
Rahasia Sumber Inayah 2
Allah SWT. Tuhan Semesta Alam Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah dan Yang Mempunyai Karunia yang Besar, sejak zaman azali telah menghendaki dan telah menentukan, bahwa “Rahmat Utama” itu telah dianugerahkan secara khusus hanya kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. Nabi akhir zaman yang sekaligus sebagai penutup para Nabi sebelumnya, sebagai “Rahmatan Lil ‘Alamin”, untuk supaya disampaikan kepada seluruh makhluk di seluruh alam semesta. Maka sejak itu sampai hari kiyamat dan bahkan di hari akhirat nanti, manusia mendatanginya dengan berbondong-bondong dari segala penjuru belahan bumi, mengulurkan tangannya untuk menggapai limpahan rahmat dan syafaat dari Baginda Nabi saw. Mereka itu bagaikan laron-laron mengerumuni lampu di kegelapan malam untuk mencari jalan kehidupan.
Dengan itu maka Allah Ta’ala telah menentukan pula bahwa ketaatan kepadanya (Rasul saw). adalah identik dengan ketaatan kepada Allah SWT., artinya hanya dengan mengikuti baginda Nabi saw. kepada jalan yang sudah ditempuhnya, maka disitulah letak jalan kepada Allah yang sebenarnya yaitu: ”Jalan yang lurus, – jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang yang telah Allah anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang tersesat”. Allah SWT. telah menegaskan dengan firman-Nya:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. QS:4/80.
Jika selama ini orang belum pernah mengetahui, sehingga tidak mengenali “jalan lurus” yang telah siapkan Allah Ta’ala baginya di balik rahasia ayat-ayat di atas, maka sejak sekarang, bagi yang ingin mengetahuinya, curahkan segala perhatian dengan bersungguh-sungguh kepadanya dan dengan berusaha mengadakan penelitian dan latihan yang mendalam, supaya sejak sekarang juga mereka dapat menemukan dan mengenali “jalan lurus” itu yang selanjutnya dapat menempuhnya dengan benar pula. Kalau tidak, sehingga selama hidupnya mereka tidak dapat mengenali “jalan lurus” itu dan apabila ketidaktahuan itu kemudian terlanjur dibawa keliang kubur bersama kematiannya, maka mereka tinggal menunggu apa yang akan terjadi dengannya disana, karena Allah Ta’ala telah memberikan peringatan dengan firman-Nya:
يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا(71)وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا
(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. – Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). QS17/71-72.
Oleh karena selama hidupnya di dunia mereka telah mengikuti seorang pemimpin zamannya yang dapat membimbing ibadah dan perjalanan ruhaniyahnya kepada Allah Ta’ala, maka di akhirat nanti kembali mereka akan dihidupkan bersama-sama dengan pemimpin mereka yang dahulu diikuti di dunia dahulu. Namun sebaliknya, oleh karena sebagian besar manusia tidak pernah mengenali “jalan lurus” yang harus ditempuh, mereka hanya menggunakan mata dhohir saja untuk melihat akan tetapi mata batinnya buta, hanya memilih mengelola kehidupan duniawi yang sementara dengan melupakan kehidupan ukhrowi yang abadi, maka di akhirat nanti mata itu akan menjadi lebih buta lagi dan mereka akan lebih tersesat dari jalan yang sebenarnya.
Dari pancaran “Rahmat Utama” yang ada di tangan “Manusia Utama” itu kemudian terbentuklah jaringan komunitas persaudaraan antara sesama umat manusia dengan tulus dan ikhlas. Mereka saling mencintai semata-mata hanya karena Allah Ta’ala. Ukhuwah itu telah mengakar kuat dari porosnya, dan sekarang cabang dan rantingnya telah menyebar sampai kepada pelosok belahan bumi yang terpencil sekalipun. Itulah Ukhuwah Islamiyah, semenjak panji-panji pertama telah dengan jerih payah dan bahkan dengan bersimbah darah berhasil dikibarkan oleh para tokoh utamanya di bawah pimpinan langsung oleh seorang Manusia yang paling utama (Rasul saw.), maka sampai sekarang dan bahkan selama-lamanya, selama nafas kehidupan masih dihembuskan di muka bumi, panji-panji itu akan tetap berkibar, bahkan gaungnya semakin besar.
