Arsip untuk takdir kategori

ADAKAH PESAN GEMPA UNTUK KITA ?

Posted in Taubat, takdir dengan kaitan (tags) on 8 Oktober 2009 by malfiali

Saya mendapat SMS dari seorang teman, …. isinya menjadikan hati ini tergagap, kengerian menghantui pikiran dan hati, ingat dosa yang bertumpuk-tumpuk yang belum rampung aku taubati…. semoga Allah Ta’ala melindungi dan menjaga IMAN orang beriman dari marabahaya dan fitnah besar yang sedang menerpa:

Gempa Padang terjadi pukul 17.16 coba lihat (QS.al-Isra(17):16):

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Gempa susulan terjadi pukul 17 . 38 lihat (QS.al-Isra(17):38:

كُلُّ ذَلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا

Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu.

Gempa di Jambi terjadi pukul 8.52 lihat (QS.al-Anfal(8):52)

كَدَأْبِ آَلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَفَرُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ

(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir`aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.

Apakah hati kita berani mengatakan fenomena ini merupakan kejadian yang kebetulan ….. ?? Padahal Allah juga berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka”.(QS.Shood(38):27)

Allah SWT telah menciptakan sunnah-Nya, dan sunnah itu tidak akan berubah selamanya:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.(QS.al-An’am(6):44)

Allah SWT juga sudah menyatakan:

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآَمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Sekali-kali Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.(QS.an-Nisa(4):147)

Apakah memang kita kurang bersyukur atas segala kenikmatan yang sudah dianugerahkan kepada kita sehinga Allah perlu memberi peringatan kepada kita …. ?? namun ternyata, … pada kenyataannya masih ada saja segelintir orang yang memanfaatkan kesedihan ini untuk menumpuk kekayaan pribadi ….

**************

Sungguhpun demikian, orang beriman yang sabar menghadapi musibah ini akan mendapat pahala yang tanpa batas:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”.(QS.az-Zumar(39)::10)

Bagi orang yg bersabar, bencana ini bukan siksa tapi ujian untuk menggapai kegembiraan yg disediakan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(QS.2/155)

7531_1178403832878_1611601059_433586_6369111_n

Di balik tangisan seorang hamba atas kesusahan yang menimpa, tersimpan keridhoan dan ampunan Allah,  sebab Allah sangat menyukai tangisan dan rengekan dari makhluk yang dibuat dengan tangan-Nya sendiri yang bernama manusia ini.

إذا اشتكى المؤمن أخلصه الله من ذنوبه كما يخلص الكير خبث الحديد – رواه البخاري

“Jika seorang mukmin merintih (karena kesusahan dan kesakitan) Allah membersihkannya dari dosa-dosanya sebagaiamana ubupan membersihkan karat-karat besi.”

Allah SWT menegaskan lagi dengan firman-Nya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri”. (QS.al-An’am(6):42)

Dan juga firman-Nya:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”.(QS.al-Hadid(57):16)

Semoga pesan ini mampu menambah introspeksi diri bagi kita semua .. amiin

sNdroDWq51

safe_image.php

RAHASIA SUMBER INAYAH 2 (Keberkahan Membawa Berkah)

Posted in Hikam, ilmu thoriqoh, takdir dengan kaitan (tags) , , on 10 Februari 2009 by malfiali

Rahasia Sumber Inayah

Rahasia Sumber Inayah 2

Allah SWT. Tuhan Semesta Alam Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah dan Yang Mempunyai Karunia yang Besar, sejak zaman azali telah menghendaki dan telah menentukan, bahwa “Rahmat Utama” itu telah dianugerahkan secara khusus hanya kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. Nabi akhir zaman yang sekaligus sebagai penutup para Nabi sebelumnya, sebagai “Rahmatan Lil ‘Alamin”, untuk supaya disampaikan kepada seluruh makhluk di seluruh alam semesta. Maka sejak itu sampai hari kiyamat dan bahkan di hari akhirat nanti, manusia mendatanginya dengan berbondong-bondong dari segala penjuru belahan bumi, mengulurkan tangannya untuk menggapai limpahan rahmat dan syafaat dari Baginda Nabi saw. Mereka itu bagaikan laron-laron mengerumuni lampu di kegelapan malam untuk mencari jalan kehidupan.

Dengan itu maka Allah Ta’ala telah menentukan pula bahwa ketaatan kepadanya (Rasul saw). adalah identik dengan ketaatan kepada Allah SWT., artinya hanya dengan mengikuti baginda Nabi saw. kepada jalan yang sudah ditempuhnya, maka disitulah letak jalan kepada Allah yang sebenarnya yaitu: ”Jalan yang lurus, – jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang yang telah Allah anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang tersesat”. Allah SWT. telah menegaskan dengan firman-Nya:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. QS:4/80.

Jika selama ini orang belum pernah mengetahui, sehingga tidak mengenali “jalan lurus” yang telah siapkan Allah Ta’ala baginya di balik rahasia ayat-ayat di atas, maka sejak sekarang, bagi yang ingin mengetahuinya, curahkan segala perhatian dengan bersungguh-sungguh kepadanya dan dengan berusaha mengadakan penelitian dan latihan yang mendalam, supaya sejak sekarang juga mereka dapat menemukan dan mengenali “jalan lurus” itu yang selanjutnya dapat menempuhnya dengan benar pula. Kalau tidak, sehingga selama hidupnya mereka tidak dapat mengenali “jalan lurus” itu dan apabila ketidaktahuan itu kemudian terlanjur dibawa keliang kubur bersama kematiannya, maka mereka tinggal menunggu apa yang akan terjadi dengannya disana, karena Allah Ta’ala telah memberikan peringatan dengan firman-Nya:

يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا(71)وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. – Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). QS17/71-72.

Oleh karena selama hidupnya di dunia mereka telah mengikuti seorang pemimpin zamannya yang dapat membimbing ibadah dan perjalanan ruhaniyahnya kepada Allah Ta’ala, maka di akhirat nanti kembali mereka akan dihidupkan bersama-sama dengan pemimpin mereka yang dahulu diikuti di dunia dahulu. Namun sebaliknya, oleh karena sebagian besar manusia tidak pernah mengenali “jalan lurus” yang harus ditempuh, mereka hanya menggunakan mata dhohir saja untuk melihat akan tetapi mata batinnya buta, hanya memilih mengelola kehidupan duniawi yang sementara dengan melupakan kehidupan ukhrowi yang abadi, maka di akhirat nanti mata itu akan menjadi lebih buta lagi dan mereka akan lebih tersesat dari jalan yang sebenarnya.

Dari pancaran “Rahmat Utama” yang ada di tangan “Manusia Utama” itu kemudian terbentuklah jaringan komunitas persaudaraan antara sesama umat manusia dengan tulus dan ikhlas. Mereka saling mencintai semata-mata hanya karena Allah Ta’ala. Ukhuwah itu telah mengakar kuat dari porosnya, dan sekarang cabang dan rantingnya telah menyebar sampai kepada pelosok belahan bumi yang terpencil sekalipun. Itulah Ukhuwah Islamiyah, semenjak panji-panji pertama telah dengan jerih payah dan bahkan dengan bersimbah darah berhasil dikibarkan oleh para tokoh utamanya di bawah pimpinan langsung oleh seorang Manusia yang paling utama (Rasul saw.), maka sampai sekarang dan bahkan selama-lamanya, selama nafas kehidupan masih dihembuskan di muka bumi, panji-panji itu akan tetap berkibar, bahkan gaungnya semakin besar.

