KHUTBAH IDUL FITHRI 2011, Ponpes Assalafi Al-Fithrah Gunungpati Semarang

Posted: 15 Agustus 2011 in Hukum Keseimbangan, Khutbah, Khutbah Idul Fithri, Ramadhan

KHUTBAH IDUL FITHRI 2011, Ponpes Assalafi Al-Fithrah Gunungpati Semarang

Judul : “Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam Perspektif Keseimbangan Hidup” 

Allahu Akbar x9 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Tema pembicaraan yang akan disampaikan khotib dalam khutbah Id kali ini untuk mengetengahkan pesan dari sebuah hadist Baginda Habiibinaa Rasulullah SAW. Dimana di dalam pesan tersebut mengandung peringatan keras bagi kita, umat Muhammad SAW. Karena kerasnya pesan itu, sekiranya kita mau merenungkan dengan seksama dan mendalam, barangkali akan menjadikan bulu kuduk kita berdiri. Betapa tidak, yang dinyatakan didalam pesan tersebut adalah, bahwa ada satu golongan manusia yang hidupnya akan menjadi terkucil dan terasing walau berada ditengah masyarakat rame. Mereka akan merasakan kesendirian hidup meski sedang dalam kebersamaan dengan teman-teman, tiada perlindungan dan pertolongan, susah tanpa tahu pangkal penyebabnya, sedih tanpa mengerti sumber permasalahannya. Jalan yang akan dilalui kedepan nampak gelap gulita, tidak mengetahui arah yang harus ditempuh, tidak ada jalan keluar bagi pemecahan persoalan-persoalan hidup yang sedang dihadapi.

Mereka bahkan bagaikan dilempar dari langit kemudian disambar oleh burung atau dihempaskan angin ketempat yang terpencil. Itulah keadaan orang-orang yang berdo’a kepada Allah Ta’ala akan tetapi do’anya tidak dikabulkan. Kalau mereka meminta, permintaannya tidak diberikan kalau meminta pertolongan pertolongan-Nya tidak diturunkan.

Hadist tersebut diriwayatkan oleh Iman Ibnu Majah dan Iman Ibnu Hiban RA.:

عن عائشة رضي الله عنها قالت :   دخل عليّ النبى صلى الله عليه وسلم. فعرفت فى وجهه أن قد حضره شىء . فتوضاء وما كلّم احدا. فلصقت بالحجرة استمع ما يقول . فقعد على المنبر , فحمد الله وأثنى عليه وقال:” يأيها الناس ان الله يقول لكم : مروا بالمعروف وانتهوا عن المنكر قبل أن تدعوا فلا اجيب لكم وتسألوني فلا اعطيكم وتستنصروني فلا أنصركم . فما زاد عليهن حتى نزل.

Dari A’isyah ra berkata :”Nabi saw telah masuk kepadaku, maka aku lihat di wajahnya, seakan-akan telah terjadi sesuatu, kemudian Beliau mengambil air wudzu dan tidak berkata sedikitpun, maka aku mendekat ke dinding mendengarkan apa yang akan disabdakan. Kemudian beliau duduk di mimbar, memuji kepada Allah dan mengagungkan-Nya seraya bersabda: ”Wahai manusia sungguh Allah berfirman kepada kalian: memerintahlah kepada yang ma’ruf dan mencegahlah kepada yang mungkar, sebelum engkau berdo’a maka do’amu tidak Aku kabulkan dan engkau meminta kepada-Ku maka tidak Aku berikan dan engkau minta tolong kepada-Ku maka tidak Aku berikan pertolongan kepadamu. Baginda Nabi SAW tidak menambahkan lagi selain itu sampai beliau turun dari mimbar.

Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Jika orang tidak mau melaksanakan Amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka do’anya tidak dikabulkan, permintaannya tidak dipenuhi, pertolongan dari-Nya tidak diturunkan.

Ya Allah, apakah benar ada orang yang berdo’a tapi do’anya tidak dikabulkan? Padahal Engkau telah berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Apakah benar ada orang meminta, tapi permintaannya tidak diperkenankan? Padahal Engkau berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Apakah bisa hal itu terjadi, padahal sungguh benar firman Allah dan sungguh benar sabda Rasulullah dan Allah sedikitpun tidak akan mengingkari janji-janji-Nya.

Kalau memang harus demikian kejadiannya, maka yang pasti bukan ayat-ayat dan hadist itu yang salah, melainkan ada yang harus dikoreksi dari apa yang telah diperbuat oleh manusia sehingga terjadi hal yang sangat menggetarkan hati dan menggugah perasaan itu. Kalau demikian kejadiannya, lantas bagaimana tindakan manusia selanjutnya? Apa yang harus mereka lakukan ketika jauh dari Rahmat Allah?, jauh dari perlindungan dan pertolongan Allah. Bagaikan orang yang pulang kampung, di tengah kota yang luas, ketika didapati pintu-pintu sudah tertutup rapat, padahal suasana gelap dan mencekam, tentu orang tersebut akan tinggal sendiri dengan kebingungan, tidak ada tempat berlindung dan tidak ada perlindungan dari kedinginan dan bahaya.

Dalam keadaan demikian, hayalan yang menghantui pikiran terkadang datang lebih seram dari kenyataan. Hal tersebut disebabkan, karena kabel yang menghubungkan diri dengan pusat energi yang Maha Tangguh telah putus, segala jaringan dan infrastuktur telah hancur, tinggal sendiri dalam kebingungan, tidak ada pedoman, tidak ada landasan pijakan. Jalan didepan semakin hari semakin suram, tidak ada kepercayaan diri, serba takut dan serba kuatir yang akhirnya orang tersebut akan terjatuh dalam kegelapan dan terombang ambing oleh hayalan bahkan kadang-kadang ilmu dan rasional menjelma menjadi harimau dan serigala yang senantiasa siap menerkam dan mati didalam keputusasaan.

Allah SWT. memberikan gambaran keadaan mereka itu dalam sebuah tamsil :

فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ (الحج31

“Maka seakan-akan jatuh dari langit lalu disambar burung atau dihempaskan angin ketempat yang terpencil”

Itulah keadaan orang-orang yang sengsara, berdo’a kepada Allah akan tetapi do’anya tidak diperkenankan dan meminta anugrah-Nya tapi tidak dikabulkan, meminta pertolongan kepada-Nya tapi tidak kunjung ditolong-Nya. Itulah nasib orang yang enggan melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, meski dengan sedaif-daif iman.

Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Telah berlaku kehendak Allah, menjadikan manusia sebagai kholifah-Nya di muka bumi. Telah berlaku sunnatullah, memberikan potensi kepada manusia sebagai kekuatan penggerak dan sumberdaya di alam semesta ini, baik dengan tenaga dan akal maupun perasaannya. Hal tersebut supaya kehidupan di muka bumi berjalan aktif dan dinamis, tidak monoton. Supaya ada gairah dan semangat, maka manusia adalah yang bekerja, melaksanakan dan menghasilkan sesuatu. Manusia ialah yang membikin peraturan dan meletakkan undang-undang, ia juga sekaligus tenaga penggerak dan pelaksana, bahkan sebagai sutradara yang sekaligus sebagai aktornya, sampai batas yang sudah ditentukan oleh Allah kepadanya, dimana selama itu manusia telah mencurahkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk memakmurkan segala sarana yang sudah disiapkan di sekelilingnya.

Allah SWT. telah memilih manusia sebagai sarana yang bekerja di muka bumi ini dan itulah memang yang sudah ditetapkan-Nya sejak alam semesta ini diciptakan. Atas dasar sunnah itulah, maka manusia dapat mengenali dan menguasai alam sekelilingnya, mengetahui rahasia-rahasia kehidupan yang tersembunyi di dalamnya, bahkan menguasai kunci-kunci rahasia bagi ahlinya untuk membuka simpul-simpul kehidupan yang mestinya tertutup dan dirahasiakan. Dengan ilmu dan urusan Allah pula, manusia kemudian dapat mengenal Tuhannya dan menggapai apa-apa yang diharapkan dan dicita-citakan dalam hidupnya.

