Arsip untuk puisi kategori

OASE ITU ADA DI GUNUNG PATI…

Posted in Hikam, puisi dengan kaitan (tags) on 26 Agustus 2009 by malfiali

OASE ITU ADA DI GUNUNG PATI…
kepada Abah Luthfie

Apa yang terlintas di pikiran dan hati saat asma Allah dan tahlil dibaca berulang-ulang, dengan ketukan yang teratur? Apa yang terlintas dalam hati dan pikiran saat doa-doa dipanjatkan? Apa yang terlintas saat shalawat dan nama junjungan kita Kanjeng Rasululullaah Muhammad Saw disebutkan dengan takzim, saat kita berdiri seperti “menyambut” kedatangan Kanjeng Rasul dengan hati hormat dan penuh kerinduan? Barangkali hanya mereka yang hadirlah yang bisa merasakannya, tetapi barangkali tak bisa menjelaskannya.

Kita, manusia, yang terbiasa terjebak dalam rutinitas, sesungguhnya butuh sesuatu yang bisa membebaskan kita dari rutinitas, agar tak terjebak dalam lingkaran keduniawian yang seolah tiada henti mendera kita, mengguncang kesadaran dan jiwa kita. Seringkali, kita butuh oase-oase ruhani yang selalu siap mengalirkan barakah kedamaian yang mampu merawat ruh-ruh suci kita agar tak tercemar oleh rutinitas harian dan noda ambisi keduniawian yang menjauhkan kita dari Allah, membuat kita lalai kepada Sang Khaliq.

Allah Yang Maha Tahu dan Maha Bijak sesungguhnya tahu betul bahwa kita butuh itu semua, butuh sesuatu yang membawa kita mengenali diri kita, mengenali “sangkan paraning dumadi” kita. Allah telah ciptakan oase-oase ruhani di seluruh penjuru dunia, para pembawa Nur Allah yang mendapatkan limpahan cahaya-Nya melalui Rasululullah yang terus mengalir tanpa putus kepada para Wali Allah dan guru-guru kita yang berada di sirathal mustaqiim Salah satu mata air oase itu mengalir melalui Syekh Asrori radhiyallahu anhu, yang melimpah melampaui batas ruang dan waktu, dan salah dari pancaran mata air itu berkumpul membentuk oase ruhani yang sederhana di sebuah tempat bernama Gunungpati,Ungaran, sebuah tempat sederhana tetapi tenang bernama ponpes salafi Al-Fithrah.

Adalah Abah Luthfi yang mengajarkan saya, dalam sebuah obrolan santai, betapa sederhananya kehidupan itu sesungguhnya, meski dalam kesederhanaan itu terkandung kedalaman “barakah,” yang terus mengalir tanpa kita sadari, selama niat kita dalam menjalani hidup adalah iman dan Lillahi ta’ala. Adalah Abah Luthfi yang mengajari dan menyadarkan saya bahwa sikap kerendahan hati, sikap tak merasa suci, dan memuliakan tamu, adalah sikap yang membuat hati kita menjadi lembut. Betapa tidak. Abah Luthfi-lah, sebagai tuan rumah, yang mengajak saya, sang tamu, untuk makan bersama di paviliunnya yang sederhana dan bersih di belakang rumah. Dan beliaulah, sebagai sosok yang disegani dan dihormati di sana, dengan tanpa beban, di tengah kesibukannya sebagai shohibul acara, menyempatkan diri mendatangi saya di ruang tamu sederhana, mengajak saya makan bersama lagi pada sore hari.

Jadi, masih perlukah kata-kata rumit untuk menyampaikan ajaran? Kadang kata-kata memang perlu, tetapi suri tauladan akhlak yang baik, tindakan dan amal yang nyata, jauh lebih dahsyat ketimbang tumpukan buku tebal berisi kalimat nasihat. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak,” demikian sabda Rasulullaah.

Demikianlah, dalam naungan semerbak harum bunga melati, kami, para tamu dan hadirin, berusaha kembali menjadi “hamba,” memperbaiki pengabdian kita, kembali menyadari bahwa pada hakikatnya manusia adalah hamba Allah. Budak biasanya senang jika dibebaskan dari kedudukan sebagai budak, tetapi seorang hamba Allah justru senang dengan kedudukannya sebagai hamba, sebagai abdi, sebab Allah memuji Rasulullah dengan sebutan hamba – dan hanya Rasulullah-lah, sebagai hamba, yang diperjalankan dalam perjalanan isra’ dan mi’raj untuk menemui-Nya. Ini seolah-olah memperingatkan kita bahwa hanya orang yang sadar diri sebagai hambalah yang berhak masuk ke dalam hadirat-Nya.

Penghambaan adalah kerendahan hati untuk mengakui kelemahan diri kita dihadapan Allah. Tetapi kini banyak orang yang, entah mengapa, merasa tak hina, merasa dirinya besar, merasa lebih baik dan merasa paling benar, hingga ke titik di mana mereka menjadikan Allah hanya menjadi pelengkap penyerta, atau lebih buruk lagi Allah menjadi pelengkap penderita. Allah disebut-sebut sambil kita menipu diri kita, menipu orang lain. Allah disebut-sebut sambil membunuh orang lain tanpa alasan yang bisa dibenarkan oleh syariat dan akal sehat. Allah disebut-sebut saat mereka terkena masalah, terkena kesulitan, dengan mengatakan “Ini adalah kehendak Allah,” yang sama artinya dengan mengkambingkan hitamkan Allah atas kesalahan yang mereka perbuat sendiri! Lalu di mana letak pengabdian kita? Naudzubillah..tsumma naudzubillah..

