Arsip untuk Ramadhan kategori

Sesama Tamu Hendaknya Tidak Saling Berisik

Posted in Ramadhan dengan kaitan (tags) on 25 Agustus 2009 by malfiali

Sebagai tamu yang mulia dan dimuliakan, semestinya tidak saling mengganggu, atau setidak-tidaknya berisik. Sesama tamu, seharusnya saling menjaga diri agar tidak menjadikan tuan rumah terganggu. Apalagi tuan rumah, yang dimaksudkan di sini adalah bulan Ramadhan, yaitu bulan yang penuh berkah. Pada bulan yang penuh maghfiroh itu segala kesalahan insya Allah diampuni, apalagi kesalahan yang tidak disengaja, misalnya karena memang tidak tahu bahwa itu salah.

Allah menjadikan Bulan Ramadhan sebagai bulan yang mulia, untuk mengantarkan para tamu-tamu yang tergolong mukmin naik derajatnya menjadi taqwa. Sebagai orang taqwa maka akan mendahulukan perintah Allah daripada kepentingan golongan atau dirinya sendiri, misalnya hanya sebatas agar disebut sebagai lebih unggul dari lainnya, misalnya unggul pengetahuannhya, unggul logikanya, unggul sejarahnya, unggul jumlah dan kualitas pengikutnya, dan seterusnya. Apapun, semestinya tidak boleh terjadi.

Bulan Ramadhan yang mulia itu, menghendaki agar seluruh tamu, yakni penghuni bulan itu lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Setidak-tidaknya, pada bulan mulia itu, diutamakan adanya kebersamaan, yang disebut dengan berjama’ah. Karena rakhmat-Nya maka pada bulan ini, sholat sunnah yang biasanya dilakukan secara sendiri-sendiri, misalnya sholat tarweh, dilakukan secara berjama’ah, artinya dengan kebersamaan.

Selain itu, juga dianjurkan untuk banyak bersedekah, ialah peduli pada orang lain. Sebagai bagian dari menjaga Bulan Ramadhan, orang-orang yang sedang menjadi tamu bulan mulia ini, dilarang menyakiti orang lain, bertengkar, ghibbah, adu domba, dan mengembangkan penyakit hati lainnya. Di Bulan Ramadhan, tatkala pada siang hari berpuasa, maka pada malamnya, mereka tidak boleh mengkonsumsi makanan yang subhad, apalagi haram.

Namun sayangnya, entah karena lupa terhadap betapa pentingnya persatuan umat atau karena kurang memahami kemuliaan Bulan Ramadhan, dan atau juga bisa jadi kurang memahami posisi mereka sebagai tamu, ada saja sementara orang yang lebih suka berisik, mempertentangkan sesuatu yang kurang bermanfaat. Tatkala menjadi tamu, ——-yang seharusnya lebih menghormati tuan rumah, masih mempersoalkan sesuatu yang sesungguhnya tidak terlalu urgen, seperti memperdebatkan jumlah rakaat dalam tarweh, perbedaan dalam penentuan waktu awal dan akhir Bulan Ramadhan, yang kesemuanya itu mengakibatkan ibadah menjadi kurang khusu’ dan menjadi berisik.

Semua pihak sebenarnya sudah paham, bahwa apa yang diperdebatkan itu sesungguhnya bukan sesuatu yang pokok dan mendasar. Semisal sholat tarweh, hanya terkait dengan jumlah raka’at, awal dan akhir Bulan Ramadhan, terjadi hanya tatkala bulan berada pada posisi samar-samar ——-kurang jelas, maka dijadikan awal berisik. Padahal di bulan itu, justru tiba waktunya agar semua menjaga persatuan, dan saling menjaga hubungan silaturrahiem, saling menyayangi, menghormati dan bahkan tolong menolong. Anjuran bersedekah adalah sebagai petunjuk agar sillaturrakhiem itu di bangun di bulan yang mulia ini.

Semestinya, tatkala orang bertamu ke tempat yang mulia dan dimuliakan menghindari dari kegiatan yang menjadikan orang lain terganggu, semisal berisik. Mereka akan menjaga kemuliaan dari hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Biasanya suara berisik pada saat bertamu hanyalah pantas dilakukan oleh anak-anak yang belum dewasa, atau orang-orang yang kurang mampu menjaga diri. Tidak pernah ada orang yang sedang bertamu, ——apalagi di tempat yang mulia, kemudian berdebat tentang hal-hal yang tidak perlu. Apalagi pemilik rumah, yakni Bulan Ramadhan, melarang terhadap siapapun saling bertengkar dan berbedabat hingga merusak tali silaturrahiem.

Sebagaimana tulisan terdahulu, bahwa tamu yang baik adalah mereka yang mau menyesuaikan dengan ketentuan yang diberlakukan oleh pemilik rumah. Pemilik rumah menghendaki agar saling menjaga persatuan, saling menghargai, dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Pemilik rumah tidak mau ada suasana berisik yang mengganggu kemuliaan bulan yang mulia, yaitu Bulan Ramadhan. Karena itu terhadap sesama tamu, semestinya berusaha menjadi tamu yang terbaik, sehingga tidak selayaknya saling berisik, karena memang hal itu tidak dibolehkan dan bahkan juga tidak seharusnya dilakukan di bulan yang mulia ini. Wallahu a’lam.

Oleh: Imam Suprayogo

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=122436748879&ref=nf

PUASA DALAM ARTI MENOLAK MUSUH ALLAH

Posted in Puasa, Ramadhan dengan kaitan (tags) on 23 Agustus 2009 by malfiali

PUASA DALAM ARTI MENOLAK MUSUH ALLAH

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah SAW bersabda: الصَوْمُ جُنَّةً (puasa adalah benteng). Artinya, ibadah puasa menjadi ‘penjaga’ dari keburukan-keburukan yang datang, baik dari berbuat maksiat dan dosa, dari perilaku yang buruk dan akhlak yang tidak terpuji, juga dari murka Allah dan neraka.

Diriwayatkan dari Jabir, dari Anas RA, dari Rasulullah SAW, Nabi SAW bersabda:

خَمْسَةُ أَشْيَاءَ تُحِيْطُ الصَّوْمَ . أَىْ تُبْطِلُ ثَوَابَهُ . اَلْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالْيَمِيْنُ الْغَمُوْسُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ
“Lima perkara yang membatalkan puasa: bohong, mengumpat/ghibah (membicarakan kejelekan orang lain), memfitnah (adu-domba), sumpah bohong dan melihat dengan syahwat”.