Sejak ilmu pengetahuan itu pertama kali diajarkan kepadanya dan kemudahan-kemudahan yang sudah diperoleh, sampai ia menghasilkan apa-apa yang bisa dihasilkan, semua itu tidak akan terjadi kecuali dengan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala kepadanya, itulah sistem yang sejak pertamakali diciptakan bersamaan dengan penciptaan alam semesta ini, sistem tersebut tidak akan pernah dirobah lagi oleh Allah kecuali manusia sendiri yang merobahnya.

Begitu pula kehidupan manusia yang walaupun ia telah dinaungi peraturan dan hukum-hukum dari Sang Pencipta Tunggal, aturan yang bersesuaian dengan perikemanusiaan, yakni Agama Islam yang sesuai dengan fithrah manusia, yang didalamnya sudah lengkap mengandung tatacara kehidupan, seperti undang-undang politik, perekonomian, sosial dan budaya serta kemakmuran dan akhlaqul karimah. Sungguh sistem tersebut tidak dapat berdiri tetap kalau sekiranya tidak bersesuaian dengan sunnahtullah. Bahkan keseimbangan dari keduanyalah yang akan menjadikan kemanfaatan dan mengahasilakan segala tujuan.

Sunnatullah itulah yang menjadikan manusia ulet bekerja di atas muka bumi ini dan berlaku sebagai sarana buat memperteguh pekerjaan. Sunnahtullah itu adalah apa yang ditegaskan Allah dengan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ (الرعد.13

Allah tidak merobah keadaan suatu bangsa sehingga bangsa itu sendiri yang merobah dirinya.

Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Allah SWT. Yang Maha Kuasa dengan sendiri-Nya, menciptakan dan mengatur langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya menurut kehendak yang digariskan dan ditetapkan-Nya dan menurut kehendak-Nya pula menjadikan manusia sebagai unsur yang bergerak di dalamnya dengan membawa jiwa dan raga yang membuahkan akal, amal dan perasaan. Bukankah manusia dari asal kejadiannya, daging dan tulang dan bahkan polah dasar cara hidupnya, menjalani hidup di muka bumi ini, sama keadannya seperti binatang melata …?, akan tetapi dengan takdir Allah manusia mendapat kemulyaan sebagai penggerak yang bekerja di dalam roda kehidupan yang memang sesuai dengan tabiatnya. Manusialah yang berbuat, bekerja dan berusaha, mereka tidak tinggal diam dan membeku saja. Mengingat dasar itulah, maka hendaklah manusia menganjurkan berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran bahkan beriman dan berberamal sholeh, maka manusia benar-benar akan menjadi sebaik-baik umat yang ada di alam ini demikian itu yang ditegaskan Allah dengan firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ (ال عمران 110

Manusia diperintah, kalau melihat kemungkaran hendaklah ia merobahnya dengan tangannya kalau tidak mampu maka dengan lisannya dan kalau tidak mampu juga maka dengan hatinya walaupun itu adalah sedaif-daif iman.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Kebajikan atau kejahatan bukan sesuatu yang sempit yang hanya bisa terjadi dengan suatu kejadian atau hanya terjadi di suatu lokasi yang ada di belahan bumi ini, akan tetapi segala urusan manusia, besar maupun kecil, bisa dilakukan sebagai kebajikan atau kejahatan. Oleh karenanya manusia harus cermat mengikuti segala proses yang terjadi dalam kehidupannya, memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan melaksanakannya dengan benar dan tepat, menegakkan kebajikan dan menjauhkan diri dari kemungkaran, kalau tidak demikian, maka manusia sendirilah yang akan menanggung akibat yang buruk, yaitu kerusakan dan kehancuran. Ini adalah sunnahtullah yang tidak akan pernah berobah lagi. Maka berlakulah sunnah pula, menurut dasarnya, bahwa hendaklah manusia menganjurkan kebajikan dan mencegah kemungkaran.

