
SEHARI BEDAH BUKU DAN BEDAH KEHIDUPAN
Segala puji bagi Allah Ta’ala yang menghidupkan hati hamba-hamba-Nya yang beriman dengan Ilmu dan Hidayah, menunjuki jalan lurus dan memberikan pertolongan guna menindaklanjuti jalan itu untuk beramal sholeh dalam rangka melaksanakan pengabdian hakiki kepada-Nya, maka jadilah, seorang hamba yang awalnya tidak tahu apa-apa menjadi mengerti, yang awalnya dho’if menjadi kuat, yang awalnya hina menjadi mulia, menjadi makluk sempurna (Insan Kamil). Menjadi manusia yang mampu menapak kehidupan ke depan, mampu melawati segala rintangan dan menundukkan tantangan untuk mencapai segala cita-cita dan harapan. Sholawat dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Habiibinaa, Baginda Rasulullah SAW, Para Keluarga dan Sahabat serta Pengikut-Pengikutnya sampai hari kiamat, semoga Allah meridhoi mereka.
Manusia yang terlahir tidak tahu apa-apa dan papa, dalam menjalani hidup dan kehidupannya, meski dilengkapi dengan penglihatan, pendengaran, akal dan pikiran yang sehat, namun terkadang kebanyakan cenderung terjebak dalam kebutaan matahati. Tidak memiliki kreasi dan kecerdasan batin serta kepekaan rasa terhadap proses romantika kehidupan yang sedang dijalani, terlebih daya cipta untuk meningkatkan taraf kehidupan, sehingga menjadi manusia yang cenderung bermalas-malasan, jumud dan kurang produktif, bahkan sebagian mereka malah berbuat khianat, berbuat kerusakan di muka bumi dan menzalimi diri sendiri, hal itu sebagi akibat karena mereka itu kurang memiliki pandangan masa depan yang cemerlang terhadap akibat perbuatan yang dilakukan. Itu bisa terjadi, karena sebagian besar manusia, kesibukannya dalam mengelola kehidupan duniawi yang sementara ini hanya dilakukan atas dasar nafsu syahwat dan akal belaka sehingga kering dari inspirasi dan jauh dari sumber Intuisi.
Dengan ilmu dan amal sholeh yang benar, sesungguhnya manusia berpotensi menjadi makhluk sempurna “Insan Kamil”, menjadi manusia yang sehat lahir dan batinnya, menjadi kholifah Allah di muka bumi. Lahirnya penuh dengan inspirasi dan batinnya dekat dengan sumber intuisi, namun itu manakala ilmu dan amal sholeh tersebut mencakup dua aspek, yakni ilmu lahir dan ilmu batin, amal sholeh lahir dan amal sholeh batin. Untuk mencapai hal tersebut, pengamalan ilmu dan pelaksanaan amal sholeh harus terbimbing oleh guru ahlinya. Untuk itulah, maka manusia tidak boleh cepat puas hanya dengan ilmu dan pemahaman yang telah dimiliki, melainkan harus terus rajin belajar, menambah ilmu pengetahuan, mengadakan pengamatan dan penelitian, memadukan ilmu lahir dengan ilmu batin, mempertemukan konsep bumi dan konsep langit, memadukan ayat-ayat yang tersurat dengan ayat-ayat yang tersirat.
Ilmu yang sudah didapat harus diamalkan dengan sungguh-sungguh, tapi bukan dalam arti hanya untuk diajarkan kepada orang lain saja sehingga dengan itu orang berilmu tersebut mendapatkan sumber kehidupan, melainkan diterapkan dalam kehidupan, membaca realita dan fenomena dengan pikiran positif dan benar tanpa salah prasangka. Padahal semua orang tahu bahwa kehidupan ini tidak ubahnya seperti samudera lepas tanpa tepi, tidak selalu tenang dan damai, bahkan lebih sering bergolak tidak terkendali. Untuk menyikapi hal tersebut, tentunya manusia tidak cukup hanya membekali dirinya dengan ilmu yang lahir saja, melainkan harus dibarengani dengan hidayah dan pertujuk yang tiada henti, hidayah dan petunjuk Allah itulah yang dimaksudkan dengan intuisi, karena tanpa intuisi mustahil manusia mampu menerbitkan daya cipta pada dirinya sendiri. Meminjam ungkapan para ahli, tanpa ispirasi dan intuisi keberadaan manusia di muka bumi ini tiada arti.

Akhirnya, ketika seorang salik telah berhasil membangun jati dirinya sebagai “Insan Kamil”, menjadi kholifah bumi, “Kholifatulloh Fil Ardhi”, maka keberadaannya di muka bumi tidak sia-sia, menjadi pribadi yang produktif dan penuh daya cipta dan bahkan jadi seperti pelita yang memancarkan sinar. Menjadi manusia utama yang tidak hanya mampu menerangi jalan bagi para musafir jalanan saja, namun juga menarik laron-laron nakal untuk berkumpul dan mencari jalan kehidupan di dalam komunitas yang berhasil dibangunnya. Itulah para Insan Mulia, dimana saja mereka berada mampu membagi rahmat Allah bagi yang berhak menerima, sebagaimana telah dilakukan oleh para pendahulu mereka, para tokoh hidupan yang hasil karyanya masih dapat kita nikmati sampai sekarang karena telah berhasil mengikuti uswatun hasanah yang utama, yakni Habiibinaa Baginda Nabi Muhammad SAW.
Semarang, 5 Nofember 2011
Muhammad Luthfi Ghozal
Insya Alloh sy akan hadir