Arsip untuk cerita kategori

CERITA SUFI (Syekh Abdul Qodir Al-Jilany RA)

Posted in cerita dengan kaitan (tags) on 17 Maret 2009 by malfiali

Cerita Sufi

Teman-teman seperjalanan yang dirahmati Alloh,
Berikut ini kisah karomah Sulthonul Auliya Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jilany RA. Coba kita cari seuatu yang bisa kita ambil sebagai bahan diskusi kita. Anda bisa bertanya dan juga menjawab, sang moderator bila perlu duduk manis aja…

Khusus bagi teman-teman yang terkadang masih kurang memahami prihal karomah para Waliyulloh sehingga sempat salah sangka kepada amaliyah sesama orang beriman, bahkan mensyirikkan orang yang berziarah ke maqom para Waliyulloh, marilah kita mencoba mencari pemahaman dari sesama kita yang ada disini. Dengan niat yang baik kita bisa sharing dalam forum diskusi yang baik, barangkali dengan itu kita mendapatkan petunjuk dari Alloh untuk menerima keutamaan yang dianugerahkan Alloh kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

1. Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:
Pada suatu hari, di tahun 537 Hijrah, seorang lelaki dari kota Baghdad (dikatakan oleh sesetengah perawi bahawa lelaki itu bernama Abu Sa‘id ‘Abdullah ibn Ahmad ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Baghdadi) datang bertemu asy-Syaikh Jilani, dan berkata, bahwa dia mempunyai seorang anak dara cantik berumur enam belas tahun bernama Fatimah. Anak daranya itu telah diculik (diterbangkan) dari atas anjung rumahnya oleh seorang jin.
Maka asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun menyuruh lelaki itu pergi pada malam hari itu, ke suatu tempat bekas rumah roboh, di satu kawasan lama di kota Baghdad bernama al-Karkh.

“Carilah bonggol yang kelima, dan duduklah di situ. Kemudian, gariskan satu bulatan sekelilingmu di atas tanah. Kala engkau membuat garisan, ucapkanlah “Bismillah, dan di atas niat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani ” Apabila malam telah gelap, engkau akan didatangi oleh beberapa kumpulan jin, dengan berbagai-bagai rupa dan bentuk. Janganlah engkau takut. Apabila waktu hampir terbit fajar, akan datang pula raja jin dengan segala angkatannya yang besar. Dia akan bertanya hajatmu. Katakan kepadanya yang aku telah menyuruh engkau datang bertemu dengannya. Kemudian ceritakanlah kepadanya tentang kejadian yang telah menimpa anak perempuanmu itu.”

Lelaki itu pun pergi ke tempat tersebut dan melaksanakan arahan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani itu. Beberapa saat kemudian datanglah jin-jin yang mencoba menakut-nakuti, tetapi jin-jin itu tidak kuasa melintasi garis bulatan itu. Jin-jin itu datang bergantian, kelompok demi kelompok. Dan akhirnya, datanglah raja jin yang sedang menunggang seekor kuda beserta satu angkatan yang besar dan hebat.

Raja jin itu memberhentikan kudanya di luar garis bulatan itu dan bertanya:  “Wahai manusia, apakah hajatmu?” Lelaki itu menjawab, “Aku telah disuruh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani untuk bertemu denganmu.”

Begitu mendengar nama asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani diucapkan, serta merta raja jin itu turun dari kudanya dan terus mencium bumi. Raja jin itu kemudian duduk di atas bumi, disertai dengan seluruh anggota rombongannya. Sesudah itu, raja jin itu telah bertanyakan masalah lelaki itu. Lelaki itu pun menceritakan kisah anak daranya yang diculik oleh seorang jin. Setelah mendengar cerita lelaki itu, raja jin itu pun memerintahkan agar dicari si jin yang bersalah itu. Beberapa waktu kemudian, dibawa ke hadapan raja jin itu, seorang jin lelaki dari negara Cina bersama-sama dengan anak dara manusia yang telah diculiknya.

Raja jin itu telah bertanya, “Kenapakah engkau sambar anak dara manusia ini? Tidakkah engkau tahu, dia ini berada di bawah naungan al-Quthb ?”
Jin lelaki dari negara Cina itu telah mengatakan yang dia telah jatuh berahi dengan anak dara manusia itu. Raja jin itu memerintahkan agar dipulangkan perawan itu kepada bapanya, dan jin dari negara Cina itu dikenakan hukuman pancung kepala.
Lelaki itu pun mengatakan rasa takjubnya dengan segala perbuatan raja jin itu, yang sangat patuh kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani.

Raja jin itu berkata pula, “Sudah tentu, karena asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bisa melihat dari rumahnya semua kelakuan jin-jin yang jahat. Dan mereka semua sedang berada di sejauh-jauh tempat di atas bumi, karena telah lari dari sebab kehebatannya. Allah Ta’ala telah menjadikan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bukan saja al-Qutb bagi umat manusia, bahkan juga ke atas seluruh bangsa jin.”

2. Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:
Pada suatu hari, istri-istri asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bertemu dengannya dan berkata, “Wahai suami kami yang terhormat, anak lelaki kecil kita telah meninggal dunia. Namun kami tidak melihat setitik air mata pun yang mengalir dari mata kekanda dan tidak pula kekanda menunjukkan tanda kesedihan. Tidakkah kekanda menyimpan rasa belas kasihan terhadap anak lelaki kita, yang merupakan sebagian darah daging kekanda sendiri? Kami semua sedang dirundung kesedihan, namun kekanda masih juga meneruskan pekerjaan biasa kekanda, seolah-olah tiada sesuatu pun yang telah berlaku. Kekanda adalah pemimpin dan pelindung kami di dunia dan di akhirat. Tetapi jika hati kekanda telah menjadi keras sehingga tiada lagi menyimpan rasa belas kasihan, bagaimana kami dapat bergantung kepada kekanda di Hari Pembalasan kelak?”

Maka berkatalah asy-Sayikh Abdul Qodir al-Jilani “Wahai isteri-isteriku yang tercinta! Janganlah kamu semua menyangka hatiku ini keras. Aku menyimpan rasa belas kasihan di hatiku terhadap seluruh makhluk, sampai terhadap orang-orang kafir dan juga terhadap anjing-anjing yang menggigitku. Aku berdoa kepada Allah agar anjing-anjing itu berhenti menggigit, bukan karena aku takut digigit, tetapi aku takut nanti manusia lain akan melontar anjing-anjing itu dengan batu. Tidakkah kamu mengetahui bahwa aku mewarisi sifat belas kasihan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang telah diutus Allah sebagai rahmat untuk sekelian alam?”

Maka wanita-wanita itu telah berkata pula, “Kalau benar kekanda mempunyai rasa belas kasihan terhadap seluruh makhluk Allah, sampai kepada anjing-anjing yang menggigit kekanda, kenapa kekanda tidak menunjukkan rasa sedih atas kehilangan anak lelaki kita yang telah meninggal ini?”

Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun menjawab, “Wahai isteri-isteriku yang sedang berdukacita, kamu semua menangis karena kamu semua merasa telah berpisah daripada anak lelaki kita yang kamu semua sayangi. Tetapi aku sentiasa bersama dengan orang-orang yang aku sayangi. Kamu semua telah melihat anak lelaki kita di dalam satu ilusi yang disebut dunia. Kini, dia telah meninggalkannya lalu berpindah ke satu tempat yang lain. Allah telah berfirman (Surat al-adid, ayat 20) “dan tiadaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah satu ilusi saja.” Memang dunia ini adalah satu ilusi, untuk mereka yang sedang terlena. Tetapi aku tidak terlena – aku melihat dan waspada. Aku telah melihat anak lelaki kita sedang berada di dalam bulatan masa, dan kini dia telah keluar darinya. Namun aku masih dapat melihatnya. Dia kini berada di sisiku. Dia sedang bermain-main di sekelilingku, sebagaimana yang pernah dia lakukan pada masa dahulu. Sesungguhnya, jika seseorang itu dapat melihat Kebenaran melalui mata hatinya, sama dengan yang dilihatnya masih hidup ataupun sudah mati, maka Kebenaran itu tetap tidak akan hilang.”

3. Telah bercerita asy-Syaikh Abduh Hamad ibn Hammam:
Pada mulanya aku memang tidak suka kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Walaupun aku merupakan seorang saudagar yang paling kaya di kota Baghdad waktu itu, aku tidak pernah merasa tenteram ataupun berpuas hati.
Pada suatu hari, aku telah pergi menunaikan solat Jum’at. Ketika itu, aku tidak mempercayai tentang cerita-cerita karomah yang dikaitkan pada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Sesampainya aku di masjid itu, aku dapati beliau telah ramai dengan jamaah. Aku mencari tempat yang tidak terlalu ramai, dan kudapati betul-betul di hadapan mimbar.

Di kala itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani baru saja mulai untuk khutbah Jumaat. Ada beberapa perkara yang disentuh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani yang telah menyinggung perasaanku. Tiba-tiba, aku terasa hendak buang air besar. Untuk keluar dari masjid itu memang sukar dan agak mustahil. Dan aku dihantui perasaan gelisah dan malu, takut-takut aku buang air besar di sana di depan orang banyak. Dan kemarahanku terhadap asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun bertambah dan memuncak.

Pada saat itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah turun dari atas mimbar itu dan telah berdiri di hadapanku. Sambil beliau terus memberikan khutbah, beliau telah menutup tubuhku dengan jubahnya. Tiba-tiba aku sedang berada di satu tempat yang lain, yakni di satu lembah hijau yang sangat indah. Aku lihat sebuah anak sungai sedang mengalir perlahan di situ dan keadaan sekelilingnya sunyi sepi, tanpa kehadiran seorang manusia.
Aku pergi membuang air besar. Setelah selesai, aku mengambil wudlu. Apabila aku sedang berniat untuk pergi bersolat, dan tiba-tiba diriku telah berada ditempat semula di bawah jubah asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Dia telah mengangkat jubahnya dan menaiki kembali tangga mimbar itu.
Aku sungguh-sungguh merasa terkejut. Bukan karena perutku sudah merasa lega, tetapi juga keadaan hatiku. Segala perasaan marah, ketidakpuasan hati, dan perasaan-perasaan jahat yang lain, semuanya telah hilang.

Selepas sembahyang Jum’at berakhir, aku pun pulang ke rumah. Di dalam perjalanan, aku menyadari bahwa kunci rumahku telah hilang. Dan aku kembali ke masjid untuk mencarinya. Begitu lama aku mencari, tetapi tidak aku temukan, terpaksa aku menyuruh tukang kunci untuk membuat kunci yang baru.

