IMAN DAN CINTA RASUL (part-3) (Bertaubat Bersama Rasul)
BERTAUBAT BERSAMA RASULULLAH SAW
Barangsiapa berharap mendapati Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pemurah dalam Menerima Taubat (Tawwaabar Rohiima), maka hendaklah saat orang tersebut membaca istighfar dalam bertaubat, istighfarnya disatukan dengan istighfar Rasulullah SAW , baik lahir maupun batin, jasmaniah maupun ruhaniah, ma’nawiyah maupun hissiyah. Allah menggambarkan hal tersebut dengan firman-Nya :
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan untuk dita’ati dengan izin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya sendiri, datang kepadamu (Muhammad) lalu beristighfar kepada Allah dan Rasul beristighfar untuk mereka maka tentulah mereka mendapati Allah Maha menerima taubat dan Maha penyayang”. (QS. an-Nisa’ 4/64)
Merupakan tata cara bertaubat yang dicontohkan Rasulullah SAW, ketika ada seorang sahabat bertaubat di hadapan beliau, pertaubatan itu disaksikan oleh Baginda Nabi SAW. Kemudian tata cara bartaubat yang demikian itu disaksikan dengan ayat di atas. Adalah sunnatullah, dengan itu supaya taubat seorang hamba mendapat kemudahan diterima di sisi Allah Ta’ala.
Manakala tata cara bertaubat tersebut dipraktekkan di dalam pelaksanaan tawassul secara ruhaniah: maka menghadirkan Rasulullah SAW dalam rasha ketika membaca istighfar, seakan-akan seorang hamba membaca istighfar di hadapan Rasulullah SAW , sejatinya merupakan tata cara yang dianjurkan oleh syari’at sebagai bagian dari pelaksanaan amal atau ilmu thoriqoh, dengan itu supaya taubat seorang hamba mendapatkan persaksian dari Rasulullah SAW sehingga diterima di hadapan Allah Ta’ala.
Manakala taubat dilaksanakan tanpa saksi—baik secara lahir di hadapan guru Mursyid maupun secara batin di hadapan Rasulullah SAW, maka sulit rasanya taubat tersebut diterima di sisi Allah Ta’ala, namun pada kenyataannya jarang hal tersebut dilakukan, karena takut dituduh berbuat kultus individu. Akibatnya, kebanyakan taubat itu tidak meninggalkan bekas apa-apa di dalam hati. Hanya sekedar membaca bacaan istighfar namun kosong dari rasa penyesalan terhadap dosa-dosa yang dilakukan. Malah seringkali yang terjadi, sekarang orang bertaubat, sekarang juga hatinya tetap menjadi liar seperti semula.
Yang demikian itu karena taubat dilaksanakan dengan hanya di bibir saja, tidak mampu menembus dalam relung hati, maka taubat itu akan menjadi seperti debu bertebaran. Sedikitpun tidak membekaskan apa-apa, kecuali hanya kerasnya hati seperti semula sehingga menjadikan sebab manusia terjebak dalam perbuatan dosa dan maksiat berulang-ulang.
Kalau demikian halnya, bukannya taubat itu mampu merubah kebiasaan buruk, bahkan malah menjebak manusia berbuat kemungkaran. Allah Ta’ala menyindir hal yang demikian itu dengan firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آَمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus”. (QS. an-Nisa’; 4/137)
Oleh karena amal ibadah hanya dilaksanakan secara lahir saja, maka yang berubah hanyalah yang lahir, sedangkan yang batin tetap seperti semula. Solusinya: ketika rasionalitas mampu dihadapkan kepada guru-guru ruhaniah untuk mendasari anggota badan yang sedang melaksanakan amal ibadah secara lahir, lalu yang batin (ruh) dihadapkan kepada Allah Ta’ala untuk mengadakan pengembaraan secara ruhaniah, maka ibadah yang dilakukan menjadi sempurna. Ibadah lahir dan batin. Ibadah syari’at dan hakikat. Akal di dunia dengan menerapkan konsep dunia dan ruh mengembara di langit dengan menerapkan konsep langit, maka akal akan mendapat minuman (pencerahan) sesuai dengan kebutuhan akal dan ruh juga mendapat minuman sesuai dengan kebutuhan ruh pula.
Asbabun Nuzul QS. an-Nisa’ Ayat 64
Ayat ini diturunkan berkaitan pengalaman seorang sahabat, ketika dia merasa berbuat zalim kepada diri sendiri karena berpaling dari Rasulullah SAW, lalu datang menghadap Rasulullah SAW dengan melahirkan penyesalan dan bertaubat dengan membaca istighfar memohon ampunan kepada Allah di hadapan Rasul, kemudian Rasul membacakan istighfar untuknya, maka Allah menerima taubatnya dengan persaksian ayat ini, (QS. an-Nisa’ ayat 64).
Berkaitan Asbabun Nuzul ayat di atas, maka Allah Ta’ala telah menetapkan sunnah-Nya; Yakni syarat diterimanya taubat seorang hamba, manakala taubat tersebut terlebih dahulu disampaikan di hadapan Rasulullah SAW, lalu diterima oleh Baginda Nabi SAW, kemudia baru Allah swt. menerima taubat hamba-Nya. Demikianlah maksud ayat di atas. Apakah praktek bertaubat yang diajarkan oleh Allah ini berarti orang telah melaksanakan kultus individu ….???
Kalau ayat di atas hanya dipahami secara lahir saja. Artinya, taubat tersebut harus dipersaksikan kepada Baginda Rasul SAW secara lahir, berhadap-hadapan langsung seperti saat beliau masih hidup, maka dengan wafatnya Rasulullah SAW berarti ayat ini sudah tidak ada artinya lagi. Yang demikian itu mustahil adanya, karena sepanjang al-Qur’an masih terbaca dan dapat dipelajari, atau sepanjang kehidupan manusia di muka bumi ini masih ada, sepanjang itu pula kandungan hukum-hukum al-Qur’an al-Karim, baik yang lahir maupun yang batin masih berlaku, kecuali hukum yang sudah dinasakh atau dihapus secara hukum.
Oleh karena al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk mengatur kehidupan “orang arab” pada zaman Rasul SAW saja, melainkan untuk umat manusia sepanjang zaman, maka sepanjang zaman itu pula kita dituntut untuk berijtihad dan beristinbath. Bersungguh-sungguh memahami dan menggali maknanya dengan cara yang sudah diatur oleh syari’at, maka penafsiran ayat ini—setelah dipahami secara lahir, boleh dipahami secara batin namun tentunya tidak menafikan makna yang lahir.
Jadi, selama pelaksanaan ilmu dan amal belum mampu membuahkan cinta hakiki kepada sesama manusia, belum mampu membangun “ukhuwah basyariah” secara universal, terlebih secara khusus menjalin LINK cinta kasih kepada orang-orang yang telah berjasa, seperti kepada para Ulama pewaris Nabi, terlebih lagi kepada kepada Junjungan Manusia sepanjang zaman, yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW, sang penyulut obor kehidupan, sehingga dapat mewariskan rasa tawadhu’ dan rendah hati terhadap siapapun serta merasa fakir kepada Ilahi Rabbi, maka barangkali di dalam pelaksanaan ilmu dan amal tersebut masih ada yang perlu dibenahi. Namun demikian, hanya Allah Ta’ala yang berhak memberikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
*********
Kalau ada orang yang bertanya, “Bukankah Allah Maha menerima taubat hamba-Nya dan Maha Mengetahui yang terang maupun yang samar, bahkan Allah Maha Mengetahui yang dirahasiakan, mengapa seorang hamba harus bertaubat kepada Allah bersama Rasul SAW” …??
Jawabannya:
1). Orang yang ta’at kepada Allah berarti taat kepada rasul-Nya, karena orang yang taat kepada Rasulullah SAW berarti pula taat kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menegaskan hal tersebut dengan Firman-Nya: “Barangsiapa mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah” (QS. an-Nisa’ ayat 80). Berarti pula: orang cintai kepada Allah berarti pasti cintai kapada Rasul-Nya. Oleh karenanya, tanda kesempurnaan iman adalah kesempurnaan cinta kepada Rasul SAW.
Manakala orang taat kepada Allah berarti taat kepada Rasul-Nya, maka orang yang membangkang kepada Allah berarti membangkang kepada Rasulullah. Berarti pula, orang yang membenci Rasulullah Muhammad SAW sesungguhnya membenci Allah SWT, karena Rasulullah Muhammad SAW adalah utusan Allah Subhanallahu Ta’ala.
Apakah orang membantah bahwa al-Qur’an adalah wahyu Tuhan Semesta Alam yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW….??? Oleh karena itu, orang yang merasakan nikmatnya islam dan iman sesungguhnya juga berkat jerih payah Rasulullah SAW dalam menyampaikan wahyu tersebut kepada umatnya. Jadi, sudah semestinya, sebelum Allah merasa ridla kepada mereka, tentunya Rasulullah SAW terlebih dahulu yang merasa ridla kepada mereka. Demikian juga sebaliknya, terhadap orang yang membangkang kepada Allah, sebelum Allah merasakan sakit atas pembangkangan tersebut, Rasulullah SAW terlebih dahulu merasa sakit kepada mereka. Oleh karena itu, ketika seorang hamba telah menyesali perbuatan maksiatnya dan bertaubat kepada Allah, maka dia terlebih dahulu harus bertaubat di hadapan Rasulullah SAW.
Lalu, ketika Rasulullah SAW memaafkan kesalahan orang tersebut dan berkenan memohonkan ampunan kepada Allah, maka baru Allah akan menerima taubat hamba-Nya itu. Bukankah ini merupakan hal yang wajar-wajar saja…???, namun mengandung nilai pelaksanaan akhlakul karimah yang sangat tinggi. Adakah pelajaran yang lebih cantik dari yang diajarkan oleh Allah Robbul ‘Alamin? …. Yang intinya supaya orang mau menghargai jasa orang lain?. Bukankah hal tersebut juga sesuai dengan ajaran Baginda Nabi?, ketika Beliau bersabda: “Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah”.
Sekarang ada pertanyaan tambahan: “Ketika Rasulullah SAW wafat haruskah pelaksanaan akhlakul karimah ini berhenti?, yang berarti ayat-ayat al-Qur’an al-Karim hanya tinggal tulisan saja. Wahyu Allah itu menjadi tidak ada Nurnya lagi yang seharusnya selalu mampu menerangi kehidupan umat manusia sepanjang masa, baik secara jasmani maupun ruhani, baik aspek ilmu dan amal maupun pelaksanan akhlak yang mulia? Maka jawabnya: “Ketika Rasulullah SAW wafat, sesungguhnya yang wafat hanya jasadnya saja karena tugasnya di dunia telah selesai. Sedangkan Ruhaninya masih hidup dan tetap mengetahui amal perbuatan umatnya, bahkan amal-amal itu akan disampaikan kepadanya”. Rasulullah SAW telah menyatakan:
حَيَاتِى خَيْرٌ لَكُمْ تُحَدِّثُوْنَ وَ نُحَدِّثُ لَكُمْ وَوَفَاتِى خَيْرٌ لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَىَّ أَعْمَالُكُمْ. فَمَا رَاَيْتُ مِنْ خَيْرٍ حَمِدْتُ الهَ . وَمَا رَاَيْتُ مِنْ شَرٍّإِسْتَغْفَرْتُ اللهَ لَكُمْ.
“Masa hidupku adalah kebaikan bagimu, kalian berbicara dan kami berbicara untuk kalian, masa matiku adalah kebaikan bagimu, amal-amal kalian disampaikan kepadaku, maka ketika aku dapati amal yang baik aku memuji kepada Allah, dan ketika kudapati amal yang jelek, maka aku memohonkan ampun untuk kalian kepada Allah”.
Setelah Rasulullah SAW wafat, ternyata masih ada hubungan dengan umatnya yang masih hidup. Lebih-lebih urusan amal ibadah, karena Rasul sebagai saksi bagi umatnya. Maka sebelum amal ibadah itu dibukukan, sudah barang tentu terlebih dahulu Beliau harus mengetahui dan mengoreksinya. Supaya pada saat amal itu harus dipersaksikan di hadapan Allah, Beliau dapat bersaksi dengan seadil-adilnya.
Momen itu adalah saat yang sangat berharga yang tidak boleh dilewatkan begitu saja oleh seorang umat. Menjadikan satu-satunya sarana dan kesempatan yang masih diberikan Allah untuk berinteraksi kepada Nabinya. Dengan melaksanakan tawassul secara ruhaniah saat bertaubat, mengadirkan perasaan bahwa amal ibadah yang sedang dikerjakan itu akan dikoreksi dan disaksikan oleh Junjungannya, menjadikan hati seorang hamba merasa senang, lebih-lebih apabila ia seorang yang mencintai Nabinya. Hatinya akan menjadi thuma’ninah dan perjalanan ibadah menjadi terasa nikmat.
Yang demikian itu adalah ruh ibadah. Supaya ibadah lahir menjadi hidup dan terasa komunikatif serta wushul kepada Tuhannya. Ketika hijab-hijab manusiawi yang menyelimuti hati telah dirontokkan oleh panasnya bara penyesalan di dunia, ketika pintu-pintu ghaib telah dibuka karena yang selama ini mengotori dinding hati telah sirna, maka “sorot matahati” seorang hamba mampu menembus lapisan dimensi yang ada di hadapannya. Melihat, bahwa dengan amal perbuatan yang dilakukan itu, Rasulullah SAW akan bergembira dan bangga kepadanya. Karena, meski telah dibatasi ruang waktu yang lama, seorang umat tetap mengikuti dan mencintai Junjungannya.
Ketika dzikir telah dibalas dengan dzikir—walau berbeda karena berangkat dari dimensi yang berbeda. Yang satu dari dimensi yang fana dan yang satu dari dimensi yang qadim karena sudah berada di alam baka. Ketika kedua dzikir telah larut menjadi satu di dalam pusaran perasaan, maka yang fana akan menjadi qodim. Adalah semata-mata kehendak azali yang mampu melarutkan perasaan seorang hamba di dalam kenikmatan yang azali pula. Kenikmatan ibadah yang mampu memberikan pencerahan hati manusia sepanjang masa, sehingga menimbulkan rasa rindu yang abadi pula. Rindu untuk melaksanakan ibadah, untuk bertemu dan bersama-sama lagi dalam satu pengembaraan dengan junjungan yang tercinta. Bersama-sama menghadap kepada Allah Ta’ala yang Maha Mulia dalam nuansa dan rasa.
Oleh karena itu, sampai sekarang interaksi ruhaniah itu tetap hidup di mana-mana di seluruh belahan bumi ini. Dilaksanakan oleh para Dzurriyah Rasul yang mulia dan para pengikutnya serta ‘Ulama pilihan dari umatnya. Interaksi rasha untuk saling melarutkan kerinduan antara seorang umat dengan Nabinya, untuk menyampaikan hasrat cinta seorang kekasih yang berharap diakui dan diterima cintanya. Seorang kekasih yang ingin dijumpai oleh kekasihnya meski sekedar lewat mimpi dalam tidurnya.
Melalui bacaan shalawat dan salam di saat sedang memperingati hari lahirnya. Di saat membaca maulidnya, bersama-sama datang kepada Rasulullah SAW secara ruhaniah. Menyampaikan penyesalan atas dosa dan kesalahan. Mereka berharap agar Rasul menyampaikannya kepada Allah Ta’ala, akan taubatnya, akan pemenuhan kebutuhan hidupnya, akan terkabulnya hajat-hajat, baik hajat duniawi maupun ukhrowi.
Seorang penyair berpuisi dan menjadi “Pujian” sebelum sholat yang dibaca kaum muslimin di banyak musholla dan masjid: “Wahai junjunganku, wahai Rasulullah, Wahai yang di sisi-Nya telah mempunyai kemuliaan…., Kepadamu, para pendosa telah datang.
Untuk bertaubat atas dosa-dosa dan segala kesalahan, maka semoga Allah berkenan mengampunkan. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepadamu. Juga keluarga dan sahabat. Dengan berkah mereka ya Allah…. Jadikanlah akhir hidup kami adalah akhir kehidupan di dalam kebaikan”.
Ketika dua rindu sudah menyatu
Maka cinta akan bertemu
Satu kata di lisan dan Satu kata di hati
Di dalam berucap salam
Ketika sedang sholat
Di dalam beristighfar
Ketika sedang bertaubat
Ketika yang kasar
Menyatu dengan yang halus
Maka akan menjadi lembut
Oleh karena Allah Yang halus
Maka akan menerima
Hanya kepada yang halus
2). Barang siapa tidak ridla kepada Rasul berarti tidak ridla pula kepada Allah Swt. yang berarti pula telah menampakkan perlawanan dan pertentangan kepada Allah melalui Rasul-Nya. Oleh karena itu, ketika meeka hendak bertaubat kepada Allah, mereka harus mencabut dahulu perlawanan dan pertentangan itu kepada Rasul baik secara lahir maupun batin, baru kemudian taubat itu dilaksanakan.
3). Ketika taubat seorang hamba dihadapkan kepada yang dikasihi dan Sang Kekasih melihat bahwa taubat telah diterima oleh yang dikasihi, maka Sang Kekasih menjadi ridho dan menerima taubat hamba-Nya .
(sebagian dicuplik dari Tafsir Fahrurrozi – bersambung)