3- AL FURQON (Lailatul Qodar Di Luar Ramadhan)

L qadr

AL FURQON (LAILATUL QADR DI LUAR RAMADHAN)
Karya: Muhammad Luthfi Ghozali

Barangsiapa mendapatkan Lailatul Qadr di Bulam Ramadhan, berarti sama saja telah mendapatkan keberuntungan seumur hidup, karena Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan. Seribu bulan yang berarti 83 tahun lebih 4 bulan, padahal rata-rata usia orang zaman sekarang hanya 70 tahun, maka dengan anugerah sebesar itu, siapa yang mendapatkannya pasti akan mendapatkan peningkatan hidup yang berarti. Manakala Lailatul Qadr adalah anugerah yang utama, maka hikmah yang terkandung di dalamnya tentu pasti sama, seperti anugerah-anugerah yang lain, yakni bagaimana pemahaman atau ma’rifat seorang hamba akan Tuhannya menjadi semakin bertambah luas sehingga dapat menjadikannya wushul kepada-Nya. Jadi, orang yang mendapatkan Lailatul Qadr berarti akan mendapatkan peningkatan hidup baik lahir maupun batin. Peningkatan kehidupan yang batin atau ruhani—yang berarti pula merupakan peningkatan iman dan takwa, akan menjadikan derajat seorang hamba di hadapan Allah semakin meningkat. Kalau demikian artinya, haruskah Lailatul Qadr itu hanya dapat dicari di bulan Ramadhan saja…?, dan di bulan-bulan yang lain kesempatan seperti itu sudah tidak bisa didapatkan lagi…?.
Dalam buku ini penulis membeberkan tahapan peningkatan hidup tersebut, yakni peningkatan ilmu, amal dan istiqomah. Apabila hal tersebut bisa dicapai, maka manusia akan mendapatkan peningkatan hidup dalam arti peningkatan kemampuan yang berupa karomah, al mulku dan al izzu. Setiap pribadi muslim harus mampu mencapainya. Tentunya dengan pelaksanaan amal ibadah dan pengabdian yang hakiki kepada Tuhannya. Metode peningkatan kehidupan tersebut yang oleh penulis diistilahkan dengan mujahadah dan riyadhoh, hal itu karena mengambil filosofi pelaksanaan puasa selama bulan suci Ramadhan, tata cara praktis itu dibeberkan dalam buku ini dengan simple dan mudah difahami.
Buku ini terdiri dari beberapa bab dan sub bab sebagai berikut:

BAB PERTAMA
LAILATUL QODAR
Ramadhan
Keutamaan Khusus Di Bulan
Ramadhan
Tiga Tingkat Puasa
Akal Dan Nafsu
Rahasia Puasa
Takdir Dan Amal
Puasa Setengah Sabar

BAB KEDUA
IDUL FITRI
Khadam
Berburu Khadam
Nur di atas Nur
Indera Manusia
Tingkat Derajat Nur
At Tazkiyah
Pintu Surga Dan Pintu Neraka
Tipu Daya Syaitan
Zakat Fithrah

BAB KETIGA
AL FURQON ( Lailatul Qadr Di Luar ramadhan)
bagian-bagian Al Furqon
– Ilmu Pengetahuan
– Amal Ibadah
– Istiqomah
– Karomah
Tiga Sumber Karomah
dari dimensi jin
dari dimensi malaikat
dari dimensi sir (rahasia)
– Al Mulku Dan Al Izzu
Mengapa Karomah Tidak Berbuah
Irodah Dan Qudrah
PENUTUP

Untuk mendapatkan buku tersebut silahkan kunjungi situs Toko Buku Online kami di abshor-bookstore.blogspot.com

5 comments on “3- AL FURQON (Lailatul Qodar Di Luar Ramadhan)

  1. Resensi Buku : Al Furqon Lailatul Qodar Di luar Ramadhan
    Karya : Muhammad Luthfi Ghozali
    Penerbit : Abshor, Semarang
    http://ponpesalfithrahgp.wordpress.com
    Tahun : 2006
    Halaman : xx +448 hlm. 14 x21
    Diresensi oleh : Ferry Djajaprana *)

    Prolog:
    Membaca judul buku “Al Furqon Lailatul Qodar Di luar Ramadhan”, bagaikan membaca tafsir dua firman Allah, yaitu Surat Al Furqon (surat ke-25) dan Surat Al Qadr (Surat ke 97). Menurut kamus ilmu Al Quran 1) yang dimaksud Al Furqan adalah pembeda, maksudnya membedakan antara yang hak dan bathil, yang baik dan buruk, yang bermanfaat maupun mudharat sehingga dengan Al Furqon itu hati seorang hamba menjadi yakin kepada Tuhannya. Sedangkan Al Qadr (kadar) artinya kemuliaan. Isi surat ini adalah tentang diturunkannya Al Quran pada malam lailatul qadr, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, para malaikat dan Jibril turun ke dunia pada malam lailatul qadr untuk mengatur segala urusan.
    Bicara tentang lailatul qadr mengingatkan saya pada pencarian saya tentang malam Lailatul qadr di bulan Ramadhan lima belas tahun yang lalu di Gua Hiro di suatu gunung yang bernama Jebel Nur di Mekah, Saudi Arabia. Di sanalah tempat Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu pertama kali berupa Surat Al Qadr (Surat ke-97). Di kota Mekah saya banyak bertanya kepada beberapa ustads atau para kyai dari Indonesia yang kebetulan sedang umroh tentang ciri-ciri Lailatul Qadr tersebut. Dari uraian mereka banyak informasi yang bisa saya dapatkan diantaranya mereka menyebut ciri lailatul qadr adalah, malamnya hening, membekunya air, merunduknya pohon dan lain-lain. Setelah mengetahui ciri-ciri tersebut bukannya saya menjadi tenang, namun malah sebaliknya membuat semakin penasaran dan berakibat pada peribadatan saya terganggu karena menjadi waswas takut kehilangan lailatul qadr tersebut.
    Semestinya saya tidak perlu waswas, karena di dalam perjalanan spiritual bukanlah letak keberhasilannnya bukan pada ujian fisik belaka dan hasilnya bukan berupa ijazah ataupun stempel passport yang nyata melainkan berupa suatu mentalitas pemahaman seorang hamba kepada Tuhan-Nya sehingga menjadikannya sebagai wushul (perantara-Nya).

    -o0o-

    Isi Resensi :

