Arsip untuk cinta Rasul kategori

NUR DI ATAS NUR (part-6) – (Tingkat Derajat Nur Kehidupan)

Posted in alam ghaib, cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 27 Juli 2009 by malfiali

NUR DI ATAS NUR (part-6) – (Tingkat Derajat Nur Kehidupan)

Kekuatan pancaran masing-masing “Nur kehidupan” berbeda-beda, hal itu mengikuti tingkat kesulitan dalam cara mendapatkannya. Matahari memancarkan cahaya untuk mata dan ilmu al-Qur’an juga memancarkan Nur untuk akal. Namun demikian, pancaran Nur al-Qur’an kepada alam melalui akal, hati dan ruh manusia jauh lebih kuat daripada pancaran sinar matahari kepada alam semesta. Artinya, Nur yang dipancarkan oleh jiwa suci Rasulullah Muhammad SAW jauh lebih kuat daripada cahaya yang dipancarkan matahari.

Terbukti, meski seharian sinar matahari mampu menerangi kehidupan di muka bumi, hingga kolong-kolong di dalam rumah bisa mendapatkan sinar, namun ketika “matahari langit” itu harus tenggelam di ufuk malam, maka sinarnya menjadi padam sehingga alam yang semula terang kembali menjadi gelap gulita. Padahal Nur Muhammad SAW tidaklah demikian, meski “matahari bumi” itu harus dipanggil untuk selama-lamanya karena masa tugasnya telah purna, namun sinarnya justru semakin cemerlang dan dalam waktu yang relatif singkat, melalui perjuangan para penerus dan pewarisnya, persada bumi menjadi terang benderang.

Selain itu, manakala sinar matahari langit hanya membawa manfaat kepada alam dunia, maka Nur yang dipancarkan Jiwa Suci Rasulullah Muhammad SAW bahkan mampu menyinari dunia dan akherat. Oleh karena itulah, Allah mensifati matahari dengan istilah Siraaj di dalam QS. al-Furqon Ayat 61:

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا

“Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya”. (QS. al-Furqon; 25/61)

Dan juga menyifati Rasul Muhammad SAW dengan istilah Siraaj di dalam QS. al-Ahzab:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (45) وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan(45)Dan untuk menjadi penyeru kepada agama-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi”.(QS. al-Ahzab; 33/45-46)

Nur yang memancar dari jiwa suci para Nabi adalah Nur yang dipancarkan Allah melalui para Elit Malaikat yang dimuliakan. Allah telah menyatakan yang demikian itu dengan firman-firman-Nya:

يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ

“Dia menurunkan para malaikat (dengan) membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-Nya yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasannya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku”. (QS. an-Nahl; 16/2)

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ

“Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) (193) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan(194)Dengan bahasa Arab yang jelas(195)Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab yang dahulu(196)”. (QS. asy-Syu’araa’; 26/193-196)

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Ruh Qudus (jibril) menurunkan Al-Qur’an dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (QS. an-Nahl; 16/102)

Artinya, “Nur kehidupan” yang memancar dari jiwa suci para Nabi tersebut, bukannya Nur yang langsung diterima dari Allah, melainkan melalui malaikat-Nya, yaitu malaikat Jibril AS. Dengan demikian menunjukkan bahwa “Nur kehidupan” yang dipancarkan oleh Elit Malaikat kepada para Nabi SAW itu tentu pancarannya lebih kuat daripada sinar yang dipancarkan oleh para Nabi SAW kepada umatnya. Yang demikian itu telah diisyarahkan pula oleh Allah:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (19) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (jibril)(19) Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Yang Mempunyai ‘Arsy(20)Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya(21)” (QS. at-Ta’wir; 81/19-21)

Walhasil, kita dapat mengambil i’tibar, bahwa “Nur kehidupan” yang dipancarkan Allah di alam jasad, yaitu dari matahari kemudian memancarkan ke bulan dan bintang-bintang, lalu sinar itu masuk ke dalam bilik dan rumah-rumah yang kemudian memantul lagi dari kaca yang satu ke kaca yang lain sehingga alam menjadi terang, cara kerja seperti itu ternyata sama dengan cara Allah memancarkan Nur-Nya di alam jiwa manusia. Yaitu: pertama dari Elit Malaikat kemudian dipancarkan kepada para Nabi dan Rasul SAW selanjutnya kepada para Wali dan para Ulama’ dan seterusnya dan seterusnya, di mana tingkat derajat para Ulama’ itu telah disebutkan di dalam al-Qur’an al-Karim dengan urutan sebagai berikut; ash-Shiddiq, asy-Syuhada’ dan ash-Sholihin. (QS. An-Nisa’; 69)

Sistem kerja Nur seperti itu menunjukkan dengan jelas bahwa tidak mungkin manusia mendapatkan “Nur hidayah” dari Allah langsung kecuali dengan mengikuti cara kerja (sunnah) yang sudah dicontohkan tersebut. Barangsiapa berkehendak mendapatkan “Nur kehidupan” itu untuk dirinya, baik bagi akal terlebih untuk hati dan ruhnya, “Nur kehidupan” tersebut tidak mungkin bisa didapatkan langsung dari Allah melainkan harus dicari dari sumber-sumbernya di muka bumi. Merekalah para Nabiyin, Shiddiqin, Syuhada’ dan Sholihin..

Sebab, mereka itulah khalifah-khalifah bumi zamannya yang sudah mendapatkan hak untuk menyampaikan Nur Allah melalui aktifitas dan pengabdian hidup mereka, baik melalui dakwah, ibadah dan dzikir yang mereka kerjakan terlebih dari pancaran do’a-do’a dan munajat yang mereka panjatkan. Demikian itulah sunnatullah yang sejak diciptakan tidak akan ada perubahan lagi untuk selamanya.

Dengan asumsi bahwa Nur kehidupan tidak mungkin bisa didapatkan langsung dari Allah melainkan harus dicari dari sumber-sumbernya di muka bumi, maka pelaksanaan thariqah yang dibimbing oleh guru Mursyid yang suci lagi mulia adalah solusi paling mutlak yang harus dilakukan oleh para pengembara (salik) di jalan Allah atau orang yang ingin menghidupkan sumber Nur kehidupan di dalam jiwanya sendiri. Sebab, hanya dengan jalan bertariqah itulah, iman yang sudah ada di dalam hati seorang hamba akan bertambah cemerlang, menjadi yakin dan bahkan ma’rifatullah. Dalam arti dengan mengikuti apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh seorang guru Mursyid yang mempunyai pertalian (rabithah) ruhaniah yang kuat dengan para guru Mursyid sebelumnya secara sambung-menyambung dari guru mursyid ke guru mursyid sebelumnya hingga silsilah (transmisi)nya sampai kepada Maha Guru yang mulia yaitu Nabi Besar Muhammad SAW.

Hanya para guru Mursyid thariqah itulah yang mampu melaksanakan cara kerja yang cerdik itu. Membimbing murid-murid dan anak asuhnya untuk dapat meningkatkan iman mereka. Sehingga terbukti, murid-murid yang semula bisanya hanya berbicara saja, bahkan kadangkala dicampuri dengan kesombongan yang kosong, setelah mendapatkan tempaan dari guru Mursyid tersebut, menjadikan mereka tunduk dan tawadhu’. Murid-murid yang baik itu selanjutnya mampu meningkatkan iman dan takwa itu tidak hanya dilahirkan secara ilmiah saja, namun juga diwujudkan dengan amal ibadah, pengabdian dan pelaksanaan akhlak yang mulia. Sebagian murid itu kemudian bahkan ada yang menjadi badal atau perpanjangan tangan guru Mursyidnya. Menjadi “khalifah mursyid” dan penerus pengabdian yang hakiki. Di manapun berada, bersama masyarakat setempat mereka mengembangkan thariqah itu, sehingga menjadi komunitas persaudaraan yang kuat dan mandiri di mana-mana.

Dengan cara seperti itu akhirnya thariqah berkembang di seluruh belahan bumi. Menembus dimensi waktu dan generasi yang berbeda. Adakah selain thariqah mampu melaksanakan amal yang utama itu? Merajut aspirasi yang berbeda dari berbagai generasi yang berbeda pula untuk ditampung di dalam satu wadah yang sama di dalam kurun waktu dan dimensi zaman yang berbeda? Itulah semangat “Ukhuwah Islamiah” sejati. Fenomena dan sejarah telah berbicara, maka hati yang selamat hendaknya tidak harus terlalu dipusingkan oleh sepak terjang orang-orang yang mengingkari keberadaannya.
(tamat, alhamdulillah wa syukru lillah)

Undangan Haul

NUR DI ATAS NUR (part-5 ) – Mencari Nur Kehidupan

Posted in alam ghaib, cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 27 Juli 2009 by malfiali

NUR DI ATAS NUR (part-5 ) – Mencari Nur Kehidupan

Keempat instrument kehidupan manusia, baik mata, akal, hati maupun ruh, sebagai anggota tubuh yang paling utama, merupakan perangkat (ware) atau sarana agar manusia dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Dengan sarana itu mereka membentuk jati dirinya menjadi sebaik-baik manusia, dalam arti mampu memberi kemanfaatan kepada orang lain bukan kemadlaratan. Menjadi manusia yang mampu membangun dan menciptakan sumber kehidupan di muka bumi, bukan yang berbuat kerusakan. Menjadi khalifah bumi zamannya yang mampu melaksanakan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Itulah gambaran orang yan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, sebagaimana yang telah dinyatakan Allah dalam firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran; 110)

Potensi menjadi “sebaik-baik umat” adalah kenikmatan terbesar yang dianugerahkan Allah kepada Umat Muhammad SAW, baik dari kalangan orang JAWA maupun orang ARAB. Sebab, dengan sarana-sarana tersebut manusia tidak saja mampu menikmati kehidupan dengan baik, namun juga mengangkat derajat kemuliaan mereka di tengah manusia terlebih di hadapan Allah. Namun demikian, apabila sarana-sarana itu tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, maka manusia justru akan menjadi makhluk terhina dan ditempatkan di neraka Jahanam untuk selama-lamanya.

Sarana-sarana (ware) itu harus selalu terjaga dari penyakit yang dapat merusak fungsi kemanfaatannya agar manusia dapat mempergunakannya sebaik mungkin. Seperti mata, meski matahari sedang bersinar di langit yang cerah, kadang kala penglihatannya tidak berfungsi akibat adanya penyakit mata, maka seperti itu pula yang terjadi pada indera-indera yang lain. Terkadang manusia bahkan menolak sendiri hidayah yang didatangkan Allah untuk dirinya, hal itu disebabkan adanya penyakit sombong dan iri hati yang sedang menggerogoti hati.

