Arsip untuk Maret, 2009

CERITA SUFI (Syekh Abdul Qodir Al-Jilany RA)

Posted in cerita dengan kaitan (tags) on 17 Maret 2009 by malfiali

Cerita Sufi

Teman-teman seperjalanan yang dirahmati Alloh,
Berikut ini kisah karomah Sulthonul Auliya Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jilany RA. Coba kita cari seuatu yang bisa kita ambil sebagai bahan diskusi kita. Anda bisa bertanya dan juga menjawab, sang moderator bila perlu duduk manis aja…

Khusus bagi teman-teman yang terkadang masih kurang memahami prihal karomah para Waliyulloh sehingga sempat salah sangka kepada amaliyah sesama orang beriman, bahkan mensyirikkan orang yang berziarah ke maqom para Waliyulloh, marilah kita mencoba mencari pemahaman dari sesama kita yang ada disini. Dengan niat yang baik kita bisa sharing dalam forum diskusi yang baik, barangkali dengan itu kita mendapatkan petunjuk dari Alloh untuk menerima keutamaan yang dianugerahkan Alloh kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

1. Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:
Pada suatu hari, di tahun 537 Hijrah, seorang lelaki dari kota Baghdad (dikatakan oleh sesetengah perawi bahawa lelaki itu bernama Abu Sa‘id ‘Abdullah ibn Ahmad ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Baghdadi) datang bertemu asy-Syaikh Jilani, dan berkata, bahwa dia mempunyai seorang anak dara cantik berumur enam belas tahun bernama Fatimah. Anak daranya itu telah diculik (diterbangkan) dari atas anjung rumahnya oleh seorang jin.
Maka asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun menyuruh lelaki itu pergi pada malam hari itu, ke suatu tempat bekas rumah roboh, di satu kawasan lama di kota Baghdad bernama al-Karkh.

“Carilah bonggol yang kelima, dan duduklah di situ. Kemudian, gariskan satu bulatan sekelilingmu di atas tanah. Kala engkau membuat garisan, ucapkanlah “Bismillah, dan di atas niat asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani ” Apabila malam telah gelap, engkau akan didatangi oleh beberapa kumpulan jin, dengan berbagai-bagai rupa dan bentuk. Janganlah engkau takut. Apabila waktu hampir terbit fajar, akan datang pula raja jin dengan segala angkatannya yang besar. Dia akan bertanya hajatmu. Katakan kepadanya yang aku telah menyuruh engkau datang bertemu dengannya. Kemudian ceritakanlah kepadanya tentang kejadian yang telah menimpa anak perempuanmu itu.”

Lelaki itu pun pergi ke tempat tersebut dan melaksanakan arahan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani itu. Beberapa saat kemudian datanglah jin-jin yang mencoba menakut-nakuti, tetapi jin-jin itu tidak kuasa melintasi garis bulatan itu. Jin-jin itu datang bergantian, kelompok demi kelompok. Dan akhirnya, datanglah raja jin yang sedang menunggang seekor kuda beserta satu angkatan yang besar dan hebat.

Raja jin itu memberhentikan kudanya di luar garis bulatan itu dan bertanya:  “Wahai manusia, apakah hajatmu?” Lelaki itu menjawab, “Aku telah disuruh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani untuk bertemu denganmu.”

Begitu mendengar nama asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani diucapkan, serta merta raja jin itu turun dari kudanya dan terus mencium bumi. Raja jin itu kemudian duduk di atas bumi, disertai dengan seluruh anggota rombongannya. Sesudah itu, raja jin itu telah bertanyakan masalah lelaki itu. Lelaki itu pun menceritakan kisah anak daranya yang diculik oleh seorang jin. Setelah mendengar cerita lelaki itu, raja jin itu pun memerintahkan agar dicari si jin yang bersalah itu. Beberapa waktu kemudian, dibawa ke hadapan raja jin itu, seorang jin lelaki dari negara Cina bersama-sama dengan anak dara manusia yang telah diculiknya.

Raja jin itu telah bertanya, “Kenapakah engkau sambar anak dara manusia ini? Tidakkah engkau tahu, dia ini berada di bawah naungan al-Quthb ?”
Jin lelaki dari negara Cina itu telah mengatakan yang dia telah jatuh berahi dengan anak dara manusia itu. Raja jin itu memerintahkan agar dipulangkan perawan itu kepada bapanya, dan jin dari negara Cina itu dikenakan hukuman pancung kepala.
Lelaki itu pun mengatakan rasa takjubnya dengan segala perbuatan raja jin itu, yang sangat patuh kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani.

Raja jin itu berkata pula, “Sudah tentu, karena asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bisa melihat dari rumahnya semua kelakuan jin-jin yang jahat. Dan mereka semua sedang berada di sejauh-jauh tempat di atas bumi, karena telah lari dari sebab kehebatannya. Allah Ta’ala telah menjadikan asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bukan saja al-Qutb bagi umat manusia, bahkan juga ke atas seluruh bangsa jin.”

2. Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:
Pada suatu hari, istri-istri asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani bertemu dengannya dan berkata, “Wahai suami kami yang terhormat, anak lelaki kecil kita telah meninggal dunia. Namun kami tidak melihat setitik air mata pun yang mengalir dari mata kekanda dan tidak pula kekanda menunjukkan tanda kesedihan. Tidakkah kekanda menyimpan rasa belas kasihan terhadap anak lelaki kita, yang merupakan sebagian darah daging kekanda sendiri? Kami semua sedang dirundung kesedihan, namun kekanda masih juga meneruskan pekerjaan biasa kekanda, seolah-olah tiada sesuatu pun yang telah berlaku. Kekanda adalah pemimpin dan pelindung kami di dunia dan di akhirat. Tetapi jika hati kekanda telah menjadi keras sehingga tiada lagi menyimpan rasa belas kasihan, bagaimana kami dapat bergantung kepada kekanda di Hari Pembalasan kelak?”

Maka berkatalah asy-Sayikh Abdul Qodir al-Jilani “Wahai isteri-isteriku yang tercinta! Janganlah kamu semua menyangka hatiku ini keras. Aku menyimpan rasa belas kasihan di hatiku terhadap seluruh makhluk, sampai terhadap orang-orang kafir dan juga terhadap anjing-anjing yang menggigitku. Aku berdoa kepada Allah agar anjing-anjing itu berhenti menggigit, bukan karena aku takut digigit, tetapi aku takut nanti manusia lain akan melontar anjing-anjing itu dengan batu. Tidakkah kamu mengetahui bahwa aku mewarisi sifat belas kasihan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang telah diutus Allah sebagai rahmat untuk sekelian alam?”

