makah Madinah) Meski sejak dahulu sampai sekarang, disana sini keutuhan ukhuwah itu masih saja menghadapi tantangan dan halangan yang tidak ringan dari orang-orang yang hatinya tidak senang, baik dari kalangan yang tidak percaya atau orang kafir maupun orang yang pura-pura percaya padahal sesungguhnya tidak percaya yaitu orang munafik.

Asy-Syekh Ibnu Athaillah ra. meneruskan dan berkata: [dan Allah mengetahui apabila mereka dibiarkan begitu saja dengan apa yang sudah dipahami, mereka akan meninggalkan amal dan bergantung kepada kehendak azali, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56].

Kalau manusia dibiarkan dengan paham azaliyah, bahwa khoirihi wa syarrihi minallah, (baiknya dan jeleknya dari Allah) maka mereka cenderung berbuat malas dan meninggalkan usaha, hanya menggantungkan diri kepada kehendak Allah yang azali, dan bahkan kadang-kadang dengan berdalih tawakkal kepada Allah Ta’ala sebagai alasan untuk meninggalkan ikhtiar padahal sesungguhnya pelampiasan malas dan putus asa. Akibatnya, bisa-bisa kehidupan di muka bumi ini menjadi lumpuh, karena masing-masing manusia tidak mempunyai inisiatif untuk bekerja dan berusaha, hanya menunggu apa-apa yang bisa didatangkan dari langit, maka Allah Ta’ala telah membuka salah satu pintu lagi terhadap apa yang ada di balik rahasia qada’ dan qadar-Nya dengan firman-Nya:

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ – الأعراف:7/56

Dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik. QS:7/56.

Orang-orang beriman tidak sekedar diperintah untuk berdo’a saja, akan tetapi maksudnya, do’a-do’a yang dipanjatkan itu harus mampu dijadikan dasar pijakan hati bagi apa yang dicari dan diusahakan secara lahir serta mengharapkan datangnya petunjuk dan hidayah sebagai isyarat atau ilham dari Allah Ta’ala yang selanjutnya supaya dapat ditindaklanjuti dengan usaha, maka dengan inayah Allah Ta’ala usaha seorang hamba akan mengarah kepada sasaran yang diharapkan, yaitu anugerah-anugerah yang sudah disiapkan baginya sejak azali.

Kemudian ditegaskan pula bahwa sesungguhnya rahmat Allah Ta’ala amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik (al-Muhsinin), yaitu orang yang selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala dengan rasa takut dan harap, baik dengan sendirian maupun berjama’ah, baik di rumah maupun di majlis-majlis dzikir dan mujahadah yang diadakan. Maka disitulah letak sasaran yang diharapkan itu, karena dari tempat seperti itu sumber rahmat akan terus-menerus memancar hingga usaha seorang hamba mendapatkan hidayah dan kemudahan-kemudahan dari Allah Ta’ala berkat do’a-do’a mereka. Karena keberadaan mereka (al-Muhsinin) di suatu tempat, seakan-akan memang telah ditetapkan menjadi sumber kehidupan dan keberkahan dari Allah Ta’ala bagi daerah sekelilingnya.

Dari do’a-do’a yang setiap pagi dan petang mereka panjatkan sebagai bentuk keprihatinan hati kepada ummat, akan menjadi sebab tersampaikannya rahmat Allah Ta’ala kepada orang-orang yang dido’akan, yang demikian itu kemudian menjadikan sebab terbentangnya keberkahan bagi daerah sekitarnya. Demikianlah yang terjadi, dimana-mana, di tempat yang mereka tinggali, yang asalnya sepi dan mati, ketika manusia sudah mengetahui keberadaan para Mutiara Zaman itu beserta kelebihan-kelebihan yang ada di tangan mereka, maka daerah itu kemudian menjadi hidup dan bergairah, orang-orang berdatangan dari segala penjuru negeri untuk mengambil berkah dari mereka, mencari obat kesembuhan bagi penyakit-penyaki yang diderita, baik penyakit lahir maupun penyakit batin, baik penyakit ruhani maupun penyakit ekonomi.

Itulah kenyataan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai dengan saat-saat Mutiara Zaman itu paripurna tugas dan meninggalkan kehidupan dunia ini untuk menerima balasan dari Tuhannya dari  amal dan pengabdian yang telah mereka lakukan. Oleh karena setiap saat banyak orang berziarah ke makam Mutiara Zaman itu, maka ekonomi di daerah itu menjadi bangkit dan hidup bahkan mampu memakmurkan daerah sekitarnya. Demikianlah kenyataan kasat mata yang tidak bisa dipungkiri – bahwa keberkahan Allah Ta’ala telah mampu menghidupi orang hidup melalui kehidupan orang mati – meski masih banyak orang yang mengingkari jasa-jasa mereka. Bahkan mensyirikkan orang yang berziarah ke makam mereka.

Apa benar orang yang berziarah ka makam Waliyullah itu hukumnya syirik ..?? Jika tujuan orang-orang yang berziarah ke makam para Waliyullah itu sekedar minta kepada kuburan……! berdoa kepada batu mati yang menancap di atas sesonggok tanah kering….?, siapa yang tidak mengerti bahwa perbuatan tersebut hukumnya syirik. Kalau memang benar bahwa orang yang berziarah kekuburan para waliyullah itu syirik..?, sekarang ada pertanyaan; “sekiranya yang ditanam di bawah tanah kering yang ditancapi batu nisan itu jasad kita, maukah orang-orang yang berbuat syirik itu menziarai kuburan kita…?”, kalau ternyata tidak mau, apa bedanya jasad kita dengan jasad para waliyullah itu…? Ada apa di dalam jasad kita dan ada apa pula di dalam jasad mereka, padahal sama-sama jasad yang sudah mati….?. mengapa jasad para Wali itu dapat menarik hati orang banyak hingga datang dari tempat yang jauh sekedar ziarah atau tabarrukan sedang kepada jasad kita tidak…?

Barangkali ada sudut pandang yang berbeda sehingga hati yang mulia telah menjadi salah sangka. Kalau orang bertanya : “Mengapa orang banyak itu jauh-jauh dengan bersusah payah mau datang kekuburan orang yang sudah mati…?”. Maka jawabannya gampang, karena mereka itu adalah orang-orang bodoh hingga mampu berbuat yang tidak masuk akal, masak orang mati kok kuburannya didatangi dari jauh-jauh. Akan tetapi coba pertanyaannya agak dirubah sedikit: “Ada apa kiranya di kuburan orang itu…?, mengapa setiap hari orang-orang dari tempat yang jauh itu DIDATANGKAN oleh Allah Ta’ala untuk berziarah kesana…? mengapa tidak didatangkan ke kuburan kita….?. Maka jawabannya agak sulit karena membutuhkan ilmu yang luas dan penelitian yang mendalam kecuali bagi orang-orang yang hatinya ada Inayah dari Allah Ta’ala sehingga nur imannya mampu menyinari ilmu yang ada di bilik akalnya.

Bukankah semua orang tahu bahwa apa saja yang terjadi, pasti terjadi atas takdir Allah Ta’ala, sekarang pertanyaannya begeni; mengapa orang banyak itu setiap hari dari jauh-jauh DITAKDIRKAN Allah Ta’ala datang berziarah di kuburan para Waliyullah itu dan tidak ditakdirkan datang ke kuburan kita..? ada rahasia apa di balik itu…?. Kalau semacam ini pertanyaan yang dilontarkan, barangkali siapapun dapat menemukan jawabannya asal hatinya selamat dari penyakit hati yang dapat mematikan iman, kalau tidak, berarti hati kita perlu diteliti kembali, barangkali di dalamnya tercemar oleh penyakit-penyakit yang dimasukkan oleh syaitan jin yang gentayangan.

Maka jawabannya seperti ini: Itulah buah ibadah, para waliyullah itu sekarang sudah waktunya menuai bibit yang dahulu mereka tanam, yaitu kasih sayang kepada umat yang dikemas di balik perjuangan dan do’a-do’a. Karena keprihatinan hati kepada keselamatan orang lain yang notabene bukan apa-apanya telah membuahkan hasil, maka sekarang mereka telah menuai hasilnya itu, yakni didoakan kembali oleh manusia-manusia yang berterima kasih atas jasa-jasa mereka, didatangi dan dido’akan oleh orang-orang yang bersyukur atas kenikmatan iman di dalam hati hasil jerih payah yang dahulu telah mereka kerjakan, itu terjadi sebagai dzikir balik dari Allah Ta’ala kepada para Kekasih itu karena mereka dahulu telah berdzikir kepada Allah Ta’ala melalui keperihatinan hati kepada umat manusia sepanjang hidupnya. Hal tersebut merupakan bentuk pelaksanaan janji Allah Ta’ala yang tidak akan pernah dipunggkiri, bahwa Allah telah berfirman yang artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) –Ku”. QS: al-Baqoroh 2/152.

Oleh karenanya, jika kita ingin mendapat kegembiraan seperti itu, yakni di saat keluarga kita saja terkadang melupakan jasad mati kita, orang lain didatangkan Allah Ta’ala untuk memberikan kegembiraan – maka sejak sekarang kita harus menggembirakan hati orang lain, supaya kelak ketika hati kita sedang sepi di dalam penantian yang panjang di alam kubur, Allah Ta’ala menghibur dengan datangnya orang lain menziarahi kuburan kita.

Ketika kejelekan-kejelekan karakter duniawi sudah tidak sempat lagi membekas di hati, ketika fitnah-fitnah kehidupan yang semestinya membakar telinga malah menyejukkan perasaan, itulah ciri hati orang-orang yang suka berbuat ihsan (al-Muhsinin), karena yang terlihat oleh matahati dari realita yang dihadapi hanyalah Allah Ta’ala dengan segala qada’ dan qadar-Nya, hanya irodah dan takdir-Nya, yaitu kehendak-Nya yang azaliyah untuk mentarbiyah seorang hamba yang dicintai. Dada mereka bagaikan hamparan bumi, apa saja boleh masuk, boleh kotoran boleh penyakit, akan tetapi yang keluar darinya hanyalah kebaikan dan obat belaka. Layaknya seperti seorang dokter, sungguhpun setiap saat mereka harus bergulat dengan penyakit dan orang sakit, tapi dokter yang sejati itu selamanya tidak akan tertular penyakit.

Keberadaan seorang “Muhsinin” yang sejati itu dimana-mana akan menjadi bagai tambang kebaikan, karena setiap tarikan nafas serta detak jantungnya hanya dimuati pengabdian, menyelesaikan permasalahan umat hingga kadang-kadang melupakan urusan pribadi. Kebanyakan orang datang kepadanya hanya untuk sekedar mengadu dan mencari solusi, bahkan tidak peduli walau orang baik itu sendiri sedang bersedih. Memakin banyak orang yang mengenal, semakin banyak pula masalah yang harus dihadapi, sehingga akibatnya, semakin lama dada orang yang “muhsinun” itu menjadi bagaikan bak sampah, karena hanya dipenuhi kesusahan dan kesedihan orang-orang yang mengelilingi. Itulah dokter-dokter ummat sejati, dengan amanat yang ada di pundak, mendorongnya untuk menghidupkan dzikir dan mujahadah malam. Ketika do’a-do’a yang ikhlas itu mendapatkan ijabah, maka jadilah sebagai sebab Allah Ta’ala membukakan pintu rahmat-Nya kepada umat. Bahkan dari sebab linangan air mata yang meleleh di pipi karena menangisi kesedihan umat, kadang-kadang menjadikan sebab Allah Ta’ala menurunkan air hujan di daerah yang ditangisi itu, bahkan konon, apabila di Baitullah Makkah al-Mukarromah, selama tujuh hari saja mereka absen tidak melakukan thowaf, berarti hari kiyamat segera akan datang.

Sebagian mereka bagaikan pelita-pelita bumi, walau di siang hari keberadaannya tidak tampak karena kesibukan lahir untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, akan tetapi di malam hari, bersama gemerlap bintang di langit sanggup menjadi penerang jalan bagi sang musafir yang sedang bersedih hati. Maka, wahai laron-laron liar yang ingin mencari penerang jalan, Anda jangan mengingkari keutamaan Allah yang telah diberikan kepada para Wali itu, terlebih dengan menyirikkan sesama saudara beriman yang menziarahi makam mereka, bersegeralah bertaubat dan mendekat kesana, mencari dimana mereka menyembunyikan mutiara azaliyah itu, supaya sang laron yang nakal dan tidak tahu diri itu dapat menemukan hidayah Allah Ta’ala. Maka sungguh benar Allah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56.

(malfiali)

HIDAYAH DI BALIK UNGKAPAN HUKAMA


تَسْبِقُ اَنْوَارُ الْحُكَمَاءِ اَقْوَلَهُمْ فَحَيْثُ صَارَ التَنْوِيْرُ وَصَلَ التَّعْبِيْرُ

Para Ahi Hikmah terlebih dahulu memancarkan Nur Hidayah sebelum menyampaikan ungkapan. Ketika penyinaran telah sampai maka sampailah ungkapan.

 

Yang dimaksud dengan ungkapan itu bukan sekedar ceramah ilmiyah sebagaimana yang dilakukan para juru dakwah di panggung-panggung pengajian secara umum, tetapi mengungkapkan sesuatu yang tersembunyi dibalik keadaan yang lahir yang terbaca oleh matahati orang-orang yang jiwanya bersih suci. Ekspresi sepontan yang dilakukan oleh para guru mursyid sejati sebagai bentuk kepedulian yang ihlas dalam rangka mentarbiyah ruhani para murid yang dikasihi.
Ungkapan itu bisa dilakukan, karena sebelum ungkapan itu keluar, hati para guru mursyid sejati itu terlebih dahulu telah dipancari “nur ilahiyah”. Ibarat bumi ketika matahari telah memancarkan sinarnya maka ufuk langit menjadi terang benderang. Demikian pula keadaan hati yang bersih itu, ketika nur ilahiyah telah memancar, maka memancarlah ungkapan dari dalamnya.

Untuk melihat di alam lahir, meskipun orang mempunyai mata lahir yang sehat, tanpa sinar matahari, mata yang sehat itu tidak dapat dipergunakan untuk melihat dengan sempurna. Di alam batin juga demikian, mata batin itu disebut bashiroh atau matahati. Meskipun matahati seseorang itu sudah cemerlang, tanpa adanya nur ilahiyah yang menyinarinya, matahati yang cemerlang itu tidak dapat berfungsi untuk melihat hal yang ghaib.

Oleh karena kecemerlangan matahati para guru mursyid itu sudah mampu mengalahkan sorot mata lahirnya. Ketika dengan datangnya nur ilahiyah tersebut menjadikan matahati mereka menjadi tembus pandang sehingga mereka mampu melihat isi dada murid-muridnya. Mereka melihat penyakit rahasia yang harus disembuhkan secara rahasia pula. Untuk mengaktualisasikan maksud tujuan tersebut, maka cara yang mereka pilih adalah dengan menyampaikan i’tibar atau ungkapan. Hal itu dilakukan supaya masing-masing kebutuhan ruhani murid-muridnya dapat dicukupi melalui ungkapan tersebut. Karena tidak mungkin menyembuhkan penyakit rahasia kecuali dengan jalan rahasia pula.

Demikianlah fungsi seorang guru mursyid terhadap murid-muridnya, sehingga apa saja yang dilakukan oleh guru mursyid, sejatinya hanya untuk tujuan mentarbiyah ruhani murid-murid tersebut. Namun demikian, tanpa kemampuan seorang murid dalam mencermati dan menindaklanjuti ungkapan guru mursyidnya dengan benar, maka yang didapatkan oleh para murid dalam bertoriqoh barangkali hanya sekedar pahala amal bukan kecemerlangan matahati atau yang disebut dengan ma’rifatullah.

Yang dibutuhkan dalam bertoriqoh itu bukan hanya sekedar pahala supaya orang bisa masuk surga di akhirat. Karena jalan untuk masuk surga akhirat itu sudah jelas. Yakni apabila seorang hamba mendapat ampunan dari Allah dari segala dosa dan kesalahannya. Hal itu telah dijelaskan Allah dengan firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga”(QS.Ali Imran(3)133)

Target perolehan yang harus dicapai oleh seorang salik dalam berthoriqoh bukan supaya mereka menjadi orang sakti mandra guna, atau punya kelebihan bisa membantu penyembuhan orang sakit Non Medis, melainkan supaya mendapatkan “Surga Ma’rifat” yang menurut ahlinya, merupakan kenikmatan yang lebih nikmat dibandingkan surga akhirat. Itulah surga dunia bagi orang beriman dan beramal sholeh, yakni lapangnya rongga dada karena di dalamnya telah disinari Nur Hidayah Allah sehingga apapun yang sedang terjadi dan dialami tidak menjadikan hati mereka susah dan gelisa.

Untuk mendapatkan surga ma’rifat itu, syarat yang paling utama adalah melaksanakan mujahadah di jalan Allah. Artinya dengan sadar dan penuh pemahaman, seorang hamba harus mampu mengedepankan pilihan Tuhannya daripada pilihan hatinya sendiri. Mereka menindaklanjuti isyarat yang tertangkap dari ungkapan guru mursyidnya untuk mengilmuni dirinya sendiri. Melaksanakan maksud yang tersirat dari ungkapan itu untuk menyembuhkan penyakit hatinya sendiri. Setelah seorang salik mampu melaksanakan mujahadah tersebut dengan benar, hasilnya Allah akan menurunkan hidayah baginya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik(QS.Al-Ankabut(29);69)

Yang dimaksud dengan “Jalan-jalan Kami” dari ayat di atas adalah jalan-jalan penyelesaian dari segala masalah hidup yang sedang dihadapi. Itu merupakan pilihan solusi yang ditawarkan Allah kepada hamba-Nya sebagai buah ibadah yang mereka jalani. Dengan pilihan solusi yang terbentang di depan mata itu menjadikan rongga dada orang yang beriman menjadi lapang sehingga mereka mampu menjalani kehidupan di dunia dengan nyaman.

Dalam kaitan mujahadah tersebut, tahap demi tahap pengembaraan ruhaniyah yang dilakukan para murid thoriqoh selalu dimulai dengan menindaklanjuti ungkapan guru mursyidnya. Mereka ibarat seorang pasien yang melaksanakan petunjuk dan resep dokternya, sehingga dalam melaksanakan mujahadah itu benar-benar terbimbing oleh ahlinya. Ketika suatu saat perjalanan tersebut mandek di tengah jalan, hal itu karena para salik itu sedang kebingungan memilih jalan yang tepat untuk dilalui, ungkapan guru mursyidnya ketika sedang bertatap muka, menjadikan perjalanan itu dilanjutkan kembali.

Demikianlah cara hidup yang ditempuh oleh komunitas orang yang berthoriqoh di jalan Allah tersebut. Secara lahir terkadang hubungan antara guru dan murid itu tidak sedemikian dekat, tetapi secara batin bahkan menyatu tidak dapat dipisahkan. Hati mereka tidak pernah terpisah meski keadaan dan tempat terpaksa harus memisahkan jasad-jasad mereka. Mereka selalu beribadah dalam kebersamaan rasa dan nuansa meski ibadah itu dilakukan di tempat yang berbeda. Itulah yang dimaksud dengan hakekat tawassul, pertalian rasa antara seorang murid kepada guru mursyidnya untuk bersama-sama menghadap kepada Tuhannya.

Hasilnya, maka diantara mereka tumbuh rasa persaudaraan yang kuat, masing-masing saling mencintai hanya semata-mata karena Allah. Yang demikian itu bukan berarti seorang murid mengkultus individukan guru mursyidnya, tetapi mencintai gurunya semata karena mencari jalan menuju ridlo Tuhannya dan sang guru menyayangi muridnya karena melaksanakan tugas tarbiyah sebagai seorang khilifah bumi zamannya. Itulah jalinan Ukhuwah Islamiyah yang sejati. Itu bisa terjadi, karena masing-masing kehidupan mereka selalui disinari nur hidayah Allah.

Apabila perjalanan amal utama itu tidak mendapatkan bimbingan guru ahlinya, ketika terjadi kebingungang di tengah jalan sehingga perjalanan salik itu menjadi mandek, inspirasi dan ilham yang masuk di dalam rongga dada mereka seringkali datang dari bisikan setan untuk menyesatkan jalan. Bisikan setan itu tidak untuk merubah arah kiblat yang asalnya barat menjadi timur, tetapi tanpa terasa tujuan ibadah itu berbelok arah. Tujuan yang asalnya mencari ridlo Allah malah terjebak untuk mencari keuntungan duniawi. Para salik itu dijerat di dalam pengakuan nafsunya sendiri sehingga mereka menjadi sombong dan merasa benar sendiri. Itulah yang dimaksud dari sebuah ungkapan: “Siapa beramal tanpa guru maka gurunya setan”.
(malfiali)