Hanya saja, karena penyakit pada indera-indera selain mata, terlebih penyakit hati tidak gampang dirasakan, maka jarang penderitanya mau segera mengobati sejak dini, kecuali ketika hidupnya benar-benar sudah terancam kematian, sakit keras di pintu ajal kematian yang hampir menjemput, karena terbaring di rumah sakit saat otaknya harus dioperasi. Terlebih ketika harapan untuk hidup sudah kian menipis, maka pengidap penyakit hati itu baru mau sadar dan ingat bahwa dia ternyata punya Tuhan yang sebentar lagi akan menutup hidupnya dengan kematian. Bahkan merubah kesombongan dengan kehinaan, sehingga saat itu juga ia ingin bertaubat. Namun anehnya, ketika nyawanya berhasil diselamatkan sehingga kembali terbuka kesempatan untuk berbenah-benah dan bertaubat, terkadang orang tersebut belum juga mampu menghilangkan kesombongan itu untuk berbuat khusyu’ dan mengabdi kepada-Nya. Jika yang demikian itu terjadi, maka itu pertanda bahwa hati orang tersebut memang telah buta.

Ada beberapa cara untuk mendapatkan “Nur kehidupan”, hal itu bergantung jenis Nur yang dibutuhkan. Untuk mendapatkan sinar matahari orang tidak harus susah-susah mencari kesana kemari, asal matahari sedang tinggi, orang tinggal berjemur diri, karena sinar matahari sudah tersedia sepanjang kehidupan. Demikian juga dengan Nur akal, yaitu al-Qur’an dan Hadis, bahkan Nur akal ini lebih terjaga daripada Nur mata. Namun bedanya, apabila sinar matahari telah tersedia sejak alam ini diciptakan, Nur akal tidaklah demikian. Nur akal itu diciptakan Allah lalu diturunkan ke dunia melalui proses yang cukup panjang, dengan perjuangan dan pengorbanan selama 23 tahun, yaitu semasa terutusnya Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, cara mendapatkan Nur akal tentunya tidak sama dengan cara mendapatkan sinar matahari. Nur akal itu harus didapatkan melalui usaha yang sungguh-sungguh, belajar dan menggali dari sumbernya dengan menempuh tata cara yang sudah ditentukan Allah. Sumber Nur akal itu ada dua, pertama dari kitab-kitab yang tersedia, baik al-Qur’an maupun Hadis dan yang kedua dari Nur Kahrisma yang memancar dari dalam dada para Ulama’ ahlinya. Yaitu perpaduan antara ilmu dan iman yang telah mampu diaktualisasikan dalam bentuk amal ibadah, perilaku dan akhlak yang mulia.

Adapun cara untuk mendapatkan Nur cinta, tidak lain dengan mengikuti konsep yang ditawarkan Allah melalui firman-Nya dibawah ini. Dengan terus menerus berdzikir dan bertasbih kepada-Nya, baik di waktu pagi maupun petang. Dimulai dzikir dengan lisan kemudian dimasukkan di dalam hati. Dzikir itu dilaksanakan dengan terus menerus sampai Allah mencintai dan menurunkan rahmat kepadanya. Allah menegaskan hal ini dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42) هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya(41)Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang(42)Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman(43).“ (QS. al-Ahzab; 33/41-43)

Maksudnya, ketika dzikir dan tasbih yang dilakukan itu mampu menjadikan hati seorang salik ma’rifat dan cinta kepada Tuhannya, sebagai buahnya, hati itu akan mampu mencintai seluruh makhluk, sehingga, bahkan musuhnya merasa aman hidup berdampingan dengan orang tersebut. Buah ibadah itulah yang membuat hati para Ulama’ sejati mampu meredam gejolak amarah yang terkadang timbul dalam hatinya, bahkan tidak hanya itu saja, namun juga mampu menebarkan rahmat Allah kepada alam semesta.

Adapun untuk mendapatkan Nur Nubuwah atau Nur Walayah, caranya dengan melaksanakan tawasul secara ruhaniah. Orang yang bertawasul akan dipertemukan secara ruhaniah dengan orang yang ditawasuli. Oleh karena orang yang ditawasuli itu adalah orang yang telah mendapat kemuliaan dari Tuhannya, maka nur kemuliaan itu akan memantul kepada orang yang bertawasul. Itulah Nur Kharisma yang diwariskan dari penghulu manusia, satu-satunya sumber penebar rahmat untuk alam semesta, Rasulullah Muhammad SAW. Seperti bumi ketika disinari matahari, maka ufuknya yang asalnya gelap gulita menjadi terang benderang. Tidak hanya itu saja, orang yang mau bertawasul itu bahkan hidupnya akan mendapat tambahan keberkahan dari Allah SWT. Allah telah mengajarkan tawasul itu dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya”. (QS. al-Ma’idah; 5/35)

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (21) وَأَمْدَدْنَاهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya – Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini”.(QS.Ath-Thur/21-22

)

*********

Indera Bashoro (mata dan akal) dihidupkan Allah semata-mata terbit dari kehendak-Nya yang azaliah. Sedangkan indera Bashiroh (hati dan ruh) harus dihidupkan sendiri oleh manusia, yaitu dengan pelaksanaan mujahadah dan riyadlah di jalan Allah. Ketika mujahadah dan riyadlah yang dilakukan itu sudah memenuhi unsur sebab, maka hati dan ruh akan dihidupkan Allah sebagai akibat. Allah telah menunjukkan demikian dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (beribadah) di jalan Kami, pasti benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami dan sungguh Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat kebaikan”.QS. al-Ankabut; 29/69)

Itulah hukum sebab-akibat, adalah sunnah yang tidak akan pernah berubah lagi untuk selamanya, maka siapapun dapat melakukannya asal mendapatkan bimbingan yang baik dari para ahlinya. Adapun secara singkat, yang dimaksud mujahadah ialah; usaha yang sungguh-sungguh dari seorang hamba untuk meredam kehendak nafsu syahwatnya sendiri melalui segala pelaksanaan ibadah, baik vertikal maupun horizontal, hal itu dilakukan dengan tujuan semata-mata melaksanakan pengabdian yang hakiki kepada Allah. (bersambung)

NUR DI ATAS NUR (part-4 ) – (Nur Kehidupan)

Posted in alam ghaib, cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 27 Juli 2009 by malfiali

NUR DI ATAS NUR (part-4) – (Nur Kehidupan)

Manusia dikatakan hidup apabila seluruh indera yang dimiliki—baik yang lahir maupun yang batin—hidup. Apabila indera-indera tersebut mati (tidak berfungsi sebagaimana mestinya), terlebih indera yang batin, berarti manusia itu hakekatnya mati meski masih bernyawa. Sebab, meski indera lahirnya hidup, dengan matinya indera batin, sungguh tidak ada lagi yang dapat diperbuat oleh manusia tersebut kecuali hanya makan dan bersenang-senang. Selanjutnya kenikmatan itu harus dipertanggungjawabkan dengan siksa neraka Jahanam. Allah menggambarkan keadaan mereka itu melalui firman-Nya:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka”. (QS. Muhammad; 12)

Makan seperti cara makan binatang ternak itu artinya ‘hidup untuk makan’ bukan ‘makan untuk hidup’. Akibat dari itu, meski badan mereka sehat tapi hatinya penuh dengan penyakit dan bahkan mati. Di dalam firman-Nya yang lain, Allah menggambarkan keadaan mereka di neraka:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akherat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim(2) Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka itu)”. (QS. Al Hijr; 2-3)

Itulah gambaran kehidupan orang yang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, meski secara lahir kelihatannya hidup bahkan mampu mengelola dunia dengan baik, namun sejatinya itu adalah kehidupan yang mati.

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan bukankah mereka adalah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya”. (QS. al-An’am; 6/122)

Yang dimaksud ‘orang mati’ dalam ayat di atas bukan orang yang nyawanya sudah dicabut sehingga jasadnya harus segera dikubur, tapi hatinya sedang beku dan kaku, sehingga meski jasad itu masih dalam segar bugar, namun tidak dapat memberikan manfaat yang berarti bagi dirinya sendiri. Hal itu bisa terjadi, karena matahatinya sedang ditutupi mendung kerak dosa dan kabut sifat-sifat duniawi yang terlanjur menjadi karakter dasar perilaku hidupnya sehari-hari.

Dikatakan mati karena orientasi hidupnya pendek dan sempit, hanya dibatasi oleh kematian di dunia namun panjang angannya, penuh fatamorgana yang menggoda. Artinya, setelah batas kematian itu terlewati, tidak ada lagi kehidupan menyenangkan baginya, yang tertinggal hanya siksa neraka yang pedih untuk selama-lamanya.

“Nur hidayah Allah”, melalui indera-indera lahir manusia tersebut seharusnya mampu menghidupkan kembali hati yang mati itu, dengan cara memadukan antara iman dan amal shaleh dalam pelaksanaan pengabdian hakiki. Adapun indera manusia pada hakekatnya hanya ada dua yaitu; (1) Bashoro atau indera lahir yang meliputi panca indera dan rasio (akal dan fikir) dan (2) Bashiroh atau indera batin (perasa) yang meliputi perasaan hati dan ruh atau ruhaniah. Dari kedua indera tersebut (bashoro dan bashiroh), indera manusia bercabang-cabang dengan cabang yang tidak terhitung, di mana masing-masing indera itu membutuhkan Nur kehidupan.

Untuk menyingkat uraian maka kedua indera tersebut (bashoro dan bashiroh) masing-masing dibagi menjadi dua cabang.

1. Bashoro atau indera lahir yang terdiri dari dua indera:

a) Indera mata; membutuhkan Nur atau cahaya yaitu sinar matahari. Oleh karena itu, meski mata dalam keadaan melek dan sempurna, tanpa adanya sinar matahari, mata itu tidak dapat berfungsi sehingga tidak bermanfaat bagi manusia.
b) Indera akal; membutuhkan Nur berupa ilmu pengetahuan yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis. Sebagaimana mata tanpa sinar matahari yang tidak membawa kemanfaatan, akal juga demikian, tanpa ilmu al-Qur’an berarti akal menjadi mati. Untuk itulah fungsi Ilmu Al-Qur’an adalah sebagai Nur bagi akal sebagaimana fungsi matahari sebagai Nur bagi indera mata.

2. Bashiroh juga meliputi dua Indera:

a) Hati (القُلب); membutuhkan Nur yang berupa “rahmah” atau kasih sayang dan cinta kasih sebagaimana diisyaratkan Allah di dalam firman-Nya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”. (QS. Ali Imran; 3/159)

وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang” (QS. ar-Rum; 30/21)

وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً

“Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang”. (QS. al-Hadid; 57/27)

Hati tanpa kasih sayang menjadikan kehidupan seseorang kaku, sama dengan mata tanpa sinar matahari yang menjadi buta. Orang seperti itu hidupnya hanya mengutamakan diri sendiri tanpa peduli kepada orang lain. Bahkan ketika hatinya telah dipenuhi rasa dendam, seringkali manusia mampu berbuat kejam melebihi binatang buas. Itulah binatang paling tidak disukai Allah sebagaimana terungkap dalam firman-Nya:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun”. (QS. Al-Anfal; 22)

Adapun hati yang lemah lembut karena ada Nur kehidupan di dalamnya, sekiranya tidak, niscaya hati itu akan menjadi kasar dan keras. Ketika hati itu kasar dan keras maka orang-orang di sekitarmu akan menjauhimu. (Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu).

Tanda-tanda hati yang telah mendapatkan Nur kehidupan itu ialah hati yang gemar memberi maaf kepada manusia dengan memohonkan ampunan kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imran; 3/134)

b) Ruh (Ruhaniah); Setelah ruh mendapatkan “Nur kehidupan” pertama yaitu iman, ruh juga membutuhkan Nur lagi yang disebut dengan “Nur Nubuwah” atau “Nur Walayah”. Nur kehidupan yang kedua itu berfungsi agar iman yang sudah ada menjadi semakin kuat dan yakin hingga menjelma ma’rifatullah. Tentang Nur Nubuwah ini telah dinyatakan Allah dengan Firman-Nya:

أُولَئِكَ الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmah, dan Nubuwah”. (QS. al-An’am; 6/89)

Nur Iman ibarat penglihatan, sedangkan Nur Nubuwah atau Nur Walayah itu ibarat mataharinya. Tanpa Nur yang pertama (iman), berarti sama saja seperti orang menjadi buta, maka Nur yang kedua (Nur Nubuwah atau Nur Walayah) itu tidak akan berguna bagi manusia. Oleh sebab itu, ilmu agama saja tidak cukup bagi manusia, tanpa iman, orang yang memiliki Ilmu Agama itu seperti orang buta sehingga ilmu agama itu sedikitpun tidak mampu memberikan petunjuk (hidayah) bagi hatinya sendiri. Seperti itulah gambaran orang yang hatinya ingkar, sehingga ilmu agamanya cenderung hanya dijadikan alat mencari kehidupan duniawi. Mengapa demikian itu bisa terjadi, karena sesunguhnya yang buta bukan akal dan matanya akan tapi hatinya:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. (QS. Al Hajj; 46)

Namun demikian, orang yang sudah memiliki Nur Iman, tanpa Nur Nubuwah atau Nur Walayah, Nur Iman itu tidak dapat berkembang sempurna bahkan malah mati. Adapun satu-satunya jalan untuk menguatkan Nur Iman adalah amal shaleh, karena iman itu dapat bertambah dan berkurang dan bahkan juga dapat mati.(bersambung)

NUR DI ATAS NUR (part-3 ) – “NUR” Dalam Arti Hidayah

Posted in alam ghaib, cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 27 Juli 2009 by malfiali

NUR DI ATAS NUR (part-3 ) – “NUR” Dalam Arti Hidayah

Firman Allah SWT:

(اللَّهُ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْض)
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”.

Allah SWT adalah Dzat yang memasukkan hidayah dan iman di dalam hati seorang hamba. Hanya Allah yang menghendaki adanya iman di dalam hati seorang hamba. Seandainya tidak, maka tidak ada lagi yang mampu menjadikan orang beriman kepada-Nya, bahkan Malaikat sekalipun. Allah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ
“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. al-An’am; 111)

Seperti orang yang matanya buta, meski matahari sedang tinggi, tetap saja alam dalam keadaan gelap gulita. Seperti itu keadaan orang yang hatinya ingkar, meski Kitab-Kitab langit sudah diturunkan di muka bumi, Rasul dan Nabi diutus untuk membimbing manusia, Ulama’ disebarkan dengan membawa “ilmu warisan”, tetap saja orang tersebut tidak mau beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Itu bisa terjadi, karena yang buta bukan mata yang di kepala, tapi “matahati” yang ada dalam rongga dada. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya yang artinya:

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”. (QS. Al Hajj; 46)

Oleh sebab itu, tidak semua orang mempunyai ilmu agama Islam pasti memiliki iman. Karena kedudukan ilmu di akal sedangkan kedudukan iman di hati. Mengapa demikian … ? karena yang dikelola hanya “ilmu” bukan “iman”. Terlebih dengan orientasi duniawi, sehingga tidak segan-segan orang Islam menimba ilmu Agama Islam kepada orang yang bukan Islam, sekedar secara formal agar lebih mendapatkan pengakuan. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan hidup duniawi, ilmu agama Islam ini kini marak dijual murahan di panggung-panggung pengajian yang dikelola seperti panggung hiburan. Bukannya mengajak manusia ke jalan Allah, tetapi malah untuk mengocak perut dengan dagelan sambil menjual ayat dengan dikolaborasikan musik dangdutan agar sajian laku terjual.

Apabila niat di dalam hati ternyata benar-benar hanya untuk mencari keuntungan duniawi, bukan ibadah, berarti sama saja orang tersebut telah berkhianat kepada amanat ilmunya sendiri. Akibatnya, boleh jadi orang tersebut akan dimasukkan neraka akibat penerapan ilmu agama yang mereka miliki itu. Gambarannya seperti lilin, memberikan penerangan kepada orang lain tapi menghancurkan diri sendiri. Itulah kerugian yang nyata, rugi dunia dan akherat.

Adapun “Nur” dalam arti Hidayah atau sampainya iman ke dalam hati seorang hamba, telah ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman ; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya”. (QS. al-Baqoroh; 2/257)

Karena Allah mencintai orang-orang yang percaya (iman), maka Allah senantiasa menolong mereka dengan mengeluarkan dari kegelapan kafir dan syirik menuju cahaya tauhid. Bahkan menghidupkan hati mereka yang asalnya sudah mati disebabkan oleh kerak dosa yang menempel bagai karat hingga menjadi suci dan bersih dan kembali disinari hidayah iman. Allah telah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan bukankah mereka adalah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya”.(QS. al-An’am; 6/122)

Dengan Nur iman itu, hati yang asalnya kaku dan keras, menjadi lunak dan lentur. Hati yang mati menjadi hidup kembali. Bahkan yang asalnya bodoh menjadi mengerti. Hasilnya, hati itu kian peka kepada keadaan sekelilingnya sekaligus juga gampang menerima pendapat orang lain walau kadang kala tidak sefaham dan bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Selanjutnya, berkat kebaikan budi pekerti yang disinari iman itu, akhirnya lingkungannya pun menjadi baik karenanya.

*********

Allah SWT berfirman:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu “Ruh” (Al-Qur’an) dari urusan Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami”. (QS. asy-Syuura.42/52)

Di dalam ayat di atas, “Nur Hidayah” yang mampu menghidupkan iman dan hati yang mati disebut “Ruh”. Nur tersebut asal kejadiannya hanya satu, yaitu “Nur Muhammad SAW”, makhluk yang pertama kali diciptakan Allah dari “Nur-Nya”. Ketika Nur itu dipancarkan di alam semesta, Nur itu kemudian bercabang dan menjadi bermacam-macam bentuk kebutuhan hidup manusia.

Bentuk kebutuhan itu di antaranya ialah; untuk mencukupi mata, maka Nur itu menjadi cahaya yang dipancarkan matahari. Untuk mencukupi kebutuhan akal dan fikir, maka Nur itu menjadi ilmu pengetahuan yang dipancarkan al-Qur’an dan hadits Nabi. Untuk menyediakan kebutuhan hati maka Nur itu menjadi sifat kasih-sayang yang dipancarkan sifat Rahman Allah. Dan untuk menyediakan kebutuhan ruh, maka Nur itu menjadi iman, yakin dan ma’rifatullah yang dipancarkan sifat Rahim Allah. Selanjutnya, dengan keempat indera tersebut (mata, akal, hati dan ruh) Ulama’ sebagai pewaris para Nabi dan Khalifah bumi zamannya bertugas memancarkan kembali Nur itu kepada alam yang ada di sekelilingnya. Allah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”.(QS. Al-A’raaf; 56)

Hanya Allah yang mampu berbuat demikian, menancapkan hidayah dalam hati manusia sehingga orang tersebut beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Adapun para khalifah bumi itu adalah pengganti Allah di muka bumi. Sebagai pelaksana kehendak dan takdir yang sudah ditetapkan-Nya sejak zaman azali, menyampaikan rahmat Allah yang sudah mereka terima kepada alam semesta menjadi rahmat yang universal yaitu “rahmatan lil ‘aalamiin”, baik rahmat lahir yang berupa ilmu pengetahuan maupun rahmat batin berupa iman, yakin dan ma’rifatullah. Para Kholifah Bumi itu tidak hanya menyampaikan ilmu Agama saja, terlebih dengan cara debat kusir yang tidak ada ujung pangkalnya. Disamping mereka itu selalu mengajarkan ilmu pengetahuan dan pemahaman hatinya dengan sabar, juga menuntun umatnya dalam pelaksanaan amal ibadah dengan didasari akhlak mulia untuk berjalan bersama menuju keridhoan Ilahi Rabby. (Bersambung, Muhammad Luthfi Ghozali)

NUR DI ATAS NUR (part-2) (NUR dalam Arti Mendatangkan Terang)

Posted in alam ghaib, cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 27 Juli 2009 by malfiali

NUR DI ATAS NUR (part-2) (NUR dalam Arti Mendatangkan Terang)

Untuk lebih memudahkan pemahaman, marilah kita mencari makna firman Allah di atas dengan metode tafsiriah sebagaimana yang digunakan oleh para Ulama’ salafush shaleh:

1. Firman Allah:
(اللَّهُ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْض)
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”.

Maksudnya, Allah SWT dengan segala Kehendak, Perbuatan, Kebesaran dan Kekuasaan-Nya adalah Dzat yang memberi Petunjuk dan Hidayah kepada seluruh makhluk-Nya, baik makhluk yang di langit maupun yang di bumi. Karena hanya Allah yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur, demikian itulah yang tertangkap dari isyarat Rasulullah SAW saat Beliau berdo’a di dalam shalat malamnya. Rasulullah SAW bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ الَّيْلِ يَقُوْلُ: “اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيُّوْمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ” الحديثَ

“Dari Ibnu Abbas RA berkata: Adalah Rasulullah SAW ketika shalat malam dan berdo’a : Wahai Allah hanya untuk-Mu segala puji. Engkau adalah Nur langit dan Bumi dan orang-orang di dalamnya, dan hanya untuk-Mu segala puji. Engkau adalah yang menegakkan dan bertanggungjawab terhadap langit dan bumi dan orang-orang di dalamnya – Al-hadits” (HR. Bukhori-Muslim)

Allah SWT telah menyampaikan Petunjuk dan Hidayah-Nya baik di langit maupun di bumi. Dengan sinar matahari untuk kehidupan di muka bumi dan dengan firman-firman-Nya untuk kehidupan di dunia dan di akherat. Itulah Nur langit dan Nur bumi, di samping sebagai petunjuk bagi manusia juga merupakan perhiasan bagi alam persada.

