Arsip untuk Agustus, 2009

OASE ITU ADA DI GUNUNG PATI…

Posted in Hikam, puisi dengan kaitan (tags) on 26 Agustus 2009 by malfiali

OASE ITU ADA DI GUNUNG PATI…
kepada Abah Luthfie

Apa yang terlintas di pikiran dan hati saat asma Allah dan tahlil dibaca berulang-ulang, dengan ketukan yang teratur? Apa yang terlintas dalam hati dan pikiran saat doa-doa dipanjatkan? Apa yang terlintas saat shalawat dan nama junjungan kita Kanjeng Rasululullaah Muhammad Saw disebutkan dengan takzim, saat kita berdiri seperti “menyambut” kedatangan Kanjeng Rasul dengan hati hormat dan penuh kerinduan? Barangkali hanya mereka yang hadirlah yang bisa merasakannya, tetapi barangkali tak bisa menjelaskannya.

Kita, manusia, yang terbiasa terjebak dalam rutinitas, sesungguhnya butuh sesuatu yang bisa membebaskan kita dari rutinitas, agar tak terjebak dalam lingkaran keduniawian yang seolah tiada henti mendera kita, mengguncang kesadaran dan jiwa kita. Seringkali, kita butuh oase-oase ruhani yang selalu siap mengalirkan barakah kedamaian yang mampu merawat ruh-ruh suci kita agar tak tercemar oleh rutinitas harian dan noda ambisi keduniawian yang menjauhkan kita dari Allah, membuat kita lalai kepada Sang Khaliq.

Allah Yang Maha Tahu dan Maha Bijak sesungguhnya tahu betul bahwa kita butuh itu semua, butuh sesuatu yang membawa kita mengenali diri kita, mengenali “sangkan paraning dumadi” kita. Allah telah ciptakan oase-oase ruhani di seluruh penjuru dunia, para pembawa Nur Allah yang mendapatkan limpahan cahaya-Nya melalui Rasululullah yang terus mengalir tanpa putus kepada para Wali Allah dan guru-guru kita yang berada di sirathal mustaqiim Salah satu mata air oase itu mengalir melalui Syekh Asrori radhiyallahu anhu, yang melimpah melampaui batas ruang dan waktu, dan salah dari pancaran mata air itu berkumpul membentuk oase ruhani yang sederhana di sebuah tempat bernama Gunungpati,Ungaran, sebuah tempat sederhana tetapi tenang bernama ponpes salafi Al-Fithrah.

Adalah Abah Luthfi yang mengajarkan saya, dalam sebuah obrolan santai, betapa sederhananya kehidupan itu sesungguhnya, meski dalam kesederhanaan itu terkandung kedalaman “barakah,” yang terus mengalir tanpa kita sadari, selama niat kita dalam menjalani hidup adalah iman dan Lillahi ta’ala. Adalah Abah Luthfi yang mengajari dan menyadarkan saya bahwa sikap kerendahan hati, sikap tak merasa suci, dan memuliakan tamu, adalah sikap yang membuat hati kita menjadi lembut. Betapa tidak. Abah Luthfi-lah, sebagai tuan rumah, yang mengajak saya, sang tamu, untuk makan bersama di paviliunnya yang sederhana dan bersih di belakang rumah. Dan beliaulah, sebagai sosok yang disegani dan dihormati di sana, dengan tanpa beban, di tengah kesibukannya sebagai shohibul acara, menyempatkan diri mendatangi saya di ruang tamu sederhana, mengajak saya makan bersama lagi pada sore hari.

Jadi, masih perlukah kata-kata rumit untuk menyampaikan ajaran? Kadang kata-kata memang perlu, tetapi suri tauladan akhlak yang baik, tindakan dan amal yang nyata, jauh lebih dahsyat ketimbang tumpukan buku tebal berisi kalimat nasihat. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak,” demikian sabda Rasulullaah.

Demikianlah, dalam naungan semerbak harum bunga melati, kami, para tamu dan hadirin, berusaha kembali menjadi “hamba,” memperbaiki pengabdian kita, kembali menyadari bahwa pada hakikatnya manusia adalah hamba Allah. Budak biasanya senang jika dibebaskan dari kedudukan sebagai budak, tetapi seorang hamba Allah justru senang dengan kedudukannya sebagai hamba, sebagai abdi, sebab Allah memuji Rasulullah dengan sebutan hamba – dan hanya Rasulullah-lah, sebagai hamba, yang diperjalankan dalam perjalanan isra’ dan mi’raj untuk menemui-Nya. Ini seolah-olah memperingatkan kita bahwa hanya orang yang sadar diri sebagai hambalah yang berhak masuk ke dalam hadirat-Nya.

Penghambaan adalah kerendahan hati untuk mengakui kelemahan diri kita dihadapan Allah. Tetapi kini banyak orang yang, entah mengapa, merasa tak hina, merasa dirinya besar, merasa lebih baik dan merasa paling benar, hingga ke titik di mana mereka menjadikan Allah hanya menjadi pelengkap penyerta, atau lebih buruk lagi Allah menjadi pelengkap penderita. Allah disebut-sebut sambil kita menipu diri kita, menipu orang lain. Allah disebut-sebut sambil membunuh orang lain tanpa alasan yang bisa dibenarkan oleh syariat dan akal sehat. Allah disebut-sebut saat mereka terkena masalah, terkena kesulitan, dengan mengatakan “Ini adalah kehendak Allah,” yang sama artinya dengan mengkambingkan hitamkan Allah atas kesalahan yang mereka perbuat sendiri! Lalu di mana letak pengabdian kita? Naudzubillah..tsumma naudzubillah..

Karenanya, sesungguhnya kita butuh oase-oase ruhani, yang bisa menyegarkan kembali kesadaran kita, mengingatkan kembali kepada hakikat penciptaan diri kita, menyadarkan kembali fitrah pengabdian kita kepada Allah. Kalau perlu, kitalah yang menjadi oase ruhani itu sendiri, sebagaimana para Nabi, Wali Allah dan ulama-ulama yang siddiq, yang selalu berhati-hati dalam meniti jalan yang lurus, di jalan yang diridhoi Allah. Oase-oase itulah yang bisa menjadi wasilah bagi kita untuk menundukkan hasrat keduniawian kita, kesombongan kita, kecongkakan kita dan kekerasan hati kita, agar kita menjadi manusia yang jiwanya menjadi jiwa yang dipanggil Allah: “Wahai jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah)…. masuklah ke dalam sorgaku dengan Ridho dan Diridhoi..”

Di Gunungpati, aku mereguk oase itu…

IMAN ibarat bibit, HATI ibarat tanah, AMAL/ibadah & pengabdian ibarat menanam, ILMU ibarat metode menanam. Ketika bibit ditanam dengan benar di hati yang bersih, maka buahnya adalah Ma’rifatulloh. [salafi Al-Fithrah]

Mbah Kanyut al-Jawi
NB: terima kasih abah, atas wisata kulinernya, dengan sate sapinya yang luar biasa.

P8110216

Sesama Tamu Hendaknya Tidak Saling Berisik

Posted in Ramadhan dengan kaitan (tags) on 25 Agustus 2009 by malfiali

Sebagai tamu yang mulia dan dimuliakan, semestinya tidak saling mengganggu, atau setidak-tidaknya berisik. Sesama tamu, seharusnya saling menjaga diri agar tidak menjadikan tuan rumah terganggu. Apalagi tuan rumah, yang dimaksudkan di sini adalah bulan Ramadhan, yaitu bulan yang penuh berkah. Pada bulan yang penuh maghfiroh itu segala kesalahan insya Allah diampuni, apalagi kesalahan yang tidak disengaja, misalnya karena memang tidak tahu bahwa itu salah.

Allah menjadikan Bulan Ramadhan sebagai bulan yang mulia, untuk mengantarkan para tamu-tamu yang tergolong mukmin naik derajatnya menjadi taqwa. Sebagai orang taqwa maka akan mendahulukan perintah Allah daripada kepentingan golongan atau dirinya sendiri, misalnya hanya sebatas agar disebut sebagai lebih unggul dari lainnya, misalnya unggul pengetahuannhya, unggul logikanya, unggul sejarahnya, unggul jumlah dan kualitas pengikutnya, dan seterusnya. Apapun, semestinya tidak boleh terjadi.

Bulan Ramadhan yang mulia itu, menghendaki agar seluruh tamu, yakni penghuni bulan itu lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Setidak-tidaknya, pada bulan mulia itu, diutamakan adanya kebersamaan, yang disebut dengan berjama’ah. Karena rakhmat-Nya maka pada bulan ini, sholat sunnah yang biasanya dilakukan secara sendiri-sendiri, misalnya sholat tarweh, dilakukan secara berjama’ah, artinya dengan kebersamaan.

Selain itu, juga dianjurkan untuk banyak bersedekah, ialah peduli pada orang lain. Sebagai bagian dari menjaga Bulan Ramadhan, orang-orang yang sedang menjadi tamu bulan mulia ini, dilarang menyakiti orang lain, bertengkar, ghibbah, adu domba, dan mengembangkan penyakit hati lainnya. Di Bulan Ramadhan, tatkala pada siang hari berpuasa, maka pada malamnya, mereka tidak boleh mengkonsumsi makanan yang subhad, apalagi haram.

Namun sayangnya, entah karena lupa terhadap betapa pentingnya persatuan umat atau karena kurang memahami kemuliaan Bulan Ramadhan, dan atau juga bisa jadi kurang memahami posisi mereka sebagai tamu, ada saja sementara orang yang lebih suka berisik, mempertentangkan sesuatu yang kurang bermanfaat. Tatkala menjadi tamu, ——-yang seharusnya lebih menghormati tuan rumah, masih mempersoalkan sesuatu yang sesungguhnya tidak terlalu urgen, seperti memperdebatkan jumlah rakaat dalam tarweh, perbedaan dalam penentuan waktu awal dan akhir Bulan Ramadhan, yang kesemuanya itu mengakibatkan ibadah menjadi kurang khusu’ dan menjadi berisik.

Semua pihak sebenarnya sudah paham, bahwa apa yang diperdebatkan itu sesungguhnya bukan sesuatu yang pokok dan mendasar. Semisal sholat tarweh, hanya terkait dengan jumlah raka’at, awal dan akhir Bulan Ramadhan, terjadi hanya tatkala bulan berada pada posisi samar-samar ——-kurang jelas, maka dijadikan awal berisik. Padahal di bulan itu, justru tiba waktunya agar semua menjaga persatuan, dan saling menjaga hubungan silaturrahiem, saling menyayangi, menghormati dan bahkan tolong menolong. Anjuran bersedekah adalah sebagai petunjuk agar sillaturrakhiem itu di bangun di bulan yang mulia ini.

Semestinya, tatkala orang bertamu ke tempat yang mulia dan dimuliakan menghindari dari kegiatan yang menjadikan orang lain terganggu, semisal berisik. Mereka akan menjaga kemuliaan dari hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Biasanya suara berisik pada saat bertamu hanyalah pantas dilakukan oleh anak-anak yang belum dewasa, atau orang-orang yang kurang mampu menjaga diri. Tidak pernah ada orang yang sedang bertamu, ——apalagi di tempat yang mulia, kemudian berdebat tentang hal-hal yang tidak perlu. Apalagi pemilik rumah, yakni Bulan Ramadhan, melarang terhadap siapapun saling bertengkar dan berbedabat hingga merusak tali silaturrahiem.

Sebagaimana tulisan terdahulu, bahwa tamu yang baik adalah mereka yang mau menyesuaikan dengan ketentuan yang diberlakukan oleh pemilik rumah. Pemilik rumah menghendaki agar saling menjaga persatuan, saling menghargai, dan saling tolong menolong dalam kebaikan. Pemilik rumah tidak mau ada suasana berisik yang mengganggu kemuliaan bulan yang mulia, yaitu Bulan Ramadhan. Karena itu terhadap sesama tamu, semestinya berusaha menjadi tamu yang terbaik, sehingga tidak selayaknya saling berisik, karena memang hal itu tidak dibolehkan dan bahkan juga tidak seharusnya dilakukan di bulan yang mulia ini. Wallahu a’lam.

Oleh: Imam Suprayogo

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=122436748879&ref=nf

PUASA DALAM ARTI MENOLAK MUSUH ALLAH

Posted in Puasa, Ramadhan dengan kaitan (tags) on 23 Agustus 2009 by malfiali

PUASA DALAM ARTI MENOLAK MUSUH ALLAH

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah SAW bersabda: الصَوْمُ جُنَّةً (puasa adalah benteng). Artinya, ibadah puasa menjadi ‘penjaga’ dari keburukan-keburukan yang datang, baik dari berbuat maksiat dan dosa, dari perilaku yang buruk dan akhlak yang tidak terpuji, juga dari murka Allah dan neraka.

Diriwayatkan dari Jabir, dari Anas RA, dari Rasulullah SAW, Nabi SAW bersabda:

خَمْسَةُ أَشْيَاءَ تُحِيْطُ الصَّوْمَ . أَىْ تُبْطِلُ ثَوَابَهُ . اَلْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالْيَمِيْنُ الْغَمُوْسُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ
“Lima perkara yang membatalkan puasa: bohong, mengumpat/ghibah (membicarakan kejelekan orang lain), memfitnah (adu-domba), sumpah bohong dan melihat dengan syahwat”.

Di dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW juga bersabda:

اَلنَّظْرُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ لَعْنَةُ اللهِ. فَمَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ آتَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِيْمَانًا يَجِدُ حَلاَوَتَهُ فِي قَلْبِهِ . (صححا إسناده عن خذيفة)
“Melihat adalah panah beracun dari panah iblis, mudah-mudahan Allah melaknatnya. Maka barang siapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, Allah Azza Wa Jalla, akan mendatangkan keimanan kepadanya yang hatinya akan merasakan manisnya” (Sanadnya shahih dari Khudhaifah)

Orang berpuasa secara otomatis pasti menjaga dirinya dari berbuat jelek. Seperti berkata bohong, mengumpat, memfitnah, sumpah palsu dan melihat dengan pandangan syahwat. Hal-hal yang tidak terpuji tersebut, dijaganya selama dua puluh empat jam dalam sehari dan didawamkan selama satu bulan penuh. Dasarnya bukan karena takut kepada manusia, melainkan hanya takut kepada Allah. Takwallah yang tidak hanya diucapkan di lisan saja, tapi juga dilaksanakan dan dirasakan di dalam hati. Bahkan tidak hanya itu, waktu-waktu luang yang sudah dikosongkan dari kejelekan tersebut menjadi kesempatan baik untuk diisi dengan amal ketaatan dan kebajikan, baik secara vertikal maupun horizontal. Adakah sarana latihan hidup yang lebih baik lagi dari itu?

Itulah hakekat mujahadah dan riyadlah di jalan Allah. Masa-masa latihan yang diadakan Allah untuk orang-orang yang percaya (beriman). Dengan latihan itu supaya mereka menjadi orang yang bertakwa. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. al-Baqoroh; 2/183)

Bahkan di bulan suci Ramadhan itu Allah sedang membentangkan fasilitas di relung dada orang-orang beriman dengan pancaran Nur Hidayah sehingga isi dada mereka terasa lapang. Itulah “inayah azaliah”, dari dalam, terbit semangat kuat untuk beribadah dan dari luar, rute-rute ibadah dimudahkan dan langkah-langkah penghambaan diteguhkan.

Dengan inayah tersebut yang hakekatnya adalah “tarbiyah azaliah”, seorang hamba diharapkan mampu mengembarakan ruhaniah untuk terbang tinggi ke haribaan Allah. Bermi’raj menuju wushul kepada-Nya. Dengan Inayah itu, seorang hamba dapat mencintai dan dicintai-Nya, meridlai dan diridlai-Nya. Allah telah menyatakan hal tersebut dengan firman-Nya:

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
”Sesungguhnya Waliku adalah Allah yang telah menurunkan kitab, dan Dia mentarbiyah orang-orang yang shaleh”. (QS. 7; 196)

Itulah rahmat utama yang dikhususkan bagi hamba-hamba beriman. Kalau sekiranya tidak ada rahmat utama itu, tidak ada tarbiyah dari Allah, tidak ada bulan suci Ramadhan, tidak ada puasa dan tarawih, tadarus serta shadaqah, maka barangkali tidak ada lagi manusia yang selamat dalam menjalani tantangan kehidupan di dunia ini. Terlebih di dalam era bumi tua seperti sekarang ini.

Seandainya tidak ada bulan suci Ramadhan, barangkali semua manusia akan celaka, baik di dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akherat, karena mereka tidak akan mampu lagi mengendalikan hawa nafsu dan menolak setan. Allah telah berfirman:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan kalau sekiranya tidak karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentunya kamu mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu)” (QS. an-Nisa’; 4/83)

Ibadah puasa juga berarti menolak setan jin, sebab musuh utama manusia setelah hawa nafsu adalah setan Jin. Setan Jin mempergunakan jalan nafsu syahwat untuk memperdaya dan menguasai manusia. Padahal kuatnya nafsu syahwat itu dengan banyak makan dan minum, maka dengan puasa berarti orang beriman menyempitkan jalan masuk setan ke dalam tubuhnya. Rasulullah SAW telah menyatakan yang demikian itu dengan sabdanya:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَجْرِى مِنِ ابْنِ آَدَمَ مَجْرَى الدَّمِ فَضَيِّقُوْا مَجَارِيَهُ بِالْجُوْعِ .
“Sesungguhnya setan masuk ke dalam anak Adam melalui aliran jalan darah. Maka sempitkanlah jalan alirannya dengan lapar (puasa)”

Allah juga telah memberi peringatan akan hal itu dengan firman-Nya:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ(فاطر:35/6)
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”. QS. Fathir; 35/6

PUASA DAN MUJAHADAH RASIONAL

Posted in Lailatul Qadr, Puasa, Ramadhan dengan kaitan (tags) on 23 Agustus 2009 by malfiali

Puasa dari Makna Sabda Nabi SAW

عَنِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : أَنَّهُ قَالَ حِكَايَةً عَنْ رَبِّهِ تَعَالى : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِىْ بِهِ . متفق عليه
“Dari Nabi SAW Sesungguhnya beliau bersabda menceritakan Firman Allah “Seluruh amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya” (Muttafaq ‘Alaih).

*********
YANG BURUK BAGI ORANG BERPUASA DI HADAPAN MANUSIA, TERNYATA BAIK DI HADAPAN ALLAH.

Banyak ekses lahir dari ibadah puasa yang menurut pandangan umum buruk, namun di hadapan Allah ternyata baik. Salah satunya dan merupakan kendala bagi orang yang berpuasa adalah nafas yang tidak segar. Terlebih apabila orang yang berpuasa itu terpaksa harus mengadakan aktifitas pergaulan dengan orang lain. Nafas tidak segar orang yang sedang berpuasa itu memang tidak disukai oleh semua orang, namun menurut pandangan Allah ternyata lebih harum dibanding bau minyak misik. Rasulullah SAW telah menegaskan hal itu dengan sabdanya:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ , لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. متفق عليه.

“Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum daripada bau misik”. (Muttafaq ’Alaih)

Penegasan Baginda Nabi SAW mengenai bau mulut orang berpuasa tersebut merupakan bagian yang tidak dapat diterima nalar apabila parameternya adalah nalar secara umum manusia. Adanya pandangan negatif (buruk) terhadap ekses atau dampak pelaksanaan ibadah tersebut, karena orang pada umumnya hanya mampu melihat suatu kejadian dari sisi lahirnya saja, itupun hanya yang berkaitan dengan urusan duniawi. Mereka tidak mampu melihat batinnya atau hikmah dan kemanfaatan luas dari kejadian tersebut bagi tujuan pelaksanaan amal, sehingga yang dikatakan buruk itu tidak mampu mendatangkan hikmah. Apabila nafas tidak segar itu dikaitkan dengan hakekat hikmah puasa, maka secara otomatis orang tersebut akan malas berbicara. Orang yang berpuasa enggan berbicara kecuali untuk hal yang penting saja karena keadaan bau nafasnya sedang tidak bersahabat.

Sesungguhnya hakekat puasa adalah pelaksanaan mujahadah secara universal, dimana membatasi bicara merupakan bagian dari universalitas pelaksanaan mujahadah tersebut. Bahkan menahan bicara atau membatasi bicara, terutama bicara yang tidak ada manfaatnya merupakan mujahadah rasional. Hal itu disebabkan, karena semakin orang banyak bicara, berarti semakin rentan terjebak dalam kesalahan, terlebih manakala tanpa terasa arah pembicaraan itu bergeser masuk wilayah gosip dan fitnah.

Banyak bicara di waktu berpuasa itu ibarat orang menuangkan air di dalam ember bocor. Sebanyak apapun air yang sudah dituangkan, tetap saja akan hilang dengan percuma. Bagi orang yang sedang berpuasa, meskipun dari haus dan lapar yang diderita sepanjang hari itu mampu menghasilkan sumber pahala yang memancar terus-menerus, namun pahala-pahala itu akan tetap habis juga karena selalu menguap melalui lisannya. Terlebih ketika yang dibicarakan itu adalah tentang kejelekan orang lain (ghibah dan fitnah) yang dosanya tidak akan diampuni Allah sepanjang orang yang di”rasani” (diperbincangkan) dan difitnah itu belum memaafkannya. Ghibah artinya membicarakan kejelekan orang lain sebagaimana apa adanya tanpa ada tambahan dan bumbu penyedap, dampak buruknya lebih berat dari ZINA. Apabila keburukan yang dijadikan ajang gosip ria itu ternyata sesuatu yang diada-adakan berarti itu fitnah yang dampak buruknya lebih dahsyat dari MEMBUNUH.

Orang yang banyak bicara pada waktu berpuasa akan semakin merugi, sebab nila ghibah dan fitnah yang hanya setitik itu akan mampu merusakkan susu pahala puasa sebelanga. Lumrah bila ada orang yang tidak pernah menjalani perintah agama kemudian dimasukkan neraka. Hal itu bisa terjadi karena jatah senang dalam hidupnya sudah dihabiskan di dunia, maka jadinya di akherat tinggal penderitaan saja. Namun lain halnya apabila ada orang yang sudah melaksanakan perintah agama, bahkan sepanjang harinya selama sebulan penuh di bulan Ramadhan merasakan penderitaan lapar dan haus karena menjalankan perintah Tuhannya, ditambahkan lagi dengan tarawih dan tadarus pada malamnya bahkan dengan ibadah tambahan yang lain, seperti shadaqah. Namun akibat intensitas lisan yang suka bocor dan kebablasan tersebut kemudian malah menjadikan mereka masuk neraka. Hamba yang berpuasa (Shaaimin) yang sesungguhnya sudah berada di depan pintu surga, namun urung masuk ke dalamnya karena tidak mampu mengelola cara berbicara, berarti tidak ubahnya seperti “ ITIK BERENANG TAPI MATI KEHAUSAN ”.

MUJAHADAH RASIONAL

Rasulullah SAW bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ , لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ. متفق عليه.

“Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum daripada bau misik”. (Muttafaq ’Alaih)

Makna esoteris dari “nafas tidak segar” bagi orang yang sedang berpuasa yang lebih dalam dari sekedar terhindar berbuat ghibah dan fitnah adalah, bahwa dengan menahan berbicara, disamping orang yang berpuasa melaksanakan mujahadah secara emosional—yaitu menahan lapar dan haus, sejatinya juga melaksanakan mujahadah secara rasional.

Asalnya dari nafas tidak segar, kemudian terpaksa harus menahan bicara, padahal yang akan dibicarakan itu adalah urusan penting berkaitan dengan urusan duniawi. Sepenting apapun urusan duniawi tersebut, karena ia sedang menjalankan puasa, maka ditunda lebih dulu. Tanpa terasa, penundaan itu sesungguhnya adalah hakekat pelaksanaan mujahadah rasional yang mampu memberikan manfaat yang sangat luas bagi kehidupan manusia.

Dengan berpuasa itu orang beriman telah mengendalikan nafsu syahwat (mujahadah emosional), hal tersebut akan berdampak bagi emosionalitas (bermanfaat untuk meredam emosi) pula. Sedangkan menahan bicara adalah bagian dari pelaksanaan mujahadah secara rasional, maka kemanfaatannya juga akan berimbas bagi rasionalitas. Dengan demikian, hikmah mujahadah rasional itu tidak hanya sekedar menghasilkan pahala dan diampunkan dosa-dosa saja, namun juga mampu membentuk karakter dan pola pikir yang positif bagi orang yang mampu menjalani.

Dalam sebuah haditsnya Baginda Nabi SAW bersabda: “Berpuasalah supaya kalian menjadi sehat”. Artinya, dengan menahan lapar dan haus itu ternyata mampu menjadikan badan menjadi sehat. Menahan bicara itu sejatinya juga demikian, bahkan yang menjadi sehat tidak hanya sekedar jasad saja tetapi juga rasionalitas. Sebab, yang ditahan itu sebenarnya adalah dimensi rasionalitas yang terkadang intensitasnya berlebihan dan dapat mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan. Dengan menahan bicara, tanpa disadari akan terjadi keseimbangan dalam jiwa, baik secara rasional terlebih emosional, sehingga mampu menciptakan dampak positif bagi kehidupan secara lahir (jasmani). Hal itu disebabkan, karena sumber penyebab segala penyakit dalam tubuh manusia, terkadang juga akibat intensitas kehidupan rasional yang tidak terkendali. Apabila menahan dan menunda bicara itu karena mengutamakan urusan Allah daripada urusan duniawi, maka perilaku tersebut bahkan mampu menciptakan manfaat emosional, rasional dan spiritual yang lebih universal, sehingga tercipta kesehatan jasmani sekaligus ruhani.

Walhasil, nafas yang tidak segar itu ternyata bentuk lain dari “inayah lahir” atau pertolongan yang didatangkan secara kasat mata yang diturunkan Allah kepada orang yang berpuasa supaya puasanya menjadi sempurna. Keberadaan inayah lahir selalu menyertai “inayah batin” atau pertolongan secara ruhaniah yang berbentuk hidayah dalam hatinya sehingga dapat menerbitkan semangat beribadah.

Di dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”.

Bagi orang yang sedang berpuasa, tidurnya dinilai ibadah. Bila tidurnya saja termasuk ibadah apalagi ibadahnya, tentunya ibadah orang yang sedang puasa itu akan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah.

UJIAN IHLAS

Posted in Lailatul Qadr, Puasa, Ramadhan dengan kaitan (tags) on 23 Agustus 2009 by malfiali

Ujian Ihlas

Konon suatu hari, ketika seorang guru sudah memandang perlu menguji sebagian murid-murid yang pilihan, dia memanggil empat orang murid. Masing-masing murid itu diberi seekor ayam dengan sebilah pisau dan dikatakan kepada mereka: “Wahai murid-muridku, coba ayam-ayam itu kalian potong di suatu tempat yang tidak dapat dilihat oleh siapapun dan jangan sampai diketahui oleh siapapun”.

Berangkatlah murid-murid pilihan itu dengan merahasiakan keberangkatan dan berpencar, masing-masing membawa seekor ayam dan sebilah pisau yang sudah diasah tajam untuk mencari tempat yang tersembunyi supaya saat memotong ayam itu—seperti perintah gurunya—tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Yang satu pergi ke hutan, dan yang lainnya ada yang pergi ke gua dan ada yang masuk ke dalam kamar yang tertutup rapat. Ketika mereka bertiga merasa sudah tidak ada orang yang melihat dan mengetahui keberadaannya, maka dipotonglah ayam-ayam itu. Sedangkan murid yang terakhir, setelah berputar-putar ke sana ke mari, bahkan di tempat yang terpencil sekalipun, dia tidak mendapati tempat di mana dia dapat memotong ayamnya dengan tanpa dilihat dan diketahui oleh siapa-siapa. Oleh karena itu, ketika teman-temannya pulang dengan membawa ayam yang sudah dipotong, dia sendiri pulang dengan ayam yang masih dalam keadaan hidup.

Sesampainya di depan sang guru, murid yang satu melaporkan bahwa ia telah memotong ayamnya di dalam gua sehingga tidak mungkin ada orang yang mengetahuinya, yang satunya melaporkan telah memotong ayamnya di dalam hutan yang lebat sehingga tidak mungkin ada orang yang mengetahuinya dan yang satunya melaporkan telah memotong ayamnya di dalam kamar yang tertutup rapat, bahkan saat masukpun tidak ada seorangpun yang mengetahui, maka berarti tidak mungkin ada orang yang mengetahui pada saat mereka memotong ayam itu. Ketika murid yang satu itu ditanya oleh gurunya, mengapa engkau tidak memotong ayammu?, ia menjawab: “Maaf guru, saya sudah berputar-putar, mencari tempat yang paling sepi dan terpencil sekalipun, tapi tidak saya dapati satu tempatpun di mana saya dapat memotong ayam ini tanpa dilihat dan diketahui oleh siapapun, karena semakin sepi tempat yang aku temukan semakin aku rasakan bahwa Allah melihat kepadaku. Oleh karena itu, di manapun berada aku tidak sanggup memotong ayam ini dengan tanpa dilihat dan diketahui oleh siapapun”.

Dengan jawaban tersebut, maka ketiga murid-murid yang lain menjadi sadar bahwa yang akan lulus ujian gurunya adalah temannya yang terakhir ini, yaitu yang tidak dapat menemukan suatu tempat di mana dia tidak dapat dilihat dan diketahui oleh siapapun. Karena di manapun seseorang berada pasti Allah akan melihat dan mengetahuinya.

Walhasil, matahati ketika sudah cemerlang, maka yang tampak dalam sorot mata hanya Allah SWT. Itulah gambaran hati seorang hamba yang menduduki maqom MUSYAHADAH, maka yang ada dalam sorot matanya bukan SEBAB, akan tetapi YANG MENYEBABKAN SEBAB-SEBAB dari setiap realita dan fenomena yang dilihat. Ibadah puasa adalah ibadah rahasia, meski tidak dapat diketahui oleh siapa-siapa, akan tetapi Allah Maha Mengetahuinya. Dengan gemar mengerjakan ibadah puasa berarti sama saja orang melatih diri supaya matahatinya menjadi cemerlang dan tembus pandang. Ketika ibadah rahasia itu sudah waktunya berbuah, dan matahati seorang pengembara sudah mendapatkan FUTUH (terbukanya matahati) dari Tuhannya sehingga menjadi cemerlang dan tembus pandang, maka berarti orang tersebut akan mendapatkan KEYAKINAN HATI yang kuat, karena selalu mampu bermusyahadah kepada Allah SWT. Barangkali seperti itulah gambaran hati orang yang bertakwa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS.al-Baqoroh/183)

Apakah Anda Pernah Mendapat Malam Qadr …??

Posted in Lailatul Qadr, Puasa, Ramadhan dengan kaitan (tags) , on 23 Agustus 2009 by malfiali

Apakah Anda Pernah Mendapat Malam Qadr ??

Sekitar tahun 1972, saat penulis menjadi salah satu anggota remaja Musholla di kampung. Di bulan suci Ramadhan, pada malam-malam ganjil, tepatnya pada malam dua puluh tujuh, Salah satu kegiatan kami saat itu adalah Ro’an, yaitu kerja bakti membersihkan Musholla. Kira-kira jam dua malam, saat teman-teman yang lain tertidur pulas, salah satu teman ada yang masih sibuk membersihkan kamar mandi.

Sebelum itu, teman ini termasuk yang terbelakang dibanding teman-teman yang lain dan paling jarang mengikuti pengajian, juga jarang mengikuti kegiatan mujahadah malam. Dia lebih senang memilih bekerja di bagian pekerjaan kasar seperti di bagian kebersihan. Dan di bagian kebersihan itupun dia gemar memilih pekerjaan yang tidak disenangi teman-teman lain. Membersihkan bagian kamar mandi misalnya—yang kadang-kadang hanya setahun sekali baru dibersihkan—seperti yang sedang dia kerjakan pada saat itu.

Paginya setelah shalat subuh dia bercerita kepada penulis, bahwa tadi malam saat sedang menggosok lantai kamar mandi itu, terjadi peristiwa yang menurutnya mengherankan. Tanpa sebab, sekujur badannya mendadak gemetar, dadanya bergetar dan tanpa dapat ditahan air matanya mengalir dan menangis dengan sendirinya. Dia berpikir barangkali ini yang dikatakan orang mendapatkan Lailatul Qadr.

Ada lagi yang lebih mengherankan dari itu, karena sejak kejadian itu ternyata terdapat banyak perubahan di dalam dirinya. Dahulu yang asalnya termasuk orang yang paling malas mengikuti pengajian, sekarang menjadi paling aktif. Yang asalnya paling jarang mengikuti kegiatan mujahadah malam, sekarang malah justru menjadi penggeraknya. Tampak lebih tekun membaca dan belajar, lebih aktif mengerjakan puasa sunnah dan sholat malam. Yang lebih istimewa lagi, yang asalnya paling bodoh itu, sekarang dalam waktu relatif singkat berangsur-angsur menjadi orang yang paling pandai di antara teman-teman yang lain. Padahal dia hanyalah anak orang biasa-biasa saja, artinya bukan anak seorang kyai yang ternama. Singkat cerita, sekarang dia telah menjadi seorang Ulama yang berpengaruh dan disegani di daerahnya.

Jika cerita ini benar, maka untuk mendapatkan Malam Qadr itu ternyata tidak harus dengan ilmu dan ibadah fertikal saja, dengan merasa hina kemudian melaksanakan ibadah dengan segala kehinaan itu, justru menjadikan orang tersebut lebih berpeluang mendapat kemudahan untuk terpilih menjadi orang mulia. Mendapat bonus Ramadhan yang tidak mudah didapatkan oleh orang yang Alim sekalipun. Marhaban yaa Ramadhan, Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, MOHON MAAF LAHIR BATIN

SELAMAT JALAN MATAHARIKU

Posted in puisi dengan kaitan (tags) on 19 Agustus 2009 by malfiali

SELAMAT JALAN MATAHARIKU

Sang matahari dari timur telah kembali ke peraduannya
Meningalkan hati-hati terlena
Menggugah perasaan terlelap dalam tidur panjang
Pergi menghadap Sang Paduka
Dengan ridho akan ridho-Nya
Menjemput yang sudah disiapkan disana
Meski semua mengatakan belum saatnya
Namun inilah kenyataan
Maka yang semua itu harus siap menerima
Karena tahapan tugas rupanya sudah paripurna

Disini, dalam bumi yang gersang ini
Seakan engkau tidak peduli kepada yang ada
Padahal kami belum banyak menduga
Kemana tinggalan ini harus dilanjutkan
Hamparan sawah yang butuh perawatan
Gedung-gedung megah yang terasa ikut berduka
Seperti hati kami yang seakan putus asa

Kami melolong, menangis bagai itik ditinggal induk semang
Kehilangan padahal dulu kurang memanfaatkan kemudahan
Namun engkau tanpa menoleh berjalan melenggang
Dijemput teman-temanmu yang sudah lama merindukan
Berjalan seiring meninggalkan batas perpisahan
Bersama-sama menggapai apa yang sudah yang dijanjikan
Karena dulu perjalanan telah ditempuh dengan penuh persiapan

Barangsiapa mendekat dalam lahir
Maka yang dituju itu kini telah sirna
Barangsiapa memandang dengan syahwat
Maka yang dinikmati itu kini hilang entah kemana
Barangsiapa terlena dalam gendongan
Maka selendang itu kini akan jadi rebutan
Barangsiap bernaung dalam keteduhan
Maka pohon rindang itu antah pergi kemana
Hati terkaget meski tidak berdaya
Pikiran menerawang jauh karena hidup menjadi tidak bermakna

Adapun yang mendekat kepada ilmu dan akhlak mulia
Kharismah ruhaniah yang memancar abadi sepanjang masa
Amaliyah yang tergurat kuat dalam lembar kain sutra
Disulam dalam permadani dengan permata dan mutiara
Digurat dalam mushab dan kitab yang terjaga
Meski kini nafasnya tidak lagi memancar dari sumbernya
Namun kapan saja akan terpancarkan dalam setiap ronga dada
Asal tapak tilas itu diikuti dengan hati selamat dan terjaga
Bersih dari penyakit-penyakit manusiawi yang dapat mengotori matahati dan jiwa

Selamat jalan sang matahari zaman
Dengan segala kebahagiaan yang engkau dapatkan
Meski meningalkan duka-duka mendalam
Disini, di tanah-tanah yang engkau bajak selama ini
Semoga bibit yang engkau tanam
Tumbuh menjadi pohon rindang dan berbuah
Dalam setiap hamparan isi dada
Anak-anak asuh yang seakan baru terjaga
Terlena dari mimpi-mimpi panjang yang melalaikan
Padahal kami masih butuh air yang selama ini engkau kucurkan
Kehidupan yang telah membangkitkan kehidupan

(Yang Tenggelam dalam Baju Hitam)