RAHASIA SUMBER INAYAH 2 (Keberkahan Membawa Berkah)
Rahasia Sumber Inayah 2
Allah SWT. Tuhan Semesta Alam Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah dan Yang Mempunyai Karunia yang Besar, sejak zaman azali telah menghendaki dan telah menentukan, bahwa “Rahmat Utama” itu telah dianugerahkan secara khusus hanya kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. Nabi akhir zaman yang sekaligus sebagai penutup para Nabi sebelumnya, sebagai “Rahmatan Lil ‘Alamin”, untuk supaya disampaikan kepada seluruh makhluk di seluruh alam semesta. Maka sejak itu sampai hari kiyamat dan bahkan di hari akhirat nanti, manusia mendatanginya dengan berbondong-bondong dari segala penjuru belahan bumi, mengulurkan tangannya untuk menggapai limpahan rahmat dan syafaat dari Baginda Nabi saw. Mereka itu bagaikan laron-laron mengerumuni lampu di kegelapan malam untuk mencari jalan kehidupan.
Dengan itu maka Allah Ta’ala telah menentukan pula bahwa ketaatan kepadanya (Rasul saw). adalah identik dengan ketaatan kepada Allah SWT., artinya hanya dengan mengikuti baginda Nabi saw. kepada jalan yang sudah ditempuhnya, maka disitulah letak jalan kepada Allah yang sebenarnya yaitu: ”Jalan yang lurus, – jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang yang telah Allah anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang tersesat”. Allah SWT. telah menegaskan dengan firman-Nya:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. QS:4/80.
Jika selama ini orang belum pernah mengetahui, sehingga tidak mengenali “jalan lurus” yang telah siapkan Allah Ta’ala baginya di balik rahasia ayat-ayat di atas, maka sejak sekarang, bagi yang ingin mengetahuinya, curahkan segala perhatian dengan bersungguh-sungguh kepadanya dan dengan berusaha mengadakan penelitian dan latihan yang mendalam, supaya sejak sekarang juga mereka dapat menemukan dan mengenali “jalan lurus” itu yang selanjutnya dapat menempuhnya dengan benar pula. Kalau tidak, sehingga selama hidupnya mereka tidak dapat mengenali “jalan lurus” itu dan apabila ketidaktahuan itu kemudian terlanjur dibawa keliang kubur bersama kematiannya, maka mereka tinggal menunggu apa yang akan terjadi dengannya disana, karena Allah Ta’ala telah memberikan peringatan dengan firman-Nya:
يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا(71)وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا
(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. – Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). QS17/71-72.
Oleh karena selama hidupnya di dunia mereka telah mengikuti seorang pemimpin zamannya yang dapat membimbing ibadah dan perjalanan ruhaniyahnya kepada Allah Ta’ala, maka di akhirat nanti kembali mereka akan dihidupkan bersama-sama dengan pemimpin mereka yang dahulu diikuti di dunia dahulu. Namun sebaliknya, oleh karena sebagian besar manusia tidak pernah mengenali “jalan lurus” yang harus ditempuh, mereka hanya menggunakan mata dhohir saja untuk melihat akan tetapi mata batinnya buta, hanya memilih mengelola kehidupan duniawi yang sementara dengan melupakan kehidupan ukhrowi yang abadi, maka di akhirat nanti mata itu akan menjadi lebih buta lagi dan mereka akan lebih tersesat dari jalan yang sebenarnya.
Dari pancaran “Rahmat Utama” yang ada di tangan “Manusia Utama” itu kemudian terbentuklah jaringan komunitas persaudaraan antara sesama umat manusia dengan tulus dan ikhlas. Mereka saling mencintai semata-mata hanya karena Allah Ta’ala. Ukhuwah itu telah mengakar kuat dari porosnya, dan sekarang cabang dan rantingnya telah menyebar sampai kepada pelosok belahan bumi yang terpencil sekalipun. Itulah Ukhuwah Islamiyah, semenjak panji-panji pertama telah dengan jerih payah dan bahkan dengan bersimbah darah berhasil dikibarkan oleh para tokoh utamanya di bawah pimpinan langsung oleh seorang Manusia yang paling utama (Rasul saw.), maka sampai sekarang dan bahkan selama-lamanya, selama nafas kehidupan masih dihembuskan di muka bumi, panji-panji itu akan tetap berkibar, bahkan gaungnya semakin besar.
Terbukti dengan semakin besarnya minat anggotanya untuk menenggak kesejukan minuman yang disajikan oleh ukhuwah itu lewat ibadah haji di Haramain (Makah Madinah) – dari sumber poros yang tidak henti-henti berputar, dimana panji-panji yang pertama telah berhasil dikibarkan oleh sang tokoh utama – pada setiap tahunnya. Meski sejak dahulu sampai sekarang pula, disana sini ukhuwah itu tetap menghadapi tantangan dan halangan yang tidak ringan dari orang yang hatinya tidak senang akan keberadaannya, baik dari kalangan yang tidak percaya atau orang kafir maupun orang yang pura-pura percaya padahal sesungguhnya tidak percaya yaitu orang munafik.
Asy-Syekh Ibnu Athaillah ra. meneruskan dan berkata: [dan Allah mengetahui apabila mereka dibiarkan begitu saja dengan apa yang sudah dipahami, mereka akan meninggalkan amal dan bergantung kepada kehendak azali, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56].
Kalau manusia dibiarkan saja dengan paham azaliyah, bahwa khoirihi wa syarrihi minallah, (baiknya dan jeleknya dari Allah) maka mereka cenderung berbuat malas dan meninggalkan amal usaha, hanya menggantungkan diri kepada kehendak Allah yang azali, dan bahkan kadang-kadang dengan dalih bertawakkal kepada Allah Ta’ala sebagai alasan untuk meninggalkan ikhtiar padahal sesungguhnya adalah pelampiasan rasa malas dan putus asa. Akibatnya, bisa-bisa kehidupan di muka bumi menjadi lumpuh total, karena masing-masing manusia tidak mempunyai inisiatif untuk bekerja dan berusaha. Mereka hanya menunggu terhadap apa-apa yang bisa didatangkan baginya dari langit, maka Allah Ta’ala telah membuka salah satu pintu lagi terhadap apa yang ada di balik rahasia qada’ dan qadar-Nya dengan firman-Nya:
وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik. QS:7/56.
Menusia tidak sekedar diperintah untuk berdo’a saja, akan tetapi maksudnya, dengan do’a-do’a yang dipanjatkan itu haruslah dijadikan dasar pijakan hati bagi apa yang dicari dan diusahakan secara dhohir serta mengharapkan datangnya petunjuk dan hidayah sebagai isyarat atau ilham dari Allah Ta’ala yang selanjutnya untuk supaya dapat ditindaklanjuti dengan usaha, maka dengan inayah Allah Ta’ala usaha seorang hamba akan mengarah kepada sasaran yang diharapkan dengan benar, yaitu anugerah-anugerah yang sudah disiapkan sejak azali.
Kemudian ditegaskan pula bahwa sesungguhnya rahmat Allah Ta’ala amatlah dekat dari orang-orang yang berbuat baik (al-Muhsinin), yaitu orang yang selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala dengan rasa takut dan harap, baik dengan sendirian maupun secara berjama’ah, baik di rumah maupun di majlis-majlis dzikir dan mujahadah yang diadakan. Maka disitulah letak sasaran yang diharapkan, karena dari tempat seperti itu sumber rahmat akan terus-menerus memancar sehingga usaha seorang hamba akan mendapatkan hidayah dan kemudahan-kemudahan dari Allah Ta’ala berkat do’a-do’a mereka. Karena keberadaan mereka (al-Muhsinin) di suatu tempat, seakan-akan memang telah ditetapkan menjadi sumber kehidupan dan keberkahan dari Allah Ta’ala bagi daerah sekelilingnya. Itulah Ulama’ sejati, para kekasih Alloh yang hatinya penuh kasih kepada sesama.
