Arsip untuk April, 2009

ALASAN 6, Mengapa Orang diRuqyah Kesurupan Jin

Posted in ilmu thoriqoh, ruqyah dengan kaitan (tags) on 20 April 2009 by malfiali

Menjual Ayat Dengan Harga Murah

Firman Allah SWT. al-Qur’an al-Karim Surat al-Isra’/ayat, 17/82-84.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا(82) وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. – Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.”. QS:17/82-83.

Ayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa di dalam al-Qur’an terdapat penawar (Obat) dan rahmat bagi orang yang beriman, namun bagi orang-orang yang zalim, al-Qur’an itu bahkan hanya menambah kerugian belaka.  Siapa yang dimaksud orang yang zalim…? Yaitu orang-orang yang: “Apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya mereka berpaling dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa”. QS:17/83.

Menjadi jelas bahwa al-Qur’an tidak hanya untuk mengobati jasmani manusia saja akan tetapi juga dan bahkan yang paling utama adalah ruhani dan kesadarannya. Bahkan terhadap orang yang zalim, yakni orang-orang yang pola pikirnya tidak sehat, karena di dalam hati dan pikiran mereka terdapat penyakit-penyakit hasud atau iri hati kepada orang yang mendapatkan kenikmatan dari Allah Ta’ala serta mudah putus asa, kepada mereka al-Qur’an itu bahkan hanya akan menambah kerugian belaka.

Apabila ayat di atas kita kaitkan dengan hadits Rasulullah saw. di bawah ini :

حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا فِي سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِيَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَتَبَسَّمَ وَقَالَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ مَعَكُمْ *

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a berkata: Sesungguhnya beberapa orang dari kalangan Sahabat Rasulullah saw sedang berada dalam perjalanan. Mereka pergi ke salah sebuah kampung Arab dan mereka berharap agar boleh menjadi tamu kepada penduduk kampung tersebut. Namun ternyata penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka. Tetapi ada yang bertanya: Apakah ada di antara kamu yang bisa menjampi? Karana ketua atau penghulu kampung kami terkena sengat. Salah seorang dari para Sahabat menjawab: Ya, ada. Lalu beliau menemui ketua kampung tersebut dan menjampinya dengan surah al-Fatihah. Kemudian ketua kampung tersebut sembuh, maka Sahabat tersebut diberi beberapa ekor kambing. Beliau tidak mahu menerimanya dan mengajukan syarat: Aku akan menyampaikannya kepada Nabi s.a.w, beliau pun pulang menemui Nabi s.a.w dan menyatakan pengalaman tersebut. Beliau berkata: Ya Rasulullah! Demi Allah, aku hanya menjampi dengan surah al-Fatihah. Mendengar kata-kata itu, Rasulullah saw tersenyum dan bersabda: Tahukah engkau, bahawa al-Fatihah itu memang merupakan jampi (Ruqyah). Kemudian baginda bersabda lagi: Ambillah pemberian mereka dan pastikan aku mendapatkan bagian bersama kamu.

•    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Pengobatan hadits nomor 5295.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Salam hadits nomor 4080.
•    Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Sholat hadist nomor 1989.

Maka jadinya kita dapat menyimpulkan bahwa di dalam ayat-ayat al-Qur’an al-Karim terdapat dua kandungan:

1. Ilmu pengetahuan dan pemahaman hati, namun hanya orang-orang beriman saja yang mendapat kemanfaatan darinya, yaitu berupa penawar (obat) dan rahmat, dan juga sebagai petunjuk (hidayah) sebagaimana yang telah ditegaskan Allah Ta’ala dengan firman-Nya yang lain:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ(2)الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, – (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, QS:2/2-3.

Namun bagi orang yang berbuat zalim, ayat-ayat al-Qur’an al-Karim tidak akan membawa kemanfaatan apa-apa kecuali hanya menambah kerugian belaka.

2. Al-Qur’an sebagai jampi atau ruqyah, yaitu katika al-Qur’an (surat al-Fatihah) dibacakan kepada orang yang jasmaninya sedang sakit, dengan izin Allah Ta’ala orang tersebut menjadi sembuh.

Kesimpulan: Dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an, seharusnya orang tidak hanya melihat aspek yang lahir saja tetapi juga aspek yang batin. Karena al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk menyembuhkan jasmani saja akan tetapi yang lebih utama adalah ruhani manusia, yaitu untuk keselamatan anak manusia baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, kita bisa melihat di dalam fenomena, banyak orang yang tidak beriman kepada Allah Ta’ala tetapi keahliannya tentang al-Qur’an dan ilmu Islam melebihi orang beriman. Mereka itulah para orientalis Yahudi yang memang sengaja mempelajari al-Qur’an dengan sungguh-sungguh namun bukan untuk kepentingan agama Islam melainkan justru untuk menghancurkan.

Jika al-Qur’an al-Karim dimanfaatn sebatas aspek lahir saja, hanya untuk menyembuhkan atau meruqyah penyakit manusia yang lahir bukan yang batin, terlebih dengan mempertaruhkan yang batin demi kepentingan yang lahir, mempertaruhkan kesadaran hanya untuk tujuan yang belum pasti yakni takut dan khawatir ada jin di dalam tubuh, sebagaimana pelaksanaan “Ruqyah”, maka jadilah sekarang ini kita melihat di sana-sini banyak bermuculan orang menawarkan rekaman wahyu Ilahi dengan pola dagang seperti tukang dagang obat di pinggir jalan. Mereka melaksanakan atraksi sulap terlebih dahulu baru menjual obatnya. Bahkan dengan membayar biaya iklan yang tinggi karena penawaran itu harus dimuat dihalaman-halamam depan dari majalah-majalah yang bersifat islami…?. Seperti menawarkan jasa-jasa perdukunan di majalah-majalah perdukunan yang ada selama ini. Gejala apakah gerangan yang sedang terjadi ……? Apakah yang demikian tersebut tidak termasuk justru melecehkan ayat-ayat suci itu hanya untuk keuntungan dan kepentingan pribadi….? Atau yang dimaksud dengan menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah yang terlarang oleh al-Qur’an itu sendiri…..? sebagaimana yang telah ditegaskan Allah Ta’ala dengan firman-Nya:

وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

“Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa”. QS:2/41.

Tulisan ini diterbitkan bukan untuk tujuan saling bermusuhan atau menjatuhkan lawan, namun sekedar buah keprihatinan orang tua kepada sesama ikhwan seiman. Ilmu saja belum cukup, jika ilmu itu akan kita amalkan, terlebih berkaitan dengan keselamatan orang lain, maka seyogyanya ilmu itu dikaji terlebih dahulu dan digurukan kepada orang yang berpengalaman. Terlebih lagi jika amalan tersebut berkaitan dengan makhluk jin, jika kita salah langkah, maka segera saja setan jin akan memperdaya kita, karena kita tahu bahwa setan memang dijadikan sebagai musuk utama orang beriman. Semoga kita selalu mendapatkan hidayah dan perlindungan Allah Ta’ala dari kesalahan fatal yang tidak kita sengaja dan kita sadari sehingga dapat menghancurkan diri sendiri serta umat secara keseluruhan. (Tamat).

Al-Fakir ilaa Afwi Maulaahu, Muhammad Luthfi Ghozali

ALASAN 5, Mengapa Orang diRuqyah Kesurupan Jin

Posted in ilmu thoriqoh, ruqyah dengan kaitan (tags) on 19 April 2009 by malfiali

Jin Mana Yang Dikeluarkan Dari Tubuh Manusia….?

Jika yang dikatakan ruqyah tersebut benar dapat mengeluarkan jin dari tubuh manusia, bukan sebaliknya. Pertanyaannya, Jin yang mana yang akan dikeluarkan dari tubuh manusia itu…?. Dalam kaitan ini kita akan membadah kandungan makna dari tiga hadits Rasulullah saw.

Untuk membicarakan urusan dimensi jin, oleh karena dimensi jin merupakan keadaan yang ghaib bagi indera lahir manusia, maka hanya wahyu yang berhak membicarakannya, baik ayat al-Qur’an maupun hadis Nabi Muhammad SAW. Orang beriman wajib mengimaninya. Adapun kedudukan hadits shoheh sejajar dengan ayat-ayat al-Qur’an. Allah Ta’ala telah menyatakan dengan firman-Nya: yang artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. – Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), QS: 53/3-4.

Berikut ini tiga hadits yang kita jadikan bahan kajian:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَجْرِى مِنِ ابْنِ آَدَمَ مَجْرَى الدَّمِ  فَضَيِّقُوْا مَجَاِريَهُ ِبالْجُوْعِ

“Sesungguhnya setan masuk (mengalir) ke dalam tubuh anak Adam mengikuti aliran darahnya, maka sempitkanlah jalan masuknya dengan puasa”.

Atau dengan kalimat yang lain:

حَدِيثُ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ لِأَنْقَلِبَ فَقَامَ مَعِيَ لِيَقْلِبَنِي وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ ابْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَرًّا أَوْ قَالَ شَيْئًا

Diriwayatkan dari Sofiah binti Huyai r.a berkata: Pada suatu malam ketika Nabi s.a.w sedang beriktikaf aku datang menghampiri baginda. Setelah puas berbincang-bincang dengan baginda, akupun berdiri untuk pulang. Rasulullah s.a.w ikut berdiri untuk mengantarku. Tempat tinggal Sofiah adalah di rumah Usamah bin Zaid. Tiba-tiba datang dua orang Ansar. Ketika mereka melihat Nabi saw mereka mempercepatkan langkahnya. Lalu Nabi saw bersabda: Perlahankanlah langkahmu. Sesungguhnya ini adalah Sofiah binti Huyai. Kedua orang angsor itu berkata Maha suci Allah, wahai Rasulullah. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda Sesungguhnya setan itu berjalan pada aliran darah manusia. Sebenarnya aku hawatir ada tuduhan buruk atau yang tidak baik dalam hati kamu berdua

•    Riwayat Bukhori di dalam Kitab I’tikaf hadits nomor 1894, 1897, 1898. – Etika hadits nomor 5751.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Salam hadits nomor 4041.
•    Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Etika hadits nomor 4342.
•    Riwayat Ibnu Majah di dalam Kitab Puasa hadits nomor 1769.

Ternyata setan jin dapat keluar masuk ke dalam tubuh manusia melalui jalan darah. Supaya jin tidak dapat keluar masuk ke tubuh manusia dengan seenaknya, maka hendaklah manusia menyempitkan jalan darah tersebut dengan lapar atau ibadah puasa. Artinya dengan pengendalian nafsu syahwat, baik melalui puasa maupun ibadah-ibadah yang lain manusia dapat mengupayakan supaya jalan masuk jin yang ada dalam tubuhnya menjadi sempit. Dalam arti lain, orang yang ingin menjaga darinya dari upaya setan jin yang ada dalam tubuhnya, orang tersebut tidak harus diruqyah tapi dengan menjalankan ibadah puasa.

Sedangkan hadits yang kedua adalah sebagai berikut:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وَكَّلَ قََرِيْنَهُ مِنَ الْجِنِّ . قَاُلْوا أَاَنْتَ يَارَسُوْلَ اللهِ قَالَ : وَإِيَّايَ إِلاَّ أَنَّ اللهَ قَدْ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلاَ يَأْمُرُنِي إِلاَّ بِالْخَيْرِ . رواه مسلم

“Tidaklah dari salah satu diantara kalian kecuali sesungguhnya Allah telah mewakilkan temannya dari jin, mereka bertanya: “Apakah engkau juga ya Rasulullah?”, Rasul saw. menjawab: “Dan juga kepadaku, hanya saja sesungguhnya Allah telah menolongku mengalahkannya, maka ia masuk islam, maka ia tidak memerintah kepadaku kecuali dengan kebaikan”. (HR Muslim)

Ternyata di dalam diri Rasulullah saw juga ada jin, hanya saja berkat pertolongan Allah Ta’ala jin itu masuk islam, maka jin itu bukan menjadi setan melainkan menjadi Qorin (teman) yang baik. Maka jin tersebut tidak memberikan informasi kepada Baginda Nabi saw. kecuali yang berkaitan dengan kebaikan Beliau.

Supaya manusia mandapatkan penjagaan dari Alloh terhadap potensi gangguan setan jin yang ada dalam tubuhnya sendiri, hendaklah mereka selalu melaksanakan mujahadah di jalan Allah, bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada-Nya, baik dengan puasa, dzikir maupun ibadah-ibadah yang lain. Jika hal tersebut bisa dilakukan, sebagai hasilnya, maka matahati orang tersebut menjadi cemerlang dan tembus pandang. Rasulullah SAW menyatakan hal tersebut dengan sabdanya:

لَوْلاَ أَنَّ الشَّيَاطِيْنَ يَحُوْمُوْنَ عَلَى قُلُوْبِ بَنِى آَدَمَ لَنَظَرُوْا اِلَى مَلَكُوْتِ السَّمَاوَاتِ

“Kalau sekiranya syaithan tidak meliputi hati anak Adam, pasti dia akan melihat alam kerajaan langit”.

Sekiranya setan jin tidak meliputi hati manusia, maka sorot matahati orang tersebut dapat menembus alam malakut. Matahati mereka dapat menembus alam ghaib, baik ghaibnya alam malakut yang ada di langit maupun alam ghaibnya alam malakut yang ada di balik dada manusia. Jika hal tersebut belum dapat dicapai, maka berarti di dalam hati orang tersebut masih berpotensi diliputi was-was setan yang berarti pula di dalam tubuhnya masih terdapat segerombolan setan jin yang setiap saat siap menerkam dan menguasai wilayah kesadarannya. Seandainya Allah Ta’ala tidak melindungi hamba-Nya, maka barangkali tidak ada seorang pun dapat selamat dari kejahatan setan jin yang terkutuk. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. QS:24/21.

Apa saja yang menyebabkan kekejian berarti perbuatan keji dan apa saja yang menyebabkan kemungkaran berarti perbuatan mungkar. Maka orang yang menimbulkan penyakit kepada orang lain berarti orang tersebut adalah sumber penyakit. Jika ada orang berbuat demikian, baik sengaja maupun tidak, berarti orang tersebut telah mengikuti langkah-langkah setan sebagaimana yang telah diisyaratkan Allah Ta’ala dengan firman-Nya di atas. Lebih tegas Allah memberi peringatan dengan firman-Nya:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu)”. QS:4/83.

Adanya perlindungan tersebut kepada manusia, hal itu bukan berarti karena manusia sakti mandraguna sehingga jin takut kepadanya, namun semata-mata karena keutamaan Allah Ta’ala dan rahmat-Nya yang diberikan kepada hamba-hamba yang dikasihi. Seandainya tidak demikian, maka: “tentulah kamu semua akan mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (diantaramu)”. QS:4/83.

Apabila pelaksanaan ruqyah tersebut benar dapat mengeluarkan jin dari tubuh manusia, jika itu kita kaitkan dengan dalil-dalil dan argumentasi di atas, maka jin yang mana yang akan dikeluarkan oleh para peruqyah itu kepada orang-orang yang mereka ruqyah …??? Jika memang benar ruqyah tersebut dapat mengeluarkan jin dari tubuh manusia, maka seharusnya orang yang kesurupan jin menjadi sadar, bukan sebaliknya. Padahal kenyataannya sebaliknya, orang yang asalnya sadar menjadi kesurupan jin, mereka berteriak-teriak seperti orang gila, bahkan ada yang terkencing-kencing dan muntah di tempat, apakah perbuatan tersebut bisa dikatakan mengeluarkan jin…??? Jika tidak, maka berarti pelaksanaan ruqyah tersebut sesungguhnya malah memasukkan jin ke dalam tubuh manusia. (Bersambung)

al-Fakir ilaa Afwi Maulaahu, Muhammad Luthfi Ghozali.

ALASAN 4, Mengapa Orang diRuqyah Kesurupan Jin

Posted in ilmu thoriqoh, ruqyah dengan kaitan (tags) on 18 April 2009 by malfiali

Ancaman Yang Mengelilingi

Firman Allah SWT. Qur’an Surat al-A’rof/ayat 7/16-17.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ(16)ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, – kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at). QS:7/16-17.

Oleh karena Iblis menolak perintah Allah Ta’ala sujud kepada Nabi Adam as, maka Iblis mendapat laknat Allah dengan vonis “Tersesat untuk selama-lamanya”. Iblis dengan seluruh kekuatan dan bala tentaranya kemudian menjawab hukuman tersebut dengan menyampaikan ancaman untuk Nabi Adam as. dan anak turunnya. Alloh mengabadikan ancaman tersebut dengan firman-Nya: “saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, – kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at). QS:7/16-17)”.

Sejak saat itu genderang perang dikumandangkan dan sejak itupula peperangan telah terjadi dimana-mana bahkan sampai hari kiyamat nanti. Yang menjadi korban pertama adalah Nabi Adam as. Beliau diturunkan dari kemuliaan yang abadi di surga ke dalam lembah kehinaan di dunia. Allah Ta’ala juga telah memberi peringatan kepada anak manusia dengan firman-Nya:

يَابَنِي ءَادَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”.QS:7/27.

Medan perangnya di dalam rongga dada manusia dan tujuannya supaya manusia tidak mampu bersyukur kepada Allah Ta’ala, sehingga menjadi manusia yang kufur nikmat yang akhirnya akan hidup bersama-sama dengan Iblis dan bala tentaranya di Neraka Jahannam untuk selama-lamanya. Wal’iyaadzu Billah.

Dalam mengantisipasi ancaman tersebut dan secara khusus dihubungkan dengan pelaksanaan Ruqyah, maka timbul dua pertanyaan:

1.    Mengapa justru orang yang rajin beribadah kepada Allah yang mendapat perhatian serius dari ancaman setan Jin, bukan orang-orang yang sedang berbuat maksiat …?.

2.    Bukankah yang dibaca dalam palaksanaan ruqyah itu adalah ayat-ayat yang telah dijaga oleh Allah Ta’ala dengan suatu pernyataan firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. QS:15/9.

Pertanyaan Pertama: Mengapa orang yang beribadah kepada Allah yang mendapatkan perhatian serius dari setan Jin sehingga mereka yang paling sering kesurupan jin, bukan orang-orang yang sedang berbuat maksiat …?.

Jawaban: Karena orang yang rajin beribadah adalah orang yang berada di jalan lurus atau jalan menuju surga, maka merekalah musuh-musuh utama setan Jin. Terhadap ahli ibadah tersebut setan tidak menghalangi supaya mereka meninggalkan ibadahnya, karena hal tersebut merupakan pekerjaan yang berat, akan tetapi supaya dengan kemauan sendiri orang ahli ibadah itu meninggalkan ibadah. Oleh karenanya, tujuan ibadah itu yang menjadi sasaran utama, supaya tujuan itu berbelok arah, tidak menuju ke surga lagi tetapi menuju ke jalan kehancuran manusia. Tanpa terasa – dengan ibadah itu – manusia digiring untuk memperturutkan hawa nafsu sehingga tanpa disadari sesungguhnya manusia secara hakiki telah berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala. Dalam arti tidak melaksanakan perwujudan rasa syukur atas kenikmatan, tetapi ibadah itu hanya dijadikan sarana untuk meminta dan menuntut. Itulah tugas utama setan jin sebagai tentara-tentara Iblis yang sangat setia, dalam hal tersebut mereka sangat terlatih. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan setan yang terkutuk.

Ketika ibadah dilaksanakan tanpa mendapatkan bimbingan yang benar dari guru ahlinya, maka kerapkali ibadah tersebut justru menjadi penyebab orang menjadi gila. Kalau bukan gila dalam arti kesurupan jin, yang lebih bahaya adalah gila dalam arti lupa diri atau gila hormat, gila pangkat dan gila dunia bahkan gila dipuji orang. Berangkat dari hal tersebut, supaya setan Jin dapat dengan mudah meracuni pola fikir serta merusak aqidah orang beriman, maka sasaran pertama yang dilakukan adalah merusak manusia melalui kesadarannya, melalui pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, ketika orang-orang ramai-ramai di ”Ruqyah” ternyata hasilnya malah kesadaran mereka menjadi hilang. Orang yang asalnya sadar menjadi tidak sadar dan hilang ingatan, dengan alasan tersebut penulis menyimpulkan bahwa perbuatan itu identik dengan perbuatan setan jin, barangkali itulah yang dimaksud dalam ayat di atas: “mengikuti langkah-langkah setan”.

Pertanyaan Kedua: Bukankah yang dibaca dalam palaksanaan “Ruqyah” itu adalah ayat-ayat yang telah dijaga oleh Allah Ta’ala dengan suatu pernyataan firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. QS:15/9.

Jawabannya: Al-Qur’an al-Karim memang terjaga bahkan sepanjang masa, baik secara batin melalui sistem penjagaan rahasia maupun secara lahir oleh hamba-hamba Allah yang sholeh yang di dalam dadanya menjadi tempat simpanan al-Qur’an. Mereka itu adalah para huffadz dan hafidzoh yang mulia, yang selalu dengan tekun menjaga hafalannya dengan ihlas semata-mata melaksanakan bentuk pengabdian hakiki kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, bukan al-Qur’an yang harus dijaga, melainkan orang-orang yang membaca. Sungguh mereka harus menjaga diri sendiri dari niat yang tidak benar dan dari mengikuti dorongan nafsu syahwat dan lebih-lebih dari dorongan hawa nafsu syaithoniah.

Apabila cara membaca itu hanya didorong oleh nafsu syahwat, maka bacaan itu tidak hanya dapat membantu makhluk jin menguasai kesadaran manusia saja, bahkan dapat menghancurkan langit dan bumi dan isinya. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ

Andaikata kebenaran (Al-Qur’an) itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. QS:23/71.

Jadi, hilangnya kesadaran manusia akibat diruqyah barangkali hanya merupakan sebab awal supaya dengan itu setan jin dapat memancarkan perintah rahasia mereka langsung di hatinya, agar manusia terlena dengan kehidupan duniawi yang selanjutnya mendapat kehancuran untuk selama-lamanya di neraka jahannam. Kita berlindung dari tipudaya setan yang terkutuk.

Mengapa semua itu bisa terjadi ?? Karena sesungguhnya aktifitas kehidupan jin sangat dekat dengan manusia. Bahkan urat darah manusia menjadi jalan jin menuju hati dan lubang-lubang pada anggota tubuh manusia menjadi tempat istirahat dan tempat tidur jin. Sebagian jin bahkan bermalam di lubang hidung di saat manusia sedang tidur. Rasulullah saw. telah mengabarkan dengan sabdanya:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Nabi s.a.w telah bersabda: Apabila seseorang dari kamu bangun dari tidur, hendaklah dia memasukkan air ke dalam hidung dan menghembusnya keluar sebanyak tiga kali karena sesungguhnya setan bermalam di dalam lubang hidungnya di saat manusia tidur .

