Arsip untuk November, 2009

KHUTBAH IDUL QURBAN (SABAR, Kunci Pembuka Kota Mekkah)

Posted in Khutbah dengan kaitan (tags) on 23 November 2009 by malfiali

SABAR, Kunci Pembuka Kota Mekkah

Allahu Akbar, 9X Allahu Akbar walillahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah

Peristiwa sejarah kemanusiaan yang dialami manusia utama yang diabadikan oleh zaman, menggambarkan betapa kuatnya iman seorang hamba dalam melaksanakan perintah Tuhannya, meski perintah itu dalam bentuk pengorbanan yang besar. Ketika orang beriman mampu melaksanakannya dengan SABAR, ternyata itu merupakan KUNCI RAHASIA untuk membuka pintu rahmat Allah bagi alam semesta. Adapun hikmah khusus dari peristiwa yang dimaksud, ternyata sabar tersebut seakan-akan menjadi pondasi bangunan yang kokoh ketika Allah berkehendak menghidupkan tanah Mekkah yang asalnya mati menjadi makmur penuh keberkahan yang melimpah. Kesabaran dalam menghadapi ujian hidup yang telah dilakukan oleh manusia panutan manusia itu, yakni Nabiyullah Ibrahim as beserta keluarganya, yang kejadiannya hari ini kita peringati dan rayakan, dalam khutbah ini akan kita bahas dalam dua tahap.

1. Pengorbanan Pertama:

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Ketika Nabiyullah Ibrahim as melaksanakan perintah Allah untuk menempatkan sebagian anggota keluarganya, Siti Hajar dan Isma’il, salah satu Istri dan putranya yang saat itu masih dalam susuan Sang Ibu, di tanah tandus tanpa tumbuhan yang terpencil dan terasing, lalu ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim dengan bekal hidup yang pas-pasan. Ketika Nabi Ibrahim as hendak melangkahkan kaki untuk meninggalkan mereka berdua, Sang Istri bertanya: “Wahai Suamiku, apakah kami berdua akan engkau tinggalkan ditempat sepi ini ?. Nabi Ibrahim meneruskan langkahnya tanpa mampu menoleh dan juga tidak menjawab. Istrinya mengejar dan bertanya lagi, namun dengan sikap yang sama Sang Suami tetap meneruskan langkahnya. Akhirnya sambil berlari kecil Sang Istri bertanya lagi: “Wahai suamiku, apakah engkau diperintah Allah dalam hal ini?”. Baru Nabi Ibrahim as menjawab meski tetap tanpa menoleh, karena takut hatinya berubah sehingga tidak mampu melaksanakan perintah yang tidak logis itu: “Benar wahai Istriku, aku diperintah Allah untuk melakukan ini”.

Siti Hajar adalah seorang istri yang tabah, dia sudah mengenal dengan benar bahwa suaminya adalah seorang Nabi dan utusan Allah yang patuh dan tabah pula dalam melaksanakan perintah Tuhannya, dengan keyakinan yang kuat dia menjawab: “Wahai suamiku, jika ini adalah perintah Allah maka laksanakanlah, aku yakin Allah tidak akan menelantarkan kami berdua. Lalu Siti Hajar membalikkan badannya dan kembali ke tempat semula untuk mengikuti kehendak suami yang ditaati itu tanpa sedikitpun berprasangka buruk kepadanya, padahal dirinya bukan istri Nabi Ibrahim as satu-satunya. Siti Hajar kemudian tinggal berdua bersama putranya ditempat yang sepi dan terpencil itu dengan segala resiko kehidupan yang bisa terjadi, bertahan hidup entah sampai kapan dengan bekal makanan yang sangat terbatas.

Nabi Ibrahim as kemudian meneruskan perjalanan pulang ke Palastina, meninggalkan Istri dan Anaknya di tempat yang tidak ada kehidupan itu dalam penjagaan Allah. Ketika perjalanannya telah sampai di suatu tempat yang tidak mungkin dapat terlihat oleh Istrinya, Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah dengan do’a yang sangat mustajabah, bahkan diabadikan oleh-Nya di dalam kitab suci al-Qur’an al-Karim:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tumbuhan di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.(QS.Ibrahim/37)

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Meskipun hati Siti Hajar yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak akan menelantarkan diri dan anaknya, namun melaksanakan keyakinan itu ternyata tidak segampang ketika diucapkan. Dia harus menghadapi penderitaan yang amat sangat, sampai-sampai nyawanya dan nyawa anaknya hampir-hampir direnggut oleh kematian.

Ketika bekal makanan yang dibawa dari rumah sudah habis dimakan, padahal air tidak mungkin bisa didapat ditempat yang kering itu, sedangkan anak yang digendongan menangis tiada henti minta disusui, padahal air susu sudah tidak keluar lagi karena perut sudah sekian lama tidak terisi, maka sang Ibu mencoba untuk mencari Air. Siti Hajar berlari-lari kecil antara dua bukit yang ada di sekitar tempat itu, bukit Shofa dan Marwa. Dari atas dua bukit tersebut dia melihat kesana-kemari, berharap dapat menemukan manusia yang bisa memberikan pertolongan, namun sampai 7X pulang pergi, hasilnya tetap nihil juga, Sang Ibu yang sedang mencari makanan untuk anaknya yang sedang kelaparan itu tidak menjumpai seorangpun yang bisa memberikan pertolonggan. Peristiwa ini diabadikan Allah dengan firman-Nya:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa`i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.(QS.al-Baqoroh/

158)Ketika maut hampir merenggut dua hamba Allah yang tengah meregang nyawa itu, sang anak sudah tidak mampu menangis karena kehabisan daya untuk mengeluarkan suara, sang ibu tidak mampu lagi meneteskan air mata karena badannya sudah hampir kering karena kehabisan cairan, disaat yang sangat kritis itu Allah menurunkan pertolongan-Nya. Sayup-sayup Sang Ibu mendengar suara, dengan sisa kekuatan yang ada dan tanpa membuka pelupuk mata dia berkata: “Wahai yang memperdengarkan suara kepadaku, andai engkau mampu menolongku, tolonglah aku”. Ketika membuka matanya, reman-remang sang Ibu melihat seorang laki-laki berdiri dihadapannya. Itulah Malikat Jibril dalam sosok manusia yang diturunkan Allah dimuka bumi. Makhluk yang mulia itu bukan sekedar untuk menolong dua jiwa yang hampir mati itu, namun juga, berkat kesabaran mereka itu, Malaikat Jibril bahkan akan membuka pintu Rahmat Allah di tempat yang tandus itu, sekaligus sebagai peresmian dimulainya skenario besar, projek pembangunan kota Mekkah al-Mukarromah yang di dalamnya ada “Kakbah Baitullah”, tempat yang akan diziarahi orang beriman sepanjang zaman.

 

Malaikat Jibril as berkata: “Wahai hamba Allah yang tabah, engkau jangan takut dan jangan kuwatir, Allah tidak akan menelantarkan kalian berdua. Di tempat ini nanti, anakmu itu dengan bapaknya akan membangun “baitullah”, sehingga tempat ini menjadi kota yang makmur dan penuh keberkahan Allah”. Lalu malaikat Jibril menancapkan sayapnya di tanah, dari lubang tanah itu kemudian Allah menciptakan sumber mata air yang tidak berhenti memancar sepanjang zaman, sumur Zamzam yang keberkahan airnya terbukti sampai sekarang. Artinya, sumur Zamzam yang abadi itu, yang setiap tahun keberkahan airnya ditunggu-tunggu oleh orang beriman dimana saja berada, sebagai oleh-oleh dari sanak saudaranya yang sedang melaksanakan ibadah Haji di tanah Haram, ternyata sumbernya dahulu digali dan ditemukan oleh semangat pengorbanan yang besar, mata airnya dipompa dengan air mata yang hampir kering dari seorang wanita yang mulia, istri yang sekaligus juga ibu dari dua manusia yang mulia pula, yaitu Istri Nabi Ibrahim as dan Ibu Nabi Isma’il as. Ini adalah peristiwa besar yang tidak boleh dilupakan oleh setiap hati yang beriman. Oleh karenanya peristiwa tersebut setiap saat diperingati dalam pelaksanaan Sa’i antara bukit Sofa dan Marwa baik dalam pelaksaan ibadah Haji maupun ibadah Umrah.

2. Pengorbanan Kedua

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Ketika tempat yang semula sepi dan terpencil itu mulai rame dikunjungi dan dihuni manusia. Satu demi satu kafilah padang pasir singgah, karena ada sumber air kemudian mendirikan bangunan dan bahkan menetap di sana, maka tempat yang semula terasing itu beransur-ansur mulai dikenal manusia. Ketika nabi Ismail kecil sudah bertambah usia, sehingga mampu membantu keperluan Ibunya, datanglah Nabi Ibrahim di tengah mereka. Kedatangan itu bukan untuk berkumpul dengan keluarga sebagaimana layaknya orang hidup berkeluarga, tapi untuk melanjutkan proses sekenario besar, karena sudah saatnya Allah akan melaksanakan kehendak-Nya untuk mendirikan bangunan baitullah dengan segala keberkahannya melalui tangan-tangan tangguh dari keluarga orang-orang beriman yang kuat itu. Pada saat yang sudah ditentukan itu, Allah menguji hati Nabi Ibrahim dengan perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya Isma’il. Allah mengabadikan ujian besar itu dengan firman-Nya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108)

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” – Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya) – Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim – sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik – Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. – Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. – Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.(QS.ash Shafaat/102-208)

Nabiyullah Ibrahim as dan putranya, Nabi Isma’il as, ternyata berhasil melampaui ujian besar tersebut dengan kesabaran yang perima, sehingga kematian Nabi Isma’il diganti dengan kematian binatang qurban yang besar. Dua peristiwa sejarah kemanusiaan itu kemudian diabadikan Allah dalam pelaksanaan manasik Haji, sehingga menjadi peringatan dan pelajaran berharga bagi umat Islam sampai akhir zaman. Hal tersebut membawa hikmah besar, ternyata keberhasilan hidup itu tidak diturunkan begitu saja dari langit tetapi harus diupayakan oleh manusia, bahkan dengan mengorbankan nyawa sekalipun. Ketika seorang hamba mampu melaksanakan segala titah Tuhannya dengan sabar, maka keberhasilan itu baru diturunkan dengan sempurna.

Ujian hidup itu dinyatakan Allah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya ini benar-benar merupakan suatu ujian yang nyata”.(QS.ash Shafaat/108). Artinya, keberhasilan hidup itu tidak terlepas dari porses ujian yang harus dijalani oleh manusia, itu merupakan sunnatullah yang tidak ada berubahan untuk selamanya, baik berlaku bagi orang-orang terdahulu maupun orang-orang kemudian, bahkan berlaku bagi kita semua. Meski ujian hidup tersebut tidak dengan perintah menyembelih anggota keluarga kita, tapi yang terjadi terkadang hakekatnya hampir sama. Semisal ketika kita sedang menghadapi salah satu anggota keluarga yang sakit keras, keluarga yang kita cintai itu sedang meregang nyawa karena sakit, hati orang beriman harus tetap tabah dan pasrah terhadap apa yang akan dikehendaki Allah kepadanya, mereka harus tetap yakin bahwa itu adalah yang terbaik baginya. Ujian hidup bagi orang beriman itu dinyatakan Allah dengan firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar – (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” – Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. Al-Baqoroh/155-157)

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Kata kunci yang mampu menjadi pembuka pintu berhasilan bagi orang beriman untuk melaksanakan pengorbanan dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan menyelesaikan segala ujian hidup tersebut adalah SABAR, sabar artinya: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”, semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Apabila makna kalimat tersebut sudah menancap kuat dalam jiwa kita bahkan menjadi karakter atau kebiasaan yang mampu mendasari prilaku dan perbuatan kita, maka dengan izin-Nya kita akan mampu melewati segala tantangan dan ujian-ujian hidup yang berarti pula akan berhak menerima keberhasilan dan kenikmatan yang sudah disiapkan untuk kita sejak zaman azali.

Namun dengan sabar itu bukan berarti kita mendiamkan sampai mati dalam kondisi menderita anggota keluarga kita yang sakit tanpa upaya penyembuhan. Dengan sabar itu kita juga wajib berusaha untuk mengupayakan penyembuhannya, tentunya dengan cara pengobatan yang kita yakini, namun demikian hati kita harus siap, apapun yang akan dikehendaki Allah, kita harus yakin bahwa itu adalah yang terbaik bagi kita. Dengan yang demikian itu, maka nafsu dan akal kita tidak lepas control dan membabi buta dalam mengupayakan penyembuhan, hati kita tidak dihantui dengan kekhawatiran yang berlebihan dan yang lebih penting lagi dari itu, ketika jalan upaya penyembuhan itu mampu kita sandarkan kepada petunjuk dan hidayah Allah, maka ketika saatnya tiba, kesumbuhan itu akan didatangkan oleh-Nya dengan segala hikmah dan pahala yang dijanjikan. Inilah hikmah terbesar dari peringatan hari besar IDUL QURBAN yang sedang kita peringati hari ini.

Ma’aasyiral Muslimiin Rahimakumullah
Tradisi berkurban di Negri ini yang rupa-rupanya ada kecenderungan untuk berbalik arah, yang mestinya berkurban dengan kambing atau sapi, sebagian teman kita ternyata malah senang mengorbankan teman sendiri demi kepentingan pribadi, meskipun demikian, pada hari ini sebagian saudara-saudara seiman kita bahkan dari seluruh belahan bumi masih ada yang mampu melaksanakan pengorbanan besar itu, baik dengan harta maupun jiwanya. Mereka meninggalkan sanak saudara dan keluarga untuk melaksanakan panggilan suci guna menyempurnakan Rukun Islam, melaksanakan Ibadah Haji di Haromain dengan segala resiko yang bisa terjadi dalam perjalanan. Sebagian mereka bahkan ada yang berangkat dengan niat tidak kembali lagi, menyerahkan jiwa raga kepada penjagaan Ilahi Rabbi. Jika ibadah mereka itu diterima disisi Allah sehingga menjadi Haji yang Mabrul, maka tiada balasan yang pantas bagi mereka kecuali Surga.

Kita melihat fenomena ini setiap tahun, sudahkah hati kita mampu memetik hikmah darinya ?, dalam arti menancapkan semangat berkorban demi melaksanakan perintah Allah Ta’ala, bukan semangat mengorbankan teman sendiri untuk meraih harta dan tahta ? Jika belum, berarti masih ada yang harus dibenahi dalam hati kita. Penyakit macam apakah yang menjadikan hati kita keras melebihi batu sehingga tidak mampu mengambil pelajaran dari fenomena yang terang benderang ini. Semoga saja saudara-saudara kita yang pada tahun ini dan tahun sebelumnya telah mendapat kesempatan untuk melaksanakan pengorbanan itu dan mencicipi manisnya pahala yang dijanjikan mampu memetik hikmahnya, mereka selalu mampu melewati ujian hidup dengan hati SABAR sehingga benar-benar pantas mendapatkan surga yang dijanjikan itu, baik surga dunia dalam arti mencapai keberhasilan hidup, dan juga surga akhirat dalam arti mendapat kebahagian dan ridho Allah untuk selama-lamanya.

قال الله تعالى وبقوله يهتدي المهتدون . وإذا قرء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون : وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم . ونفعني وأياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم . وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم .
وقل رب اغفر وارحم وأنت حير الراحمين

MENCARI ILMU LADUNI (part 3)

Posted in Ilmu Laduni, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 23 November 2009 by malfiali

MENCARI ILMU LADUNI (part 3)

Dalam rangka mengenali rahasia ilmu laduni, di ayat lain Allah SWT. menyatakan sifatnya dengan lebih detail. Allah berfirman :

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآَنَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآَنَهُ (18) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ (19) كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ (20) وَتَذَرُونَ الْآَخِرَةَ

“Jangan kamu menggerakkan dengan Al-Qur’an kepada lidahmu untuk mempercepat dengannya * Sungguh atas tanggungan Kami penyampaian secara globalnya dan pembacaannya * Maka apabila Kami telah membacakannya maka ikutilah bacaannya * Kemudian sungguh atas tanggungan Kami pula penyampaian secara perinciannya * Sekali-kali janganlah demikian, sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai dunia * Dan meninggalkan kehidupan akhirat”. QS. al-Qiyamah.75/ 16-21.

Juga diriwayatkan dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu ‘Abbas ra. berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم . إِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ القُرْآنَ يُحَرِّكُ بِهِ لِسَانُه ُيُرِيْدُ أَنْ يَحْفَظَهُ ، فَأَنْزَلَ اللهُ تَبَاَرَكَ وَتَعَالَى : ” لَاتُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ “.رواه الترمذى

Adalah Rasulullah saw. ketika ِAllah menurunkan Al-Qur’an kepadanya, beliau menggerakkan lesannya untuk menghafalkannya, maka Allah menurunkan ayat: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur’an hendak cepat-cepat menguasainya”. HR Tirmidzi.

Melalui ayat diatas (QS.al-Qiyamah.75/16-21) kita dapat mengambil beberapa pelajaran :

1). Dalam rangka mempelajari dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an, orang dilarang menggerakkan lesannya untuk mengikuti bacaan yang didengar, karena ingin cepat memaham dan menghafalkan ayat yang didengar itu. Bagi seorang murid tidak boleh “mbarengi” bacaan gurunya, tetapi harus membaca dibelakang bacaan gurunya.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas ra.: “Bahwa Rasulullah saw. saat malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepadanya, setelah ayat ini diturunkan, beliau diam dan mendengarkan dan apabila Jibril pergi beliau baru membacanya”. HR. Bukhori. * Tafsir Fahrur Rozi.15/225 *

Ditegaskan pula di dalam firman-Nya yang lain:

وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآَنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Janganlah kamu tergesa-gesa dengan Al-Qur’an sebelum selesai mewahyukannya kepadamu. Dan katakanlah:”Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” QS. 20/114.

Mendengar dan Diam berarti me-Non Aktifkan potensi akal dan nafsu ternyata merupakan tombol untuk meng-Aktifkan potensi hati. Sebab, selama potensi akal dan nafsu masih aktif maka potensi hati akan tertutup rapat dari sumberi inspirasi ilahiyah. Itu manakala diam tersebut dalam arti menyandarkan pertolongan dan hidayah dari Allah, karena “Allah yang menurunkan Al-Qur’an dan Allah pulalah yang akan menjaganya”. (15/9)

Allah menegaskan lagi di dalam firman-Nya :

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat “. QS.al-A’raaf. 7/204.

2). Firman Allah SWT. إِنَّ عَلَيْنَا جمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ (17)”Inna ‘alainaa jam’ahuu wa qur’aanah”, (sungguh atas tanggunganku penyampaian secara global dan proses membacannya). Dikatakan: Secara globalnya di dadamu kemudian bacalah. Dan apabila dibacakan, maka ikutilah bacaannya.

Lafad “Inna ‘alainaa” mengandung arti wajib. Sebagian Ulama’ ahli tafsir mengartikan: seakan-akan Allah Ta’ala mewajibkan diri-Nya sendiri untuk melaksanakan janji-Nya. Dengan kata lain, ketika sebab-sebab telah tersusun dengan baik dan benar maka ilmu laduni akan diturunkan.

Selanjutnya, Ketika “perincian” dari yang global itu sudah waktunya dibacakan, yakni melalui proses romantika kehidupan, maka orang yang telah mendapat global itu harus mengikuti bacaan tersebut. Dalam arti menghadapi setiap tantangan dan menindaklajutinya dengan amal bakti, supaya ayat-ayat yang tersurat di dalam memori akal dapat dipadukan dengan ayat-ayat yang tersirat yang terbaca dalam realita, maka terjadilah arus pikir (tafakkur), lalu dengan hidayah dan petunjuk Allah Ta’ala seorang hamba akan menemukan mutiara hikmah di balik setiap kejadian dan fenomena.

Pengalaman ruhaniah adalah merupakan ilmu-ilmu spiritual (rasa) yang tidak hanya mampu menjadikan orang pintar tapi juga cerdas. Ilmu yang menjadikan hati seorang hamba yakin kepada yang sudah diketahui karena setiap keraguan hatinya telah mampu terusir.

Allah SWT. berjanji akan menolong hamba-Nya dengan membacakan perincian ilmu laduni itu, langsung dibisikkan di dalam hatinya, dalam bentuk teori-teori ilmiyah dan konsep-konsep tentang filosofi kehidupan, sebagai petunjuk dan bimbingan untuk menyelesaikan masalah di depan mata.

Adapun konsep-konsep tersebut berupa pemahaman hati yang tergali baik dari makna ayat Al-Qur’an al-Karim maupun hadits Rasulullah saw. Dengan yang demikian itu, maka ilmu orang yang mendapatkan ilmu laduni itu menjadi bagaikan pohon yang baik yang akarnya menunjang di tanah dan cabangnya menjulang di langit dan dengan izin Tuhannya buahnya dapat dimakan setiap saat.

3). Firman Allah SWT.:

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ (20) وَتَذَرُونَ الْآَخِرَة

“Sekali-kali janganlah demikian, Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai yang kontan * Dan meninggalkan yang akhir “. QS. al-Qiyamah. 75/20-21.

Lafad “Al-‘Aajilata” artinya kontan/instan, yang dimaksud adalah kehidupan duniawi. Artinya, hati orang yang mencari ilmu laduni itu tidak boleh ada kecenderungan kepada kehidupan duniawi, meski dalam arti ingin mempunyai “ilmu laduni”. Mereka itu harus mampu menyandarkan segala amal ibadah semata-mata hanya mengharap ridho Ilahi Rabbi. Allahu A’lam.

ILMU LADUNI adalah ILMU WARISAN (part 2)

Posted in Ilmu Laduni, alam ghaib, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 6 November 2009 by malfiali

Ilmu Laduni adalah Ilmu Warisan (part 2)

Dengan pemahaman hati tersebut, seorang hamba dapat memahami secara langsung makna yang dikandung didalam ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang dibaca maupun didengar. Berupa pemahaman yang amat luas dan universal sehingga kadang-kadang tidak mampu diuraikan baik melalui ucapan maupun tulisan. Pemahaman akan ma’na ayat yang didalamnya sedikitpun tidak dicampuri keraguan sehingga dapat menjadikan iman dan takwa seorang hamba kepada Allah Ta’ala menjadi semakin kuat.

Dalam menafsiri firman Allah SWT.:

إِنَّهُ لَقُرْآَنٌ كَرِيمٌ (77) فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ (78) لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada kitab yang terpelihara.Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” . QS. al-Waqi’ah.56/77-79.

Ulama’ berbeda pendapat dalam mengartikan Al-Muthohharuun (Orang-orang yang disucikan).
a). Dari Ibnu Abbas ra. yang dimaksud al-Kitab adalah kitab yang ada di langit, tidak ada yang menyentuhnya kecuali para malaikat yang disucikan. Seperti itu pula pendapat Anas, Mujahid, Ikrimah Said bin Jabir. Rodhiallahu ‘Anhum.
b). Yang dimaksud Al-Qur’an disini adalah mushhab, maka tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci dari junub dan hadats. Dengan dalil apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda :

وَلاَ يَمُسُّ الْقُرْآَنَ إِلاَّ طَاهِرٌ
“Dan tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci”.
*Tafsir Ibnu Katsir ayat 79 surat al-Waqi’ah*

c). Tidak dapat menyentuh terhadap pemahaman-pemahaman Al-Qur’an yang qodim (rahasia ilmu laduni) kecuali orang-orang yang hatinya bersih dan suci dari kotoran-kotoran manusiawi. Allah SWT. mengisyaratkan hal tersebut dengan firmannya :

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا (45) وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آَذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآَنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا

“Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, yaitu dinding yang tertutup * Dan Kami adakan tutupan diatas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya”. QS.al-Isra’.17/45-46.