Dari do’a-do’a yang setiap pagi dan petang mereka panjatkan sebagai bentuk keprihatinan hati untuk ummatnya, menjadi sebab tersampaikannya rahmat Allah Ta’ala kepada orang-orang yang dido’akan, selanjutnya menjadikan sebab terbentangnya keberkahan bagi daerah sekitarnya. Demikianlah yang terjadi, dimana-mana, di tempat yang tinggali para Waliyulloh itu, daerah yang asalnya sepi dan mati, ketika manusia sudah mengetahui keberadaan mereka beserta kelebihan-kelebihan yang ada di tangan mereka sebagai anugerah dan buah pengabdian yang hakiki, maka daerah itu kemudian menjadi hidup dan bergairah. Orang-orang berdatangan dari segala penjuru negeri untuk mengambil berkah dari mereka, mencari obat kesembuhan bagi penyakit-penyaki yang diderita, baik penyakit dhohir maupun penyakit batin, baik penyakit ruhani maupun penyakit ekonomi.
Itulah kenyataan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai dengan sesudah matinya. Oleh karena setiap saat banyak orang berziarah ke makam orang-orang yang hatinya suci itu, maka ekonomi di daerah itu menjadi bangkit dan hidup bahkan mampu menjadikan sebab kemakmuran bagi daerah sekitarnya. Demikianlah kenyataan kasat mata yang tidak bisa dipungkiri – bahwa keberkahan Allah Ta’ala telah mampu menghidupi orang hidup melalui kehidupan orang yang sudah mati – walau dimana-mana masih banyak orang yang mengingkari jasa-jasa mereka. Bahkan mensyirikkan orang yang berziarah ke makam mereka.
Sebagian orang mengatakan para peziarah itu berbuat syirik sekedar karena bertabarukan kepada para Wali itu. Jika sekedar minta kepada kuburan……! Minta kepada batu mati yang menancap di atas sesonggok tanah kering, siapa yang tidak mengerti bahwa hal itu merupakan perbuatan syirik…..?, kalau memang benar bahwa orang yang setiap hari datang kekuburan para waliyullah itu berbuat syirik..?, sekarang ada pertanyaan; “sekiranya yang ditanam di bawah seonggok tanah kering yang ditancapi batu mati itu adalah jasad kasar kita, maukah orang-orang tersebut menziarai kuburan kita…?”, kalau ternyata tidak mau, apa bedanya jasad kita dengan jasad para waliyullah itu…? Ada apa di dalam jasad kita dan ada apa pula di dalam jasad mereka, padahal sama-sama jasad yang sudah mati….?. mengapa jasad mereka dapat menarik hati orang sekian banyak sehingga setiap hari datang dari tempat yang jauh sekedar ziarah atau tabarrukan sedang jasad kita tidak…?
Maka barangkali ada sudut pandang yang agak berbeda sehingga hati yang mulia telah menjadi salah sangka. Kalau orang bertanya : “Mengapa orang banyak itu jauh-jauh dengan bersusah payah mau datang kekuburan orang yang sudah mati…?”. Maka jawabannya gampang sekali, yaitu karena mereka itu adalah orang-orang bodoh sehingga mampu berbuat yang tidak masuk akal. Masak orang sudah mati kok kuburannya sampai didatangi dari jauh-jauh. Akan tetapi coba pertanyaannya agak dirubah sedikit: “Ada apa di kuburan orang itu…?, mengapa setiap hari orang-orang dari tempat yang jauh didatangkan oleh Allah Ta’ala kesana…? mengapa tidak didatangkan ke kuburan kita….?. Maka jawabannya agak sulit karena itu membutuhkan ilmu yang luas dan penelitian yang panjang kecuali bagi orang-orang yang hatinya ada Inayah dari Allah Ta’ala sehingga nur imannya mampu menyinari perbendaharaan ilmu yang ada di bilik akalnya.