Dengan pengertian seperti itu, maka hakekat Nur langit dan Nur bumi itu menerangi empat tempat:

1) Di langit dengan sinar matahari, bulan dan bintang-bintang.
2) Di bumi dengan ilmu dan akhlak para Nabi dan para Wali serta para Ulama’-Nya.
3) Di akal dan pikiran dengan ilmu pengetahuan yang berupa pemahaman, keterangan, dalil-dalil, bukti-bukti dan argumentasi.
4) Di hati dan ruh dengan cinta kasih, iman, yakin dan ma’rifatullah.

Allah SWT melalui al-Qur’an al-Karim telah membuat perumpamaan agar manusia dapat memahami segala kehendak-Nya. Artinya bahwa melalui firman-Nya Allah berkehendak bicara kepada manusia dengan bahasa manusia, bukan bahasa makhluk lainnya. Oleh karena baginda Nabi Muhammad SAW dilahirkan sebagai orang Arab, maka al-Qur’an al-Karim diturunkan dengan bahasa Arab agar manusia mudah memahami kandungan isinya. Meskipun demikian, al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk orang arab, melainkan untuk seluruh umat manusia bahkan sebagai RAHMATAN LIL ALAMIN. Jadi, sebagai orang Jawa kita tidak seharusnya berkecil hati, tidak perlu merasa mengikuti AGAMA IMPORT dengan memeluk Agama Islam, karena ajaran al-Qur’an diturunkan untuk menyempurnakan segala keyakinan nenek moyang kita.

Lafad “Nur” di dalam ayat di atas sejatinya hanyalah istilah, sebagai “bahasa bantu”. Dengan istilah itu supaya manusia memahami apa yang dikehendaki Allah dengan firman-Nya itu. Oleh karena itu, apabila orang memahami firman di atas dengan membayangkan Dzat Allah sebagai cahaya yang dapat dirasakan indera mata, berarti pemaham tersebut telah terpeleset kepada kesalahan fatal. Maha Suci Allah dari segala imajinasi manusia. Jadi, yang dimaksud Allah dengan ayat: اللَّهُ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْض ialah bahwa Allah pemberi petunjuk baik di langit dan di bumi dan Allah pula yang mengatur keduanya.

2. Firman Allah:

مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ

“Perumpamaan Nur Allah, seperti Misykat di dalamnya ada pelita dan pelita di dalam kaca..”.

Perumpamaan Nur Allah itu seperti misykat (lubang yang tidak tembus) yang di dalamnya ada pelita dan pelita itu di dalam kaca. Itulah gambaran dada orang yang beriman. Di dalam dada orang beriman itu berisi ilmu pengetahuan, argumentasi, penalaran, kasih sayang, iman, yakin dan ma’rifatullah yang diibaratkan seperti pelita. Ketika pelita itu dibungkus dengan pelaksanaan amal ibadah, pengabdian dan akhlakul karimah, yang ibaratnya seperti kaca kristal, maka alam yang ada di sekitarnya menjadi terang benderang.

Itulah “Nur di atas Nur”, yaitu “hakekat Nur” yang terpancarkan dari bumi dan mampu menerangi ufuk langit. Nur yang pertama kali telah dipancarkan melalui akhlak manusia pilihan, panutan umat sepanjang zaman, Rasulullah Muhammad SAW yang kemudian akan menerangi kehidupan manusia sepanjang zaman. Kini Nur itu telah diwariskan pada Ulama’ pewaris para Nabi, yaitu khalifah bumi zamannya. Mereka itulah para guru mursyid yang suci lagi mulia dan nyata-nyata telah mampu membimbing murid-murid dan pengikutnya menuju jalan keridlaan Allah. Semoga Allah meridlai mereka.

“Nur di atas Nur” itu bukan sekedar ilmu saja, meski itu ilmu agama, terlebih ilmu agama yang diperjualbelikan dengan harga dunia, melainkan ilmu agama yang benar-benar telah terbukti mampu menerangi jalan hidup manusia. Pemahaman yang mampu menghapus keraguan dan menancapkan keyakinan di hati umat manusia. Yaitu ilmu agama yang mampu menyelamatkan manusia dari jurang neraka dan mengantarkan menuju hidayah dan ridla Allah. Selain para Nabi dan para Rasul SAW tidak ada yang mampu berbuat seperti itu kecuali mereka itu, yakni para guru mursyid yang suci lagi mulia.

Allah menamakan kitab-Nya juga dengan istilah Nur melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).”(QS. An-Nisa’; 4/174)

Juga memberikan nama nabi-Nya dengan Nur di dalam firman-Nya:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Wahai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. – Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”. (QS. Al-Ma’dah; 5/15)

Oleh karena sifat Kitab dan sifat Nabi sama yaitu menerangkan dan menunjukkan jalan bagi manusia, maka yang dimaksud dengan “misykat” tentunya bukan kitab tapi dada manusia. Maka “mishbaah” adalah ilmu dan imannya, “zujajaah” adalah hatinya dan “zaitun” atau minyak adalah dalil-dalil, bukti dan hikmah yang dapat menguatkan ilmu dan iman itu.

Adapun yang dimaksud “syajaroh” (yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya) adalah potensi sumber ilham atau potensi komunikasi atau potensi wushul antara seorang hamba dengan Allah, yang sifatnya seperti tumbuhan. Artinya, potensi hubungan antara seorang hamba kepada Allah itu, semula seperti bibit, ketika bibit itu mampu dikembangkan dengan baik maka bibit itu akan menjadi tumbuhan yang kuat dan berbuah. Itulah hakekat ma’rifatullah. Maka yang dimaksud dengan “asy-syajaroh” adalah dasar pemahaman manusia akan tuhannya, itu adalah sebagai pembawaan manusia sejak lahir. Apabila dasar pemahaman itu mampu dikembangkan dengan ilmu dan amal, maka akan menjadi ma’rifatullah yang mampu menyinari perilaku kehidupan manusia.

3. Firman Allah:

لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ
“tidak di timurnya sesuatu dan tidak di baratnya sesuatu”.

MA’RIFATULLAH (asy-syajaroh), kedudukannya tidak di dataran bumi maupun di ufuk langit, tidak di timurnya sesuatu dan tidak pula di baratnya, melainkan di dalam jati diri manusia, yaitu dalam relung rongga dadanya sendiri, hal itu sebagai pembawaan manusia sejak dilahirkan ibunya. Oleh karena itu, apapun yang tumbuh di dalam hati, baik ilmu pengetahuan, iman, yakin dan ma’rifatullah, apabila masing-masing itu kemudian menjadi kuat, sejatinya potensinya sudah tersedia sejak zaman azali. Ibarat orang menggosok mutiara, bukannya batu kali digosok menjadi mutiara, namun aslinya memang sudah mutiara, hingga meski digosok sedikit saja, sinarnya sudah mampu menyilaukan mata. Seperti juga air hujan yang menghidupkan tanah tandus hingga menjadi subur kemudian tumbuh tanaman, bukan air hujan itu yang membawa bibit dari langit, melainkan bibit-bibit itu sejatinya telah tersebar di dataran bumi itu, sehingga ketika musim hujan datang, meski tanpa ditanami benih, tanah yang semula kering itu seketika menjadi hijau dan tumbuh subur.

Itulah perumpamaan potensi iman dan ma’rifatullah yang tumbuh di dalam dada orang-orang beriman, seperti minyak pohon yang seakan-akan telah menerangi walau tanpa tersentuh api. Artinya, iman itu sudah bersinar meski belum dimasuki ilmu pengetahuan, dan ketika disentuh ilmu, maka iman itu menjadi semakin memancarkan sinarnya. Itulah Nur hidayah Allah dalam dada hamba pilihan, sinarnya mampu menyalakan obor iman, menghidupkan semangat pengabdian dan jihad di jalan Allah. Bahkan seperti sungai bermata air, meski musim kemarau panjang, airnya bahkan semakin jernih dan tetap mengalir sepanjang zaman.

4. Firman Allah:

” زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ “
“Minyak dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun, yang tidak di timurnya sesuatu dan tidak pula di baratnya sesuatu”.

Gambaran lain tentang iman itu seperti daun yang berada di tengah rerimbunan dedaunan. Tidak terkena sinar matahari dari timur dan barat sehingga menjadi daun yang hijau segar dan berkilau. Seperti itulah keadaan hati orang yang beriman. Hati itu tidak menjadi layu sebab penderitaan dan tidak angkuh dan keras sebab penghormatan dan kenikmatan. Hati yang demikian itu dapat dilihat dari empat tanda-tanda; (1) apabila berkata, benar; (2) apabila memutuskan adil; (3) apabila mendapat musibah, sabar, dan (4) apabila mendapatkan kenikmatan, bersyukur. Keberadaan orang yang hatinya seperti itu di tengah-tengah manusia seperti seorang lelaki yang sedang berjalan di antara pekuburan orang mati.

Jadi yang dimaksud “asy-syajaroh” itu tempatnya bukan di muka bumi bukan pula di langit, tapi di dalam hati orang-orang yang beriman. Yaitu pohon yang mampu menjadikan seorang hamba mencintai dan dicintai Allah. Ketika pohon itu disuburkan dengan ilmu, iman, amal shaleh dan akhlakul karimah, maka dengan izin Allah, buahnya dapat dimakan setiap saat. Itulah buah ma’rifatullah yang oleh ahlinya dikatakan “surga ma’rifat”. Allah memberikan perumpamaan dengan firman-Nya yang lain:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit (24) pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (25). (QS.Ibrahim/24-25)

5. Firman Allah:

“نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ”

(Nur di atas Nur) hakekatnya adalah perpaduan antara Ilmu dan Iman. Apabila ilmu dan iman sudah diaktualisasikan dalam bentuk ibadah dan pengabdian yang hakiki, maka akan memancarkan cahaya yang cemerlang melalui karakter dan perilaku manusia sehingga amal dan pengabdian mereka mudah mendapat peneriman di tengah umat, selanjutnya akan mengangkat derajat pemiliknya pada derajat yang tinggi di sisi Allah.

Hal tersebut bisa terjadi, karena Nur Ilahiyah itu memancar dari tiga indera manusia, pendengaran, penglihatan dan hatinya. Oleh karena ketiga indera itu selalu mendapatkan pancaran hidayah Allah, maka apapun yang diperbuat oleh orang tersebut mampu memancarkan kembali hidayah itu kepada umat manusia. Kongkritnya, dengan Nur itu menjadikan mereka mampu mendengar, melihat, dan merasakan hanya dengan dasar kasih sayang yang bersih. Itulah buah ibadah, yang tidak hanya mampu memberikan kemanfaatan kepada diri sendiri, namun juga kepada sesama manusia dan menjadi “rahmatan lil ‘aalamiin”.

6. Firman Allah:

” يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ”
“Seakan-akan minyaknya sudah menerangi walaupun tidak disentuh api”.

Itulah minyak abadi yang menyalakan pelita iman di hati para hamba pilihan yang tanda-tandanya dapat terbaca dari pemiliknya. Berupa sinar yang selalu memancar dari air muka dan budi pekerti menyejukkan. Itulah air muka para kekasih Allah, sehingga hanya dengan memandang sinar wajahnya saja, kadang-kadang menjadikan sebab orang mendapatkan hidayah dari-Nya. Air muka yang sejuk itu bahkan mampu membangkitkan rasa rindu kepada Allah, menghidupkan harapan dengan terbitnya suatu permintaan di dalam hati: “Ya Allah, kalau seandainya aku sudah tidak mungkin menjadi orang seperti dia, oh semoga, barangkali anakku saja”. Bahkan hanya bertemu dan bertatap muka saja, orang yang hatinya sedang susah dapat terobati dengan sendirinya.

Oleh karena itu, seandainya Baginda Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengaku sebagai Nabi sekalipun, dengan kebaikan budi pekerti yang disinari dengan keteduhan sinar wajah yang menyejukkan, manusia yang hatinya selamat pasti mengerti bahwa sesungguhnya beliau itu adalah seorang Nabi. Yang demikian itu telah dibuktikan sejarah, sehingga Beliau mendapat julukan al-Amin jauh hari sebelum diangkat menjadi seorang Nabi.

Jadi, tanda-tanda orang yang mendapat Nur Ilahiyah itu bukan hanya orang yang pandai menulis dan berbicara tentang NUR saja, terlebih jika isinya tidak mencerminkan akhlak yang mulia, tetapi juga orang yang mampu menunjukkan perilaku dan ucapan yang dapat memberi kemanfaat kepada orang lain, bukan sebaliknya. Yang ditulis dan diucapkan itu sekedar ungkapan, mengungkapkan keadaan hati orang tersebut.

Makanya, jika ada orang hobby-nya suka menghina orang lain, baik dalam tulisan ataupun ucapan, apalagi jika orang yang selalu dihina itu tidak pernah berbuat salah kepada orang tersebut, itu jelas menunjukkan, bahwa hati orang tersebut sesungguhnya sedang sakit kronis. Dia sesunguhnya orang yang hina, bukan orang yang dihina. Oleh karena hatinya RINGKIH dan sakit-sakitan, maka tidak kuat ketika melihat orang yang dibenci itu dihormati oleh orang lain. Berarti fungsi hidup orang tersebut hanya untuk menyebarkan penyakit masyarakat, … kecuali dia itu memang seorang DOKTER yang sedang mengimunisasi orang banyak, supaya masyarakat tidak terkena wabah penyakit…….., semoga memang demikian.

(Bersambung, Muhammad Luthfi Ghozali)

NUR DI ATAS NUR (part-1)

Posted in alam ghaib, cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 27 Juli 2009 by malfiali

NUR DI ATAS NUR (part-1)

Allah SWT adalah Nur langit dan Nur bumi. Dengan nur-Nya Allah menerangi dua alam, alam bumi dan alam langit. Allah Menerangi alam bumi dengan NUR LANGIT dan menerangi alam langit dengan NUR BUMI. Bumi diterangi dengan ‘MATAHARI LANGIT’ dan langit diterangi dengan ‘MATAHARI BUMI’.

Yang dimaksud MATAHARI BUMI adalah Nur yang memancar dari hati para kekasih Allah yang mulia, para Nabi dan para Rasul serta para Ulama’ pilihan-Nya. Sebagai Khalifah Bumi Zamannya, keberadaan mereka dimana-mana mampu membangkitkan iman dan semangat pengabdian manusia. Hati para kekasih Allah itu bahkan bagaikan kuburan rahasia ketuhanan dan sekaligus menjadi simpul pengendali kehidupan bumi dan isinya.

Hati yang suci itu seperti tangan kanan yang melipat langit (QS. az-Zumar; 67), maka kehidupan dan kematian di bumi terkadang terjadi mengikuti rahasia gerakan yang ada di dalamnya. Dengan izin Allah mereka mengeluarkan orang-orang beriman dari kegelapan kepada cahaya, menyelesaikan segala urusan kehidupan manusia, menyembuhkan kesedihan, mengabulkan segala do’a dan permohonan, mendatangkan hajat-hajat, bahkan di tangan mereka ada kehidupan dan kematian. Allah Penciptanya, semua itu dari Allah dan hanya untuk Allah, adapun yang selain-Nya hanyalah fatamorgana ciptaan-Nya.

Yang dimaksud Nur di atas Nur adalah mengikuti apa yang dapat digali dari makna firman Allah dalam Qur’an Surat an-Nur Ayat 35-40. Dengan ayat tersebut Allah telah membuat perumpamaan terhadap sesuatu yang keberadaannya ada di dunia dalam, padahal di dunia luar tidak ada contohnya. Dengan ayat itu dan ayat-ayat sejenisnya, seorang hamba wajib menggali maknanya. Lalu, di samping menindaklanjuti isyaroh yang tertangkap, baik melalui rasa maupun rasio, juga beri’tibar dan menakwilkannya semampu mungkin dengan cara yang dibenarkan Allah.

Tanpa Nur Allah, berarti hati manusia menjadi gelap gulita : “Seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun” (QS.an Nur/40). Meski hati tersebut sudah mendapat kehidupan, hal itu ditandai dengan adanya ilmu yang setinggi langit misalnya, sehingga mampu menerangi jagat raya, namun ilmu tersebut tidak mampu menerangi hati sendiri. Ilmu itu hanya berguna untuk mengoreksi kesalahan orang tapi tidak bisa menunjukkan kesalahan sendiri, bahkan untuk sombong-sombongan, merasa paling benar sendiri, suka menghina orang lain dan sedikitpun tidak mau menerima pendapat temannya sendiri, meski pendapat itu disampaikan dengan kasih sayang. Akibatnya, dimana-mana orang tersebut hanya mampu menciptakan perpecahan diantara umat manusia. Itulah pertanda, meski hati orang tersebut sesungguhnya sudah dihidupi dengan ilmu, tapi tetap saja dalam keadaan gelap gulita karena tidak mendapat NUR atau hidayah dari Allah SWT. Ayat tersebut adalah berikut ini:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (35) فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timurnya (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (35) Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang(56)”. (QS. an-Nur; 24/35-36).

Dari ayat di atas, marilah kita mencari makna lafal “Nur “ tersebut di dalam dua pengertian sebagai berikut:

1. Allah adalah Dzat yang menghilangkan gelap dan mendatangkan terang.
2. Allah adalah Dzat yang memasukkan hidayah dan iman ke dalam hati seorang hamba.

(Bersambung, Muhammad Luthfi Ghazali)

IMAN DAN CINTA RASUL (part-8,tamat) (Ulama Pewaris Nabi)

Posted in cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 15 Juni 2009 by malfiali

ULAMA PEWARIS NABI

Allah SWT berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu”. (QS. al-Baqoroh; 2/143)

Firman Allah: شهداء على الناس sebagai saksi untuk manusia, maksudnya; Rasulullah Muhammad SAW dan sebagian umatnya akan menjadi saksi di akherat kelak untuk manusia, juga untuk para Nabi terdahulu dan umatnya. Hal tersebut dinyatakan oleh sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhori RA dari Abi Said al-Khudri RA Rasulullah SAW bersabda:

“قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (يُدَّعى نُوْحٌ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُوْلُ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ يَا رَبِّ فَيَقُوْلُ هَلْ بَلَّغْتَ فَيَقُوْلُ نَعَمْ فَيُقَالُ ِلأُمَّتِهِ هَلْ بَلَّغَكُمْ فَيَقُوْلُوْنَ مَا أَتَانَا مِنْ نَذِيْرٍ فَيَقُوْلُ مَنْ يَشْهَدُ لَكَ فَيَقُوْلُ مُحَمَّدٌ وَأُمَّتُهُ فَيَشْهَدُوْنَ أَنَّهُ قَدْ بَِلَّغَ وَيَكُوْنُ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا فَذَالِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ وَكَذَالِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا…).

“Nabi Nuh AS dipanggil menghadap dan Allah swt. bertanya: “Adakah sudah engkau sampaikan?”, Beliau menjawab: “Benar”. Maka Allah swt. bertanya kepada umatnya: “Apakah sudah sampai kepadamu?”, mereka menjawab: “Tidak ada satu peringatanpun yang datang”. Allah Ta’ala bertanya lagi: “Apakah engkau mempunyai saksi ?”, maka mereka menjawab: “Muhammad dan umatnya”. Kemudian Nabi SAW dan umatnya bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Nuh AS sudah menyampaikan. Dan jadilah Rasul menyaksikan kepada kalian. Yang demikian itu adalah sebagaimana firman Allah SWT:

(وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا)

Ini merupakan peristiwa ghaib yang dipublikasikan Allah SWT melalui al-Qur’an al-Karim, sebagai persaksian akan keutamaan umat Muhammad SAW dibanding umat Nabi terdahulu. “Keutamaan” yang dipancarkan melalui “keutamaan seorang Nabi yang Utama” sehingga umatnya menjadi “umat yang utama” pula.

Barangkali umat Muhammad SAW sendiri tidak pernah menyadari, bahwa fungsi kekholifahannya meliputi hak menjadi saksi bagi umat terdahulu bahkan Nabi mereka. Kalau yang demikian itu bukan Rasulullah SAW yang mengabarkan, tentu tidak ada orang yang mempercayainya. Namun ketika yang mengabarkan berita ghaib itu sebuah hadits shoheh, maka barangsiapa tidak percaya berarti tidak percaya kepada Allah SWT.

Kalau ada pertanyaan: “Bagaimana logikanya umat Muhammad SAW dapat menjadi saksi bagi umat sebelumnya, padahal sedikitpun mereka tidak pernah melihat kehidupan umat tersebut? Bukankah orang yang akan menjadi saksi harus melihat perbuatan yang akan disaksikan itu dengan mata kepala?”. Jawabnya: “Yang demikian itu menunjukkan apa yang disampaikan Allah SWT dengan wahyu-Nya (al-Qur’an) sungguh benar adanya. Karena hanya melalui al-Qur’an dan hadits, umat Muhammad SAW dapat mengetahui sejarah umat terdahulu tersebut.

Manakala Ulama pewaris Nabi akhir zaman itu benar-benar menguasai ilmu pengetahuan yang dikandung al-Qur’an dan sunnah Nabi, maka siapapun dapat menjadi saksi bagi umat sebelumnya”. Ini berarti, apabila Umat akhir zaman ini ingin mendapatkan kedudukan yang mulia itu, terlebih dahulu harus melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan yang luas. Allah SWT telah menyatakan dengan firman-Nya:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga bersaksi yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Ali Imran; 3/18)

Tugas risalah yang diemban Rasulullah Muhammad SAW, di samping sebagai saksi sekaligus juga sebagai pemimpin dan pembimbing serta pengatur urusan para saksi, baik urusan lahir maupun batin, jasmani maupun ruhani, urusan dunia maupun akherat. Baginda Nabi SAW melatih dan mentarbiyah jiwa mereka agar menjadi umat pilihan yang siap menjadi pemimpin umat menuju hidayah Allah SWT, bahkan bersama-sama dalam satu perjalanan untuk menggapai keridlaan Allah SWT. Demikian itu secara simple tercakup dalam istilah “Rahmatan Lil ‘Aalamiin”, yaitu memancarkan rahmat Allah SWT kepada seluruh alam semesta.

Tugas risalah Nabi itu bagaikan air hujan yang diturunkan dari langit, maka tanah yang gersang menjadi subur, benih-benih yang berserakan menjadi hidup lalu tumbuh menjadi tanaman. Selanjutnya buahnya dapat dipetik dan dimakan setiap saat, lalu menjadi sumber penghidupan yang menghidupkan kehidupan seluruh makhluk yang ada di atasnya.

Baginda Nabi Muhammad SAW di samping sebagai Rasul, juga menjadi saksi bagi umatnya. Ketika Rasul Muhammad SAW wafat, tugas kenabian itu tidak diserahkan kembali kepada Allah SWT seperti yang pernah terjadi kepada Nabi Isa AS, melainkan diwariskan kepada hamba pilihan dari umat-umatnya. Itulah Ulama’ Allah sebagai pewaris dan penerus perjuangan Beliau sampai hari kiamat. Ini adalah salah satu dan yang paling utama dari sekian keutamaan yang diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Tongkat estafet kepewarisan itu bukan untuk menyampaikan “risalah dan nubuwah”, akan tetapi untuk menyampaikan “Walayah”, yang sekaligus juga agar menjadi saksi bagi manusia pada zamannya. Karena sejak wafatnya Rasulullah SAW, Nubuwah dan Risalah itu telah terputus. Jadi, bukan untuk menjadi Nabi-Nya akan tetapi menjadi Wali-Nya. Allah SWT berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami”. (QS. Faathir; 35/32)

Oleh karena itu, manusia harus mengenal manusia, mencari keutamaan (fadhol) Allah SWT yang tersimpan di dalam diri manusia, itulah “mutiara manusia” yang tersimpan dalam jiwa manusia, mutiara rahasia tersebut dinyatakan Allah dengan firman-Nya; “Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur”. (QS. al- Mu’min; 40/61)

Sebagai kholifah Allah di muka bumi, di dalam dirinya ada sesuatu yang dirahasiakan untuk manusia, bahkan kepada dirinya sendiri, padahal yang dirahasiakan itu seringkali menjadi “sumber inayah dan hidayah” bagi orang lain. Ada kalanya rahmat Ilahiyat yang dirahasiakan di balik mutiara rahasia itu, ternyata merupakan pintu surga yang diidam-idamkan oleh orang-orang yang ada di lingkungannya.

Ketika seorang murid berusaha menggali “mutiara rahasia” itu dengan pelaksanaan tawasul secara ruhaniah kepada guru Mursyidnya, sambung-menyambung (rabith) sampai kepada maha guru yang mulia, Rasulullah Muhammad SAW untuk wushul/LING kepada Allah Ta’ala, dan ketika ternyata murid itu berhasil mendapatkannya, maka saat itu baru mengetahui bahwa mutiara itu di akherat kelak ternyata menjadi faktor penyelamat bagi hidupnya. Itulah “syafa’at Nabi” yang diwariskan kepada ahlinya, barangsiapa tidak mengusakannya di dunia, tentunya dengan berusaha mencintai Rasulullah Muhammad SAW melebihi cinta kepada dirinya sendiri, maka di akherat kelak tidak akan mendapat bagian apa-apa dari “mutiara utama” itu. (Semoga Allah Ta’ala menambahkan manfaat bagi kita semua. Amiin)(tamat)

al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghozali

IMAN DAN CINTA RASUL (part-7) (Saksi di Hari Kiamat)

Posted in cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 15 Juni 2009 by malfiali

SAKSI-SAKSI DI HARI KIAMAT

Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pencipta. Dengan kesendirian-Nya, menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk manusia. Di hadapan kekuasaan-Nya, manusia tidak berbeda dengan makhluk yang lain. Tidak ada satu kekuatanpun dapat menghalangi seandainya Allah Ta’ala berbuat sekehendak hati-Nya. Karena tidak ada yang sanggup meski sekedar bertanya atas segala perbuat-Nya.

Dengan ke-Mahaadilan-Nya, Allah menempatkan manusia dalam kedudukan mulia melebihi kehormatan makhluk yang lain, bahkan malaikat sekalipun. Manusia akan diperlakukan dengan seadil-adilnya di hari kiamat, tidak seperti makhluk yang lain—yang sebagian besar mereka saat itu, dijadikan tanah kembali setelah hak dan kewajibannya dengan manusia selesai diperhitungkan. Manusia tidaklah demikian, manusia akan dihidupkan untuk selama-lamanya dengan mengikuti perbuatan yang sudah dilakukan selama di dunia.

Dalam rangka memuliakan manusia, pengadilan akbar pada hari kiamat akan digelar dengan seadil-adilnya. Saat itu, manusia hanya mendapatkan sesuai yang diusahakan. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan dan apa yang dikerjakannya akan diperlihatkan” (QS.An-Najm; 53/39)

Sedikitpun manusia tidak kuasa menyalahkan siapa-siapa, ketika ternyata menjadi penghuni neraka untuk selama-lamanya. Karena di dunia sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Mengikuti kemauan hawa nafsu dan setan atau mengikuti hidayah Allah Ta’ala untuk melaksanakan jihad akbar, jihad melawan hawa nafsu yang ada di dalam rongga dadanya sendiri.

Berangkat dari dua pilihan itu, maka di akherat nanti manusia juga terbagi menjadi dua golongan. Yang satu bahagia untuk selama-lamanya di surga dan yang satunya menderita untuk selama-lamanya pula di neraka. Kita mohon perlindungan kepada Allah dari siksa neraka.

Untuk kepentingan pengadilan akbar tersebut, Allah Ta’ala telah menetapkan empat golongan yang akan menjadi saksi-saksi bagi amal ibadah manusia, yaitu: malaikat pencatat amal, anggota tubuh manusia sendiri, para Nabi Allah AS dan umat Muhammad SAW.

a). Saksi pertama, Para Malaikat Pencatat Amal

Allah Swt. berfirman:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ (20) وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ

“Dan ditiuplah sangkakala, itulah hari terlaksananya ancaman dan tiap-tiap diri akan datang bersama-sama Malaikat penggiring dan Malaikat sebagai saksi”. (QS. Qaaf; .50/20-21)

Dan juga firman-Nya:

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Ketika dua Malaikat saling bertemu, masing-masing duduk sebelah kanan dan sebelah kiri* Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas (pencatat) yang hadir”. (QS. Qaaf: 17-18)

Kemudian firman-Nya:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang menjaga * Yang mulia dan yang mencatat * Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Infithar; 82/10-12)

Ternyata bukan hanya manusia yang akan menjadi saksi bagi amal perbuatan yang dikerjakan manusia di dunia. Para malaikat juga, dan ternyata malaikat-malaikat yang telah dipersiapkan untuk menjadi saksi tersebut adalah malaikat yang sudah diikutsertakan di dalam kehidupan manusia di dunia.

Yaitu malaikat pencatat amal yang selalu duduk di samping kanan dan kiri manusia, sehingga akan mengetahui dengan pasti dan bahkan telah melihat sendiri dengan mata kepala terhadap setiap detail perbuatan yang sudah dikerjakan manusia yang menjadi tanggungannya. Baik dari perbuatan kebajikan maupun kejahatan, dari ketaatan ataupun kemaksiatan. Sehingga tidak ada sekecil apapun dari perbuatan tersebut terlepas dari pengawasan dan pencatatan. Bahkan dicatat secara langsung saat tepat pada waktu pekerjaan itu dilakukan. Yang demikian itu supaya persaksian benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Kemudian catatan itu dikalungkan di setiap leher pemiliknya, dan pada hari kiyamat catatan tersebut dicetak menjadi sebuah kitab. Ketika saatnya kitab itu dibuka maka dikatakan kepada pemiliknya:

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

“Bacalah kitabmu, pada hari ini cukup dirimu sendiri sebagai penghisab terhadapmu”. (QS. al-Isra’; 17/14)

Maka:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat * Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihatnya”. (QS. az-Zalzalah; 99/7-8)

Sedikitpun manusia tidak kuasa membantah, ketika ilmu dan amal yang dahulu dibanggakan, ternyata saat itu tidak berguna lagi. Terlebih ketika melihat temannya yang dahulu dicerca, ternyata sekarang lebih mendapat keselamatan ketimbang dirinya sendiri, bahkan mereka mendapatkan kedudukan terhormat, karena ternyata yang mereka yakini lebih benar daripada yang diyakininya sendiri. Maka manusia menyesal dan berharap untuk dapat kembali ke dunia guna memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan itu, akan tetapi sayangnya yang namanya mati hanya sekali, dan itupun hanya di dunia, selanjutnya manusia akan hidup untuk selama-lamanya.

b). Saksi kedua, Anggota tubuhnya sendiri

Kejadian yang sangat menakjubkan, merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Swt, di mana manusia pada hari kiamat mendapati dirinya tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak mampu membantah, apalagi mengelak. Ketika anggota tubuh yang selama hidupnya di dunia dengan setia membantu menyelesaikan segala kebutuhan, kini menjadi saksi atas segala perbuatan.

Allah Ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan bersaksilah kaki mereka terhadap apa yang dahulu telah mereka kerjakan”. (QS.Yasin; 36/65)

Firman-firman Allah di atas mengajak kita bermi’roj, menembus alam gaib, melihat kejadian-kejadian yang bakal terjadi di akherat nanti. Akan tiba saatnya serombongan anak manusia digiring dan dikumpulkan di depan pintu neraka. Ketika udara panas yang dihembuskan kobaran api di depan mata mulai terasa membakar kulit, saat wajah-wajah mulai berkerut dimakan rasa takut akibat dosa yang terlanjur ikut mengiringi maut. Maka difirmankan kepada mereka:

هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (63) اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

“Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam dengannya – Hari ini masuklah kamu ke dalamnya, dengan sebab dahulu kamu mengingkarinya”. (QS.Yasin: 36/63-64)

Saat itu, …. tangan yang selama ini menjadi sahabat karib, menjadi pembantu dan teman yang setia selama hidup, menyampaikan kehendak, mendatangkan hajat, mewujudkan hasrat dan keinginan, menggapai cita-cita dan harapan, …….. kini melaporkan kembali kepada Allah Ta’ala ……., tentang kebohongan dan kejahatannya, tentang pengkhianatan dan kemunafikannya, bahkan perselingkuhannya.

Kaki yang dahulu selalu bekerjasama dengan tangan, berjalan seiring saling membantu untuk melayani sang majikan. Kini berkonspirasi bahkan menjadi saksi atas sebuah kejahatan yang telah dilakukan.

Maka fakta menjadi nyata
bukti menjadi pasti.
Tidak ada jalan mengelak
tidak sempat mengingkari.

Dikabarkan lagi oleh Allah Ta’ala:

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (24) يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ

“Pada hari, ketika lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya dan mereka menjadi tahu bahwa Allah Yang Benar, lagi Yang Menjelaskan”. (QS. an-Nur: 24/24-25)

Lisan, tangan dan kaki pada hari itu menjadi saksi-saksi nyata, hal itu karena kebersamaannya selama di dunia dalam kehidupan manusia, bersama-sama melaksanakan perbuatan dengan manusianya, baik amal ibadah maupun kemaksiatan, baik pengabdian maupun pengkhianatan, baik kesetiaan maupun perselingkuhan. Manusia tidak kuasa lagi membantah, ketika semua itu ditulis di dalam kitab yang sudah terbuka di hadapan mata. Maka para Pendosa tinggal menunggu nasib dengan sorot mata menengadah, membayangkan siksa neraka dengan penuh putus asa, karena persaksian telah menjadi kuat dan pembuktian sudah menjadi akurat.

Seandainya dahulu di dunia hatinya mau sedikit saja melunak, mendengarkan peringatan dari teman-teman setia yang mengasihi, lalu menimbang dengan kejernihan hati yang tulus serta menawarkan kepada hidayah Tuhan yang diyakini, hidayah yang sebenarnya setiap saat sudah menghampiri nurani, membelai hati yang keras supaya mau mengala dan mawas diri….. maka barangkali sekarang tidak menyesal atas isi catatan yang dapat dihitung sendiri.

Ternyata hari akherat tidak seperti di dunia, betapapun orang menyesali perbuatan, penyesalan itu tidak berguna, sedikitpun tidak akan mengurangi siksa yang harus diterima. Seandainya penyesalan itu dilakukan di dunia, saat orang masih mempunyai kesempatan untuk berbuat maksiat tetapi mau bertaubat dan berbena, maka penyesalan itu akan merontokkan dosa-dosa, bahkan mengangkat derajatnya di Surga…. amin.

c). Saksi ketiga, Para Nabi dan Para Rasul

Kejadian-kejadian yang asalnya ghaib, dipublikasikan oleh Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya, al-Qur’an yang akan abadi sepanjang zaman. Peristiwa sejarah yang pernah terjadi pada zaman para Nabi dan para Rasul terdahulu, sebelum Rasulullah Muhammad SAW, juga diantaranya yang dialami Nabi Isa AS. Demikian itu agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi umat Muhammad SAW sepanjang zaman. Allah berfirman :

وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka dan Engkau adalah Maha menyaksikan terhadap segala sesuatu”. (QS. al-Ma’dah: 5/117)

Perbuatan manusia semasa hidupnya, baik kebajikan maupun kejahatan, agar dapat dipertanggungjawabkan di akherat dengan seadil-adilnya, perbuatan itu harus diawasi dan disaksikan oleh saksi-saksi. Tidak hanya cukup disaksikan oleh para malaikat dan anggota tubuh manusia itu sendiri, untuk lebih kuatnya sebuah persaksian, perbuatan itu harus disaksikan oleh manusia juga. Oleh karenanya, tugas Nabi dan Rasul pada masanya, di samping mengemban Risalah dan Nubuwah, juga sebagai saksi-saksi bagi umatnya. Itulah maksud dari yang disampaikan Nabi Isa AS melalui firman Allah di atas (QS. 5; 117).

Semasa hidupnya, Nabi Isa AS menjadi saksi atas perbuatan umatnya. Ketika Nabi Isa AS diangkat ke langit, tugas tersebut diserahkan kembali kepada Allah Ta’ala. Berarti, sejak saat itu sampai terutusnya Nabi Agung Muhammad SAW, Allah yang mengawasi dan menjadi saksi bagi umat manusia. Masa-masa itu dikenal dengan masa transisi atau masa kekosongan kepemimpinan seorang Kholifah Bumi.

Dampak dari kekosongan tersebut, makhluk jin mendapatkan leluasa naik turun ke langit untuk mencuri dengar berita langit, sampai dengan terutusnya Rasul Muhammad SAW. Ketika Rasul Muhammad SAW diutus sebagai Kholifah Bumi akhir zaman, maka makhluk jin tidak dapat lagi naik ke langit, karena dikejar panah berapi. Demikian yang telah dinyatakan oleh Rasulullah SAW di dalam haditsnya berikut ini:

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW tidak membacakan al-Quran (tidak mengajarkan agama) kepada jin dan tidak pula melihat mereka. Kisahnya ; Disaat baginda Nabi SAW berangkat bersama rombongan para Sahabat RA menuju pasar Ukaz dan pada saat itu, antara setan jin dan berita dari langit sedang dihalangi dan mereka dilempari dengan panah berapi. Maka merekapun kembali kepada kaum mereka, dan mereka berkata: “Antara kami dan berita dari langit telah dihalangi dan kami dilempari dengan panah berapi”. Kaum mereka berkata: ”Pasti telah terjadi sesuatu yang luar biasa di muka bumi, coba pergilah menyebar ke bumi, baik di sebelah timur maupun baratnya, carilah apa menjadi penyebabnya, hingga antara kita dan berita dari langit menjadi terhalang”. Merekapun pergi ke bumi di sebelah timur dan baratnya. Dan di antara mereka ada yang menuju arah Tihamah, mengikuti arah perjalanan Nabi SAW bersama para Sahabat RA. Saat itu Baginda Nabi SAW sedang berada di bawah pohon kurma dalam perjalanan menuju ke pasar Ukaz dan Baginda Nabi SAW sedang sholat Subuh bersama para Sahabat. Ketika mereka (sekelompok jin) itu mendengarkan al-Quran dibaca, mereka memperhatikan dan berkata: “Inilah yang menjadikan kita terhalang dengan berita langit”. Maka merekapun kembali kepada kaumnya lalu berkata: Wahai kaumku:

( إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا )

Yang artinya: “Sesungguhnya aku telah mendengar bacaan yang mengagumkan, yang dapat menunjukkan kita kepada kebenaran, maka aku beriman kepadanya dan tidak akan menyekutukan Tuhanku dengan siapapun”.

Maka Allah Swt. menurunkan kepada Rasul Muhammad SAW sebuah firman-Nya:

( قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ )

Yang artinya: “Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku, bahwasanya sekumpulan jin telah mendengar bacaan al-Quran”.

Riwayat Bukhori di dalam Kitab Azan, Hadits Nomor 731
Riwayat Muslim di dalam Kitab Sholat, Hadits Nomor 681
Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an, Hadits Nomor 3245-3247.
(Sumber: CD al-Bayan)

Jadi, keberadaan seorang Kholifah Allah di muka Bumi, disamping menjadi saksi perbuatan umatnya, juga memutus mata rantai akses makhluk Jin dari Bumi ke Langit sehingga sejak itu jin selalu memboncengi laku spiritual manusia untuk mencuri dengar berita langit melalui munajat hati manusia kepada Tuhannya. Disini ada rahasia besar, mengapa para laku spiriutal tersebut terkadang malah mendapat bimbinang dari setan jin, hal itu disebabkan, karena pengembaraan ruhani itu tidak mendapat bimbingan dari guru Mursyid sejati.

d). Saksi keempat, Umat Nabi Muhammad

Keutamaan umat Muhammad SAW yang terbesar dan termulia serta tidak diberikan kepada umat-umat terdahulu ialah bahwa dari umat pilihan, ada yang dijadikan Allah Swt. sebagai Kholifah Bumi Zamannya atau pengganti meneruskan tugas Risalah dan Nubuwah, mereka itulah para Guru Mursyid sejati. Tugas para kholifah bumi itu diantaranya, menebarkan pancaran obor semangat keimanan, menyalakan pelita-pelita yang terkucil dan berserakan di pinggir jalan, menguntai kunang-kunang nakal, dan bahkan mengambil kembali dan sekaligus menggosok mutiara-mutiara yang kadang lama tercampak di bak sampah.

Keberadaan mereka di mana-mana selalu membawa perubahan, bagai membangunkan bumi tidur, membasahi tanah kering dan mati. Itulah hamba-hamba Allah yang dipilih untuk menerima Warisan Ilmu al-Kitab (al-Qur’an).

Kitab warisan itu selalu diamalkan melalui pancaran Nur Akhlaq untuk menyampaikan Hidayah Allah Ta’ala kepada umat manusia, baik melalui do’a-do’a, mujahadah dan riyadhoh, dakwah-dakwah, bahkan melalui perniagaan dan perdagangan. Mereka berdagang untuk berdakwah, bukan berdakwah untuk berdagang sebagaimana lazimnya orang pada zaman sekarang.

Sebagian mereka berhasil menghidupkan bumi tanah Jawa tercinta dengan menyalakan obor hidayah dan iman di mana-mana hingga sejarah telah mencatat perjuangan itu dengan tinta emas. Itulah para Wali Songo yang mulia, meski setelah matinya masih saja ada orang yang mengingkari jasa mereka.

Padahal, orang-orang yang hatinya ingkar itu adalah orang yang kenikmatan imannya merupakan hasil perjuangan dan jerih payah para Wali Songgo tersebut. Hasil perjuangan orang-orang yang telah mendapatkan warisan dari para pendahulunya—yang juga telah mendapatkan warisan langsung dari seorang junjungan yang agung. Yaitu Rasulullah SAW yang telah menyatakan di dalam sebuah haditsnya :

عُلَمَآءُ أُمَّتِى كَأَنْبِيَآءِ بَنِى إِسْرَائِلَ

“Ulama’ umatku seperti Nabi-nabinya Bani Isra’il”.

Para Ulama penerus perjuangan tersebut, yaitu ash-Shiddiq, asy-Syuhada’ dan ash-Sholihin, juga disebut “Ulul Albab”, sebagai Khalifah Bumi Zamannya, adalah merupakan orang yang telah meneruskan tongkat estafet perjuangan para Rasul dan para Nabi terdahulu. Sesuai dengan tingkat derajat yang tergambar melalui sebutan nama mereka, sejak kehidupan mereka di dunia, di alam barzah dan di akherat, mereka juga menjadi saksi bagi umatnya.

Mereka akan tetap dihidupkan oleh Allah sepanjang zaman dengan membawa syafa’at yang sudah ada di tangan, warisan para pendahulu yang terlebih dahulu telah berjuang, di akherat nanti akan menyelamatkan banyak orang yang telah terlanjur terjerumus ke jurang neraka.

Kalau salah satu dari mereka ada yang mati, Allah Ta’ala akan segera mengangkat penggantinya dengan orang yang baru, untuk menduduki kedudukan yang sedang kosong itu, supaya kepemimpinan dunia tidak terjadi kekosongan lagi. Allah Ta’ala yang mendidik mereka. Sebagaimana sabda Rasul SAW yang diabadikan di dalam firman Allah :

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya Waliku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab dan Dia memberikan ” Walayah” kepada orang-orang yang sholeh”. (QS.al-A’raaf.7/196)

Mereka itu, sesuai dengan ilmu dan kemampuan yang ada serta tingkat derajat yang diberikan, seluruh masa hidup dan kesempatannya dicurahkan untuk membimbing manusia menuju jalan keridlaan Allah Ta’ala. Baik melalui ilmu pengetahuan, ibadah, perjuangan, terlebih melalui pancaran do’a-do’a yang setiap saat dipanjatkan ketika mereka sedang melaksanakan mujahadah dan riyadlah di hadapan Allah Ta’ala.

Orang-orang yang kemanfaatan hidupnya hanya untuk mencukupi kebutuhan orang lain, baik kebutuhan lahir maupun batin, diminta maupun tidak, hingga terkadang melupakan kebutuhan hidupnya sendiri. Ketika Allah menghendaki memanggil kekasihnya, dia akan menghadap dengan penuh kebahagiaan. Seperti seorang pengantin yang dipertemukan di peraduan, sedangkan orang-orang yang ditinggalkan, melepaskan dengan penuh kesedihan dan keputusasaan, sebab:

Nur yang mereka pancarkan
lewat ilmu pengetahuan,
Amal Ibadah maupun Akhlak,
telah menghidupkan hati yang mati,
dan membangkitkan semangat yang layu
Itulah “Nur di atas nur”
Yang tersimpan di dalam karakter
Warisan leluhur
Agar orang tetap mengenal
Bahwa tidak ada Tuhan, kecuali Allah.

Mereka itulah manusia yang akan menyelamatkan manusia-manusia dari siksa neraka sebagaimana mereka telah menyelamatkan iman manusia dari dari tipu daya hawa nafsu dan setan di dunia.

Allah Ta’ala menggambarkan keadaan hati kiamat itu dengan firman-Nya:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (68) وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan ketika sangkakala ditiup, maka matilah orang yang di langit dan orang yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah, kemudian sangkakala itu ditiup sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu * Dan bumi menjadi terang dengan Nur Tuhannya dan kitab diserahkan dan didatangkan para Nabi dan saksi-saksi: Dan diputuskan urusan mereka dengan adil dan mereka tidak dirugikan”. (QS. az-Zumar; 39/68-69)

Sekarang di tangan kita telah datang bukti-bukti nyata, sebagai untaian mutiara yang tak ternilai harganya. Bukan sekedar catatan yang dibaca, akan tetapi merupakan hidayah yang didatangkan bagi hati yang selamat. Bahkan bisa jadi menjadi peringatan (burhan), manakala sorot matahati yang cemerlang dapat menerangi mata lahir yang sedang menyorotkan pandang. Allah Ta’ala telah berfirman:

قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfa`atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu)”. (QS. al-An’am; 6/104)

Kalau sekarang orang tidak mau memperhatikan peringatan yang didatangkan, hingga di akherat nanti mereka menjadi orang yang terlupakan, jangan salahkan siapa-siapa lagi, karena di dunia ini, kepada bukti-bukti yang terang, dirinya terlebih dahulu telah melupakan, maka sesal kemudian tidak membawa kemanfaatan. (bersambung)

al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghozali

IMAN DAN CINTA RASUL (part-6) (Peradilan yang Adil)

Posted in cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 15 Juni 2009 by malfiali

PERADILAN YANG ADIL

Allah Ta’ala menghendaki di akherat kelak tidak terjadi ketidakadilan, karena di hari itu “Pengadilan Akbar” akan ditegakkan. Hari dimana kitab-kitab catatan amal akan diserahkan kepada pemiliknya, maka para pendosa sangat ketakutan, karena semua dosanya ternyata tercatat dalam kitab tersebut. Allah Ta’ala telah mengabarkan dengan firman-Nya :

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Kitab akan diletakkan, lalu kamu akan melihat orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya dan mereka berkata: “Aduhai celakalah kami, kitab apa ini, yang tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka dapati apa yang mereka kerjakan ada tertulis dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun”. (QS.Kahfi.; 18/49).

Pengadilan akherat itu akan dilaksanakan seadil-adilnya, tidak seperti pengadilan di dunia yang terkadang hanya mengadili pesakitan bukan menegakkan keadilan. Allah akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan sesuai amal kebaikan yang sudah dikerjakan dan akan ditambahkan-Nya dengan kebaikan pula sesuai dengan yang dijanjikan, maka manusia tidak akan mendapatkan kecuali sebagaimana yang sudah diusahakan di dunia. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan dan apa yang dikerjakannya akan diperlihatkan” (QS.An-Najm; 53/39)

Untuk itulah, Rasul-Rasul dan orang yang beriman bersama Rasul Muhammad SAW ditetapkan sebagai saksi sejak di dunia dan di alam barzah sampai dengan di akherat, agar pengadilan akbar itu dapat dilaksanakan dengan seadil-adilnya. Agar bukti-bukti atas sebuah kejahatan menjadi jelas dan celaan terhadap pelakunya menjadi tegas, lalu penyesalan menjadi amat sangat. Sedikitpun Allah Ta’ala tidak akan berbuat aniaya kepada hamba-hamba-Nya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Allah sungguh tidak akan menganiaya seseorang walaupun sebesar Zarrah dan jika ada kebaikan sebesar Zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar “. (QS.an-Nisa’; 4/40)

Untuk menebus kebahagiaan di surga, meski seluruh hidup manusia di dunia didarmabaktikan untuk berbuat kebaikan, niscaya tidak mencukupinya. Oleh karena itu, orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan) di dunia hanya mengharapkan ridla-Nya, sehingga pahala kebaikan itu akan dilipatgandakan. Yang demikian itu hanyalah pelaksanan janji yang tidak mungkin teringkari, sebagai sunnah yang tidak akan pernah berubah. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya:

إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا إِنَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ بِالْقِسْطِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

“Hanya kepada Allah kalian semua akan dikembalikan Janji Allah adalah benar-benar dilaksanakan. Dia yang pertama menjadikan dan menghidupkan, kemudian Dia pula yang mengembalikan kejadian dan kehidupan itu di hari akherat, supaya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh mendapatkan balasan yang adil, dan orang-orang kafir disediakan bagi mereka minuman yang panas dan siksa yang menyakitkan disebabkan kekafiran mereka”. (QS.Yunus; 10/4).

Merupakan penyesalan yang teramat sangat adalah ketika datangnya kesadaran sudah terlambat sehingga kesempatan untuk berbenah tertutup. Terlebih lagi apabila sebelum itu orang tersebut pernah mendapatkan peringatan, akan tetapi karena hatinya keras ia tidak mempercayainya. Ketika ia mengetahui dengan mata kepala ternyata peringatan itu benar padahal kesempatan untuk berbenah sudah tertutup, maka di tengah penderitaannya orang-orang kafir melahirkan rasa putus asa dengan menyampaikan harapan kosong. Allah Ta’ala mengabadikan penyesalan itu dengan firman-Nya: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu jadi tanah saja”. Demikianlah Allah telah memberikan peringatan kepada kita dengan firman-Nya:

إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang-orang yang tidak percaya atau kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. (QS.an-Naba’; 78/40)

Sekarang kita tinggal memilih, akan kita kemanakan diri kita saat itu. Di saat sudah tidak ada lagi yang dapat menolong selain apa yang kita perbuat sekarang, selain amal ibadah yang kita jalani sekarang dan selain SYAFAAT Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang harus kita usahakan sejak sekarang pula. Karena sejak di alam barzah kesempatan untuk berbuat itu sudah tertutup.

Kalau orang ingin masuk surga, maka sejak sekarang harus menyiapkan bekalnya, demikian juga masuk neraka. Yang pasti masing-masing tujuan itu membutuhkan biaya. Membutuhkan ongkos jalan, bahkan terkadang jauh lebih besar ongkos jalan masuk neraka ketimbang masuk surga.

Untuk masuk surga, orang hanya cukup mengeluarkan 2.5 % dari pemilikannya. Kecuali kalau dia menghendaki tempat yang lebih baik, maka harus ditambahkan sedikit lagi, yakni sekedar untuk menyenangkan hati orang lain yang terkadang ukurannya jauh lebih kecil daripada ukuran kesenangan hatinya sendiri.

Adapun untuk masuk neraka, kadang-kadang dengan 100 % pemilikannya saja masih kurang, bahkan harus dengan habis-habisan sehingga yang tertinggal hanya hutang yang bertumpuk—yang seumur hidup tidak mampu lagi dibayar hingga akhirnya menyisakan penyakit-penyakit di dalam jasad yang menjadi penyebab kematian.

Tiket untuk sebuah penderitaan di neraka itu ternyata malah terkadang dengan penderitaan di dunia, tidak seperti tiket kebahagiaan di surga. Orang yang mampu menempuh kebahagiaan di surga itu, tiketnya ternyata juga berupa kebahagiaan di dunia, bahkan dengan kehormatan pula, karena sebagian pemilikan yang sudah dishodaqohkan kepada fakir miskin mendapatkan penerimaan baik di hati manusia.

Bukankah lebih murah biaya masuk surga daripada masuk neraka?, namun demikian, ternyata tidak banyak orang mampu melakukan. Hal tersebut tidak lain karena setan telah menguasai hati orang itu sehingga jalan pikirannya terbelenggu hawa nafsunya sendiri.

Seandainya manusia mampu menahan sedikit saja hawa nafsunya. Kesenangan hidupnya tidak dihabiskan di dunia, terlebih denggan berbuat kejahatan kepada sesama, malainkan disisakan sebagian untuk kebahagiaan di akherat, yang demikian itu dilakukan semata-mata mengharapkan ridla Tuhannya dan karena takut akan kebesaran-Nya, maka cobalah…..!, Anda pasti akan menemukan hasilnya, karena Allah Ta’ala telah menyatakan janji-Nya dan sedikitpun Dia tidak akan mengingkari janji-janji-Nya:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya * Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)”. (QS. an-Naaziaat; 79/4-41)(bersambung)

al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghazali