Arsip untuk Khutbah kategori

KHUTBAH IDUL QURBAN (SABAR, Kunci Pembuka Kota Mekkah)

Posted in Khutbah dengan kaitan (tags) on 23 November 2009 by malfiali

SABAR, Kunci Pembuka Kota Mekkah

Allahu Akbar, 9X Allahu Akbar walillahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah

Peristiwa sejarah kemanusiaan yang dialami manusia utama yang diabadikan oleh zaman, menggambarkan betapa kuatnya iman seorang hamba dalam melaksanakan perintah Tuhannya, meski perintah itu dalam bentuk pengorbanan yang besar. Ketika orang beriman mampu melaksanakannya dengan SABAR, ternyata itu merupakan KUNCI RAHASIA untuk membuka pintu rahmat Allah bagi alam semesta. Adapun hikmah khusus dari peristiwa yang dimaksud, ternyata sabar tersebut seakan-akan menjadi pondasi bangunan yang kokoh ketika Allah berkehendak menghidupkan tanah Mekkah yang asalnya mati menjadi makmur penuh keberkahan yang melimpah. Kesabaran dalam menghadapi ujian hidup yang telah dilakukan oleh manusia panutan manusia itu, yakni Nabiyullah Ibrahim as beserta keluarganya, yang kejadiannya hari ini kita peringati dan rayakan, dalam khutbah ini akan kita bahas dalam dua tahap.

1. Pengorbanan Pertama:

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Ketika Nabiyullah Ibrahim as melaksanakan perintah Allah untuk menempatkan sebagian anggota keluarganya, Siti Hajar dan Isma’il, salah satu Istri dan putranya yang saat itu masih dalam susuan Sang Ibu, di tanah tandus tanpa tumbuhan yang terpencil dan terasing, lalu ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim dengan bekal hidup yang pas-pasan. Ketika Nabi Ibrahim as hendak melangkahkan kaki untuk meninggalkan mereka berdua, Sang Istri bertanya: “Wahai Suamiku, apakah kami berdua akan engkau tinggalkan ditempat sepi ini ?. Nabi Ibrahim meneruskan langkahnya tanpa mampu menoleh dan juga tidak menjawab. Istrinya mengejar dan bertanya lagi, namun dengan sikap yang sama Sang Suami tetap meneruskan langkahnya. Akhirnya sambil berlari kecil Sang Istri bertanya lagi: “Wahai suamiku, apakah engkau diperintah Allah dalam hal ini?”. Baru Nabi Ibrahim as menjawab meski tetap tanpa menoleh, karena takut hatinya berubah sehingga tidak mampu melaksanakan perintah yang tidak logis itu: “Benar wahai Istriku, aku diperintah Allah untuk melakukan ini”.

Siti Hajar adalah seorang istri yang tabah, dia sudah mengenal dengan benar bahwa suaminya adalah seorang Nabi dan utusan Allah yang patuh dan tabah pula dalam melaksanakan perintah Tuhannya, dengan keyakinan yang kuat dia menjawab: “Wahai suamiku, jika ini adalah perintah Allah maka laksanakanlah, aku yakin Allah tidak akan menelantarkan kami berdua. Lalu Siti Hajar membalikkan badannya dan kembali ke tempat semula untuk mengikuti kehendak suami yang ditaati itu tanpa sedikitpun berprasangka buruk kepadanya, padahal dirinya bukan istri Nabi Ibrahim as satu-satunya. Siti Hajar kemudian tinggal berdua bersama putranya ditempat yang sepi dan terpencil itu dengan segala resiko kehidupan yang bisa terjadi, bertahan hidup entah sampai kapan dengan bekal makanan yang sangat terbatas.

Nabi Ibrahim as kemudian meneruskan perjalanan pulang ke Palastina, meninggalkan Istri dan Anaknya di tempat yang tidak ada kehidupan itu dalam penjagaan Allah. Ketika perjalanannya telah sampai di suatu tempat yang tidak mungkin dapat terlihat oleh Istrinya, Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah dengan do’a yang sangat mustajabah, bahkan diabadikan oleh-Nya di dalam kitab suci al-Qur’an al-Karim:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tumbuhan di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.(QS.Ibrahim/37)

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Meskipun hati Siti Hajar yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak akan menelantarkan diri dan anaknya, namun melaksanakan keyakinan itu ternyata tidak segampang ketika diucapkan. Dia harus menghadapi penderitaan yang amat sangat, sampai-sampai nyawanya dan nyawa anaknya hampir-hampir direnggut oleh kematian.

Ketika bekal makanan yang dibawa dari rumah sudah habis dimakan, padahal air tidak mungkin bisa didapat ditempat yang kering itu, sedangkan anak yang digendongan menangis tiada henti minta disusui, padahal air susu sudah tidak keluar lagi karena perut sudah sekian lama tidak terisi, maka sang Ibu mencoba untuk mencari Air. Siti Hajar berlari-lari kecil antara dua bukit yang ada di sekitar tempat itu, bukit Shofa dan Marwa. Dari atas dua bukit tersebut dia melihat kesana-kemari, berharap dapat menemukan manusia yang bisa memberikan pertolongan, namun sampai 7X pulang pergi, hasilnya tetap nihil juga, Sang Ibu yang sedang mencari makanan untuk anaknya yang sedang kelaparan itu tidak menjumpai seorangpun yang bisa memberikan pertolonggan. Peristiwa ini diabadikan Allah dengan firman-Nya:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.(QS.al-Baqoroh/

158)Ketika maut hampir merenggut dua hamba Allah yang tengah meregang nyawa itu, sang anak sudah tidak mampu menangis karena kehabisan daya untuk mengeluarkan suara, sang ibu tidak mampu lagi meneteskan air mata karena badannya sudah hampir kering karena kehabisan cairan, disaat yang sangat kritis itu Allah menurunkan pertolongan-Nya. Sayup-sayup Sang Ibu mendengar suara, dengan sisa kekuatan yang ada dan tanpa membuka pelupuk mata dia berkata: “Wahai yang memperdengarkan suara kepadaku, andai engkau mampu menolongku, tolonglah aku”. Ketika membuka matanya, reman-remang sang Ibu melihat seorang laki-laki berdiri dihadapannya. Itulah Malikat Jibril dalam sosok manusia yang diturunkan Allah dimuka bumi. Makhluk yang mulia itu bukan sekedar untuk menolong dua jiwa yang hampir mati itu, namun juga, berkat kesabaran mereka itu, Malaikat Jibril bahkan akan membuka pintu Rahmat Allah di tempat yang tandus itu, sekaligus sebagai peresmian dimulainya skenario besar, projek pembangunan kota Mekkah al-Mukarromah yang di dalamnya ada “Kakbah Baitullah”, tempat yang akan diziarahi orang beriman sepanjang zaman.

