Arsip untuk Juni, 2009

BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG MATI ? (part-3-tamat)(Ilmu Mukasyafah)

Posted in alam barzah, alam ghaib, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 26 Juni 2009 by malfiali

Ilmu Mukasyafah

Ilmu yang paparkan di atas adalah bagian dari “Ilmu Mukasyafah” yakni ilmu yang mempelajari seluk beluk hati. Apabila kinerja hati tumpul, berarti hatinya bodoh sehingga membutuhkan belajar, apabila kinerja hati tidak terarah berarti hatinya buta sehingga membutuhkan obat dan terapi. Di situlah ilmu mukasyafah menempatkan diri, merupakan pemahaman dalam ‘rasa’ (hati) bukan di dalam rasio(akal). Ilmu pengetahuan yang sangat luas dan bahkan tidak terbatas, bagaikan samudera yang tidak bertepi. Karena luasnya ilmu ini, maka di dalamnya terdapat banyak hal yang tidak sanggup ditampilkan dengan bahasa tulisan kecuali dengan perumpamaan atau i’tibar.

Sebagaimana dimaklumi, untuk memindahkan pengetahuan dari orang satu kepada orang yang lain membutuhkan alat, dan alat tersebut adalah bahasa. Sedangkan bahasa juga membutuhkan uraian dan penjelasan serta bukti-bukti dan dalil-dalil. Namun bagaimana halnya terhadap suatu tontonan misalnya—yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan belum pernah terlintas dalam benak siapapun. Bagaimana cara untuk menerangkan dan menguraikannya? Maka tidak ada cara lain kecuali dengan i’tibar. Al-Qur’an banyak mencontohkan perihal tersebut, bahkan Allah telah memerintah hamba-Nya untuk beri’tibar dengan firman-Nya:

فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
“Beri’tibarlah hai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (QS.al-Hasyr; 59/2)

Manusia hanya mampu beri’tibar dengan mengutip dalil-dalil naqliyah saja, baik dari al-Qur’an maupun al-Hadits tanpa mampu bertanya bagaimana atau berusaha minta penjelasan lagi kepada siapapun secara aqliyah. Ketika seorang hamba membaca isyaroh dari Allah tentang hal yang ghaib melalui tamsil, maka mereka hanya mampu menampilkan tamsil itu dengan apa adanya. Allah dalam hal ini hanya memberikan tamsil kepada hamba-Nya, agar mereka dapat memahami dan membayangkan terhadap sesuatu yang ditamsilkan itu sekedarnya sesuai kesanggupan imajinasi yang terbatas.

Namun dalam kaitan ilmu mukasyafah ini yang terpenting ialah: “Dengan melaksanakan mujahadah dan riyadhah melalui seluruh ‘amalan lahir’, seperti shalat, puasa, zakat dan lain sebagainya, bagaimana seorang hamba berhasil mendapatkan futuh atau terbukanya matahati sehingga dapat mengetahui sesuatu yang semestinya samar bagi orang lain, dengan pengetahuan itu hatinya menjadi semakin bertakwa kepada Tuhannya, itulah yang disebut ‘amalan batin’. Adapun amalan batin yang derajatnya paling tinggi adalah Ma’rifatullah atau mengenal Allah. Jadi, ilmu mukasyafah itu bukan ilmu yang didapat dari membaca tulisan atau mendengar ucapan tetapi dihasilkan dari buah mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah.

Oleh karena ilmu mukasyafah adalah buah ilmu dan amal, maka cara mendapatkannya hanya dengan jalan beribadah kepada Allah. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS.alAnkabut (29)69). Dengan hidayah yang telah dijanjikan tersebut, seorang hamba akan mendapatkan apa yang diharapkan dalam pelaksanaan ibadah yang dijalani atau thariqah. Buah toriqoh itu berupa cinta dan ma’rifat kepada Tuhannya yang menghantarkan mereka kepada keridlaan-Nya baik di dunia maupun di akherat nanti.

Hal tersebut seperti yang tersirat dalam munajat yang dipanjatkan oleh para salik pada setiap kali mereka melaksanakan wirid yang diistiqamahkan: “Wahai Tuhan kami, hanya Engkau tujuan kami dan ridla-Mu yang kami cari, maka berilah kami Ma’rifat dan cinta kepada-Mu”. Artinya; Ma’rifat dan Cinta itu akan menjadi landasan amal ibadah untuk menggapai ridla Allah, sedangkan guru mursyid yang ditawasuli dijadikan sebagai pembimbing perjalanan agar perjalanan itu terjaga dari tipudaya setan.

Walhasil: Yang dimaksud tawasul ibarat “fasilitas” yang diberikan kepada seorang hamba yang sedang melaksanakan ibadah agar dengan ibadah tersebut dia sampai kepada yang dimaksud atau do’a-do’anya mendapatkan ijabah dari-Nya. Seseorang hamba akan mendapatkan ‘fasilitas ibadah” bilamana ibadah tersebut dilaksanakan dengan ikhlas serta bertawasul kepada guru-guru Mursyid secara berkesinambungan sampai kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Seorang penya’ir tua berpuisi:

H A T I
Ketika telah bertemu
Dan cinta sudah menyatu
Maka sekat dan hijab menjadi sirna
Jarak dan waktu tidak berguna

Bagaikan laut ketika telah terbelah
Dan jalan setapak sudah terbuka
Maka dua kekasih yang sedang dimabuk rindu
Saling mencairkan cinta
Melebur dan menyatu

(al-Fakir ilaa afwi Maulahu, Muhammad Luthfi Ghozali)

BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG MATI ? (part-2) (Menembus Pembatas Dua Samudera)

Posted in alam barzah, alam ghaib, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 26 Juni 2009 by malfiali

Menembus Pembatas Dua Samudera

Ibnu Abbas RA di dalam menafsirkan ayat di atas (QS. az-Zumar/39; 42) berkata:

قَال: بَلَغَنِى أَنَّ أََرْوَاحَ الأَحْيَآءِ وَالأَمْوَاتِ تَلْتَقَى فِى الْمَنَامِ فَيَتَسَاءَلُوْنَ بَيْنَهُمْ, فَيُمْسِكُ اللهُ أَرْوَاحَ الْمَوْتىَ وَيُرْسِلُ أَرْوَاحَ الأَحْيَآءِ إِلَى أَجْسَادِهَا .
“Telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya ruh orang hidup dapat bertemu dan berkomunikasi dengan ruh orang yang sudah mati di dalam mimpinya, kemudian ruh orang mati ditahan oleh Allah, sedang ruh orang yang sedang tidur dilepaskan kembali kepada jasadnya” . (Ibnul Qoyim, “Kitab ar-Ruh” ; 19)

Ibnu Abi Khaitam RA berkata di dalam penafsirannya atas firman Allah: “Wallaatii Lam Tamut fii Manaamihaa” (dan ruh yang belum mati di dalam tidurnya). berkata: “Allah memegang ruh orang yang mati dalam tidurnya, maka ruh orang yang hidup bertemu dengan ruh orang yang telah mati, mereka saling berkomunikasi dan saling mengenal. Kemudian ruh orang hidup dikembalikan ke jasadnya di dunia untuk meneruskan sisa hidupnya yang sudah ditentukan dan ruh orang yang sudah mati dikembalikan kepada jasadnya yang di tanah”. (Ibnul Qoyim, Kitab ar-Ruh : 19)

Alam jasmani dan alam ruhani ibarat dua samudra yang dibatasi daratan sehingga keduanya tidak dapat bertemu, akan tetapi dengan kehendak Allah suatu saat dibiarkan bertemu, seperti alam mimpi dan alam jaga. Sesungguhnya alam mimpi itu bagian dari alam barzah. Terbukti, seandainya orang yang bermimpi itu tersesat jalan di alam mimpinya hingga tidak dapat kembali ke alam jaga, maka bisa dibayangkan apa yang dilakukan oleh orang lain terhadap jasad yang telah ditinggalkan kehidupan tersebut, tentunya segera diantar ke liang lahat. Allah menyatakan dua alam itu dengan firman-Nya:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ (19) بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ
“Dia (Allah) membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian saling bertemu-Antara keduanya ada batas yang tidak dapat dilampaui”. (QS. ar-Rahman/55; 19-20)

Dimensi jasmani disebut Basyariah, sedangkan dimensi ruhani disebut Nubuwah atau Risalah bagi seorang Nabi/Rasul, dan disebut Walayah (bagi orang beriman yang sholeh)”. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
“Katakan bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa”. (QS. Fushilat:/41; 6)

Yang dimaksud basyariah adaalah ‘Ruh kehidupan’ yang menghidupi ‘jasad kasar’ manusia, baik yang terbit dari kemauan (irodah) maupun kemampuan (qudroh). Basyariyah ini mencakup segala aspek kecerdasan manusia termasuk juga intelektual, spiritual dan emosional. Adapun yang dimaksud Nubuwah atau “walayah” adalah apa yang dimaksud dengan ayat di atas; يُوحَى إِلَيَّ Yuuhaa ilaiyya (diwahyukan kepadaku). Yaitu berupa wahyu atau ilham atau inspirasi yang masuk di dalam hati orang beriman yang datangnya dari urusan ketuhanan. Dengan walayah itu supaya manusia terbimbing mengikuti hidayah Allah sehingga jalan hidupnya berjalan mengikuti ‘ketetapan Allah’ sejak zaman azali. Rasulullah SAW menyatakan hal itu dengan sabdanya: “Allah mendidikku dan Allah memperbaiki pendidikan-Nya kepadaku” (atau dengan kalimat yang searti). Sebagaimana juga yang dinyatakan Allah melalui firman-Nya:

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
“Sesungguhnya Waliku ialah Allah yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia memberikan Walayah kepada orang-orang yang sholeh” . (QS.al-A’raaf: 7/196)

Dengan walayah berarti manusia mendapat dua ‘ruh kehidupan’, pertama dari seluruh aspek kecerdasannya sendiri dan kedua yang datang dari rahasia tarbiyah (pemeliharaan) Allah. Dengan walayah berarti manusia mendapatkan tingkat derajat atau Maqom di sisi Allah, meskipun maqom itu secara lahir merupakan buah ibadah dan perjuangan. Dengan maqom itu seorang hamba berpotensi mendapatkan fasilitas (syafa’at), baik secara ilmiah maupun amaliah yang hakekatnya merupakan sistem tarbiyah rahasia yang isinya berupa penjagaan, pertolongan dan pemeliharaan yang sumber asalnya datang dari warisan para Nabi dan para Rasul. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

العلمآء ورثة الأنبيآء
“Ulama’ adalah pewaris para Nabi” .

Untuk menghidupkan kehendak walayah, manusia terlebih dahulu harus mampu meredam kehidupan basyariyah, yang demikian itu dilakukan dengan tujuan semata-mata menggapai ridlo Allah. Itulah hakekat mujahadah di jalan Allah atau dengan istilah lain disebut “meditasi Islami”.

Ketika dengan mujahadah dan riyadhah yang dilakukan, seorang salik berhasil menghidupkan kehendak walayah—walaupun sedetik atau lebih singkat dari itu, maka berarti saat itu memasuki suatu kondisi seperti “alam orang mati” atau “alam orang tidur”. Sebagaimana yang dimaksud dengan ayat di atas: “Allahu Yatawaffal an-fusa Hiina Mautihaa” (QS. 39: Ayat 42), itulah yang dimaksud “mati dalam hidup”. Dalam keadaan seperti itu, orang tersebut berpeluang memasuki suatu potensi terjadinya interaksi ruhaniah, baik terhadap orang hidup maupun orang mati, namun itu manakala mujahadah dan riyadhoh tersebut sejak awal sudah dikondisikan dengan pelaksanaan tawasul secara ruhaniah kepada guru-guru ruhaniah baik yang hidup maupun yang sudah meninggal dunia.

*********

Ketika proses pelaksanaan dzikrulah dilakukan oleh seorang salik dengan benar sehingga mampu melewati titik kulminasi antara dua alam, maka akan membuahkan suatu proses pemahaman hati yang disebut Fikir, lalu buah Fikir itu disebut Ibroh (kesimpulan). Yang dimaksud dengan Dzikir, Fikir dan Ibroh adalah tingkat pencapaian (maqamaat) yang harus dicapai oleh seorang hamba dalam rangka melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS.Ali Imran/191)

Setiap terjadi perpindahan dari satu tingkat kepada tingkat yang lain, dengan izin Allah seorang salik memasuki titik klimaks perjalanan ruhani, itulah batas alam lahir dan alam batin yang ada dalam jiwa manusia. Meskipun titik klimaks itu dialami hanya dalam waktu sangat singkat, yang keadaannya seperti antara sadar dan tidak sadar padahal sadar, saat-saat seperti itu merupakan kondisi yang sangat ditunggu-tunggu oleh para salik. Karena setelah masa klimaks itu terlampaui dan kesadaran berangsur-angsur kembali sempurna, segala sesuatu yang datangnya dari ‘urusan ketuhanan’ dapat terjadi diluar dugaan. Ketika pengosongan terkondisi dengan sempurna maka yang masuk setelah itu diharapkan datangnya dari urusan ketuhanan.

Dalam keadaan seperti itu, seorang salik dapat merasakan kenikmatan ruhani yang luar biasa yang tidak dapat digambarkan oleh suatu katapun. Kenikmatan ruhaniyah tersebut akan membekas seumur hidup. Demikian itu karena hati sang pengembara telah mendapatkan “Futuh” (terbukannya matahati) dari Tuhannya. Hati yang rindu telah menemukan ‘buah ibadah’ yang dipetik di dunia yang selanjutkan mampu dijadikan landasan untuk melanjutkan perjalanan. Dengan pengalaman spiritual itu, menjadikan mereka tidak lagi mudah tergoda oleh tipu daya setan yang selalu menghadang jalan ibadah.

