9- SERI HIKAM Jilid 1-7 (syarah hikam Ibnu Atho’illah)

seri hkm

SERI HIKAM (1-7) Jld 1 (Jangan Berputus Asa Kepada Allah)

Karya MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI


Isi buku Seri Hikam 1-7 ini sama dengan isi buku Percikan Samudera Hikam 1-2, yang berbeda hanya kemasannya. Atas permintaan teman-teman, buku Seri Hikam 1-7 ini dikemas menjadi 7 jilid dan dijadikan buku saku. Hal itu sekedar supaya enak dibaca dan dibawa kemana-mana serta ringan di saku.
Berikut ini adalah cuplikan isi buku Seri Hikam Jilid 1.

Ketika seorang hamba berdo’a kepada Allah SWT, lebih-lebih apabila do’a itu dilakukan secara istiqamah, maka pasti do’anya akan dikabulkan. Demikian itu, karena Allah SWT. sudah berjanji dan sedikitpun Allah SWT. Tidak akan mengingkari janji-janji-Nya. Namun demikian, do’a-do’a yang dipanjatkan itu haruslah memenuhi syarat untuk dikabulkan. Rasulullah SAW. telah menegaskan dengan sabdanya: “Setiap do’a yang dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Allah asal tidak tercampur dengan dosa dan memutuskan tali silaturrahmi, do’a itu akan dikabulkan dalam tiga pilihan:(1) Diturunkan seketika di dunia dalam bentuk pemberian sesuai dengan permintaan; (2) Dijadikan simpanan di akhirat sebagai kafarat dari dosa-dosanya; (3) Digantikan sebagai ganti musibah yang tidak jadi diturunkan demi keselamatannya.”

Oleh karena itu, bagaimanapun kondisi yang terjadi, hati seorang hamba yang beriman hendaknya siap menghadapinya, bahwa apa saja yang dikehendaki Allah SWT. pastilah yang terbaik bagi dirinya. Hal itu harus dilakukan, supaya matahati dan cahaya rahasia batin mereka tidak menjadi tumpul dan padam. Sebab, ketika ujian-ujian hidup itu sudah cukup dan ketika seorang hamba telah mampu melewatinya dengan nilai yang baik, maka problematika kehidupan dan bahkan konflik-konflik horizontal yang telah berlalu, sesungguhnya itu adalah proses pembelajaran dan masuknya ilmu pengetahuan dalam hati yang tinggi nilainya. Itulah ilmu rasa, ilmu pengetahuan yang dapat mematangkan jiwa manusia. Ilmu spiritual yang mampu menebalkan keyakinan, membakar lapisan hijab sehingga menjadikan matahati seorang hamba semakin cemerlang. Hanya dengan cara seperti itulah Allah telah memperjalankan kehidupan para hamba pilihan-Nya dan bahkan para nabi dan rasul-Nya. Mereka diperjalankan dengan realita kehidupan yang sesungguhnya, menghadapi kesulitan dan tantangan serta goncangan-goncangan hidup yang berat. Allah menyatakan hal itu dengan firman-Nya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. al Baqoroh; 214)

seri hkm

SERI HIKAM (1-7) Jld 2 (Memandang Kesulitan Sebagai Tantangan)

Karya MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI


Semua kesulitan hidup—apapun bentuknya—sesungguhnya bukan merupakan kendala, tetapi tantangan. Barangsiapa menganggapnya sebagai kendala, mereka akan menghadapinya dengan hati terpaksa dan susah, itulah siksaan. Namun bila kesulitan hidup itu dianggap sebagai tantangan, walau cara menghadapinya tetap sama, mereka akan merasakannya lebih ringan, karena mereka menghadapinya dengan semangat dan senang hati. Seperti orang melihat kabut diatas gunung, apabila kabut itu dilihat dari jauh, seakan-akan tidak tampak ada jalan, namun bila didekati, setebal apapun kabut gunung itu, ternyata di sana jalan yang akan dilalui itu masih dapat ditemukan. Oleh karena itu, orang tidak harus menghindari kesulitan, tetapi malah mendekatinya, dengan pertolongan Allah SWT. dibalik kesulitan itu sesungguhnya jalan penyelesaian sudah disiapkan.
Maka, menghindari kesulitan, dalam arti lari kepada Yang Menciptakan kesulitan itu, dengan menyerahkannya kembali (tawakkal) kepada Pemeliharaan dan Pengaturan-Nya, hal tersebut akan mampu mempermudah menemukan jalan keluar yang diharapkan. Sebab, semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, dan hanya Allah-lah yang dapat memberikan jalan keluarnya serta menunjukkan hikmah yang ada di balik rahasia setiap kejadian. “Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)”, (QS. 53; 42)

seri hkm

SERI HIKAM (1-7) Jld 3 (Mengapa Balasan Amal Tidak Diberikan Di Dunia)

