Arsip untuk dunia jin kategori

MEMBANGUN BENTENG PERLINDUNGAN DARI GANGGUAN SETAN JIN

Posted in Do'a, alam ghaib, dunia jin dengan kaitan (tags) on 30 September 2009 by malfiali

Barangsiapa berharap kepada Allah agar Allah Ta’ala membangunkan BENTENG PERLINDUNGAN untuk diri sendiri dan keluarga serta teman dan jama’ahnya dari gangguan setan jin baik secara jasmani maupun ruhani, hal tersebut karena mendapat barokah SIRR dari guru-guru yang kita tawasuli setiap saat, dengan mendawamkan do’a ini, insya Allah, Allah Ta’ala akan mengijabahi.

Teman-teman yang berkenan boleh mengamalkannya, ini sebagai ijazah dan bonus, bisa dibaca setiap habis sholat fardhu, terutama setelah sholat tahajjud, semoga Allah mengabulkan do’a dan harapan kita semua, … aamiin

Do’a ini dikutip dari kitab Futuhatul Ilahiyat, karya, al-Imam, al-Arif billah, al-Qutub; Habib Ali bin Muhammad bin Husen al-Habsyi ra.
Diterbitkan; oleh al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghozali

اَللّهُمَّّ اجْعَلْنَا سَالِمًا فِى دِيْنِنَا وَجَسَدِنَا وَقَلْبِنَا وَفِعْلِنَا وَقَوْلِنَا وَنِيَّتِنَا وَوُجْهَتِنَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم , وَاقْصُرْهُ عَنَّا وَعَنْ مَنْ أَحَبَّنَا قَصْرًا لاَيَخْطُرُلَهُ عَلَى بَالٍ , وَأَدْخِلْنَا فِى دَائِرَةِ وِقَايَتِكَ مِنْهُ الشَّاهِدَةِ لَهَا آَيَةٌ (إِنَّ عِبَادِىْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ) فَاجْعَلْنَا يَا رَبِّ مِنْ عِبَادِكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ , وَجَنِّبْنَا الْهَوَى الْمُرْدِى , وَاجْعَلَْ نُفُوْسَنَا فِى النُّفُوْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ الرَّاضِيَةِ الْمَرْضِيَّةِ الْكَامِلَةِ , وَحَقِّقْ يَارَبْ جَمِيْعَ مَا رَجَوْنَاهُ , وَتَقَبَّلْ مِنَّا جَمِيْعَ مَا دَعَوْنَاهُ , وَاجْعَلْ لَنَا رَابِطَةً اتِّصَالٍ بِأَهْلِ الْكَمَالِ مِنْ عِبَادِكَ اْلصَالِحِيْنَ وحِزْبِكَ اْلمُفلِحِيْنَ مِنْ مَشَايِخِ اْلقَادِرِيَّةِ وَاْلنَقْسَبَنْدِيَّةِ , وَارْزُقْنَا كَمَالَ اْلأَدَبِ مَعَهُمْ وَحُسْنَ اْلإِعْتِقَادِ فِيْهِمْ وَصِدْقَ اْلوُدِّ لَهُمْ , وَانْفَعْنَابِهِمْ نَفْعًا نَسْتَمِدُّبِهِ مِنْ مَعْرِفَةِ اْلعَارِفِ مِنْهُمْ , وَوِلَايَةِ اْلوَلِيِّ , وَقَرْبِ اْلمُقَرَّبِ , وَصِدْقَ اْلصَادِقِ , وَانْفَعْنَا بِهِمْ , وَسَادَتُنَا اْلأَنْبِيَاءُ وَاْلمُرْسَلُوْنَ . فَنَسْأَلُكَ اللهُمَّ أَنْ تَرْزُقَنَا حِفْظَ حُرْمَتِهِمْ , وَصِدْقَ مَحَبَّتِهِمْ , وَأَنْ تَزِيْدَهُمْ مِنْ فَضْلِكَ الَّذِى أَوْلَيْتَهُمْ زِيَادَةَ تَشْرِيْفِ فَوْقَ شَرَفِهِمْ , وَتَكْمِيْلِ فَوْقَ كَمَالِهِمْ , وَاحْفَظْنَا مِنْ سُوْءِ اْلأَدَبِ مَعَهُمْ فِى كُلِّ قَوْلٍ وَاعْتِقَادٍ وَعَمَلٍ وَنِيَّةٍ , وَاجْعَلْ لَنَا مِنْهُمْ مَدَدًا وَافِرًا , يَا مُجِيْبَ الدَّاعِى وَيَا مُغِيْثَ الْمُسْتَغِيْثِ وَيَا رَاحِمَ الضَّعِيْفِ أَجِبْ دَعْوَاتِنَا وَعَجِّلْ بِقَضَاءِ حَاجَاتِنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Do'a Pigora copy

MENGUAK DUNIA JIN 13 (Dosa Syirik Tidak Diampuni)

Posted in dunia jin, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 11 Januari 2009 by malfiali

dunia jin

Dosa Syirik Tidak Diampuni

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. QS:4/116.

Berharap dan takut kepada selain Allah Ta’ala hukumnya syirik. Itulah hakekat syirik yaitu syirik di dalam aqidah. Orang berbuat syirik dosanya tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Mengapa demikian? Karena tidak ada yang mempunyai kekuatan kecuali hanya Allah Ta’ala, tidak ada yang menghidupkan dan yang mematikan kecuali hanya Allah Ta’ala, maka seseorang tidak boleh menyandarkan harapannya kecuali hanya kepada Allah Ta’ala, tidak boleh memohon pertolongan maupun perlindungan kecuali hanya kepada Allah Ta’ala, tidak boleh takut terkena marabahaya, baik di dunia maupun di akhirat kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Apabila hal tersebut dilakukan, dalam arti  manusia takut kepada selain Allah Ta’ala, berarti orang tersebut berbuat syirik secara aqidah.

Ketika orang mendapat keberhasilan dalam kehidupan misalnya, orang berhasil menggapai keberhasilan yang dicita-citakan kemudian dia merasa bahwa keberhasilan itu hanya dihasilkan sebab ilmu pengetahuannya yang tinggi dan kemampuannya yang prima dalam berusaha, hanya karena dia telah berinfestasi yang benar dan tepat, hanya karena keahliannya dalam menghadapi segala tantangan dan rintangan, orang tersebut tidak pernah merasakan bahwa segala keberhasilan itu semata anugerah yang diturunkan kepadanya, maka berarti dia telah berbuat syirik secara aqidah karena telah mensejajarkan dirinya dengan Allah Ta’ala. Dia mengakui hak Rububiyah Allah Ta’ala sebagai hak pribadinya atau dalam arti telah mensyirikkan Allah Ta’ala dengan dirinya sendiri. Inilah hakikat syirik secara aqidah, yang berarti pula bahwa dia telah merasa menjadi Tuhan. Allah Ta’ala memberikan contoh dengan firman-Nya:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo`a kepada Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) menyekutukan (Allah). QS:29/25.

Dikatakan menyekutukan Allah Ta’ala karena orang-orang yang naik kapal itu ketika diselamatkan dari badai laut yang sedang mengancam, begitu mereka sampai di darat, saat itu juga yang diingat bukan Allah Ta’ala yang menyelamatkan, tetapi angin topan yang berbelok arah, dan mereka berkata: “Untung angin itu berbelok kekanan seandainya terus kita semua pasti binasa”. Itulah hakikat syirik secara aqidah, karena saat itu mereka menyekutukan Allah Ta’ala dengan angin topan dalam dua hal, yaitu angin topan itu mampu menghidupkan dan mematikan dirinya. Padahal sebelum itu mereka tidak berdo’a kepada angin topan, tapi berdoa kepada Allah Ta’ala.

Orang-orang yang berdoa’ kepada Allah Ta’ala supaya mendapatkan rizki yang baik, kemudian ketika Allah Ta’ala mengabulkan do’anya dan dia benar-benar telah mendapatkan rizki yang baik, walau datangnya rizki itu melalui usahanya. Ketika saat itu dia hanya mengakui usahanya saja, dia punya anggapan seandainya tidak bersekolah yang tinggi dan tidak berusaha maka mana mungkin dia mendapatkan rizki yang baik itu, maka yang demikian itulah hakikat syirik di dalam aqidah. Dosa syirik tersebut tidak akan diampuni untuk selama-lamanya.

Maka syirik aqidah itu tidak hanya dilakukan dengan bepergian jauh mencari kuburan-kuburan yang keramat kemudian minta berkah kepada kuburan itu atau mencari dukun-dukun sakti yang dapat membuatkan jimat-jimat supaya hidupnya mendapatkan keselamatan dari jimat-jimat itu, akan tetapi syirik aqibah itu bahkan banyak dilakukan oleh manusia justru hanya dengan tinggal diam di rumah. Dia menganggap dirinya sebagai tuhan karena merasa bahwa ilmu pengetahuan dan usahanya telah menjadikannya sebagai orang yang sukses dan bahagia serta mulia. Seandainya orang seperti itu mempunyai kekuasaan yang kuat, boleh jadi di dunia ini dia menjadi Fir’aun yang berikutnya. Allah Ta’ala telah menegaskan lagi dengan firman-Nya:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? QS:25/43.

Dikatakan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya karena yang diutamakan dalam hidupnya hanyalah kemauan hawa nafsu belaka, bahkan di saat berdo’a kepada Allah Ta’ala pun sesungguhnya hanya dengan maksud supaya Allah Ta’ala mengabulkan kemauan hawa nafsunya itu.

Syirik itu terkadang tidak dalam kontek aqidah saja, tetapi juga dalam kontek amal dan tujuan meski yang demikan itu kadar syiriknya lebih ringan daripada syirik di dalam aqidah akan tetapi juga dapat menciderai kesucian aqidah dan mengeruhkan kejernihan tauhid serta dosanya juga tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Orang yang berbuat syirik amal dan syirik tujuan, berarti kehidupannya akan jauh dari perlindungan dan pertolongan Allah Ta’ala, dengan arti yang lain berarti dia telah merusak sistem penjagaan yang telah dibangun oleh Allah Ta’ala untuk dirinya.

Ada juga yang dinamakan syirik di dalam wujud atau di dalam kejadian. Seperti orang yang kesadarannya sudah dikuasai penuh oleh jin berarti saat itu jin telah berbuat syirik di dalam wujud dengan orang tersebut. Juga sebaliknya, yaitu ketika manusia sudah benar-benar menyatu dengan jin sehingga jasadnya sudah menjadi satu dengan jasad jin, maka itu juga dikatakan syirik dalam kejadian. Seperti kejadian dalam permainan “tenaga dalam”, ketika orang dipukul dari jarak jauh bisa terpental, yang terpukul itu sesungguhnya jin yang sudah berisyrok dalam tubuh manusia itu, hal tersebut bisa terjadi, karena manusia sudah syirik dalam wujud dengan jin. Buktinya, kekuatan tenaga dalam tersebut tidak bisa berreaksi kepada orang sadar. Allah Ta’ala telah mengabarkan keadaan orang-orang yang berbuat syirik tersebut dengan firman-Nya:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. QS:22/31.

Dosa syirik itu tidak diampuni artinya, orang yang berbuat dosa itu akan segera mendapat balasan, di dunia dengan rusaknya sistem pertahanan yang ada dalam jasad mereka sehingga kesurupan jin misalnya, di akhirat dengan siksa neraka. Namun demikian, manakala manusia mau bertaubat di jalan Alloh, dia kembali sadar di dalam jalan yang lurus, meskipun terkadang harus menyelesaikan masa hukuman sebagai kafarot atau penebusan dosa-dosa dengan siksa dan musibah di dunia, namun dengan izin Allah Ta’ala Yang Maha Pengampun, orang yang kerusupan jin tersebut dibebaskan lagi dari cengkraman mahluk halus itu. Jika dosanya tidak terhapuskan dengan penderitaannya maka berarti selamanya jasad orang tersebut akan dikuasai oleh setan jin. Itulah sunnatullah yang sejak diciptakan-Nya, sedikitpun tidak akan ada perubahan lagi untuk selama-lamanya.

Bukan manusia dapat mengalahkan sunnah itu ketika dia berbuat syirik kemudiaan mereka tidak segera menerima ganjaran syiriknya, akan tetapi Allah Maha Pengampun mengampuni bayak hal walau yang diampuni kadang-kadang tidak sadar sehingga tetap saja berbuat syirik kepada-Nya bahkan dengan berulang-ulang. Allah Ta’ala mengisyaratkan yang demikian dengan firman-Nya:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ(30)وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). – Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah. QS:42/30-31.