Seperti itulah proses masuknya ‘ilmu rasa’. Pemahaman hati yang mampu menancapkan kenikmatan azaliah yang diturunkan di dunia fana yang terkadang menjadikan hati seorang hamba ‘mabuk cinta’ sehingga mendorongnya berbuat lebih mengutamakan urusan akherat daripada urusan dunia. Pengalaman spiritual yang mampu menjadikan hati seorang hamba yakin terhadap Allah, rasul-Nya dan hari akherat. Ilmu batin yang menjadikan manusia mampu menindaklanjuti dan mengaplikasikan seluruh potensi kecerdasan secara lahir yang sudah dimiliki. Ilmu yang menjadikan manusia pandai berbuat untuk menata diri sendiri bukan hanya pandai berbicara untuk menata urusan orang lain. Keadaan yang dipaparkan di atas digambarkan Allah dengan beberapa ayat di bawah ini. Allah berfirman-Nya:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ – وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran * Dan urusan Kami hanyalah satu, bagai satu kedipan mata”. (QS. al-Qomar/54; 49-50)

Di dalam al-Qur`an Surat yang lain Allah telah menggambarkannya dengan lebih terperinci sebagaimana firman-Nya:

إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آَيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى
“Ketika Sidroh diliputi oleh yang meliputi – Penglihatan tidak berpaling dan tidak melampaui – Sesungguhnya dia telah melihat sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar”. (QS. an-Najm/53; 16-18)

Lafad as-Sidroh dalam ayat di atas, menurut pendapat sebagian Ulama’ ahli tafsir, ialah asy-Syajaroh, yang berarti pohon. Yaitu pohon yang tumbuh di dalam hati sanubari seorang hamba. Sebagaimana termaktub dalam QS. Ibrahim; 24.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan, Kalimat yang baik seperti Pohon yang baik…..”. (QS. Ibrahim; 14/24)

Adapun secara khusus yang dimaksud lafad “Sidroh” adalah Sidrotul Muntaha. Sebagaimana firman Allah:

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهى
“Di Sidrotil muntaha”. (QS. 53; 14)

Sidrotulmuntaha adalah maqaamat (terminal) terakhir yang mampu dicapai indera (alat perasa) makhluk meskipun harus dengan bimbingan Wahyu. Artinya; setelah seorang hamba mampu melewati terminal tersebut, berarti ia akan memasuki dimensi yang berbeda. Yakni dimensi alam ruhaniah, di mana seorang hamba berpotensi berinteraksi dengan ruhani para guru-guru ruhaniah yang sudah wafat. Seperti orang berhasil membuka situs di alam mayapada (internet), kemudian ia melihat data, ketika ia berhasil men-download apa-apa yang dilihatnya ke dalam file yang ada di dalam hard disk computernya, maka proses perpindahan data dari situs ke dalam file tersebut adalah gambaran proses masuknya “Ilmu Laduni” dalam hati seorang murid yang dihasilkan melalui proses interaksi antara seorang murid dengan guru mursyidnya yang sudah mati atau disebut BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG MATI.

Hal tersebut bisa terjadi, bukan karena ruh orang mati hadir kembali di dunia, namun dengan izin Allah ruhani orang yang masih hidup berpotensi menembus dimensi alam barzah serta dapat memindahkan apa-apa yang disimpan di sana. Yang dipindahkan itu adalah atsar (tapak tilas ibadah) yang sudah dilakukan oleh para pendahulunya. Atsar tersebut, walaupun pemiliknya sudah meninggal dunia akan tetap terjaga sampai hari kiamat di Lauh Mahfudz, sebagai sebuah diary yang nantinya dapat dibaca kembali oleh pemiliknya. Bagaikan situs yang bertebaran di mayapada, maka seorang hamba yang mampu mengakses dengan pelaksanaan tawasul kepada pemiliknya dapat memanfaatkan data maupun fasilitas yang tersimpan di dalamnya. Allah mengisyaratkan hal itu dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfudh)”. (QS. Yaasin; 12)

Jadi, salah satu buah yang bisa dipetik dari hasil sebuah proses interaksi ruhaniah antara murid dan gurunya adalah ‘ilmu laduni’ yang diwariskan oleh pemilik sebelumnya yaitu guru Mursyid yang ditawasuli, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Buah yang dipetik itu adalah bentuk transfer pemahaman hati, bukan ilmu pengetahuan secara aqliah dan juga bukan penampakan secara hayaliah. Inilah buah thoriqoh yang paling utama, maka jadilah kadang-kadang ilmu yang dimiliki para murid sama jenis dan sifat dengan ilmu yang dimiliki guru Mursyidnya.

Manakala buah yang didapatkan dari interaksi antara dua dimensi yang berbeda itu berupa penampakan-penampakan dalam bentuk gambar yang masih mengandung keraguan dalam hati, maka yang demikian itu bukan merupakan buah interaksi ruhaniah yang dicari. Akan tetapi hasil rekayasa sihir yang dimunculkan oleh setan jin di dalam hayal manusia yang tujuannya untuk menyesatkan perjalanan ibadah. Hal itu bisa terjadi, karena pelaksanaan tawasul tidak terbimbing oleh guru ahlinya. Akibat dari itu, orang tersebut hanya pandai berbicara tetapi tidak dapat mengetrapkan ilmunya dalam perilaku hidupnya sendiri. Allah memberikan gambaran orang tersebut dengan firman-Nya yang artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”.(QS.al-Hajj/11) (bersambung)

BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG MATI ? (part-1)

Posted in alam barzah, alam ghaib, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 26 Juni 2009 by malfiali

Bismillahi Allahu Akbar, Wassholaatu was Salamu alal Mukhtar, wa ala Alihi wa AssHababihi wa Muhibbihil akhyar, amma ba’du.
Mohon izin saya mau menulis, orang boleh membaca boleh tidak, boleh percaya boleh tidak, boleh senang boleh marah, boleh memuji boleh mencela, tatapi yang terpenting jangan ada yang percaya sebelum mencoba.

*******

BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG MATI ? (part-1)

Ketika orang menyangka “mati” merupakan batas antara dua alam, alam kehidupan (alam hayat) dengan alam kematian (alam maut). Yang satu hidup di dunia dan satunya mati dan kembali menjadi tanah, sehingga hubungan dua alam itu terputus untuk selamanya. Orang hidup dan orang mati tidak bisa saling memberi kemanfaatan. Keduanya tidak bisa saling berucap salam, sehingga sholawat dan salam kepada baginda Nabi SAW berarti sia-sia, mendo’akan orang mati yang bukan orang tuanya berarti batal, tawasul dan ziarah kubur dianggap syirik, mengidolakan orang mati berarti kultus individu, maka barangkali seperti itulah pemahaman orang yang hatinya ingkar akan hari akhirat dalam pertanyaan yang mereka lontarkan kepada Tuhan. Allah mengabadikan pertanyaan itu dengan firmanNya:

وَقَالُوا أَئِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَئِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ
“Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?”. Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Tuhannya”. (QS. as-Sajadah: 32/10)

Sebagian teman mengira, setelah orang mati, berarti tidak ada lagi hubungan dengan orang hidup,… selesai dan orang mati itu tidak boleh dido’akan kecuali oleh anaknya sendiri yang sholeh. Sedangkan bagi orang lain, sejak itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk temannya yang sudah mati, sehingga kematian itu dianggap sebagai batas kemanfaatan hidup. Orang tersebut memahami keyakinan hatinya dari sebuah Hadits Nabi SAW yang sangat masyhur yang artinya: “Apabila anak Adam mati maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga hal, yaitu shodaqoh jariyah atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang sholeh yang mendo’akan kepadanya”. Barangkali karena mengartikan hadits ini didasari keyakinan yang berlebihan, maka mereka menjadi terjebak kepada pemahaman yang salah.

Di dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW mengatakan “terputus amalnya” (In qotho’a ‘amaluhu) bukan “terputus kemanfaatannya” (In qotho’a Naf’uhu). Kalau seandainya Nabi SAW mengatakan terputus kemanfaatan, maka benar adanya, bahwa orang mati tidak ada hubungan lagi dengan orang hidup, sehingga apapun yang dikerjakan oleh orang hidup untuk orang mati tidak sampai. Rasul SAW mengatakan “terputus amalnya”, yang artinya bahwa anak Adam yang sudah mati terputus amalnya. Sejak itu mereka sudah tidak dapat beribadah lagi, mereka tidak dapat mencari pahala (makanan untuk ruhnya) sebagaimana saat mereka masih hidup di dunia.

Jika orang mau mencermati makna yang terkandung dalam hadits tersebut dengan hati yang selamat, sesungguhnya hikmahnya sebagai berikut; Dengan hadits itu justru Nabi menganjurkan supaya orang hidup mau mendo’akan orang mati, karena sejak jasadnya di kubur, temannya itu tidak dapat lagi mengusahakan pahala untuk dirinya sendiri, kecuali kiriman dari tiga hal tersebut. Itu pun, manakala orang mati itu memiliki ketiganya. Apabila tidak, maka hanya do’a-do’a dari temannya yang masih hidup itulah yang sangat mereka butuhkan untuk menghibur kesepiannya di alam kubur.

Allah memerintahkan agar orang mendo’akan orang lain:

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. at-Taubah: 9/103)

Ayat di atas menyatakan bahwa mendo’akan orang lain, baik kepada orang hidup maupun orang mati pasti sampai, yakni berupa ketenangan batin bagi orang yang dido’akan. Bahkan (sudah dimaklumi) termasuk syarat syahnya shalat Jum’at, khotib diwajibkan memohonkan ampun kepada saudara-saudara seiman, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Bahkan pahala orang mati masih dapat berkurang dan bertambah, berkurang karena perbuatan jeleknya diikuti orang lain dan bertambah karena tapak tilas perbuatan baiknya diikuti oleh penerusnya serta do’a yang dipanjatkan orang lain. Bahkan dosa dan pahala itu tidak berhenti bertambah dan berkurang kecuali saat hari kiamat sudah datang. Allah menyatakan hal itu dengan firman-Nya:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS. Ali Imran: 3/185)

*) Anda jangan sekali-kali mencoba mati untuk sekedar membuktikan kebenaran isi tulisan ini, karena yang pasti setelah itu Anda tidak akan kembali lagi di dunia.

********

Manusia menjalani kehidupan dalam tiga zaman, pertama di ALAM RUH, kedua di ALAM DUNIA dan ketiga ketiga di ALAM AKHIRAT. Di dalam ALAM DUNIA manusia mengalami tiga tahapan kehidupan. Pertama di alam rahim, kedua di alam kehidupan dunia, ketiga di alam barzah. Di ALAM AKHIRAT manusia juga akan mengalami beberapa tahapan kehidupan di antaranya alam mahsyar, alam hisab, alam mizan dan kemudian melintasi shirothol mustaqim baru masuk alam akhirat.
Jadi, alam kehidupan dunia dan alam barzah sesungguhnya berada dalam dimensi zaman yang sama namun dalam dimensi ruang yang berbeda.

Manusia Karakter dan Manusia Personal

Manusia adalah makhluk lahir batin. Makhluk lahir disebut “manusia sebagai personal”, makhluk batin disebut “manusia sebagai karakter”. “Manusia sebagai personal”, diciptakan dari debu, masa hidupnya sangat terbatas. Kehidupan tersebut hanya sebatas usia hidupnya di dunia. Ketika ajal kematian tiba, maka mati itu sedikitpun tidak dapat dimajukan atau dimundurkan. Setelah matinya “manusia sebagai personal” akan kembali menjadi tanah.
Adapun “manusia sebagai karakter” akan hidup untuk selama-lamanya. Sejak dikeluarkan dari sulbi Nabi Adam as. di alam ruh kemudian dilahirkan oleh ibunya di dunia, selanjutnya akan dibentuk oleh lingkungannya menjadi orang mulia atau orang hina. Sejak hidupnya di alam ruh itu “manusia sebagai karakter” akan hidup untuk selamanya, baik di dunia, di alam barzah kemudian di alam akherat.

Semasa hidupnya di dunia, manusia sendiri yang harus merubah karakternya, dengan ilmu dan amal, membentuk karakter itu supaya menjadi karakter yang mulia. Sebagai ash-shiddiq, asy-Syuhada’ atau ash-Sholihin sebagaimana yang telah digambarkan Allah dengan firman-Nya; “Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi kenikmatan dari Allah, yaitu para Nabi, Shiddiqin, para Syuhada’ dan para Sholihin. Dan mereka itulah teman yang baik “.(QS. 4; Ayat 69). Sebutan-sebutan tersebut merupakan gambaran karakter manusia sekaligus menujukkan tingakat derajat seorang hamba disisi Allah Ta’ala.

Ketika ajal kematian di dunia tiba, manusia batin itu akan dihidupkan lagi, sejak di alam barzah sampai di akherat nanti. Manakala ia mati sebagai seorang Syuhada’ atau mati syahid, maka di alam barzah akan hidup merdeka di kebun-kebun surga dengan mendapatkan rizki dari Tuhannya dan di alam akherat dimasukkan ke surga bahagia untuk selama-lamanya. Kalau ia mati sebagai orang kafir, maka kehidupan selanjutnya akan tertahan di penjara untuk selama-lamanya, baik sejak di alam barzah maupun di akherat nantinya.