Karya MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI


Oleh karena amal ibadah yang dilaksanakan hanya didasari ketakwaan, tanpa sedikitpun dicampuri syirik dan sesuatu yang membatalkan pahala ibadah, maka meski amal tersebut amal yang kecil, amal itu akan bernilai besar. Hal itu disebabkan, karena amal itu dihadapkan kepada Dzat Yang Maha Besar. Disamping itu, oleh karena adanya surga itu di akhirat, maka pahala amal itu tidak mungkin dapat dilihat oleh manusia di dunia, sebagaimana yang telah ditegaskan Allah SWT. dengan firman-Nya: ”Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. as-Sajadah; 32/17)
Namun demikian, meskipun pahala amal ibadah itu tidak dapat dilihat di dunia, tapi buahnya sesungguhnya dapat dirasakan di dunia, baik secara ma’nawiyah yakni secara ilmiah melalui apa-apa yang telah banyak dijanjikan Allah SWT. dengan firmanNya maupun secara hissiyah yaitu melalui kekuatan iman dan yakin dalam hati terhadap janji-janji tersebut. Seperti orang yang percaya dia akan mendapatkan hadiah di Jakarta misalnya, padahal dia di Semarang, maka perjalanan dari Semarang ke Jakarta untuk mengambil hadiah itu adalah perjalanan yang menyenangkan. Namun sebaliknya, orang yang dikirim dari Semarang untuk menjalani hukuman di Jakarta, orang tersebut pasti akan merasakan perjalanan Jakarta Semarang itu dengan menyedihkan dan menyakitkan. Itulah i’tibar perjalanan hidup seorang hamba di dunia.
Orang yang beriman, meski mereka tidak dapat melihat pahala amal ibadahnya dengan mata kepala, tapi sesungguhnya dapat merasakannya dengan matahati, itulah yang dimaksud dengan ayat di atas: “Yang menyedapkan pandangan mata” atau “Qurratu a’yunin”. Adapun orang yang berbuat dzalim akan menjalani kehidupan dunianya dengan tanpa adanya kedamaian. Hal itu disebabkan, karena walau pikirannya tidak mengerti terhadap apa yang akan terjadi di kemudian hari, namun hatinya merasakan bahwa dia akan mendapatkan siksa dari kedzaliman yang sudah diperbuatnya di dunia.

seri hkm

SERI HIKAM (1-7) Jld 4 ( Yang Meringankan Beban Musibah)

Karya MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI

Apapun yang terjadi, meski musibah itu akibat dosa-dosa yang diperbuat sendiri. Kalau ternyata hasil akhir musibah itu adalah kebaikan dan mampu membangkitkan taubat dan semangat benah-benah, berarti dosa-dosa itu hanyalah sekedar sebab-sebab yang tersusun rapi supaya akhirnya orang menjadi lebih baik. Kalau demikian keadaannya, maka dosa-dosa itupun sejatinya adalah bagian takdir baik untuk dirinya. Sebab, tidak ada satu

kejadianpun di muka bumi ini kecuali terjadi dengan kehendak Allah s.w.t. Bahkan orang yang memukul orang lain dengan tangannya sendiri, yang demikian itu pula sejatinya adalah Allah s.w.t yang memukul orang yang dipukul tersebut. Demikian yang ditegaskan Allah s.w.t dengan firman-Nya diatas.

Oleh karena itu, apabila ada orang mendapat musibah, baik dari akibat

perbuatan sendiri maupun perbuatan oranglain, dan ia salah dalam menyangka.Ia mengira Allah s.w.t telah meninggalkan dirinya, bahwa Allah s.w.t telah memutuskan tali kasih-Nya, bahwa Allah s.w.t sudah tidak lagi memperhatikan dan mencintainya. Itu berarti hanyalah semata-mata karena sempitnya pandangan matahatinya. Semata-mata karena dangkalnya ma’rifat yang ada dalam hatinya dan rapuhnya keimanan serta lemahnya keyakinan.

Kalau tidak demikian, barangkali memang yang disembah selama ini sesungguhnya bukan Tuhannya tapi musuhnya. Bukan penolong yang melindunginya tapi lawan yang akan menghancurkannya. Berarti pula selama ini ia telah salah dalam menyembah.

.

seri hkm

SERI HIKAM (1-7) Jld 5 (Melihat Kemungkinan Bukan Keadaan)

Karya MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI


Orang beriman tidak boleh hanya mampu melihat dan mensikapi keadaan dengan benar, tetapi juga mengantisipasi akibat yang bisa terjadi di balik keadaan tersebut dengan benar pula. Dengan membaca isyarat yang terbaca serta mempersiapkan diri sedini mungkin untuk menghadapi datangnya kenyataan dengan benar, adalah sikap yang arif dari seorang hamba yang matahatinya cemerlang.
Manusia harus membeli, anugerah dengan ibadah dan musibah dengan dosa, meski semua itu sesungguhnya sudah ditetapkan Allah sejak zaman azali. Namun, oleh karena manusia akan menerima pahala amal, maka manusia harus memulai dengan amal perbuatan mereka sendiri. Itu adalah sunnah yang sudah ditetapkan Allah sejak zaman azali. Suatu saat Nabi Musa AS. berkata kepada Nabi Adam AS: “Wahai Bapak kami, seandainya engkau dahulu tidak berbuat dosa di surga, maka kami umat manusia tetap tinggal di sana untuk selamanya”, Nabi Adam AS menjawab: “Wahai Nabi Allah, dari mana engkau mengetahui aku berbuat dosa di surga?” Nabi Musa menjawab: “Dari kitabku yang turunkan Allah SWT. kepadaku”. Nabi Adam AS. meneruskan: “Lebih dulu mana kitabmu itu diciptakan dengan aku berbuat kesalahan di surga?” Nabi Musa AS. menjawab: “Lebih dulu kitabku diciptakan”. Nabi Adam AS. menjawab: “Carilah jawaban pertanyaanmu itu di dalam urusan tersebut”.
Dosa yang diperbuat Nabi Adam AS. di surga, meski membawa musibah dan derita panjang, akan tetapi akhirnya ternyata membawa hikmah besar. Yakni pembelajaran bagi kehidupan. Dengan hikmah itu, disamping supaya tumbuh kedewasaan hidup di dalam jiwa manusia, juga supaya setiap individu menjadi sadar dan mawas diri terhadap segala perilaku dan perbuatan yang dilakukan. Hal itu disebabkan, karena : “(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hambahamba-Nya”. (QS. Ali-Imran ( 3);182).
Sesungguhnya setiap individu sudah mendapatkan kesempatan untuk memilih, memperturutkan hawa nafsu atau bermujahadah mengikuti ilmu dan iman. Selanjutnya, manusia akan dipaksa oleh keadaan yang telah diciptakannya sendiri dengan pilihannya itu. Keadaan itu adalah akibat perbuatan yang sudah mereka lakukan sendiri. Sekali-kali Allah tidak berbuat aniaya kepada hamba-hamba-Nya. “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QSAn-Najm( 53);39).

seri hkm

SERI HIKAM (1-7) Jld 6 (Tidak Ada Yang Mengetahui Wali Kecuali Wali)

Karya MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI

Meskipun tidak ada satupun ayat al-Qur’an menyatakan seseorang itu sebagai Wali Allah, namun setiap Wali pasti mempunyai bukti kewalian pada dirinya. Itupun hanya para ahlinya yang dapat mengetahui. Hal itu bisa terjadi, karena terkadang Allah membuka keghaiban rahasia alam malakut kepada hamba-Nya tetapi tidak membuka rahasia yang menjadi penyebab seorang hamba mendapatkan kemuliaan di hadapan Tuhannya. Allah tidak membuka hubungan seseorang kepada wali-Nya kecuali orang tersebut terlebih dahulu berusaha membuka hubungan tersebut dengan bertawassul kepada mereka.
Orang-orang yang beriman dan bertakwa, mereka itu tidak pernah mengalami kekhawatiran dan kekecewaan dalam menghadapi dan menjalani kehidupan yang ada. Bahkan dengan segala tantangan yang ada di dalamnya, baik urusan dunia maupun urusan akhirat. Hal itu disebabkan, karena di dalam hati mereka ada sumber inspirasi yang menacar terus-menerus dari Tuhannya. Mereka selalu mendapatkan kabar gembira dari Allah SWT. Itulah tanda-tanda dan bukti kewalian seseorang. Semakin kuat tanda-tanda tersebut, berarti semakin kuat tingkat kedekatan mereka kepada Tuhannya. Dengan itu berarti pula semakin tinggi tingkat derajat kewalian yang ada pada dirinya. Itu karena di dalam dadanya ada dua gudang perbendaharaan. Pertama kuburan rahasia-rahasia ketuhanan dan kedua sumber nur ma’rifat kepada Tuhannya.

seri hkm

SERI HIKAM (1-7) Jld 7 (Rahasia Inayah Dibalik Jalan Lurus)

Karya MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI

Sejak di dalam rahim ibunya, ternyata manusia sudah ditentukan nasibnya, menjadi orang beriman atau orang kafir. Menjadi orang bahagia atau orang yang celaka. Ketetapan itu tidak dirubah lagi selamanya, kecuali manusia itu sendiri yang merubahnya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.(QS.Ar-Ra’d: 15/11). Dengan perbuatan taat berarti yang asalnya jelek berubah menjadi baik, dengan maksiat berarti yang asalnya baik akan menjadi jelek. Itulah sunnatullah, sejak sunnah itu diciptakan, tidak akan ada perubahan lagi untuk selamanya. Manusia harus mengenali asal usul dan jati diri mereka. Manakala di dalam rahim itu Allah telah menetapkan baik bagi mereka, berarti asal usul mereka adalah baik. Takdir baik itu dapat dilihat dari tanda-tandanya, yaitu adanya iman dan amal sholeh yang menyertai kehidupannya. Setelah manusia mengenali asal usul itu melalui tanda-tanda tersebut, selanjutnya takdir baik itu harus ditindaklanjuti dengan amal sholeh sampai dengan mendapatkan derajat yang tidak terbatas di sisi Allah SWT. Dengan melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar serta berlomba-lomba di dalam kebajikan manusia dapat membentuk jadi dirinya menjadi seorang kholifah bumi zamannya. Itulah keutamaan besar yang disiapkan hanya untuk manusia. Sumber keutamaan besar itu berupa syafa’at agung yang dianugerahkan Allah SWT. kepada Baginda Nabi. Adalah anugerah azaliyah yang tidak diberikan kepada siapaun selainnya. Dengan syafa’at itu Baginda Nabi SAW. menyelamatkan umat manusia. Di dunia dengan inayah azaliyah sehingga orang beriman mampu menindaklanjuti imannya dengan amal sholeh dan di akhirat dengan pengampunan sehingga umatnya yang berdosa selamat dari siksa neraka. Jadi, menindaklanjuti takdir baik itu dengan melaksanakan taat kepada Allah dan rasul-Nya, mengabdi dan berbakti dengan meneladani pengadian dan perjuangan Baginda Nabi SAW. sampai akhirnya mendapatkan syafaat Beliau.

Untuk mendapatkan buku-buku tersebut silahkan kunjungi situs Toko Buku Online kami di abshor-bookstore.blogspot.com

13 comments on “9- SERI HIKAM Jilid 1-7 (syarah hikam Ibnu Atho’illah)

  1. Kalau saya ingin mencari buku2 Al-Hikam yang ini, ada di toko buku apa (yang di Jakarta)? Kalau di toko buku bisa lihat2 dulu daftar isinya. Kalau langsung memesan kan tidak bisa.

    —————–
    Anda bisa datang atau konfermasi di Agen kami:
    CV. JAVA MEDIA NETWORK
    Jl. Pulo Kamboja, Jakarta Selatan 12210
    Tlp. 021- 53672752 – 68882289

    Salam

  2. saya butuh bulu ini dimana bisa didapatkan utk wilayah BATAM kepri
    atau alamat buat saya utk bisa beli buku ini, syukron

  3. wali Alloh SWT. telah datang …..
    wahai hamba alloh SWT. bagaimana kabar kalian… semoga tetap dalam bimbinganNya. amin

  4. tambahkan tawasulmu hingga 200 wali….
    mulai dari Nabi Muhammad sampai pada kedua orang tuamu..
    dan jangan lupa wali disekitar wilayahmu… kirim fatikha… yaa..
    jangan berhasrat untuk meraih harta.. tahta.. wanita…
    sungguh berat ujian dariNya… tetaplah zdikir terus.. allloh..alloh…
    ihklaskan semua tingkahlakumu untuk berjuang dijalan alloh SWT.
    bekerjalah secara dhohir sesuai dengan keinginanmu .. untuk menghidar fitnah – fitnah dari orang2 disekelilingmu…demi Kesimbangan sobat!!!!
    pintu -pintu sudah mulai dibuka…

  5. assalamualaikum.. buku seri hikam bagus sekali terimakasih alhamdulillah mau nanya klo terusan buku seri hikam baru sampai tujuh belum ada lagi ?

  6. alhamdulillah, mohon di bantu kllo penulisannya sudah selesai tolong di informasikan terimakasih sebesar2nya

  7. alhamdulillah.. mohon di bantu klo penulisannya sudah selesai tolong di informasikan dan dimana bisa membelinya terimakasih sebesar2nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s