Terbukti dengan semakin besarnya minat anggotanya untuk menenggak kesejukan minuman yang disajikan oleh ukhuwah itu lewat ibadah haji di Haramain (Makah Madinah) – dari sumber poros yang tidak henti-henti berputar, dimana panji-panji yang pertama telah berhasil dikibarkan oleh sang tokoh utama – pada setiap tahunnya. Meski sejak dahulu sampai sekarang pula, disana sini ukhuwah itu tetap menghadapi tantangan dan halangan yang tidak ringan dari orang yang hatinya tidak senang akan keberadaannya, baik dari kalangan yang tidak percaya atau orang kafir maupun orang yang pura-pura percaya padahal sesungguhnya tidak percaya yaitu orang munafik.
Asy-Syekh Ibnu Athaillah ra. meneruskan dan berkata: [dan Allah mengetahui apabila mereka dibiarkan begitu saja dengan apa yang sudah dipahami, mereka akan meninggalkan amal dan bergantung kepada kehendak azali, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56].
Kalau manusia dibiarkan saja dengan paham azaliyah, bahwa khoirihi wa syarrihi minallah, (baiknya dan jeleknya dari Allah) maka mereka cenderung berbuat malas dan meninggalkan amal usaha, hanya menggantungkan diri kepada kehendak Allah yang azali, dan bahkan kadang-kadang dengan dalih bertawakkal kepada Allah Ta’ala sebagai alasan untuk meninggalkan ikhtiar padahal sesungguhnya adalah pelampiasan rasa malas dan putus asa. Akibatnya, bisa-bisa kehidupan di muka bumi menjadi lumpuh total, karena masing-masing manusia tidak mempunyai inisiatif untuk bekerja dan berusaha. Mereka hanya menunggu terhadap apa-apa yang bisa didatangkan baginya dari langit, maka Allah Ta’ala telah membuka salah satu pintu lagi terhadap apa yang ada di balik rahasia qada’ dan qadar-Nya dengan firman-Nya:
وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik. QS:7/56.
Menusia tidak sekedar diperintah untuk berdo’a saja, akan tetapi maksudnya, dengan do’a-do’a yang dipanjatkan itu haruslah dijadikan dasar pijakan hati bagi apa yang dicari dan diusahakan secara dhohir serta mengharapkan datangnya petunjuk dan hidayah sebagai isyarat atau ilham dari Allah Ta’ala yang selanjutnya untuk supaya dapat ditindaklanjuti dengan usaha, maka dengan inayah Allah Ta’ala usaha seorang hamba akan mengarah kepada sasaran yang diharapkan dengan benar, yaitu anugerah-anugerah yang sudah disiapkan sejak azali.
Kemudian ditegaskan pula bahwa sesungguhnya rahmat Allah Ta’ala amatlah dekat dari orang-orang yang berbuat baik (al-Muhsinin), yaitu orang yang selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala dengan rasa takut dan harap, baik dengan sendirian maupun secara berjama’ah, baik di rumah maupun di majlis-majlis dzikir dan mujahadah yang diadakan. Maka disitulah letak sasaran yang diharapkan, karena dari tempat seperti itu sumber rahmat akan terus-menerus memancar sehingga usaha seorang hamba akan mendapatkan hidayah dan kemudahan-kemudahan dari Allah Ta’ala berkat do’a-do’a mereka. Karena keberadaan mereka (al-Muhsinin) di suatu tempat, seakan-akan memang telah ditetapkan menjadi sumber kehidupan dan keberkahan dari Allah Ta’ala bagi daerah sekelilingnya. Itulah Ulama’ sejati, para kekasih Alloh yang hatinya penuh kasih kepada sesama.
Dari do’a-do’a yang setiap pagi dan petang mereka panjatkan sebagai bentuk keprihatinan hati untuk ummatnya, menjadi sebab tersampaikannya rahmat Allah Ta’ala kepada orang-orang yang dido’akan, selanjutnya menjadikan sebab terbentangnya keberkahan bagi daerah sekitarnya. Demikianlah yang terjadi, dimana-mana, di tempat yang tinggali para Waliyulloh itu, daerah yang asalnya sepi dan mati, ketika manusia sudah mengetahui keberadaan mereka beserta kelebihan-kelebihan yang ada di tangan mereka sebagai anugerah dan buah pengabdian yang hakiki, maka daerah itu kemudian menjadi hidup dan bergairah. Orang-orang berdatangan dari segala penjuru negeri untuk mengambil berkah dari mereka, mencari obat kesembuhan bagi penyakit-penyaki yang diderita, baik penyakit dhohir maupun penyakit batin, baik penyakit ruhani maupun penyakit ekonomi.
Itulah kenyataan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai dengan sesudah matinya. Oleh karena setiap saat banyak orang berziarah ke makam orang-orang yang hatinya suci itu, maka ekonomi di daerah itu menjadi bangkit dan hidup bahkan mampu menjadikan sebab kemakmuran bagi daerah sekitarnya. Demikianlah kenyataan kasat mata yang tidak bisa dipungkiri – bahwa keberkahan Allah Ta’ala telah mampu menghidupi orang hidup melalui kehidupan orang yang sudah mati – walau dimana-mana masih banyak orang yang mengingkari jasa-jasa mereka. Bahkan mensyirikkan orang yang berziarah ke makam mereka.
Sebagian orang mengatakan para peziarah itu berbuat syirik sekedar karena bertabarukan kepada para Wali itu. Jika sekedar minta kepada kuburan……! Minta kepada batu mati yang menancap di atas sesonggok tanah kering, siapa yang tidak mengerti bahwa hal itu merupakan perbuatan syirik…..?, kalau memang benar bahwa orang yang setiap hari datang kekuburan para waliyullah itu berbuat syirik..?, sekarang ada pertanyaan; “sekiranya yang ditanam di bawah seonggok tanah kering yang ditancapi batu mati itu adalah jasad kasar kita, maukah orang-orang tersebut menziarai kuburan kita…?”, kalau ternyata tidak mau, apa bedanya jasad kita dengan jasad para waliyullah itu…? Ada apa di dalam jasad kita dan ada apa pula di dalam jasad mereka, padahal sama-sama jasad yang sudah mati….?. mengapa jasad mereka dapat menarik hati orang sekian banyak sehingga setiap hari datang dari tempat yang jauh sekedar ziarah atau tabarrukan sedang jasad kita tidak…?
Maka barangkali ada sudut pandang yang agak berbeda sehingga hati yang mulia telah menjadi salah sangka. Kalau orang bertanya : “Mengapa orang banyak itu jauh-jauh dengan bersusah payah mau datang kekuburan orang yang sudah mati…?”. Maka jawabannya gampang sekali, yaitu karena mereka itu adalah orang-orang bodoh sehingga mampu berbuat yang tidak masuk akal. Masak orang sudah mati kok kuburannya sampai didatangi dari jauh-jauh. Akan tetapi coba pertanyaannya agak dirubah sedikit: “Ada apa di kuburan orang itu…?, mengapa setiap hari orang-orang dari tempat yang jauh didatangkan oleh Allah Ta’ala kesana…? mengapa tidak didatangkan ke kuburan kita….?. Maka jawabannya agak sulit karena itu membutuhkan ilmu yang luas dan penelitian yang panjang kecuali bagi orang-orang yang hatinya ada Inayah dari Allah Ta’ala sehingga nur imannya mampu menyinari perbendaharaan ilmu yang ada di bilik akalnya.
