IMAN DAN CINTA RASUL (part-7) (Saksi di Hari Kiamat)
SAKSI-SAKSI DI HARI KIAMAT
Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pencipta. Dengan kesendirian-Nya, menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk manusia. Di hadapan kekuasaan-Nya, manusia tidak berbeda dengan makhluk yang lain. Tidak ada satu kekuatanpun dapat menghalangi seandainya Allah Ta’ala berbuat sekehendak hati-Nya. Karena tidak ada yang sanggup meski sekedar bertanya atas segala perbuat-Nya.
Dengan ke-Mahaadilan-Nya, Allah menempatkan manusia dalam kedudukan mulia melebihi kehormatan makhluk yang lain, bahkan malaikat sekalipun. Manusia akan diperlakukan dengan seadil-adilnya di hari kiamat, tidak seperti makhluk yang lain—yang sebagian besar mereka saat itu, dijadikan tanah kembali setelah hak dan kewajibannya dengan manusia selesai diperhitungkan. Manusia tidaklah demikian, manusia akan dihidupkan untuk selama-lamanya dengan mengikuti perbuatan yang sudah dilakukan selama di dunia.
Dalam rangka memuliakan manusia, pengadilan akbar pada hari kiamat akan digelar dengan seadil-adilnya. Saat itu, manusia hanya mendapatkan sesuai yang diusahakan. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan dan apa yang dikerjakannya akan diperlihatkan” (QS.An-Najm; 53/39)
Sedikitpun manusia tidak kuasa menyalahkan siapa-siapa, ketika ternyata menjadi penghuni neraka untuk selama-lamanya. Karena di dunia sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Mengikuti kemauan hawa nafsu dan setan atau mengikuti hidayah Allah Ta’ala untuk melaksanakan jihad akbar, jihad melawan hawa nafsu yang ada di dalam rongga dadanya sendiri.
Berangkat dari dua pilihan itu, maka di akherat nanti manusia juga terbagi menjadi dua golongan. Yang satu bahagia untuk selama-lamanya di surga dan yang satunya menderita untuk selama-lamanya pula di neraka. Kita mohon perlindungan kepada Allah dari siksa neraka.
Untuk kepentingan pengadilan akbar tersebut, Allah Ta’ala telah menetapkan empat golongan yang akan menjadi saksi-saksi bagi amal ibadah manusia, yaitu: malaikat pencatat amal, anggota tubuh manusia sendiri, para Nabi Allah AS dan umat Muhammad SAW.
a). Saksi pertama, Para Malaikat Pencatat Amal
Allah Swt. berfirman:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ (20) وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ
“Dan ditiuplah sangkakala, itulah hari terlaksananya ancaman dan tiap-tiap diri akan datang bersama-sama Malaikat penggiring dan Malaikat sebagai saksi”. (QS. Qaaf; .50/20-21)
Dan juga firman-Nya:
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Ketika dua Malaikat saling bertemu, masing-masing duduk sebelah kanan dan sebelah kiri* Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas (pencatat) yang hadir”. (QS. Qaaf: 17-18)
Kemudian firman-Nya:
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang menjaga * Yang mulia dan yang mencatat * Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Infithar; 82/10-12)
Ternyata bukan hanya manusia yang akan menjadi saksi bagi amal perbuatan yang dikerjakan manusia di dunia. Para malaikat juga, dan ternyata malaikat-malaikat yang telah dipersiapkan untuk menjadi saksi tersebut adalah malaikat yang sudah diikutsertakan di dalam kehidupan manusia di dunia.
