2- ILMU LADUNI (buah ibadah dan tawasul)

ilmu-laduni-copy

ILMU LADUNI (buah ibadah dan tawasul)
Karya MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI

Buku ini lanjutan buku yang berjudul Tawasul. Sebagai sebab yang harus dibangun oleh seorang salik di jalan Allah, apabila tawasul dilaksanakan dengan sempurnan, maka ‘ilmu laduni’ akan didatangkan kepadanya sebagai akibat dengan sempurnan pula. Oleh karena itu, Ilmu Laduni ini bukanlah ilmu yang dihasilkan dari membaca tulisan atau buku, melainkan didatangkan Allah dari perbendaharaannya yang rahasia sebagai buah ibadah. Didatangkan sebagai buah dzikir dan mujahadah yang terbimbing oleh guru ahlinya. Yakni guru mursyid thoriqoh yang suci lagi mulia yang setiap saat ditawasuli. Allah Ta’ala menyatakan keberadaan ilmu tersebut dengan firmanNya: “Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu”. (QS.al-Baqoroh/282).

Datangnya ilmu laduni ini melalui bisikan hati atau inspirasi dan ilham di dalam kalbu seorang hamba. Hati yang bersih dari kotoran dan karakter duniawi yang tidak terpuji. Ilmu tersebut merupakan ilmu warisan sebagai ‘sirr’ atau rahasia ibadah dan hidmah. Ilmu warisan melalui rahasia amaliah guru-guru ruhaniah yang ditawasuli setiap saat. Ilmu tersebut merupakan ilmu pengetahuan yang universal dan “rahmatan lil alamiin”. Pemahaman hati yang mampu menjadikan rongga dada seorang hamba menjadi lapang baik dalam keadaan susah maupun senang sehingga menghantarkan manusia kepada keberhasilan hidup, baik kehidupan dunia, agama maupun akhirat. Berbentuk Ilmu Intuisi yang dihasilkan dari perpaduan antara ilmu, iman dan amal.

Buku ini terdiri dari beberapa bab dan sub bab sebagai berikut:
ILMU LADUNI
Bukan Hasil Sulapan
Sebab-Sebab ILMU LADUNI
Sebab Pertama:
RAHMAT SEBELUM ILMU
Contoh Ilmu Laduni Yang Pertama NUR MUHAMMADIYAH
Buah Cinta yang Hakiki
Contoh Ilmu Laduni Yang Kedua Perjalanan Nabi Musa Mencari Nabi Khidir as.
Perjalanan Tahap Pertama
Pencerahan Spiritual
Perjalanan Tahap Kedua
Perjalanan Tahap Ketiga
Mengenali Potensi Hati
Tiga Jebakan yang Mematikan
Rahasia Di Balik Tiga Jebakan
Kunci Pembuka Tabir Rahasia
Dua Sifat yang Berbeda
Contoh Ilmu Laduni Yang Ketiga Ilmu yang Diajarkan Allah Kepada Nabi Adam as.
MENGENALI IRODAH
Cara Mengenali Diri Sendiri
Bagian – bagian ILMU LADUNI
Membeli Akhirat dengan Dunia
Menjaga ILMU LADUNI
Karena Ada Yang Dilupakan
Sebab Kedua: BUAH TAKWA
Keutamaan Ilmu Pengetahuan
Penutup yang Dibuka
Hakikat Takwa Menurut Pandangan Sufi
Sebab Ketiga:
PROSES NUBUWAH ATAU WALAYAH
Matahari Hati
Pembagian Manusia Mengikuti Qodratnya
Tamsil Tentang Sebuah Kebangkitan
Pembuka Tujuh Pintu
Dzikir, Membuka Penutup Jalan
Sebab keempat:
ILMU YANG DIWARISKAN
Jenis-jenis Ilmu Al-Qur’an
Cara Mewarisi ILMU LADUNI
Kendaraan yang Menyampaikan
TAWAJJUH DAN WIJHAH
ISLAM CAMPUR KAFIR
Hijab Manusia
Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan
Alat Perasa
Proses Perjalanan Ilmu Pengetahuan
Pembagian Hijab
BAHAYA SOMBONG
Mencintai yang Memberi
Dengan yang Halal, Bisa Jadi Surga dan Bisa Juga Neraka
CERFIK (cerita fiktif)
PENUTUP

Untuk mendapatkan buku tersebut silahkan kunjungi situs Toko Buku Online kami di abshor-bookstore.blogspot.com

132 comments on “2- ILMU LADUNI (buah ibadah dan tawasul)

  1. Komentar buku : Mengintip Alam Barzakh, Ilmu Laduni Buah Ibadah dan Tawassul
    Pengarang : Muhammad Luthfi Ghozali
    Penerbit : Abshor
    Lokasi : Semarang
    Tahun : 2007
    Halaman : XVI +552. 14×20
    Diresensi oleh : Ferry Djajaprana

    Buku Ilmu Laduni karangan Muhammad Luthfi Ghozali ini pantas Anda miliki untuk menambah referensi tentang kitab tasawuf wabil khusus untuk pembahasan di bidang Ilmu Laduni.

    Ilmu Laduni yang dijelaskan oleh Luthfi (maaf, saya tidak menyebut Ghozali takut tertukar dengan Al Ghazali, yang karya utamanya tentang Risalah Al Laduniyahnya menjadi rujukan kitab-kitab yang membahas ilmu Ladunni) cukup berbobot, dengan alur bahasa yang sederhana dan tidak membuat kita mengernyitkan dahi, padahal isi bukunya cukup berat untuk dipahami.

    Luthfi menjelaskan bahwa ilmu laduni adalah Ilmu Laddunniyah Robbaniyah, yaitu ilmu pemberian atau warisan langsung dari kehendak dan urusan Allah SWT. Bagaimana bentuk ilmu ini dijelaskan secara kongkrit ? Ujud ilmu Ladunni ini berupa ilham spontan yang memancar dari lubuk hati kemudian terpancarkan melalui akal dan fikir. Apa yang dijelaskan cukup kongkrit dan logis dengan alasan-alasan yang diterima oleh akal, ilmu ladunni bukan melulu ilmu supranatural seperti yang biasa digembor-gemborkan para ahli Supranatural (baca: dukun) dalam memasarkan produk jualannya, melainkan juga penemuan-penemuan ilmiah yang dinamis dan aplikatif. Ilmu yang dijelaskan Luthfi ini menarik untuk dijadikan referensi. Menurut hemat penulis, sebenarnya bila mau buku ini juga bisa dijadikan rujukan untuk lebih menuju ‘know-how’ bagaimana diaplikasikan di lapangan, bahkan bisa juga Luthfi menjadikan buku ini sebagai acuan untuk mengkolaborasi pengaktifan otak sebelah kanan (subconsiuss) diaplikasikan dengan Neuro Linguistic Programming, sehingga bisa diakses oleh orang dan dipraktekan di dunia usaha yang mereka geluti dalam kesehariannya.

    Tulisan luthfi di dalam buku tersebut dilengkapi dengan ilustrasi cerita-cerita yang mampu menghipnosa pembacanya dan mengaktifkan otak kanan pembacanya. Perpaduan kumulatif dari ayat-ayat yang tersurat(makna muhakamat) dengan ayat-ayat tersirat (makna mustasyabihat) tersirat dalam nuansa dzikir dan pikir, akan melahirkan ilmu intuitif, yang datangnya dari bisikan-bisikan kalbu atau ilham langsung dan spontan, tanpa melalui perantaraan melihat, maupun mendengarkan yang biasa digunakan dalam otak sadar (otak kiri), karena di dalam hati yang bersih, Allah mendatangkan hidayahnya, sebagai buah dari ibadah yang dijalani oleh hambanya.

    Banyak hal yang menarik tak bisa penulis ungkapkan karena buku setebal lebih dari 560 halaman ini bercerita banyak lengkap dengan rahasia hijab yang menutupi tirai pintu hati dan tujuh pembukanya.

    Lain dari pada itu, penulis juga ingin memberikan masukan-masukan untuk kesempurnaan buku tersebut agar bisa diterima masyarakat yang lebih luas, mulai dari kalangan akademisi sampai dengan kalangan umum, apalagi tahun 2009 ini buku-buku bertemakan spiritual sedang diminati oleh masyarakat luas.
    Kaum sufi telah memproklamirkan keistimewaan ilmu laduni. Ilmu ini merupakan ilmu yang paling agung dan puncak dari segala ilmu. Dengan mujahadah, pembersihan dan pensucian hati akan terpancar nur dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia-rahasia alam ghaib bahkan bisa berkomunikasi langsung dengan Allah, para Rasul dan ruh-ruh yang lainnya, termasuk nabi Khidhir ‘Alayhis-salam. Tidaklah bisa diraih ilmu ini kecuali setelah mencapai tingkatan ma’rifat melalui latihan-latihan, amalan-amalan, ataupun dzikir-dzikir tertentu.
    Ini bukan suatu wacana atau tuduhan semata, tapi terucap dari lisan tokoh-tokoh tenar kaum sufi, seperti Al Junaidi, Abu Yazid Al Busthami, Ibnu Arabi, Al Ghazali, dan masih banyak lagi yang lainnya yang terdapat dalam karya-karya tulis mereka sendiri.
    Al Ghazali rohimahullahu ta’ala dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin 1/11-12 berkata: “Ilmu kasyaf adalah tersingkapnya tirai penutup, sehingga kebenaran dalam setiap perkara dapat terlihat jelas seperti menyaksikan langsung dengan mata kepala … inilah ilmu-ilmu yang tidak tertulis dalam kitab-kitab dan tidak dibahas … “.
    Dia juga berkata: “Awal dari tarekat, dimulai dengan mukasyafah dan musyahadah, sampai dalam keadaan terjaga (sadar) bisa menyaksikan atau berhadapan langsung dengan malaikat-malaikat dan juga ruh-ruh para Nabi dan mendengar langsung suara-suara mereka bahkan mereka dapat langsung mengambil ilmu-ilmu dari mereka”. (Jamharatul Auliya’: 155)
    Abu Yazid Al Busthami berkata: “Kalian mengambil ilmu dari orang-orang yang mati. Sedang kami mengambil ilmu dari Allah yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Orang seperti kami berkata: “Hatiku telah menceritakan kepadaku dari Rabbku”. (Al Mizan: 1/28)
    Ibnu Arabi berkata: “Ulama syariat mengambil ilmu mereka dari generasi terdahulu sampai hari kiamat. Semakin hari ilmu mereka semakin jauh dari nasab. Para wali mengambil ilmu mereka langsung dari Allah yang dihujamkan ke dalam dada-dada mereka.” (Rasa’il Ibnu Arabi hal. 4)
    Pencetus Wihdatul Wujud (Ibnu Arabi) ini juga berkata: “Sesungguhnya seseorang tidak akan sempurna kedudukan ilmunya sampai ilmunya berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung tanpa melalui perantara, baik dari penukilan ataupun dari gurunya. Sekiranya ilmu tadi diambil melalui penukilan atau seorang guru, maka tidaklah kosong dari sistim belajar model tersebut dari penambahan-penambahan. Ini merupakan aib bagi Allah ‘Azza wa Jalla – sampai dia berkata – maka tidak ada ilmu melainkan dari ilmu kasyaf dan ilmu syuhud bukan dari hasil pembahasan, pemikiran, dugaan ataupun taksiran belaka”.
    Ilmu Laduni (Ibn Taimiyah) sebagai masukan Pro dan Kontra tentang Ilmu Laduni.

    Ilmu Laduni, Antara Hakikat dan Khurafat

    Manusia dilahirkan di bumi ini dalam keadaan bodoh, tidak mengerti apa-apa. Lalu Allah mengajarkan kepadanya berbagai macam nama dan pengetahuan agar ia bersyukur dan mengabdikan dirinya kepada Allah dengan penuh kesadaran dan pengertian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78)

    Pada hakikatnya, semua ilmu makhluk adalah “Ilmu Laduni” artinya ilmu yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para malaikat-Nya pun berkata:

    “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.” (Al-Baqarah: 32)

    Ilmu laduni dalam pengertian umum ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama, ilmu yang didapat tanpa belajar (wahbiy). Kedua, ilmu yang didapat karena belajar (kasbiy).

    Bagian pertama (didapat tanpa belajar) terbagi menjadi dua macam:

    1. Ilmu Syar’iat, yaitu ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalan wahyu (wahyu tasyri’), baik yang langsung dari Allah maupun yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril. Jadi semua wahyu yang diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam alaihissalam hingga nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ilmu laduni termasuk yang diterima oleh Nabi Musa dari Nabi Khidlir . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Khidhir:

    “Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65)

    Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidlir alaihissalam berkata kepada Nabi Musa alaihissalam:

    “Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga.”

    Ilmu syari’at ini sifatnya mutlak kebenarannya, wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap mukallaf (baligh dan mukallaf) sampai datang ajal kematiannya.

    2. Ilmu Ma’rifat (hakikat), yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya tabir ghaib) atau ru’ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang mukmin dan shalih. Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan “ilmu laduni” di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala menyalahi ilmu syari’at yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur’an maupun kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah atau mengurangi.

    Bagian Kedua

    Adapun bagian kedua yaitu ilmu Allah yang diberikan kepada semua makhluk-Nya melalui jalan kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berfikir dan lain sebagainya.

    Dari ketiga ilmu ini (syari’at, ma’rifat dan kasb) yang paling utama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yaitu ilmu syari’at, karena ia adalah guru. Ilmu kasyf dan ilmu kasb tidak dianggap apabila menyalahi syari’at. Inilah hakikat pengertian ilmu laduni di dalam Islam.

    Khurafat Shufi

    Istilah “ilmu laduni” secara khusus tadi telah terkontaminasi (tercemari) oleh virus khurafat shufiyyah. Sekelompok shufi mengatakan bahwa:

    “Ilmu laduni” atau kasyf adalah ilmu yang khusus diberikan oleh Allah kepada para wali shufi. Kelompok selain mereka, lebih-lebih ahli hadits(sunnah), tidak bisa mendapatkannya.
    “Ilmu laduni” atau ilmu hakikat lebih utama daripada ilmu wahyu (syari’at). Mereka mendasarkan hal itu kepada kisah Nabi Khidlir alaihissalam dengan anggapan bahwa ilmu Nabi Musa alaihissalam adalah ilmu wahyu sedangkan ilmu Nabi Khidhir alaihissalam adalah ilmu kasyf (hakikat). Sampai-sampai Abu Yazid Al-Busthami (261 H.) mengatakan: “Seorang yang alim itu bukanlah orang yang menghapal dari kitab, maka jika ia lupa apa yang ia hapal ia menjadi bodoh, akan tetapi seorang alim adalah orang yang mengambil ilmunya dari Tuhannya di waktu kapan saja ia suka tanpa hapalan dan tanpa belajar. Inilah ilmu Rabbany.”
    Ilmu syari’at (Al-Qur’an dan As-Sunnah) itu merupakan hijab (penghalang) bagi seorang hamba untuk bisa sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Dengan ilmu laduni saja sudah cukup, tidak perlu lagi kepada ilmu wahyu, sehingga mereka menulis banyak kitab dengan metode kasyf, langsung didikte dan diajari langsung oleh Allah, yang wajib diyakini kebenarannya. Seperti Abd. Karim Al-Jiliy mengarang kitab Al-Insanul Kamil fi Ma’rifatil Awakhir wal Awail. Dan Ibnu Arabi (638 H) menulis kitab Al-Futuhatul Makkiyyah.
    Untuk menafsiri ayat atau untuk mengatakan derajat hadits tidak perlu melalui metode isnad (riwayat), namun cukup dengan kasyf sehingga terkenal ungkapan di kalangan mereka
    “Hatiku memberitahu aku dari Tuhanku.” Atau
    “Aku diberitahu oleh Tuhanku dari diri-Nya sendiri, langsung tanpa perantara apapun.”
    Sehingga akibatnya banyak hadits palsu menurut ahli hadits, dishahihkan oleh ahli kasyf (tasawwuf) atau sebaliknya. Dari sini kita bisa mengetahui mengapa ahli hadits (sunnah) tidak pernah bertemu dengan ahli kasyf (tasawwuf).