Maka wanita-wanita itu telah berkata pula, “Kalau benar kekanda mempunyai rasa belas kasihan terhadap seluruh makhluk Allah, sampai kepada anjing-anjing yang menggigit kekanda, kenapa kekanda tidak menunjukkan rasa sedih atas kehilangan anak lelaki kita yang telah meninggal ini?”

Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun menjawab, “Wahai isteri-isteriku yang sedang berdukacita, kamu semua menangis karena kamu semua merasa telah berpisah daripada anak lelaki kita yang kamu semua sayangi. Tetapi aku sentiasa bersama dengan orang-orang yang aku sayangi. Kamu semua telah melihat anak lelaki kita di dalam satu ilusi yang disebut dunia. Kini, dia telah meninggalkannya lalu berpindah ke satu tempat yang lain. Allah telah berfirman (Surat al-adid, ayat 20) “dan tiadaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah satu ilusi saja.” Memang dunia ini adalah satu ilusi, untuk mereka yang sedang terlena. Tetapi aku tidak terlena – aku melihat dan waspada. Aku telah melihat anak lelaki kita sedang berada di dalam bulatan masa, dan kini dia telah keluar darinya. Namun aku masih dapat melihatnya. Dia kini berada di sisiku. Dia sedang bermain-main di sekelilingku, sebagaimana yang pernah dia lakukan pada masa dahulu. Sesungguhnya, jika seseorang itu dapat melihat Kebenaran melalui mata hatinya, sama dengan yang dilihatnya masih hidup ataupun sudah mati, maka Kebenaran itu tetap tidak akan hilang.”

3. Telah bercerita asy-Syaikh Abduh Hamad ibn Hammam:
Pada mulanya aku memang tidak suka kepada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Walaupun aku merupakan seorang saudagar yang paling kaya di kota Baghdad waktu itu, aku tidak pernah merasa tenteram ataupun berpuas hati.
Pada suatu hari, aku telah pergi menunaikan solat Jum’at. Ketika itu, aku tidak mempercayai tentang cerita-cerita karomah yang dikaitkan pada asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Sesampainya aku di masjid itu, aku dapati beliau telah ramai dengan jamaah. Aku mencari tempat yang tidak terlalu ramai, dan kudapati betul-betul di hadapan mimbar.

Di kala itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani baru saja mulai untuk khutbah Jumaat. Ada beberapa perkara yang disentuh oleh asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani yang telah menyinggung perasaanku. Tiba-tiba, aku terasa hendak buang air besar. Untuk keluar dari masjid itu memang sukar dan agak mustahil. Dan aku dihantui perasaan gelisah dan malu, takut-takut aku buang air besar di sana di depan orang banyak. Dan kemarahanku terhadap asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun bertambah dan memuncak.

Pada saat itu, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah turun dari atas mimbar itu dan telah berdiri di hadapanku. Sambil beliau terus memberikan khutbah, beliau telah menutup tubuhku dengan jubahnya. Tiba-tiba aku sedang berada di satu tempat yang lain, yakni di satu lembah hijau yang sangat indah. Aku lihat sebuah anak sungai sedang mengalir perlahan di situ dan keadaan sekelilingnya sunyi sepi, tanpa kehadiran seorang manusia.
Aku pergi membuang air besar. Setelah selesai, aku mengambil wudlu. Apabila aku sedang berniat untuk pergi bersolat, dan tiba-tiba diriku telah berada ditempat semula di bawah jubah asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Dia telah mengangkat jubahnya dan menaiki kembali tangga mimbar itu.
Aku sungguh-sungguh merasa terkejut. Bukan karena perutku sudah merasa lega, tetapi juga keadaan hatiku. Segala perasaan marah, ketidakpuasan hati, dan perasaan-perasaan jahat yang lain, semuanya telah hilang.

Selepas sembahyang Jum’at berakhir, aku pun pulang ke rumah. Di dalam perjalanan, aku menyadari bahwa kunci rumahku telah hilang. Dan aku kembali ke masjid untuk mencarinya. Begitu lama aku mencari, tetapi tidak aku temukan, terpaksa aku menyuruh tukang kunci untuk membuat kunci yang baru.

Pada keesokan harinya, aku telah meninggalkan Baghdad dengan rombonganku karena urusan perniagaan. Tiga hari kemudian, kami telah melewati satu lembah yang sangat indah. Seolah-olah ada satu kuasa ajaib yang telah menarikku untuk pergi ke sebuah anak sungai. Barulah aku teringat bahwa aku pernah pergi ke sana untuk buang air besar, beberapa hari sebelum itu. Aku mandi di anak sungai itu. Ketika aku sedang mengambil jubahku, aku telah temukan kembali kunciku, yang rupa-rupanya telah tertinggal dan telah tersangkut pada sebatang dahan di situ.
Setelah aku sampai di Baghdad, aku menemui asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani dan menjadi anak muridnya.

4. Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:
Pada suatu hari, asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani berjalan-jalan dengan beberapa muridnya di padang pasir. Waktu itu hari sangat panas, dan mereka sedang berpuasa. Oleh itu mereka merasa letih dan dahaga.
Tiba-tiba, sekumpulan awan muncul, yang melindungi mereka dari panas terik matahari. Setelah itu, sebatang pohon kurma dan sebuah kolam air muncul di hadapan mereka. Mereka telah terpesona. Kemudian satu cahaya besar yang berkilauan, telah muncul dari celah awan di hadapan mereka dan kedengaranlah satu suara dari dalamnya yang telah berkata, “Wahai ‘Abdul Qadir, akulah Tuhanmu. Makan dan minumlah, karena pada hari ini, telah aku halalkan untuk engkau apa yang telah aku haramkan untuk orang-orang lain.”

Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani pun melihat ke arah cahaya itu dan berkata, “Aku berlindung dengan Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”
Tiba-tiba, cahaya, pohon kurma dan kolam itu semuanya hilang dari pandangan mata. Maka kelihatanlah Iblis di hadapan mereka dengan bentuk rupanya yang asli.
Iblis bertanya, “Bagaimanakah engkau dapat mengetahui itu sebenarnya adalah aku?”
Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani telah menjawab, “Syariat itu sudah sempurna, dan tidak akan berubah sampai Hari Kiamat. Allah tidak akan mengubah yang haram kepada yang halal, walaupun untuk orang-orang yang menjadi pilihanNya (waliNya).”

Maka Iblis pun berkata lagi untuk menguji asy-Sayikh Abdul Qodir al-Jilani “Aku telah mampu menipu 70 kaum daripada golongan as-salikin (yakni orang-orang yang menempuh jalan kerohanian) dengan cara ini. Ilmu yang engkau miliki lebih luas daripada ilmu mereka. Apakah hanya ini jumlah pengikutmu? Sudah sepatutnya semua penduduk bumi ini menjadi pengikutmu, karena ilmumu menyamai ilmu para nabi.”

Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani menjawab, “Aku berlindung dengan Allah Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mengetahui, daripada engkau. Bukanlah karena ilmuku aku terselamat, tetapi karena rahmat daripada Allah, Pengatur sekelian alam.” (Malfiali, Maret 2009. Diambil dari beberapa sumber)

SYARAH HIKAM (Jalan Menuju Wushul kepada Alloh)

Posted in Hikam, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 6 Maret 2009 by malfiali

Syarah Hikam

JALAN MENUJU WUSHUL KEPADA ALLAH TA’ALA

لَوْاَنَّكَ لَاتَصِلُ اِلَيْهِ اِلَّا بَعْدَ فَنَاءِ مَسَاوِيْكَ وَمَحْوِ دَعَاوِيْكَ لَمْ تَصِلُ اِلَيْهِ اَبَدًا وَلَكِنْ اِذَا اَرَادَ اَنْ يُوَصِّلَكَ اِلَيْهِ غَطَّى وَصْفَكَ بِوَصْفِهِ وَنَعْتَكَ بِنَعْتِهِ فَوَصَّلَكَ اِلَيْهِ بِمَا مِنْهُ اِلَيْكَ لَابِمَا مِنْكَ اِلَيْهِ.

Jika sekiranya engkau tidak dapat wushul kepada Allah kecuali setelah fananya segala kemauan syahwat dan bersihnya sifat pengakuanmu, maka engkau tidak akan dapat wushul selama-lamanya. Akan tetapi jika Allah berkehendak mewushulkanmu kepada-Nya, maka Allah menutup sifatmu dengan sifat-Nya dan kebiasaanmu dengan kebiasaan-Nya. Allah mewushulkanmu kepada-Nya dengan sesuatu dari-Nya kepadamu bukan dengan sesuatu darimu kepada-Nya.

Dalam buku manaqibnya, Lujjaini Daany, As-Syekh Abdul Qodir al-Jilani r.a berkata: “Seseorang hatinya tidak akan dibuka untuk berma’rifat dengan Allah SWT kecuali mereka yang hatinya kosong dari pengakuan manusiawi dan keresahan kehidupan”.

Konsep yang ditawarkan asy-Syekh Ahmad Ibnu Athaillah r.a di atas; Apabila Allah berkehendak mewushulkanmu kepada-Nya maka Allah menutup sifatmu dengan sifat-Nya dan kebiasaanmu dengan kebiasaan-Nya, Allah mewushulkanmu kepada-Nya dengan sesuatu dari-Nya kepadamu bukan dengan sesuatu darimu kepada-Nya. Maksudnya; konsep itu adalah konsep secara hakikat. Yakni ketika Allah berkehendak membuka hati hamba-Nya untuk menerima nur ma’rifat dari-Nya, maka Allah yang menurunkan nur itu dari atas ke bawah. Artinya pemahaman akan urusan ketuhanan itu semata hanya terbit dari kehendak-Nya yang azali.

Adapun konsep yang ditawarkan oleh asy-Syekh Abdul Qodir al-Jilani r.a adalah konsep secara syar’i. Yakni metode yang harus dilakukan seorang hamba supaya hatinya mendapatkan futuh untuk menerima nur ma’rifat dari Ma’budnya. Kehendak tersebut harus dimulai oleh seorang hamba dari bawah mendaki keatas untuk menggapai karunia-karunia tuhannya.

******************

Seorang hamba wajib memulai terlebih dahulu untuk wushul kepada tuhannya. Mereka harus mendaki ke atas, dengan ibadah lahir untuk mengembarakan ruhaniyah. Namun demikian ibadah lahir itu hanya sebagai perwujudan pengabdian yang hakiki kepada-Nya. Dengan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah. Mereka mensucikan diri baik lahir maupun batin dari segala kotoran basyariyah yang menjadikannya terhalang wushul kepada Allah Rabbul Alamiin.

Dengan mujahadah tersebut, seperti orang melaksanakan meditasi, mereka berusaha mengembalikan seluruh kehendak hadits secara manusiawi untuk dipertemukan kepada kehendak Allah yang azaliyah. Apabila di dalam perjalanan itu Allah berkehendak membuka pintu hati hamba-Nya, maka kehendak-Nya yang azali itu akan diturunkan ke bawah sehingga dua kehendak yang berbeda itu bertemu di tengah jalan. Kehendak yang satu mendaki dan yang satunya menurun.

Allah Maha Kuasa dengan segala kehendaknya: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. QS:81/29. Jika usaha seorang hamba dibiarkan saja tanpa ada fasilitas dan penerimaan dari atas sebagai karunia Allah, atau hanya dengan usahanya sendiri seorang hamba berusaha dapat wushul kepada tuhannya. Dengan itu mereka harus membersihkan segala pengakuan nafsu dan keresahan-keresahan hatinya, maka selamanya mereka tidak akan dapat wushul kepada tuhannya.

Sebabnya; “Apabila Allah berkehendak mewushulkanmu kepada-Nya, Allah menutup sifatmu dengan sifat-Nya dan kebiasaanmu dengan kebiasaan-Nya, maka Allah mewushulkanmu kepada-Nya dengan sesuatu dari-Nya kepadamu bukan dengan sesuatu darimu kepada-Nya”. Ketika manusia mampu memfanakan kemauan dan amaliyahnya yang hadits, maka sifat basyariyah yang fana dalam dimensi fana itu akan menjadi sifat yang qodim di dalam kefanaan. Hal itu bisa terjadi, karena yang fana telah ditutupi oleh sifat-sifat-Nya yang qodim. Itu sesungguhnya semata-mata terjadi karena kehendak Allah yang azali. Meski secara lahir kehendak yang azali itu seakan terbit dari kehendak manusia yang hadits.

Allah yang menciptakan seluruh makhluk dengan kehendaknya yang azali. Ketika makhluk itu berkehendak dalam dimensi yang hadits, maka kehendak itu tentunya terbit dari kehendak-Nya yang azali tersebut. Hanya saja karena manusia sebagai kholifah bumi. Dengan hak huriyatul irodah atau kebebasan memilih yang mereka miliki. Manusia harus berkehendak dan berbuat. Bagi orang yang matahatinya tertutup, kehendaknya itu seakan tidak ada hubungan sama sekali dengan kehendak Penciptanya. Hal itu seperti itu bisa terjadi, penyebabnya karena matahati orang tersebut belum mendapatkan futuh dari tuhannya.

Pahit Selalu Obat, Meski Obat Tidak Selalu Pahit.

