SABAR, Kunci Pembuka Kota Mekkah
Allahu Akbar, 9X Allahu Akbar walillahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Peristiwa sejarah kemanusiaan yang dialami manusia utama yang diabadikan oleh zaman, menggambarkan betapa kuatnya iman seorang hamba dalam melaksanakan perintah Tuhannya, meski perintah itu dalam bentuk pengorbanan yang besar. Ketika orang beriman mampu melaksanakannya dengan SABAR, ternyata itu merupakan KUNCI RAHASIA untuk membuka pintu rahmat Allah bagi alam semesta. Adapun hikmah khusus dari peristiwa yang dimaksud, ternyata sabar tersebut seakan-akan menjadi pondasi bangunan yang kokoh ketika Allah berkehendak menghidupkan tanah Mekkah yang asalnya mati menjadi makmur penuh keberkahan yang melimpah. Kesabaran dalam menghadapi ujian hidup yang telah dilakukan oleh manusia panutan manusia itu, yakni Nabiyullah Ibrahim as beserta keluarganya, yang kejadiannya hari ini kita peringati dan rayakan, dalam khutbah ini akan kita bahas dalam dua tahap.
1. Pengorbanan Pertama:
Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Ketika Nabiyullah Ibrahim as melaksanakan perintah Allah untuk menempatkan sebagian anggota keluarganya, Siti Hajar dan Isma’il, salah satu Istri dan putranya yang saat itu masih dalam susuan Sang Ibu, di tanah tandus tanpa tumbuhan yang terpencil dan terasing, lalu ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim dengan bekal hidup yang pas-pasan. Ketika Nabi Ibrahim as hendak melangkahkan kaki untuk meninggalkan mereka berdua, Sang Istri bertanya: “Wahai Suamiku, apakah kami berdua akan engkau tinggalkan ditempat sepi ini ?. Nabi Ibrahim meneruskan langkahnya tanpa mampu menoleh dan juga tidak menjawab. Istrinya mengejar dan bertanya lagi, namun dengan sikap yang sama Sang Suami tetap meneruskan langkahnya. Akhirnya sambil berlari kecil Sang Istri bertanya lagi: “Wahai suamiku, apakah engkau diperintah Allah dalam hal ini?”. Baru Nabi Ibrahim as menjawab meski tetap tanpa menoleh, karena takut hatinya berubah sehingga tidak mampu melaksanakan perintah yang tidak logis itu: “Benar wahai Istriku, aku diperintah Allah untuk melakukan ini”.
Siti Hajar adalah seorang istri yang tabah, dia sudah mengenal dengan benar bahwa suaminya adalah seorang Nabi dan utusan Allah yang patuh dan tabah pula dalam melaksanakan perintah Tuhannya, dengan keyakinan yang kuat dia menjawab: “Wahai suamiku, jika ini adalah perintah Allah maka laksanakanlah, aku yakin Allah tidak akan menelantarkan kami berdua. Lalu Siti Hajar membalikkan badannya dan kembali ke tempat semula untuk mengikuti kehendak suami yang ditaati itu tanpa sedikitpun berprasangka buruk kepadanya, padahal dirinya bukan istri Nabi Ibrahim as satu-satunya. Siti Hajar kemudian tinggal berdua bersama putranya ditempat yang sepi dan terpencil itu dengan segala resiko kehidupan yang bisa terjadi, bertahan hidup entah sampai kapan dengan bekal makanan yang sangat terbatas.
Nabi Ibrahim as kemudian meneruskan perjalanan pulang ke Palastina, meninggalkan Istri dan Anaknya di tempat yang tidak ada kehidupan itu dalam penjagaan Allah. Ketika perjalanannya telah sampai di suatu tempat yang tidak mungkin dapat terlihat oleh Istrinya, Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah dengan do’a yang sangat mustajabah, bahkan diabadikan oleh-Nya di dalam kitab suci al-Qur’an al-Karim:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tumbuhan di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.(QS.Ibrahim/37)
Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Meskipun hati Siti Hajar yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak akan menelantarkan diri dan anaknya, namun melaksanakan keyakinan itu ternyata tidak segampang ketika diucapkan. Dia harus menghadapi penderitaan yang amat sangat, sampai-sampai nyawanya dan nyawa anaknya hampir-hampir direnggut oleh kematian.
Ketika bekal makanan yang dibawa dari rumah sudah habis dimakan, padahal air tidak mungkin bisa didapat ditempat yang kering itu, sedangkan anak yang digendongan menangis tiada henti minta disusui, padahal air susu sudah tidak keluar lagi karena perut sudah sekian lama tidak terisi, maka sang Ibu mencoba untuk mencari Air. Siti Hajar berlari-lari kecil antara dua bukit yang ada di sekitar tempat itu, bukit Shofa dan Marwa. Dari atas dua bukit tersebut dia melihat kesana-kemari, berharap dapat menemukan manusia yang bisa memberikan pertolongan, namun sampai 7X pulang pergi, hasilnya tetap nihil juga, Sang Ibu yang sedang mencari makanan untuk anaknya yang sedang kelaparan itu tidak menjumpai seorangpun yang bisa memberikan pertolonggan. Peristiwa ini diabadikan Allah dengan firman-Nya:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.(QS.al-Baqoroh/
Malaikat Jibril as berkata: “Wahai hamba Allah yang tabah, engkau jangan takut dan jangan kuwatir, Allah tidak akan menelantarkan kalian berdua. Di tempat ini nanti, anakmu itu dengan bapaknya akan membangun “baitullah”, sehingga tempat ini menjadi kota yang makmur dan penuh keberkahan Allah”. Lalu malaikat Jibril menancapkan sayapnya di tanah, dari lubang tanah itu kemudian Allah menciptakan sumber mata air yang tidak berhenti memancar sepanjang zaman, sumur Zamzam yang keberkahan airnya terbukti sampai sekarang. Artinya, sumur Zamzam yang abadi itu, yang setiap tahun keberkahan airnya ditunggu-tunggu oleh orang beriman dimana saja berada, sebagai oleh-oleh dari sanak saudaranya yang sedang melaksanakan ibadah Haji di tanah Haram, ternyata sumbernya dahulu digali dan ditemukan oleh semangat pengorbanan yang besar, mata airnya dipompa dengan air mata yang hampir kering dari seorang wanita yang mulia, istri yang sekaligus juga ibu dari dua manusia yang mulia pula, yaitu Istri Nabi Ibrahim as dan Ibu Nabi Isma’il as. Ini adalah peristiwa besar yang tidak boleh dilupakan oleh setiap hati yang beriman. Oleh karenanya peristiwa tersebut setiap saat diperingati dalam pelaksanaan Sa’i antara bukit Sofa dan Marwa baik dalam pelaksaan ibadah Haji maupun ibadah Umrah.
2. Pengorbanan Kedua
Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Ketika tempat yang semula sepi dan terpencil itu mulai rame dikunjungi dan dihuni manusia. Satu demi satu kafilah padang pasir singgah, karena ada sumber air kemudian mendirikan bangunan dan bahkan menetap di sana, maka tempat yang semula terasing itu beransur-ansur mulai dikenal manusia. Ketika nabi Ismail kecil sudah bertambah usia, sehingga mampu membantu keperluan Ibunya, datanglah Nabi Ibrahim di tengah mereka. Kedatangan itu bukan untuk berkumpul dengan keluarga sebagaimana layaknya orang hidup berkeluarga, tapi untuk melanjutkan proses sekenario besar, karena sudah saatnya Allah akan melaksanakan kehendak-Nya untuk mendirikan bangunan baitullah dengan segala keberkahannya melalui tangan-tangan tangguh dari keluarga orang-orang beriman yang kuat itu. Pada saat yang sudah ditentukan itu, Allah menguji hati Nabi Ibrahim dengan perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya Isma’il. Allah mengabadikan ujian besar itu dengan firman-Nya:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108)
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” – Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya) – Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim – sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik – Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. – Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. – Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.(QS.ash Shafaat/102-208)
Nabiyullah Ibrahim as dan putranya, Nabi Isma’il as, ternyata berhasil melampaui ujian besar tersebut dengan kesabaran yang perima, sehingga kematian Nabi Isma’il diganti dengan kematian binatang qurban yang besar. Dua peristiwa sejarah kemanusiaan itu kemudian diabadikan Allah dalam pelaksanaan manasik Haji, sehingga menjadi peringatan dan pelajaran berharga bagi umat Islam sampai akhir zaman. Hal tersebut membawa hikmah besar, ternyata keberhasilan hidup itu tidak diturunkan begitu saja dari langit tetapi harus diupayakan oleh manusia, bahkan dengan mengorbankan nyawa sekalipun. Ketika seorang hamba mampu melaksanakan segala titah Tuhannya dengan sabar, maka keberhasilan itu baru diturunkan dengan sempurna.
Ujian hidup itu dinyatakan Allah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya ini benar-benar merupakan suatu ujian yang nyata”.(QS.ash Shafaat/108). Artinya, keberhasilan hidup itu tidak terlepas dari porses ujian yang harus dijalani oleh manusia, itu merupakan sunnatullah yang tidak ada berubahan untuk selamanya, baik berlaku bagi orang-orang terdahulu maupun orang-orang kemudian, bahkan berlaku bagi kita semua. Meski ujian hidup tersebut tidak dengan perintah menyembelih anggota keluarga kita, tapi yang terjadi terkadang hakekatnya hampir sama. Semisal ketika kita sedang menghadapi salah satu anggota keluarga yang sakit keras, keluarga yang kita cintai itu sedang meregang nyawa karena sakit, hati orang beriman harus tetap tabah dan pasrah terhadap apa yang akan dikehendaki Allah kepadanya, mereka harus tetap yakin bahwa itu adalah yang terbaik baginya. Ujian hidup bagi orang beriman itu dinyatakan Allah dengan firman-Nya:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar – (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” – Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. Al-Baqoroh/155-157)
Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Kata kunci yang mampu menjadi pembuka pintu berhasilan bagi orang beriman untuk melaksanakan pengorbanan dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan menyelesaikan segala ujian hidup tersebut adalah SABAR, sabar artinya: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”, semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Apabila makna kalimat tersebut sudah menancap kuat dalam jiwa kita bahkan menjadi karakter atau kebiasaan yang mampu mendasari prilaku dan perbuatan kita, maka dengan izin-Nya kita akan mampu melewati segala tantangan dan ujian-ujian hidup yang berarti pula akan berhak menerima keberhasilan dan kenikmatan yang sudah disiapkan untuk kita sejak zaman azali.
Namun dengan sabar itu bukan berarti kita mendiamkan sampai mati dalam kondisi menderita anggota keluarga kita yang sakit tanpa upaya penyembuhan. Dengan sabar itu kita juga wajib berusaha untuk mengupayakan penyembuhannya, tentunya dengan cara pengobatan yang kita yakini, namun demikian hati kita harus siap, apapun yang akan dikehendaki Allah, kita harus yakin bahwa itu adalah yang terbaik bagi kita. Dengan yang demikian itu, maka nafsu dan akal kita tidak lepas control dan membabi buta dalam mengupayakan penyembuhan, hati kita tidak dihantui dengan kekhawatiran yang berlebihan dan yang lebih penting lagi dari itu, ketika jalan upaya penyembuhan itu mampu kita sandarkan kepada petunjuk dan hidayah Allah, maka ketika saatnya tiba, kesumbuhan itu akan didatangkan oleh-Nya dengan segala hikmah dan pahala yang dijanjikan. Inilah hikmah terbesar dari peringatan hari besar IDUL QURBAN yang sedang kita peringati hari ini.
Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Tradisi berkurban di Negri ini yang rupa-rupanya ada kecenderungan untuk berbalik arah, yang mestinya berkurban dengan kambing atau sapi, sebagian teman kita ternyata malah senang mengorbankan teman sendiri demi kepentingan pribadi, meskipun demikian, pada hari ini sebagian saudara-saudara seiman kita bahkan dari seluruh belahan bumi masih ada yang mampu melaksanakan pengorbanan besar itu, baik dengan harta maupun jiwanya. Mereka meninggalkan sanak saudara dan keluarga untuk melaksanakan panggilan suci guna menyempurnakan Rukun Islam, melaksanakan Ibadah Haji di Haromain dengan segala resiko yang bisa terjadi dalam perjalanan. Sebagian mereka bahkan ada yang berangkat dengan niat tidak kembali lagi, menyerahkan jiwa raga kepada penjagaan Ilahi Rabbi. Jika ibadah mereka itu diterima disisi Allah sehingga menjadi Haji yang Mabrul, maka tiada balasan yang pantas bagi mereka kecuali Surga.
Kita melihat fenomena ini setiap tahun, sudahkah hati kita mampu memetik hikmah darinya ?, dalam arti menancapkan semangat berkorban demi melaksanakan perintah Allah Ta’ala, bukan semangat mengorbankan teman sendiri untuk meraih harta dan tahta ? Jika belum, berarti masih ada yang harus dibenahi dalam hati kita. Penyakit macam apakah yang menjadikan hati kita keras melebihi batu sehingga tidak mampu mengambil pelajaran dari fenomena yang terang benderang ini. Semoga saja saudara-saudara kita yang pada tahun ini dan tahun sebelumnya telah mendapat kesempatan untuk melaksanakan pengorbanan itu dan mencicipi manisnya pahala yang dijanjikan mampu memetik hikmahnya, mereka selalu mampu melewati ujian hidup dengan hati SABAR sehingga benar-benar pantas mendapatkan surga yang dijanjikan itu, baik surga dunia dalam arti mencapai keberhasilan hidup, dan juga surga akhirat dalam arti mendapat kebahagian dan ridho Allah untuk selama-lamanya.
قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون : وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم .
وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين



