IMAN DAN CINTA RASUL (part- 4) (Sholat Bareng Rasul)

SHOLAT BARENG RASULULLAH SAW

Allah Ta’ala berfirman :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (105) وَآَخَرُونَ مُرْجَوْنَ لِأَمْرِ اللَّهِ إِمَّا يُعَذِّبُهُمْ وَإِمَّا يَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu, dan akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan yang syahadah, kemudian akan disampaikan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan – Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. “. (QS. at-Taubah; 9/105)

Orang mengerjakan sesuatu apabila mengetahui pekerjaannya dilihat oleh orang yang di-idolakan, sudah barang tentu akan mengerjakan dengan sebaik mungkin. Jika kebajikan, maka dikerjakannya dengan sebaik mungkin, agar yang melihatnya merasa senang dan ridho atau minimal tidak mengecewakan. Tentunya sangat berbeda apabila pekerjaan itu tidak dilihat atau tidak diketahui oleh siapa-siapa, barangkali dia akan mengerjakan dengan semaunya saja.

Apabila pekerjaan itu tidak disukai oleh orang yang di-idolakan tersebut, terlebih yang menyalahi kehendaknya, kalau terpaksa harus dikerjakan juga, pasti akan dikerjakan dengan rasha takut yang amat sangat, atau boleh jadi akan minta ma’af dahulu sebelum terpaksa harus mengerjakan, atau bahkan sama sekali tidak mampu mengerjakannya. Seperti orang takut berbuat salah di depan pimpinan, kehati-hatian yang berlebihan terkadang malah menjebak kepada kesalahan.

Apa saja yang dikerjakan oleh seorang hamba, baik dari amal kebajikan maupun kemaksiatan, sebelum amal-amal itu menjadi catatan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala—kelak di hari kiamat, pekerjaan itu terlebih dahulu akan dilihat dan disaksikan oleh Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman. Kalau hal tersebut disadari dan dirasakan tepat disaat pekerjaan itu akan atau sedang dikerjakan, minimal persiapan-persiapan mental akan terkondisi.

Orang mendirikan sholat misalnya, apabila dia tahu bahwa sholatnya akan dilihat dan dikoreksi oleh Rasulullah SAW, dan Baginda Nabi adalah orang yang dicintai yang syafa’atnya diharapkan dan ditunggu-tunggu, maka sudah barang tentu sholatnya menjadi khusyu’. Karena ruang bilik akal dan fikir sudah tidak ada celah kosong lagi sehingga setan bisa memasukkan tipu daya. Semua bilik itu dipenuhi oleh rasa rindu untuk berjumpa dengan seorang guru pembimbing ruhaniahnya.

Boleh jadi tidak banyak orang tahu bahwa sholat itu akan dikoreksi oleh Baginda Nabi, akan tetapi semua orang beriman pasti memaklumi bahwa apa saja yang dikerjakan seorang hamba, pasti dilihat dan diketahui Allah Ta’ala—karena Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui. Oleh karena itu, orang-orang yang sholatnya dalam keadaan lalai, tanpa mampu menghadirkan kekhusu’an dalam hati, tanpa mampu bergetar hatinya di hadapan kebesaran Dzat Yang Maha Pencipta—padahal dia sadar bahwa dosanya bertumpuk-tumpuk, kalau tidak karena dia sholat dalam keadaan mabuk, malah boleh jadi pertanda imannya belum sempurna.

Seperti itu gambaran sholatnya orang munafik, sholat itu dikerjakan penuh riya’ dan kelalaian. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikiti”. (QS. an-Nisa’; 4/142)

Allah Ta’ala juga telah memberikan peringatan dengan firman-Nya yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”. (QS. an-Nisa’; 43)

Oleh karena bilik akal kosong dari pencitraan yang positif, maka pencitraan yang negatif segera masuk. Hal tersebut merupakan kolaborasi hawa nafsu dan setan atas hati dan ruh sehingga sholat yang dikerjakan menjadi hilang arah tujuan dan tertutup dari Nur yang cemerlang.

Jadi, dengan pelaksanaan tawassul secara ruhaniah, dalam arti menghadirkan “karakter” guru Mursyid dalam pelaksanaan “rabithah” secara berkesinambungan sampai kepada Baginda Nabi Muhammad SAW untuk bareng melakukan pengembaraan ruhaniyah ke hadirat Ilahi Rabbi, jika hal tersebut menjadikan sholat seorang hamba menjadi khusyu’, wushul kepada Tuhannya, bahkan mampu membuahkan kedamaian (qurrotu a’yunin) di dalam hati, mampu menghilangkan kesusahan dan kesedihan, berarti tawassul tersebut sesunguhnya merupakan obat untuk mengobati penyakit basyariyah /manusiawi yang tercela.

Ibarat obat penawar, maka sholat itu adalah amal kebaikan yang dapat menghilangkan kejelekan. Allah telah menegaskan pula dengan firman-Nya: “Dan dirikanlah sholat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Huud; 114)

Allah Ta’ala berfirman :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu, dan akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan yang syahadah, kemudian akan disampaikan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan “. (QS. at-Taubah; 9/105)

Pelaksanaan TAWASUL ini sesungguhnya menindaklanjuti peluang yang dibentangkan Allah Ta’ala melalui ayat di atas. Yakni pengkondisian mental spiritual dalam pelaksanaan ibadah secara berkesinambunan. Sedangkan firman Allah swt. tersebut yang artinya—“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu”. (QS. 9; 105.) dijadikan sebagai landasan untuk mengangkat hasrat dan tujuan di alam akal, hal itu dilakukan supaya pikiran tidak melayang mencari sasaran, maka seorang murid (salik) menghadirkan guru Mursyid—yang saat itu sedang melihat pekerjaan—secara berkesinambungan sampai dengan Rasulullah (rabithah) secara ruhaniah.

Kehadiran guru ruhaniah itu untuk diajak bareng melaksanakan ibadah—sebagai saksi-saksi dan sebagai teman yang baik serta pembimbing di dalam perjalanan. Lahirnya melaksanakan ibadah secara lahir dan batinnya melaksanakan ibadah secara batin. Demikian itulah ibadah yang sempurna, ibadah lahir-batin yang selalu menjadi tujuan bagi kesempurnaan ibadah. Oleh karena batinnya tetap berjamaah, meski secara lahir dilaksanakan dengan sendirian (munfarid), maka secara batin (ruhaniah) tetap terlaksana dalam keadaan berjamaah, dengan demikian itu, maka menjadikan ibadah menjadi kuat karena mendapatkan kekuatan penolong dari Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.(Muhammad/7)

Melaksanakan pengembaraan ruhaniah ke Hadirat Ilahi Robbi, menembus lapisan hijab-hijab yang menyelimuti langit di dalam dada sendiri, menyelami samudera Arsy-Nya yang terbentang luas di dalam imajinasi, menggapai petunjuk dan hidayah yang disebarkan melalui wahyu-Nya di dalam hati sanubari ….. Lalu Allah menerima dzikir hamba-Nya, ….. dan menjawab dzikir itu dengan dzikir-Nya, sebagai “dzikir balik” yang telah dijanjikan dan inspirasi serta ilham yang didatangkan, maka ibadah dan munajat terasa nikmat dan nyaman, lalu sang salik merasakan manisnya perjalanan, karena hati seorang hamba yang sedang kasmaran telah wushul/LINK kepada Tuhan Semesta Alam.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat)–Ku”. (QS. al-Baqoroh; 152)

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. (QS. asy-Syams 8 )

Seperti bermi’raj, …. supaya pengembaraan ruh tidak sendiri serta terjaga dari tipu daya setan jin yang selalu mengintai, maka perjalanan ruhaniah itu harus ditemani guru-guru Mursyid secara ruhaniah. Sebagaimana Rasulullah SAW bermi’raj ditemani malaikat Jibril AS. Inilah hakekat ibadah, supaya menjadi pengabdian yang utama, ibadah lahir dan batin secara sempurna, ibadah yang berhasil wushul kepada Junjungan yang dirindukan. Untuk mewujudkan interaksi antara dua dzikir yang berbeda, yang satu DO’A yang satunya IJABAH, yang satu dipanjatkan dan satunya didatangkan, maka ibadah memang harus dilakukan secara lahir batin pula.

Lahirnya berlandaskan kepada hukum syari’at dan batinnya mengikuti konsep hukum hakekat. Kalau tidak demikian, … manakala ibadah tidak menghasilkan “kemanisan bermunajat” karena ibadah itu tidak berhasil menjadikan seorang hamba wushul kepada Sang Junjungan, manakala ilmu dan iman tidak berkembang karena ibadah tidak menghasilkan keyakinan yang dapat mengusir keraguan, tidak mampu menancapkan “nur ma’rifat” yang menjadikan matahati menjadi cemerlang dan tembus pandang, maka itu menjadi tanda bahwa iman yang ada di dalam dada perlu mendapatkan perhatian. Barangkali iman itu sedang sakit keras karena digerogoti setan jalanan, bahkan boleh jadi sedang sekarat karena dicekik hawa nafsu yang bergentayangan.

Seperti orang lapar tapi tidak dapat merasakan nikmatnya makan padahal di depannya telah tersedia menu makanan yang berkecukupan, berarti itu pertanda di dalam badan sedang ada penyakit bawaan. Demikian pula orang yang sedang beribadah, bersimpuh di hamparan permadani Rabbani dan berhadapan langsung secara hakiki karena Allah sudah memanggil sejak zaman azali, kalau yang menghadap tidak dapat merasakan nikmatnya berkomunikasi, padahal Tuhannya sudah sangat dekat dan bahkan lebih dekat daripada urat lehernya sendiri, maka itu semata-mata karena penyakit-penyakit basyariyah sedang menggerogoti hati.

Itulah hijab-hijab manusia, bagaikan dinding karat yang semakin hari akan menjadi semakin kuat. Kalau tidak segera disikat, maka selamanya manusia akan menjadi jauh dari “rahmat ilahiyat”. Rahmat azaliah yang didatangkan dari perbendaharaan langit yang menjadikan jasmani dan ruhani sehat dan kuat: “sholatlah kamu seperti kamu melihat ‘aku’ sholat”.

al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghazali. (bersambung)

Tinggalkan Balasan