Sesama Tamu Hendaknya Tidak Saling Berisik

Posted in Ramadhan dengan kaitan (tags) on 25 Agustus 2009 by malfiali

Sebagai tamu yang mulia dan dimuliakan, semestinya tidak saling mengganggu, atau setidak-tidaknya berisik. Sesama tamu, seharusnya saling menjaga diri agar tidak menjadikan tuan rumah terganggu. Apalagi tuan rumah, yang dimaksudkan di sini adalah bulan Ramadhan, yaitu bulan yang penuh berkah. Pada bulan yang penuh maghfiroh itu segala kesalahan insya Allah diampuni, apalagi kesalahan yang tidak disengaja, misalnya karena memang tidak tahu bahwa itu salah.

Allah menjadikan Bulan Ramadhan sebagai bulan yang mulia, untuk mengantarkan para tamu-tamu yang tergolong mukmin naik derajatnya menjadi taqwa. Sebagai orang taqwa maka akan mendahulukan perintah Allah daripada kepentingan golongan atau dirinya sendiri, misalnya hanya sebatas agar disebut sebagai lebih unggul dari lainnya, misalnya unggul pengetahuannhya, unggul logikanya, unggul sejarahnya, unggul jumlah dan kualitas pengikutnya, dan seterusnya. Apapun, semestinya tidak boleh terjadi.

Bulan Ramadhan yang mulia itu, menghendaki agar seluruh tamu, yakni penghuni bulan itu lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Setidak-tidaknya, pada bulan mulia itu, diutamakan adanya kebersamaan, yang disebut dengan berjama’ah. Karena rakhmat-Nya maka pada bulan ini, sholat sunnah yang biasanya dilakukan secara sendiri-sendiri, misalnya sholat tarweh, dilakukan secara berjama’ah, artinya dengan kebersamaan.

Selain itu, juga dianjurkan untuk banyak bersedekah, ialah peduli pada orang lain. Sebagai bagian dari menjaga Bulan Ramadhan, orang-orang yang sedang menjadi tamu bulan mulia ini, dilarang menyakiti orang lain, bertengkar, ghibbah, adu domba, dan mengembangkan penyakit hati lainnya. Di Bulan Ramadhan, tatkala pada siang hari berpuasa, maka pada malamnya, mereka tidak boleh mengkonsumsi makanan yang subhad, apalagi haram.

Namun sayangnya, entah karena lupa terhadap betapa pentingnya persatuan umat atau karena kurang memahami kemuliaan Bulan Ramadhan, dan atau juga bisa jadi kurang memahami posisi mereka sebagai tamu, ada saja sementara orang yang lebih suka berisik, mempertentangkan sesuatu yang kurang bermanfaat. Tatkala menjadi tamu, ——-yang seharusnya lebih menghormati tuan rumah, masih mempersoalkan sesuatu yang sesungguhnya tidak terlalu urgen, seperti memperdebatkan jumlah rakaat dalam tarweh, perbedaan dalam penentuan waktu awal dan akhir Bulan Ramadhan, yang kesemuanya itu mengakibatkan ibadah menjadi kurang khusu’ dan menjadi berisik.

Semua pihak sebenarnya sudah paham, bahwa apa yang diperdebatkan itu sesungguhnya bukan sesuatu yang pokok dan mendasar. Semisal sholat tarweh, hanya terkait dengan jumlah raka’at, awal dan akhir Bulan Ramadhan, terjadi hanya tatkala bulan berada pada posisi samar-samar ——-kurang jelas, maka dijadikan awal berisik. Padahal di bulan itu, justru tiba waktunya agar semua menjaga persatuan, dan saling menjaga hubungan silaturrahiem, saling menyayangi, menghormati dan bahkan tolong menolong. Anjuran bersedekah adalah sebagai petunjuk agar sillaturrakhiem itu di bangun di bulan yang mulia ini.

Semestinya, tatkala orang bertamu ke tempat yang mulia dan dimuliakan menghindari dari kegiatan yang menjadikan orang lain terganggu, semisal berisik. Mereka akan menjaga kemuliaan dari hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Biasanya suara berisik pada saat bertamu hanyalah pantas dilakukan oleh anak-anak yang belum dewasa, atau orang-orang yang kurang mampu menjaga diri. Tidak pernah ada orang yang sedang bertamu, ——apalagi di tempat yang mulia, kemudian berdebat tentang hal-hal yang tidak perlu. Apalagi pemilik rumah, yakni Bulan Ramadhan, melarang terhadap siapapun saling bertengkar dan berbedabat hingga merusak tali silaturrahiem.

Sebagaimana tulisan terdahulu, bahwa tamu yang baik adalah mereka yang mau menyesuaikan dengan ketentuan yang diberlakukan oleh pemilik rumah. Pemilik rumah menghendaki agar saling menjaga persatuan, saling menghargai, dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Pemilik rumah tidak mau ada suasana berisik yang mengganggu kemuliaan bulan yang mulia, yaitu Bulan Ramadhan. Karena itu terhadap sesama tamu, semestinya berusaha menjadi tamu yang terbaik, sehingga tidak selayaknya saling berisik, karena memang hal itu tidak dibolehkan dan bahkan juga tidak seharusnya dilakukan di bulan yang mulia ini. Wallahu a’lam.

Oleh: Imam Suprayogo

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=122436748879&ref=nf

PUASA DALAM ARTI MENOLAK MUSUH ALLAH

Posted in Puasa, Ramadhan dengan kaitan (tags) on 23 Agustus 2009 by malfiali

PUASA DALAM ARTI MENOLAK MUSUH ALLAH

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah SAW bersabda: الصَوْمُ جُنَّةً (puasa adalah benteng). Artinya, ibadah puasa menjadi ‘penjaga’ dari keburukan-keburukan yang datang, baik dari berbuat maksiat dan dosa, dari perilaku yang buruk dan akhlak yang tidak terpuji, juga dari murka Allah dan neraka.

Diriwayatkan dari Jabir, dari Anas RA, dari Rasulullah SAW, Nabi SAW bersabda:

خَمْسَةُ أَشْيَاءَ تُحِيْطُ الصَّوْمَ . أَىْ تُبْطِلُ ثَوَابَهُ . اَلْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالْيَمِيْنُ الْغَمُوْسُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ
“Lima perkara yang membatalkan puasa: bohong, mengumpat/ghibah (membicarakan kejelekan orang lain), memfitnah (adu-domba), sumpah bohong dan melihat dengan syahwat”.

Di dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW juga bersabda:

اَلنَّظْرُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ لَعْنَةُ اللهِ. فَمَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ آتَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِيْمَانًا يَجِدُ حَلاَوَتَهُ فِي قَلْبِهِ . (صححا إسناده عن خذيفة)
“Melihat adalah panah beracun dari panah iblis, mudah-mudahan Allah melaknatnya. Maka barang siapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, Allah Azza Wa Jalla, akan mendatangkan keimanan kepadanya yang hatinya akan merasakan manisnya” (Sanadnya shahih dari Khudhaifah)

Orang berpuasa secara otomatis pasti menjaga dirinya dari berbuat jelek. Seperti berkata bohong, mengumpat, memfitnah, sumpah palsu dan melihat dengan pandangan syahwat. Hal-hal yang tidak terpuji tersebut, dijaganya selama dua puluh empat jam dalam sehari dan didawamkan selama satu bulan penuh. Dasarnya bukan karena takut kepada manusia, melainkan hanya takut kepada Allah. Takwallah yang tidak hanya diucapkan di lisan saja, tapi juga dilaksanakan dan dirasakan di dalam hati. Bahkan tidak hanya itu, waktu-waktu luang yang sudah dikosongkan dari kejelekan tersebut menjadi kesempatan baik untuk diisi dengan amal ketaatan dan kebajikan, baik secara vertikal maupun horizontal. Adakah sarana latihan hidup yang lebih baik lagi dari itu?

Itulah hakekat mujahadah dan riyadlah di jalan Allah. Masa-masa latihan yang diadakan Allah untuk orang-orang yang percaya (beriman). Dengan latihan itu supaya mereka menjadi orang yang bertakwa. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. al-Baqoroh; 2/183)

Bahkan di bulan suci Ramadhan itu Allah sedang membentangkan fasilitas di relung dada orang-orang beriman dengan pancaran Nur Hidayah sehingga isi dada mereka terasa lapang. Itulah “inayah azaliah”, dari dalam, terbit semangat kuat untuk beribadah dan dari luar, rute-rute ibadah dimudahkan dan langkah-langkah penghambaan diteguhkan.

Dengan inayah tersebut yang hakekatnya adalah “tarbiyah azaliah”, seorang hamba diharapkan mampu mengembarakan ruhaniah untuk terbang tinggi ke haribaan Allah. Bermi’raj menuju wushul kepada-Nya. Dengan Inayah itu, seorang hamba dapat mencintai dan dicintai-Nya, meridlai dan diridlai-Nya. Allah telah menyatakan hal tersebut dengan firman-Nya:

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
”Sesungguhnya Waliku adalah Allah yang telah menurunkan kitab, dan Dia mentarbiyah orang-orang yang shaleh”. (QS. 7; 196)

Itulah rahmat utama yang dikhususkan bagi hamba-hamba beriman. Kalau sekiranya tidak ada rahmat utama itu, tidak ada tarbiyah dari Allah, tidak ada bulan suci Ramadhan, tidak ada puasa dan tarawih, tadarus serta shadaqah, maka barangkali tidak ada lagi manusia yang selamat dalam menjalani tantangan kehidupan di dunia ini. Terlebih di dalam era bumi tua seperti sekarang ini.

Seandainya tidak ada bulan suci Ramadhan, barangkali semua manusia akan celaka, baik di dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akherat, karena mereka tidak akan mampu lagi mengendalikan hawa nafsu dan menolak setan. Allah telah berfirman:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan kalau sekiranya tidak karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentunya kamu mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu)” (QS. an-Nisa’; 4/83)

Ibadah puasa juga berarti menolak setan jin, sebab musuh utama manusia setelah hawa nafsu adalah setan Jin. Setan Jin mempergunakan jalan nafsu syahwat untuk memperdaya dan menguasai manusia. Padahal kuatnya nafsu syahwat itu dengan banyak makan dan minum, maka dengan puasa berarti orang beriman menyempitkan jalan masuk setan ke dalam tubuhnya. Rasulullah SAW telah menyatakan yang demikian itu dengan sabdanya:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَجْرِى مِنِ ابْنِ آَدَمَ مَجْرَى الدَّمِ فَضَيِّقُوْا مَجَارِيَهُ بِالْجُوْعِ .
“Sesungguhnya setan masuk ke dalam anak Adam melalui aliran jalan darah. Maka sempitkanlah jalan alirannya dengan lapar (puasa)”

Allah juga telah memberi peringatan akan hal itu dengan firman-Nya:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ(فاطر:35/6)
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”. QS. Fathir; 35/6

PUASA DAN MUJAHADAH RASIONAL

Posted in Lailatul Qadr, Puasa, Ramadhan dengan kaitan (tags) on 23 Agustus 2009 by malfiali

Puasa dari Makna Sabda Nabi SAW

عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : أَنَّهُ قَالَ حِكَايَةً عَنْ رَبِّهِ تَعَالى : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِىْ بِهِ . متفق عليه
“Dari Nabi SAW Sesungguhnya beliau bersabda menceritakan Firman Allah “Seluruh amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya” (Muttafaq ‘Alaih).

*********
YANG BURUK BAGI ORANG BERPUASA DI HADAPAN MANUSIA, TERNYATA BAIK DI HADAPAN ALLAH.

Banyak ekses lahir dari ibadah puasa yang menurut pandangan umum buruk, namun di hadapan Allah ternyata baik. Salah satunya dan merupakan kendala bagi orang yang berpuasa adalah nafas yang tidak segar. Terlebih apabila orang yang berpuasa itu terpaksa harus mengadakan aktifitas pergaulan dengan orang lain. Nafas tidak segar orang yang sedang berpuasa itu memang tidak disukai oleh semua orang, namun menurut pandangan Allah ternyata lebih harum dibanding bau minyak misik. Rasulullah SAW telah menegaskan hal itu dengan sabdanya:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ , لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. متفق عليه.

“Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum daripada bau misik”. (Muttafaq ’Alaih)

Penegasan Baginda Nabi SAW mengenai bau mulut orang berpuasa tersebut merupakan bagian yang tidak dapat diterima nalar apabila parameternya adalah nalar secara umum manusia. Adanya pandangan negatif (buruk) terhadap ekses atau dampak pelaksanaan ibadah tersebut, karena orang pada umumnya hanya mampu melihat suatu kejadian dari sisi lahirnya saja, itupun hanya yang berkaitan dengan urusan duniawi. Mereka tidak mampu melihat batinnya atau hikmah dan kemanfaatan luas dari kejadian tersebut bagi tujuan pelaksanaan amal, sehingga yang dikatakan buruk itu tidak mampu mendatangkan hikmah. Apabila nafas tidak segar itu dikaitkan dengan hakekat hikmah puasa, maka secara otomatis orang tersebut akan malas berbicara. Orang yang berpuasa enggan berbicara kecuali untuk hal yang penting saja karena keadaan bau nafasnya sedang tidak bersahabat.

Sesungguhnya hakekat puasa adalah pelaksanaan mujahadah secara universal, dimana membatasi bicara merupakan bagian dari universalitas pelaksanaan mujahadah tersebut. Bahkan menahan bicara atau membatasi bicara, terutama bicara yang tidak ada manfaatnya merupakan mujahadah rasional. Hal itu disebabkan, karena semakin orang banyak bicara, berarti semakin rentan terjebak dalam kesalahan, terlebih manakala tanpa terasa arah pembicaraan itu bergeser masuk wilayah gosip dan fitnah.

Banyak bicara di waktu berpuasa itu ibarat orang menuangkan air di dalam ember bocor. Sebanyak apapun air yang sudah dituangkan, tetap saja akan hilang dengan percuma. Bagi orang yang sedang berpuasa, meskipun dari haus dan lapar yang diderita sepanjang hari itu mampu menghasilkan sumber pahala yang memancar terus-menerus, namun pahala-pahala itu akan tetap habis juga karena selalu menguap melalui lisannya. Terlebih ketika yang dibicarakan itu adalah tentang kejelekan orang lain (ghibah dan fitnah) yang dosanya tidak akan diampuni Allah sepanjang orang yang di”rasani” (diperbincangkan) dan difitnah itu belum memaafkannya. Ghibah artinya membicarakan kejelekan orang lain sebagaimana apa adanya tanpa ada tambahan dan bumbu penyedap, dampak buruknya lebih berat dari ZINA. Apabila keburukan yang dijadikan ajang gosip ria itu ternyata sesuatu yang diada-adakan berarti itu fitnah yang dampak buruknya lebih dahsyat dari MEMBUNUH.

Orang yang banyak bicara pada waktu berpuasa akan semakin merugi, sebab nila ghibah dan fitnah yang hanya setitik itu akan mampu merusakkan susu pahala puasa sebelanga. Lumrah bila ada orang yang tidak pernah menjalani perintah agama kemudian dimasukkan neraka. Hal itu bisa terjadi karena jatah senang dalam hidupnya sudah dihabiskan di dunia, maka jadinya di akherat tinggal penderitaan saja. Namun lain halnya apabila ada orang yang sudah melaksanakan perintah agama, bahkan sepanjang harinya selama sebulan penuh di bulan Ramadhan merasakan penderitaan lapar dan haus karena menjalankan perintah Tuhannya, ditambahkan lagi dengan tarawih dan tadarus pada malamnya bahkan dengan ibadah tambahan yang lain, seperti shadaqah. Namun akibat intensitas lisan yang suka bocor dan kebablasan tersebut kemudian malah menjadikan mereka masuk neraka. Hamba yang berpuasa (Shaaimin) yang sesungguhnya sudah berada di depan pintu surga, namun urung masuk ke dalamnya karena tidak mampu mengelola cara berbicara, berarti tidak ubahnya seperti “ ITIK BERENANG TAPI MATI KEHAUSAN ”.

MUJAHADAH RASIONAL

Rasulullah SAW bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ , لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. متفق عليه.

“Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum daripada bau misik”. (Muttafaq ’Alaih)

Makna esoteris dari “nafas tidak segar” bagi orang yang sedang berpuasa yang lebih dalam dari sekedar terhindar berbuat ghibah dan fitnah adalah, bahwa dengan menahan berbicara, disamping orang yang berpuasa melaksanakan mujahadah secara emosional—yaitu menahan lapar dan haus, sejatinya juga melaksanakan mujahadah secara rasional.

Asalnya dari nafas tidak segar, kemudian terpaksa harus menahan bicara, padahal yang akan dibicarakan itu adalah urusan penting berkaitan dengan urusan duniawi. Sepenting apapun urusan duniawi tersebut, karena ia sedang menjalankan puasa, maka ditunda lebih dulu. Tanpa terasa, penundaan itu sesungguhnya adalah hakekat pelaksanaan mujahadah rasional yang mampu memberikan manfaat yang sangat luas bagi kehidupan manusia.

Dengan berpuasa itu orang beriman telah mengendalikan nafsu syahwat (mujahadah emosional), hal tersebut akan berdampak bagi emosionalitas (bermanfaat untuk meredam emosi) pula. Sedangkan menahan bicara adalah bagian dari pelaksanaan mujahadah secara rasional, maka kemanfaatannya juga akan berimbas bagi rasionalitas. Dengan demikian, hikmah mujahadah rasional itu tidak hanya sekedar menghasilkan pahala dan diampunkan dosa-dosa saja, namun juga mampu membentuk karakter dan pola pikir yang positif bagi orang yang mampu menjalani.

Dalam sebuah haditsnya Baginda Nabi SAW bersabda: “Berpuasalah supaya kalian menjadi sehat”. Artinya, dengan menahan lapar dan haus itu ternyata mampu menjadikan badan menjadi sehat. Menahan bicara itu sejatinya juga demikian, bahkan yang menjadi sehat tidak hanya sekedar jasad saja tetapi juga rasionalitas. Sebab, yang ditahan itu sebenarnya adalah dimensi rasionalitas yang terkadang intensitasnya berlebihan dan dapat mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan. Dengan menahan bicara, tanpa disadari akan terjadi keseimbangan dalam jiwa, baik secara rasional terlebih emosional, sehingga mampu menciptakan dampak positif bagi kehidupan secara lahir (jasmani). Hal itu disebabkan, karena sumber penyebab segala penyakit dalam tubuh manusia, terkadang juga akibat intensitas kehidupan rasional yang tidak terkendali. Apabila menahan dan menunda bicara itu karena mengutamakan urusan Allah daripada urusan duniawi, maka perilaku tersebut bahkan mampu menciptakan manfaat emosional, rasional dan spiritual yang lebih universal, sehingga tercipta kesehatan jasmani sekaligus ruhani.

Walhasil, nafas yang tidak segar itu ternyata bentuk lain dari “inayah lahir” atau pertolongan yang didatangkan secara kasat mata yang diturunkan Allah kepada orang yang berpuasa supaya puasanya menjadi sempurna. Keberadaan inayah lahir selalu menyertai “inayah batin” atau pertolongan secara ruhaniah yang berbentuk hidayah dalam hatinya sehingga dapat menerbitkan semangat beribadah.

Di dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”.

Bagi orang yang sedang berpuasa, tidurnya dinilai ibadah. Bila tidurnya saja termasuk ibadah apalagi ibadahnya, tentunya ibadah orang yang sedang puasa itu akan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah.

UJIAN IHLAS

Posted in Lailatul Qadr, Puasa, Ramadhan dengan kaitan (tags) on 23 Agustus 2009 by malfiali

Ujian Ihlas

Konon suatu hari, ketika seorang guru sudah memandang perlu menguji sebagian murid-murid yang pilihan, dia memanggil empat orang murid. Masing-masing murid itu diberi seekor ayam dengan sebilah pisau dan dikatakan kepada mereka: “Wahai murid-muridku, coba ayam-ayam itu kalian potong di suatu tempat yang tidak dapat dilihat oleh siapapun dan jangan sampai diketahui oleh siapapun”.

Berangkatlah murid-murid pilihan itu dengan merahasiakan keberangkatan dan berpencar, masing-masing membawa seekor ayam dan sebilah pisau yang sudah diasah tajam untuk mencari tempat yang tersembunyi supaya saat memotong ayam itu—seperti perintah gurunya—tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Yang satu pergi ke hutan, dan yang lainnya ada yang pergi ke gua dan ada yang masuk ke dalam kamar yang tertutup rapat. Ketika mereka bertiga merasa sudah tidak ada orang yang melihat dan mengetahui keberadaannya, maka dipotonglah ayam-ayam itu. Sedangkan murid yang terakhir, setelah berputar-putar ke sana ke mari, bahkan di tempat yang terpencil sekalipun, dia tidak mendapati tempat di mana dia dapat memotong ayamnya dengan tanpa dilihat dan diketahui oleh siapa-siapa. Oleh karena itu, ketika teman-temannya pulang dengan membawa ayam yang sudah dipotong, dia sendiri pulang dengan ayam yang masih dalam keadaan hidup.

Sesampainya di depan sang guru, murid yang satu melaporkan bahwa ia telah memotong ayamnya di dalam gua sehingga tidak mungkin ada orang yang mengetahuinya, yang satunya melaporkan telah memotong ayamnya di dalam hutan yang lebat sehingga tidak mungkin ada orang yang mengetahuinya dan yang satunya melaporkan telah memotong ayamnya di dalam kamar yang tertutup rapat, bahkan saat masukpun tidak ada seorangpun yang mengetahui, maka berarti tidak mungkin ada orang yang mengetahui pada saat mereka memotong ayam itu. Ketika murid yang satu itu ditanya oleh gurunya, mengapa engkau tidak memotong ayammu?, ia menjawab: “Maaf guru, saya sudah berputar-putar, mencari tempat yang paling sepi dan terpencil sekalipun, tapi tidak saya dapati satu tempatpun di mana saya dapat memotong ayam ini tanpa dilihat dan diketahui oleh siapapun, karena semakin sepi tempat yang aku temukan semakin aku rasakan bahwa Allah melihat kepadaku. Oleh karena itu, di manapun berada aku tidak sanggup memotong ayam ini dengan tanpa dilihat dan diketahui oleh siapapun”.

Dengan jawaban tersebut, maka ketiga murid-murid yang lain menjadi sadar bahwa yang akan lulus ujian gurunya adalah temannya yang terakhir ini, yaitu yang tidak dapat menemukan suatu tempat di mana dia tidak dapat dilihat dan diketahui oleh siapapun. Karena di manapun seseorang berada pasti Allah akan melihat dan mengetahuinya.

Walhasil, matahati ketika sudah cemerlang, maka yang tampak dalam sorot mata hanya Allah SWT. Itulah gambaran hati seorang hamba yang menduduki maqom MUSYAHADAH, maka yang ada dalam sorot matanya bukan SEBAB, akan tetapi YANG MENYEBABKAN SEBAB-SEBAB dari setiap realita dan fenomena yang dilihat. Ibadah puasa adalah ibadah rahasia, meski tidak dapat diketahui oleh siapa-siapa, akan tetapi Allah Maha Mengetahuinya. Dengan gemar mengerjakan ibadah puasa berarti sama saja orang melatih diri supaya matahatinya menjadi cemerlang dan tembus pandang. Ketika ibadah rahasia itu sudah waktunya berbuah, dan matahati seorang pengembara sudah mendapatkan FUTUH (terbukanya matahati) dari Tuhannya sehingga menjadi cemerlang dan tembus pandang, maka berarti orang tersebut akan mendapatkan KEYAKINAN HATI yang kuat, karena selalu mampu bermusyahadah kepada Allah SWT. Barangkali seperti itulah gambaran hati orang yang bertakwa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS.al-Baqoroh/183)

Apakah Anda Pernah Mendapat Malam Qadr …??

Posted in Lailatul Qadr, Puasa, Ramadhan dengan kaitan (tags) , on 23 Agustus 2009 by malfiali

Apakah Anda Pernah Mendapat Malam Qadr ??

Sekitar tahun 1972, saat penulis menjadi salah satu anggota remaja Musholla di kampung. Di bulan suci Ramadhan, pada malam-malam ganjil, tepatnya pada malam dua puluh tujuh, Salah satu kegiatan kami saat itu adalah Ro’an, yaitu kerja bakti membersihkan Musholla. Kira-kira jam dua malam, saat teman-teman yang lain tertidur pulas, salah satu teman ada yang masih sibuk membersihkan kamar mandi.

Sebelum itu, teman ini termasuk yang terbelakang dibanding teman-teman yang lain dan paling jarang mengikuti pengajian, juga jarang mengikuti kegiatan mujahadah malam. Dia lebih senang memilih bekerja di bagian pekerjaan kasar seperti di bagian kebersihan. Dan di bagian kebersihan itupun dia gemar memilih pekerjaan yang tidak disenangi teman-teman lain. Membersihkan bagian kamar mandi misalnya—yang kadang-kadang hanya setahun sekali baru dibersihkan—seperti yang sedang dia kerjakan pada saat itu.

Paginya setelah shalat subuh dia bercerita kepada penulis, bahwa tadi malam saat sedang menggosok lantai kamar mandi itu, terjadi peristiwa yang menurutnya mengherankan. Tanpa sebab, sekujur badannya mendadak gemetar, dadanya bergetar dan tanpa dapat ditahan air matanya mengalir dan menangis dengan sendirinya. Dia berpikir barangkali ini yang dikatakan orang mendapatkan Lailatul Qadr.

Ada lagi yang lebih mengherankan dari itu, karena sejak kejadian itu ternyata terdapat banyak perubahan di dalam dirinya. Dahulu yang asalnya termasuk orang yang paling malas mengikuti pengajian, sekarang menjadi paling aktif. Yang asalnya paling jarang mengikuti kegiatan mujahadah malam, sekarang malah justru menjadi penggeraknya. Tampak lebih tekun membaca dan belajar, lebih aktif mengerjakan puasa sunnah dan sholat malam. Yang lebih istimewa lagi, yang asalnya paling bodoh itu, sekarang dalam waktu relatif singkat berangsur-angsur menjadi orang yang paling pandai di antara teman-teman yang lain. Padahal dia hanyalah anak orang biasa-biasa saja, artinya bukan anak seorang kyai yang ternama. Singkat cerita, sekarang dia telah menjadi seorang Ulama yang berpengaruh dan disegani di daerahnya.