Yang dimaksud bermonunikasi dengan orang mati adalah melaksanakan “Interaksi Ruhaniah” antara orang hidup dengan orang mati, yakni; “manusia sebagai personal” berkomunikasi dengan “manusia sebagai karakter” di dalam perasaan ruhaniah, bukan di dalam bayangan hayaliyah. Atau dengan istilah lain; Hubungan timbal-balik atau interkoneksi antara al-Mu’minun dengan ash-shiddiq, asy-Syuhada dan ash-Sholihin. Hubungan dua alam yang berbeda itu bisa dilaksanakan, karena ruh orang hidup (manusia sebagai karakter) memang berpotensi bertemu dan berkomunikasi secara ruhaniah dengan ruh orang lain (manusia sebagai karakter), baik dengan sesama orang hidup (di alam mimpi maupun di alam jaga) maupun dengan ruh orang mati (di alam barzah). Allah menyatakan hal itu dengan firmanNya:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan memegang jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya, maka Dia tahanlah jiwa yang Dia telah tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (QS.az-Zumar: 39/42)

Firman Allah:الله يتوفى الأنفس Allahu Yatawaffal Anfusa, (Allah memegang jiwa-jiwa) artinya; Allah mengumpulkan jiwa-jiwa manusia di dalam satu kondisi, jiwa orang mati dan jiwa orang tidur. Jiwa-jiwa tersebut dimasukkan dalam dimensi yang sama, lalu Allah menahan jiwa orang mati dan melepaskan kembali jiwa orang hidup sampai batas usia yang sudah ditentukan di dunia.

Di saat jiwa orang tidur dan jiwa orang mati itu dikumpulkan dalam satu dimensi, hal tersebut merupakan kesempatan di mana kedua jiwa yang datangnya dari dimensi yang berbeda itu dapat berkomunikasi. Baik sebagai mimpi di saat manusia sedang tidur maupun dikondisikan seperti memasuki dimensi alam mimpi di saat manusia melaksanakan ‘meditasi Islami’ atau mujahadah dan riyadhah di jalan Allah.

Konkritnya, ketika aktifitas jasmani sedang lemah karena orang sedang tidur, maka secara otomatis aktifitas Ruh menjadi kuat, lalu terjadilah pengembaraan ruhaniah. Dengan izin Allah jiwa orang tidur tersebut menembus batas ruang pembatas (hijab). Jiwa itu menembus pembatas dua samudera: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu – antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing”. (QS: 55; 19-20), yakni menembus pembatas alam malakut.

Di alam malakut itulah jiwa orang tidur dipertemukan dengan ruh orang mati. Selanjutnya terjadilah apa yang dapat terjadi sesuai kehendak Allah. Kejadian tersebut terrekam di alam jasmani dan ketika manusia bangun dari tidurnya, rekaman tersebut dibaca oleh akal. Peristiwa yang dibaca akal itulah yang disebut mimpi, hanya saja mimpi seperti ini masih membutuhkan penta’wilan dari ahlinya.

Bagi orang yang ruhaniahnya telah dihidupkan pada derajat tertentu, sebagai buah mujahadah dan riyadhah yang dijalani, ketika pengembaraan ruhaniah itu telah melewati batas yang telah ditentukan, maka dengan izin Allah seorang hamba akan dibukakan hijab-hijabnya, sehingga dengan matahati (bashiroh) nya dia dapat melihat atau merasakan secara langsung kejadian yang terjadi di alam ruhaniah tersebut. Manakala pengkondisian ini dilakukan melalui pelaksanaan tawasul kepada guru ruhaniah yang sudah wafat, kemudian terjadi arus balik antara dua dzikir yang berbeda, yang satu menyampaikan munajat dan satunya penyampaian syafa’at, maka demikian itulah yang dimaksud dengan hakekat “Interaksi Ruhaniah”, atau berkomunikasi dengan orang mati.

Seperti orang mengirim email misalnya, dari situs yang satu kepada situs yang lain, manakala hal tersebut mampu mentranfer ilmu pengetahuan kepada orang yang dikirimi, maka hal tersebut bisa dikatakan sebagai berkomunikasi.

Jadi, yang dimaksud berkomunikasi dengan orang mati itu tidak selalu dengan suara atau kata-kata yang bisa didengar telingah atau dengan penampakan yang dapat dirasakan penglihatan dalam mimpi, melainkan juga dengan saling mengirim rasa yang dimuati data, sehingga orang yang asalnya tidak faham menjadi faham, tidak mengerti menjadi mengerti. Hati yang asalnya susah menjadi gembira, dada yang asalnya sempit jadi lapang. Semua itu bisa terjadi, tentunya karena ada interaksi, padahal adanya interaksi, karena terkondisi dengan resonansi. Yang pasti, orang-orang yang gugur di jalan Allah, baik di medan perang maupun di atas ranjang, mereka itu dapat melihat kita, namun sayangnya kebanyakan kita tidak dapat merasakan keberadaan mereka:

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak merasakan (kehidupan mereka)”.(QS.al-Baqoroh/15

*) Jika Anda ingin mencoba membuktikan kebenaran teori ini, silahkan….!! Pekerjaan ini tidak terlampau berbahaya, asal prakteknya mendapat bimbingan orang yang berpengalaman. Dengan sedikit modal keberanian, seorang SARKUB sejati dapat membimbing Anda. Jangan sekali-kali Anda mencoba mempraktekkannya sendiri, karena resiku yang paling ringan saja, bisa-bisa untuk sementara waktu Anda harus menjadi penghuni RSJ. (bersambung)

IMAN DAN CINTA RASUL (part-8,tamat) (Ulama Pewaris Nabi)

Posted in cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 15 Juni 2009 by malfiali

ULAMA PEWARIS NABI

Allah SWT berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu”. (QS. al-Baqoroh; 2/143)

Firman Allah: شهداء على الناس sebagai saksi untuk manusia, maksudnya; Rasulullah Muhammad SAW dan sebagian umatnya akan menjadi saksi di akherat kelak untuk manusia, juga untuk para Nabi terdahulu dan umatnya. Hal tersebut dinyatakan oleh sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhori RA dari Abi Said al-Khudri RA Rasulullah SAW bersabda:

“قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (يُدَّعى نُوْحٌ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُوْلُ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ يَا رَبِّ فَيَقُوْلُ هَلْ بَلَّغْتَ فَيَقُوْلُ نَعَمْ فَيُقَالُ ِلأُمَّتِهِ هَلْ بَلَّغَكُمْ فَيَقُوْلُوْنَ مَا أَتَانَا مِنْ نَذِيْرٍ فَيَقُوْلُ مَنْ يَشْهَدُ لَكَ فَيَقُوْلُ مُحَمَّدٌ وَأُمَّتُهُ فَيَشْهَدُوْنَ أَنَّهُ قَدْ بَِلَّغَ وَيَكُوْنُ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا فَذَالِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ وَكَذَالِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا…).

“Nabi Nuh AS dipanggil menghadap dan Allah swt. bertanya: “Adakah sudah engkau sampaikan?”, Beliau menjawab: “Benar”. Maka Allah swt. bertanya kepada umatnya: “Apakah sudah sampai kepadamu?”, mereka menjawab: “Tidak ada satu peringatanpun yang datang”. Allah Ta’ala bertanya lagi: “Apakah engkau mempunyai saksi ?”, maka mereka menjawab: “Muhammad dan umatnya”. Kemudian Nabi SAW dan umatnya bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Nuh AS sudah menyampaikan. Dan jadilah Rasul menyaksikan kepada kalian. Yang demikian itu adalah sebagaimana firman Allah SWT:

(وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا)

Ini merupakan peristiwa ghaib yang dipublikasikan Allah SWT melalui al-Qur’an al-Karim, sebagai persaksian akan keutamaan umat Muhammad SAW dibanding umat Nabi terdahulu. “Keutamaan” yang dipancarkan melalui “keutamaan seorang Nabi yang Utama” sehingga umatnya menjadi “umat yang utama” pula.

Barangkali umat Muhammad SAW sendiri tidak pernah menyadari, bahwa fungsi kekholifahannya meliputi hak menjadi saksi bagi umat terdahulu bahkan Nabi mereka. Kalau yang demikian itu bukan Rasulullah SAW yang mengabarkan, tentu tidak ada orang yang mempercayainya. Namun ketika yang mengabarkan berita ghaib itu sebuah hadits shoheh, maka barangsiapa tidak percaya berarti tidak percaya kepada Allah SWT.

Kalau ada pertanyaan: “Bagaimana logikanya umat Muhammad SAW dapat menjadi saksi bagi umat sebelumnya, padahal sedikitpun mereka tidak pernah melihat kehidupan umat tersebut? Bukankah orang yang akan menjadi saksi harus melihat perbuatan yang akan disaksikan itu dengan mata kepala?”. Jawabnya: “Yang demikian itu menunjukkan apa yang disampaikan Allah SWT dengan wahyu-Nya (al-Qur’an) sungguh benar adanya. Karena hanya melalui al-Qur’an dan hadits, umat Muhammad SAW dapat mengetahui sejarah umat terdahulu tersebut.

Manakala Ulama pewaris Nabi akhir zaman itu benar-benar menguasai ilmu pengetahuan yang dikandung al-Qur’an dan sunnah Nabi, maka siapapun dapat menjadi saksi bagi umat sebelumnya”. Ini berarti, apabila Umat akhir zaman ini ingin mendapatkan kedudukan yang mulia itu, terlebih dahulu harus melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan yang luas. Allah SWT telah menyatakan dengan firman-Nya:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga bersaksi yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Ali Imran; 3/18)

Tugas risalah yang diemban Rasulullah Muhammad SAW, di samping sebagai saksi sekaligus juga sebagai pemimpin dan pembimbing serta pengatur urusan para saksi, baik urusan lahir maupun batin, jasmani maupun ruhani, urusan dunia maupun akherat. Baginda Nabi SAW melatih dan mentarbiyah jiwa mereka agar menjadi umat pilihan yang siap menjadi pemimpin umat menuju hidayah Allah SWT, bahkan bersama-sama dalam satu perjalanan untuk menggapai keridlaan Allah SWT. Demikian itu secara simple tercakup dalam istilah “Rahmatan Lil ‘Aalamiin”, yaitu memancarkan rahmat Allah SWT kepada seluruh alam semesta.

Tugas risalah Nabi itu bagaikan air hujan yang diturunkan dari langit, maka tanah yang gersang menjadi subur, benih-benih yang berserakan menjadi hidup lalu tumbuh menjadi tanaman. Selanjutnya buahnya dapat dipetik dan dimakan setiap saat, lalu menjadi sumber penghidupan yang menghidupkan kehidupan seluruh makhluk yang ada di atasnya.

Baginda Nabi Muhammad SAW di samping sebagai Rasul, juga menjadi saksi bagi umatnya. Ketika Rasul Muhammad SAW wafat, tugas kenabian itu tidak diserahkan kembali kepada Allah SWT seperti yang pernah terjadi kepada Nabi Isa AS, melainkan diwariskan kepada hamba pilihan dari umat-umatnya. Itulah Ulama’ Allah sebagai pewaris dan penerus perjuangan Beliau sampai hari kiamat. Ini adalah salah satu dan yang paling utama dari sekian keutamaan yang diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Tongkat estafet kepewarisan itu bukan untuk menyampaikan “risalah dan nubuwah”, akan tetapi untuk menyampaikan “Walayah”, yang sekaligus juga agar menjadi saksi bagi manusia pada zamannya. Karena sejak wafatnya Rasulullah SAW, Nubuwah dan Risalah itu telah terputus. Jadi, bukan untuk menjadi Nabi-Nya akan tetapi menjadi Wali-Nya. Allah SWT berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami”. (QS. Faathir; 35/32)

Oleh karena itu, manusia harus mengenal manusia, mencari keutamaan (fadhol) Allah SWT yang tersimpan di dalam diri manusia, itulah “mutiara manusia” yang tersimpan dalam jiwa manusia, mutiara rahasia tersebut dinyatakan Allah dengan firman-Nya; “Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur”. (QS. al- Mu’min; 40/61)

Sebagai kholifah Allah di muka bumi, di dalam dirinya ada sesuatu yang dirahasiakan untuk manusia, bahkan kepada dirinya sendiri, padahal yang dirahasiakan itu seringkali menjadi “sumber inayah dan hidayah” bagi orang lain. Ada kalanya rahmat Ilahiyat yang dirahasiakan di balik mutiara rahasia itu, ternyata merupakan pintu surga yang diidam-idamkan oleh orang-orang yang ada di lingkungannya.

Ketika seorang murid berusaha menggali “mutiara rahasia” itu dengan pelaksanaan tawasul secara ruhaniah kepada guru Mursyidnya, sambung-menyambung (rabith) sampai kepada maha guru yang mulia, Rasulullah Muhammad SAW untuk wushul/LING kepada Allah Ta’ala, dan ketika ternyata murid itu berhasil mendapatkannya, maka saat itu baru mengetahui bahwa mutiara itu di akherat kelak ternyata menjadi faktor penyelamat bagi hidupnya. Itulah “syafa’at Nabi” yang diwariskan kepada ahlinya, barangsiapa tidak mengusakannya di dunia, tentunya dengan berusaha mencintai Rasulullah Muhammad SAW melebihi cinta kepada dirinya sendiri, maka di akherat kelak tidak akan mendapat bagian apa-apa dari “mutiara utama” itu. (Semoga Allah Ta’ala menambahkan manfaat bagi kita semua. Amiin)(tamat)

al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghozali

IMAN DAN CINTA RASUL (part-7) (Saksi di Hari Kiamat)

Posted in cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 15 Juni 2009 by malfiali

SAKSI-SAKSI DI HARI KIAMAT

Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pencipta. Dengan kesendirian-Nya, menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk manusia. Di hadapan kekuasaan-Nya, manusia tidak berbeda dengan makhluk yang lain. Tidak ada satu kekuatanpun dapat menghalangi seandainya Allah Ta’ala berbuat sekehendak hati-Nya. Karena tidak ada yang sanggup meski sekedar bertanya atas segala perbuat-Nya.

Dengan ke-Mahaadilan-Nya, Allah menempatkan manusia dalam kedudukan mulia melebihi kehormatan makhluk yang lain, bahkan malaikat sekalipun. Manusia akan diperlakukan dengan seadil-adilnya di hari kiamat, tidak seperti makhluk yang lain—yang sebagian besar mereka saat itu, dijadikan tanah kembali setelah hak dan kewajibannya dengan manusia selesai diperhitungkan. Manusia tidaklah demikian, manusia akan dihidupkan untuk selama-lamanya dengan mengikuti perbuatan yang sudah dilakukan selama di dunia.

Dalam rangka memuliakan manusia, pengadilan akbar pada hari kiamat akan digelar dengan seadil-adilnya. Saat itu, manusia hanya mendapatkan sesuai yang diusahakan. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan dan apa yang dikerjakannya akan diperlihatkan” (QS.An-Najm; 53/39)

Sedikitpun manusia tidak kuasa menyalahkan siapa-siapa, ketika ternyata menjadi penghuni neraka untuk selama-lamanya. Karena di dunia sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Mengikuti kemauan hawa nafsu dan setan atau mengikuti hidayah Allah Ta’ala untuk melaksanakan jihad akbar, jihad melawan hawa nafsu yang ada di dalam rongga dadanya sendiri.

Berangkat dari dua pilihan itu, maka di akherat nanti manusia juga terbagi menjadi dua golongan. Yang satu bahagia untuk selama-lamanya di surga dan yang satunya menderita untuk selama-lamanya pula di neraka. Kita mohon perlindungan kepada Allah dari siksa neraka.

Untuk kepentingan pengadilan akbar tersebut, Allah Ta’ala telah menetapkan empat golongan yang akan menjadi saksi-saksi bagi amal ibadah manusia, yaitu: malaikat pencatat amal, anggota tubuh manusia sendiri, para Nabi Allah AS dan umat Muhammad SAW.

a). Saksi pertama, Para Malaikat Pencatat Amal

Allah Swt. berfirman:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ (20) وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ

“Dan ditiuplah sangkakala, itulah hari terlaksananya ancaman dan tiap-tiap diri akan datang bersama-sama Malaikat penggiring dan Malaikat sebagai saksi”. (QS. Qaaf; .50/20-21)

Dan juga firman-Nya:

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Ketika dua Malaikat saling bertemu, masing-masing duduk sebelah kanan dan sebelah kiri* Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas (pencatat) yang hadir”. (QS. Qaaf: 17-18)

Kemudian firman-Nya:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang menjaga * Yang mulia dan yang mencatat * Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Infithar; 82/10-12)

Ternyata bukan hanya manusia yang akan menjadi saksi bagi amal perbuatan yang dikerjakan manusia di dunia. Para malaikat juga, dan ternyata malaikat-malaikat yang telah dipersiapkan untuk menjadi saksi tersebut adalah malaikat yang sudah diikutsertakan di dalam kehidupan manusia di dunia.

Yaitu malaikat pencatat amal yang selalu duduk di samping kanan dan kiri manusia, sehingga akan mengetahui dengan pasti dan bahkan telah melihat sendiri dengan mata kepala terhadap setiap detail perbuatan yang sudah dikerjakan manusia yang menjadi tanggungannya. Baik dari perbuatan kebajikan maupun kejahatan, dari ketaatan ataupun kemaksiatan. Sehingga tidak ada sekecil apapun dari perbuatan tersebut terlepas dari pengawasan dan pencatatan. Bahkan dicatat secara langsung saat tepat pada waktu pekerjaan itu dilakukan. Yang demikian itu supaya persaksian benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Kemudian catatan itu dikalungkan di setiap leher pemiliknya, dan pada hari kiyamat catatan tersebut dicetak menjadi sebuah kitab. Ketika saatnya kitab itu dibuka maka dikatakan kepada pemiliknya:

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

“Bacalah kitabmu, pada hari ini cukup dirimu sendiri sebagai penghisab terhadapmu”. (QS. al-Isra’; 17/14)

Maka:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat * Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihatnya”. (QS. az-Zalzalah; 99/7-8)

Sedikitpun manusia tidak kuasa membantah, ketika ilmu dan amal yang dahulu dibanggakan, ternyata saat itu tidak berguna lagi. Terlebih ketika melihat temannya yang dahulu dicerca, ternyata sekarang lebih mendapat keselamatan ketimbang dirinya sendiri, bahkan mereka mendapatkan kedudukan terhormat, karena ternyata yang mereka yakini lebih benar daripada yang diyakininya sendiri. Maka manusia menyesal dan berharap untuk dapat kembali ke dunia guna memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan itu, akan tetapi sayangnya yang namanya mati hanya sekali, dan itupun hanya di dunia, selanjutnya manusia akan hidup untuk selama-lamanya.

b). Saksi kedua, Anggota tubuhnya sendiri

Kejadian yang sangat menakjubkan, merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Swt, di mana manusia pada hari kiamat mendapati dirinya tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak mampu membantah, apalagi mengelak. Ketika anggota tubuh yang selama hidupnya di dunia dengan setia membantu menyelesaikan segala kebutuhan, kini menjadi saksi atas segala perbuatan.

Allah Ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan bersaksilah kaki mereka terhadap apa yang dahulu telah mereka kerjakan”. (QS.Yasin; 36/65)

Firman-firman Allah di atas mengajak kita bermi’roj, menembus alam gaib, melihat kejadian-kejadian yang bakal terjadi di akherat nanti. Akan tiba saatnya serombongan anak manusia digiring dan dikumpulkan di depan pintu neraka. Ketika udara panas yang dihembuskan kobaran api di depan mata mulai terasa membakar kulit, saat wajah-wajah mulai berkerut dimakan rasa takut akibat dosa yang terlanjur ikut mengiringi maut. Maka difirmankan kepada mereka:

هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (63) اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

“Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam dengannya – Hari ini masuklah kamu ke dalamnya, dengan sebab dahulu kamu mengingkarinya”. (QS.Yasin: 36/63-64)

Saat itu, …. tangan yang selama ini menjadi sahabat karib, menjadi pembantu dan teman yang setia selama hidup, menyampaikan kehendak, mendatangkan hajat, mewujudkan hasrat dan keinginan, menggapai cita-cita dan harapan, …….. kini melaporkan kembali kepada Allah Ta’ala ……., tentang kebohongan dan kejahatannya, tentang pengkhianatan dan kemunafikannya, bahkan perselingkuhannya.

Kaki yang dahulu selalu bekerjasama dengan tangan, berjalan seiring saling membantu untuk melayani sang majikan. Kini berkonspirasi bahkan menjadi saksi atas sebuah kejahatan yang telah dilakukan.

Maka fakta menjadi nyata
bukti menjadi pasti.
Tidak ada jalan mengelak
tidak sempat mengingkari.

Dikabarkan lagi oleh Allah Ta’ala:

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (24) يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ

“Pada hari, ketika lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya dan mereka menjadi tahu bahwa Allah Yang Benar, lagi Yang Menjelaskan”. (QS. an-Nur: 24/24-25)

Lisan, tangan dan kaki pada hari itu menjadi saksi-saksi nyata, hal itu karena kebersamaannya selama di dunia dalam kehidupan manusia, bersama-sama melaksanakan perbuatan dengan manusianya, baik amal ibadah maupun kemaksiatan, baik pengabdian maupun pengkhianatan, baik kesetiaan maupun perselingkuhan. Manusia tidak kuasa lagi membantah, ketika semua itu ditulis di dalam kitab yang sudah terbuka di hadapan mata. Maka para Pendosa tinggal menunggu nasib dengan sorot mata menengadah, membayangkan siksa neraka dengan penuh putus asa, karena persaksian telah menjadi kuat dan pembuktian sudah menjadi akurat.

Seandainya dahulu di dunia hatinya mau sedikit saja melunak, mendengarkan peringatan dari teman-teman setia yang mengasihi, lalu menimbang dengan kejernihan hati yang tulus serta menawarkan kepada hidayah Tuhan yang diyakini, hidayah yang sebenarnya setiap saat sudah menghampiri nurani, membelai hati yang keras supaya mau mengala dan mawas diri….. maka barangkali sekarang tidak menyesal atas isi catatan yang dapat dihitung sendiri.

Ternyata hari akherat tidak seperti di dunia, betapapun orang menyesali perbuatan, penyesalan itu tidak berguna, sedikitpun tidak akan mengurangi siksa yang harus diterima. Seandainya penyesalan itu dilakukan di dunia, saat orang masih mempunyai kesempatan untuk berbuat maksiat tetapi mau bertaubat dan berbena, maka penyesalan itu akan merontokkan dosa-dosa, bahkan mengangkat derajatnya di Surga…. amin.

c). Saksi ketiga, Para Nabi dan Para Rasul

Kejadian-kejadian yang asalnya ghaib, dipublikasikan oleh Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya, al-Qur’an yang akan abadi sepanjang zaman. Peristiwa sejarah yang pernah terjadi pada zaman para Nabi dan para Rasul terdahulu, sebelum Rasulullah Muhammad SAW, juga diantaranya yang dialami Nabi Isa AS. Demikian itu agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi umat Muhammad SAW sepanjang zaman. Allah berfirman :

وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada diantara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka dan Engkau adalah Maha menyaksikan terhadap segala sesuatu”. (QS. al-Ma’dah: 5/117)

Perbuatan manusia semasa hidupnya, baik kebajikan maupun kejahatan, agar dapat dipertanggungjawabkan di akherat dengan seadil-adilnya, perbuatan itu harus diawasi dan disaksikan oleh saksi-saksi. Tidak hanya cukup disaksikan oleh para malaikat dan anggota tubuh manusia itu sendiri, untuk lebih kuatnya sebuah persaksian, perbuatan itu harus disaksikan oleh manusia juga. Oleh karenanya, tugas Nabi dan Rasul pada masanya, di samping mengemban Risalah dan Nubuwah, juga sebagai saksi-saksi bagi umatnya. Itulah maksud dari yang disampaikan Nabi Isa AS melalui firman Allah di atas (QS. 5; 117).

Semasa hidupnya, Nabi Isa AS menjadi saksi atas perbuatan umatnya. Ketika Nabi Isa AS diangkat ke langit, tugas tersebut diserahkan kembali kepada Allah Ta’ala. Berarti, sejak saat itu sampai terutusnya Nabi Agung Muhammad SAW, Allah yang mengawasi dan menjadi saksi bagi umat manusia. Masa-masa itu dikenal dengan masa transisi atau masa kekosongan kepemimpinan seorang Kholifah Bumi.

Dampak dari kekosongan tersebut, makhluk jin mendapatkan leluasa naik turun ke langit untuk mencuri dengar berita langit, sampai dengan terutusnya Rasul Muhammad SAW. Ketika Rasul Muhammad SAW diutus sebagai Kholifah Bumi akhir zaman, maka makhluk jin tidak dapat lagi naik ke langit, karena dikejar panah berapi. Demikian yang telah dinyatakan oleh Rasulullah SAW di dalam haditsnya berikut ini:

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW tidak membacakan al-Quran (tidak mengajarkan agama) kepada jin dan tidak pula melihat mereka. Kisahnya ; Disaat baginda Nabi SAW berangkat bersama rombongan para Sahabat RA menuju pasar Ukaz dan pada saat itu, antara setan jin dan berita dari langit sedang dihalangi dan mereka dilempari dengan panah berapi. Maka merekapun kembali kepada kaum mereka, dan mereka berkata: “Antara kami dan berita dari langit telah dihalangi dan kami dilempari dengan panah berapi”. Kaum mereka berkata: ”Pasti telah terjadi sesuatu yang luar biasa di muka bumi, coba pergilah menyebar ke bumi, baik di sebelah timur maupun baratnya, carilah apa menjadi penyebabnya, hingga antara kita dan berita dari langit menjadi terhalang”. Merekapun pergi ke bumi di sebelah timur dan baratnya. Dan di antara mereka ada yang menuju arah Tihamah, mengikuti arah perjalanan Nabi SAW bersama para Sahabat RA. Saat itu Baginda Nabi SAW sedang berada di bawah pohon kurma dalam perjalanan menuju ke pasar Ukaz dan Baginda Nabi SAW sedang sholat Subuh bersama para Sahabat. Ketika mereka (sekelompok jin) itu mendengarkan al-Quran dibaca, mereka memperhatikan dan berkata: “Inilah yang menjadikan kita terhalang dengan berita langit”. Maka merekapun kembali kepada kaumnya lalu berkata: Wahai kaumku:

( إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا )

Yang artinya: “Sesungguhnya aku telah mendengar bacaan yang mengagumkan, yang dapat menunjukkan kita kepada kebenaran, maka aku beriman kepadanya dan tidak akan menyekutukan Tuhanku dengan siapapun”.

Maka Allah Swt. menurunkan kepada Rasul Muhammad SAW sebuah firman-Nya:

( قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ )

Yang artinya: “Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku, bahwasanya sekumpulan jin telah mendengar bacaan al-Quran”.

Riwayat Bukhori di dalam Kitab Azan, Hadits Nomor 731
Riwayat Muslim di dalam Kitab Sholat, Hadits Nomor 681
Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an, Hadits Nomor 3245-3247.
(Sumber: CD al-Bayan)

Jadi, keberadaan seorang Kholifah Allah di muka Bumi, disamping menjadi saksi perbuatan umatnya, juga memutus mata rantai akses makhluk Jin dari Bumi ke Langit sehingga sejak itu jin selalu memboncengi laku spiritual manusia untuk mencuri dengar berita langit melalui munajat hati manusia kepada Tuhannya. Disini ada rahasia besar, mengapa para laku spiriutal tersebut terkadang malah mendapat bimbinang dari setan jin, hal itu disebabkan, karena pengembaraan ruhani itu tidak mendapat bimbingan dari guru Mursyid sejati.

d). Saksi keempat, Umat Nabi Muhammad

Keutamaan umat Muhammad SAW yang terbesar dan termulia serta tidak diberikan kepada umat-umat terdahulu ialah bahwa dari umat pilihan, ada yang dijadikan Allah Swt. sebagai Kholifah Bumi Zamannya atau pengganti meneruskan tugas Risalah dan Nubuwah, mereka itulah para Guru Mursyid sejati. Tugas para kholifah bumi itu diantaranya, menebarkan pancaran obor semangat keimanan, menyalakan pelita-pelita yang terkucil dan berserakan di pinggir jalan, menguntai kunang-kunang nakal, dan bahkan mengambil kembali dan sekaligus menggosok mutiara-mutiara yang kadang lama tercampak di bak sampah.

Keberadaan mereka di mana-mana selalu membawa perubahan, bagai membangunkan bumi tidur, membasahi tanah kering dan mati. Itulah hamba-hamba Allah yang dipilih untuk menerima Warisan Ilmu al-Kitab (al-Qur’an).

Kitab warisan itu selalu diamalkan melalui pancaran Nur Akhlaq untuk menyampaikan Hidayah Allah Ta’ala kepada umat manusia, baik melalui do’a-do’a, mujahadah dan riyadhoh, dakwah-dakwah, bahkan melalui perniagaan dan perdagangan. Mereka berdagang untuk berdakwah, bukan berdakwah untuk berdagang sebagaimana lazimnya orang pada zaman sekarang.

Sebagian mereka berhasil menghidupkan bumi tanah Jawa tercinta dengan menyalakan obor hidayah dan iman di mana-mana hingga sejarah telah mencatat perjuangan itu dengan tinta emas. Itulah para Wali Songo yang mulia, meski setelah matinya masih saja ada orang yang mengingkari jasa mereka.

Padahal, orang-orang yang hatinya ingkar itu adalah orang yang kenikmatan imannya merupakan hasil perjuangan dan jerih payah para Wali Songgo tersebut. Hasil perjuangan orang-orang yang telah mendapatkan warisan dari para pendahulunya—yang juga telah mendapatkan warisan langsung dari seorang junjungan yang agung. Yaitu Rasulullah SAW yang telah menyatakan di dalam sebuah haditsnya :

عُلَمَآءُ أُمَّتِى كَأَنْبِيَآءِ بَنِى إِسْرَائِلَ

“Ulama’ umatku seperti Nabi-nabinya Bani Isra’il”.

Para Ulama penerus perjuangan tersebut, yaitu ash-Shiddiq, asy-Syuhada’ dan ash-Sholihin, juga disebut “Ulul Albab”, sebagai Khalifah Bumi Zamannya, adalah merupakan orang yang telah meneruskan tongkat estafet perjuangan para Rasul dan para Nabi terdahulu. Sesuai dengan tingkat derajat yang tergambar melalui sebutan nama mereka, sejak kehidupan mereka di dunia, di alam barzah dan di akherat, mereka juga menjadi saksi bagi umatnya.

Mereka akan tetap dihidupkan oleh Allah sepanjang zaman dengan membawa syafa’at yang sudah ada di tangan, warisan para pendahulu yang terlebih dahulu telah berjuang, di akherat nanti akan menyelamatkan banyak orang yang telah terlanjur terjerumus ke jurang neraka.

Kalau salah satu dari mereka ada yang mati, Allah Ta’ala akan segera mengangkat penggantinya dengan orang yang baru, untuk menduduki kedudukan yang sedang kosong itu, supaya kepemimpinan dunia tidak terjadi kekosongan lagi. Allah Ta’ala yang mendidik mereka. Sebagaimana sabda Rasul SAW yang diabadikan di dalam firman Allah :

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya Waliku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab dan Dia memberikan ” Walayah” kepada orang-orang yang sholeh”. (QS.al-A’raaf.7/196)

Mereka itu, sesuai dengan ilmu dan kemampuan yang ada serta tingkat derajat yang diberikan, seluruh masa hidup dan kesempatannya dicurahkan untuk membimbing manusia menuju jalan keridlaan Allah Ta’ala. Baik melalui ilmu pengetahuan, ibadah, perjuangan, terlebih melalui pancaran do’a-do’a yang setiap saat dipanjatkan ketika mereka sedang melaksanakan mujahadah dan riyadlah di hadapan Allah Ta’ala.

Orang-orang yang kemanfaatan hidupnya hanya untuk mencukupi kebutuhan orang lain, baik kebutuhan lahir maupun batin, diminta maupun tidak, hingga terkadang melupakan kebutuhan hidupnya sendiri. Ketika Allah menghendaki memanggil kekasihnya, dia akan menghadap dengan penuh kebahagiaan. Seperti seorang pengantin yang dipertemukan di peraduan, sedangkan orang-orang yang ditinggalkan, melepaskan dengan penuh kesedihan dan keputusasaan, sebab:

Nur yang mereka pancarkan
lewat ilmu pengetahuan,
Amal Ibadah maupun Akhlak,
telah menghidupkan hati yang mati,
dan membangkitkan semangat yang layu
Itulah “Nur di atas nur”
Yang tersimpan di dalam karakter
Warisan leluhur
Agar orang tetap mengenal
Bahwa tidak ada Tuhan, kecuali Allah.

Mereka itulah manusia yang akan menyelamatkan manusia-manusia dari siksa neraka sebagaimana mereka telah menyelamatkan iman manusia dari dari tipu daya hawa nafsu dan setan di dunia.

Allah Ta’ala menggambarkan keadaan hati kiamat itu dengan firman-Nya:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ (68) وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan ketika sangkakala ditiup, maka matilah orang yang di langit dan orang yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah, kemudian sangkakala itu ditiup sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu * Dan bumi menjadi terang dengan Nur Tuhannya dan kitab diserahkan dan didatangkan para Nabi dan saksi-saksi: Dan diputuskan urusan mereka dengan adil dan mereka tidak dirugikan”. (QS. az-Zumar; 39/68-69)

Sekarang di tangan kita telah datang bukti-bukti nyata, sebagai untaian mutiara yang tak ternilai harganya. Bukan sekedar catatan yang dibaca, akan tetapi merupakan hidayah yang didatangkan bagi hati yang selamat. Bahkan bisa jadi menjadi peringatan (burhan), manakala sorot matahati yang cemerlang dapat menerangi mata lahir yang sedang menyorotkan pandang. Allah Ta’ala telah berfirman:

قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfa`atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu)”. (QS. al-An’am; 6/104)

Kalau sekarang orang tidak mau memperhatikan peringatan yang didatangkan, hingga di akherat nanti mereka menjadi orang yang terlupakan, jangan salahkan siapa-siapa lagi, karena di dunia ini, kepada bukti-bukti yang terang, dirinya terlebih dahulu telah melupakan, maka sesal kemudian tidak membawa kemanfaatan. (bersambung)

al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghozali

IMAN DAN CINTA RASUL (part-6) (Peradilan yang Adil)

Posted in cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 15 Juni 2009 by malfiali

PERADILAN YANG ADIL

Allah Ta’ala menghendaki di akherat kelak tidak terjadi ketidakadilan, karena di hari itu “Pengadilan Akbar” akan ditegakkan. Hari dimana kitab-kitab catatan amal akan diserahkan kepada pemiliknya, maka para pendosa sangat ketakutan, karena semua dosanya ternyata tercatat dalam kitab tersebut. Allah Ta’ala telah mengabarkan dengan firman-Nya :

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Kitab akan diletakkan, lalu kamu akan melihat orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya dan mereka berkata: “Aduhai celakalah kami, kitab apa ini, yang tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka dapati apa yang mereka kerjakan ada tertulis dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun”. (QS.Kahfi.; 18/49).

Pengadilan akherat itu akan dilaksanakan seadil-adilnya, tidak seperti pengadilan di dunia yang terkadang hanya mengadili pesakitan bukan menegakkan keadilan. Allah akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan sesuai amal kebaikan yang sudah dikerjakan dan akan ditambahkan-Nya dengan kebaikan pula sesuai dengan yang dijanjikan, maka manusia tidak akan mendapatkan kecuali sebagaimana yang sudah diusahakan di dunia. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan dan apa yang dikerjakannya akan diperlihatkan” (QS.An-Najm; 53/39)

Untuk itulah, Rasul-Rasul dan orang yang beriman bersama Rasul Muhammad SAW ditetapkan sebagai saksi sejak di dunia dan di alam barzah sampai dengan di akherat, agar pengadilan akbar itu dapat dilaksanakan dengan seadil-adilnya. Agar bukti-bukti atas sebuah kejahatan menjadi jelas dan celaan terhadap pelakunya menjadi tegas, lalu penyesalan menjadi amat sangat. Sedikitpun Allah Ta’ala tidak akan berbuat aniaya kepada hamba-hamba-Nya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Allah sungguh tidak akan menganiaya seseorang walaupun sebesar Zarrah dan jika ada kebaikan sebesar Zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar “. (QS.an-Nisa’; 4/40)

Untuk menebus kebahagiaan di surga, meski seluruh hidup manusia di dunia didarmabaktikan untuk berbuat kebaikan, niscaya tidak mencukupinya. Oleh karena itu, orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan) di dunia hanya mengharapkan ridla-Nya, sehingga pahala kebaikan itu akan dilipatgandakan. Yang demikian itu hanyalah pelaksanan janji yang tidak mungkin teringkari, sebagai sunnah yang tidak akan pernah berubah. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya:

إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا إِنَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ بِالْقِسْطِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

“Hanya kepada Allah kalian semua akan dikembalikan Janji Allah adalah benar-benar dilaksanakan. Dia yang pertama menjadikan dan menghidupkan, kemudian Dia pula yang mengembalikan kejadian dan kehidupan itu di hari akherat, supaya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh mendapatkan balasan yang adil, dan orang-orang kafir disediakan bagi mereka minuman yang panas dan siksa yang menyakitkan disebabkan kekafiran mereka”. (QS.Yunus; 10/4).

Merupakan penyesalan yang teramat sangat adalah ketika datangnya kesadaran sudah terlambat sehingga kesempatan untuk berbenah tertutup. Terlebih lagi apabila sebelum itu orang tersebut pernah mendapatkan peringatan, akan tetapi karena hatinya keras ia tidak mempercayainya. Ketika ia mengetahui dengan mata kepala ternyata peringatan itu benar padahal kesempatan untuk berbenah sudah tertutup, maka di tengah penderitaannya orang-orang kafir melahirkan rasa putus asa dengan menyampaikan harapan kosong. Allah Ta’ala mengabadikan penyesalan itu dengan firman-Nya: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu jadi tanah saja”. Demikianlah Allah telah memberikan peringatan kepada kita dengan firman-Nya:

إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang-orang yang tidak percaya atau kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. (QS.an-Naba’; 78/40)

Sekarang kita tinggal memilih, akan kita kemanakan diri kita saat itu. Di saat sudah tidak ada lagi yang dapat menolong selain apa yang kita perbuat sekarang, selain amal ibadah yang kita jalani sekarang dan selain SYAFAAT Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang harus kita usahakan sejak sekarang pula. Karena sejak di alam barzah kesempatan untuk berbuat itu sudah tertutup.

Kalau orang ingin masuk surga, maka sejak sekarang harus menyiapkan bekalnya, demikian juga masuk neraka. Yang pasti masing-masing tujuan itu membutuhkan biaya. Membutuhkan ongkos jalan, bahkan terkadang jauh lebih besar ongkos jalan masuk neraka ketimbang masuk surga.

Untuk masuk surga, orang hanya cukup mengeluarkan 2.5 % dari pemilikannya. Kecuali kalau dia menghendaki tempat yang lebih baik, maka harus ditambahkan sedikit lagi, yakni sekedar untuk menyenangkan hati orang lain yang terkadang ukurannya jauh lebih kecil daripada ukuran kesenangan hatinya sendiri.

Adapun untuk masuk neraka, kadang-kadang dengan 100 % pemilikannya saja masih kurang, bahkan harus dengan habis-habisan sehingga yang tertinggal hanya hutang yang bertumpuk—yang seumur hidup tidak mampu lagi dibayar hingga akhirnya menyisakan penyakit-penyakit di dalam jasad yang menjadi penyebab kematian.

Tiket untuk sebuah penderitaan di neraka itu ternyata malah terkadang dengan penderitaan di dunia, tidak seperti tiket kebahagiaan di surga. Orang yang mampu menempuh kebahagiaan di surga itu, tiketnya ternyata juga berupa kebahagiaan di dunia, bahkan dengan kehormatan pula, karena sebagian pemilikan yang sudah dishodaqohkan kepada fakir miskin mendapatkan penerimaan baik di hati manusia.

Bukankah lebih murah biaya masuk surga daripada masuk neraka?, namun demikian, ternyata tidak banyak orang mampu melakukan. Hal tersebut tidak lain karena setan telah menguasai hati orang itu sehingga jalan pikirannya terbelenggu hawa nafsunya sendiri.

Seandainya manusia mampu menahan sedikit saja hawa nafsunya. Kesenangan hidupnya tidak dihabiskan di dunia, terlebih denggan berbuat kejahatan kepada sesama, malainkan disisakan sebagian untuk kebahagiaan di akherat, yang demikian itu dilakukan semata-mata mengharapkan ridla Tuhannya dan karena takut akan kebesaran-Nya, maka cobalah…..!, Anda pasti akan menemukan hasilnya, karena Allah Ta’ala telah menyatakan janji-Nya dan sedikitpun Dia tidak akan mengingkari janji-janji-Nya:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya * Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)”. (QS. an-Naaziaat; 79/4-41)(bersambung)

al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghazali

IMAN DAN CINTA RASUL (part-5) (Sholat disaksikan Rasul)

Posted in cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 13 Juni 2009 by malfiali

SHOLAT DISAKSIKAN RASUL SAW

Allah Ta’ala berfirman :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu, dan akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan yang syahadah, kemudian akan disampaikan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan “. (QS. at-Taubah; 9/105)

Sebelum pahala ibadah SHOLAT dikembalikan kepada pemiliknya di hari akherat kelak, terlebih dahulu SHOLAT itu harus disaksikan oleh Allah Ta’ala, Rasulullah SAW serta orang-orang beriman yang telah melihat. Melalui ayat di atas Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada hamba-Nya yang beriman tentang beberapa hal yang penting dan akurat :

1) Allah Ta’ala, Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman akan melihat (Fasayaro) amal perbuatan yang dikerjakan oleh manusia. Lafad ar-Ru’ya, menurut kaidah bahasa berarti melihat sesuatu, maka ar-Ru’ya artinya mengetahui dengan indra penglihatan (al-Abshor). Maksud ayat; sebelum amal tersebut dipertanggungjawabkan pemiliknya, sebagai sunnah yang sudah ditetapkan, terlebih dahulu amal itu akan dilihat secara langsung oleh Allah Ta’ala, Rasulullah SAW dan orang-orang yang beriman. Oleh karena kemanfaatan al-Qur’an abadi sepanjang kehidupan manusia ada di muka bumi, maka sepanjang itu pula sunnah tersebut berlaku. Ketika kehidupan Rasulullah SAW di dunia sudah terputus dengan kematian jasadnya, maka—sepanjang kehidupan manusia masih ada, Rasul tetap akan melihat amal perbuatan umatnya secara ruhaniah. Demikian pula orang-orang yang beriman.

2) Di dalam ayat ini Allah Ta’ala juga mempergunakan lafad al-‘Aalim, dari kalimat : ‘Aalimul Ghaibi Wasy Syahaadah, yang dimaksud “Mengetahui”, boleh jadi dengan indera penglihatan atau dengan ilmu pengetahuan atau dengan perasaan. Maksud ayat: Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman, disamping mengetahui, juga melihat dengan penglihatan terhadap amal perbuatan yang dikerjakan oleh umat manusia.

3) Lafad “al-Mu’minuun”, diletakkan berurutan setelah lafad “Rosuuluh”, menunjukkan; yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman di dalam ayat ini adalah orang-orang beriman yang sudah meninggal dunia karena lafad yang di mukanya “Rosuuluh” (Rasulullah) juga adalah orang yang sudah meninggal dunia. Jadi: pengertian ayat adalah sebagai berikut: Bahwa Rasulullah SAW—sekarang, walau jasadnya sudah meninggal dunia, Ruhaninya tetap melihat dan menyaksikan amal perbuatan yang dikerjakan umatnya. Demikian pula orang-orang yang beriman yang sudah mati, juga melihat dan menyaksikan amal perbuatan teman-temannya yang masih hidup, hal itu supaya mereka kelak bisa menjadi saksi atas amal tersebut di hadapan Allah SWT. Karena tidak mungkin mereka dapat menjadi saksi yang baik atas suatu perbuatan, kecuali sebelumnya terlebih dahulu telah melihat dan menyaksikan perbuatan itu dengan mata kepala.

Dengan pengertian diatas, maka sejak persiapan sebelum SHOLAT itu dikerjakan oleh seorang salik, maka Para Nabi, ash-Shiddiq, asy-Syuhada’ dan ash-Sholihin dihadirkan di dalam perasaan ruhaniah dengan jalan tawassul. Sebagai guru-guru pembimbing secara ruhaniah dan teman-teman yang baik dalam perjalanan sekaligus saksi-saksi atas amal perbuatan tersebut kelak di hari akherat.

Tawasul secara ruhaniah kepada guru Mursyid itu harus dilakukan di dunia sebagai sebab, supaya di akherat kelak orang-orang yang ditawasuli itu benar-benar menjadi saksi-saksi dari amal perbuatan itu sebagai akibat. Allah Ta’ala menyatakan dengan firman-Nya yang artinya: “Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”.(QS. Thoha; 132)

Kalau orang beribadah tidak bertawassul kepada guru Mursyid secara ruhaniah, maka yang akan menjadi guru pembimbing serta teman-teman yang baik sekaligus sebagai saksi-saksi dalam amal ibadah tersebut adalah setan jin yang ikut membonceng dorongan hawa nafsu dan akal. Akibatnya, setan jin akan mudah membelokkan arah tujuan ibadah di tengah jalan. Contohnya, jika orang yang sedang ibadah itu ingin kaya mendadak, maka arah tujuan ibadah berganti menjadi mencari harta karun ghaib yang dijaga jin penjaga. Jika ingin dimuliakan orang, maka arah ibadah berbelok menjadi mencari kesaktian atau karomah-karomah. Bahkan manusia terjebak dengan sifat sombong dan takabbur, ketika setan telah berhasil meniupkan bisikan-bisikan indah di dalam hatinya supaya orang tersebut memandang baik kepada diri sendiri.

بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا

“Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mu’min tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.(al-Fath/12)

Dengan amal ibadah tersebut manusia merasa menjadi orang khowas, menjadi waliyullah, sehingga ketika melihat orang lain terlihat hina. Hanya dia sendiri yang benar dan mulia, dan bahkan mampu diaktualisasikan dengan mensyirikkan dan membid’ahkan amal ibadah orang lain. Kalau demikian jadinya, bukannya mereka itu akan menjadi waliyullah akan tetapi malah terjebak menjadi walinya setan.

Tawassul secara ruhaniah merupakan ibadah batin atau ibadah ruhaniah, maka hasil juga ‘rasha’ yang sifatnya ruhaniah. Yaitu mengarahkan niat dan arah tujuan ibadah supaya tidak dibelokkan oleh setan kepada keuntungan duniawi. Oleh karena itu, apabila ternyata hasil akhir ibadah yang dilakukan oleh seseorang ujung-ujungnya untuk mendapatkan keuntunan duniawi, maka boleh jadi itu merupakan pertanda arah tujuan ibadah sudah terkontaminasi tipu daya setan jin. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kesalahan-kesalahan yang tidak mudah disadari.

Jadi, tawasul secara ruhaniah kepada guru-guru Mursyid, berkesinambungan (rabithah) sampai kepada Rasulullah Muhammad SAW sesungguhnya adalah jalan penyelamat, supaya sang pengembaraan selamat dari tipu daya dan jebakan setan jin yang sesat. Hanya saja karena setan lebih mengenal jalan-jalan utama itu, maka mereka berusaha menutup pintunya melalui tentara-tentaranya yang setia. Dengan membalikkan fakta, yang lurus dikatakan sesat, ternyata mereka tidak sadar bahwa selama ini setan jin telah menjadi guru pembimbing yang berhasil menjadikan orang menjadi sesat.
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (69) ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا

“Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi keni’matan dari Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiq, para Syuhada’ dan para Sholihin. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya * Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui”. (QS. an-Nisa’/4: 69-70)

Merupakan ketetapan Allah Ta’ala (sunnatullah), amal ibadah akan diterima di sisi-Nya manakala dilaksanakan di depan saksi-saksi. Demikian hukum yang berlaku di dunia, demikian pula yang berlaku di alam barzah maupun di akherat. Oleh karena itu keberadaan orang-orang yang mendapatkan nikmat dari Allah yaitu para Nabi, ash-Shiddiq, asy-Syuhada’, ash-Sholihin dijadikan sebagai saksi-saksi secara ruhaniah oleh seorang salik saat melaksanakan sholat dan berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Untuk supaya di akherat nanti ada saksi bagi amal ibadah yang dilakukan, maka amal ibadah itu di dunia harus mendapat persaksian terlebih dahulu, baik secara lahir—oleh seorang guru Mursyid sebagai pembimbing secara langsung dan oleh para ikhwan yang masih hidup, maupun secara batin—oleh guru-guru ruhaniah yang ditawassuli secara ruhaniah.

Ibadah yang dilaksanakan tanpa guru pembimbing itu, bisa jadi rentan dimasuki bisikan maut dari setan jin. Dengan bisikan itu supaya orang yang beribadah itu memandang baik kepada dirinya sendiri dan merasa lebih mulia dan lebih utama daripada orang lain. Kalau sudah demikian manusia akan terjebak kepada sifat sombong dan takabur.

Datangnya bisikan-bisikan setan itu sangat halus dan canggih, sehingga manusianya tidak merasa bahwa karakternya telah disusupi karakter buatan yang dikirimkan setan ke dalam hatinya. Bahkan disaat siksa sudah didatangkan di depan mata, sebagai peringatan, kekerasan hati akibat sifat sombong itu menjadikan hatinya tetap menolak merendahkan diri untuk berbuat taat kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah memberikan peringatan pula dengan firman-Nya:

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka seandainya mereka mau tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, (barangkali mereka akan selamat dari siksaan itu) bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setanpun menjadikan mereka memandang baik kepada apa yang mereka kerjakan”. (QS.al-An’am; 6/43)

Oleh karena itu, sejak di dunia, ibadah yang dilakukan itu harus ada saksi yang menyaksikan, yaitu guru-guru Mursyid dan guru ruhaniah yang ditawasuli, supaya sejak saat itu pula, juga di alam barzah dan di akherat nanti, guru-guru ruhaniah yang ditawassuli itu menjadi saksi untuk amal ibadah tersebut.

Dalil-Dalil Al-Qur’an

Pertama:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan”. (QS.al-Ahzab; 33/45)

Kedua:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) ketika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka (sebagai umatmu)”. (QS.an-Nisa’: 4/41).

ketiga:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi Saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasul (Muhammad) menjadi Saksi atas (perbuatan) kamu”. (QS.al-Baqoroh; 2/143)

Sebagaimana Allah Ta’ala akan menjadikan para Rasul dan para Nabi terdahulu sebagai saksi bagi umat mereka, demikian pula Rasulullah Muhammad SAW dijadikan-Nya sebagai saksi bagi umatnya. Adalah keutamaan bagi umat Muhammad SAW yang tidak diberikan-Nya kepada umat selainnya, yaitu dijadikannya mereka sebagai saksi bagi umat sebelumnya.

Demikianlah secara singkat maksud yang terkandung di dalam ketiga ayat tersebut, maka dengan ketiga ayat ini menjadi sangat jelas bahwa persaksian bagi amal ibadah yang dikerjakan oleh seorang hamba di dunia adalah hal yang mutlak dan harus dipenuhi, supaya amal itu dapat membuahkan hasil yang diharapkan serta sampai kepada tujuan yang utama, yaitu bagaimana dengan ibadah yang dijalani itu, seorang hamba dapat sampai (wushul) kepada Tuhannya.

Dalil-Dalil Hadits Nabi SAW.:

Pertama:
حَيَاتِى خَيْرٌ لَكُمْ تُحَدِّثُوْنَ وَنُحَدِّثُ لَكُمْ . ووماتى خَيْرٌ لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَىَّ أَعْمَالُكُمْ فَمَا رابت مِنْ خَيْرٍ حَمِدْتُ اللهَ.وَمَا رَأَيْتُ مِنْ شَرٍّ إِسْتَغْفَرْتُ اللهَ لَكُمْ

“Masa hidupku adalah kebaikan bagimu, kalian berbicara dan kami berbicara untuk kalian. Masa matiku adalah kebaikan bagimu, amal-amal kalian disampaikan kepadaku. Ketika aku melihat amal-amal kalian yang baik, maka aku memuji kepada Allah. Dan apa-apa yang kulihat dari amal kalian yang jelek, maka aku memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian”.

Kedua:
تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ عَلى اللهِ . وَتُعْرَضُ عَلى الأَنْبِيَاءِ وَعَلى الأبَاءِ وَالأُمَّهَاتِ يَوْمَ الْجُمْعَةِ . فَيَفْرَحُوْنَ بِحَسَنَاتِهِمْ وَتَزْدَادُ وُجُوْهُهُمْ بَيَاضًا وَ اِشْرَاقًا . فَاتَّقُوْا اللهَ عبادا اللهِ وَلاَ تُؤْذُوْا مَوْتكُمْ . “الإكليل” . لشيخ احمد اسرارى الإسحاقى.

“Amal perbuatan (manusia) akan disampaikan kepada Allah pada hari senin dan kamis, dan akan disampaikan kepada para Nabi dan kepada para Bapak dan para Ibu pada hari Jum’at. Mereka akan merasa gembira atas kebaikan amal tersebut dan wajah mereka makin tampak putih dan cemerlang. Maka takutlah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah. jangan kau sakiti pendahulu- pendahulumu yang sudah mati”. (asy-Syaikh Ahmad Asrori al-Ishaqi, “Iklil”)

Jika orang beriman mengetahui bahwa amal ibadah yang dilakukan itu akan disampaikan kepada “Nabi Agung Muhammad SAW” yang dicintainya, yaitu satu-satunya mansia yang berhak memberi syafa’at kepada seluruh umat manusia baik di dunia dan di akherat, maka sejak amal itu dikerjakan, hatinya mudah tertarik untuk ingat serta membayangkan kapadanya. Membayangkan saat-saat di mana amalnya akan disampaikan, dipersaksikan dan diperiksa oleh Beliau SAW.

Betapa senangnya hati seorang hamba ketika mengtahui bahwa amal ibadahnya itu akan diketahui oleh baginda Nabi tercinta, maka perasaan yang demikian itu akan memudahkan pelaksanaan tawassul kepada Baliau, karena sejak itu dia merasa bahwa Rasulullah Muhammad SAW yang akan menjadi saksi dari amal ibadah yang dilakukan itu.

Kalau tidak demikian, berarti matahati seorang hamba sedang terhijab oleh kotoran manusiawi, tidak dapat menembus hal yang hakiki di balik ibadah yang syar’i, sehingga tidak dapat memahami hal yang sangat penting ini. Oleh karena itu para murid thoriqoh menjadikan guru Mursyidnya sebagai wasilah pertama untuk sampai kepada wasilah-wasilah berikutnya hingga kepada Rasulullah SAW.

al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghozali  (bersambung)

IMAN DAN CINTA RASUL (part- 4) (Sholat Bareng Rasul)

Posted in cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 13 Juni 2009 by malfiali

SHOLAT BARENG RASULULLAH SAW

Allah Ta’ala berfirman :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (105) وَآَخَرُونَ مُرْجَوْنَ لِأَمْرِ اللَّهِ إِمَّا يُعَذِّبُهُمْ وَإِمَّا يَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu, dan akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan yang syahadah, kemudian akan disampaikan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan – Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. “. (QS. at-Taubah; 9/105)

Orang mengerjakan sesuatu apabila mengetahui pekerjaannya dilihat oleh orang yang di-idolakan, sudah barang tentu akan mengerjakan dengan sebaik mungkin. Jika kebajikan, maka dikerjakannya dengan sebaik mungkin, agar yang melihatnya merasa senang dan ridho atau minimal tidak mengecewakan. Tentunya sangat berbeda apabila pekerjaan itu tidak dilihat atau tidak diketahui oleh siapa-siapa, barangkali dia akan mengerjakan dengan semaunya saja.

Apabila pekerjaan itu tidak disukai oleh orang yang di-idolakan tersebut, terlebih yang menyalahi kehendaknya, kalau terpaksa harus dikerjakan juga, pasti akan dikerjakan dengan rasha takut yang amat sangat, atau boleh jadi akan minta ma’af dahulu sebelum terpaksa harus mengerjakan, atau bahkan sama sekali tidak mampu mengerjakannya. Seperti orang takut berbuat salah di depan pimpinan, kehati-hatian yang berlebihan terkadang malah menjebak kepada kesalahan.

Apa saja yang dikerjakan oleh seorang hamba, baik dari amal kebajikan maupun kemaksiatan, sebelum amal-amal itu menjadi catatan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala—kelak di hari kiamat, pekerjaan itu terlebih dahulu akan dilihat dan disaksikan oleh Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman. Kalau hal tersebut disadari dan dirasakan tepat disaat pekerjaan itu akan atau sedang dikerjakan, minimal persiapan-persiapan mental akan terkondisi.

Orang mendirikan sholat misalnya, apabila dia tahu bahwa sholatnya akan dilihat dan dikoreksi oleh Rasulullah SAW, dan Baginda Nabi adalah orang yang dicintai yang syafa’atnya diharapkan dan ditunggu-tunggu, maka sudah barang tentu sholatnya menjadi khusyu’. Karena ruang bilik akal dan fikir sudah tidak ada celah kosong lagi sehingga setan bisa memasukkan tipu daya. Semua bilik itu dipenuhi oleh rasa rindu untuk berjumpa dengan seorang guru pembimbing ruhaniahnya.

Boleh jadi tidak banyak orang tahu bahwa sholat itu akan dikoreksi oleh Baginda Nabi, akan tetapi semua orang beriman pasti memaklumi bahwa apa saja yang dikerjakan seorang hamba, pasti dilihat dan diketahui Allah Ta’ala—karena Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui. Oleh karena itu, orang-orang yang sholatnya dalam keadaan lalai, tanpa mampu menghadirkan kekhusu’an dalam hati, tanpa mampu bergetar hatinya di hadapan kebesaran Dzat Yang Maha Pencipta—padahal dia sadar bahwa dosanya bertumpuk-tumpuk, kalau tidak karena dia sholat dalam keadaan mabuk, malah boleh jadi pertanda imannya belum sempurna.

Seperti itu gambaran sholatnya orang munafik, sholat itu dikerjakan penuh riya’ dan kelalaian. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikiti”. (QS. an-Nisa’; 4/142)

Allah Ta’ala juga telah memberikan peringatan dengan firman-Nya yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”. (QS. an-Nisa’; 43)

Oleh karena bilik akal kosong dari pencitraan yang positif, maka pencitraan yang negatif segera masuk. Hal tersebut merupakan kolaborasi hawa nafsu dan setan atas hati dan ruh sehingga sholat yang dikerjakan menjadi hilang arah tujuan dan tertutup dari Nur yang cemerlang.

Jadi, dengan pelaksanaan tawassul secara ruhaniah, dalam arti menghadirkan “karakter” guru Mursyid dalam pelaksanaan “rabithah” secara berkesinambungan sampai kepada Baginda Nabi Muhammad SAW untuk bareng melakukan pengembaraan ruhaniyah ke hadirat Ilahi Rabbi, jika hal tersebut menjadikan sholat seorang hamba menjadi khusyu’, wushul kepada Tuhannya, bahkan mampu membuahkan kedamaian (qurrotu a’yunin) di dalam hati, mampu menghilangkan kesusahan dan kesedihan, berarti tawassul tersebut sesunguhnya merupakan obat untuk mengobati penyakit basyariyah /manusiawi yang tercela.

Ibarat obat penawar, maka sholat itu adalah amal kebaikan yang dapat menghilangkan kejelekan. Allah telah menegaskan pula dengan firman-Nya: “Dan dirikanlah sholat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Huud; 114)

Allah Ta’ala berfirman :

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu, dan akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang Ghaib dan yang syahadah, kemudian akan disampaikan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan “. (QS. at-Taubah; 9/105)

Pelaksanaan TAWASUL ini sesungguhnya menindaklanjuti peluang yang dibentangkan Allah Ta’ala melalui ayat di atas. Yakni pengkondisian mental spiritual dalam pelaksanaan ibadah secara berkesinambunan. Sedangkan firman Allah swt. tersebut yang artinya—“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu”. (QS. 9; 105.) dijadikan sebagai landasan untuk mengangkat hasrat dan tujuan di alam akal, hal itu dilakukan supaya pikiran tidak melayang mencari sasaran, maka seorang murid (salik) menghadirkan guru Mursyid—yang saat itu sedang melihat pekerjaan—secara berkesinambungan sampai dengan Rasulullah (rabithah) secara ruhaniah.

Kehadiran guru ruhaniah itu untuk diajak bareng melaksanakan ibadah—sebagai saksi-saksi dan sebagai teman yang baik serta pembimbing di dalam perjalanan. Lahirnya melaksanakan ibadah secara lahir dan batinnya melaksanakan ibadah secara batin. Demikian itulah ibadah yang sempurna, ibadah lahir-batin yang selalu menjadi tujuan bagi kesempurnaan ibadah. Oleh karena batinnya tetap berjamaah, meski secara lahir dilaksanakan dengan sendirian (munfarid), maka secara batin (ruhaniah) tetap terlaksana dalam keadaan berjamaah, dengan demikian itu, maka menjadikan ibadah menjadi kuat karena mendapatkan kekuatan penolong dari Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.(Muhammad/7)

Melaksanakan pengembaraan ruhaniah ke Hadirat Ilahi Robbi, menembus lapisan hijab-hijab yang menyelimuti langit di dalam dada sendiri, menyelami samudera Arsy-Nya yang terbentang luas di dalam imajinasi, menggapai petunjuk dan hidayah yang disebarkan melalui wahyu-Nya di dalam hati sanubari ….. Lalu Allah menerima dzikir hamba-Nya, ….. dan menjawab dzikir itu dengan dzikir-Nya, sebagai “dzikir balik” yang telah dijanjikan dan inspirasi serta ilham yang didatangkan, maka ibadah dan munajat terasa nikmat dan nyaman, lalu sang salik merasakan manisnya perjalanan, karena hati seorang hamba yang sedang kasmaran telah wushul/LINK kepada Tuhan Semesta Alam.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat)–Ku”. (QS. al-Baqoroh; 152)

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. (QS. asy-Syams 8 )

Seperti bermi’raj, …. supaya pengembaraan ruh tidak sendiri serta terjaga dari tipu daya setan jin yang selalu mengintai, maka perjalanan ruhaniah itu harus ditemani guru-guru Mursyid secara ruhaniah. Sebagaimana Rasulullah SAW bermi’raj ditemani malaikat Jibril AS. Inilah hakekat ibadah, supaya menjadi pengabdian yang utama, ibadah lahir dan batin secara sempurna, ibadah yang berhasil wushul kepada Junjungan yang dirindukan. Untuk mewujudkan interaksi antara dua dzikir yang berbeda, yang satu DO’A yang satunya IJABAH, yang satu dipanjatkan dan satunya didatangkan, maka ibadah memang harus dilakukan secara lahir batin pula.

Lahirnya berlandaskan kepada hukum syari’at dan batinnya mengikuti konsep hukum hakekat. Kalau tidak demikian, … manakala ibadah tidak menghasilkan “kemanisan bermunajat” karena ibadah itu tidak berhasil menjadikan seorang hamba wushul kepada Sang Junjungan, manakala ilmu dan iman tidak berkembang karena ibadah tidak menghasilkan keyakinan yang dapat mengusir keraguan, tidak mampu menancapkan “nur ma’rifat” yang menjadikan matahati menjadi cemerlang dan tembus pandang, maka itu menjadi tanda bahwa iman yang ada di dalam dada perlu mendapatkan perhatian. Barangkali iman itu sedang sakit keras karena digerogoti setan jalanan, bahkan boleh jadi sedang sekarat karena dicekik hawa nafsu yang bergentayangan.

Seperti orang lapar tapi tidak dapat merasakan nikmatnya makan padahal di depannya telah tersedia menu makanan yang berkecukupan, berarti itu pertanda di dalam badan sedang ada penyakit bawaan. Demikian pula orang yang sedang beribadah, bersimpuh di hamparan permadani Rabbani dan berhadapan langsung secara hakiki karena Allah sudah memanggil sejak zaman azali, kalau yang menghadap tidak dapat merasakan nikmatnya berkomunikasi, padahal Tuhannya sudah sangat dekat dan bahkan lebih dekat daripada urat lehernya sendiri, maka itu semata-mata karena penyakit-penyakit basyariyah sedang menggerogoti hati.

Itulah hijab-hijab manusia, bagaikan dinding karat yang semakin hari akan menjadi semakin kuat. Kalau tidak segera disikat, maka selamanya manusia akan menjadi jauh dari “rahmat ilahiyat”. Rahmat azaliah yang didatangkan dari perbendaharaan langit yang menjadikan jasmani dan ruhani sehat dan kuat: “sholatlah kamu seperti kamu melihat ‘aku’ sholat”.

al-Fakir, Muhammad Luthfi Ghazali. (bersambung)

IMAN DAN CINTA RASUL (part-3) (Bertaubat Bersama Rasul)

Posted in cinta Rasul, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 12 Juni 2009 by malfiali

BERTAUBAT BERSAMA RASULULLAH SAW

Barangsiapa berharap mendapati Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pemurah dalam Menerima Taubat (Tawwaabar Rohiima), maka hendaklah saat orang tersebut membaca istighfar dalam bertaubat, istighfarnya disatukan dengan istighfar Rasulullah SAW , baik lahir maupun batin, jasmaniah maupun ruhaniah, ma’nawiyah maupun hissiyah. Allah menggambarkan hal tersebut dengan firman-Nya :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan untuk dita’ati dengan izin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya sendiri, datang kepadamu (Muhammad) lalu beristighfar kepada Allah dan Rasul beristighfar untuk mereka maka tentulah mereka mendapati Allah Maha menerima taubat dan Maha penyayang”. (QS. an-Nisa’ 4/64)

Merupakan tata cara bertaubat yang dicontohkan Rasulullah SAW, ketika ada seorang sahabat bertaubat di hadapan beliau, pertaubatan itu disaksikan oleh Baginda Nabi SAW. Kemudian tata cara bartaubat yang demikian itu disaksikan dengan ayat di atas. Adalah sunnatullah, dengan itu supaya taubat seorang hamba mendapat kemudahan diterima di sisi Allah Ta’ala.

Manakala tata cara bertaubat tersebut dipraktekkan di dalam pelaksanaan tawassul secara ruhaniah: maka menghadirkan Rasulullah SAW dalam rasha ketika membaca istighfar, seakan-akan seorang hamba membaca istighfar di hadapan Rasulullah SAW , sejatinya merupakan tata cara yang dianjurkan oleh syari’at sebagai bagian dari pelaksanaan amal atau ilmu thoriqoh, dengan itu supaya taubat seorang hamba mendapatkan persaksian dari Rasulullah SAW sehingga diterima di hadapan Allah Ta’ala.

Manakala taubat dilaksanakan tanpa saksi—baik secara lahir di hadapan guru Mursyid maupun secara batin di hadapan Rasulullah SAW, maka sulit rasanya taubat tersebut diterima di sisi Allah Ta’ala, namun pada kenyataannya jarang hal tersebut dilakukan, karena takut dituduh berbuat kultus individu. Akibatnya, kebanyakan taubat itu tidak meninggalkan bekas apa-apa di dalam hati. Hanya sekedar membaca bacaan istighfar namun kosong dari rasa penyesalan terhadap dosa-dosa yang dilakukan. Malah seringkali yang terjadi, sekarang orang bertaubat, sekarang juga hatinya tetap menjadi liar seperti semula.

Yang demikian itu karena taubat dilaksanakan dengan hanya di bibir saja, tidak mampu menembus dalam relung hati, maka taubat itu akan menjadi seperti debu bertebaran. Sedikitpun tidak membekaskan apa-apa, kecuali hanya kerasnya hati seperti semula sehingga menjadikan sebab manusia terjebak dalam perbuatan dosa dan maksiat berulang-ulang.

Kalau demikian halnya, bukannya taubat itu mampu merubah kebiasaan buruk, bahkan malah menjebak manusia berbuat kemungkaran. Allah Ta’ala menyindir hal yang demikian itu dengan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آَمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus”. (QS. an-Nisa’; 4/137)

Oleh karena amal ibadah hanya dilaksanakan secara lahir saja, maka yang berubah hanyalah yang lahir, sedangkan yang batin tetap seperti semula. Solusinya: ketika rasionalitas mampu dihadapkan kepada guru-guru ruhaniah untuk mendasari anggota badan yang sedang melaksanakan amal ibadah secara lahir, lalu yang batin (ruh) dihadapkan kepada Allah Ta’ala untuk mengadakan pengembaraan secara ruhaniah, maka ibadah yang dilakukan menjadi sempurna. Ibadah lahir dan batin. Ibadah syari’at dan hakikat. Akal di dunia dengan menerapkan konsep dunia dan ruh mengembara di langit dengan menerapkan konsep langit, maka akal akan mendapat minuman (pencerahan) sesuai dengan kebutuhan akal dan ruh juga mendapat minuman sesuai dengan kebutuhan ruh pula.

Asbabun Nuzul QS. an-Nisa’ Ayat 64
Ayat ini diturunkan berkaitan pengalaman seorang sahabat, ketika dia merasa berbuat zalim kepada diri sendiri karena berpaling dari Rasulullah SAW, lalu datang menghadap Rasulullah SAW dengan melahirkan penyesalan dan bertaubat dengan membaca istighfar memohon ampunan kepada Allah di hadapan Rasul, kemudian Rasul membacakan istighfar untuknya, maka Allah menerima taubatnya dengan persaksian ayat ini, (QS. an-Nisa’ ayat 64).

Berkaitan Asbabun Nuzul ayat di atas, maka Allah Ta’ala telah menetapkan sunnah-Nya; Yakni syarat diterimanya taubat seorang hamba, manakala taubat tersebut terlebih dahulu disampaikan di hadapan Rasulullah SAW, lalu diterima oleh Baginda Nabi SAW, kemudia baru Allah swt. menerima taubat hamba-Nya. Demikianlah maksud ayat di atas. Apakah praktek bertaubat yang diajarkan oleh Allah ini berarti orang telah melaksanakan kultus individu ….???

Kalau ayat di atas hanya dipahami secara lahir saja. Artinya, taubat tersebut harus dipersaksikan kepada Baginda Rasul SAW secara lahir, berhadap-hadapan langsung seperti saat beliau masih hidup, maka dengan wafatnya Rasulullah SAW berarti ayat ini sudah tidak ada artinya lagi. Yang demikian itu mustahil adanya, karena sepanjang al-Qur’an masih terbaca dan dapat dipelajari, atau sepanjang kehidupan manusia di muka bumi ini masih ada, sepanjang itu pula kandungan hukum-hukum al-Qur’an al-Karim, baik yang lahir maupun yang batin masih berlaku, kecuali hukum yang sudah dinasakh atau dihapus secara hukum.

Oleh karena al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk mengatur kehidupan “orang arab” pada zaman Rasul SAW saja, melainkan untuk umat manusia sepanjang zaman, maka sepanjang zaman itu pula kita dituntut untuk berijtihad dan beristinbath. Bersungguh-sungguh memahami dan menggali maknanya dengan cara yang sudah diatur oleh syari’at, maka penafsiran ayat ini—setelah dipahami secara lahir, boleh dipahami secara batin namun tentunya tidak menafikan makna yang lahir.

Jadi, selama pelaksanaan ilmu dan amal belum mampu membuahkan cinta hakiki kepada sesama manusia, belum mampu membangun “ukhuwah basyariah” secara universal, terlebih secara khusus menjalin LINK cinta kasih kepada orang-orang yang telah berjasa, seperti kepada para Ulama pewaris Nabi, terlebih lagi kepada kepada Junjungan Manusia sepanjang zaman, yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW, sang penyulut obor kehidupan, sehingga dapat mewariskan rasa tawadhu’ dan rendah hati terhadap siapapun serta merasa fakir kepada Ilahi Rabbi, maka barangkali di dalam pelaksanaan ilmu dan amal tersebut masih ada yang perlu dibenahi. Namun demikian, hanya Allah Ta’ala yang berhak memberikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

*********

Kalau ada orang yang bertanya, “Bukankah Allah Maha menerima taubat hamba-Nya dan Maha Mengetahui yang terang maupun yang samar, bahkan Allah Maha Mengetahui yang dirahasiakan, mengapa seorang hamba harus bertaubat kepada Allah bersama Rasul SAW” …??

Jawabannya:

1). Orang yang ta’at kepada Allah berarti taat kepada rasul-Nya, karena orang yang taat kepada Rasulullah SAW berarti pula taat kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menegaskan hal tersebut dengan Firman-Nya: “Barangsiapa mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah” (QS. an-Nisa’ ayat 80). Berarti pula: orang cintai kepada Allah berarti pasti cintai kapada Rasul-Nya. Oleh karenanya, tanda kesempurnaan iman adalah kesempurnaan cinta kepada Rasul SAW.

Manakala orang taat kepada Allah berarti taat kepada Rasul-Nya, maka orang yang membangkang kepada Allah berarti membangkang kepada Rasulullah. Berarti pula, orang yang membenci Rasulullah Muhammad SAW sesungguhnya membenci Allah SWT, karena Rasulullah Muhammad SAW adalah utusan Allah Subhanallahu Ta’ala.

Apakah orang membantah bahwa al-Qur’an adalah wahyu Tuhan Semesta Alam yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW….??? Oleh karena itu, orang yang merasakan nikmatnya islam dan iman sesungguhnya juga berkat jerih payah Rasulullah SAW dalam menyampaikan wahyu tersebut kepada umatnya. Jadi, sudah semestinya, sebelum Allah merasa ridla kepada mereka, tentunya Rasulullah SAW terlebih dahulu yang merasa ridla kepada mereka. Demikian juga sebaliknya, terhadap orang yang membangkang kepada Allah, sebelum Allah merasakan sakit atas pembangkangan tersebut, Rasulullah SAW terlebih dahulu merasa sakit kepada mereka. Oleh karena itu, ketika seorang hamba telah menyesali perbuatan maksiatnya dan bertaubat kepada Allah, maka dia terlebih dahulu harus bertaubat di hadapan Rasulullah SAW.

Lalu, ketika Rasulullah SAW memaafkan kesalahan orang tersebut dan berkenan memohonkan ampunan kepada Allah, maka baru Allah akan menerima taubat hamba-Nya itu. Bukankah ini merupakan hal yang wajar-wajar saja…???, namun mengandung nilai pelaksanaan akhlakul karimah yang sangat tinggi. Adakah pelajaran yang lebih cantik dari yang diajarkan oleh Allah Robbul ‘Alamin? …. Yang intinya supaya orang mau menghargai jasa orang lain?. Bukankah hal tersebut juga sesuai dengan ajaran Baginda Nabi?, ketika Beliau bersabda: “Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah”.

Sekarang ada pertanyaan tambahan: “Ketika Rasulullah SAW wafat haruskah pelaksanaan akhlakul karimah ini berhenti?, yang berarti ayat-ayat al-Qur’an al-Karim hanya tinggal tulisan saja. Wahyu Allah itu menjadi tidak ada Nurnya lagi yang seharusnya selalu mampu menerangi kehidupan umat manusia sepanjang masa, baik secara jasmani maupun ruhani, baik aspek ilmu dan amal maupun pelaksanan akhlak yang mulia? Maka jawabnya: “Ketika Rasulullah SAW wafat, sesungguhnya yang wafat hanya jasadnya saja karena tugasnya di dunia telah selesai. Sedangkan Ruhaninya masih hidup dan tetap mengetahui amal perbuatan umatnya, bahkan amal-amal itu akan disampaikan kepadanya”. Rasulullah SAW telah menyatakan:

حَيَاتِى خَيْرٌ لَكُمْ تُحَدِّثُوْنَ وَ نُحَدِّثُ لَكُمْ وَوَفَاتِى خَيْرٌ لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَىَّ أَعْمَالُكُمْ. فَمَا رَاَيْتُ مِنْ خَيْرٍ حَمِدْتُ الهَ . وَمَا رَاَيْتُ مِنْ شَرٍّإِسْتَغْفَرْتُ اللهَ لَكُمْ.

“Masa hidupku adalah kebaikan bagimu, kalian berbicara dan kami berbicara untuk kalian, masa matiku adalah kebaikan bagimu, amal-amal kalian disampaikan kepadaku, maka ketika aku dapati amal yang baik aku memuji kepada Allah, dan ketika kudapati amal yang jelek, maka aku memohonkan ampun untuk kalian kepada Allah”.

Setelah Rasulullah SAW wafat, ternyata masih ada hubungan dengan umatnya yang masih hidup. Lebih-lebih urusan amal ibadah, karena Rasul sebagai saksi bagi umatnya. Maka sebelum amal ibadah itu dibukukan, sudah barang tentu terlebih dahulu Beliau harus mengetahui dan mengoreksinya. Supaya pada saat amal itu harus dipersaksikan di hadapan Allah, Beliau dapat bersaksi dengan seadil-adilnya.

Momen itu adalah saat yang sangat berharga yang tidak boleh dilewatkan begitu saja oleh seorang umat. Menjadikan satu-satunya sarana dan kesempatan yang masih diberikan Allah untuk berinteraksi kepada Nabinya. Dengan melaksanakan tawassul secara ruhaniah saat bertaubat, mengadirkan perasaan bahwa amal ibadah yang sedang dikerjakan itu akan dikoreksi dan disaksikan oleh Junjungannya, menjadikan hati seorang hamba merasa senang, lebih-lebih apabila ia seorang yang mencintai Nabinya. Hatinya akan menjadi thuma’ninah dan perjalanan ibadah menjadi terasa nikmat.

Yang demikian itu adalah ruh ibadah. Supaya ibadah lahir menjadi hidup dan terasa komunikatif serta wushul kepada Tuhannya. Ketika hijab-hijab manusiawi yang menyelimuti hati telah dirontokkan oleh panasnya bara penyesalan di dunia, ketika pintu-pintu ghaib telah dibuka karena yang selama ini mengotori dinding hati telah sirna, maka “sorot matahati” seorang hamba mampu menembus lapisan dimensi yang ada di hadapannya. Melihat, bahwa dengan amal perbuatan yang dilakukan itu, Rasulullah SAW akan bergembira dan bangga kepadanya. Karena, meski telah dibatasi ruang waktu yang lama, seorang umat tetap mengikuti dan mencintai Junjungannya.

Ketika dzikir telah dibalas dengan dzikir—walau berbeda karena berangkat dari dimensi yang berbeda. Yang satu dari dimensi yang fana dan yang satu dari dimensi yang qadim karena sudah berada di alam baka. Ketika kedua dzikir telah larut menjadi satu di dalam pusaran perasaan, maka yang fana akan menjadi qodim. Adalah semata-mata kehendak azali yang mampu melarutkan perasaan seorang hamba di dalam kenikmatan yang azali pula. Kenikmatan ibadah yang mampu memberikan pencerahan hati manusia sepanjang masa, sehingga menimbulkan rasa rindu yang abadi pula. Rindu untuk melaksanakan ibadah, untuk bertemu dan bersama-sama lagi dalam satu pengembaraan dengan junjungan yang tercinta. Bersama-sama menghadap kepada Allah Ta’ala yang Maha Mulia dalam nuansa dan rasa.

Oleh karena itu, sampai sekarang interaksi ruhaniah itu tetap hidup di mana-mana di seluruh belahan bumi ini. Dilaksanakan oleh para Dzurriyah Rasul yang mulia dan para pengikutnya serta ‘Ulama pilihan dari umatnya. Interaksi rasha untuk saling melarutkan kerinduan antara seorang umat dengan Nabinya, untuk menyampaikan hasrat cinta seorang kekasih yang berharap diakui dan diterima cintanya. Seorang kekasih yang ingin dijumpai oleh kekasihnya meski sekedar lewat mimpi dalam tidurnya.

Melalui bacaan shalawat dan salam di saat sedang memperingati hari lahirnya. Di saat membaca maulidnya, bersama-sama datang kepada Rasulullah SAW secara ruhaniah. Menyampaikan penyesalan atas dosa dan kesalahan. Mereka berharap agar Rasul menyampaikannya kepada Allah Ta’ala, akan taubatnya, akan pemenuhan kebutuhan hidupnya, akan terkabulnya hajat-hajat, baik hajat duniawi maupun ukhrowi.

Seorang penyair berpuisi dan menjadi “Pujian” sebelum sholat yang dibaca kaum muslimin di banyak musholla dan masjid: “Wahai junjunganku, wahai Rasulullah, Wahai yang di sisi-Nya telah mempunyai kemuliaan…., Kepadamu, para pendosa telah datang.
Untuk bertaubat atas dosa-dosa dan segala kesalahan, maka semoga Allah berkenan mengampunkan. Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepadamu. Juga keluarga dan sahabat. Dengan berkah mereka ya Allah…. Jadikanlah akhir hidup kami adalah akhir kehidupan di dalam kebaikan”.

Ketika dua rindu sudah menyatu
Maka cinta akan bertemu
Satu kata di lisan dan Satu kata di hati
Di dalam berucap salam
Ketika sedang sholat
Di dalam beristighfar
Ketika sedang bertaubat

Ketika yang kasar
Menyatu dengan yang halus
Maka akan menjadi lembut
Oleh karena Allah Yang halus
Maka akan menerima
Hanya kepada yang halus

2). Barang siapa tidak ridla kepada Rasul berarti tidak ridla pula kepada Allah Swt. yang berarti pula telah menampakkan perlawanan dan pertentangan kepada Allah melalui Rasul-Nya. Oleh karena itu, ketika meeka hendak bertaubat kepada Allah, mereka harus mencabut dahulu perlawanan dan pertentangan itu kepada Rasul baik secara lahir maupun batin, baru kemudian taubat itu dilaksanakan.

3). Ketika taubat seorang hamba dihadapkan kepada yang dikasihi dan Sang Kekasih melihat bahwa taubat telah diterima oleh yang dikasihi, maka Sang Kekasih menjadi ridho dan menerima taubat hamba-Nya .

(sebagian dicuplik dari Tafsir Fahrurrozi – bersambung)