Pada keesokan harinya, aku telah meninggalkan Baghdad dengan rombonganku karena urusan perniagaan. Tiga hari kemudian, kami telah melewati satu lembah yang sangat indah. Seolah-olah ada satu kuasa ajaib yang telah menarikku untuk pergi ke sebuah anak sungai. Barulah aku teringat bahwa aku pernah pergi ke sana untuk buang air besar, beberapa hari sebelum itu. Aku mandi di anak sungai itu. Ketika aku sedang mengambil jubahku, aku telah temukan kembali kunciku, yang rupa-rupanya telah tertinggal dan telah tersangkut pada sebatang dahan di situ.
Setelah aku sampai di Baghdad, aku menemui asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani dan menjadi anak muridnya.

4. Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:
Pada suatu hari, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani berjalan-jalan dengan beberapa muridnya di padang pasir. Waktu itu hari sangat panas, dan mereka sedang berpuasa. Oleh itu mereka merasa letih dan dahaga.
Tiba-tiba, sekumpulan awan muncul, yang melindungi mereka dari panas terik matahari. Setelah itu, sebatang pohon kurma dan sebuah kolam air muncul di hadapan mereka. Mereka telah terpesona. Kemudian satu cahaya besar yang berkilauan, telah muncul dari celah awan di hadapan mereka dan kedengaranlah satu suara dari dalamnya yang telah berkata, “Wahai ‘Abdul Qadir, akulah Tuhanmu. Makan dan minumlah, karena pada hari ini, telah aku halalkan untuk engkau apa yang telah aku haramkan untuk orang-orang lain.”

Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun melihat ke arah cahaya itu dan berkata, “Aku berlindung dengan Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
Tiba-tiba, cahaya, pohon kurma dan kolam itu semuanya hilang dari pandangan mata. Maka kelihatanlah Iblis di hadapan mereka dengan bentuk rupanya yang asli.
Iblis bertanya, “Bagaimanakah engkau dapat mengetahui itu sebenarnya adalah aku?”
Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah menjawab, “Syariat itu sudah sempurna, dan tidak akan berubah sampai Hari Kiamat. Allah tidak akan mengubah yang haram kepada yang halal, walaupun untuk orang-orang yang menjadi pilihanNya (waliNya).”

Maka Iblis pun berkata lagi untuk menguji asy-Sayikh Abdul Qodir al-Jilani “Aku telah mampu menipu 70 kaum daripada golongan as-salikin (yakni orang-orang yang menempuh jalan kerohanian) dengan cara ini. Ilmu yang engkau miliki lebih luas daripada ilmu mereka. Apakah hanya ini jumlah pengikutmu? Sudah sepatutnya semua penduduk bumi ini menjadi pengikutmu, karena ilmumu menyamai ilmu para nabi.”

Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani menjawab, “Aku berlindung dengan Allah Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mengetahui, daripada engkau. Bukanlah karena ilmuku aku terselamat, tetapi karena rahmat daripada Allah, Pengatur sekelian alam.” (Malfiali, Maret 2009. Diambil dari beberapa sumber)

FENOMENA “PENGOBATAN ALA RASULULLAH” – Bagaimana Menurut Anda ??

Posted in cerita dengan kaitan (tags) on 2 Maret 2009 by malfiali

Ini ada Tanya & Jawab menarik di Milis, tidak ada salahnya bila kita ikut memberikan kepedulian dalam bentuk pandangan yang ilmiyah atau sekedar sharing untuk menambah kekayaan wawasan kita dalam menyikapi hidup dan kehidupan.

From: ……..
To: Tahajud-community@yahoogroups.com
Sent: Sunday, March 1, 2009 1:40:32 AM
Subject: [Tahajud-community] Fwd: Pengobatan Ala Rasulullah

Mohon maaf, saya memforward pertanyaan salah satu teman di milis yang saya ikuti. Saya  tertarik dengan pertanyaannya yang kritis. Saya juga ingin mendengar tanggapan teman2 di TC, mungkin ada yang bisa mencerahkan pertanyaan beliau ini? :

Mohon maaf ya ikhwan dan ukhti, saya anggota baru di milis ini,

Saya ingin tanya sesuatu hal berkaitan dengan materi pengajian di kampung saya malam ini. Dalam suatu sessi tanya jawab, ustadz di pengajian ini membahas tentang fenomena yang saat ini berkembang, yakni metode pengobatan ala Rasulullah. Beliau bilang bahwa fenomena yang merebak belakangan ini dimana banyak yang mengiklankan metode pengobatan ala Rasulullah dengan menggunakan bekam, madu, jinten hitam dan lainnya itu sebagai kesalahan paradigma dalam memahami suatu ayat atau hadits. Saya agak terusik dengan statemen itu lalu saya tanya, “Lho, bukannya itu emang ada haditsnya, ya ustadz? Bukankah kalo ada haditsnya, berarti emang Rasulullah telah mendapatkan tuntunan dari Allah tentang metode pengobatan itu ?”.
Saya agak kaget mendengar Ustadz itu menjawab,”Apakah anda akan mengatakan bahwa Nabi Muhammad diutus ke dunia untuk menjadi dokter?”. Saya menjawab,”Tentu saja tidak, ya ustadz, tapi apa salahnya kita menggunakan metode beliau untuk mengobati sesuatu penyakit? Kemaren saya lakukan bekam dan terus terang habis itu badan saya emang segar”.
Beliau menjawab,”Salah sih enggak. Cuman aneh saja. Karena ini kita bicara soal teknologi kedokteran. Jaman Rasulullah gak mungkin Rasulullah membuat suntik, rontgen, infus, operasi, dan lain sebagainya kepada pasien. Karena emang teknologi pada waktu itu masih sangat tradisional dan belum sampai pada level seperti saat ini. Ini sama saja dengan saat ini kita udah menggunakan roket, pesawat dan jet lantas dibandingkan dengan kendaraan unta atau kuda yang digunakan pada jaman itu, begitu lanjut ustadz.
Saya masih penasaran lalu bertanya lagi,”Maafkan saya, Ustadz. Setahu saya dalam riwayat-riwayat yang pernah saya dengar, bukankah Rasulullah selama hidupnya baru sakit selama 2 kali, yakni waktu perang uhud dan waktu menjelang wafatnya. Artinya itu kan menandakan bahwa metode pengobatan Rasulullah itu emang sahih”.
Beliau menjawab,”Saya kira ini bukan soal sahih enggaknya. Jaman dulu belum ada penyakit kanker, stroke, jantung dan lain sebagainya. Kenapa? Karena belum banyak polusi, belum ada unsur2 kimiawi dalam makanan dan lain sebagainya. Jangankan jaman Rasulullah. Orang yang hidup di gunung saja umurnya bisa lebih lama dibandingkan dengan mereka yang tinggal di kota. Dan mereka yang tinggal di gunung juga jarang opname di rumah sakit karena emang gak ada rumah sakit.
Lalu gimana dengan banyak kalangan yang menawarkan pengobatan alternatif metode Rasulullah itu Pak? Begitu pertanyaan saya terakhir. Kata beliau, bukan gimana-gimana. Mereka sah-sah saja untuk berpromosi. Tapi janganlah mempergunakan sesuatu ayat dengan tujuan untuk motif dagang, karena itu sama saja dengan memperdagangkan ayat. Kalaupun tidak bermaksud memperdagangkan ayat, menurut saya itu kesalahan paradigma berpikir dalam memahami ayat.
Wah, saya benar-benar dalam bingung mendengar pendapat ustadz ini. Karena kebingungan itulah maka hal ini saya lempar ke milis ini untuk mendapatkan masukan dari teman-teman.
Terima kasih sebelumnya atas masukan ikhwan ukhti sekalian untuk mengurangi kebingungan saya ini.

Jawaban:

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Sebelumnya saya mohon maaf bila tanggapan saya salah.

Dari cerita Mas Taufiq tersebut, saya sepakat yang ini: “Tapi janganlah mempergunakan sesuatu ayat dengan tujuan untuk motif dagang, karena itu sama saja dengan memperdagangkan ayat”. Namun ada lagi yang lebih memalukan dan lebih membahayakan bagi kemurnian akidah Islamiyah, yaitu pengobatan mempergunakan merek “Ala Rasulullah” padahal tujuannya supaya orang datang berobat di tempat itu. Ini berarti menjual kebesaran nama Rasululloh untuk kepentingan uang recehan.
Betapa sangat na’if jika kebesaran Nama Rasulullah SAW itu hanya dijadikan merek dagang untuk sekedar mendapatkan uang kecil. Barangkali kalau mereka menggunakan istilah pengobatan Islami, saya kira itu lebih halus, meski itu juga berarti menjual Islam untuk tujuan komersil yang akan berdampak membahayakan bagi dirinya sendiri baik di dunia maupun di akhirat.

Orang-orang yang gampang menjual kebesaran Islam untuk tujuan komersial, semisal mengatasnamakan syari’at, seperti “BANK SYARI’AT, Ruqyah syar’iyah, BMT-BMT yang dengan simbol Islami, seperti BMT Ben Takwah dll yang semuanya itu belakangan ini lagi marak di mana-mana bagai jamur di musim penghujan, terlebih lagi dengan menyebut “Ala Rasululloh” (Pengobatan Ala Rasululloh), jika pelakunya tidak menggunakan akhlak Rasul/Islami, bisa-bisa mereka itu malah cenderung terjebak dalam perbuatan munafik. Dalam arti berwajah ganda, mukanya cantik tapi dalamnya busuk.

Jika itu benar, maka inilah pertanda yang menujukkan bahwa belakangan ini iman teman-teman kita itu memang hanya untuk dijadikan penutup muka saja sedangkan rongga dada mereka penuh dengan kemunafikan, bahkan yang lebih parah lagi, menjual iman dan kebesaran nabinya hanya untuk mendapatkan penghasilan duniawi/uang recehan.

Jika hal seperti ini kita biarkan terus berjalan tanpa ada peringatan dari kita sendiri, maka jangan salahkan lagi jika dalam waktu dekat akan bermunculan tempat kemaksiatan yang menggunakan lambang Islami, semisal ‘discotik syariyah’ atau klab malam berlambangkan Islami atau syar’iyah. Wal Iyadzu Billah. (http://ponpesalfithrahgp.wordpresscom)

Bagaimana menurut pendapat teman-teman….???

(malfiali, maret 2009)

MENGUAK DUNIA JIN 12 – CERFIK (Sholeh Melawan Raja Jin)

Posted in cerita, dunia jin dengan kaitan (tags) , on 10 Januari 2009 by malfiali

dunia jin

CERFIK (Sholeh Melawan Raja Jin Yang Perkasa)

Al-kisah : Konon pada zaman dahulu ada seorang bernama Sholeh. Dia dipanggil Sholeh si Sholeh karena termasuk orang yang paling sholeh di kampungnya. Hal itu disebabkan, karena ada lagi orang kampung yang bernama sholeh tetapi perilakunya tidak sholeh.