Jika cerita ini benar, maka untuk mendapatkan Malam Qadr itu ternyata tidak harus dengan ilmu dan ibadah fertikal saja, dengan merasa hina kemudian melaksanakan ibadah dengan segala kehinaan itu, justru menjadikan orang tersebut lebih berpeluang mendapat kemudahan untuk terpilih menjadi orang mulia. Mendapat bonus Ramadhan yang tidak mudah didapatkan oleh orang yang Alim sekalipun. Marhaban yaa Ramadhan, Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, MOHON MAAF LAHIR BATIN

SELAMAT JALAN MATAHARIKU

Posted in puisi dengan kaitan (tags) on 19 Agustus 2009 by malfiali

SELAMAT JALAN MATAHARIKU

Sang matahari dari timur telah kembali ke peraduannya
Meningalkan hati-hati terlena
Menggugah perasaan terlelap dalam tidur panjang
Pergi menghadap Sang Paduka
Dengan ridho akan ridho-Nya
Menjemput yang sudah disiapkan disana
Meski semua mengatakan belum saatnya
Namun inilah kenyataan
Maka yang semua itu harus siap menerima
Karena tahapan tugas rupanya sudah paripurna

Disini, dalam bumi yang gersang ini
Seakan engkau tidak peduli kepada yang ada
Padahal kami belum banyak menduga
Kemana tinggalan ini harus dilanjutkan
Hamparan sawah yang butuh perawatan
Gedung-gedung megah yang terasa ikut berduka
Seperti hati kami yang seakan putus asa

Kami melolong, menangis bagai itik ditinggal induk semang
Kehilangan padahal dulu kurang memanfaatkan kemudahan
Namun engkau tanpa menoleh berjalan melenggang
Dijemput teman-temanmu yang sudah lama merindukan
Berjalan seiring meninggalkan batas perpisahan
Bersama-sama menggapai apa yang sudah yang dijanjikan
Karena dulu perjalanan telah ditempuh dengan penuh persiapan

Barangsiapa mendekat dalam lahir
Maka yang dituju itu kini telah sirna
Barangsiapa memandang dengan syahwat
Maka yang dinikmati itu kini hilang entah kemana
Barangsiapa terlena dalam gendongan
Maka selendang itu kini akan jadi rebutan
Barangsiap bernaung dalam keteduhan
Maka pohon rindang itu antah pergi kemana
Hati terkaget meski tidak berdaya
Pikiran menerawang jauh karena hidup menjadi tidak bermakna

Adapun yang mendekat kepada ilmu dan akhlak mulia
Kharismah ruhaniah yang memancar abadi sepanjang masa
Amaliyah yang tergurat kuat dalam lembar kain sutra
Disulam dalam permadani dengan permata dan mutiara
Digurat dalam mushab dan kitab yang terjaga
Meski kini nafasnya tidak lagi memancar dari sumbernya
Namun kapan saja akan terpancarkan dalam setiap ronga dada
Asal tapak tilas itu diikuti dengan hati selamat dan terjaga
Bersih dari penyakit-penyakit manusiawi yang dapat mengotori matahati dan jiwa

Selamat jalan sang matahari zaman
Dengan segala kebahagiaan yang engkau dapatkan
Meski meningalkan duka-duka mendalam
Disini, di tanah-tanah yang engkau bajak selama ini
Semoga bibit yang engkau tanam
Tumbuh menjadi pohon rindang dan berbuah
Dalam setiap hamparan isi dada
Anak-anak asuh yang seakan baru terjaga
Terlena dari mimpi-mimpi panjang yang melalaikan
Padahal kami masih butuh air yang selama ini engkau kucurkan
Kehidupan yang telah membangkitkan kehidupan

(Yang Tenggelam dalam Baju Hitam)

NUR DI ATAS NUR (part-6) – (Tingkat Derajat Nur Kehidupan)

Posted in alam ghaib, cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 27 Juli 2009 by malfiali

NUR DI ATAS NUR (part-6) – (Tingkat Derajat Nur Kehidupan)

Kekuatan pancaran masing-masing “Nur kehidupan” berbeda-beda, hal itu mengikuti tingkat kesulitan dalam cara mendapatkannya. Matahari memancarkan cahaya untuk mata dan ilmu al-Qur’an juga memancarkan Nur untuk akal. Namun demikian, pancaran Nur al-Qur’an kepada alam melalui akal, hati dan ruh manusia jauh lebih kuat daripada pancaran sinar matahari kepada alam semesta. Artinya, Nur yang dipancarkan oleh jiwa suci Rasulullah Muhammad SAW jauh lebih kuat daripada cahaya yang dipancarkan matahari.

Terbukti, meski seharian sinar matahari mampu menerangi kehidupan di muka bumi, hingga kolong-kolong di dalam rumah bisa mendapatkan sinar, namun ketika “matahari langit” itu harus tenggelam di ufuk malam, maka sinarnya menjadi padam sehingga alam yang semula terang kembali menjadi gelap gulita. Padahal Nur Muhammad SAW tidaklah demikian, meski “matahari bumi” itu harus dipanggil untuk selama-lamanya karena masa tugasnya telah purna, namun sinarnya justru semakin cemerlang dan dalam waktu yang relatif singkat, melalui perjuangan para penerus dan pewarisnya, persada bumi menjadi terang benderang.

Selain itu, manakala sinar matahari langit hanya membawa manfaat kepada alam dunia, maka Nur yang dipancarkan Jiwa Suci Rasulullah Muhammad SAW bahkan mampu menyinari dunia dan akherat. Oleh karena itulah, Allah mensifati matahari dengan istilah Siraaj di dalam QS. al-Furqon Ayat 61:

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا

“Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya”. (QS. al-Furqon; 25/61)

Dan juga menyifati Rasul Muhammad SAW dengan istilah Siraaj di dalam QS. al-Ahzab:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (45) وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan(45)Dan untuk menjadi penyeru kepada agama-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi”.(QS. al-Ahzab; 33/45-46)

Nur yang memancar dari jiwa suci para Nabi adalah Nur yang dipancarkan Allah melalui para Elit Malaikat yang dimuliakan. Allah telah menyatakan yang demikian itu dengan firman-firman-Nya:

يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ

“Dia menurunkan para malaikat (dengan) membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-Nya yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasannya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku”. (QS. an-Nahl; 16/2)

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ

“Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) (193) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan(194)Dengan bahasa Arab yang jelas(195)Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab yang dahulu(196)”. (QS. asy-Syu’araa’; 26/193-196)

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Ruh Qudus (jibril) menurunkan Al-Qur’an dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (QS. an-Nahl; 16/102)

Artinya, “Nur kehidupan” yang memancar dari jiwa suci para Nabi tersebut, bukannya Nur yang langsung diterima dari Allah, melainkan melalui malaikat-Nya, yaitu malaikat Jibril AS. Dengan demikian menunjukkan bahwa “Nur kehidupan” yang dipancarkan oleh Elit Malaikat kepada para Nabi SAW itu tentu pancarannya lebih kuat daripada sinar yang dipancarkan oleh para Nabi SAW kepada umatnya. Yang demikian itu telah diisyarahkan pula oleh Allah:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (19) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (jibril)(19) Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Yang Mempunyai ‘Arsy(20)Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya(21)” (QS. at-Ta’wir; 81/19-21)

Walhasil, kita dapat mengambil i’tibar, bahwa “Nur kehidupan” yang dipancarkan Allah di alam jasad, yaitu dari matahari kemudian memancarkan ke bulan dan bintang-bintang, lalu sinar itu masuk ke dalam bilik dan rumah-rumah yang kemudian memantul lagi dari kaca yang satu ke kaca yang lain sehingga alam menjadi terang, cara kerja seperti itu ternyata sama dengan cara Allah memancarkan Nur-Nya di alam jiwa manusia. Yaitu: pertama dari Elit Malaikat kemudian dipancarkan kepada para Nabi dan Rasul SAW selanjutnya kepada para Wali dan para Ulama’ dan seterusnya dan seterusnya, di mana tingkat derajat para Ulama’ itu telah disebutkan di dalam al-Qur’an al-Karim dengan urutan sebagai berikut; ash-Shiddiq, asy-Syuhada’ dan ash-Sholihin. (QS. An-Nisa’; 69)

Sistem kerja Nur seperti itu menunjukkan dengan jelas bahwa tidak mungkin manusia mendapatkan “Nur hidayah” dari Allah langsung kecuali dengan mengikuti cara kerja (sunnah) yang sudah dicontohkan tersebut. Barangsiapa berkehendak mendapatkan “Nur kehidupan” itu untuk dirinya, baik bagi akal terlebih untuk hati dan ruhnya, “Nur kehidupan” tersebut tidak mungkin bisa didapatkan langsung dari Allah melainkan harus dicari dari sumber-sumbernya di muka bumi. Merekalah para Nabiyin, Shiddiqin, Syuhada’ dan Sholihin..

Sebab, mereka itulah khalifah-khalifah bumi zamannya yang sudah mendapatkan hak untuk menyampaikan Nur Allah melalui aktifitas dan pengabdian hidup mereka, baik melalui dakwah, ibadah dan dzikir yang mereka kerjakan terlebih dari pancaran do’a-do’a dan munajat yang mereka panjatkan. Demikian itulah sunnatullah yang sejak diciptakan tidak akan ada perubahan lagi untuk selamanya.

Dengan asumsi bahwa Nur kehidupan tidak mungkin bisa didapatkan langsung dari Allah melainkan harus dicari dari sumber-sumbernya di muka bumi, maka pelaksanaan thariqah yang dibimbing oleh guru Mursyid yang suci lagi mulia adalah solusi paling mutlak yang harus dilakukan oleh para pengembara (salik) di jalan Allah atau orang yang ingin menghidupkan sumber Nur kehidupan di dalam jiwanya sendiri. Sebab, hanya dengan jalan bertariqah itulah, iman yang sudah ada di dalam hati seorang hamba akan bertambah cemerlang, menjadi yakin dan bahkan ma’rifatullah. Dalam arti dengan mengikuti apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh seorang guru Mursyid yang mempunyai pertalian (rabithah) ruhaniah yang kuat dengan para guru Mursyid sebelumnya secara sambung-menyambung dari guru mursyid ke guru mursyid sebelumnya hingga silsilah (transmisi)nya sampai kepada Maha Guru yang mulia yaitu Nabi Besar Muhammad SAW.

Hanya para guru Mursyid thariqah itulah yang mampu melaksanakan cara kerja yang cerdik itu. Membimbing murid-murid dan anak asuhnya untuk dapat meningkatkan iman mereka. Sehingga terbukti, murid-murid yang semula bisanya hanya berbicara saja, bahkan kadangkala dicampuri dengan kesombongan yang kosong, setelah mendapatkan tempaan dari guru Mursyid tersebut, menjadikan mereka tunduk dan tawadhu’. Murid-murid yang baik itu selanjutnya mampu meningkatkan iman dan takwa itu tidak hanya dilahirkan secara ilmiah saja, namun juga diwujudkan dengan amal ibadah, pengabdian dan pelaksanaan akhlak yang mulia. Sebagian murid itu kemudian bahkan ada yang menjadi badal atau perpanjangan tangan guru Mursyidnya. Menjadi “khalifah mursyid” dan penerus pengabdian yang hakiki. Di manapun berada, bersama masyarakat setempat mereka mengembangkan thariqah itu, sehingga menjadi komunitas persaudaraan yang kuat dan mandiri di mana-mana.

Dengan cara seperti itu akhirnya thariqah berkembang di seluruh belahan bumi. Menembus dimensi waktu dan generasi yang berbeda. Adakah selain thariqah mampu melaksanakan amal yang utama itu? Merajut aspirasi yang berbeda dari berbagai generasi yang berbeda pula untuk ditampung di dalam satu wadah yang sama di dalam kurun waktu dan dimensi zaman yang berbeda? Itulah semangat “Ukhuwah Islamiah” sejati. Fenomena dan sejarah telah berbicara, maka hati yang selamat hendaknya tidak harus terlalu dipusingkan oleh sepak terjang orang-orang yang mengingkari keberadaannya.
(tamat, alhamdulillah wa syukru lillah)

Undangan Haul

NUR DI ATAS NUR (part-5 ) – Mencari Nur Kehidupan

Posted in alam ghaib, cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 27 Juli 2009 by malfiali

NUR DI ATAS NUR (part-5 ) – Mencari Nur Kehidupan

Keempat instrument kehidupan manusia, baik mata, akal, hati maupun ruh, sebagai anggota tubuh yang paling utama, merupakan perangkat (ware) atau sarana agar manusia dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Dengan sarana itu mereka membentuk jati dirinya menjadi sebaik-baik manusia, dalam arti mampu memberi kemanfaatan kepada orang lain bukan kemadlaratan. Menjadi manusia yang mampu membangun dan menciptakan sumber kehidupan di muka bumi, bukan yang berbuat kerusakan. Menjadi khalifah bumi zamannya yang mampu melaksanakan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Itulah gambaran orang yan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, sebagaimana yang telah dinyatakan Allah dalam firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran; 110)

Potensi menjadi “sebaik-baik umat” adalah kenikmatan terbesar yang dianugerahkan Allah kepada Umat Muhammad SAW, baik dari kalangan orang JAWA maupun orang ARAB. Sebab, dengan sarana-sarana tersebut manusia tidak saja mampu menikmati kehidupan dengan baik, namun juga mengangkat derajat kemuliaan mereka di tengah manusia terlebih di hadapan Allah. Namun demikian, apabila sarana-sarana itu tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, maka manusia justru akan menjadi makhluk terhina dan ditempatkan di neraka Jahanam untuk selama-lamanya.

Sarana-sarana (ware) itu harus selalu terjaga dari penyakit yang dapat merusak fungsi kemanfaatannya agar manusia dapat mempergunakannya sebaik mungkin. Seperti mata, meski matahari sedang bersinar di langit yang cerah, kadang kala penglihatannya tidak berfungsi akibat adanya penyakit mata, maka seperti itu pula yang terjadi pada indera-indera yang lain. Terkadang manusia bahkan menolak sendiri hidayah yang didatangkan Allah untuk dirinya, hal itu disebabkan adanya penyakit sombong dan iri hati yang sedang menggerogoti hati.