 

Malaikat Jibril as berkata: “Wahai hamba Allah yang tabah, engkau jangan takut dan jangan kuwatir, Allah tidak akan menelantarkan kalian berdua. Di tempat ini nanti, anakmu itu dengan bapaknya akan membangun “baitullah”, sehingga tempat ini menjadi kota yang makmur dan penuh keberkahan Allah”. Lalu malaikat Jibril menancapkan sayapnya di tanah, dari lubang tanah itu kemudian Allah menciptakan sumber mata air yang tidak berhenti memancar sepanjang zaman, sumur Zamzam yang keberkahan airnya terbukti sampai sekarang. Artinya, sumur Zamzam yang abadi itu, yang setiap tahun keberkahan airnya ditunggu-tunggu oleh orang beriman dimana saja berada, sebagai oleh-oleh dari sanak saudaranya yang sedang melaksanakan ibadah Haji di tanah Haram, ternyata sumbernya dahulu digali dan ditemukan oleh semangat pengorbanan yang besar, mata airnya dipompa dengan air mata yang hampir kering dari seorang wanita yang mulia, istri yang sekaligus juga ibu dari dua manusia yang mulia pula, yaitu Istri Nabi Ibrahim as dan Ibu Nabi Isma’il as. Ini adalah peristiwa besar yang tidak boleh dilupakan oleh setiap hati yang beriman. Oleh karenanya peristiwa tersebut setiap saat diperingati dalam pelaksanaan Sa’i antara bukit Sofa dan Marwa baik dalam pelaksaan ibadah Haji maupun ibadah Umrah.

2. Pengorbanan Kedua

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Ketika tempat yang semula sepi dan terpencil itu mulai rame dikunjungi dan dihuni manusia. Satu demi satu kafilah padang pasir singgah, karena ada sumber air kemudian mendirikan bangunan dan bahkan menetap di sana, maka tempat yang semula terasing itu beransur-ansur mulai dikenal manusia. Ketika nabi Ismail kecil sudah bertambah usia, sehingga mampu membantu keperluan Ibunya, datanglah Nabi Ibrahim di tengah mereka. Kedatangan itu bukan untuk berkumpul dengan keluarga sebagaimana layaknya orang hidup berkeluarga, tapi untuk melanjutkan proses sekenario besar, karena sudah saatnya Allah akan melaksanakan kehendak-Nya untuk mendirikan bangunan baitullah dengan segala keberkahannya melalui tangan-tangan tangguh dari keluarga orang-orang beriman yang kuat itu. Pada saat yang sudah ditentukan itu, Allah menguji hati Nabi Ibrahim dengan perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya Isma’il. Allah mengabadikan ujian besar itu dengan firman-Nya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108)

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” – Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya) – Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim – sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik – Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. – Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. – Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.(QS.ash Shafaat/102-208)

Nabiyullah Ibrahim as dan putranya, Nabi Isma’il as, ternyata berhasil melampaui ujian besar tersebut dengan kesabaran yang perima, sehingga kematian Nabi Isma’il diganti dengan kematian binatang qurban yang besar. Dua peristiwa sejarah kemanusiaan itu kemudian diabadikan Allah dalam pelaksanaan manasik Haji, sehingga menjadi peringatan dan pelajaran berharga bagi umat Islam sampai akhir zaman. Hal tersebut membawa hikmah besar, ternyata keberhasilan hidup itu tidak diturunkan begitu saja dari langit tetapi harus diupayakan oleh manusia, bahkan dengan mengorbankan nyawa sekalipun. Ketika seorang hamba mampu melaksanakan segala titah Tuhannya dengan sabar, maka keberhasilan itu baru diturunkan dengan sempurna.

Ujian hidup itu dinyatakan Allah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya ini benar-benar merupakan suatu ujian yang nyata”.(QS.ash Shafaat/108). Artinya, keberhasilan hidup itu tidak terlepas dari porses ujian yang harus dijalani oleh manusia, itu merupakan sunnatullah yang tidak ada berubahan untuk selamanya, baik berlaku bagi orang-orang terdahulu maupun orang-orang kemudian, bahkan berlaku bagi kita semua. Meski ujian hidup tersebut tidak dengan perintah menyembelih anggota keluarga kita, tapi yang terjadi terkadang hakekatnya hampir sama. Semisal ketika kita sedang menghadapi salah satu anggota keluarga yang sakit keras, keluarga yang kita cintai itu sedang meregang nyawa karena sakit, hati orang beriman harus tetap tabah dan pasrah terhadap apa yang akan dikehendaki Allah kepadanya, mereka harus tetap yakin bahwa itu adalah yang terbaik baginya. Ujian hidup bagi orang beriman itu dinyatakan Allah dengan firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar – (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” – Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. Al-Baqoroh/155-157)

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Kata kunci yang mampu menjadi pembuka pintu berhasilan bagi orang beriman untuk melaksanakan pengorbanan dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan menyelesaikan segala ujian hidup tersebut adalah SABAR, sabar artinya: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”, semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Apabila makna kalimat tersebut sudah menancap kuat dalam jiwa kita bahkan menjadi karakter atau kebiasaan yang mampu mendasari prilaku dan perbuatan kita, maka dengan izin-Nya kita akan mampu melewati segala tantangan dan ujian-ujian hidup yang berarti pula akan berhak menerima keberhasilan dan kenikmatan yang sudah disiapkan untuk kita sejak zaman azali.