•    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Permulaan Kejadian hadits nomor 3052.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Bersuci hadits nomor 351.
•    Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Bersuci hadist nomor 89.

Dan juga sabdanya:

حَدِيثُ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ لِأَنْقَلِبَ فَقَامَ مَعِيَ لِيَقْلِبَنِي وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ ابْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَرًّا أَوْ قَالَ شَيْئًا

Diriwayatkan dari Sofiah binti Huyai r.a berkata: Pada suatu malam ketika Nabi s.a.w sedang beriktikaf aku datang menghampiri baginda. Setelah puas berbincang-bincang dengan baginda, akupun berdiri untuk pulang. Rasulullah s.a.w ikut berdiri untuk mengantarku. Tempat tinggal Sofiah adalah di rumah Usamah bin Zaid. Tiba-tiba datang dua orang Ansar. Ketika mereka melihat Nabi saw mereka mempercepatkan langkahnya. Lalu Nabi saw bersabda: Perlahankanlah langkahmu. Sesungguhnya ini adalah Sofiah binti Huyai. Kedua orang ansor itu berkata Maha suci Allah, wahai Rasulullah. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda Sesungguhnya setan itu berjalan pada aliran darah manusia. Sebenarnya aku khawatir ada tuduhan buruk atau yang tidak baik dalam hati kamu berdua *

1.    Riwayat Bukhori di dalam Kitab I’tikaf hadits nomor 1894, 1897, 1898. – Etika hadits nomor 5751.
2.    Riwayat Muslim di dalam Kitab Salam hadits nomor 4041.
3.    Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Etika hadits nomor 4342.
4.    Riwayat Ibnu Majah di dalam Kitab Puasa hadits nomor 1769.

Ketika ada sekelompok manusia beribadah dengan hati lalai karena hanya memperturutkan nafsu dan akal saja, sambil menghadirkan Jin dalam pikiran karena takut dalam tubuhnya ada jin, terlebih lagi ketika tujuan ibadah tersebut terkontaminasi kepentingan duniawi, baik kepentingan pribadi maupun golongan, bahkan dengan bangga dan merasa paling benar sendiri sehingga sempat menyirik-kan dan membid’ahkan amalan orang lain padahal amalan tersebut belum tentu syirik dan bid’ah, maka secara otomatis sekelompok jin mendapat fasilitas untuk menguasai kesadaran manusia tersebut. Jin para penjaga manusia itu saling berebut mendapatkan point tertinggi untuk dibanggakan kepada pimpinan mereka. Maka yang semestinya di dalam kesempatan lain pekerjaan untuk menguasai kesadaran manusia itu sulit dilakukan, di dalam pelaksanaan “Ruqyah” malah mendapat kemudahan. Terbukti dengan sedemikian mudahnya jin dapat mengusai kesadaran manusia, sehingga seketika itu juga Jin menjadikan para pendengar yang khusu’ tersebut bergelimpangan bagaikan orang kena sihir. Para pendengar yang tidak mengerti itu langsung kesurupan jin. Mereka berteriak-teriak seperti orang gila…. bahkan ada yang terkencing-kencing di tempat.

Mengapa perkerjaan seperti itu dengan bangga mereka katakan mengobati orang sakit..?? Para pelaku ruqyah itu tidak mengerti bahwa setelah orang kesurupan jin itu bisa berakibat menjadi orang yang berpenyakitan … ?? Dimana logikanya orang yang asalnya sadar menjadi tidak sadar karena kesurupan jin dikatakan mengeluarkan jin dari tubuh manusia …?? Barangkali perlu ada perenungan yang mendalam terhadap pelaksanaan ruqyah tersebut, sebelum lebih banyak lagi yang menjadi korban dari akibat ketidaktahuan ini.  (Barsambung)

al-Fakir ilaa Afwi Maulaahu,
Muhammad Luthfi Ghozali

ALASAN 3, Mengapa Orang diRuqyah Kesurupan Jin

Posted in ilmu thoriqoh, ruqyah dengan kaitan (tags) on 17 April 2009 by malfiali

Sihir Jin yang Ditiupkan

Firman Allah Ta’ala Qur’an Surat al-Hijr/ayat 15/42. Qur’an Surat Shod/ayat 82/85. Qur’an Surat an-Nahl/ ayat 16/100

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat”. QS:15/42.

Jika seandainya yang dikatakan Ruqyah itu merupakan bentuk ibadah yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang beriman dan bukan perbuatan orang yang telah mengikuti langkah-langkah setan Jin sehingga mereka menjadi sesat sebagaimana yang dinyatakan Allah Ta’ala dengan firman-Nya di atas, dan bukan pula perbuatan syirik sebagaimana yang dinyatakan sendiri para pelakunya sebelum ruqyah tersebut dimulai dengan atraksi mengumpulkan jimat-jimat kemudian dibakar, maka dengan pernyataan firman Allah Ta’ala di atas, seharusnya batas wilayah kesadaran manusia yang sedang diruqyah itu tidak dapat ditembus oleh kekuatan setan jin untuk menguasainya walau sesaat. Jika ternyata tidak demikian, berarti boleh jadi bacaan ayat-ayat suci yang dibacakan dalam pekerjaan “Ruqyah” itu sudah disusupi kekuatan sihir setan Jin, sebagaimana yang telah dinyatakan Allah Ta’ala di dalam firman-Nya (surat al-Hajj ayat 52) “Melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu”. Maka, para pelaku ruqyah tersebut  seperti “tukang sihir” yang sedang membacakan mantra, ketika ayat-ayat suci itu dibaca, para pendengarnya sedemikian mudah bergelimpangan tidak sadarkan diri kesrupan jin.

Bukankah keadaan para pemain kuda lumping juga seperti itu..?. setelah dibacakan mantra-mantra oleh pimpinan rombongannya kemudian para pemain itu kesurupan jin dan tidak sadarkan diri. Namun ada bedanya, kuda lumping merupakan tontonan yang mengasyikkan sedang pelaksanaan “Ruqyah” tersebut adalah tontonan yang mengerikan dan menjijikkan.

Dan di dalam firman-Nya yang lain Allah Ta’ala telah menegaskan pula. Allah SWT. berfirman:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ(82)إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِين َ

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, – kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. QS:82/85.

Iblis bersumpah di hadapan Allah Ta’ala akan menyesatkan anak Adam secara keseluruhan kecuali hamba-hamba Allah yang beribadah dengan ikhlas, kepada mereka sedikitpun kekuatan setan Jin tidak dapat menembus benteng pertahanan yang melindunginya. Demikian yang dinyatakan Iblis sendiri di hadapan Allah Ta’ala yang telah diabadikan-Nya dengan firman-Nya di atas. Artinya, yang menunjukkan kehebatan dari suatu bentuk pelaksanaan amal ibadah, manakala ibadah tersebut mendapat perlindungan Allah Ta’ala dari kekuatan setan Jin, tidak malah sebaliknya. Lebih tegas lagi Allah Ta’ala menyatakan dengan firman-Nya:

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin (beryatawalla) dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah QS:16/100.

Penegasan Allah Ta’ala itu artinya : bahwa hanya kepada sekelompok orang yang telah mengambil setan Jin sebagai wasilah atau jalan untuk mendekat (beryatawalla) dan orang-orang yang telah berbuat syirik saja, maka setan Jin dapat memperdaya mereka sehingga kesadaran mereka dapat dikuasai walau hanya sebentar.

Firman Allah Ta’ala يَتَوَلَّوْنَهُ . “Yatawalla” artinya mengambil orang lain sebagai walinya atau berwasilah kepadanya. Apabila hal tersebut dipraktekkan dalam pelaksanaan amal ibadah maka yang dimaksud adalah tawassul. Untuk tujuan inilah orang-orang thoriqoh tawassul kepada Rasulullah saw. melalui bertawassul kepada guru-guru mursyidnya. Hal itu dilakukan supaya dapat terjadi hubungan ruhaniyah secara berkesinambungan antara orang yang bertawassul dengan orang yang ditawassuli sampai dengan kepada Rasulullah saw.

Barangkali seperti keadaan inilah apa yang terjadi dalam pelaksanaan “Ruqyah”, ketika orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim itu sambil pikirannya menerawang memikirkan Jin – apakah di dalam tubuhnya ada jin atau tidak – sambil memaksakan diri untuk berbuat khusu’, tanpa disadari ternyata justru melaksanakan apa yang dimaksud oleh ayat tersebut di atas dengan “beryatawalla” kepada setan Jin. Jika memang benar, maka pantas saja, hingga sedemikian mudahnya Jin dapat menusuk dan menguasai wilayah kesadaran mereka, karena sesungguhnya secara hakikat setan Jin telah dipersilahkan sendiri datang untuk menguasai kesadaran mereka sendiri.

Sesungguhnya perbuatan yang demikian itulah hakikatnya adalah syirik di dalam amal “asy Syirku Fil Amali”. Dan itu  identik dengan perbuatan Jin yang memang selalu bersyirik ria dengan manusia sebagaimana yang telah ditegaskan Allah Ta’ala dengan firman-Nya:

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَولَادِ

“Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak”. QS:17/64.

Yang pasti, hendaklah manusia sangat waspada dan berhati-hati ketika perbuatan yang mereka perbuat – apapun bentuknya, lebih-lebih yang bernuansakan ibadah – telah nyata-nyata bersingguan dengan dimensi jin, seperti amalan yang mereka katakan ruqyah tersebut, apabila Allah Ta’ala tidak melindungi hamba-Nya maka tidak seorangpun dapat selamat darinya, dengan hanya satu alasan saja; “Karena jin dapat melihat manusia sedang manusia tidak dapat melihat mereka”. (Muhammad Luthfi Ghozali, April 2009)

ALASAN 2, Mengapa Orang diRuqyah Kesurupan Jin

Posted in ilmu thoriqoh, ruqyah dengan kaitan (tags) on 15 April 2009 by malfiali

Membaca Dalam Keadaan Lalai

Firman Allah Ta’ala Surat al-Hajj ayat 52.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ (أي في تلاوته) فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ ءَايَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan (nafsu syahwat), setanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. QS:22/52.

Dengan ayat di atas urusannya menjadi semakin jelas, mengapa orang diruqyah kesurupan jin. Jangankan manusia biasa, seorang Rasul dan Nabi sekalipun, manakala dalam pelaksanaan pengembaraan ruhaniyah yang mereka lakukan, baik dengan dzikir maupun pikir, meski itu dilaksanakan dalam rangka melaksanakan tugas risalah dan nubuwah, jika di dalamnya terdapat kesalahan, yakni terbukanya ruang kosong (melamun urusan duniawi) sehingga kemauan nafsu berbalik menjadi pendorong, maka akibatnya setan Jin segera terfasilitasi untuk menyusupkan was-wasnya di dalam hati mereka. Hanya saja “Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya”. Mengapa hal tersebut bisa terjadi ?? karena sesungguhnya setan Jin memang sudah sangat dekat dengan manusia. Kedekatan tersebut bukan untuk menghalangi ibadah saja, tetapi juga untuk membelokkan arah tujuannya.

Was-was tersebut terkadang berupa suara dzikir yang diperdengarkan dari kejauhan bahkan seperti orang sedang berdzikir berjama’ah yang semakin lama semakin menusuk ke dalam perasaan. Dengan tipu daya seperti ini tidak banyak orang memahami, maka kejadian tersebut dikira hal positif yang didatangkan Allah Ta’ala baginya. Ketika suara-suara itu semakin diikuti oleh perasaan, maka selanjutnya kesadaran manusia ditarik masuk ke dalam dimensi alam Jin, berarti saat itu manusia sudah dikuasai oleh setan Jin.

Kejadian seperti ini sering dialami oleh orang-orang yang ahli mujahadah. Kejadian tersebut sesungguhnya jauh lebih halus daripada proses masuknya tipu daya setan saat orang diruqyah. Seandainya para ahli ibadah itu tidak dilindungi oleh sistem perlindunan Allah untuk menangkal gangguan setan bagi hamba-hamba yang dicintai, sebagaimana yang disebutkan oleh ayat di atas: (Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya) maka barangkali tidak ada seorangpun dari orang ahli ibadah itu selamat dari tipu daya setan jin.

Adapun keadaan orang-orang yang diruqyah, Jin tidak harus repot-repot mengkondisikan keadaan yang demikian itu, karena para pelaku ruqyah itu telah mengkondisikan sendiri untuk rasuki jin, bahkan dipersiapkan sejak awal. Yakni dengan memaksa diri berkonsentrasi mendenarkan ayat-ayat yang dibaca sambil membayangkan jin dalam pikiran. Mereka tidak sadar bahwa perbuatan tersebut justru mengundang jin untuk masuk dalam wilayah kesadaran mereka sendiri. Terbukti demikian mudahnya mereka itu kesurupan jin. Hal tersebut membuktikan bahwa para pelaksana ruqyah itu belum pernah berpengalaman menghadapi ganguan setan jin seperti contoh di atas, sehingga hal yang sedemikian membahayakan itu tidak mereka sadari bahkan mereka melaksanakan ruqyah itu dengan penuh kebanggaan dan kesombongan. Seakan merasa yang paling tidak syirik, sedangkan jimat-jimat yang mereka kumpulkan dan mereka bakar sebelum pelaksanaan ruqyah itu adalah perbuatan yang paling syirik.

Bukan wilayah syirik atau tidak syirik yang menjadi tujuan pokok penulisan, karena wilayah itu merupakan wilayah hukum syari’at yang memerlukan kecermatan dalam mengambil keputusan, akan tetapi urusan yang lebih sederhana dan tampak mata saja, yaitu demi keselamatan anak cucu kita dari akibat kesalahan yang kita perbuat sendiri dari bahaya setan jin yang setiap saat selalu siaga untuk menerkam mangsanya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَزَيَّنَ لَهُمَ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ

Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam. (QS:29/38)

Ciri-ciri orang yang terjebak tipudaya setan jin adalah orang yang merasa benar sendiri. Mereka merasa amalannya sendiri yang paling benar, paling baik dan paling bersih dari kesalahan, terlebih dengan suka menyalahkan amalan orang lain. Demikian yang dapat kita baca dari makna ayat di atas.

Jika ada orang melaksanakan ibadah, namun kemudian sesudahnya dia merasa mendapat kemuliaan sehinga melihat orang lain lebih hina dari dirinya, maka itu pertanda benar-benar telah masuk dalam perangkap tipu daya setan jin. Mereka menjadi sombong karena merasa mempunyai nilai lebih dari orang lain. Lebih dari itu, jika hal tersebut dilahirkan dengan ucapan maupun perbuatan maka orang tersebut menjadi takabbur.
Apabila jalan ibadah tersebut benar-benar menjadikan seorang hamba wusul kepada Tuhannya, ibadah itu tidak malah menjadikan orang menjadi sombong dan takkabur. Dengan ibadah itu seharusnya menjadikan orang dapat mengenali aib-aib diri sendiri, mengenali keterbatasan, semakin dapat melihat dosa-dosanya sendiri, sehingga dapat meningkatkan semangat untuk bertaubat kepada-Nya.  Singkatnya apabila ibadah dan dzikir itu telah membuahkan rasa syukur kepada Allah, berarti jalan ibadah itu sudah benar, yang demikian itu telah diisyaratkan Allah Ta’ala dengan firman-Nya:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku. QS:2/152.

Maka dengan ini menjadi semakin jelas, apabila pelaksanaan  “Ruqyah” tersebut merupakan pelaksanaan ibadah, maka buah yang dihasilkan seharusnya tidak hanya menjadikan manusia yang asalnya tidak sadar menjadi sadar, akan tetapi jauh lebih dari itu, yaitu menjadikan para pelakunya menjadi mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Jika tidak demikian dan bahkan menjadikan orang yang asalnya sadar menjadi kesurupan jin, menjadi gila walau sebentar, berarti yang dilakukan itu bisa jadi bukan merupakan amal ibadah yang benar.
(Muhammad Luthfi Ghozali, April 2009)

ALASAN 1, Mengapa Orang diRuqyah Kesurupan Jin

Posted in ilmu thoriqoh, ruqyah dengan kaitan (tags) on 14 April 2009 by malfiali

ALASAN 1, Mengapa Orang diRuqyah Kesurupan Jin

Artikel ini dimuat atas permintaan seorang sahabat

Beramal Tanpa Bimbingan Guru

Firman Allah SWT. Surat al-A’rof ayat 201:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS:7/201)

Yang dimaksud “Thooifum minasy-Syaithon” atau was-was dari setan, dari firman Allah Ta’ala di atas adalah, bentuk wujudnya terkadang berupa bisikan dalam hati yang datang bukan dari bisikan manusia itu sendiri, bahkan terkadang bisikan tersebut lebih dominan dari kemauan (Irodah atau Khotir) hatinya sendiri. Contoh: dengan sadar orang melihat bahwa seseorang yang ada di hadapannya adalah orang baik-baik, baik pekerjaan maupun pembicaraannya, akan tetapi bisikan itu mengatakan sebaliknya, orang tersebut dikatakan jahat, dan terkadang juga ketika melihat orang yang menurutnya jelek, bisikan itu malah mengatakan baik. Akibatnya, orang tersebut menjadi dibuat bingung oleh bisikan hatinya sendiri, karena akalnya mengatakan begini sedang hatinya mengatakan yang lain. Bisikan tersebut semakin lama menjadi semakin membingungkan dan akhirnya ia menjadi lupa diri. Klimaksnya, orang tersebut menjadi gila.

Tanda-tandanya, orang yang asalnya periang mendadak menjadi pendiam. Dia menjadi tidak suka bicara dan bergaul dengan orang lain, mengurung diri di dalam kamar dan berbicara sendiri, tidak banyak suka dengan apa yang diperbuat orang lain karena menurutnya perbuatan tersebut salah. Dia merasa hanya dirinya sendiri yang benar, mengaku pernah didatangi ruh para waliyullah dan bahkan mendapat ilmu langsung dari para Wali dan para Nabi. Para Wali dan Para Nabi itu katanya datang sendiri ke kamarnya, dan bahkan ada yang mengaku bertemu langsung dengan Allah Ta’ala, mendapat wahyu sebagaimana para Nabi as. Namun ketika penyakit itu sudah semakin parah, dia malah meninggalkan seluruh pemilikannya bahkan keluarganya yang dahulu sangat dicintai alias menjadi gila.

Banyak kasus seperti ini kita temui di masyarakat kita, dan kebanyakan orang yang terkena penyakit seperti itu justru adalah orang-orang yang ahli ibadah dan ahli mujahadah. Mengapa bisa demikian..? itu hanya diakaibatkan oleh satu alasan, karena sesungguhnya ibadah dan mujahadah yang ditekuni itu tanpa mendapat bimbingan dari seorang guru yang ahli, yakni guru-guru ruhaniyah yang dapat mentarbiyah ruhaniyah murid-muridnya. Akibatnya ibadah dan mujahadah itu hanya dipancarkan oleh kemauan emosional dan rasional saja sehingga gersang dari pancaran spiritual. Keadaan tersebut bisa terjadi, karena sesungguhnya pembimbing ibadah itu adalah setan Jin yang telah memanfaatkan dorongan emosional manusia untuk mengalahkan kekuatan rasionalnya.

Kongkritnya, ketika dorongan emosional mendesak rasional sehingga pertahanan rasional menjadi lemah hingga keadaan menusia menjadi antara sadar dan tidak sadar, saat-saat seperti itulah yang sangat ditunggu-tunggu oleh setan Jin untuk memasukkan sulthon (tehnologi) nya di dalam wilayah kesadaran manusia, itu manakala kesadaran orang tersebut menjadi terluka akibat desakan dorongan emosional. Dengan tehnologi tersebut setan jin dapat meremot atau memancarkan perintahnya kepada orang tersebut dari jarak jauh. Keadaan seperti itulah yang dimaksudkan oleh sebuah ungkapan Ulama yang artinya: “Barang siapa beramal tanpa guru maka gurunya setan”.

Adapun maksud ayat di atas: Orang-orang bertakwa, apabila sedang mengalami keadaan seperti tersebut di atas, (terkena gangguan setan) maka berdzikirlah. Berdzikir itu boleh dengan sholat, boleh dengan membaca kalimah thoyyibah, boleh dengan membaca ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim, dengan itu supaya dia menjadi sadar dan mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya. Artinya: seharusnya dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim dalam rangka berdzikir kepada Allah Ta’ala, orang-orang yang tidak sadar atau sedang kesurupan jin menjadi sadar. Tidak malah sebaliknya, yaitu orang yang sehat dan sadar, dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim dalam rangka diruqyah malah menjadi hilang ingatan atau gila walau sebentar, bahkan muntah-muntah dan kencing di tempat. Mengapa pelaksanaan tersebut dikatakan mengobati orang sakit…????

Seharusnya orang-orang yang diruqyah itu adalah orang yang kesurupan jin supaya menjadi sadar, atau orang yang jiwanya sedang sakit supaya penderitaannya menjadi sirna. Memang untuk kepentingan itu – sejak dahulu sampai dengan sekarang – ruqyah dilakukan oleh para ahlinya. Ruqyah bukan untuk melukai kesadaran orang yang sehat menjadi kesurupan jin sehingga hilang ingatan atau gila walau hanya sementara. Jika seandainya – saat itu mereka tidak berhasil disembuhkan ??  maka siapa yang bertanggung jawab dari aib yang memalukan itu….?. Ternyata banyak akibat diruqyah ini malah melakukan terapi pengobatan di Pesantren kami …. Semoga tulisan ini menjadi masukan yang baik bagi hati yang mau menerima pendapat dan pengalaman orang lain.
(Muhammad Luthfi Ghozali, April 2009)

MANUSIA DALAM TIGA KEHIDUPAN 2

Posted in ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 9 April 2009 by malfiali

Manusia

Manusia Dalam Tiga Kehidupan 2

“Nismatul ‘Adamiyah” ketika sedang mengalami tahapan kehidupan pada dimensi alam jismul mahsusah, hidup di alam rahim dan di alam kehidupan dunia, maka keadaan “nismatul ‘adamiyah” itu mengikuti sebagaimana sunnah yang ada di dalam jismul mahsusah. Jati diri manusia itu mengikuti hukum alam lahir dengan segala gravitasi yang ada, maka saat itu “hakekat kehidupan manusia” itu berarti sedang terkurung oleh hukum jasad kasarnya yang terdiri dari daging dan tulang dengan segala instrumen kehidupan yang ada, seperti nafsu dan akal beserta segala kandungan di dalamnya.

Meskipun demikian, jati diri manusia itu suatu saat sebenarnya mendapatkan kesempatan untuk terbang tinggi memasuki alam ghaib, yakni ketika keadaan jismul mahsusah itu sedang lemah—orang sedang tidur misalnya—maka “nismatul ‘adamiyah” itu sedikit demi sedikit meninggalkan alam dimensi jismul mahsusah untuk memasuki alam dimensi jismul lathif. Saat itu kadang-kadang ia memasuki dimensi alam ruh (alam malakut), menerobos sekat rahasia alam Lauh mahfudz, maka jati diri manusia yang jasadnya sedang tidur itu kadang-kadang dapat melihat keadaan yang sudah terjadi dan juga membaca situs-situs tentang keadaan yang akan terjadi. Bahkan memasuki dimensi alam barzah, maka ia bertemu dan berdialog dengan teman-temannya yang sudah mati. Inilah bagian dari rahasia alam mimpi, sehingga disabdakan dalam sebuah hadits bahwa mimpi orang yang beriman adalah seper empat puluh alam kenabian.

Seperti contoh orang yang sedang sakit keras misalnya, dalam puncak merasakan rasa sakit itu, antara sadar dan tidak, kadang-kadang manusia seakan-akan terbang ke awang-awang. Yang demikian itu sejatinya “nismatul ‘adamiyah” itu yang sedang terbang meninggalkan gravitasi jismul mahsusah, bahkan melewati batas titik kulminasi antara dua dimensi alam tersebut, maka orang itu mengalami sebagaimana yang dialami orang mimpi. Oleh karena itu, di dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar itu kadang-kadang orang yang sedang sakit itu dapat merasakan kehadiran makhluk-makhluk lain di sekitarnya, dan bahkan melihat orang-orang yang sudah mati yang pernah dikenal saat hidupnya.

Kalau seandainya matahati orang yang sedang sakit itu cemerlang, penuh dengan “nur iman” dan “nur yakin”, maka dengan izin Allah ia akan mengetahui dengan pasti keadaan yang dipersiapkan untuknya setelah matinya. Dan ketika saat itu yang dilihat adalah kebun surga maka ia akan mati dengan tenang dan damai, mati di dalam keadaan hati yang selamat. Itulah yang disebut dengan mati “husnul khotimah” (akhir yang baik), cara mati yang sangat diidam-idamkan oleh orang-orang yang beriman. Semoga dengan pertolongan dan izin-Nya pula kita mampu menggapainya. Allah membongkar rahasia keadaan itu dengan firman-Nya:

فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ (83) وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ (84) وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ

Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan  padahal kamu ketika itu melihat dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu  Tetapi kamu tidak melihat. (QS. al-Waqi’ah; 83-85)

Ketika “kehidupan manusia” (nismatul ‘adamiyah) itu berada pada tahapan alam rahim ia juga mengikuti proses perkembangan keadaan janin yang ada. Yang asalnya saripati air mani kemudian selama empat puluh hari menjadi segumpal darah, empat puluh hari lagi sebagai segumpal daging dan kemudian empat puluh hari lagi sebagai tulang yang dibungkus daging. Ketika kejadian itu sudah sempurna, maka Allah memerintahkan Malaikat ruh untuk meniupkan Ruh kehidupan kepadanya, sehingga sejak saat itu “nismatul adamiyah” itu menjadi hidup di alam dunia sebagai janin yang kemudian akan menjadi manusia sempurna dengan dibungkus jismul mahsusah ketika janin itu sudah dilahirkan oleh ibunya ke dunia.

Ketika manusia mati untuk pertama kalinya di dunia, maka Ruh yang ditiupkan oleh Malaikat ruh di dalam rahim itu dicabut kembali, namun itu bukan oleh Malaikat ruh yang pertama kali meniupkannya di alam rahim, tetapi oleh malaikat Izra’il yang memang ditugaskan untuk mencabut nyawa manusia. Setelah ruh tersebut dicabut, maka jasad kasar atau jismul mahsusah yang selama ini menjadi tempat tinggal ‘nismatul ‘adamiyah’ menjadi kaku dan mati dan selanjutnya dikubur dan kembali menjadi tanah. Adapun “nismatul ‘adamiyah” tidak ikut mati tetapi tetap hidup dan berangsur-angsur masuk alam barzah kemudian alam akhirat dengan menempati jasad baru, yaitu jasad halus yang disebut dengan jismul lathif untuk mempertanggungjawabkan segala yang pernah diperbuatnya di dunia.

Walhasil, ruh yang ditiupkan Malaikat ruh di alam rahim tersebut bukan ”hakekat manusia” atau jati diri manusia sebagaimana yang banyak diyakini oleh beberapa kalangan, melainkan sekedar ruh yang menghidupi jismul mahsusah selama di dunia. Ruh itu seperti baterai yang menghidupkan robot, ketika baterai itu di ambil maka robot itu mati. Oleh karena itu, orang yang mati disebut dicabut ruhnya. Padahal keadaan yang sebenarnya tidaklah demikian, jati diri manusia itu tidak mati, melainkan pindah alam untuk melanjutkan kehidupannya yang lebih panjang.

Dengan ruh yang ditiupkan dalam rahim tersebut, janin—sebagai jasad kasar pembungkus jati diri manusia, yang asalnya mati menjadi hidup. Dengan hidupnya daging dan tulang itu, jati diri manusia atau nismatul adamiyah selanjutnya dapat mengaktualkan kehidupannya kepada dunia luar dengan menggunakan instrumen kehidupan—seperti mata, telinga dan otak—yang tersedia di dalam jasad kasar tersebut. Allah menyatakan hal ini dengan firmanNya:

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (QS.as-Sajadah;32/9)

Oleh karena itu, jika salah satu dari instrumen kehidupan jasad kasar itu kebetulan terlahir dalam keadaan tidak sempurna, seperti tuli misalnya, maka kehidupan manusia tersebut juga berjalan tidak sempurna. Hal itu disebabkan, karena nismatul adamiyah yang menghidupi daging dan tulang itu tidak mampu mengaktualkan kehidupannya secara sempurna. Terkadang jasad kasar manusia itu malah dihidupi oleh makhluk jin, seperti keadaan orang yang kesurupan jin. Hal itu bisa terjadi, karena saat itu jin sedang dapat menguasai jati diri manusia, sehingga instrumen kehidupan jasad kasar tersebut dijadikan sarana oleh jin untuk mengaktualkan kehidupannya di alam manusia.

Disaat manusia menjalani tahapan alam kehidupan dunia, maka “nismatul adamiyah” itu mengikuti sunnah yang berlaku pada alam jismul mahsusah. Jati diri manusia itu mengikuti proses perkembangan mendewasakan hidupnya mengikuti kemampuan instrument kehidupan jasad kasar tersebut. Ketika anak manusia itu harus melengkapi dirinya dengan ilmu pengetahuan, lalu ilmu itu diamalkan, dan selanjutnya membentuk menjadi karakter, dimana seharusnya manusia saat itu mampu berma’rifat atau mengenal, yang pertama kepada dirinya sendiri, kemudian lingkungannya dan selanjutnya supaya dapat berma’rifat kepada Tuhannya. Keadaan yang dialami jati diri manusia itu seperti perangkat komputer yang harus diinstall dengan program-program, betapa canggihnya perangkat keras computer tersebut tanpa perangkat lunak yang canggih, komputer itu tidak akan mampu membawa kemanfaatan yang berarti.

Adapun alam jismul lathif dan alam jismul mahsusah, atau alam batin dan alam lahir, kedua alam itu hakekatnya satu, hanya saja antara keduanya dibatasi dengan ruangan (barzah). Keadaan itu bagaikan dua samudera yang dipisahkan oleh daratan, namun suatu saat dengan ilmu Allah, kedua samudera itu dibiarkan dapat bertemu. Atau seperti bumi yang dibatasi atmosfir, maka sunnah yang ada di dalam atmosfir itu berbeda dengan sunnah yang ada diluarnya, padahal dua ruangan itu sama-sama di dalam ruangan alam yang satu. Allah memberikan isyarat dengan firman-Nya:

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya”. (QS. al-Anfal (8); 24).

