ALASAN 3, Mengapa Orang diRuqyah Kesurupan Jin
Sihir Jin yang Ditiupkan
Firman Allah Ta’ala Qur’an Surat al-Hijr/ayat 15/42. Qur’an Surat Shod/ayat 82/85. Qur’an Surat an-Nahl/ ayat 16/100
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat”. QS:15/42.
Jika seandainya yang dikatakan Ruqyah itu merupakan bentuk ibadah yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang beriman dan bukan perbuatan orang yang telah mengikuti langkah-langkah setan Jin sehingga mereka menjadi sesat sebagaimana yang dinyatakan Allah Ta’ala dengan firman-Nya di atas, dan bukan pula perbuatan syirik sebagaimana yang dinyatakan sendiri para pelakunya sebelum ruqyah tersebut dimulai dengan atraksi mengumpulkan jimat-jimat kemudian dibakar, maka dengan pernyataan firman Allah Ta’ala di atas, seharusnya batas wilayah kesadaran manusia yang sedang diruqyah itu tidak dapat ditembus oleh kekuatan setan jin untuk menguasainya walau sesaat. Jika ternyata tidak demikian, berarti boleh jadi bacaan ayat-ayat suci yang dibacakan dalam pekerjaan “Ruqyah” itu sudah disusupi kekuatan sihir setan Jin, sebagaimana yang telah dinyatakan Allah Ta’ala di dalam firman-Nya (surat al-Hajj ayat 52) “Melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu”. Maka, para pelaku ruqyah tersebut seperti “tukang sihir” yang sedang membacakan mantra, ketika ayat-ayat suci itu dibaca, para pendengarnya sedemikian mudah bergelimpangan tidak sadarkan diri kesrupan jin.
Bukankah keadaan para pemain kuda lumping juga seperti itu..?. setelah dibacakan mantra-mantra oleh pimpinan rombongannya kemudian para pemain itu kesurupan jin dan tidak sadarkan diri. Namun ada bedanya, kuda lumping merupakan tontonan yang mengasyikkan sedang pelaksanaan “Ruqyah” tersebut adalah tontonan yang mengerikan dan menjijikkan.
Dan di dalam firman-Nya yang lain Allah Ta’ala telah menegaskan pula. Allah SWT. berfirman:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ(82)إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِين َ
Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, – kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. QS:82/85.
Iblis bersumpah di hadapan Allah Ta’ala akan menyesatkan anak Adam secara keseluruhan kecuali hamba-hamba Allah yang beribadah dengan ikhlas, kepada mereka sedikitpun kekuatan setan Jin tidak dapat menembus benteng pertahanan yang melindunginya. Demikian yang dinyatakan Iblis sendiri di hadapan Allah Ta’ala yang telah diabadikan-Nya dengan firman-Nya di atas. Artinya, yang menunjukkan kehebatan dari suatu bentuk pelaksanaan amal ibadah, manakala ibadah tersebut mendapat perlindungan Allah Ta’ala dari kekuatan setan Jin, tidak malah sebaliknya. Lebih tegas lagi Allah Ta’ala menyatakan dengan firman-Nya:
إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ
Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin (beryatawalla) dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah QS:16/100.
Penegasan Allah Ta’ala itu artinya : bahwa hanya kepada sekelompok orang yang telah mengambil setan Jin sebagai wasilah atau jalan untuk mendekat (beryatawalla) dan orang-orang yang telah berbuat syirik saja, maka setan Jin dapat memperdaya mereka sehingga kesadaran mereka dapat dikuasai walau hanya sebentar.
Firman Allah Ta’ala يَتَوَلَّوْنَهُ . “Yatawalla” artinya mengambil orang lain sebagai walinya atau berwasilah kepadanya. Apabila hal tersebut dipraktekkan dalam pelaksanaan amal ibadah maka yang dimaksud adalah tawassul. Untuk tujuan inilah orang-orang thoriqoh tawassul kepada Rasulullah saw. melalui bertawassul kepada guru-guru mursyidnya. Hal itu dilakukan supaya dapat terjadi hubungan ruhaniyah secara berkesinambungan antara orang yang bertawassul dengan orang yang ditawassuli sampai dengan kepada Rasulullah saw.
Barangkali seperti keadaan inilah apa yang terjadi dalam pelaksanaan “Ruqyah”, ketika orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim itu sambil pikirannya menerawang memikirkan Jin – apakah di dalam tubuhnya ada jin atau tidak – sambil memaksakan diri untuk berbuat khusu’, tanpa disadari ternyata justru melaksanakan apa yang dimaksud oleh ayat tersebut di atas dengan “beryatawalla” kepada setan Jin. Jika memang benar, maka pantas saja, hingga sedemikian mudahnya Jin dapat menusuk dan menguasai wilayah kesadaran mereka, karena sesungguhnya secara hakikat setan Jin telah dipersilahkan sendiri datang untuk menguasai kesadaran mereka sendiri.
Sesungguhnya perbuatan yang demikian itulah hakikatnya adalah syirik di dalam amal “asy Syirku Fil Amali”. Dan itu identik dengan perbuatan Jin yang memang selalu bersyirik ria dengan manusia sebagaimana yang telah ditegaskan Allah Ta’ala dengan firman-Nya:
وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَولَادِ
“Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak”. QS:17/64.
Yang pasti, hendaklah manusia sangat waspada dan berhati-hati ketika perbuatan yang mereka perbuat – apapun bentuknya, lebih-lebih yang bernuansakan ibadah – telah nyata-nyata bersingguan dengan dimensi jin, seperti amalan yang mereka katakan ruqyah tersebut, apabila Allah Ta’ala tidak melindungi hamba-Nya maka tidak seorangpun dapat selamat darinya, dengan hanya satu alasan saja; “Karena jin dapat melihat manusia sedang manusia tidak dapat melihat mereka”. (Muhammad Luthfi Ghozali, April 2009)