Ini ada pertanyaan yang paling mudah dijawab. Bukankah semua orang tahu bahwa apa saja yang terjadi di alam ini pasti terjadi atas dasar kehendak dan takdir Allah Ta’ala?? Sekarang pertanyaannya; mengapa orang banyak itu setiap hari dari jauh-jauh ditakdirkan Allah Ta’ala datang di kuburan para waliyullah itu dan tidak ditakdirkan datang ke kuburan kita..? Ada rahasia apa di balik kehendak dan takdir tersebut…?. Jika semacam itu pertanyaan yang dilontarkan, barangkali siapapun dapat menemukan jawabannya asal dilontarkan dengan hati yang selamat. Jika tidak, berarti memang hati kita yang perlu diteliti, barangkali di dalamnya sudah tercemar oleh penyakit hati yang dimasukkan oleh setan jin.
Jawabannya ialah: sesungguhnya yang demikian itu merupakan buah ibadah. Para waliyullah itu sekarang sudah menuai bibit yang dahulu mereka tanam, yaitu berupa kasih sayang kepada umat yang dikemas di balik perjuangan dan do’a-do’a. Karena keprihatinan hati kepada keselamatan orang lain yang notabene bukan apa-apa mereka telah membuahkan hasil, orang-orang yang dido’akan itu telah mendapatkan hidayah dan inayah dari-Nya, maka sekarang mereka telah menuai buahnya, yakni didoakan kembali oleh manusia-manusia yang berterima kasih terhadap jasa-jasa mereka. Kuburan kereka didatangi dan dido’akan oleh orang-orang yang telah merasakan kenikmatan iman yang ada di dalam hati hasil jerih payah yang dahulu telah mereka kerjakan. Hal itu terjadi semata merupakan bentuk dzikir Allah Ta’ala kepada mereka karena mereka dahulu telah berdzikir kepada Allah Ta’ala melalui keperihatinan hati kepada umat manusia sepanjang hidupnya. Yang demikian itu hanyalah bentuk pelaksanaan janji Allah Ta’ala yang tidak akan pernah diingkari, bahwa Allah telah berfirman yang artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat)–Ku”. QS: al-Baqoroh 2/152.
Oleh karena itu, jika kita ingin mendapat kegembiraan seperti itu – yaitu di saat keluarga kita saja terkadang melupakan jasad mati kita, orang lain didatangkan oleh Allah Ta’ala dari segala penjuru tempat sekedar untuk memberikan kegembiraan kepada kehidupan yang ada di balik jasad yang sudah mati itu – maka sejak sekarang kita harus menggembirakan hati orang lain, supaya kelak ketika hati kita sedang sepi di dalam penantian yang panjang di alam kubur, Allah Ta’ala menghibur dengan datangnya orang lain menziarai kuburan kita.
Ketika kejelekan-kejelekan karakter duniawi yang keluar masuk di dalam hati orang-orang yang beriman itu sudah tidak sempat lagi membekaskan kejelekan disana, ketika fitnah-fitnah yang semestinya membakar telinga malah menyejukkan di hati mereka, maka itulah pertanda hati orang yang suka berbuat ihsan (al-Muhsinin), karena yang terlihat oleh matahati dari realita yang dihadapi hanyalah Allah Ta’ala dengan segala qada’ dan qadar-Nya, hanya irodah dan takdir-Nya, yaitu hanya kehendak-Nya yang azaliyah untuk mentarbiyah seorang hamba yang dicintai-Nya. Maka dada mereka bagaikan hamparan bumi, apa saja boleh masuk, boleh kotoran boleh penyakit, akan tetapi yang keluar hanyalah kebaikan dan obat. Layaknya seperti seorang dokter, sungguhpun setiap saat mereka harus bergulat dengan penyakit dan orang sakit, tapi dokter yang sejati itu selamanya tidak akan tertular oleh penyakit orang sakit. Kalau ada orang mengaku dokter, tetapi dia masih dapat tertular dengan penyakit orang sakit, berarti dia adalah dokter yang berpenyakitan. Maka jauhilah segera, jangan-jangan malah dia adalah sumber penyakit itu.