Manusia harus memulai dengan kehendak dan amal yang dilakukan. Mereka harus bermujahadah di jalan Allah untuk membersihkan hatinya dari kotoran manusiawi supaya Allah membuka pintu hati itu untuk menerima nur ma’rifat dari-Nya. Padahal orang tidak dapat membersihkan dirinya dari kotoran kecuali setelah hati itu terlebih dahulu kotor. Jika jiwa manusia tidak kotor, apa yang harus dibersihkan darinya ???.

Oleh karena itu keresahan hidup di dunia, seperti akibat difitnah, dihina dan dihianati. Keresahan seperti itu di dalam dada seorang hamba yang beriman mutlak harus ada. Meskipun keresahan itu sejatinya terbit dari akibat perbuatan dosa yang mereka lakukan. Keresahan hidup itu adalah obyek yang harus dibersihkan dari hati orang beriman. Namun demikian keresahan itu harus benar-benar mampu dibersihkan. Jika tidak, berarti hati mereka selamanya tidak akan mendapatkan futuh dari tuhannya.

Ketika seorang hamba yang arifin sadar bahwa ia harus berbuat benah-benah. Mereka harus menggosok segala keresahan yang ada di dalam hatinya, baik keresahan yang terbit akibat perbuatan maksiat maupun akibat kemusykilan hati terhadap prilaku dan sikap umatnya yang terkadang menyakitkan hati. Mereka menghadapkan kesakitan dan kekecewaan hati itu kepada kemurahan Allah. Menggosok penyakit hati itu dengan dzikir dan mujahadah, mengembalikan segala keresahan di alam fana kepada hakekat pengaturan-Nya secara azaliyah di alam qodim. Hasilnya, keresahan itu sedikit demi sedikit akan mengalir keluar dari tempatnya bagaikan air sungai yang tercemar keluar menuju muara.

Keresahan hati itu kemudian ditampung oleh keluasan air samudera yang suci lagi jernih. Ketika air yang kotor dan najis itu telah bersatu dalam kesatuan air samudera yang luas, maka yang kotor dan najis itu akan kembali menjadi bersih dan suci. Ketika keresahan hati yang sempit telah ditampung oleh ilmu Allah yang maha luas, maka keresahan sesaat akan menjelma menjadi kedamaian yang abadi. Keadaan tersebut bukan karena najis yang sedikit itu menjadi hilang ketika ditelan air samudera, akan tetapi menjadi tawar setelah menjadi bagian dalam kesatuan yang tidak terbatas.

Itulah gambaran isi dada seorang ulama sejati. Setiap saat harus menampung kesusahan umatnya sehingga isi dadanya hanya dipenuhi kotoran manusiawi. Rongga dada mereka hanya dipenuhi urusan dan kesusahan orang lain sampai-sampai melupakan kesusahannya sendiri. Namun demikian, apabila proses kesucian hati ternyata harus dimulai dari kotoran basyariyah, maka kotoran yang mengotori hati seorang hamba yang arifin tersebut, setelah kotoran itu mampu membangkitkan kesadaran yang hakiki akan kedho’ifan dan kehina’an diri, berarti kotoran itu sejatinya adalah rahmat yang didatangkan dari kehendak yang azali pula.

Apabila dengan kotoran manusiawi itu ternyata mereka menjadi orang yang tawadhu’ di hadapan Allah maupun kepada sesama makhluk. Kotoran itu mampu menumbuhkan rasa takut yang kuat kepada keadilan Rabbul Alamin. Membangkitkan harapan dalam kekuatan azam untuk bertaubat dengan taubatan nasuha. Melahirkan semangat untuk berbuat benah-benah dan meningkatkan amal sholeh serta pengabdian. Maka datangnya kotoran itu akan menjadi lebih baik daripada datangnya kebersihan hati orang lalai yang dapat mengakibatkan tertutupnya pintu taubat dan malas menjalankan ibadah.

Nabi Adam a.s mendapat musibah dengan diturunkan oleh Allah dari maqom kemuliaan di surga kepada maqom kehinaan di dunia adalah sebab dosa yang diperbuatnya. Demikian juga Nabi Yunus a.s ditahan di dalam perut ikan di dalam lautan dalam waktu yang lama, sebab kesalahan yang diperbuatnya dan juga kaum Tsamud dihancurkan hingga sama rata dengan tanah. Itu semua akibat dosa-dosa yang mereka perbuat. Allah telah mengabarkan keadaan kaum Tsamud dengan firman-Nya: “Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyamaratakan mereka (dengan tanah)”. QS:91/11.

Dosa pertama dan kedua seperti juga dosa yang ketiga. Meskipun dosa-dosa tersebut sama-sama menjadikan sebab datangnya musibah, namun musibah yang diakibatkan dosa pertama dan kedua adalah musibah yang menjadikan hati seorang hamba menjadi suci dan bersih. Sedangkan dosa yang ketiga adalah dosa yang menyebabkan tertutupnya pintu do’a dan pintu taubat. Dosa yang pertama dan kedua adalah dosa yang terbit dari hati seorang hamba yang beriman dan tidak berdaya sedangkan dosa yang ketiga adalah dosa yang muncul dari hati orang yang kafir dan menentang.

Meskipun ketiganya sama-sama dosa yang dapat berakibat datangnya musibah, tetapi oleh karena dosa tersebut terbit dari hati yang berbeda, hasil akhirnya juga menjadi berbeda. Musibah yang pertama dan kedua menjadi sebab seorang hamba menjadi mulia sedangkan musibah yang ketiga menjadi sebab kehancuran suatu kaum hingga rata dengan tanah. Namun demikian, hendaknya setiap individu takut kepada Allah untuk berbuat dosa dan kesalahan. Hal itu disebabkan, ketika seseorang sudah terlanjur berbuat dosa dan kesalahan, berarti ia telah mendaftarkan dirinya menjadi “Orang daftar tunggu”. Orang yang berbuat dosa tersebut hanya menunggu dua kemungkinan, menerima musibah di dunia atau siksa yang pedih di akhirat, kecuali apabila Allah berkehendak mengampuni dosa-dosa orang tersebut.

Meskipun Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Rahmat Allah lebih besar daripada dosa hamba-Nya. Namun demikian, tidak ada seorangpun dapat mengetahui bahwa dosa-dosa yang mereka perbuat akan mendapat pengampunan dari-Nya. Yang pasti, tidak ada satupun perbuatan dosa ditolak dan lepas dari perhitungan di hadapan keadilan-Nya. Dosa sekecil apapun, di hadapan keadilan Allah akan diperhitungkan dengan seadil-adilnya. Kita berlindung dengan-Nya dari kejahatan dan kejelekan yang terjadi. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS.An-Nur(24);21)

Yang mengotori hati seorang hamba adalah kehendaknya sendiri dalam mengikuti langkah-langkah setan di dalam perbuatan keji dan mungkar. Sedangkan yang mensucikan hatinya adalah pengampunan dan rahmat Allah serta kehendak-Nya di dalam memfasilitasi segala amal ibadah. Meskipun seorang hamba berusaha sekuat tenaga untuk mensucikan hatinya dari akibat dosa yang telah diperbuat, seandainya tidak ada karunia Allah kepadanya, selamanya hati itu tidak akan kembali menjadi suci seperti sediakala.

Jadi, jalan menuju wushul itu bukan hanya dengan ibadah dan mujahadah saja, tetapi juga dengan merasa berdosa sehingga orang bertaubat kepada Allah. Namun demikian, dengan jalan-jalan tersebut manusia harus mampu fana diri di hadapan Allah. Di dalam perjalanan itu mereka harus mampu mengembalikan segala kehendak dan amal yang hadits kepada kehendak dan amal Allah yang qodim. Apabila dengan itu Allah berkehendak menurunkan futuh kepada hamba-Nya, maka seorang hamba dengan segala pengembaraannya akan berhasil wushul kepada tuhannya.

Namun demikian, yang menjadikan sebab wushul itu bukan kehendak dan amal ibadah seorang hamba, tetapi karena kehendak dan amal ibadah itu sejatinya hanya terbit dari kehendak Allah yang azali. Tanda-tandanya, ketika seorang hamba mampu melebur kehendaknya yang hadits kepada kehendak Allah yang qodim dalam kesatuan amal yang dilakukan., maka berarti amal tersebut dilakukan oleh seorang hamba yang akalnya di bumi dengan menggunakan konsep bumi sedangkan hatinya di langit dengan menggunakan konsep langit. Itulah tanda-tanda manusia yang sempurna. (malfiali, Maret 2009)

FENOMENA “PENGOBATAN ALA RASULULLAH” – Bagaimana Menurut Anda ??

Posted in cerita dengan kaitan (tags) on 2 Maret 2009 by malfiali

Ini ada Tanya & Jawab menarik di Milis, tidak ada salahnya bila kita ikut memberikan kepedulian dalam bentuk pandangan yang ilmiyah atau sekedar sharing untuk menambah kekayaan wawasan kita dalam menyikapi hidup dan kehidupan.

From: ……..
To: Tahajud-community@yahoogroups.com
Sent: Sunday, March 1, 2009 1:40:32 AM
Subject: [Tahajud-community] Fwd: Pengobatan Ala Rasulullah

Mohon maaf, saya memforward pertanyaan salah satu teman di milis yang saya ikuti. Saya  tertarik dengan pertanyaannya yang kritis. Saya juga ingin mendengar tanggapan teman2 di TC, mungkin ada yang bisa mencerahkan pertanyaan beliau ini? :

Mohon maaf ya ikhwan dan ukhti, saya anggota baru di milis ini,

Saya ingin tanya sesuatu hal berkaitan dengan materi pengajian di kampung saya malam ini. Dalam suatu sessi tanya jawab, ustadz di pengajian ini membahas tentang fenomena yang saat ini berkembang, yakni metode pengobatan ala Rasulullah. Beliau bilang bahwa fenomena yang merebak belakangan ini dimana banyak yang mengiklankan metode pengobatan ala Rasulullah dengan menggunakan bekam, madu, jinten hitam dan lainnya itu sebagai kesalahan paradigma dalam memahami suatu ayat atau hadits. Saya agak terusik dengan statemen itu lalu saya tanya, “Lho, bukannya itu emang ada haditsnya, ya ustadz? Bukankah kalo ada haditsnya, berarti emang Rasulullah telah mendapatkan tuntunan dari Allah tentang metode pengobatan itu ?”.
Saya agak kaget mendengar Ustadz itu menjawab,”Apakah anda akan mengatakan bahwa Nabi Muhammad diutus ke dunia untuk menjadi dokter?”. Saya menjawab,”Tentu saja tidak, ya ustadz, tapi apa salahnya kita menggunakan metode beliau untuk mengobati sesuatu penyakit? Kemaren saya lakukan bekam dan terus terang habis itu badan saya emang segar”.
Beliau menjawab,”Salah sih enggak. Cuman aneh saja. Karena ini kita bicara soal teknologi kedokteran. Jaman Rasulullah gak mungkin Rasulullah membuat suntik, rontgen, infus, operasi, dan lain sebagainya kepada pasien. Karena emang teknologi pada waktu itu masih sangat tradisional dan belum sampai pada level seperti saat ini. Ini sama saja dengan saat ini kita udah menggunakan roket, pesawat dan jet lantas dibandingkan dengan kendaraan unta atau kuda yang digunakan pada jaman itu, begitu lanjut ustadz.
Saya masih penasaran lalu bertanya lagi,”Maafkan saya, Ustadz. Setahu saya dalam riwayat-riwayat yang pernah saya dengar, bukankah Rasulullah selama hidupnya baru sakit selama 2 kali, yakni waktu perang uhud dan waktu menjelang wafatnya. Artinya itu kan menandakan bahwa metode pengobatan Rasulullah itu emang sahih”.
Beliau menjawab,”Saya kira ini bukan soal sahih enggaknya. Jaman dulu belum ada penyakit kanker, stroke, jantung dan lain sebagainya. Kenapa? Karena belum banyak polusi, belum ada unsur2 kimiawi dalam makanan dan lain sebagainya. Jangankan jaman Rasulullah. Orang yang hidup di gunung saja umurnya bisa lebih lama dibandingkan dengan mereka yang tinggal di kota. Dan mereka yang tinggal di gunung juga jarang opname di rumah sakit karena emang gak ada rumah sakit.
Lalu gimana dengan banyak kalangan yang menawarkan pengobatan alternatif metode Rasulullah itu Pak? Begitu pertanyaan saya terakhir. Kata beliau, bukan gimana-gimana. Mereka sah-sah saja untuk berpromosi. Tapi janganlah mempergunakan sesuatu ayat dengan tujuan untuk motif dagang, karena itu sama saja dengan memperdagangkan ayat. Kalaupun tidak bermaksud memperdagangkan ayat, menurut saya itu kesalahan paradigma berpikir dalam memahami ayat.
Wah, saya benar-benar dalam bingung mendengar pendapat ustadz ini. Karena kebingungan itulah maka hal ini saya lempar ke milis ini untuk mendapatkan masukan dari teman-teman.
Terima kasih sebelumnya atas masukan ikhwan ukhti sekalian untuk mengurangi kebingungan saya ini.

Jawaban:

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Sebelumnya saya mohon maaf bila tanggapan saya salah.