Ceritanya diawali, karena di ujung kampung rumah Sholeh si Sholeh itu ada sarang kemusyrikan, yaitu ada pohon beringin besar yang tumbuh di pinggir jalan yang setiap hari dijadikan tempat sesembahan oleh warga kampong itu. Orang-orang musyrik itu setiap siang dan malam membakar kemenyan dan meletakkan sesajen di bawah pohon tersebut, mereka minta berkah kepada penunggu pohon beringan tua itu supaya hidupnya selamat dan kecukupan. Lebih-lebih saat malam selasa dan malam jum’ah kliwon, pada malam yang keramat itu, orang yang tidak beriman kepada Alloh dan rasul-Nya itu terkadang bahkan menyertakan ingkung ayam sebagai sesajen.

Melihat tradisi syirik yang sudah turun-temurun itu hati Sholeh si Sholeh tidak bisa tinggal diam, suatu saat dia betekat untuk berjihat fi sabilillah. Dia ingin memperbaiki keimanan warganya supaya tradisi syirik tersebut hilang untuk selama-lamanya. Melaksanakan amar ma’ruf dan nahi anil mungkar, dia bertekat membumihanguskan segala bentuk kesyirikan dari kampung halamannya. Bahkan bila perlu, dia ingin mendapatkan tiket surga dengan sebilah kampaknya untuk menebang pohon yang diyakini keramat tersebut. Dia tidak peduli, meski katanya pohon beringin tua itu dijaga Raja Jin yang perkasa. Sholeh si Sholeh mengasah kampaknya itu tajam-tajam, dan esoknya dia dengan membawa kampak yang sudah tajam itu berangkat seorang diri untuk menebang pohon keramat itu. Namun sayangnya informasi gerakan sholeh itu terlebih dahulu terdeteksi oleh Raja Jin penjaga pohon kramat itu, maka di tengah jalan Sholeh dihadang oleh Raja Jin itu dengan bala tentaranya.

Raja Jin itu menyapa Sholeh: “Hai sholeh, mau kemana kamu, pagi-pagi buta dengan memikul kampak yang sudah kamu asah tajam itu..?”. Sholeh menjawab: “Aku mau berjihat di jalan Allah”. Raja Jin bertanya lagi: “Berjihat dengan apa wahai sholeh yang sholeh…?. Aku akan menghancurkan sarang kemusyrikan yang ada di ujung jalan ini. Aku akan menebang pohon beringin di pojok jalan itu yang menjadi sarang kemusyrikat masyarakat kampung. Maka Raja jin segera memperkenalkan diri dan berkata: “Hai sholeh aku adalah Raja Jin penguasa pohon itu kalau engkau mau menebangnya, tebanglah sekarang, asal kamu mampu memotong leherku terlebih dahulu”. Singkat cerita, maka terjadilah pertarungan yang dahsyat antara si Sholeh yang sholeh dengan Raja Jin penguasa pohon beserta bala tentaranya. Di dalam pertempuran itu ternyata Sholeh lebih unggul, jurusnya lebih ampuh ketimbang jurus Raja jin itu sehingga banyak tentara raja jin itu dibuat tidak berdaya, bahkan ada yang muntah-muntah dan kencing di tempat.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu si Raja Jin mempunyai pikiran lain seraya menawarkan perdamaian bersyarat kepada sholeh. Maka dengan argumentasi yang menarik dan masuk akal, setelah diadakan gencatan senjata, Raja jin itu mulai menyampaikan rayuannya: “Hai Sholeh yang sholeh bukankah musholla tempat jama’ahmu berkumpul dan berdzikir itu juga adalah tempat yang penting, seandainya engkau bisa membangunnya dengan bangunan yang lebih baik, bukankah orang yang beribadah di sana akan dapat beribadah dengan lebih nyaman, apakah engkau tidak berfikir bahwa dengan membangunnya juga merupakan jihat di jalan Allah Ta’ala. Daripada engkau harus menebang pohon itu yang boleh jadi kamu nanti mendapatkan banyak musuh dari orang yang berbuat syirik di sana, maka biarkanlah mereka berbuat syirik, dan jama’ahmu juga dapat beribadah dengan nyaman. Kita sama-sama jalan dengan damai, kuatkanlah jama’ahmu dengan memberikan pelayanan yang lebih baik lagi, maka bangunlah musholla itu, dan aku akan bantu kamu untuk mencarikan dananya.

Sejenak Sholeh berfikir, katanya dalam hati: benar juga kamu, maka sholeh balik bertanya: Terus bagaimana cara kamu bisa membantu aku mencarikan dana? Raja jin itu menjawab : Asal kamu tidak menebang pohon itu setiap hari kamu akan aku kirimi uang. Setiap habis sholat subuh ambillah uang itu di bawah bantalmu, engkau akan mendapatkan uang itu disana. Maka terjadilah kata sepakat, selama Raja Jin itu setiap hari mengirimkan uang di bawah bantalnya, sholeh tidak diperbolehkan menebang pohon itu, kecuali apabila raja jin itu telah melanggar kesepakatan tersebut, maka sholeh yang sholeh boleh sesuka hati menebang pohon besar itu. Seteleh kesepakatan diputuskan, masing-masing pihak membubuhkan tanda tangan bermatrei, maka pulanglah Sholeh dengan membawa kemenangan yang gemilang.

Keesokan harinya sehabis sholat subuh, benar, sholeh menemukan setumpuk uang di bawah bantalnya, besoknya juga demikian dan juga besoknya, maka sholeh yang sholeh sudah bersiap-siap untuk melaksanakan rencana mulianya itu, membangun musholla dengan bangunan yang seindah-indahnya. Maka dibentuklah kepanitiaan pendirian musholla sekaligus dengan kepanitiaan pembangunan pondok pesantren di samping mushollanya. Para pemuka masyarakat diundang dalam rapat itu, dan Sholeh yang sholeh mengatakan kepada para hadirin, dia tidak membutuhkan donatur dari luar, dirinya sendirilah yang akan menjadi donatur tunggal.

Orang-orang yang hadir menjadi heran dari mana Sholeh mendapatkan uang untuk melaksanakan rencana besarnya itu, padahal sebelum itu hidupnya dalam keadaan pas-pasan saja. Kadang bisa makan kadang tidak, bahkan untuk beli garam dan kecap saja pernah berhutang kepada tetangganya. Menghadapi kebingungan orang banyak itu sholeh mensikapinya dengan biasa-biasa saja. Sholeh merahasiakan sumber dana itu yang sebenarnya. Dengan penuh keyakinan dia segera dapat mewujudkan rencananya itu.

Setelah malam itu kepanitiaan sudah terbentuk dan rencana kerja segera akan dimulai, besok paginya ketika sholeh membuka bantalnya ternyata tidak ada tumpukan uang sebagaimana hari-hari kemarin. Besoknya juga dan besoknya lagi juga demikian. Sholeh marah besar, menurutnya, Raja Jin itu telah mengkhiyanati komitmen yang sudah disepakati bersama dan berarti pula Sholeh berhak menebang pohon beringin tua itu. Maka Sholeh kembali mengasah kampaknya untuk segera menebang pohon yang menjadi sumber kemaksiatan tersebut.

Pagi-pagi buta dengan kepercayaan yang penuh Sholeh yang sholeh berangkat dengan memikul kampaknya untuk menebang pohon besar itu dan di tengah jalan dia dihadang lagi oleh Raja jin yang telah mengkhiyanati komitmen itu. Namun kali ada yang berbeda, jika pertemuan yang pertama Raja Jin datang dengan segala kekuatannya, kali ini datang sendirian bahkan tanpa membawa senjata. Sholehpun buru-buru menegurnya dan menanyakan pengkhiyanatan yang dilakukan oleh raja jin tersebut. Si Raja jin menjawab dengan santai: “Kalau kamu mampu memotongnya maka potonglah akan tetapi sebelum itu lawanlah aku terlebih dahulu”. Langsung saja sholeh menyerang Raja jin itu dengan jurus sebagaimana pertama kali ia mengalahkannya dahulu, akan tetapi dalam pertempuran kali ini sholeh ternyata benar-benar dibuat KO dan tidak berdaya. Tidak sebagaimana pada pertempuran yang pertama dan bahkan kali ini justru sholeh yang dibuat muntah-muntah dan kencing di tempat. Akhirnya sholeh menyerah kalah dan sepakat untuk berdamai akan tetapi untuk selamanya Sholeh tidak boleh memotong pohon besar itu.

Sebelum Sholeh dilepas pulang, Sholeh bertanya kepada Raja Jin itu : “Hai Raja Jin yang perkasa, pada pertemuan kita yang pertama kamu dapat aku kalahkan dengan mudah akan tetapi mengapa sekarang malah sebaliknya dan justru engkau malah dapat mempermainkan aku dengan seenakmu?” Raja Jin itu menjawab: “Sebenarnya jurusmu tetap ampuh seperti dulu, akan tetapi marahmu yang berbeda. Jika dahulu kamu marah karena Allah Ta’ala, maka kamu dapat mengalahkan aku dengan mudah, namun sekarang marahmu karena uang dan kehormatan, maka ganti aku yang dapat mengalahkanmu dengan mudah. Maka sunggun benar firman Allah Ta’ala:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ(82)إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, – kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. QS:82/85.

Ketika Jihad Sholeh si sholeh yang pertama didasari niat yang ikhlas, yaitu semata-mata hanya berjuang di jalan Allah Ta’ala, maka Sholeh dapat mengalahkan Raja Jin yang perkasa itu, akan tetapi niat yang kedua berbeda. Niat yang kedua itu campur dengan niat-niat yang lain walau sesungguhnya saat itu sholeh juga tetap dalam rangka menjalankan ibadah. Niat yang kedua ini sudah isyrok atau bersekutu dengan tujuan yang lain, maka sedikitpun sholeh tidak dapat mengalahkan Raja Jin itu bahkan Sholeh dijadikan mainan oleh Raja Jin tersebut.

Cerita ini boleh jadi fiktif belaka, namun itulah sebuah ilustrasi, tinggal bagaimana hati yang selamat mengambil hikmah darinya. Kalau seandainya ayat-ayat suci al-Qur’an yang dibaca saat pelaksanaan Ruqyah itu niatnya benar-benar ihlas semata-mata beribadah kepada Alloh, maka para pendengar yang khusu’ itu tidak mungkin kesurupan jin. (malfiali, januari 2009. Dari buku lama yang terlupakan)

INDONESIAKU SAYANG INDONESIAKU MALANG

Posted in cerita, puisi dengan kaitan (tags) , on 28 November 2008 by malfiali

Aku Sayang Kamu

Kepada siapakah aku titipkan INDONESIAKU…….?

Apakah kepada REFORMASI ?
Siapakah dia itu ? Apakah sang pendatang yang telah mampu memenggal tangan-tangan besi sang penguasa yang sudah terlalu lama membungkam setiap suara dengan kursi dan rupiah, kadang juga dengan peluru dan penjara.
Ataukah kepada sang pembaru yang suka membuka suara dengan rupiah untuk sebuah kursi kuasa.

Apakah dia REFORMASI, ketika aku melihat rahasia yang bukan rahasia. Ketika di mana-mana bahkan membudaya, ada rupiah berbicara di kursi-kursi yang mulia melalui tangan-tangan rahasia untuk membangun tahta sang calon penguasa.
Tapi ternyata masih juga sama, aku tidak mampu berbuat apa-apa meski lima ribu suara setiap hari menjerit di jalan raya.

Oh Indonesiaku, pernah aku mencoba menitipkan kamu di sekolah dan madrasah agar anak didik tidak turun lagi di jalan raya.
Di bangku tingkat dasar, kepada guru-guru yang setia, aku mencari lagu Indonesia Raya, ternyata yang kutemui irama bendera hasil produk nusantara.

Adakah rupiah juga berbicara kepada guru-guru mulia dan kepala sekolah? Mengapa ada Pepsodent, mengapa ada Milo, membuka pasar dadakan di bangku sekolah, sehingga sang pahlawan tanpa jasa itu ternyata menjadi juragan pasar musiman dan bahkan agen-agen rahasia penerbit buku dan percetakan .

Adakah yang harus lebih dulu dibersihkan selain bangku sekolah, kalau tingkat dasar saja sudah menjadi cidera. Maka jangan kamu tanya lagi, ketika di jalan raya suara peluit petugas kadang di situ juga urusan selesai dengan rupiah.
Juga di rumah sakit dan kamar dokter, orang masuk sakit di dada keluar menjadi sakit kepala, karena harga obat mencekit leher dan menghimpit isi kepala.

Apalagi di kantor-kantor pemerintah, dimana uang siluman konon beredar di mana-mana, menjadi pelicin agar peluang kerja terbuka. Bahkan meski sang koruptor sudah difonis di pengadilan bersalah, namun mereka masih bebas ngantor kapan saja.

Oh Indonesiaku, betapa malang potret wajahmu, saat orang lain di luar sana menyebutmu Negara koruptor terbesar di dunia.

Tapi aku percaya masih ada anak negri ini orang yang tetap peduli dan setia, walau dia hanya sorang diri dan tidak punya kuasa.

Apakah kepada suara Gus Dur yang sementara kursinya sedang tersungkur ataukah Akbar Tanjung yang suaranya masih kabur. Atau kepada yang hanya mau bicara, walau dimana, asal ada rupiah. Apakah kepada yang suka beryanyi dan hura-hura, pamer budaya di hari merdeka, sehingga orang-orang lupa persoalan yang tengah mendera Bangsa.

Atau kepada wajah-wajah baru yang bermunculan bagai cendawan di musin hujan, mendongkrak citra diri dengan biaya tinggi, layaknya orang bermimpi menjadi pahlawan di siang hari, padahal belum tentu mengerti mau dibawa kemana negri tercinta ini.

Atau kepada serombongan partai yang baru dilahirkan, meski oleh induk semang yang sama tujuan, seperti orang bangun kesiangan, mengusap mata yang rabun dibuai harapan, bagaikan bis mencari penumpang dan sekaligus sopirnya di pinggir jalan, tidak peduli siapa asal punya uang.

Apakah kepada para Kiai yang mulia dan kharismatik, bak artis dan selebritis, marak gambarnya dipajang dimana-mana, dimanfaatkan mantan santri untuk mendulang suara menggapai tahta dan ambisi pribadi.

Atau kepada amuk massa yang suka membakar dan membantai maling jalanan, yang tertangkap basah sekedar nyopet uang recehan. Atau kepada revolusi sosial agar rumput-rumput nakal tercabut seakar-akarnya, meski kemudian kita juga ikut binasa ditelan masa.

Kadang aku ingin menitipkanmu kepada Tuhan. Tetapi aku juga ragu, apakah lonceng gereja atau beduk masjid dan musolla mampu tinggikan suara menyampaikan hasratnya.

Haruskah lewat istighotsah dan mujahadah yang terkadang juga masih berbau bendera. Kepentingan partai politik dan ambisi pribadi menjadi tujuan utama.
Atau dengan tangan lemah menengadah sendiri Panjatkan do’a

Wahai anak-anak negri tercinta
Jangan engkau terlena
Dimabuk harapan untuk menjadi penguasa
Lupa teman lupa lawan meski tidak punya sarana
Hingga sikut-sikutan menjadi tradisi dalam keluarga

Kita harus tetap waspada
Meski keadaan dalam kondisi ramah
Bisa jadi mata teroris mengintai menunggu cela
Menebus nyawa yang pergi meninggalkan duka

Ya Allah, Tuhan alam semesta…
Berikanlah hamba-hamba-Mu hidayah
Harus kepada siapa
Kami titipkan INDONESIAKU yang sedang dirundung duka

2002 – 2008

(malfiali, Nofember 2008)

RENUNGAN AKHIR ZAMAN (Karena Ada Yang Dilupakan)

Posted in cerita dengan kaitan (tags) on 24 November 2008 by malfiali

RENUNGAN AKHIR ZAMAN (Karena Ada Yang Dilupakan)
renungan

Ketika pelita menampakkan sinarnya di malam kelam, maka laron-laron berdatangan mencari jalan kehidupan. Mereka menitipkan pesan, agar jalan yang ditempuh mendapatkan kelapangan. Laron-laron itu merupakan contoh komunitas awam. Di dalam kegelapan isi dada, mereka datang mencari jalan penerang kepada orang-orang pilihan, agar jalan yang ditempuh mendapatkan tuntunan.

Para Ulama zamannya, baik yang tinggal di pesantren maupun di tengah komunitas manusia, mereka itu bagaikan pelita-pelita yang memancarkan sinar di pinggir jalan. Mereka menunjukkan jalan, agar kehidupan laron-laron itu tidak tersesat di tengah jalan.

Demikianlah fenomena, maka cahaya Ilahiyah yang menerangi ufuk dada sang pelita tersebut tidak diputus di tengah jalan. Datang silih berganti sepanjang zaman dari rencana tarbiyah azali yang dirahasiakan. Supaya langkah laron-laron yang kenyang menyerap sinar pelita yang menjadi ikutan, tidak menjadi kehilangan arah lagi dan kebingungan.

Namun demikian, ketika pelita-pelita itu sudah waktunya harus dipadamkan, karena masa tugasnya memang harus bergantian, maka laron-laron itu hendaknya terbang menyebar, membawa seberkas sinar yang sudah didapatkan, menjadi kunang-kunang yang terbang riang, agar laron-laron lain ikut dalam rombongan.

Itulah sinar kehidupan, ketika matahari dan bulan sedang malas menampakkan senyuman, maka gemerlap bintang pun dapat mewujudkan impian. Jika tidak demikian, maka hantu malam akan menelan pandangan, hingga laron-laron menjadi kebingungan, jalan ke depan dihantui bayang-bayang.

Terlebih ketika kunang-kunang hanya sibuk mencari makanan, ketika sudah duduk di kursi mapan bersama rekanan mencari peluang, menjelma menjadi laba-laba membangun jaringan, menunggu mangsa yang datang sekedar untuk mengenyangkan perut yang sebenarnya sudah kenyang. Mereka lupakan ukuran yang harus dimakan dan lupa memberikan kepedulian, meski kepada teman-teman dalam perjuangan, yang telah bersama-sama berkeringat mengusung keberhasilan.

Maka setan dan peri malam datang bergentayangan, keluar masuk rumah dan penginapan, mencari orang-orang yang suka dimabuk harapan, merasuk sukma membangkitkan impian, hingga kunang-kunang menjadi lupa daratan. Lupa milik teman lupa milik lawan, asal dapat dimakan, seketika habis dalam sekali telan.

Namun demikian, ternyata akhirnya kunang-kunang nakal itu malah menjadi pesakitan, duduk di kursi yang tidak aman, tidur di kasur berselimut bayangan, pikiran menerawang menunggu keputusan, meronta tidak kuasa, pasrah tidak mampu membayangkan, karena pukulan palu pengadilan mengancam diri akan akhiri perjalanan dalam penderitaan.

Dalam keadaan demikian, dimana-mana muncul setan bergentayangan, memanfaatkan kondisi yang tidak menguntungkan, terang-terangan menuntut pengembalian uang yang sudah hangus ditelan zaman, berkasak kusuk minta harga jaminan, agar menjadi pelicin di dalam perjalanan, kalau tidak, maka kunang-kunang nakal akan dimasukkan kurungan.

Sedangkan laron-laron yang berterbangan, dengan sorot mata yang kosong, sebagian besar hanya dapat menonton dalam kebodohan, tidak mengerti mengapa kunang-kunang yang dihormati itu kini menjadi pesakitan.

Sementara itu, ada juga golongan yang kecewa dan marah tidak ketulungan, hingga dimana-mana mereka mengeraskan suara, menggerakkan masa yang seirama, karena merasa ditinggalkan kunang-kunang idaman, yang selama ini sebenarnya menjadi sumber harapan, namun ternyata telah terlebih dahulu melupakan kesepakatan, hingga harapan tinggal menjadi harapan dan kenyataan tidak kunjung datang.

Itulah potret kehidupan, seandainya kunang-kunang tidak lupa kesepakatan, selalu ingat kepada kawan yang dahulu menghantarkan perjalanan dan selalu memegang pesan yang disampaikan sang pelita yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kehidupan, sehingga pemerataan menjadi kenyataan, maka barangkali tidak ada kekecewaan yang berakibat penyesalan.

Namun itulah kenyataan, tinggal masing-masing hati pandai-pandai mengambil pelajaran, mencari mutiara hikmah yang tersembunyi sebagai pelajara, yang kadang-kadang diselipkan di balik kesusahan.

Mutiara hikmah itu adalah realita. Apapun bentuknya, apabila menjadikan orang susah dan menderita, maka itu berarti musibah dan siksa, namun apabila menjadikan orang sadar, menyesal terus kemudian taubat dengan taubatan nasuha, sehingga orang menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya, maka itu berarti hakikatnya adalah rahmat. Sebab, dengan kejadian itu orang akan mendapatkan pengalaman yang mahal yang akan mampu menancapkan keyakinan.

Yang terpenting. Agar kekecewaan tidak terulang sepanjang zaman, maka harapan harus dikondisikan. Sebab, arak kehidupan memang selalu memabukkan. (05-2006)

renungan

Bait-bait puisi diatas adalah sebuah potret kehidupan masa kini. Merupakan hasil renungan hati orang tua yang sedang kebingungan. Dimana antara yang benar dan yang salah sudah membaur di dalam satu kemasan, hingga para awam sulit membedakan. Masing-masing orang mengaku menjadi pahlawan, namun anehnya, ternyata mereka malah melakukan perampokan. Bahkan lebih jahat lagi, perampokan itu dilakukan di atas meja kantor sendiri, dilakukan secara sistematis dan terencana. Yang lebih parah lagi, ternyata hal itu jauh-jauh sudah dilegalkan dengan SK Raja yang sedang berkuasa.

Apakah manusia sudah kehilangan hati nurani, sehingga dengan perbuatan seperti itu mereka tetap saja merasa tidak bersalah, padahal jelas-jelas ada yang dirugikan, uang rakyat, uang mereka sendiri yang seharusnya mereka jaga, dan dengan tugas itu mereka mendapatkan kepercayaan dan bayaran dari rakyat pula. Apakah masing-masing kita memang harus berfungsi sebagai “pagar makan tanaman”..? Seandainya masing-masing kita mau merasa bersalah saja, barangkali keadaan negara dan bangsa ini masih memungkinkan dapat diharapkan menjadi baik, kalau tidak, entahlah apa yang akan terjadi nanti.

Demikian itu bisa terjadi, barangkali karena masing-masing manusia sudah jauh dari sinar kehidupan yang hakiki. Ilmu yang dimiliki hanya ilmu yang di luaran saja. Hanya hasil olah akal yang kadang-kadang sempat dikolaborasikan dengan dorongan hawa nafsu dan setan. Akibatnya, maka hukum rimba berlaku dimana-mana. Siapa yang kuat dan berkuasa, merekalah yang akan memenangkan perkara, sedangkan yang tidak punya apa-apa harus siap menderita, meringkuk di dalam sel penjara dalam waktu yang lama, meski mereka meronta bakal tiada guna, karena memang harus ada kambing hitam yang dikorbankan, sebagai “tumbal balak”, supaya yang masih punya kesempatan bisa menambah kepuasan. Jauh-jauh Rasulullah saw. telah memberikan peringatan dengan sabdanya:

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : سَيَأْتِى زَمَانٌ عَلى أُمَّتِى يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَآءِ وَ الْفُقَهَاءِ . فَيَبْتَلِيْهِمُ الهُُ تَعَالى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ . أَوَّلُهَا يُرْفَعُ الْبَرَكَةُ مِنْ كَسْبِهِمْ . وَالثَّانِيَةُ يُسَِلّطُ الهُُ تَعَالى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا . وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ إِيْمَانٍ

“Akan datang suatu zaman atas umatku, mereka meninggalkan para Ulama’ dan para Bijak, maka Allah akan menimpakan ujian kepada mereka dengan tiga ujian. pertama: Dicabut barokah dari kasabnya. kedua : Dikuasakan kepada mereka penguasa yang dholim. ketiga : Mati dengan tidak membawa iman”.

Oleh karena terlebih dahulu mereka telah lari dari hidayah kehidupan, maka di setiap ada kesempatan, setan segera datang menerkam, hingga hidup mereka tidak membawa keberkahan, selalu diliputi kesusahan, karena mereka mendapatkan penguasa yang dholim yang tidak berprikemanusiaan dan akhirnya mati di dalam kehinaan, baik di dunia mapun di akhirat dalam kesengsaraan. Dewasa ini, komunitas manusia menjadi tidak ada bedanya dengan kumpulan serigala, siapa perbuatan salahnya kelihatan akan dimangsa bersama, tidak peduli itu siapa dia, walau pimpinan yang dahulu telah berjasa. Wal ‘iyaadzu billah.

Ketidakadilan telah merata dimana-mana, itulah yang memang dikehendaki oleh sebagian manusia. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya ketikadadilan itu telah dibudayakan, bahkan sejak kehidupan murid masih di bangku sekolahan tingkat dasar. Murid-murid itu bahkan dijadikan ajang pasar dadakan, setiap perusahaan bisa menawarkan barang dagangan di sekolahan, asal para guru dan kepala sekolah mendapatkan bagian keuntungan. Bahkan pejabat pemerintahan telah berkonspirasi untuk melakukan korupsi, bersama pemilik penerbit buku dan percetakan, memanfaatkan pergantian tahun ajaran, mereka bersama-sama menjual buku pelajaran dengan sistem paksaan yang sengaja dibudayakan.

Sebagian besar manusia hanya mementingkan diri sendiri, diperbudak oleh kehidupan duniawi, maka harta benda adalah tuhannya yang hakiki. Oleh karena itu, kalau sudah terjadi persaingan, baik di dunia bisnis maupun politik, tidak peduli lagi walau yang menjadi saingan adalah mertua sendiri, asal disitu orang memenangkan kesempatan, bahkan orang tuapun tetap dilahap dan dihabisi oleh ambisi pribadi.

Supaya ilmu yang dimiliki tidak menjadi jauh dari hidayah Allah Ta’ala, maka hadits Nabi saw. dibawah ini memberikan jalan keluar dan penyelesaian.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْفَظَ الْعِلْمَ فَعَلَيْهِ أَنْ يُلاَزِمَ خَمْسَ خِصَالٍ : اَلاُوْلى صَلاَةُ اللَّيْلِ وَلَوْ رَكْعَتَيْنِ . وَالثَّانِيَةُ دَوَامُ الْوُضُوْءِ . وَالثَّالِثَةُ إتقوى فِى السِّرِّ وَالْعَلاَنِيَّةِ . وَالرَّابِعَةُ أَنْ يَأْكُلَ لِلتَّقْوى وَلاَ لِلشَّهَوَاتِ. وَالْخَامِسَةُ اَلسِّوَاكُ .

Rasulullah saw. bersabda: “ Barang siapa yang ingin menjaga ilmu yang ada pada dirinya, ia harus melaksanaan lima kebiasaan : Satu : Sholat malam walaupun hanya dua raka’at. Dua : Dawaamul wudhu’ (menjaga kesucian). Tiga : Takut kepada Allah baik dalam kondisi sepi maupun ramai. Empat : Makan hanya untuk kepentingan takwa, bukan menuruti nafsu syahwat. Lima : Bersiwak”.

Bukan ilmu itu saja yang harus dijaga dengan pemeliharaan yang baik, namun juga hidayah Allah yang menyertai ilmu itu. Hidayah itu harus dijaga dengan pendekatan diri kepada yang memberikan hidayah, Allah Subhanallahu Ta’ala.

Maka orang harus dekat kepada para Ulama sejati, karena disana ada pencerahan hakiki, baik melalui tutur kata maupun do’a-do’a yang dipanjatkan setiap hari, menjadi penyejuk hati dan pengingat diri, agar hawa nafsu dapat terkendali dan setan tidak memperdaya diri. Seperti filter yang menyaring kotoran, sehingga hati selalu dalam penjagaan dan pemeliharaan, karena Allah Ta’ala telah menurunkan pertolongan. Demikianlah sabda Nabi saw. menegaskan:

جُلُوْسُ سَاعَةٍ عِنْدَ الْعُلَمَآءِ أَحَبُّ إِلى اللهِ مِنْ عِبَادَةِ اَلْفِ سَنَةٍ

“Duduk sesaat di tengah-tengah para Ulama’ lebih disukai oleh Allah dari pada ibadah sendiri seribu tahun”.

Ketika Ulama sudah waktunya harus kembali mendatangi panggilan Ilahi, seperti lampu yang telah dipadamkan pada malam hari, maka alam kehidupan akan menjadi gelap gulita kembali. Akibatnya, ketidakadilan terjadi dimana-mana karena orang tidak dapat mempergunakan mata, kemudian manusia menjadi semakin liar karena orang takut tidak mendapatkan bagian. Hingga akhirnya orang saling berusaha membunuh kawan, jika tidak demikian, takut terbunuh duluan. Kalau sudah demikian, berarti ambang kehancuran sudah berada di pintu gerbang. Contoh akibat ketikadadilan, maka kantor dan pendopo Bupati Tuban, yang dibangun dengan uang rakyat telah menjadi korban kebrutalan, dibakar amuk masa karena rakyat merasa dikecewakan oleh penguasa yang sedang berjaya.

مَوْتُ الْعَالِمِ مَوْتُ الْعَالَمِ
“Matinya Ulama’ adalah matinya alam”.

Oleh karena itu, orang harus punya rasa penyesalan, mengapa mereka selama ini jauh dari kebaikan, lupa diri sehingga meninggalkan Ulama yang telah menjadi panutan. Karena penyesalan itu bisa menjadi penawar, bagaikan angin yang mengusir awan mendung yang bergantungan, ketika ulama-ulama itu memang harus pergi duluan, dengan penyesalan itu supaya orang menjadi ingat kepada apa yang sudah ditinggalkan.

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يخزن يموت عَالِمٍ إِلاَّ كَتَبَ اللهُ تَعَالى لَهُ ثَوَابَ اَلْفِ عَالِمٍ وَاَلْفِ شَهِيْدٍ

” Barang siapa merasa bersedih dengan matinya Ulama’, akan ditetapkan baginya pahala seribu Ulama’ dan seribu Syuhada’”.

** Hadits-hadits Nabi saw. diambil dari kitab Durrotun Nasihin **

(malfiali, Nofember 2008)

CERFIK (cerita fiktif) ‘Balada Orang Tidak Punya Dosa’

Posted in cerita dengan kaitan (tags) on 15 November 2008 by malfiali

Cerita Fiktif

CERFIK (cerita fiktif) ‘Balada Orang Tidak Punya Dosa’

Konon…Gus Fat (Muhammad Fathul ‘Alam). adalah seorang anak yang sejak kecil hidup di lingkungan Pondok Pesantren Salaf. Karena Gus Fat adalah anak bungsu Kyai Imam (Imamuddin) Pengasuh Ponpes “Nurul Ulum” yang ada di Desa terpencil di pinggiran kota di Jawa Tengah.

Setelah menginjak usai remaja, bersama saudara yang lain, Gus Fat harus hidup di Pondok Pesantren tetangga kota, yang dulu juga pondoknya Kyai Imam, guna membekali diri dengan ilmu agama yang cukup, supaya nantinya menjadi orang yang mumpuni. Demikianlah tradisi para anak Kyai.

Setelah menyelesaikan masa belajar yang dibutuhkan. Kitab kuning yang ada semua sudah dikuasai di luar kepala. Gus Fat kemudian hidup lagi di Ponpes di rumahnya karena harus meneruskan tugas orang tua yang sudah keburu di panggil menghadap Allah Ta’ala. Mengajar para santri bersama saudara-saudara yang dahulu tinggal satu asrama.

Praktis Gus Fat dan saudara-saudaranya merupakan orang-orang suci, seperti malaikat yang terjaga dari kotoran basyariyah. Karena selama hidupnya tidak pernah berbuat dosa dan maksiat. Bahkan tersentuh hiruk pikuk kehidupan kotapun tidak. Memang mereka adalah orang-orang yang alim dan tekun beribadah. Kalau sedang bepergian ke luar kota misalnya, paling-paling hanya bersilaturrahim ke rumah sesama teman satu pondok yang sudah sama-sama menjadi Kyai, atau zairah ke makam para Wali.

Sopping ke Mall pun rasanya “wagu”, masak ke Mall kok pakik sarung. Memang Gus Fat tidak pernah pakai celana. Setiap hari, baik di Ponpes maupun ke luar rumah selalu memakai sarung dan pecis. Bahkan kadang-kadang memakai jubah dan serban seperti Kyai Imam dahulu. Terlebih ketika sedang mengasuh pengajian yang diikuti orang ribuan.

Setelah menjadi seorang Kyai yang Alim dan ternama, Guf Fat dengan saudara-saudaranya disamping menjadi pimpinan Ponpes, juga diharapkan menjadi pimpinan Umat yang mampu menggalang Ukhuwah Islamiyah. Meneruskan kepemimpinan Abahnya dahulu, yang juga ikut memikirkan kehidupan Umat melalui jalur politik praktis. Menjadi sesepuh partai politik yang cukup besar di Tanah Air Tercinta.

Namun, akhir-akhir ini keadaan Gus Fat dan saudaranya malah menjadi sumber penyebab perpecahan di lingkungang keluarga besar Ponpes “Nurul Ulum”. Pasalnya, mereka mulai menampakkan berebut kekuasaan di dalam mengelola aset Ponpes peninggalan orang tua itu. Karena sesama saudara ingin menjadi yang paling berkuasa.

Akibatnya, ketika para pengurus dan para santri menjadi bingun melihat pertikaian antara para pengasuh muda yang sama dihormat itu tidak juga berkesudahan, akhirnya mereka menjadi bubar. Masing-masing santri memilih boyong atau pindah pondok lain dengan membawa penyesalan yang mendalam. Padahal sebenarnya mereka masih kerasan menimba ilmu Agama di Ponpes “Nurul Ulum” itu, namun mereka jadi ndak enak. Pasalnya, kalau ikut ngaji ke Gus Fat, saudara yang lain menjadi marah, demikian pula sebaliknya. Sehingga akhirnya, pengajian yang diadakan di Ponpes itu menjadi sepi. Semua santri takut ikut mengaji, karena masing-masing takut kepada Kyai muda yang sama-sama disegani.

Terakhir, Ponpes yang dahulu dibangun dengan jerih payah orang tua bersama masyarakat Desa dengan kucuran keringat dan darah itu, kini menjadi sepi. Seperti rumah hantu di pinggir kali, karena ditinggal para penghuni melarikan diri.

Tanpa Dosa

Tidak hanya sampai disitu saja. Ketika para orang suci itu sudah menjadi pimpinan umat. Menjadi sesepuh organisasi politik yang dibanggakan masyarakat. Ilmu agama yang ditekuni selama hidup itu ternyata tidak juga mampu menguasai hawa nafsu yang sudah terbiasa mendorong semangat. Sehingga, ketika mereka saling berebut pengaruh dan kekusaan lagi, seperti dahulu di lingkungan Ponpes yang sudah ditinggal penghuni, bahkan sekarang lebih meluas karena saingan sesama Kyai semakin memanas. Yang satu memihak ke kanan yang satunya lagi memihak ke kiri, padahal kanan dan kiri adalah sama-sama mantan santri. Maka masyarakat awam menjadi kebingungan. Pimpinan yang mana yang harus diikuti, karena yang ke kanan dan yang ke kiri sama-sama Kyai yang harus dihormati. Hasilnya, disamping persatuan jama’ah menjadi terpecah belah, hingga kaca kantor yang tidak ikut bersalah menjadi sasaran amuk masa, juga di dalam organisasi masa yang dibangun orang-orang suci itu ternyata paling rentan terjadi kemunafikan dan ajang adu domba.

Barangkali karena orang-orang suci itu tidak pernah merasa mempunyai dosa sehingga tidak pernah merasakan pahitnya penyesalan hati karena dirundung duka, maka kemuliaan hakiki yang selama ini menerangi hidup seakan tidak ada harga. Kehormatan silsilah dipertaruhkan hanya untuk berebut pengaruh dan mencari kekuasaan dunia. Mereka lupa diri, juga kepada sanak saudara dan teman-teman di pesantren yang dahulu satu gotaan(kamar). Bahkan kepada mantan santri yang dahulu pernah dididik, ketika kini sama-sama saling berebut kekuasaan, mereka tidak perduli, semua disikat habis karena dianggap menjadi lawan saingan. Mereka masing-masing mengatasnamakan kepentingan persatuan dan persaudaraan, padahal hasilnya ternyata malah mencabik-cabik keutuhan umat yang dahulu dibangun oleh nenek moyang.

Jika sekiranya mereka pernah merasakan sakitnya penderitaan hidup. Terpelosok di jurang kehinaan karena harus menebus dosa yang pernah dihirup. Di malam-malam sepi menyungkurkan kepala dengan muka tertelungkup. Bersujud di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa, malu dan menyesal karena takut mendapatkan murka sehingga pintu surga ditutup. Maka barangkali mereka lebih mampu berhati-hati. Menahan diri dari pengaruh hawa nafsu yang selalu menggerogoti hati. Yang dapat menjadikan lupa diri sehingga hati kembali menjadi mati. Mereka seharusnya mampu menasehati para santri yang selalu ingin bersembunyi di balik jubah Kyai. Membimbing orang-orang yang suka memanfaatkan kharisma Ulama dan Kyai hanya karena nunut kamukten dan mencari kedudukan pribadi.

Orang Tidak Punya Dosa

Seharusnya orang-orang suci itu mampu menjadi panutan. Meredam gejolak hawa nafsu mantan santri yang terkadang memang cenderung kebablasan. Memberikan contoh bagaimana cara mengalahkan saingan dengan cara yang cantik dan menawan. Tidak malah ikut berperang di lapangan, saling gonto-gontoan di Pengadilan sehingga menjadi sumbu perpecahan. Lupa teman seperjuangan yang sekarang sedang menjadi pesakitan. Yang bisanya hanya menonton di rumah sambil menunggu surat panggilan dengan hati degdegan.

Namun ironisnya, masih ada saja yang malah memamerkan kemunafikan yang terlanjur menjadi tradisi. Mengumbar statemen yang berkesan membabi buta dan tidak tahu diri. Katanya mau mendirikan Negara tandingan padahal sudah tidak mempunyai mentri.
Akhirnya, musuh bebuyutan yang ada di luar pagar hatinya senang tidak ketulungan. Memanfaatkan kesempatan untuk menebarkan jaring menampung laron-laron malang yang lari kesana kemari karena kehilangan induk semang. Sambil bersiul mereka membatalkan semangat kebangkitan. Dengan menjatuhkan palu keputusan di meja makan, mengadu sang domba yang sedang berebut makanan. Sehingga orang-orang suci itu ikut menjadi barang murahan. Dimanfaatkan setiap kepentingan, diajak makan barang haram. Menjual umat dengan iming-iming jabatan. Menjadi calon wakil pejabat Negri karena orang suci itu mempunyai umat ribuan. Namun, ketika tidak jadi terpilih, maka sekarang mereka tinggal gigit jari tangan.

Itulah yang sedang marak.
Menjadi tradisi yang membingungkan orang awam.
Dimana-mana para anak orang suci itu berlomba mencalonkan diri jadi calon wakil pahlawan. Mereka lupa siapa kawan siapa lawan meski tidak punya uang.

Maka Fenomena mengirim peringatan. Barangkali karena masing-masing manusia tidak juga merasa mempunyai dosa, maka gunung dan laut ikut ambil bicara, juga bumi Sidoarjo yang asalnya ramah ikut menyuarakan isi dada. Menyatakan duka dengan lahar, gempa dan lumpur yang berbahaya. Agar manusia ingat asalnya dan kembali kepada Tuhannya.

*) Ini hanyalah cerita fiktif, sekedar ilustrasi untuk menghibur hati yang sedang sedih. Jika di dalamnya terdapat nama yang sama dengan nama seseorang, maka itu hanya terjadi secara kebetulan. (malfiali, Nofember 2008-11-13)

RAHASIA SUMBER INAYAH 1 (Figur Sang Kholifah)

Posted in cerita dengan kaitan (tags) on 15 November 2008 by malfiali

Sumber Inayah

RAHASIA SUMBER INAYAH 1 (Figur Sang Kholifah)

Berangkat dari pemikiran bahwa manusia adalah seorang “kholifah bumi”. Pengganti Allah di muka bumi, baik untuk melaksanakan ketetapan dan siksa maupun menebarkan rahmat kepada seluruh makhluk yang ada di alam semesta, kunci-kunci rahasia keberhasilan bumi itu sejatinya sudah berada di tangan para kholifah bumi zamannya tersebut.

Itulah manusia-manusia pilihan yang “fungi kekholifaannya” sudah berjalan sempurna. Merekalah sumber inayah bumi itu, mereka bertugas membagikan kunci rahasia keberhasilan bumi itu kepada para ahlinya. Mereka membagi ‘rahmat azaliah’ tersebut melalui dzikir maupun mujahadah yang mereka lakukan, terlebih melalui do’a-do’a yang setiap hari setiap malam mereka panjatkan kehadirat Rabbul Izzah. Do’a-do’a tersebut mereka pancarkan semata-mata sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang  kepada umat manusia.

Ibadah khusus yang mereka lakukan itu, bukan hanya untuk memikirkan kepentingan hidup mereka sendiri bersama keluarganya saja, namun juga sebagai bentuk kepedulian hati kepada umatnya, baik yang berkaitan urusan dunia, terlebih urusan akhirat, yang kadang kala bahkan sampai melupakan kebutuhan mereka sendiri.

kyai-sepuh-dan-kyai-muda

Tidak hanya itu saja, mereka bahkan tidak pernah melangkahkan kaki untuk bepergian ke suatu tempat, kecuali dalam rangkah melaksanakan kepedulian tersebut. Seakan-akan mereka tidak mempunyai rasa capek, lima hari dalam satu minggu keliling antar kota dan antar profensi bahkan pergi ke Negara tetangga, sekedar di tempat-tempat itu ribuan umatnya sudah menunggu kucuran rahmat Allah Ta’ala yang akan dikucurkan melalui majlis-majlis dzikir dan do’a yang mereka selenggarakan bersama.

Setiap mereka datang di suatu tempat, puluhan ribu bahkan ratusan ribu manusia tumpah ruah membanjiri majlis dzikir yang mereka selenggarakan. Baik dari kalangan masyarakat awam, para ilmuwan, para pengusaha, para pejabat bahkan para ulama dan haba’ib, serentak mereka turut hadir dalam acara tersebut. Ajang pertemuan manusia yang mereka selenggarakan dimana-mana itu, bukan untuk melaksanakan demontrasi kepada pemerintah terlebih untuk berbuat anarkis, namun semata-mata untuk berdzikir bersama dan munajat kepada Allah Ta’ala. Dengan yang demikian itu, maka tempat yang asalnya tandus dan kering dari aqidah islamiyah dan ajaran agama, dalam waktu relatif singkat kemudian menjadi subur makmur dengan penuh keimanan dan kedamaian. Sejarah telah mencatat keberadaan mereka.

Mereka itu adalah para guru mursyid sejati yang suci lagi mulai yang sepanjang usianya hanya dimakmurkan di dalam pengabdian yang hakiki kepada Tuhannya. Dari zaman dahulu sampai sekarang, mereka telah mampu memberikan contoh dan suri teladan yang baik kepada sejarah perkembangan umat manusia di bumi tercinta ini, Indonesia. Rahasia ‘kunci ijabah’ Allah itu tampak nyata di dalam keseharian hidup mereka. Hal itu ditandai, dari segala penjuru tempat orang-orang datang untuk tabarrukan kepada mereka. Masing-masing mencurahkan kesusahan hati. Bahkan hanya sekedar mau memberi nama kepada anaknya yang baru lahir saja, jauh-jauh mereka datang minta dicarikan nama yang baik untuk anaknya. Semua yang datang itu ingin urusan hidupnya segera mendapatkan jalan keluar dan pertolongan dari Allah Ta’ala. Namun, sebagian besar orang-orang yang susah itu terkadang tidak pernah mempedulikan kesusahan hati mereka.

mawar

Meskipun demikian, para orang suci itu tetap meladeni umatnya dengan tulus dan penuh kasih sayang. Bahkan pernah suatu ketika di saat sang mursyid yang mulia itu sedang sakit cukup parah, sehingga dalam beberapa hari beliau tidak kuat untuk berdiri. Namun jarum infus yang menancap ditangannya dicabuti sendiri, sekedar karena puluhan ribu manusia saat itu sudah menunggu di majlis Khoul yang harus beliau pimpin. Dengan menahan sakit yang teramat sangat sehingga harus berjalan dengan kursi roda, beliau tidak memperdulikan diri, tetap memaksakan diri untuk hadir di tengah-tangah umat yang dicintainya itu.

Oleh karena hati yang suci itu sudah sekian lama dihadapkan kepada Allah Ta’ala untuk memikirkan kepentingan umatnya, maka ketika tangannya menengada kelangit untuk mendo’akan umatnya itu, seperti gemuruh air hujan yang diturunkan dari langit, segera saja Allah menurunkan ijabah bagi do’a-do’a suci tersebut. Hal itu bisa terjadi, karena kunci rahasia ijabah itu sudah lama tinggal di dalam hati yang mulia itu. Di dalam hamparan isi dada yang  air samuderanya tidak pernah keruh walau setiap hari diaduk oleh hiruk pikuk kehidupan. Tidak pernah tercemar meski setiap hari menampung najisnya keberadaban. Tidak pernah basi meski setiap  saat dikerubuti laron-laron dan kupu-kupu zaman. Hati yang tidak pernah kaku dan sombong meski setiap hari duduk di atas permadani kehormatan. Tidak pernah layu meski selalu ditimpah fitnah dan ujian.

Allah Ta’ala yang menurunkan mereka dari langit kamuliaan. Menggantikan pendahulu mereka yang sudah selesai bertugas di dunia fana kemudian meneruskan tugas walayah di alam kelanggengan. Di muka bumi, hati orang suci itu seperti bumi, siap menampung segala kotoran, tapi yang keluar dari hatinya hanyalah kemanfaatan. Dengan mendapat tarbiyah azaliyah sejak usia bayi, bahkan sejak di dalam kandungan ibundah tercinta. Demikian pula ketika mereka telah menginjak usia dewasa.

Namun, tarbiyah azaliyah di usia dewasa itu terkadang wujudnya berupa fitnah-fitnah yang ditebarkan oleh orang-orang yang mereka kenal. Orang-orang yang berada dalam satu pagar halaman. Karena hanya orang-orang tersebut yang berani melakukannya. Adapun orang yang berada di luar pagar halaman merasa takut berbuat jelek kepada mereka, bahkan sekedar menggerakkan perasaan buruk dalam hati. Hal itu bukan karena takut kepada kekuatan dan kekuasaan mereka, tapi kepada kebaikan dan kemuliaan hati yang sudah tampak nyata di tengah kehidupan sehari-hari.

Tulip Kembar

Di saat kesucian hati sang mutiara pilihan itu telah memancarkan sinar yang terang benderang di ufuk zaman. Sehingga dari segala penjuru negri orang datang berbondong-bondong “ngalap berkah” kepadanya. Seperti laron-laron yang mencari kehidupan di sekeliling lampu taman, sehingga dimana-mana akhirnya orang mengetahui keberadaan sang kholifah zamannya itu. Namun demikian, masih saja ada orang yang mengingkari kesucian hati yang mulia itu. Tetap saja orang-orang yang hatinya sudah terlanjur tidak menyukainya itu belum juga mampu mengakui anurgerah azaliyah yang tiada duanya itu. Jika demikian keadaannya, meski orang yang hatinya ingkar itu setiap hari dekat dan bahkan berkumpul dengan sumber inayah tersebut, namun boleh jadi yang mereka dapatkan hanyalah kerugian belaka.

Barangkali orang-orang yang hatinya terlanjur benci itu mengira, bahwa karomah yang demikian besar itu datang dari kemampuan diri pribadi, sehingga mereka menjadi hasud karenanya. Karomah yang didatangkan kepada mereka itu tidak demikian. Bukan sekedar orang punya ilmu yang luas dan pondok pesantren yang besar kemudian mesti memiliki karomah kuat. Tidak demikian. Karomah besar itu hanya didatangkan oleh Allah Ta’ala kepada seorang hamba yang dikehendaki-Nya, semata-mata buah kepedulian hati mereka yang telah mampu diwujudkan dengan pelaksanaan akhlak yang mulia. Seperti siang hari ketika ufuk bumi menjadi terang benderang, itu bukan karena bumi memancarkan sinar, namun saat itu matahari sedang menampakkan senyuman. Oleh karena itu, orang yang membenci sang mursyid itu hakekatnya bukan membenci manusia, tapi membenci Allah Ta’ala atas anugerah yang diberikan-Nya kepada selain dirinya.

Melalui majlis dzikir yang mereka selenggarakan, “sumber inayah” itu akan diturunkan Allah Ta’ala seperti air hujan. Namun demikian, meski hujan itu diturunkan tanpa pilih sasaran, seandainya tangan-tangan tidak ikut menengadah menampung curahan, sampai kapanpun orang tidak akan mendapat bagian. Demikian pula dengan orang-orang yang hatinya telah ingkar itu,  meski setiap hari telingah dan dada mereka digetarkan oleh khotbah yang disampaikan dan dzkir serta do’a-do’a yang dipanjatkan, bahkan mendapatkan bagian kehidupan duniawi karena mereka hidup di bawah naungan kemuliaan hakiki, oleh karena hati terlebih dahulu tidak kenal diri, maka sedikitpun kebajikan hakiki itu tidak menambahkan apa-apa bagi mereka kecuali hanya kerugian yang tidak pernah disadari. Allah Ta’ala menegaskan hal tersebut dengan firmannya yang artinya:

Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian(82)Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.(QS.alIsro’/82-83)

Tidak ada kata yang dapat menggambarkan hakekat mereka
Sang kholifah yang menjadi pelita
Jika sebagian terbaca
Itu hanya yang ada di permukaan kaca
Adapun yang tersimpan dalam hamparan hati mereka
Adalah samudera yang tidak dapat diterka oleh siapa saja
Oleh karena terdapat rahasia tarbiyah azaliyah
Maka hanya Allah yang mampu membaca
Bahkan orangnya sendiri
Terkadang hanya menjalankan titah rahasia
Itulah kekasih yang dikasihi
Tanpa mereka bumi menjadi mati

(malfiali, Nofemben 2008-11-13)

RAHASIA SUMBER INAYAH 2 (Rahmat Allah Di Dekat Orang Ihsan)

Posted in cerita dengan kaitan (tags) on 15 November 2008 by malfiali

Sumber Inayah

RAHASIA SUMBER INAYAH 2 (Rahmat Allah Di Dekat Orang Ihsan)

Dalam kaitan sumber inayah ini, kita akan mengikuti konsep asy-Syeikh Al-Imam Al-Arif Billah, Abi Fadil Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah Al-Assakandary Radliyallaahu ‘Anhu. Di dalam kitab Hikamnya Beliau  berkata:

عَلِمَ اَنَّ العِبَادَ يَتَشَوّفُوْنَ اِلَى ظُهُوْرِ سِرِّ العِنَايَةِ فَقَالَ: “يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشآءُ” وَعَلِمَ اَنَّهُ لَوْ خَلَّاهُمْ وَذَلِكَ لَتَرَكُوْا العَمَلَ اِعْتِمَادًا عَلَى الأَزَلِ, فَقَالَ: اِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ المُحْسِنِيْنَ . اِلَى المَشِيْئَةِ يَسْتَنِدُ كُلُّ شَىْءٍ وَلَا تَسْتَنِدُ هِىَ اِلَى شَىْءِ

Allah mengetahui bahwa sesungguhnya seorang hamba sangat ingin mengetahui tetang kenyataan rahasia “Inayah”, maka Allah berfirman: “Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS:3/74. dan Allah mengetahui apabila mereka dibiarkan begitu saja dengan apa yang sudah difahami, mereka akan meninggalkan amal dan bergantung kepada kehendak azali, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56. Kepada “Kehendak” segala sesuatu itu bersandar dan bukan kepada segala sesuatu “Kehendak” itu bersandar.

Tugas pokok kekholifaan itu ialah, bahwa keberadaan manusia di muka bumi ini harus mampu menjadi sebab sampainya rahmat Allah Ta’ala kepada makhluk lain. Mereka harus mampu menyampaikan sifat rahman – rahim Allah Ta’ala kepada manusia melalui sifat dan karakter yang diterapkan dalam amal pengabdian dan perjuangan hidup yang dijalaninya.

Hadrotusy Syekh RKH Utsman al Ishaqy r.a

Oleh karena itu, tugas seorang kholifah bumi merupakan tugas yang universal. Mereka harus memancarkan Nur Allah Ta’ala melalui pantulan sinar wajah yang sejuk dari cerminan kesucian dan kebersihan lubuk hati. Membangun dan menebarkan sendi-sendi kehidupan di alam persada melalui amal bakti dan akhlakul karimah. Menyampaikan inayah Allah Ta’ala kepada yang berhak menerima melalui inayah yang telah didapatkan dari-Nya. Menyampaikan pertolongan Allah Ta’ala kepada pemiliknya melalui pertolongan yang telah diturunkan kepadanya. Bahkan mengirimkan inspirasi dan ilham kepada hati para pengikut dan anak asuhnya melalui sumber inspirasi dan ilham yang didapatkan dari urusan Rabnya.

