KHUTBAH IDUL QURBAN (SABAR, Kunci Pembuka Kota Mekkah)

Posted in Khutbah dengan kaitan (tags) on 23 November 2009 by malfiali

SABAR, Kunci Pembuka Kota Mekkah

Allahu Akbar, 9X Allahu Akbar walillahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah

Peristiwa sejarah kemanusiaan yang dialami manusia utama yang diabadikan oleh zaman, menggambarkan betapa kuatnya iman seorang hamba dalam melaksanakan perintah Tuhannya, meski perintah itu dalam bentuk pengorbanan yang besar. Ketika orang beriman mampu melaksanakannya dengan SABAR, ternyata itu merupakan KUNCI RAHASIA untuk membuka pintu rahmat Allah bagi alam semesta. Adapun hikmah khusus dari peristiwa yang dimaksud, ternyata sabar tersebut seakan-akan menjadi pondasi bangunan yang kokoh ketika Allah berkehendak menghidupkan tanah Mekkah yang asalnya mati menjadi makmur penuh keberkahan yang melimpah. Kesabaran dalam menghadapi ujian hidup yang telah dilakukan oleh manusia panutan manusia itu, yakni Nabiyullah Ibrahim as beserta keluarganya, yang kejadiannya hari ini kita peringati dan rayakan, dalam khutbah ini akan kita bahas dalam dua tahap.

1. Pengorbanan Pertama:

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Ketika Nabiyullah Ibrahim as melaksanakan perintah Allah untuk menempatkan sebagian anggota keluarganya, Siti Hajar dan Isma’il, salah satu Istri dan putranya yang saat itu masih dalam susuan Sang Ibu, di tanah tandus tanpa tumbuhan yang terpencil dan terasing, lalu ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim dengan bekal hidup yang pas-pasan. Ketika Nabi Ibrahim as hendak melangkahkan kaki untuk meninggalkan mereka berdua, Sang Istri bertanya: “Wahai Suamiku, apakah kami berdua akan engkau tinggalkan ditempat sepi ini ?. Nabi Ibrahim meneruskan langkahnya tanpa mampu menoleh dan juga tidak menjawab. Istrinya mengejar dan bertanya lagi, namun dengan sikap yang sama Sang Suami tetap meneruskan langkahnya. Akhirnya sambil berlari kecil Sang Istri bertanya lagi: “Wahai suamiku, apakah engkau diperintah Allah dalam hal ini?”. Baru Nabi Ibrahim as menjawab meski tetap tanpa menoleh, karena takut hatinya berubah sehingga tidak mampu melaksanakan perintah yang tidak logis itu: “Benar wahai Istriku, aku diperintah Allah untuk melakukan ini”.

Siti Hajar adalah seorang istri yang tabah, dia sudah mengenal dengan benar bahwa suaminya adalah seorang Nabi dan utusan Allah yang patuh dan tabah pula dalam melaksanakan perintah Tuhannya, dengan keyakinan yang kuat dia menjawab: “Wahai suamiku, jika ini adalah perintah Allah maka laksanakanlah, aku yakin Allah tidak akan menelantarkan kami berdua. Lalu Siti Hajar membalikkan badannya dan kembali ke tempat semula untuk mengikuti kehendak suami yang ditaati itu tanpa sedikitpun berprasangka buruk kepadanya, padahal dirinya bukan istri Nabi Ibrahim as satu-satunya. Siti Hajar kemudian tinggal berdua bersama putranya ditempat yang sepi dan terpencil itu dengan segala resiko kehidupan yang bisa terjadi, bertahan hidup entah sampai kapan dengan bekal makanan yang sangat terbatas.

Nabi Ibrahim as kemudian meneruskan perjalanan pulang ke Palastina, meninggalkan Istri dan Anaknya di tempat yang tidak ada kehidupan itu dalam penjagaan Allah. Ketika perjalanannya telah sampai di suatu tempat yang tidak mungkin dapat terlihat oleh Istrinya, Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah dengan do’a yang sangat mustajabah, bahkan diabadikan oleh-Nya di dalam kitab suci al-Qur’an al-Karim:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tumbuhan di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.(QS.Ibrahim/37)

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Meskipun hati Siti Hajar yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak akan menelantarkan diri dan anaknya, namun melaksanakan keyakinan itu ternyata tidak segampang ketika diucapkan. Dia harus menghadapi penderitaan yang amat sangat, sampai-sampai nyawanya dan nyawa anaknya hampir-hampir direnggut oleh kematian.

Ketika bekal makanan yang dibawa dari rumah sudah habis dimakan, padahal air tidak mungkin bisa didapat ditempat yang kering itu, sedangkan anak yang digendongan menangis tiada henti minta disusui, padahal air susu sudah tidak keluar lagi karena perut sudah sekian lama tidak terisi, maka sang Ibu mencoba untuk mencari Air. Siti Hajar berlari-lari kecil antara dua bukit yang ada di sekitar tempat itu, bukit Shofa dan Marwa. Dari atas dua bukit tersebut dia melihat kesana-kemari, berharap dapat menemukan manusia yang bisa memberikan pertolongan, namun sampai 7X pulang pergi, hasilnya tetap nihil juga, Sang Ibu yang sedang mencari makanan untuk anaknya yang sedang kelaparan itu tidak menjumpai seorangpun yang bisa memberikan pertolonggan. Peristiwa ini diabadikan Allah dengan firman-Nya:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.(QS.al-Baqoroh/

158)Ketika maut hampir merenggut dua hamba Allah yang tengah meregang nyawa itu, sang anak sudah tidak mampu menangis karena kehabisan daya untuk mengeluarkan suara, sang ibu tidak mampu lagi meneteskan air mata karena badannya sudah hampir kering karena kehabisan cairan, disaat yang sangat kritis itu Allah menurunkan pertolongan-Nya. Sayup-sayup Sang Ibu mendengar suara, dengan sisa kekuatan yang ada dan tanpa membuka pelupuk mata dia berkata: “Wahai yang memperdengarkan suara kepadaku, andai engkau mampu menolongku, tolonglah aku”. Ketika membuka matanya, reman-remang sang Ibu melihat seorang laki-laki berdiri dihadapannya. Itulah Malikat Jibril dalam sosok manusia yang diturunkan Allah dimuka bumi. Makhluk yang mulia itu bukan sekedar untuk menolong dua jiwa yang hampir mati itu, namun juga, berkat kesabaran mereka itu, Malaikat Jibril bahkan akan membuka pintu Rahmat Allah di tempat yang tandus itu, sekaligus sebagai peresmian dimulainya skenario besar, projek pembangunan kota Mekkah al-Mukarromah yang di dalamnya ada “Kakbah Baitullah”, tempat yang akan diziarahi orang beriman sepanjang zaman.

 

Malaikat Jibril as berkata: “Wahai hamba Allah yang tabah, engkau jangan takut dan jangan kuwatir, Allah tidak akan menelantarkan kalian berdua. Di tempat ini nanti, anakmu itu dengan bapaknya akan membangun “baitullah”, sehingga tempat ini menjadi kota yang makmur dan penuh keberkahan Allah”. Lalu malaikat Jibril menancapkan sayapnya di tanah, dari lubang tanah itu kemudian Allah menciptakan sumber mata air yang tidak berhenti memancar sepanjang zaman, sumur Zamzam yang keberkahan airnya terbukti sampai sekarang. Artinya, sumur Zamzam yang abadi itu, yang setiap tahun keberkahan airnya ditunggu-tunggu oleh orang beriman dimana saja berada, sebagai oleh-oleh dari sanak saudaranya yang sedang melaksanakan ibadah Haji di tanah Haram, ternyata sumbernya dahulu digali dan ditemukan oleh semangat pengorbanan yang besar, mata airnya dipompa dengan air mata yang hampir kering dari seorang wanita yang mulia, istri yang sekaligus juga ibu dari dua manusia yang mulia pula, yaitu Istri Nabi Ibrahim as dan Ibu Nabi Isma’il as. Ini adalah peristiwa besar yang tidak boleh dilupakan oleh setiap hati yang beriman. Oleh karenanya peristiwa tersebut setiap saat diperingati dalam pelaksanaan Sa’i antara bukit Sofa dan Marwa baik dalam pelaksaan ibadah Haji maupun ibadah Umrah.

2. Pengorbanan Kedua

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Ketika tempat yang semula sepi dan terpencil itu mulai rame dikunjungi dan dihuni manusia. Satu demi satu kafilah padang pasir singgah, karena ada sumber air kemudian mendirikan bangunan dan bahkan menetap di sana, maka tempat yang semula terasing itu beransur-ansur mulai dikenal manusia. Ketika nabi Ismail kecil sudah bertambah usia, sehingga mampu membantu keperluan Ibunya, datanglah Nabi Ibrahim di tengah mereka. Kedatangan itu bukan untuk berkumpul dengan keluarga sebagaimana layaknya orang hidup berkeluarga, tapi untuk melanjutkan proses sekenario besar, karena sudah saatnya Allah akan melaksanakan kehendak-Nya untuk mendirikan bangunan baitullah dengan segala keberkahannya melalui tangan-tangan tangguh dari keluarga orang-orang beriman yang kuat itu. Pada saat yang sudah ditentukan itu, Allah menguji hati Nabi Ibrahim dengan perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya Isma’il. Allah mengabadikan ujian besar itu dengan firman-Nya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108)

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” – Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya) – Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim – sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik – Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. – Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. – Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.(QS.ash Shafaat/102-208)

Nabiyullah Ibrahim as dan putranya, Nabi Isma’il as, ternyata berhasil melampaui ujian besar tersebut dengan kesabaran yang perima, sehingga kematian Nabi Isma’il diganti dengan kematian binatang qurban yang besar. Dua peristiwa sejarah kemanusiaan itu kemudian diabadikan Allah dalam pelaksanaan manasik Haji, sehingga menjadi peringatan dan pelajaran berharga bagi umat Islam sampai akhir zaman. Hal tersebut membawa hikmah besar, ternyata keberhasilan hidup itu tidak diturunkan begitu saja dari langit tetapi harus diupayakan oleh manusia, bahkan dengan mengorbankan nyawa sekalipun. Ketika seorang hamba mampu melaksanakan segala titah Tuhannya dengan sabar, maka keberhasilan itu baru diturunkan dengan sempurna.

Ujian hidup itu dinyatakan Allah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya ini benar-benar merupakan suatu ujian yang nyata”.(QS.ash Shafaat/108). Artinya, keberhasilan hidup itu tidak terlepas dari porses ujian yang harus dijalani oleh manusia, itu merupakan sunnatullah yang tidak ada berubahan untuk selamanya, baik berlaku bagi orang-orang terdahulu maupun orang-orang kemudian, bahkan berlaku bagi kita semua. Meski ujian hidup tersebut tidak dengan perintah menyembelih anggota keluarga kita, tapi yang terjadi terkadang hakekatnya hampir sama. Semisal ketika kita sedang menghadapi salah satu anggota keluarga yang sakit keras, keluarga yang kita cintai itu sedang meregang nyawa karena sakit, hati orang beriman harus tetap tabah dan pasrah terhadap apa yang akan dikehendaki Allah kepadanya, mereka harus tetap yakin bahwa itu adalah yang terbaik baginya. Ujian hidup bagi orang beriman itu dinyatakan Allah dengan firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar – (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” – Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. Al-Baqoroh/155-157)

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Kata kunci yang mampu menjadi pembuka pintu berhasilan bagi orang beriman untuk melaksanakan pengorbanan dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan menyelesaikan segala ujian hidup tersebut adalah SABAR, sabar artinya: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”, semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Apabila makna kalimat tersebut sudah menancap kuat dalam jiwa kita bahkan menjadi karakter atau kebiasaan yang mampu mendasari prilaku dan perbuatan kita, maka dengan izin-Nya kita akan mampu melewati segala tantangan dan ujian-ujian hidup yang berarti pula akan berhak menerima keberhasilan dan kenikmatan yang sudah disiapkan untuk kita sejak zaman azali.

Namun dengan sabar itu bukan berarti kita mendiamkan sampai mati dalam kondisi menderita anggota keluarga kita yang sakit tanpa upaya penyembuhan. Dengan sabar itu kita juga wajib berusaha untuk mengupayakan penyembuhannya, tentunya dengan cara pengobatan yang kita yakini, namun demikian hati kita harus siap, apapun yang akan dikehendaki Allah, kita harus yakin bahwa itu adalah yang terbaik bagi kita. Dengan yang demikian itu, maka nafsu dan akal kita tidak lepas control dan membabi buta dalam mengupayakan penyembuhan, hati kita tidak dihantui dengan kekhawatiran yang berlebihan dan yang lebih penting lagi dari itu, ketika jalan upaya penyembuhan itu mampu kita sandarkan kepada petunjuk dan hidayah Allah, maka ketika saatnya tiba, kesumbuhan itu akan didatangkan oleh-Nya dengan segala hikmah dan pahala yang dijanjikan. Inilah hikmah terbesar dari peringatan hari besar IDUL QURBAN yang sedang kita peringati hari ini.

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Tradisi berkurban di Negri ini yang rupa-rupanya ada kecenderungan untuk berbalik arah, yang mestinya berkurban dengan kambing atau sapi, sebagian teman kita ternyata malah senang mengorbankan teman sendiri demi kepentingan pribadi, meskipun demikian, pada hari ini sebagian saudara-saudara seiman kita bahkan dari seluruh belahan bumi masih ada yang mampu melaksanakan pengorbanan besar itu, baik dengan harta maupun jiwanya. Mereka meninggalkan sanak saudara dan keluarga untuk melaksanakan panggilan suci guna menyempurnakan Rukun Islam, melaksanakan Ibadah Haji di Haromain dengan segala resiko yang bisa terjadi dalam perjalanan. Sebagian mereka bahkan ada yang berangkat dengan niat tidak kembali lagi, menyerahkan jiwa raga kepada penjagaan Ilahi Rabbi. Jika ibadah mereka itu diterima disisi Allah sehingga menjadi Haji yang Mabrul, maka tiada balasan yang pantas bagi mereka kecuali Surga.

Kita melihat fenomena ini setiap tahun, sudahkah hati kita mampu memetik hikmah darinya ?, dalam arti menancapkan semangat berkorban demi melaksanakan perintah Allah Ta’ala, bukan semangat mengorbankan teman sendiri untuk meraih harta dan tahta ? Jika belum, berarti masih ada yang harus dibenahi dalam hati kita. Penyakit macam apakah yang menjadikan hati kita keras melebihi batu sehingga tidak mampu mengambil pelajaran dari fenomena yang terang benderang ini. Semoga saja saudara-saudara kita yang pada tahun ini dan tahun sebelumnya telah mendapat kesempatan untuk melaksanakan pengorbanan itu dan mencicipi manisnya pahala yang dijanjikan mampu memetik hikmahnya, mereka selalu mampu melewati ujian hidup dengan hati SABAR sehingga benar-benar pantas mendapatkan surga yang dijanjikan itu, baik surga dunia dalam arti mencapai keberhasilan hidup, dan juga surga akhirat dalam arti mendapat kebahagian dan ridho Allah untuk selama-lamanya.

قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون : وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم .
وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين

MENCARI ILMU LADUNI (part 3)

Posted in Ilmu Laduni, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 23 November 2009 by malfiali

MENCARI ILMU LADUNI (part 3)

Dalam rangka mengenali rahasia ilmu laduni, di ayat lain Allah SWT. menyatakan sifatnya dengan lebih detail. Allah berfirman :

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآَنَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآَنَهُ (18) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ (19) كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ (20) وَتَذَرُونَ الْآَخِرَةَ

“Jangan kamu menggerakkan dengan Al-Qur’an kepada lidahmu untuk mempercepat dengannya * Sungguh atas tanggungan Kami penyampaian secara globalnya dan pembacaannya * Maka apabila Kami telah membacakannya maka ikutilah bacaannya * Kemudian sungguh atas tanggungan Kami pula penyampaian secara perinciannya * Sekali-kali janganlah demikian, sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai dunia * Dan meninggalkan kehidupan akhirat”. QS. al-Qiyamah.75/ 16-21.

Juga diriwayatkan dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu ‘Abbas ra. berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم . إِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ القُرْآنَ يُحَرِّكُ بِهِ لِسَانُه ُيُرِيْدُ أَنْ يَحْفَظَهُ ، فَأَنْزَلَ اللهُ تَبَاَرَكَ وَتَعَالَى : ” لَاتُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ “.رواه الترمذى

Adalah Rasulullah saw. ketika ِAllah menurunkan Al-Qur’an kepadanya, beliau menggerakkan lesannya untuk menghafalkannya, maka Allah menurunkan ayat: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur’an hendak cepat-cepat menguasainya”. HR Tirmidzi.

Melalui ayat diatas (QS.al-Qiyamah.75/16-21) kita dapat mengambil beberapa pelajaran :

1). Dalam rangka mempelajari dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an, orang dilarang menggerakkan lesannya untuk mengikuti bacaan yang didengar, karena ingin cepat memaham dan menghafalkan ayat yang didengar itu. Bagi seorang murid tidak boleh “mbarengi” bacaan gurunya, tetapi harus membaca dibelakang bacaan gurunya.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas ra.: “Bahwa Rasulullah saw. saat malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepadanya, setelah ayat ini diturunkan, beliau diam dan mendengarkan dan apabila Jibril pergi beliau baru membacanya”. HR. Bukhori. * Tafsir Fahrur Rozi.15/225 *

Ditegaskan pula di dalam firman-Nya yang lain:

وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآَنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Janganlah kamu tergesa-gesa dengan Al-Qur’an sebelum selesai mewahyukannya kepadamu. Dan katakanlah:”Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” QS. 20/114.

Mendengar dan Diam berarti me-Non Aktifkan potensi akal dan nafsu ternyata merupakan tombol untuk meng-Aktifkan potensi hati. Sebab, selama potensi akal dan nafsu masih aktif maka potensi hati akan tertutup rapat dari sumberi inspirasi ilahiyah. Itu manakala diam tersebut dalam arti menyandarkan pertolongan dan hidayah dari Allah, karena “Allah yang menurunkan Al-Qur’an dan Allah pulalah yang akan menjaganya”. (15/9)

Allah menegaskan lagi di dalam firman-Nya :

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat “. QS.al-A’raaf. 7/204.

2). Firman Allah SWT. إِنَّ عَلَيْنَا جمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ (17)”Inna ‘alainaa jam’ahuu wa qur’aanah”, (sungguh atas tanggunganku penyampaian secara global dan proses membacannya). Dikatakan: Secara globalnya di dadamu kemudian bacalah. Dan apabila dibacakan, maka ikutilah bacaannya.

Lafad “Inna ‘alainaa” mengandung arti wajib. Sebagian Ulama’ ahli tafsir mengartikan: seakan-akan Allah Ta’ala mewajibkan diri-Nya sendiri untuk melaksanakan janji-Nya. Dengan kata lain, ketika sebab-sebab telah tersusun dengan baik dan benar maka ilmu laduni akan diturunkan.

Selanjutnya, Ketika “perincian” dari yang global itu sudah waktunya dibacakan, yakni melalui proses romantika kehidupan, maka orang yang telah mendapat global itu harus mengikuti bacaan tersebut. Dalam arti menghadapi setiap tantangan dan menindaklajutinya dengan amal bakti, supaya ayat-ayat yang tersurat di dalam memori akal dapat dipadukan dengan ayat-ayat yang tersirat yang terbaca dalam realita, maka terjadilah arus pikir (tafakkur), lalu dengan hidayah dan petunjuk Allah Ta’ala seorang hamba akan menemukan mutiara hikmah di balik setiap kejadian dan fenomena.

Pengalaman ruhaniah adalah merupakan ilmu-ilmu spiritual (rasa) yang tidak hanya mampu menjadikan orang pintar tapi juga cerdas. Ilmu yang menjadikan hati seorang hamba yakin kepada yang sudah diketahui karena setiap keraguan hatinya telah mampu terusir.

Allah SWT. berjanji akan menolong hamba-Nya dengan membacakan perincian ilmu laduni itu, langsung dibisikkan di dalam hatinya, dalam bentuk teori-teori ilmiyah dan konsep-konsep tentang filosofi kehidupan, sebagai petunjuk dan bimbingan untuk menyelesaikan masalah di depan mata.

Adapun konsep-konsep tersebut berupa pemahaman hati yang tergali baik dari makna ayat Al-Qur’an al-Karim maupun hadits Rasulullah saw. Dengan yang demikian itu, maka ilmu orang yang mendapatkan ilmu laduni itu menjadi bagaikan pohon yang baik yang akarnya menunjang di tanah dan cabangnya menjulang di langit dan dengan izin Tuhannya buahnya dapat dimakan setiap saat.

3). Firman Allah SWT.:

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ (20) وَتَذَرُونَ الْآَخِرَة

“Sekali-kali janganlah demikian, Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai yang kontan * Dan meninggalkan yang akhir “. QS. al-Qiyamah. 75/20-21.