Ini ada pertanyaan yang paling mudah dijawab. Bukankah semua orang tahu bahwa apa saja yang terjadi di alam ini pasti terjadi atas dasar kehendak dan takdir Allah Ta’ala?? Sekarang pertanyaannya; mengapa orang banyak itu setiap hari dari jauh-jauh ditakdirkan Allah Ta’ala datang di kuburan para waliyullah itu dan tidak ditakdirkan datang ke kuburan kita..? Ada rahasia apa di balik kehendak dan takdir tersebut…?. Jika semacam itu pertanyaan yang dilontarkan, barangkali siapapun dapat menemukan jawabannya asal dilontarkan dengan hati yang selamat. Jika tidak, berarti memang hati kita yang perlu diteliti, barangkali di dalamnya sudah tercemar oleh penyakit hati yang dimasukkan oleh setan jin.
Jawabannya ialah: sesungguhnya yang demikian itu merupakan buah ibadah. Para waliyullah itu sekarang sudah menuai bibit yang dahulu mereka tanam, yaitu berupa kasih sayang kepada umat yang dikemas di balik perjuangan dan do’a-do’a. Karena keprihatinan hati kepada keselamatan orang lain yang notabene bukan apa-apa mereka telah membuahkan hasil, orang-orang yang dido’akan itu telah mendapatkan hidayah dan inayah dari-Nya, maka sekarang mereka telah menuai buahnya, yakni didoakan kembali oleh manusia-manusia yang berterima kasih terhadap jasa-jasa mereka. Kuburan kereka didatangi dan dido’akan oleh orang-orang yang telah merasakan kenikmatan iman yang ada di dalam hati hasil jerih payah yang dahulu telah mereka kerjakan. Hal itu terjadi semata merupakan bentuk dzikir Allah Ta’ala kepada mereka karena mereka dahulu telah berdzikir kepada Allah Ta’ala melalui keperihatinan hati kepada umat manusia sepanjang hidupnya. Yang demikian itu hanyalah bentuk pelaksanaan janji Allah Ta’ala yang tidak akan pernah diingkari, bahwa Allah telah berfirman yang artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat)–Ku”. QS: al-Baqoroh 2/152.
Oleh karena itu, jika kita ingin mendapat kegembiraan seperti itu – yaitu di saat keluarga kita saja terkadang melupakan jasad mati kita, orang lain didatangkan oleh Allah Ta’ala dari segala penjuru tempat sekedar untuk memberikan kegembiraan kepada kehidupan yang ada di balik jasad yang sudah mati itu – maka sejak sekarang kita harus menggembirakan hati orang lain, supaya kelak ketika hati kita sedang sepi di dalam penantian yang panjang di alam kubur, Allah Ta’ala menghibur dengan datangnya orang lain menziarai kuburan kita.
Ketika kejelekan-kejelekan karakter duniawi yang keluar masuk di dalam hati orang-orang yang beriman itu sudah tidak sempat lagi membekaskan kejelekan disana, ketika fitnah-fitnah yang semestinya membakar telinga malah menyejukkan di hati mereka, maka itulah pertanda hati orang yang suka berbuat ihsan (al-Muhsinin), karena yang terlihat oleh matahati dari realita yang dihadapi hanyalah Allah Ta’ala dengan segala qada’ dan qadar-Nya, hanya irodah dan takdir-Nya, yaitu hanya kehendak-Nya yang azaliyah untuk mentarbiyah seorang hamba yang dicintai-Nya. Maka dada mereka bagaikan hamparan bumi, apa saja boleh masuk, boleh kotoran boleh penyakit, akan tetapi yang keluar hanyalah kebaikan dan obat. Layaknya seperti seorang dokter, sungguhpun setiap saat mereka harus bergulat dengan penyakit dan orang sakit, tapi dokter yang sejati itu selamanya tidak akan tertular oleh penyakit orang sakit. Kalau ada orang mengaku dokter, tetapi dia masih dapat tertular dengan penyakit orang sakit, berarti dia adalah dokter yang berpenyakitan. Maka jauhilah segera, jangan-jangan malah dia adalah sumber penyakit itu.
Keberadaan seorang “Muhsinin” yang sejati, dimana-mana akan menjadi bagaikan tambang kebaikan, karena setiap tarikan nafas serta detak jantungnya hanya dimuati pengabdian hakiki. Mereka menyelesaikan permasalahan umat sampai terkadang melupakan urusan pribadi. Kebanyakan orang datang kepadanya untuk sekedar mengadu dan mencari solusi, bahkan tidak peduli walau dia sendiri sedang bersedih. Maka semakin banyak orang yang mengenalnya semakin banyak pula masalah yang harus dihadapinya, akibatnya, semakin lama dadanya menjadi bagaikan bak sampah, karena hanya dipenuhi kesusahan dan kesedihan orang-orang yang mengelilingi. Itulah dokter-dokter ummat, dengan amanat yang ada dalam pundak, mendorongnya untuk menghidupkan dzikir dan mujahadah malam, dan ketika do’a-do’a yang ikhlas itu mendapatkan ijabah dari-Nya, maka jadilah ijabah itu sebagai sebab Allah Ta’ala membukakan pintu rahmat-Nya kepada umat. Bahkan dari sebab linangan air mata yang meleleh di pipinya karena menangisi kesedihan umat, kadang-kadang menjadikan sebab Allah Ta’ala menurunkan air hujan di daerah yang ditangisi itu, bahkan konon, apabila di Baitullah Makkah al-Mukarromah, selama tujuh hari saja mereka absen tidak melakukan thowaf disana, berarti hari kiyamat segera akan datang.
Sebagian mereka bagaikan pelita-pelita bumi, walau di siang hari keberadaannya tidak tampak karena kesibukan dhohir untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, akan tetapi di malam hari, bersama gemerlap bintang di langit, mereka sanggup menjadi penerang jalan bagi sang musafir yang sedang bersedih hati. Maka…., wahai laron-laron liar yang ingin mencari penerang jalan, segeralah mendekat kesana, mencari dimana mereka menyembunyikan mutiara, supaya sang laron yang nakal dan tidak tahu diri itu dapat menemukan anugerah Allah Ta’ala yang sudah disiapkan baginya. Sungguh benar Allah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56.
Asy-Syekh Ibnu Athaillah ra. meneruskan konsepnya dan berkata: [Kepada “Kehendak”, segala sesuatu itu bersandar dan bukan kepada segala sesuatu, “Kehendak” itu bersandar].
Apabila akal sedang buntu untuk dapat memahami apa yang sedang terjadi di depan mata, orang tidak mampu membedakan mana yang kehendak Allah Ta’ala dan mana yang kehendak manusia secara basyariyah, dia tidak mampu membedakan mana yang irodah azaliyah dan mana yang irodah hadits miliknya, maka hati hendaklah segera berlari kepada Allah Ta’ala sedangkan Al-Qur’an dan hadits adalah penerang jalannya. Oleh karena Allah Ta’ala yang menciptakan manusia, maka hanya Allah-lah yang paling mengetahui segala yang ada di dalam jiwanya. Allah SWT. berfirman:
وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُور
(dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. QS:24/40.
Yang pasti, datangnya inayah itu hanya dari kehendak-Nya, barang siapa tidak dikehendaki untuk mendapatkannya maka sedikitpun dia tidak akan memiliki inayah di dalam hidupnya. Maksudnya, seorang hamba boleh berusaha dan berdo’a, bahkan hendaknya berusaha dan berdo’a dengan sekuat tenaga, akan tetapi mereka tidak boleh hanya bersandar kepada usaha dan do’a itu saja, melainkan harus kepada kehendak-Nya, maka usaha dan do’a seorang hamba tidak akan sia-sia karena usaha dan do’a itu merupakan ibadah.
(malfiali, Februari 2009)