Dengan itu, akhirnya seorang kholifah bumi tersebut, dengan izin Allah Ta’ala mampu mendatangkan dan menurunkan hajat kebutuhan umat manusia dari perbendaharaan ghaib yang tersimpan disisi-Nya—baik hajad kebutuhan yang dhohir maupun yang batin—melalui do’a-do’a dan munajat yang dipanjatkan kepada Tuhannya. Untuk itulah Rasulullah Muhammad saw diutus dimuka bumi, melalui pelaksanaan akhlakul-karimah yang terpancarkan oleh prilaku hidup, rahmat Allah Ta’ala kemudian menyebar keseluruh alam semesta.

Tugas risalah itu bukan hanya sekedar membawa agama baru kemudian supaya orang kafir mengikuti agama itu. Tidak demikian. Bahkan jauh lebih dari itu. Yaitu, mengemas agama baru itu dengan kasih sayang dan akhlak yang mulia, supaya dengan itu kehidupan makhluk di muka bumi ini menjadi aman, makmur dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat nanti. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ – الأنبياء:21/107

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. QS.al-Anbiya’.21/107

Itulah rahasia fungsi kekholifaan khusus yang dikhususkan hanya untuk baginda Nabi saw. Melalui nubuwah dan risalah yang diemban, beliau terbukti berhasil menebarkan rahmat Allah Ta’ala kepada alam semesta, baik rahmat dhohir maupun rahmat batin, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan tidak hanya kepada alam manusia saja, tapi juga kepada alam Jin dan alam Malaikat.

Hal tersebut disebabkan, oleh karena manusia merupakan sumber tenaga pengelola potensi bumi, maka dengan agama yang dibawa itu manusia harus menjadi baik. Baik perangai maupun amal perbuatan, supaya kehidupan secara keseluruhan di muka bumi menjadi baik pula. Sebab, apabila manusia jelek maka kehidupan juga akan menjadi jelek dan rusak. Allah Ta’ala menjelaskan dengan firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ – الرم:30/41

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS.ar-Rum.30/41.

Supaya di muka bumi tidak terjadi kerusakan lagi, supaya manusia tidak menanggung akibat kerusakan yang diperbuat itu, maka manusia terlebih dahulu harus dibuat menjadi baik, terutama hatinya. Untuk itulah agama diturunkan dan seorang Nabi, baik sebagai pemimpin (qudwah) maupun sebagai panutan (uswah) diutus ditengah-tengah manusia. Apabila hati manusia telah menjadi baik maka seluruh angota tubuhnya akan menjadi baik yang selanjutnya kehidupan di muka bumi akan ikut menjadi baik pula.

Mawar

Sejak terutusnya baginda Nabi saw. sampai sekarang, sejarah telah membuktikan, dari tanah yang tandus dan gersang itu menyebar kemakmuran ke segenap pelosok dunia. Bahkan kehidupan manusia di seluruh belahan bumi ini, hampir-hampir bergantung kepada benda yang dihasilkan oleh perut bumi dimana saat itu baginda Nabi saw menjalankan aktifitas hidup dan perjuangan. Itulah sunnah yang ada, bahwa keberkahan Allah Ta’ala yang tersimpan di dalam perbendaharan ghaib mampu tergali dan terpancarkan kepada alam lahir melalui rahasia keberkahan hati dan prilaku yang tersimpan di dalam akhlakul karimah yang agung itu. Hanya Rasulullah Muhammad saw. yang dapat berbuat demikian karena baginda Nabi saw. adalah seorang kholifah bumi sepanjang zaman. Beliau bukan hanya diutus untuk suku bangsanya sendiri sebagaimana para rasul dan para Nabi terdahulu, akan tetapi juga untuk umat manusia secara keseluruhan.

Bahkan sebelum lahir beliau saw. sudah dijadikan wasilah di dalam do’a-do’a yang dipanjatkan oleh orang-orang yang menunggu kedatangannya. Namun demikian, ketika beliau telah hidup dan berada ditengah-tengah kehidupan masyarakat, sebagian besar orang yang menunggu kedatangan Beliau itu ternyata ada yang mengingkari tugas dan fungsi Nubuwah tersebut, bahkan sampai sekarang. Mengapa hal tersebut bisa terjadi, karena hanya sedikit orang yang benar-benar mengerti tentang fungsi kekholifaan itu, hingga jarang sekali dari mereka dapat memanfaatkan kakholifaan itu untuk kepentingan hidup dan kehidupan mereka sendiri.

Kebesaran dan kekhususan fungsi keholifaan itu tergambar dari pernyataan Allah Ta’ala dengan firman-Nya, yakni Allah SWT. mencurahkan rahmat dan keselamatan kepada beliau dan selanjutnya para malaikat-Nya, kemudian orang-orang beriman diperintah untuk menggapai rahmat itu dengan membaca sholawat kepada  Beliau. Allah SWT. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا – الأحزاب:33/56

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. QS.al-Ahzab.33/56.

mawar

Adakah rahmat yang lebih besar dari itu ?. Satu-satunya pernyataan Allah Rabbul Alamin yang tidak pernah diberikan-Nya kepada siapapun selain beliau, bahkan sekalipun kepada para malaikat-Nya. Hanya Rasululllah Muhammad saw. satu-satunya manusia yang dipilih oleh Allah Ta’ala untuk menyebarkan rahmat-Nya kepada alam semesta ini. Bahkan bukan di alam dunia saja, namun juga di alam akhirat nanti. Hanya baginda Nabi s.a.w satu-satunya manusia yang mendapatkan hak untuk memberikan syafa’at kepada umat manusia secara keseluruhan. Syafa’at tersebut merupakan rahmat Allah Ta’ala terbesar dan terakhir setelah hari kiyamat sebelum manusia ditempat di neraka atau di surga. Dengan syafa’at ditangan tersebut, baginda Nabi saw. menyelamatkan bayak orang—yang berhak menerima—dari siksa neraka jahanam di hari kiyamat nanti.

Bahkan ditengah-tengah umat yang mengingkari kenabiannya, semasa hidupnya keberadaan beliau mampu menjadi sebab tertahannya siksa Allah Ta’ala yang semestinya ditimpahkan kepada orang-orang yang berbuat dosa. Siksa tersebut tidak jadi diturunkan di dunia semata-mata karena orang yang seharusnya mendapat siksa itu hidup dalam satu zaman dengan Baginda Nabi s.a.w. Demikian yang dinyatakan di dalam hadits Nabi saw.:

حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ أَبُو جَهْلٍ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ فَنَزَلَتْ ( وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ) إِلَى آخِرِ الْآيَةِ *

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a berkata: Abu Jahal berdoa: Wahai tuhanku sekiranya al-Quran ini benar datang dari sisi-Mu, maka turunkanlah hujan batu dari langit atau timpakan kepada kami siksaan yang pedih. Lalu turunlah ayat

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Yang artinya: Dan Allah tidak sekali-kali akan menyiksa mereka, sedangkan engkau wahai Muhammad ada di antara mereka dan mengapa mereka tidak patut disiksa oleh Allah sedangkan mereka menghalang-halangi orang-orang Islam dari Masjidil Haram. hingga akhir ayat.

•    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an hadits nomor 4281. •    Riwayat Muslim di dalam Kitab Suasana Hari Kiyamat, Surga Dan Neraka hadits nomor 5004.

Abu Jahal dan orang-orang kafir Qurais yang suka menghalangi orang mu’min beribadah di masjidil haram, dengan dosa-dosa mereka perbuat, mestinya pantas mendapatkan siksa di dunia. Namun, oleh karena masa hidup mereka dalam satu zaman dengan Rasulullah saw. siksa tersebut tidak diturunkan. Hal itu menunjukkan demikian besarnya fungsi kekholifahan Rasulullah saw., padahal orang-orang yang diselamatkan dari siksa itu sama sekali tidak pernah menyadari. Demikian pula ketika fungsi kekholifahan itu diwariskan kepada pewaris-pewarisnya, maka salah satu fungsi kholifah bumi zamannya tersebut juga demikian. Yakni menjadikan tertahannya siksa dan musibah di dunia. Hal tersebut semata karena Allah Ta’ala mencintai para kekasihnya. Memberi kesempatan kepada mereka untuk berbuat benah-benah dan mengajak umatnya untuk kembali bertaubat kapada-Nya.

Merupakan keseimbangan yang diharuskan dalam sistem kehidupan alam, sebagai sunnahtullah yang tidak pernah ada perobahan untuk selamanya, manakala kebajikan masih mampu mengimbangi kemungkaran, meski kemungkaran tersebut terang-terangan dilakukan orang, menunjukkan bahwa kehidupan bumi belum waktunya harus dihancurkan. Namun ketika kemungkaran sudah tidak dapat diimbangi oleh kebajikan, maka tanpa dihancurkan sekalipun bumi itu akan hancur dengan sendirinya.

berdoaOleh karena itu, kebaikan hakiki itu harus ada di muka bumi. Yakni berupa keikhlasan hati yang selalu memancarkan rahmat melalui do’a-do’a malam yang didawamkan. Apabila di suatu tempat telah ditinggalkan oleh manusia utama itu, sehingga pelita malam yang memancar dari misykat hati tersebut menjadi padam, maka tanah di tempat itu seketika menjadi tandus dan gersang, karena langit enggan munurukan hujan. Itulah bagian dari fungsi seorang kholifah bumi zamannya. Manusia utama itu tidak lain adalah guru-guru mursyid yang suci lagi mulia dan para kekasih Allah yang dirahasiakan. Meski tampa diminta, dimana saja mereka berada selalu menjadi penyeimbang kehidupan. Siksa dan musibah yang semestinya diturunkan akibat dosa-dosa yang dilakukan manusia, menjadi tertahan karena kesucian hati yang selalu implementasikan dalam pengabdian.

Kalau toh ternyata bagian kecil dari siksa itu diturunkan juga di muka bumi, berupa musibah gempah bumi atau tsumani misalnya, itu sejatinya hanya sekedar peringatan bagi orang yang beriman. Supaya orang yang berbuat dosa itu mau bertaubat kepada Allah Ta’ala. Namun, apabila dengan peringatan itu tetap saja manusia tidak mau sadar, dan ketika kelompok manusia di satu negri tersebut sudah pantas menerima siksa di dunia, maka tanpa kecuali, semua manusia ikut merasakan akibatnya. Oleh karena itu, amar ma’ruf nahi mungkar harus selalu ditegakkan, jika tidak, maka jangan diharap bumi akan bertahan dalam kemakmuran. (malfiali, Nofember 2008-11-13)