Lafad “Al-‘Aajilata” artinya kontan/instan, yang dimaksud adalah kehidupan duniawi. Artinya, hati orang yang mencari ilmu laduni itu tidak boleh ada kecenderungan kepada kehidupan duniawi, meski dalam arti ingin mempunyai “ilmu laduni”. Mereka itu harus mampu menyandarkan segala amal ibadah semata-mata hanya mengharap ridho Ilahi Rabbi. Allahu A’lam.

ILMU LADUNI adalah ILMU WARISAN (part 2)

Posted in Ilmu Laduni, alam ghaib, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 6 November 2009 by malfiali

Ilmu Laduni adalah Ilmu Warisan (part 2)

Dengan pemahaman hati tersebut, seorang hamba dapat memahami secara langsung makna yang dikandung didalam ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang dibaca maupun didengar. Berupa pemahaman yang amat luas dan universal sehingga kadang-kadang tidak mampu diuraikan baik melalui ucapan maupun tulisan. Pemahaman akan ma’na ayat yang didalamnya sedikitpun tidak dicampuri keraguan sehingga dapat menjadikan iman dan takwa seorang hamba kepada Allah Ta’ala menjadi semakin kuat.

Dalam menafsiri firman Allah SWT.:

إِنَّهُ لَقُرْآَنٌ كَرِيمٌ (77) فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ (78) لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada kitab yang terpelihara.Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” . QS. al-Waqi’ah.56/77-79.

Ulama’ berbeda pendapat dalam mengartikan Al-Muthohharuun (Orang-orang yang disucikan).
a). Dari Ibnu Abbas ra. yang dimaksud al-Kitab adalah kitab yang ada di langit, tidak ada yang menyentuhnya kecuali para malaikat yang disucikan. Seperti itu pula pendapat Anas, Mujahid, Ikrimah Said bin Jabir. Rodhiallahu ‘Anhum.
b). Yang dimaksud Al-Qur’an disini adalah mushhab, maka tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci dari junub dan hadats. Dengan dalil apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda :

وَلاَ يَمُسُّ الْقُرْآَنَ إِلاَّ طَاهِرٌ
“Dan tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci”.
*Tafsir Ibnu Katsir ayat 79 surat al-Waqi’ah*

c). Tidak dapat menyentuh terhadap pemahaman-pemahaman Al-Qur’an yang qodim (rahasia ilmu laduni) kecuali orang-orang yang hatinya bersih dan suci dari kotoran-kotoran manusiawi. Allah SWT. mengisyaratkan hal tersebut dengan firmannya :

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا (45) وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آَذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآَنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا

“Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, yaitu dinding yang tertutup * Dan Kami adakan tutupan diatas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya”. QS.al-Isra’.17/45-46.

Dari ayat diatas jelas menunjukkan bahwa orang yang mambaca atau mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an belum tentu memahami isinya, karena yang dibaca tersebut adalah Al-Qur’an hadits. Terhadap al-Qur’an yang hadits ini siapa saja dapat menyentuhnya. Adapun yang dipahami adalah Al-Qur’an yang qodim atau rahasia-rahasia dari ilmu laduni, terhadap al-Qur’an yang qodim ini tidak semua orang dapat menyentuhnya kecuali orang yang beriman dengan kehidupan akhirat. Sebab, yang dimaksud dengan membaca atau mempelajari adalah amalan lahir, sedangkan memahami adalah amalan bathin. Yang dibaca adalah yang lahir sedangkan yang dipahami adalah yang bathin. Maka tidak dapat menyentuh yang bathin kecuali dengan alat yang bathin pula, yaitu matahati yang cemerlang.

2). Bukti kebenaran Al-Qur’an.
Salah satu tanda-tanda kebenaran Al-Qur’an ialah bahwa isinya membenarkan isi kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Yang demikian itu menunjukkan bahwa kitab-kitab samawi tersebut adalah sama-sama wahyu dari Allah Ta’ala.

3). Ilmu yang diwariskan.
Lafad “Kami wariskan”, artinya pemahaman hati tersebut diturunkan kepada orang yang menerima dengan tanpa usaha. Diturunkan semata-mata dari kehendak Allah Ta’ala, meski itu merupakan buah ibadah yang dijalani oleh seorang hamba. Oleh karena ilmu tersebut diturunkan sebagai warisan, maka tentunya yang menerima warisan itu harus mengetahui dengan pasti siapa yang mewariskan ilmu tersebut kapada dirinya. Dengan asumsi seperti itu, maka pemahaman ini hanya dapat dihasilkan dari rahasia pelaksanaan tawasul secara ruhaniyah kepada orang yang ditawasuli. Maksudnya, rahasia sumber ilmu laduni itu hanya dapat terbuka dari sebab pelaksanaan tawasul kepada orang-orang yang telah terlebih dahulu mendapatkan warisan ilmu laduni dari para pendahulunya. Jadi, ilmu laduni itu adalah ilmu yang ada keterkaitan dengan ilmu para guru mursyid sebelumnya, guru-guru Mursyid tersebut sebagai pewaris sah secara berkesinambungan sampai kepada Maha Guru yang agung yaitu Baginda Nabi Muhammad Rasulullah saw.

Ayat diatas menjadi bukti bahwa ilmu laduni yang dimaksud bukanlah sesuatu yang didapatkan dari hasil bertapa didalam gua-gua di tengah hutan atau di kuburan angker—yang kemudian orang itu mendapatkan “linuwih” atau kelebihan-kelebihan dan kesaktian—yang datangnya tidak dikenali dari mana sumber pangkalnya. Ilmu laduni adalah ilmu yang diturunkan Allah Ta’ala didalam hati seorang hamba yang dipilihNya melalui proses tarbiyah azaliah, sebagai buah ibadah yang dijalani.

Kalau ada kelebihan atau kesaktian yang didapatkan orang dari hasil berburu dengan mujahadah dan bertapa di hutan-hutan, meski orang tersebut kemudian dapat berjalan cepat seperti mukjizatnya Nabi Sulaiman as. misalnya, kelebihan seperti itu bisa jadi merupakan kelebihan yang datangnya dari fasilitas makhluk Jin. Kelebihan seperti itu terkadang hanya sebagai istidroj (kemanjaan sementara) belaka, yang kemudian sedikit demi sedikit akan dicabut lagi bersama kehancuran pemilikinya. Terlebih lagi apabila kelebihan-kelebihan itu dibarengi dengan sifat sombong dan takabbur, sehingga cenderung hanya dijadikan alat untuk unjuk kesaktian yang dipamerkan kepada orang banyak, jika demikian keadaannya, maka itu dapat dipastikan bahwa kesaktian tersebut hanyalah istidroj belaka. (bersambung)

Jati Diri 2 SK copy

Sejak ilmu laduni itu memancar di hati seorang hamba, maka segera saja hamparan hati itu menjadi bagaikan sungai yang bermata airnya, meski sedang datang musim kemarau panjang, sedikitpun airnya tidak pernah berkurang. Atau seperti pelita di dalam kaca kristal yang sumbunya berminyak; “yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak  disentuh api” QS.an-Nur/24. Pelita itu akan memancarkan sinarnya setiap saat, meski sumbunya tidak pernah lagi dibasahi minyak. Hal tersebut bisa terjadi, karena rahmat Allah lebih dahulu dipancarkan sebelum pemahaman itu diturunkan, sehingga hamparan dada itu menjadi tambang ilmu yang tidak pernah berhenti memancar, meskipun disaat kesempatan untuk membaca dan mendengarkan sudah tidak dapat kembali terulang.Bahkan terkadang ilmu laduni yang muncul itu sedikitpun belum pernah tertulis dalam buku dan kitab yang ada. Berupa ilmu pengetahuan dan pemahaman yang aktual dan akplikatif. Hasil perpaduan ayat yang tersurat dengan ayat yang tersirat yang mampu menjadi solusi persoalan yang sedang aktual. Sebab, ketika kitab-kitab yang sudah ada itu sedang ditulis pada zamannya, keadaan yang sedang terjadi itu memang belum pernah dimunculkan oleh zaman. Seperti itulah contohnya, maka Al-Qur’an al-Karim diturunkan kepada Baginda Nabi saw. dengan cara berangsur-angsur.

 

Wahyu Allah itu diturunkan ayat demi ayat dengan mengikuti proses perkembangan keadaan dan zaman, sehingga mampu menjadi solusi dari setiap timbulnya tantangan dan kesulitan. Sungguh sangat beruntung orang-orang yang berusaha bersungguh-sungguh mendapatkannya, meski kemudian sampai mati dia belum juga pernah berhasil mencicipi kenikmatannya, namun yang pasti minimal pernah mencium bauhnya.

ILMU LADUNI adalah ILMU WARISAN (part 1)

Posted in Ilmu Laduni, alam barzah, alam ghaib, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 6 November 2009 by malfiali

Ilmu Laduni adalah Ilmu Warisan (part 1)

Ilmu laduni adalah ilmu warisan. Seseorang tidak mungkin mendapatkan ilmu laduni kecuali dengan sebab mendapat warisan dari orang lain, padahal yang dimaksud warisan adalah tinggalan orang mati. Oleh karenanya, satu-satunya jalan untuk mendapatkan Ilmu Laduni adalah melaksanakan tawasul secara ruhaniyah kepada para Guru Mursyid baik yang hidup maupun yang mati. Hal tersebut dilakukan oleh seorang salik untuk membangun sebab-sebab yang dapat menyampaikan kepada akibat yang baik, yakni mendapatkan ilmu laduni.

Tentang ilmu warisan ini telah dinyatakan Allah SWT dengan firman-Nya:

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ (31) ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya * Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menyiksa diri sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar “. QS.Fathir.35/31-32.

Ilmu warisan ini termaktub di dalam firman-Nya: “Tsumma aurotsnal kitaaba”. Yang artinya ; Kemudian Kami wariskan kitab itu. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa ada suatu jenis ilmu yang tidak diturunkan kepada seseorang kecuali dengan mendapatkan warisan dari orang yang telah terlebih dahulu mendapatkannya. Untuk lebih memudahkan pemahaman—insya Allah—marilah kita ikuti penafsiran dua ayat tersebut secara keseluruhan:

Dari ayat diatas akan kita uraikan menjadi beberapa pembahasan :

1). Tentang ilmu Al-Qur’an.
Yang dimaksud dengan al-Kitab (Al-Qur’an) {“wal ladzii auhainaa ilaika minal kitaab” (dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu al-Kitab)} di dalam ayat di atas adalah ilmu pengetahuan yang dikandung di dalam Al-Qur’an al-Karim.

Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad ra. dalam bukunya, “Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”, berkata:

أنَّ الْقُرْآَنَ الْعَظِيْمَ كَلاَمُ اللهِ الْقَدِيْمِ وَكِتَابُهُ الْمُنَزَّلُ عَلى نَبِيِّهِ وَرَسُوْلِهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْنِى الْكَلاَمَ النَّفْسِىَّ الْقَدِيْمَ وَالنَّظْمَ الْمَقْرُوْءَ الْمَسْمُوْعَ الْمَحْفُوْظَ الْمَكْتُوْبَ بَيْنَ دَفْتَرِ الْمُصْحَفِ

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah Kalam Allah yang qodim dan Kitab-Nya yang diturunkan kepada Nabi-Nya dan Rasul-Nya saw. yaitu ucapan didalam hati yang qodim dan susunan kata-kata yang dapat dibaca, dapat didengar dan terjaga didalam kitab antara catatan-catatan didalam buku”.

Dengan dikaitkan pendapat al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad ra. tersebut, maka Al-Qur’an al-Karim dibagi menjadi dua bagian:

1). Al-Qur’an sebagai Kalamullah yang qodim, sebagaimana firman Allah SWT:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami”.

2). Al-Qur’an sebagai Kitab yang hadits, yaitu tulisan dengan bahasa Arab yang tertulis di dalam mushab, sebagaimana firman Allah SWT :

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (19) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar ucapan utusan yang mulia (Jibril) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Yang mempunyai Arsy”.QS. at-Takwir/19-20

Maka yang dimaksud dengan al-Kitab— dalam ayat di atas—yang akan diwariskan kepada hamba-hamba dipilih, bukanlah Al-Qur’an yang hadits, melainkan Al-Qur’an yang qodim. Yakni berupa pemahaman hati dari ma’na yang dikandung Al-Qur’an yang hadits. Oleh karenanya, tidak mungkin seseorang dapat memahami al-Qur’an yang Qodim tanpa terlebih dahulu memahami makna al-Qur’an yang hadis.

Jadi, yang dimaksud ilmu warisan adalah pemahaman hati yang bentuknya tidak berupa tulisan yang dapat dilihat mata maupun suara yang dapat didengar telinga, melainkan rasa di dalam hati sebagai buah mujahadah atas dasar takwallah. Pemahaman hati tersebut bisa disebut sebagai ilmu laduni, manakala sumbernya terbit dari ilham secara langsung didalam hati yang datangnya dari urusan ketuhanan, bukan inspirasi hayali yang terkadang bisa jadi terbit dari bisikan Jin. (bersambung)

Jati Diri 2 SK copy

Al-Imam as-Suyuti ra. berkata:

Banyak orang mengira, bahwa “Ilmu Laduni” itu sangat sulit didapat. Mereka berkata bahwa Ilmu Laduni itu berada diluar jangkauan manusia, padahal tidaklah demikian. Untuk mendapatkan Ilmu Laduni ini hanya dengan jalan membangun sebab-sebab yang dapat menghasilkan akibat. Adapun sebab-sebab itu adalah amal dan zuhud. Kemudian beliau meneruskan: Ilmu-ilmu Al-Qur’an dan apa saja yang memancar darinya adalah sangat luas, bagaikan samudera
yang tidak bertepi, dan Ilmu Laduni merupakan alat yang mutlak bagi seseorang untuk menafsirkan ayat-ayatnya.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah mengajarmu”. QS.al-Baqoroh/282. Itulah Ilmu Laduni, Allah mengajarkan ilmu itu kepada hamba-hamba yang terpilih dengan cara membisikkan pemahaman melalui kalbunya, yaitu hati seorang hamba yang sudah bersih dari segala kotoran karakter duniawi yang tidak terpuji, sebagai buah ibadah yang dijalani. Adalah ilmu pengetahuan yang universal dan “rahmatan lil alamiin” yang akan mampu menghantarkan manusia kepada keberhasilan hidup, baik dunia, agama maupun akhirat. Ilmu tersebut dihasilkan dari perpaduan antara ilmu, iman dan amal yang dapat menghasilkan ilmu lagi.

Ketika seseorang sedang kasmaran dengan kekasihnya misalnya, dari refleksi klimaks keasyikan yang terjadi, kerapkali memunculkan pengertian dan pemahaman yang tidak terduga. Pemahaman itu bentuk wujudnya ternyata pengalaman-pengalaman hidup yang sangat berkesan, luas, unik, serta sukar dilupakan. Yang demikian itu apabila diteliti dengan cermat dan mendalam, secara mendetail dan terperinci, apalagi ketika pengalaman-pengalaman itu kadang-kadang ternyata berupa teori-teori tentang cinta—bahkan cinta seorang hamba kepada Tuhannya, padahal dia belum pernah sama sekali belajar tentang ilmu cinta, baik dengan membaca maupun mendengar. Dari manakah gerangan datangnya ilmu itu? Itulah yang dikatakan ilmu laduni, manakala ilmu itu menyangkut pemahaman hati tentang urusan ketuhanan.

Bahkan jauh lebih dalam dari itu. Dalam rangka mencari hakikat makna cinta, terkadang refleksi kerinduan yang terpendam akan sang kekasih, oleh sang perindu dijadikannya sebagai tambang inspirasi dan sumber ilham. Alam kerinduan itu dimasuki dan ditelusuri dalam bentuk pencarian-pencarian secara ruhaniah. Maka yang asalnya tidak mengerti menjadi mengerti dan yang asalnya tidak faham menjadi memahami.

Itulah api cinta ketika bergelora
Dari tambang pengembaraan ruhaniah
Ketika api itu larut bersama sinarnya
Membakar sekat dan hijab
Menembus dinding akal dan fikir
Membuka situs-situs Lauh mahfud
Maka, ruh membaca dan akal menyimpan data

Ketika kerinduan telah mereda
Dan buramnya pandangan mata telah sirna
Maka data-data yang ada di situs itu
Ternyata tempatnya telah berpindah
Oleh karena hanya Allah yang menghendaki
Maka pindahnya data itu disebut Laduniah Rabbaniyah

ADAKAH PESAN GEMPA UNTUK KITA ?

Posted in Taubat, takdir dengan kaitan (tags) on 8 Oktober 2009 by malfiali

Saya mendapat SMS dari seorang teman, …. isinya menjadikan hati ini tergagap, kengerian menghantui pikiran dan hati, ingat dosa yang bertumpuk-tumpuk yang belum rampung aku taubati…. semoga Allah Ta’ala melindungi dan menjaga IMAN orang beriman dari marabahaya dan fitnah besar yang sedang menerpa:

Gempa Padang terjadi pukul 17.16 coba lihat (QS.al-Isra(17):16):

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Gempa susulan terjadi pukul 17 . 38 lihat (QS.al-Isra(17):38:

كُلُّ ذَلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا

Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu.

Gempa di Jambi terjadi pukul 8.52 lihat (QS.al-Anfal(8):52)

كَدَأْبِ آَلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَفَرُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ

(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir`aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.

Apakah hati kita berani mengatakan fenomena ini merupakan kejadian yang kebetulan ….. ?? Padahal Allah juga berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka”.(QS.Shood(38):27)

Allah SWT telah menciptakan sunnah-Nya, dan sunnah itu tidak akan berubah selamanya:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.(QS.al-An’am(6):44)

Allah SWT juga sudah menyatakan:

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآَمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Sekali-kali Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.(QS.an-Nisa(4):147)

Apakah memang kita kurang bersyukur atas segala kenikmatan yang sudah dianugerahkan kepada kita sehinga Allah perlu memberi peringatan kepada kita …. ?? namun ternyata, … pada kenyataannya masih ada saja segelintir orang yang memanfaatkan kesedihan ini untuk menumpuk kekayaan pribadi ….

**************

Sungguhpun demikian, orang beriman yang sabar menghadapi musibah ini akan mendapat pahala yang tanpa batas:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”.(QS.az-Zumar(39)::10)

Bagi orang yg bersabar, bencana ini bukan siksa tapi ujian untuk menggapai kegembiraan yg disediakan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(QS.2/155)

7531_1178403832878_1611601059_433586_6369111_n

Di balik tangisan seorang hamba atas kesusahan yang menimpa, tersimpan keridhoan dan ampunan Allah,  sebab Allah sangat menyukai tangisan dan rengekan dari makhluk yang dibuat dengan tangan-Nya sendiri yang bernama manusia ini.

إذا اشتكى المؤمن أخلصه الله من ذنوبه كما يخلص الكير خبث الحديد – رواه البخاري

“Jika seorang mukmin merintih (karena kesusahan dan kesakitan) Allah membersihkannya dari dosa-dosanya sebagaiamana ubupan membersihkan karat-karat besi.”

Allah SWT menegaskan lagi dengan firman-Nya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri”. (QS.al-An’am(6):42)

Dan juga firman-Nya:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”.(QS.al-Hadid(57):16)

Semoga pesan ini mampu menambah introspeksi diri bagi kita semua .. amiin

sNdroDWq51

safe_image.php

MEMBANGUN BENTENG PERLINDUNGAN DARI GANGGUAN SETAN JIN

Posted in Do'a, alam ghaib, dunia jin dengan kaitan (tags) on 30 September 2009 by malfiali

Barangsiapa berharap kepada Allah agar Allah Ta’ala membangunkan BENTENG PERLINDUNGAN untuk diri sendiri dan keluarga serta teman dan jama’ahnya dari gangguan setan jin baik secara jasmani maupun ruhani, hal tersebut karena mendapat barokah SIRR dari guru-guru yang kita tawasuli setiap saat, dengan mendawamkan do’a ini, insya Allah, Allah Ta’ala akan mengijabahi.