Karenanya, sesungguhnya kita butuh oase-oase ruhani, yang bisa menyegarkan kembali kesadaran kita, mengingatkan kembali kepada hakikat penciptaan diri kita, menyadarkan kembali fitrah pengabdian kita kepada Allah. Kalau perlu, kitalah yang menjadi oase ruhani itu sendiri, sebagaimana para Nabi, Wali Allah dan ulama-ulama yang siddiq, yang selalu berhati-hati dalam meniti jalan yang lurus, di jalan yang diridhoi Allah. Oase-oase itulah yang bisa menjadi wasilah bagi kita untuk menundukkan hasrat keduniawian kita, kesombongan kita, kecongkakan kita dan kekerasan hati kita, agar kita menjadi manusia yang jiwanya menjadi jiwa yang dipanggil Allah: “Wahai jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah)…. masuklah ke dalam sorgaku dengan Ridho dan Diridhoi..”

Di Gunungpati, aku mereguk oase itu…

IMAN ibarat bibit, HATI ibarat tanah, AMAL/ibadah & pengabdian ibarat menanam, ILMU ibarat metode menanam. Ketika bibit ditanam dengan benar di hati yang bersih, maka buahnya adalah Ma’rifatulloh. [salafi Al-Fithrah]

Mbah Kanyut al-Jawi
NB: terima kasih abah, atas wisata kulinernya, dengan sate sapinya yang luar biasa.

P8110216

SELAMAT JALAN MATAHARIKU

Posted in puisi dengan kaitan (tags) on 19 Agustus 2009 by malfiali

SELAMAT JALAN MATAHARIKU

Sang matahari dari timur telah kembali ke peraduannya
Meningalkan hati-hati terlena
Menggugah perasaan terlelap dalam tidur panjang
Pergi menghadap Sang Paduka
Dengan ridho akan ridho-Nya
Menjemput yang sudah disiapkan disana
Meski semua mengatakan belum saatnya
Namun inilah kenyataan
Maka yang semua itu harus siap menerima
Karena tahapan tugas rupanya sudah paripurna

Disini, dalam bumi yang gersang ini
Seakan engkau tidak peduli kepada yang ada
Padahal kami belum banyak menduga
Kemana tinggalan ini harus dilanjutkan
Hamparan sawah yang butuh perawatan
Gedung-gedung megah yang terasa ikut berduka
Seperti hati kami yang seakan putus asa

Kami melolong, menangis bagai itik ditinggal induk semang
Kehilangan padahal dulu kurang memanfaatkan kemudahan
Namun engkau tanpa menoleh berjalan melenggang
Dijemput teman-temanmu yang sudah lama merindukan
Berjalan seiring meninggalkan batas perpisahan
Bersama-sama menggapai apa yang sudah yang dijanjikan
Karena dulu perjalanan telah ditempuh dengan penuh persiapan

Barangsiapa mendekat dalam lahir
Maka yang dituju itu kini telah sirna
Barangsiapa memandang dengan syahwat
Maka yang dinikmati itu kini hilang entah kemana
Barangsiapa terlena dalam gendongan
Maka selendang itu kini akan jadi rebutan
Barangsiap bernaung dalam keteduhan
Maka pohon rindang itu antah pergi kemana
Hati terkaget meski tidak berdaya
Pikiran menerawang jauh karena hidup menjadi tidak bermakna

Adapun yang mendekat kepada ilmu dan akhlak mulia
Kharismah ruhaniah yang memancar abadi sepanjang masa
Amaliyah yang tergurat kuat dalam lembar kain sutra
Disulam dalam permadani dengan permata dan mutiara
Digurat dalam mushab dan kitab yang terjaga
Meski kini nafasnya tidak lagi memancar dari sumbernya
Namun kapan saja akan terpancarkan dalam setiap ronga dada
Asal tapak tilas itu diikuti dengan hati selamat dan terjaga
Bersih dari penyakit-penyakit manusiawi yang dapat mengotori matahati dan jiwa

Selamat jalan sang matahari zaman
Dengan segala kebahagiaan yang engkau dapatkan
Meski meningalkan duka-duka mendalam
Disini, di tanah-tanah yang engkau bajak selama ini
Semoga bibit yang engkau tanam
Tumbuh menjadi pohon rindang dan berbuah
Dalam setiap hamparan isi dada
Anak-anak asuh yang seakan baru terjaga
Terlena dari mimpi-mimpi panjang yang melalaikan
Padahal kami masih butuh air yang selama ini engkau kucurkan
Kehidupan yang telah membangkitkan kehidupan

(Yang Tenggelam dalam Baju Hitam)

KHOLIFAH BUMI 2 (Kelahiran Kedua)

Posted in ilmu thoriqoh, puisi dengan kaitan (tags) , on 20 Desember 2008 by malfiali

kholifah bumi 2

KELAHIRAN KEDUA

Supaya manusia menjadi Insan Kamil, menjadi manusia sempurna baik lahir maupun batin, sehingga mampu menduduki maqom Kholifah Bumi, maka manusia harus terlebih dahulu pernah mengalami kelahiran kedua. Kelahiran pertama merupakan kelahiran jasmani sedangkan kelahiran kedua adalah kelahiran ruhani. Yakni terbukanya matahati untuk menerima pancaran ‘nur makrifatullah’ sehingga manusia bisa terlepas dari kejumudan hatinya sendiri. Kelahiran kedua tersebut dalam arti, hakekat manusia yang disebut nismatul ‘adamiyah yang dibungkus dengan jismul mahsusah atau jasad kasar telah mendapatkan rahasia hidayah Alloh yang dipancarkan dari tempat perbendaharaannya. Itulah “Nur di atas Nur” yang disebut “nismatul ‘ubudiyah”. Dengan kelahiran kedua ini, maka ilmu dan iman manusia telah mampu menyinari perilakunya sendiri.

Itulah buah ibadah pertama yang dihasilkan oleh seorang salik di jalan Allah. Yaitu orang-orang berilmu dan beriman yang dengan kemauan sendiri selalu berusaha mencari tahu tentang jati dirinya dan Tuhannya. Apabila perjalanan tersebut mendapatkan petunjuk dan bimbingan yang benar, maka tahap pertama yang akan dihasilkan adalah mendapatkan futuh atau terbukanya matahati sehingga hatinya terbebas dari tipudaya nafsu dan keraguan pikir.

*******

Rongga dada orang berilmu dan beriman yang terkadang sempat menjadi sempit di saat menghadapi kesulitan hidup yang sedang menghimpit. Disebabkan karena ilmunya baru bisa dipakai berargumentasi dan mengajari orang untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan. Ilmu dan iman tersebut belum mampu menyinari hatinya sendiri, sehingga terkadang sempat menjadi bingung kehilangan pegangan, bahkan membutuhkan orang lain untuk menemukan solusi permasalahan hidup yang sedang membelenggu angan. Dengan kelahiran kedua ini mereka mampu menempuh jalan, memohon petunjuk kepada Allah untuk terbukanya pintu penyelesaian. Karena dengan kelahiran kedua tersebut berarti manusia telah menemukan sumber rahasia hidayah yang didatangkan dari alam kelanggengan. Pintu ghaib dalam hatinya sudah pernah terbuka meski hanya sekejap, namun dengan itu,—dengan izin Tuhanya, suatu saat orang tersebut dapat membukan kembali ketika membutuhkan.

kholifah

Terbukanya pintu ghaib dalam hati itu merupakan potensi hati yang harus digali oleh orang yang berilmu dan beriman. Merupakan sarana hubungan secara pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Orang berilmu dan beriman yang mendapatkan ‘futuh ilahiyat’ tersebut, sehingga setelah itu mereka mampu mengusir keraguan yang seringkali datang membelenggu hatinya sendiri, mereka itu berarti telah mengalami kelahiran kedua.

Ketika kelahiran kedua itu sudah dicapai, berarti orang tersebut bagaikan telah mendapatkan bibit unggul dalam hatinya sendiri. Selanjutnya mereka tidak boleh berdiam diri hanya sampai disitu saja. Mereka tidak boleh membiarkan bibit itu kembali menjadi mati, mereka harus menanam bibit itu dalam hatinya sendiri pula dengan melanjutkan perjalanan tiada henti.

Mereka harus meningkatkan mujahadah dan riyadhloh di jalan Allah, baik dengan dzikir maupun fikir, baik secara vertikal maupun horizontal. Dalam arti mampu meredam kehendak emosional dan rasional supaya kehendak spiritual dominan menyinari kehidupannya. Mujahadah dan riyadloh itu bahkan harus dilakukan terus-menerus sampai keraguan hati yang seringkali masih singgah dalam hati benar-benar telah menjelma menjadi keyakinan yang kuat. Allah memberikan sinyaleman hal tersebut dengan firmanNya:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ(62)الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ(63)لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (QS.Yunus;10/62-64)

kholifah 2

Jika kelahiran pertama untuk memulai kehidupan jasmani, maka kelahiran kedua adalah untuk memulai kehidupan ruhani. Sebagaimana awal kehidupan jasmani, manusia harus mengalami kelahiran yang kemudian dengan proses panjang menuju kedewasaan usia, maka seperti itu pula yang terjadi di dalam kehidupan ruhani. Untuk mencapai kematangan ruhani itu, disamping manusia harus mengalami proses kelahiran ruhani, juga mampu ditindaklanjuti dengan mujahadah dan riyadloh secara istiqomah sehingga matahati seorang hamba menjadi cemerlang dan tembus pandang atau firasatnya tajam.

Jika proses kelahiran yang pertama mengikuti sistem(sunnah) yang sudah diatur mutlak oleh kehendak Allah, kelahiran kedua tidaklah demikian. Kelahiran kedua ini harus diupayakan sendiri oleh manusia, yaitu dengan jalan memadukan ilmu, iman dan amal di dalam pelaksanaan jalan ibadah atau thoriqoh yang terbimbing oleh guru mursyid yang sejati. Orang beriman harus mampu mencapai kelahiran kedua tersebut, karena tanpa pernah dilahirkan dua kali di dunia, maka mereka belum dapat disebutkan sebagai manusia sempurna (Insan Kamil). Yang hidup hanya jasmani dengan segala instrumennya tapi matahatinya masih dalam keadaan buta: “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS.al-Hajj; 46).

Allah s.w.t telah menegaskan kelahiran kedua itu dengan firman-Nya:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan bukankah orang yang mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”.
(QS. al-An’am (6); 122).

Maksud dari “Orang yang mati” dalam ayat di atas adalah orang yang mati ruhaninya, bukan jasmaninya. Alasannya, karena ayat ini ditutup dengan kata-kata “kafir”: “Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”. Adapun sebab kematian ruhani itu karena nismatul adamiyah belum mendapatkan pancaran ruh nismatul ubudiyah sehingga matahati manusia masih dalam keadaan buta.

Ketika hati manusia sudah benar-benar dipancari nur iman, sehingga tidak ada lagi keraguan di dalamnya, maka hati yang asalnya mati itu menjadi hidup. Adapun awal dari kehidupan ruhani itulah yang dimaksudkan kelahiran yang kedua di alam dunia. Artinya, sejak saat itu berarti hati orang tersebut telah mendapatkan tambang “Nur Hidayah” dari Allah. Selanjutnya orang itu mendapat tugas untuk menyampaikan hidayah Allah tersebut kepada manusia yang lain – “Yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia”(QS (6); 122).

kkkk

Seperti saat kelahirannya jasad, proses kelahiran manusia itu harus dibidani oleh seorang bidan, kelahirannya ruhani itu juga demikian. Hal itu betujuan supaya proses kelahiran tersebut berjalan dengan sempurna. Maka yang dimaksudkan dengan tambahan “Nur Hidayah Dari Allah” itulah bidan yang membidani kelahiran kedua itu, yaitu nur rahasia (sirr) ibadah dari rahasia hasil bimbingan para guru-guru mursyid yang ditawasuli dan diikuti.

Maka tidak bisa tidak, jika manusia menghendaki jati dirinya hidup dan selanjutnya mendapatkan pancaran nur nismatul ubudiyah, nur tersebut harus mampu mereka dapatkan dari rahasia bimbingan seorang guru Mursyid sejati, kalau tidak maka yang akan menjadi bidan bagi kelahiran kedua tersebut adalah setan jin yang selalu mendampingi perjalanan. Hal tersebut sebagaimana yang terkandung dalam ungkapan Ulama ahlinya: “Barang siapa beramal tanpa guru maka gurunya adalah setan”.

Sebelum manusia dilahirkan untuk yang kedua kalinya di alam dunia, setiap manusia sejatinya sama, yaitu sama-sama terbelenggu di dalam kegelapan rongga dadanya: “Serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya”(QS (6); 122). Maksudnya, orang yang belum mengalami kelahiran kedua itu berarti matahatinya belum dapat digunakan untuk melihat dengan sempurna sehingga seringkali mereka tidak mampu menyikapi dan mencari jalan keluar dari permasalahan hidup yang sedang dihadapi dengan baik dan benar.

Kemanfaatan ilmu dan iman yang dimiliki hanya dapat digunakan untuk menyelesaikan urusan yang lahir saja tetapi tidak mampu menembus urusan yang batin. Hanya melihat keadaan tapi tidak mampu mempersiapkan kemungkinan. Hanya melihat sebab tanpa pernah memikirkan akibat. Hanya mampu melihat secara rasional tapi tidak mampu merasakan secara spiritual. Hanya melihat yang duniawi tapi tidak tembus kepada urusan yang ukhrowi. Hal itu bisa terjadi, karena mereka itu sesungguhnya hanya melihat dengan mata kepala (rasional) tapi matahatinya (spiritual) masih dalam keadaan buta: “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS. al-Hajj; 6).

Walhasil, barang siapa ingin mendapatkan kesempurnaan hidup, baik untuk di dunia maupun akhirat, maka jalan satu-satunya harus melaksanakan amaliyah yang istiqomah atau mengikuti jalan ibadah (thoriqoh) yang dibimbing oleh seorang guru mursyid sejati. Jika tidak, maka kita harus puas dengan keadaan yang kita alami seperti sekarang ini. Terbelenggu dalam kegelapan hati sendiri sehingga tidak mampu keluar untuk mencari solusi dan menemukan jalan penyelesaian, meski dari kesulitan hidup yang diakibatkan oleh perbuatan kita sendiri. (malfiali, Desember 2008)

KHOLIFAH BUMI 3 (Proses Kelahiran Kedua)

Posted in ilmu thoriqoh, puisi dengan kaitan (tags) , on 20 Desember 2008 by malfiali

kholifah 3

PROSES KELAHIRAN KEDUA

Datangnya kelahiran kedua ini diawali dengan klimaks di dalam perasaan seorang hamba yang tengah melaksanakan perjalanan ibadah yang diistiqomahkan. Antara sadar dan tidak sadar tetapi sadar:[(Ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputi - Penglihatan tidak berpaling dari yang dilihat dan tidak (pula) melampauinya - Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar (QS.an-Najm/16-18)], klimaks tersebut terjadi ketika intensitas dzikir dan fikir sedang berada pada puncak pencapaian. Pengembaraan ruhani sedang mencapai batas pendakian untuk memasuki tahapan maqom yang ada di depan sehingga perasaan menjadi lupa kepada alam dan keadaan. Disaat hati sedang pecah di hadapan yang dicari sehingga tidak ingat apa-apa lagi selain pertemuan yang diharapkan. Disaat seperti itu…., hampir-hampir putus asa karena sang salik sadar atas ketidakmampuan diri untuk melanjutkan perjalanan, menjadikan perasaan suka melayang seperti sampan yang terapung di tengah hempasan ombak lautan sehingga tidak lagi mengetahui ke arah yang mana perjalanan itu harus dilanjutkan.

Lalu perasaan seakan menemukan dataran yang hampa waktu tapi bukan udara. Bumi yang asalnya terang kini menjadi gelap gulita. Seakan matahari berganti sehingga yang semula siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Menjadi sendiri di dalam kesepian padahal sejatinya berada dalam kebersamaan. Selanjutnya, seketika ufuk hidup berangsur kembali terang karena fajar baru mulai menampakkan senyuman, maka hamparan kehidupan menunjukkan keaslian sehingga usia yang terlewati seakan telah menipu diri dalam perjalanan. Akhirnya, hati ingin menghentikan perjalanan, asa enggan meneruskan pengembaraan, karena takut mendapatkan kekecewaan yang bakal terulang.

kholifah

Dalam kondisi demikian, jika perjalanan seorang salik dilakukan sendiri dengan tanpa ada guru pembimbing yang menuntun tangan. Tidak mau mengulurkan tangan untuk memohon syafa’at sehingga tidak ada tangan yang menarik melepaskan diri dari pusaran. Maka seorang salik tidak mudah kembali ke alam sadar karena jalan telah tertutup dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Akibatnya, selamanya akan tenggelam di dalam ketidaktahuan. Seperti orang mabuk yang tidak kunjung sadar karena terlalu banyak minuman keras yang terlanjur tertelan di tenggorokan. Orang lain mengira dia gila karena kehidupan yang dijalani setelah itu menjadi tidak seimbang. Memang saat itu dia sedang gila, tapi bukan lantaran dunia, melainkan karena sedang kasmaran kepada yang dirindukan.

Terlebih ketika setan yang menjadi kawan karena perjalanan kosong dari penjagaan. Setan mendapatkan kemudahan masuk ke rongga dada manusia karena saat klimaks itu hati sedang tidak terjaga oleh rahasia bimbingan guru yang menempa. Setan kemudian suka meniupkan bisikan, yang benar dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar. Padahal manusia sadar bahwa datangnya bisikan itu dari setan, tetapi dirinya tidak kuasa lepas dari cengkraman, sehingga yang sedang bingung itu akhirnya semakin kehilangan pegangan. Kalau saat itu tidak ketulungan, setan jin yang menguasai isi dada tidak cepat-cepat dikeluarkan, maka bisa jadi orang tersebut menjadi gila beneran.

kholbunc2

Ketika hati dan pikiran telah diselamatkan dari kebingungan panjang, karena saat jiwa sedang terseret arus, ada tangan yang menarik melepaskan dari pusaran, maka matahari kembali memancarkan sinar karena kabut mendung telah tersingkapkan. Ketika matahari malam berangsur-angsur kembali berganti dengan matahari siang karena kesadaran yang seakan hilang itu kini muncul menyinari angan, maka perasaan bagaikan dilahirkan kembali di alam dunia. Itulah kelahiran kedua, kelahiran kehidupan ruhaniyah, sehingga di dalam hati saat itu terasa ada yang berbeda.

Adapun tangan yang menarik diri dari pusaran, itulah sirr (rahasia) yang membidani kelahiran. Adalah rahasia syafa’at yang didatangkan dari alam ghaib yang diturunkan di alam kenyataan, karena sang musafir jauh-jauh telah mengkondisikan, bertawassul kepada guru ruhaniyah selama dalam perjalanan sehingga perjalanan malam yang semestinya sepi terasa menggembirakan.

Hasilnya, kalau sebelumnya yang ada dalam harapan hanya keuntungan duniawi sehingga hidup terasa sempit tidak dapat dikembangkan. Kenikmatan hidup hanya mampu dinikmati sampai batas kematian yang ketika ajalnya datang tidak lagi dapat dimundurkan. Namun sekarang hidup menjadi terasa panjang, kenikmatan lebih terasa nyaman karena setelah kematian ada yang perlu dipersiapkan. Hati menjadi bergairah karena di alam barzah masih ada yang bisa diharapkan. Yaitu pertemuan hakiki yang diidamkan dengan para guru ruhaniyah karena pertemuan di alam dunia hanya terjadi dalam perasaan.

kholbunc3

Ketika dua matahari yang berbeda telah menyatu di dalam perasaan. Yang satu matahari akal dan yang satunya matahari hati sehingga yang asalnya bodoh menjadi mengerti dan faham, maka tumbuh pemahaman hati yang menyinari pandangan sehingga sinar mata mampu melipat kehidupan. Meski dunia memang selalu mengecewakan tapi hati mengerti itulah kenyataan. Karena kalau tidak demikian orang beriman enggan lagi meninggalkan yang melalaikan, sehingga angan tenggelam di dalam alam kefana’an yang mudah menjerumuskan orang ke dalam jurang kehancuran.

Itulah matahari keyakinan, ketika nurnya telah memancar di dalam rongga dada maka keraguan tidak lagi mendapatkan tempat untuk ambil bagian. Selanjutnya, meski hidup tidak pernah lepas dari rintangan dan tantangan, tapi hati tidak lagi ada kehawatiran dan ketakutan. Itulah hati orang yang mendapat hidayah sehingga iman mampu menumbuhkan keyakinan. Oleh karena di dalam rongga dada telah terbebas dari belenggu penyakit bawaan, maka matahati menjadi cemerlang dan tembus pandang. Sadar akan kelemahan diri dan kealpaan karena matahari hakiki telah memancarkan sinar kehidupan. Seperti dibangkitkan dalam kehidupan baru padahal di dunia lama karena matahari ruhani telah memancarkan sinar keabadian. (malfiali, Desember 2008)

PUISI – KEBANGKITAN HATI

Posted in puisi dengan kaitan (tags) on 15 Desember 2008 by malfiali

puisi

KEBANGKITAN HATI

Ada malam seribu bulan
Seperti malam Qadr

Seorang budak muda
Berlumuran dosa
Bagai pungguk rindukan bulan
Merindukan malam seribu bulan

Hanya bekal semangat
Tanpa ilmu tanpa amal
Menyusuri angan
Mengikuti kata hati

Ada desa dilewati
Ada kota dimasuki
Tidak tahu apa yang dicari

Adakah panasnya lapar
Adakah sakitnya haus
Ketika badan sendiri
Renungi diri
Angan sedang membayangkan
Putus asa atau mati

Tiba-tiba menjelma seberkas sinar
Mengajak pergi
Untuk temukan harapan
Si pungguk dapatkan bulan

Adakah malaikat yang datang
Atau peri yang baik hati
Ketika di dalam surau kecil
Bersama segelintir santri
Di pesantren terpencil
Di tengah hutan jati
Di malam-malam buta
Lewat mujahadah dan riyadloh
Dengan bimbingan Sang Kyai
Si budak muda
Telah bersandar dan temukan diri

Adakah hidayah atau ikhtiyari
Yang mampu menyuci
Asalnya najis manjadi bersih

Adakah dipilih atau memilih
Yang mampu merubah
Asalnya bodoh
Menjadi mengerti

2001

(malfiali, Desember 2008)

INDONESIAKU SAYANG INDONESIAKU MALANG

Posted in cerita, puisi dengan kaitan (tags) , on 28 November 2008 by malfiali

Aku Sayang Kamu

Kepada siapakah aku titipkan INDONESIAKU…….?

Apakah kepada REFORMASI ?
Siapakah dia itu ? Apakah sang pendatang yang telah mampu memenggal tangan-tangan besi sang penguasa yang sudah terlalu lama membungkam setiap suara dengan kursi dan rupiah, kadang juga dengan peluru dan penjara.
Ataukah kepada sang pembaru yang suka membuka suara dengan rupiah untuk sebuah kursi kuasa.

Apakah dia REFORMASI, ketika aku melihat rahasia yang bukan rahasia. Ketika di mana-mana bahkan membudaya, ada rupiah berbicara di kursi-kursi yang mulia melalui tangan-tangan rahasia untuk membangun tahta sang calon penguasa.
Tapi ternyata masih juga sama, aku tidak mampu berbuat apa-apa meski lima ribu suara setiap hari menjerit di jalan raya.

Oh Indonesiaku, pernah aku mencoba menitipkan kamu di sekolah dan madrasah agar anak didik tidak turun lagi di jalan raya.
Di bangku tingkat dasar, kepada guru-guru yang setia, aku mencari lagu Indonesia Raya, ternyata yang kutemui irama bendera hasil produk nusantara.

Adakah rupiah juga berbicara kepada guru-guru mulia dan kepala sekolah? Mengapa ada Pepsodent, mengapa ada Milo, membuka pasar dadakan di bangku sekolah, sehingga sang pahlawan tanpa jasa itu ternyata menjadi juragan pasar musiman dan bahkan agen-agen rahasia penerbit buku dan percetakan .

Adakah yang harus lebih dulu dibersihkan selain bangku sekolah, kalau tingkat dasar saja sudah menjadi cidera. Maka jangan kamu tanya lagi, ketika di jalan raya suara peluit petugas kadang di situ juga urusan selesai dengan rupiah.
Juga di rumah sakit dan kamar dokter, orang masuk sakit di dada keluar menjadi sakit kepala, karena harga obat mencekit leher dan menghimpit isi kepala.

Apalagi di kantor-kantor pemerintah, dimana uang siluman konon beredar di mana-mana, menjadi pelicin agar peluang kerja terbuka. Bahkan meski sang koruptor sudah difonis di pengadilan bersalah, namun mereka masih bebas ngantor kapan saja.

Oh Indonesiaku, betapa malang potret wajahmu, saat orang lain di luar sana menyebutmu Negara koruptor terbesar di dunia.

Tapi aku percaya masih ada anak negri ini orang yang tetap peduli dan setia, walau dia hanya sorang diri dan tidak punya kuasa.

Apakah kepada suara Gus Dur yang sementara kursinya sedang tersungkur ataukah Akbar Tanjung yang suaranya masih kabur. Atau kepada yang hanya mau bicara, walau dimana, asal ada rupiah. Apakah kepada yang suka beryanyi dan hura-hura, pamer budaya di hari merdeka, sehingga orang-orang lupa persoalan yang tengah mendera Bangsa.

Atau kepada wajah-wajah baru yang bermunculan bagai cendawan di musin hujan, mendongkrak citra diri dengan biaya tinggi, layaknya orang bermimpi menjadi pahlawan di siang hari, padahal belum tentu mengerti mau dibawa kemana negri tercinta ini.

Atau kepada serombongan partai yang baru dilahirkan, meski oleh induk semang yang sama tujuan, seperti orang bangun kesiangan, mengusap mata yang rabun dibuai harapan, bagaikan bis mencari penumpang dan sekaligus sopirnya di pinggir jalan, tidak peduli siapa asal punya uang.

Apakah kepada para Kiai yang mulia dan kharismatik, bak artis dan selebritis, marak gambarnya dipajang dimana-mana, dimanfaatkan mantan santri untuk mendulang suara menggapai tahta dan ambisi pribadi.

Atau kepada amuk massa yang suka membakar dan membantai maling jalanan, yang tertangkap basah sekedar nyopet uang recehan. Atau kepada revolusi sosial agar rumput-rumput nakal tercabut seakar-akarnya, meski kemudian kita juga ikut binasa ditelan masa.

Kadang aku ingin menitipkanmu kepada Tuhan. Tetapi aku juga ragu, apakah lonceng gereja atau beduk masjid dan musolla mampu tinggikan suara menyampaikan hasratnya.

Haruskah lewat istighotsah dan mujahadah yang terkadang juga masih berbau bendera. Kepentingan partai politik dan ambisi pribadi menjadi tujuan utama.
Atau dengan tangan lemah menengadah sendiri Panjatkan do’a

Wahai anak-anak negri tercinta
Jangan engkau terlena
Dimabuk harapan untuk menjadi penguasa
Lupa teman lupa lawan meski tidak punya sarana
Hingga sikut-sikutan menjadi tradisi dalam keluarga

Kita harus tetap waspada
Meski keadaan dalam kondisi ramah
Bisa jadi mata teroris mengintai menunggu cela
Menebus nyawa yang pergi meninggalkan duka

Ya Allah, Tuhan alam semesta…
Berikanlah hamba-hamba-Mu hidayah
Harus kepada siapa
Kami titipkan INDONESIAKU yang sedang dirundung duka

2002 – 2008

(malfiali, Nofember 2008)

PUISI – PERJALANAN SANG MUSAFIR

Posted in puisi dengan kaitan (tags) on 7 November 2008 by malfiali

sang musafir

PERJALANAN SANG MUSAFIR

Di depan ada sinar
Remang-remang aku ikuti
Kian hari semakin terang
Akhirnya aku menjadi tenggelam
Bahkan berlari kencang
Maka kutinggal jauh di belakang
Semua yang ada dalam genggaman tangan

Bumiku berganti
Matahariku redup
Tapi rembulanku memancar terang
Menembus mendung dan kabut
Semakin sepi malamku
Semakin aku temukan
Antara aku dan hatiku
Ternyata ada kasih dan Pengaturan

Kehendak-Mu memaksa
Kepada takdir-Mu
Langkahku yang lemah
Kadang tidak terarah
Tapi sorot mata-Mu yang tajam
Menyulut pelita di misykatku
Menggugah semangat
Menerbangkan impian

Kehendak-Mu memaksa
Kepada takdir-Mu
Matahariku yang redup
Berselubung duka
Tapi sorot mata-Mu yang tajam
Mencambuk tengkukku
Membakar tirai penutup Kebesaran

Kehendak-Mu memaksa
Kepada takdir-Mu
Telingaku yang tuli
Mataku yang buta
Tapi sorot mata-Mu yang tajam
Mencairkan kebekuan akal
Di tengah kesendirian
Kutemui kasih yang disediakan

Kini aku sendiri
Membaca signal
Kecil di dalam Besar-Mu
Fakir di dalam kaya-Mu
Mambawa obor
Menyulut lampu
Supaya laron-laron
Pulang ke kampung halaman

Ya Allah, Matahariku
Di sini
Di hati ini
Engkau penyulut tunggal
Agar obor itu tidak padam
Dengan sorot mata-Mu yang tajam
Pancarkanlah sumber minyaknya
Karena minyak itu juga minyak-Mu

1997
(malfiali, 7 Nofember 2008)

PUISI – GURU SEJATI

Posted in puisi dengan kaitan (tags) on 31 Oktober 2008 by malfiali

Guru Sejati

GURU SEJATI

Ada gugusan rindu membara
Adakah seteguk air yang telah engkau minumkan
Atau sebutir biji yang engkau tanam
Di dalam lubuk hati ini
Yang telah lama terlupakan dan gersang
Adakah setetes air hujan
Menjadikannya kembali hidup dan bersemi

Burung pipit tersenyum
Mengajak lari
Menyambut pagi
Aku bangun
Mencoba melangkah mengikuti
Tapi kaki enggan berdiri

Mentari bersinar cerah
Menembus sekat pintu
Membuka daun cendela
Tapi mata yang terlanjur rabun
Menjadi semakin buram

Kau datang guru
Dalam mimpiku di siang hari
Sinarmu kuat
Menarik tanganku
Kau datang lagi guru
Dalam mimpiku di siang hari
Bersama pasukanmu
Meratakan jalan
Menyingkirkan rintangan

Aku yang telanjang
Tuli, bisu, buta
Sendiri
Tertatih – tatih
Melangkah searah
Mengikuti isyaratmu

Adakah sinarmu,
Sinari aku ?
Adakah kuatmu,
Kuati aku ?
Aku bangun lagi
Melangkah semakin mendaki

Kau datang lagi guru
Saat aku rindui
Kini di depanku ada keretamu
Siap membawaku
Menuju maumu

1997 (tatkala rindu menghantui, datang sinar menarik tangan)

*)   Oleh karena ilmu, amal dan akhlak mulia para Guru sejati itu mampu menjadi penerang bagi kehidupan umat, maka dimana saja berada, mereka diterima dan diikuti sebagai pemimpin manusia yang multi guna.

Hal itu bisa terjadi, karena “Nur Cinta” disambut dengan cinta, sehingga melahirkan “nur cinta” lagi, itulah “Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki”.QS.an-Nur/24.

(malfiali, 1 Nofember 2008)

PUISI – DI BALIK KABUT

Posted in puisi dengan kaitan (tags) on 28 Oktober 2008 by malfiali

Di Balik Kabut

DI BALIK KABUT

Ada yang terluka parah
Jatuh, tertimpa jembatan kehidupan
Sendiri di dasar jurang kehinaan

Ada yang mabuk arak kehidupan
Berpelesiran terlena tidur dalam sadar
Terlena gelap dalam terang
Lalu menjadi bisu, tuli dan buta
Kemudian ……
Mati di dalam kehidupan

Aku
Terbelenggu hawa nafsu
Lupakan akal
Lupakan ilmu
Apalagi perasaan
Menjadi bangkai hidup
Hanya bayangan diri melangkah tanpa arah

Aku
Terluka tanpa rasa
Maka hilang cita
Terlena dalam mimpi

Saat bangkit benah – benah
Saat aku merasa
Aku mau kemana?
Saat aku rasa
Susu terasa tuba
Saat aku rasa
Anjing penjaga menjelma serigala
Maka aku
Menjadi manusia tanpa busana
Duduk tanpa singgasana
Berdiri telanjang kaki
Lalu menjelma
Menjadi aku yang terpaksa harus mencari siapa aku

Aku dengar
Ada orang mau mati bertanya
Di sana aku dengan siapa?
Hidup panjang tak ada sudah
Bagai samudera tanpa tepi
Ada gelombang
Ada badai
Ada lapar ada dahaga
Lalu aku berbekal apa?

Barangkali aku belum akan mati
Kalau mau mati
Biarkan sekarang saja
Kalau besok atau lusa
Bahkan kapan saja
Aku semakin takut
Malah menjadi lebih buruk lagi

Barangkali aku belum akan mati
Kalau mau mati
Mengapa hidup?

Hidup
Dan aku mengelana sendiri

Hidup bukan mati
Harus akui
Hidup mengikuti bayangan diri
Harus akui
Padahal bukan bayangan
Tapi sinar yang dipantulkan
Maka, hidup harus akui ada matahari

Aku terdiam sejenak
Kemudian benah-benah lagi
Semakin mendaki
Maka aku menjelma
Menjadi aku melepas baju

Aku mengelana lagi
Bahkan terbang tinggi
Dekat bintang
Dekat bulan
Dekat matahari
Aku terbakar……
Bayangan diri berganti
Kemudian lupa
Kepada sawah
Kepada ladang
Kepada bukit
Kepada jurang
Kepada pohon
Kepada burung
Bahkan kepada bintang
Dan juga kepada bulan
Yang ada hanya matahari membakar diri

Dan lupa lagi
Aku siapa?
Lupa lagi
Aku mau kemana?
Lupa lagi
Aku untuk apa?

Aku tidak peduli
Makin tinggi semakin mendaki
Berjalan mengabdi
Bisu, Buta, Tuli
Lalu lumpuh
Kemudian melebur dan menghilang
Tinggal matahari
Sesuka hati
Melepas rindu dan mamadu kasih

Ketika tabir malam disingkapkan dan fajar pagi menghampiri
Ternyata aku masih ada….
Bagai bangun dari tidur panjang
Dari mimpi di siang hari
Bahkan hidup lagi
Namun, meski kaki tangan masih sama
Ternyata bayangan telah berbeda
Karena hidup……
Maka aku mencari bumi lagi

Aku dengar guru berfatwa;
“Harus akui
bukan aku memilih
tapi hanya dipilih
tapi juga benar
harus akui
harus memulai memilih melangkah mengabdi
hanya untuk yang Memilih”

Aku dan matahari
Maka bumi terbentang di depan menjadi semakin luas
Melangkah
Menunggu titah
Sampai hari berganti
Aku dan matahari bersatu lagi

Aku dan matahari
Di depan mata
Sawah luas membentang
Benih di tangan harus ditanam

Wahai yang ada di hati
Datangkan angin-Mu
Membawa mendung
Menurunkan hujan
Agar tanahku menjadi subur
Dan benih yang ditanam
Tumbuh dan bersemi

Di bumiku yang baru
Aku mengelana lagi
Berlayar membawa beban
Memecah gelombang
Menebas badai
Menuju pulau harapan
Sampai kapan…….?
Sampai bumi berganti
Aku dan matahari bersatu lagi

1994, sebagian menyunting dari guratan seorang Guru yang ada di Probolinggo

(malfiali, 29 Oktober 2008)