OASE ITU ADA DI GUNUNG PATI…
kepada Abah Luthfie
Apa yang terlintas di pikiran dan hati saat asma Allah dan tahlil dibaca berulang-ulang, dengan ketukan yang teratur? Apa yang terlintas dalam hati dan pikiran saat doa-doa dipanjatkan? Apa yang terlintas saat shalawat dan nama junjungan kita Kanjeng Rasululullaah Muhammad Saw disebutkan dengan takzim, saat kita berdiri seperti “menyambut” kedatangan Kanjeng Rasul dengan hati hormat dan penuh kerinduan? Barangkali hanya mereka yang hadirlah yang bisa merasakannya, tetapi barangkali tak bisa menjelaskannya.
Kita, manusia, yang terbiasa terjebak dalam rutinitas, sesungguhnya butuh sesuatu yang bisa membebaskan kita dari rutinitas, agar tak terjebak dalam lingkaran keduniawian yang seolah tiada henti mendera kita, mengguncang kesadaran dan jiwa kita. Seringkali, kita butuh oase-oase ruhani yang selalu siap mengalirkan barakah kedamaian yang mampu merawat ruh-ruh suci kita agar tak tercemar oleh rutinitas harian dan noda ambisi keduniawian yang menjauhkan kita dari Allah, membuat kita lalai kepada Sang Khaliq.
Allah Yang Maha Tahu dan Maha Bijak sesungguhnya tahu betul bahwa kita butuh itu semua, butuh sesuatu yang membawa kita mengenali diri kita, mengenali “sangkan paraning dumadi” kita. Allah telah ciptakan oase-oase ruhani di seluruh penjuru dunia, para pembawa Nur Allah yang mendapatkan limpahan cahaya-Nya melalui Rasululullah yang terus mengalir tanpa putus kepada para Wali Allah dan guru-guru kita yang berada di sirathal mustaqiim Salah satu mata air oase itu mengalir melalui Syekh Asrori radhiyallahu anhu, yang melimpah melampaui batas ruang dan waktu, dan salah dari pancaran mata air itu berkumpul membentuk oase ruhani yang sederhana di sebuah tempat bernama Gunungpati,Ungaran, sebuah tempat sederhana tetapi tenang bernama ponpes salafi Al-Fithrah.
Adalah Abah Luthfi yang mengajarkan saya, dalam sebuah obrolan santai, betapa sederhananya kehidupan itu sesungguhnya, meski dalam kesederhanaan itu terkandung kedalaman “barakah,” yang terus mengalir tanpa kita sadari, selama niat kita dalam menjalani hidup adalah iman dan Lillahi ta’ala. Adalah Abah Luthfi yang mengajari dan menyadarkan saya bahwa sikap kerendahan hati, sikap tak merasa suci, dan memuliakan tamu, adalah sikap yang membuat hati kita menjadi lembut. Betapa tidak. Abah Luthfi-lah, sebagai tuan rumah, yang mengajak saya, sang tamu, untuk makan bersama di paviliunnya yang sederhana dan bersih di belakang rumah. Dan beliaulah, sebagai sosok yang disegani dan dihormati di sana, dengan tanpa beban, di tengah kesibukannya sebagai shohibul acara, menyempatkan diri mendatangi saya di ruang tamu sederhana, mengajak saya makan bersama lagi pada sore hari.
Jadi, masih perlukah kata-kata rumit untuk menyampaikan ajaran? Kadang kata-kata memang perlu, tetapi suri tauladan akhlak yang baik, tindakan dan amal yang nyata, jauh lebih dahsyat ketimbang tumpukan buku tebal berisi kalimat nasihat. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak,” demikian sabda Rasulullaah.
Demikianlah, dalam naungan semerbak harum bunga melati, kami, para tamu dan hadirin, berusaha kembali menjadi “hamba,” memperbaiki pengabdian kita, kembali menyadari bahwa pada hakikatnya manusia adalah hamba Allah. Budak biasanya senang jika dibebaskan dari kedudukan sebagai budak, tetapi seorang hamba Allah justru senang dengan kedudukannya sebagai hamba, sebagai abdi, sebab Allah memuji Rasulullah dengan sebutan hamba – dan hanya Rasulullah-lah, sebagai hamba, yang diperjalankan dalam perjalanan isra’ dan mi’raj untuk menemui-Nya. Ini seolah-olah memperingatkan kita bahwa hanya orang yang sadar diri sebagai hambalah yang berhak masuk ke dalam hadirat-Nya.
Penghambaan adalah kerendahan hati untuk mengakui kelemahan diri kita dihadapan Allah. Tetapi kini banyak orang yang, entah mengapa, merasa tak hina, merasa dirinya besar, merasa lebih baik dan merasa paling benar, hingga ke titik di mana mereka menjadikan Allah hanya menjadi pelengkap penyerta, atau lebih buruk lagi Allah menjadi pelengkap penderita. Allah disebut-sebut sambil kita menipu diri kita, menipu orang lain. Allah disebut-sebut sambil membunuh orang lain tanpa alasan yang bisa dibenarkan oleh syariat dan akal sehat. Allah disebut-sebut saat mereka terkena masalah, terkena kesulitan, dengan mengatakan “Ini adalah kehendak Allah,” yang sama artinya dengan mengkambingkan hitamkan Allah atas kesalahan yang mereka perbuat sendiri! Lalu di mana letak pengabdian kita? Naudzubillah..tsumma naudzubillah..
Karenanya, sesungguhnya kita butuh oase-oase ruhani, yang bisa menyegarkan kembali kesadaran kita, mengingatkan kembali kepada hakikat penciptaan diri kita, menyadarkan kembali fitrah pengabdian kita kepada Allah. Kalau perlu, kitalah yang menjadi oase ruhani itu sendiri, sebagaimana para Nabi, Wali Allah dan ulama-ulama yang siddiq, yang selalu berhati-hati dalam meniti jalan yang lurus, di jalan yang diridhoi Allah. Oase-oase itulah yang bisa menjadi wasilah bagi kita untuk menundukkan hasrat keduniawian kita, kesombongan kita, kecongkakan kita dan kekerasan hati kita, agar kita menjadi manusia yang jiwanya menjadi jiwa yang dipanggil Allah: “Wahai jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah)…. masuklah ke dalam sorgaku dengan Ridho dan Diridhoi..”
Di Gunungpati, aku mereguk oase itu…
IMAN ibarat bibit, HATI ibarat tanah, AMAL/ibadah & pengabdian ibarat menanam, ILMU ibarat metode menanam. Ketika bibit ditanam dengan benar di hati yang bersih, maka buahnya adalah Ma’rifatulloh. [salafi Al-Fithrah]
Mbah Kanyut al-Jawi
NB: terima kasih abah, atas wisata kulinernya, dengan sate sapinya yang luar biasa.