Dan lebih jelas lagi firman Allah.

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ (19) بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,(*)antara keduanya ada batas yang tidak dapat dilampaui oleh masing-masing.(QS.ar-Rahman (55); 19-20).

Uraian tentang tiga tahap kehidupan manusia beserta rahasia alamnya, yaitu alam jismul lathif dan alam jismul mahsusah di atas, merupakan konsep dasar yang telah diketengahkan para ulama salafush sholeh, hasil ijtihad dan mujahadah mereka, memadukan ayat yang tersurat dengan ayat yang tersirat dalam rangka beristimbat untuk mencari makna dan menta’wilkan firman-firman Allah tersebut di atas. Uraian tersebut hendaknya dijadikan dasar pijakan bagi para pembaca untuk menindaklanjuti uraian-uraian yang berikutnya, insya Alloh. Semoga dengan itu Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk memahami makna yang ada di dalam firman-firman-Nya. (malfiali, April 2009)

MANUSIA DALAM TIGA KEHIDUPAN 1

Posted in ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 2 April 2009 by malfiali

Manusia

Manusia Dalam Tiga Kehidupan 1

Untuk lebih dalam menyelami rahasia keutamaan manusia, mencari hakekat jati diri manusia, sebagai mutiara utama yang tersimpan rapat dalam rahasia hidup manusia, maka kita akan memasuki pembahasan yang paling mendasar tentang rahasia kehidupan manusia beserta alamnya.

Manusia sebagai makhluk yang tercipta dalam bentuk paling sempurna, baik lahir maupun batin: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”(QS. At-Tin; 4), meskipun demikian, sesungguhnya manusia merupakan makhluk yang asalnya tidak ada menjadi ada. Sebelum ada, manusia belum dapat disebut sebagai sesuatu. Berarti saat itu merupakan masa yang ghaib bagi manusia. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah s.w.t. Untuk mengungkap rahasia tersebut, maka tidak ada jalan lain kecuali harus mengikuti petunjuk wahyu Allah.

Allah SWT. berfirman:

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, di mana manusia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. al-Insan (76); 1).

Firman Allah di atas memberikan suatu ketegasan, bahwa sesungguhnya manusia bukan makhluk yang dihasilkan oleh proses evolusi alam, dari kejadian satu kepada kejadian lain sebagaimana yang diyakini oleh penganut teori Darwin. Atau reinkarnasi dari binatang menjadi manusia, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang-orang kafir. Akan tetapi manusia adalah makhluk yang asalnya tidak ada menjadi ada karena ia diciptakan. Namun kemudian, setelah kematian pertamanya di alam kehidupan dunia, manusia akan dihidupkan kembali untuk selama-lamanya di dalam kehidupan yang hakiki.

Jadi, manusia adalah makhluk yang memiliki awal, tetapi tidak mempunyai akhir. Karena manusia harus mempertanggungjawabkan perbutannya di akhirat nanti untuk selama-lamanya. Itulah yang menjadi salah satu keutaman manusia dibanding makhluk-makhluk lain. Tidak seperti binatang misalnya, meski binatang mempunyai awal akan tetapi ia juga mempunyai akhir. Pada saatnya, setelah binatang itu dibutuhkan untuk sekedar proses persidangan bagi manusia pada hari kiamat, binatang itu akan dihilangkan sama sekali kecuali anjing Ashabul Kahfi. Konon menurut sebuah riwayat, anjing Ashabul Kahfi akan dimasukkan surga bersama majikannya.

Sejak pertama kali diciptakan, manusia tidak akan dihilangkan kembali untuk selama-lamanya. Sejak pertama kali hidup itu, manusia akan mengalami kehidupan yang abadi, baik bahagia di surga ataupun sengsara di neraka. Hanya saja dalam menjalani kehidupannya tersebut akan mengalami beberapa tahapan kehidupan.

Tahapan pertama di ALAM RUH (Alam qodim atau alam azaliyah) dan Tahapan kedua di ALAM DUNIA (Alam hadits atau alam fana). Di dalam tahapan kedua ini manusia juga akan mengalami tiga tahapan kehidupan. Pertama di alam rahim, kedua di alam kehidupan dunia, ketiga di alam barzah.  Tahapan ketiga di ALAM AKHIRAT, dan di alam akhiratpun manusia akan mengalami beberapa tahapan kehidupan, di antaranya alam mahsyar, alam hisab, alam mizan dan kemudian melintasi shirothol mustaqim baru kemudian alam akhirat yaitu alam kekal, di mana ahli surga telah menduduki surga dan ahli neraka telah mendekam di neraka.

Dalam beberapa tahapan kehidupan tersebut manusia menjalani kehidupannya dalam dua dimensi. Dimensi pertama, disebut dimensi Jismul lathif, artinya “kehidupan manusia” itu dibungkus dengan Jismul lathif atau jasad halus, yaitu di saat manusia berada di dalam alam ruh dan juga di saat manusia mengalami kehidupan setelah matinya, di alam barzah dan alam akhirat. Dan dimensi yang kedua disebut dimensi Jismul mahsusah, artinya kehidupan manusia itu dibungkus dengan Jismul Mahsusah atau jasad kasar yang terdiri dari daging dan tulang, yaitu ketika kehidupan manusia itu berada di alam rahim dan alam kehidupan di dunia.

Jismul Latif adalah jasad halus yang membungkus ruh kehidupan manusia yang bukan terdiri dari daging dan tulang. Yaitu di saat kehidupan manusia itu belum diletakkan di dalam rahim seorang Ibu dan ketika kehidupan manusia itu sedang menjalani tahapan kehidupannya di alam barzah dan alam akhirat. Jismul latif ini adalah sesuatu yang ghaib bagi indera lahir manusia (panca indera) yang keberadaannya hanya dapat dirasakan oleh matahati dengan kekuatan iman dan yakin yang prima.

Jismul mahsusah adalah jasad kasar yang membungkus kehidupan manusia yang terdiri dari daging dan tulang yang awalnya diciptakan dari tanah kemudian yang selanjutnya diciptakan dari saripati air mani. Ketika manusia mengalami kematian yang pertama di dunia, Jismul mahsusah ini kemudian dikubur yang selanjutnya akan kembali menjadi tanah.

Jismul lathif (jasad halus), sebagaimana juga jismul mahsusah (jasad kasar) keduanya mempunyai ruh kehidupan, itulah yang disebut dengan: “nismatul ‘adamiyah” Ruh kehidupan itu, sebagai jati diri manusia ada yang baik dan yang jelek, mempunyai anggota tubuh, mempunyai pendengaran, penglihatan, pemikiran dan perasaan. Itulah yang dimaksud dengan “hakekat manusia” itu juga disebut “lathifatur rabbaniyyah”

 Yang dimaksud dengan “Nismatul ‘Adamiyah” adalah anak turun Nabi Adam As. yang dikeluarkan langsung dari sulbi Nabi Adam, yaitu disaat punggung Nabi Adam diusap Allah SWT. di alam ruh. Allah mengabarkan hal itu dengan firman-Nya: ”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka (QS. al-A`raf; 172). Ketika manusia hidup di alam dunia, baik di alam rahim maupun alam kehidupan dunia, maka “nismah” itu dibungkus dengan Jismul mahsusah dan ketika manusia hidup di alam ruh, alam bazah dan alam akhirat, “Nismah” itu dibungkus dengan Jismul Lathif. ( Bersambung. malfiali, Maret 2009)