Arsip untuk Hikam kategori

Dosa Terakhir (part – 3)

Posted in Hikam, Taubat dengan kaitan (tags) , on 11 September 2009 by malfiali

DOSA YANG DIAMPUNI BAGI ORANG YANG BERTAUBAT:

Firman Allah di atas (QS.An-Nisa’(4); 112) yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. Terhadap dosa selain syirik, dosa besar yang bagaimanapun, jika Allah menghendaki, pasti akan diampuni, namun tentunya bagi yang mau bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya. Sebab rahmat Allah lebih besar dibandingakan dosa hamba-Nya.

Di dalam suatu riwayat disebutkan; Allah merasa sangat gembira kepada seorang hamba yang mau bertaubat kepada-Nya. Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya daripada gembiranya orang menemukan untanya setelah beberapa saat hilang. Unta itu hilang dengan membawa perbekalan makan dan minum di tengah perjalanannya di kawasan yang tandus dan kering. Di saat musafir itu sedang beristirahat, untanya meninggalkan dirinya pelan-pelan dengan membawa seluruh perbekalan perjalanan. Setelah dia mencari unta itu kesana kemari dengan susah payah dan tidak menemukannya, dalam keadaan sangat lapar dan haus, dia berteduh di bawah pohon rindang dengan penuh rasa putus asa dan pasrah. Dia hanya bisa menunggu saat kematian datang menjemput dengan pelan-pelan sambil berbaring di atas akar pohon tersebut.

Dalam keadaaan seperti itu tiba-tiba unta yang dicari itu datang beserta seluruh perbekalan yang masih utuh. Lalu dia memegang tali kekang unta itu sambil berkata dengan tanpa sadar atas kesangatan gembira yang dirasakan: “Ya Allah! Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu”. Allah lebih merasa gembira dengan taubat hamba-Nya dibandingkan kegembiraan orang yang menemukan untanya tersebut. Rasulullah SAW meriwayatkan dengan sabdanya:

حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ *

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: AllahSWT lebih merasa gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kamu di saat di dalam perjalanan di kawasan tandus (kering kerontang). Ketika berhenti beristirahat kemudian untanya berjalan perlahan-perlahan meninggalkannya sambil membawa perbekalan makanan dan minuman. Setelah dia mencarinya kesana-kemari dengan susah payah kemudian bernaung di bawah keteduhan bayang-bayang pohon serta berbaring di atas pokok akar dengan penuh rasa putus asa, dalam keadaaan yang demikian kemudian dengan tiba-tiba unta yang dicarinya muncul di sisinya. Dia terus memegang tali unta itu. Kemudian berkata dengan tanpa sadar atas kesangatan gembira yang dirasakannya: “Ya Allah! Engkau hambaku dan aku tuhan-Mu”. Karena ingatannya diputus oleh rasa kegembiraannya.

1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Doa hadits nomor 5834.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Taubat hadits nomor 4932. (CD al-Bayan)

Di dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda:

حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri RA berkata: Nabi SAW bersabda: Seorang lelaki dari kalangan ummat sebelum kamu telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang, lalu dia mencari seorang yang paling ‘alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang pendeta, dia datang menjumpai pendeta tersebut dan berkata: Aku telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang manusia, adakah taubatku masih diterima? Pendeta tersebut menjawab: Tidak. Mendengar jawaban itu, dia terus membunuhnya dan genaplah seratus orang manusia yang telah dibunuhnya. Tanpa putus asa dia mencari lagi seseorang yang paling ‘alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang Ulama, dia terus menjumpai Ulama tersebut dan berkata: Aku telah membunuh sebanyak seratus orang manusia. Adakah taubatku masih diterima? Ulama itu menjawab: Ya! Siapakah yang dapat menghalangi kamu untuk bertaubat? Pergilah ke negeri si fulan, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah. Kamu beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan pulang ke negerimu karena negerimu adalah negeri yang lingkungannya sangat jelek. Lelaki tersebut berangkat menuju ke tempat yang ditunjukkan. Ketika ia berada di pertengahan perjalanan tiba-tiba dia mati, kematian itu menyebabkan Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab bertengkar. Malaikat Rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah sedangkan Malaikat Azab berkata: Dia belum melakukan suatu kebaikanpun. Lalu Malaikat yang lain datang dalam keadaan ujud manusia dan mencoba menghakimi mereka sambil berkata: Ukurlah jarak di antara kedua tempat. Mana yang lebih dekat itulah tempatnya. Lantas mereka mengukurnya. Ternyata mereka dapati lelaki tersebut lebih dekat kepada negeri yang ditujunya. Akhirnya dia diambil oleh Malaikat Rahmat

1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Cerita-cerita Para Nabi hadits nomor 3211.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Taubat hadits nomor 4167.(CD al-Bayan)

Taubat yang dilakukan seorang hamba harus dimulai dari dalam hati. Orang yang bertaubat harus sadar akan dosa-dosa yang sudah diperbuat dan menyesali perbuatan itu kemudian ditindaklanjutinya dengan amal sholeh. Meninggalkan segala kejelekan yang pernah dilakukan dan menggantinya dengan amal ibadah dan pengabdian yang hakiki. Disamping itu, supaya taubat tersebut bisa dilaksanakan dengan benar, orang yang bertaubat itu harus mendapat bimbingan guru ahlinya. Hal itu diisyaratkan Nabi SAW dalam sabdanya di atas; “Laki-laki tersebut bertanya kepada orang-orang yang paling ‘alim di negerinya”.

Ketika taubat itu sudah dilaksanakan dengan sunguh-sungguh, meski taubat itu baru dilakukan tahap awal. Sebelum orang tersebut selesai melaksanakan taubatnya, orang yang bertaubat itu mati di tengah perjalanan. Ternyata taubat tersebut diterima di sisi Allah, padahal orang itu bertaubat dari dosa membunuh seratus manusia. Itu menunjukkan rahmat Allah jauh lebih besar daripada dosa hamba-Nya, asal seorang hamba bersungguh-sungguh dalam melaksanakan taubat kepada-Nya.

Hadits tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi hamba Allah yang beriman. Tuntunan yang diajarkan Allah melalui rasul-Nya. Oleh karena itu, orang beriman tidak harus putus asa terhadap dosa-dosa yang sudah mereka perbuat. Sebesar apapun dosa itu, asal bukan dosa syirik, apabila mereka bersungguh-sungguh bertaubat, niscaya Allah akan mengampuninya, dalam arti dihapus dari catatan amal sehingga bebas dari hisaban. Adapun dosa syirik, sekecil apapun dosa itu, tetap tidak akan pernah terhapus untuk selamanya sehingga pemiliknya akan berhadapan dengan keadilan Allah baik di dunia maupun di akhirat nanti,… wal iyadzu billah.

Kisah “Dahyah Al-Kalbi” salah satu raja suku bangsa Arab yang masuk islam di hadapan Baginda Nabi SAW dengan seluruh anggota keluarganya.

Diceritakan bahwa Rasulullah SAW menyukai Islamnya Dahyah al-Kalbi. Karena dia masuk islam bersama 600 anggota keluarganya di hadapan Nabi. Suatu saat Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah masukkanlah Dahyah al-Kalbi ke dalam Islam”. Saat Dahyah menginginkan masuk Islam Allah mewahyukannya kepada Nabi SAW setelah salat subuh. “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mengirimmu salam dan berfirman bahwa Dahyah akan menemuimu sekarang”.

Hati para sahabat diliputi rasa takut terhadap Dahyah pada masa Jahiliyah. Saat Sahabat mendengar berita tersebut, mereka tidak menginginkan Dahyah berada di tengah-tengah mereka. Rasulullah SAW mengetahuinya, beliau ingin menunjukkan kedudukan Dahyah. Rasulullah SAW tidak ingin saat Dahyah masuk Islam, diperbincangkan dan dilemahkan hatinya untuk memeluk Islam. Karenanya, saat Dahyah masuk masjid, Nabi SAW mengangkat sorban dari punggungnya kemudian menghamparkan ke bumi dihadapannya sambil berkata, “Dahyah kemarilah”, Nabi SAW menunjuk kepada sorbannya itu.

Dahyah menangis melihat kemuliaan akhlak Rasulullah SAW tersebut. Dia mengangkat sorban Nabi, mencium dan meletakkannya di atas kepala dan matanya. Dia berkata, “Apakah persyaratan masuk Islam? Terangkan kepadaku,” Rasulullah SAW bersabda, “Pertama kali hendaklah engkau membaca “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah”. Dahyah mengucapkan syahadat sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya, “Apakah arti tangisan ini padahal engkau telah dikaruniai Islam?” dia menjawab, “Sungguh aku telah melakukan dosa sangat besar, maka tanyakanlah kepada Tuhanmu apakah tebusannya? Bila Dia memerintahkanku untuk membunuh diriku, niscaya kulakukan. Bila memerintahkan supaya aku mengeluarkan semua hartaku niscaya akan kuberikan”

Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kesalahanmu wahai Dahyah?” Dahyah menjawab. “Aku termasuk salah seorang raja bangsa Arab dan aku tidak ingin anak-anak perempuanku bersuami, hingga aku telah membunuh 70 anak perempuanku dengan tanganku sendiri.” Nabi SAW bingung mendengar cerita tersebut sehingga Jibril turun dan berkata: “Wahai Muhammad, sungguh Allah telah membacakan salam buatmu dan berkata kepada Dahyah, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, ketika engkau mengatakan ”Tiada Tuhan selain Allah,” Aku telah mengampuni kekafiran dan kejahatanmu selama 60 tahun, bagaimana mungkin Aku tidak mengampuni dosamu karena engkau telah membunuh anak-anakmu? “

Nabi SAW dan para sahabat menangis. Nabi SAW bersabda: “Ya Allah, Engkau telah mengampuni Dahyah yang telah membunuh 70 anaknya sendiri dengan hanya membaca syahadat sekali, maka bagaimana Engkau tidak mengampuni orang-orang beriman yang setiap hari membaca syahadat dan berkata benar serta ikhlas.””Hikayat Ash-Shufiyah. Muhammad Abu al-Yusr Abidin”

Dosa Dahyah adalah dosa yang dilakukan sebelum Islam. Meski dengan kejahatan selama 60 tahun, dosa tersebut dapat terhapus hanya dengan sekali membaca dua kalimat syahadat. Berbeda dengan dosa yang dilakukan orang beriman, terlebih jika sengaja melakukannya. Dosa yang sengaja dilakukan itu tidak cukup dapat dihapus dengan membaca kalimat syahadat saja, meski dua kalimat syahadat itu dibaca setiap mereka melaksanakan sholat. Dosa tersebut harus ditaubati dengan sungguh-sungguh. Namun demikian orang beriman tidak harus putus asa dengan dosa-dosa yang mereka dilakukan. Allah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang(QS.Az-Zumar(39);53).

Dari ayat di atas, yang dipanggil Allah dalam firman-Nya diatas adalah “Ya ‘Ibaadiy” (wahai hamba-hamba-Ku). Mereka itu adalah orang-orang beriman yang mengabdi kepada-Nya, namun di dalam pengabdian itu mereka terpeleset dalam perbuatan salah dan dosa. Mereka tidak mampu mengendalikan diri untuk menghindari perbuatan jahat karena kerasnya desakan lingkungan. Akibatnya mereka menzalimi diri sendiri. Jika mereka sadar dan bertaubat kepada Allah, mereka tidak boleh putus asa untuk bertaubat kepada-Nya, meski dalam hati mereka telah merasa berbuat yang melampaui batas.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS:39/53). Dosa yang diampuni itu bukan dosa orang-orang yang sengaja berbuat dosa dan menentang, padahal mereka sudah diajak kepada Islam. Orang yang sengaja berbuat dosa, berarti saat itu hati mereka tidak beriman. Mereka adalah orang berbuat zalim kepada dirinya sendiri. Allah tidak akan memberikan hidayah kepada orang yang berbuat zalim. Allah menegaskan dengan firman-Nya :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الْإِسْلَامِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS.Ash-Shoff(61);7).

al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghazali

Dosa Terakhir (part- 2)

Posted in Hikam, Taubat dengan kaitan (tags) , on 11 September 2009 by malfiali

Dosa Terakhir (part- 2)

Keempat: Termasuk dosa yang tidak diampuni adalah dosa sombong dan dosa takabbur, yakni dosanya orang memandang dirinya lebih baik dan lebih utama dibandingkan orang lain. Timbulnya sifat sombong itu memang seringkali muncul dari orang yang merasa punya kelebihan, namun mereka lupa bahwa kelebihan itu sejatinya anugerah Allah yang harus disyukuri bukan dibanggakan. Seandainya Allah tidak memberikan anugerah kepada hamba-Nya, maka manusia adalah merupakan makhluk yang lemah. Selama sifat sombong itu belum mampu ditanggalkan dari hatinya, berarti manusia belum pantas masuk surga, meski dia itu orang beriman. Sebab, Iblis, makhluk yang lebih berma’rifat dengan Allah dibandingkan manusia, diturunkan dari sorga akibat adanya sifat sombong dalam hatinya.

Dalam sebuah haditsnya, Baginda Nabi SAW menunjukkan tanda-tanda penghuni neraka dengan adanya sifat bombong. Rasulullah SAW bersabda :

حَدِيثُ حَارِثَةَ بْنِ وَهْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ قَالُوا بَلَى قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

Diriwayatkan dari Haritsah bin Wahab RA berkata: Aku mendengar Nabi SAW bersabda: maukah kamu aku beritahu tentang ahli Syurga? Para Sahabat menjawab: Ya! Rasulullah SAW bersabda: Mereka semua adalah orang yang lemah dan merendah diri, seandainya mereka bersumpah karana Allah niscaya Allah akan mengabulkannya. Kemudian baginda bersabda lagi: maukah kamu aku beritahu tentang ahli Neraka? Mereka menjawab: Ya! Baginda bersabda: Mereka semua adalah orang yang suka diagung-agungkan dan bermegah-megahan serta sombong

1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tafsir al-Qur’an hadits nomor 5437 – Etika hadits nomor 5610 – Sumpah dan Nazar hadits nomor 6165.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Surga, Kenikmatan dan Penghuni hadits nomor 5092.(CD. al-Bayan)

Tanda-tanda penghuni neraka adalah orang yang suka diagung-agungkan orang, bermegah-megahan dan sombong, ya … gila hormat lah. Selama sifat itu masih ada, berarti selamanya pula orang tersebut menjadi calon penghuni nereka. Untuk itu, jika orang tersebut ingin masuk surga, mereka terlebih dahulu harus mampu menghapus tanda-tanda itu dari dirinya.