Di dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW juga bersabda:

اَلنَّظْرُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ لَعْنَةُ اللهِ. فَمَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ آتَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِيْمَانًا يَجِدُ حَلاَوَتَهُ فِي قَلْبِهِ . (صححا إسناده عن خذيفة)
“Melihat adalah panah beracun dari panah iblis, mudah-mudahan Allah melaknatnya. Maka barang siapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, Allah Azza Wa Jalla, akan mendatangkan keimanan kepadanya yang hatinya akan merasakan manisnya” (Sanadnya shahih dari Khudhaifah)

Orang berpuasa secara otomatis pasti menjaga dirinya dari berbuat jelek. Seperti berkata bohong, mengumpat, memfitnah, sumpah palsu dan melihat dengan pandangan syahwat. Hal-hal yang tidak terpuji tersebut, dijaganya selama dua puluh empat jam dalam sehari dan didawamkan selama satu bulan penuh. Dasarnya bukan karena takut kepada manusia, melainkan hanya takut kepada Allah. Takwallah yang tidak hanya diucapkan di lisan saja, tapi juga dilaksanakan dan dirasakan di dalam hati. Bahkan tidak hanya itu, waktu-waktu luang yang sudah dikosongkan dari kejelekan tersebut menjadi kesempatan baik untuk diisi dengan amal ketaatan dan kebajikan, baik secara vertikal maupun horizontal. Adakah sarana latihan hidup yang lebih baik lagi dari itu?

Itulah hakekat mujahadah dan riyadlah di jalan Allah. Masa-masa latihan yang diadakan Allah untuk orang-orang yang percaya (beriman). Dengan latihan itu supaya mereka menjadi orang yang bertakwa. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. al-Baqoroh; 2/183)

Bahkan di bulan suci Ramadhan itu Allah sedang membentangkan fasilitas di relung dada orang-orang beriman dengan pancaran Nur Hidayah sehingga isi dada mereka terasa lapang. Itulah “inayah azaliah”, dari dalam, terbit semangat kuat untuk beribadah dan dari luar, rute-rute ibadah dimudahkan dan langkah-langkah penghambaan diteguhkan.

Dengan inayah tersebut yang hakekatnya adalah “tarbiyah azaliah”, seorang hamba diharapkan mampu mengembarakan ruhaniah untuk terbang tinggi ke haribaan Allah. Bermi’raj menuju wushul kepada-Nya. Dengan Inayah itu, seorang hamba dapat mencintai dan dicintai-Nya, meridlai dan diridlai-Nya. Allah telah menyatakan hal tersebut dengan firman-Nya:

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
”Sesungguhnya Waliku adalah Allah yang telah menurunkan kitab, dan Dia mentarbiyah orang-orang yang shaleh”. (QS. 7; 196)

Itulah rahmat utama yang dikhususkan bagi hamba-hamba beriman. Kalau sekiranya tidak ada rahmat utama itu, tidak ada tarbiyah dari Allah, tidak ada bulan suci Ramadhan, tidak ada puasa dan tarawih, tadarus serta shadaqah, maka barangkali tidak ada lagi manusia yang selamat dalam menjalani tantangan kehidupan di dunia ini. Terlebih di dalam era bumi tua seperti sekarang ini.

Seandainya tidak ada bulan suci Ramadhan, barangkali semua manusia akan celaka, baik di dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akherat, karena mereka tidak akan mampu lagi mengendalikan hawa nafsu dan menolak setan. Allah telah berfirman:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan kalau sekiranya tidak karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentunya kamu mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu)” (QS. an-Nisa’; 4/83)

Ibadah puasa juga berarti menolak setan jin, sebab musuh utama manusia setelah hawa nafsu adalah setan Jin. Setan Jin mempergunakan jalan nafsu syahwat untuk memperdaya dan menguasai manusia. Padahal kuatnya nafsu syahwat itu dengan banyak makan dan minum, maka dengan puasa berarti orang beriman menyempitkan jalan masuk setan ke dalam tubuhnya. Rasulullah SAW telah menyatakan yang demikian itu dengan sabdanya:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَجْرِى مِنِ ابْنِ آَدَمَ مَجْرَى الدَّمِ فَضَيِّقُوْا مَجَارِيَهُ بِالْجُوْعِ .
“Sesungguhnya setan masuk ke dalam anak Adam melalui aliran jalan darah. Maka sempitkanlah jalan alirannya dengan lapar (puasa)”

Allah juga telah memberi peringatan akan hal itu dengan firman-Nya:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ(فاطر:35/6)
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”. QS. Fathir; 35/6

PUASA DAN MUJAHADAH RASIONAL

Posted in Lailatul Qadr, Puasa, Ramadhan dengan kaitan (tags) on 23 Agustus 2009 by malfiali

Puasa dari Makna Sabda Nabi SAW

عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : أَنَّهُ قَالَ حِكَايَةً عَنْ رَبِّهِ تَعَالى : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِىْ بِهِ . متفق عليه
“Dari Nabi SAW Sesungguhnya beliau bersabda menceritakan Firman Allah “Seluruh amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya” (Muttafaq ‘Alaih).

*********
YANG BURUK BAGI ORANG BERPUASA DI HADAPAN MANUSIA, TERNYATA BAIK DI HADAPAN ALLAH.

Banyak ekses lahir dari ibadah puasa yang menurut pandangan umum buruk, namun di hadapan Allah ternyata baik. Salah satunya dan merupakan kendala bagi orang yang berpuasa adalah nafas yang tidak segar. Terlebih apabila orang yang berpuasa itu terpaksa harus mengadakan aktifitas pergaulan dengan orang lain. Nafas tidak segar orang yang sedang berpuasa itu memang tidak disukai oleh semua orang, namun menurut pandangan Allah ternyata lebih harum dibanding bau minyak misik. Rasulullah SAW telah menegaskan hal itu dengan sabdanya:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ , لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. متفق عليه.

“Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum daripada bau misik”. (Muttafaq ’Alaih)

Penegasan Baginda Nabi SAW mengenai bau mulut orang berpuasa tersebut merupakan bagian yang tidak dapat diterima nalar apabila parameternya adalah nalar secara umum manusia. Adanya pandangan negatif (buruk) terhadap ekses atau dampak pelaksanaan ibadah tersebut, karena orang pada umumnya hanya mampu melihat suatu kejadian dari sisi lahirnya saja, itupun hanya yang berkaitan dengan urusan duniawi. Mereka tidak mampu melihat batinnya atau hikmah dan kemanfaatan luas dari kejadian tersebut bagi tujuan pelaksanaan amal, sehingga yang dikatakan buruk itu tidak mampu mendatangkan hikmah. Apabila nafas tidak segar itu dikaitkan dengan hakekat hikmah puasa, maka secara otomatis orang tersebut akan malas berbicara. Orang yang berpuasa enggan berbicara kecuali untuk hal yang penting saja karena keadaan bau nafasnya sedang tidak bersahabat.

Sesungguhnya hakekat puasa adalah pelaksanaan mujahadah secara universal, dimana membatasi bicara merupakan bagian dari universalitas pelaksanaan mujahadah tersebut. Bahkan menahan bicara atau membatasi bicara, terutama bicara yang tidak ada manfaatnya merupakan mujahadah rasional. Hal itu disebabkan, karena semakin orang banyak bicara, berarti semakin rentan terjebak dalam kesalahan, terlebih manakala tanpa terasa arah pembicaraan itu bergeser masuk wilayah gosip dan fitnah.

Banyak bicara di waktu berpuasa itu ibarat orang menuangkan air di dalam ember bocor. Sebanyak apapun air yang sudah dituangkan, tetap saja akan hilang dengan percuma. Bagi orang yang sedang berpuasa, meskipun dari haus dan lapar yang diderita sepanjang hari itu mampu menghasilkan sumber pahala yang memancar terus-menerus, namun pahala-pahala itu akan tetap habis juga karena selalu menguap melalui lisannya. Terlebih ketika yang dibicarakan itu adalah tentang kejelekan orang lain (ghibah dan fitnah) yang dosanya tidak akan diampuni Allah sepanjang orang yang di”rasani” (diperbincangkan) dan difitnah itu belum memaafkannya. Ghibah artinya membicarakan kejelekan orang lain sebagaimana apa adanya tanpa ada tambahan dan bumbu penyedap, dampak buruknya lebih berat dari ZINA. Apabila keburukan yang dijadikan ajang gosip ria itu ternyata sesuatu yang diada-adakan berarti itu fitnah yang dampak buruknya lebih dahsyat dari MEMBUNUH.

Orang yang banyak bicara pada waktu berpuasa akan semakin merugi, sebab nila ghibah dan fitnah yang hanya setitik itu akan mampu merusakkan susu pahala puasa sebelanga. Lumrah bila ada orang yang tidak pernah menjalani perintah agama kemudian dimasukkan neraka. Hal itu bisa terjadi karena jatah senang dalam hidupnya sudah dihabiskan di dunia, maka jadinya di akherat tinggal penderitaan saja. Namun lain halnya apabila ada orang yang sudah melaksanakan perintah agama, bahkan sepanjang harinya selama sebulan penuh di bulan Ramadhan merasakan penderitaan lapar dan haus karena menjalankan perintah Tuhannya, ditambahkan lagi dengan tarawih dan tadarus pada malamnya bahkan dengan ibadah tambahan yang lain, seperti shadaqah. Namun akibat intensitas lisan yang suka bocor dan kebablasan tersebut kemudian malah menjadikan mereka masuk neraka. Hamba yang berpuasa (Shaaimin) yang sesungguhnya sudah berada di depan pintu surga, namun urung masuk ke dalamnya karena tidak mampu mengelola cara berbicara, berarti tidak ubahnya seperti “ ITIK BERENANG TAPI MATI KEHAUSAN ”.

MUJAHADAH RASIONAL

Rasulullah SAW bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ , لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. متفق عليه.

“Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum daripada bau misik”. (Muttafaq ’Alaih)

Makna esoteris dari “nafas tidak segar” bagi orang yang sedang berpuasa yang lebih dalam dari sekedar terhindar berbuat ghibah dan fitnah adalah, bahwa dengan menahan berbicara, disamping orang yang berpuasa melaksanakan mujahadah secara emosional—yaitu menahan lapar dan haus, sejatinya juga melaksanakan mujahadah secara rasional.

Asalnya dari nafas tidak segar, kemudian terpaksa harus menahan bicara, padahal yang akan dibicarakan itu adalah urusan penting berkaitan dengan urusan duniawi. Sepenting apapun urusan duniawi tersebut, karena ia sedang menjalankan puasa, maka ditunda lebih dulu. Tanpa terasa, penundaan itu sesungguhnya adalah hakekat pelaksanaan mujahadah rasional yang mampu memberikan manfaat yang sangat luas bagi kehidupan manusia.

Dengan berpuasa itu orang beriman telah mengendalikan nafsu syahwat (mujahadah emosional), hal tersebut akan berdampak bagi emosionalitas (bermanfaat untuk meredam emosi) pula. Sedangkan menahan bicara adalah bagian dari pelaksanaan mujahadah secara rasional, maka kemanfaatannya juga akan berimbas bagi rasionalitas. Dengan demikian, hikmah mujahadah rasional itu tidak hanya sekedar menghasilkan pahala dan diampunkan dosa-dosa saja, namun juga mampu membentuk karakter dan pola pikir yang positif bagi orang yang mampu menjalani.

Dalam sebuah haditsnya Baginda Nabi SAW bersabda: “Berpuasalah supaya kalian menjadi sehat”. Artinya, dengan menahan lapar dan haus itu ternyata mampu menjadikan badan menjadi sehat. Menahan bicara itu sejatinya juga demikian, bahkan yang menjadi sehat tidak hanya sekedar jasad saja tetapi juga rasionalitas. Sebab, yang ditahan itu sebenarnya adalah dimensi rasionalitas yang terkadang intensitasnya berlebihan dan dapat mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan. Dengan menahan bicara, tanpa disadari akan terjadi keseimbangan dalam jiwa, baik secara rasional terlebih emosional, sehingga mampu menciptakan dampak positif bagi kehidupan secara lahir (jasmani). Hal itu disebabkan, karena sumber penyebab segala penyakit dalam tubuh manusia, terkadang juga akibat intensitas kehidupan rasional yang tidak terkendali. Apabila menahan dan menunda bicara itu karena mengutamakan urusan Allah daripada urusan duniawi, maka perilaku tersebut bahkan mampu menciptakan manfaat emosional, rasional dan spiritual yang lebih universal, sehingga tercipta kesehatan jasmani sekaligus ruhani.

Walhasil, nafas yang tidak segar itu ternyata bentuk lain dari “inayah lahir” atau pertolongan yang didatangkan secara kasat mata yang diturunkan Allah kepada orang yang berpuasa supaya puasanya menjadi sempurna. Keberadaan inayah lahir selalu menyertai “inayah batin” atau pertolongan secara ruhaniah yang berbentuk hidayah dalam hatinya sehingga dapat menerbitkan semangat beribadah.

Di dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”.

Bagi orang yang sedang berpuasa, tidurnya dinilai ibadah. Bila tidurnya saja termasuk ibadah apalagi ibadahnya, tentunya ibadah orang yang sedang puasa itu akan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah.

UJIAN IHLAS

Posted in Lailatul Qadr, Puasa, Ramadhan dengan kaitan (tags) on 23 Agustus 2009 by malfiali

Ujian Ihlas

Konon suatu hari, ketika seorang guru sudah memandang perlu menguji sebagian murid-murid yang pilihan, dia memanggil empat orang murid. Masing-masing murid itu diberi seekor ayam dengan sebilah pisau dan dikatakan kepada mereka: “Wahai murid-muridku, coba ayam-ayam itu kalian potong di suatu tempat yang tidak dapat dilihat oleh siapapun dan jangan sampai diketahui oleh siapapun”.

Berangkatlah murid-murid pilihan itu dengan merahasiakan keberangkatan dan berpencar, masing-masing membawa seekor ayam dan sebilah pisau yang sudah diasah tajam untuk mencari tempat yang tersembunyi supaya saat memotong ayam itu—seperti perintah gurunya—tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Yang satu pergi ke hutan, dan yang lainnya ada yang pergi ke gua dan ada yang masuk ke dalam kamar yang tertutup rapat. Ketika mereka bertiga merasa sudah tidak ada orang yang melihat dan mengetahui keberadaannya, maka dipotonglah ayam-ayam itu. Sedangkan murid yang terakhir, setelah berputar-putar ke sana ke mari, bahkan di tempat yang terpencil sekalipun, dia tidak mendapati tempat di mana dia dapat memotong ayamnya dengan tanpa dilihat dan diketahui oleh siapa-siapa. Oleh karena itu, ketika teman-temannya pulang dengan membawa ayam yang sudah dipotong, dia sendiri pulang dengan ayam yang masih dalam keadaan hidup.

Sesampainya di depan sang guru, murid yang satu melaporkan bahwa ia telah memotong ayamnya di dalam gua sehingga tidak mungkin ada orang yang mengetahuinya, yang satunya melaporkan telah memotong ayamnya di dalam hutan yang lebat sehingga tidak mungkin ada orang yang mengetahuinya dan yang satunya melaporkan telah memotong ayamnya di dalam kamar yang tertutup rapat, bahkan saat masukpun tidak ada seorangpun yang mengetahui, maka berarti tidak mungkin ada orang yang mengetahui pada saat mereka memotong ayam itu. Ketika murid yang satu itu ditanya oleh gurunya, mengapa engkau tidak memotong ayammu?, ia menjawab: “Maaf guru, saya sudah berputar-putar, mencari tempat yang paling sepi dan terpencil sekalipun, tapi tidak saya dapati satu tempatpun di mana saya dapat memotong ayam ini tanpa dilihat dan diketahui oleh siapapun, karena semakin sepi tempat yang aku temukan semakin aku rasakan bahwa Allah melihat kepadaku. Oleh karena itu, di manapun berada aku tidak sanggup memotong ayam ini dengan tanpa dilihat dan diketahui oleh siapapun”.

Dengan jawaban tersebut, maka ketiga murid-murid yang lain menjadi sadar bahwa yang akan lulus ujian gurunya adalah temannya yang terakhir ini, yaitu yang tidak dapat menemukan suatu tempat di mana dia tidak dapat dilihat dan diketahui oleh siapapun. Karena di manapun seseorang berada pasti Allah akan melihat dan mengetahuinya.

Walhasil, matahati ketika sudah cemerlang, maka yang tampak dalam sorot mata hanya Allah SWT. Itulah gambaran hati seorang hamba yang menduduki maqom MUSYAHADAH, maka yang ada dalam sorot matanya bukan SEBAB, akan tetapi YANG MENYEBABKAN SEBAB-SEBAB dari setiap realita dan fenomena yang dilihat. Ibadah puasa adalah ibadah rahasia, meski tidak dapat diketahui oleh siapa-siapa, akan tetapi Allah Maha Mengetahuinya. Dengan gemar mengerjakan ibadah puasa berarti sama saja orang melatih diri supaya matahatinya menjadi cemerlang dan tembus pandang. Ketika ibadah rahasia itu sudah waktunya berbuah, dan matahati seorang pengembara sudah mendapatkan FUTUH (terbukanya matahati) dari Tuhannya sehingga menjadi cemerlang dan tembus pandang, maka berarti orang tersebut akan mendapatkan KEYAKINAN HATI yang kuat, karena selalu mampu bermusyahadah kepada Allah SWT. Barangkali seperti itulah gambaran hati orang yang bertakwa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS.al-Baqoroh/183)

Apakah Anda Pernah Mendapat Malam Qadr …??

Posted in Lailatul Qadr, Puasa, Ramadhan dengan kaitan (tags) , on 23 Agustus 2009 by malfiali

Apakah Anda Pernah Mendapat Malam Qadr ??

Sekitar tahun 1972, saat penulis menjadi salah satu anggota remaja Musholla di kampung. Di bulan suci Ramadhan, pada malam-malam ganjil, tepatnya pada malam dua puluh tujuh, Salah satu kegiatan kami saat itu adalah Ro’an, yaitu kerja bakti membersihkan Musholla. Kira-kira jam dua malam, saat teman-teman yang lain tertidur pulas, salah satu teman ada yang masih sibuk membersihkan kamar mandi.

Sebelum itu, teman ini termasuk yang terbelakang dibanding teman-teman yang lain dan paling jarang mengikuti pengajian, juga jarang mengikuti kegiatan mujahadah malam. Dia lebih senang memilih bekerja di bagian pekerjaan kasar seperti di bagian kebersihan. Dan di bagian kebersihan itupun dia gemar memilih pekerjaan yang tidak disenangi teman-teman lain. Membersihkan bagian kamar mandi misalnya—yang kadang-kadang hanya setahun sekali baru dibersihkan—seperti yang sedang dia kerjakan pada saat itu.

Paginya setelah shalat subuh dia bercerita kepada penulis, bahwa tadi malam saat sedang menggosok lantai kamar mandi itu, terjadi peristiwa yang menurutnya mengherankan. Tanpa sebab, sekujur badannya mendadak gemetar, dadanya bergetar dan tanpa dapat ditahan air matanya mengalir dan menangis dengan sendirinya. Dia berpikir barangkali ini yang dikatakan orang mendapatkan Lailatul Qadr.

Ada lagi yang lebih mengherankan dari itu, karena sejak kejadian itu ternyata terdapat banyak perubahan di dalam dirinya. Dahulu yang asalnya termasuk orang yang paling malas mengikuti pengajian, sekarang menjadi paling aktif. Yang asalnya paling jarang mengikuti kegiatan mujahadah malam, sekarang malah justru menjadi penggeraknya. Tampak lebih tekun membaca dan belajar, lebih aktif mengerjakan puasa sunnah dan sholat malam. Yang lebih istimewa lagi, yang asalnya paling bodoh itu, sekarang dalam waktu relatif singkat berangsur-angsur menjadi orang yang paling pandai di antara teman-teman yang lain. Padahal dia hanyalah anak orang biasa-biasa saja, artinya bukan anak seorang kyai yang ternama. Singkat cerita, sekarang dia telah menjadi seorang Ulama yang berpengaruh dan disegani di daerahnya.

Jika cerita ini benar, maka untuk mendapatkan Malam Qadr itu ternyata tidak harus dengan ilmu dan ibadah fertikal saja, dengan merasa hina kemudian melaksanakan ibadah dengan segala kehinaan itu, justru menjadikan orang tersebut lebih berpeluang mendapat kemudahan untuk terpilih menjadi orang mulia. Mendapat bonus Ramadhan yang tidak mudah didapatkan oleh orang yang Alim sekalipun. Marhaban yaa Ramadhan, Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, MOHON MAAF LAHIR BATIN

KISAH PARA SUFI MENGISI IDUL FITRI

Posted in Ramadhan dengan kaitan (tags) on 29 September 2008 by malfiali
al-fithrah-kisah1

al-fithrah-kisah1

MENGENDALIKAN NAFSU SYAHWAT AGAR TERJAGA DARI TIPUDAYA SETAN

Diceritakan: Konon seorang laki-laki bernama Sholeh bin Abdullah, setiap hari raya tiba dia datang ke musholla untuk melaksanakan shalat ‘Id dan kembali pulang ke rumahnya setelah selesai shalat. Di rumah seluruh anggota keluarga dan para kerabatnya sudah berkumpul menunggu kepulangannya. Sesampainya di rumah, Sholeh mengalungkan rantai besi di lehernya, dan menaburkan debu di kepala dan tubuhnya, seraya menangis dengan tangisan yang keras. Keluarganya bertanya: “Hai Sholeh mengapa engkau ini, padahal hari ini adalah hari raya, hari penuh kebahagiaan?” Sholeh menjawab: “Ya aku tahu, akan tetapi aku ini adalah seorang hamba yang mendapat perintah untuk mengerjakan sesuatu amal untuk-Nya, aku sudah mengerjakannya tapi aku tidak tahu amal itu diterima atau tidak oleh-Nya”. Sholeh berada di teras (pinggir) musholla ketika mengerjakan shalat ‘Id berjamaah. Ketika ditanyakan kepadanya mengapa tidak shalat di tengah musholla? dia menjawab: “Aku datang untuk meminta rahmat, maka di sinilah tempat yang patut bagi peminta”.

Diceritakan lagi: Seorang Kyai sepuh, setiap datang hari raya Idul Fitri selalu menutup pintu rumahnya rapat-rapat dan memadamkan lampu pada malam harinya, padahal orang banyak berbondong-bondong dari segala penjuru ingin menjumpainya, dan para tamu itu tidak pernah ada yang ditemui. Ketika ditanyakan perihalnya itu, ia menjawab di sela-sela tangisnya yang tidak tertahan: “Hari ini dosa-dosa mereka sudah diampuni dan mereka bebas dari neraka, maka pantas mereka berbahagia. Sedang aku tidak tahu apakah dosa-dosaku sudah diampuni atau belum? Apakah aku pantas bersenang-senang bersama mereka?”

Dari Wahab bin Munabih r.a berkata bahwa Rasulullah s.a.w bersabda: “Sungguh Iblis (semoga laknat baginya) selalu menjerit dan mengumpulkan bala tentaranya di setiap datang hari ‘Id. Mereka bertanya: “Hai Iblis junjunganku, siapakah yang menjadikan kamu marah, sungguh kami akan menghancurkan mereka”. Iblis menjawab: “Tidak ada sesuatu, hanya saja sungguh Allah telah mengampuni dosa-dosa umat manusia di hari ini, maka segeralah kalian semua untuk menjadikan mereka terlena dengan kenikmatan syahwat dan meminum minuman keras sehingga Allah Ta’ala murka kepada mereka”. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w bersabda di dalam sebuah haditsnya:

“اِجْتَهِدُوْا يَوْمَ الْفِطْرِ فِي الصَّدَقَةِ وَأَعْمَالِ الْخَيْرِ وَالْبِرِّ مِنَ الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ وَالتَّسْبِيْحِ وَالتَّهْلِيْلِ, فَإِنَّهُ الْيَوْمُ الَّذِيْ يَغْفِرُ اللهُ تَعَالَى فِيْهِ ذُنُوْبَكُمْ وَيَسْتَجِيْبُ دُعَاءَكُمْ وَيَنْظُرُ إِلَيْكُمْ بِالرَّحْمَةِ”.

“Bersungguh-sungguhlah kalian pada hari Idul Fitri untuk bershadaqah dan beramal kebaikan dan pengabdian kepada Allah s.w.t, dengan melaksanakan shalat dan mengeluarkan zakat dan membaca Tasbih dan Tahlil. Karena hari itu adalah hari dimana Allah s.w.t, akan mengampuni dosa-dosa kamu, dan mengabulkan permohonanmu, dan Alah melihat kepadamu dengan penglihatan penuh Rahmat”. (dari Durrotun Waa’idhin)

Diceritakan lagi: Seorang santri di pagi hari di hari raya Idul Fitri, datang kepada gurunya, didapati sang guru sedang makan dengan lahapnya, padahal yang dimakan itu hanyalah nasi putih tanpa lauk-pauk. Ketika ditanyakan perihalnya itu, sang guru menjawab: “Hari ini adalah hari kegembiraan, maka apapun yang ada di depanku menjadi tampak indah dan menyenangkan”. Namun di saat yang lain, di hari itu juga, ketika waktu shalat dhuhur datang, di saat beliau sujud yang terakhir dari shalat dhuhur itu, sang guru sujud dengan panjang sambil menangis dengan keras. Ketika ditanyakan lagi tentang perihalnya itu, sang guru menjawab: “Saya takut sujud tadi adalah yang terakhir di hari yang mulia ini, karena aku tidak mengetahui apakah tahun depan aku masih mampu bersujud seperti ini”.

Idul Fitri adalah sesuatu yang khusus, didatangkan dalam waktu khusus dan dikhususkan bagi orang khusus. Mereka itu adalah orang-orang yang dapat merasakan Idul Fitri secara khusus. (malfiali)

TANDA-TANDA PERAIH LAILATUL QADR

Posted in Ramadhan dengan kaitan (tags) on 17 September 2008 by malfiali
al-fithrah-tanda

TANDA-TANDA PERAIH LAILATUL QADR

Di bulan suci Ramadhan, disamping orang beriman harus melakukan ibadah puasa dan ibadah-ibadah tambahan yang lain, mereka juga seharusnya bersungguh-sungguh berusaha untuk mendapatkan Lailatul Qadr. Jika tidak, bisa jadi dalam hidup mereka tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali dosa. Sebab, kalau kita mau berhitung, satu hari dalam dua puluh empat jam saja, kira-kira banyak mana dosa dan pahala yang kita kerjakan, kalau kita mau jujur tentunya pasti banyak dosa. Padahal jika dosa tersebut tidak mendapat ampunan, maka di hari kemudian siksa neraka akan mejemput kita. Kita berlindung kepada Allah dari siksa dan murka-Nya.

Untuk tujuan itulah Ramadhan dan Lailatul Qadr diadakan setiap tahun, di samping keduanya menjadi sarana latihan (riyadlah) yang efektif bagi kaum mukminin untuk meningkatkan imannya supaya menjadi orang bertakwa, juga dimaksudkan agar terjadi keseimbangan dalam hidup mereka. Artinya, dosa-dosa dan kesalahan yang tidak terhindarkan selama setahun penuh atau bahkan sengaja dilakukan, pada bulan Ramadhan itu mampu mereka bersihkan. Sehingga selepas Ramadhan mereka bertemu dengan Idul Fitri dalam keadaan benar-benar fitrah.

Apabila di dalam bulan suci itu mereka berhasil mendapatkan Lailatul Qadr, terlebih jika tidak hanya sekali dalam hidup mereka, maka mereka tidak hanya sekedar mendapatkan pahala yang lebih besar daripada ibadah seribu bulan saja, namun juga bahkan jauh lebih baik dari itu, mereka akan mendapat perbaikan hidup, pendewasaan jiwa dan peningkatan derajat di sisi Allah S.w.t. Hal itu bisa terjadi, karena karakter-karakter buruk pembawaan secara manusiawi maupun sebagai bentukan perbuatan maksiat dan dosa, akan diganti oleh Allah menjadi kebaikan yang hakiki.

Dampak dosa yang menempel bagai karat di dalam hati yang terkadang sempat teraktualisasikan dalam bentuk perbuatan yang tidak terpuji, seperti iri, dengki maupun hasud misalnya, setelah kejelekan itu terhapus hingga bersih, maka matahati orang beriman akan menjadi cemerlang dan tembus pandang. Iman dan takwa mereka menjadi kian menguat dan menumbuhkan keyakinan hati. Dengan begitu, berarti mereka tidak hanya mandapatkan kebaikan melebihi ibadah seribu bulan saja namun juga akan mendapatkan kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di surga. Allah menyatakan dengan firman-Nya:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka akan diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Furqon; 25/70)

Jika hal tersebut tercapai, maka keberhasilan hidup itu harus ada tanda-tandanya, yakni selepas bulan suci Ramadhan harus ada perubahan pada diri orang beriman, baik perbuatan, sifat maupun karakter. Perubahan itu disebabkan adanya buah yang ditinggalkan Lailatul Qadr di dalam hati mereka. Wujud konkrit buah Ramadhan itu berupa pemahaman hati akan urusan Ilahiyah (ma’rifatullah), yang hakekatnya adalah Nur yang menerangi hati. Nur itu kemudian memancar kepada alam sekitarnya melalui perilaku keseharian dan sorot wajah yang membawa kesejukan. Manakala yang demikian itu telah terwujud, maka berarti itulah yang disebut Idul Fitri yang hakiki.

Jadi, yang dimaksud Lailatul Qadr adalah suatu ‘saat’ di malam hari pada bulan suci Ramadhan, di mana apabila pada saat itu orang beriman kedapatan sedang beribadah, berarti mereka akan menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya dan sekaligus mampu berbuat kebaikan baik secara vertikal maupun horisontal. Kalau tidak demikian, bila selewat Ramadhan belum ada tanda-tanda perbaikan pada perilaku kehidupan orang yang berpuasa pada bulan yang suci itu, maka sebaiknya mereka tidak merasa telah mendapatkan malam yang penuh berkah tersebut.

Dengan asumsi bahwa dengan amal ibadah manusia akan mendapatkan peningkatan kualitas hidup, maka bagi orang yang berharap mendapatkan Lailatul Qadr, hendaknya tidak hanya dicari di bulan Ramadhan saja, namun juga dicari secara filosofisnya, baik di dalam maupun di luar Ramadhan. Pencarian tersebut dengan melakukan mujahadah dan riyadlah di jalan Allah. Asumsi itu berdasarkan bukti bahwa setiap perintah Allah pasti di dalamnya ada aspek pembelajaran (tarbiyah). Merupakan pelatihan yang sangat berguna bagi pembentukan karakter dan pendewasaan jiwa manusia. Aspek pembelajaran itu tentunya tidak untuk memberatkan hidup manusia namun menciptakan peluang amal, agar manusia mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, baik lahir maupun batin. Adapun kebutuhan hidup yang paling utama bagi seorang hamba yang beriman adalah bagaimana ia dapat mengenal (ma’rifat) Tuhan-Nya karena sesungguhnya hanya itulah tujuan utama bagi setiap pengabdian yang dilakukan. Hal tersebut sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam firman-Nya: “Dan bahwasanya kepada Tuhanmu, kesudahan (segala sesuatu)”. (QS an-Najm; 42)

Cuplikan dari buku berjudul ‘Lailatul Qadr Di Luar Bulan Ramadhan’ terbitan penerbit ABSHOR Hidmah dan IbadaH bekerja sama dengan Pondok Pesantren as Salafi AL FITHRAH, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.

Untuk mendapatkan buku tersebut silahkan anda kunjungi situs Abshor di:

http://indonetwork.co.id/abshor/profil

atau pesan melalui Tlp. (024) 70799949 atau SMS 081575624914 atau
E mail: malfi_ali@yahoo.com

MUTIARA PUASA

Posted in Ramadhan dengan kaitan (tags) on 10 September 2008 by malfiali

MUTIARA PUASA

al-fithrah-mutiara-puasa

al-fithrah-mutiara-puasa

Banyak ekses lahir dari puasa yang menurut pandangan umum buruk, namun di hadapan Allah s.w.t ternyata baik. Salah satunya dan menjadi kendala bagi orang berpuasa adalah nafas yang tidak segar. Terlebih apabila orang tersebut terpaksa harus mengadakan aktifitas pergaulan dengan orang lain. Nafas tidak segar orang yang sedang berpuasa itu memang tidak disukai oleh semua orang, namun menurut pandangan Allah ternyata lebih harum dibanding bau minyak misik. Rasulullah s.a.w menegaskan hal itu dengan sabdanya:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ , لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. متفق عليه

“Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum daripada bau misik”. (Muttafaq ’Alaih)

Penegasan Baginda Nabi s.a.w mengenai bau mulut orang yang berpuasa tersebut, merupakan bagian yang tidak dapat diterima nalar apabila parameternya adalah nalar umumnya manusia. Adanya pandangan negatif (buruk) terhadap ekses atau dampak pelaksanaan ibadah tersebut, karena pada umumnya orang hanya mampu melihat suatu kejadian dari sisi lahir saja, itupun hanya yang berkaitan dengan urusan duniawi. Mereka tidak mampu melihat batinnya atau hikmah dan kemanfaatan secara luas dari kejadian tersebut bagi tujuan pelaksanaan amalnya.

Apabila nafas yang tidak segar itu dikaitkan dengan hakekat hikmah puasa, maka secara otomatis orang yang puasa akan malas berbicara. Mereka enggan berbicara kecuali untuk hal yang penting saja. Hakekat puasa adalah melaksanakan mujahadah universal, di mana membatasi bicara merupakan bagian dari universalitas pelaksanaan mujahadah tersebut. Bahkan menahan bicara atau membatasi bicara, terutama terhadap yang tidak ada manfaatnya, sesungguhnya itu merupakan mujahadah rasional. Soalnya, semakin orang banyak bicara, mereka semakin rentan terjebak dalam kesalahan, terlebih manakala tanpa terasa arah pembicaraan itu bergeser memasuki wilayah gosip.

Banyak bicara di waktu berpuasa ibarat orang menuangkan air di dalam ember yang bocor, sebanyak apapun air sudah dituangkan, tetap saja akan hilang dengan percuma. Maksudnya, meski dari haus dan lapar yang diderita sepanjang hari itu menghasilkan sumber pahala yang terus-menerus memancar, namun pahala-pahala itu akan tetap habis juga karena selalu menguap melalui lisannya. Terlebih ketika yang dibicarakan itu adalah kejelekan orang lain (ghibah dan fitnah) yang dosanya tidak akan diampuni Allah sepanjang orang yang di”rasani” (diperbincangkan) dan difitnah itu belum memaafkannya.

Orang yang banyak bicara pada waktu berpuasa akan semakin merugi, sebab nila ghibah dan fitnah yang hanya setitik itu mampu merusakkan susu pahala puasa sebelanga. Apabila ada orang yang tidak pernah menjalani perintah agamanya kemudian dimasukkan neraka, hal tersebut menjadi lumrah. Oleh karena kesenangannya sudah dihabiskan di dunia maka yang tersisa di akhirat tinggal penderitaan saja. Lain halnya apabila ada orang yang sudah melaksanakan perintah agama, bahkan sepanjang harinya selama sebulan penuh di bulan Ramadhan mereka harus merasakan penderitaan lapar dan haus karena menjalankan perintah berpuasa, ditambahkan dengan tarawih dan tadarus pada malamnya bahkan dengan melaksanakan ibadah tambahan, seperti shadaqah, namun akibat intensitas lisan yang suka bocor tersebut kemudian malah menjadikannya masuk neraka. Hamba yang berpuasa (Shaaimin) yang sesunggunya sudah berada di depan pintu surga, urung memasukinya karena dia tidak mampu mengelola cara berbicara. Demikianlah pepatah menyebutnya bagai itik berenang tapi mati kehausan.

MUJAHADAH RASIONAL

Makna esoteris dari nafas yang tidak segar dalam puasa yang lebih dalam dari sekedar terhindar berbuat ghibah dan fitnah itu ialah, bahwa dengan menahan bicara itu berarti orang yang berpuasa, di samping telah melaksanakan mujahadah secara emosional, yaitu menahan lapar dan haus, juga mujahadah secara rasional.
Yang asalnya hanya dari nafas yang tidak segar, kemudian orang tersebut terpaksa harus menahan bicara, padahal yang akan dibicarakan itu adalah urusan penting berkaitan dengan urusan duniawi. Sepenting apapun urusan duniawi itu, karena ia sedang  puasa, maka ditunda lebih dulu. Tanpa terasa, penundaan itu sesungguhnya adalah hakekat pelaksanaan mujahadah rasional yang akan mampu memberikan kemanfaatan yang sangat luas bagi kehidupan manusia.

Dengan berpuasa berarti orang telah mengendalikan nafsu syahwatnya (mujahadah emosional), sehingga akan berdampak bagi emosionalitasnya (bermanfaat untuk meredam emosi). Sedangkan dengan menahan bicara, yang sesungguhnya merupakan bagian dari mujahadah secara rasional, maka kemanfaatannya juga akan berimbas bagi rasionalitasnya. Dengan demikian, hikmah mujahadah rasional itu tidak hanya sekedar menghasilkan pahala dan diampunkan dosa-dosa saja, namun juga mampu membentuk karakter dan pola pikir yang positif bagi orang yang mampu menjalaninya.

Dalam sebuah haditsnya Baginda Nabi s.a.w bersabda: “Berpuasalah supaya kalian menjadi sehat”. Artinya, dengan menahan lapar dan haus itu ternyata mampu menjadikan badan manusia menjadi sehat. Menahan bicara itu sejatinya juga begitu, bahkan bukan sekedar jasad saja yang menjadi sehat tetapi juga rasionalitas.  Dengan menahan bicara, tanpa disadari akan terjadi keseimbangan dalam jiwa manusia, baik secara rasional terlebih emosional, sehingga mampu menciptakan dampak positif bagi kehidupan manusia secara lahir (jasmani). Sebab, timbulnya sumber penyebab segala penyakit dalam tubuh manusia, terkadang juga akibat intensitas kehidupan rasional yang tidak terkendali. Terlebih apabila menunda bicara itu karena mengutamakan urusan Allah s.w.t daripada urusan duniawi, maka perilaku tersebut bahkan mampu menciptakan manfaat emosional, rasional dan spiritual yang lebih universal, sehingga tercipta kesehatan jasmaniah sekaligus ruhaniahnya.

Cuplikan dari buku berjudul ‘Lailatul Qadr Di Luar Bulan Ramadhan’ terbitan penerbit ABSHOR Hidmah dan IbadaH bekerja sama dengan Pondok Pesantren as Salafi AL FITHRAH, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.
Untuk mendapatkan buku tersebut silahkan anda kunjungi situs Abshor di:

http://indonetwork.co.id/abshor/profil

atau pesan melalui Tlp. (024) 70799949 atau SMS 081575624914 atau
E mail: malfi_ali@yahoo.com

MATAHATI TEMBUS PANDANG

Posted in Ramadhan dengan kaitan (tags) on 7 September 2008 by malfiali

MATAHATI TEMBUS PANDANG

al-fithrah-matahati-1

al-fithrah-matahati-1

Rasulullah s.a.w bersabda:

لَوْ لاَ أَنَّ الشَّيَاطِيْنَ يَحُوْمُوْنَ عَلَى قُلُوْبِ بَنِى آَدَمَ لَنَظَرُوْا اِلَى مَلَكُوْتِ السَّمَاوَاتِ

Seandainya setan tidak meliputi hati anak Adam, maka ia melihat kerajaan langit

Jika sekiranya setan tidak meliputi hati manusia, maka matahati orang tersebut menjadi cemerlang dan tembus pandang. Tembus pandang itu juga disebut “firasat tajam”. Hal tersebut bisa terjadi, karena orang yang firasatnya tajam itu melihat dengan Nur Allah. Sorot matahati mereka menembus tirai hijab alam batin atau alam ghaib sehingga yang mestinya tidak kelihatan menjadi terang baginya. Rasulullah s.a.w menyatakan hal tersebut dalam haditsnya. Yang artinya: “Takutlah kamu akan firasat orang-orang beriman, karena sesungguhnya ia melihat dengan Nur Allah”.

Ibarat pesawat pemancar yang memancar dari satelit, perangkat penerima di bumi—ketika sudah dihidupkan dengan antena yang menghadap ke satelit—walau berada dimanapun tempatnya, dapat menangkap pancaran sinyalnya. Perangkat di bumi itu bahkan dapat menembus lapisan alam dan membuka situs yang bertebaran di alam mayapada. Barangkali seperti itulah gambaran orang yang firasatnya tajam. Disaat mata lahir mereka menatap seseorang secara lahir di bumi, maka sorot matahatinya menembus alam batin sehingga dapat melihat rahasia batin orang tersebut. Hal itu bisa terjadi, karena dengan Nur Allah matahati mereka menerobos alam kerajaan langit dan membuka situs manusia yang bertebaran di alam Lauh Mahfudz.  Selanjutnya, keadaan alam batin—yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah—yang dilihat oleh matahati itu, Nurnya membakar sekat yang membatasi mata lahir dan mata batin. Ketika sekat itu terkoyak, maka mata lahir mereka seakan-akan melihat sesuatu yang sesungguhnya dirahasiakan di alam Lauh Mahfudz.

Yang dilihat oleh mata lahir di bumi itu adalah manusia dalam sosok personal sedangkan yang dilihat dengan mata batin di “Lauh Mahfud” adalah manusia di dalam sosok karakter. Masing-masing sosok itu hakekatnya satu, hanya saja sementara waktu keduanya dipisahkan dan masing-masing kehidupannya dibatasi oleh ruang waktu (barzah), karena saat ini manusia masih menjalani kehidupan di alam dunia. Namun di dunia inipun sebenarnya setiap hari manusia dapat keluar masuk di antara dua alam tersebut, hanya saja oleh karena pintunya tidur maka kejadian yang dialami di alam ghaib tersebut disebut mimpi. Oleh sebab itu apa yang dilihat dan dialami oleh orang mimpi itu harus diterjemahkan lagi dengan ilmu takwil mimpi.

Ini hanyalah sebuah ilustrasi, hasil imajinasi manusia yang terbatas. Gambaran dari keadaan ghaib dan rahasia yang mampu diungkapkan melalui bahasa tulisan yang tentunya masih sangat jauh dari keadaan yang sesungguhnya. Sekedar beri’tibar dalam rangka memadukan antara ayat yang tersurat dengan ayat yang tersirat. Oleh karena itu, apabila di dalam uraian ini terdapat kehilafan semoga Allah mengampuni segala dosa.

Walhasil, manakala matahati manusia belum mampu tembus pandang seperti yang digambarkan di atas. Mereka belum mampu melihat rahasia ghaib yang ada dibalik alam lahir dari sesuatu yang mereka lihat secara lahir dengan mata lahir, berarti boleh jadi hati ini masih dalam keadaan keruh atau bahkan mati karena ditutupi oleh hijab nafsu syahwat dan setan jin yang belum berhasil dirontokkan. Puasa adalah solusi yang sangat tepat. Puasa merupakan sarana latihan yang sangat efektif untuk mengendalikan nafsu syahwat sehingga setan jin tidak mampu menduduki hati manusia. Dengan puasa itu orang beriman mampu merontokkan hijab-hijab yang menutupi matahati mereka.

Cuplikan dari buku berjudul ‘Lailatul Qadr Di Luar Bulan Ramadhan’ terbitan penerbit ABSHOR Hidmah dan IbadaH bekerja sama dengan Pondok Pesantren as Salafi AL FITHRAH, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Untuk mendapatkan buku tersebut silahkan anda kunjungi situs Abshor di:

http://ponpesalfithrahgp.wordpress.com

http://indonetwork.co.id/abshor/profil

atau Tlp. (024) 70799949 – HP. 081575624914
E Mail:  malfi_ali@yahoo.com