Yaitu malaikat pencatat amal yang selalu duduk di samping kanan dan kiri manusia, sehingga akan mengetahui dengan pasti dan bahkan telah melihat sendiri dengan mata kepala terhadap setiap detail perbuatan yang sudah dikerjakan manusia yang menjadi tanggungannya. Baik dari perbuatan kebajikan maupun kejahatan, dari ketaatan ataupun kemaksiatan. Sehingga tidak ada sekecil apapun dari perbuatan tersebut terlepas dari pengawasan dan pencatatan. Bahkan dicatat secara langsung saat tepat pada waktu pekerjaan itu dilakukan. Yang demikian itu supaya persaksian benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Kemudian catatan itu dikalungkan di setiap leher pemiliknya, dan pada hari kiyamat catatan tersebut dicetak menjadi sebuah kitab. Ketika saatnya kitab itu dibuka maka dikatakan kepada pemiliknya:
اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
“Bacalah kitabmu, pada hari ini cukup dirimu sendiri sebagai penghisab terhadapmu”. (QS. al-Isra’; 17/14)
Maka:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat * Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihatnya”. (QS. az-Zalzalah; 99/7-8)
Sedikitpun manusia tidak kuasa membantah, ketika ilmu dan amal yang dahulu dibanggakan, ternyata saat itu tidak berguna lagi. Terlebih ketika melihat temannya yang dahulu dicerca, ternyata sekarang lebih mendapat keselamatan ketimbang dirinya sendiri, bahkan mereka mendapatkan kedudukan terhormat, karena ternyata yang mereka yakini lebih benar daripada yang diyakininya sendiri. Maka manusia menyesal dan berharap untuk dapat kembali ke dunia guna memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan itu, akan tetapi sayangnya yang namanya mati hanya sekali, dan itupun hanya di dunia, selanjutnya manusia akan hidup untuk selama-lamanya.
b). Saksi kedua, Anggota tubuhnya sendiri
Kejadian yang sangat menakjubkan, merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Swt, di mana manusia pada hari kiamat mendapati dirinya tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak mampu membantah, apalagi mengelak. Ketika anggota tubuh yang selama hidupnya di dunia dengan setia membantu menyelesaikan segala kebutuhan, kini menjadi saksi atas segala perbuatan.
Allah Ta’ala berfirman :
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan bersaksilah kaki mereka terhadap apa yang dahulu telah mereka kerjakan”. (QS.Yasin; 36/65)
Firman-firman Allah di atas mengajak kita bermi’roj, menembus alam gaib, melihat kejadian-kejadian yang bakal terjadi di akherat nanti. Akan tiba saatnya serombongan anak manusia digiring dan dikumpulkan di depan pintu neraka. Ketika udara panas yang dihembuskan kobaran api di depan mata mulai terasa membakar kulit, saat wajah-wajah mulai berkerut dimakan rasa takut akibat dosa yang terlanjur ikut mengiringi maut. Maka difirmankan kepada mereka:
هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (63) اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
“Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam dengannya – Hari ini masuklah kamu ke dalamnya, dengan sebab dahulu kamu mengingkarinya”. (QS.Yasin: 36/63-64)
Saat itu, …. tangan yang selama ini menjadi sahabat karib, menjadi pembantu dan teman yang setia selama hidup, menyampaikan kehendak, mendatangkan hajat, mewujudkan hasrat dan keinginan, menggapai cita-cita dan harapan, …….. kini melaporkan kembali kepada Allah Ta’ala ……., tentang kebohongan dan kejahatannya, tentang pengkhianatan dan kemunafikannya, bahkan perselingkuhannya.
Kaki yang dahulu selalu bekerjasama dengan tangan, berjalan seiring saling membantu untuk melayani sang majikan. Kini berkonspirasi bahkan menjadi saksi atas sebuah kejahatan yang telah dilakukan.
Maka fakta menjadi nyata
bukti menjadi pasti.
Tidak ada jalan mengelak
tidak sempat mengingkari.
Dikabarkan lagi oleh Allah Ta’ala:
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (24) يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ
“Pada hari, ketika lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya dan mereka menjadi tahu bahwa Allah Yang Benar, lagi Yang Menjelaskan”. (QS. an-Nur: 24/24-25)
Lisan, tangan dan kaki pada hari itu menjadi saksi-saksi nyata, hal itu karena kebersamaannya selama di dunia dalam kehidupan manusia, bersama-sama melaksanakan perbuatan dengan manusianya, baik amal ibadah maupun kemaksiatan, baik pengabdian maupun pengkhianatan, baik kesetiaan maupun perselingkuhan. Manusia tidak kuasa lagi membantah, ketika semua itu ditulis di dalam kitab yang sudah terbuka di hadapan mata. Maka para Pendosa tinggal menunggu nasib dengan sorot mata menengadah, membayangkan siksa neraka dengan penuh putus asa, karena persaksian telah menjadi kuat dan pembuktian sudah menjadi akurat.