Terbukti dengan semakin besarnya minat anggotanya untuk menenggak kesejukan minuman yang disajikan oleh ukhuwah itu lewat ibadah haji di Haramain (Makah Madinah) – dari sumber poros yang tidak henti-henti berputar, dimana panji-panji yang pertama telah berhasil dikibarkan oleh sang tokoh utama – pada setiap tahunnya. Meski sejak dahulu sampai sekarang pula, disana sini ukhuwah itu tetap menghadapi tantangan dan halangan yang tidak ringan dari orang yang hatinya tidak senang akan keberadaannya, baik dari kalangan yang tidak percaya atau orang kafir maupun orang yang pura-pura percaya padahal sesungguhnya tidak percaya yaitu orang munafik.

Asy-Syekh Ibnu Athaillah ra. meneruskan dan berkata: [dan Allah mengetahui apabila mereka dibiarkan begitu saja dengan apa yang sudah dipahami, mereka akan meninggalkan amal dan bergantung kepada kehendak azali, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56].

Kalau manusia dibiarkan saja dengan paham azaliyah, bahwa khoirihi wa syarrihi minallah, (baiknya dan jeleknya dari Allah) maka mereka cenderung berbuat malas dan meninggalkan amal usaha, hanya menggantungkan diri kepada kehendak Allah yang azali, dan bahkan kadang-kadang dengan dalih bertawakkal kepada Allah Ta’ala sebagai alasan untuk meninggalkan ikhtiar padahal sesungguhnya adalah pelampiasan rasa malas dan putus asa. Akibatnya, bisa-bisa kehidupan di muka bumi menjadi lumpuh total, karena masing-masing manusia tidak mempunyai inisiatif untuk bekerja dan berusaha. Mereka hanya menunggu terhadap apa-apa yang bisa didatangkan baginya dari langit, maka Allah Ta’ala telah membuka salah satu pintu lagi terhadap apa yang ada di balik rahasia qada’ dan qadar-Nya dengan firman-Nya:

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik. QS:7/56.

Menusia tidak sekedar diperintah untuk berdo’a saja, akan tetapi maksudnya, dengan do’a-do’a yang dipanjatkan itu haruslah dijadikan dasar pijakan hati bagi apa yang dicari dan diusahakan secara dhohir serta mengharapkan datangnya petunjuk dan hidayah sebagai isyarat atau ilham dari Allah Ta’ala yang selanjutnya untuk supaya dapat ditindaklanjuti dengan usaha, maka dengan inayah Allah Ta’ala usaha seorang hamba akan mengarah kepada sasaran yang diharapkan dengan benar, yaitu anugerah-anugerah yang sudah disiapkan sejak azali.

Kemudian ditegaskan pula bahwa sesungguhnya rahmat Allah Ta’ala amatlah dekat dari orang-orang yang berbuat baik (al-Muhsinin), yaitu orang yang selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala dengan rasa takut dan harap, baik dengan sendirian maupun secara berjama’ah, baik di rumah maupun di majlis-majlis dzikir dan mujahadah yang diadakan. Maka disitulah letak sasaran yang diharapkan, karena dari tempat seperti itu sumber rahmat akan terus-menerus memancar sehingga usaha seorang hamba akan mendapatkan hidayah dan kemudahan-kemudahan dari Allah Ta’ala berkat do’a-do’a mereka. Karena keberadaan mereka (al-Muhsinin) di suatu tempat, seakan-akan memang telah ditetapkan menjadi sumber kehidupan dan keberkahan dari Allah Ta’ala bagi daerah sekelilingnya. Itulah Ulama’ sejati, para kekasih Alloh yang hatinya penuh kasih kepada sesama.

Dari do’a-do’a yang setiap pagi dan petang mereka panjatkan sebagai bentuk keprihatinan hati untuk ummatnya, menjadi sebab tersampaikannya rahmat Allah Ta’ala kepada orang-orang yang dido’akan, selanjutnya menjadikan sebab terbentangnya keberkahan bagi daerah sekitarnya. Demikianlah yang terjadi, dimana-mana, di tempat yang tinggali para Waliyulloh itu, daerah yang asalnya sepi dan mati, ketika manusia sudah mengetahui keberadaan mereka beserta kelebihan-kelebihan yang ada di tangan mereka sebagai anugerah dan buah pengabdian yang hakiki, maka daerah itu kemudian menjadi hidup dan bergairah. Orang-orang berdatangan dari segala penjuru negeri untuk mengambil berkah dari mereka, mencari obat kesembuhan bagi penyakit-penyaki yang diderita, baik penyakit dhohir maupun penyakit batin, baik penyakit ruhani maupun penyakit ekonomi.

Itulah kenyataan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai dengan sesudah matinya. Oleh karena setiap saat banyak orang berziarah ke makam orang-orang yang hatinya suci itu, maka ekonomi di daerah itu menjadi bangkit dan hidup bahkan mampu menjadikan sebab kemakmuran bagi daerah sekitarnya. Demikianlah kenyataan kasat mata yang tidak bisa dipungkiri – bahwa keberkahan Allah Ta’ala telah mampu menghidupi orang hidup melalui kehidupan orang yang sudah mati – walau dimana-mana masih banyak orang yang mengingkari jasa-jasa mereka. Bahkan mensyirikkan orang yang berziarah ke makam mereka.

Sebagian orang mengatakan para peziarah itu berbuat syirik sekedar karena bertabarukan kepada para Wali itu. Jika sekedar minta kepada kuburan……! Minta kepada batu mati yang menancap di atas sesonggok tanah kering, siapa yang tidak mengerti bahwa hal itu merupakan perbuatan syirik…..?, kalau memang benar bahwa orang yang setiap hari datang kekuburan para waliyullah itu berbuat syirik..?, sekarang ada pertanyaan; “sekiranya yang ditanam di bawah seonggok tanah kering yang ditancapi batu mati itu adalah jasad kasar kita, maukah orang-orang tersebut menziarai kuburan kita…?”, kalau ternyata tidak mau, apa bedanya jasad kita dengan jasad para waliyullah itu…? Ada apa di dalam jasad kita dan ada apa pula di dalam jasad mereka, padahal sama-sama jasad yang sudah mati….?. mengapa jasad mereka dapat menarik hati orang sekian banyak sehingga setiap hari datang dari tempat yang jauh sekedar ziarah atau tabarrukan sedang jasad kita tidak…?

Maka barangkali ada sudut pandang yang agak berbeda sehingga hati yang mulia telah menjadi salah sangka. Kalau orang bertanya : “Mengapa orang banyak itu jauh-jauh dengan bersusah payah mau datang kekuburan orang yang sudah mati…?”. Maka jawabannya gampang sekali, yaitu karena mereka itu adalah orang-orang bodoh sehingga mampu berbuat yang tidak masuk akal. Masak orang sudah mati kok kuburannya sampai didatangi dari jauh-jauh. Akan tetapi coba pertanyaannya agak dirubah sedikit: “Ada apa di kuburan orang itu…?, mengapa setiap hari orang-orang dari tempat yang jauh didatangkan oleh Allah Ta’ala kesana…? mengapa tidak didatangkan ke kuburan kita….?. Maka jawabannya agak sulit karena itu membutuhkan ilmu yang luas dan penelitian yang panjang kecuali bagi orang-orang yang hatinya ada Inayah dari Allah Ta’ala sehingga nur imannya mampu menyinari perbendaharaan ilmu yang ada di bilik akalnya.

