5- PERCIKAN SAMUDERA HIKAM JLD 1-2

hikam

PERCIKAN SAMUDERA HIKAM JLD 1
Karya Muhammad Luthfi Ghozali

Kitab Al-Hikam adalah buah karya tulis yang sarat berisi pendidikan tentang sendi-sendi akhlakul karimah. Demikian besarnya buah karya itu sehingga hampir-hampir tidak seorang ‘Ulama pun tidak mengenal “Kitab Al-Hikam” tersebut. Buah karya abadi seorang Ulama’ besar zamannya, yaitu Asy-Syekh Al-Imam Al-Arif Billah, Abi Fadil Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah Al-Assakandary Radliyallaahu ‘Anhum. Terlebih di Indonesia, karena kitab Hikam tersebut telah banyak diterbitkan dan beredar, baik syarahnya dengan bahasa Arab dan bahasa Indonesia, juga terjemahan dan pensadurannya dengan bahasa Indonesia. Kitab tersebut ditulis dengan kalimat-kalimat yang sederhana tetapi mengandung arti yang sangat dalam dan luas. Isinya bagaikan lautan tidak bertepi. Relevansinya abadi sepanjang zaman. Baik yang berkaitan hubungan antara sesama hamba terlebih hubungan antara seorang hamba kepada Ma’budnya. Isi kitab Hikam tersebut merupakan konsep-konsep kehidupan yang logis dan masuk akal serta rambu-rambu jalan yang cemerlang. Kemanfaatannya sudah tidak diragukan lagi. Hampir tidak ada seorangpun yang mendalami ilmu tasawuf dan menjalani alam kesufian, mereka pasti telah menyelami dalamnya lautan kitab hikam. Mereka pernah menenggak air susu dan madunya, bahkan tidak sedikit yang menjadi mabuk dengan arak murninya.
Dengan buku Percikan Samudera Hikam ini, penulis telah mencoba menyarahi (menafsiri) kitab hikam tersebut dalam bahasa Indonesia. Dengan bahasa yang sederhana, interpretasi dari bait-bait kitab hikam yang agung tersebut telah diaplikasikan dalam bahasa kehidupan sehari-hari yang sederhana pula. Dengan latar belakang penulis sebagai orang lapangan (praktisi), yang tentunya telah kenyang makan asam garam kehidupan, maka hasilnya, buku ini tidak hanya tertulis secara teoritis saja, namun juga dengan bahasa rasa yang membumi.
Di dalam buku ini, penulis berusaha mengembalikan segala permasalahan hidup kepada pokok dan pangkalnya. Sumber segala kehidupan yaitu Allah SWT. yang terkadang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia. Padahal disana terdapat hidayah, bimbingan, pertolongan dan jalan keluar untuk menyelesaikan segala permasalahan. Sebagian besar manusia seringkali terjebak dengan ilmu dan akalnya saja, sehingga mereka cenderung mengelola kehidupan ini hanya dengan kemampuan yang dimiliki tanpa menyertakan pemberian Allah yang paling berharga yang sudah ada didekatnya, yakni potensi hatinya. Akibatnya, kemajuan usaha itu sering kali terhambat justru dengan ilmu dan akal itu karena di dalam ilmu dan akal manusia banyak keterbatasan.
Dengan mengembalikan pengelolaan hidup sejak dini kepada pangkal kehidupan itu, diharapkan, apa saja yang sedang diusahakan manusia, baik untuk kemajuan usaha ataupun menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi, mendapatkan kemudahan dari Dzat yang menciptakan kehidupan itu.
Oleh karena itu, buku ini sangat menyejukkan hati pembacanya ketika hati itu—kadang kala—sedang panas. Seperti filter, isi buku ini mampu menjernihkan akal pembacanya yang kadang-kadang keruh akibat kesibukan hidup yang memaksakan kehendak, sehingga setelah meresapi buku ini akal yang asalnya keruh itu menjadi jernih kembali.
Hidup ini, apapun yang terjadi, sesungguhnya tidak ada aturan yang salah di dalamnya. Hal itu disebabkan, karena kehidupan alam ini adalah ciptaan Rabbul Alamin, Sang Maha Pencipta Yang Maha Sempurna. Jika di sana ternyata ada anugerah dan musibah, berarti keduanya adalah buah yang dipetik dari amal perbuatan manusia itu sendiri. Itulah bagian dari hiasan dan pernak-pernik bumi, walau anugerah dan musibah terkadang bisa menjadi penyebab kehancuran manusia. Tinggal bagaimana setiap individu menanam benih kehidupannya. Jika seseorang menanam benih kebaikan maka kebaikan pula yang akan dipetik sebagai buahnya. Jika mereka menanam benih kejelekan maka kejelekan pula yang akan dipetik sebagai buahnya. Itulah sunnatullah. Sejak sunnah itu diciptakan, sampai kapanpun tidak akan terjadi perubahan di dalamnya. Allah Maha Adil. Apabila manusia ingin merasakan keadilan-Nya, mereka harus mampu menyikapi realita dan fenomena dengan adil. Jika tidak, maka Allah akan menunjukkan keadilan-Nya dengan musibah atau fitnah.
Orang yang sedang susah hati karena dirundung masalah hidup yang tidak ringan, orang tersebut pasti membutuhkan orang lain untuk menghibur dirinya. Membutuhkan kawan untuk tempat ‘curhat’. Jika teman yang dibutuhkan itu belum ditemukan, barangkali buku ini bisa sebagai gantinya. Buku ini bisa dijadikan pelipur lara untuk sementara, karena memang untuk itu buku ini tercipta. Buku ini terdiri dari banyak bab, yang setiap babnya mempunyai spesifikasi pembahasan yang seakan berbeda, namun sesungghnya sama. Berupa solusi-solusi kehidupan yang cantik dalam menyikapi realita yang tidak dikehendaki, merupakan bagian yang paling sarat di dalamnya, maka pembaca tinggal memilih bab mana yang paling dibutuhkan untuk menghibur kesusahan hatinya saat itu.

hikam 2

PERCIKAN SAMUDERA HIKAM JLD 2
Karya: Muhammad Luthfi Ghozali


Pembahasan dalam buku Percikan Samudera Hikam Jilid 2 ini merupakan lanjutan dari pembahasan buku Percikan Samudera Hikam Jilid 1. Seperti buku jilid 1, buku jilid 2 ini juga lebih menekankan pada pembahasan yang batin daripada yang lahir, semisal keadaan hati orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. Berikut ini cuplikan dari salah satu bab di dalamnya.
Orang yang ma’rifat artinya orang yang mengenal. Apabila dia ma’rifat kepada Allah, maka berarti orang tersebut mengenal kepada setiap kehendakNya. Oleh karena itu, hati seorang yang ‘arifin’ mengetahui bahwa apa saja yang ada pada dirinya, baik yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi, hal tersebut pasti tidak terlepas dari kehendak dan pengaturan Allah. Dengan demikian, maka tidak ada pilihan lain, mereka harus bertawakkal kepada-Nya. Orang yang ma’rifatullah itu akan menyerahkan dan menyandarkan seluruh urusan hidupnya hanya kepada pengaturan Allah. Apapun yang terjadi, berarti itulah yang terbaik baginya karena sesungguhnya Allah yang memilihkan kejadian itu untuknya. Mereka menerima kejadian itu dengan senang hati walau pahit dirasakan di dalam dada.

Hati seorang yang arifin bahkan tidak lagi sempat melihat jauh ke depan, bahwa setelah lewat masa sulit, masa mudahnya pasti akan datang. Hal tersebut sebagaimana yang telah dijanjikan Allah dengan firman-Nya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, -sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. QS:94/5-6. Mereka tidak sempat berharap masa sempit itu akan berganti dengan masa lapang, tetapi di dalam kesempitan itu, sesungguhnya mereka sudah merasakan kelapangan dada. Hal itu bisa terjadi, karena mereka yakin, bahwa kepahitan hidup itu adalah obat yang memang didatangkan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit jiwanya, maka mereka menelan obat itu dengan senang hati karena dengan itu mereka yakin jiwanya akan segera menjadi sembuh.
Disamping yang demikian itu, ketika mereka melihat ke belakang. Mereka ingat kepada masa-masa yang sudah terjadi. Ternyata tidak sepenuhnya keinginan dan hajat hidupnya—baik yang ruhani maupun yang jasmani—dapat tercukupi dengan sempurna. Tidak setiap ada kesempatan berbuat baik mereka selalu dapat mengerjakannya. Tidak setiap jebakan kejelekan yang muncul di dalam realita, mereka selalu dapat menghindarinya. Apalagi ketika mereka melihat kedepan, semakin hari tantangan dan kesulitan hidup tidak semakin ringan bahkan semakin berat. Mereka mengerti pula bahwa sedikitpun mereka tidak mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk menghadapi tantangan itu kecuali hanya dengan pertolongan dari Allah. Lalu mereka ingat, bahwa Allah telah memerintahkan supaya seorang hamba berdo’a kepada-Nya. Untuk itu, maka seorang yang arifin tidak harus bertawakkal saja, tetapi juga berdo’a dan berusaha.
Mereka memohon untuk bisa mendapatkan kekuatan hati untuk mengikuti pengaturan-Nya, kuat dalam menghadapi segala tantangan dan rintangan hidup, mendapatkan penjagaan dan perlindungan dari segala kejahatan yang datang, diselamatkan dari fitnah-fitnah kehidupan yang ada. Dengan menindaklanjuti isyarat yang tertangkap dan melaksanakan mujahadah untuk membangun amal sholeh yang dapat menjadikan dekat kepada Tuhannya, mereka menggosok dan menyepuh ruhaniyah agar matahatinya semakin terang dan cemerlang. Selanjutnya mereka harus membangun dan memakmurkan sisa usia yang masih ada dengan pengabdian dan perjuangan yang hakiki. Untuk kepentingan tersebut itulah, maka do’a-do’a dipanjatkan. Dengan demikian bukannya mereka hanya berharap supaya isi do’a tersebut dikabulkan, akan tetapi do’a itu sendiri dijadikannya sebagai sarana ibadah. Do’a itu menjadi sarana komunikasi untuk melaksanakan akhlakul karimah. Berikror atas kedhoifan dan kefakiran diri di hadapan kekuasaan dan kebesaran Sang Junjungan Yang Maha Kaya dan Perkasa. Itulah sedikit gambaran keadaan hati orang-orang yang mencintai dan dicintai Allah SWT.
Seperti pada jilid pertama, Percikan Samudera Hikam Jilid 2 ini juga terdiri dari banyak bab, yang setiap bab mempunyai spesifikasi pembahasan yang seakan berbeda, namun sesungghnya sama. Berupa solusi-solusi kehidupan yang cantik dan cerdik dalam menyikapi realita yang tidak dikehendaki, maka para pembaca tinggal memilih bab mana yang paling dibutuhkan untuk menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi. Semoga anda terhibur dengan mambacanya.

Untuk mendapatkan buku-buku tersebut silahkan kunjungi situs Toko Buku Online kami di abshor-bookstore.blogspot.com

 

5 comments on “5- PERCIKAN SAMUDERA HIKAM JLD 1-2

  1. buku percikan samudera hikam ini dah ada ebooknya? kami tolong dikirimi ya suwun

    ———————–

    belum ada Mas, … insya Allah nanti kalau sudah ada

  2. Al Hikam kami sudah punya tapi sudah hilang. Dan sudah membacanya beratus kali tak pernah bosan cuman juga gak ngerti ngerti sebab bukan sekedar karya ilmiah tapi juga harus amaliah…@

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s