Seandainya dahulu di dunia hatinya mau sedikit saja melunak, mendengarkan peringatan dari teman-teman setia yang mengasihi, lalu menimbang dengan kejernihan hati yang tulus serta menawarkan kepada hidayah Tuhan yang diyakini, hidayah yang sebenarnya setiap saat sudah menghampiri nurani, membelai hati yang keras supaya mau mengala dan mawas diri….. maka barangkali sekarang tidak menyesal atas isi catatan yang dapat dihitung sendiri.
Ternyata hari akherat tidak seperti di dunia, betapapun orang menyesali perbuatan, penyesalan itu tidak berguna, sedikitpun tidak akan mengurangi siksa yang harus diterima. Seandainya penyesalan itu dilakukan di dunia, saat orang masih mempunyai kesempatan untuk berbuat maksiat tetapi mau bertaubat dan berbena, maka penyesalan itu akan merontokkan dosa-dosa, bahkan mengangkat derajatnya di Surga…. amin.
c). Saksi ketiga, Para Nabi dan Para Rasul
Kejadian-kejadian yang asalnya ghaib, dipublikasikan oleh Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya, al-Qur’an yang akan abadi sepanjang zaman. Peristiwa sejarah yang pernah terjadi pada zaman para Nabi dan para Rasul terdahulu, sebelum Rasulullah Muhammad SAW, juga diantaranya yang dialami Nabi Isa AS. Demikian itu agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi umat Muhammad SAW sepanjang zaman. Allah berfirman :
وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka dan Engkau adalah Maha menyaksikan terhadap segala sesuatu”. (QS. al-Ma’dah: 5/117)
Perbuatan manusia semasa hidupnya, baik kebajikan maupun kejahatan, agar dapat dipertanggungjawabkan di akherat dengan seadil-adilnya, perbuatan itu harus diawasi dan disaksikan oleh saksi-saksi. Tidak hanya cukup disaksikan oleh para malaikat dan anggota tubuh manusia itu sendiri, untuk lebih kuatnya sebuah persaksian, perbuatan itu harus disaksikan oleh manusia juga. Oleh karenanya, tugas Nabi dan Rasul pada masanya, di samping mengemban Risalah dan Nubuwah, juga sebagai saksi-saksi bagi umatnya. Itulah maksud dari yang disampaikan Nabi Isa AS melalui firman Allah di atas (QS. 5; 117).
Semasa hidupnya, Nabi Isa AS menjadi saksi atas perbuatan umatnya. Ketika Nabi Isa AS diangkat ke langit, tugas tersebut diserahkan kembali kepada Allah Ta’ala. Berarti, sejak saat itu sampai terutusnya Nabi Agung Muhammad SAW, Allah yang mengawasi dan menjadi saksi bagi umat manusia. Masa-masa itu dikenal dengan masa transisi atau masa kekosongan kepemimpinan seorang Kholifah Bumi.
Dampak dari kekosongan tersebut, makhluk jin mendapatkan leluasa naik turun ke langit untuk mencuri dengar berita langit, sampai dengan terutusnya Rasul Muhammad SAW. Ketika Rasul Muhammad SAW diutus sebagai Kholifah Bumi akhir zaman, maka makhluk jin tidak dapat lagi naik ke langit, karena dikejar panah berapi. Demikian yang telah dinyatakan oleh Rasulullah SAW di dalam haditsnya berikut ini:
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW tidak membacakan al-Quran (tidak mengajarkan agama) kepada jin dan tidak pula melihat mereka. Kisahnya ; Disaat baginda Nabi SAW berangkat bersama rombongan para Sahabat RA menuju pasar Ukaz dan pada saat itu, antara setan jin dan berita dari langit sedang dihalangi dan mereka dilempari dengan panah berapi. Maka merekapun kembali kepada kaum mereka, dan mereka berkata: “Antara kami dan berita dari langit telah dihalangi dan kami dilempari dengan panah berapi”. Kaum mereka berkata: ”Pasti telah terjadi sesuatu yang luar biasa di muka bumi, coba pergilah menyebar ke bumi, baik di sebelah timur maupun baratnya, carilah apa menjadi penyebabnya, hingga antara kita dan berita dari langit menjadi terhalang”. Merekapun pergi ke bumi di sebelah timur dan baratnya. Dan di antara mereka ada yang menuju arah Tihamah, mengikuti arah perjalanan Nabi SAW bersama para Sahabat RA. Saat itu Baginda Nabi SAW sedang berada di bawah pohon kurma dalam perjalanan menuju ke pasar Ukaz dan Baginda Nabi SAW sedang sholat Subuh bersama para Sahabat. Ketika mereka (sekelompok jin) itu mendengarkan al-Quran dibaca, mereka memperhatikan dan berkata: “Inilah yang menjadikan kita terhalang dengan berita langit”. Maka merekapun kembali kepada kaumnya lalu berkata: Wahai kaumku:
( إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا )
Yang artinya: “Sesungguhnya aku telah mendengar bacaan yang mengagumkan, yang dapat menunjukkan kita kepada kebenaran, maka aku beriman kepadanya dan tidak akan menyekutukan Tuhanku dengan siapapun”.
Maka Allah Swt. menurunkan kepada Rasul Muhammad SAW sebuah firman-Nya:
( قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ )
Yang artinya: “Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku, bahwasanya sekumpulan jin telah mendengar bacaan al-Quran”.
Riwayat Bukhori di dalam Kitab Azan, Hadits Nomor 731
Riwayat Muslim di dalam Kitab Sholat, Hadits Nomor 681
Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an, Hadits Nomor 3245-3247.
(Sumber: CD al-Bayan)
Jadi, keberadaan seorang Kholifah Allah di muka Bumi, disamping menjadi saksi perbuatan umatnya, juga memutus mata rantai akses makhluk Jin dari Bumi ke Langit sehingga sejak itu jin selalu memboncengi laku spiritual manusia untuk mencuri dengar berita langit melalui munajat hati manusia kepada Tuhannya. Disini ada rahasia besar, mengapa para laku spiriutal tersebut terkadang malah mendapat bimbinang dari setan jin, hal itu disebabkan, karena pengembaraan ruhani itu tidak mendapat bimbingan dari guru Mursyid sejati.
d). Saksi keempat, Umat Nabi Muhammad
Keutamaan umat Muhammad SAW yang terbesar dan termulia serta tidak diberikan kepada umat-umat terdahulu ialah bahwa dari umat pilihan, ada yang dijadikan Allah Swt. sebagai Kholifah Bumi Zamannya atau pengganti meneruskan tugas Risalah dan Nubuwah, mereka itulah para Guru Mursyid sejati. Tugas para kholifah bumi itu diantaranya, menebarkan pancaran obor semangat keimanan, menyalakan pelita-pelita yang terkucil dan berserakan di pinggir jalan, menguntai kunang-kunang nakal, dan bahkan mengambil kembali dan sekaligus menggosok mutiara-mutiara yang kadang lama tercampak di bak sampah.
Keberadaan mereka di mana-mana selalu membawa perubahan, bagai membangunkan bumi tidur, membasahi tanah kering dan mati. Itulah hamba-hamba Allah yang dipilih untuk menerima Warisan Ilmu al-Kitab (al-Qur’an).
Kitab warisan itu selalu diamalkan melalui pancaran Nur Akhlaq untuk menyampaikan Hidayah Allah Ta’ala kepada umat manusia, baik melalui do’a-do’a, mujahadah dan riyadhoh, dakwah-dakwah, bahkan melalui perniagaan dan perdagangan. Mereka berdagang untuk berdakwah, bukan berdakwah untuk berdagang sebagaimana lazimnya orang pada zaman sekarang.
Sebagian mereka berhasil menghidupkan bumi tanah Jawa tercinta dengan menyalakan obor hidayah dan iman di mana-mana hingga sejarah telah mencatat perjuangan itu dengan tinta emas. Itulah para Wali Songo yang mulia, meski setelah matinya masih saja ada orang yang mengingkari jasa mereka.
Padahal, orang-orang yang hatinya ingkar itu adalah orang yang kenikmatan imannya merupakan hasil perjuangan dan jerih payah para Wali Songgo tersebut. Hasil perjuangan orang-orang yang telah mendapatkan warisan dari para pendahulunya—yang juga telah mendapatkan warisan langsung dari seorang junjungan yang agung. Yaitu Rasulullah SAW yang telah menyatakan di dalam sebuah haditsnya :
عُلَمَآءُ أُمَّتِى كَأَنْبِيَآءِ بَنِى إِسْرَائِلَ
“Ulama’ umatku seperti Nabi-nabinya Bani Isra’il”.