Hanya saja, karena penyakit pada indera-indera selain mata, terlebih penyakit hati tidak gampang dirasakan, maka jarang penderitanya mau segera mengobati sejak dini, kecuali ketika hidupnya benar-benar sudah terancam kematian, sakit keras di pintu ajal kematian yang hampir menjemput, karena terbaring di rumah sakit saat otaknya harus dioperasi. Terlebih ketika harapan untuk hidup sudah kian menipis, maka pengidap penyakit hati itu baru mau sadar dan ingat bahwa dia ternyata punya Tuhan yang sebentar lagi akan menutup hidupnya dengan kematian. Bahkan merubah kesombongan dengan kehinaan, sehingga saat itu juga ia ingin bertaubat. Namun anehnya, ketika nyawanya berhasil diselamatkan sehingga kembali terbuka kesempatan untuk berbenah-benah dan bertaubat, terkadang orang tersebut belum juga mampu menghilangkan kesombongan itu untuk berbuat khusyu’ dan mengabdi kepada-Nya. Jika yang demikian itu terjadi, maka itu pertanda bahwa hati orang tersebut memang telah buta.

Ada beberapa cara untuk mendapatkan “Nur kehidupan”, hal itu bergantung jenis Nur yang dibutuhkan. Untuk mendapatkan sinar matahari orang tidak harus susah-susah mencari kesana kemari, asal matahari sedang tinggi, orang tinggal berjemur diri, karena sinar matahari sudah tersedia sepanjang kehidupan. Demikian juga dengan Nur akal, yaitu al-Qur’an dan Hadis, bahkan Nur akal ini lebih terjaga daripada Nur mata. Namun bedanya, apabila sinar matahari telah tersedia sejak alam ini diciptakan, Nur akal tidaklah demikian. Nur akal itu diciptakan Allah lalu diturunkan ke dunia melalui proses yang cukup panjang, dengan perjuangan dan pengorbanan selama 23 tahun, yaitu semasa terutusnya Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, cara mendapatkan Nur akal tentunya tidak sama dengan cara mendapatkan sinar matahari. Nur akal itu harus didapatkan melalui usaha yang sungguh-sungguh, belajar dan menggali dari sumbernya dengan menempuh tata cara yang sudah ditentukan Allah. Sumber Nur akal itu ada dua, pertama dari kitab-kitab yang tersedia, baik al-Qur’an maupun Hadis dan yang kedua dari Nur Kahrisma yang memancar dari dalam dada para Ulama’ ahlinya. Yaitu perpaduan antara ilmu dan iman yang telah mampu diaktualisasikan dalam bentuk amal ibadah, perilaku dan akhlak yang mulia.

Adapun cara untuk mendapatkan Nur cinta, tidak lain dengan mengikuti konsep yang ditawarkan Allah melalui firman-Nya dibawah ini. Dengan terus menerus berdzikir dan bertasbih kepada-Nya, baik di waktu pagi maupun petang. Dimulai dzikir dengan lisan kemudian dimasukkan di dalam hati. Dzikir itu dilaksanakan dengan terus menerus sampai Allah mencintai dan menurunkan rahmat kepadanya. Allah menegaskan hal ini dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42) هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya(41)Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang(42)Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman(43).“ (QS. al-Ahzab; 33/41-43)

Maksudnya, ketika dzikir dan tasbih yang dilakukan itu mampu menjadikan hati seorang salik ma’rifat dan cinta kepada Tuhannya, sebagai buahnya, hati itu akan mampu mencintai seluruh makhluk, sehingga, bahkan musuhnya merasa aman hidup berdampingan dengan orang tersebut. Buah ibadah itulah yang membuat hati para Ulama’ sejati mampu meredam gejolak amarah yang terkadang timbul dalam hatinya, bahkan tidak hanya itu saja, namun juga mampu menebarkan rahmat Allah kepada alam semesta.

Adapun untuk mendapatkan Nur Nubuwah atau Nur Walayah, caranya dengan melaksanakan tawasul secara ruhaniah. Orang yang bertawasul akan dipertemukan secara ruhaniah dengan orang yang ditawasuli. Oleh karena orang yang ditawasuli itu adalah orang yang telah mendapat kemuliaan dari Tuhannya, maka nur kemuliaan itu akan memantul kepada orang yang bertawasul. Itulah Nur Kharisma yang diwariskan dari penghulu manusia, satu-satunya sumber penebar rahmat untuk alam semesta, Rasulullah Muhammad SAW. Seperti bumi ketika disinari matahari, maka ufuknya yang asalnya gelap gulita menjadi terang benderang. Tidak hanya itu saja, orang yang mau bertawasul itu bahkan hidupnya akan mendapat tambahan keberkahan dari Allah SWT. Allah telah mengajarkan tawasul itu dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya”. (QS. al-Ma’idah; 5/35)

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (21) وَأَمْدَدْنَاهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya – Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini”.(QS.Ath-Thur/21-22

)

*********

Indera Bashoro (mata dan akal) dihidupkan Allah semata-mata terbit dari kehendak-Nya yang azaliah. Sedangkan indera Bashiroh (hati dan ruh) harus dihidupkan sendiri oleh manusia, yaitu dengan pelaksanaan mujahadah dan riyadlah di jalan Allah. Ketika mujahadah dan riyadlah yang dilakukan itu sudah memenuhi unsur sebab, maka hati dan ruh akan dihidupkan Allah sebagai akibat. Allah telah menunjukkan demikian dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (beribadah) di jalan Kami, pasti benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami dan sungguh Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat kebaikan”.QS. al-Ankabut; 29/69)

Itulah hukum sebab-akibat, adalah sunnah yang tidak akan pernah berubah lagi untuk selamanya, maka siapapun dapat melakukannya asal mendapatkan bimbingan yang baik dari para ahlinya. Adapun secara singkat, yang dimaksud mujahadah ialah; usaha yang sungguh-sungguh dari seorang hamba untuk meredam kehendak nafsu syahwatnya sendiri melalui segala pelaksanaan ibadah, baik vertikal maupun horizontal, hal itu dilakukan dengan tujuan semata-mata melaksanakan pengabdian yang hakiki kepada Allah. (bersambung)

NUR DI ATAS NUR (part-4 ) – (Nur Kehidupan)

Posted in alam ghaib, cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 27 Juli 2009 by malfiali

NUR DI ATAS NUR (part-4) – (Nur Kehidupan)

Manusia dikatakan hidup apabila seluruh indera yang dimiliki—baik yang lahir maupun yang batin—hidup. Apabila indera-indera tersebut mati (tidak berfungsi sebagaimana mestinya), terlebih indera yang batin, berarti manusia itu hakekatnya mati meski masih bernyawa. Sebab, meski indera lahirnya hidup, dengan matinya indera batin, sungguh tidak ada lagi yang dapat diperbuat oleh manusia tersebut kecuali hanya makan dan bersenang-senang. Selanjutnya kenikmatan itu harus dipertanggungjawabkan dengan siksa neraka Jahanam. Allah menggambarkan keadaan mereka itu melalui firman-Nya:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka”. (QS. Muhammad; 12)

Makan seperti cara makan binatang ternak itu artinya ‘hidup untuk makan’ bukan ‘makan untuk hidup’. Akibat dari itu, meski badan mereka sehat tapi hatinya penuh dengan penyakit dan bahkan mati. Di dalam firman-Nya yang lain, Allah menggambarkan keadaan mereka di neraka:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akherat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim(2) Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka itu)”. (QS. Al Hijr; 2-3)

Itulah gambaran kehidupan orang yang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, meski secara lahir kelihatannya hidup bahkan mampu mengelola dunia dengan baik, namun sejatinya itu adalah kehidupan yang mati.

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan bukankah mereka adalah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya”. (QS. al-An’am; 6/122)

Yang dimaksud ‘orang mati’ dalam ayat di atas bukan orang yang nyawanya sudah dicabut sehingga jasadnya harus segera dikubur, tapi hatinya sedang beku dan kaku, sehingga meski jasad itu masih dalam segar bugar, namun tidak dapat memberikan manfaat yang berarti bagi dirinya sendiri. Hal itu bisa terjadi, karena matahatinya sedang ditutupi mendung kerak dosa dan kabut sifat-sifat duniawi yang terlanjur menjadi karakter dasar perilaku hidupnya sehari-hari.

Dikatakan mati karena orientasi hidupnya pendek dan sempit, hanya dibatasi oleh kematian di dunia namun panjang angannya, penuh fatamorgana yang menggoda. Artinya, setelah batas kematian itu terlewati, tidak ada lagi kehidupan menyenangkan baginya, yang tertinggal hanya siksa neraka yang pedih untuk selama-lamanya.

“Nur hidayah Allah”, melalui indera-indera lahir manusia tersebut seharusnya mampu menghidupkan kembali hati yang mati itu, dengan cara memadukan antara iman dan amal shaleh dalam pelaksanaan pengabdian hakiki. Adapun indera manusia pada hakekatnya hanya ada dua yaitu; (1) Bashoro atau indera lahir yang meliputi panca indera dan rasio (akal dan fikir) dan (2) Bashiroh atau indera batin (perasa) yang meliputi perasaan hati dan ruh atau ruhaniah. Dari kedua indera tersebut (bashoro dan bashiroh), indera manusia bercabang-cabang dengan cabang yang tidak terhitung, di mana masing-masing indera itu membutuhkan Nur kehidupan.

Untuk menyingkat uraian maka kedua indera tersebut (bashoro dan bashiroh) masing-masing dibagi menjadi dua cabang.

1. Bashoro atau indera lahir yang terdiri dari dua indera:

a) Indera mata; membutuhkan Nur atau cahaya yaitu sinar matahari. Oleh karena itu, meski mata dalam keadaan melek dan sempurna, tanpa adanya sinar matahari, mata itu tidak dapat berfungsi sehingga tidak bermanfaat bagi manusia.
b) Indera akal; membutuhkan Nur berupa ilmu pengetahuan yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis. Sebagaimana mata tanpa sinar matahari yang tidak membawa kemanfaatan, akal juga demikian, tanpa ilmu al-Qur’an berarti akal menjadi mati. Untuk itulah fungsi Ilmu Al-Qur’an adalah sebagai Nur bagi akal sebagaimana fungsi matahari sebagai Nur bagi indera mata.

2. Bashiroh juga meliputi dua Indera:

a) Hati (القُلب); membutuhkan Nur yang berupa “rahmah” atau kasih sayang dan cinta kasih sebagaimana diisyaratkan Allah di dalam firman-Nya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”. (QS. Ali Imran; 3/159)

وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang” (QS. ar-Rum; 30/21)

وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً

“Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang”. (QS. al-Hadid; 57/27)

Hati tanpa kasih sayang menjadikan kehidupan seseorang kaku, sama dengan mata tanpa sinar matahari yang menjadi buta. Orang seperti itu hidupnya hanya mengutamakan diri sendiri tanpa peduli kepada orang lain. Bahkan ketika hatinya telah dipenuhi rasa dendam, seringkali manusia mampu berbuat kejam melebihi binatang buas. Itulah binatang paling tidak disukai Allah sebagaimana terungkap dalam firman-Nya:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun”. (QS. Al-Anfal; 22)

Adapun hati yang lemah lembut karena ada Nur kehidupan di dalamnya, sekiranya tidak, niscaya hati itu akan menjadi kasar dan keras. Ketika hati itu kasar dan keras maka orang-orang di sekitarmu akan menjauhimu. (Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu).

Tanda-tanda hati yang telah mendapatkan Nur kehidupan itu ialah hati yang gemar memberi maaf kepada manusia dengan memohonkan ampunan kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imran; 3/134)

b) Ruh (Ruhaniah); Setelah ruh mendapatkan “Nur kehidupan” pertama yaitu iman, ruh juga membutuhkan Nur lagi yang disebut dengan “Nur Nubuwah” atau “Nur Walayah”. Nur kehidupan yang kedua itu berfungsi agar iman yang sudah ada menjadi semakin kuat dan yakin hingga menjelma ma’rifatullah. Tentang Nur Nubuwah ini telah dinyatakan Allah dengan Firman-Nya:

أُولَئِكَ الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmah, dan Nubuwah”. (QS. al-An’am; 6/89)

Nur Iman ibarat penglihatan, sedangkan Nur Nubuwah atau Nur Walayah itu ibarat mataharinya. Tanpa Nur yang pertama (iman), berarti sama saja seperti orang menjadi buta, maka Nur yang kedua (Nur Nubuwah atau Nur Walayah) itu tidak akan berguna bagi manusia. Oleh sebab itu, ilmu agama saja tidak cukup bagi manusia, tanpa iman, orang yang memiliki Ilmu Agama itu seperti orang buta sehingga ilmu agama itu sedikitpun tidak mampu memberikan petunjuk (hidayah) bagi hatinya sendiri. Seperti itulah gambaran orang yang hatinya ingkar, sehingga ilmu agamanya cenderung hanya dijadikan alat mencari kehidupan duniawi. Mengapa demikian itu bisa terjadi, karena sesunguhnya yang buta bukan akal dan matanya akan tapi hatinya:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. (QS. Al Hajj; 46)

Namun demikian, orang yang sudah memiliki Nur Iman, tanpa Nur Nubuwah atau Nur Walayah, Nur Iman itu tidak dapat berkembang sempurna bahkan malah mati. Adapun satu-satunya jalan untuk menguatkan Nur Iman adalah amal shaleh, karena iman itu dapat bertambah dan berkurang dan bahkan juga dapat mati.(bersambung)