Dari ayat diatas jelas menunjukkan bahwa orang yang mambaca atau mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an belum tentu memahami isinya, karena yang dibaca tersebut adalah Al-Qur’an hadits. Terhadap al-Qur’an yang hadits ini siapa saja dapat menyentuhnya. Adapun yang dipahami adalah Al-Qur’an yang qodim atau rahasia-rahasia dari ilmu laduni, terhadap al-Qur’an yang qodim ini tidak semua orang dapat menyentuhnya kecuali orang yang beriman dengan kehidupan akhirat. Sebab, yang dimaksud dengan membaca atau mempelajari adalah amalan lahir, sedangkan memahami adalah amalan bathin. Yang dibaca adalah yang lahir sedangkan yang dipahami adalah yang bathin. Maka tidak dapat menyentuh yang bathin kecuali dengan alat yang bathin pula, yaitu matahati yang cemerlang.

2). Bukti kebenaran Al-Qur’an.
Salah satu tanda-tanda kebenaran Al-Qur’an ialah bahwa isinya membenarkan isi kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Yang demikian itu menunjukkan bahwa kitab-kitab samawi tersebut adalah sama-sama wahyu dari Allah Ta’ala.

3). Ilmu yang diwariskan.
Lafad “Kami wariskan”, artinya pemahaman hati tersebut diturunkan kepada orang yang menerima dengan tanpa usaha. Diturunkan semata-mata dari kehendak Allah Ta’ala, meski itu merupakan buah ibadah yang dijalani oleh seorang hamba. Oleh karena ilmu tersebut diturunkan sebagai warisan, maka tentunya yang menerima warisan itu harus mengetahui dengan pasti siapa yang mewariskan ilmu tersebut kapada dirinya. Dengan asumsi seperti itu, maka pemahaman ini hanya dapat dihasilkan dari rahasia pelaksanaan tawasul secara ruhaniyah kepada orang yang ditawasuli. Maksudnya, rahasia sumber ilmu laduni itu hanya dapat terbuka dari sebab pelaksanaan tawasul kepada orang-orang yang telah terlebih dahulu mendapatkan warisan ilmu laduni dari para pendahulunya. Jadi, ilmu laduni itu adalah ilmu yang ada keterkaitan dengan ilmu para guru mursyid sebelumnya, guru-guru Mursyid tersebut sebagai pewaris sah secara berkesinambungan sampai kepada Maha Guru yang agung yaitu Baginda Nabi Muhammad Rasulullah saw.

Ayat diatas menjadi bukti bahwa ilmu laduni yang dimaksud bukanlah sesuatu yang didapatkan dari hasil bertapa didalam gua-gua di tengah hutan atau di kuburan angker—yang kemudian orang itu mendapatkan “linuwih” atau kelebihan-kelebihan dan kesaktian—yang datangnya tidak dikenali dari mana sumber pangkalnya. Ilmu laduni adalah ilmu yang diturunkan Allah Ta’ala didalam hati seorang hamba yang dipilihNya melalui proses tarbiyah azaliah, sebagai buah ibadah yang dijalani.

Kalau ada kelebihan atau kesaktian yang didapatkan orang dari hasil berburu dengan mujahadah dan bertapa di hutan-hutan, meski orang tersebut kemudian dapat berjalan cepat seperti mukjizatnya Nabi Sulaiman as. misalnya, kelebihan seperti itu bisa jadi merupakan kelebihan yang datangnya dari fasilitas makhluk Jin. Kelebihan seperti itu terkadang hanya sebagai istidroj (kemanjaan sementara) belaka, yang kemudian sedikit demi sedikit akan dicabut lagi bersama kehancuran pemilikinya. Terlebih lagi apabila kelebihan-kelebihan itu dibarengi dengan sifat sombong dan takabbur, sehingga cenderung hanya dijadikan alat untuk unjuk kesaktian yang dipamerkan kepada orang banyak, jika demikian keadaannya, maka itu dapat dipastikan bahwa kesaktian tersebut hanyalah istidroj belaka. (bersambung)

Jati Diri 2 SK copy

Sejak ilmu laduni itu memancar di hati seorang hamba, maka segera saja hamparan hati itu menjadi bagaikan sungai yang bermata airnya, meski sedang datang musim kemarau panjang, sedikitpun airnya tidak pernah berkurang. Atau seperti pelita di dalam kaca kristal yang sumbunya berminyak; “yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak  disentuh api” QS.an-Nur/24. Pelita itu akan memancarkan sinarnya setiap saat, meski sumbunya tidak pernah lagi dibasahi minyak. Hal tersebut bisa terjadi, karena rahmat Allah lebih dahulu dipancarkan sebelum pemahaman itu diturunkan, sehingga hamparan dada itu menjadi tambang ilmu yang tidak pernah berhenti memancar, meskipun disaat kesempatan untuk membaca dan mendengarkan sudah tidak dapat kembali terulang.Bahkan terkadang ilmu laduni yang muncul itu sedikitpun belum pernah tertulis dalam buku dan kitab yang ada. Berupa ilmu pengetahuan dan pemahaman yang aktual dan akplikatif. Hasil perpaduan ayat yang tersurat dengan ayat yang tersirat yang mampu menjadi solusi persoalan yang sedang aktual. Sebab, ketika kitab-kitab yang sudah ada itu sedang ditulis pada zamannya, keadaan yang sedang terjadi itu memang belum pernah dimunculkan oleh zaman. Seperti itulah contohnya, maka Al-Qur’an al-Karim diturunkan kepada Baginda Nabi saw. dengan cara berangsur-angsur.

 

Wahyu Allah itu diturunkan ayat demi ayat dengan mengikuti proses perkembangan keadaan dan zaman, sehingga mampu menjadi solusi dari setiap timbulnya tantangan dan kesulitan. Sungguh sangat beruntung orang-orang yang berusaha bersungguh-sungguh mendapatkannya, meski kemudian sampai mati dia belum juga pernah berhasil mencicipi kenikmatannya, namun yang pasti minimal pernah mencium bauhnya.

ILMU LADUNI adalah ILMU WARISAN (part 1)

Posted in Ilmu Laduni, alam barzah, alam ghaib, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 6 November 2009 by malfiali

Ilmu Laduni adalah Ilmu Warisan (part 1)

Ilmu laduni adalah ilmu warisan. Seseorang tidak mungkin mendapatkan ilmu laduni kecuali dengan sebab mendapat warisan dari orang lain, padahal yang dimaksud warisan adalah tinggalan orang mati. Oleh karenanya, satu-satunya jalan untuk mendapatkan Ilmu Laduni adalah melaksanakan tawasul secara ruhaniyah kepada para Guru Mursyid baik yang hidup maupun yang mati. Hal tersebut dilakukan oleh seorang salik untuk membangun sebab-sebab yang dapat menyampaikan kepada akibat yang baik, yakni mendapatkan ilmu laduni.

Tentang ilmu warisan ini telah dinyatakan Allah SWT dengan firman-Nya:

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ (31) ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya * Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menyiksa diri sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar “. QS.Fathir.35/31-32.

Ilmu warisan ini termaktub di dalam firman-Nya: “Tsumma aurotsnal kitaaba”. Yang artinya ; Kemudian Kami wariskan kitab itu. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa ada suatu jenis ilmu yang tidak diturunkan kepada seseorang kecuali dengan mendapatkan warisan dari orang yang telah terlebih dahulu mendapatkannya. Untuk lebih memudahkan pemahaman—insya Allah—marilah kita ikuti penafsiran dua ayat tersebut secara keseluruhan:

Dari ayat diatas akan kita uraikan menjadi beberapa pembahasan :

1). Tentang ilmu Al-Qur’an.
Yang dimaksud dengan al-Kitab (Al-Qur’an) {“wal ladzii auhainaa ilaika minal kitaab” (dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu al-Kitab)} di dalam ayat di atas adalah ilmu pengetahuan yang dikandung di dalam Al-Qur’an al-Karim.

Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad ra. dalam bukunya, “Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”, berkata:

أنَّ الْقُرْآَنَ الْعَظِيْمَ كَلاَمُ اللهِ الْقَدِيْمِ وَكِتَابُهُ الْمُنَزَّلُ عَلى نَبِيِّهِ وَرَسُوْلِهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْنِى الْكَلاَمَ النَّفْسِىَّ الْقَدِيْمَ وَالنَّظْمَ الْمَقْرُوْءَ الْمَسْمُوْعَ الْمَحْفُوْظَ الْمَكْتُوْبَ بَيْنَ دَفْتَرِ الْمُصْحَفِ

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah Kalam Allah yang qodim dan Kitab-Nya yang diturunkan kepada Nabi-Nya dan Rasul-Nya saw. yaitu ucapan didalam hati yang qodim dan susunan kata-kata yang dapat dibaca, dapat didengar dan terjaga didalam kitab antara catatan-catatan didalam buku”.

Dengan dikaitkan pendapat al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad ra. tersebut, maka Al-Qur’an al-Karim dibagi menjadi dua bagian:

1). Al-Qur’an sebagai Kalamullah yang qodim, sebagaimana firman Allah SWT:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami”.