Para Ulama penerus perjuangan tersebut, yaitu ash-Shiddiq, asy-Syuhada’ dan ash-Sholihin, juga disebut “Ulul Albab”, sebagai Khalifah Bumi Zamannya, adalah merupakan orang yang telah meneruskan tongkat estafet perjuangan para Rasul dan para Nabi terdahulu. Sesuai dengan tingkat derajat yang tergambar melalui sebutan nama mereka, sejak kehidupan mereka di dunia, di alam barzah dan di akherat, mereka juga menjadi saksi bagi umatnya.
Mereka akan tetap dihidupkan oleh Allah sepanjang zaman dengan membawa syafa’at yang sudah ada di tangan, warisan para pendahulu yang terlebih dahulu telah berjuang, di akherat nanti akan menyelamatkan banyak orang yang telah terlanjur terjerumus ke jurang neraka.
Kalau salah satu dari mereka ada yang mati, Allah Ta’ala akan segera mengangkat penggantinya dengan orang yang baru, untuk menduduki kedudukan yang sedang kosong itu, supaya kepemimpinan dunia tidak terjadi kekosongan lagi. Allah Ta’ala yang mendidik mereka. Sebagaimana sabda Rasul SAW yang diabadikan di dalam firman Allah :
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
“Sesungguhnya Waliku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab dan Dia memberikan ” Walayah” kepada orang-orang yang sholeh”. (QS.al-A’raaf.7/196)
Mereka itu, sesuai dengan ilmu dan kemampuan yang ada serta tingkat derajat yang diberikan, seluruh masa hidup dan kesempatannya dicurahkan untuk membimbing manusia menuju jalan keridlaan Allah Ta’ala. Baik melalui ilmu pengetahuan, ibadah, perjuangan, terlebih melalui pancaran do’a-do’a yang setiap saat dipanjatkan ketika mereka sedang melaksanakan mujahadah dan riyadlah di hadapan Allah Ta’ala.
Orang-orang yang kemanfaatan hidupnya hanya untuk mencukupi kebutuhan orang lain, baik kebutuhan lahir maupun batin, diminta maupun tidak, hingga terkadang melupakan kebutuhan hidupnya sendiri. Ketika Allah menghendaki memanggil kekasihnya, dia akan menghadap dengan penuh kebahagiaan. Seperti seorang pengantin yang dipertemukan di peraduan, sedangkan orang-orang yang ditinggalkan, melepaskan dengan penuh kesedihan dan keputusasaan, sebab:
Nur yang mereka pancarkan
lewat ilmu pengetahuan,
Amal Ibadah maupun Akhlak,
telah menghidupkan hati yang mati,
dan membangkitkan semangat yang layu
Itulah “Nur di atas nur”
Yang tersimpan di dalam karakter
Warisan leluhur
Agar orang tetap mengenal
Bahwa tidak ada Tuhan, kecuali Allah.
Mereka itulah manusia yang akan menyelamatkan manusia-manusia dari siksa neraka sebagaimana mereka telah menyelamatkan iman manusia dari dari tipu daya hawa nafsu dan setan di dunia.
Allah Ta’ala menggambarkan keadaan hati kiamat itu dengan firman-Nya:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (68) وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Dan ketika sangkakala ditiup, maka matilah orang yang di langit dan orang yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah, kemudian sangkakala itu ditiup sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu * Dan bumi menjadi terang dengan Nur Tuhannya dan kitab diserahkan dan didatangkan para Nabi dan saksi-saksi: Dan diputuskan urusan mereka dengan adil dan mereka tidak dirugikan”. (QS. az-Zumar; 39/68-69)
Sekarang di tangan kita telah datang bukti-bukti nyata, sebagai untaian mutiara yang tak ternilai harganya. Bukan sekedar catatan yang dibaca, akan tetapi merupakan hidayah yang didatangkan bagi hati yang selamat. Bahkan bisa jadi menjadi peringatan (burhan), manakala sorot matahati yang cemerlang dapat menerangi mata lahir yang sedang menyorotkan pandang. Allah Ta’ala telah berfirman:
قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ
“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfa`atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu)”. (QS. al-An’am; 6/104)
Kalau sekarang orang tidak mau memperhatikan peringatan yang didatangkan, hingga di akherat nanti mereka menjadi orang yang terlupakan, jangan salahkan siapa-siapa lagi, karena di dunia ini, kepada bukti-bukti yang terang, dirinya terlebih dahulu telah melupakan, maka sesal kemudian tidak membawa kemanfaatan. (bersambung)
al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghozali