IMAN DAN CINTA RASUL (part-1)
IMAN DAN CINTA RASUL (part-1)
Kalau ada orang bertanya, mengapa orang beriman harus mencintai Rasulullah Muhammad SAW dan bahkan kecintaannya merupakan tanda kesempurnaan iman …..?
Jawabannya: Iman bisa bertambah bisa berkurang, bertambah karena manusia berbuat taat dan mendapat pahala, berkurang karena berbuat maksiat dan mendapat dosa. Berarti, dengan ibadah yang dilakukan, disamping orang beriman mendapat pahala, juga imannya menjadi kuat. Maksudnya, semakin kuat seorang hamba melaksanakan ibadah, berarti matahatinya semakin menjadi bersih dari kotoran manusiawi yang menutupi sehingga menjadi jernih dan cemerlang.
Hakekat iman adalah Nur yang ada di dalam dada, itulah nur di atas nur. Ketika Nur itu telah terbebas dari hijab-hijab manusiawi maka akan memancar kembali kepada asalnya, yaitu Nur Muhammad SAW, melebur menjadi satu karena asal kejadiannya memang satu. Maka cinta di dunia itu hanyalah tanda-tanda yang kasat mata, sedangkan yang sembunyi di dalam rongga dada hakikatnya sama.
Ibarat air misalnya, meski dicampur dengan benda lain sehingga warnanya berbeda—ada yang menjadi wedang kopi, ada yang menjadi air susu, asal kejadian awalnya sama, ketika dipertemukan dalam satu wadah, dua benda berbeda itu tetap akan bersatu, bahkan malah menjadi kopi susu, hehehe. Lain halnya air dengan minyak—walau keduanya sama-sama benda cair, bagaimanapun kuatnya orang mengaduk untuk mencampurnya, yang berlainan jenis itu pasti tidak akan mau bersatu.
Kalau ada orang mengaku Islam, tapi hatinya tidak mencintai Nabinya, bahkan benci kepada orang yang cinta kepadanya, benci kepada orang-orang yang membaca sholawat dan membaca maulidnya, bahkan mengatakan syirik karena dianggap berbuat bid’ah dan kultus indivu, yang demikian itu boleh jadi memang dia itu orang Islam, karena sudah mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengerjakan sholat, akan tetapi bisa jadi tidak termasuk orang beriman, karena belum menampakkan tanda-tanda keimannya. Sesungguhnya bukan mereka yang tidak mau bersholawat—ketika hatinya enggan membaca sholawat kepada Baginda Nabi SAW itu, tapi barangkali Rasulullah memang tidak berkenan menerima sholawat darinya—karena sholawat itu dibaca oleh orang-orang yang hatinya tidak beriman kepada kepada Tuhannya.
Manakala iman manusia telah sempurna—ibarat emas dua puluh empat karat misalnya. Maka api neraka tidak berguna lagi baginya, lalu orang itu dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan surga untuk selama-lamanya. Akan tetapi, walau manusia mati dengan membawa iman yang kadarnya dua puluh tiga setengah karat misalnya, karena hanya kurang setengah karat dari ukuran iman yang pantas bagi penghuni surga, maka terlebih dahulu dia harus dibakar api neraka, hal itu sekedar untuk melebur kotoran imannya, agar iman itu kembali menjadi sempurna.
Jadi, orang-orang beriman dimasukkan neraka bukan untuk menjalani siksa di sana, tapi untuk disucikan imannya, sampai ukuran yang pantas bagi seorang penghuni surga. Oleh karenannya, meskipun iman di dada hanya seberat zarrah, setelah manusia menjalani pencucian imannya itu di neraka, akhirnya orang tersebut akan dimasukkan surga untuk selama-lamanya. Apabila di dadanya tidak ada iman—karena tidak cinta kepada Nabinya, maka ia akan menjadi penghuni neraka untuk selama. Itulah gambaran orang yang ingkar kepada tuhannya.
Apabila ada orang mengaku beriman, padahal tidak menampakkan adanya tanda-tanda keimanan darinya—karena dia tidak cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW, barangkali itulah gambaran orang-orang munafik, orang yang di hatinya ada sifat kafir tetapi berpura-pura Islam. Itulah musuh utama orang-orang yang beriman, jika mereka tidak mau bertaubat dengan sunggguh-sungguh sehingga Allah tidak mengampuni dosanya di dunia, maka di akherat kelak akan bersama-sama para pendahulunya di dasar neraka, wal iyaadzu billah:
لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”- QS. al-Ahzab/24
************
Rasulullah Muhammad SAW bersabdanya :
وَالََّذِىْ نَفْسِى بِيَدِهِ لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَ أَهْلِهِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ – رواه مسلم والبخارى
“Demi Allah yang jiwaku berada pada kekuasaan-Nya, tidak akan sempurna iman salah satu dari kalian, sehingga aku dicintai melebihi dirinya sendiri, keluarganya dan manusia seluruhnya. (HR. Muslim dan Bukhori)
Allah berfirman: Surat al-Ma’idah ayat 35;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan/wasilah kepada-Nya”. (QS.al-Ma’dah: 5/35)
Surat at-Taubah ayat 119;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang Shiddiq”. (QS.at-Taubah: 9/119)
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أمر رَضِىَ اللهُ عَنْهُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقًوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ ثُمَّ صَلُّوْا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلّى عَلَىَّ مَرَّةً صَلّى اللهُ عَلَيْهَ عَشْرً، ثُمَّ سَلُّوْا اللهَ لِىَ الْوَسِيْلَةَ فَإِنَّهَا دَرَجَةٌ فِى الْجَنَّهِ ، لاَيَنْبَغِى اِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ ، وَاَرْجُوْ أَنْ أَكُوْنَ اَنَا ذلِكَ الْعَبْدُ ، فَمَنْ سَأَلَ اللهَ لِىَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ شَفَاعَتِىْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ . رواه مسلم
Dari Abdullah bin Amr RA Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kalian mendengar Muadzin, maka jawablah sebagaimana mereka ucapkan, kemudian bacalah sholawat kepadaku, maka sesungguhnya barangsiapa membaca sholawat kepadaku sekali, Allah akan merahmatinya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah, aku sebagai Wasilahnya. Sesungguhnya Wasilah adalah suatu derajat di surga yang tidak akan sampai kepadanya kecuali bagi seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap bahwa akulah sesungguhnya seorang hamba tersebut. Barangsiapa meminta kepada Allah, Aku sebagai wasilahnya, maka ia akan mendapatkan syafa’atku di hari kiamat” (HR Muslim)
Ketika seorang salik mampu menyempurnakan imannya dengan jalan menyempurnakan cintanya kepada Rasulullah SAW. Upaya tersebut dilakukan dengan jalan melaksanakan sunnah Rasul sekaligus dengan bertawassul secara ruhaniah kepadanya, melaksanakan kebersamaan dalam pengembaraan ruhaniah di dalam pelaksanaan ibadah dan mujahadah di jalan Allah, meski interaksi ruhaniah tersebut dilakukan antara dua alam yang berbeda, maka sesuai potensi yang telah dicapai, setelah matinya seorang umat akan dikumpulkan lagi bersama Nabinya dalam kondisi yang lebih nyata. Dalam kebersamaan hakiki sejak di alam barzah sampai di akherat nanti, sebagai teman yang baik, sebagai saksi dari amal ibadah yang dilakukan.
Kemudahan untuk melaksanakan kebersamaan dalam rasa dan nuansa tersebut juga yang dimaksud dengan syafa’at Nabi SAW, apabila manusia tidak mau mengupayakan sejak di dunia, maka setelah matinya sedikitpun tidak akan mendapatkan bagian apa-apa darinya.
Diriwayatkan dari al-A’masy dari Wa’il RA mereka berkata, sungguh Abdullah bin Mas’ud RA berkata, seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya:
يَا رَسُوْلَ اللهِ , كَيْفَ تَقُوْلُ فِى رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلحَقْ بِهِمْ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : ” اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ “. رواه البخارى .
“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang keadaan seseorang yang mencintai suatu kaum yang hidup pada zaman sebelumnya. Rasulullah saw. bersabda : “Seseorang akan dikumpulkan bersama dengan yang dicintai”. (HR. Bukhori)
Itulah hekakat cinta yang sesungguhnya wujudnya berupa Nur, ketika telah menjadi cahaya yang kuat, maka energinya mampu menembus lapisan yang ada di alam semesta, bahkan mampu menembus dimensi ruang dan dimensi zaman yang berbeda.
Bagi setiap umat Nabi Muhammad SAW, potensi interaksi ruhaniah tersebut sesungguhnya telah tersedia dalam jiwanya, bahkan mereka telah dilatih untuk memancarkan energi dahsyat itu untuk melakukan perjalanan antar dimensi, menembus dimensi barzah yang dilapisi dinding penuh mesteri, yakni di setiap kali mereka mengerjakan sholat, baik yang fardhu maupun yang sunat. Di saat mereka duduk dan membaca at-tahiyyat, di saat mereka mengucapkan salam: “Assalaamu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh”, sesungguhnya saat itu interaksi ruhaniah tersebut sudah mereka lakukan, hanya saja barangkali tidak banyak yang mengerti ilmunya atau boleh jadi sholatnya dalam keadaan lalai, sehingga meski energi dahsyat tersebut telah terpancarkan melalui ucapan salam, namun kenikmatan hakiki yang dihasilkan dari rahasia interaksi secara ruhaniah itu terlewatkan begitu saja. Seorang penya’ir berpuisi:
“Disaat matahari duduk di titik kulminasi.
Kalau ada mutiara sendiri, sedang merenungi diri di atas permadani.
Ternyata hanya menengadah seorang diri dan ditinggal matahari.
Boleh jadi, debu dan daki menyelimuti hati atau mutiara sedang lupa diri dan tidak mengerti”.
Potensi interaksi ruhaniah tersebut dinyatakan pula oleh Allah dengan firman-Nya:
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (7) فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Dan ketahuilah olehmu, bahwa sesungguhnya pada diri kamu ada Rasulullah. Kalau “dia” menuruti kamu dalam beberapa urusan, maka benar-benarlah kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu mencintai keimanan dan menjadikannya indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan, mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan petunjuk yang kuat * Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Hujuraat; 49/7-8)
Firman Allah Swt. “ar-Roosyiduun”, yaitu orang-orang yang mampu mengikuti jalan hidayah Allah, mereka itulah orang-orang yang di dalam hatinya ada “Nur Rasulullah” atau nur Risalah pancaran dari “Nur Muhammad” atau nur Nubuwah. Bentuk wujudnya berupa semangat perjuangan dan semangat jihad. “Mereka memilih iman dan menjadikannya indah di dalam hati serta benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan”. Hal itu didapatkan sebagai karunia Allah bagi seorang hamba yang dikehendaki, sekaligus modal utama potensi terjadinya “interaksi ruhaniah” antara seorang umat dengan Rasul dan Nabinya.
Jadi, potensi interaksi ruhaniah tersebut yang mampu menerbitkan rasa cinta hakiki antara seorang umat dengan Nabinya, sesungguhnya ada bagi setiap manusia. Ditandai dengan iman yang dibuktikan dengan pelaksanaan amal ibadah. Seandainya potensi utama tersebut dikenali dan dikuatkan dengan latihan dalam pelaksanaan ibadah yang terbimbing, baik ibadah yang wajib mapun ibadah tambahan, maka iman itu akan menjadi yakin lalu menjadi cinta hakiki antara seorang pengikut dengan yang diikuti. Pertama cinta kepada Ulama pewaris Nabi, kemudian kepada Rasulullah Muhammad SAW lalu menjadi modal utama untuk mencapai cinta hakiki kepada Ilahi Rabbi.
BERSAMBUNG
al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghozali