IMAN DAN CINTA RASUL (part-6) (Peradilan yang Adil)

PERADILAN YANG ADIL

Allah Ta’ala menghendaki di akherat kelak tidak terjadi ketidakadilan, karena di hari itu “Pengadilan Akbar” akan ditegakkan. Hari dimana kitab-kitab catatan amal akan diserahkan kepada pemiliknya, maka para pendosa sangat ketakutan, karena semua dosanya ternyata tercatat dalam kitab tersebut. Allah Ta’ala telah mengabarkan dengan firman-Nya :

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Kitab akan diletakkan, lalu kamu akan melihat orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya dan mereka berkata: “Aduhai celakalah kami, kitab apa ini, yang tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka dapati apa yang mereka kerjakan ada tertulis dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun”. (QS.Kahfi.; 18/49).

Pengadilan akherat itu akan dilaksanakan seadil-adilnya, tidak seperti pengadilan di dunia yang terkadang hanya mengadili pesakitan bukan menegakkan keadilan. Allah akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan sesuai amal kebaikan yang sudah dikerjakan dan akan ditambahkan-Nya dengan kebaikan pula sesuai dengan yang dijanjikan, maka manusia tidak akan mendapatkan kecuali sebagaimana yang sudah diusahakan di dunia. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan dan apa yang dikerjakannya akan diperlihatkan” (QS.An-Najm; 53/39)

Untuk itulah, Rasul-Rasul dan orang yang beriman bersama Rasul Muhammad SAW ditetapkan sebagai saksi sejak di dunia dan di alam barzah sampai dengan di akherat, agar pengadilan akbar itu dapat dilaksanakan dengan seadil-adilnya. Agar bukti-bukti atas sebuah kejahatan menjadi jelas dan celaan terhadap pelakunya menjadi tegas, lalu penyesalan menjadi amat sangat. Sedikitpun Allah Ta’ala tidak akan berbuat aniaya kepada hamba-hamba-Nya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Allah sungguh tidak akan menganiaya seseorang walaupun sebesar Zarrah dan jika ada kebaikan sebesar Zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar “. (QS.an-Nisa’; 4/40)

Untuk menebus kebahagiaan di surga, meski seluruh hidup manusia di dunia didarmabaktikan untuk berbuat kebaikan, niscaya tidak mencukupinya. Oleh karena itu, orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan) di dunia hanya mengharapkan ridla-Nya, sehingga pahala kebaikan itu akan dilipatgandakan. Yang demikian itu hanyalah pelaksanan janji yang tidak mungkin teringkari, sebagai sunnah yang tidak akan pernah berubah. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya:

إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا إِنَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ بِالْقِسْطِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

“Hanya kepada Allah kalian semua akan dikembalikan Janji Allah adalah benar-benar dilaksanakan. Dia yang pertama menjadikan dan menghidupkan, kemudian Dia pula yang mengembalikan kejadian dan kehidupan itu di hari akherat, supaya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh mendapatkan balasan yang adil, dan orang-orang kafir disediakan bagi mereka minuman yang panas dan siksa yang menyakitkan disebabkan kekafiran mereka”. (QS.Yunus; 10/4).

Merupakan penyesalan yang teramat sangat adalah ketika datangnya kesadaran sudah terlambat sehingga kesempatan untuk berbenah tertutup. Terlebih lagi apabila sebelum itu orang tersebut pernah mendapatkan peringatan, akan tetapi karena hatinya keras ia tidak mempercayainya. Ketika ia mengetahui dengan mata kepala ternyata peringatan itu benar padahal kesempatan untuk berbenah sudah tertutup, maka di tengah penderitaannya orang-orang kafir melahirkan rasa putus asa dengan menyampaikan harapan kosong. Allah Ta’ala mengabadikan penyesalan itu dengan firman-Nya: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu jadi tanah saja”. Demikianlah Allah telah memberikan peringatan kepada kita dengan firman-Nya:

إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang-orang yang tidak percaya atau kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. (QS.an-Naba’; 78/40)

Sekarang kita tinggal memilih, akan kita kemanakan diri kita saat itu. Di saat sudah tidak ada lagi yang dapat menolong selain apa yang kita perbuat sekarang, selain amal ibadah yang kita jalani sekarang dan selain SYAFAAT Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang harus kita usahakan sejak sekarang pula. Karena sejak di alam barzah kesempatan untuk berbuat itu sudah tertutup.

Kalau orang ingin masuk surga, maka sejak sekarang harus menyiapkan bekalnya, demikian juga masuk neraka. Yang pasti masing-masing tujuan itu membutuhkan biaya. Membutuhkan ongkos jalan, bahkan terkadang jauh lebih besar ongkos jalan masuk neraka ketimbang masuk surga.

Untuk masuk surga, orang hanya cukup mengeluarkan 2.5 % dari pemilikannya. Kecuali kalau dia menghendaki tempat yang lebih baik, maka harus ditambahkan sedikit lagi, yakni sekedar untuk menyenangkan hati orang lain yang terkadang ukurannya jauh lebih kecil daripada ukuran kesenangan hatinya sendiri.

Adapun untuk masuk neraka, kadang-kadang dengan 100 % pemilikannya saja masih kurang, bahkan harus dengan habis-habisan sehingga yang tertinggal hanya hutang yang bertumpuk—yang seumur hidup tidak mampu lagi dibayar hingga akhirnya menyisakan penyakit-penyakit di dalam jasad yang menjadi penyebab kematian.

Tiket untuk sebuah penderitaan di neraka itu ternyata malah terkadang dengan penderitaan di dunia, tidak seperti tiket kebahagiaan di surga. Orang yang mampu menempuh kebahagiaan di surga itu, tiketnya ternyata juga berupa kebahagiaan di dunia, bahkan dengan kehormatan pula, karena sebagian pemilikan yang sudah dishodaqohkan kepada fakir miskin mendapatkan penerimaan baik di hati manusia.

Bukankah lebih murah biaya masuk surga daripada masuk neraka?, namun demikian, ternyata tidak banyak orang mampu melakukan. Hal tersebut tidak lain karena setan telah menguasai hati orang itu sehingga jalan pikirannya terbelenggu hawa nafsunya sendiri.

Seandainya manusia mampu menahan sedikit saja hawa nafsunya. Kesenangan hidupnya tidak dihabiskan di dunia, terlebih denggan berbuat kejahatan kepada sesama, malainkan disisakan sebagian untuk kebahagiaan di akherat, yang demikian itu dilakukan semata-mata mengharapkan ridla Tuhannya dan karena takut akan kebesaran-Nya, maka cobalah…..!, Anda pasti akan menemukan hasilnya, karena Allah Ta’ala telah menyatakan janji-Nya dan sedikitpun Dia tidak akan mengingkari janji-janji-Nya:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya * Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)”. (QS. an-Naaziaat; 79/4-41)(bersambung)

al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghazali

Tinggalkan Balasan