Keberadaan seorang “Muhsinin” yang sejati, dimana-mana akan menjadi bagaikan tambang kebaikan, karena setiap tarikan nafas serta detak jantungnya hanya dimuati pengabdian hakiki. Mereka menyelesaikan permasalahan umat sampai terkadang melupakan urusan pribadi. Kebanyakan orang datang kepadanya untuk sekedar mengadu dan mencari solusi, bahkan tidak peduli walau dia sendiri sedang bersedih. Maka semakin banyak orang yang mengenalnya semakin banyak pula masalah yang harus dihadapinya, akibatnya, semakin lama dadanya menjadi bagaikan bak sampah, karena hanya dipenuhi kesusahan dan kesedihan orang-orang yang mengelilingi. Itulah dokter-dokter ummat, dengan amanat yang ada dalam pundak, mendorongnya untuk menghidupkan dzikir dan mujahadah malam, dan ketika do’a-do’a yang ikhlas itu mendapatkan ijabah dari-Nya, maka jadilah ijabah itu sebagai sebab Allah Ta’ala membukakan pintu rahmat-Nya kepada umat. Bahkan dari sebab linangan air mata yang meleleh di pipinya karena menangisi kesedihan umat, kadang-kadang menjadikan sebab Allah Ta’ala menurunkan air hujan di daerah yang ditangisi itu, bahkan konon, apabila di Baitullah Makkah al-Mukarromah, selama tujuh hari saja mereka absen tidak melakukan thowaf disana, berarti hari kiyamat segera akan datang.
Sebagian mereka bagaikan pelita-pelita bumi, walau di siang hari keberadaannya tidak tampak karena kesibukan dhohir untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, akan tetapi di malam hari, bersama gemerlap bintang di langit, mereka sanggup menjadi penerang jalan bagi sang musafir yang sedang bersedih hati. Maka…., wahai laron-laron liar yang ingin mencari penerang jalan, segeralah mendekat kesana, mencari dimana mereka menyembunyikan mutiara, supaya sang laron yang nakal dan tidak tahu diri itu dapat menemukan anugerah Allah Ta’ala yang sudah disiapkan baginya. Sungguh benar Allah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56.
Asy-Syekh Ibnu Athaillah ra. meneruskan konsepnya dan berkata: [Kepada “Kehendak”, segala sesuatu itu bersandar dan bukan kepada segala sesuatu, “Kehendak” itu bersandar].
Apabila akal sedang buntu untuk dapat memahami apa yang sedang terjadi di depan mata, orang tidak mampu membedakan mana yang kehendak Allah Ta’ala dan mana yang kehendak manusia secara basyariyah, dia tidak mampu membedakan mana yang irodah azaliyah dan mana yang irodah hadits miliknya, maka hati hendaklah segera berlari kepada Allah Ta’ala sedangkan Al-Qur’an dan hadits adalah penerang jalannya. Oleh karena Allah Ta’ala yang menciptakan manusia, maka hanya Allah-lah yang paling mengetahui segala yang ada di dalam jiwanya. Allah SWT. berfirman:
وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُور
(dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. QS:24/40.
Yang pasti, datangnya inayah itu hanya dari kehendak-Nya, barang siapa tidak dikehendaki untuk mendapatkannya maka sedikitpun dia tidak akan memiliki inayah di dalam hidupnya. Maksudnya, seorang hamba boleh berusaha dan berdo’a, bahkan hendaknya berusaha dan berdo’a dengan sekuat tenaga, akan tetapi mereka tidak boleh hanya bersandar kepada usaha dan do’a itu saja, melainkan harus kepada kehendak-Nya, maka usaha dan do’a seorang hamba tidak akan sia-sia karena usaha dan do’a itu merupakan ibadah.
(malfiali, Februari 2009)

14 Februari 2009 pada 02:36
Subhaanallah…..alhamdulillah, astaghfirullah….
Assalamualaikum wrwb Romo Yai
waah bikin saya makin cintaaaaaa aja dengan blog dan artikel artikelnya. udah gitu ruang blognya juga ber AC, dingin ngga panas kaya di blog lain yang suka dar der dor tukaran adu salah .. eh adu bener.
Romo yai, …
benar ga (mohon diluruskan) kalo saya punya pemahaman bahwa mendatangi kuburan para arif billah itu ibarat mendatangi BTS sumber signal, biar HP saya transmitnya kenceng,…?
kemudian juga ibarat saya mendekati cahaya agar hati yang gelap (butheck) ini terkena sinarnya barang sedikit saja, hingga dapat mengurai segala persoalan yang nimbun sekaligus menemukan ujung pangkalnya, biar bisa ditarik dari kekusutannya, bukankan “AHLI ZIKIR itu bagaikan Cahaya (petunjuk) berjalan diantara umat manusia” dan bukankah cahaya itu akan terekam terus sepanjang masa (udara dan air menjadi pita rekaman) dan eh siapa tau ketiban pulung, lalu player kita bisa nyala disana dan bisa nyetel cd rekaman tersebut, memahami laku yang pernah terjadi dan telah dilakukan poro arifbillah tersebut. yang penting kan mesti teliti dalam membedakan jin atau bukan, makanya blog ini sungguh tempat yang bagus untuk lebih memahami tentang dunia jin dan alam ghoib… yang sebetulnya bukan ghoib…. wong cuman instrumennya yang ga cocok buat ngebacanya hehehe..
lha masa warna mau dibaca sama hidung ya ga kena lah –> jadinya warna ya ghoib buat hidung, bau wangi ghoib buat mata dst
mohon diluruskan romo yai
matur suwun.
wassalam
14 Februari 2009 pada 15:18
Untuk Bapak Mazadjie yang dimuliakan Alloh.
Ini sekedar tambahan dari saya.
Bagian dari fungsi walayah/kewalian yang dimiliki hamba Alloh yang sholeh adalah mengeluarkan seseorang dari kegelapan hatinya menuju hidayah Alloh. Fungsi Walayah tersebut merupakan buah ibadah dan pengabdian yang dilakukan oleh para Wali itu di jalan Alloh. Hal tersebut sebagaimana yang dinyatakan Alloh dengan firman-Nya: “Allah Pelindung/penarbiyah bagi orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran/kesusahan) kepada cahaya (iman/kegembiraan). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.(QS.al-Baqoroh/257)
Ketika para wali itu mati, yang mati hanya jasadnya, tapi fungsi kewaliannya masih hidup/berfungsi sampai hari kiamat, maka fungsi kewalian itu ibarat BTS sebagimana yang dimaksudkan dalam paparan di atas. BTS tersebut bisa kita datangi baik secara lahir maupun batin. Secara lahir kita datang ke kuburannya untuk bertawasul kepada Alloh dan secara batin dengan pelaksanaan tawasul secara ruhaniah.
Jadi dalam kaitan pekerjaan ini kita tidak berhadapan sebagai personal hidup dengan personal yang mati, melainkan antara situs hati kita dengan situs hati para kekasih Alloh tersebut. Situs-situs tersebut akan hidup selamanya, asal di dunia ini kita sudah mampu menghidupkan situs hati kita dengan pelaksanaan Mujahadah dan Riyadhoh di jalan Alloh.
Ketika situs hati seseorang sudah hidup, maka dengan nur Alloh matahati orang tersebut dapat membedakan mana bisikan yang datang dari jin dan mana bisikan yang datang dari rahasia urusan Alloh atau yang disebut Sirr.
Untuk hal seperti inilah seharusnya orang-orang beriman berlombah-lomba untuk mendapatkannya………….
14 Februari 2009 pada 21:28
Assalamualaikum wrwb.
Terimakasih Romo yai, atas tambahan penjelasannya…
atas pengestunya romo yai kami berharap dapat mencerap dengan baik apa yang diwejangkan.
Dan boleh bertanya lagi kan romo yai… ?
=======================
bahwa “Rahmat Utama” itu telah dianugerahkan secara khusus hanya kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. Nabi akhir zaman yang sekaligus sebagai penutup para Nabi sebelumnya, sebagai “Rahmatan Lil ‘Alamin”
================
Bila dikaitkan dengan pemahaman dari banyak kalangan islam yang meyakini bahwa nabi Isa, AS konon akan turun lagi kedunia di akhir jaman untuk menjalankan suatu misi ….. bagaimana ya ? bahkan ada yang menghukumi wajib hukumnya mengimaninya, bila btidak maka kafirlah orang itu,… wuiiih ..!!, apa ngga mengerikan itu romo yai ?