Teman-teman yang berkenan boleh mengamalkannya, ini sebagai ijazah dan bonus, bisa dibaca setiap habis sholat fardhu, terutama setelah sholat tahajjud, semoga Allah mengabulkan do’a dan harapan kita semua, … aamiin

Do’a ini dikutip dari kitab Futuhatul Ilahiyat, karya, al-Imam, al-Arif billah, al-Qutub; Habib Ali bin Muhammad bin Husen al-Habsyi ra.
Diterbitkan; oleh al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghozali

اَللّهُمَّّ اجْعَلْنَا سَالِمًا فِى دِيْنِنَا وَجَسَدِنَا وَقَلْبِنَا وَفِعْلِنَا وَقَوْلِنَا وَنِيَّتِنَا وَوُجْهَتِنَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم , وَاقْصُرْهُ عَنَّا وَعَنْ مَنْ أَحَبَّنَا قَصْرًا لاَيَخْطُرُلَهُ عَلَى بَالٍ , وَأَدْخِلْنَا فِى دَائِرَةِ وِقَايَتِكَ مِنْهُ الشَّاهِدَةِ لَهَا آَيَةٌ (إِنَّ عِبَادِىْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ) فَاجْعَلْنَا يَا رَبِّ مِنْ عِبَادِكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ , وَجَنِّبْنَا الْهَوَى الْمُرْدِى , وَاجْعَلَْ نُفُوْسَنَا فِى النُّفُوْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ الرَّاضِيَةِ الْمَرْضِيَّةِ الْكَامِلَةِ , وَحَقِّقْ يَارَبْ جَمِيْعَ مَا رَجَوْنَاهُ , وَتَقَبَّلْ مِنَّا جَمِيْعَ مَا دَعَوْنَاهُ , وَاجْعَلْ لَنَا رَابِطَةً اتِّصَالٍ بِأَهْلِ الْكَمَالِ مِنْ عِبَادِكَ اْلصَالِحِيْنَ وحِزْبِكَ اْلمُفلِحِيْنَ مِنْ مَشَايِخِ اْلقَادِرِيَّةِ وَاْلنَقْسَبَنْدِيَّةِ , وَارْزُقْنَا كَمَالَ اْلأَدَبِ مَعَهُمْ وَحُسْنَ اْلإِعْتِقَادِ فِيْهِمْ وَصِدْقَ اْلوُدِّ لَهُمْ , وَانْفَعْنَابِهِمْ نَفْعًا نَسْتَمِدُّبِهِ مِنْ مَعْرِفَةِ اْلعَارِفِ مِنْهُمْ , وَوِلَايَةِ اْلوَلِيِّ , وَقَرْبِ اْلمُقَرَّبِ , وَصِدْقَ اْلصَادِقِ , وَانْفَعْنَا بِهِمْ , وَسَادَتُنَا اْلأَنْبِيَاءُ وَاْلمُرْسَلُوْنَ . فَنَسْأَلُكَ اللهُمَّ أَنْ تَرْزُقَنَا حِفْظَ حُرْمَتِهِمْ , وَصِدْقَ مَحَبَّتِهِمْ , وَأَنْ تَزِيْدَهُمْ مِنْ فَضْلِكَ الَّذِى أَوْلَيْتَهُمْ زِيَادَةَ تَشْرِيْفِ فَوْقَ شَرَفِهِمْ , وَتَكْمِيْلِ فَوْقَ كَمَالِهِمْ , وَاحْفَظْنَا مِنْ سُوْءِ اْلأَدَبِ مَعَهُمْ فِى كُلِّ قَوْلٍ وَاعْتِقَادٍ وَعَمَلٍ وَنِيَّةٍ , وَاجْعَلْ لَنَا مِنْهُمْ مَدَدًا وَافِرًا , يَا مُجِيْبَ الدَّاعِى وَيَا مُغِيْثَ الْمُسْتَغِيْثِ وَيَا رَاحِمَ الضَّعِيْفِ أَجِبْ دَعْوَاتِنَا وَعَجِّلْ بِقَضَاءِ حَاجَاتِنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Do'a Pigora copy

KHUTBAH IDUL FITRI 1430H/2009M

Posted in Khutbah dengan kaitan (tags) on 16 September 2009 by malfiali

Kartu Lebaran Web 2A

Khutbah I (kesatu)

بسم الله الرحمن الرحيم

الله أكبر –9
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا . لااله إلا الله وحده . صدق وعده. ونصر عبده. وأعزجنده وهزم الأحزاب وحده . لااله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون

الحمد لله , الحمد لله رب العلمين , والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين, وعلى آله وصحبه حملة لواء الدين , وانجم الهداية للمقتدين والواصلين
اشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له الملك الحق المبين . واشهد أن محمد عبده ورسوله النور المبين والسراج المنيرخاتم النبيين.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله واصحبه وأزواجه وذرياته ومن تبعهم إلى يوم الدين

أما بعد : فيا إخوان الكرام , اتقوا الله تعالى فقد فاز المتقون.
قال الله تعالى في القران الكريم : قد أفلح من تزكى وذكر اسم ربه فصلى . بل تؤثرون الحياة الدنيا والآخرة خير وأبقى

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا(1)لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا(2)وَيَنْصُرَك

َ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا(3)هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd. Ma’a-syiral Muslimi-na Rahimakumulla-h.

Setelah orang-orang beriman menunaikan kuwajiban ibadah puasa selama tiga puluh hari penuh di bulan suci Ramadhan, setelah mereka menyempurnakan keberkahan bulan itu dengan ibadah tambahan, seperti shalat tarawih dan tadarus, dan setelah mereka menutup penghujung bulan itu dengan menunaikan shadaqoh dan zakat fitrah dengan ihlas sehingga diterima di sisi Allah dengan peneriman yang baik, maka pada tanggal 1 (satu) syawal anak Adam kembali kepada fitrahnya.

Hari ini idul fitri. Sejak kemarin sore hingga semalaman dan sampai fajar pagi, dari segala penjuru belahan bumi, kalimat takbir, tahmid dan tahlil dikumandangkan bersama-sama. Bertalu-talu menghentak rongga dada dan merontokkan isinya. Mengguncang suasana, memeras hati dan menguras air mata. Menghidupkan hati mati, menggugah yang malas, mengingatkan yang lupa. Sedih menjadi gembira, derita dan nestapa menjelma bahagia. Yang keras dan kasar menjadi lentur, dendam dan iri dilupakan, dosa dan salah dimaafkan. Semua itu melebur menjadi kenikmatan azali, menyatu mengikuti irama syahdu silih berganti. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd.

Sungguh Maha Besar Allah dengan segala ciptaan dan kekuasaan-Nya meski sekalipun tidak pernah ditakbirkan oleh siapa-siapa. Sungguh Allah tidak butuh dengan segala takbir itu. Akan tetapi di saat yang sangat bahagia ini agar Allah dirasa Besar di dalam dada hamba-Nya. Di dalam hati orang beriman yang telah melaksanakan tazkiyah sebulan penuh di bulan suci Ramadhan.

Dengan tazkiyah itu orang beriman membakar dosa dan kesalahan dengan api lapar dan dahaga. Menyepuh karakter yang berkarat dengan bara penyesalan dan taubatan nasuha. Memadamkan api amarah dan dendam dengan salju pengampunan. Mengosongkan rongga dada dari sifat sombong dan angkaramurka dengan tarawih dan tadarus malam. Selanjutnya, menjelang bulan Syawal (bulan peningkatan) tiba, di malam itu, mereka memancarkan kasih sayang dan pengampunan dengan shadaqah dan zakat fitrah.

Ketika hati telah menjadi putih bersih, kembali kepada fitrahnya, maka takbir disemaikan di dalamnya, agar Allah benar-benar Maha Besar di sana sehingga dunia dan isinya menjadi terasa kecil dan tidak mengusik lagi meski orang-orang beriman itu terpaksa harus bergelimang dengannya sepanjang tahun.

Paginya, di masjid yang mulia ini, dengan seluruh pemilikan yang ada, baik ucapan perbuatan maupun rasa, bersama seluruh keluarga dan handai taulan, hamba-hamba yang rindu kepada Junjungannya itu bersama-sama melebur menjadi satu. Larut dalam satu rasa dan nuansa. Menyatukan perasaan menghadap kepada-Nya untuk melahirkan kebesaran itu. Melahirkan rasa syukur, bahwa dengan Kebesaran itu, kali ini mereka mampu membesarkan-Nya.

Bahkan sejak sebulan penuh selama bulan Ramadhan. Dengan puasa maupun qiyamullail serta tadarusnya, mereka telah berusaha memasukkan Kebesaran itu di dalam hidupnya, di dalam jiwanya, dengan harapan, semoga yang sudah dilaksanakan itu diterima di sisi-Nya. Selanjutnya, semoga segala yang hina dimuliakan, segala yang rusak diperbaiki, segala yang kurang ditambahkan, yang sakit disembuhkan, yang sembuh disehatkan dan yang sehat dikuatkan demi Kebesaran-Nya yang abadi.

Itulah Idul Fitri, artinya kembali kepada Fitrah. Manusia telah kembali kepada asalnya, Kembali suci bersih, Kembali tidak punya dosa sehingga karakter mereka menjadi jernih. Karakter manusia telah kembali bersih dari hasut dan sombong, dari riya’ dan dengki sebagaimana pertama kali mereka dilahirkan oleh ibunya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd. Ma’a-syiral Muslimi-na Rahimakumulla-h.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mem¬persekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (QS.An-Nisa’(4);48).

Selain dosa syirik, terhadap orang-orang yang dikehendaki, Allah Maha Penerima taubat dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Rahmat Allah jauh lebih besar dibandingakan dosa-dosa hamba-Nya meskipun juga, tiada dosa kecilpun yang akan terlepas dari keadilan-Nya. Allah merasa sangat gembira kepada seorang hamba yang mau bertaubat. Allah bahkan lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya dibandingkan gembiranya orang yang menemukan untanya kembali setelah beberapa saat hilang. Unta itu pergi dengan membawa perbekalan makan dan minum di dalam perjalanan di kawasan yang tandus dan kering. Di saat musafir padang pasir itu beristirahat, diam-diam untanya meninggalkan dirinya dengan membawa seluruh perbekalan. Setelah dia mencari unta itu kesana kemari dengan susah payah dan tidak berhasil menemukan, dalam keadaan sangat lapar dan haus, dia berteduh di bawah pohon dengan penuh putus asa. Dia hanya dapat menunggu saat kematian datang sambil berbaring di atas akar pohon tersebut.

Dalam keadaaan seperti itu tiba-tiba unta yang dicari itu datang dengan seluruh perbekalan masih utuh. Lalu dia memegangi tali kekang unta itu sambil berkata dengan tanpa sadar atas kesangatan gembira yang dirasakan: “Ya Allah! Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu”. Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya dibandingkan kegembiraan orang tersebut. Rasulullah SAW meriwayatkan peristiwa itu denan sabdanya :

حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT lebih merasa gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kamu di saat di dalam perjalanan di kawasan tandus (kering kerontang). Ketika berhenti beristirahat kemudian untanya berjalan perlahan-perlahan meninggalkannya sambil membawa perbekalan makanan dan minuman. Setelah dia mencari kesana-kemari dengan susah payah kemudian bernaung di bawah keteduhan bayang-bayang pohon serta berbaring di atas pokok akar dengan penuh rasa putus asa, dalam keadaaan yang demikian kemudian dengan tiba-tiba unta yang dicarinya muncul di sisinya. Dia terus memegang tali unta itu. Kemudian berkata dengan tanpa sadar atas kesangatan gembira yang dirasakannya: “Ya Allah! Engkau hambaku dan aku tuhan-Mu”. Karena ingatannya diputus oleh rasa kegembiraannya.

