IMAN DAN CINTA RASUL (part-2)

IMAN DAN CINTA RASUL (part-2)

Iman merupakan anugerah Allah Ta’ala terbesar kepada hamba-Nya. Di samping sebagai indikator kecintaan Allah Ta’ala, iman juga merupakan pintu kesuksesan yang disediakan bagi hamba-Nya. Iman bahkan sarana menuju segala keberhasilan hidup, jalan keluar bagi penyelesaian segala masalah-masalah, menghilangkan kesusahan dan kesedihan dan juga kendaraan untuk menembus dinding pembatas, memasuki relung multi dimensi yang ada di alam semesta. Allah Ta’ala menegaskan dengan firman-Nya:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”. (QS. l-Baqoroh; 2/257)

Ilmu pengetahuan tanpa iman, tidak banyak berdaya guna. Seperti pohon tidak berbuah, menjadi kayu bakar, menjadi arang dan abu lalu terbuang dengan percuma. Ilmu tersebut hanya dapat menyinari orang lain tetapi menghancurkan diri sendiri. Tanpa iman, ilmu pengetahuan tidak mungkin dapat ditindaklanjuti dengan amal dan karya.

Mengamalkan ilmu tidak sekedar disampaikan saja, kemudian orang tersebut mendapatkan bayaran, mendapat sumber penghasilan hidup, mendapat upah untuk kesenangan duniawi. Mengamalkan ilmu, bagaimana dengan mengajarkan itu, di samping ilmunya bertambah dan mendapatkan sumber kehidupan di dunia, juga menjadikannya bekal untuk kehidupan yang lebih panjang.

Iman merupakan anugerah paling utama, semata-mata didatangkan Allah Ta’ala untuk hamba-Nya, tidak karena sebab usaha atau do’a-do’a. Didatangkan kepada seorang hamba yang dicintai-Nya. Sungguh benar Allah dengan segala firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ

“Dan walau seandainya Kami turunkan Malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang mati berbicara dengan mereka, dan Kami kumpulkan seluruh bukti baginya, niscaya mereka tidak juga beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti”. (QS. al-An’am; 6/111)

Yang paling besar dari nilai iman, akan menjadi penyebab seorang hamba mencintai Tuhannya dengan cinta yang kuat. Allah Swt. berfirman:

وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman, ia sangat cinta kepada Allah”. (QS. al-Baqoroh; 2/165)

Padahal tidak mungkin mencintai Allah kecuali terlebih dahulu Allah telah mencintainya. Allah berfirman :

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

“…Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah”…… (QS. al-Ma’dah; 5/54)

Jika tidak karena Allah terlebih dahulu mencintai hamba-Nya, maka selamanya seorang hamba tidak akan mampu mencintai-Nya. Yang pertama adalah sebab, yang kedua adalah akibat, itulah sunnatullah, merupakan hukum sebab akibat yang tidak akan terjadi perubahan untuk selamanya.

Bentuk wujud iman adalah Nur yang tersimpan di dalam karakter hamba-Nya, berupa pelaksanaan akhlakul karimah yang telah dicontohkan oleh manusia yang paling utama yang akan memberi syafa’at kepada umatnya di hari kiamat. Yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Allah Ta’ala telah memberikan perumpamaan nur itu dalam firman-Nya :

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Seperti misykat, yang di dalamnya ada pelita besar, pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun, yang tumbuh tidak di sebelah timurnya sesuatu dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walau tidak disentuh api, ” Cahaya di atas cahaya” Allah membimbing menuju Cahaya-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki “. (QS. an-Nur; 24/35)

Jadi, “Hakekat Iman” adalah Nur yang tersimpan di dalam karakter seorang hamba yang dicintai-Nya, Nur yang memancar dari sumber utamanya yaitu “Nur Muhammad SAW”. Makhluk yang pertama kali diciptakan Allah Ta’ala dari “Nur-Nya”. Demikian yang telah disampaikan al Habib Ali Bin Muhammad al-Habsyi RA di dalam kitab maulidnya “Simthudduror”.

Oleh karena “Hakekat Iman” itu tercipta dari “Nur Muhammad” maka sudah menjadi barang tentu, kesempurnaan iman identik dengan kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Nabinya. Demikian yang telah ditegaskan Rasulullah SAW dengan sabdanya :

وَالََّذِىْ نَفْسِى بِيَدِهِ لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَ أَهْلِهِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ . رواه مسلم والبخارى

“Demi Allah yang jiwaku berada pada kekuasaan-Nya, tidak akan sempurna iman salah satu dari kalian, sehingga aku dicintai melebihi dirinya sendiri, keluarganya dan manusia seluruhnya. (HR. Muslim dan Bukhori)

Sahabat Umar bin Khothob RA pernah berkata: “Demi Allah Ya Rasulullah, sungguh aku telah mencintaimu melebihi segala sesuatu kecuali jiwaku”, Rasulullah SAW menjawab: “Tidak sempurna iman salah satu dari kalian, sehingga aku dicintai melebihi dirinya sendiri”. (HR. Bukhori)

Jadi, orang beriman yang belum mencintai Rasulullah Muhammad SAW, berarti pertanda, sesungguhnya imannya belum sempurna. Allahu A’lam (bersambung)

Tinggalkan Balasan