    Bantahan Singkat Terhadap Kesesatan di atas

    Kasyf atau ilham tidak hanya milik ahli tasawwuf. Setiap orang mukmin yang shalih berpotensi untuk dimulyakan oleh Allah dengan ilham. Abu Bakar radhiallahu anhu diilhami oleh Allah bahwa anak yang sedang dikandung oleh isterinya (sebelum beliau wafat) adalah wanita. Dan ternyata ilham beliau (menurut sebuah riwayat berdasarkan mimpi) menjadi kenyataan. Ibnu Abdus Salam mengatakan bahwa ilham atau ilmu Ilahi itu termasuk sebagian balasan amal shalih yang diberikan Allah di dunia ini. Jadi tidak ada dalil pengkhususan dengan kelompok tertentu, bahkan dalilnya bersifat umum, seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam:
    “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui.” (Al-Iraqy berkata: HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dari Anas radhiallahu anhu, hadits dhaif).

    Yang benar menurut Ahlusunnah wal Jama’ah adalah Nabi Khidhir alaihissalam memiliki syari’at tersendiri sebagaimana Nabi Musa alaihissalam. Bahkan Ahlussunnah sepakat kalau Nabi Musa alaihissalam lebih utama daripada Nabi Khidhir alaihissalam karena Nabi Musa alaihissalam termasuk Ulul ‘Azmi (lima Nabi yang memiliki keteguhan hati dan kesabaran yang tinggi, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad).

    Adapun pernyataan Abu Yazid, maka itu adalah suatu kesalahan yang nyata karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam hanya mewariskan ilmu syari’at (ilmu wahyu), Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nabi mengatakan bahwa para ulama yang memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itulah pewarisnya, sedangkan anggapan ada orang selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam yang mengambil ilmu langsung dari Allah kapan saja ia suka, maka ini adalah khurafat sufiyyah.

    Anggapan bahwa ilmu syari’at itu hijab adalah sebuah kekufuran, sebuah tipu daya syetan untuk merusak Islam. Karena itu, tasawwuf adalah gudangnya kegelapan dan kesesatan. Sungguh sebuah sukses besar bagi iblis dalam memalingkan mereka dari cahaya Islam.

    Anggapan bahwa dengan “ilmu laduni” sudah cukup adalah kebodohan dan kekufuran. Seluruh ulama Ahlussunnah termasuk Syekh Abdul Qodir Al-Jailani mengatakan: “Setiap hakikat yang tidak disaksikan (disahkan) oleh syari’at adalah zindiq (sesat).”

    Inilah penyebab lain bagi kesesatan tasawwuf. Banyak sekali kesyirikan dan kebid’ahan dalam tasawwuf yang didasarkan kepada hadits-hadits palsu. Dan ini pula yang menyebabkan orang-orang sufi dengan mudah dapat mendatangkan dalil dalam setiap masalah karena mereka menggunakan metode tafsir bathin dan metode kasyf dalam menilai hadits, dua metode bid’ah yang menyesatkan.
    Tiada kebenaran kecuali apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:

    “Wahai manusia belajarlah, sesungguhnya ilmu itu hanya dengan belajar dan fiqh (faham agama) itu hanya dengan bertafaqquh (belajar ilmu agama/ilmu fiqh). Dan barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan difaqihkan (difahamkan) dalam agama ini.” (HR. Ibnu Abi Ashim, Thabrani, Al-Bazzar dan Abu Nu’aim, hadits hasan). (Abu Hamzah As-Sanuwi).

    Maraji':

    Al-Fathur Rabbaniy, Abdul Qadir Al-Jailani (hal. 159, 143, 232).
    Al-Fatawa Al-Haditsiyah, Al-Haitamiy (hal. 128, 285, 311).
    Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali (jilid 3/22-23) dan (jilid 1/71).
    At-Tasawwuf, Muhammad Fihr Shaqfah (hal. 26, 125, 186, 227).
    Fathul Bariy, Ibnu Hajar Al-Asqalaniy (I/141, 167).
    Fiqhut Tasawwuf, Ibnu Taimiah (218).
    Mawaqif Ahlusunnah, Utsman Ali Hasan (60, 76).
    Al-Hawi, Suyuthiy (2/197).

    Menurut Ibn Al Arabi, dalam mengantarkan manusia untuk mengenal dirinya, untuk membawanya kepada proses kesempurnaan diri, ada beberapa tahap agar memudahkan kita (mahluk) untuk menuju Sang Kholiq, diantaranya :
    1. Ta’alluq (menggantungkan hati dan pikiran hanya untuk Allah). Dalam istilah lain dikenal dengan Dzikrullah (dzikir kepada Allah). Dengan berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah, dimanapun berada. Sesuai dengan firman-Nya, yang artinya : Yakni orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata :”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
    2. Takhalluq. Takhalluq merupakan suatu upaya proses penyempurnaan diri melalui pengejawantahan sifat-sifat Tuhan yang Maha Mulia untuk dapat ditiru dalam sifat-sifat seorang mukmin. Sehingga ia memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-sifat Tuhan. Proses ini bisa juga disebut proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Seperti halnya banyak diantara kalangan sufi yang dalam hal ini menyandarkan hadits nabi yang berbunyi “Takhallaq bi akhlaq-I Allah” yang artinya berakhlaklah seperti akhlak Tuhan, atau “Takhalaq bi asma Allah” artinya berakhlak dengan nama-nama Allah.
    3. Tahaqquq (Aktualisasi Sikap). Tahaqquq adalah merupakan suatu proses untuk mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas dirinya sebagai mukmin, sebagaimana tercermin dalam proses takhaluq – untuk kemudian mengaplikasikannya dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Ia merupakan proses terakhir dari proses pengejawantahan proses takhalluq untuk menuju manusia yang sempurna. Sebuah gambaran singkat menuju proses penyempurnaan diri manusia, yang berangkat dari pengenalan arti dan hakikat manusia itu sendiri, untuk kemudian sampai kepada Tuhannya.
    Demikian ringkasan buku “Mengintip Alam barzakh, Ilmu Ladunni, buah ibadah dan tawassul” ditambahkan masukan pro dan kontra Ilmu Laduni untuk melengkapi pembahasannya. Semoga berguna bagi rekan pencari dan sahabat semua.
    Salam,
    Ferry Djajaprana

    http://ferrydjajaprana.multiply.com

  2. Membaca dengan mata, membaca dengan ilmu dan membaca dengan perasaan. Ketika tiga cara itu dapat digabungkan untuk mengenali sesuatu, maka hasilnya akan menjadi lampu yang mampu menerangi perjalanan orang. Terima kasih Pak Ferry… tanpa ilmu pengetahuan tidak mungkin kita dapat menikmati keindahan

  3. Assalamualaikum wr wb…
    Selitar 2 tahun yang lalu saya menerima cahaya putih yang masuk ke dada saya..sejak itu saya bimbang dalam hati bertanya ‘apa ini ?’
    Dan sejak itu pula saya dapat melihat mahkluk gaib hamba Alloh juda baik langsung,mimpi maupun nerawang..bahkan saya bisa mengobati orang yang diganggu jin atau sakit non medis.
    Terus terang saya takut terjerumus pada hal hal yang berbau sirik.
    Sekarang ini saya sedang mencari seseorang yang tahu tentang apa yang terjadi pada diri saya ini…
    Setiap saat saya sekarang dzikir dimanapun saya berada ,dimana sebelumnya jarang saya lakukan dan sekarang lebih mendekatkan diri pada Alloh dan takut padaNya..subhanallah..
    Apakah ini ilmu laduni atau ilmu Kasyf dari Alloh?

    Waalaikumsalam wr wb,
    Rudy Brata
    rudy_brata@yahoo.com

    ———————

    Semoga Anda berhasil mendapat keyakinan hati sehingga keraguan yang menyertai pengalaman spiritual itu menjadi sirna, sebab yang datang dari Allah pasti tidak datang bersama adanya keraguan.

  4. bahwa pada hakekatnya semua ilmu itu berasal dari ALLAH swt, sedang manusia diberi ilmu hanya sedikit, jadi ilmu manusia bagaikan setetes air dilautan

  5. mo pesen bukunya lewat mana yach saya di daerah yogyakarta makasih sebelumnya bisa ym : pc_infoo

    ————

    pesan dg SMS di nomor ini saja : 081 575 624 914 … tapi yang judul ILMU LADUNI habis

  6. sya dr malaysia. bgmana klu sya ingin mbeli buku y b tajuk ILMU LADUNI & bagaimana cara pembayarannya?

  7. saya prihatin banyak orang mengaku memiliki ilmu laduni, lantas mana yang benar. gimana untuk mengetahui yang benar memiliki dan yang palsu…. konon katanya sama dengan wangsit…

  8. Ilmu laduni adalah ilmu Dunia Akhirat artinya bagi siapa saya yang mengamalkannya akan mendapat kebaikan didunia terlebi akhirat. Amiiin !

    Hubungi : 08127840169, mau pesan buku amalan Ilmu Laduni.

  9. Salam silaturohmi,—
    prihal Ilmu ladunni,- adalah hak mutlak Allah Taala atas hambanya.
    semoga tak mudahnya manusia mengaku punya ilmu ladunni,bisa jadi
    campur tangan jin muslim yang berdusta(kasyafbilgoib).

    bersyukur atas nikmat ilmu yg diberi.bentengi setiap karunia ilmu dengan amal dan istigfar abadi.supaya terlindung dan terhindar dari kurafat dan fitnah.amin.

    salam,samsu sambang jagad
    santri ngeli ngalam

  10. sy dr malaysia mau pesan buku laduni…gimana mau caranya. terima kasih

  11. sy dr malaysia mau pesan buku laduni…gimana mau caranya. Kandungannya amat memenuhi cita-citarasa sy…juga satu pendekatan harus dibaca,

  12. Semoga ilmu yg telah diberikan kepada kita dpt bermanfaat semua,dan bagi saudara kita yg telah berhasil memiliki cahaya illahi,kita doakan semoga selalu diberikan derajat yg lebih mulia lagi,dan mudah2han org yg mengakui punya ilmu laduni memang bener2 murni dari allah swt,bukan dari pada wali syetan yg akan menyesatkan manusia sebagai kesuksesan dan keberhasilan para iblisnya,aammiin

  13. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Kawan….ilmu laduni adalah suatu reward dari Alloh atas usaha yang telah anda lakukan dalam menjalani sifat-sifat Alloh yang telah anda aplikasikan dalam hidup anda. Jadi ilmu itu tidak perlu anda kejar, apalagi membayar dan takut-takut amalan yang anda jalankan hanya membuka pintu masuk untuk jin lanatulloh kedalam diri anda. Saya sebagai ichwan hanya mengingatkan karena janji setan untuk menggelincirkan kita bisa dari bawah, dari atas, dari depan dari belakang, lebih-lebih bila kita telah membukakan pintu untuk dia. Jangan silau dengan orang yang mengaku mempunyai ilmu laduni, lihat kelakuannya, sudah sholat jamaahkah dia, penuh rasa sopan santunkah, lemah lembutkah dalam berkata, bila bicara menambah ilmu pada kita, peka terhadap fakir miskin dan anak yatim, suka memberi tanpa pamer, kalau belum saya pastikan itu bukan ladunier. Wassalamu,alaikum.

  14. Assalamu’alaikum wr.wb
    Ichwan yang dirahmatia Allah S.W.T.
    Ilmu Laduni akan datang terakses dari diri sendiri atas ridho dan bimbingan Allah S.W.T. Tak usah pakai membayar mahar atau pakai imbalan materi berwujud apapun. Yang kita lakukan adalah mengeja hidup dalam setiap hembusan nafas, sabar menerima cobaan hidup dalam suka maupun duka, perbanyak Tadabur, Taffakur, pelajari dan pahami semua tanda-tanda alam
    baik tersirat maupun tersurat, maka kita pasti akan sampai pada sejatinya hidup. Wassalam

  15. Saya dri Malaysia,ingin sekali belajar ilmu laduni ini,bagaimana boleh
    saya ketemui di Malaysia,mungkin ada murid diMalaysia ini boleh

  16. Saya dri Malaysia,ingin sekali belajar ilmu laduni ini,bagaimana boleh
    saya ketemui di Malaysia,mungkin ada murid diMalaysia ini boleh sya
    hubungi.

  17. assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    saya ingin memesan buku Ilmu Laduni ini, mohon bagaimana cara pemesanannya?

  18. Insya Allah sebentar lagi Mas, ini lagi proses produksi dan kali ini akan diproduksi dengan edisi terbatas dengan sedikit ada revisi sekedar untuk menyempurnakan redaksi. Kalau sudah selesai Insya Allah akan segera kami umumkan di sini dan di FB, terima kasih

  19. ASSALAMUALAIKUM..WBR

    SUBHANALLAH WAL HAMDULLILAH WALAILLAHAILLALLAH WALLAHUAKBR…

    JIka itu yang disebut ilmu laduni..berzikirlah dengan sebenar-benarnya berzikir Ilmu Laduni akan datang dengan sendirinya..birzikir dengan asma,berzikir dengan tubuh yg kita punya dan berzikirlah dengan alam…2 KALIMAH Shahadat(ALLAH DAN ROSSUL) itu lah intinya..kupaslah 2 kalimah shahadAD apa itu ALLAH dan apa itu ROSSULALLAH Karena keduanya adalah keseimbangan(terjadi singkronisasi pada diri kita)..InsyaALLAH Laduni akan datang kepada kita…

    WASSALAMUALIAKUM WAROHMATULALLAHI WA BARRAKATUH..

  20. Assalamualiakum….Wr.Wb

    yang saya tahu agar seseorang dapat ber”TAWASUL” harus membelanjakan harta-nya di jalan ALLAH (sadaqah/zakat) melalui guru mursyid lalu diberikan kepada orang yang berhak menerima harta tsb . Sesuai firman-Nya dalam surat AL-MUJADALAH Juz 28 ayat 12…..
    inilah agama yang lurus. Terima kasih

    Wassalamualaikum WR.WB

  21. Sy rasa dgn e-book lagi senang peminat dari Malaysia memdapat buku bapak…Bila bayaran di buat maka “e-book ilmu Laduni’ dpt di download..

  22. @ Bapak Muhammad, terima kasih sarannya. Namun jika Anda berkenan pesan buku Ilmu Laduni yang fisik, insya Allah bisa kami kirim.
    Silahkan Anda pesan melalui bagian penjualan kami, terima kasih

  23. sy berkesimpulan ilmu laduni tidak perlu dikejar atau di cari karena datangnya atas kuasa Allah yang bisa dilakukan adalah bagaimana kita berjalan menuju insan kamil itu saja iklas tanpa berharap ridho atas semuanya …………………………………

  24. Assalamualaikum wr wb.
    Sekiranya ada ebook sila kirimkan ya…

  25. Assalamu’allaikum wr wb.
    apakah seseorang tanpa mursyid bisa mendapatkan Ilmu Laduni ? kallo iya apakah saya yg tiba2 merasakan memiliki kemampuan bathiniyah itu ilmu laduni?
    syukron, atas penjelasannya.
    wassalam

  26. @ Ferry Firman Ahmad, …. kalau Allah menghendaki, apapun bisa terjadi, apalagi sekedar ilmu laduni, karena yang dimaksud ilmu laduni itu ilmu yang datangnya dari urusan Allah Ta’ala

  27. makasih atas info dan paparannya ,…..buatku jangankan ilmu laduni untuk dekaaat sama
    Allah aja cukup sulit tuk meraih nya…..doa …in aja aku yaa mas smoga aku dapat……
    ampunannya. dan aku pun doa in mas juga lhooo !!!!!!!

  28. Apakah dengan membaca buku Laduni kita bisa mendapatkan ilmu Laduni tersebut?
    Saya rasa ilmu laduni itu hanya Allah lah kepada siapa yang Allah kehendaki.
    terimakasih

  29. @ Katri, …..Tentang “Ilmu Laduni” yg ditulis dalam buku tersebut sekedar wawasan keilmuan/ teori ilmiyah, maka tentunya harus ditindaklanjuti usaha pencarian yang benar dan bersungguh-sungguh. Jika Allah menghendaki, siapapun bisa mendapatkannya

  30. di ciptakan jin dan manusia adalah untuk mengabdi/menyembah,untuk bisa mengabdi awwaludini makrifatullah ta’ala warosullih “awal mula orang beragama adalah mengenal alloh ta”ala dan rosul nya” untuk bisa menyembah “Man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu,…”barang siapa yang telah mengenal diri sejatinya maka ia akan mengenal TuhanNya…”maka menyembah dulu baru bisa mengingat.asholatu lidzikri”dan sholatlah kamu untuk mengingatku”.jadi lah kalau begitu kalau kita mengenal dan tidak mungkinkah kita memperoleh ilmu dari alloh tanpa kita minta apa-apa yang belum di ketahui.allohua’lam bishowab…..

  31. assww. buku ilmu laduni sangat perlu bagi saya untuk dibaca, karena ini menjadi penuntun saya nantinya kalau dapat bukunya, untuk focus pada tujuan akhir yaitu ridho dari Allah swt. mewariskan ilmu kepadaku. Oleh karenanya mohon kalau bisa saya diberi alamat atau nohp/bb/sms dimana saya bisa mendapatkan buku tersebut, terimakasih Wassalamualaikum wr.wb.

  32. @ Iskandar Samiun, ……
    Anda bisa mendapatkan buku tersebut melalui bagian penjualan:
    Nama : TRI MASKURIN
    HP No : 0857 2633 7391

    Harga Rp, 120 000,- belum termasuk ongkos kirim

  33. buku ini bagus dibaca dan sekaligus membuktikan bahwa Allah SWt tidak menyia-nyiakan amal ibadah hamba-Nya

  34. salam.
    tahu nga tanpa kalian sadari,sebenarnya kalian itu telah begitu banyak mempelajari ilmu laduni terlebih bagi mereka yang banyak berinteraksi dengan alquran,itulah yang nyata nyata sumber ilmu laduni,ingat dengan perintah iqro dalam suratnya,siapa yang mengajarkannya dan siapa yang menurunkanya,selama kita berpegang padanya selama itu kita mendapatkannya,dari hal ini janganlah berfikir yang aneh aneh atau mengharapkan suatu keistimewaan yang sebenarnya kalian sendiri tidak mungkin mau dan tidak mungkin mengerti,ambilah yang pasti pasti yang berada didepan kalian.tak sulit untuk mendapakan ilmu laduni tersebut tetapi yang sulit adalah mengamalkannya.

  35. sangat rasional sekali paparan anda mas ferry, karena islam yang diturunkan Allah melalui risalah yang dibawakan oleh rasulNya Muhammad SAW bukanlah mata pelajaran mistik, akan tetapi scientic, yang apabila diamati antara ayat qauni dan qouliNYA, ibarat pelajaran tiori dan praktik, keduanya saling membenarkan tiada cacat, dan apa bila ada mata pelajaran tambahan yang sifatnya ghoib, justru itu merupakan salah satu pelajaran teori yang di praktikannya dengan benar, tanpa terkontaminasi oleh praktek bandar lotre yang bersandarkan pada teori mimpi

  36. ass. wr wb
    jujur saya masih dangkal dalam pemahaman gini..
    tapi saya sangat tertarik dengan ajaran islam dan saya sagt ingin belajar dan mencari tau….
    ada yg bisa membimbing saya gk…? klo ada guru… kira2 d mana saya bisa mengubungi beliau…. makasih atas infonya.

  37. Aslamualaikum…
    apakah benar ILMU LADUNI bisa kita dapatkan dengan berpuasa selama 41 hari dan mengamalkan do’a laduni dengan Tawassul dulu ???
    apakah hal tersebut benar ???

  38. Rukun islam itu adalah aplikasi dari orang yg beragama islam…………….Dan rukun iman itu adalah aplikasi dari orang yg beriman…………….Orang islam g selamanya beriman.Orang beriman g beragama islam………Barang siapa yg melaksanakan rukun islam tanpa melaksanakan rukun Iman itu adalah sesat…Dan sebaliknya barang siapa yg beriman tidak selalu harus beragama islam……….Seperti nabi kita Muhammad saw dia mengenal allah dulu baru beragama…………………AWALUDIN MAKRIFATULLAH…karena hanya nabi muhammadlah yg beragama islam

  39. jangan disamakan ilmu para nabi dan rasulnya… ilmu tanpa membaca tidak mungkin bisa mengetahui. percuma Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad dalam surat Al-‘Alaq ayat pertama, A’udzubillahi minas Syaitonir rojiim…
    اقرا باسم ربك الذي خلق
    ayat ini menjelaskan begitu gamblang bahwa seseorang akan mendapatkan ilmu dengan membaca ataupun mendengar. untuk apa semua pancra indra baik mata, telinga, tangan dan kaki??? yang terpenting bahwa ilmu laduni yang anda maksud seperti wahyu yang diturunkan kepada para nabi dan rasulnya, sedangkan wahyu telah terputus. beda dengan karomah dan yang lainnya…ingatlah dalam surat Al Baqaah ayat 79…bahwa neraka wail itu diperuntkan untuk orang2 yang menperjual belikan ayat2 Allah hanya karena uang yang sedikit…hiduplah dengan apa adanya,sewajar-wajarnya…realitanya anak yang msih kecil untuk bisa berjalan dengan di ajari dulu dengan nampak dan jelas.
    ilmu laduni ini seakan ilmu penyamaran dari ilmu syetan yang menjauhkan kita kepada keridhoan Allah, yang seharusnya kita berdo’a dan berusaha untuk menggapai keridhoannya malah yang ada hanya bermalas-malasan untk berusaha mendekatkan diri kepada Allah swt walahu a’lam

  40. ass,?saya sanat interst ?gimana cara medapatkan buku ini?adakah toko buku yang menjualnya, posisi saya di pakan baru,thanks

  41. sekiranya sy salah cakap mintak maaf,sy mengamal zikirrullah,dan seseorg kata,sy sudah putih.apakah maksud nya.dan dapat melihat diri sendiri…….sesungguhnya sy ingin mengataui…salah perkenalan mohon jumpa saya dalam segolongan kekasih allah

  42. subahanallah bapak malfiali.sy melihat sesuatu istimewa di dahimu,kalimat allah terpancar menyerlah,yang bapak kekasih allah…….saya mohon pada bapak menziaRAH SY DI SINIandainya tiada isi kulit dapat buat jalanan

  43. Assalamualaikum…

    Jika seseorang mengaku mempunyai Ilmu Ladunni janganlah dulu percaya… bisa jadi dia mempunyai Ilmu Ladonna atau Ilmu Ladonni sebab yang dua ini berbeda jurusan

    Adapun tawasul kepada :

    Syeh Abdul Qadir Al jilani Qodasollahu sirrahu
    Syeh Abdul Qadir Al jilani Al-baghdadi
    Syeh Abdul Qadir Al jilani bin Hasan wal Husain
    semuanya berbeda jurusan.

    “Ada orang yang tidak di undang lalu dia mendapatkan hadiah dan ada orang yang memang benar-benar di undang untuk mendapatkan hadiah”

    Ciri orang yang mendapatkan ilmu Laduni ubun2 kepalanya empuk seperti bayi dan Ilmu Ladunni sejatinya adalalah buah dari shalat itu sendiri, sangatlah sulit di saat sekarang ini untuk bertemu dengan seorang Guru Mursyid Ladunni…

    Adapun mengenai Khidir, Sejak kapan Khidir diangkat menjadi Nabi?? Bukankah lebih baik anak itu di do’akan supaya menjadi sholeh daripada di bunuh?? Siapakah sebenarnya Khidir??

    Mengkaji Al- Quran tanpa seorang guru, gurunya adala SETAN

    Wassalam…

  44. Assalamu’alaikum pak saya mau menyikapi tentang ilmu laduni…

    Ilmu laduni = ilmu karangan alias ilmu bener jere dewek…
    Antum semua ngaku-ngaku islam nabi nya muhamad sebagai contoh….

    Buat masyarakat Jangan mau di bohongi kiyai mambu dukun…
    buat para kiyai mambu dukun tolong kalian jangn bodohi orang awam buuuaannyyyaaak kitab mulai dari alqur’an hadist dan perkata’an ulama soleh tentang larangan mendekati klenik…
    jangan pake tafsiran hawa nafsu sendri…

    Ana abu alimujiono da’i ahlusunnah wal jama’ah mengatakan ilmu laduni adalah ilmu gedabruss bohong..tidak ada dalam kitab islam kecuali kitab-kitab karangan ulama mambi dukun.

    ————
    Inilah contoh komentarnya orang jahiliyah ….. hatinya telah dipenuhi angkara murkah akibat kebodohannya sendiri
    -admin-

  45. Salam hormat semua, sebut saja makhluk samada yang dapat dicapai atau ghaib semuanya milik Sang Khaliq, apalagi ilmu, apakah masih ada ilmu yang lebih tinggi dan lebih mulia dari Ilmu Al-Quran? Maka pelajarilah Al-Quran terjemahkannya kepada kehidupan, segala ilmu akan kita gapai usah kata ilmu laduni “…dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” Ayat Kursi Al-Baqarah 255. Dan ingatlah bahawa “dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” At-Thaalaqq 12. Akhirnya saya berpesan untuk ingatan saya sendiri dan saudara sekalian supaya “Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah[kekuasaan Allah] tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat,” Al-Hajj 3.
    Bukunya ingin sekali untuk dimilki, boleh bapa hubungi saya mau tahu caranya bagaimana. Terimakasih.

  46. Saudara AHMAD BIN SALLEH, untuk mendapatkan yang benar-benar seorang mursyid (ahli ibadah) tentang ilmu ladunni untuk saat-saat ini sepertinya agak sulit, akan tetapi saya sarankan agar anda sebaiknnya mencarinya lewat sholat malam – mohon petunjuk dari Allah swt, saya yakin doa anda yang tulus pasti dijawab (karena Allah sangat Melindungi Orang-orang seperti ini, terkadang menutup dirinya dengan menyerupai orang yang minta-minta atau terkadang pura-pura seperti orang gila, dekil, kotor dll. dan belum tentu ilmu ladunni itu dimiliki oleh orang yang memakai sorban 7 lapis dikepalanya). ilmu ladunni yang komersiil memang banyak tapi saya tidak dapat menjamin bahwa itu adalah benar-benar Ilmu Ladunni, apalagi belajar dari buku-buku agak sulit karena Ilmu Ladunni ini adalah Ilmu Pengamalan (Praktek Langsung).
    dan ilmu ladunni itu syarat KELU LIDAH artinya tidak bisa diceritakan dalam bentuk tulisan (tidak bisa ditembus dengan akal dan pikiran, karena ini adalah praktek langsung anda rasakan dan lihat dengan mata hati/bathin. jika diceritakan hasil dari musahadah, riyadah, murakkaabah pada orang lain yang fahamnya hanya ilmu syariat akan sangat bertentangan, karena jarak ilmu syariat dengan makrifat/ladunni itu ibarat jarak bumi dengan langit.

  47. Asalamu’alaikum Wr.Wb.
    1. Abu Yazid Al Busthami berkata: “Kalian mengambil ilmu dari orang-orang yang mati. Sedang kami mengambil ilmu dari Allah yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Orang seperti kami berkata: “Hatiku telah menceritakan kepadaku dari Rabbku”. (Al Mizan: 1/28).
    2. Abu Yazid Al-Busthami (261 H.) mengatakan: “Seorang yang alim itu bukanlah orang yang menghapal dari kitab, maka jika ia lupa apa yang ia hapal ia menjadi bodoh, akan tetapi seorang alim adalah orang yang mengambil ilmunya dari Tuhannya di waktu kapan saja ia suka tanpa hapalan dan tanpa belajar. Inilah (ilmu Rabbany.)
    Ikhwanul Muslimin yang di mulyakan Allah SWT, Bahwasanya Allah berfirman: janganlah kita memperolok suatu kaum, mungkin yg diperolok lebih baik dari pada kita.
    Demikian dengan kaum sufi (ahli tashowuf) yang perkataannya terkadang mengandung makna yang bersayap (penuh hikmah), yg harus diketahui dengan jelas kemana arah perkataannya, sehingga dapat dipahami oleh kaum awam, oleh sebab itu janganlah cepat mengatakan kufarat sufiyah kepada mereka sebelum mengetahui maksud dari perkataan mereka.
    ~ Maksud perkataan yang pertama dari Syekh Abu Yazid Al-Bustami R.A : kalian mengambil ilmu dari orang2 yg mati ialah keberkahan ilmu akan hilang dengan wafatnya para ulama (kulu nafsin dzaiqotul maut), maka ilmu yg diwariskan kepada generasi berikutnyapun semakin lama semakin berkurang, sedangkan Allah SWT yang maha hidup kekal (Baqo), maka mengambil ilmu dari Allah SWT dengan bersumber kepada Firman-Nya yaitu Al-Qur’anul Karim, yg diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yg dijadikan contoh suri tauladan untuk mengamalkannya (sunnah), Allah SWT berfirman: Laqod kana lakum fii Rosullilahi uswatun hasanah) , yg Allah pelihara (tidak ada matinya) sampai akhir kiamat.
    lalu mereka (ahli sufi) mengerjakan syareat : memohon petunjuk kepada Allah SWT melalui sholat yg 5 waktu dan didalam sholat2 sunah, bertahajud, bertadarus Qur’an, dan berdzikir, beristighfar memohon ampunan kepada Allah atas segala kesalahannya, membersihkan dirinya lahir dan batin. (qod aflaha man zakkaha) Sungguh beruntung siapa yang membersihkan dirinya, terus menerus dikerjakannya dengan istiqomah lambat laun hati menjadi CEMERLANG dan Allah SWT semakin menjadi dekat ( Sumber Kitab Ihya Ulumuddin : Imam Al-Ghozali), dan sesuai dengan kehendak Allah SWT orang tersebut akan mendapat bimbingan /petunjuk dari Allah SWT sehingga setiap niat, ucapan,gerak dan langkahnya dijaga senantiasa berada pada jalan Allah SWT, inilah yang dimaksud dengan perkataan Syekh Abu Yazid Al-Bustami: Hatiku telah menceritakan kepadaku dari Robbku.
    ~ Maksud perkataan yang kedua : Bahwasanya orang alim itu orang yang berilmu, bukan hanya menghafal kitab tapi ilmu itu harus dengan amal perbuatan (ilmu bil amal) sehingga ilmu itu melekat tidak akan lupa namun sebaliknya apabila ilmu itu tidak diamalkan maka ilmu akan mudah lupa.
    Kaum sufi mereka mengamalkan ilmunya kapan saja, dimana saja ia berada, karena ia suka/gemar beramal sholeh disebabkan hatinya telah mendapatkan taufiq,hidayah dan inayah dari Allah SWT , sehingga perkataannya menjadi perkataan Allah, matanya menjadi mata Allah, telinganya menjadi telinga Allah, kakinya menjadi kaki Allah maksudnya adalah mereka dalam bimbing AllahSWT, menuju jalan yang lurus (shirotul mustaqiim). inilah yang dimaksud dengan seorang alim yang mengambil ilmu dari Tuhannya.
    Demikian ikhwanul Muslimin . Al-Faqir mohon ma’af, wa billahi Taufiq wal Hidayah.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  48. ….. ada tambahan :

    Abu Yazid Al Busthami berkata: “Kalian mengambil ilmu dari orang-orang yang mati. Sedang kami mengambil ilmu dari Allah yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Orang seperti kami berkata: “Hatiku telah menceritakan kepadaku dari Rabbku”. (Al Mizan: 1/28).

    Yang dimaksud “mengambil ilmu dari orang-orang yang mati” ialah belajar dari orang-orang yang ilmunya masih dalam tataran teori ilmiah saja karena ilmu tersebut belum diprakterkan di dalam “jalan ibadah” atau pelaksanaan thoriqoh dan pengabdia di jalan Allah sehingga hati pemiliknya belum mendapatkan “futuh”/terbukanya matahati untuk menerima Nur Ma’rifatullah.

  49. Assalamualaikum Pak,

    Saya ingin pesan buku ini dari Singapura. Bagaimana caranya?

  50. assalamualaikum…
    di manakah hendak saya dapatkan buku ini di Malaysia?
    terima kasih..

  51. assskummm…..saudara saudaraku se iman sedikit saya menyambung apa yang ada dalam pikir saya….ilmu yang kita telaah…analisa hanyalah sebagian kecil dari tanda-tanda kekuasaan Allah….baik ilmu hakikat maupun syariat…..hanya Allahlah yang tahu dengan kebenaran ilmu Laduni yg sebenarnya,,,hati2…setan ada di dalamnya…..karena setan suka memanfaatkan kebodohan kita ….yang jelas apa bila kita mengamalkan ilmu-ilmu yang datang dari Allah swt sesuai dengan kemampuan kita tampa dipaksakan Insya Allah ..kita akan datang Ke Allah oleh Allah juga….semoga kita semua di bimibing menuju yg benar menurutNya.

  52. @ Sudeng: maka dari itu kita seharusnya mempunyai guru mursyid yg dpt dijadikan tempat berkonsultasi atas apa yg kita alami. jika kita tdk punya guru yg benar2 memahami maka sebaiknya kita waspada akan hal2 aneh (unek2 gak jelas di hati). kita orang awam yg masih butuh guru sebagai perantara petunjuk

  53. ketika ilmu itu kita pelajari,,,,hrskah ada guru yg membimbing…….

  54. assalamu alaikum wr.wb,,
    Pak saya dari buton,saya sangat tertarik untuk belajar ilmu it,apakah ada buku itu dibuton,,
    Terima kasih

  55. assalamu’alaikum wr.wb dari saya,tanpa seorang pembimbing dalam bdangnya maka yng di pelajari kurang sempurna,jadi seorang pembimbing sangat penting adanya

  56. @ Shamu, …. jika Anda ingin mendapatkan buku Ilmu Laduni, bisa pesan di nomor bag penjualan; 085726337391, a/n TRI MASKURIN

  57. Terima kasih info blognya…sangat bermanfaat untuk kita….saya sudah lama mencari guru mursyd untuk dijadikan tutor/pembimbing ruhani menuju Alloh…
    Dimana saya bisa temui guru mursyd di Surabaya ?
    Terima kasih

  58. saya ingin memesan buku kitab laduni bagaimana cara pemesanan nya.mohon informasinya
    termaskasih.

  59. Assalamualaikum WR WB
    baiknya jika ingin memiliki ilmu LADUNI jangan lupa syariat.belajar dari firman allah yaitu al-qur’annulkarrim.
    Jangankan kitab/buku laduni yg sekecil itu,jagat raya dan isinyapun ada d dalam al-qur’an.
    Wassalamualaikum WR WB

  60. wahai anuek aceh bek ter pengaruh gan aliran ilmu laduni ..nyan ilmu gila ..
    masa nek tu gutanyo sembahyang 5 wate wajeb .jum’at wajeb bak mesjit …menya na aliran nyan goen kawat listrik laju nukontak .nu tanyo sou tiga aliran listrek gon aliran laduni ..
    ALQURAN PEDOMAN KITA ALLAH HUAKBAR

  61. wahai hamba allah ketahui lah …Alqur’an pedoman kita .imam syafii imam kita, tgk musanneh pegagan isi kitab yang kita pelajari dalam islam, jangan terpengaruh dalam aliran yang bukan pedoman alqu’an ALLAH hu akbar

  62. Alhmdlh sy bru dberi hidayatullah Allah SWT.. Sy skrg mrasa trnyata pertolongan Allah SWT sgt dekat dan tidak pernah terlambat.. Dan kita sbnrnya tdk prlu mengkwatirkan & menakutkan apa2, tetapi takutlah akan doa_doa kita yang tdk terkabulkan..

  63. Apakah ilmu laduni itu sesuai dengan manhaj salaf.
    Bukankah kita harus i’tiba Rasul.. bukan sekedar ngikut2/taqlid. Bukankah harus memahmi Al-Qur’an dan Hadits shahih kita sesuai dg pemahaman para shabat,Tabi’in dan Tabiut Tabi’in.

  64. maaf saya BERI komen disini…kita disuruh oleh Allah s.w.t untuk mem percayai kalam Allah iaitu Al-quran.saya telah mengkaji tentang ilmu laduni.ilmu nie salah disisi agama islam,kerna cara untuk mendekati Allah dengan melakukan suruhannya dan meninggalkan larangannya.ilmu laduni ini hanya rekaan manusia sahaja.saya takut sesiapa yg memperlajari ilmu laduni tergolong dalam golongan sesat.banyak buku2 tentang ilmu laduni yg memesongkan ayat suci Al-quran.bila kita fikir balik seseorang tidak cukup solatnya tetapi masih boleh mendekati diri kepada Allah,seperti ilmu laduni ini.kebanyakan yg membeli buku ilmu laduni ini bukan semua orang islam.mcm mana awak kata dengan mempelajari ilmu laduni ini boleh dekatkan diri kepada Allah.harap awak cepat2 bertaubat sebelum terlambat.

  65. obviously like your website however you have to test the spelling on several of your posts.
    Many of them are rife with

    spelling problems and I find it very bothersome to inform the reality however I’ll surely come

    again again.

  66. Excellent blog here! Also your site loads up very
    fast! What host are you

    using? Can I get your affiliate link to your host?
    I wish my web site loaded up as fast as yours

    lol

  67. The subsequent time I read a weblog, I hope that it doesnt disappoint me as a

    lot as this one. I imply, I know it was my option to learn, but I

    really thought youd have something interesting to say.

    All I

    hear is a bunch of whining about one thing that you could repair in case you werent too busy searching for attention.

  68. Ilmu laduni akan diberikan jika ia beribadah scr murni sejak masa mudanya.belajar syariat, mengikuti thariqah, mendalami ajaran tasawuf,dll.hasilx jika sudah umur 40 semua syariat dan thariqah yang pernah diamalkan scr memaksimalkan ajaran keduax.ingat tahapan perjalanan kepada tuhan tidaklah mudah.mesti :1.syariat 2.thariqat 3.hakekat 4.makrifat. Kenapa harus umur 40? Krn diumur 40.ALLAH SWT menurunkan ruhul qudus kepada jiwa manusia.tergantung manusiany.jika ia menolak/tidak berusaha mendekati sang maha pemberi. Iapun akan pergi tak bisa menemani kita.jika ia mengambil secara ikhlas, maka ia akan berjumpa dg tuhan dg mata basyirah. Tidak mungkin dg mata nyata, kalau ia .asalkan sanggup menjadi abu seluruh badannya,akibat kuatnya cahaya maha cahaya. Tidak mungkin kita melihat dg mata lahir ini. Mustahil. Karena kita melihat cahaya matahari saja di siang hari sudah tidak bisa akibat cahayanya sangat terang. Padahal matahari itu masih 1/140 dari cahaya kursi.cahaya kursi lebih terang dari matahari. Saking terangnya,cahaya matahari sampai menghanguskan yang ada.

  69. layaknya org sekolah,kalau kita dapat ilmunya kita juga akan menikmati hasilnya yakni nilai yang bagus..tp bgmn bisa seseorang memperoleh nilai yg bagus kalau tdk dapat ilmunya…kita ingin selalu memperoleh nilai yg bagus tp sdkh kt memperoleh dan menguasai ilmunya..perbaiki niat kita..tidak ada yg salah kalau niat kita bener,,carilah 1 yg hasilnya lebih dari satu..!!:)

  70. Rahasia ahli kitab yang mampu memindahkah kursi Ratu Bilkis sebagaimana di kisahkan Al qur an hingga kini masih merupakan misteri.

    Menimbulkan tanda tanya besar dan spekulasi tersendiri bagi kalangan umat Islam. Apakah ilmu tersebut hanya dongengan saja ?. Ataukah ilmu tersebut masih bertahan hingga kini.

    Al qur an pasti tidak mungkin memberitakan , jikalau hanya sekedar sebuah dongengan pengantar tidur saja. Pasti ada rahasia yang sangat besar di balik pengungkapan berita tersebut. Apapun yang diberitakan Al qur an adalah sebuah kepastian, hukum sunatulloh, yang berlaku dari dahulu, kini, hingga nanti. Meliputi seluruh peradaban manusia dan alam semesta. Jadi logikanya ilmu tersebut pasti masih ada dalam kesadaran umat manusia hingga kini.

    Namun siapa yang memiliki ilmu tersebut ?. Dan sebenarnya rahasia apa (hikmah) yang diajarkan Allah kepada orang tersebut. Apakah yang di maksud dengan hikmah dari kitab-kitab-Nya ?. Sehingga (ketika) seseorang telah mampu memahami hikmah dari kitab-kitab-Nya, orang tersebut akan memiliki kemampuan luar biasa. Bagaimanakah cara menyingkapkannya.

    Banyak sekali kajian yang mencoba mengungkapkannya, dengan segala wahana yang di tawarkan. Kajian ini mencoba memberikan pembanding bagi kajian-kajian lainnya. Memberikan alternatif pemikiran. Bagaimana seharusnya kita menyikapi berita (kisah) Al qur an tersebut ?.

    Mengkaji Ilmu Laduni

    Banyak sudah kajian yang membahas perihal Ilmu Laduni ini. Ada sebagian orang yang menghubungkan ilmu ini dengan kekuatan ghaib, karomah, kesaktian dan lain sebagainya. Ada lagi yang percaya bahwa orang yang memiliki ilmu ini akan memiliki kemampuan membuka berita-berita ghaib. Sehingga orang yang memiliki ilmu ini akan mampu meramalkan kejadian yang bakalan terjadi, sebagaimana yang di isyaratkan dalam hikayat nabi Khidir. Karenanya, orang kemudian percaya dan meyakini bahwa ilmu ini hanyalah milik para nabi dan para wali saja.

    Ilmu Laduni telah di persepsikan, dikontruksikan sedemikian rupa, berkaitan dengan karomah dan lainnya, sehingga jika kemudian ada orang yang mengaku memiliki kemampuan mendekati persepsi ini, maka orang tersebut akan di puja-puja bagai orang sakti, sebagaimana orang yang dianggap setingkat para wali. Begitu terpesonanya manusia melihat kehebatan yang dipertunjukannya. Sehingga mereka lupa bahwa bukan itu hakekat Ilmu Laduni. Kehebatan Ilmu Laduni yang disangkakan akhirnya menjadi tujuan para pemuja ilmu.

    Sebuah ironi atas ilmu, jika ada permintaan maka ada penawaran begitulah hukumnya. Ketika orang tergila-gila dengan ilmu tersebut, maka ada sebagian orang lainnya yang melakukan klaim bahwa dirinya telah memiliki ilmu yang dimaksud. Seperti semut bertemu gula, begitulah keadaannya. Pemilik ilmu kemudian dikerumuni, di puja di perlakukan bak raja, titahnya adalah titah sang pendito ratu.

    Maka bermuncullah orang-orang yang mengaku aku telah memiliki ilmu Laduni dan bahkan katanya mampu mengajarkan ilmu tersebut. Munculah fenomena para dukun yang berkolaborasi dengan para jin, mengaku memiliki ilmu Laduni, biar semakin laris dagangan mereka karena dianggap wali atau orang tua sakti.

    Ilmu Laduni biasa juga di sebut dengan Ilmu Hikmah adalah Ilmu Hati. Pada awalnya, Ilmu ini lebih banyak membicarakan perihal penyingkapan hati, teori tentang Dzauk (rahsa) dan Kasyaf. Jika hati sudah bening maka jiwa diharapkan akan mampu membaca dan menangkap kehendak-kehendak Allah. Bahkan sampai kepada membaca Lauh Mahfudz.

    Dalam dimensi inilah kemudian orang sering menyalah gunakan pemahaman atas ilmu ini. Orang-orang yang tergila-gila ilmu ini, mengklaim dirinya telah melihat Lauh Mahfud. Dia meng klaim telah membaca apa yang tersurat ataupun tersirat, mampu menguraikan hikmah kata perkata bahkan setiap huruf dari Al qur an. Mampu menguraikan hikmah tiap surah dan ayat yang berhubungan dengan kekayaan, kesaktian, kekuatan dan lain-lainnya.

    Setiap surah kemudian di urai menjadi obat bagi siapa saja yang sakit dan membutuhkan bantuan. Pendek kata ayat-ayat Al qur an dan setiap hurufnya dijadikan komediti yang dapat di jual belikan sesuai dengan kebutuhan manusianya. Sungguh hal yang menimbulkan bahaya tersendiri bagi bagi orang yang tidak lurus hatinya.

    Rosululloh mengingatkan kepada kita agar berhati-hati terhadap orang yang mengaku-aku memiliki Ilmu Hikmah (Laduni). Berkata Aisyah ra bahwa Rosululloh setelah membaca Surah Ali Imron ayat 7;

    “Jika kamu melihat orang-orang bermujahadah tentang itu (mencari takwil perihal ayat-ayat mustasyabihat) maka itulah orang-orang yang dimaksud Allah, (orang yang akan menimbulkan fitnah) maka jauhilah mereka” (Riwayat Imam Ahmad). Riwayat ini di kuatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ibn Jarir.

    Banyak sekali ayat yang tidak seharusnya di takwilkan, dan memang akan sulit di takwilkan. Sebab banyak dimensinya, salah satunya adalah berada dalam dimensi rahsa, misal kata cinta, kasih sayang, ikhsan, takwa, syukur, iman, dan lain-lainnya. Kata tersebut hanya akan mampu dipahami jika kita sudah berada dalam keadaan hal yaitu suasananya.

    Maka jika seseorang ingin mengetahui bagaimanakah keadaan rahsa cinta kepada Allah misalnya, maka orang tersebut harus memasuki dimensi rahsa. Jika hanya diuraikan melalui akal dan logika, melalui perbendaharaan kata-kata manusia, maka kita tidak akan mampu mendapatkan keadaan hal (suasana) sebagaimana yang dimaksud oleh kata cinta itu sendiri.

    Semisal buah jeruk, kita tidak akan mampu mendapatkan referensi utuh perihal jeruk, jika kita tidak mendapatkan realitas buah itu sendiri. Jika kita sudah menemukan realitas jeruk maka karenanya, kita pun dengan sendirinya, menjadi mampu berada dalam suasana, keadaan, kondisi, hal siap menerima makna hakekat jeruk selanjutnya yang masuk kedalam kesadaran kita, karena kita sudah memiliki referensinya (realitasnya).

    Jika kita masuk kedalam realitas dimensi keadaan hal (suasana) hakekat sebagaimana keadaan jeruk itu sendiri, secara bulat, baik dalam realitasnya maupun dalam dimensi rahsanya, dan oleh karenanya kita kemudian memiliki pengetahuan tentang hal ikhwal perihal buah jeruk tersebut dengan benar dan utuh, sehingga kita mampu menjadi yakin yakinnya, tanpa ada ruang yang menyisakan keraguan sedikitpun di dalam dada kita, maka oleh sebab karena keyakinan ini, jikalau ada pembantah meskipun sang pembantah mampu membalikan gunung sekalipun, keyakinannya akan tetap tidak akan tergoyahkan. Dia akan tetap pada pendiriannya bahwa hakekat jeruk yang benar adalah yang sebagaimana realitas dalam kesadarannya itu.

    Maka (ketika) kita berada dalam pengamatan ini, dalam suasana kondisi seperti ini maka secara tidak langsung, kita tengah berada di dalam bagian dari Ilmu Laduni itu sendiri. Inilah yang ingin saya sampaikan.

    Hakekat Ilmu Laduni

    Dalam pemahaman saya hakekat Ilmu Laduni sendiri adalah sama saja dengan ilmu-ilmu lainnya. Ilmu yang dipelajari melalui pemahaman empiris. Hakekat Ilmu Laduni menurut saya, adalah Ilmu yang akan menghantarkan kepada seseorang kepada keyakinanya, ilmu yang mampu menyingkapkan hijab hati atas sesuatu, sehingga nampaklah baginya kebenaran itu.

    Kebenaran itu yang kemudian akan menjelaskan sendiri bagaimana keadaannya. Selanjutnya, jika kebenaran sudah diketahuinya dengan hak maka munculah keyakinan utuh, dimana dalam hatinya tidak menyisakan ruang untuk keraguan sedikitpun. Dengan kata lain Ilmu Laduni adalah Ilmu yang di gunakan untuk menambah keyakinan seseorang dari keyakinannya yang ada sebelumnya. Menambah kuat keimanan dari keimanan yang penuh keraguan. Sebab kebenaran itu sendiri yang akan berkata kepadanya. Sehingga pada saatnya nanti kesadaran orang tersebut akan sampai kepada/di posisi kearifan tertinggi sebagai manusia.

    Sesungguhnya Al qur an penuh hikmah. Jika saja kita mampu menerima dan menetapi keadaan yang dimaksud suatu ayat. Maka itu adalah hikmah yang sangat banyak. Sebab dengan pemahaman semisal satu ayat saja, jiwa kita akan mampu tenang. Jiwa akan dengan sendirinya tenang dalam menetapi takdir-takdirnya dalam keyakinannya.

    Ketenangan yang tidak di buat-buat. Sebab dirinya diliputi suatu keyakinan bahwa Allah tidaklah menghendaki kesukaran bagi dirinya. Bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan maha Penyayang. Inilah keyakinan sejati. Karena dia sudah pernah merahsakannya, keadaan dalam keyakinan itu. Disinilah ranah Ilmu Laduni, wilayah rahsa (dzauq), penyingkapan daya (kasyaf), menetapi posisi kedudukan dan keadaan jiwa atas hal didalam hikmah atas makna setiap surah.

    Saya akan sedikit mengulasnya dengan salah satu contoh dan keadaannya sebagai berikut, misalnya keadaan pada surat Al baqoroh ; 185, diinformasikan kepada kita. Firman Allah : “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. “ Sekilas kita membaca ayat tersebut sebagai informasi biasa saja, namun jika kita masuki lebih dalam, ayat tersebut seperti bicara kepada kita. Anehnya, meskipun kita mencoba memasuki lebih dalam lagi keadaan seperti yang dimaksud ayat tersebut kita tidak akan mampu menemukan keadaan posisi jiwa disitu yang pas dengan pemahaman ayat tersebut.

    Timbullahkeraguan pada diri kita, seperti apa keadaannya ?. Kemudahan seperti apa yang dimaksudkan. Bukankah kehidupan kita, hanyalah mendapati kesukaran demi kesukaran, kesulitan demi kesulitan, hidup tak berbatas tepi, merana terus menerus sepanjang waktu ?. Begitulah kita akan selalu saja mempertanyakan keadaan diri kita. Berikutnya alih-alih kita mengakui kebenaran ayat tersebut. Malahan selanjutnya kita pun akan menganggap remeh, bahkan mengabaikan saja ayat ini. Kita malas sekali berfikir akan kebenarannya. “Masa bodoh ah..gak ngerti lupakan saja ..!” Begitulah kita.

    Keadaan jiwa akan meliar, bertanya dan memberontak kepada siapa saja dalam dirinya, kepada apa saja. Jiwa akan terus mendebat; “Jika Allah mengehendaki kemudahan bagi saya kenapa hidup saya susah begini, kenapa saya tidak kaya, kenapa saya tidak cantik, kenapa saya tidak dilahirkan dari konglomerat, apa yang di mudahkan Allah atas saya, kenapa bla..bla..dan seterusnya dan seterusnya.” Jiwa tidak akan pernah berhenti menghujat.

    Begitulah keadaan jika jiwa tidak memiliki referensi apapun atas yang kita ucapkan. Dalam kasus ini, jiwa akan terus bertanya tentang takdirnya. Kemudahan apa yang diberikan Allah atas takdirnya. Muncullah prasangka kepada Tuhan. “Jika Allah tidak menghendaki kesukaran pada dirinya, mengapa kehidupannya kok sukar begini.” Jiwa tidak mengerti, tidak pernah mau mengerti, apa maunya Allah. Sungguh karena hakekatnya jiwa belum mengetahui keadaan hal kebenaran atas firman Allah tersebut.

    Sebagaimana yang dialami kaum Yahudi ratusan abad lalu, dahulunya mereka seringkali membuang atau menghilangkan ayat-ayat yang tak dimengertinya, yaitu ayat yang dianggap mereka tidak pas dengan akal mereka. Sesungguhnya dikarenakan mereka tidak paham dan tidak pernah mendapatkan posisi dan keadaan yang pas saja, disebabkan karena terhijab akalnya mereka itu.

    Hijab telah menutup diri mereka untuk mengetahui hakekat dan keadaan hal-nya sebagaimana yang dimaksudkan surah atau ayat dalam firman Allah. Mereka penuh prasangka, karenanya mereka membuang sebagian ayatnya atau mengganti dengan buatan mereka sendiri. Maka kemudian kita dengar ceritanya bahwa kaum Yahudi banyak yang merubah isi dan kandungan kitab-kitab mereka. Itulah sebab jika manusia hanya menggunakan akalnya saja, pasti mereka tidak akan mampu menerima keadaan hal yang dimaksudkan oleh firman Allah. Maka karena kesombongannya itu, secara begitu saja mereka kemudian mengikari (dalam hati mereka) dan mendustakan firman-firman Allah tersebut.

    Memang tidak gampang memaknai keadaan yang dimaksud ayat tersebut, dan mengambil ikhwal kebenarannya, namun jangan sampai karena kita tidak mampu memaknai ayat tersebut, dengan seenaknya kemudian kita menganggap ayat tersebut salah. Atau mengabaikan keberadaan adanya firman Allah tersebut. Kita harus ber hati hati dengan ini.

    Kondisi seperti ini sebetulnya terjadi kepada siapa saja. Ketika keadaan jiwa belum siap maka jiwa tidak akan mampu menerima keadaan hal dan kebenaran ayat tersebut. Itulah keadaan diri setiap manusia. Walau bisa saja secara logika kita menerima kebenaran atas ayat al qur an. Sebab dikarenakan pengaruh kesadaran kolektif atas diri kita, yaitu keimanan yang diturunkan orang tua kita.

    Namun keadaan jiwa nyatanya tidak bisa dipaksa untuk begitu saja mengakui hal ini. Jika jiwa tidak memiliki referensi atas rahsa dan keadaan tersebut maka jiwa akan tetap dalam posisi pengingkaran. Jiwa tidak mampu mengenali, keadaan seperti apa yang dimaksudkan sehingga terjadilah keraguan yang tersembunyi dalam hatinya. Keraguan dalam hati inilah yang sering menimbulkan penyakit maka manusia tidak bisa khusuk. Keraguan ini harus di singkapkan, di buka lapis demi lapis. Sampai hati menjadi bening dan mampu menerima keadaan hal dan kebenaran firman Allah yang dimaksudkan tersebut.

    Mari kita eksplorasi lagi, bagaima posisi keadaan jiwa saat kita mengucapkan “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. “ Bayangkanlah bagaimana keadaan jiwa yang semestinya, bagaimana rahsanya, mampukah kita dalam posisi benar-benar dalam keadaan sebagaimana yang dimaksud oleh ucapan kita itu ?.

    Ilmu Laduni akan menyingkapkannya untuk kita, bagaimana rahsa dan keadaan itu. Sehingga kita akan mampu menetapi keadaan tersebut dengan sebenar-benarnya, dengan se yakin yakinnya. Keyakinan yang utuh. Kalau berkeinginan melakukan eksplorasi berikutnya, cobalah dengan lafadz lainnya; “ Subhanalloh, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Lai Ila ha illlah, Lau haula wala kuwata ila billah, Ina lillahi wa ina ilaihi rojiun.” Cobalah bagaimana posisi jiwa dalam keadaan hal tersebut.

    Makna dan keadaan Hal

    Secara sederhana perumpamaannya adalah sebagaimana keadaan seorang pemuda menyatakan cinta kepada kekasihnya. “Aku cinta padamu.” Pernyataan ini akan menimbulkan getaran dan sensasi luar biasa bagi pemuda tersebut. Dan bagi gadis yang mendengarnya pun akan mampu menangkap getaran dalam nada suara dan bahasa tubuh pemuda tersebut. Bagaimanakah hal keadaan (suasana) dalam dada pemuda tersebut saat menyatakan cintanya ?. Inilah perumpamaannya. Inilah yang di kaji dan diungkap, dirahsakan agar hati mampu menerima keadaan hal sebagaimana makna ayat, itulah hikmah yang luar biasa. Bagaimanakah (suasana keadaan hal) dada orang ber iman dan dada orang kafir ?.

    Lebih mudahnya lagi saya ilustrasikan. Ketika kita sudah memiliki referensi akan buah jeruk, di sebabkan kita pernah, melihat, memegang, mencium, dan memakannya, mengerti rahsanya, maka saat kita mengatakan “JERUK”. Instrumen ketubuhan kita menerima kata tersebut dengan rileks saja. Jiwa dan raga pernah merasakan sensasi rahsa buah jeruk, akal dan indra juga sudah menyaksikan secara benar. Maka jeruk kemudian menjadi realitas. Menjadi mudah saja kita untuk memahami dan mengenali sensasi ketika di sebutkan ‘JERUK’.

    Maka ketika kita mengatakan. “Aku suka jeruk.” Semua instrument ketubuhan kita bekerja sinergis menerima, tidak ada penentangan apapun baik dari akal, indra, jiwa ataupun raga kita. Kita akan mengenali sensasi (suasana) rahsanya. Semua dipahamkan dan mengerti. Kita akan dalam keyakinan yang bulat saat mengatakan kalimat tersebut. Karena jiwa dan raga serta seluruh instrument ketubuhan kita dalam keadaan harmoni. Itulah perumpamaannya.

    Namun sebaliknya jika kita belum memiliki referensi perihal jeruk, instrument ketubuhan kita akan mendustakan apapun yang kita katakan tentang jeruk. Kita tidak akan memiliki keyakinan karena diri kita tidak memiliki referensinya. Meski kita paksakan untuk mengerti, kita tetap tidak akan menemukan realitas jeruk dalam diri kita. Meskipun kita paksakan dri kita untuk agar yakin, namun sejatinya kita hanyalah akan mendapatkan suatu keyakinan yang menipu (keyakinan semu).

    Karena di dalam diri kita masih ada ruangan kosong untuk keraguan. Maka saat (ketika) kita berkata. “Aku suka jeruk.” Instrumen ketubuhan kita akan menolak, dan mengingkari, ada penentangan dalam hati. Sebab ada keraguan disana, ada kebohongan yang tersembunyi. Akibatnya jiwa tetap tidak tenang setelah mengatakan kalimat itu.

    Semisal lainnya, saat (ketika) kita mendengar kabar perihal Taman Impian Jaya Ancol, banyak berita yang masuk kepada kita. Bagaimana keadaannya, serta apa saja wahana yang di tawarkan disana, penuh suka cita, pesona segala rupa, dan lainnya. Begitu banyak informasi yang kita dengar, sehingga tanpa mampu menolaknya kita meyakini bahwa berita itu adalah suatu kebenaran. Saking sukanya kita dengan berita-berita tersebut. Maka kemudian kita bahkan mampu menceritakan kepada kawan-kawan kita, dengan begitu antusiasnya, berikut sensasi dalam angan-angan kita. Masuklah imajinasi kita ke dalam cerita yang kita bawakan.

    Begitu berurut, setiap orang melakukan kontruksi lagi atas berita yang di dengarnya, berdasarkan imajinasi dalam versinya masing-masing, cerita dari mulut ke mulut bersambung, di bawa dari sabang sampai merauke. Sehingga meski tanpa pernah datang kesana setiap orang akan mampu menceritakan bagaimana keadaan Taman Impian Jaya Ancol, berikut dengan sensasinya. Dengan serunya setiap orang kemudian berdebat tentang berita tersebut. Dengan versi kebenarannya sendiri tentunya. Begitulah keadaannya.

    Namun sayangnya, hati tidak pernah bisa diajak kompromi, ketika kita menceritakan keadaan hal Taman Impian Jaya Ancol. Hati akan menghakimi kita. Ada kebohongan tersembunyi disana. Maka ketika kita mengatakan bahwa “Saya percaya atas berita tentang Taman Impian Jaya Ancol “.

    Kemudian ketika kita berkata bahwa “Saya mencintai Taman Impian Jaya Ancol”. Seluruh instrument ketubuhan kita akan menolaknya. Dalam dirinya tidak ada realitas atas Taman Impian Jaya Ancol. Dia belum pernah kesana, belum pernah merasakan sendiri sensasinya. Maka ada keraguan dalam jiwanya. Jika semakin lama dia bercerita maka akan semakin dalam hijab yang menutupnya. Sehingga dia semakin jauh dari hakekat keadaan Taman Impian Jaya Ancol yang di maksud itu sendiri.

    Dalam dirinya hanya penuh angan dan imajinasi yang menipu dirinya. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain untuk sebuah keyakinan, jiwa harus menemukan realitas Taman Impian Jaya Ancol, agar dia yakin seyakin-yakinnya. Tiada jalan lain selain dia harus datang, mengenal dan merasakan sendiri bagaimana keadaan tempat tersebut.

    Ilustrasi tersebut ingin menjelaskan bahwa ketika kita mengatakan. “Aku beriman kepada Allah.” Padahal kita sendiri tidak pernah memiliki referensi kata “IMAN’. Dan Kita sendiri juga tidak mengenal Tuhan “ALLAH” , maka pastilah instrument ketubuhan kita akan mengikari, ada keraguan disana, ada kebohongan tersembunyi. Inilah yang menyebabkan meskipun kita sudah beribadah sedemikian hebat, hati tetap tidak tenang.

    Karena diri kita tidak memiliki referensi apapun atas kalimat yang kita ucapkan. Begitu pula kejadiannya, sama keadaannya (ketika) saat ber dzikir dan dalam diri kita tidak memiliki referensi apapun atas rahsa dan keadaan hal sebagaimana di maksudkan lafadz yang kita dzikirkan. Maka sudah barang tentu kita tidak mampu berada dalam posisi keadaan sebagaimana maksud dalam kita ber dzikir. Ketika kita tetap nekad, hantam kromo saja, di khawatirkan justru malahan Jin yang datang, terpanggil oleh energy dzikir kita, maka seringkali kita temukan seseorang yang banyak dzikir keadaan dirinya malahan diliputi para kodam, seakan-akan dia memelihara kodam yang selalu mengikuti apa saja maunya. Inilah jenis hijab lainnya. Dia akan sulit sekali masuk kepada hakekat “la haula wala kuwata ila billah’.

    Inilah yang menjadi sebab mengapa ketika kita ‘mengingat Allah’ hati kita tetap tidak mampu tenang. Dan di posisi lain, diri kita tetap tidak mampu menikmati takdir kita dengan puas, ikhlas dan ridho. Padahal dalam ayat Al qur an jelas dikatakan “Dengan mengingat Allah maka hati akan tenang.” Disinilah Ilmu Laduni akan memandu kita dalam menemukan hikmah atas makna ayat dalam Al qur an, secara benar, pada posisi jiwa yang benar. Sebagaimana yang dimaksud. Sehingga kita akan mampu mengatakan kalimat tersebut dengan keyakinan yang bulat. Sehingga karenanya, kita akan mampu kembali ber dzikir dengan khusuk. Kearah tujuan itulah hakekat keberadaan Ilmu Laduni.

    Karena sekali lagi, sudah semestinya kita menyingkap hikmah atas keadaan hal dari setiap ayat, kemudian selanjutnya adalah bagaimana kita mampu mendapatkan posisi pada wilayah rahsa yang dimaksudkan. Keadaan yang dimaksudkan harus menjadi realitas bagi diri kita.

    Sebagaimana ilustrasi buah jeruk tadi. Kita harus memiliki referensi atas setiap kata yang kita ucapkan. Kita harus mengenal rahsa yang menyingkap makna. Keadaan realitas yang sebenarnya, sehingga kita mampu mengucapkan kalimat (ayat) dengan khusuk. Ini adalah wilayah rahsa (dzauq) dan penyingkapan (kasyaf). Suatu lintasan rahsa yang unik, sangat subyektif sifatnya.

    Keadaan ini sungguh penting, dikarenakan dengan mengetahui keadaan ini, kita akan tahu bahwa saat itu, kita sedang melakukan penyembahan kepada siapa, kepada Allah ataukah kepada selain Allah. Disinilah Ilmu Laduni akan banyak membantu.

    Meskipun setiap orang nantinya dalam kadar dan ukurannya masing-masing dalam hal ini, namun tidak seharusnya kemudian kita mengesampingkan realitas keadaan posisi jiwa dimana saat terkini. Mengetahui dimana jiwa dalam keadaan orbit yang semestinya. Maka tidak selayaknya jika kita mengabaikan keberadaan Ilmu Laduni ini.

    Khazhanah Intelektual

    Ilmu Laduni adalah khazanah kekayaan intelektual Islam yang tersembunyi. Ilmu ini telah di bingkai dan di bonsai sedemikian rupa, dianggap tabu, sehingga secara perlahan menghilang dari kesadaran umat Islam.

    Ilmu ini pernah diperdebatkan berabad-abad lalu. Ada yang pro dan ada yang kontra. Sungguh sayang sekali, jika ilmu ini akhirnya tenggelam dalam hiruk pikuk peradabaan. Jangan disalahkan, jika kemudian Ilmu ini akhirnya dimanfaatkan oleh orang yang tidak mengerti, mereka menggunakannya untuk kepentingan nafsu mereka sendiri, mereka riya’ dengan ilmu mereka ini. Inilah yang menjadi penyebab kenapa Ilmu ini kemudian terpinggirkan.

    Menjadi keprihatinan kita, sungguh sangat di sayangkan, jika khazanah ke ilmuan ini di manfaatkan hanya untuk sekedar pamer saja. Padahal dalam riwayat lain di ceritakan bahwa Ilmu inilah yang telah membantu Hujatul Islam Imam Ghozali mendapatkan pencerahan kembali setelah sakit dan mengalami keraguan yang serius dalam mencari hakekat ilmu dan hakekat kebenaran. Syukurlah beliau disamping kesembuhannya, akhirnya beliau juga telah berhasil menyusun ulang kaidah-kaidahnya secara lebih terperinci dan lengkap.

    Marilah kita formulasikan kembali makna dan hakekat Ilmu Laduni, sehingga sesuai dengan tuntutan jaman. Mari kita lihat kondisi masyarakat kita, sebagian besar umat Islam adalah orang awam, mereka adalah garda terdepan yang senantiasa terus di benturkan dengan kehidupan, merekalah yang berhadapan dengan kesadaran liberalisme dan lain-lainnya. Mestinya mereka berbekal keimanan yang kuat. Namun keadaannya tidak demikian. Kesibukan telah menyita hari-hari mereka. Jangankan untuk menghapalkan dalil-dalil dan meng hapal Al qur an. Untuk sekedar memenuhi dan menggugurkan kewajiban sholat 5 waktu saja merekapun masih kesulitan. Bagaimana pula harus mempelajari dalil dalil ilmu kalam yang diwajibkan atas mereka, agar mampu melaksanakan syariat ?. Bukankah agama akan memberatkan jadinya ?.

    Keadaan mereka terus di kejar waktu, tidak ada kesempatan mengkaji dalil-dalil sebagaimana yang di isyaratkan ilmu kalam (Baca; syariat). Kewajiban yang menjadi persyaratan ini akhirnya membebani mereka. Seperti menjadi keengganan lainnya jika mereka harus berbicara agama sebagai jalan hidup. Agama akhirnya menjadibeban hidup itu sendiri. Seperti dua sisi mata uang saja. Sehingga hidup mereka kering, pada gilirannya menyebabkan kesulitan tersendiri bagi mereka, dalam menjalankan kehidupan beragama.

    Meskipun begitu, namun sesungguhnya kecintaan mereka atas Islam sejatinya tidak pernah surut. Bukankah sudah terbukti, jika ada sedikit saja kaum lain yang mengusik Islam, mereka akan berontak. Mereka akan melawan dengan kekerasan. Kecintaan yang menimbulkan dilema. Sebab karena ulah seperti ini Islam terlihat menjadi gahar, Islam yang penuh prasangka dan permusuhan. Jauh dari agama yang penuh kasih.

    Walau begitu, tidaklah seharusnya jika mereka kemudian terpinggirkan, dan ditinggalkan dengan tidak mendapatkan pengajaran !. Bukankah ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita ?. “Bagaimana agar kaum awam seperti kita ini mampu menjalani kehidupan beragama dan berketuhanan meskipun dibelit dinamika kota.” Pertanyaan yang seharus bisa segera terjawab oleh Islam itu sendiri.

    Pengajaran yang sederhana namun mampu memenuhi kebutuhan mereka dalam beragama. Inilah jawabannya, solusi yang diharapkan kaum urban. Belajar agama melalui pengajaran ringkas dan sederhana, dan tidak ribet, namun cukup untuk menjadi bekal kita menjalani hidup, dengan tenang, puas dan ridho. Bukankah ini sudah seharusnya ?. Pengajaran Islam sederhana namun dalam dan syarat makna, sebagai bekal dalam mengarungi hidup di dunia dan di akhirat nanti. Inilah yang dimaui. Karena yakinlah, jikalaupun kita hanya mampu memahami satu ayat saja dengan benar, semisal “Bismillahi rohmani rohiem” kita manusia sudah dapat di pastikan akan mampu hidup puas, tenang, dan ridho. Sungguh, jika saja kita mengetahui dan meyakini hal ini (!?!).

    Al qur an adalah kitab yang penuh hikmah. Maka disebutkanlah jika manusia diberikan hikmah ilmu, semisal satu ayat saja, dapatlah dikatakan, bahwa dia sesungguhnya sudah mendapatkan rejeki yang amat sangat banyak. Inilah faedah ilmu hikmah (Laduni) yang di tawarkan. Maka sudah selayaknya jika Ilmu Laduni di kaji ulang, menjadi solusi alternatif pengajaran bagi masyarakat urban ibukota.

    Batasan Ilmu Laduni

    Ilmu Laduni adalah sebuah keniscayaan, ilmu yang sebaiknya dimiliki oleh umat Islam. Apakah terlalu berlebihan statemen ini. Rasanya tidak. Seseorang yang telah memiliki iman dalam hatinya dan dia bertakwa kepada Allah, akan dengan sendirinya memiliki ilmu ini. Inilah keniscayaan yang saya maksudkan. Pengetahuan akan penyingkapan hati, pengetahuan kasyaf , kemampuan seseorang dalam mengenali daya yang bekerja pada dirinya, adalah sebuah kemampuan yang layak dimiliki.

    Menjadi pertanyaan dalam kajian-kajian terdahulu, bagaimana kita mampu mengenali sebuah daya yang bekerja pada diri kita adalah benar daya Allah, bukannya daya yang berasal dari proses induksi. Inilah pertanyaan kita selalu. Keyakinan bahwa daya yang bekerja pada diri kita adalah daya Allah, adalah sebuah keniscayaan yang seharusnya dimiliki oleh kaum muslimin.

    Sayangnya, mengenali sebuah daya dan kemudian menetapinya sebagai daya dari Allah adalah sebuah persoalan tersendiri bagi umat Islam. Mereka selalu merasa sudah benar dalam penyembahan mereka, mereka enggan masuk ke dalam hatinya masing-masing mempertanyakan hal ini. Mereka dan kita semua sering tidak mau mempersoalankan lagi apakah daya yang kita pergunakan adalah benar daya Allah atau bukan.

    Sudah mampukah kita meniadakan daya-daya lain yang mencoba memperngaruhi diri kita dan berkata dengan yakin bahwa tiada daya upaya selain (daya) Allah. Tanpa keyakinan yang benar, maka sesungguhnya kita tidak akan mampu mengatakan hal ini. Kita akan mengalami keraguan dan keraguan terus. Semua dalam kesulitan (ketika) saat ber ikhsan. Hakekat bahwa Allah melihat kita, dan hakekat bahwa (seakan akan) kita melihat Allah. Inilah salah satu sebab mengapa umat muslim Indonesia mengalami kemrosotan akhlak yang akut.

    Sebab ketika kita sudah yakin dan mampu mengenali daya tersebut, maka tenanglah hati dan jiwa kita. Inilah system bekerjanya ketubuhan kita. Bagaimana mengenali daya tersebut jika kita tidak memiliki pengetahuan atas ini ?. Maka dengan ilmu (kasyaf) inilah diharapkan manusia akan dapat mengenali daya tersebut dan kemudian yakin atas ini. Pengetahuan ini bukanlah datang secara tiba-tiba, seseorang harus melakukan perjalanan sendiri-sendiri.

    Pengetahuan ini bukan datang dengan cara membaca, ataupun belajar dari seorang guru. Pengetahuan ini langsung diajarkan oleh Allah kepadanya. Maka seseorang yang menginginkan pengetahuan ini wajib melakukan perjalanan rohani, sampai nantinya Allah akan menunjukan jalan kepada-Nya.

    “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (jihad) untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. “ (QS. Al Ankabut : 69)

    Inilah janji Allah, maka saya katakan bahwa Ilmu Laduni adalah sebuah keniscayaan saja. Yaitu bagi setiap muslim yang mencari keridhaan Allah dengan sungguh-sungguh maka kepadanya akan ditunjukkan jalan ini. Sebab dengan Ilmu ini dia akan mampu mengenali daya, dia akan mampu mengenali dualitas rahsa, dia kemudian akan mengenali jalan-jalan-Nya. Inilah keniscayaan berikutnya, membedakan rahsa-rahsa di jiwa, yaitu sebuah efek sensasi rahsa yang ditimbulkan oleh sebagai akibat penyembahan diri kita, apakah kepada Allah atau kepada selain Allah. Dirinya akan mengenali rahsa tersebut, membedakannya, sehingga kemudian dia mampu melakukan koreksi dan bertobat, meluruskan kembali niatnya, jika kita salah dalam penyembahan diri kita. D

    engan ilmu ini (kasyaf) dia akan mampu menghadapkan dirinya dengan keyakinan yang benar kepada Tuhan (Allah) Yang maha Esa bukan kepada Tuhan yang sebatas dalam persepsi saja, bukan kepada Hantu yang malah dianggapnya sebagai Tuhan. Semua akan diketahuinya melalui penyingkapan hati, melalui sensasi rahsa yang tak sama. Akan ada efek dualitas rahsa yang akan mampu dikenal dengan baik, sehingga dirinya tidak dibingungkan lagi oleh sensasi dualitas rahsa tersebut.

    Saya ingin memisahkan pemahaman saya dengan pemahaman bahwa Ilmu Laduni atau Ilmu Hikmah adalah sebuah ilmu yang dimaksudkan dan identik dengan kemampauan seseorang yang memilikii karomah, supranatural, atau kesaktian-kesaktian lainnya. Bukan itu yang saya maksudkan. Bukan atas pemahaman itu, kajian ini dituliskan dan bukan maksud dari kajian ini ke arah sana.

    Saya akan membatasi pemahaman bahwa Ilmu Laduni , menurut pendapat saya adalah sebuah ilmu mengenali rahsa (dzauq), menyingkap hati, dan mengenal daya (kasyah) di dalam diri manusia sendiri. Ilmu yang akan mampu menyingkap hakekat diri manusia itu sendiri. Sehingga manusia akan mampu mengenali dirinya sendiri.

    Ilmu Laduni adalah ilmu yang sangat spesifik dan unik. Setiap manusia akan diberikan ilmu ini, namun sayangnya ilmu ini hanya bisa digunakan untuk dirinya sendiri saja. Inilah pemahaman saya, sehingga ilmu ini tidak mungkin dapat diajarkan kepada lainnya. Dia hanya bisa menggunakan ilmu tersebut hanya untuk mengenali dirinya sendiri, mengenali lintasan hati dan penyingkapannya. Maka berhati-hatilah kepada orang yang mengatakan memiliki ilmu ini dan mengatakan mampu mengajarkan Ilmu Laduni ini. Dalam pemahaman saya Ilmu Laduni bukanlah sebuah ilmu tentang kesaktian manusia, ilmu ini adalah sebuah ilmu hikmah.

    Hikmah apa yang perlu diketahui seseorang atas sesuatu hal, maka hanya Allah dan dia saja yang tahu. Allah Maha Tahu, yang akan menyingkapkan rahasia hikmah apa saja untuk dirinya. Hikmah yang hanya pas untuk dirinya sendiri, tidak untuk orang lain. Hanya dia sendiri yang akan memetik hikmah pelajarannya. Maka pengajaran seperti apa, kurikulum yang mana yang akan pas untuk setiap manusia, hanya Allah yang tahu. Maka hubungan belajar dan mengajar ini sangatlah spesifik sifatnya dan ‘privat’ sekali.

    Mengenali rahsa (dzauq), mengenali daya (kasyaf), Ilmu yang mampu meyingkap rahasia hati, sehingga dengan ilmu ini seseorang akan memiliki keyakinan yang tidak akan menyisakan ruang bagi keraguan sedikitpun. Karena telah terbukanya hijab dan penyingkapan hati. Inilah hakekat dan batasan Ilmu Laduni yang saya maksudkan.

    Dengan ilmu inilah seorang muslim akan dapat memahami hikmah dam hakekat kebenaran itu sendiri. Sehingga dia tidak akan dibingungkan lagi dengan versi kebenaran kelompok lainnya. Jikalau dalam penyingkapan hikmah, seseorang kemudian di pahamkan melalui cara-cara yang di luar nalar dan logika, (sehingga manusia menganggap sebagai karomah) itu sifatnya hanya individualistis, dan karena semua terserah kepada Allah bagaimana memberikan pengajaran.

    Pengajaran dalam mengenali daya, memang kadang sangat mempesona. Hampir semua yang penulis kenal yang sedang belajar hal ini tiba-tiba memiliki kemampuan yang tidak biasa. Kadang bisa memberhentikan hujan, memberhentikan dan membalikan arah angin, dan juga kemampuan supranatural lainnya. Banyak diantaranya yang kemudian mampu menyembuhkan penyakit non medis, yang di sebabkan makhluk ghaib, dan lain sebagainya. Tersingkapnya hijab hati akan menyingkapkan ke ghaiban inilah konsekwensinya, maka dia akan mampu berkomunikasi dengan makhluk ghaib, dan mengenali kesadaran-kesadaran lainnya, mengenal dari rahsa di jiwa.

    Dirinya akan senantiasa di hadapkan kepada dua dunia, beserta dimensi-dimensinya. Dirinya dibenturkan kepada sebuah fakta untuk memaknai manakah yang sebenarnya Realitas dan manakah yang Ghaib. Dualitas rahsa dalam kesadarannya. Karena semua menjadi seakan-akan sama saja. Tinggal dia mau memaknai seperti apa keadaannya dan sebagai apa. Apakah akan memaknainya sebagai hal ghaib ataukah sebagai realitas alam semesta saja, suatu kewajaran. Sungguh mempesona. Namun hakekatnya itu hanyalah pembelajaran saja kepadanya. Dia sedang diajarkan pelajaran mengenai daya yang sedang bekerja, daya yang bekerja di alam dan dalam tubuh manusia itu sendiri. Diajarkan siapakah dirinya, hakekat dirinya sendiri, hakekat tentang AKU.

    Maka celakalah orang yang kemudian mengaku-aku memiliki daya ini. Celakalah orang yang mengaku aku memiliki Ilmu Laduni ini. Kemudian menganggul-anggulkannya, sebagai kesaktian, sebagai karomah, atau lainnya. Karena hakekatnya ilmu ini berada di antara ada dan tiada, hikmah diantara realitas dan ghaib. Semua milik Allah. Hasil yang benar jika seseorang memiliki ilmu ini adalah kebalikannya, dia akan menjadi merasa tidak memiliki ilmu sama sekali. Seseorang justru akan merasa tidak memiliki daya sama sekali, setelah belajar dan memahami hakekat ilmu ini. Inilah keanehannya.

    Semua tergantung rahmat Allah semata. Dia hanya menggantungkan hidupnya dari kemurahan Allah, yang akan memberikan daya kepadanya atau tidak. Inilah hakekat hasil pembelajaran Ilmu Laduni. Ilmu ini ada namun menjadi tiada, karena hakekatnya adalah kita kemudian meniadakan ilmu ini sendiri. Ilmu ini berada dalam kesadaran realitas dan keghaiban itu sendiri.

    Karenanya kita akan kesulitan jika mencari orang yang benar-benar memiliki ilmu ini, karena dia akan tersembunyi diantara manusia lainnya. Jika tersingkapkan, Ilmu ini menurutnya, hanya akan menjadi aib nya saja nanti. Begitu takutnya dia kepada Allah, takut menjadi riya’ jika dirinya diketahui. Maka keberadaan orang-orang ini nyaris terabaikan, mungkin saja ada diantara kita semua, namun kita tidak tahu. Ciri-ciri seorang muslim sejati ada pada dirinya. Itulah tanda-tandanya.

    Ini adalah ilmu ketiadaan, meniadakan daya upaya kita, dia hanya bisa pasrah menggantungkan dirinya atas daya yang diberikan Allah. Dia benar-benar merasa menjadi manusia yang tidak punya daya sama sekali. Benar-benar lemah, menjadi manusia biasa, sangat biasa. Dia merasa tidak tahu apa-apa, karena semuanya seakan-akan hanya di tarok begitu saja. Dia akan menjadi tunduk, rendah hati, karena dia menyadari bahwa dirinya bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Dan lain lain, dan lain lain. Hingga pada gilirannya nanti sampailah dirinya kepada makom kearifan tertinggi dalam dimensi manusia.

    Jika tertarik belajar Ilmu ini, Ilmu Laduni, maka menurut hemat saya tidaklah harus belajar kepada orang lain. Sebab begitu sulitnya jaman sekarang ini menemukan orang seperti itu. Belajarlah kepada Allah. Bergurulah kepada Allah.

    Begitulah ke-khas-an Ilmu Laduni, dalam pemahaman saya, bagaimana memulai nya ?. Maka ini hanyalah sekedar sharing saja, sekali lagi hakekatnya hanya Allah saja yang tahu, pengajaran seperti apakah yang pas buat diri kita masing-masing.

    Dari mana mulai ?

    Di awali dari sebuah pertanyaan yang di lontarkan. Mengapa manusia menerima dengan sikap pasrah sebuah keyakinan secara turun temurun, tanpa sedikitpun keraguan ?. Mengapa manusia tidak mau menggunakan bukti-bukti rasional sebagai dasar penerimaan itu ?.

    Mengapa setiap kelompok meyakini paham mereka sebagai suatu kebenaran ?. Bersikukuh mempertahankan keyakinan yang di dapat dari nenek moyang mereka secara turun temurun, tanpa meragukan sedikitpun. Mengapa Islam, Kristen, Hindu, Budha, Yahudi, Bathiniyah, dan lainnya tetap dalam pendapatnya itu. Sehingga pada gilirannya, membuat mereka sendiri menjadi sangat sensitif ketika diantara mereka mengalami benturan keyakinan dan bersinggungan paham.

    Mengapakah hal ini tidak menimbul pertanyaan dan keraguan kepada kita, manakah diantara paham mereka sesungguhnya yang benar.

    Marilah kita telusuri mengapa keadaannya begitu. “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya saja kedua orang tuanya menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. “ (HR. Al Bukhari, Muslim, Malik, dan Ahmad).

    Itulah keadaan real kondisi manusia, saat dia dilahirkan, dia sudah berada dalam kesadaran kolektif masyarakatnya. Dia tidak bisa memilih orang tuanya, lingkungannya, atau agamanya.

    Jikalau begitu dapatkah dia disalahkan pada satu sisi itu saja, ketika dia memeluk agama Yahudi, Nasrani atau Majusi ?. Apakah orang tuanya yang salah ?. Ternyata tidak juga, karena ternyata orang tuanyapun mengalami nasib yang sama. Dia juga hanya menerima agama dari orang tuanya lagi. Dan seterusnya, dan seterusnya. Setiap manusia hanya menerima begitu saja paham dan keyakinan dari nenek moyang nenek moyang mereka.

    Jikalau setiap manusia mengalami kejadian yang sama seperti itu, kenapa mereka semua harus mewarisi juga sikap permusuhan nenek moyang-nenek moyang mereka semua ?. Menjadi permusuhan yang turun temurun lintas generasi, permusuhan yang tiada habis-habisnya. Praduga dan persepsi di bangun atas cerita masa lalu. Tidakkah sebaiknya setiap golongan, setiap manusia duduk bersama mengkaji kebenaran masing-masing. Melakukan kontemplasi dalam diri sendiri mencari hakekat ilmu pengetahuan dan hakekat kebenaran.

    Yakinlah, manusia dahulunya adalah umat yang satu. Agama dahulunya adalah satu. Kemudian ada sebagian dari manusia yang di berikan pengetahuan menyimpangkannya, mengikuti hawa nafsunya. Pemahaman tersebut kemudian diturunkan, diikuti oleh keturunan keturunan mereka secara membuta. Sampailah kepada kita sekarang ini. Sesungguhnya manusia telah melalaikan keadaan yang sudah sekian lama begini, berabad abad lalu hingga melintasi jaman dan peradaban, sampailah kepada kita sekarang ini. Dinamika seluruh umat manusia dengan pelbagai macam keyakinan dan kebenaran versi masing-masing.

    Kita seharusnya khawatir dengan perkembangan agama Islam itu sendiri, kemudian mempertanyakan dengan keraguan, mengapa begitu banyak mahzab di dalam Islam, mengapa Islam juga terpecah-pecah. Manakah yang benar diantara mereka. Kita harus memiliki Ilmu yakin atas kebenaran yang di dalamnya tidak menyisakan sedikitpun ruang bagi keraguan. Keyakinan yang haqul yaqin yang tidak menyertakan kemungkinan salah dan praduga.

    Sebuah keyakinan atas kebenaran yang tidak mungkin mampu di goyahkan sedikitpun oleh siapapun, meskipun sang pembantah memberikan emas sebesar gunung sekalipun. Dan selanjutnya kita mampu menyikapi atas perbedaan yang tengah terjadi di dalam masyarakat itu dengan kearifan, sebab hakekat kebenaran datangnya dari Allah.

    Muncullah pemahaman bahwa hakekatnya setiap golongan hanya berada dalam makom mereka masing-masing. Tentunya mereka semuanya nanti, jika telah satu dalam kebenaran Tuhan maka seluruh umat manusia akan menjadi kembali bersatu lagi dalam dienul Islam. Itulah keyakinan Islam.

    Sekali lagi, setiap mahzab, setiap golongan senantiasa melakukan klaim atas kebenaran mereka, namun kita tidak pernah tahu, diantara mereka manakah sesungguhnya yang benar. Benar dalam kebenaran Allah. Dimanakah rantai yang terputus, dimanakah ‘missing link’ nya, sehingga kebenaran yang sampai kepada kita sudah terserak-serak, sudah tidak lengkap lagi.

    Kita harus menanyakan kepada diri kita melalui keraguan. Karena Al qur an telah mengisyaratkan demikian. Pada setiap peradaban mungkin ada saja nenek moyang kita yang lalai. Kita harus khawatir atas hal itu. Sehingga kitalah yang di harapkan mampu memutuskan mata rantainya, mencari dimanakah asal muaranya, mencari jalan penghubung atas ajaran nabi Ibrahim yang lurus (Milah Ibrahim). Sehingga kita memliki keyakinan yang benar, yang selanjutnya dengan ini, dapat kita wariskan kembali kepada anak cucu kita berikutnya. Menjadi generasi Islam yang wajahnya penuh senyum, yang senantiasa menjadi rahmat bagi yang lainnya. Islam adalah rahmat semesta alam.