Ini ada pertanyaan yang paling mudah dijawab. Bukankah semua orang tahu bahwa apa saja yang terjadi di alam ini pasti terjadi atas dasar kehendak dan takdir Allah Ta’ala?? Sekarang pertanyaannya; mengapa orang banyak itu setiap hari dari jauh-jauh ditakdirkan Allah Ta’ala datang di kuburan para waliyullah itu dan tidak ditakdirkan datang ke kuburan kita..? Ada rahasia apa di balik  kehendak dan takdir tersebut…?. Jika semacam itu pertanyaan yang dilontarkan, barangkali siapapun dapat menemukan jawabannya asal dilontarkan dengan hati yang selamat. Jika tidak, berarti memang hati kita yang perlu diteliti, barangkali di dalamnya sudah tercemar oleh penyakit hati yang dimasukkan oleh setan jin.

Jawabannya ialah: sesungguhnya yang demikian itu merupakan buah ibadah. Para waliyullah itu sekarang sudah menuai bibit yang dahulu mereka tanam, yaitu berupa kasih sayang kepada umat yang dikemas di balik perjuangan dan do’a-do’a. Karena keprihatinan hati kepada keselamatan orang lain yang notabene bukan apa-apa mereka telah membuahkan hasil, orang-orang yang dido’akan itu telah mendapatkan hidayah dan inayah dari-Nya, maka sekarang mereka telah menuai buahnya, yakni didoakan kembali oleh manusia-manusia yang berterima kasih terhadap jasa-jasa mereka. Kuburan kereka didatangi dan dido’akan oleh orang-orang yang telah merasakan kenikmatan iman yang ada di dalam hati hasil jerih payah yang dahulu telah mereka kerjakan. Hal itu terjadi semata merupakan bentuk dzikir Allah Ta’ala kepada mereka karena mereka dahulu telah berdzikir kepada Allah Ta’ala melalui keperihatinan hati kepada umat manusia sepanjang hidupnya. Yang demikian itu hanyalah bentuk pelaksanaan janji Allah Ta’ala yang tidak akan pernah diingkari, bahwa Allah telah berfirman yang artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat)–Ku”. QS: al-Baqoroh 2/152.

Oleh karena itu, jika kita ingin mendapat kegembiraan seperti itu – yaitu di saat keluarga kita saja terkadang melupakan jasad mati kita, orang lain didatangkan oleh Allah Ta’ala dari segala penjuru tempat sekedar untuk memberikan kegembiraan kepada kehidupan yang ada di balik jasad yang sudah mati itu – maka sejak sekarang kita harus menggembirakan hati orang lain, supaya kelak ketika hati kita sedang sepi di dalam penantian yang panjang di alam kubur, Allah Ta’ala menghibur dengan datangnya orang lain menziarai kuburan kita.

Ketika kejelekan-kejelekan karakter duniawi yang keluar masuk di dalam hati orang-orang yang beriman itu sudah tidak sempat lagi membekaskan kejelekan disana, ketika fitnah-fitnah yang semestinya membakar telinga malah menyejukkan di hati mereka, maka itulah pertanda hati orang yang suka berbuat ihsan (al-Muhsinin), karena yang terlihat oleh matahati dari realita yang dihadapi hanyalah Allah Ta’ala dengan segala qada’ dan qadar-Nya, hanya irodah dan takdir-Nya, yaitu hanya kehendak-Nya yang azaliyah untuk mentarbiyah seorang hamba yang dicintai-Nya. Maka dada mereka bagaikan hamparan bumi, apa saja boleh masuk, boleh kotoran boleh penyakit, akan tetapi yang keluar hanyalah kebaikan dan obat. Layaknya seperti seorang dokter, sungguhpun setiap saat mereka harus bergulat dengan penyakit dan orang sakit, tapi dokter yang sejati itu selamanya tidak akan tertular oleh penyakit orang sakit. Kalau ada orang mengaku dokter, tetapi dia masih dapat tertular dengan penyakit orang sakit, berarti dia adalah dokter yang berpenyakitan. Maka jauhilah segera, jangan-jangan malah dia adalah sumber penyakit itu.

Keberadaan seorang “Muhsinin” yang sejati, dimana-mana akan menjadi bagaikan tambang kebaikan, karena setiap tarikan nafas serta detak jantungnya hanya dimuati pengabdian hakiki. Mereka menyelesaikan permasalahan umat sampai terkadang melupakan urusan pribadi. Kebanyakan orang datang kepadanya untuk sekedar mengadu dan mencari solusi, bahkan tidak peduli walau dia sendiri sedang bersedih. Maka semakin banyak orang yang mengenalnya semakin banyak pula masalah yang harus dihadapinya, akibatnya, semakin lama dadanya menjadi bagaikan bak sampah, karena hanya dipenuhi kesusahan dan kesedihan orang-orang yang mengelilingi. Itulah dokter-dokter ummat, dengan amanat yang ada dalam pundak, mendorongnya untuk menghidupkan dzikir dan mujahadah malam, dan ketika do’a-do’a yang ikhlas itu mendapatkan ijabah dari-Nya, maka jadilah ijabah itu sebagai sebab Allah Ta’ala membukakan pintu rahmat-Nya kepada umat. Bahkan dari sebab linangan air mata yang meleleh di pipinya karena menangisi kesedihan umat, kadang-kadang menjadikan sebab Allah Ta’ala menurunkan air hujan di daerah yang ditangisi itu, bahkan konon, apabila di Baitullah Makkah al-Mukarromah, selama tujuh hari saja mereka absen tidak melakukan thowaf disana, berarti hari kiyamat segera akan datang.

Sebagian mereka bagaikan pelita-pelita bumi, walau di siang hari keberadaannya tidak tampak karena kesibukan dhohir untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, akan tetapi di malam hari, bersama gemerlap bintang di langit, mereka sanggup menjadi penerang jalan bagi sang musafir yang sedang bersedih hati. Maka…., wahai laron-laron liar yang ingin mencari penerang jalan, segeralah mendekat kesana, mencari dimana mereka menyembunyikan mutiara, supaya sang laron yang nakal dan tidak tahu diri itu dapat menemukan anugerah Allah Ta’ala yang sudah disiapkan baginya. Sungguh benar Allah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56.

Asy-Syekh Ibnu Athaillah ra. meneruskan konsepnya dan berkata: [Kepada “Kehendak”, segala sesuatu itu bersandar dan bukan kepada segala sesuatu, “Kehendak” itu bersandar].

Apabila akal sedang buntu untuk dapat memahami apa yang sedang terjadi di depan mata, orang tidak mampu membedakan mana yang kehendak Allah Ta’ala dan mana yang kehendak manusia secara basyariyah, dia tidak mampu membedakan mana yang irodah azaliyah dan mana yang irodah hadits miliknya, maka hati hendaklah segera berlari kepada Allah Ta’ala sedangkan Al-Qur’an dan hadits adalah penerang jalannya. Oleh karena Allah Ta’ala yang menciptakan manusia, maka hanya Allah-lah yang paling mengetahui segala yang ada di dalam jiwanya. Allah SWT. berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُور

(dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. QS:24/40.

Yang pasti, datangnya inayah itu hanya dari kehendak-Nya, barang siapa tidak dikehendaki untuk mendapatkannya maka sedikitpun dia tidak akan memiliki inayah di dalam hidupnya. Maksudnya, seorang hamba boleh berusaha dan berdo’a, bahkan hendaknya berusaha dan berdo’a dengan sekuat tenaga, akan tetapi mereka tidak boleh hanya bersandar kepada usaha dan do’a itu saja, melainkan harus kepada kehendak-Nya, maka usaha dan do’a seorang hamba tidak akan sia-sia karena usaha dan do’a itu merupakan ibadah.

(malfiali, Februari 2009)

SUMBER RAHASIA INAYAH 1 (Rahmat Utama untuk Manusia Utama)

Posted in Hikam, ilmu thoriqoh, takdir dengan kaitan (tags) , , on 10 Februari 2009 by malfiali

Rahasia Sumber Inayah

Rahasia Sumber Inayah 1

Kenikmatan terbesar bagi kaum mu’minin adalah “Inayah Azaliyah”. Bahwasanya sejak zaman azali kita telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala menjadi orang yang beriman. Sungguh ketetapan tersebut bukan sebab amal ibadah yang kita lakukan dan bukan pula sebab keilkhlasan, karena saat itu belum ada-apa, yang ada semata-mata hanya anugerah yang utama. Maka inayah azaliyah itu merupakan anugerah Allah Ta’ala kepada seorang hamba yang dikehendaki-Nya.

Asy-Syeikh Al-Imam Al-Arif Billah, Abi Fadil Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah Al-Assakandary Radliyallaahu ‘Anhu berkata:

Allah mengetahui bahwa sesungguhnya seorang hamba sangat ingin mengetahui tetang kenyataan rahasia “Inayah”, maka Allah berfirman: “Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS:3/74. dan Allah mengetahui apabila mereka dibiarkan begitu saja dengan apa yang sudah dipahami, mereka akan meninggalkan amal dan bergantung kepada kehendak azali, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56. Kepada “Kehendak” segala sesuatu itu bersandar dan bukan kepada segala sesuatu “Kehendak” itu bersandar.

Termasuk bagian dari fungsi kekholifahan manusia adalah, bahwa keberadaannya di muka bumi haruslah menjadi sebab ditebarkannya rahmat Allah Ta’ala kepada makhluk yang ada di sekelilingnya. Yaitu: menyampaikan sifat rahman – rahim Allah Ta’ala kepada manusia melalui sifat dan karakter serta pengabdian dan perjuangan hidup yang mereka jalani, memancarkan Nur Allah Ta’ala melalui pantulan nur yang memancar dari sinar wajah yang sejuk cerminan kesucian dan kebersihan yang terbit dari lubuk hati, membangun dan menebarkan sendi-sendi kehidupan di alam persada melalui amal bakti dan akhlakul karimah, menyampaikan inayah Allah Ta’ala kepada yang berhak menerima melalui inayah yang telah didapatkan dari-Nya, menyampaikan pertolongan Allah Ta’ala kepada yang berhak melalui pertolongan yang telah diturunkan kepadanya, bahkan mengirimkan inspirasi dan ilham kepada hati manusia melalui inspirasi dan ilham yang didapatkan dari Rabnya, akhirnya mendatangkan dan menurunkan hajat kebutuhan umat, baik yang dhohir maupun yang batin dari perbendaharaan ghaib yang tersimpan di sisi-Nya melalui do’a dan munajat yang dipanjatkan kepada Tuhannya. Untuk itulah Rasulullah Muhammad saw diutus di muka bumi, maka melalui akhlakul karimah yang terpancarkan dari prilaku hidupnya, rahmat Allah Ta’ala kemudian menyebar keseluruh alam semesta.

Rasulullah Muhammad SAW diutus di muka bumi bukan sekedar untuk membawa agama baru, akan tetapi dengan agama baru itu beliau harus mengemas kasih sayangnya kepada umat. Supaya kehidupan makhluk di muka bumi menjadi aman, makmur dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat nanti. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. QS:21107

Itulah rahasia fungsi kekholifahan khusus yang dikhususkan bagi baginda Nabi SAW. yaitu melalui nubuwah dan risalah yang diembannya, beliau telah menebarkan rahmat Allah Ta’ala kepada alam semesta, baik rahmat dhohir maupun rahmat batin, baik di dunia maupun di akhirat. Dan tidak hanya kepada alam manusia saja akan tetapi juga meliputi alam Jin dan bahkan alam Malaikat.

Oleh karena manusia merupakan sumber tenaga dan sebagai pengelola sumber potensi kehidupan di muka bumi, maka dengan agama yang dibawa itu manusia harus menjadi baik. Baik perangai maupun perbuatan, supaya kehidupan secara keseluruhan di muka bumi akan menjadi baik pula. Apabila manusia menjadi jelek maka kehidupan juga akan menjadi jelek dan rusak. Allah Ta’ala menjelaskan dengan firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). QS:30/41.

Supaya di muka bumi tidak terjadi kerusakan lagi, dan juga supaya manusia tidak menanggung akibat kerusakan yang diperbuat, maka manusia terlebih dahulu harus dibuat menjadi baik, terutama hatinya. Untuk itulah agama diturunkan dan seorang Nabi, baik sebagai pemimpin (qudwah) maupun sebagai panutan (uswah) diutus di tengah-tengah manusia. Apabila manusia hatinya telah menjadi baik maka seluruh angota tubuhnya akan menjadi baik yang selanjutnya supaya kehidupan di muka bumi akan ikut menjadi baik pula.

Sejak terutusnya baginda Nabi saw. sampai sekarang, sejarah telah membuktikan, bahwa dari tanah yang tandus dan gersang di mana manusia utama itu dilahirkan, kemakmuran telah menyebar ke segenap pelosok dunia, baik kemakmuran aspek jasmani maupun ruhani, dan bahkan kehidupan manusia di seluruh belahan bumi ini, secara jasmani dan dhohir, hampir-hampir bergantung dengan apa yang dihasilkan oleh perut bumi dimana saat itu baginda Nabi saw menjalankan aktifitas hidup dan kehidupan. Itulah sunnah yang ada, bahwa keberkahan Allah Ta’ala yang tersimpan di dalam perbendaharan ghaib-Nya telah mampu digali dan dipancarkan kepada alam dhohir melalui rahasia keberkahan hati dan prilaku yang tersimpan di dalam akhlakul karimah yang agung.

Hanya Rasulullah Muhammad saw. yang mampu berbuat demikian karena baginda Nabi saw. adalah seorang kholifah bumi sepanjang masa. Beliau tidak hanya diutus untuk suku bangsanya sendiri sebagaimana para rasul dan para Nabi terdahulu, akan tetapi untuk manusia secara keseluruhan. Oleh karenanya, bahkan sebelum kelahirannya, beliau saw. telah dijadikan wasilah di dalam do’a-do’a yang dipanjatkan oleh orang-orang yang menunggu kedatangannya, meskipun ketika beliau telah berada di tengah-tengah kehidupan mereka, sebagian besar mereka mengingkari tugas dan fungsinya, bahkan sampai sekarang. Oleh karena hanya sedikit orang yang benar-benar mengetahui fungsi kekholifahan itu, maka jarang sekali yang dapat memanfaatkannya untuk kepentingan hidup dan kehidupan.

Kebesaran dan kekhususan itu tergambar dengan apa yang terkandung dari pernyataan Allah Ta’ala, bahwa Allah SWT. terlebih dahulu telah mencurahkan rahmat dan keselamatan kepada beliau dan kemudian para malaikat-Nya, selanjutnya orang-orang yang beriman diperintah untuk menggapainya melalui apa yang sudah ada itu dengan membaca sholawat kepadanya. Allah SWT. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. QS:33/56.

Adakah yang lebih besar lagi dari itu??? Itulah satu-satunya pernyataan dari Allah Rabbul Alamin yang tidak pernah diberikan kepada siapapun, bahkan sekalipun kepada para malaikat-Nya. Rasul Muhammad saw. adalah satu-satunya manusia yang dipilih oleh Allah Ta’ala untuk menyebarkan rahmat-Nya secara universal kepada alam semesta ini, bahkan juga di alam akhirat nanti, hanya baginda Nabi satu-satunya manusia yang mendapatkan hak memberikan syafaat kepada umat manusia secara keseluruhan. Itulah rahmat Allah Ta’ala terbesar dan yang terakhir setelah hari kiyamat sebelum masing-masing ahlinya ditempatkan di neraka atau di surga.

Dengan syafa’at di tangan baginda Nabi saw. akan menyelamatkan banyak orang – bagi yang berhak menerima syafaatnya – dari siksa neraka jahanam di hari kiyamat nanti. Rasulullah saw. telah menegaskan dengan sabdanya:

حَدِيثُ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي كَانَ كُلُّ نَبِيٍّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى كُلِّ أَحْمَرَ وَأَسْوَدَ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَلَمْ تُحَلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَيِّبَةً طَهُورًا وَمَسْجِدًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ بَيْنَ يَدَيْ مَسِيرَةِ شَهْرٍ وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ *
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Aku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelumku. Semua Nabi sebelumku hanya diutus khusus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada manusia yang berkulit merah dan hitam yaitu seluruh manusia. Dihalalkan untukku harta rampasan perang, sedangkan tidak pernah dihalalkan kepada seorang Nabipun sebelumku. Disediakan untukku bumi yang subur lagi suci sebagai tempat untuk sujud yaitu sembahyang. Maka barang siapa apabila tiba waktu sembahyang walau dimanapun dia berada hendaklah dia mengerjakan sembahyang. Aku juga diberikan pertolongan dapat membuat musuh merasa takut dari jarak perjalanan selama satu bulan. Aku juga diberikan hak untuk memberi syafaat.

•    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tayamum hadits nomor 419 – Lima Solat Fardu hadits nomor 2890.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Masjid Dan Tempat Solat hadits nomor 810.
•    Riwayat Nasa’i di dalam Kitab Mandi Dan Tayamum hadist nomor 429 – Masjid 718.
•    Riwayat Ahmad Ibnu Hambal di dalam Kitab Juzuk 3 Muka Surat 304.
•    Riwayat Ad-Darimi di dalam Kitab Sholat hadits nomor 1353.

Bahkan di tengah-tengah umat yang mengingkarinya, keberadaan beliau semasa hidupnya telah mampu menjadi sebab tertahannya siksa Allah Ta’ala yang semestinya harus diturunkan kepada orang yang berbuat dosa. Demikian yang dinyatakan di dalam hadits Nabi saw.:

حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ أَبُو جَهْلٍ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ فَنَزَلَتْ ( وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ) إِلَى آخِرِ الْآيَةِ *
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a berkata: Abu Jahal berdoa: Wahai tuhanku sekiranya al-Quran ini benar datang dari sisi-Mu, maka turunkanlah hujan batu dari langit atau timpakan kepada kami siksaan yang pedih. Lalu turunlah ayat
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَام
Yang artinya: Dan Allah tidak sekali-kali akan menyiksa mereka, sedangkan engkau wahai Muhammad ada di antara mereka dan mengapa mereka tidak patut disiksa oleh Allah sedangkan mereka menghalang-halangi orang-orang Islam dari Masjidil Haram. hingga akhir ayat.

•    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an hadits nomor 4281.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Suasana Hari Kiyamat, Surga Dan Neraka hadits nomor 5004.

Dan hanya malalui gengaman tangan suci Syafi’ina Muhammad Rasulullah saw. “Rahmat Nubuwah” itu dari sumber rahasia yang azali kemudian dilimpahkan ke alam semesta sebagai “Rahmat Lil ‘Alamin” yang selanjutnya menyebar serta memasuki setiap lini kehidupan umat manusia di berbagai pelosok belahan bumi melalui uluran tangan Ulama-ulama pewaris dan penerus perjuangan yang sekaligus adalah Ahli Bait Beliau saw. Sebagai kholifah bumi zamannya. Maka para Ahli Baitinnabi ra. tersebut telah meneruskan tongkat estafet perjuangan para pendahulunya, menyampaikan “rahmat nubuwah” yang diterima dari tangan sang datuk menjadi “rahmat walayah” di tangan mereka untuk disampaikan kepada umat sebagai “inayah” dari Allah Ta’ala, supaya masing-masing hati yang selamat menerima Nur Tauhid Dan Nur Iman serta hidayah dari-Nya.

Mereka tidak henti-hentinya berpindah dari satu tempat ketempat lain sambil berdagang menyeru manusia kepada jalan Allah Ta’ala, baik melalui dakwah maupun dzikirnya, baik melalui perjuangan maupun do’a-do’anya, silih berganti sambung menyambung sampai saat hari kiyamat datang nanti. Dengan upaya yang seperti itu menyebabkan banyak orang hatinya menjadi simpatik dan memeluk agama islam, bahkan sebagian dari mereka ada yang dijadikan menantu oleh raja-raja setempat yang akhirnya berdirilah kerajaan islam disana-sini, sejarah telah membuktikannya pula. Bahwa di tanah jawa yang dahulu penduduknya bukan penganut agama islam, berkat kegigihan perjuangan dan kekuasaan serta akhlakul karimah yang mereka pancarkan – dari sembilan Wali Songo delapannya adalah dzurriyatur rasul ra. – bersama-sama penduduk negeri sebagai pembela dan pengikut yang setia, dengan inayah Allah Ta’ala yang ada di tangan, mereka telah berhasil memberantas sarang-sarang kemusyrikan dan kezaliman, sarang-sarang kemungkaran dan kemunafikan serta menancapkan sendi-sendi tauhid dan islam dengan penuh rahmatan lil ‘alamin sehingga mayoritas penduduknya menjadi muslimin yang penuh dengan persaudaraan dan kedamaian, bahkan sampai sekarang, alhamdulillah, masih di tangan mereka pula panji-panji islam semakin hari semakin menancap di dalam hati mayoritas penduduknya.

Sejak dahulu sampai sekarang, dimanapun mereka berada, para ahli bait Nabi itu tidak henti-hentinya mengajak manusia di jalan Allah Ta’ala, ada yang melalui dakwah dan tulisan-tulisannya, ada yang melaui dzikir dan mujahadahnya, ada yang melalui dzikir maulid dan dzikir manaqibnya. Sebagaimana yang telah dilakukan Sang Datuk dahulu, semuanya itu hanyalah dijadikan sarana bagaimana supaya manusia berbondong-bondong mendatangi panggilan Tuhannya. Maka dimana-mana, diseluruh pelosok dunia, asal mereka disitu berada, manusia yang selamat hatinya berbondong-bondong mengerumuni mereka pula, mengulurkan tangan menyambut uluran tangan mereka, untuk mengharapkan dan mencari syafa’at dan keberkahan Allah Ta’ala yang sudah dilimpahkan kepada mereka, menggapai rahmat khusus yang diberikan secara khusus oleh Allah Ta’ala kepada mereka. Sejarah telah membuktikannya.

Asy-Syekh Ibnu Athoillah ra. berkata: [Allah mengetahui bahwa sesungguhnya seorang hamba sangat ingin mengetahui tentang kenyataan rahasia “Inayah”, maka Allah berfirman: “Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS:3/74.]

Barang siapa ingin mengetahui tentang kenyataan rahasia “Inayah” atau rahmat Allah Ta’ala yang paling utama itu, maka demikianlah sunnah yang telah terjadi, baik orang-orang kafir dan orang yang membencinya mengakui ataupun tidak, realita tidak memperdulikan lagi dengan mereka, karena sejarah telah membuktikan terhadap apa yang telah dinyatakan Allah Ta’ala dengan firman-Nya:

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar. QS:3/74.

(malfiali, Februari 2009)

RAHASIA TAKDIR BAGIAN KETIGA TAMAT

Posted in takdir dengan kaitan (tags) on 15 September 2008 by malfiali

MUTIARA TERABAIKAN

al-fithrah-takdir-3

al-fithrah-takdir-3

Sejak di surga sesungguhnya Nabi Adam a.s sudah dibekali oleh Allah ilmu yang tinggi bahkan lebih tinggi dibanding ilmu yang diberikan kepada sebagian malaikat. Allah s.w.t menyatakan hal itu dengan firman-Nya:

وَعَلَّمَ ءَادَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ(31)قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيم ُ- سوة البقرة 31-32

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman : “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” – Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Baqoroh(2)31-32).

Ilmu yang pertama itu adalah ilmu teori atau ilmu rasionalitas, namun ilmu tersebut sesungguhnya belum cukup untuk menjadikan manusia berbuat taat kepada Tuhannya, ternyata ilmu pengalaman juga harus dimiliki. Dalam kaitan agama ilmu pengalaman itu disebut ilmu rasa atau ilmu spiritual. Dengan ilmu spiritual inilah, ilmu teori yang sudah ada diharapkan dapat menghasilkan kemanfaatan yang optimal bagi manusia. Yakni meningkatkan kualitas iman sehingga mampu menghasilkan keyakinan yang kuat untuk mencapai kedewasaan jiwa. Dengan kedua ilmu tersebut manusia harus mampu menjalani suratan takdir yang sudah ditentukan Allah sejak zaman azali, baik dari aspek jelek maupun aspek baiknya. Dengan kedua ilmu itu manusia harus mampu mensiasati nafsu syahwat dan menjaga diri dari setiap godaan kehidupan, baik dari tipu daya kehidupan duniawi maupun setan.

Barangkali untuk mendapatkan ilmu rasa tersebut, maka Nabi Adam a.s—oleh suratan takdir hidupnya—memang terlebih dahulu harus mencicipi pahitnya kehidupan di dunia. Dengan itu supaya kemudian beliau mampu merasakan manisnya pahala di akhirat, ketika beliau telah dikembalikan lagi di surga. Penderitaan hidup akibat perbuatan dosa tersebut supaya bisa dijadikan pembelajaran bagi jiwa sehingga hati manusia menjadi yakin akan hukum-hukum yang harus ditaati dalam hidupnya. Peristiwa sejarah kemanusiaan tersebut merupakan contoh pertama dalam lembaran sejarah kehidupan manusia pertama yang dapat menjadikan pelajaran yang sangat berharga bagi orang yang mampu memperhatikan dan menelaah serta mengambil pelajaran darinya.

Kalau kemudian Nabi Adam a.s ternyata mampu menjalani awal kehidupannya di dunia, walau perjalanan itu penuh dengan penderitaan dan kesulitan. Yakni dengan sendirian mencari lahan yang terbentang luas dan sekaligus membukanya untuk bercocok tanam. Menanam bibit di tanah garapan dan baru dapat dimakan hasilnya ketika saat panennya telah tiba. Dan berbagai macam tantangan kehidupan yang harus dihadapi. Hal itu disebabkan, karena sejatinya Nabi Adam a.s telah terlebih dahulu mengenali jalan hidup yang harus ditempuh itu. Yakni, bahwa akibat dosa yang telah diperbuat sehingga manusia harus diturunkan dari kebahagiaan ke dalam jurang penderitaan, namun dengan itu manusia harus mengetahui, apabila mereka ingin dikembalikan kepada kebahagian yang abadi, dimasukkan surga yang dahulu pernah ditinggalkan, maka tidak ada jalan lain kecuali terlebih dahulu mareka harus mampu bertaubat dari segala dosa dan kesalahan. Bahkan tidak culup itu saja, mereka juga harus memperbaiki perilaku, membangun diri dengan amal bakti, dengan itu supaya tidak kembali terjebak tipu daya setan yang pernah menurunkannya dari surga.

Jika hal tersebut harus terjadi, maka supaya di dalam lembaran hidup manusia tidak hanya ada ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup saja, namun juga karya utama yang dapat dibanggakan di kemudian hari di hadapan Tuhannya. Lalu Allah menurunkan pelajaran bagi Nabi Adam a.s dengan apa yang telah dinyatakan di dalam Firman-Nya:

فَتَلَقَّى ءَادَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. QS. al-Baqoroh; 2/37.

Nabi Adam a.s kemudian menindaklanjuti pelajaran itu dengan amal bakti dan taubatan nasuha, Beliau bermunajat dengan kalimat:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. QS. al-A’raaf; 7/23.

Untuk meningkatkan kedewasaan jiwa itu ternyata tidak cukup hanya dengan melahirkan penyesalan dalam hati saja, namun juga harus mampu diaktualisasikan di dalam amal ibadah kongkrit. Yakni berzikir, bermunajat, memohon ampun dan bertaubat dengan taubatan nasuha serta memperbaiki diri dari setiap kesalahan yang sudah diperbuat, sampai Allah yang Maha Pengampun benar-benar menerima taubat hamba-Nya. Penerimaan mana yang tanda-tanda dapat dirasakan dalam hati, yaitu dengan kedamaian dan kesejukan yang meresap dalam sanubari yang mampu mengusir keraguan sehingga menciptakan gairah baru untuk berbuat amal sholeh dan pengabdian. Seperti tanah kering karena lama tidak turun hujan, ketika hujan datang, tidak hanya kesejukan yang dirasakan, namun juga, tanah yang asalnya tandus itu menjadi subur dan siap tanam.

Inilah pelajaran pertama yang diturunkan Allah Rabbul ‘Alamin kepada umat manusia. Dari peristiwa yang asalnya sudah ghaib kemudian dinyatakan kembali dengan Firman-Nya. Diabadikan di dalam kitab suci yang abadi sepanjang masa, al-Qur’an al-Karim. Yaitu sejarah perjalanan hidup manusia pertama yang di dalamnya ada mutiara hikmah yang dapat dijadikan pelajaran dasar dan suri tauladan oleh umat selanjutnya. Dengan itu supaya manusia dapat mengambil pelajaran darinya.

Mutiara hikmah itu ialah, bahwa manusia memang selamanya tidak akan sepi dari kesalahan dan dosa. Meski manusia telah memulai hidupnya dengan kesalahan dan dosa sehingga mengakibatkan duka dan derita, namun apabila dengan penyesalan yang mendalam ternyata dosa dan kesalahan itu mampu menjadikan sebab mereka melaksanakan taubatan nasuha yang diterima di sisi Allah serta merubah kebiasaan buruk, baik karakter maupun perbuatan, menjadi kebaikan dan akhlakul karimah yang dapat meningkatkan ketakwaan dalam hati, maka disinilah letak rahasia “mutiara hikmah” yang sangat berharga itu. Mutiara hikmah yang terpendam itu harsu menjadi pembelajaran hidup yang akan bermanfaat bagi pendewasaan jiwa manusia.

Walhasil, barangsiapa mampu menelaah dan meneladani peristiwa sejarah manusia pertama itu, kemudian menerapkannya dalam kehidupan dengan benar dan arif, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan sebagaimana yang didapatkan pendahulunya. Dalam arti bukan dosa dan kesalahannya yang diteladani, namun bagaimana cara menyikapi dosa-dosa dan kesalahan itu. Dosa dan kesalahan tersebut memang terkadang suka memaksa manusia untuk mengerjakannya. Karena yang pasti, tidak selamanya manusia mampu menghindarkan diri dari berbuat kesalahan dan dosa. Maha Besar Allah dengan segala penciptaan-Nya.

Cuplikan dari buku berjudul ‘Lailatul Qadr Di Luar Bulan Ramadhan’ terbitan penerbit ABSHOR Hidmah dan IbadaH bekerja sama dengan Pondok Pesantren as Salafi AL FITHRAH, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.
Untuk mendapatkan buku tersebut silahkan anda kunjungi situs Abshor di:

http://indonetwork.co.id/abshor/profil

atau pesan melalui Tlp. (024) 70799949 atau SMS 081575624914 atau
E mail: malfi_ali@yahoo.com

RAHASIA TAKDIR BAGIAN KEDUA

Posted in takdir dengan kaitan (tags) on 14 September 2008 by malfiali
al-fithrah-takdir-21
al-fithrah-takdir-21

RAHASIA TAKDIR BAGIAN KEDUA

Satu lagi konsep dasar tentang urusan rahasia takdir adalah apa yang telah disampaikan Rasulullah s.a.w dalam sebuah haditsnya:

حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a berkata: Rasulullah s.a.w adalah seorang yang benar serta dipercaya telah bersabda: Kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya selama 40 hari. Setelah genap 40 hari yang kedua terbentuklah segumpal darah. Kemudian setelah genap 40 hari ketiga menjadi menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus  malaikat untuk meniupkan ruh serta memerintahkan menulis empat perkara yaitu ditentukan rizkinya, ajal kematiannya, amalan serta nasibnya, yaitu akan mendapat kecelakaan atau kebahagiaan. Maha suci Allah tiada Tuhan selain-Nya. Seandainya seseorang mengerjakan amal sebagaimana yang dilakukan penghuni surga sehingga kehidupannya hanya tinggal satu langkah menuju ke surga, tetapi disebabkan ketentuan takdir yang terdahulu, niscaya dia akan melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni Neraka sehingga dia memasukinya. Begitu juga dengan mereka yang melakukan amalan ahli Neraka, disebabkan ketentuan takdir yang terdahulu niscaya dia akan melakukan amal sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni surga sehingga dia memasukinya.

·    Riwayat Bukhari di dalam “Kitab Permulaan Kejadian” Hadits Nomor 2969.
·    Riwayat Muslim di dalam “Kitab Ketentuan” Hadits Nomor 4781.

Di dalam sabdanya di atas, Rasulullah s.a.w menyatakan, bahwa jalan hidup seseorang sudah ditentukan Allah s.w.t semenjak proses kejadiannya di rahim ibunya. Yakni sejak malaikat diutus meniupkan ruh kehidupan, sekaligus juga diutus menulis empat perkara yang akan terjadi dalam kehidupan anak manusia tersebut. Ditentukan rizkinya, ajal kematiannya, amal perbuatan serta nasib hidupnya. Menjadi orang yang celaka atau orang yang beruntung.
Rasulullah s.a.w bahkan menegaskan: “Maha suci Allah yang tiada Tuhan selain-Nya. Seandainya seseorang mengerjakan amal kebaikan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni surga sehingga hanya tinggal satu langkah dia menuju ke surga, tetapi disebabkan ketentuan takdir yang terdahulu, niscaya dia akan melakukan amalan kejelekan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni Neraka sehingga mengakibatkan dimasukkan ke neraka, dan begitu pula sebaliknya”.

Dalam kaitan takdir tersebut, ketika suatu saat Nabi Musa a.s bertanya kepada Nabi Adam a.s atas kekhilafan yang diperbuat oleh Nabi Adam di surga hingga menyebabkan umat manusia harus menjalani kehidupan di dunia untuk sementara waktu, Nabi Adam a.s berhujjah kepada Nabi Musa. Allah mengabadikan dialog tersebut melalui sebuah hadits Nabi, Rasulullah s.a.w bersabda:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى فَقَالَ مُوسَى يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُونَا خَيَّبْتَنَا وَأَخْرَجْتَنَا مِنَ الْجَنَّةِ فَقَالَ لَهُ آدَمُ أَنْتَ مُوسَى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلَامِهِ وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِينَ سَنَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: “Rasulullah s.a.w bersabda: “Nabi Adam berhujjah kepada Nabi Musa a.s, Nabi Musa a.s berkata: “Wahai Adam, engkau adalah bapakku. Engkau telah menyia-nyiakan aku dan engkau keluarkan aku dari surga”. Nabi Adam menjawab: “Kamu hai Musa. Allah telah memilihmu dengan kalam-Nya. Allah  menulis untukmu dengan tangan-Nya (kuasa). Apakah kamu akan mencela aku terhadap sesuatu yang telah ditetapkan Allah sejak empat puluh tahun sebelum aku diciptakan?. Nabi s.a.w bersabda: “Akhirnya Nabi Adam a.s tetap berhujjah (mengemukakan dalil) dengan Nabi Musa a.s Akhirnya Nabi Adam a.s tetap berhujah (mengemukakan dalil) dengan Nabi Musa a.s

·    Riwayat Bukhori di dalam “Kitab Cerita-cerita Para Nabi” Hadits Nomor 3157– “Tafsir Al-Qur’an” Hadits Nomor 4369.
·    Riwayat Muslim di dalam “Kitab Ketentuan” Hadits Nomor 4793.

Jauh sebelum diciptakan, manusia sudah ditentukan oleh Allah s.w.t—sebagai qodlo’-Nya—menjadi kholifah-Nya di muka bumi. Allah s.w.t telah menegaskan hal tersebut dengan Firman-Nya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. QS:2/30. Padahal saat penciptaannya, kehidupan manusia pertama itu oleh Allah—sebagai qodar-Nya—ditempatkan di surga. Dengan demikian, maka tidak bisa tidak, Nabi Adam a.s dan istrinya pada saatnya pasti harus turun ke bumi, hal tersebut karena mengikuti suratan takdir yang sudah ditetapkan sejak zaman azali.

Adapun penyebab seseorang harus turun dari kebahagiaan menuju kesengsaraan dan penderitaan panjang, oleh karena Allah tidak berbuat zalim kepada hamba-Nya, maka proses kejadian tersebut tentunya harus mengikuti perbuatan manusia itu sendiri, yakni melalui hak “huriyatul irodah” (kebebasan memilih) yang telah diberikan kepadanya. Artinya, dengan kesadaran penuh (nafsu dan akalnya atau rasional dan emosional) manusia telah menentukan pilihan hidupnya, namun oleh karena pilihan hidup itu ternyata salah, maka manusia akan menanggung akibat dari kesalahan itu. Yang demikian itu sunatullah, sejak sunnah itu ditetapkan tidak akan ada perubahan lagi untuk selama-lamanya. Sedikitpun Allah s.w.t tidak berbuat zalim kepada hamba-Nya.

Kalau kemudian turunnya Nabi Adam a.s dan istrinya Siti Hawa dari surga ke bumi ternyata akibat perbuatan dosa, meski perbuatan tersebut kemudian menyebabkan keduanya menerima musibah, namun demikian, kalau dengan penderitaan itu ternyata manusia mampu mengambil pelajaran sehingga dapat menjadikan hidupnya lebih baik, dalam arti pengalaman pahit itu menjadikan dirinya dapat lebih meningkatkan ketakwaan kepada Allah, maka berarti kehilafan tersebut hakekatnya adalah kebaikan bukan keburukan. Terlebih apabila ternyata penderitaan hidup akibat kesalahan itu mampu menempa jiwanya menjadi dewasa dan mapan, maka penderitaan  itu bukan musibah tapi pelatihan atau tarbiyah. Hal itu disebabkan, karena nilai sebuah amal bergantung kepada hasil akhirnya. Jika hasil akhirnya berupa kebaikan, maka apapun bentuknya, berarti amal itu adalah kebaikan, kalau hasil akhirnya buruk, maka apapun bentuknya, berarti amal itu adalah kejelekan.

BERSAMBUNG

Cuplikan dari buku berjudul ‘Lailatul Qadr Di Luar Bulan Ramadhan’ terbitan penerbit ABSHOR Hidmah dan IbadaH bekerja sama dengan Pondok Pesantren as Salafi AL FITHRAH, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.
Untuk mendapatkan buku tersebut silahkan anda kunjungi situs Abshor di:

http://indonetwork.co.id/abshor/profil

atau pesan melalui Tlp. (024) 70799949 atau SMS 081575624914 atau
E mail: malfi_ali@yahoo.com

RAHASIA TAKDIR BAGIAN PERTAMA

Posted in takdir dengan kaitan (tags) on 12 September 2008 by malfiali
al-fithrah-takdir-1a

RAHASIA TAKDIR BAGIAN PERTAMA

Suatu saat seorang sahabat bertanya kepada Baginda Nabi s.a.w tentang takdir. Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah s.a.w, aku mengerjakan shalat, shalat yang sedang aku kerjakan itu, adakah urusan yang sudah rampung dan sudah ditentukan Allah sejak zaman azali ataukah yang ditakdirkan baru pada saat kejadian itu?”, Rasul s.a.w menjawab: “Bahkan itu adalah urusan yang sudah rampung dan sudah ditentukan pada zaman azali“. Kemudian sahabat bertanya lagi: “Lantas apa arti pekerjaan yang aku kerjakan itu?” Baginda Nabi s.a.w menjawab dengan sabdanya:

اِعْمَلُوْا , فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Berbuatlah, maka sesungguhnya segala sesuatu akan dimudahkan bagi apa yang akan diciptakan baginya”

Lalu Beliau s.a.w meneruskan: “Apabila dari golongan orang-orang yang akan mendapatkan kebahagiaan, maka ia dimudahkan untuk berbuat amal kebaikan dan apabila dari golongan yang akan mendapat kecelakaan ia akan dimudahkan untuk berbuat sesuatu yang menjadikan sebab celaka”. Kemudian Beliau s.aw membaca ayat (QS. al-Lail; 92/5-10): “Adapun yang memberikan dan bertakwa  dan membenarkan kebaikan  maka akan Kami mudahkan kepada jalan kemudahan  adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup  dan mendustakan kebaikan  maka akan Kami sukarkan dari jalan kemudahan”(QS. al-Lail.92/5-10) (HR. Muslim)

Apa saja yang sedang dikerjakan oleh seseorang, sesungguhnya itu merupakan takdir Allah s.w.t yang sudah ditentukan sejak zaman azali. Hadits di atas merupakan penegasan, jika orang ingin mengetahui takdir Allah untuk dirinya, hendaknya mereka mencarinya di dalam usaha atau amal. Apabila ada takdir, berarti mereka akan dimudahkan di dalam jalan kemudahan, namun jika tidak, berarti mereka akan dimudahkan di dalam jalan kesulitan, dan jika orang tersebut ingin mendapatkan kemudahkan, maka ia harus menempuh tiga hal, yakni memberi, bertakwa dan membenarkan kebenaran.

Sungguh, betapa sabda Nabi s.a.w di atas ternyata merupakan konsep dasar untuk menguak tabir misteri alam takdir yang selama ini seakan-akan hanya menjadi teka-teki. Konsep tersebut mampu menjadi kunci rahasia untuk membuka pintu rahasia kehendak Allah yang azaliah. Bahkan membuka gerbang pertama untuk memasuki kebun-kebun surga yang dibentangkan di dunia. Dengan memahami bagian dari alam takdir ini, dengan izin Allah hati seorang hamba selamanya tidak akan menjadi bingung dalam mensikapi tantangan hidup yang harus dijalani.

Kunci rahasianya ternyata terselip dalam kata ‘usaha’. Konkritnya, manakala seseorang mempunyai kemauan kuat untuk berbuat kebajikan dan ditindaklanjuti dengan usaha, apabila kemudian Allah menurunkan pertolongan baginya sehingga usaha itu dapat dilaksanakan dengan mudah, maka berarti orang tersebut mendapatkan takdir baik dari-Nya. Namun sebaliknya, jika manusia tidak mempunyai kehendak baik, hidupnya hanya diisi dengan kejelekan-kejelekan, bahkan selalu berbuat kejahatan kepada sesame manusia, maka itulah pertanda bahwa takdir yang berlaku bagi dirinya adalah takdir jelek. Meskipun demikian, apabila kemudian ia mau sadar dan bertaubat dengan taubatan nasuha serta memperbaiki kejelekan-kejelekan itu dengan kabaikan, dan Allah menerima taubat serta menolongnya untuk melaksanakan kebaikan sehingga benar-benar ia menjadi orang yang mampu berbuat kebaikan, maka berarti ia telah kembali mendapatkan takdir baik.

Kalau anda bertanya, seakan-akan takdir itu bergantung kepada kemauan kita, memang demikianlah adanya, jika tidak percaya silahkan mencoba. Seperti ketika anda melihat orang melakukan sholat malam dengan tekun dan istiqamah misalnya, coba lakukan yang seperti itu. Tentunya terlebih dahulu anda harus mempelajari ilmunya supaya jalan yang anda lalui tidak berbeda dengan jalan orang tersebut. Kalau ternyata anda bisa melakukannya berarti takdir untuk anda sama dengan takdir untuk orang tersebut, kalau ternyata tidak, berarti yang berbeda memang takdirnya, bukan ilmu dan usahanya. Manusia boleh berusaha, namun Allah yang akan menentukan keberhasilan usaha itu. Di balik keberhasilan itulah rahasia takdir disembunyikan. Jadi, meski “rahasia takdir” itu sudah ditentukan Allah s.w.t sejak zaman azali, namun pintunya sesungguhnya dapat dibuka manusia sejak  di dunia, yakni melalui usaha.

Apabila ada orang hidupnya hanya diam saja. Malas dan tidak mau bekerja, tidak mau menuntut ilmu dan berusaha, sehingga nasibnya menjadi terlunta-lunta penuh derita. Dia tertolak di mana-mana karena tidak mempunyai dasar kemampuan apa-apa. Jika demikian, maka orang tersebut jangan menyalahkan siapa-siapa, barangkali rahasia takdir jelek itu bermula dari sifat malas yang tidak mampu dia perangi. Oleh karena itu, di samping kita harus mampu mengusir sifat malas yang memang seringkali datang dengan tiba-tiba, kita juga harus mampu menempatkan diri pada lingkungan yang baik, karena terkadang dari lingkungan baik itu dapat mencetak karakter manusia. Barangkali dari usaha itu pintu takdir baik tersebut sedikit demi sedikit akan terbuka bagi kita.  Jadi, ketika kita terlanjur berbuat kejahatan, berarti sejak itu kita telah menggoreskan catatan untuk terjadinya sebuah proses takdir buruk bagi kita sendiri. Jika kita tidak berusaha cepat-cepat menghapusnya kembali dengan melaksanakan taubat kepada Allah sampai bekas-bekas goresan itu benar-benar bersih dari lembaran kehidupan kita, maka berarti kita telah membiarkan takdir jelek itu berangsur-angsur akan menghancurkan hidup kita sendiri. Wal ‘iyadu bullah.

BERSAMBUNG

Cuplikan dari buku berjudul ‘Lailatul Qadr Di Luar Bulan Ramadhan’ terbitan penerbit ABSHOR Hidmah dan IbadaH bekerja sama dengan Pondok Pesantren as Salafi AL FITHRAH, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.
Untuk mendapatkan buku tersebut silahkan anda kunjungi situs Abshor di:

http://indonetwork.co.id/abshor/profil

atau pesan melalui Tlp. (024) 70799949 atau SMS 081575624914 atau
E mail: malfi_ali@yahoo.com