Dari cerita Mas Taufiq tersebut, saya sepakat yang ini: “Tapi janganlah mempergunakan sesuatu ayat dengan tujuan untuk motif dagang, karena itu sama saja dengan memperdagangkan ayat”. Namun ada lagi yang lebih memalukan dan lebih membahayakan bagi kemurnian akidah Islamiyah, yaitu pengobatan mempergunakan merek “Ala Rasulullah” padahal tujuannya supaya orang datang berobat di tempat itu. Ini berarti menjual kebesaran nama Rasululloh untuk kepentingan uang recehan.
Betapa sangat na’if jika kebesaran Nama Rasulullah SAW itu hanya dijadikan merek dagang untuk sekedar mendapatkan uang kecil. Barangkali kalau mereka menggunakan istilah pengobatan Islami, saya kira itu lebih halus, meski itu juga berarti menjual Islam untuk tujuan komersil yang akan berdampak membahayakan bagi dirinya sendiri baik di dunia maupun di akhirat.

Orang-orang yang gampang menjual kebesaran Islam untuk tujuan komersial, semisal mengatasnamakan syari’at, seperti “BANK SYARI’AT, Ruqyah syar’iyah, BMT-BMT yang dengan simbol Islami, seperti BMT Ben Takwah dll yang semuanya itu belakangan ini lagi marak di mana-mana bagai jamur di musim penghujan, terlebih lagi dengan menyebut “Ala Rasululloh” (Pengobatan Ala Rasululloh), jika pelakunya tidak menggunakan akhlak Rasul/Islami, bisa-bisa mereka itu malah cenderung terjebak dalam perbuatan munafik. Dalam arti berwajah ganda, mukanya cantik tapi dalamnya busuk.

Jika itu benar, maka inilah pertanda yang menujukkan bahwa belakangan ini iman teman-teman kita itu memang hanya untuk dijadikan penutup muka saja sedangkan rongga dada mereka penuh dengan kemunafikan, bahkan yang lebih parah lagi, menjual iman dan kebesaran nabinya hanya untuk mendapatkan penghasilan duniawi/uang recehan.

Jika hal seperti ini kita biarkan terus berjalan tanpa ada peringatan dari kita sendiri, maka jangan salahkan lagi jika dalam waktu dekat akan bermunculan tempat kemaksiatan yang menggunakan lambang Islami, semisal ‘discotik syariyah’ atau klab malam berlambangkan Islami atau syar’iyah. Wal Iyadzu Billah. (http://ponpesalfithrahgp.wordpresscom)

Bagaimana menurut pendapat teman-teman….???

(malfiali, maret 2009)

SYARAH HIKAM (Usaha Penyembuhan Bagi yang Tersembunyi)

Posted in Hikam, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 1 Maret 2009 by malfiali

syarah hikam

Penyembuhan Bagi yang Tersembunyi

حَظٌّ النَّفْسِ فِى المَعْصِيَةِ ظَاهِرٌ جَلِىٌّ وَحَظَّهَا فِى الطَّاعَةِ بَاطِنٌ خَفِىٌّ وَمُدَاوَاةُ مَا يَخْفَى صَعْبٌ عِلَاجُهُ . رُبَّمَا دَخَلَ الرِّيَاءُ عَلَيْكَ مِنْ حَيْثُ لَايَنْظُرُ الخَلْقُ اِلَيْكَ.

Keuntungan nafsu dalam perbuatan maksiat tampak jelas dan keuntungan nafsu dalam perbuatan taat tersembunyi dan samar. Usaha penyembuhan bagi yang samar sangat sulit cara pengobatannya. Kadang-kadang riya’ masuk kepadamu dari arah yang tidak dapat terlihat oleh makhluk kepadamu.

Dalam segala hal yang dilakukan manusia, baik perbuatan maksiat maupun taat, peran nafsu selalu tidak mau ketinggalan di dalamnya. Peran nafsu dalam perbuatan maksiat sangat jelas. Hal itu karena perbuatan maksiat selalu sejalan dengan kehendak nafsu sahwat. Berbeda dengan perbuatan taat, oleh karena perbuatan taat itu tidak sejalan dengan kehendak nafsu, maka peran nafsu di dalamnya sangat samar. Nafsu bisa mengajak orang berbuat riya’ meski perbuatan itu dilakukan tidak dihadapan manusia, semisal ketika dengan perbuatan taat itu manusia ingin menjadi orang unggulan. Oleh sebab itu, pengobatan peran nafsu dalam perbuatan taat jauh lebih berat daripada pengobatan nafsu di dalam perbuatan maksiat.

Tiga perangkat (instrumen) kehidupan manusia, yakni emosional rasional dan spiritual, ketiganya merupakan sarana hidup yang harus mampu dihidupi dan dipelihara serta digunakan oleh manusia secara benar dan tepat. Kehidupan masing-masing sarana tersebut, harus mampu dijaga dan dipelihara dengan baik, agar kehidupan manusia dapat berjalan dengan sehat dan seimbang.

Emosional terdiri dari dua bagian yakni nafsu dan hawa. Rasional juga dua bagian yaitu akal dan fikir dan spiritual juga demikian, yaitu hati dan ruh. Masing-masing bagian tersebut berfungsi sebagai indera manusia. Manusia harus mampu memanfaatkan indera-indera tersebut sesuai kapasitas dan batas-batas yang ada. Indera manusia tersebut, seperti nafsu dan hawa, sejatinya adalah suatu sistem kehidupan yang mempunyai cara hidup tersendiri yang mampu membangkitkan energi untuk mendorong kehidupan manusia.

Sebagai contoh, apabila sistem kehidupan yang ada di dalam nafsu dan hawa tidak dapat dikendalikan manusia dengan baik, niscaya kehidupan manusia berbalik akan dikendalikan oleh nafsu dan hawanya. Untuk itu, pertama yang harus dilakukan manusia adalah mengenali indera-inderanya sendiri. Itu merupakan bagian dari upaya supaya manusia mampu mengenali jati dirinya sendiri. Manusia harus mengenal dengan baik sifat-sifat segala perangkat kehidupan tersebut, selanjutnya manusia harus dapat mengendalikannya dengan baik pula.

Masing-masing instrumen kehidupan tersebut akan mengajak manusia untuk mengikuti kemauan mereka. Namun dari ketiga perangkat itu hanya nafsu dan hawa yang cenderung mengajak manusia berbuat kejelekan. Allah s.w.t menegaskan dengan firman-Nya:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS.Yusuf(12);53).

Apabila manusia mampu menahan dan mengendalikan ajakan nafsunya dari dorongan hawa, itu dilaksanakan semata-mata karena takut kepada Allah, niscaya manusia akan mendapat kebahagiaan hidup yang abadi. Allah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya – maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya) (QS.An-Naziaat(79);40-41).

Menahan nafsu dari hawa itu bisa dilaksanakan manakala orang mampu mengendalikan kehidupan¬nya dengan kekuatan hati dan ruh, itulah tanda-tanda orang yang bertakwa. Itu disebabkan karena hati dan ruh (spiritual) selalu mengajak manusia untuk berbuat kebaikan. Adapun fungsi rasional, kedudukannya berada di tengah-tengah antara ajakan emosional dan ajakan spiritual. Apabila rasional mengikuti kehendak nafsu dan hawa, maka apapun yang dikerjakan manusia, meski itu perbuatan taat dan ibadah,  ujung-ujungnya pasti kejelekan.

Selanjutnya, kebaikan yang didasari nafsu dan hawa tersebut bahkan dapat menjadi muasal terjadinya kehancuran total di muka bumi. Hal itu bisa terjadi, karena peran nafsu di dalam amal kebaikan itu sangat tersembunyi. Sebagian besar orang hanya melihat kebaikan yang didilakukan secara lahir, mereka tidak mengetahui yang dibungkus dengan kebaikan lahir itu ternyata kemauan hawa nafsu secara batin. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya :

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”(QS.Al-Mu’minun(23);71).

Ketika manusia sedang berbuat maksiat, mereka lebih mampu menjaga diri agar nafsunya tidak terlalu larut dalam kemungkaran. Hal itu karena peran nafsu di dalam perbuatan maksiat dominan kelihatan. Berbeda disaat manusia berbuat taat. Oleh karena peran nafsu di dalam perbuatan taat tersembunyi dan samar. Jarang manusia sadar bahwa sesungguhnya yang mendasari perbuatan taat itu hanyalah dorongan nafsu belaka, maka sulit baginya untuk dapat mengendalikan nafsu itu dengan baik, kecuali apabila akibat dari perbuatan maksiat tersebut sudah dirasakan dalam bentuk musibah.

Meski secara lahir dasar kebajikan yang dilakukan oleh manusia tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Namun tanda-tandanya sejatinya dapat dibaca. Yakni, apabila manusia selalu berlebihan dalam berbuat, meski itu perbuatan taat, itu pertanda bisa jadi yang mendasari perbuatan tersebut adalah nafsu sahwat. Allah telah menyampaikan konsep tersebut dengan firman-Nya:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Jangan engkau ikuti orang yang Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”(QS.Al-Kahfi(18);27).

Maksud ayat, ketika hati manusia sedang lupa berdzikir atau ingat kepada Allah, berarti saat itu—apapun yang diperbuat—manusia sedang mengikuti kehendak hawa nafsunya. Ketika kehidupan spiritual sedang terlupakan hingga powernya menjadi lemah, berarti indera emosianal yang menjadi motor kehidupan manusia. Saat itu segala urusan manusia menjadi berlebihan. Akibat dari itu, manusia akan terjerumus kepada keasyikan dan kezaliman yang melalaikan.

Bahkan di dalam pelaksanakan ibadah dan mujahadah sekalipun, tanpa terasa seringkali manusia melaksanakannya hanya dengan dasar dorongan nafsu belaka. Mereka tergesa-gesa ingin cepat mendapatkan apa-apa yang diharapkan dari tuhannya. Mereka menganggap ibadah tersebut dilakukan hanya terbit dari kemauan dan kemampuannya sendiri, tidak sadar bahwa saat itu seharusnya hanya didasari rasa spiritual. Yakni hanya ikhlas semata mengabdi kepada Allah, serta semata-mata karena taufiq dan hidayah Allah ibadah itu dapat dilaksanakan.

Ketika ibadah yang dilakukan itu ternyata telah terpeleset jauh dari landasan utama. Ibadah itu hanya didasari dengan semangat emosional belaka. Yakni keinginan nafsu sahwat yang ujung-ujungnya hanyalah keuntungan duniawi. Bahkan bukan hanya sekedar untuk mendapat keuntungan secara finansial saja, tetapi juga lebih jauh dari itu. Yakni dengan kekuatan finansial mereka mencari kehormatan dan kebanggaan di jalan ibadah yang dilakukan itu. Akibatnya, ibadah tersebut justru akan menjerumuskan manusia kepada kehancuran yang hakiki

Hal itu disebabkan, oleh karena semangat ibadah tersebut hanya didorong kekuatan emosional belaka, maka manusia cenderung berbuat berlebihan dan terjebak kepada perangkap setan. Akibat dari itu, timbul pengakuan di dalam hatinya, bahwa ia telah mampu melaksanakan ibadah yang tidak semua orang bisa melakukannya. Dari pengakuan nafsu seperti itu kemudian terbit sifat sombong. Yakni, oleh karena menganggap dirinya mendapat derajat disisi Allah, maka ia merasa derajatnya lebih tinggi daripada derajat orang lain. Dengan perasan seperti itu manusia menjadi bangga bahwa ia dapat mencapai suatu kelebihan yang orang lain tidak dapat memilikinya. Padahal perasaan itu sejatinya hanya hasil bisikan dan tipu-daya setan untuk menyesatkan hatinya dari jalan ibadah yang sesungguhnya. Allah menegaskan yang demikian dengan firman-Nya :

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ

“Dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk”(QS.An-Naml(27);24).

Setan menghiasi amal ibadah yang dijalani manusia supaya mereka memandang baik kepada dirinya sendiri. Dengan demikian itu tanpa terasa manusia telah terhalang dari jalan Allah. Selanjutnya manusia tidak akan mendapatkan hidayah dari-Nya dan akan tersesat dari jalan yang lurus. Kita mohon perlindungan dengan Allah darinya.

Ketika dengan ibadahnya manusia merasa telah mendapatkan kemuliaan disisi Allah. Mereka merasa mendapatkan kelebihan-kelebihan atau karomah-karomah. Merasa bisa mermakrifat kepada-Nya, selanjutnya mereka menuntut orang lain untuk memuliakan dirinya. Sebagai contoh, jika belanja di pasar misalnya, mereka minta diberi harga yang lebih murah daripada orang lain. Jika duduk bersama dengan orang lain mereka minta ditempatkan di depan. Jika sholat jama’ah minta menjadi imam.

Mereka merasa hanya dirinya yang paling pantas menjadi pemimpin. Akibatnya, mereka selalu berusaha menjadi pimpinan dalam komunitasnya. Keinginan itu diupayakan dengan sungguh-sungguh, bahkan dengan menghalalkan segala cara, hingga akhirnya mereka tersebut terjebak kepada perbuatan fasik dan munafik.

Terlebih ketika kedudukannya dalam masyarakat merasa disaingi dengan orang baru. Untuk menjatuhkan lawan saingannya itu, provokasi ditebarkan dan fitnah-fitnah yang keji disebarluaskan. Akibatnya, perbuatan-perbuatan yang seharusnya tidak pantas dilakukan oleh orang yang ahli ibadah dibudayakan. Kalau sudah demikian keadaannya, sulit baginya untuk dapat memperbaiki diri, meski ia telah sadar bahwa dirinya telah jauh terjerumus di dalam kepekatan hawa nafsunya sendiri. Hal itu karena yang ada dalam hatinya hanya bara api dendam dan kemunafikan yang mencengkeram di dalam rongga dada.

Kemunafikan itu akhirnya akan menjelma menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak menjadi konflik yang berkepanjangan. Yang asalnya hanya sepercik api nafsu syahwat yang terlanjur diperturutkan dalam pelaksanaan ibadah, setelah hawa nafsu itu dikemas dalam kebajikan, hasilnya mampu menjelma menjadi penyakit yang mengakar kuat dalam bentuk karakter yang merugikan.

Ketika api kesombongan telah diguratkan oleh hawa nafsu di dalam karakter dan jiwa, dan diri merasa paling mulia, merasa sudah menjadi orang khowas dan yang paling utama. Dengan kelebihan-kelebihan yang diberikan Allah tersebut bukannya menjadikan hati semakin tawadhu’ dan rendah diri dengan penuh rasa syukur atas pemberian, melainkan menjadikan semakin bertambah lupa diri serta merasa menjadi yang paling dikasihi dan difasilitasi. Mereka bahkan mengaku menjadi kekasih-kekasih Allah yang dicintai, sebagaimana yang pernah terjadi dalam sejarah umat terdahulu yang telah diabadikan Allah dengan firman-Nya :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”(QS.Al-Ma’idah(5);18).

Kelebihan-kelebihan yang didatangkan Allah kepada dirinya yang semestinya hanyalah sebagai buah amal ibadah tersebut malah dimanipulasi sebagai kelebihan milik pribadi. Mereka memutus diri kepada yang menyebabkan sebab-sebab, akibatnya merasa menjadi orang sakti mandraguna tanpa sebab.

Kesaktian yang diyakini itu kemudian dipertahankan dengan segala cara, baik dengan mujahadah maupun riyadhah yang didawamkan. Dengan itu supaya mereka tetap dianggap orang yang mempunyai karomah. Supaya karomah yang dimiliki itu tetap cemerlang dan tidak pernah padam. Akibatnya, jika dahulu ketika malam-malam sepi selalu digunakan untuk munajat kepada Junjungan Yang Maha Pemurah, bersyukur atas segala anugerah, menyerahkan segala kerendahan dan kelemahan diri di hadapan keagungan dan kekuasaan Allah, memohon ampunan dari segala dosa dan kesalahan dihamparan samudera maghfiroh dan rahmah-Nya, menangis karena merasa lemah dalam melaksanakan kesempurnaan pengabdian yang harus dijalani. Kini, malam-malam itu dijadikan hanya untuk pamer kesombongan diri. Melebur diri dengan sifat riya’ dan ujub di malam sepi tanpa saksi. Bersimpuh mengejar bayangan untuk mempertahankan linuwih yang ada dalam angan-angan. Wirid-wirid dan mujahadah malam yang dilaksanakan secara jama’ah akhirnya hanya bertujuan supaya orang lain tahu bahwa mereka mempunyai kelompok yang utama. Mereka melaksanakan amal rahasia hanya bertujuan supaya orang tahu bahwa mereka dari golongan yang mempunyai amal ikhlas dan rahasia. Mereka berusaha mendapatkan kekhususan yang rahasia supaya orang tahu bahwa mereka telah mendapatkan kekhususan secara rahasia.

Itu bisa terjadi, karena ketika hati nurani telah tertutup dari sumber power yang hakiki maka secara otomatis akan melenceng kepada arah yang tidak pasti. Ketika hati telah bergeser dari pelita yang menyinari, maka musuh-musuh menyiapkan diri untuk menemani. Itu adalah penyakit tersembunyi yang terkadang orangnya sendiri tidak gampang menyadari. Oleh karena itu, cara memperbaiki penyakit nafsu dalam perbuatan taat tersebut jauh lebih sulit daripada memperbaiki nafsu di dalam perbuatan maksiat.

Sungguh benar yang dikatakan oleh asy-Syekh Ibnu Athaillah r.a bahwa: [usaha penyembuhan bagi yang samar sangatlah sulit cara pengobatannya. Kadang-kadang riya’ masuk kepadamu dari arah yang tidak dapat terlihat oleh makhluk kepadamu].

Di dalam isi dada seorang hamba yang ‘arifin, tidak ada lagi bilik yang tersisa, kecuali disitu telah dipenuhi apa-apa yang diimani dan dicintai, yakni Allah dan rasul-Nya serta kehidupan akhirat yang abadi. Kehidupan akhirat itu boleh jadi takut neraka maupun berharap surga. Sedangkan realita dan fenomena di dunia sebagai tarbiyah azaliyah bagi seorang hamba yang terjaga, itu bertujuan supaya orientasi hidup mereka tidak dominan condong kepada kehidupan dunia. Untuk itu bagi mereka dunia dan isinya selalu tercipta cenderung mengecewakan hati.

Bagi orang beriman, kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara yang menipu. Oleh sebab itu, apapun yang mereka perbuat, baik dalam keadaan ramai maupun sepi, baik secara vertikal maupun horizontal, perbuatan itu harus yang berorientasi kepada apa yang diimani dan yang dicintai, bukan kepada kehidupan dunia yang dapat mengecewakan hati. Bila keadaan hati ternyata tidak demikian, bahkan sebaliknya, maka boleh jadi iman dan cinta yang ada di dalamnya masih ada yang perlu dibenahi.

Yang diperhitungkan bagi orang beriman bukan apa yang dihasilkan oleh amal. Seperti kelebihan hidup yang banyak dicari orang. Sebab, berbentuk apapun kenikmatan di duniawi, di hadapan Allah kenikmatan itu harus mampu dipertanggung-jawabkan. Yang dibayar hanyalah amal dan perbuatan itu sendiri, karena manusia akan disampaikan sesuai amal dan perbuatan yang dilakukan. Adapun kenikmatan hidup buah dari amal perbuatan yang dilakukan, bagi hati yang beriman, kenikmatan hidup itu akan menyampaikan mereka kepada tahapan permasalahan yang panjang. Oleh sebab itu, cukup dengan amal, jika amal itu dapat menyampaikan kepada tujuan, walau sekedar pertemuan di dalam perjalanan. Apabila dengan pertemuan itu dapat diharapkan ada pertemuan lagi di ujung perjalanan, berarti amal itu adalah kelebihan hidup yang patut diperhitungkan. (malfiali, 28 Februari 2009)