    Generasi yang melalaikan

    “Ya Sin. Demi Al qur an yang penuh hikmah. Sungguh engkau (Muhammad) adalah seorang dari rosul-rosul. Diatas jalan yang lurus. (Sebagai wahyu) yang diturunkan (Allah) yang maha Perkasa, Maha Penyayang. Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Sungguh, pasti berlaku perkataan terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. “ (QS. Ya sin 1-7)

    Al qur an jauh hari sudah memperingatkan hal tersebut. Dalam setiap peradaban setiap abad akan terdapat suatu kaum yang nenek moyang-nenek moyang mereka lalai. Maka Al qur an kemudian di turunkan, sebagai wahyu, memberikan peringatan kepada kita, atas kemungkinan tersebut dengan sebuah praduga bahwa diduga diantara nenek moyang kita terdahulu terdapat suatu generasi yang lalai.

    Terjadilah ‘missing link’ mata rantai yang terputus. Sehingga sampai ke jaman kita, sudah menjadi banyak versi kebenaran yang terserak diantara setiap golongan. Kitalah semua yang harus mengkritisi, ke dalam diri kita masing-masing. Mengikuti petunjuk di dalam Al qur an. Mencari kebenaran itu sendiri.

    Al qur an menuntut ke aktifan manusia dalam mencari kebenaran. Menguji kembali keimanan yang telah diwariskan kepada diri kita masing-masing. Meminimalisir kelalaian nenek moyang kita yang beranggapan bahwa diri mereka sudah benar, sehingga karenanya mereka lalai, dan karena itu mereka tidak mau lagi mencari kebenaran. Sehingga kebenaran yang sampai kepada kita sudah tidak sempurna.

    Kebenaran harusnya sampai kepada kita melalui jalan yang lurus (shirotol mustakim). Bukan melalui jalan orang yang sesat ataupun jalannya orang yang di murkai Allah. Maka kita wajib meyakinkan diri kita atas hal tersebut. Sehingga kita mampu mengamankan setidaknya jalan kita sendiri terlebih dahulu.

    Pertanyaan-pertanyan tersebut layaknya terus di lontarkkan ke dalam hati. Sebagaimana yang dilakukan nabi Ibrahim as, ketika mencari hakekat Tuhan, sebagaimana juga yang di lakukan Rosululloh dalam kontemplasinya sepanjang waktu dan di perkuat saat-saat di gua hiro.

    Begitu juga sebagaimana Hujatul Islam Imam Al Ghozali. Ini adalah pondasi dasar untuk melatih instrumen ketubuhan kita, mempersiapkan kondisi saat di susupkan contoh rahsa agar dikenali. Semua dimulai dengan pertanyaan, penuh keraguan atas suatu keadaan. Melihat ke dalam diri, mencari referensi atas sesuatu itu, dari dalam jiwa kita sendiri.

    Pengajaran yang sederhana

    Marilah kita masuki saja agar menjadi lebih jelas apa yang saya maksudkan. Kita mulai dari hal yang sederhana. Kita coba dari masalah yang paling banyak terjadi menimpa kita kaum awam adalah perihal sholat. Al qur an sudah memberikan solusi efektif bagi kita kaum urban dalam menghadapi kesempitan dan tuntutan hidup.

    Firman Allah “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. “ (QS. Al baqoroh 45). Perintah tersebut jelas tidak mungkin salah. Masalahnya adalah kita yang belum mampu. Maka mulailah kita bertanya dalam hati kita, berdialog dengan tajam dan dalam.

    · Apakah sholat yang di ajarkan orang tua kita sudah benar, sehingga sholat mampu menjadi penolong kita ?.

    · Apakah ada yang salah, sehingga sholat belum dapat saya jadikan penolong ?.

    · Mengapa sholat dapat di jadikan penolong ?. Bagaimana caranya ?

    · Nyatanya berat bukan ?. Kenapa kok saya tidak bisa melakukan hal itu ?

    · Hanya orang yang khusuk yang dapat melakukan itu ?

    · Mengapa saya tidak bisa khusuk ?.

    · Terus bertanyalah dan jawablah dengan jujur. Latih terus instrument ketubuhan kita.

    · Kuatkan hati dan terus bertanya kepada Allah. Bagaimana caranya agar kita mampu mengerti.

    Begitu juga dalam mengenal Allah, baiknya kita mulai dari ayat yang sering kita lafadzkan sehari-hari . Bisa dari “Bismillahi rohmani rohiem”. Pernyataan tersebut harus kita akui pasti benar.

    Maka kenalilah, bertanyalah terus, kasih sayang apakah yang telah diberikan kepada kita. Terlihat sederhana pertanyaan ini, namun seperti uraian dimuka, saat kita tidak memliki referensi apapun tentang sifat kasih dan sayang Allah, kita tidak akan mampu mengucapkan ini dengan keyakinan.

    Ketika kita tidak yakin dengan ini, maka kita juga akan sulit mengenal Allah. Sebab dikarenakan kita tidak memiliki referensi sifat kasih dan sayang-Nya dalam diri kita. Ketika kita tidak mampu mengenal Allah, maka selanjutnya kita akan sulit khusuk dalam sholat.

    Sungguh bagi sebagian orang, menemukan dan mencari referensi kasih sayang Allah di dalam dirinya, merupakan perjuangan yang melelahkan, mendaki lagi sukar. Banyak kesadaran lain yang menghijab. Banyak sekali kesadaran lain yang ikut di dalam dirinya akan melakukan pengingkaran-pengingkaran,

    Bahkan mungkin akal , mungkin jiwanya sendiri juga akan melakukan pengingkaran, sehingga hati sulit sekali mendapatkan hal atau keadaan seperti keadaannya. Yaitu keadaan rahsa di dada seperti dimaksud ketika Allah melimpahkan kasih sayangnya.

    Apakah kita mengerti dan memahami bagaimana keadaan tersebut ?. Tentunya kita harus belajar mengenali, belajar untuk mendapatkan contoh rahsanya, dengan suatu mujahadah yang tak kenal lelah, agar nantinya tidak salah lagi.

    Kita harus terus istikomah, melewati fase-fase awal. Kesadaran-kesadaran yang berada dalam diri kita secara perlahan tapi pasti akan di singkap, bagai mengupas kulit bawang, selapis demi selapis. Yakinlah, dengan mengenal Allah melalui sifat kasih sayang-Nya saja kita sudah akan mampu menjalani kehidupan beragama dengan tenang, puas dan ridho. Inilah pengajaran yang sederhana namun tepat guna dan manfaat.

    Bila orang tua kita hanya mengajarkan “Bismillah”, maka masuki saja lebih dalam. Insyaallah dengan ini, kita akan mampu mengerjakan dan mendirikan syariat dengan lebih ringan, lebih ikhlas dan sabar. Agama selanjutnya tidak menjadi beban kita lagi. Insyaallah beragama dan berkerja akan sejalan. Meskipun penguasaan agama kita hanya sedikit.

    Berguru Kepada Allah

    Masih banyak yang harus disingkapkan, perihal bagaimana pengajaran Allah, bagaimana keadaannya jika kita berguru kepada Allah. Sungguh luar biasa pernyataan yang di usung Ustad Abu Sangkan.

    Dalam bukunya Berguru Kepada Allah. Meski menabrak logika berfikir umat Islam, dan mendobrak ‘mainstream’ yang begitu kuat. Nyatanya pemahaman ini secara perlahan mampu diterima masyarakat. Meski pada awalnya banyak penentangan di sana-sini.

    Lambat laun, masyarakat mampu melihat dengan jernih kemana muaranya. Pemahaman ini secara tidak langsung telah melahirkan paradigma baru dalam konsep berfikir tentang Islam itu sendiri. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya atas diri beliau. Amin

    Dalam perjalanan Berguru Kepada Allah, manusia akan diperjalankan, dan di ajarkan bagaimana memahami dirinya sendiri terlebih dahulu. Terutama adalah bagaimana manusia mampu memahami dualitas rahsa yang telah disusupkan oleh Allah kepadanya. Rahsa pada jiwa yaitu kefasikan dan ketakwaan.

    Manusia harus mengenalinya. Membedakannya bagaimana sensasi rahsa bila kita berada dalam makom kefasikan dan bagaimana juga keadaan sensasi rahsa di jiwa ketika kita berada di makom ketakwaan. Sungguh kita harus mampu membedakan keadaan ini. Agar kita tidak tertipu.

    Manusia secara perlahan diminta mengenali rahsa takut, rahsa syukur, rahsa takwa, tawakal, iman, sabar, harap, dan lain-lain, dan berikut dengan dualitasnya, yaitu rahsa kebalikannya. Digulirkan juga rahsa senang dan sedih, gembira dan nestapa, sukses dan kecewa, dan bagaimana memaknai hikmah diantara dua rahsa itu. Kemudian bagaimana juga menetapinya, rahsa yang bagaimanakah yang bersumber dari daya Allah.

    Semua akan diajarkan satu persatu. Begitu dahsyatnya pengajaran itu, hingga sangat terasa di badan. Sebagaimana halnya sampai-sampai pada dada Rosululloh ketika sholat seperti ber-gemuruh, saking dahsyatnya, hingga terdengar oleh orang di belakangnya. Maka ketika kita diajarkan rahsa ini, sungguh kita harus istikomah dalam keyakinan kepada Allah.

    Gemuruh di dada dan bagaimana sensasinya begitu luar biasa, benar-benar akan melumpuhkan dirinya. Bagai gelombang tsunami yang akan melemparkan apa saja. Bagai radiasi yang akan meluluh lantakkan apa saja yang terpapar. Semua menimpa raganya. Maka bagi manusia hanya ada satu jalan, hanya kembali kepada Allah. Tidak ada jalan kembali. Apakah dia akan menjadi kafir setelah beriman ?. Itulah taruhannya. Jika dia berbalik, sungguh siksaan Allah amatlah pedih.

    Kemudian manusia juga akan diajari bagaimana membedakan sensasi bagaimana jika kita takut kepada Allah dan bagaimana juga ketika kita takut kepada selainAllah. Demikian juga untuk rahsa cinta. Bagaimana sensasi rahsa ketika kita cinta kepada Allah dan ketika kita mencintai selain Allah.

    Dengan mengenali sensasi rahsa ini (dzauq), manusia akan mengenali daya(kasyaf) yang menimbulkan sensasi tersebut. Karena hakekatnya rahsa hanyalah sebuah efek atas bekerjanya sebuah daya saja. (Lihat Kajian Sebelumnya perihal DAYA ini).

    Sebuah rahsa panas yang dirimbulkan oleh alat pemanas, atau bohlam lampu misalnya, akan terasa bedanya jika daya listrik yang menghidupkannya berasal dari daya PLN ataukah bersumber dari daya sebuah battery. Jika dari PLN akan lebih konstan namun jika dari baterry dayanya semakin lama akan meredup sehingga nyalanya (panasnya) akan tak beraturan.

    Sensasi ini terasa nyata dan akan beda sekali bagi yang mampu merasakannya. Inilah perumpamaannya. Begitulah cara mengenali sebuah daya. Apakah daya dari Allah ataukah daya dari selain Allah. Kita mengenali dari sensasi rahsanya (dzauk).

    Kemudian setelah kita mengenalinya, maka kita akan mendapatkan referensi atas rahsa yang dimaksudkan. Allah akan memberikan contoh rahsanya yang benar (hal). Bagaimana rahsa yang sungguh-sungguh benar.

    Kita akan memiliki keyakinan yang kuat tentang kebenaran yang dimaksudkan-NYA. Tanpa rekayasa apapun. Betul-betul seperti di tarok saja. Setelahnya, kemudian manusia harus mengupayakan dirinya agar menempati makom tersebut, berdasarkan referensi yang sudah didapatkannya itu.

    Inilah perjuangan yang terus menerus, hingga manusia mampu mencapai makom yang dimaksudkan. Begitus seterusnya sehingga tercapailah kearifan puncak. Menjadi manusia yang (menjadi) rahmat semesta alam.

    Penutup

    Maka keadaannya, hanya dengan mengucapkan ‘Bismilahi rohmani rohiem’ saja, ahli kitab tersebut sudah mampu memindahkan singgasana Ratu Bilkis. Sesuai permintaan Nabi Sulaiman. Begitulah yang diberitakan Al qur an. Sebab karena orang tersebut sudah mampu mengkondisikin dirinya dalam (suasana) hal dimana dan bagaimana keadaan suasana itu, saat (ketika) waktu sama dengan nol (t=0). Bagaimana sensasinya, dimensinya, dan bagaimana juga keadaannya dia sudah tahu dan sudah menjadi realitas bagi dirinya. Maka ketika orang tersebut sudah memiliki referensi sebagaimana hal ketika waktu sama dengan nol, (realitas keadaan tersebut) maka dia dengan mudahnya (masuk) berada dalam kondisi tersebut.

    Ketika dia sudah dalam kondisi tersebut, (sama halnya) bagi dirinya waktu sudah sama dengan nol (t=0) maka selanjutnya mudah saja bagi dirinya berada dimana saja, dan berbuat apa saja, karena bagi dirinya segala sesuatu sudah tidak berjarak dan tidak bermassa lagi. (Lihat Kajian Misteri Sang Waktu). Maka sesungguhnya dia akan mampu melakukan segala sesuatu dengan sangat mudahnya, seperti mengkedipkan mata saja. Melakukan semua itu sebagai kewajaran, sebagaimana matahari yang selalu terbit, melakukan dengan kerendahan hati. Sebuah kearifan puncak manusia. Begitulah hakekat Ilmu Laduni.

    Begitulah (rahasia) kebesaran hikmah atas kita-kitab Allah, bagi orang yang mengetahui. Inilah pemahaman saya, maka kembalinya kepada sidang pembaca memaknainya. Selamat Mencoba. Wolohualam.

    Salam

  71. Assalamu’alaikum ustadz….. saya dari Jepara, kepingin pesan buku Ilmu Laduni, bagaimana caranya ustadz?

  72. maaf tapi belajar buku tanpa bimbingan guru yg murysid bisa jadi bertemu jalan yg buntu

  73. sy mencoba isi form.pemesana an buku tsppi tdk bisa krn judul order buku tidak ada di lis nya,sy mau pesan buku tawasul dan ilmu laduni karangan lutfi,mohon bantuaan nya,
    trima kasih.

  74. @ Rahmaniar. ….. untuk memesan buku2 tersebut silahkan Anda pesan/sms di nomor bagian penujualan : 085726337391 , a/n Tri Maskurin, terima kasih kembali

  75. Auliya Syekh Abdul Qodir al Jilani bagi kalangan thorikoh mereka di agung agungkan dan di hormati tapi bagi saya dia itu orang yang hina.tak ada sedikitpun kelibhan melainkan tipu daya iblis yng wujud………….jadi bodoooooh sekali arang yang bertawasul dengan orang yang hina yaitu syekh abdul qodir jilani

  76. Auliya Syekh Abdul Qodir al Jilani bagi kalangan thorikoh mereka di agung agungkan dan di hormati tapi bagi saya dia itu orang yang hina.tak ada sedikitpun kelibhan melainkan tipu daya iblis yng wujud………….jadi bodoooooh sekali orang yang bertawasul dengan orang yang hina yaitu syekh abdul qodir jilani..ilmu laduni itu ilmunya iblis..dari tampang si pengarang bukunya aja seperti iblis tidak ada terpancar aura positif..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s