1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Doa hadits nomor 5834.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Taubat hadits nomor 4932.(CD. al-Bayan)

Di dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda:

حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri RA berkata: Nabi SAW bersabda: Seorang lelaki dari kalangan ummat sebelum kamu telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang, lalu dia mencari seorang yang paling ‘alim di daerah itu. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang pendeta, dia datang menjumpai pendeta tersebut dan berkata: Aku telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang, adakah taubatku bisa diterima? Pendeta itu menjawab: Tidak. Mendengar jawaban seperti itu, langsung saja pendeta itu dibunuhnya, maka genaplah seratus orang yang telah dibunuhnya. Tanpa putus asa dia mencari lagi seseorang yang paling ‘alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang Ulama, dia menjumpai Ulama tersebut dan berkata: Aku telah membunuh sebanyak seratus orang. Adakah taubatku masih bisa diterima? Ulama itu menjawab: Ya! Siapakah yang dapat menghalangi kamu untuk bertaubat? Pergilah ke negeri si fulan, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan pulang ke negerimu, karena lingkungan di negerimu sangat jelek.

Lelaki itu berangkat menuju tempat yang ditunjukkan. Ketika berada di pertengahan perjalanan tiba-tiba dia mati, kematian itu menyebabkan Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab bertengkar. Malaikat Rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah, sedangkan Malaikat Azab berkata: Dia belum melakukan suatu kebaikanpun. Lalu Malaikat yang lain datang dalam keadaan ujud manusia dan melerai mereka sambil berkata: Ukurlah jarak di antara kedua tempat. Mana yang lebih dekat itulah tempatnya. Lantas mereka mengukurnya. Ternyata mereka dapati lelaki tersebut lebih dekat kepada negeri yang ditujunya. Akhirnya dia diambil oleh Malaikat Rahmat

1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Cerita-cerita Para Nabi hadits nomor 3211.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Taubat hadits nomor 4167.(CD.al-Bayan)

Taubat yang dilakukan seorang hamba harus dimulai dari hati. Orang yang bertaubat harus sadar akan dosa-dosa yang sudah diperbuat dan menyesali lalu ditindaklanjuti dengan amal sholeh. Dalam arti meninggalkan segala kejelekan yang pernah dilakukan dan menggantinya dengan amal ibadah dan pengabdian yang hakiki. Disamping itu, supaya taubat tersebut bisa dilaksanakan dengan benar, orang yang bertaubat harus mendapat bimbingan guru ahlinya. Hal itu diisyaratkan Nabi SAW dalam sabdanya di atas; “Laki-laki tersebut bertanya kepada orang-orang yang paling ‘alim di negerinya”.

Ketika taubat sudah dilakukan sunguh-sungguh, meski taubat itu baru dilakukan pada tahap awal. Bahkan sebelum orang yang bertaubat itu selesai melaksanakan taubatnya, orang itu mati di tengah perjalanan, ternyata taubatnya diterima di sisi Allah, padahal orang itu bertaubat dari dosa membunuh seratus orang. Itu menunjukkan, betapa rahmat Allah jauh lebih besar dibandingakan dosa-dosa hamba-Nya, namun tentunya, asal seorang hamba bersungguh-sungguh dalam melaksanakan taubat kepada-Nya.

Hadits tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi hamba Allah yang beriman. Tuntunan yang diajarkan Allah melalui rasul-Nya. Orang beriman tidak harus putus asa terhadap dosa-dosa yang sudah mereka perbuat. Sebesar apapun dosa itu, asal bukan dosa syirik, manakala mereka bersungguh-sungguh bertaubat, niscaya Allah akan mengampuninya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd. Ma’a-syiral Muslimi-na Rahimakumulla-h.

Berikut ini Kisah “Dahyah Al-Kalbi” salah satu raja suku bangsa Arab yang masuk islam di hadapan Baginda Nabi SAW dengan seluruh anggota keluarganya.

Diceritakan bahwa Rasulullah SAW menyukai Islamnya Dahyah al-Kalbi. Karena dia masuk islam bersama 600 anggota keluarganya di hadapan Nabi. Suatu saat Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah masukkanlah Dahyah al-Kalbi ke dalam Islam”. Saat Dahyah menginginkan masuk Islam Allah mewahyukannya kepada Nabi SAW setelah salat subuh. “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mengirimmu salam dan berfirman bahwa Dahyah akan menemuimu sekarang”.

Hati para sahabat diliputi rasa takut terhadap Dahyah pada masa Jahiliyah. Saat Sahabat mendengar berita tersebut, mereka tidak menginginkan Dahyah berada di tengah-tengah mereka. Rasulullah SAW mengetahuinya, beliau ingin menunjukkan kedudukan Dahyah. Rasulullah SAW tidak ingin bila Dahyah masuk Islam, lalu diperbincangkan dan dilemahkan hatinya. Karenanya, saat Dahyah masuk masjid, Nabi SAW mengangkat sorban dari punggungnya kemudian menghamparkan ke bumi dihadapannya sambil berkata, “Dahyah kemarilah”, Nabi SAW menunjuk kepada sorban itu.

Dahyah menangis melihat kemuliaan akhlak Rasulullah SAW tersebut. Dia mengangkat sorban Nabi, mencium dan meletakkan di atas kepala dan matanya. Dia berkata, “Apakah persyaratan masuk Islam? Terangkan kepadaku,” Rasulullah SAW bersabda, “Pertama kali hendaklah engkau membaca “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah”. Lalu Dahyah mengucapkan syahadat sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya, “Apakah arti tangisan ini padahal engkau telah dikaruniai Islam?” dia menjawab, “Sungguh aku telah melakukan dosa sangat besar, tanyakan kepada Tuhanmu apakah tebusannya? Bila Dia memerintahkan aku membunuh diriku, niscaya aku lakukan. Bila memerintahkan untuk mengeluarkan semua hartaku niscaya akan aku tunaikan”

Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kesalahanmu wahai Dahyah?” Dahyah menjawab. “Aku adalah salah seorang raja bangsa Arab dan aku tidak ingin anak-anak perempuanku bersuami, hingga aku telah membunuh 70 anak perempuanku dengan tanganku sendiri.” Nabi SAW bingung mendengar cerita itu sehingga malaikat Jibril turun dan berkata: “Wahai Muhammad, sungguh Allah telah mengucapkan salam buatmu dan berkata kepada Dahyah, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, ketika engkau mengatakan ”Tiada Tuhan selain Allah,” Aku telah mengampuni dosa kafir dan kejahatanmu selama 60 tahun, bagaimana Aku tidak mengampuni dosamu yang akibat membunuh anak-anakmu itu ? “

Nabi SAW dan para sahabat menangis. Nabi SAW bersabda: “Ya Allah, Engkau telah mengampuni Dahyah yang telah membunuh 70 anaknya sendiri dengan hanya membaca syahadat sekali, maka bagaimana Engkau tidak mengampuni dosa orang-orang beriman yang setiap hari membaca syahadat dan berkata benar serta ikhlas. ( Hikayat Ash-Shufiyah. Muhammad Abu al-Yusr Abidin)

Dosa Dahyah adalah dosa yang dilakukan sebelum Islam. Meski dengan kejahatan selama 60 tahun, dosa tersebut dapat terhapus hanya dengan sekali membaca dua kalimat syahadat. Berbeda dengan dosa yang dilakukan oleh orang beriman, terlebih jika mereka sengaja melakukannya. Dosa yang sengaja dilakukan itu tidak cukup dapat dihapus dengan membaca kalimat syahadat saja, meski dua kalimat syahadat itu dibaca berulang-ulang pada setiap mereka melaksanakan sholat. Dosa tersebut harus ditaubati dengan sungguh-sungguh, sampai Allah benar-benar mengampuninya. Namun demikian orang beriman tidak boleh putus asa terhadap rahmat Allah, meskipun dosanya lebih besar dari gunung Uhud, rahmat Allah jauh lebih besar lagi. Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang(QS.Az-Zumar(39);53).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd. Ma’a-syiral Muslimi-na Rahimakumulla-h.

Bulan suci Ramadhan dengan segala keutamaannya, baik rahmat, magfirah dan kebebasan dari neraka, hendaknya dapat kita jadikan momentum. Dengan ibadah utama itu menjadikan dosa-dosa orang beriman diampuni sehingga mereka menjadi orang yang bertakwa. Dalam kaitan ini maka kita bisa menambil kesimpulan: Yang dimaksud Hari Idul Fitri bukan hanya dengan memakai pakaian baru, makan yang baik-baik, memakai perhiasan yang indah-indah, bersenang-senang dengan keni’matan dan memperturutkan nafsu syahwat. Idul Fitri adalah menampakkan tanda diterimanya ta’at, dihapusnya dosa dan kesalahan, digantinya kejelekan dengan kebaikan, melahirkan kegembiraan dengan diangkatnya tingkat derajat dan kemulyaan di sisi Allah Ta’ala, lapangnya dada dengan Nur iman dan Ma’rifatullah, tenangnya hati dengan yakin dan dengan apa lagi yang munculnya oleh tanda-tanda yang lain, yakni memancarnya samudera ilmu dari hati melalui lisan dan ucapan berupa untaian kata-kata bijak dan kata-kata mutiara serta puisi dan sastra.

Hal tersebut sebagaimana yang pernah terjadi dari peristiwa seorang laki-laki ketika bertamu ke Rumah kediaman Imam Ali RA. pada hari Id. Dijumpainya Imam Ali RA. sedang makan tepung gandum kasar. Laki-laki itu bertanya: Hari ini adalah hari raya, mengapa Anda makan tepung gandum yang kasar ini?. Imam Ali RA. menjawab: Hari raya Idul Fitri adalah hari raya bagi orang yang puasanya diterima di sisi Allah, perjuangannya di sampaikan dan dosanya diampuni. Maka hari ini bagi kita hari raya, besuk juga hari raya, dan setiap hari dimana kita tidak berbuat ma’shiat berarti hari raya. Maka sayogyanya bagi orang berakal tidak memandang hari raya Id dengan pandangan dan penilaian yang lahir saja, tetapi juga yang batin dengan kaca mata tafakkur dan i’tibar. (Al-Ghunyah. 2/22)

قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون : لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم . ثم رددناه أسفل سافلين . إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات فلهم أجر غير ممنون

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم

وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين

Khutbah II (kedua)

الله أكبر –9 الله أكبر ولله الحمد

الحمد لله , الحمد لله الذى جعل الدين رباطا متينا بين قلوب المؤمنين . وامربالاتحاد والتعاون ونهى عن التفرق والتنازع فى كتابه المبين

اشهد أن لا اله إلا الله القوى المتين . واشهد أن محمد عبده ورسوله ذوالقلب الرحيم والخلق العظيم وسيد الأنبياء والمرسلين

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وأزواجه وذرياته الذين طابت نفوسهم وصغت قلوبهم فكانوا هم السادة المنصورين

أما بعد : فيا إخوان الكرام , اتقوا الله تعالى فقد فاز المتقون
قال الله تعالى : لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ(4)ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ(5)إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ(6)

وقال أيضا : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما باركت على سيدنا إبرهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.

اللهم ارضى عن الخلفاء الراشدين امراء المؤمنين سادتنا أبي بكر وعمر وعثمان وعلي رضي الله عنهم وعن بقية الصحابت أجمعين وعنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين .
اللهم إغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحيآء منهم والأموات . إنك سميع قريب مجيب الدعوات وقاضي الحاجات

اللهم كما أنعمت علينا بالاسلام فزدنا منه ……..
اللهم حسن إيماننا بالتوفيق وزين سرائرن بالتحقيق
ربنا آتنا فى الدنيا حسنة ………

عباد الله , إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فأذكروا الله أذكركم وأشكروه على نعمه يزدكم وأسئلوه من فضله يؤتكم . ولذكرالله أكبر

Kartu Lebaran Web

Dosa Terakhir (part – 3)

Posted in Hikam, Taubat dengan kaitan (tags) , on 11 September 2009 by malfiali

DOSA YANG DIAMPUNI BAGI ORANG YANG BERTAUBAT:

Firman Allah di atas (QS.An-Nisa’(4); 112) yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. Terhadap dosa selain syirik, dosa besar yang bagaimanapun, jika Allah menghendaki, pasti akan diampuni, namun tentunya bagi yang mau bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya. Sebab rahmat Allah lebih besar dibandingakan dosa hamba-Nya.

Di dalam suatu riwayat disebutkan; Allah merasa sangat gembira kepada seorang hamba yang mau bertaubat kepada-Nya. Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya daripada gembiranya orang menemukan untanya setelah beberapa saat hilang. Unta itu hilang dengan membawa perbekalan makan dan minum di tengah perjalanannya di kawasan yang tandus dan kering. Di saat musafir itu sedang beristirahat, untanya meninggalkan dirinya pelan-pelan dengan membawa seluruh perbekalan perjalanan. Setelah dia mencari unta itu kesana kemari dengan susah payah dan tidak menemukannya, dalam keadaan sangat lapar dan haus, dia berteduh di bawah pohon rindang dengan penuh rasa putus asa dan pasrah. Dia hanya bisa menunggu saat kematian datang menjemput dengan pelan-pelan sambil berbaring di atas akar pohon tersebut.

Dalam keadaaan seperti itu tiba-tiba unta yang dicari itu datang beserta seluruh perbekalan yang masih utuh. Lalu dia memegang tali kekang unta itu sambil berkata dengan tanpa sadar atas kesangatan gembira yang dirasakan: “Ya Allah! Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu”. Allah lebih merasa gembira dengan taubat hamba-Nya dibandingkan kegembiraan orang yang menemukan untanya tersebut. Rasulullah SAW meriwayatkan dengan sabdanya:

حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ *

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: AllahSWT lebih merasa gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kamu di saat di dalam perjalanan di kawasan tandus (kering kerontang). Ketika berhenti beristirahat kemudian untanya berjalan perlahan-perlahan meninggalkannya sambil membawa perbekalan makanan dan minuman. Setelah dia mencarinya kesana-kemari dengan susah payah kemudian bernaung di bawah keteduhan bayang-bayang pohon serta berbaring di atas pokok akar dengan penuh rasa putus asa, dalam keadaaan yang demikian kemudian dengan tiba-tiba unta yang dicarinya muncul di sisinya. Dia terus memegang tali unta itu. Kemudian berkata dengan tanpa sadar atas kesangatan gembira yang dirasakannya: “Ya Allah! Engkau hambaku dan aku tuhan-Mu”. Karena ingatannya diputus oleh rasa kegembiraannya.

1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Doa hadits nomor 5834.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Taubat hadits nomor 4932. (CD al-Bayan)

Di dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda:

حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri RA berkata: Nabi SAW bersabda: Seorang lelaki dari kalangan ummat sebelum kamu telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang, lalu dia mencari seorang yang paling ‘alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang pendeta, dia datang menjumpai pendeta tersebut dan berkata: Aku telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang manusia, adakah taubatku masih diterima? Pendeta tersebut menjawab: Tidak. Mendengar jawaban itu, dia terus membunuhnya dan genaplah seratus orang manusia yang telah dibunuhnya. Tanpa putus asa dia mencari lagi seseorang yang paling ‘alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang Ulama, dia terus menjumpai Ulama tersebut dan berkata: Aku telah membunuh sebanyak seratus orang manusia. Adakah taubatku masih diterima? Ulama itu menjawab: Ya! Siapakah yang dapat menghalangi kamu untuk bertaubat? Pergilah ke negeri si fulan, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah. Kamu beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan pulang ke negerimu karena negerimu adalah negeri yang lingkungannya sangat jelek. Lelaki tersebut berangkat menuju ke tempat yang ditunjukkan. Ketika ia berada di pertengahan perjalanan tiba-tiba dia mati, kematian itu menyebabkan Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab bertengkar. Malaikat Rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah sedangkan Malaikat Azab berkata: Dia belum melakukan suatu kebaikanpun. Lalu Malaikat yang lain datang dalam keadaan ujud manusia dan mencoba menghakimi mereka sambil berkata: Ukurlah jarak di antara kedua tempat. Mana yang lebih dekat itulah tempatnya. Lantas mereka mengukurnya. Ternyata mereka dapati lelaki tersebut lebih dekat kepada negeri yang ditujunya. Akhirnya dia diambil oleh Malaikat Rahmat

1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Cerita-cerita Para Nabi hadits nomor 3211.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Taubat hadits nomor 4167.(CD al-Bayan)

Taubat yang dilakukan seorang hamba harus dimulai dari dalam hati. Orang yang bertaubat harus sadar akan dosa-dosa yang sudah diperbuat dan menyesali perbuatan itu kemudian ditindaklanjutinya dengan amal sholeh. Meninggalkan segala kejelekan yang pernah dilakukan dan menggantinya dengan amal ibadah dan pengabdian yang hakiki. Disamping itu, supaya taubat tersebut bisa dilaksanakan dengan benar, orang yang bertaubat itu harus mendapat bimbingan guru ahlinya. Hal itu diisyaratkan Nabi SAW dalam sabdanya di atas; “Laki-laki tersebut bertanya kepada orang-orang yang paling ‘alim di negerinya”.

Ketika taubat itu sudah dilaksanakan dengan sunguh-sungguh, meski taubat itu baru dilakukan tahap awal. Sebelum orang tersebut selesai melaksanakan taubatnya, orang yang bertaubat itu mati di tengah perjalanan. Ternyata taubat tersebut diterima di sisi Allah, padahal orang itu bertaubat dari dosa membunuh seratus manusia. Itu menunjukkan rahmat Allah jauh lebih besar daripada dosa hamba-Nya, asal seorang hamba bersungguh-sungguh dalam melaksanakan taubat kepada-Nya.

Hadits tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi hamba Allah yang beriman. Tuntunan yang diajarkan Allah melalui rasul-Nya. Oleh karena itu, orang beriman tidak harus putus asa terhadap dosa-dosa yang sudah mereka perbuat. Sebesar apapun dosa itu, asal bukan dosa syirik, apabila mereka bersungguh-sungguh bertaubat, niscaya Allah akan mengampuninya, dalam arti dihapus dari catatan amal sehingga bebas dari hisaban. Adapun dosa syirik, sekecil apapun dosa itu, tetap tidak akan pernah terhapus untuk selamanya sehingga pemiliknya akan berhadapan dengan keadilan Allah baik di dunia maupun di akhirat nanti,… wal iyadzu billah.

Kisah “Dahyah Al-Kalbi” salah satu raja suku bangsa Arab yang masuk islam di hadapan Baginda Nabi SAW dengan seluruh anggota keluarganya.

Diceritakan bahwa Rasulullah SAW menyukai Islamnya Dahyah al-Kalbi. Karena dia masuk islam bersama 600 anggota keluarganya di hadapan Nabi. Suatu saat Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah masukkanlah Dahyah al-Kalbi ke dalam Islam”. Saat Dahyah menginginkan masuk Islam Allah mewahyukannya kepada Nabi SAW setelah salat subuh. “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mengirimmu salam dan berfirman bahwa Dahyah akan menemuimu sekarang”.

Hati para sahabat diliputi rasa takut terhadap Dahyah pada masa Jahiliyah. Saat Sahabat mendengar berita tersebut, mereka tidak menginginkan Dahyah berada di tengah-tengah mereka. Rasulullah SAW mengetahuinya, beliau ingin menunjukkan kedudukan Dahyah. Rasulullah SAW tidak ingin saat Dahyah masuk Islam, diperbincangkan dan dilemahkan hatinya untuk memeluk Islam. Karenanya, saat Dahyah masuk masjid, Nabi SAW mengangkat sorban dari punggungnya kemudian menghamparkan ke bumi dihadapannya sambil berkata, “Dahyah kemarilah”, Nabi SAW menunjuk kepada sorbannya itu.

Dahyah menangis melihat kemuliaan akhlak Rasulullah SAW tersebut. Dia mengangkat sorban Nabi, mencium dan meletakkannya di atas kepala dan matanya. Dia berkata, “Apakah persyaratan masuk Islam? Terangkan kepadaku,” Rasulullah SAW bersabda, “Pertama kali hendaklah engkau membaca “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah”. Dahyah mengucapkan syahadat sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya, “Apakah arti tangisan ini padahal engkau telah dikaruniai Islam?” dia menjawab, “Sungguh aku telah melakukan dosa sangat besar, maka tanyakanlah kepada Tuhanmu apakah tebusannya? Bila Dia memerintahkanku untuk membunuh diriku, niscaya kulakukan. Bila memerintahkan supaya aku mengeluarkan semua hartaku niscaya akan kuberikan”

Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kesalahanmu wahai Dahyah?” Dahyah menjawab. “Aku termasuk salah seorang raja bangsa Arab dan aku tidak ingin anak-anak perempuanku bersuami, hingga aku telah membunuh 70 anak perempuanku dengan tanganku sendiri.” Nabi SAW bingung mendengar cerita tersebut sehingga Jibril turun dan berkata: “Wahai Muhammad, sungguh Allah telah membacakan salam buatmu dan berkata kepada Dahyah, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, ketika engkau mengatakan ”Tiada Tuhan selain Allah,” Aku telah mengampuni kekafiran dan kejahatanmu selama 60 tahun, bagaimana mungkin Aku tidak mengampuni dosamu karena engkau telah membunuh anak-anakmu? “

Nabi SAW dan para sahabat menangis. Nabi SAW bersabda: “Ya Allah, Engkau telah mengampuni Dahyah yang telah membunuh 70 anaknya sendiri dengan hanya membaca syahadat sekali, maka bagaimana Engkau tidak mengampuni orang-orang beriman yang setiap hari membaca syahadat dan berkata benar serta ikhlas.””Hikayat Ash-Shufiyah. Muhammad Abu al-Yusr Abidin”

Dosa Dahyah adalah dosa yang dilakukan sebelum Islam. Meski dengan kejahatan selama 60 tahun, dosa tersebut dapat terhapus hanya dengan sekali membaca dua kalimat syahadat. Berbeda dengan dosa yang dilakukan orang beriman, terlebih jika sengaja melakukannya. Dosa yang sengaja dilakukan itu tidak cukup dapat dihapus dengan membaca kalimat syahadat saja, meski dua kalimat syahadat itu dibaca setiap mereka melaksanakan sholat. Dosa tersebut harus ditaubati dengan sungguh-sungguh. Namun demikian orang beriman tidak harus putus asa dengan dosa-dosa yang mereka dilakukan. Allah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang(QS.Az-Zumar(39);53).

Dari ayat di atas, yang dipanggil Allah dalam firman-Nya diatas adalah “Ya ‘Ibaadiy” (wahai hamba-hamba-Ku). Mereka itu adalah orang-orang beriman yang mengabdi kepada-Nya, namun di dalam pengabdian itu mereka terpeleset dalam perbuatan salah dan dosa. Mereka tidak mampu mengendalikan diri untuk menghindari perbuatan jahat karena kerasnya desakan lingkungan. Akibatnya mereka menzalimi diri sendiri. Jika mereka sadar dan bertaubat kepada Allah, mereka tidak boleh putus asa untuk bertaubat kepada-Nya, meski dalam hati mereka telah merasa berbuat yang melampaui batas.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS:39/53). Dosa yang diampuni itu bukan dosa orang-orang yang sengaja berbuat dosa dan menentang, padahal mereka sudah diajak kepada Islam. Orang yang sengaja berbuat dosa, berarti saat itu hati mereka tidak beriman. Mereka adalah orang berbuat zalim kepada dirinya sendiri. Allah tidak akan memberikan hidayah kepada orang yang berbuat zalim. Allah menegaskan dengan firman-Nya :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الْإِسْلَامِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS.Ash-Shoff(61);7).

al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghazali

Dosa Terakhir (part- 2)

Posted in Hikam, Taubat dengan kaitan (tags) , on 11 September 2009 by malfiali

Dosa Terakhir (part- 2)

Keempat: Termasuk dosa yang tidak diampuni adalah dosa sombong dan dosa takabbur, yakni dosanya orang memandang dirinya lebih baik dan lebih utama dibandingkan orang lain. Timbulnya sifat sombong itu memang seringkali muncul dari orang yang merasa punya kelebihan, namun mereka lupa bahwa kelebihan itu sejatinya anugerah Allah yang harus disyukuri bukan dibanggakan. Seandainya Allah tidak memberikan anugerah kepada hamba-Nya, maka manusia adalah merupakan makhluk yang lemah. Selama sifat sombong itu belum mampu ditanggalkan dari hatinya, berarti manusia belum pantas masuk surga, meski dia itu orang beriman. Sebab, Iblis, makhluk yang lebih berma’rifat dengan Allah dibandingkan manusia, diturunkan dari sorga akibat adanya sifat sombong dalam hatinya.

Dalam sebuah haditsnya, Baginda Nabi SAW menunjukkan tanda-tanda penghuni neraka dengan adanya sifat bombong. Rasulullah SAW bersabda :

حَدِيثُ حَارِثَةَ بْنِ وَهْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ قَالُوا بَلَى قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

Diriwayatkan dari Haritsah bin Wahab RA berkata: Aku mendengar Nabi SAW bersabda: maukah kamu aku beritahu tentang ahli Syurga? Para Sahabat menjawab: Ya! Rasulullah SAW bersabda: Mereka semua adalah orang yang lemah dan merendah diri, seandainya mereka bersumpah karana Allah niscaya Allah akan mengabulkannya. Kemudian baginda bersabda lagi: maukah kamu aku beritahu tentang ahli Neraka? Mereka menjawab: Ya! Baginda bersabda: Mereka semua adalah orang yang suka diagung-agungkan dan bermegah-megahan serta sombong

1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tafsir al-Qur’an hadits nomor 5437 – Etika hadits nomor 5610 – Sumpah dan Nazar hadits nomor 6165.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Surga, Kenikmatan dan Penghuni hadits nomor 5092.(CD. al-Bayan)

Tanda-tanda penghuni neraka adalah orang yang suka diagung-agungkan orang, bermegah-megahan dan sombong, ya … gila hormat lah. Selama sifat itu masih ada, berarti selamanya pula orang tersebut menjadi calon penghuni nereka. Untuk itu, jika orang tersebut ingin masuk surga, mereka terlebih dahulu harus mampu menghapus tanda-tanda itu dari dirinya.

Orang yang sombong dan takabbur, do’anya tidak mendapat ijabah dari Tuhannya. Pancaran do’a-do’a mereka tidak dapat menembus pintu langit seperti unta tidak dapat memasuki lubang jarum. Allah mengisyaratkan hal ini dengan firman-Nya :

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. (QS.Al-A’raaf(7);40).

Kelima: Dosa yang tidak diampuni dengan tanpa alasan adalah dosa syirik atau menyekutukan Allah. Orang berharap dan takut kepada selain Allah padahal dia beriman kepada-Nya, berarti orang tersebut berbuat syirik kepada Allah. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (QS.An-Nisa’(4);48).

Orang berbuat syirik kepada Allah berarti menyamakan Dzat Yang Maha Mulia dengan makhluk yang hina. Hal itu adalah kezaliman yang besar. Allah menegaskan dengan firman-Nya:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”(QS.Luqman(31);13).

Apabila perbuatan syirik itu dalam konteks harapan, maka artinya, orang berharap mendapatkan kemudahan hidup kepada selain Allah, berarti manusia berharap kepada sesama makhluk yang lemah. Mereka berharap kepada orang yang sama-sama mempunyai kebutuhan. Oleh karena itu, mustahil orang tersebut dapat mengabulkan kebutuhan orang lain. Jika hal itu bisa terjadi, itu semata-mata hanya terjadi atas kehendak dan pertolongan Allah.

Namun demikian, ketika sunnah sudah ditentukan, bahwa sistem distribusi rizki untuk seseorang ditentukan Allah harus melewati orang lain, baik melalui atasan dalam perusahaan ataupun orang yang selalu berbuat baik. Hal itu sering menjebak orang berbuat syirik kepada Allah. Disamping mereka bertawakkal kepada Allah juga menyandarkan harapan kepada sesama manusia. Bahkan terkadang cenderung dominan berharap kepada manusia.

Bagi orang beriman, menyandarkan harapan kepada selain Allah dapat menciderai kesempurnaan tauhid mereka. Hal itu bisa menjadi penyebab tertutupnya pintu ijabah dari Allah Ta’ala. Do’a mereka tidak dikabulkan Allah. Terlebih apabila harapan kepada manusia itu sampai memalingkan hatinya untuk bertawakkal kepada Allah. Mereka lebih berharap kepada manusia daripada bertawakkal kepada Allah. Dalam keadaan seperti itu berarti mereka telah benar-benar berbuat syirik kepada Tuhannya.

Untuk menjaga hati supaya orang beriman tidak terjebak berbuat syikir, berdzikir kepada Allah secara istiqomah adalah solusinya. Dengan setiap saat, pagi dan sore, mereka membaca kalimat tauhid secara terbimbing, amaliyah itu dapat menghapus dan menjaga hati dari kotoran syirik, seperti orang menghapus debu yang menempel di kaca.

Apabila orang beriman enggan berdzikir kepada Allah, padahal setiap saat hati mereka selalu dikotori dosa syirik yang tidak disadari, maka kotoran yang menempel dalam hati itu akan menjadi bagaikan karat besi. Karat hati itu akan membutakan matahati hingga jalan hidup menjadi gelap gulita. Itu pertanda hati yang telah terputus dari hidayah Allah.

Akibat dari itu, manusia akan merasakan hidup di dunia ini dalam keadaan terasing. Ketakutan dan kekhawatiran yang tidak beralasan selalu menghantui jalan pikiran. Bayang-bayang kehidupan yang muncul setiap saat dalam lamunan, datang lebih seram dari keadaan sesungguhnya. Ketakutan menjadi miskin menjadikan hati menjadi kikir. Hal itu karena hidup tidak mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah Ta’ala. Matahati tertutup dari sinar manisnya keimanan sehingga hidup menjadi resah. Allah telah menggambarkan keadaan orang tersebut dengan firman-Nya :

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ
“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”(QS.Al-Hajj(22);31).

Orang berbuat syirik berarti memutus hubungan dengan Tuhannya. Memutus hubungan dengan sumber dan tambang energi yang hakiki. Di dunia hidup dalam kesendirian dan kesengsaraan, bagaikan layang-layang putus dihempas angin kesana kemari. Hidup yang selalu terombang ambing dalam keraguan, tidak ada dasar pijakan dan tidak ada pegangan, tidak ada petunjuk yang diikuti dan tidak ada pertolongan yang mendampingi. Hanya mengikuti kemauan nafsu kosong yang sering mengajak angan berlari kencang tanpa tujuan. Itu disebabkan, karena hidup mereka telah terlepas dari sistem kontrol urusan ketuhanan yang mampu menjadi pengendali kehidupan.

Ketika usia hidup sudah di ambang batas ajal kematian. Saat itu rasional semakin lemah hingga tidak mampu lagi menyangga kemauan nafsu dan beban hidup yang tetap mengganjal. Mereka terpaksa tinggal menunggu batas bayangan akhir yang seakan-akan tidak berujung pangkal. Kondisi seperti itu, bisa jadi jiwa kehilangan diri hingga eksistensi menjadi pergi digondol setan.

Akibatnya, tubuh yang masih sehat menjadi jasad kasar tidak bertuan, sorot mata menerawang kosong dan rongga dada sunyi tidak berpenghuni, bahkan wadaq jasad terkadang malah dihuni oleh makhluk yang selama ini dipertuan, yaitu setan jin yang telah lama dimanjakan. Selanjutnya, manusia tinggal daging dan tulang yang sama sekali tidak ada harga untuk dijual walau sekedar untuk mendapatkan penghargaan dari sanak dan handai taulan. Itulah gambaran manusia yang hidupnya dimakan oleh jalan pikiran yang tidak tercerahkan. Oleh karena saat kuatnya pikiran tidak pernah disinari nur iman, maka saat lemahnya tidak mendapatkan pertolongan.

(bersambung)