Orang yang sombong dan takabbur, do’anya tidak mendapat ijabah dari Tuhannya. Pancaran do’a-do’a mereka tidak dapat menembus pintu langit seperti unta tidak dapat memasuki lubang jarum. Allah mengisyaratkan hal ini dengan firman-Nya :

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. (QS.Al-A’raaf(7);40).

Kelima: Dosa yang tidak diampuni dengan tanpa alasan adalah dosa syirik atau menyekutukan Allah. Orang berharap dan takut kepada selain Allah padahal dia beriman kepada-Nya, berarti orang tersebut berbuat syirik kepada Allah. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (QS.An-Nisa’(4);48).

Orang berbuat syirik kepada Allah berarti menyamakan Dzat Yang Maha Mulia dengan makhluk yang hina. Hal itu adalah kezaliman yang besar. Allah menegaskan dengan firman-Nya:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”(QS.Luqman(31);13).

Apabila perbuatan syirik itu dalam konteks harapan, maka artinya, orang berharap mendapatkan kemudahan hidup kepada selain Allah, berarti manusia berharap kepada sesama makhluk yang lemah. Mereka berharap kepada orang yang sama-sama mempunyai kebutuhan. Oleh karena itu, mustahil orang tersebut dapat mengabulkan kebutuhan orang lain. Jika hal itu bisa terjadi, itu semata-mata hanya terjadi atas kehendak dan pertolongan Allah.

Namun demikian, ketika sunnah sudah ditentukan, bahwa sistem distribusi rizki untuk seseorang ditentukan Allah harus melewati orang lain, baik melalui atasan dalam perusahaan ataupun orang yang selalu berbuat baik. Hal itu sering menjebak orang berbuat syirik kepada Allah. Disamping mereka bertawakkal kepada Allah juga menyandarkan harapan kepada sesama manusia. Bahkan terkadang cenderung dominan berharap kepada manusia.

Bagi orang beriman, menyandarkan harapan kepada selain Allah dapat menciderai kesempurnaan tauhid mereka. Hal itu bisa menjadi penyebab tertutupnya pintu ijabah dari Allah Ta’ala. Do’a mereka tidak dikabulkan Allah. Terlebih apabila harapan kepada manusia itu sampai memalingkan hatinya untuk bertawakkal kepada Allah. Mereka lebih berharap kepada manusia daripada bertawakkal kepada Allah. Dalam keadaan seperti itu berarti mereka telah benar-benar berbuat syirik kepada Tuhannya.

Untuk menjaga hati supaya orang beriman tidak terjebak berbuat syikir, berdzikir kepada Allah secara istiqomah adalah solusinya. Dengan setiap saat, pagi dan sore, mereka membaca kalimat tauhid secara terbimbing, amaliyah itu dapat menghapus dan menjaga hati dari kotoran syirik, seperti orang menghapus debu yang menempel di kaca.

Apabila orang beriman enggan berdzikir kepada Allah, padahal setiap saat hati mereka selalu dikotori dosa syirik yang tidak disadari, maka kotoran yang menempel dalam hati itu akan menjadi bagaikan karat besi. Karat hati itu akan membutakan matahati hingga jalan hidup menjadi gelap gulita. Itu pertanda hati yang telah terputus dari hidayah Allah.

Akibat dari itu, manusia akan merasakan hidup di dunia ini dalam keadaan terasing. Ketakutan dan kekhawatiran yang tidak beralasan selalu menghantui jalan pikiran. Bayang-bayang kehidupan yang muncul setiap saat dalam lamunan, datang lebih seram dari keadaan sesungguhnya. Ketakutan menjadi miskin menjadikan hati menjadi kikir. Hal itu karena hidup tidak mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah Ta’ala. Matahati tertutup dari sinar manisnya keimanan sehingga hidup menjadi resah. Allah telah menggambarkan keadaan orang tersebut dengan firman-Nya :

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ
“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”(QS.Al-Hajj(22);31).

Orang berbuat syirik berarti memutus hubungan dengan Tuhannya. Memutus hubungan dengan sumber dan tambang energi yang hakiki. Di dunia hidup dalam kesendirian dan kesengsaraan, bagaikan layang-layang putus dihempas angin kesana kemari. Hidup yang selalu terombang ambing dalam keraguan, tidak ada dasar pijakan dan tidak ada pegangan, tidak ada petunjuk yang diikuti dan tidak ada pertolongan yang mendampingi. Hanya mengikuti kemauan nafsu kosong yang sering mengajak angan berlari kencang tanpa tujuan. Itu disebabkan, karena hidup mereka telah terlepas dari sistem kontrol urusan ketuhanan yang mampu menjadi pengendali kehidupan.

Ketika usia hidup sudah di ambang batas ajal kematian. Saat itu rasional semakin lemah hingga tidak mampu lagi menyangga kemauan nafsu dan beban hidup yang tetap mengganjal. Mereka terpaksa tinggal menunggu batas bayangan akhir yang seakan-akan tidak berujung pangkal. Kondisi seperti itu, bisa jadi jiwa kehilangan diri hingga eksistensi menjadi pergi digondol setan.

Akibatnya, tubuh yang masih sehat menjadi jasad kasar tidak bertuan, sorot mata menerawang kosong dan rongga dada sunyi tidak berpenghuni, bahkan wadaq jasad terkadang malah dihuni oleh makhluk yang selama ini dipertuan, yaitu setan jin yang telah lama dimanjakan. Selanjutnya, manusia tinggal daging dan tulang yang sama sekali tidak ada harga untuk dijual walau sekedar untuk mendapatkan penghargaan dari sanak dan handai taulan. Itulah gambaran manusia yang hidupnya dimakan oleh jalan pikiran yang tidak tercerahkan. Oleh karena saat kuatnya pikiran tidak pernah disinari nur iman, maka saat lemahnya tidak mendapatkan pertolongan.

(bersambung)

Dosa Terakhir (part- 1)

Posted in Hikam, Taubat dengan kaitan (tags) , on 11 September 2009 by malfiali

Dosa Terakhir (part- 1)

اِذَا وَقَعَ مِنْكَ ذَنْبٌ فَلَايَكُنْ سَبَبًا لِيَأْسِكَ مِنْ حُصُوْلِ الإِسْتِقَامَةِ مَعَ رَبِّكَ , فَقَدْ يَكُوْنُ ذَلِكَ آخِرُ ذَنْبٍ قُدِّرَ عَلَيْكَ

Apabila dosa datang darimu, janganlah dosa itu menjadi penyebab putus asamu dari berhasil istiqomah bersama-sama Tuhanmu. Boleh jadi dosa tersebut adalah dosa terakhir yang ditakdirkan kepadamu.(Hikam, Ibnu Atho’illah ra)

Meskipun dosa seringkali mengakibatkan hati seorang hamba terhijab kepada tuhannya. Namun juga, dosa terkadang mampu membakar hijab yang menutupi hati. Itu bisa terjadi, apabila dengan dosa tersebut menjadikan seorang hamba ingat kepada tuhannya kemudian segera melaksanakan taubat dengan taubatan nashuha. Dosa seperti itu mampu menghancurkan sifat sombong dalam hati orang beriman. Sifat tercela hasil bentukan setan jin sebagai dampak negatif dari ilmu dan amal yang dapat menjadi penyebab orang masuk neraka. Sifat yang sangat membahayakan karena setan jin menjadikan manusia memandang baik kepada dirinya sendiri. Allah memberikan sinyalemen dengan firman-Nya:

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ
“Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah) sedang mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam”(QS.Al-Ankabut(29);38)

Supaya hati orang beriman dapat istiqomah dalam bersandar kepada tuhan-Nya, maka hati itu tidak hanya dikuatkan dengan ilmu dan amal saja, tetapi juga terkadang dengan dosa. Itu apabila dengan ilmu dan amal tersebut menjadikan mereka terjebak dalam perangkap setan jin hingga hatinya menjadi sombong dan takabbur. Untuk menghilangkan sifat sombong tersebut, maka Allah menakdirkan hamba-Nya berbuat dosa. Namun bukan dosa yang sengaja dilakukan tetapi terpaksa, karena dosa tersebut tidak dapat dihindari. Bukan dosa yang menjadikan hati orang beriman jauh dari Tuhannya, tetapi dosa yang mampu menerbitkan penyesalan dalam hati dan mendorong untuk bertaubat.

Hati orang beriman harus selalu merasa dekat dengan tuhannya. Dengan kedekatan itu supaya hidup mereka mendapat penjagaan malaikat. Kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya itu tidak selalu ditandai dengan amal lahir saja, seperti sholat dan ibadah haji, tetapi juga dengan amal batin yang mampu mendasari amal lahir tersebut. Hati yang bertakwa dan bertawakkal kepada tuhannya. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.(QS.Fush Shilat(41);30).

Orang beriman yang hatinya yakin bahwa Allah Pemelihara hidupnya, kehidupan orang tersebut akan mendapat penjagaan dari para malaikat. Itu adalah merupakan salah satu kenikmatan ruhani yang bisa dihasilkan ibadah secara istiqomah. Namun, betapapun mereka menjaga kedekatan hati kepada Tuhannya, secara manusiawi, terkadang bisa tumbuh rasa jenuh dalam hatinya. Apabila rasa jenuh sudah mulai tumbuh, maka kenikmatan ibadah yang didawamkan itu menjadi memudar. Akibatnya, perjalanan ruhani tersebut menjadi mandul dan berhenti di tengah jalan.

Untuk menghapus kejenuhan tersebut, terkadang dosa ditakdirkan sebagai obatnya. Namun, datangnya dosa itu semata atas ketetapan (qada’) yang terdahulu, bukan terbit dari kesengajaan manusia. Tanda-tandanya, ketika seorang hamba terpeleset dalam perbuatan dosa, mereka cepat ingat kepada Tuhannya serta menyesali dosanya. Mereka cepat-cepat bertaubat kepada Allah serta tidak berputus-asa akan rahmat-Nya. Dengan yang demikian itu, dengan izin Allah pintu hati yang asalnya tertutup kembali terbuka. Hati seorang musafir yang sedang mandul kembali bergairah karena panasnya bara penyesalan telah mencairkan kebekuan.

Dosa, meskipun itu adalah perbuatan yang tercela, ibarat penyakit, namun terhadap orang yang hatinya terserang penyakit sombong dan takabbur ternyata malah menjadi obat. Dalam kaitan itu, secara garis besar dosa dibagi menjadi dua. Pertama, dosa yang bisa menyebabkan orang masuk neraka. Kedua, dosa yang bisa menyebabkan orang masuk surga. Dalam sebuah haditsnya Nabi SAW bersabda yang artinya: “Terkadang dosa memasukkan pemiliknya ke surga”. Berikut ini contoh dosa yang tidak yang dapat menyebabkan orang masuk neraka:

Pertama: Dosa orang kafir yang menghalang orang lain di jalan Allah. Orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya berarti orang kafir. Mereka berbuat dosa besar. Apabila dosa itu dibawa sampai mati, artinya orang tersebut belum sempat bertaubat dan membaca dua kalimat syahadat, maka dosa kafir itu tidak diampuni, berarti mereka akan menjadi penghuni neraka jahannam untuk selamanya. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ مَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka”. (QS.Muhammad(47);34).

Orang membenci sesuatu, secara otomatis pasti juga akan mengajak orang lain membenci sesuatu itu. Oleh sebab itu, orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-Nya, mereka juga berusaha mengajak orang lain untuk ikut kafir bersamanya. Mereka menghalangi orang lain berjalan di jalan Allah. Itu merupakan tanda-tanda bahwa mereka membenci Tuhan semesta alam. Mereka membenci Dzat yang menciptakan dirinya sendiri. Jika sifat kafir tersebut terbawa mati, maka dosanya tidak akan mendapat ampunan untuk selamanya. Hal itu karena selama hidup dan kesempatan yang ada telah mereka gunakan untuk ingkar kepada Tuhannya.

Lain halnya bila sebelum ajal kematian datang mereka mendapatkan hidayah dan masuk islam. Mereka bertaubat dari kebiasaan jelek yang biasa mereka lakukan. Lalu membangun kehidupan dengan amal sholeh dan kebajikan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. Allah mengabarkan hal itu dengan firman-Nya :

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”(QS.Al-Anfal(8);38).

Apabila orang kafir itu mau bertaubat dan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, berarti dosa kafirnya akan diampuni dan dimasukkan surga bersama orang-orang yang beriman. Apabila sampai mati mereka dalam keadaan kafir, berarti ketetapan yang azali akan berlaku. Berarti, ketetapan azali tersebut sejatinya dapat dirubah oleh manusia. Yakni dengan merubah kejelekan hatinya menjadi kebaikan yang hakiki. Allah menegaskan hal itu dengan firman-Nya yang artinya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.(QS.Ar-Ra’d(13);11)

Kedua: Orang murtad yang murtadnya dilakukan berulang-ulang. Mereka itu biasanya datang dari golongan orang yang akidahnya tidak kuat. Akibat dari itu, mereka mudah mempermainkan agamanya. Mereka mempertaruhkan kehidupan akhirat dengan harga kehidupan dunia yang sangat murah. Sekedar himpitan ekonomi, terkadang mereka mampu keluar masuk agamanya dengan seenaknya sendiri. Bahkan terkadang mereka menjual iman hanya dengan harga satu bungkus mie instan.

Ketika mereka kembali berkumpul dengan kaum muslimin dan mendapat keuntungan, mereka cepat-cepat menyatakan masuk Islam lagi dengan membaca dua kalimat syahadat. Namun ketika mereka mendapatkan keuntungan dari penganut agama lain, kesulitan hidupnya mendapatkan bantuan dari kelompok yang baru tersebut, mereka kembali menjadi kafir.

Jika hal tersebut terjadi sampai berulang kali. Pagi kafir, siang Islam sorenya kafir lagi, maka akibatnya, sifat kafir itu akan menjadi bertambah kuat dan dosanya tidak diampuni. Orang seperti itu tidak akan mendapatkan hidayah Allah selama-lamanya. Kita berlindung dengan Allah darinya. Allah memperingatkan hal tersebut dengan firman-Nya :

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آَمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus”. (QS.An-Nisa(4);137).

Orang yang suka mempermainkan agama itu, meski mereka bertaubat, tapi taubatnya tidak akan diampuni. Hal itu bukan berarti Allah tidak menolak, ketika seorang hamba benar-benar telah bertaubat kepada-Nya. Sungguh Allah adalah Dzat Yang Maha Menerima taubat hamba-Nya asal taubat itu dilakukan sebelum datangnya ajal kematian. Namun, bagi orang yang suka mempermainkan akidah, mereka akan menjadi sulit melaksanakan taubat dengan benar. Sebab hatinya telah dikotori sendiri oleh dosa murtad yang berlapis-lapis tersebut. Dengan dosa yang berlapis-lapis itu, tentunya menjadikan hati mereka terhalang menerima nur hidayah Allah. Oleh karena mereka terlebih dahulu telah berbuat zalim dengan melupakan diri sendiri, maka Allah melupakan mereka. Sungguh Allah tidak akan berbuat zalim kepada hamba-Nya. Allah telah mengabarkan dengan firman-Nya:

كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim”. (QS.Ali-Imran(3);86).

Dosa murtad tersebut, meski dilakukan orang sekali dalam hidupnya, orang tersebut berarti telah menghapus segala pahala amal ibadah seumur hidup. Mereka itu bagaikan menghancurkan bangunan rumahnya sendiri. Meskipun seketika itu dia sadar dan menyesali perbuatannya, namun rumahnya sudah terlanjur hancur. Apabila dia ingin mempunyai rumah lagi berarti harus membangun kembali mulai dari nol. Bagi orang yang murtad, nol yang kedua berbeda dengan nol yang pertama. Saat nol yang pertama dia masih bersih dari segala dosa sebagaimana fithrahnya, tetapi nol yang kedua adalah nol yang sudah tidak bersih, nol yang kotor karena telah terkontaminasi dosa murtadnya.

Seandainya tidak semata-mata karena rahmat dan karunia Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-Nya, sulit bagi orang yang pernah murtad dapat kembali membangun agama dan amal ibadahnya. Apalagi jika murtad itu dilakukan berulangkali. Tentu orang tersebut kehabisan jalan yang harus ditempuh, kerena jalan-jalan lurus yang disediakan baginya telah dihancurkan sendiri berulangkali.

Ketiga: Orang munafik yang suka berbuat fasik (melampaui batas), dosa mereka tidak diampuni. Sebab, sifat munafik itu cenderung mendorong mereka berbuat fasik kepada temannya sendiri. Orang munafik suka berbuat yang tidak semestinya dan tidak pada tempatnya serta melampaui batas kewajaran. Mereka cenderung mengikuti hawa nafsu dan setan dengan mengesampingkan akal dan ilmu.

Orang munafik cenderung berbuat zalim kepada saudara dekatnya sendiri. Hal itu karena setiap kemunafikan pasti timbul dari sifat hasut. Dengan perbuatan munafik itu berarti mereka menyangkutkan diri kepada urusan antara sesama manusia atau “haqqul adami”. Mereka berbuat zalim yang dosa tidak diampuni Allah sebelum dosa itu dimaafkan oleh orang yang dizalimi. Oleh sebab itu, sebelum dosa tersebut dimaafkan oleh yang orang yang disakiti, sampai kapanpun Allah tidak memaafkannya.

Terhadap jenis dosa yang semestinya tidak diampuni tersebut, apabila Allah berkehendak mengampuni dosa hamba-Nya di dunia, dosa tersebut harus dikafaroti oleh pemiliknya, yakni penebusan dosa. Kafarot itu dengan mengeluarkan shodaqoh sebagai penebusan dosa. Sebab, sebelum dosa itu dikafaroti, Allah tidak akan mengampuninya. Dalam keadaan seperti itu, apabila orang yang berdosa tersebut tidak juga mengeluarkan kafarot dengan shodaqoh, maka musibah atau fitnah didatangkan kepadanya sebagai gantinya.

Setelah musibah dan fitnah tersebut mampu dijalani dengan sabar dan tawakkal. Orang yang berdosa itu menjadi sadar dan bertaubat atas segala dosa dan kesalahannya, maka Allah akan mengampuni dosa mereka. Yang demikian itu adalah sunnatullah sebagaimana yang telah terjadi terhadap orang-orang terdahulu. Asy-Syekh Abdul Qodir Jailani RA berkata: “Apabila kita terlanjur berbuat dosa, maka dosa itu harus dikafaroti”

Namun, tanpa orang mengeluarkan kafarot sekalipun, apabila Allah berkehendak mengampuni dosa hamba-Nya, dosa tersebut tetap saja akan diampuni. Hal itu bukan karena orang mampu mengalahkan ketetapan sunnah tersebut hingga terlepas dari ancaman musibah di dunia. Akan tetapi itu terjadi semata karena Allah memaafkan kepada sebagian besar dosa hamba-Nya.

Apabila ada orang berbuat dosa yang semestinya harus dikafaroti, tetapi ternyata mereka tidak juga mendapatkan musibah di dunia, hal itu bisa jadi mereka mendapat masa tangguh. Dengan masa tangguh itu supaya ketetapan Allah terhadap seseorang bisa berjalan dengan semestinya. Dengan masa tangguh itu orang yang berbuat mungkar seakan selalu mendapatkan kemenangan di dunia. Tetapi ketika masa tangguh mereka sudah lewat, orang tersebut akan menerima musibah di dunia.

Musibah tersebut bisa jadi dengan penyakit yang menggerogoti jasadnya. Namun sejatinya, musibah itu adalah kafarot bagi orang beriman, supaya mereka mati dalam keadaan dosa yang sudah diampuni. Jika tidak demikian, berarti orang tersebut akan berhadapan dengan siksa yang pedih untuk selama-lamanya di akhirat nanti. Wal ‘iyadu billah. Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hal tersebut dengan firman-Nya :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30) وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) – Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah.” (QS.Asy-Syuraa(42);30-31).

Allah Ta’ala juga telah menegaskan dengan firman-Nya :

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُونَ
“Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah)”. (QS.Al-Anfal(8);59)

Musibah-musibah yang datang kepada orang beriman, itu pasti akibat dosa yang mereka perbuat. Apabila orang beriman mampu menghadapi musibah itu dengan sabar, berarti musibah itu bisa menjadi sarana untuk menyucikan dosa-dosa mereka. Terlebih ketika orang beriman mampu mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya, musibah itu justru dapat mengangkat derajat keimanan dan kemuliaan mereka di hadapan Allah. Oleh karena itu, sebelum musibah datang, orang beriman hendaknya rajin mengeluarkan shodaqoh sebagai kafarot bagi dosa-dosanya, baik yang disadari maupun yang tidak. Sebab, jarang orang sabar menghadapi musibah, terlebih mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya.

Apabila ternyata hati mereka tidak juga mampu menyikapi musibah yang datang itu dengan sabar dan ‘arif. Mereka tidak juga sadar serta memperbaiki amal perbuatannya. Bahkan selalu merasa dirinya yang paling benar, sehingga musibah itu justru berkembang menjadi fitnah yang berkepanjangan, maka: “Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan, Allah tidak akan mengampuni mereka”. Demikian yang dinyatakan Allah dengan dua firman-Nya berikut ini, Allah berfirman :

سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”(QS.Al-Munafiqun(63);6).

Munafik identik dengan kafir. Sebab, timbulnya kemunafikan awalnya pasti tumbuh dari ketidakpercayaan. Itu menunjukkan, sejatinya orang munafik bukan orang beriman. Secara lahir mereka seakan beriman, namun sejatinya, hatinya hanya berpura-pura iman. Orang munafik adalah orang yang suka bermuka dua, dalam arti di luar baik tapi di dalamnya jelek. Apabila yang di luar jelek tapi dalamnya baik, itu bukan sifat orang munafik tetapi sifat seorang dokter yang sedang mengobati pasiennya. Dosa munafik lebih berbahaya daripada dosa kafir. Oleh sebab itu, meski dosa mereka dimohonkan ampun orang lain sebanyak 70 kali, tetap saja Allah tidak mengampuni dosa mereka. Hal itu disebabkan, karena dengan sifat munafik itu orang tersebut selalu berbuat fasik kepada sesama manusia. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya :

اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Kamu mohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”. (QS.At-Taubah(9);80).

(bersambung)

OASE ITU ADA DI GUNUNG PATI…

Posted in Hikam, puisi dengan kaitan (tags) on 26 Agustus 2009 by malfiali

OASE ITU ADA DI GUNUNG PATI…
kepada Abah Luthfie

Apa yang terlintas di pikiran dan hati saat asma Allah dan tahlil dibaca berulang-ulang, dengan ketukan yang teratur? Apa yang terlintas dalam hati dan pikiran saat doa-doa dipanjatkan? Apa yang terlintas saat shalawat dan nama junjungan kita Kanjeng Rasululullaah Muhammad Saw disebutkan dengan takzim, saat kita berdiri seperti “menyambut” kedatangan Kanjeng Rasul dengan hati hormat dan penuh kerinduan? Barangkali hanya mereka yang hadirlah yang bisa merasakannya, tetapi barangkali tak bisa menjelaskannya.

Kita, manusia, yang terbiasa terjebak dalam rutinitas, sesungguhnya butuh sesuatu yang bisa membebaskan kita dari rutinitas, agar tak terjebak dalam lingkaran keduniawian yang seolah tiada henti mendera kita, mengguncang kesadaran dan jiwa kita. Seringkali, kita butuh oase-oase ruhani yang selalu siap mengalirkan barakah kedamaian yang mampu merawat ruh-ruh suci kita agar tak tercemar oleh rutinitas harian dan noda ambisi keduniawian yang menjauhkan kita dari Allah, membuat kita lalai kepada Sang Khaliq.

Allah Yang Maha Tahu dan Maha Bijak sesungguhnya tahu betul bahwa kita butuh itu semua, butuh sesuatu yang membawa kita mengenali diri kita, mengenali “sangkan paraning dumadi” kita. Allah telah ciptakan oase-oase ruhani di seluruh penjuru dunia, para pembawa Nur Allah yang mendapatkan limpahan cahaya-Nya melalui Rasululullah yang terus mengalir tanpa putus kepada para Wali Allah dan guru-guru kita yang berada di sirathal mustaqiim Salah satu mata air oase itu mengalir melalui Syekh Asrori radhiyallahu anhu, yang melimpah melampaui batas ruang dan waktu, dan salah dari pancaran mata air itu berkumpul membentuk oase ruhani yang sederhana di sebuah tempat bernama Gunungpati,Ungaran, sebuah tempat sederhana tetapi tenang bernama ponpes salafi Al-Fithrah.

Adalah Abah Luthfi yang mengajarkan saya, dalam sebuah obrolan santai, betapa sederhananya kehidupan itu sesungguhnya, meski dalam kesederhanaan itu terkandung kedalaman “barakah,” yang terus mengalir tanpa kita sadari, selama niat kita dalam menjalani hidup adalah iman dan Lillahi ta’ala. Adalah Abah Luthfi yang mengajari dan menyadarkan saya bahwa sikap kerendahan hati, sikap tak merasa suci, dan memuliakan tamu, adalah sikap yang membuat hati kita menjadi lembut. Betapa tidak. Abah Luthfi-lah, sebagai tuan rumah, yang mengajak saya, sang tamu, untuk makan bersama di paviliunnya yang sederhana dan bersih di belakang rumah. Dan beliaulah, sebagai sosok yang disegani dan dihormati di sana, dengan tanpa beban, di tengah kesibukannya sebagai shohibul acara, menyempatkan diri mendatangi saya di ruang tamu sederhana, mengajak saya makan bersama lagi pada sore hari.

Jadi, masih perlukah kata-kata rumit untuk menyampaikan ajaran? Kadang kata-kata memang perlu, tetapi suri tauladan akhlak yang baik, tindakan dan amal yang nyata, jauh lebih dahsyat ketimbang tumpukan buku tebal berisi kalimat nasihat. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak,” demikian sabda Rasulullaah.

Demikianlah, dalam naungan semerbak harum bunga melati, kami, para tamu dan hadirin, berusaha kembali menjadi “hamba,” memperbaiki pengabdian kita, kembali menyadari bahwa pada hakikatnya manusia adalah hamba Allah. Budak biasanya senang jika dibebaskan dari kedudukan sebagai budak, tetapi seorang hamba Allah justru senang dengan kedudukannya sebagai hamba, sebagai abdi, sebab Allah memuji Rasulullah dengan sebutan hamba – dan hanya Rasulullah-lah, sebagai hamba, yang diperjalankan dalam perjalanan isra’ dan mi’raj untuk menemui-Nya. Ini seolah-olah memperingatkan kita bahwa hanya orang yang sadar diri sebagai hambalah yang berhak masuk ke dalam hadirat-Nya.

Penghambaan adalah kerendahan hati untuk mengakui kelemahan diri kita dihadapan Allah. Tetapi kini banyak orang yang, entah mengapa, merasa tak hina, merasa dirinya besar, merasa lebih baik dan merasa paling benar, hingga ke titik di mana mereka menjadikan Allah hanya menjadi pelengkap penyerta, atau lebih buruk lagi Allah menjadi pelengkap penderita. Allah disebut-sebut sambil kita menipu diri kita, menipu orang lain. Allah disebut-sebut sambil membunuh orang lain tanpa alasan yang bisa dibenarkan oleh syariat dan akal sehat. Allah disebut-sebut saat mereka terkena masalah, terkena kesulitan, dengan mengatakan “Ini adalah kehendak Allah,” yang sama artinya dengan mengkambingkan hitamkan Allah atas kesalahan yang mereka perbuat sendiri! Lalu di mana letak pengabdian kita? Naudzubillah..tsumma naudzubillah..

Karenanya, sesungguhnya kita butuh oase-oase ruhani, yang bisa menyegarkan kembali kesadaran kita, mengingatkan kembali kepada hakikat penciptaan diri kita, menyadarkan kembali fitrah pengabdian kita kepada Allah. Kalau perlu, kitalah yang menjadi oase ruhani itu sendiri, sebagaimana para Nabi, Wali Allah dan ulama-ulama yang siddiq, yang selalu berhati-hati dalam meniti jalan yang lurus, di jalan yang diridhoi Allah. Oase-oase itulah yang bisa menjadi wasilah bagi kita untuk menundukkan hasrat keduniawian kita, kesombongan kita, kecongkakan kita dan kekerasan hati kita, agar kita menjadi manusia yang jiwanya menjadi jiwa yang dipanggil Allah: “Wahai jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah)…. masuklah ke dalam sorgaku dengan Ridho dan Diridhoi..”

Di Gunungpati, aku mereguk oase itu…

IMAN ibarat bibit, HATI ibarat tanah, AMAL/ibadah & pengabdian ibarat menanam, ILMU ibarat metode menanam. Ketika bibit ditanam dengan benar di hati yang bersih, maka buahnya adalah Ma’rifatulloh. [salafi Al-Fithrah]

Mbah Kanyut al-Jawi
NB: terima kasih abah, atas wisata kulinernya, dengan sate sapinya yang luar biasa.

P8110216

SYARAH HIKAM (Jalan Menuju Wushul kepada Alloh)

Posted in Hikam, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 6 Maret 2009 by malfiali

Syarah Hikam

JALAN MENUJU WUSHUL KEPADA ALLAH TA’ALA

لَوْاَنَّكَ لَاتَصِلُ اِلَيْهِ اِلَّا بَعْدَ فَنَاءِ مَسَاوِيْكَ وَمَحْوِ دَعَاوِيْكَ لَمْ تَصِلُ اِلَيْهِ اَبَدًا وَلَكِنْ اِذَا اَرَادَ اَنْ يُوَصِّلَكَ اِلَيْهِ غَطَّى وَصْفَكَ بِوَصْفِهِ وَنَعْتَكَ بِنَعْتِهِ فَوَصَّلَكَ اِلَيْهِ بِمَا مِنْهُ اِلَيْكَ لَابِمَا مِنْكَ اِلَيْهِ.

Jika sekiranya engkau tidak dapat wushul kepada Allah kecuali setelah fananya segala kemauan syahwat dan bersihnya sifat pengakuanmu, maka engkau tidak akan dapat wushul selama-lamanya. Akan tetapi jika Allah berkehendak mewushulkanmu kepada-Nya, maka Allah menutup sifatmu dengan sifat-Nya dan kebiasaanmu dengan kebiasaan-Nya. Allah mewushulkanmu kepada-Nya dengan sesuatu dari-Nya kepadamu bukan dengan sesuatu darimu kepada-Nya.

Dalam buku manaqibnya, Lujjaini Daany, As-Syekh Abdul Qodir al-Jilani r.a berkata: “Seseorang hatinya tidak akan dibuka untuk berma’rifat dengan Allah SWT kecuali mereka yang hatinya kosong dari pengakuan manusiawi dan keresahan kehidupan”.

Konsep yang ditawarkan asy-Syekh Ahmad Ibnu Athaillah r.a di atas; Apabila Allah berkehendak mewushulkanmu kepada-Nya maka Allah menutup sifatmu dengan sifat-Nya dan kebiasaanmu dengan kebiasaan-Nya, Allah mewushulkanmu kepada-Nya dengan sesuatu dari-Nya kepadamu bukan dengan sesuatu darimu kepada-Nya. Maksudnya; konsep itu adalah konsep secara hakikat. Yakni ketika Allah berkehendak membuka hati hamba-Nya untuk menerima nur ma’rifat dari-Nya, maka Allah yang menurunkan nur itu dari atas ke bawah. Artinya pemahaman akan urusan ketuhanan itu semata hanya terbit dari kehendak-Nya yang azali.

Adapun konsep yang ditawarkan oleh asy-Syekh Abdul Qodir al-Jilani r.a adalah konsep secara syar’i. Yakni metode yang harus dilakukan seorang hamba supaya hatinya mendapatkan futuh untuk menerima nur ma’rifat dari Ma’budnya. Kehendak tersebut harus dimulai oleh seorang hamba dari bawah mendaki keatas untuk menggapai karunia-karunia tuhannya.

******************

Seorang hamba wajib memulai terlebih dahulu untuk wushul kepada tuhannya. Mereka harus mendaki ke atas, dengan ibadah lahir untuk mengembarakan ruhaniyah. Namun demikian ibadah lahir itu hanya sebagai perwujudan pengabdian yang hakiki kepada-Nya. Dengan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah. Mereka mensucikan diri baik lahir maupun batin dari segala kotoran basyariyah yang menjadikannya terhalang wushul kepada Allah Rabbul Alamiin.

Dengan mujahadah tersebut, seperti orang melaksanakan meditasi, mereka berusaha mengembalikan seluruh kehendak hadits secara manusiawi untuk dipertemukan kepada kehendak Allah yang azaliyah. Apabila di dalam perjalanan itu Allah berkehendak membuka pintu hati hamba-Nya, maka kehendak-Nya yang azali itu akan diturunkan ke bawah sehingga dua kehendak yang berbeda itu bertemu di tengah jalan. Kehendak yang satu mendaki dan yang satunya menurun.

Allah Maha Kuasa dengan segala kehendaknya: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. QS:81/29. Jika usaha seorang hamba dibiarkan saja tanpa ada fasilitas dan penerimaan dari atas sebagai karunia Allah, atau hanya dengan usahanya sendiri seorang hamba berusaha dapat wushul kepada tuhannya. Dengan itu mereka harus membersihkan segala pengakuan nafsu dan keresahan-keresahan hatinya, maka selamanya mereka tidak akan dapat wushul kepada tuhannya.

Sebabnya; “Apabila Allah berkehendak mewushulkanmu kepada-Nya, Allah menutup sifatmu dengan sifat-Nya dan kebiasaanmu dengan kebiasaan-Nya, maka Allah mewushulkanmu kepada-Nya dengan sesuatu dari-Nya kepadamu bukan dengan sesuatu darimu kepada-Nya”. Ketika manusia mampu memfanakan kemauan dan amaliyahnya yang hadits, maka sifat basyariyah yang fana dalam dimensi fana itu akan menjadi sifat yang qodim di dalam kefanaan. Hal itu bisa terjadi, karena yang fana telah ditutupi oleh sifat-sifat-Nya yang qodim. Itu sesungguhnya semata-mata terjadi karena kehendak Allah yang azali. Meski secara lahir kehendak yang azali itu seakan terbit dari kehendak manusia yang hadits.

Allah yang menciptakan seluruh makhluk dengan kehendaknya yang azali. Ketika makhluk itu berkehendak dalam dimensi yang hadits, maka kehendak itu tentunya terbit dari kehendak-Nya yang azali tersebut. Hanya saja karena manusia sebagai kholifah bumi. Dengan hak huriyatul irodah atau kebebasan memilih yang mereka miliki. Manusia harus berkehendak dan berbuat. Bagi orang yang matahatinya tertutup, kehendaknya itu seakan tidak ada hubungan sama sekali dengan kehendak Penciptanya. Hal itu seperti itu bisa terjadi, penyebabnya karena matahati orang tersebut belum mendapatkan futuh dari tuhannya.

Pahit Selalu Obat, Meski Obat Tidak Selalu Pahit.

Manusia harus memulai dengan kehendak dan amal yang dilakukan. Mereka harus bermujahadah di jalan Allah untuk membersihkan hatinya dari kotoran manusiawi supaya Allah membuka pintu hati itu untuk menerima nur ma’rifat dari-Nya. Padahal orang tidak dapat membersihkan dirinya dari kotoran kecuali setelah hati itu terlebih dahulu kotor. Jika jiwa manusia tidak kotor, apa yang harus dibersihkan darinya ???.

Oleh karena itu keresahan hidup di dunia, seperti akibat difitnah, dihina dan dihianati. Keresahan seperti itu di dalam dada seorang hamba yang beriman mutlak harus ada. Meskipun keresahan itu sejatinya terbit dari akibat perbuatan dosa yang mereka lakukan. Keresahan hidup itu adalah obyek yang harus dibersihkan dari hati orang beriman. Namun demikian keresahan itu harus benar-benar mampu dibersihkan. Jika tidak, berarti hati mereka selamanya tidak akan mendapatkan futuh dari tuhannya.

Ketika seorang hamba yang arifin sadar bahwa ia harus berbuat benah-benah. Mereka harus menggosok segala keresahan yang ada di dalam hatinya, baik keresahan yang terbit akibat perbuatan maksiat maupun akibat kemusykilan hati terhadap prilaku dan sikap umatnya yang terkadang menyakitkan hati. Mereka menghadapkan kesakitan dan kekecewaan hati itu kepada kemurahan Allah. Menggosok penyakit hati itu dengan dzikir dan mujahadah, mengembalikan segala keresahan di alam fana kepada hakekat pengaturan-Nya secara azaliyah di alam qodim. Hasilnya, keresahan itu sedikit demi sedikit akan mengalir keluar dari tempatnya bagaikan air sungai yang tercemar keluar menuju muara.

Keresahan hati itu kemudian ditampung oleh keluasan air samudera yang suci lagi jernih. Ketika air yang kotor dan najis itu telah bersatu dalam kesatuan air samudera yang luas, maka yang kotor dan najis itu akan kembali menjadi bersih dan suci. Ketika keresahan hati yang sempit telah ditampung oleh ilmu Allah yang maha luas, maka keresahan sesaat akan menjelma menjadi kedamaian yang abadi. Keadaan tersebut bukan karena najis yang sedikit itu menjadi hilang ketika ditelan air samudera, akan tetapi menjadi tawar setelah menjadi bagian dalam kesatuan yang tidak terbatas.

Itulah gambaran isi dada seorang ulama sejati. Setiap saat harus menampung kesusahan umatnya sehingga isi dadanya hanya dipenuhi kotoran manusiawi. Rongga dada mereka hanya dipenuhi urusan dan kesusahan orang lain sampai-sampai melupakan kesusahannya sendiri. Namun demikian, apabila proses kesucian hati ternyata harus dimulai dari kotoran basyariyah, maka kotoran yang mengotori hati seorang hamba yang arifin tersebut, setelah kotoran itu mampu membangkitkan kesadaran yang hakiki akan kedho’ifan dan kehina’an diri, berarti kotoran itu sejatinya adalah rahmat yang didatangkan dari kehendak yang azali pula.

Apabila dengan kotoran manusiawi itu ternyata mereka menjadi orang yang tawadhu’ di hadapan Allah maupun kepada sesama makhluk. Kotoran itu mampu menumbuhkan rasa takut yang kuat kepada keadilan Rabbul Alamin. Membangkitkan harapan dalam kekuatan azam untuk bertaubat dengan taubatan nasuha. Melahirkan semangat untuk berbuat benah-benah dan meningkatkan amal sholeh serta pengabdian. Maka datangnya kotoran itu akan menjadi lebih baik daripada datangnya kebersihan hati orang lalai yang dapat mengakibatkan tertutupnya pintu taubat dan malas menjalankan ibadah.

Nabi Adam a.s mendapat musibah dengan diturunkan oleh Allah dari maqom kemuliaan di surga kepada maqom kehinaan di dunia adalah sebab dosa yang diperbuatnya. Demikian juga Nabi Yunus a.s ditahan di dalam perut ikan di dalam lautan dalam waktu yang lama, sebab kesalahan yang diperbuatnya dan juga kaum Tsamud dihancurkan hingga sama rata dengan tanah. Itu semua akibat dosa-dosa yang mereka perbuat. Allah telah mengabarkan keadaan kaum Tsamud dengan firman-Nya: “Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyamaratakan mereka (dengan tanah)”. QS:91/11.

Dosa pertama dan kedua seperti juga dosa yang ketiga. Meskipun dosa-dosa tersebut sama-sama menjadikan sebab datangnya musibah, namun musibah yang diakibatkan dosa pertama dan kedua adalah musibah yang menjadikan hati seorang hamba menjadi suci dan bersih. Sedangkan dosa yang ketiga adalah dosa yang menyebabkan tertutupnya pintu do’a dan pintu taubat. Dosa yang pertama dan kedua adalah dosa yang terbit dari hati seorang hamba yang beriman dan tidak berdaya sedangkan dosa yang ketiga adalah dosa yang muncul dari hati orang yang kafir dan menentang.

Meskipun ketiganya sama-sama dosa yang dapat berakibat datangnya musibah, tetapi oleh karena dosa tersebut terbit dari hati yang berbeda, hasil akhirnya juga menjadi berbeda. Musibah yang pertama dan kedua menjadi sebab seorang hamba menjadi mulia sedangkan musibah yang ketiga menjadi sebab kehancuran suatu kaum hingga rata dengan tanah. Namun demikian, hendaknya setiap individu takut kepada Allah untuk berbuat dosa dan kesalahan. Hal itu disebabkan, ketika seseorang sudah terlanjur berbuat dosa dan kesalahan, berarti ia telah mendaftarkan dirinya menjadi “Orang daftar tunggu”. Orang yang berbuat dosa tersebut hanya menunggu dua kemungkinan, menerima musibah di dunia atau siksa yang pedih di akhirat, kecuali apabila Allah berkehendak mengampuni dosa-dosa orang tersebut.

Meskipun Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Rahmat Allah lebih besar daripada dosa hamba-Nya. Namun demikian, tidak ada seorangpun dapat mengetahui bahwa dosa-dosa yang mereka perbuat akan mendapat pengampunan dari-Nya. Yang pasti, tidak ada satupun perbuatan dosa ditolak dan lepas dari perhitungan di hadapan keadilan-Nya. Dosa sekecil apapun, di hadapan keadilan Allah akan diperhitungkan dengan seadil-adilnya. Kita berlindung dengan-Nya dari kejahatan dan kejelekan yang terjadi. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS.An-Nur(24);21)

Yang mengotori hati seorang hamba adalah kehendaknya sendiri dalam mengikuti langkah-langkah setan di dalam perbuatan keji dan mungkar. Sedangkan yang mensucikan hatinya adalah pengampunan dan rahmat Allah serta kehendak-Nya di dalam memfasilitasi segala amal ibadah. Meskipun seorang hamba berusaha sekuat tenaga untuk mensucikan hatinya dari akibat dosa yang telah diperbuat, seandainya tidak ada karunia Allah kepadanya, selamanya hati itu tidak akan kembali menjadi suci seperti sediakala.

Jadi, jalan menuju wushul itu bukan hanya dengan ibadah dan mujahadah saja, tetapi juga dengan merasa berdosa sehingga orang bertaubat kepada Allah. Namun demikian, dengan jalan-jalan tersebut manusia harus mampu fana diri di hadapan Allah. Di dalam perjalanan itu mereka harus mampu mengembalikan segala kehendak dan amal yang hadits kepada kehendak dan amal Allah yang qodim. Apabila dengan itu Allah berkehendak menurunkan futuh kepada hamba-Nya, maka seorang hamba dengan segala pengembaraannya akan berhasil wushul kepada tuhannya.

Namun demikian, yang menjadikan sebab wushul itu bukan kehendak dan amal ibadah seorang hamba, tetapi karena kehendak dan amal ibadah itu sejatinya hanya terbit dari kehendak Allah yang azali. Tanda-tandanya, ketika seorang hamba mampu melebur kehendaknya yang hadits kepada kehendak Allah yang qodim dalam kesatuan amal yang dilakukan., maka berarti amal tersebut dilakukan oleh seorang hamba yang akalnya di bumi dengan menggunakan konsep bumi sedangkan hatinya di langit dengan menggunakan konsep langit. Itulah tanda-tanda manusia yang sempurna. (malfiali, Maret 2009)

SYARAH HIKAM (Usaha Penyembuhan Bagi yang Tersembunyi)

Posted in Hikam, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 1 Maret 2009 by malfiali

syarah hikam

Penyembuhan Bagi yang Tersembunyi

حَظٌّ النَّفْسِ فِى المَعْصِيَةِ ظَاهِرٌ جَلِىٌّ وَحَظَّهَا فِى الطَّاعَةِ بَاطِنٌ خَفِىٌّ وَمُدَاوَاةُ مَا يَخْفَى صَعْبٌ عِلَاجُهُ . رُبَّمَا دَخَلَ الرِّيَاءُ عَلَيْكَ مِنْ حَيْثُ لَايَنْظُرُ الخَلْقُ اِلَيْكَ.

Keuntungan nafsu dalam perbuatan maksiat tampak jelas dan keuntungan nafsu dalam perbuatan taat tersembunyi dan samar. Usaha penyembuhan bagi yang samar sangat sulit cara pengobatannya. Kadang-kadang riya’ masuk kepadamu dari arah yang tidak dapat terlihat oleh makhluk kepadamu.

Dalam segala hal yang dilakukan manusia, baik perbuatan maksiat maupun taat, peran nafsu selalu tidak mau ketinggalan di dalamnya. Peran nafsu dalam perbuatan maksiat sangat jelas. Hal itu karena perbuatan maksiat selalu sejalan dengan kehendak nafsu sahwat. Berbeda dengan perbuatan taat, oleh karena perbuatan taat itu tidak sejalan dengan kehendak nafsu, maka peran nafsu di dalamnya sangat samar. Nafsu bisa mengajak orang berbuat riya’ meski perbuatan itu dilakukan tidak dihadapan manusia, semisal ketika dengan perbuatan taat itu manusia ingin menjadi orang unggulan. Oleh sebab itu, pengobatan peran nafsu dalam perbuatan taat jauh lebih berat daripada pengobatan nafsu di dalam perbuatan maksiat.

Tiga perangkat (instrumen) kehidupan manusia, yakni emosional rasional dan spiritual, ketiganya merupakan sarana hidup yang harus mampu dihidupi dan dipelihara serta digunakan oleh manusia secara benar dan tepat. Kehidupan masing-masing sarana tersebut, harus mampu dijaga dan dipelihara dengan baik, agar kehidupan manusia dapat berjalan dengan sehat dan seimbang.

Emosional terdiri dari dua bagian yakni nafsu dan hawa. Rasional juga dua bagian yaitu akal dan fikir dan spiritual juga demikian, yaitu hati dan ruh. Masing-masing bagian tersebut berfungsi sebagai indera manusia. Manusia harus mampu memanfaatkan indera-indera tersebut sesuai kapasitas dan batas-batas yang ada. Indera manusia tersebut, seperti nafsu dan hawa, sejatinya adalah suatu sistem kehidupan yang mempunyai cara hidup tersendiri yang mampu membangkitkan energi untuk mendorong kehidupan manusia.

Sebagai contoh, apabila sistem kehidupan yang ada di dalam nafsu dan hawa tidak dapat dikendalikan manusia dengan baik, niscaya kehidupan manusia berbalik akan dikendalikan oleh nafsu dan hawanya. Untuk itu, pertama yang harus dilakukan manusia adalah mengenali indera-inderanya sendiri. Itu merupakan bagian dari upaya supaya manusia mampu mengenali jati dirinya sendiri. Manusia harus mengenal dengan baik sifat-sifat segala perangkat kehidupan tersebut, selanjutnya manusia harus dapat mengendalikannya dengan baik pula.

Masing-masing instrumen kehidupan tersebut akan mengajak manusia untuk mengikuti kemauan mereka. Namun dari ketiga perangkat itu hanya nafsu dan hawa yang cenderung mengajak manusia berbuat kejelekan. Allah s.w.t menegaskan dengan firman-Nya:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS.Yusuf(12);53).

Apabila manusia mampu menahan dan mengendalikan ajakan nafsunya dari dorongan hawa, itu dilaksanakan semata-mata karena takut kepada Allah, niscaya manusia akan mendapat kebahagiaan hidup yang abadi. Allah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya – maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya) (QS.An-Naziaat(79);40-41).

Menahan nafsu dari hawa itu bisa dilaksanakan manakala orang mampu mengendalikan kehidupan¬nya dengan kekuatan hati dan ruh, itulah tanda-tanda orang yang bertakwa. Itu disebabkan karena hati dan ruh (spiritual) selalu mengajak manusia untuk berbuat kebaikan. Adapun fungsi rasional, kedudukannya berada di tengah-tengah antara ajakan emosional dan ajakan spiritual. Apabila rasional mengikuti kehendak nafsu dan hawa, maka apapun yang dikerjakan manusia, meski itu perbuatan taat dan ibadah,  ujung-ujungnya pasti kejelekan.

Selanjutnya, kebaikan yang didasari nafsu dan hawa tersebut bahkan dapat menjadi muasal terjadinya kehancuran total di muka bumi. Hal itu bisa terjadi, karena peran nafsu di dalam amal kebaikan itu sangat tersembunyi. Sebagian besar orang hanya melihat kebaikan yang didilakukan secara lahir, mereka tidak mengetahui yang dibungkus dengan kebaikan lahir itu ternyata kemauan hawa nafsu secara batin. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya :

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”(QS.Al-Mu’minun(23);71).

Ketika manusia sedang berbuat maksiat, mereka lebih mampu menjaga diri agar nafsunya tidak terlalu larut dalam kemungkaran. Hal itu karena peran nafsu di dalam perbuatan maksiat dominan kelihatan. Berbeda disaat manusia berbuat taat. Oleh karena peran nafsu di dalam perbuatan taat tersembunyi dan samar. Jarang manusia sadar bahwa sesungguhnya yang mendasari perbuatan taat itu hanyalah dorongan nafsu belaka, maka sulit baginya untuk dapat mengendalikan nafsu itu dengan baik, kecuali apabila akibat dari perbuatan maksiat tersebut sudah dirasakan dalam bentuk musibah.

Meski secara lahir dasar kebajikan yang dilakukan oleh manusia tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Namun tanda-tandanya sejatinya dapat dibaca. Yakni, apabila manusia selalu berlebihan dalam berbuat, meski itu perbuatan taat, itu pertanda bisa jadi yang mendasari perbuatan tersebut adalah nafsu sahwat. Allah telah menyampaikan konsep tersebut dengan firman-Nya:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Jangan engkau ikuti orang yang Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”(QS.Al-Kahfi(18);27).

Maksud ayat, ketika hati manusia sedang lupa berdzikir atau ingat kepada Allah, berarti saat itu—apapun yang diperbuat—manusia sedang mengikuti kehendak hawa nafsunya. Ketika kehidupan spiritual sedang terlupakan hingga powernya menjadi lemah, berarti indera emosianal yang menjadi motor kehidupan manusia. Saat itu segala urusan manusia menjadi berlebihan. Akibat dari itu, manusia akan terjerumus kepada keasyikan dan kezaliman yang melalaikan.

Bahkan di dalam pelaksanakan ibadah dan mujahadah sekalipun, tanpa terasa seringkali manusia melaksanakannya hanya dengan dasar dorongan nafsu belaka. Mereka tergesa-gesa ingin cepat mendapatkan apa-apa yang diharapkan dari tuhannya. Mereka menganggap ibadah tersebut dilakukan hanya terbit dari kemauan dan kemampuannya sendiri, tidak sadar bahwa saat itu seharusnya hanya didasari rasa spiritual. Yakni hanya ikhlas semata mengabdi kepada Allah, serta semata-mata karena taufiq dan hidayah Allah ibadah itu dapat dilaksanakan.

Ketika ibadah yang dilakukan itu ternyata telah terpeleset jauh dari landasan utama. Ibadah itu hanya didasari dengan semangat emosional belaka. Yakni keinginan nafsu sahwat yang ujung-ujungnya hanyalah keuntungan duniawi. Bahkan bukan hanya sekedar untuk mendapat keuntungan secara finansial saja, tetapi juga lebih jauh dari itu. Yakni dengan kekuatan finansial mereka mencari kehormatan dan kebanggaan di jalan ibadah yang dilakukan itu. Akibatnya, ibadah tersebut justru akan menjerumuskan manusia kepada kehancuran yang hakiki

Hal itu disebabkan, oleh karena semangat ibadah tersebut hanya didorong kekuatan emosional belaka, maka manusia cenderung berbuat berlebihan dan terjebak kepada perangkap setan. Akibat dari itu, timbul pengakuan di dalam hatinya, bahwa ia telah mampu melaksanakan ibadah yang tidak semua orang bisa melakukannya. Dari pengakuan nafsu seperti itu kemudian terbit sifat sombong. Yakni, oleh karena menganggap dirinya mendapat derajat disisi Allah, maka ia merasa derajatnya lebih tinggi daripada derajat orang lain. Dengan perasan seperti itu manusia menjadi bangga bahwa ia dapat mencapai suatu kelebihan yang orang lain tidak dapat memilikinya. Padahal perasaan itu sejatinya hanya hasil bisikan dan tipu-daya setan untuk menyesatkan hatinya dari jalan ibadah yang sesungguhnya. Allah menegaskan yang demikian dengan firman-Nya :

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ

“Dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk”(QS.An-Naml(27);24).

Setan menghiasi amal ibadah yang dijalani manusia supaya mereka memandang baik kepada dirinya sendiri. Dengan demikian itu tanpa terasa manusia telah terhalang dari jalan Allah. Selanjutnya manusia tidak akan mendapatkan hidayah dari-Nya dan akan tersesat dari jalan yang lurus. Kita mohon perlindungan dengan Allah darinya.

Ketika dengan ibadahnya manusia merasa telah mendapatkan kemuliaan disisi Allah. Mereka merasa mendapatkan kelebihan-kelebihan atau karomah-karomah. Merasa bisa mermakrifat kepada-Nya, selanjutnya mereka menuntut orang lain untuk memuliakan dirinya. Sebagai contoh, jika belanja di pasar misalnya, mereka minta diberi harga yang lebih murah daripada orang lain. Jika duduk bersama dengan orang lain mereka minta ditempatkan di depan. Jika sholat jama’ah minta menjadi imam.

Mereka merasa hanya dirinya yang paling pantas menjadi pemimpin. Akibatnya, mereka selalu berusaha menjadi pimpinan dalam komunitasnya. Keinginan itu diupayakan dengan sungguh-sungguh, bahkan dengan menghalalkan segala cara, hingga akhirnya mereka tersebut terjebak kepada perbuatan fasik dan munafik.

Terlebih ketika kedudukannya dalam masyarakat merasa disaingi dengan orang baru. Untuk menjatuhkan lawan saingannya itu, provokasi ditebarkan dan fitnah-fitnah yang keji disebarluaskan. Akibatnya, perbuatan-perbuatan yang seharusnya tidak pantas dilakukan oleh orang yang ahli ibadah dibudayakan. Kalau sudah demikian keadaannya, sulit baginya untuk dapat memperbaiki diri, meski ia telah sadar bahwa dirinya telah jauh terjerumus di dalam kepekatan hawa nafsunya sendiri. Hal itu karena yang ada dalam hatinya hanya bara api dendam dan kemunafikan yang mencengkeram di dalam rongga dada.

Kemunafikan itu akhirnya akan menjelma menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak menjadi konflik yang berkepanjangan. Yang asalnya hanya sepercik api nafsu syahwat yang terlanjur diperturutkan dalam pelaksanaan ibadah, setelah hawa nafsu itu dikemas dalam kebajikan, hasilnya mampu menjelma menjadi penyakit yang mengakar kuat dalam bentuk karakter yang merugikan.

Ketika api kesombongan telah diguratkan oleh hawa nafsu di dalam karakter dan jiwa, dan diri merasa paling mulia, merasa sudah menjadi orang khowas dan yang paling utama. Dengan kelebihan-kelebihan yang diberikan Allah tersebut bukannya menjadikan hati semakin tawadhu’ dan rendah diri dengan penuh rasa syukur atas pemberian, melainkan menjadikan semakin bertambah lupa diri serta merasa menjadi yang paling dikasihi dan difasilitasi. Mereka bahkan mengaku menjadi kekasih-kekasih Allah yang dicintai, sebagaimana yang pernah terjadi dalam sejarah umat terdahulu yang telah diabadikan Allah dengan firman-Nya :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”(QS.Al-Ma’idah(5);18).

Kelebihan-kelebihan yang didatangkan Allah kepada dirinya yang semestinya hanyalah sebagai buah amal ibadah tersebut malah dimanipulasi sebagai kelebihan milik pribadi. Mereka memutus diri kepada yang menyebabkan sebab-sebab, akibatnya merasa menjadi orang sakti mandraguna tanpa sebab.

Kesaktian yang diyakini itu kemudian dipertahankan dengan segala cara, baik dengan mujahadah maupun riyadhah yang didawamkan. Dengan itu supaya mereka tetap dianggap orang yang mempunyai karomah. Supaya karomah yang dimiliki itu tetap cemerlang dan tidak pernah padam. Akibatnya, jika dahulu ketika malam-malam sepi selalu digunakan untuk munajat kepada Junjungan Yang Maha Pemurah, bersyukur atas segala anugerah, menyerahkan segala kerendahan dan kelemahan diri di hadapan keagungan dan kekuasaan Allah, memohon ampunan dari segala dosa dan kesalahan dihamparan samudera maghfiroh dan rahmah-Nya, menangis karena merasa lemah dalam melaksanakan kesempurnaan pengabdian yang harus dijalani. Kini, malam-malam itu dijadikan hanya untuk pamer kesombongan diri. Melebur diri dengan sifat riya’ dan ujub di malam sepi tanpa saksi. Bersimpuh mengejar bayangan untuk mempertahankan linuwih yang ada dalam angan-angan. Wirid-wirid dan mujahadah malam yang dilaksanakan secara jama’ah akhirnya hanya bertujuan supaya orang lain tahu bahwa mereka mempunyai kelompok yang utama. Mereka melaksanakan amal rahasia hanya bertujuan supaya orang tahu bahwa mereka dari golongan yang mempunyai amal ikhlas dan rahasia. Mereka berusaha mendapatkan kekhususan yang rahasia supaya orang tahu bahwa mereka telah mendapatkan kekhususan secara rahasia.

Itu bisa terjadi, karena ketika hati nurani telah tertutup dari sumber power yang hakiki maka secara otomatis akan melenceng kepada arah yang tidak pasti. Ketika hati telah bergeser dari pelita yang menyinari, maka musuh-musuh menyiapkan diri untuk menemani. Itu adalah penyakit tersembunyi yang terkadang orangnya sendiri tidak gampang menyadari. Oleh karena itu, cara memperbaiki penyakit nafsu dalam perbuatan taat tersebut jauh lebih sulit daripada memperbaiki nafsu di dalam perbuatan maksiat.

Sungguh benar yang dikatakan oleh asy-Syekh Ibnu Athaillah r.a bahwa: [usaha penyembuhan bagi yang samar sangatlah sulit cara pengobatannya. Kadang-kadang riya’ masuk kepadamu dari arah yang tidak dapat terlihat oleh makhluk kepadamu].

Di dalam isi dada seorang hamba yang ‘arifin, tidak ada lagi bilik yang tersisa, kecuali disitu telah dipenuhi apa-apa yang diimani dan dicintai, yakni Allah dan rasul-Nya serta kehidupan akhirat yang abadi. Kehidupan akhirat itu boleh jadi takut neraka maupun berharap surga. Sedangkan realita dan fenomena di dunia sebagai tarbiyah azaliyah bagi seorang hamba yang terjaga, itu bertujuan supaya orientasi hidup mereka tidak dominan condong kepada kehidupan dunia. Untuk itu bagi mereka dunia dan isinya selalu tercipta cenderung mengecewakan hati.

Bagi orang beriman, kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara yang menipu. Oleh sebab itu, apapun yang mereka perbuat, baik dalam keadaan ramai maupun sepi, baik secara vertikal maupun horizontal, perbuatan itu harus yang berorientasi kepada apa yang diimani dan yang dicintai, bukan kepada kehidupan dunia yang dapat mengecewakan hati. Bila keadaan hati ternyata tidak demikian, bahkan sebaliknya, maka boleh jadi iman dan cinta yang ada di dalamnya masih ada yang perlu dibenahi.

Yang diperhitungkan bagi orang beriman bukan apa yang dihasilkan oleh amal. Seperti kelebihan hidup yang banyak dicari orang. Sebab, berbentuk apapun kenikmatan di duniawi, di hadapan Allah kenikmatan itu harus mampu dipertanggung-jawabkan. Yang dibayar hanyalah amal dan perbuatan itu sendiri, karena manusia akan disampaikan sesuai amal dan perbuatan yang dilakukan. Adapun kenikmatan hidup buah dari amal perbuatan yang dilakukan, bagi hati yang beriman, kenikmatan hidup itu akan menyampaikan mereka kepada tahapan permasalahan yang panjang. Oleh sebab itu, cukup dengan amal, jika amal itu dapat menyampaikan kepada tujuan, walau sekedar pertemuan di dalam perjalanan. Apabila dengan pertemuan itu dapat diharapkan ada pertemuan lagi di ujung perjalanan, berarti amal itu adalah kelebihan hidup yang patut diperhitungkan. (malfiali, 28 Februari 2009)

SYARAH HIKAM (Apabila Allah Besar dalam Hatimu, maka Apapun yang Ada Di Luarnya akan Menjadi Kecil)

Posted in Hikam, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 26 Februari 2009 by malfiali

Syarah Hikam

APABILA ALLAH BESAR DALAM HATIMU,
MAKA APAPUN YANG ADA DI LUARNYA AKAN MENJADI KECIL

لَا يَعْظُمُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ عَظْمَةً تَصُدُّكَ عَنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ تَعَالَى فَاِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اِسْتَصْغَرَ فِى جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبُهُ . لَاصَغِيْرَةَ اِذَا قَابَلَكَ عَدْلُهُ وَلَاكَبِيْرَةَ اِذَا وَاجَهَكَ فَضْلُهُ

Jangan terlalu membesar-besarkan rasa berdosamu yang mengakibatkan terhalangnya baik sangkamu kepada Allah. Sesungguhnya bagi seorang hamba yang berma’rifat kepada Ma’budnya, akan menjadi kecil dosanya apabila dihadapkan dengan kemurahan-Nya. Dan tidak ada yang kecil apabila dihadapkan dengan keadilan-Nya dan tidak ada yang besar apabila dihadapkan dengan keutamaan-Nya.

Dosa dan pahala, taat dan maksiat, susah dan senang, bahagia dan menderita, adalah bagian romantika kehidupan yang tidak terhindarkan. Siapapun pasti akan menjumpainya. Ditolak maupun dibenci bahkan tanpa sebab, bila waktunya susah datang, ia akan datang juga. Demikian pula senang, maksiat dan taat. Bagi hati yang a’rifin , empat hal tersebut harus mampu dimanfatkan untuk ibadah, sebagai sarana latihan, agar ma’rifatnya selalu bertambah cemerlang. Itu semua didatangkan semata-mata hanya sebagai tarbiyah dari Allah kepada hamba yang dikehendaki, namun sayangnya hanya seorang  ‘Ulul albab yang dapat mengambil pelajaran darinya.

Sarana Latihan

1. Ketika senang sedang datang. Dengan senang itu bagaimana seorang hamba dapat bersyukur kepada Allah, maka senang itu akan membawa manfaat untuk dirinya.
2.    Demikian pula ketika susah datang. Kalau ia belum mampu mensyukuri susahnya, minimal bagaimana dapat bersabar dari susah itu, maka susah itu akan membawa manfaat untuk dirinya. Sebab, tanpa susah itu, tidak mungkin ia mendapatkan pahala sabar. Guru kita berkata kepada salah satu muridnya: “Kalau hanya yang enak-enak saja yang dapat kamu syukuri, maka seekor sapipun mampu melakukannya. Kalau engkau ingin derajat-mu di hadapan Allah semakin meningkat maka syukurilah susahmu, sebab tanpa kesusahan itu, pasti engkau tidak dapat merasakan nikmatnya senang”.
3.    Apabila sedang berbuat ta’at, maka bagaimana keta’atan itu dapat menambah ketakwaan dan menjadikan rendah hati, baik di hadapan sesama manusia lebih-lebih di hadapan Tuhannya.
4.    Apabila sedang berbuat maksiat, maka bagaimana dosa-dosa itu dapat menjadikan merasa hina, menyesal, membangkitkan kemauan bertaubat dengan taubatan nasuha dan merasa fakir kepada rahmat dan pengampunan Allah. Kalau demikian keadaannya, maka dosa itu pun akan membawa kemanfaatan baginya, sebab dosa-dosa tersebut dapat menyebabkan dirinya menjadi lebih baik.

Asy-Syekh berkata: “Jangan engkau terlalu membesar-besarkan rasa berdosamu yang mengakibatkan terhalangnya baik sangkamu kepada Allah. Sesungguhnya bagi seorang hamba yang berma’rifat kepada Ma’budnya, akan menjadi kecil dosanya apabila dihadapkan dengan kemurahan-Nya”.

Apa saja yang didatangkan Allah kepada seorang hamba, walau bentuknya berupa dosa dan musibah, apabila itu semua menjadikan ingat dan dekat kepada-Nya, menjadikan sebab ma’rifat-nya semakin cemerlang dan keyakinan-nya semakin mantap, maka hakikatnya dosa dan musibah itu adalah rahmat, bukan adzab. Apa saja yang datang kepada seorang hamba, walau bentuknya ibadah dan pahala serta kenikmatan-kenikmatan hidup, kalau itu semua menjadikannya lupa diri dan jauh dari Allah, menjadikannya sombong dan takabur, maka yang demikian itu hakikatnya adalah siksa.

Adapun tanda-tanda hati yang beriman ialah, apapun yang ada, baik yang datang kepada dirinya maupun yang pergi dari dirinya adalah apa-apa yang akan menjadikan dirinya ingat dan dekat kepada yang diimaninya serta menjadikan semakin tebalnya iman yang ada dalam hatinya.

Semisal akibat perbuatan maksiat, meskipun bentuknya musibah, kalau musibah itu ternyata menjadikan hati seorang hamba ingat dan dekat kepada Allah, menjadikan hatinya merasa hina dan merasa fakir kepada-Nya, maka musibah itu lebih baik baginya daripada akibat perbuatan taat dan pahala, walau bentuknya kenikmatan dan kemuliaan, namun ternyata menjadikannya lupa diri dan jauh dari-Nya.

“Tidak ada dosa kecil bila dihadapkan kepada keadilan Allah dan tidak ada dosa besar bila dihadapkan kepada pengampunan Allah”.

Dosa, sekecil apapun, apabila dihadapkan dengan sifat keadilan Allah Yang Maha Adil, maka akan menjadi dosa besar. Sebab yang disakiti dengan dosa kecil itu adalah Dzat Yang Maha Besar. Seperti orang meludah dilantai pasar yang becek dan kotor misalnya, meski di depan orang banyak, yang demikian itu adalah hal yang biasa. Namun apabila ada orang meludah di karpet  di depan Presiden misalnya, maka boleh jadi yang demikian itu merupakan perbuatan orang gila.

Apapun yang dihadapkan kepada Yang Maha Besar, maka nilainya akan menjadi besar, walau ia adalah perbuatan yang kecil, karena Allah  mengetahuinya. Seandainya yang kecil itu tidak mendapatkan ampunan-Nya, maka yang kecil itu akan diadili dengan seadil-adilnya. Dan Allah tidak berbuat dholim kepada hamba-Nya. Sebagaimana yang telah digambarkan Allah dengan firman-Nya:

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”.  (QS. al-Kahfi; 18/49)

Adapun dosa besar, sebesar apapun menurut pandangan manusia, bila dihadapkan dengan sifat Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun, dosa-dosa itu akan menjadi kecil, karena pengampunan Allah kepada orang yang dikehendaki, lebih besar daripada dosa-dosa hamba-Nya. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah : “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.  (QS. az-Zumar; 39/53)

Walhasil, dengan keempat hal tersebut, bagaimana seorang hamba mampu berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Karena senang dan susah itu bagi hati yang ‘arifin hanyalah sebuah kendaraan untuk menyampaikan kepada tujuan hidup dan menyelesaikan setiap tahapan derajat disisi-Nya. Namun yang dimaksud bukan yang susah menjadi senang, tapi bagaimana dengan susah itu hatinya tetap senang. (malfiali, Februari 2009)

RAHASIA SUMBER INAYAH 2 (Keberkahan Membawa Berkah)

Posted in Hikam, ilmu thoriqoh, takdir dengan kaitan (tags) , , on 10 Februari 2009 by malfiali

Rahasia Sumber Inayah

Rahasia Sumber Inayah 2

Allah SWT. Tuhan Semesta Alam Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah dan Yang Mempunyai Karunia yang Besar, sejak zaman azali telah menghendaki dan telah menentukan, bahwa “Rahmat Utama” itu telah dianugerahkan secara khusus hanya kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. Nabi akhir zaman yang sekaligus sebagai penutup para Nabi sebelumnya, sebagai “Rahmatan Lil ‘Alamin”, untuk supaya disampaikan kepada seluruh makhluk di seluruh alam semesta. Maka sejak itu sampai hari kiyamat dan bahkan di hari akhirat nanti, manusia mendatanginya dengan berbondong-bondong dari segala penjuru belahan bumi, mengulurkan tangannya untuk menggapai limpahan rahmat dan syafaat dari Baginda Nabi saw. Mereka itu bagaikan laron-laron mengerumuni lampu di kegelapan malam untuk mencari jalan kehidupan.

Dengan itu maka Allah Ta’ala telah menentukan pula bahwa ketaatan kepadanya (Rasul saw). adalah identik dengan ketaatan kepada Allah SWT., artinya hanya dengan mengikuti baginda Nabi saw. kepada jalan yang sudah ditempuhnya, maka disitulah letak jalan kepada Allah yang sebenarnya yaitu: ”Jalan yang lurus, – jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang yang telah Allah anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang tersesat”. Allah SWT. telah menegaskan dengan firman-Nya:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. QS:4/80.

Jika selama ini orang belum pernah mengetahui, sehingga tidak mengenali “jalan lurus” yang telah siapkan Allah Ta’ala baginya di balik rahasia ayat-ayat di atas, maka sejak sekarang, bagi yang ingin mengetahuinya, curahkan segala perhatian dengan bersungguh-sungguh kepadanya dan dengan berusaha mengadakan penelitian dan latihan yang mendalam, supaya sejak sekarang juga mereka dapat menemukan dan mengenali “jalan lurus” itu yang selanjutnya dapat menempuhnya dengan benar pula. Kalau tidak, sehingga selama hidupnya mereka tidak dapat mengenali “jalan lurus” itu dan apabila ketidaktahuan itu kemudian terlanjur dibawa keliang kubur bersama kematiannya, maka mereka tinggal menunggu apa yang akan terjadi dengannya disana, karena Allah Ta’ala telah memberikan peringatan dengan firman-Nya:

يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا(71)وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. – Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). QS17/71-72.

Oleh karena selama hidupnya di dunia mereka telah mengikuti seorang pemimpin zamannya yang dapat membimbing ibadah dan perjalanan ruhaniyahnya kepada Allah Ta’ala, maka di akhirat nanti kembali mereka akan dihidupkan bersama-sama dengan pemimpin mereka yang dahulu diikuti di dunia dahulu. Namun sebaliknya, oleh karena sebagian besar manusia tidak pernah mengenali “jalan lurus” yang harus ditempuh, mereka hanya menggunakan mata dhohir saja untuk melihat akan tetapi mata batinnya buta, hanya memilih mengelola kehidupan duniawi yang sementara dengan melupakan kehidupan ukhrowi yang abadi, maka di akhirat nanti mata itu akan menjadi lebih buta lagi dan mereka akan lebih tersesat dari jalan yang sebenarnya.

Dari pancaran “Rahmat Utama” yang ada di tangan “Manusia Utama” itu kemudian terbentuklah jaringan komunitas persaudaraan antara sesama umat manusia dengan tulus dan ikhlas. Mereka saling mencintai semata-mata hanya karena Allah Ta’ala. Ukhuwah itu telah mengakar kuat dari porosnya, dan sekarang cabang dan rantingnya telah menyebar sampai kepada pelosok belahan bumi yang terpencil sekalipun. Itulah Ukhuwah Islamiyah, semenjak panji-panji pertama telah dengan jerih payah dan bahkan dengan bersimbah darah berhasil dikibarkan oleh para tokoh utamanya di bawah pimpinan langsung oleh seorang Manusia yang paling utama (Rasul saw.), maka sampai sekarang dan bahkan selama-lamanya, selama nafas kehidupan masih dihembuskan di muka bumi, panji-panji itu akan tetap berkibar, bahkan gaungnya semakin besar.

Terbukti dengan semakin besarnya minat anggotanya untuk menenggak kesejukan minuman yang disajikan oleh ukhuwah itu lewat ibadah haji di Haramain (Makah Madinah) – dari sumber poros yang tidak henti-henti berputar, dimana panji-panji yang pertama telah berhasil dikibarkan oleh sang tokoh utama – pada setiap tahunnya. Meski sejak dahulu sampai sekarang pula, disana sini ukhuwah itu tetap menghadapi tantangan dan halangan yang tidak ringan dari orang yang hatinya tidak senang akan keberadaannya, baik dari kalangan yang tidak percaya atau orang kafir maupun orang yang pura-pura percaya padahal sesungguhnya tidak percaya yaitu orang munafik.

Asy-Syekh Ibnu Athaillah ra. meneruskan dan berkata: [dan Allah mengetahui apabila mereka dibiarkan begitu saja dengan apa yang sudah dipahami, mereka akan meninggalkan amal dan bergantung kepada kehendak azali, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56].

Kalau manusia dibiarkan saja dengan paham azaliyah, bahwa khoirihi wa syarrihi minallah, (baiknya dan jeleknya dari Allah) maka mereka cenderung berbuat malas dan meninggalkan amal usaha, hanya menggantungkan diri kepada kehendak Allah yang azali, dan bahkan kadang-kadang dengan dalih bertawakkal kepada Allah Ta’ala sebagai alasan untuk meninggalkan ikhtiar padahal sesungguhnya adalah pelampiasan rasa malas dan putus asa. Akibatnya, bisa-bisa kehidupan di muka bumi menjadi lumpuh total, karena masing-masing manusia tidak mempunyai inisiatif untuk bekerja dan berusaha. Mereka hanya menunggu terhadap apa-apa yang bisa didatangkan baginya dari langit, maka Allah Ta’ala telah membuka salah satu pintu lagi terhadap apa yang ada di balik rahasia qada’ dan qadar-Nya dengan firman-Nya:

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik. QS:7/56.

Menusia tidak sekedar diperintah untuk berdo’a saja, akan tetapi maksudnya, dengan do’a-do’a yang dipanjatkan itu haruslah dijadikan dasar pijakan hati bagi apa yang dicari dan diusahakan secara dhohir serta mengharapkan datangnya petunjuk dan hidayah sebagai isyarat atau ilham dari Allah Ta’ala yang selanjutnya untuk supaya dapat ditindaklanjuti dengan usaha, maka dengan inayah Allah Ta’ala usaha seorang hamba akan mengarah kepada sasaran yang diharapkan dengan benar, yaitu anugerah-anugerah yang sudah disiapkan sejak azali.

Kemudian ditegaskan pula bahwa sesungguhnya rahmat Allah Ta’ala amatlah dekat dari orang-orang yang berbuat baik (al-Muhsinin), yaitu orang yang selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala dengan rasa takut dan harap, baik dengan sendirian maupun secara berjama’ah, baik di rumah maupun di majlis-majlis dzikir dan mujahadah yang diadakan. Maka disitulah letak sasaran yang diharapkan, karena dari tempat seperti itu sumber rahmat akan terus-menerus memancar sehingga usaha seorang hamba akan mendapatkan hidayah dan kemudahan-kemudahan dari Allah Ta’ala berkat do’a-do’a mereka. Karena keberadaan mereka (al-Muhsinin) di suatu tempat, seakan-akan memang telah ditetapkan menjadi sumber kehidupan dan keberkahan dari Allah Ta’ala bagi daerah sekelilingnya. Itulah Ulama’ sejati, para kekasih Alloh yang hatinya penuh kasih kepada sesama.

Dari do’a-do’a yang setiap pagi dan petang mereka panjatkan sebagai bentuk keprihatinan hati untuk ummatnya, menjadi sebab tersampaikannya rahmat Allah Ta’ala kepada orang-orang yang dido’akan, selanjutnya menjadikan sebab terbentangnya keberkahan bagi daerah sekitarnya. Demikianlah yang terjadi, dimana-mana, di tempat yang tinggali para Waliyulloh itu, daerah yang asalnya sepi dan mati, ketika manusia sudah mengetahui keberadaan mereka beserta kelebihan-kelebihan yang ada di tangan mereka sebagai anugerah dan buah pengabdian yang hakiki, maka daerah itu kemudian menjadi hidup dan bergairah. Orang-orang berdatangan dari segala penjuru negeri untuk mengambil berkah dari mereka, mencari obat kesembuhan bagi penyakit-penyaki yang diderita, baik penyakit dhohir maupun penyakit batin, baik penyakit ruhani maupun penyakit ekonomi.

Itulah kenyataan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai dengan sesudah matinya. Oleh karena setiap saat banyak orang berziarah ke makam orang-orang yang hatinya suci itu, maka ekonomi di daerah itu menjadi bangkit dan hidup bahkan mampu menjadikan sebab kemakmuran bagi daerah sekitarnya. Demikianlah kenyataan kasat mata yang tidak bisa dipungkiri – bahwa keberkahan Allah Ta’ala telah mampu menghidupi orang hidup melalui kehidupan orang yang sudah mati – walau dimana-mana masih banyak orang yang mengingkari jasa-jasa mereka. Bahkan mensyirikkan orang yang berziarah ke makam mereka.

Sebagian orang mengatakan para peziarah itu berbuat syirik sekedar karena bertabarukan kepada para Wali itu. Jika sekedar minta kepada kuburan……! Minta kepada batu mati yang menancap di atas sesonggok tanah kering, siapa yang tidak mengerti bahwa hal itu merupakan perbuatan syirik…..?, kalau memang benar bahwa orang yang setiap hari datang kekuburan para waliyullah itu berbuat syirik..?, sekarang ada pertanyaan; “sekiranya yang ditanam di bawah seonggok tanah kering yang ditancapi batu mati itu adalah jasad kasar kita, maukah orang-orang tersebut menziarai kuburan kita…?”, kalau ternyata tidak mau, apa bedanya jasad kita dengan jasad para waliyullah itu…? Ada apa di dalam jasad kita dan ada apa pula di dalam jasad mereka, padahal sama-sama jasad yang sudah mati….?. mengapa jasad mereka dapat menarik hati orang sekian banyak sehingga setiap hari datang dari tempat yang jauh sekedar ziarah atau tabarrukan sedang jasad kita tidak…?

Maka barangkali ada sudut pandang yang agak berbeda sehingga hati yang mulia telah menjadi salah sangka. Kalau orang bertanya : “Mengapa orang banyak itu jauh-jauh dengan bersusah payah mau datang kekuburan orang yang sudah mati…?”. Maka jawabannya gampang sekali, yaitu karena mereka itu adalah orang-orang bodoh sehingga mampu berbuat yang tidak masuk akal. Masak orang sudah mati kok kuburannya sampai didatangi dari jauh-jauh. Akan tetapi coba pertanyaannya agak dirubah sedikit: “Ada apa di kuburan orang itu…?, mengapa setiap hari orang-orang dari tempat yang jauh didatangkan oleh Allah Ta’ala kesana…? mengapa tidak didatangkan ke kuburan kita….?. Maka jawabannya agak sulit karena itu membutuhkan ilmu yang luas dan penelitian yang panjang kecuali bagi orang-orang yang hatinya ada Inayah dari Allah Ta’ala sehingga nur imannya mampu menyinari perbendaharaan ilmu yang ada di bilik akalnya.

Ini ada pertanyaan yang paling mudah dijawab. Bukankah semua orang tahu bahwa apa saja yang terjadi di alam ini pasti terjadi atas dasar kehendak dan takdir Allah Ta’ala?? Sekarang pertanyaannya; mengapa orang banyak itu setiap hari dari jauh-jauh ditakdirkan Allah Ta’ala datang di kuburan para waliyullah itu dan tidak ditakdirkan datang ke kuburan kita..? Ada rahasia apa di balik  kehendak dan takdir tersebut…?. Jika semacam itu pertanyaan yang dilontarkan, barangkali siapapun dapat menemukan jawabannya asal dilontarkan dengan hati yang selamat. Jika tidak, berarti memang hati kita yang perlu diteliti, barangkali di dalamnya sudah tercemar oleh penyakit hati yang dimasukkan oleh setan jin.

Jawabannya ialah: sesungguhnya yang demikian itu merupakan buah ibadah. Para waliyullah itu sekarang sudah menuai bibit yang dahulu mereka tanam, yaitu berupa kasih sayang kepada umat yang dikemas di balik perjuangan dan do’a-do’a. Karena keprihatinan hati kepada keselamatan orang lain yang notabene bukan apa-apa mereka telah membuahkan hasil, orang-orang yang dido’akan itu telah mendapatkan hidayah dan inayah dari-Nya, maka sekarang mereka telah menuai buahnya, yakni didoakan kembali oleh manusia-manusia yang berterima kasih terhadap jasa-jasa mereka. Kuburan kereka didatangi dan dido’akan oleh orang-orang yang telah merasakan kenikmatan iman yang ada di dalam hati hasil jerih payah yang dahulu telah mereka kerjakan. Hal itu terjadi semata merupakan bentuk dzikir Allah Ta’ala kepada mereka karena mereka dahulu telah berdzikir kepada Allah Ta’ala melalui keperihatinan hati kepada umat manusia sepanjang hidupnya. Yang demikian itu hanyalah bentuk pelaksanaan janji Allah Ta’ala yang tidak akan pernah diingkari, bahwa Allah telah berfirman yang artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat)–Ku”. QS: al-Baqoroh 2/152.

Oleh karena itu, jika kita ingin mendapat kegembiraan seperti itu – yaitu di saat keluarga kita saja terkadang melupakan jasad mati kita, orang lain didatangkan oleh Allah Ta’ala dari segala penjuru tempat sekedar untuk memberikan kegembiraan kepada kehidupan yang ada di balik jasad yang sudah mati itu – maka sejak sekarang kita harus menggembirakan hati orang lain, supaya kelak ketika hati kita sedang sepi di dalam penantian yang panjang di alam kubur, Allah Ta’ala menghibur dengan datangnya orang lain menziarai kuburan kita.

Ketika kejelekan-kejelekan karakter duniawi yang keluar masuk di dalam hati orang-orang yang beriman itu sudah tidak sempat lagi membekaskan kejelekan disana, ketika fitnah-fitnah yang semestinya membakar telinga malah menyejukkan di hati mereka, maka itulah pertanda hati orang yang suka berbuat ihsan (al-Muhsinin), karena yang terlihat oleh matahati dari realita yang dihadapi hanyalah Allah Ta’ala dengan segala qada’ dan qadar-Nya, hanya irodah dan takdir-Nya, yaitu hanya kehendak-Nya yang azaliyah untuk mentarbiyah seorang hamba yang dicintai-Nya. Maka dada mereka bagaikan hamparan bumi, apa saja boleh masuk, boleh kotoran boleh penyakit, akan tetapi yang keluar hanyalah kebaikan dan obat. Layaknya seperti seorang dokter, sungguhpun setiap saat mereka harus bergulat dengan penyakit dan orang sakit, tapi dokter yang sejati itu selamanya tidak akan tertular oleh penyakit orang sakit. Kalau ada orang mengaku dokter, tetapi dia masih dapat tertular dengan penyakit orang sakit, berarti dia adalah dokter yang berpenyakitan. Maka jauhilah segera, jangan-jangan malah dia adalah sumber penyakit itu.

Keberadaan seorang “Muhsinin” yang sejati, dimana-mana akan menjadi bagaikan tambang kebaikan, karena setiap tarikan nafas serta detak jantungnya hanya dimuati pengabdian hakiki. Mereka menyelesaikan permasalahan umat sampai terkadang melupakan urusan pribadi. Kebanyakan orang datang kepadanya untuk sekedar mengadu dan mencari solusi, bahkan tidak peduli walau dia sendiri sedang bersedih. Maka semakin banyak orang yang mengenalnya semakin banyak pula masalah yang harus dihadapinya, akibatnya, semakin lama dadanya menjadi bagaikan bak sampah, karena hanya dipenuhi kesusahan dan kesedihan orang-orang yang mengelilingi. Itulah dokter-dokter ummat, dengan amanat yang ada dalam pundak, mendorongnya untuk menghidupkan dzikir dan mujahadah malam, dan ketika do’a-do’a yang ikhlas itu mendapatkan ijabah dari-Nya, maka jadilah ijabah itu sebagai sebab Allah Ta’ala membukakan pintu rahmat-Nya kepada umat. Bahkan dari sebab linangan air mata yang meleleh di pipinya karena menangisi kesedihan umat, kadang-kadang menjadikan sebab Allah Ta’ala menurunkan air hujan di daerah yang ditangisi itu, bahkan konon, apabila di Baitullah Makkah al-Mukarromah, selama tujuh hari saja mereka absen tidak melakukan thowaf disana, berarti hari kiyamat segera akan datang.

Sebagian mereka bagaikan pelita-pelita bumi, walau di siang hari keberadaannya tidak tampak karena kesibukan dhohir untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, akan tetapi di malam hari, bersama gemerlap bintang di langit, mereka sanggup menjadi penerang jalan bagi sang musafir yang sedang bersedih hati. Maka…., wahai laron-laron liar yang ingin mencari penerang jalan, segeralah mendekat kesana, mencari dimana mereka menyembunyikan mutiara, supaya sang laron yang nakal dan tidak tahu diri itu dapat menemukan anugerah Allah Ta’ala yang sudah disiapkan baginya. Sungguh benar Allah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56.

Asy-Syekh Ibnu Athaillah ra. meneruskan konsepnya dan berkata: [Kepada “Kehendak”, segala sesuatu itu bersandar dan bukan kepada segala sesuatu, “Kehendak” itu bersandar].

Apabila akal sedang buntu untuk dapat memahami apa yang sedang terjadi di depan mata, orang tidak mampu membedakan mana yang kehendak Allah Ta’ala dan mana yang kehendak manusia secara basyariyah, dia tidak mampu membedakan mana yang irodah azaliyah dan mana yang irodah hadits miliknya, maka hati hendaklah segera berlari kepada Allah Ta’ala sedangkan Al-Qur’an dan hadits adalah penerang jalannya. Oleh karena Allah Ta’ala yang menciptakan manusia, maka hanya Allah-lah yang paling mengetahui segala yang ada di dalam jiwanya. Allah SWT. berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُور

(dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. QS:24/40.

Yang pasti, datangnya inayah itu hanya dari kehendak-Nya, barang siapa tidak dikehendaki untuk mendapatkannya maka sedikitpun dia tidak akan memiliki inayah di dalam hidupnya. Maksudnya, seorang hamba boleh berusaha dan berdo’a, bahkan hendaknya berusaha dan berdo’a dengan sekuat tenaga, akan tetapi mereka tidak boleh hanya bersandar kepada usaha dan do’a itu saja, melainkan harus kepada kehendak-Nya, maka usaha dan do’a seorang hamba tidak akan sia-sia karena usaha dan do’a itu merupakan ibadah.

(malfiali, Februari 2009)

SUMBER RAHASIA INAYAH 1 (Rahmat Utama untuk Manusia Utama)

Posted in Hikam, ilmu thoriqoh, takdir dengan kaitan (tags) , , on 10 Februari 2009 by malfiali

Rahasia Sumber Inayah

Rahasia Sumber Inayah 1

Kenikmatan terbesar bagi kaum mu’minin adalah “Inayah Azaliyah”. Bahwasanya sejak zaman azali kita telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala menjadi orang yang beriman. Sungguh ketetapan tersebut bukan sebab amal ibadah yang kita lakukan dan bukan pula sebab keilkhlasan, karena saat itu belum ada-apa, yang ada semata-mata hanya anugerah yang utama. Maka inayah azaliyah itu merupakan anugerah Allah Ta’ala kepada seorang hamba yang dikehendaki-Nya.

Asy-Syeikh Al-Imam Al-Arif Billah, Abi Fadil Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah Al-Assakandary Radliyallaahu ‘Anhu berkata:

Allah mengetahui bahwa sesungguhnya seorang hamba sangat ingin mengetahui tetang kenyataan rahasia “Inayah”, maka Allah berfirman: “Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS:3/74. dan Allah mengetahui apabila mereka dibiarkan begitu saja dengan apa yang sudah dipahami, mereka akan meninggalkan amal dan bergantung kepada kehendak azali, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56. Kepada “Kehendak” segala sesuatu itu bersandar dan bukan kepada segala sesuatu “Kehendak” itu bersandar.

Termasuk bagian dari fungsi kekholifahan manusia adalah, bahwa keberadaannya di muka bumi haruslah menjadi sebab ditebarkannya rahmat Allah Ta’ala kepada makhluk yang ada di sekelilingnya. Yaitu: menyampaikan sifat rahman – rahim Allah Ta’ala kepada manusia melalui sifat dan karakter serta pengabdian dan perjuangan hidup yang mereka jalani, memancarkan Nur Allah Ta’ala melalui pantulan nur yang memancar dari sinar wajah yang sejuk cerminan kesucian dan kebersihan yang terbit dari lubuk hati, membangun dan menebarkan sendi-sendi kehidupan di alam persada melalui amal bakti dan akhlakul karimah, menyampaikan inayah Allah Ta’ala kepada yang berhak menerima melalui inayah yang telah didapatkan dari-Nya, menyampaikan pertolongan Allah Ta’ala kepada yang berhak melalui pertolongan yang telah diturunkan kepadanya, bahkan mengirimkan inspirasi dan ilham kepada hati manusia melalui inspirasi dan ilham yang didapatkan dari Rabnya, akhirnya mendatangkan dan menurunkan hajat kebutuhan umat, baik yang dhohir maupun yang batin dari perbendaharaan ghaib yang tersimpan di sisi-Nya melalui do’a dan munajat yang dipanjatkan kepada Tuhannya. Untuk itulah Rasulullah Muhammad saw diutus di muka bumi, maka melalui akhlakul karimah yang terpancarkan dari prilaku hidupnya, rahmat Allah Ta’ala kemudian menyebar keseluruh alam semesta.

Rasulullah Muhammad SAW diutus di muka bumi bukan sekedar untuk membawa agama baru, akan tetapi dengan agama baru itu beliau harus mengemas kasih sayangnya kepada umat. Supaya kehidupan makhluk di muka bumi menjadi aman, makmur dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat nanti. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. QS:21107

Itulah rahasia fungsi kekholifahan khusus yang dikhususkan bagi baginda Nabi SAW. yaitu melalui nubuwah dan risalah yang diembannya, beliau telah menebarkan rahmat Allah Ta’ala kepada alam semesta, baik rahmat dhohir maupun rahmat batin, baik di dunia maupun di akhirat. Dan tidak hanya kepada alam manusia saja akan tetapi juga meliputi alam Jin dan bahkan alam Malaikat.

Oleh karena manusia merupakan sumber tenaga dan sebagai pengelola sumber potensi kehidupan di muka bumi, maka dengan agama yang dibawa itu manusia harus menjadi baik. Baik perangai maupun perbuatan, supaya kehidupan secara keseluruhan di muka bumi akan menjadi baik pula. Apabila manusia menjadi jelek maka kehidupan juga akan menjadi jelek dan rusak. Allah Ta’ala menjelaskan dengan firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). QS:30/41.

Supaya di muka bumi tidak terjadi kerusakan lagi, dan juga supaya manusia tidak menanggung akibat kerusakan yang diperbuat, maka manusia terlebih dahulu harus dibuat menjadi baik, terutama hatinya. Untuk itulah agama diturunkan dan seorang Nabi, baik sebagai pemimpin (qudwah) maupun sebagai panutan (uswah) diutus di tengah-tengah manusia. Apabila manusia hatinya telah menjadi baik maka seluruh angota tubuhnya akan menjadi baik yang selanjutnya supaya kehidupan di muka bumi akan ikut menjadi baik pula.

Sejak terutusnya baginda Nabi saw. sampai sekarang, sejarah telah membuktikan, bahwa dari tanah yang tandus dan gersang di mana manusia utama itu dilahirkan, kemakmuran telah menyebar ke segenap pelosok dunia, baik kemakmuran aspek jasmani maupun ruhani, dan bahkan kehidupan manusia di seluruh belahan bumi ini, secara jasmani dan dhohir, hampir-hampir bergantung dengan apa yang dihasilkan oleh perut bumi dimana saat itu baginda Nabi saw menjalankan aktifitas hidup dan kehidupan. Itulah sunnah yang ada, bahwa keberkahan Allah Ta’ala yang tersimpan di dalam perbendaharan ghaib-Nya telah mampu digali dan dipancarkan kepada alam dhohir melalui rahasia keberkahan hati dan prilaku yang tersimpan di dalam akhlakul karimah yang agung.

Hanya Rasulullah Muhammad saw. yang mampu berbuat demikian karena baginda Nabi saw. adalah seorang kholifah bumi sepanjang masa. Beliau tidak hanya diutus untuk suku bangsanya sendiri sebagaimana para rasul dan para Nabi terdahulu, akan tetapi untuk manusia secara keseluruhan. Oleh karenanya, bahkan sebelum kelahirannya, beliau saw. telah dijadikan wasilah di dalam do’a-do’a yang dipanjatkan oleh orang-orang yang menunggu kedatangannya, meskipun ketika beliau telah berada di tengah-tengah kehidupan mereka, sebagian besar mereka mengingkari tugas dan fungsinya, bahkan sampai sekarang. Oleh karena hanya sedikit orang yang benar-benar mengetahui fungsi kekholifahan itu, maka jarang sekali yang dapat memanfaatkannya untuk kepentingan hidup dan kehidupan.

Kebesaran dan kekhususan itu tergambar dengan apa yang terkandung dari pernyataan Allah Ta’ala, bahwa Allah SWT. terlebih dahulu telah mencurahkan rahmat dan keselamatan kepada beliau dan kemudian para malaikat-Nya, selanjutnya orang-orang yang beriman diperintah untuk menggapainya melalui apa yang sudah ada itu dengan membaca sholawat kepadanya. Allah SWT. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. QS:33/56.

Adakah yang lebih besar lagi dari itu??? Itulah satu-satunya pernyataan dari Allah Rabbul Alamin yang tidak pernah diberikan kepada siapapun, bahkan sekalipun kepada para malaikat-Nya. Rasul Muhammad saw. adalah satu-satunya manusia yang dipilih oleh Allah Ta’ala untuk menyebarkan rahmat-Nya secara universal kepada alam semesta ini, bahkan juga di alam akhirat nanti, hanya baginda Nabi satu-satunya manusia yang mendapatkan hak memberikan syafaat kepada umat manusia secara keseluruhan. Itulah rahmat Allah Ta’ala terbesar dan yang terakhir setelah hari kiyamat sebelum masing-masing ahlinya ditempatkan di neraka atau di surga.

Dengan syafa’at di tangan baginda Nabi saw. akan menyelamatkan banyak orang – bagi yang berhak menerima syafaatnya – dari siksa neraka jahanam di hari kiyamat nanti. Rasulullah saw. telah menegaskan dengan sabdanya:

حَدِيثُ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي كَانَ كُلُّ نَبِيٍّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى كُلِّ أَحْمَرَ وَأَسْوَدَ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَلَمْ تُحَلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَيِّبَةً طَهُورًا وَمَسْجِدًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ بَيْنَ يَدَيْ مَسِيرَةِ شَهْرٍ وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ *
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Aku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelumku. Semua Nabi sebelumku hanya diutus khusus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada manusia yang berkulit merah dan hitam yaitu seluruh manusia. Dihalalkan untukku harta rampasan perang, sedangkan tidak pernah dihalalkan kepada seorang Nabipun sebelumku. Disediakan untukku bumi yang subur lagi suci sebagai tempat untuk sujud yaitu sembahyang. Maka barang siapa apabila tiba waktu sembahyang walau dimanapun dia berada hendaklah dia mengerjakan sembahyang. Aku juga diberikan pertolongan dapat membuat musuh merasa takut dari jarak perjalanan selama satu bulan. Aku juga diberikan hak untuk memberi syafaat.

•    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tayamum hadits nomor 419 – Lima Solat Fardu hadits nomor 2890.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Masjid Dan Tempat Solat hadits nomor 810.
•    Riwayat Nasa’i di dalam Kitab Mandi Dan Tayamum hadist nomor 429 – Masjid 718.
•    Riwayat Ahmad Ibnu Hambal di dalam Kitab Juzuk 3 Muka Surat 304.
•    Riwayat Ad-Darimi di dalam Kitab Sholat hadits nomor 1353.

Bahkan di tengah-tengah umat yang mengingkarinya, keberadaan beliau semasa hidupnya telah mampu menjadi sebab tertahannya siksa Allah Ta’ala yang semestinya harus diturunkan kepada orang yang berbuat dosa. Demikian yang dinyatakan di dalam hadits Nabi saw.:

حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ أَبُو جَهْلٍ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ فَنَزَلَتْ ( وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ) إِلَى آخِرِ الْآيَةِ *
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a berkata: Abu Jahal berdoa: Wahai tuhanku sekiranya al-Quran ini benar datang dari sisi-Mu, maka turunkanlah hujan batu dari langit atau timpakan kepada kami siksaan yang pedih. Lalu turunlah ayat
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَام
Yang artinya: Dan Allah tidak sekali-kali akan menyiksa mereka, sedangkan engkau wahai Muhammad ada di antara mereka dan mengapa mereka tidak patut disiksa oleh Allah sedangkan mereka menghalang-halangi orang-orang Islam dari Masjidil Haram. hingga akhir ayat.

•    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an hadits nomor 4281.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Suasana Hari Kiyamat, Surga Dan Neraka hadits nomor 5004.

Dan hanya malalui gengaman tangan suci Syafi’ina Muhammad Rasulullah saw. “Rahmat Nubuwah” itu dari sumber rahasia yang azali kemudian dilimpahkan ke alam semesta sebagai “Rahmat Lil ‘Alamin” yang selanjutnya menyebar serta memasuki setiap lini kehidupan umat manusia di berbagai pelosok belahan bumi melalui uluran tangan Ulama-ulama pewaris dan penerus perjuangan yang sekaligus adalah Ahli Bait Beliau saw. Sebagai kholifah bumi zamannya. Maka para Ahli Baitinnabi ra. tersebut telah meneruskan tongkat estafet perjuangan para pendahulunya, menyampaikan “rahmat nubuwah” yang diterima dari tangan sang datuk menjadi “rahmat walayah” di tangan mereka untuk disampaikan kepada umat sebagai “inayah” dari Allah Ta’ala, supaya masing-masing hati yang selamat menerima Nur Tauhid Dan Nur Iman serta hidayah dari-Nya.

Mereka tidak henti-hentinya berpindah dari satu tempat ketempat lain sambil berdagang menyeru manusia kepada jalan Allah Ta’ala, baik melalui dakwah maupun dzikirnya, baik melalui perjuangan maupun do’a-do’anya, silih berganti sambung menyambung sampai saat hari kiyamat datang nanti. Dengan upaya yang seperti itu menyebabkan banyak orang hatinya menjadi simpatik dan memeluk agama islam, bahkan sebagian dari mereka ada yang dijadikan menantu oleh raja-raja setempat yang akhirnya berdirilah kerajaan islam disana-sini, sejarah telah membuktikannya pula. Bahwa di tanah jawa yang dahulu penduduknya bukan penganut agama islam, berkat kegigihan perjuangan dan kekuasaan serta akhlakul karimah yang mereka pancarkan – dari sembilan Wali Songo delapannya adalah dzurriyatur rasul ra. – bersama-sama penduduk negeri sebagai pembela dan pengikut yang setia, dengan inayah Allah Ta’ala yang ada di tangan, mereka telah berhasil memberantas sarang-sarang kemusyrikan dan kezaliman, sarang-sarang kemungkaran dan kemunafikan serta menancapkan sendi-sendi tauhid dan islam dengan penuh rahmatan lil ‘alamin sehingga mayoritas penduduknya menjadi muslimin yang penuh dengan persaudaraan dan kedamaian, bahkan sampai sekarang, alhamdulillah, masih di tangan mereka pula panji-panji islam semakin hari semakin menancap di dalam hati mayoritas penduduknya.

Sejak dahulu sampai sekarang, dimanapun mereka berada, para ahli bait Nabi itu tidak henti-hentinya mengajak manusia di jalan Allah Ta’ala, ada yang melalui dakwah dan tulisan-tulisannya, ada yang melaui dzikir dan mujahadahnya, ada yang melalui dzikir maulid dan dzikir manaqibnya. Sebagaimana yang telah dilakukan Sang Datuk dahulu, semuanya itu hanyalah dijadikan sarana bagaimana supaya manusia berbondong-bondong mendatangi panggilan Tuhannya. Maka dimana-mana, diseluruh pelosok dunia, asal mereka disitu berada, manusia yang selamat hatinya berbondong-bondong mengerumuni mereka pula, mengulurkan tangan menyambut uluran tangan mereka, untuk mengharapkan dan mencari syafa’at dan keberkahan Allah Ta’ala yang sudah dilimpahkan kepada mereka, menggapai rahmat khusus yang diberikan secara khusus oleh Allah Ta’ala kepada mereka. Sejarah telah membuktikannya.

Asy-Syekh Ibnu Athoillah ra. berkata: [Allah mengetahui bahwa sesungguhnya seorang hamba sangat ingin mengetahui tentang kenyataan rahasia “Inayah”, maka Allah berfirman: “Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS:3/74.]

Barang siapa ingin mengetahui tentang kenyataan rahasia “Inayah” atau rahmat Allah Ta’ala yang paling utama itu, maka demikianlah sunnah yang telah terjadi, baik orang-orang kafir dan orang yang membencinya mengakui ataupun tidak, realita tidak memperdulikan lagi dengan mereka, karena sejarah telah membuktikan terhadap apa yang telah dinyatakan Allah Ta’ala dengan firman-Nya:

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar. QS:3/74.

(malfiali, Februari 2009)