Namun dengan sabar itu bukan berarti kita mendiamkan sampai mati dalam kondisi menderita anggota keluarga kita yang sakit tanpa upaya penyembuhan. Dengan sabar itu kita juga wajib berusaha untuk mengupayakan penyembuhannya, tentunya dengan cara pengobatan yang kita yakini, namun demikian hati kita harus siap, apapun yang akan dikehendaki Allah, kita harus yakin bahwa itu adalah yang terbaik bagi kita. Dengan yang demikian itu, maka nafsu dan akal kita tidak lepas control dan membabi buta dalam mengupayakan penyembuhan, hati kita tidak dihantui dengan kekhawatiran yang berlebihan dan yang lebih penting lagi dari itu, ketika jalan upaya penyembuhan itu mampu kita sandarkan kepada petunjuk dan hidayah Allah, maka ketika saatnya tiba, kesumbuhan itu akan didatangkan oleh-Nya dengan segala hikmah dan pahala yang dijanjikan. Inilah hikmah terbesar dari peringatan hari besar IDUL QURBAN yang sedang kita peringati hari ini.

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Tradisi berkurban di Negri ini yang rupa-rupanya ada kecenderungan untuk berbalik arah, yang mestinya berkurban dengan kambing atau sapi, sebagian teman kita ternyata malah senang mengorbankan teman sendiri demi kepentingan pribadi, meskipun demikian, pada hari ini sebagian saudara-saudara seiman kita bahkan dari seluruh belahan bumi masih ada yang mampu melaksanakan pengorbanan besar itu, baik dengan harta maupun jiwanya. Mereka meninggalkan sanak saudara dan keluarga untuk melaksanakan panggilan suci guna menyempurnakan Rukun Islam, melaksanakan Ibadah Haji di Haromain dengan segala resiko yang bisa terjadi dalam perjalanan. Sebagian mereka bahkan ada yang berangkat dengan niat tidak kembali lagi, menyerahkan jiwa raga kepada penjagaan Ilahi Rabbi. Jika ibadah mereka itu diterima disisi Allah sehingga menjadi Haji yang Mabrul, maka tiada balasan yang pantas bagi mereka kecuali Surga.

Kita melihat fenomena ini setiap tahun, sudahkah hati kita mampu memetik hikmah darinya ?, dalam arti menancapkan semangat berkorban demi melaksanakan perintah Allah Ta’ala, bukan semangat mengorbankan teman sendiri untuk meraih harta dan tahta ? Jika belum, berarti masih ada yang harus dibenahi dalam hati kita. Penyakit macam apakah yang menjadikan hati kita keras melebihi batu sehingga tidak mampu mengambil pelajaran dari fenomena yang terang benderang ini. Semoga saja saudara-saudara kita yang pada tahun ini dan tahun sebelumnya telah mendapat kesempatan untuk melaksanakan pengorbanan itu dan mencicipi manisnya pahala yang dijanjikan mampu memetik hikmahnya, mereka selalu mampu melewati ujian hidup dengan hati SABAR sehingga benar-benar pantas mendapatkan surga yang dijanjikan itu, baik surga dunia dalam arti mencapai keberhasilan hidup, dan juga surga akhirat dalam arti mendapat kebahagian dan ridho Allah untuk selama-lamanya.

قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون : وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم .
وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين

KHUTBAH IDUL FITRI 1430H/2009M

Posted in Khutbah dengan kaitan (tags) on 16 September 2009 by malfiali

Kartu Lebaran Web 2A

Khutbah I (kesatu)

بسم الله الرحمن الرحيم

الله أكبر –9
الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا . لااله إلا الله وحده . صدق وعده. ونصر عبده. وأعزجنده وهزم الأحزاب وحده . لااله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون

الحمد لله , الحمد لله رب العلمين , والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين, وعلى آله وصحبه حملة لواء الدين , وانجم الهداية للمقتدين والواصلين
اشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له الملك الحق المبين . واشهد أن محمد عبده ورسوله النور المبين والسراج المنيرخاتم النبيين.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله واصحبه وأزواجه وذرياته ومن تبعهم إلى يوم الدين

أما بعد : فيا إخوان الكرام , اتقوا الله تعالى فقد فاز المتقون.
قال الله تعالى في القران الكريم : قد أفلح من تزكى وذكر اسم ربه فصلى . بل تؤثرون الحياة الدنيا والآخرة خير وأبقى

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا(1)لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا(2)وَيَنْصُرَك

َ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا(3)هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd. Ma’a-syiral Muslimi-na Rahimakumulla-h.

Setelah orang-orang beriman menunaikan kuwajiban ibadah puasa selama tiga puluh hari penuh di bulan suci Ramadhan, setelah mereka menyempurnakan keberkahan bulan itu dengan ibadah tambahan, seperti shalat tarawih dan tadarus, dan setelah mereka menutup penghujung bulan itu dengan menunaikan shadaqoh dan zakat fitrah dengan ihlas sehingga diterima di sisi Allah dengan peneriman yang baik, maka pada tanggal 1 (satu) syawal anak Adam kembali kepada fitrahnya.

Hari ini idul fitri. Sejak kemarin sore hingga semalaman dan sampai fajar pagi, dari segala penjuru belahan bumi, kalimat takbir, tahmid dan tahlil dikumandangkan bersama-sama. Bertalu-talu menghentak rongga dada dan merontokkan isinya. Mengguncang suasana, memeras hati dan menguras air mata. Menghidupkan hati mati, menggugah yang malas, mengingatkan yang lupa. Sedih menjadi gembira, derita dan nestapa menjelma bahagia. Yang keras dan kasar menjadi lentur, dendam dan iri dilupakan, dosa dan salah dimaafkan. Semua itu melebur menjadi kenikmatan azali, menyatu mengikuti irama syahdu silih berganti. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd.

Sungguh Maha Besar Allah dengan segala ciptaan dan kekuasaan-Nya meski sekalipun tidak pernah ditakbirkan oleh siapa-siapa. Sungguh Allah tidak butuh dengan segala takbir itu. Akan tetapi di saat yang sangat bahagia ini agar Allah dirasa Besar di dalam dada hamba-Nya. Di dalam hati orang beriman yang telah melaksanakan tazkiyah sebulan penuh di bulan suci Ramadhan.

Dengan tazkiyah itu orang beriman membakar dosa dan kesalahan dengan api lapar dan dahaga. Menyepuh karakter yang berkarat dengan bara penyesalan dan taubatan nasuha. Memadamkan api amarah dan dendam dengan salju pengampunan. Mengosongkan rongga dada dari sifat sombong dan angkaramurka dengan tarawih dan tadarus malam. Selanjutnya, menjelang bulan Syawal (bulan peningkatan) tiba, di malam itu, mereka memancarkan kasih sayang dan pengampunan dengan shadaqah dan zakat fitrah.

Ketika hati telah menjadi putih bersih, kembali kepada fitrahnya, maka takbir disemaikan di dalamnya, agar Allah benar-benar Maha Besar di sana sehingga dunia dan isinya menjadi terasa kecil dan tidak mengusik lagi meski orang-orang beriman itu terpaksa harus bergelimang dengannya sepanjang tahun.

Paginya, di masjid yang mulia ini, dengan seluruh pemilikan yang ada, baik ucapan perbuatan maupun rasa, bersama seluruh keluarga dan handai taulan, hamba-hamba yang rindu kepada Junjungannya itu bersama-sama melebur menjadi satu. Larut dalam satu rasa dan nuansa. Menyatukan perasaan menghadap kepada-Nya untuk melahirkan kebesaran itu. Melahirkan rasa syukur, bahwa dengan Kebesaran itu, kali ini mereka mampu membesarkan-Nya.

Bahkan sejak sebulan penuh selama bulan Ramadhan. Dengan puasa maupun qiyamullail serta tadarusnya, mereka telah berusaha memasukkan Kebesaran itu di dalam hidupnya, di dalam jiwanya, dengan harapan, semoga yang sudah dilaksanakan itu diterima di sisi-Nya. Selanjutnya, semoga segala yang hina dimuliakan, segala yang rusak diperbaiki, segala yang kurang ditambahkan, yang sakit disembuhkan, yang sembuh disehatkan dan yang sehat dikuatkan demi Kebesaran-Nya yang abadi.

Itulah Idul Fitri, artinya kembali kepada Fitrah. Manusia telah kembali kepada asalnya, Kembali suci bersih, Kembali tidak punya dosa sehingga karakter mereka menjadi jernih. Karakter manusia telah kembali bersih dari hasut dan sombong, dari riya’ dan dengki sebagaimana pertama kali mereka dilahirkan oleh ibunya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd. Ma’a-syiral Muslimi-na Rahimakumulla-h.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mem¬persekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (QS.An-Nisa’(4);48).

Selain dosa syirik, terhadap orang-orang yang dikehendaki, Allah Maha Penerima taubat dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Rahmat Allah jauh lebih besar dibandingakan dosa-dosa hamba-Nya meskipun juga, tiada dosa kecilpun yang akan terlepas dari keadilan-Nya. Allah merasa sangat gembira kepada seorang hamba yang mau bertaubat. Allah bahkan lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya dibandingkan gembiranya orang yang menemukan untanya kembali setelah beberapa saat hilang. Unta itu pergi dengan membawa perbekalan makan dan minum di dalam perjalanan di kawasan yang tandus dan kering. Di saat musafir padang pasir itu beristirahat, diam-diam untanya meninggalkan dirinya dengan membawa seluruh perbekalan. Setelah dia mencari unta itu kesana kemari dengan susah payah dan tidak berhasil menemukan, dalam keadaan sangat lapar dan haus, dia berteduh di bawah pohon dengan penuh putus asa. Dia hanya dapat menunggu saat kematian datang sambil berbaring di atas akar pohon tersebut.

Dalam keadaaan seperti itu tiba-tiba unta yang dicari itu datang dengan seluruh perbekalan masih utuh. Lalu dia memegangi tali kekang unta itu sambil berkata dengan tanpa sadar atas kesangatan gembira yang dirasakan: “Ya Allah! Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu”. Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya dibandingkan kegembiraan orang tersebut. Rasulullah SAW meriwayatkan peristiwa itu denan sabdanya :

حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT lebih merasa gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kamu di saat di dalam perjalanan di kawasan tandus (kering kerontang). Ketika berhenti beristirahat kemudian untanya berjalan perlahan-perlahan meninggalkannya sambil membawa perbekalan makanan dan minuman. Setelah dia mencari kesana-kemari dengan susah payah kemudian bernaung di bawah keteduhan bayang-bayang pohon serta berbaring di atas pokok akar dengan penuh rasa putus asa, dalam keadaaan yang demikian kemudian dengan tiba-tiba unta yang dicarinya muncul di sisinya. Dia terus memegang tali unta itu. Kemudian berkata dengan tanpa sadar atas kesangatan gembira yang dirasakannya: “Ya Allah! Engkau hambaku dan aku tuhan-Mu”. Karena ingatannya diputus oleh rasa kegembiraannya.

1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Doa hadits nomor 5834.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Taubat hadits nomor 4932.(CD. al-Bayan)

Di dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda:

حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri RA berkata: Nabi SAW bersabda: Seorang lelaki dari kalangan ummat sebelum kamu telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang, lalu dia mencari seorang yang paling ‘alim di daerah itu. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang pendeta, dia datang menjumpai pendeta tersebut dan berkata: Aku telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang, adakah taubatku bisa diterima? Pendeta itu menjawab: Tidak. Mendengar jawaban seperti itu, langsung saja pendeta itu dibunuhnya, maka genaplah seratus orang yang telah dibunuhnya. Tanpa putus asa dia mencari lagi seseorang yang paling ‘alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang Ulama, dia menjumpai Ulama tersebut dan berkata: Aku telah membunuh sebanyak seratus orang. Adakah taubatku masih bisa diterima? Ulama itu menjawab: Ya! Siapakah yang dapat menghalangi kamu untuk bertaubat? Pergilah ke negeri si fulan, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan pulang ke negerimu, karena lingkungan di negerimu sangat jelek.

Lelaki itu berangkat menuju tempat yang ditunjukkan. Ketika berada di pertengahan perjalanan tiba-tiba dia mati, kematian itu menyebabkan Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab bertengkar. Malaikat Rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah, sedangkan Malaikat Azab berkata: Dia belum melakukan suatu kebaikanpun. Lalu Malaikat yang lain datang dalam keadaan ujud manusia dan melerai mereka sambil berkata: Ukurlah jarak di antara kedua tempat. Mana yang lebih dekat itulah tempatnya. Lantas mereka mengukurnya. Ternyata mereka dapati lelaki tersebut lebih dekat kepada negeri yang ditujunya. Akhirnya dia diambil oleh Malaikat Rahmat

1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Cerita-cerita Para Nabi hadits nomor 3211.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Taubat hadits nomor 4167.(CD.al-Bayan)

Taubat yang dilakukan seorang hamba harus dimulai dari hati. Orang yang bertaubat harus sadar akan dosa-dosa yang sudah diperbuat dan menyesali lalu ditindaklanjuti dengan amal sholeh. Dalam arti meninggalkan segala kejelekan yang pernah dilakukan dan menggantinya dengan amal ibadah dan pengabdian yang hakiki. Disamping itu, supaya taubat tersebut bisa dilaksanakan dengan benar, orang yang bertaubat harus mendapat bimbingan guru ahlinya. Hal itu diisyaratkan Nabi SAW dalam sabdanya di atas; “Laki-laki tersebut bertanya kepada orang-orang yang paling ‘alim di negerinya”.

Ketika taubat sudah dilakukan sunguh-sungguh, meski taubat itu baru dilakukan pada tahap awal. Bahkan sebelum orang yang bertaubat itu selesai melaksanakan taubatnya, orang itu mati di tengah perjalanan, ternyata taubatnya diterima di sisi Allah, padahal orang itu bertaubat dari dosa membunuh seratus orang. Itu menunjukkan, betapa rahmat Allah jauh lebih besar dibandingakan dosa-dosa hamba-Nya, namun tentunya, asal seorang hamba bersungguh-sungguh dalam melaksanakan taubat kepada-Nya.

Hadits tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi hamba Allah yang beriman. Tuntunan yang diajarkan Allah melalui rasul-Nya. Orang beriman tidak harus putus asa terhadap dosa-dosa yang sudah mereka perbuat. Sebesar apapun dosa itu, asal bukan dosa syirik, manakala mereka bersungguh-sungguh bertaubat, niscaya Allah akan mengampuninya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd. Ma’a-syiral Muslimi-na Rahimakumulla-h.

Berikut ini Kisah “Dahyah Al-Kalbi” salah satu raja suku bangsa Arab yang masuk islam di hadapan Baginda Nabi SAW dengan seluruh anggota keluarganya.

Diceritakan bahwa Rasulullah SAW menyukai Islamnya Dahyah al-Kalbi. Karena dia masuk islam bersama 600 anggota keluarganya di hadapan Nabi. Suatu saat Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah masukkanlah Dahyah al-Kalbi ke dalam Islam”. Saat Dahyah menginginkan masuk Islam Allah mewahyukannya kepada Nabi SAW setelah salat subuh. “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mengirimmu salam dan berfirman bahwa Dahyah akan menemuimu sekarang”.

Hati para sahabat diliputi rasa takut terhadap Dahyah pada masa Jahiliyah. Saat Sahabat mendengar berita tersebut, mereka tidak menginginkan Dahyah berada di tengah-tengah mereka. Rasulullah SAW mengetahuinya, beliau ingin menunjukkan kedudukan Dahyah. Rasulullah SAW tidak ingin bila Dahyah masuk Islam, lalu diperbincangkan dan dilemahkan hatinya. Karenanya, saat Dahyah masuk masjid, Nabi SAW mengangkat sorban dari punggungnya kemudian menghamparkan ke bumi dihadapannya sambil berkata, “Dahyah kemarilah”, Nabi SAW menunjuk kepada sorban itu.

Dahyah menangis melihat kemuliaan akhlak Rasulullah SAW tersebut. Dia mengangkat sorban Nabi, mencium dan meletakkan di atas kepala dan matanya. Dia berkata, “Apakah persyaratan masuk Islam? Terangkan kepadaku,” Rasulullah SAW bersabda, “Pertama kali hendaklah engkau membaca “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah”. Lalu Dahyah mengucapkan syahadat sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya, “Apakah arti tangisan ini padahal engkau telah dikaruniai Islam?” dia menjawab, “Sungguh aku telah melakukan dosa sangat besar, tanyakan kepada Tuhanmu apakah tebusannya? Bila Dia memerintahkan aku membunuh diriku, niscaya aku lakukan. Bila memerintahkan untuk mengeluarkan semua hartaku niscaya akan aku tunaikan”

Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kesalahanmu wahai Dahyah?” Dahyah menjawab. “Aku adalah salah seorang raja bangsa Arab dan aku tidak ingin anak-anak perempuanku bersuami, hingga aku telah membunuh 70 anak perempuanku dengan tanganku sendiri.” Nabi SAW bingung mendengar cerita itu sehingga malaikat Jibril turun dan berkata: “Wahai Muhammad, sungguh Allah telah mengucapkan salam buatmu dan berkata kepada Dahyah, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, ketika engkau mengatakan ”Tiada Tuhan selain Allah,” Aku telah mengampuni dosa kafir dan kejahatanmu selama 60 tahun, bagaimana Aku tidak mengampuni dosamu yang akibat membunuh anak-anakmu itu ? “

Nabi SAW dan para sahabat menangis. Nabi SAW bersabda: “Ya Allah, Engkau telah mengampuni Dahyah yang telah membunuh 70 anaknya sendiri dengan hanya membaca syahadat sekali, maka bagaimana Engkau tidak mengampuni dosa orang-orang beriman yang setiap hari membaca syahadat dan berkata benar serta ikhlas. ( Hikayat Ash-Shufiyah. Muhammad Abu al-Yusr Abidin)

Dosa Dahyah adalah dosa yang dilakukan sebelum Islam. Meski dengan kejahatan selama 60 tahun, dosa tersebut dapat terhapus hanya dengan sekali membaca dua kalimat syahadat. Berbeda dengan dosa yang dilakukan oleh orang beriman, terlebih jika mereka sengaja melakukannya. Dosa yang sengaja dilakukan itu tidak cukup dapat dihapus dengan membaca kalimat syahadat saja, meski dua kalimat syahadat itu dibaca berulang-ulang pada setiap mereka melaksanakan sholat. Dosa tersebut harus ditaubati dengan sungguh-sungguh, sampai Allah benar-benar mengampuninya. Namun demikian orang beriman tidak boleh putus asa terhadap rahmat Allah, meskipun dosanya lebih besar dari gunung Uhud, rahmat Allah jauh lebih besar lagi. Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang(QS.Az-Zumar(39);53).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walilla-hil hamd. Ma’a-syiral Muslimi-na Rahimakumulla-h.

Bulan suci Ramadhan dengan segala keutamaannya, baik rahmat, magfirah dan kebebasan dari neraka, hendaknya dapat kita jadikan momentum. Dengan ibadah utama itu menjadikan dosa-dosa orang beriman diampuni sehingga mereka menjadi orang yang bertakwa. Dalam kaitan ini maka kita bisa menambil kesimpulan: Yang dimaksud Hari Idul Fitri bukan hanya dengan memakai pakaian baru, makan yang baik-baik, memakai perhiasan yang indah-indah, bersenang-senang dengan keni’matan dan memperturutkan nafsu syahwat. Idul Fitri adalah menampakkan tanda diterimanya ta’at, dihapusnya dosa dan kesalahan, digantinya kejelekan dengan kebaikan, melahirkan kegembiraan dengan diangkatnya tingkat derajat dan kemulyaan di sisi Allah Ta’ala, lapangnya dada dengan Nur iman dan Ma’rifatullah, tenangnya hati dengan yakin dan dengan apa lagi yang munculnya oleh tanda-tanda yang lain, yakni memancarnya samudera ilmu dari hati melalui lisan dan ucapan berupa untaian kata-kata bijak dan kata-kata mutiara serta puisi dan sastra.

Hal tersebut sebagaimana yang pernah terjadi dari peristiwa seorang laki-laki ketika bertamu ke Rumah kediaman Imam Ali RA. pada hari Id. Dijumpainya Imam Ali RA. sedang makan tepung gandum kasar. Laki-laki itu bertanya: Hari ini adalah hari raya, mengapa Anda makan tepung gandum yang kasar ini?. Imam Ali RA. menjawab: Hari raya Idul Fitri adalah hari raya bagi orang yang puasanya diterima di sisi Allah, perjuangannya di sampaikan dan dosanya diampuni. Maka hari ini bagi kita hari raya, besuk juga hari raya, dan setiap hari dimana kita tidak berbuat ma’shiat berarti hari raya. Maka sayogyanya bagi orang berakal tidak memandang hari raya Id dengan pandangan dan penilaian yang lahir saja, tetapi juga yang batin dengan kaca mata tafakkur dan i’tibar. (Al-Ghunyah. 2/22)

قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون : لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم . ثم رددناه أسفل سافلين . إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات فلهم أجر غير ممنون

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم

وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين

Khutbah II (kedua)

الله أكبر –9 الله أكبر ولله الحمد

الحمد لله , الحمد لله الذى جعل الدين رباطا متينا بين قلوب المؤمنين . وامربالاتحاد والتعاون ونهى عن التفرق والتنازع فى كتابه المبين

اشهد أن لا اله إلا الله القوى المتين . واشهد أن محمد عبده ورسوله ذوالقلب الرحيم والخلق العظيم وسيد الأنبياء والمرسلين

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وأزواجه وذرياته الذين طابت نفوسهم وصغت قلوبهم فكانوا هم السادة المنصورين

أما بعد : فيا إخوان الكرام , اتقوا الله تعالى فقد فاز المتقون
قال الله تعالى : لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ(4)ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ(5)إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ(6)

وقال أيضا : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم وبارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما باركت على سيدنا إبرهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد.

اللهم ارضى عن الخلفاء الراشدين امراء المؤمنين سادتنا أبي بكر وعمر وعثمان وعلي رضي الله عنهم وعن بقية الصحابت أجمعين وعنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين .
اللهم إغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحيآء منهم والأموات . إنك سميع قريب مجيب الدعوات وقاضي الحاجات

اللهم كما أنعمت علينا بالاسلام فزدنا منه ……..
اللهم حسن إيماننا بالتوفيق وزين سرائرن بالتحقيق
ربنا آتنا فى الدنيا حسنة ………

عباد الله , إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فأذكروا الله أذكركم وأشكروه على نعمه يزدكم وأسئلوه من فضله يؤتكم . ولذكرالله أكبر

Kartu Lebaran Web

KHUTBAH IDUL FITRI

Posted in Khutbah dengan kaitan (tags) on 26 September 2008 by malfiali

Judul, APAKAH KITA SUDAH IDUL FITRI

al-fitrah-idul-fitri

al-fitrah-idul-fitri

بسم الله الرحمن الرحيم

الله أكبر –9

الله أكبر كبيرا  والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة   واصيلا . لااله إلا الله وحده . صدق وعده.  ونصر عبده. وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده . لااله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين  ولو كره الكافرون .

الحمد لله , الحمد لله رب العلمين , والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين , وعلى آله وصحبه حملة لواء الدين , وانجم الهداية للمقتدين والواصلين

اشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له الملك الحق المبين . واشهد أن محمد عبده ورسوله النور المبين والسراج المنيرخاتم النبيين.

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله واصحبه وأزواجه وذرياته ومن تبعهم إلى يوم الدين .

أما بعد  : فيا إخوان الكرام  ,  اتقوا الله تعالى  فقد فاز المتقون.

قال الله تعالى في القران الكريم  : وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Allahu Akbar 3 x Allahu Akbar walillahil hamd
Jamaah Shalat Id Rohimakumullah

Setelah orang beriman menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, setelah mereka melaksanakan shalat tarawih dan tadarus selama satu bulan penuh, setelah mereka menunaikan zakat fitrah dan shadaqah dengan sempurna, dan setelah ibadah-ibadah utama itu diterima di sisi Allah, maka jiwa anak Adam akan kembali kepada fitrahnya. Idul Fitri.

Hari ini, sejak kemarin sore hingga semalaman dan sampai fajar pagi, kalimat takbir, tahmid dan tahlil dikumandangkan dari segala penjuru belahan bumi. Bertalu-talu menghentak dada dan merontokkan isinya. Mengguncang suasana, memeras hati dan menguras air mata. Ungkapan rasa syukur yang mampu menghidupkan hati mati, menggugah jiwa malas, membangkitkan cita dan asa. Maka sedih menjadi gembira, derita menjadi bahagia. Hati yang keras dan kasar menjadi lentur, dendam dan iri yang terlanjur terselip dalam catatan hidup dilenyapkan, dosa dan salah yang terkadang menyesakkan rongga dada dihapuskan. Semuanya telah melebur menjadi kenikmatan azali, berputar dalam satu poros dan menyatu mengikuti irama syahdu silih berganti. Allahu Akbar x3 Allahu Akbar Walillahil hamd.

Sungguh Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya meski seandainya kebesaran itu tidak pernah ditakbirkan oleh siapapun. Sungguh Allah tidak butuh dengan takbir-takbir itu, akan tetapi dimaksudkan, di hari kemenangan ini supaya Allah dirasa Besar di dalam dada orang-orang beriman. Di dalam hati orang yang telah melaksanakan tazkiyah sebulan penuh di bulan suci Ramadhan.

Dengan tazkiyah itu orang-orang beriman membakar dosa dengan api lapar dan panasnya dahaga. Menyepuh karakter dan merontokkan karat hati dengan bara penyesalan. Memadamkan api amarah dan dendam dengan siraman air kasih sayang. Mengosongkan rongga dada dari sifat sombong dan angkaramurka dengan halalbihalal dan keihlasan. Selanjutnya, ketika menjelang bulan Syawal tiba, di malam takbir itu mereka memancarkan kasih sayang dengan shadaqah dan zakat fitrah.

Ketika hati telah menjadi putih bersih. Ketika jiwa telah kembali kepada fitrahnya, maka takbir disemaikan di dalamnya. Dengan itu supaya Allah benar-benar terasa besar di hati mereka sehingga dunia dan isinya menjadi kecil. Kehidupan yang melalaikan itu tidak akan mengusik mereka lagi meski orang-orang beriman itu harus selalu bergelimang dengannya.

Paginya, di masjid-masjid yang mulia ini, dengan seluruh yang mereka miliki, baik ucapan, perbuatan maupun rasa, bersama seluruh keluarga dan handai taulan, hamba-hamba yang sedang rindu Junjungannya itu melebur menjadi satu. Mereka larut dalam satu rasa dan nuansa, menyatukan perasaan menghadap kepada Dzat yang Maha Pencipta untuk melahirkan kebesaran itu. Melahirkan rasa syukur, bahwa dengan Kebesaran itu kali ini mereka mampu membesarkan-Nya. Selanjutnya, semoga segala yang hina dimuliakan, segala yang rusak diperbaiki, segala yang kurang ditambahkan, yang sakit disembuhkan, yang sembuh disehatkan dan yang sehat dikuatkan demi Kebesaran-Nya yang abadi. Itulah Idul Fitri, kembali kepada Fitrah. Kembali kepada asalnya, Kembali suci bersih, Kembali tidak punya dosa sehingga karakter menjadi jernih. Kembali seperti pertama kali dilahirkan oleh ibunya.

Allahu Akbar 3 x Allahu Akbar walillahil hamd
Jamaah Shalat Id Rohimakumullah

Diilhami oleh sebuah peristiwa, sekitar tahun 1970-an, ketika khotib saat itu menjadi salah satu anggota remaja Musholla di kampung. Di bulan suci Ramadhan pada malam-malam ganjil, tepatnya pada malam dua puluh tujuh. Salah satu kegiatan remaja musolla saat itu melaksanakan Ro’an, yakni kerja bakti membersihkan Musholla. Kira-kira jam dua malam, saat teman-teman yang lain sudah tertidur dengan pulas, salah satu anggota ada yang masih sibuk membersihkan kamar mandi.

Awalnya teman ini termasuk orang yang agak terbelakang dibanding anggota yang lain. Disamping paling jarang mengikuti pengajian, dia juga enggan mengikuti kegiatan mujahadah malam. Dia lebih senang memilih bekerja di bagian yang kasar seperti di kebersihan. Di bagian kebersihanpun dia selalu memilih mengerjakan pekerjaan yang tidak disenangi orang yang lain. Seperti membersihkan kamar mandi yang terkadang hanya setahun sekali dibersihkan, sebagaimana  yang sedang dia kerjakan saat itu.

Paginya setelah shalat subuh dia bercerita kepada khotib. Tadi malam di saat dia sedang menggosok lantai kamar mandi itu, terjadi peristiwa yang menurutnya sangat mengherankan. Tanpa sebab-sebab yang diketahui, sekujur badannya mendadak gemetar, dadanya bergetar dan tanpa dapat ditahan air matanya mengalir dan menangis dengan sendirinya. Dia berpikir barangkali ini tanda-tandanya mendapatkan Lailatul Qodar.

Disamping peristiwa tersebut, ternyata masih ada yang lebih istimewa, karena sejak kejadian itu, terjadi banyak perubahan di dalam perilaku kehidupannya. Yang dahulu asalnya orang yang malas mengikuti pengajian, sekarang dia malah menjadi paling aktif. Yang asalnya jarang mengikuti kegiatan mujahadah, sekarang justru menjadi penggeraknya. Dia tampak lebih tekun membaca dan belajar, lebih aktif mengerjakan puasa sunnah dan sholat malam. Yang lebih istimewa lagi, yang asalnya paling bodoh, dalam waktu relatif singkat menjadi orang yang paling pandai di antara teman-teman yang lain.

Allahu Akbar 3 x Allahu Akbar walillahil hamd
Jamaah Shalat Id Rohimakumullah

Di bulan suci Ramadhan orang beriman memang harus bersungguh-sungguh mendapatkan Lailatul Qodar itu. Kalau tidak, barangkali mereka tidak akan mendapatkan apa-apa lagi kecuali hanya dosa. Sebabnya, kalau kita mau berhitung, satu hari dalam dua puluh empat jam saja, kira-kira banyak mana dosa dan pahala yang kita dapatkan, jika kita jujur, niscaya banyak dosa. Padahal jika dosa-dosa itu tidak mendapatkan ampunan Allah, maka dapat dipastikan siksa neraka akan menjemput kita. Kita berlindung kepada Allah s.w.t dari siksa dan murka-Nya. Untuk tujuan tersebut Ramadhan dan Lailatul Qodar diadakan setiap tahun, di samping menjadi sarana latihan (riyadlah) yang efektif untuk meningkatkan derajat iman menjadi takwa, juga dimaksudkan agar terjadi keseimbangan dalam kehidupan orang beriman. Maksudnya, dosa-dosa yang terkadang tidak mampu dihindari selama setahun penuh atau bahkan sengaja diperbuat, pada bulan penuh berkah itu mampu dibersihkan kembali. Sehingga selepas Ramadhan mereka dapat bertemu dengan Idul Fitri dalam keadaan benar-benar kembali kepada fitrah.

Apabila di dalam bulan suci Ramadhan orang beriman berhasil mendapatkan Lailatul Qodar, terlebih tidak hanya sekali dalam kesempatan hidupnya, maka seharusnya mereka tidak sekedar mendapatkan pahala yang melebihi ibadah seribu bulan saja, namun juga bahkan jauh lebih baik dari itu, mereka akan mendapatkan perbaikan hidup dan pendewasaan jiwa. Sebabnya, dengan Ramadhan dan Lalilatul Qodar itu, karakter-karakter jelek manusiawi, baik secara fitrah maupun bentukan dan tapak tilas perbuatan maksiat dan dosa akan diganti Allah menjadi kebaikan hakiki.

Apabila bekas-bekas dosa yang selama ini menempel bagai karat di dinding hati dan terkadang sempat teraktualisasikan dalam bentuk perbuatan dan sifat yang tidak terpuji, seperti iri, dengki maupun hasut misalnya, telah terhapuskan hingga bersih, maka matahati manusia akan menjadi lebih cemerlang dan tembus pandang. Iman dan takwa mereka menjadi kian menguat dan menumbuhkan keyakinan hati yang dapat mengusir keraguan. Dengan begitu berarti manusia akan mendapatkan kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat untuk selama-lamanya. Allah s.w.t telah menyatakan perubahan itu dengan firman-Nya:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Furqon; 25/70)

Allahu Akbar 3 x Allahu Akbar walillahil hamd
Jamaah Shalat Id Rohimakumullah

Di alam ruh, sebelum proses kejadian manusia terbentuk di alam rahim. Pada saat itu manusia pernah bersaksi di hadapan Allah: “bahwa Allah adalah Tuhannya”, artinya, saat itu kondisi ma’rifat manusia kepada Tuhannya dalam keadaan puncak.  Itulah hakekat fitrah manusia, artinya, sebelum manusia mendapat apa-apa, ternyata Allah telah menganugerahkan ma’rifatullah kepadanya. Selanjutnya, dalam proses penciptaannya di dalam rahim seorang ibu, apabila ma’rifatullah itu terjaga sampai saat kelahirannya tiba, maka dalam puncak pengenalan itulah manusia dilahirkan di dunia. Rasulullah s.a.w menegaskan hal tersebut dengan sabdanya:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Setiap yang dilahirkan itu dilahirkan dalam kondisi Fitrah”

Ketika fitrah anak manusia belum terkontaminasi oleh penyakit-penyakit basyariah, belum dicemari dosa-dosa dan sifat-sifat yang tidak terpuji, berarti matahati manusia belum ditutupi oleh hijab-hijab basyariah. Saat itulah matahati mereka dalam kondisi puncak cemerlang. Seperti itulah kondisi seorang bayi yang baru dilahirkan, bayi yang belum mampu berkomunikasi dengan manusia, terkadang malah dapat bersenda gurau dengan makhluk-makhluk gaib. Bahkan dengan tangisnya dapat memberi peringatan kepada orang tuanya terhadap bahaya yang sedang mengancam. Ada pencuri yang sedang berusaha memasuki rumahnya misalnya

Namun demikian, fitrah manusia itu sedikit demi sedikit bisa menjadi rusak, hal itu diakibatkan oleh dampak kehidupan mereka sendiri, yakni ketika intensitas kehendak nafsu syahwat kian meningkat, mengalahkan akal dan hatinya, maka fithrah yang suci itu akan tercemari. Artinya, semakin manusia cenderung mengikuti nafsu syahwatnya, maka fitrah itu semakin rusak. Dan ketika manusia sudah menjadi budak hawa nafsunya sendiri, maka matahati mereka menjadi buta dan mati. Allah s.w.t berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ(4)ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ(5)إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ(6)

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya(5)Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (6)Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. (QS. at-Tiin; 95/4-6)

Penciptaan manusia di dalam sebaik-baik bentuk, baik bentuk lahir maupun batin, sehingga saat itu manusia merupakan makhluk yang paling sempurna, bahkan lebih sempurna dari malaikat. Namun demikian, keadaan itu bisa berubah sehingga manusia menjadi makhluk yang paling hina bahkan lebih hina dari binatang ternak, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Kepada orang yang beriman dan beramal shaleh itu Allah akan memberikan pahala yang tiada putus-putus, sehingga dengan pahala itu fitrah manusia tetap dalam keadaan sebaik-baiknya ciptaan.

Di antara manusia sebagai makhluk terbaik itu ternyata ada yang telah disiapkan menjadi isi neraka jahanam. Mereka itu adalah orang yang mempunyai perasaan, pendengaran dan penglihatan namun tidak digunakan untuk mengabdi kepada Penciptanya, bahkan hanya dipergunakan untuk memperturutkan hawa nafsu belaka. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Allah menyatakan hal itu dengan firmanNya (QS. al-A’raaf/179)

Dengan melaksanakan dzikir kepada Allah secara terus-menerus melalui ibadah puasa dan ibadah yang lain, baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan, akan menjadikan seorang hamba dekat dengan Tuhannya. Itulah yang dimaksud amal shaleh yang dapat menjadikan fitrahnya kembali kepada kedudukan semula;  Idul Fitri.

Oleh karena itu, selepas bulan suci Ramadhan harus ada perubahan dalam diri orang beriman, baik perbuatan, sifat maupun karakter. Mengapa demikian, karena hanya perubahan itu yang dapat menjadi tanda-tanda, apakah perjalanan mereka di bulan suci menghasilkan Idul Fitri. Perubahan tersebut disebabkan adanya buah yang ditinggalkan Ramadhan dan Lailatul Qodar yang bersemayam di dalam hati. Buah ibadah itu berupa pemahaman hati akan urusan Ilahiyah (ma’rifatullah) dan akhlakul karimah, yang hakekatnya berupa Nur yang datangnya dari rahasia urusan Ilahiyah. Ketika Nur itu telah menerangi rongga dada manusia, selanjutnya nur itu akan menerangi alam sekitarnya melalui perilaku keseharian dan sorot wajah mereka yang membawa kesejukan. Manakala yang demikian itu telah terwujud, maka berarti orang tersebut mendapatkan Idul Fitri yang hakiki.

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ العَاءِدِيْنَ الفَاءِزِيْنَ السَّائِلِيْنَ الغَانِمِيْنَ , وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ . اَعُوْذُ بِللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم .

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ(4)ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ(5)إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ(6)

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Siapa saja boleh meng-copy tek khutbah ini, baik sekedar untuk koleksi pribadi maupun untuk khutbah yang sama. malfiali