Lebih terperinci lagi tentang syirik dalam amal perbuatan ini ialah apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. di dalam sebuah haditsnya:

حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ ( أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ ) قَالَ كَانَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ أَسْلَمُوا وَكَانُوا يُعْبَدُونَ فَبَقِيَ الَّذِينَ كَانُوا يَعْبُدُونَ عَلَى عِبَادَتِهِمْ وَقَدْ أَسْلَمَ النَّفَرُ مِنَ الْجِنِّ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a: Mengenai firman Allah swt:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

Yang artinya: Itulah mereka yang mengaku bahwa mereka mencari jalan penghubung kepada tuhannya. Siapakah di kalangan mereka yang paling dekat dengan tuhan mereka dengan katanya: Ada sekelompok jin yang telah memeluk Islam, dan sebelum ini mereka disembah oleh manusia, maka orang-orang yang menyembah itu tetap saja menyembah mereka, yaitu jin walaupun mereka itu adalah jin yang telah memeluk Islam

•    Riwayat Bukhori di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an hadits nomor 4345, 4346.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Tafsir hadits nomor 5356.

Menyembah jin artinya memperturutkan kemauan jin untuk supaya jin dapat berisyrok (bekerja sama) dengan manusia, meski jin itu telah memeluk islam. Demikian itulah memang sifat jin, karena banyak hal yang tidak bisa didapatkan oleh jin kecuali melalui bekerja sama dengan manusia. Dan manakala seorang manusia telah bekerjasama dengan seorang jin maka seorang jin itu pasti akan menambah-nambah kesesatan belaka walaupun seorang jin itu sudah memeluk agama islam. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. QS:72/6.

Adapun syirik di dalam tujuan artinya, tujuan amal ibadah itu tidak semata untuk mengabdi kepada Allah Ta’ala. Banyak contoh yang dapat disampaikan di sini. Salah satunya beribadah sambil berdagang, apalagi ibadah itu ternyata hanya dijadikan sarana atau media untuk mengatur srategi politik organisasi. Maka betapun dia adalah seorang hamba yang telah dapat beribadah dengan ikhlas yang semestinya sedikitpun jin tidak mempunyai peluang untuk menguasai kesadarannya, akan tetapi keikhlasan hatinya itulah yang dijadikan sasaran pertama oleh syaitan jin, supaya keikhlasan itu terlebih dahulu memudar selanjutnya supaya usaha jin dapat terfasilitasi untuk melancarkan serangan fajarnya. Simak ceritanya Sholeh VS Raja Jin dalam Mengauk Dunia Jin 12. (malfiali, Januari 2009)

MENGUAK DUNIA JIN 12 – CERFIK (Sholeh Melawan Raja Jin)

Posted in cerita, dunia jin dengan kaitan (tags) , on 10 Januari 2009 by malfiali

dunia jin

CERFIK (Sholeh Melawan Raja Jin Yang Perkasa)

Al-kisah : Konon pada zaman dahulu ada seorang bernama Sholeh. Dia dipanggil Sholeh si Sholeh karena termasuk orang yang paling sholeh di kampungnya. Hal itu disebabkan, karena ada lagi orang kampung yang bernama sholeh tetapi perilakunya tidak sholeh.

Ceritanya diawali, karena di ujung kampung rumah Sholeh si Sholeh itu ada sarang kemusyrikan, yaitu ada pohon beringin besar yang tumbuh di pinggir jalan yang setiap hari dijadikan tempat sesembahan oleh warga kampong itu. Orang-orang musyrik itu setiap siang dan malam membakar kemenyan dan meletakkan sesajen di bawah pohon tersebut, mereka minta berkah kepada penunggu pohon beringan tua itu supaya hidupnya selamat dan kecukupan. Lebih-lebih saat malam selasa dan malam jum’ah kliwon, pada malam yang keramat itu, orang yang tidak beriman kepada Alloh dan rasul-Nya itu terkadang bahkan menyertakan ingkung ayam sebagai sesajen.

Melihat tradisi syirik yang sudah turun-temurun itu hati Sholeh si Sholeh tidak bisa tinggal diam, suatu saat dia betekat untuk berjihat fi sabilillah. Dia ingin memperbaiki keimanan warganya supaya tradisi syirik tersebut hilang untuk selama-lamanya. Melaksanakan amar ma’ruf dan nahi anil mungkar, dia bertekat membumihanguskan segala bentuk kesyirikan dari kampung halamannya. Bahkan bila perlu, dia ingin mendapatkan tiket surga dengan sebilah kampaknya untuk menebang pohon yang diyakini keramat tersebut. Dia tidak peduli, meski katanya pohon beringin tua itu dijaga Raja Jin yang perkasa. Sholeh si Sholeh mengasah kampaknya itu tajam-tajam, dan esoknya dia dengan membawa kampak yang sudah tajam itu berangkat seorang diri untuk menebang pohon keramat itu. Namun sayangnya informasi gerakan sholeh itu terlebih dahulu terdeteksi oleh Raja Jin penjaga pohon kramat itu, maka di tengah jalan Sholeh dihadang oleh Raja Jin itu dengan bala tentaranya.

Raja Jin itu menyapa Sholeh: “Hai sholeh, mau kemana kamu, pagi-pagi buta dengan memikul kampak yang sudah kamu asah tajam itu..?”. Sholeh menjawab: “Aku mau berjihat di jalan Allah”. Raja Jin bertanya lagi: “Berjihat dengan apa wahai sholeh yang sholeh…?. Aku akan menghancurkan sarang kemusyrikan yang ada di ujung jalan ini. Aku akan menebang pohon beringin di pojok jalan itu yang menjadi sarang kemusyrikat masyarakat kampung. Maka Raja jin segera memperkenalkan diri dan berkata: “Hai sholeh aku adalah Raja Jin penguasa pohon itu kalau engkau mau menebangnya, tebanglah sekarang, asal kamu mampu memotong leherku terlebih dahulu”. Singkat cerita, maka terjadilah pertarungan yang dahsyat antara si Sholeh yang sholeh dengan Raja Jin penguasa pohon beserta bala tentaranya. Di dalam pertempuran itu ternyata Sholeh lebih unggul, jurusnya lebih ampuh ketimbang jurus Raja jin itu sehingga banyak tentara raja jin itu dibuat tidak berdaya, bahkan ada yang muntah-muntah dan kencing di tempat.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu si Raja Jin mempunyai pikiran lain seraya menawarkan perdamaian bersyarat kepada sholeh. Maka dengan argumentasi yang menarik dan masuk akal, setelah diadakan gencatan senjata, Raja jin itu mulai menyampaikan rayuannya: “Hai Sholeh yang sholeh bukankah musholla tempat jama’ahmu berkumpul dan berdzikir itu juga adalah tempat yang penting, seandainya engkau bisa membangunnya dengan bangunan yang lebih baik, bukankah orang yang beribadah di sana akan dapat beribadah dengan lebih nyaman, apakah engkau tidak berfikir bahwa dengan membangunnya juga merupakan jihat di jalan Allah Ta’ala. Daripada engkau harus menebang pohon itu yang boleh jadi kamu nanti mendapatkan banyak musuh dari orang yang berbuat syirik di sana, maka biarkanlah mereka berbuat syirik, dan jama’ahmu juga dapat beribadah dengan nyaman. Kita sama-sama jalan dengan damai, kuatkanlah jama’ahmu dengan memberikan pelayanan yang lebih baik lagi, maka bangunlah musholla itu, dan aku akan bantu kamu untuk mencarikan dananya.

Sejenak Sholeh berfikir, katanya dalam hati: benar juga kamu, maka sholeh balik bertanya: Terus bagaimana cara kamu bisa membantu aku mencarikan dana? Raja jin itu menjawab : Asal kamu tidak menebang pohon itu setiap hari kamu akan aku kirimi uang. Setiap habis sholat subuh ambillah uang itu di bawah bantalmu, engkau akan mendapatkan uang itu disana. Maka terjadilah kata sepakat, selama Raja Jin itu setiap hari mengirimkan uang di bawah bantalnya, sholeh tidak diperbolehkan menebang pohon itu, kecuali apabila raja jin itu telah melanggar kesepakatan tersebut, maka sholeh yang sholeh boleh sesuka hati menebang pohon besar itu. Seteleh kesepakatan diputuskan, masing-masing pihak membubuhkan tanda tangan bermatrei, maka pulanglah Sholeh dengan membawa kemenangan yang gemilang.

Keesokan harinya sehabis sholat subuh, benar, sholeh menemukan setumpuk uang di bawah bantalnya, besoknya juga demikian dan juga besoknya, maka sholeh yang sholeh sudah bersiap-siap untuk melaksanakan rencana mulianya itu, membangun musholla dengan bangunan yang seindah-indahnya. Maka dibentuklah kepanitiaan pendirian musholla sekaligus dengan kepanitiaan pembangunan pondok pesantren di samping mushollanya. Para pemuka masyarakat diundang dalam rapat itu, dan Sholeh yang sholeh mengatakan kepada para hadirin, dia tidak membutuhkan donatur dari luar, dirinya sendirilah yang akan menjadi donatur tunggal.

Orang-orang yang hadir menjadi heran dari mana Sholeh mendapatkan uang untuk melaksanakan rencana besarnya itu, padahal sebelum itu hidupnya dalam keadaan pas-pasan saja. Kadang bisa makan kadang tidak, bahkan untuk beli garam dan kecap saja pernah berhutang kepada tetangganya. Menghadapi kebingungan orang banyak itu sholeh mensikapinya dengan biasa-biasa saja. Sholeh merahasiakan sumber dana itu yang sebenarnya. Dengan penuh keyakinan dia segera dapat mewujudkan rencananya itu.

Setelah malam itu kepanitiaan sudah terbentuk dan rencana kerja segera akan dimulai, besok paginya ketika sholeh membuka bantalnya ternyata tidak ada tumpukan uang sebagaimana hari-hari kemarin. Besoknya juga dan besoknya lagi juga demikian. Sholeh marah besar, menurutnya, Raja Jin itu telah mengkhiyanati komitmen yang sudah disepakati bersama dan berarti pula Sholeh berhak menebang pohon beringin tua itu. Maka Sholeh kembali mengasah kampaknya untuk segera menebang pohon yang menjadi sumber kemaksiatan tersebut.

Pagi-pagi buta dengan kepercayaan yang penuh Sholeh yang sholeh berangkat dengan memikul kampaknya untuk menebang pohon besar itu dan di tengah jalan dia dihadang lagi oleh Raja jin yang telah mengkhiyanati komitmen itu. Namun kali ada yang berbeda, jika pertemuan yang pertama Raja Jin datang dengan segala kekuatannya, kali ini datang sendirian bahkan tanpa membawa senjata. Sholehpun buru-buru menegurnya dan menanyakan pengkhiyanatan yang dilakukan oleh raja jin tersebut. Si Raja jin menjawab dengan santai: “Kalau kamu mampu memotongnya maka potonglah akan tetapi sebelum itu lawanlah aku terlebih dahulu”. Langsung saja sholeh menyerang Raja jin itu dengan jurus sebagaimana pertama kali ia mengalahkannya dahulu, akan tetapi dalam pertempuran kali ini sholeh ternyata benar-benar dibuat KO dan tidak berdaya. Tidak sebagaimana pada pertempuran yang pertama dan bahkan kali ini justru sholeh yang dibuat muntah-muntah dan kencing di tempat. Akhirnya sholeh menyerah kalah dan sepakat untuk berdamai akan tetapi untuk selamanya Sholeh tidak boleh memotong pohon besar itu.

Sebelum Sholeh dilepas pulang, Sholeh bertanya kepada Raja Jin itu : “Hai Raja Jin yang perkasa, pada pertemuan kita yang pertama kamu dapat aku kalahkan dengan mudah akan tetapi mengapa sekarang malah sebaliknya dan justru engkau malah dapat mempermainkan aku dengan seenakmu?” Raja Jin itu menjawab: “Sebenarnya jurusmu tetap ampuh seperti dulu, akan tetapi marahmu yang berbeda. Jika dahulu kamu marah karena Allah Ta’ala, maka kamu dapat mengalahkan aku dengan mudah, namun sekarang marahmu karena uang dan kehormatan, maka ganti aku yang dapat mengalahkanmu dengan mudah. Maka sunggun benar firman Allah Ta’ala:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ(82)إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, – kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. QS:82/85.

Ketika Jihad Sholeh si sholeh yang pertama didasari niat yang ikhlas, yaitu semata-mata hanya berjuang di jalan Allah Ta’ala, maka Sholeh dapat mengalahkan Raja Jin yang perkasa itu, akan tetapi niat yang kedua berbeda. Niat yang kedua itu campur dengan niat-niat yang lain walau sesungguhnya saat itu sholeh juga tetap dalam rangka menjalankan ibadah. Niat yang kedua ini sudah isyrok atau bersekutu dengan tujuan yang lain, maka sedikitpun sholeh tidak dapat mengalahkan Raja Jin itu bahkan Sholeh dijadikan mainan oleh Raja Jin tersebut.