    Sengaja prolog diatas saya tulis untuk mengajak para pembaca memahami konsepsi waktu. Bagaimana kita bisa memahami waktu yang sudah lampau tapi bila kita menggalinya kembali dengan ‘bermemori ria’ seolah menjadi dekat bahkan seolah-olah baru saja terjadi?
    Bicara tentang waktu, semua memori tentang perjalanan pencarian lailatul qadr tersebut muncul seolah-olah tidak ada penyekat antara memori kejadian tahun 1994 dengan tahun 2009. Diam-diam saya membenarkan teori Roger Sperry 2) “Dual Brain” dan “Hemispheric Specialization” yang menyatakan bahwa salah satu fungsi otak kanan adalah pemikiran holistik dan tidak bergantung waktu.
    Seperti kita ketahui bahwa umumnya yang disebut malam lailatul qadr – disebut Al Quran sebagai “Satu Malam yang lebih baik dari seribu bulan” mengacu kepada satu malam di bulan Ramadhan. Tetapi bagaimanakah malam itu? Apa terjadi hanya sekali saja pada saat turunnya Al Quran (Nuzulul Quran)? setiap bulan Ramadhan sepanjang sejarah? Atau sepanjang tahun baik Ramadhan ataupun tidak?
    Malam Al Qadr yang ditemui Nabi pertama kali adalah ketika menyendiri di Gua Hira, Beliau merenung tentang diri dan masyarakatnya. Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Jibril (Ar-Ruh) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.
    Langkah kita untuk memahami Lailatul Qadr adalah beriman dahulu, berdasarkan pernyataan Al Quran “Ada satu malam yang bernama Lailatul Qadr” (QS. 97:1) dan bahwasannya malam itu adalah “malam yang pernuh berkah dimana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar Dengan penuh kebijaksanaan” (QS.44:3).
    Dilihat dari penjelasan diatas yang bersumber pada Kalamullah yang intinya menjelaskan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada bulan Ramadhan.. Bagaimana kalau Al Furqon, Lailatul Qadr di luar Ramadhan apakah bisa terjadi?
    Banyak ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, pakar hadis Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Nabi SAW pernah bersabda bahwa malam qadr sudah tidak akan datang lagi. Menurut Dr. M. Quraish Shihab 3) pendapat tersebut ditolak oleh mayoritas ulama dengan berpegang pada teks ayat Al Quran serta sekian banyak teks hadis yang menunjukkan bahwa lailatul qadr terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan, Rasul SAW menganjurkan umatnya untuk mempersiapkan jiwa menyambut malam mulia itu secara khusus pada malam-malam ganjil setelah berlalu dua puluh hari Ramadhan.
    Memang, turunnya Al Quran terjadi lima belas abad yang lalu pada malam lailatul qadr, tetapi itu bukan berarti bahwa malam mulia itu hadir pada saat itu saja. Ini juga berarti bahwa kemuliannya bukan hanya disebabkan karena Al Quran ketika itu turun, tetapi karena adanya faktor intern pada malam itu sendiri. Pendapat tersebut dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk kata kerja mudhari’ (present tense) pada ayat, tanazal al malaikat wa alruh, kata tanazzal adalah bentuk yang mengandung arti kesinambungan, atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa mendatang.
    Muhammad Luthfi Ghozali, sungguh cerdik bahkan memaknai lailatul Qadr katanya bukan hanya di bulan Ramadhan bahkan bisa saja diluarnya, alasannya dengan asumsi bahwa dengan amal ibadah itu manusia bisa meningkatkan kualitas hidupnya, maka bagi orang-orang yang berharap mendapatkan Lailatul Qadr bisa mencari kapan saja, baik di dalam maupun di luar Ramadhan, yaitu dengan melaksanakan mujahadah dan riyadah di jalan Allah SWT. Asumsi itu berdasarkan bukti bahwa setiap perintah Allah SWT kepada hamba-Nya, pasti ada aspek pembelajarannya (tarbiyah) di dalamnya. Tarbiyah yang sangat berguna bagi pembentukan karakter dan pendewasaan jiwa manusia, yaitu pada aspek filosofinya yang selalu dirahasiakan eksistensinya kecuali bagi seorang hamba yang matahatinya telah cemerlang dengan nur ma’rifat. Aspek pembelajaran itu bukan untuk memberatkan hidup manusia, namun sesungguhnya hanya untuk menciptakan peluang amal, agar manusia mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, baik lahir maupun bathin.
    Hakekat Lailatul Qadr dan Al Furqon adalah sama, yaitu sama-sama anugerah AllahSWT yang dikhususkan kepada hamba-hambanya yang beriman. Perbedaannya, lailatul Qadr itu fasilitas (serupa idul fitri) sementara Al Furqan adalah buah yang diberikan Allah SWT sebagai balasan apa-apa yang telah dikerjakan oleh seorang hamba ketika dua fasilitas tersebut dipakai dengan benar. Jadi, keberadaan Lailatul Qadr dan Idul Fitri itu di luar jiwa manusia sedang Al Furqon ada di dalam hatinya. Bisa berupa pengetahuan, iman, yakin, Nur Allah, nur Ma’rifat atau apapun juga, yang hakekatnya sama-sama berbentuk kekuatan yang memancar dari dalam hati, sehingga mampu menjadi obor penyulut semangat pengabdian dan perjuangan di jalan Allah SWT.
    Menurut Luthfi Ghozali yang mendapatkan Al Furqon adalah Ulul Albab, sehingga dengannya Ulul Albab selalu mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang ditebarkan dalam kehidupan. Luthfi mengutip QS 3:190, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab”. Luthfi menegaskan bahwa yang dimaksud Ulul Albab bukan hanya orang yang berakal saja sebagaimana pemahaman umum terhadap ayat tersebut. “Sebab, kalau hanya orang yang berakal saja, tidak mungkin mereka mampu membaca setiap sinyal yang disebarkan Allah SWT di alam semesta, terlebih terhadap sinyal yang bersifat bathin. Karena hanya orang yang matahatinya cemerlang saja yang mampu berbuat demikian.” Tegas luthfi yang ditulis pada bab terakhir. Selanjutnya Luthfi menjelaskan secara terperinci bagaimana menjadi Ulul Albab tersebut.
    Ide yang diberikan Luthfi tersebut disetujui Ahsin W. Al Hafidz, di dalam Kamus Al Quran karangannya, menurut Ahsin yang dimaksud Ulul Albab adalah orang yang memiliki akal murni, yang tidak diselubungi oleh kulit, yaitu kabut ide yang melahirkan kerancuan dalam berfikir, dengan perkataan lain, Ulul Albab adalah orang-orang yang berfikir atau cendekia. Salah satu sifat Ulul Albab yang dipuji oleh Allah adalah “yang mendengar perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. (QS AzZumar [39]:18)

    Epilog:
    Sebagai penutup, Luthfi menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Al Furqon atau Lailatul Qadr diluar Ramadahan adalah adalah Nur Allah yang menerangi jati diri manusia agar dengan Nur itu, manusia mampu memantulkan Nur kesempurnaannya dengan sempurna demi kesempurnaan alam semesta, atau yang disebut rahmatan lil aalamiin dan ini artinya menjadi insan kamil.
    Masukan dari peresensi ada dua point, pertama aspek teknis, buku Al Furqon lailatul Qadar di Luar Ramadhan ini berdurasi baca cukup panjang, maklum tebalnya mencapai 448 halaman lebih. Akan lebih baik bila menggunakan alur menurun, yaitu kesimpulan dikedepankan dahulu baru terurai ke sub pokok bahasan. Karena judul buku ini Al Furqon, akan tetapi masuk ke bab Al Furqonnya baru dibahas pada halaman 291 sehingga pembaca sering dibuat penasaran kenapa untuk mencapai bab yang dijadikan judul buku itu terlalu lama. Rasanya dengan cara alur menurun ini tidak masalah karena Al Furqon dan Lailatul Qadr itu masing-masing bisa berdiri sendiri. Pun pula, lailatul kadar lebih banyak membahas masalah waktu, bukankah lebih tepat bila waktu itu sebagai predikat menerangkan Al Furqon sebagai subyek? Masukan kedua adalah aspek ide pengarang akan waktu. Idenya sangat baik bahkan menurut peresensi bahwa apa yang digarap sudah masuk ke wilayah isyari (takwil) menafsirkan ayat dengan musytasyabihat (arti bathiniah) yang cukup berani berbeda. Bicara esensi, apa yang ditulis Luthfi Ghozali adalah benar, bukankah waktu adalah hanya kesepakatan manusia belaka? Secara hakiki waktu itu di set mengacu kepada bergeraknya matahari, di mana 24 jam dibagi siang dan malam hari. Disebut malam hari bila mana matahari tenggelam dan tidak ada sinarnya. Tapi apakah sesungguhnya matahari tenggelam? Tidak bukan? Matahari 24 jam nonstop bersinar, terjadinya silih bergantinya malam dan siang hanya karena rotasi bumi dimana matahari menyinari bumi di belahan lain sehingga belahan yang lainnya menjadi malam. Jadi, ide pengarang bahwa lailatul qadr itu bisa terjadi diluar bulan Ramadhan adalah bisa dibenarkan pada tatanan hakikat.

    Jakarta, 17 April 2009

    Ferry Djajaprana
    *) Pemerhati Mistik Islam

    Catatan Kaki:
    1) Ahsin W. Al Hafidz, ”Kamus Ilmu Al Quran”, Penerbit Amzah, Wonosobo, 2005
    2)Erbe Sentanu, ”Quantum Ikhlas Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati”, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 2008
    3)Dr. M. Quraish Shihab, ”Membumikan AL Quran, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat”, Mizan media Utama, 2002

    Note : http://ferrydjajaprana.multiply.com/reviews/item/45
    Penulis bisa dihubungi di alamat email : verri_dj@yahoo.com
    atau verri_dj@component.astra.co.id

  2. Sangat luar biasa Pak Ferry, ….
    Saya hanya bisa tertegun, …. tanpa ilmu orang tidak mungkin bisa memahami ilmu. Semoga menambah manfaat untuk kita semua
    Jazaakumullohu Ahsalal Jazaa

    al-Fakir ilaa Afwi Maulaho,
    Muhammad Luthfi Ghozali

  3. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ,
    Sebenarnya banyak yg tidak mengerti apa yg difirmankan Allah yaitu malam lailatul qadar malam yang lebih baik dari seribu bulan.
    Saya ingin menjelaskannya disini insyaAllah oleh tuntunan Allah:
    Sebelum rasulallah menerima wahyu pertama yaitu pertemuan beliau kepada jibril alahisalam,rasulallah telah dapat mimpi bahwa Allah menyuruh beliau melakukan ibadah setiap malam hari di gua Hira.
    Setelah penerimaan wahyu pertama wahyu yg berikutnya tidak kunjung muncul sehingga beberapa waktu tetapi beliau tetap melakukan ibadahnya di malam hari di gua Hira.
    Waktu datangnya wahyu berikutnya menjadi perselisihan di antara kaum muslimin/muslimat.Saya ambil sedikit kutipan dari suatu cerita:Terjadi perselisihan tentang berapa lama wahyu tersebut terhenti. Ada yang mengatakan tiga tahun, dan ada pula yang mengatakan kurang dari itu. Pendapat yang lebih kuat ialah apa yang diriwayatkan oleh Baihaqi, bahwa masa terhentinya wahyu tersebut selama enam bulan.

    Mari kita lihat lagi makna dari firman Allah diatas tersebut:
    Seribu bulan berarti seribu hari dan seribu malam berarti satu tahun mempunyai 365 hari/malam dan berarti seribu malam adalah 2 tahun dan 7 bulan wahyu terputus.
    Jadi wahyu (alquran) yg berikutnya yg ditunggu- tunggu beliau juga turun di malam hari di gua hira cuma malam ini adalah malam yg istimewa dibandingkan malam-malam ibadah beliau di gua hira yg lalu.
    Semoga kita mendapat bimbingan dari Allah S.W.T

    Semoga bermanfaat,

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Sayyid.

    ———-

    admin,
    aku tidak sependapat …. penafsiran ini kesannya ngawur alias tidak berdasar dan tidak ilmiyah. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s