IMAN DAN CINTA RASUL (part-5) (Sholat disaksikan Rasul)
SHOLAT DISAKSIKAN RASUL SAW
Allah Ta’ala berfirman :
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu, dan akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan yang syahadah, kemudian akan disampaikan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan “. (QS. at-Taubah; 9/105)
Sebelum pahala ibadah SHOLAT dikembalikan kepada pemiliknya di hari akherat kelak, terlebih dahulu SHOLAT itu harus disaksikan oleh Allah Ta’ala, Rasulullah SAW serta orang-orang beriman yang telah melihat. Melalui ayat di atas Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada hamba-Nya yang beriman tentang beberapa hal yang penting dan akurat :
1) Allah Ta’ala, Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman akan melihat (Fasayaro) amal perbuatan yang dikerjakan oleh manusia. Lafad ar-Ru’ya, menurut kaidah bahasa berarti melihat sesuatu, maka ar-Ru’ya artinya mengetahui dengan indra penglihatan (al-Abshor). Maksud ayat; sebelum amal tersebut dipertanggungjawabkan pemiliknya, sebagai sunnah yang sudah ditetapkan, terlebih dahulu amal itu akan dilihat secara langsung oleh Allah Ta’ala, Rasulullah SAW dan orang-orang yang beriman. Oleh karena kemanfaatan al-Qur’an abadi sepanjang kehidupan manusia ada di muka bumi, maka sepanjang itu pula sunnah tersebut berlaku. Ketika kehidupan Rasulullah SAW di dunia sudah terputus dengan kematian jasadnya, maka—sepanjang kehidupan manusia masih ada, Rasul tetap akan melihat amal perbuatan umatnya secara ruhaniah. Demikian pula orang-orang yang beriman.
2) Di dalam ayat ini Allah Ta’ala juga mempergunakan lafad al-‘Aalim, dari kalimat : ‘Aalimul Ghaibi Wasy Syahaadah, yang dimaksud “Mengetahui”, boleh jadi dengan indera penglihatan atau dengan ilmu pengetahuan atau dengan perasaan. Maksud ayat: Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman, disamping mengetahui, juga melihat dengan penglihatan terhadap amal perbuatan yang dikerjakan oleh umat manusia.
3) Lafad “al-Mu’minuun”, diletakkan berurutan setelah lafad “Rosuuluh”, menunjukkan; yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman di dalam ayat ini adalah orang-orang beriman yang sudah meninggal dunia karena lafad yang di mukanya “Rosuuluh” (Rasulullah) juga adalah orang yang sudah meninggal dunia. Jadi: pengertian ayat adalah sebagai berikut: Bahwa Rasulullah SAW—sekarang, walau jasadnya sudah meninggal dunia, Ruhaninya tetap melihat dan menyaksikan amal perbuatan yang dikerjakan umatnya. Demikian pula orang-orang yang beriman yang sudah mati, juga melihat dan menyaksikan amal perbuatan teman-temannya yang masih hidup, hal itu supaya mereka kelak bisa menjadi saksi atas amal tersebut di hadapan Allah SWT. Karena tidak mungkin mereka dapat menjadi saksi yang baik atas suatu perbuatan, kecuali sebelumnya terlebih dahulu telah melihat dan menyaksikan perbuatan itu dengan mata kepala.
Dengan pengertian diatas, maka sejak persiapan sebelum SHOLAT itu dikerjakan oleh seorang salik, maka Para Nabi, ash-Shiddiq, asy-Syuhada’ dan ash-Sholihin dihadirkan di dalam perasaan ruhaniah dengan jalan tawassul. Sebagai guru-guru pembimbing secara ruhaniah dan teman-teman yang baik dalam perjalanan sekaligus saksi-saksi atas amal perbuatan tersebut kelak di hari akherat.
Tawasul secara ruhaniah kepada guru Mursyid itu harus dilakukan di dunia sebagai sebab, supaya di akherat kelak orang-orang yang ditawasuli itu benar-benar menjadi saksi-saksi dari amal perbuatan itu sebagai akibat. Allah Ta’ala menyatakan dengan firman-Nya yang artinya: “Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”.(QS. Thoha; 132)
Kalau orang beribadah tidak bertawassul kepada guru Mursyid secara ruhaniah, maka yang akan menjadi guru pembimbing serta teman-teman yang baik sekaligus sebagai saksi-saksi dalam amal ibadah tersebut adalah setan jin yang ikut membonceng dorongan hawa nafsu dan akal. Akibatnya, setan jin akan mudah membelokkan arah tujuan ibadah di tengah jalan. Contohnya, jika orang yang sedang ibadah itu ingin kaya mendadak, maka arah tujuan ibadah berganti menjadi mencari harta karun ghaib yang dijaga jin penjaga. Jika ingin dimuliakan orang, maka arah ibadah berbelok menjadi mencari kesaktian atau karomah-karomah. Bahkan manusia terjebak dengan sifat sombong dan takabbur, ketika setan telah berhasil meniupkan bisikan-bisikan indah di dalam hatinya supaya orang tersebut memandang baik kepada diri sendiri.
بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا
“Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mu’min tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.(al-Fath/12)
Dengan amal ibadah tersebut manusia merasa menjadi orang khowas, menjadi waliyullah, sehingga ketika melihat orang lain terlihat hina. Hanya dia sendiri yang benar dan mulia, dan bahkan mampu diaktualisasikan dengan mensyirikkan dan membid’ahkan amal ibadah orang lain. Kalau demikian jadinya, bukannya mereka itu akan menjadi waliyullah akan tetapi malah terjebak menjadi walinya setan.
Tawassul secara ruhaniah merupakan ibadah batin atau ibadah ruhaniah, maka hasil juga ‘rasha’ yang sifatnya ruhaniah. Yaitu mengarahkan niat dan arah tujuan ibadah supaya tidak dibelokkan oleh setan kepada keuntungan duniawi. Oleh karena itu, apabila ternyata hasil akhir ibadah yang dilakukan oleh seseorang ujung-ujungnya untuk mendapatkan keuntunan duniawi, maka boleh jadi itu merupakan pertanda arah tujuan ibadah sudah terkontaminasi tipu daya setan jin. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kesalahan-kesalahan yang tidak mudah disadari.
Jadi, tawasul secara ruhaniah kepada guru-guru Mursyid, berkesinambungan (rabithah) sampai kepada Rasulullah Muhammad SAW sesungguhnya adalah jalan penyelamat, supaya sang pengembaraan selamat dari tipu daya dan jebakan setan jin yang sesat. Hanya saja karena setan lebih mengenal jalan-jalan utama itu, maka mereka berusaha menutup pintunya melalui tentara-tentaranya yang setia. Dengan membalikkan fakta, yang lurus dikatakan sesat, ternyata mereka tidak sadar bahwa selama ini setan jin telah menjadi guru pembimbing yang berhasil menjadikan orang menjadi sesat.
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (69) ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا
“Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi keni’matan dari Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiq, para Syuhada’ dan para Sholihin. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya * Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui”. (QS. an-Nisa’/4: 69-70)
Merupakan ketetapan Allah Ta’ala (sunnatullah), amal ibadah akan diterima di sisi-Nya manakala dilaksanakan di depan saksi-saksi. Demikian hukum yang berlaku di dunia, demikian pula yang berlaku di alam barzah maupun di akherat. Oleh karena itu keberadaan orang-orang yang mendapatkan nikmat dari Allah yaitu para Nabi, ash-Shiddiq, asy-Syuhada’, ash-Sholihin dijadikan sebagai saksi-saksi secara ruhaniah oleh seorang salik saat melaksanakan sholat dan berdzikir kepada Allah Ta’ala.
Untuk supaya di akherat nanti ada saksi bagi amal ibadah yang dilakukan, maka amal ibadah itu di dunia harus mendapat persaksian terlebih dahulu, baik secara lahir—oleh seorang guru Mursyid sebagai pembimbing secara langsung dan oleh para ikhwan yang masih hidup, maupun secara batin—oleh guru-guru ruhaniah yang ditawassuli secara ruhaniah.
Ibadah yang dilaksanakan tanpa guru pembimbing itu, bisa jadi rentan dimasuki bisikan maut dari setan jin. Dengan bisikan itu supaya orang yang beribadah itu memandang baik kepada dirinya sendiri dan merasa lebih mulia dan lebih utama daripada orang lain. Kalau sudah demikian manusia akan terjebak kepada sifat sombong dan takabur.
Datangnya bisikan-bisikan setan itu sangat halus dan canggih, sehingga manusianya tidak merasa bahwa karakternya telah disusupi karakter buatan yang dikirimkan setan ke dalam hatinya. Bahkan disaat siksa sudah didatangkan di depan mata, sebagai peringatan, kekerasan hati akibat sifat sombong itu menjadikan hatinya tetap menolak merendahkan diri untuk berbuat taat kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah memberikan peringatan pula dengan firman-Nya:
فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Maka seandainya mereka mau tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, (barangkali mereka akan selamat dari siksaan itu) bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setanpun menjadikan mereka memandang baik kepada apa yang mereka kerjakan”. (QS.al-An’am; 6/43)
Oleh karena itu, sejak di dunia, ibadah yang dilakukan itu harus ada saksi yang menyaksikan, yaitu guru-guru Mursyid dan guru ruhaniah yang ditawasuli, supaya sejak saat itu pula, juga di alam barzah dan di akherat nanti, guru-guru ruhaniah yang ditawassuli itu menjadi saksi untuk amal ibadah tersebut.
Dalil-Dalil Al-Qur’an
Pertama:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan”. (QS.al-Ahzab; 33/45)
Kedua:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) ketika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka (sebagai umatmu)”. (QS.an-Nisa’: 4/41).
ketiga:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi Saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasul (Muhammad) menjadi Saksi atas (perbuatan) kamu”. (QS.al-Baqoroh; 2/143)
Sebagaimana Allah Ta’ala akan menjadikan para Rasul dan para Nabi terdahulu sebagai saksi bagi umat mereka, demikian pula Rasulullah Muhammad SAW dijadikan-Nya sebagai saksi bagi umatnya. Adalah keutamaan bagi umat Muhammad SAW yang tidak diberikan-Nya kepada umat selainnya, yaitu dijadikannya mereka sebagai saksi bagi umat sebelumnya.
Demikianlah secara singkat maksud yang terkandung di dalam ketiga ayat tersebut, maka dengan ketiga ayat ini menjadi sangat jelas bahwa persaksian bagi amal ibadah yang dikerjakan oleh seorang hamba di dunia adalah hal yang mutlak dan harus dipenuhi, supaya amal itu dapat membuahkan hasil yang diharapkan serta sampai kepada tujuan yang utama, yaitu bagaimana dengan ibadah yang dijalani itu, seorang hamba dapat sampai (wushul) kepada Tuhannya.
Dalil-Dalil Hadits Nabi SAW.:
Pertama:
حَيَاتِى خَيْرٌ لَكُمْ تُحَدِّثُوْنَ وَنُحَدِّثُ لَكُمْ . ووماتى خَيْرٌ لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَىَّ أَعْمَالُكُمْ فَمَا رابت مِنْ خَيْرٍ حَمِدْتُ اللهَ.وَمَا رَأَيْتُ مِنْ شَرٍّ إِسْتَغْفَرْتُ اللهَ لَكُمْ
“Masa hidupku adalah kebaikan bagimu, kalian berbicara dan kami berbicara untuk kalian. Masa matiku adalah kebaikan bagimu, amal-amal kalian disampaikan kepadaku. Ketika aku melihat amal-amal kalian yang baik, maka aku memuji kepada Allah. Dan apa-apa yang kulihat dari amal kalian yang jelek, maka aku memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian”.
Kedua:
تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ عَلى اللهِ . وَتُعْرَضُ عَلى الأَنْبِيَاءِ وَعَلى الأبَاءِ وَالأُمَّهَاتِ يَوْمَ الْجُمْعَةِ . فَيَفْرَحُوْنَ بِحَسَنَاتِهِمْ وَتَزْدَادُ وُجُوْهُهُمْ بَيَاضًا وَ اِشْرَاقًا . فَاتَّقُوْا اللهَ عبادا اللهِ وَلاَ تُؤْذُوْا مَوْتكُمْ . “الإكليل” . لشيخ احمد اسرارى الإسحاقى.
“Amal perbuatan (manusia) akan disampaikan kepada Allah pada hari senin dan kamis, dan akan disampaikan kepada para Nabi dan kepada para Bapak dan para Ibu pada hari Jum’at. Mereka akan merasa gembira atas kebaikan amal tersebut dan wajah mereka makin tampak putih dan cemerlang. Maka takutlah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah. jangan kau sakiti pendahulu- pendahulumu yang sudah mati”. (asy-Syaikh Ahmad Asrori al-Ishaqi, “Iklil”)
Jika orang beriman mengetahui bahwa amal ibadah yang dilakukan itu akan disampaikan kepada “Nabi Agung Muhammad SAW” yang dicintainya, yaitu satu-satunya mansia yang berhak memberi syafa’at kepada seluruh umat manusia baik di dunia dan di akherat, maka sejak amal itu dikerjakan, hatinya mudah tertarik untuk ingat serta membayangkan kapadanya. Membayangkan saat-saat di mana amalnya akan disampaikan, dipersaksikan dan diperiksa oleh Beliau SAW.
Betapa senangnya hati seorang hamba ketika mengtahui bahwa amal ibadahnya itu akan diketahui oleh baginda Nabi tercinta, maka perasaan yang demikian itu akan memudahkan pelaksanaan tawassul kepada Baliau, karena sejak itu dia merasa bahwa Rasulullah Muhammad SAW yang akan menjadi saksi dari amal ibadah yang dilakukan itu.
Kalau tidak demikian, berarti matahati seorang hamba sedang terhijab oleh kotoran manusiawi, tidak dapat menembus hal yang hakiki di balik ibadah yang syar’i, sehingga tidak dapat memahami hal yang sangat penting ini. Oleh karena itu para murid thoriqoh menjadikan guru Mursyidnya sebagai wasilah pertama untuk sampai kepada wasilah-wasilah berikutnya hingga kepada Rasulullah SAW.
al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghozali (bersambung)