Cerita ini boleh jadi fiktif belaka, namun itulah sebuah ilustrasi, tinggal bagaimana hati yang selamat mengambil hikmah darinya. Kalau seandainya ayat-ayat suci al-Qur’an yang dibaca saat pelaksanaan Ruqyah itu niatnya benar-benar ihlas semata-mata beribadah kepada Alloh, maka para pendengar yang khusu’ itu tidak mungkin kesurupan jin. (malfiali, januari 2009. Dari buku lama yang terlupakan)

MENGUAK DUNIA JIN 11 (Mengapa Orang diruqyah Kesurupan Jin?)

Posted in dunia jin, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 27 Desember 2008 by malfiali

JIN

Mengapa Orang diruqyah Bisa Kesurupan Jin?

1. Sihir Jin Yang Ditiupkan

Firman Allah Ta’ala Qur’an Surat al-Hijr/42. Qur’an Surat Shod/85. Qur’an Surat an-Nahl/ 100

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat”. QS:15/42.

Jika yang dikatakan Ruqyah itu merupakan bentuk ibadah yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang beriman, bukan perbuatan mengikuti setan Jin sehingga menjadi sesat sebagaimana yang dinyatakan Allah Ta’ala dengan firman-Nya di atas, dan bukan pula syirik seperti yang dinyatakan pelakunya sebelum “Ruqyah” itu dimulai dengan atraksi mengumpulkan jimat-jimat kemudian dibakar, maka dengan pernyataan Allah di atas seharusnya orang yang diruqyah itu tidak kesurupan jin. Jika ternyata demikian, maka barangkali bacaan ayat-ayat suci yang dibaca dalam pekerjaan “Ruqyah” itu sudah disusupi sihir setan Jin, sebagaimana yang telah dinyatakan Allah Ta’ala di dalam firman-Nya (surat al-Hajj ayat 52) “melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu”, seperti tukang sihir membacakan mantranya, ketika ayat-ayat suci itu dibaca, maka para pendengar yang khusu’ tersebut seketika bergelimpangan tidak sadarkan diri.

Bukankah keadaan itu sama dengan keadaan para pemain kuda lumping..?. setelah dibacakan mantra-mantra oleh pimpinan rombongannya kemudian para pemain itu seketika kesurupan jin dan tidak sadarkan diri. Namun bedanya, jika kuda lumping adalah tontonan yang mengasyikkan sedangkan pelaksanaan “Ruqyah” adalah tontonan yang mengerikan dan menjijikkan.

Dan di dalam firman-Nya yang lain Allah Ta’ala telah menegaskan pula. Allah SWT. berfirman:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ(82)إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِين َ

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, – kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. QS:82/85.

Iblis bersumpah di hadapan Allah Ta’ala akan menyesatkan anak Adam secara keseluruhan kecuali hamba-hamba Allah yang beribadah dengan ikhlas, kepada mereka itu kekuatan setan Jin tidak dapat menembus benteng pertahanan yang melindungi. Demikian tersebut dinyatakan Iblis sendiri di hadapan Allah Ta’ala yang telah diabadikan dengan firman-Nya di atas. Artinya, yang menunjukkan suatu kehebatan dari bentuk pelaksanaan amal ibadah manakala ibadah tersebut mendapat perlindungan Allah Ta’ala dari gangguan setan Jin, tidak malah sebaliknya. Dan lebih tegas lagi Allah Ta’ala menyatakan dengan firman-Nya:

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin (beryatawalla) dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah QS:16/100.

Penegasan Allah Ta’ala itu artinya: hanya kepada sekelompok orang yang telah mengambil setan Jin sebagai wasilah atau jalan mendekat (beryatawalla) untuk mencapai tujuan dan orang-orang yang telah berbuat syirik saja, maka setan Jin dapat memperdaya mereka sehingga kesadaran mereka dapat dikuasai walau hanya sebentar.

Barangkali seperti keadaan itulah apa yang terjadi di dalam pelaksanaan “Ruqyah”, ketika orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim itu sambil pikirannya menerawang memikirkan Jin – apakah di dalam tubuhnya ada jin atau tidak – sambil memaksakan diri untuk berbuat khusu’, tanpa disadari ternyata justru melaksanakan apa yang dimaksud oleh ayat tersebut, yakni “beryatawalla” kepada setan Jin. Jika memang demikian, maka pantas saja, hingga sedemikian mudahnya Jin dapat menusuk dan menguasai kesadaran orang yang diruqyah tersebut. hal itu bisa terjadi, karena sesungguhnya setan Jin telah dipersilahkan sendiri untuk datang dan menusuk wilayah kesadaran itu. Buktinya walau dengan masih merasakan sakit dan lemas akibat kesurupan jin, tetap saja mereka merasa bangga, bahwa yang demikian itu adalah yang terbaik baginya dan bukan perbuatan syirik.

Sesungguhnya perbuatan tersebut merupakan syirik di dalam amal perbuatan “asy Syirku Fil Amali”. Dan yang demikian itu adalah identik dengan perbuatan setan Jin yang memang selalu bersyirik ria dengan manusia sebagaimana yang telah ditegaskan Allah Ta’ala dengan firman-Nya:

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَولَادِ

“Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak”. QS:17/64.

Yang pasti, hendaklah manusia waspada dan berhati-hati ketika perbuatan yang mereka lakukan – apapun bentuknya, lebih-lebih yang bernuansakan ibadah – nyata-nyata bersingguan dengan dimensi jin, seperti pelaksanaan ruqyah tersebut, seandainya Allah Ta’ala tidak melindungi hamba-Nya maka tidak seorangpun dapat selamat dari terkaman jin, dengan satu alasan saja; “Karena jin dapat melihat manusia, manusia tidak dapat melihat jin”.

2. Beramal Tanpa Bimbingan Guru

Firman Allah SWT. Surat al-A’raaf ayat 201:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya QS:7/201.

“Thoo-ifum minasy-Syaithon” atau was-was dari setan, dari ayat di atas, bentuk wujudnya terkadang berupa bisikan dalam hati manusia padahal bukan terbit dari kemuannya sendiri. Bisikan tersebut terkadang lebih dominan dari kemauan (Irodah atau Khotir) hatinya sendiri. Contoh misal: dengan sadar orang melihat seseorang yang ada di hadapannya adalah orang baik, baik pekerjaan maupun pembicaraan, akan tetapi bisikan itu mengatakan sebaliknya, orang tersebut orang jahat, demikian juga ketika melihat orang yang menurut kesadarannya jelek, bisikan itu malah mengatakan baik. Akibatnya, orang tersebut dibuat bingung oleh suara-suara yang ada di hatinya sendiri itu, karena akalnya mengatakan begini sedangkan dalam dadanya mengatakan yang lain. Semakin lama menjadi membingungkan dan akhirnya menjadi lupa diri dan klimaksnya bahkan menjadi gila.

Tanda-tanda awal penyakit gila tersebut, adanya perubahan yang mencolok dalam prilaku hidup orang tersebut. Asalnya periang mendadak menjadi pendiam, menjadi tidak suka bicara dan bergaul dengan orang lain, sering mengurung diri di dalam kamar dan berbicara sendiri, tidak banyak suka dengan apa yang diperbuat orang lain karena menurutnya perbuatan tersebut salah. Kadang-kadang mengaku didatangi ruh waliyullah dan bahkan mendapat ilmu langsung dari para wali dan para Nabi, mereka itu datang sendiri di kamarnya. Ada juga yang mengaku sebagai malaikat Jibril, yang lebih parah lagi, ada yang mengaku bertemu langsung dengan Allah Ta’ala, mendapat wahyu sebagaimana para Nabi as, sehingga mengaku sebagai nabi. Ketika penyakit itu sudah semakin parah, maka meninggalkan seluruh pemilikannya bahkan keluarganya yang dahulu sangat dicintai.

Banyak fenomena seperti ini kita temui di masyarakat, eronisnya kebanyakan orang yang terkena penyakit seperti itu justru dari golongan ahli ibadah dan ahli mujahadah. Mengapa demikian..? karena sesungguhnya ibadah dan mujahadah yang ditekuninya itu tanpa mendapat bimbingan seorang guru yang ahli, yakni guru-guru ruhaniyah yang dapat mentarbiyah ruhaniyah murid-muridnya. Akibatnya, ibadah dan mujahadah itu hanya dipancarkan oleh kemauan emosional dan rasional belaka tetapi gersang dari pancaran spiritual yang sesungguhnya. Itulah pertanda, sesungguhnya pembimbing ibadah tersebut adalah setan Jin yang telah memanfaatkan keadaan dan peluang.

Konkritnya, ketika dorongan emosional telah mendesak kekuatan rasional sehingga pertahanan rasional menjadi lemah sehingga kesadaran menusia menjadi eror, menjadi antara sadar dan tidak sadar. Saat-saat seperti itulah yang sangat ditunggu-tunggu oleh setan Jin untuk memasukkan sulthon jin (tehnologi jin) di dalam wilayah kesadaran manusia, manakala kesadaran itu menjadi terluka akibat dorongan emosional tersebut. Kemudian dengan tehnologi itu setan jin dapat meremot atau memancarkan perintahnya kepada manusia dari jarak jauh.

Keadaan tersebut seperti yang dimaksudkan oleh sebuah ungkapan Ulama’ yang artinya: “Barang siapa beramal tanpa guru maka gurunya adalah setan”. Ini merupakan masalah yang sangat penting bagi orang yang tekun menjalankan ibadah dan mujahadah yang tidak banyak diketahui dan dimengerti oleh kalangan awam.

Adapun maksud ayat di atas: “Orang yang bertakwa kepada Allah Ta’ala apabila sedang mengalami keadaan demikian, maka berdzikirlah!!” Berdzikir tersebut boleh dengan sholat, boleh dengan membaca kalimah thoyyibah atau boleh dengan membaca ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim – dengan itu supaya dia menjadi melihat atau menjadi sadar serta mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya. Artinya: seharusnya dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim dalam rangka berdzikir kepada Allah Ta’ala, orang-orang yang tidak sadar atau orang yang sedang hilang ingatannya, menjadi sadar, tidak malah sebaliknya. Yakni orang yang sehat wal afiat dan sadar, dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim menjadi hilang ingatannya atau gila walau sebentar, bahkan muntah-muntah dan kencing di masjid.

Ada contoh lagi: Ada orang yang lahirnya kelihatan segar-bugar dan sewat wal afiat, akan tetapi dia mengaku sakit. Bukan di dalam jiwanya bukan di dalam kesadarannya, tetapi di saat-saat tertentu di dalam dadanya didatangi tamu yang tidak diundang. Ceritanya, akhir-akhir ini dia dibuat bingung oleh bisikan yang bersumber dari rongga dadanya sendiri. Awalnya ada bisikan kalimah dzikir dengan kalimah “Lailaha illallah”, dzikir itu berbunyi sendiri di luar kemauannya. Awalnya dia senang, betapa tidak, kalimat dzikir itu seakan-akan pengingat dari Allah Ta’ala supaya dia selalu berdzikir kepada-Nya, karena dia memang orang yang ahli mujahadah bahkan kadang-kadang dengan jalan melaksanakan kholwat di tempat-tempat yang sepi. Maka kehadiran dzikir ghaib tersebut disambutnya dengan positif dan diikuti dengan khusu’. Akan tetapi lama-kelamaan bisikan dzikir itu ritmenya semakin meningkat bahkan akhirnya hampir-hampir mendominasi seluruh waktu hidupnya sehingga kehidupannya menjadi terganggu, bahkan terakhir setiap hari dia hampir tidak dapat tidur, meski sekedar memejamkan mata. Karena setiap mata dipejamkan, ritme dzikir ghaib itu semakin meningkat

Saat itulah dia mulai sadar bahwa datangnya dzikir ghaib itu ternyata bukan obat tetapi penyakit, meskipun dengan adanya dzikir ghaib itu dia telah banyak mendapat kelebihan yang dapat digunakan membantu dan menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Sayangnya kesadaran itu sudah terlambat, hidupnya sudah terlanjur dikuasai oleh bisikan tersebut. Akan tetapi alhamdulillah berkat kemauannya yang kuat untuk mengobati dirinya sendiri dan pertolongan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang sadar dan mau bertaubat, dengan terapi latihan panjang, akhirnya dia terbebas dari bisikan kalimah dzikir yang telah menyiksa hidupnya itu.

Mengapa ada kejadian seperti itu…? Sesungguhnya penyebabnya sama, orang tersebut senang beramal dengan amalan yang khusus (wirid-wirid khusus) akan tetapi tanpa bimbingan guru ahlinya. Jadi, tidak menjadi jaminan, dzikir dengan kalimat “Lailaha illallah“ sekalipun atau bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim, dapat menjadi obat bagi manusia, manakala cara membacanya tidak dibimbing oleh guru ahlinya.

Seperti sepeda motor misalnya, yang seharusnya menjadi sarana untuk membantu mempermudah hidup manusia, manakala dikendarai oleh orang yang belum ahli mengendarai kendaraan, maka yang seharusnya membantu kehidupan itu kadang-kadang malah menjadi penyebab mempercepat kematian.

Jadi, mestinya seperti orang-orang tersebut itulah yang seharusnyan diruqyah supaya penyakit yang ada dalam rongga dada mereka menjadi sembuh. Orang kesurupan menjadi sadar, orang yang terkena penyakit jin menjadi sembuh, orang yang mengaku malaikat jibril dan nabi tidak mencicipi penderitaan hidup di penjara. Memang untuk itulah – sejak dahulu sampai sekarang – ruqyah itu dilakukan oleh para ahlinya. Ruqyah bukan untuk melukai kesadaran orang sehat menjadi gila walau sebantar, tetapi melepaskan kesadaran manusia dari cengkraman setan jin untuk selama-lamanya. (malfiali, Desember 2008)

MENGUAK DUNIA JIN 10 (Serba Serbi Dunia Jin VS Ruqyah)

Posted in dunia jin dengan kaitan (tags) on 25 Desember 2008 by malfiali

jin

Serba Serbi Dunia Jin VS Ruqyah

1. SENTUHAN SETAN JIN PADA SEORANG BAYI SAAT DILAHIRKAN.

Menurut ilmu medis, seorang anak manusia yang baru dilahirkan harus menangis, kalau tidak berarti tidak sehat. Begitulah kira-kira karena penulis tidak mengetahui ilmunya. Akan tetapi menurut sabda Rasulullah saw. di bawah ini ternyata saat itu (saat bayi menangis itu) karena dia mendapat tusukan dari setan jin. Rasulullah saw. bersabda:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak ada seorang bayipun yang dilahirkan oleh ibunya kecuali telah disentuh setan. Sehingga Bayi itu segera menangis dan menjerit karena sentuhan setan tersebut kecuali Putera Mariam dan Mariam

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Permulaan kejadian hadits nomor 3044.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Kelebihan hadits nomor 4363.

Barangkali seorang jin sedang memberikan aba-aba kepada manusia yang menjadi tanggungannya bahwa sejak saat itu genderang perang terbuka di dunia luar sudah dikumandangkan, makanya manusia harus waspada, jangan sampai mereka dibuat muntah-muntah dan kencing di dalam masjid dan di musholla-musholla gara-gara di Ruqyah.

2. TIGA IKATAN SETAN DI KEPALA ORANG TIDUR.

Seringkali kita menyiapkan alarm disamping tempat tidur supaya pada saat yang sudah direncanakan bisa bangun tengah malam dan melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi seringkali pula yang terjadi tidak sesuai rencana, bahkan niat tinggal niat dan tidur tetap berjalan cepat. Ketika alarm berbunyi dengan tepat, segera kitapun menindaklanjuti dengan cepat, namun bukan untuk bangun dan sholat, melainkan mematikan alarm dan mimpi berlanjut maka shubuhpun menjadi terlewat. Mengapa bisa seperti itu…?, ternyata di saat bantal merapat setan jin mengikat kepala dengan tiga kawat. Rasulluh saw. bersabda:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ثَلَاثَ عُقَدٍ إِذَا نَامَ بِكُلِّ عُقْدَةٍ يَضْرِبُ عَلَيْكَ لَيْلًا طَوِيلًا فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِذَا تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عَنْهُ عُقْدَتَانِ فَإِذَا صَلَّى انْحَلَّتِ الْعُقَدُ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Sesungguhnya Nabi s.a.w bersabda: setan akan mengikat ujung kepala seseorang yang sedang tidur dengan tiga ikatan, sehingga menyebabkan kamu tertidur dengan pulas dan lama. Apabila seseorang di antara kamu itu terbangun serta menyebut nama Allah, maka ikatan partama akan terlepas. Apabila dia berwuduk maka akan terbukalah ikatan yang kedua. Apabila dia sembahyang maka akan terbukalah ikatan semuanya. Dia juga akan merasakan suatu kesegaran dan ketenangan hati, jika tidak dia akan merasa malas dan tidak bergairah

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Jum’at hadits nomor 1074.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Qiyamul Lail hadits nomor 1295.
• Riwayat Nasa’i di dalam Kitab Sholat Orang Musyafir Dan Mengkoshornya hadits nomor 1589.

Barangkali setiap siang dan malam kita harus diruqyah, supaya di saat kita tidur, setan jin tidak sempat mengikat kepala kita dengan tiga kawat….?

3. SETAN LARI MENDENGAR ADZAN DAN QOMAT

Rasulullah saw. bersabda:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ أَحَالَ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ صَوْتَهُ فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ فَإِذَا سَمِعَ الْإِقَامَةَ ذَهَبَ حَتَّى لَا يَسْمَعَ صَوْتَهُ فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Nabi s.a.w bersabda: Apabila setan mendengar azan, dia lari berhamburan sehingga tidak mendengarnya lagi suaranya. Setelah azan selesai, dia kembali lagi untuk menggoda (manusia). Begitu juga apabila mendengar iqamat. Dia lari lagi sehingga tidak mendegar suaranya lagi dan begitu iqamat selesai dibacakan, segera dia kembali sekali lagi untuk menggoda manusia.

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Azan hadits nomor 573.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Sholat hadits nomor 583.
• Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Sholat hadist nomor 363.
• Riwayat Nasa’i di dalam Kitab Azan hadits nomor 664.
• Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Sholat hadits nomor 433, 869.

Setan memang takut kepada suara adzan, tapi anehnya malah terkadang tidak takut kepada orang yang menyuarakan adzan. Karena banyak adzan dikumandangkan bukan untuk memanggil orang untuk sholat melainkan sekedar pamer suara dan irama lagu bahkan diperlombakan agar panitia memberikan hadiah kepada sang juara azan.

4. SETAN KENCING DI TELINGA MANUSIA.

Rasulullah saw. bersabda:

حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : ذُكِرَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ نَامَ لَيْلَةً حَتَّى أَصْبَحَ قَالَ ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنَيْهِ أَوْ قَالَ فِي أُذُنِهِ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a berkata: Diceritakan kepada Rasulullah s.a.w mengenai seorang yang tidur pada waktu malam hingga pagi. Baginda bersabda: Itulah orang yang kedua belah telinganya telah dikencingi setan atau sabda baginda: Sebelah telinganya saja

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Jum’at hadits nomor 1076.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Sholat Orang Musafir Dan Mengqoshornya hadits nomor 1293.
• Riwayat Nasa’i di dalam Kitab Qiyamul Lail hadits nomor 1590.

Barangkali itu zaman dulu, orang semalaman tertidur pulas sehingga tidak sempat tahajjud dan berdzikir malam, karena telinganya dikencingi setan yang tidak tahu adat. Kalau sekarang tidak begitu, bahkan setan-setan itu membuat manusia lupa adat, hingga suka kencing di mesjid-mesjid dan di musholla tanpa takut kuwalat, karena para tukang ruqyah sedang adakan pesta ruwat ???.

5. MENGUAP ADALAH BAGIAN GANGGUAN JIN KEPADA MANUSIA

Rasulullah saw. telah menyatakan dengan sabdanya:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ التَّثَاؤُبُ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Menguap (dengan mulut terbuka) adalah merupakan gangguan dari setan. Apabila ada di antara kamu yang menguap maka hendaklah dia menutup mulutnya sekuat mungkin

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Permulaan Kejadian hadits nomor 3046.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Zuhud dan Lemah Lembut hadits nomor 5310.
• Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Etika hadist nomor 2670, 2671.
• Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Etika hadits nomor 4373.

Ini merukapan tanda-tanda yang paling nyata akan kebersamaan makhluk jin di dalam hidup manusia. Hampir semua manusia pernah menguap dan hanya orang-orang khusus yang mendapat penjagaan khusus yang tidak pernah menguap seumur hidup, tetapi barangkali kita sulit untuk ditemukan orang tersebut. Kalau orang menguap – karena itu merupakan bagian dari gangguan jin yang harus diruqyah, betapa orang harus susah-susah keliling dunia untuk meruqyah orang yang menguap, karena hampir semua manusia pasti pernah menguap, lebih-lebih ketika mereka sedang ibadah atau sedang berada di dalam majlis-majlis pengajian dan dzikir. Bahkan sedang meruqyah sekalipun…?

6. DISAAT MANUSIA TIDUR JIN JUGA TIDUR DI DALAM LUBANG HIDUNG

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Nabi s.a.w telah bersabda: Apabila seseorang dari kamu bangun dari tidur, maka hendaklah dia memasukkan air ke dalam hidung dan menghembusnya keluar sebanyak tiga kali karena sesungguhnya setan bermalam di dalam lubang hidungnya di saat manusia tidur .

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Permulaan Kejadian hadits nomor 3052.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Bersuci hadits nomor 351.
• Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Bersuci hadist nomor 89.

Disaat kita tidur, ternyata lubang hidung kita menjadi hotelnya setan jin, padahal kita tidak pernah menyadarinya. Jika memang orang yang tubuhnya dimasuki jin harus diruqyah, apakah setiap akan tidur kita harus diruqyah….? supaya jin tidak tidur di hotelnya lagi ?

7. JIN MASUK KE DALAM TUBUH MANUSIA MELALUI JALAN DARAH

حَدِيثُ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ لِأَنْقَلِبَ فَقَامَ مَعِيَ لِيَقْلِبَنِي وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ ابْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَرًّا أَوْ قَالَ شَيْئًا

Diriwayatkan dari Sofiah binti Huyai r.a berkata: Pada suatu malam ketika Nabi s.a.w sedang beriktikaf aku datang menghampiri baginda. Setelah puas berbincang-bincang dengan baginda, akupun berdiri untuk pulang. Rasulullah s.a.w ikut berdiri untuk mengantarku. Tempat tinggal Sofiah adalah di rumah Usamah bin Zaid. Tiba-tiba datang dua orang Ansar. Ketika mereka melihat Nabi saw mereka mempercepatkan langkahnya. Lalu Nabi saw bersabda: Perlahankanlah langkahmu. Sesungguhnya ini adalah Sofiah binti Huyai. Kedua orang ansor itu berkata Maha suci Allah, wahai Rasulullah. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya setan itu berjalan pada aliran darah manusia”. Sebenarnya aku khawatir ada tuduhan buruk atau yang tidak baik dalam hati kamu berdua

1. Riwayat Bukhori di dalam Kitab I’tikaf hadits nomor 1894, 1897, 1898. – Etika hadits nomor 5751.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Salam hadits nomor 4041.
3. Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Etika hadits nomor 4342.
4. Riwayat Ibnu Majah di dalam Kitab Puasa hadits nomor 1769.

Ini lebih mengerikan lagi. Ternyata jin bisa keluar masuk dalam tubuh kita dengan sekehendak hati mereka. Mereka bisa tinggal di mana saja dalam jaringan urat darah kita yang mereka kehendaki, padahal kita tidak pernah merasakan keberadaan mereka. Barangkali kita semua memang harus diruqyah, supaya jin yang tinggal dalam urat darah kita itu tidak membelokkan aqidah Islamiyah kita, sehingga kita terhindar dari perbuatan syirik dan bid’ah, tidak terkecuali orang-orang yang ahli meruqyah ???.

(malfiali, Desember 2008)

MENGUAK DUNIA JIN 9 (Pendidikan Anak Islami)

Posted in dunia jin dengan kaitan (tags) on 17 Desember 2008 by malfiali

pedidikan anak

Pendidikan Anak Secara Islami

Akal sebagai tempat perbendaharaan Ilmu pengetahuan bagi manusia, maka akal akan mendapat masukan ilmu pengetahuan yang datangnya dari tiga sumber: pertama dari pendengaran, kedua dari penglihatan dan ketiga terbit di dalam hati. Manusia bisa memasukkan ilmu pengetahuan bagi akalnya dari tiga sumber tersebut, yakni dengan membaca, mendengarkan dan melaksanakan ibadah atau mujahadah di jalan Alloh sebagai pelaksanaan takwallah. Jalan yang ketiga inilah yang akan menjadi fokus pembicaraan dalam paparan ini. Allah Ta’ala telah menegaskannya dengan firman-Nya:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS:2/282.

*********

Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. QS:16/78.

Manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, hal itu disebabkan karena saat itu alat-alat mekanik yang nantinya berfungsi sebagai indera-inderanya belum berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga belum ada signal yang dikirimkan oleh indera-indera tersebut ke dalam bilik akal. Adapun indera yang pertama berfungsi adalah pendengaran kemudian baru penglihatan. Seandainya kedua alat mekanik tersebut tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka selamanya manusia akan tidak mengetahui apa-apa.

Semisal orang yang tuli sejak lahir, maka dia hanya dapat mengerti dari apa-apa yang dilihat oleh matanya tapi tidak dapat mengatakan melalui kata-kata, hal itu karena dia tidak pernah mendengarkan suara. Meski akalnya mampu memancarkan perintah supaya dia berbicara, namun alat bicara itu tidak dapat melaksanakan perintah tersebut karena sedikitpun alat itu tidak pernah dilatih untuk berbicara. Adapun orang yang buta sejak kecil tapi pendengarannya sempurna, terkadang dia malah menjadi lebih pintar dan lebih cerdas daripada orang yang dapat melihat, hanya saja dia tidak dapat menulis karena sama sekali tidak pernah kenal dengan tulisan.

Dari dua sumber tersebut ilmu pengetahuan kemudian masuk ke dalam bilik akal dan direkam di dalam memori akal, itulah yang disebut ilmu lahir atau ilmu rasional. Sedangkan ilmu yang masuknya ke dalam bilik akal melalui hati atau perasaan disebut dengan ilmu batin atau ilmu spiritual, atau dengan istilah apa saja dan juga ada yang mengatakan ilmu laduni.

Ketika anak manusia masih berupa janin yang ada dalam kandungan seorang ibu, keadaan batin seorang ibu tersebut sangat berpengaruh bagi pertumbuhan jiwa maupun raga anak yang ada di dalam kandungan, maka seorang ibu yang sedang mengandung hendaknya menjaga kestabilan batinnya, meningkatkan kemampuan spiritual dengan amal ibadah yang ikhlas, baik secara vertikal maupun horizontal, supaya emosional dan rasional selalu dapat terkontrol dan terkondisi dengan baik, sehingga dapat memberikan pengaruh positif kepada perkembangan janin yang sedang dikandungnya tersebut.

Adapun yang dimaksud dengan pendidikan anak secara islami ialah; Oleh karena jin selalu bekerjasama(bersekutu) dengan manusia di dalam urusan harta benda dan anak-anak, Allah Ta’ala mengabarkan hal tersebut dengan firman-Nya:

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَولَادِ

“Dan berserikatlah dengan mereka pada (urusan) harta dan (urusan) anak-anak.

Maka untuk mempersiapkan anak yang pandai dan cerdas serta sehat wal afiat – baik ruhani maupun jasmani – secara islami, persiapan tersebut tidaklah hanya dilakukan saat anak manusia itu berada di dalam kandungan ibunya saja, karena saat itu boleh jadi janin tersebut sudah terkontaminasi dengan anasir jin—hal itu akibat persetubuhan yang tidak dimulai dengan membaca do’a—akan tetapi seharusnya disiapkan sejak pertama kali seorang suami berhubungan dengan istrinya. Yakni dimulai dengan berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan membaca basmallah dan do’a sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Hubungan suami istri tersebut tidak dilakukan sekedar sebagai pelampiasan nafsu syahwat belaka.

Sesungguhnya saat itu adalah saat-saat yang sangat menentukan bagi kemurnian fithrah calon anak manusia tersebut. Supaya apabila dari hubungan itu terjadi pembuahan, maka sejak itu calon anak manusia itu mendapat perlindungan Allah Ta’ala dari segala upaya syaitan jin, supaya hasil hubungan itu benar-benar bersih sesuai dengan fithrah yang telah dikehendaki Allah Ta’ala baginya, bukan sebagai fithrah yang sudah terkontaminasi oleh anasir jin.

Baru setelah itu, seorang ibu yang mengandung hendaknya selalu mengkondisikan lahir dan batinnya untuk mempersiapkan akhlak anak yang dikandung itu menjadi akhlak yang mulia dengan pelaksanaan akhlak yang mulia pula. Tidak hanya sekedar ilmu dan amal saja, dan hendaknya bapak dan ibunya jangan terjebak melaksanakan wirid-wirid khusus yang kadang-kadang justru akan mewariskan karakter – bagi anaknya – yang tidak diinginkan sebagai dampak pelaksanaan amalan tersebut ketika pelaksanaan amalan tersebut karena cenderung hanya memperturutkan kemauan nafsu syahwat belaka. Maka jika hendak mengamalkan wirid-wirid, hendaknya dibimbing oleh guru ahlinya. Anak kita adalah amanat yang terbesar dari-Nya, maka jangan sampai hidupnya kelak menjadi sia-sia. Hanya Allah Ta’ala yang mampu mentarbiyah hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala telah menegaskan dari sabda Rasulullah saw prihal rahasia pendidikan anak secara batin ini dengan firman-Nya:

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya Pentarbiyahku adalah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia yang akan mentarbiyah orang-orang yang saleh”. QS:7/196.

Jika fithrah janin itu terlanjur terkontaminasi anasir jin, maka sejak saat itu berarti yang akan ikut andil menjadi guru calon anak tersebut adalah jin yang sudah menguasainya, dengan cara mengirimkan perintah berupa signal-signal yang dipancarkan setiap saat kepada janin itu. Akibatnya, apa saja yang dapat diupayakan oleh seorang ibu yang sedang mengandung tersebut tidak dapat membuahkan hasil yang optimal karena sejak itu setan jin sudah ikut andil dalam pembentukan kepribadian serta karakter dari calon anak yang ada di dalam kandungan tersebut. Selanjutnya, setelah anak itu dilahirkan oleh ibunya ia akan terlahir menjadi anak yang mempunyai kelainan-kelainan pembawaan yang negatif, yang kadang-kadang sulit dapat dipulihkan kembali.

Anak manusia yang terlahir dengan fithrah yang sudah tidak murni ini, ketika sudah mulai menginjak usia balita, biasanya muncul tanda-tanda yang dapat dibaca dari prilaku keseharianya. Adapun tanda-tanda yang umum adalah seperti apa yang diduga oleh banyak orang dengan istilah hipper aktif. Anak tersebut terkadang memang mempunyai kepandaian agak menonjol dibanding dengan teman sebayanya, akan tetapi dia sulit diatur oleh orang lain. Dia suka bertindak semaunya sendiri sehingga banyak merepotkan orang yang ada di sekitarnya.

Memang keberadaan anak tersebut tidak sebagaimana mestinya pada usia anak sebayanya, kadang-kadang mempunyai inisiatif dan kreatif yang berlebihan dan bahkan mampu berbuat jauh melebihi usia anak yang lebih tua darinya. Maka yang dikatakan hipper aktif itu terkadang memang karena fithrah anak tersebut telah terkontaminasi oleh anasir jin sejak dalam kandungan ibunya, berarti sejak itu anak tersebut sesungguhnya dalam keadaan sakit akibat gangguan jin. Kalau sudah demikian keadaannya, sebagai bagian dari pelaksanaan pendidikan secara islami adalah pelaksanaan aqiqoh oleh kedua orang tuanya. Oleh karena anak tersebut terlahir dalam kondisi sakit, maka aqiqoh untuk tujuan pengobatan ini harus dilakukan oleh orang yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang tersebut.

Walhasil, pendidikan anak secara Islami tersebut bukan hanya dilakukan oleh seorang ibunya saat mengandung anaknya, tatapi jauh sebelum itu. Yaitu saat suami istri sedang melaksanakan tugas khsusnya. Tugas bersama itu harus dimulai dengan membaca do’a-do’a sebagaimana yang diajarkan oleh Baginda nabi s.a.w. Do’a tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w dalam sabdanya berikut ini:

حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا *

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a berkata: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: apabila seseorang diantara kamu ingin bersetubuh dengan isterinya hendaklah dia membaca:

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Artinya: Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Wahai Tuhanku! jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami.

Sekiranya hubungan antara suami istri itu ditakdirkan mendapat seorang anak, maka anak tersebut tidak akan diganggu oleh setan untuk selamanya.

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Nikah hadits nomor 4767.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Nikah hadits nomor 2591.
• Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Nikah hadist nomor 1012.
• Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Nikah hadits nomor 1846.

Pengalaman penulis dalam menangani dan melaksanakan usaha penyembuhan bagi orang sakit akibat gangguan jin, baik penyakit yang menyerang kesadaran seperti orang kesurupan jin, maupun yang menyerang jasad sebagaimana yang diduga oleh para orang pintar atau paranormal dan dukun sebagai akibat terkena santet atau sihir, semuanya itu hampir dapat dipastikan penyebab awalnya karena orang yang sakit itu belum di-aqiqohi oleh kedua orang tuanya.

Setelah aqiqoh tersebut dilaksanakan, dengan izin Alloh pekerjaan penyembuhan mendapat kemudahan sehingga orang yang sakit juga mendapat kesembuhan dari-Nya. Itulah hikmah syari’at, yang terkadang orang yang melakukannya tidak memahami rahasia yang tersimpan di dalamnya. Ternyata tujuan syari’at tersebut hanya untuk kepentingan orang yang melaksanakannya. (malfiali, Desember 2008)

BERBURU KHODAM

Posted in dunia jin dengan kaitan (tags) on 22 Oktober 2008 by malfiali

BERBURU KHODDAM

khodam

Seperti yang diuraikan di judul khodam jin dan khodam malaikat,  ternyata wali ada dua:

1). Auliyaaur-Rohmaan, (Wali-walinya Allah).

2). Auliyaausy-Syayaathiin, (Wali-walinya Setan).

Tentang walayah (kewaliayan) Allah menetegaskan dengan firman-Nya:


اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah adalah Walinya orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, Wali-walinya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan”. (QS.2/257)

Maksud ayat, Allah yang menolong orang-orang beriman, yakni mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid, dari kesusahan kepada cahaya kegembiraan. Menolong dengan melepaskan mereka dari himpitan problem kehidupan, menolong dengan memberikan berbagai macam fasilitas dan kemudahan, menolong dengan menurunkan tentara-tentara yang tidak dapat kamu lihat, menolong dengan menurunkan malaikat-malaikat sebagai pelindung dan pembimbing. Hal itu terjadi, karena Allah mencintai orang-orang beriman dan orang-orang yang beriman itu mencintai Allah s.w.t.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ

“Yang demikian itu karena disebabkan sesungguhnya Allah adalah kekasih orang-orang yang beriman dan sesungguhnya orang-orang yang kafir mereka tidak mempunyai kekasih”. (QS. Muhammad; 47/11)

Dan juga firman-Nya:

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. (QS. al-Baqoroh; 2/165)

Adapun orang kafir, mereka tidak mempunyai kekasih dari pihak Allah akan tetapi dari pihak Thoghut atau tentara setan. Sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah s.w.t melalui ayat-ayat-Nya di atas:


وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang tidak percaya, Wali-walinya adalah setan yang mengeluarkan dari Nur kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS. al-Baqoroh; 2/257)


Setan dijadikan wali bagi orang-orang kafir, maka setan itulah yang akan membimbing orang tersebut keluar dari cahaya menuju kegelapan. Keluar dari iman kepada kafir dan dari tauhid kepada syirik. Dengan membimbing mereka menuju kesenangan sesaat, mengikuti kehendak hawa nafsu, namun akhirnya tanpa terasa mereka terjerumus ke jurang neraka. Oleh karena orang-orang kafir itu telah dicintai setan sejak hidup mereka di dunia, maka di nerakapun mereka itu diharapkan tetap berkumpul lagi dengan setan untuk selama-lamanya.

manakib

Sebagaimana tanda-tanda kecintaan Allah s.w.t kepada orang-orang yang beriman, dengan menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka sebagai khodam-khodam, maka demikian pula setan Jin. Demi kelanggengan kecintaannya itu, dan supaya mereka dapat selalu bersama-sama dengan setan sampai di neraka kelak, maka setan Jin juga menempatkan tentara-tentaranya untuk menyertai hidup orang-orang kafir sebagai khodam mereka.

MENGENALI KHODAM

Setiap manusia sesungguhnya sudah dibekali Allah s.w.t dengan teman (qorin) dari golongan Jin, bahkan sejak manusia dilahirkan oleh ibunya. Rasulullah s.a.w telah menegaskan hal itu dengan sabdanya:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وَكَّلَ قََرِيْنَهُ مِنَ الْجِنِّ . قَاُلْوا أَاَنْتَ يَارَسُوْلَ اللهِ . قَالَ: وَإِيَّايَ إِلاَّ أَنَّ اللهَ قَدْ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلاَ يَأْمُرُنِي إِلاَّ بِالْخَيْرِ . رواه مسلم.

“Tidaklah dari salah satu diantara kalian kecuali sesungguhnya Allah telah mewakilkan temannya dari jin, mereka bertanya: “Apakah engkau juga ya Rasulullah?”, Rasul s.a.w menjawab: “Dan juga kepadaku, hanya saja sesungguhnya Allah telah menolongku mengalahkannya, maka ia masuk Islam, maka ia tidak memerintah kepadaku kecuali dengan kebaikan”. (HR Muslim)

manakib

Rasulullah s.a.w meskipun dibekali teman dari Jin, namun Allah memberikan pertolongan kepada Beliau sehingga Jin yang menyertai Nabi s.a.w masuk Islam. Dengan itu jin tersebut tidak memberikan bisikan kepada Baginda Nabi kecuali dalam kebaikan, demikianlah yang disampaikan dalam sabdanya di atas. Maka hadits ini menjadi bukti bahwa bagian dari fungsi khodam Jin itu adalah mempengaruhi manusia dengan perintahnya.

Hanya saja, oleh karena Allah s.w.t telah memberikan pertolongan kepada Baginda Nabi s.a.w, meskipun jin itu memberikan perintah, namun itu hanya dalam kebaikan. Melalui hadits ini juga terbukti, ternyata khodam yang baik itu tidak hanya dari golongan malaikat saja, akan tetapi juga ada yang dari golongan Jin. Lebih jelas lagi dari apa yang telah disabdakan oleh Baginda Nabi s.a.w di dalam hadits yang lain:

فُضِّلْتُ عَلَى آَدَمَ بِخَصْلَتَيْنِ. اَلأَوَّلُ: إِنَّ الشَّيْطَانِي كَانَ كَافِرًا فَأَعَانَنِيَ اللهُ عَلَيْهِ حَتَّى أَسْلَمَ. وَالثَّانِيَةُ: إِنَّ أَزْوَاجِيْ كُنَّ عَوْنًا لِي فِي خَيْرٍ . وَأَنَّ الشَّيْطَانَ آَدَمَ كَانَ كَافِرًا وَزَوْجَتُهُ كَانَتْ عَوْنًا عَلَيْهِ.

“Aku diutamakan melebihi Adam dengan dua keadaan: pertama, sesungguhnya setanku adalah kafir, kemudian Allah memberi pertolongan kepadaku sehingga setanku masuk Islam, dan yang kedua, sesungguhnya adalah istri-istriku selalu menolong kepadaku di dalam kebaikan, sedangkan Adam, setannya adalah kafir dan istrinya adalah menolong kepada setannya”.

Walhasil, dari sekian uraian di atas, baik yang bersumber dari firman-firman Allah s.w.t maupun hadits-hadits Nabi s.a.w dapat diambil beberapa kesimpulan: Bahwa keberadaan khodam-khodam itu ternyata memang ada, bahkan ada yang yang sudah diikutkan manusia sejak dilahirkan oleh ibunya. Di antara khodam-khodam itu ada yang menguntungkan ada yang merugikan. Namun demikian, adanya khodam itu tidak didapatkan dengan cara diburu ke sana ke mari, melainkan didatangkan oleh Allah s.w.t sebagai bonus ibadah, baik secara langsung mengikuti hikmah yang dikehendaki-Nya atau melalui proses dan sebab-sebab yang berkaitan dengan ikhtiar serta amal ibadah.

Di antara khodam-khodam itu ternyata ada yang sudah diikutsertakan Allah kepada manusia sejak ia dilahirkan ibunya. Padahal dalam kenyataannya tidak semua orang dapat merasakan keberadaannya terlebih mengenalinya. Bagaimana­kah yang demikian itu dapat dinalar secara rasional?

manakib

Manusia dengan khodamnya, ibarat manusia dengan bayang-bayangnya sendiri. Bayang-bayang itu menjadi ada, bukan karena ada dengan sendirinya, namun karena ada sinar yang menyinari manusia. Seperti malam ketika sedang berkabut hingga menjadi gelap gulita, jangankan bayang-bayang, gunung di pelupuk mata pun tidak tampak. Demikian itu karena tidak adanya sinar yang menerangi persada. Namun ketika matahari mulai memancarkan sinar, seiring fajar pagi kian terang, maka sedikit demi sedikit gunung yang tadinya tidak kelihatan mulai menampakkan diri. Yang asalnya seperti gundukan asap hitam, semakin lama menjadi semakin terang, dan ketika matahari semakin tinggi, tidak ada kabut dan mendung yang menghalangi, maka gunung itupun semakin menampakkan diri. Ketika sinar matahari telah sempurna memancar pada titik kulminasi, maka gunung itu semakin kelihatan indah karena bayang-bayang pemisah antara dua celah yang semula tidak kelihatan kini ikut mempercantik wajahnya. Seperti itulah cara mengenali khodam. Artinya, khodam itu tidak harus dicari ke sana ke mari, melainkan didapatkan dengan jalan mendekatkan dirinya kepada titik pancaran sinar matahari.

Yang dimaksud sinar matahari itu adalah Nur langit dan Nur bumi, yaitu Nur dan Hidayah Allah s.w.t yang menerangi rongga dada seorang hamba sehingga matahati yang ada di dalamnya menjadi tembus pandang. Maka mendekatkan diri kepada sinar matahari itu berarti mendekatkan diri kepada Allah s.w.t supaya dengan itu seorang hamba mendapatkan hidayah-Nya.

Supaya orang dapat sinar matahari, dia harus mendekatkan diri kepada sumber sinar, sekaligus menghilangkan sesuatu yang dapat menghalangi dirinya dari sinar tersebut. Seperti itulah cara orang mengenali khodam-khodamnya, di samping ia harus mendekatkan diri kepada Allah s.w.t, juga harus menghilangkan dan menghapus hijab-hijab yang menutupi matahatinya, sehingga mampu menangkap pancaran Nur dan Hidayah dengan sempurna. Dengan sinar hidayah itu alam yang semula gelap gulita menjadi terang benderang karena matahati seorang hamba menjadi tembus pandang. Hamparan dada yang semula sempit dan dangkal itu kini menjadi dalam dan luas karena bagian rahasia alam telah tersingkapkan. Dengan semakin luasnya ilmu dan pengenalan diri, baik kepada diri sendiri dan lingkungan, terlebih pemahaman akan rahasia urusan Tuhannya, maka dengan izin-Nya seorang hamba akan semakin mengenali apa-apa yang ada di sekelilingnya. Mereka dapat menngenali dimensi-dimensi lain yang ada di alam semesta, di antaranya adalah dimensi rahasia khodam-khodam yang menyertai hidupnya.

manakib

Ini adalah ‘kunci rahasia’ untuk membuka pintu rahasia yang selama ini seakan tertutup rapat itu. Merupakan password yang dapat menguak dimensi alam yang seakan terhalang. Kunci permasalahan yang dapat dijadikan dasar kajian sekaligus bekal utama supaya seorang hamba mampu mambangun amal untuk melatih diri membakar hijab dan menembus sekat yang menghalangi, mengadakan pengembaraan dan bermi’raj menuju dimensi yang diselimuti. Menyelesaikan tahapan, menempuh tanjakan, menyiasati jebakan dan menyingkirkan rintangan, supaya perjalanan tidak tersesat di tengah jalan, sehingga seorang pejalan mendapatkan apa-apa yang sudah disiapkan.

Jadi, berburu khodam itu tidak harus melakukan perjalanan pergi kesana-kemari, akan tetapi dengan gerakan diam. Artinya melakukan amal dalam pengabdian hakiki, baik dzikir dan wirid, maupun mujahadah dan riyadlah, semuanya itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Hal tersebut bisa dilakukan dimana saja, baik di dunia rame maupun sepi, asal hanya untuk mengharapkan ridla-Nya. Selanjutnya berserah diri kepada-Nya terhadap apa-apa yang yang diharapkan. Demikian itu, karena Allah tidakl jauh dari hamba-Nya. Allah sangat dekat dan bahkan lebih dekat dari urat lehernya. Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui terhadap apa-apa yang dikerjakan hamba-Nya, baik dari perbuatan taat maupun maksiat dan Allah juga Maha Kuasa membalas amal ibadah yang dikerjakan hamba-hamba-Nya itu.

Ketika Allah s.w.t telah membuka matahati seorang hamba, buah amal ibadah yang dijalani, maka baginya tidak ada rahasia lagi di alam ini. Seperti ketika mentari telah memancarkan sinarnya dari titik kulminasi, maka persada yang semula gelap seketika menjadi terang benderang, sehingga semut hitam yang berhenti di atas batu hitam yang semula samar, sekarang menjadi tampak terang. Namun demikian, oleh karena yang rahasia harus tetap dalam kerahasiaan dan tidak boleh dibuka kecuali kepada ahlinya, maka pembicaraan dalam kaitan yang rahasia harus ada batasan.

Terlebih urusan khodam yang hanya dapat dikenali dengan ilmu rasa. Padahal tidak ada jalan untuk menghasilkan ilmu rasa kecuali dengan amal (praktek), maka tidak mungkin uraian tentang khodam ini dapat diperpanjang lagi. Oleh karena itu, bagi para pembaca yang ingin melanjutkan pencarian, silahkan meneruskan sendiri semampu mungkin dengan mencari bahan tambahan, baik dari ayat-ayat al-Qur’an maupun Hadits-Hadits Nabi s.a.w yang tentunya harus didampingi para Ulama’ ahlinya sebagai guru dan pembimbing, sambil memohon petunjuk dan taufiq kepada Allah s.w.t agar kita semua terjaga dari segala tipudaya kehidupan.

(malfiali, 22 Oktober 2008)

KHODAM JIN DAN KHODAM MALAIKAT

Posted in dunia jin dengan kaitan (tags) on 22 Oktober 2008 by malfiali

KHODAM

Kdm

Yang dimaksud khodam dalam uraian ini adalah penjaga yang didatangkan dari dunia ghaib untuk manusia, bukan untuk benda bertuah. Didatangkan dari rahasia urusan Ilahiyah yang terkadang banyak diminati oleh sebagian kalangan ahli mujahadah dan riyadlah tetapi dengan cara yang kurang benar. Para ahli mujahadah itu sengaja berburu khodam dengan bersungguh-sungguh. Mereka melakukan wirid-wirid khusus, bahkan datang ke tempat-tempat yang terpencil. Di kuburan-kuburan tua yang angker, di dalam gua, atau di tengah hutan.

Ternyata keberadaan khodam tersebut memang ada, mereka disebutkan di dalam al-Qur’an al-Karim. Diantara mereka ada yang datang dari golongan Jin dan ada juga dari Malaikat, namun barangkali pengertiannya yang berbeda. Karena khodam yang dinyatakan dalam Al-Qur’an itu bukan berupa kelebihan atau linuwih yang terbit dari basyariah manusia yang disebut “kesaktian”, melainkan berupa sistem penjagaan dan perlindungan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh sebagai buah ibadah yang mereka lakukan. Sistem perlindungan tersebut dibangun oleh rahasia urusan Allah s.w.t yang disebut “walayah”, dengan itu supaya fitrah orang beriman tersebut tetap terjaga dalam kondisi sebaik-baik ciptaan. Allah s.w.t menyatakan keberadaan khodam-khodam tersebut dengan firman-Nya:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Bagi manusia ada penjaga-penjaga yang selalu mengikutinya, di muka dan di belakangnya, menjaga manusia dari apa yang sudah ditetapkan Allah baginya. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubahnya sendiri”. (QS. ar-Ra’d; 13/11)

Lebih jelas dan detail adalah sabda Baginda Nabi s.a.w dalam sebuah hadits shahihnya:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ رواه البخاري و مسلم *

“Hadits Abi Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya Allah apabila mencintai seorang hamba, memanggil malaikat Jibril dan berfirman : “Sungguh Aku mencintai seseorang ini maka cintailah ia”. Nabi s.a.w bersabda: “Maka Jibril mencintainya”. Kemudian malaikat Jibril memanggil-manggil di langit dan mengatakan: “Sungguh Allah telah mencintai seseorang ini maka cintailah ia, maka penduduk langit mencintai kepadanya. Kemudian baginda Nabi bersabda: “Maka kemudian seseorang tadi ditempatkan di bumi di dalam kedudukan dapat diterima oleh orang banyak”. (HR Bukhori dan Muslim )

Dan juga sabdanya:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ

“Hadits Abi Hurairah r.a Sesungguhnya Rasulullah s.w.t bersabda: “Mengikuti bersama kalian, malaikat penjaga malam dan malaikat penjaga siang dan mereka berkumpul di waktu shalat fajar dan shalat ashar kemudian mereka yang bermalam dengan kalian naik (ke langit), Tuhannya bertanya kepada mereka padahal sesungguhnya Dia lebih mengetahui keadaan mereka: di dalam keadaan apa hambaku engkau tinggalkan?, mereka menjawab: mereka kami tinggalkan sedang dalam keadaan shalat dan mereka kami datangi sedang dalam keadaan shalat”. (HR Buhori dan Muslim)

manakib

Setiap yang mencintai pasti menyayangi. Sang Pecinta, diminta ataupun tidak pasti akan menjaga dan melindungi orang yang disayangi. Manusia, walaupun tanpa susah-susah mencari khodam, ternyata sudah mempunyai khodam-khodam, bahkan sejak dilahirkan ibunya. Khodam-khodam itu ada yang golongan malaikat dan ada yang golongan Jin. Diantara mereka bernama malaikat Hafadhoh (penjaga), yang dijadikan tentara-tentara yang tidak dapat dilihat manusia. Konon menurut sebuah riwayat jumlah mereka 180 malaikat. Mereka menjaga manusia secara bergiliran di waktu ashar dan subuh, hal itu bertujuan untuk menjaga apa yang sudah ditetapkan Allah s.w.t bagi manusia yang dijaganya.

Itulah sistem penjagaan yang diberikan Allah s.w.t kepada manusia yang sejatinya akan diberikan seumur hidup, yaitu selama fitrah manusia belum berubah. Namun karena fitrah itu terlebih dahulu dirubah sendiri oleh manusia, hingga tercemar oleh kehendak hawa nafsu dan kekeruhan akal pikiran, akibat dari itu, matahati yang semula cemerlang menjadi tertutup oleh hijab dosa-dosa dan hijab-hijab karakter tidak terpuji, sehingga sistem penjagaan itu menjadi berubah.

KHODAM JIN DAN KHODAM MALAIKAT

‘Setan’, menurut istilah bahasa Arab berasal dari kata syathona yang berarti ba’uda atau jauh. Jadi yang dimaksud ‘setan’ adalah makhluk yang jauh dari kebaikan. Oleh karena hati terlebih dahulu jauh dari kebaikan, maka selanjutnya cenderung mengajak orang lain menjauhi kebaikan. Apabila setan itu dari golongan Jin, berarti setan Jin, dan apabila dari golongan manusia, berarti setan manusia. Manusia bisa menjadi setan manusia, apabila setan Jin telah menguasai hatinya sehingga perangainya menjelma menjadi perangai setan. Rasulullah s.a.w menggambarkan potensi tersebut dan sekaligus memberikan peringatan kepada manusia melalui sabdanya:

لَوْلاَ أَنَّ الشَّيَاطِيْنَ يَحُوْمُوْنَ عَلَى قُلُوْبِ بَنِى آَدَمَ لَنَظَرُوْا اِلَى مَلَكُوْتِ السَّمَاوَاتِ

“Kalau sekiranya setan tidak meliputi hati anak Adam, pasti dia akan melihat alam kerajaan langit”.

Di dalam hadits lain Rasulullah s.a.w bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَجْرِى مِنِ ابْنِ آَدَمَ مَجْرَى الدَّمِ فَضَيِّقُوْا مَجَاِريَهُ ِبالْجُوْعِ.

“Sesungguhnya setan masuk (mengalir) ke dalam tubuh anak Adam mengikuti aliran darahnya, maka sempitkanlah jalan masuknya dengan puasa”.

Setan jin menguasai manusia dengan cara mengendarai nafsu syahwatnya. Sedangkan urat darah dijadikan jalan untuk masuk dalam hati, hal itu bertujuan supaya dari hati itu setan dapat mengendalikan hidup manusia. Supaya manusia terhindar dari tipu daya setan, maka manusia harus mampu menjaga dan mengendalikan nafsu syahwatnya, padahal manusia dilarang membunuh nafsu syahwat itu, karena dengan nafsu syahwat manusia tumbuh dan hidup sehat, mengembangkan keturunan, bahkan menolong untuk menjalankan ibadah.

Dengan melaksanakan ibadah puasa secara teratur dan istiqomah, di samping dapat menyempitkan jalan masuk setan dalam tubuh manusia, juga manusia dapat menguasai nafsu syahwatnya sendiri, sehingga manusia dapat terjaga dari tipudaya setan. Itulah hakekat mujahadah. Jadi mujahadah adalah perwujudan pelaksanaan pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya secara keseluruhan, baik dengan puasa, shalat maupun dzikir. Mujahadah itu merupakan sarana yang sangat efektif bagi manusia untuk mengendalikan nafsu syahwat dan sekaligus untuk menolak setan. Allah s.w.t berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka berdzikir kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat”. (QS.al-A’raaf.7/201)

Firman Allah s.w.t di atas, yang dimaksud dengan lafad “Tadzakkaruu” ialah, melaksanakan dzikir dan wirid-wirid yang sudah diistiqamahkan, sedangkan yang dimaksud “Mubshiruun”, adalah melihat. Maka itu berarti, ketika hijab-hijab hati manusia sudah dihapuskan sebagai buah dzikir yang dijalani, maka sorot matahati manusia menjadi tajam dan tembus pandang.

manakib

Jadi, berdzikir kepada Allah s.w.t yang dilaksanakan dengan dasar Takwa kepada-Nya, di samping dapat menolak setan, juga bisa menjadikan hati seorang hamba cemerlang, karena hati itu telah dipenuhi Nur ma’rifatullah. Selanjutnya, ketika manusia telah berhasil menolak setan Jin, maka khodamnya yang asalnya setan Jin akan kembali berganti menjadi golongan malaikat.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ(30)نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) “Janganlah kamu merasa takut janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”(30)Kamilah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”. (QS. Fushilat; 41/30-31)

Firman Allah s.w.t di atas yang artinya: “Kami adalah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”, itu menunjukkan bahwa malaikat-malaikat yang diturunkan Allah s.w.t kepada orang yang istiqamah tersebut adalah untuk dijadikan khodam-khodam baginya.

Walhasil, bagi pengembara-pengembara di jalan Allah, kalau pengembaraan yang dilakukan benar dan pas jalannya, maka mereka akan mendapatkan khodam-khodam malaikat. Seandainya orang yang mempunyai khodam Malaikat itu disebut wali, maka mereka adalah waliyullah. Adapun pengembara yang pas dengan jalan yang kedua, yaitu jalan hawa nafsunya, maka mereka akan mendapatkan khodam Jin. Apabila khodam jin itu ternyata setan maka pengembara itu dinamakan walinya setan. Jadi Wali itu ada dua (1) Auliyaaur-Rohmaan (Wali-walinya Allah), dan (2) Auliyaausy-Syayaathiin (Walinya setan). Allah s.w.t menegaskan dengan firman-Nya:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang tidak percaya, Wali-walinya adalah setan yang mengeluarkan dari Nur kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS.al-Baqoroh.2/257)

Dan juga firman-Nya:

إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan sebagai Wali-wali bagi orang yang tidak percaya “. (QS. Al-A’raaf; 7/27)

manakib

Seorang pengembara di jalan Allah, baik dengan dzikir maupun wirid, mujahadah maupun riyadlah, kadang-kadang dengan melaksanakan wirid-wirid khusus di tempat yang khusus pula, perbuatan itu mereka lakukan sekaligus dengan tujuan untuk berburu khodam-khodam yang diingini. Khodam-khodam tersebut dicari dari rahasia ayat-ayat yang dibaca. Semisal mereka membaca ayat kursi sebanyak seratus ribu dalam sehari semalam, dengan ritual tersebut mereka berharap mendapat­kan khodamnya ayat kursi.

Sebagai pemburu khodam, mereka juga kadang-kadang mendatangi tempat-tempat yang terpencil, di kuburan-kuburan yang dikeramatkan, di dalam gua di tengah hutan belantara. Mereka mengira khodam itu bisa diburu di tempat-tempat seperti itu. Kalau dengan itu ternyata mereka mendapatkan khodam yang diingini, maka boleh jadi mereka justru terkena tipudaya setan Jin. Artinya, bukan Jin dan bukan Malaikat yang telah menjadi khodam mereka, akan tetapi sebaliknya, tanpa disadari sesungguhnya mereka sendiri yang menjadi khodam Jin yang sudah didapatkan itu. Akibat dari itu, bukan manusia yang dilayani Jin, tapi merekalah yang akan menjadi pelayan Jin dengan selalu setia memberikan sesaji kepadanya.

Sesaji-sesaji itu diberikan sesuai yang dikehendaki oleh khodam Jin tersebut. Memberi makan kepadanya, dengan kembang telon atau membakar kemenyan serta apa saja sesuai yang diminta oleh khodam- khodam tersebut, bahkan dengan melarungkan sesajen di tengah laut dan memberikan tumbal. Mengapa hal tersebut harus dilakukan, karena apabila itu tidak dilaksanakan, maka khodam Jin itu akan pergi dan tidak mau membantunya lagi. Apabila perbuatan seperti itu dilakukan, berarti saat itu manusia telah berbuat syirik kepada Allah s.w.t. Kita berlindung kepada Allah s.w.t dari godaan setan yang terkutuk.

Memang yang dimaksud khodam adalah “rahasia bacaan” dari wirid-wirid yang didawam­kan manusia. Namun, apabila dengan wirid-wirid itu kemudian manusia mendapatkan khodam, maka khodam tersebut hanya didatangkan sebagai anugerah Allah s.w.t dengan proses yang diatur oleh-Nya. Khodam itu didatangkan dengan izin-Nya, sebagai buah ibadah yang ikhlas semata-mata karena pengabdian kepada-Nya, bukan dihasilkan karena sengaja diusahakan untuk mendapatkan khodam.

Apabila khodam-khodam itu diburu, kemudian orang mendapatkan, yang pasti khodam itu bukan datang dari sumber yang diridlai Allah s.w.t, walaupun datang dengan izin-Nya pula. Sebab, tanda-tanda sesuatu yang datangnya dari ridho Allah, di samping datang dari arah yang tidak disangka-sangka, bentuk dan kondisi pemberian itu juga tidak seperti yang diperkiraan oleh manusia. Demikian­lah yang dinyatakan Allah s.w.t:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا(2)وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah. Allah akan menjadikan jalan keluar baginya (untuk menyelesaikan urusannya) (2) Dan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak terduga”. (QS. ath-Tholaq; 65/2-3)

Khodam-khodam tersebut didatangkan Allah s.w.t sesuai yang dikehendaki-Nya, dalam bentuk dan keadaan yang dikehendaki-Nya pula, bukan mengikuti kehendak hamba-Nya. Bahkan juga tidak dengan sebab apa-apa, tidak sebab ibadah dan mujahadah yang dijalani seorang hamba, tetapi semata sebab kehendakNya. Hanya saja, ketika Allah sudah menyatakan janji maka Dia tidak akan mengingkari janji-janji-Nya.

(malfiali, 22 Oktober 2008)

MENGUAK DUNIA JIN 8 (Penanggulangan Orang Kesurupan dan Penyembuhan Penyakit Jin)

Posted in dunia jin dengan kaitan (tags) on 20 Oktober 2008 by malfiali

Penanggulangan Orang Kesurupan Jin

RUQYAH

Hanya Allah Ta’ala yang dapat menyembuhkan orang sakit, demikianlah yang dinyatakan dengan firman-Nya dalam mengabadikan munajat Nabi Ibrahim as:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ(الشعراء:26/80)

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”, QS:26/80

Oleh karena itu, apa saja yang dapat dikerjakan manusia guna membantu kesembuhan orang sakit, hanyalah sekedar menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Apabila bukan penyakit itu yang ditakdirkan Allah Ta’ala sebagai penyebab kematian, maka dengan izin-Nya segala penyakit dapat disembuhkan, kecuali penyakit tua.

Sesungguhnya antara sakit dan mati sama sekali tidak ada hubungan, meski seringkali sakit menjadi penyebab kematian. Supaya manusia tidak menyalahkan malaikat pencabut nyawa, kadang-kadang orang bisa mati mendadak bahkan sebelum sempat mematikan rokok yang dihisap, karena saat itu tiba-tiba rumahnya dimasuki truk sebagai tamu yang tidak diundang.

Oleh karena kebanyakan manusia takut mati, maka penyakit yang semestinya ringan menjadi penderitaan yang menyiksa. Bahkan sekedar takut sakit kadang-kadang orang memeriksakan diri ke dokter berulang-ulang. Maka disamping orang harus berikhtiar semampunya, hendaknya juga bertawakkal. Kalau seandainya manusia tidak takut mati, maka penyakit-penyakit tersebut akan malu mendekat, dan orang tersebut menjadi manusia yang paling sehat di seluruh dunia. Mereka bahkan dapat merasakan sakit dengan nyaman, sehingga tidak membutuhkan upaya pengobatan, semata-semata kerena mengetahui bahwa dengan sakit itu dosa-dosa dan kesalahan mendapat pengampunan.

Tiga sebab menjadikan manusia dapat kesurupan jin:
1. Karena manusia merusak habitat Jin dengan cara tidak benar.
2. Karena rasional dalam keadaan tidak berdaya mengahadapi tekanan beban emosional.
3. Karena kondisi manusia lemah, baik lahir maupun batin akibat terlalu sering diperdaya Jin selanjutnya dimasuki Jin Qorin.

Manakib Akbar

Manakib Akbar

Menghadapi orang kesurupan jin dengan sebab satu dan dua, cara penanggulangannya banyak kesamaan. Jin yang sedang menguasai si pasien seharusnya tidak dikeluarkan dengan mengerahkan tenaga dalam sebagaimana yang diperagakan para pelaku ruqyah dalam tanyangan TV. Seperti seorang pendekar, mereka menguras tenaga sampai bermandikan keringat, itu menujukkan berarti mereka mengahadapi kekuatan jin dengan pertolongan jin. Mereka melawan sulthon jin dengan warid dimensi jin, dengan itu bisa jadi mereka terjebak tipudaya setan jin dan syirik bahkan dapat berakibat fatal kepada orang yang ditolong. Perbuatan itu bisa menambah luka pada kesadaran penderitanya dan menjadikannya sebagai langganan kesurupan jin, bahkan bisa jadi malah menjadi gila dan mati.

Tanpa susah-susah seperti itu siapapun insya Allah mampu menolong orang kesurupan jin dengan santai, asal orang tersebut mempunyai kemampuan dan mengerti ilmunya. Orang kesurupan jin berarti seluruh perangkat kehidupannya dikuasai jin, karena saat itu jin sedang menjadi satu dengannya. Oleh karena itu, apabila diadakan sentuhan atau pijatan pada anggota tubuh orang tersebut, yang merasakan sakit bukan orangnya tetapi jin yang sedang menguasai., tetapi dalam keadaan kesakitan jin sering berbuat kebohongan. Mengaku yang sakit bukan dia tetapi manusia yang disurupi. Padahal keadaan orang yang kesurupan itu seperti orang sedang dibius, sehingga dia tidak ikut merasakan apa-apa dengan pijatan tersebut. Hal keadaan yang demikian itu sesuai dengan isyarat Nabi s.a.w dalam hadits diatas, bahwa jin masuk ke dalam tubuh manusia melalui jalan darahnya, maka melalui urat serabut darah itu pijatan tersebut harus dilakukan.

Secara khusus di jaringan urat darah tersebut terdapat simpul-simpul serabut darah. Simpul serabut darah itu terdapat di banyak tempat, baik di bagian kaki, tangan dan bahkan di sekujur tubuh, dari simpul-simpul itulah jin menguasai kesadaran manusia dengan bala tentaranya. Maka melalui simpul-simpul itu pula orang yang sedang menanggulangi orang kesurupan jin mengadakan pijatan, tentunya dengan tenaga lahir dan batin, sehingga meski pijatan itu pelan, dengan sulthon secara batin, jin akan merasakan bagaikan terbakar. Namun hal tersebut tidak boleh dilakukan kepada orang yang kesurupan jin dengan sebab ketiga. Hendaknya manusia sangat berhati-hati dalam mengani orang kesurupan jin dengan sebab ketiga ini, karena jin yang sedang di dalam jasad itu jin Qorin. Apabila jin Qorin sudah masuk dalam jasad manusia secara sempurna, dia tidak dapat keluar lagi. Oleh karena itu, apabila dipaksakan keluar, jin Qorin ini akan keluar bersama keluarnya kehidupan jasad tersebut. Berarti jasad itu harus segera dikebumikan karena telah ditinggalkan oleh kehidupan yang mendiaminya, alias mati.

Manakib Akbar

Manakib Akbar

Untuk kasus pertama, setelah jin dapat dikeluarkan dari jasad orang yang kesurupan, dan setelah orang tersebut diminumi air ruqyah, dengan izin Allah Ta’ala biasanya jin tersebut tidak dapat kembali lagi. Berbeda dengan kasus kedua, oleh karena masuknya jin akibat diundang oleh kondisi pikiran yang lemah, ketika kondisi pikiran itu lemah lagi, maka jin yang dikeluarkan itu bisa dengan mudah masuk lagi. Jika hal ini terjadi, maka untuk mengeluarkan yang kedua kali ini semakin sulit. Disamping itu, bisa jadi jin tersebut memasukkan virus jin yang dapat menjadi sebab manusia dijangkiti penyakit jin. Apabila keberadaan virus itu tidak segera terdeteksi, maka tahap berikutnya akan muncul gejalah sakit yang kadang-kadang dapat berakibat fatal bagi kehidupan orang yang kesurupan jin tersebut. Jika sudah demikian berarti sebagian kehidupan orang tersebut telah tergadaikan kepada jin. Adapun dengan kasus yang ketiga, karena kehidupan manusia saat itu benar-benar tergadaikan kepada jin Qorin, maka cara pengobatan yang paling efektif adalah dengan Aqiqoh.

Sesuai pengalaman, hampir semua orang kesurupan jin yang parah, orang tersebut sudah diikhtiarkan kesana-kemari, baik kepada Kyai maupun kepada orang pintar, ternyata orang tersebut belum di-aqiqohi. Ketika diaqiqohi, ternyata pekerjaan penyembuhan menjadi mudah, sehingga dengan mudah pula si penderita mendapat kesembuhan dari-Nya. Sungguh bukannya manusia ampuh dan sakti ketika si penderita yang sudah dibawa kesana-kemari dan belum juga sembuh, kemudian melalui tangan-tangan terlatih di ponpes orang tersebut mendapat kesembuhan….. Hanya Allah Ta’ala yang menyembuhkan segala penyakit. Ketika ilmu-Nya diamalkan dengan seluruh kemampuan dalam mengabdi, maka usaha seorang hamba mendapatkan kemudahan dan harapan menjadi kenyataan.

Penyembuhan Penyakit Akibat Gangguan Jin

Manakib Akbar

Manakib Akbar

Sebagaimana yang sudah diuraikan, penyakit akibat gangguan jin berada di tiga lokasi, pertama di badan, kedua pada kesadaran dan ketiga dalam hati. Dari ketiganya, yang dapat diangkat sebagai bahan pembicaraan hanya yang pertama, yaitu “Penyakit dalam tubuh”. Sedangkan yang kedua, oleh karena penulis bukan ahlinya, penulis tidak mampu memaparkan. Terlebih lagi yang ketiga, yaitu: “Penyakit hati”. Sedikitpun penulis tidak mampu memberikan gambaran dan solusi. Hanya guru-guru mursyid yang suci, baik lahir maupun batin serta mulia akhlaknya yang sanggup mengobati hati manusia. Mareka itu bagaikan dokter-dokter ahli dalam bidangnya, merekalah yang paling mampu memberikan jalan keluar serta penerapannya.

Penyakit akibat gangguan jin yang ada di dalam tubuh manusia, baik yang terkadang dinyatakan oleh dukun sebagai santet yang dikirimkan oleh manusia kepada manusia maupun dengan istilah yang lain, secara umum bentuknya adalah angin jin. Ketika angin jin itu masuk dalam tubuh manusia, gejala awal yang dirasakan seperti masuk angin, namun semakin lama semakin terasa sakit dan akhirnya sekujur tubuh menjadi sakit yang tidak dapat dimengerti sumber asalnya.

Apabila kadar sakit yang diderita tersebut belum parah, maka cara pengobatinya cukup diminumi air ruqyah, baik dengan dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim maupun do’a-do’a. Dalam hal ini, yang membacakan ruqyah haruslah seorang hamba yang hidupnya istiqomah, atau sudah mendapatkan rahasia “sulthon ilahiyah” dari dimensi malaikat. Namun pada kadar sakit yang tinggi, penyakit ini tidak cukup hanya dikasih minum air ruqyah saja, tetapi juga diaqiqohi. Terkadang air ruqyah itu sekedar untuk menghilangkan rasa sakit, padahal sakitnya belum sembuh. Hal itu disebabkan karena penyebab penyakitnya belum hilang. Fungsi pelaksanakan aqiqoh tersebut, disamping melaksanakan sunnah Rasul saw. juga bagi para ahlinya dapat dijadikan media untuk memindahkan verus anasir jin sebagai penyebab penyakit tersebut ke tubuh hewan aqiqoh. Ketika para ahli itu sudah dapat memastikan bahwa penyebab penyakit itu sudah pindah, baru kambing tersebut dipotong dengan membaca basmallah dan diniatkan untuk aqiqoh.

Selanjutnya anggota tubuh hewan yang sudah disembelih itu diperiksa, biasanya tampak bekas-kekas penyakit jin itu dengan jelas. Misalnya seandainya sumber penyakit itu di paru-paru, maka di paru-paru kambing itu terdapat berkas-berkas merah, bahkan seringkali seketika itu juga paru-paru tersebut menjadi busuk sehingga harus dibuang karena tidak mungkin dapat dikonsumsi. Kadang-kadang juga hati kambing itu saat dimasak langsung hancur dan mengeluarkan bau busuk, padahal asalnya tidak apa-apa. Ini adalah kejadian nyata yang sehari-hari dihadapi oleh tim ruqyah di pesantren. Ketika penyebab penyakit itu sudah berhasil dikeluarkan dengan media transfer ini, baru dampak penyakit tersebut disembuhkan. Namun jika dampaknya sudah berupa tumor atau kanker, maka yang berhak melakukan penyembuah hanya seorang Dokter.

Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hal tersebut dengan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ (الأعراف:7/201)

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. QS:7/201.

Manakib Akbar

Manakib Akbar

Maksud ayat, “was-was dari setan” (Thooifum minansy-syaithooni) adalah dampaknya. Apabila penyebab penyakit dimensi jin itu menyerang kesadaran dan hati manusia, maka dampaknya berupa was-was, dan bila menyerang jasad, maka dampaknya berupa penyakit-penyakit yang ada di dalam jasad. Adapun sumber penyebabnya sama, dalam arti sama-sama tehnologi atau sulthon yang didatangkan dari dimensi jin, hanya saja untuk sasaran yang berbeda maka jenisnya juga berbeda. Khusus untuk penyakit hati, tidak ada yang dapat menyembuhkan kecuali orangnya sendiri, yaitu dengan mengikuti thoriqoh yang terbimbing oleh guru ahlinya. Dengan menjalani thoriqoh tersebut, disamping penyakit-penyakit hati akan mendapat kesembuhan juga derajat orang tersebut di sisi Allah Ta’ala akan menjadi meningkat, baik derajat di dunia maupun di akhirat nanti. Adapun fungsi guru mursyid untuk menunjukkan jalan serta membimbing dalam pelaksanaan amal, baik secara lahir maupun batin. Apabila perjalanan ibadah itu tidak dibimbing oleh guru mursyid, maka yang menjadi pembimbing adalah setan jin. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh sebuah ungkapan: “Siapa beramal tanpa guru, gurunya adalah setan”

Walhasil, yang menyembuhkan segala penyakit hanya Allah Ta’ala, baik penyakit jasad, penyakit kesadaran dan penyakit hati. Adapun manusia, hanyalah sebagai wasila atau perantara bagi kesembuhan tersebut. Sebagai seorang hamba, manusia harus berusaha mendapat ilmu dan mengamalkannya sehingga menjadi kemampuan. Ketika kemampuan itu ditempa dalam pengabdian oleh ujian-ujian hidup, sehingga ilmu tersebut mendarah daging, selanjutnya derajat orang tersebut diangkat menjadi seorang kholifah bumi zamannya. Sebagai seorang kholifah bumi—sesuai kemampuan dan kapasitas serta kekhususan yang diberikan—dia harus mengamalkan kembali segala ilmu dan kemampuan itu untuk manusia, hal tersebut dilaksanakan merupakan bentuk pengabdian secara horizontal. Melalui tangan-tangan terlatih itulah, segala ketetapan baik azaliyah mengalir menjadi takdir. Bukan Allah Ta’ala tidak kuasa merubah suatu keadaan kepada keadaan yang lain, sehingga membutuhkan seorang pelaksana di muka bumi untuk berjalannya suatu takdir yang sudah ditetapkan, akan tetapi itulah sunnatullah. Sejak sunnah itu ditetapkan, tidak akan ada perubahan lagi untuk selama-lama. Hal itu bertujuan, supaya segala takdir-Nya dapat membuahkan hikmah serta pembelajaran bagi hamba-hamba yang beriman. Allah Ta’ala telah menyatakan dengan firman-Nya:

سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا (الفتح:48/23)

Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. QS:48/23.

Hanya Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui dengan segala ilmu-Nya. (malfiali, 20 Oktober 2008)