2). Al-Qur’an sebagai Kitab yang hadits, yaitu tulisan dengan bahasa Arab yang tertulis di dalam mushab, sebagaimana firman Allah SWT :

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (19) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar ucapan utusan yang mulia (Jibril) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Yang mempunyai Arsy”.QS. at-Takwir/19-20

Maka yang dimaksud dengan al-Kitab— dalam ayat di atas—yang akan diwariskan kepada hamba-hamba dipilih, bukanlah Al-Qur’an yang hadits, melainkan Al-Qur’an yang qodim. Yakni berupa pemahaman hati dari ma’na yang dikandung Al-Qur’an yang hadits. Oleh karenanya, tidak mungkin seseorang dapat memahami al-Qur’an yang Qodim tanpa terlebih dahulu memahami makna al-Qur’an yang hadis.

Jadi, yang dimaksud ilmu warisan adalah pemahaman hati yang bentuknya tidak berupa tulisan yang dapat dilihat mata maupun suara yang dapat didengar telinga, melainkan rasa di dalam hati sebagai buah mujahadah atas dasar takwallah. Pemahaman hati tersebut bisa disebut sebagai ilmu laduni, manakala sumbernya terbit dari ilham secara langsung didalam hati yang datangnya dari urusan ketuhanan, bukan inspirasi hayali yang terkadang bisa jadi terbit dari bisikan Jin. (bersambung)

Jati Diri 2 SK copy

Al-Imam as-Suyuti ra. berkata:

Banyak orang mengira, bahwa “Ilmu Laduni” itu sangat sulit didapat. Mereka berkata bahwa Ilmu Laduni itu berada diluar jangkauan manusia, padahal tidaklah demikian. Untuk mendapatkan Ilmu Laduni ini hanya dengan jalan membangun sebab-sebab yang dapat menghasilkan akibat. Adapun sebab-sebab itu adalah amal dan zuhud. Kemudian beliau meneruskan: Ilmu-ilmu Al-Qur’an dan apa saja yang memancar darinya adalah sangat luas, bagaikan samudera
yang tidak bertepi, dan Ilmu Laduni merupakan alat yang mutlak bagi seseorang untuk menafsirkan ayat-ayatnya.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah mengajarmu”. QS.al-Baqoroh/282. Itulah Ilmu Laduni, Allah mengajarkan ilmu itu kepada hamba-hamba yang terpilih dengan cara membisikkan pemahaman melalui kalbunya, yaitu hati seorang hamba yang sudah bersih dari segala kotoran karakter duniawi yang tidak terpuji, sebagai buah ibadah yang dijalani. Adalah ilmu pengetahuan yang universal dan “rahmatan lil alamiin” yang akan mampu menghantarkan manusia kepada keberhasilan hidup, baik dunia, agama maupun akhirat. Ilmu tersebut dihasilkan dari perpaduan antara ilmu, iman dan amal yang dapat menghasilkan ilmu lagi.

Ketika seseorang sedang kasmaran dengan kekasihnya misalnya, dari refleksi klimaks keasyikan yang terjadi, kerapkali memunculkan pengertian dan pemahaman yang tidak terduga. Pemahaman itu bentuk wujudnya ternyata pengalaman-pengalaman hidup yang sangat berkesan, luas, unik, serta sukar dilupakan. Yang demikian itu apabila diteliti dengan cermat dan mendalam, secara mendetail dan terperinci, apalagi ketika pengalaman-pengalaman itu kadang-kadang ternyata berupa teori-teori tentang cinta—bahkan cinta seorang hamba kepada Tuhannya, padahal dia belum pernah sama sekali belajar tentang ilmu cinta, baik dengan membaca maupun mendengar. Dari manakah gerangan datangnya ilmu itu? Itulah yang dikatakan ilmu laduni, manakala ilmu itu menyangkut pemahaman hati tentang urusan ketuhanan.

Bahkan jauh lebih dalam dari itu. Dalam rangka mencari hakikat makna cinta, terkadang refleksi kerinduan yang terpendam akan sang kekasih, oleh sang perindu dijadikannya sebagai tambang inspirasi dan sumber ilham. Alam kerinduan itu dimasuki dan ditelusuri dalam bentuk pencarian-pencarian secara ruhaniah. Maka yang asalnya tidak mengerti menjadi mengerti dan yang asalnya tidak faham menjadi memahami.

Itulah api cinta ketika bergelora
Dari tambang pengembaraan ruhaniah
Ketika api itu larut bersama sinarnya
Membakar sekat dan hijab
Menembus dinding akal dan fikir
Membuka situs-situs Lauh mahfud
Maka, ruh membaca dan akal menyimpan data

Ketika kerinduan telah mereda
Dan buramnya pandangan mata telah sirna
Maka data-data yang ada di situs itu
Ternyata tempatnya telah berpindah
Oleh karena hanya Allah yang menghendaki
Maka pindahnya data itu disebut Laduniah Rabbaniyah