Sementara ada yang memehami bahwa nabi Isa, AS tidak akan turun diakhir jaman, karena justru akan bertentangan dengan statement diatas yang dengan tegas menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw, Nabi akhir Zaman sekaligus penutup para nabi dan sebagai rahmatan lil alamin…. Belum cukupkah Nabi Muhammad sebagai nabi akhir zaman sebagai Rahmatan Lil Alamin ..?
Mohon pencerahannya Romo yai mengingat mengimani para nabi merupakan salah satu rukun dalam islam, bila melenceng apa ngga gawat tuh romo …?
terimakasih, mohon maaf benyak bertanya
jazakumullah..
Wassalamualaikum wrwb
14 Februari 2009 pada 23:46
Yth, Bapak Mazadjie Algurandille.
Mohon maaf untuk pertanyaan yang ini saya tidak mampu mejawab. Tentang cerita Nabi Isa tersebut dan juga Imam Mahdi yang diyakini banyak kalangan akan turun di bumi, sejak dulu saya memang kurang tertarik untuk mendalaminya. Saya cukup percaya saja, itupun karena hanya percaya kepada dawuhnya Ulama. Saya lebih tertarik mendalami keadaan hati saya yang banyak aib ini. Tidak juga mampu berbuat ihlas dalam melaksanakan ibadah dan pengabdian kepada Tuhannya, padahal sudah sekian lama saya mengupayakannya. Apalagi untuk bermakrifat kepada Alloh sebagaimana yang sudah dicapai oleh Bapak Habib Sayyid. Saya sering berfikir………, apakah bisa dan pantas hati saya yang penuh kotoran dan najis akibat perbuatan dosa dan maksiat ini bermakrifat kepada Dzat Yang Maha Suci……????? Makrifat yang bagaimanakah yang sudah mampu dicapai oleh seorang hamba yang dho’if sehingga dia berani mengklem dirinya sebagai seorang makrifatulloh…..??? Inilah yang lebih menarik bagi saya untuk mendalaminya …………
Untuk pertanyaan di atas saya ikut Bapak saja, karena yang pasti, barangkali usia saya sudah tidak akan sampai lagi untuk menemui dan merasakan hal dan keadaan yang dipertentangkan oleh banyak orang tersebut. Mohon maaf bila jawaban ini kurang memuaskan para pembaca.
17 Februari 2009 pada 01:51
Sungguh sikap romo yai membuat saya jadi malu atas ego yang ada pada diri ini, saya mohon gunging samodra pangaksami, atas kekhilafan dan lencangan kami dalam pertanyaan tsb, dan semoga berkenan memakluminya, Mungkin karena saya takut salah dalam itiqod terhadap nabi.. membuat saya jadi begitu lancang.
Betul dawuh romo yai, mungkin dengan menemukan Ma’rifatullah, akan menjawab banyak soal.
sayapun sepakat untuk ikut romo aja de, berupaya mengenal diri dulu, belum mampu kalo berma’rifat, masih bersih bersih dan mencabuti rumput rumput dihati yang masih membelukar romo, agar bisa ditanami dg baik.
Terimakasih romo, telah mengingatkan langkah saya yang kebabalasan …
Semoga tetap terjalin persaudaraan dan tali silaturahmi dalam perjalanan mencari jalan menujuNYA.
Nyuwun pengestunipun Romo yai …
Wassalamualaikum wrwb
17 Februari 2009 pada 14:18
Yth, Bapak Mazadjie
Tidak ada yang salah dalam pertanyaan Bapak sehingga tidak ada pula yang perlu dimaafkan. Kita sebagai orang yang ingin meningkatkan kefahaman akan urusan Ilahiyah, tidak ada salahnya untuk bertanya dalam segala hal, terutama yang berkaitan aqidah. Hanya saja saya secara pribadi membatasi diri terhadap hal yang mampu saya fahami. Untuk mencapai makrifatulloh itu, kita harus mengenal jati diri kita, demikian yang disebutkan dalam sebuah hadis Nabi yang artinya; “Barang siapa mengenal jiwa(Nafs)nya maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya”. Ada lagi pepatah mengetakan: “Dalamnya lautan bisa diterka, dalamnya hati siapa tahu”. Maka saya jadi heran kepada orang yang mengkelm dirinya sebagi orang yang makrifat. Makrifat yang bagaimana yang dimaksudkan itu??? Karena sekarang ini kata-kata makrifat itu banyak dipakae orang, seperti batu makrifat, tongkat makrifat, minyak makrifat….. dll.
Hal seperti inilah yang menjadikan saya bingung…. he he he Mohon Maaf ya Pak…….Jika Bapak berkenan tolong saya dikasih pencerahan tentang hal ini…… matur nuwun …..
18 Februari 2009 pada 04:34
“Untuk pertanyaan di atas saya ikut Bapak saja, karena yang pasti, barangkali usia saya sudah tidak akan sampai lagi untuk menemui dan merasakan hal dan keadaan yang dipertentangkan oleh banyak orang tersebut. Mohon maaf bila jawaban ini kurang memuaskan para pembaca.”
Memangnya Abah sudah tau berapa lama kontrak untuk hidup di dunia ini? Bukankah ini mendahului taqdir? Abah merendahkan diri, kayaknya Abah pake ilmu padi ya…. semakin banyak ilmu, makin merendah (down earth, bahasa kerennya bah…..)
Semoga Allah selalu melindungi Abah dan keluarga dan diberi umur yang bermanfa’at.
Wassalam,
lisa rahadi
http://lisarahadi.multiply.com
———————
Admin: mBak Lisa yang terSayang….. he he he
Itu karena saya yakin, dalam hidup ini yang pasti hanya satu, yakni mati…. Adapun yang selain mati itu, tidak ada yang bisa diyakini keberadaannya. Orang miskin bisa menjadi kaya seketika, demikian pula sebaliknya. Kaya dan miskin itu tidak dapat dipastikan adanya, meski saya lebih senang menjadi orang kaya daripada orang miskin… he he he.
Orang bisa menghindari kemiskinan tapi kamatian tidak. Ketika ajalnya tiba, kematian itu tidak dapat ditunda barang sedetik sekalipun.
Yang namanya mati, semua orang pasti akan mengalaminya. Oleh karena itu, tidak salah kan…… jika saya lebih mempersiapkan yang pasti daripada yang tidak pasti…….
21 Februari 2009 pada 19:27
HHmmm…….Abah pinter bangeud ngelesnya…
Semua yang hidup pasti mati. Hanya saja kita tidak tau pastinya kita kapan akan mati. Mati itu kan berarti kebangkitan (qiyamat).
Bah….semua orang yang sadar pasti mati, pasti juga cari bekal untuk di dunia lain. Kalau nggak cari bekal…..nggak mungkin saya sampe nyangkut di WEB nya Abah……
Wassalam,
11 November 2009 pada 08:01
Asalamualaikum
Sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan saya untuk menjawab pertanyaan saudara Mazadjie Algurandille Soal turunnya nabi Isa as
pada ahir zaman nanti yg mana zaman itu lebih buruk lagi dari zaman kini
Yg mana kemaksiatan dimerata tempat sudah merajalela kekufuran dimana mana hukum sudah terbalik yg haram dihalalkan yg halal diharamkan pemimpinnya orang orang bodoh dan tamak islam akan kembali seperti zaman dulu(zahiliah) tidak dikenal bahkan orang yg Ibadahpun menjadi tontonan yg aneh ahlak manusia sudah sedemikian bejatnya tidak ada lagi siar agama Karna para ulama sudah banyak yg diwafatkan
Tapi Allah yg maha pengasih lagi maha penyayang tidak meng Azabnya tapi malah menurunkan 2 orang kekasihnya Imam mahdi dan nabi Isa as untuk memperbaiki Ahlak manusia di zaman itu sedang tugas nabi isa untuk meluruskan umatnya dari kekeliruanya,mematahkan salip membunuh babi dan Dajal
Alah hanya mengAzab manusia nanti di Achirat itupun diperhitungkan dengan seadil adilnya tidak ada yg dirugikan sedikitpun pada saat itu
Daari hamba Allah yg doif
Lukmanz
Singapore