2. MAQOM SEORANG HAMBA DI DUNIA

BAB  2, MAQOM SEORANG HAMBA DI DUNIA

 

ِارَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ اِقَامَةِ اللهِ اِيَّكَ فِى الأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفِيَّةِ , وَاِرَادَتُكَ الاَسْبَابَ مَعَ اِقَامَةِ اللهِ اِيَّكَ فِى التَّجْرِيْدِ اِنْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ العَلِيَّةِ

 “Kehendakmu untuk menggapai maqom tajrid padahal kehendak Allah SWT mendudukkanmu di maqom asbab adalah merupakan kehendak syahwat yang halus. Dan kehendakmu untuk menduduki maqom asbab padahal Allah SWT mendudukkanmu di maqom tajrid, berarti engkau telah turun dari tingkat derajat yang tinggi”.

Maqom hidup manusia di dunia yang pertama adalah tajrid dan yang kedua adalah asbab. Yang dimaksud maqom tajrid adalah kondisi hidup atau kedudukan manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia, di mana dengan maqom itu sumber rizkinya dimudahkan oleh Allah SWT. Sumber rizki tersebut didatangkan dengan tanpa harus dicari dan diikhtiari. Meskipun datangnya melalui sebab-sebab, namun sebab-sebab sumber rizki itupun merupakan hal yang didatangkan dengan mudah.

Sebagaimana contoh kehidupan para Ulama suci lagi mulia, yang setiap hari aktifitas hidupnya hanya mengurus santri, jama’ah dan masyarakatnya, sehingga tidak kebagian waktu untuk memikirkan sumber rizki secara lahir. Namun ternyata kebutuhan hidupnya mendapatkan kecukupan. Bahkan terkadang melebihi kecukupan hidup orang-orang yang setiap hari sibuk mencari nafkah. Dengan maqom tajrid itu, seorang hamba Allah yang ‘arifin hanya membaca sebab-sebab yang datang, kemudian menindaklanjutinya dengan amal (ikhtiar).

Adapun maqom asbab, dimana rizki seseorang tidak didatangkan kecuali melalui sebab-sebab yang diusahakan dan diikhtiari sendiri. Mereka tidak mendapatkan sumber kehidupan kecuali dari jalan ikhtiar yang dilakukan. Oleh karenanya mereka harus berikhtiar dan berusaha. Mencari dan menciptakan peluang supaya terbuka baginya sebab-sebab untuk mendapatkan kecukupan hidup. Setelah sebab-sebab itu terbangun baru ditindaklanjuti dangan amal dan usaha. Seperti itulah keadaan yang dialami kebanyakan manusia pada umumnya.

Oleh karena itu, sejak awal hidupnya seseorang yang menduduki maqom asbab itu harus mampu menciptakan sebab-sebab itu. Sejak mencari ilmu pengetahuan di bangku sekolah, melamar pekerjaan dan menciptakan sumber-sumber penghasilan. Setelah itu mereka harus menindaklanjuti lagi dengan usaha sampai mendapatkan apa-apa yang diharapkan.

Apabila kedua maqom hidup tersebut dikaitkan “usaha dan tawakkal”, sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT dalam sebuah firman-Nya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (ber’azam), maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali Imran; 159). Maka orang yang melaksanakan maqom tajrid adalah orang yang bertawakkal terlebih dahulu baru berusaha, sedangkan maqom asbab harus ber-azam terlebih dahulu untuk menciptakan sebab-sebab baru setelah itu bertawakkal.

 

Jangan Ingin Pindah Dari Satu Maqom Ke Maqom Yang Lain

Asy-Syekh Ibnu Ath-Tho’illah RA berkata: “Kehendakmu untuk menggapai maqom tajrid padahal kehendak Allah mendudukkanmu di maqom asbab adalah merupakan kehendak syahwat yang halus. Dan kehendakmu untuk menduduki maqom asbab padahal kehendak Allah mendudukkanmu di maqom tajrid, berarti engkau telah turun dari tingkat derajat yang tinggi”.

Maqom tajrid, sungguhpun merupakan maqom mulia, sebagai karunia besar yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya, namun demikian, selama pemiliknya masih hidup di dunia, baik dari yang berkaitan dengan urusan ukhrawi maupun duniawi, keadaan orang tersebut akan mengalami pasang surut sebagaimana sifat kehidupan dunia pada umumnya. Ketika tajridnya sedang naik, maka berarti rizki orang tajrid itupun akan ikut naik. Rizki itu didatangkan seperti air laut yang sedang pasang. Sumbernya memancar terus-menerus seakan tidak bisa putus lagi. Namun ketika tajridnya sedang turun, mereka terkadang mengalami kekeringan yang amat sangat. Seperti musim kemarau panjang yang seakan tidak dapat hujan lagi. Keadaan seperti ini bagi seorang tajrid merupakan bentuk ujian yang sangat berat.

Betapa tidak, ketika seorang tajrid harus menghadapi desakan kebutuhan realita yang tidak terelakkan. Harus memenuhi tuntutan hidup sebagai seorang kepala rumah tangga misalnya. Menghadapi kesulitan hidup yang dialami anak-anak dan istri yang terkadang bahkan dihadapkan pada masalah yang berat. Anaknya sedang sakit keras misalnya, padahal sedikitpun dia tidak dapat berusaha untuk membawa anaknya itu ke rumah sakit karena saat itu sedang tidak tersedia sarana dan dana. Dalam keadaan seperti itu, konsekwensi seorang tajrid tetap tidak boleh mengusahakan sebab yang dapat melepaskan dirinya dari kesulitan tersebut namun tetap harus menunggu, meski dihadapkan dengan kematian anaknya misalnya.

Seandainya dia masih menduduki maqom asbab seperti dahulu, barangkali dia masih dapat berusaha, walau hanya untuk mendapatkan pinjaman dari tetangga misalnya. Akan tetapi di maqom tajrid tidaklah demikian. Ketika sebab yang pertama tidak berada di tangan, datangnya sebab itu tidak boleh diharapkan dari makhluk. Apabila hal tersebut dilakukam berarti akan menurunkannya pada derajat maqom asbab.

Seorang maqom tajrid hanya dapat menunggu kepastian yang akan terjadi. Apapun kejadiannya, yang demikian itu lebih baik baginya daripada harus menyandarkan harapan mendapat pertolongan dari makhluk. Untuk itu, dalam keadaan yang bagaimanapun seorang tajrid harus mampu memilih mana yang boleh diusahakan dan mana yang tidak.

Jika dikarenakan menghadapi ujian seperti itu lantas mereka ingin kembali turun ke maqom asbab, berarti mereka telah turun dari cita-cita yang tinggi. Apabila seorang tajrid mampu menjalani ujian itu dengan sempurna. Mereka mampu melewatinya dengan hati yang selamat dan tawakkal. Setelah melewati titik kulminasi yang sudah ditetapkan, Allah akan merubah kesusahan tersebut menjadi kegembiraan yang besar.

14 comments on “2. MAQOM SEORANG HAMBA DI DUNIA

  1. Abah, jika ada orang yang tak suka meminta-minta kepada orang lain, apakah ia tergolong bagian dari orang yang berada di posisi maqom tajrid?

  2. @ Joyoboyo. …. coba saja berdiam tidak ikhtiar cari makan, rizkinya datang sendiri apa tidak …. kalau tidak berarti maqom asbab

  3. Asalamulaikum,
    saya mau tanya apa maqom tajrid itu hanya diam saja tanpa bekerja,dagang atau apalh yg menyebakn datang rejeki…. tp hanya melakukn tobat,dzikr rejeki,nikah,solat duha,tawakal,takwa dan puasa senin kemis apakah itu jg bisa di bilang maqom tajrid….

    dan adaklanya saya sudah melakukan itu semua tapi belum jga datang rejeki dan memang harus deng usaha dunia yaitu minjam uang to makan apa itu jg dibilang maqom tajrid..
    kadan2 rejeki saya cuma doa dan tdk kerj a dateng sendiri ya alhamdulliah cuma sedikit tapi itu mungki yang terbaik buat saya menrt Allah.

    karena setelah saya ikut dzikir toriqoh di magetan dengan romo yai Uzairon attoifuri ransanya masalah saya belum selesai baik pernikahan,hub baik orang tua,dan rejeki . tapi anehnya bathin saya menjadi tenang dan jiwa saya ga gerask gerusuk,, lagi tdk sperti dulu…. banyak cemas sering lepas kontrol.
    malah saya sering klo dzikir dan robithoh malah sering di nasehatkan bagian kamu akan datang sesuai takdir dan tunggullah takdir itu dengan sabar dan taqwa. karena saya sudah ikhtiar cari kerja dan usaha bina hub dengan mantan istri /rujuk /minta jdoh malah g datang2 saya ikut toriqoh sudah 1.5 thn dan ga tau benar pa g saya sudah dibilang fana setelah diawali saya robitoh masyihk dari situ saya banyak hal aneh dan banyak didatangi orang soleh.. ya termasuk para maseihk dan para waliyullah.. kdang saya percaya dan tidak percaya, hati jd waro,zuhud,merasa paling banyk dosa dan sering di suruh doain klo ktmu org maksiat, tp selapas fana saya jd normal lagi jd kurang takwa dan malh sering buat maksiat tapi anehnya saya langsung di suruh tobat dan langsung seprti ada tenga baru untuk takwa.. kenapa mbah

    mohon pencerahaanya Terimkasih

    Wasalm

  4. @ Dewa Cinta, …. bagi seorang murid thoriqoh, hal seperti yang ditanyakan dia atas ini sebaiknya ditanyakan kepada guru mursyidnya sendiri saja, karena hanya guru mursyid yang mengetahui apa yang sedang terjadi dalam perasaan murid-muridnya.

  5. Assalamualaikum wr,wb.
    Pak kiyai.maaf saya mau tanya.ayah saya seorang tokoh agama islam yang sangat disegani,bahkan mimpinya sering kejadian .seperti melumpuhkan kunti.dan memang besok harinya rambutna ada.tak ada satupun yang berani baik keluarga ataupun tetangga.saya 8 bersaudara dan telah 42 tahun.sampai saat ini belum juga memperoleh mata pencaharian.dan ini semua saudara keadaanya sangat memprihatinkan.saya pun telah berusaha dan melamar pekerjaan ,sampai mau diangkat dan sudah diangkat pegawaipun selalu gagal.saya hampir terjerumus ke dunia hitam karena ekonomi.dan saat ini juga masih terimpit ekonomi.mohon wejangan dan nasehatnya pa kiyai.trimakasih .wassalam

  6. Assalamu’alikum wr wb kyai…
    Apakah yang dinamakan guru mursid itu…
    apakah dia seorang ulama atau dirikita sendiri, mohon pencerahannya
    terima kasih

  7. @ Yanto, … yang dinamakan Guru Mursyid itu guru yang mampu menunjukkan jalan dan sekaligus membimbing hati murid-muridnya untuk wushul/connect kepada Allah.

  8. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Pak Kyai yg terhormat sy sbg hamba Allah ingin menanyakan tentang ritual tawajuh, apakah bentuk penyaksian kita harus melalui tawajuh tersebut…? Bukannya dgn kita bisa menjaga kesadaran kpd Allah dgn budi pekerti yg baik sekaligus akhlak yg baik merupakan bentuk penyaksian kita akan keberadaan Allah SWT. Mhn pencerahannya, terima kasih Kyai. Wassalam.

  9. @ Satriya : tentang ritual tawajuh, apakah bentuk penyaksian kita harus melalui tawajuh tersebut…? Bukannya dgn kita bisa menjaga kesadaran kpd Allah dgn budi pekerti yg baik sekaligus akhlak yg baik merupakan bentuk penyaksian kita akan keberadaan Allah SWT. Mhn pencerahannya, terima kasih Kyai.
    ============================
    Itu memang benar, tapi untuk mencapai hal tersebut seorang salik harus mengikuti progam latihan dalam bimbingan guru ahlinya, untuk itulah kita mengadakan ritual tawajjuh

  10. Assalamualaikum wr.wb
    pak Kyai,,saya tidak mempunyai guru sperti yg dijelaskan pada buku2 yang ada diblog ini,,,
    saya waktu SD cm diantar ngaji belajar baca qur’an,,,
    so,saya benar2 tidak mengerti bagaimana caranya mencari guru mursyid sperti yg dimksud..
    saat ini justru putra pertama saya belajar dipondok jauh dari saya dan ibunya (saya dan istri dibatam..anak mondok dijepara )..
    mohon pencerahannya bagaimana saya jg bsa menemukan dan belajar atau mendapat bimbingan sperti yg dimaksud…
    terima kasih
    wassalamualaikuk wr.wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s