Segala pilihan dan langkah, pasti membawa dampak dan konsekwensi, akan tetapi manusia pula adalah satu-satunya sarana untuk mengatur dan memilih langkah dan pilihan yang akan dijalani. Dikala manusia beriman dan beramal sholeh, menganjurkan berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran, maka kebathilan tidak berkesempatan hidup subur berkepanjangan, yang hak akan menjadi kekuatan yang kuat dan yang akan dapat memimpin dan menguasai segala perkara. Akan tetapi manakala yang terjadi sebaliknya, manusia hanya tinggal diam saja, tidak ada kepedulian sama sekali dengan sekitarnya, mereka tidur dari tugas suci, tidak menganjurkan berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran. Kesibukan mereka hanya melakukan pekerjaan yang terbatas hanya yang berhubungan dengan urusan sekitar perut dan pusat saja, maka kejahatan akan tumbuh subur, kemungkaran akan menjadi merajalela yang pada akhirnya kemaksiatan akan menguasai dan memimpin pola kehidupan yang ada, demikianlah yang berlaku sunnah dalam sejarah kehidupan manusia sebelum kita yang kemudian menjadikan penyebab hancurnya suatu generasi dan suku bangsa.

Namun jika keadaan umat mau hidup sadar, memperhatikan urusan masyarakatnya, menunaikan segala hak dan kewajibannya, saling mencukupi segala kekurangan, mengisi kekosongan, meningkatkan yang sudah ada, meluruskan yang bengkong, memelihara kelapangan dan mengusahakan kemudahan, menggapai pertolongan, menggalang kebersamaan, maka itulah umat yang bahagia dan jaya. Adapun umat yang lalai dan malas bekerja, tidak ada kepedulian kepada alam sekitarnya, maka itulah umat yang celaka yang telah dihinggapi penyakit kehinaan.

Masyarakat yang suka saling nasehat menasehati, menganjurkan berbuar ma’ruf dan menegur kemungkaran, itulah ciri-ciri masyarakat yang kokoh kuat, maju kedepan membawa perbaikan dan mengangkat derajat kemulyaan. Sebaliknya masyarakat yang anggotanya senang berbuat kemungkara dan membiarkan kejahatan, saling menjegal dan menjagal, maka itulah ciri-ciri masyarakat yang bobrok dan terbelakang.

Menurut sunnahtullah manusia-lah yang harus mengadakan perobahan, bukan berarti Allah SWT. lemah, tidak sanggup berbuat banyak, akan tetapi itu adalah sistem atau sarana dan sebab-sebab, supaya menusia dapat menggapai kemulyaan yang memang diperuntukkan untuknya, untuk menduduki derajat yang mulya disisi-Robb-Nya yang sudah disediakn-Nya baginya, yakni menjadi kholifah Allah dimuka bumi ini. Manakala manusia tidak menempatkan dirinya pada kedudukan tersebut, maka ia akan terlepas dari derajat kemulyaan itu dan akan terjerumus kepada derajat kehinaan sebagai derajat binatang melata bahkan lebih hina lagi.

Allahu Akbar x3 Allahu Akbar walillahil hamd

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Mana mungkin orang berdo’a dapat dikabulkan tanpa bekerja dan hanya berpangku tangan saja ??. Manusia akan mendapatkan sesuai apa yang telah diusahakannya, demikian yang ditegaskan Allah di dalam Firmannya. Maka jalan Allah telah jelas dan terang benderang di depan kita, kemudahan-kemudahan, pertolongan dan pemberian, hanya dari jalan itu datangnya, karena dengan melalui jalan itu berarti manusia telah memegang janji Allah dan Allah SWT sedikitpun tidak akan mengingkari janji-Nya. Maka siapa yang ingin memperoleh kemenangan hendaklah menghadapkan dirinya kepada Pemberi kemenangan yang sudah mengajarkan suatu konsep yang simpel dan sederhana akan tetapi membawa ma’na strategis dan universal, konsep itu ialah : “HENDAKLAH KAMU MENGANJURKAN BERBUAT MA’RUF DAN MENCEGAH KEMUNGKARAN”.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Jika kita mau memperhatikan fenomena yang terjadi di Negeri kita belakangan ini, dimana-mana korupsi merajalela, kecurangan dan manipulasi seakan-akan telah menjadi budaya hidup yang tidak terkendali. Para pengelola Negara yang mestinya melindungi uang Negara malah menjadi seperti tikus-tikus yang menggerogoti pundi-pundi. Pimpinan yang mestinya harus memberikan contoh dan teladan yang baik, malah terkadang menjebak bawahan untuk melakukan kecurangan, bahkan bila perlu mengorbankan teman seperjuangan yang selama ini membantu pemenangan dalam pilihan demi usaha menyelamatkan diri dari ancaman hukum akibat perbuatan memperkaya diri sendiri dengan menyalahgunakan wewenang dan jabatan. Kalau kita mau merenunginya, kejadian tersebut terjadi, pasti berawal dari permasalahan yang sedang kita bicarakan ini, kebanyakan mereka itu hanya mementingkan diri sendiri, tidak mau melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.

Adalah hukum keseimbangan, ketika kebaikan dan kebajikan yang semestinya menjadi obat dan penawar racun duniawi sudah tidak lagi berfungsi, entah karena kuwalitasnya menurun atau kuwantitasnya berkurang sehingga tidak cukup untuk mempertahankan hukum keseimbangan, maka bahtera hidup berangsur-angsur akan menjadi limbung dan bahkan tenggelam, keadaan inilah yang terjadi belakangan ini di Negri tercinta ini. Jika hal tersebut dibiarkan saja tanpa ada perbaikan. Tanpa ada orang yang mau dan mampu merubah keadaan untuk menjadi lebih baik, tanpa ada orang yang berani melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, maka dalam waktu yang tidak lama manusia akan tahu akibatnya. Datangnya siksa yang akan meliputi kehidupan tidak akan terelakkan lagi, minimal hati mereka itu akan digerogoti rasa was-was dan takut sehingga menjadikan eksistensinya hangus. Ini juga sunnatullah, diminta atau ditolak, bila saatnya tiba, sunnah itu pasti akan datang juga. Bukan karena Allah membalas dendam kepada manusia atau berbuat kerusakan di muka bumi, akan tetapi manusia sendiri yang telah merusak jatidirinya dengan amal perbuatan yang telah dilakukan. Kita berlindung kepada Allah dari akibat buruk yang dilakukan oleh kebanyakan manusia di muka bumi.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Marilah kita mengadakan perenungan ke dalam, namun tidak hanya renungan kosong tanpa tindaklanjut yang berarti, melainkan untuk dasar mengadakan perbaikan dimanapun kita berada. Kita mulai dari diri sendiri, kemudian anak istri dan keluarga terdekat, teman sejawat dan kerabat, untuk bersama-sama melaksanakan anjuran suci ini, yakni melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, saling berbagi dalam kebaikan, saling nasehat menasehati dalam kebajikan dan saling doa mendoakan. Dimulai dari ucapan dan perbuatan supaya hati kita menjadi bersih dan suci, itu dilakukan untuk melaksanakan pengabdian hakiki kepada Allah Robbul Alamiin, dengan itu semoga hari-hari kita kedepan semakin menjadi lebih baik, karena do’a-do’a yang kita panjatkan mendapatkan ijabah, dan disaat kita bermunajat, permohonan kita dikabulkan-Nya dan kalau kita minta pertolongan dari-Nya, pertolongan itu segera diturunkan-Nya, sehingga kita mampu mengadakan perubahan dan membangun keseimbangan hidup, meski hanya untuk diri sendiri dan jama’ah yang hidup dalam komunitas kecil kita, menjadi komunitas yang kuat karena dekat dengan perlindungan dan pertolongan dari Tuhan Semesta Alam, …. amiin ya mujibas sa’iliin.

قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون :   لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم . ثم رددناه أسفل سافلين . إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات فلهم أجر غير ممنون .

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم

        وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s