Arsip untuk Februari, 2009

SYARAH HIKAM (Apabila Allah Besar dalam Hatimu, maka Apapun yang Ada Di Luarnya akan Menjadi Kecil)

Posted in Hikam, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 26 Februari 2009 by malfiali

Syarah Hikam

APABILA ALLAH BESAR DALAM HATIMU,
MAKA APAPUN YANG ADA DI LUARNYA AKAN MENJADI KECIL

لَا يَعْظُمُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ عَظْمَةً تَصُدُّكَ عَنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ تَعَالَى فَاِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اِسْتَصْغَرَ فِى جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبُهُ . لَاصَغِيْرَةَ اِذَا قَابَلَكَ عَدْلُهُ وَلَاكَبِيْرَةَ اِذَا وَاجَهَكَ فَضْلُهُ

Jangan terlalu membesar-besarkan rasa berdosamu yang mengakibatkan terhalangnya baik sangkamu kepada Allah. Sesungguhnya bagi seorang hamba yang berma’rifat kepada Ma’budnya, akan menjadi kecil dosanya apabila dihadapkan dengan kemurahan-Nya. Dan tidak ada yang kecil apabila dihadapkan dengan keadilan-Nya dan tidak ada yang besar apabila dihadapkan dengan keutamaan-Nya.

Dosa dan pahala, taat dan maksiat, susah dan senang, bahagia dan menderita, adalah bagian romantika kehidupan yang tidak terhindarkan. Siapapun pasti akan menjumpainya. Ditolak maupun dibenci bahkan tanpa sebab, bila waktunya susah datang, ia akan datang juga. Demikian pula senang, maksiat dan taat. Bagi hati yang a’rifin , empat hal tersebut harus mampu dimanfatkan untuk ibadah, sebagai sarana latihan, agar ma’rifatnya selalu bertambah cemerlang. Itu semua didatangkan semata-mata hanya sebagai tarbiyah dari Allah kepada hamba yang dikehendaki, namun sayangnya hanya seorang  ‘Ulul albab yang dapat mengambil pelajaran darinya.

Sarana Latihan

1. Ketika senang sedang datang. Dengan senang itu bagaimana seorang hamba dapat bersyukur kepada Allah, maka senang itu akan membawa manfaat untuk dirinya.
2.    Demikian pula ketika susah datang. Kalau ia belum mampu mensyukuri susahnya, minimal bagaimana dapat bersabar dari susah itu, maka susah itu akan membawa manfaat untuk dirinya. Sebab, tanpa susah itu, tidak mungkin ia mendapatkan pahala sabar. Guru kita berkata kepada salah satu muridnya: “Kalau hanya yang enak-enak saja yang dapat kamu syukuri, maka seekor sapipun mampu melakukannya. Kalau engkau ingin derajat-mu di hadapan Allah semakin meningkat maka syukurilah susahmu, sebab tanpa kesusahan itu, pasti engkau tidak dapat merasakan nikmatnya senang”.
3.    Apabila sedang berbuat ta’at, maka bagaimana keta’atan itu dapat menambah ketakwaan dan menjadikan rendah hati, baik di hadapan sesama manusia lebih-lebih di hadapan Tuhannya.
4.    Apabila sedang berbuat maksiat, maka bagaimana dosa-dosa itu dapat menjadikan merasa hina, menyesal, membangkitkan kemauan bertaubat dengan taubatan nasuha dan merasa fakir kepada rahmat dan pengampunan Allah. Kalau demikian keadaannya, maka dosa itu pun akan membawa kemanfaatan baginya, sebab dosa-dosa tersebut dapat menyebabkan dirinya menjadi lebih baik.

Asy-Syekh berkata: “Jangan engkau terlalu membesar-besarkan rasa berdosamu yang mengakibatkan terhalangnya baik sangkamu kepada Allah. Sesungguhnya bagi seorang hamba yang berma’rifat kepada Ma’budnya, akan menjadi kecil dosanya apabila dihadapkan dengan kemurahan-Nya”.

Apa saja yang didatangkan Allah kepada seorang hamba, walau bentuknya berupa dosa dan musibah, apabila itu semua menjadikan ingat dan dekat kepada-Nya, menjadikan sebab ma’rifat-nya semakin cemerlang dan keyakinan-nya semakin mantap, maka hakikatnya dosa dan musibah itu adalah rahmat, bukan adzab. Apa saja yang datang kepada seorang hamba, walau bentuknya ibadah dan pahala serta kenikmatan-kenikmatan hidup, kalau itu semua menjadikannya lupa diri dan jauh dari Allah, menjadikannya sombong dan takabur, maka yang demikian itu hakikatnya adalah siksa.

Adapun tanda-tanda hati yang beriman ialah, apapun yang ada, baik yang datang kepada dirinya maupun yang pergi dari dirinya adalah apa-apa yang akan menjadikan dirinya ingat dan dekat kepada yang diimaninya serta menjadikan semakin tebalnya iman yang ada dalam hatinya.

Semisal akibat perbuatan maksiat, meskipun bentuknya musibah, kalau musibah itu ternyata menjadikan hati seorang hamba ingat dan dekat kepada Allah, menjadikan hatinya merasa hina dan merasa fakir kepada-Nya, maka musibah itu lebih baik baginya daripada akibat perbuatan taat dan pahala, walau bentuknya kenikmatan dan kemuliaan, namun ternyata menjadikannya lupa diri dan jauh dari-Nya.

“Tidak ada dosa kecil bila dihadapkan kepada keadilan Allah dan tidak ada dosa besar bila dihadapkan kepada pengampunan Allah”.

Dosa, sekecil apapun, apabila dihadapkan dengan sifat keadilan Allah Yang Maha Adil, maka akan menjadi dosa besar. Sebab yang disakiti dengan dosa kecil itu adalah Dzat Yang Maha Besar. Seperti orang meludah dilantai pasar yang becek dan kotor misalnya, meski di depan orang banyak, yang demikian itu adalah hal yang biasa. Namun apabila ada orang meludah di karpet  di depan Presiden misalnya, maka boleh jadi yang demikian itu merupakan perbuatan orang gila.

Apapun yang dihadapkan kepada Yang Maha Besar, maka nilainya akan menjadi besar, walau ia adalah perbuatan yang kecil, karena Allah  mengetahuinya. Seandainya yang kecil itu tidak mendapatkan ampunan-Nya, maka yang kecil itu akan diadili dengan seadil-adilnya. Dan Allah tidak berbuat dholim kepada hamba-Nya. Sebagaimana yang telah digambarkan Allah dengan firman-Nya:

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”.  (QS. al-Kahfi; 18/49)

Adapun dosa besar, sebesar apapun menurut pandangan manusia, bila dihadapkan dengan sifat Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun, dosa-dosa itu akan menjadi kecil, karena pengampunan Allah kepada orang yang dikehendaki, lebih besar daripada dosa-dosa hamba-Nya. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah : “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.  (QS. az-Zumar; 39/53)

Walhasil, dengan keempat hal tersebut, bagaimana seorang hamba mampu berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Karena senang dan susah itu bagi hati yang ‘arifin hanyalah sebuah kendaraan untuk menyampaikan kepada tujuan hidup dan menyelesaikan setiap tahapan derajat disisi-Nya. Namun yang dimaksud bukan yang susah menjadi senang, tapi bagaimana dengan susah itu hatinya tetap senang. (malfiali, Februari 2009)

FENOMENA DUKUN CILIK PONARI, Ada Apa Disana ???

Posted in Ponari dengan kaitan (tags) , on 17 Februari 2009 by malfiali

Berikut ini berita tentang Dukun Cilik Ponari yang dimuat di SURYA Online, barangkali tidak ada salahnya kita mencoba mengkaji dan mencari tahu apa yang terjadi disana. Fenomena ini merupakan ayat Alloh yang tersirat sedangkan Al-Qur’an dan Hadits adalah ayat Alloh yang tersurat, dengan memadukan keduanya semoga kita mendapatkan pemahaman sekaligus hidayah dari-Nya.

Fenomena Dukun Ponari, Pasien Sembuh, Pakar Anggap Sugesti
Senin, 9 Februari 2009 | 9:14 WIB | Kategori: Mataraman | ShareThis

Jombang | Surya-Setelah sempat menutup praktik sementara sejak Kamis (5/2), dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh Ponari, 10, sudah harus melayani ribuan orang yang menyerbu di rumahnya, Minggu (8/2).
Ini berarti pembukaan kembali ini terjadi satu hari lebih awal dari rencana semula, yang baru akan buka praktik lagi mulai, Senin (9/2). Penghentian sementara karena dilakukan pavingisasi pada jalan-jalan seputar rumah Ponari. Kades Balongsari, Nila Nurcahyani membenarkan dibukanya kembali praktik Ponari. Menurutnya meskipun sudah diumumkan pengobatan libur empat hari, namun setiap hari selalu saja ada ribuan orang datang ke rumah Ponari. “Akhirnya panitia sepakat membuka lagi praktik Ponari hari ini,” kata Nila, Minggu (8/2).
Meskipun banyak pengunjung yang mengaku penyakitnya bisa disembuhkan oleh Ponari, bagi Dra Denok Wigati Msi, psikolog dari Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, cerita tentang ‘kesaktian’ Ponari itu hanyalah karena sugesti pasiennya. Menurut alumnus Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta ini, begitu muncul kabar ‘kelebihan’ Ponari, banyak masyarakat percaya.
Denok beranggapan, orang yang datang ke tempat Ponari sudah tersugesti. Dalam perasaan mereka sudah tertanam kuat, mereka akan sembuh setelah meminum air yang sudah dicelup batu milik Ponari. “Mereka memang merasa sudah sembuh dari sakitnya, tapi boleh jadi dalam pandangan orang lain tetap saja sakit,” kata Pembantu Dekan I Fakultas Psikologi Undar ini.
Sugestinya yang sudah demikian kuat, bisa menimbulkan sebuah hipnosis, yang hipnosis ini bisa membuat orang melakukan hal-hal di luar kendali dirinya. Padahal, hipnosis hanyalah ‘memainkan’ perasaan seseorang.
Apapun kata orang tentang Ponari, bagi H Rosyid, warga Desa Tenggur, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, bocah itu telah menyembuhkan penyakitnya. Laki-laki usia 67 tahun itu mengaku mendapat kemajuan pesat dengan kesembuhan penyakitnya setelah minum air putih yang dicelup batu ajaib milik Ponari.
Rosyid yang mengaku lumpuh kedua kakinya akibat stroke selama sekitar 10 tahu, saat datang ke tempat Ponari harus digendong kerabatnya dari mobil, hingga lokasi pengobatan. “Tapi setelah minum air dari dukun cilik itu saya sudah bisa berjalan, meski masih harus dituntun,” kata Rosyid, tersenyum lebar.
‘Kesaktian’ Ponari juga diakui Djamil, tetangga Ponari. Pensiunan guru SD ini mengaku, anaknya, Luluk Jamilah, 35, yang sekitar 10 tahun mengalami gangguan jiwa, mulai sembuh setelah berobat ke Ponari, akhir Januari lalu. Sebelum diobati Ponari, depresi yang diderita Luluk sudah pada tingkat parah. Anak perempuannya itu tidak mau tidur di rumah, melainkan di belakang rumah. Itu sebabnya, Luluk dibuatkan gubuk kecil di belakang rumah Djamil.
Luluk pun diantar ke rumah Ponari, dan diberi minum air putih setelah sebelumnya dicelupkan batu ajaib. Keesokan harinya, kata Djamil, Luluk bisa berkomunikasi, bahkan mengajak Djamil, jalan-jalan seputar rumahnya.
Selain itu, Luluk juga sudah mau tinggal di rumah. “Kesembuhannya mencapai sekitar 50 persen,” kata Djamil. Itu sebabnya, Djamil masih memintakan air kepada Ponari untuk diminum Luluk. st8

Massa Beringas, Paksa Buka Praktik Dukun Cilik, Ratusan Pasien Berebut Air Sisa Mandi Ponari Kamis, 12 Februari 2009 | 8:20 WIB | Kategori: Berita Terkini, Mataraman | ShareThis

Pengunjung Ponari

Pengunjung Ponari

JOMBANG | SURYA-Niat pihak keluarga menutup selamanya praktik pengobatan dukun cilik Muhamad Ponari, 10, ternyata gagal dilakukan. Pasalnya, massa calon pasien –yang terus merangsek di sekitar rumah orangtua Ponari– menjadi beringas, Rabu (11/2).
Melihat hal itu, polisi tidak bisa berbuat lain kecuali mengizinkan pihak keluarga membuka kembali praktik pengobatan alternatif oleh bocah kelas III SD tersebut. Keputusan pembukaan kembali dilakukan pihak Polres Jombang bersama keluarga, Rabu (11/2) sekitar pukul 15.00 WIB.
Keputusan itu terpaksa diambil demi menghindari kemungkinan terjadinya kerusuhan. Pasalnya, massa yang memenuhi halaman rumah keluarga Ponari, di Dusun Kedungsari, Balongsari, Megaluh, Kabupaten Jombang, menunjukkan tanda-tanda kalap dan beringas sekaligus sulit dikendalikan.
Selain berteriak-teriak keras menghujat polisi, sebagian calon pasien juga melemparkan beberapa gelas plastik isi air mineral ke udara. Aksi ini mereda setelah bisa dicegah sesama calon pasien.
Seperti diberitakan, saking banyaknya massa calon pasien yang mengantre –bisa mencapai 50.000 orang sehari– ada empat calon pasien Ponari yang meninggal. Setelah itu, Ponari sempat sakit karena kelelahan sehingga pihak keluarga memutuskan menutup praktik pengobatan Ponari. (Surya, 11/2).
Kericuhan kemarin (11/2) bermula ketika Wakapolsek Megaluh, Deden Kimhar, muncul di depan massa yang memenuhi halaman rumah Ponari dan sekitar rumahnya. Melalui pengeras suara, dia mengumumkan bahwa pengobatan Ponari sudah ditutup.
“Penutupan itu berdasarkan pernyataan dari keluarga Ponari sendiri, yang ditandatangani ibu dan paman Ponari, serta disaksikan pejabat Muspida,” kata Deden.
Deden juga mengumumkan penghentian praktik pengobatan Ponari dilakukan karena kondisi fisik Ponari sakit. Juga, lantaran Ponari harus melanjutkan sekolah.
Mendengar itu massa berteriak-teriak tidak percaya. “Ponari bacah sakti. Mana bisa sakit? Jangan bohongi kami. Kami butuh pertolongan dari Ponari,” teriak seorang laki-laki dengan logat Madura.
Ketika Deden membacakan surat pernyataan tertulis dari keluarga Ponari yang ditandatangani Mukaromah (ibunda Ponari), dan paman Ponari, Paeno, massa menuding pernyataan itu ditulis di bawah tekanan. “Itu paksaan. Keluarga Ponari tidak mungkin punya niat menghentikan pengobatan. Bohong, bohong!” teriak beberapa warga lain.
Pada saat itulah beberapa gelas plastik isi air mineral sempat dilempar ke depan namun hanya sampai di tengah kerumunan massa, tak kena Wakapolres Deden dan para polisi yang hadir bersama Deden. Menghadapi situasi yang memanas, Deden membuka dialog.
Hal itu tak disia-siakan pengunjung. Seorang ibu lewat pengeras mengaku dirinya sudah antre sejak Senin (9/2) lalu untuk minta pengobatan Ponari demi kesembuhan salah satu keluarga. Dia juga mengaku sudah mendapat kupon atau tiket sebagai persyaratan masuk antrean sejak Senin lalu juga.
“Saya sudah menunggu berhari-hari. Kalau ditutup bagaimana nasib kami,” keluh ibu tadi, disahut massa yang beramai-ramai berteriak setuju.
Deden akhirnya berembuk dengan pihak keluarga dan panitia pengobatan. Hasilnya disepakati untuk melanjutkan kembali pengobatan Ponari, dengan syarat untuk Rabu (11/2) khusus yang sudah membawa karcis. “Kami meminta pasien yang tidak ada kupon segera pulang,” kata Deden.

Rebutan Air Mandi
Pantauan Surya, gejala kericuhan muncul ketika sampai Rabu (11/2) sekitar pukul 13.00 WIB ribuan pengunjung terus bertahan di lokasi pengobatan, kemudian merangsek menuju halaman rumah keluarga Ponari. Padahal untuk masuk ke sana harus melewati pagar bambu cukup kokoh dan dijaga polisi.
Mendadak beberapa orang menerobos pagar bambu, dan menuju sumur pompa tangan di samping rumah orangtua Ponari. Massa berebut memompa air, kemudian mewadahi air yang keluar dari pipa pompa ke dalam gelas dan botol masing-masing. Ratusan orang berdesakan di kamar mandi yang terbuat dari anyaman bambu, yang terletak bersebelahan dengan kandang kambing.
Bahkan beberapa orang nekat menciduk air keruh bekas mandi dari saluran air, kemudian digosokkan-gosokan ke bagian tubuh yang sakit. “Dengan cara begini, dengan ridlo Tuhan saya berharap sakit linu-linu di persendian saya yang sudah bertahun-tahun bisa sembuh,” kata Omo, warga Desa Bagjasari, Kecamatan Sijijong, Majalengka, Jawa Barat.
Omo tak datang sendiri ke pengobatan Ponari. Laki-laki usia 65 tahun itu naik angkutan umum bersama istri yang sakit asam urat dan anak laki-lakinya, yang sakit asma. Laki-laki ini rela berdesak-desakan untuk mendapatkan air dari sumur pompa tangan di kamar mandi Ponari.
Kemat Ikut Antre
Di lokasi pengobatan Ponari, Selasa (11/2) kemarin juga tampak Imam Khambali alias Kemat, 31, warga Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang. Seperti diketahui, Kemat dikenal sebagai korban salah tangkap polisi Jombang, kasus pembunuhan mayat yang ditemukan di kebun tebu Dusun Braan, Desa-Kecamatan Bandarkedungmulyo.
Kemat –yang sebelumnya berperilaku wanita– ini datang ke tempat Ponari sekitar pukul 10.00 WIB. Kemat tampak berpakaian macho datang bersama kakak perempuannya, serta seorang waria setengah baya. Kemat mengaku sudah dua kali datang ke Ponari. “Tapi selalu apes, karena kebetulan ditutup,” kata Kemat yang mengenakan kaca mata hitam dan rambut cepak.
Kemat ingin mendapatkan pengobatan. Sebab, menurut Kemat, semenjak keluar dari lembaga pemasyaratan, dadanya sering sesak. “Ini mengganggu saya kalau lagi bekerja,” kata Kemat, yang mengelola salon kecantikan.
Kemat berharap dapat minum air sakti dari Ponari agar penyakitnya bisa sembuh. Namun karena hingga pukul 12.00 WIB tidak ada kejelasan pengobatan dibuka kembali, akhirnya dia pulang. st8

Calo Dukun Cilik Beraksi Malam Hari, Kak Seto Kunjungi Ponari
Senin, 16 Februari 2009 | 8:37 WIB | Kategori: Mataraman | ShareThis
JOMBANG | SURYA
-Sistem ‘buka-tutup’ praktik pengobatan dukun cilik Ponari, 10, memicu munculnya sejumlah calo pengobatan. Calo-calo ini beraksi malam hari –bermodus membawakan air pasien untuk dicelupi ‘batu sakti’ milik Ponari– dengan imbalan antara Rp 20.000-Rp 50.000 per pasien.
Para calo bekerjasama dengan oknum ‘panitia pengobatan’. Cara kerja mereka, setelah mendapatkan calon pasien, mereka menghubungi ‘panitia dalam’ yang memiliki akses langsung ke Ponari. Panitia itulah yang kemudian membawa air dari pasien untuk dicelupi batu ajaib milik dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Balongsari, Megaluh, Kabupaten Jombang, tersebut.
Yadi, 35, warga desa setempat, adalah satu dari beberapa calo tersebut. Ketika ditemui Surya, Minggu (15/2), Yadi mengaku sering mendapat order dari pasien untuk menyampaikan air dalam wadah botol maupun toples ke Ponari untuk dicelupi batu ajaib.
“Titipan itu saya serahkan ke panitia, kemudian diberikan kepada Ponari untuk dicelupi batu ajaib. Setelah itu air yang sudah dicelup batu saya kembalikan lagi ke pasien,” katanya.
Untuk jasanya, Yadi mengaku mendapat imbalan antara Rp 20.000-Rp 50.000 dari setiap pasien. Sebagian diberikan ke oknum panitia yang membantu.
“Biasanya hal itu dilakukan pada malam hari,” kata Yadi, yang bila siang hari bekerja sebagai tukang ojek di lokasi pengobatan Ponari.
Menurutnya, praktik bak calo itu bukan hanya dia yang melakukan melainkan juga oleh beberapa warga setempat. “Tapi kami harus betul-betul hati-hati. Karena, kalau sampai ketahuan pasien lain, mereka bisa marah,” tutur Yadi.
Hanya, Yadi enggan merinci jumlah penghasilan dari jasanya menjadi calo pengobatan itu setiap malam. Satu hal pasti, Yadi aktif mendekati calon-calon pasien yang menginap di sana, meski tetap secara rahasia alias diam-diam.
Seperti diberitakan, sejak sekitar sebulan lalu Ponari dikenal sebagai dukun cilik. Dia mengobati pasien dengan batu ’sakti’, yang diperoleh saat ada sambaran petir sewaktu hujan lebat. Cara pengobatan, Ponari memasukkan batu ke dalam air, dan air tersebut kemudian diminum pasien.
Keberadaan Ponari membuat ribuan calon pasien antre berdesakan, dan menelan empat korban jiwa. Sejak Kamis (12/2) polisi menutup praktik Ponari namun Sabtu (14/2) sore Ponari praktik kembali. Kabar lain, ayah Ponari, Khomsin, 42, dianiaya keluarga Dawuk, 35, saat meminta agar sang anak tak dieksploitasi sebagai dukun cilik. (Surya, 14/2).
Bertahan
Informasi yang diperoleh Surya, Minggu (15/2), pada hari Sabtu (14/2) praktik pengobatan Ponari ternyata hanya dibuka selama sekitar tiga jam. Adapun pada hari Minggu (15/2), murid kelas III SD ini tidak melakukan pengobatan. Padahal, ribuan warga tetap datang; bahkan sebagian dari mereka sudah beberapa hari bertahan di desa tersebut demi mendapatkan pengobatan.
Para calon pasien, Minggu (15/2), tampak lebih banyak dari sehari sebelumnya. Mereka berduyun-duyun datang ke lokasi setelah mendapat kabar bahwa sejak Sabtu (14/2) sore praktik Ponari dibuka lagi. “Kalau kemarin (Sabtu, Red) dibuka, hari ini saya yakin juga dibuka lagi,” kata Rif’atin, warga Desa-Kecamatan Bareng, Jombang.
Meskipun Minggu (15/2) siang turun hujan cukup lebat, namun ribuan orang tetap antre di depan tempat tinggal Ponari yang becek. Mereka membawa air dalam wadah masing-masing, menungu kesempatan air itu dicelup batu ajaib Ponari.
Ratusan warga di antara mereka sempat menerobos pagar bambu yang mengelilingi kediaman Ponari. Mereka kemudian menadahkan wadah air masing-masing ke air hujan yang mengucur dari genting rumah Ponari.
Sementara itu, dugaan eksploitasi terhadap Ponari mendapatkan perhatian serius dari Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA) Seto Mulyadi alias Kak Seto. Pakar psikologi anak itu menyempatkan diri mengunjungi Ponari di tempat tinggalnya, Minggu (15/2) sore.
Kak Seto ditemani stafnya, Gufron, dan diantar Wakapolres Jombang, Kompol Deden Kimhar, Kasatrekrim, AKP Boby Tambunan, serta personel Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Jombang.
Rombongan Kak Seto tiba di lokasi sekitar pukul 17.30 WIB, dan langsung masuk ke rumah Dawuk, yang selama ini menjadi tempat menginap Ponari dan sang ibu, Mukharomah. Pertemuan berjalan tertutup sekitar 25 menit.
Seusai pertemuan, Kak Seto kepada Surya menceritakan, tujuan kedatangan dirinya untuk memberikan pengertian kepada Ponari dan keluarga bahwa hak-hak Ponari sebagai anak harus dilindungi. Menurutnya, Ponari menyatakan senang mengobati tetapi kalau jumlah pasien banyak tidak suka.
“Alasannya capek,” kata Seto seraya menambahkan, Ponari juga mengungkapkan keinginannya untuk kembali bersekolah. st8

——->> Bahan kajian…..

1. Denok (Dra Denok Wigati Msi, psikolog dari Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang) beranggapan, orang yang datang ke tempat Ponari sudah tersugesti. Dalam perasaan mereka sudah tertanam kuat, mereka akan sembuh setelah meminum air yang sudah dicelup batu milik Ponari. “Mereka memang merasa sudah sembuh dari sakitnya, tapi boleh jadi dalam pandangan orang lain tetap saja sakit,” kata Pembantu Dekan I Fakultas Psikologi Undar ini. Pertanyaan: Apakah mungkin hanya dengan sugesti bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit termasuk juga lumpuh dan gila??? Jika para pasien tersebut tidak benar-benar sembuh, mungkinkah sampai begitu banyak yang datang????

2. Apa benar Ponari yang sakti ataukah batu itu yang sakti??? Apa benar manusia dan batu bisa punya kesaktian???

3. Kekuatan apa sebenarnya yang dapat menarik dan mensugesti puluan ribu orang sehingga mereka rela berbondong-dondong datang dari segala penjuru tempat untuk mencari kesembuhan ???

——-> Teman-teman bisa mendiskusikan fonomena Dukun Cilik Ponari ini. Apakah ini merupakan potret kebodohan, keawaman, keputus-asaan, kesyirikan manusia atau Anugerah Ilahi yang didatangkan guna kesembuhan massal bagi penyakit hamba-Nya??? Ataukah merupakan pertanda kegagalan para Ulama dalam membekali aqidah umatnya sehingga sekian banyak orang gampang terjebak berbuat syirik yang berarti mengorbankan imannya kepada Alloh sekedar ingin mendapatkan kesembuhan jasadnya??? Jika hal itu benar, apa penyebabnya???? ataukah merupakan bukti kegagalan pemerintah dalam menyediakan pelayanan penyembuahan untuk rakyaknya yang memadai sehingga kotoran bekas mandi si Dukun Cilik diyakini dapat menyembuhkan penyakit ????  Lepas dari semua itu….. kira-kira hikmah apa yang dapat kita petik disana??? Karena fenomena tersebut pasti tidak diciptakan oleh Alloh Ta’ala dengan sia-sia…… Oleh karenanya, kita jangan salah persangka, karena kita sendiri yang akan menerima akibatnya.

(malfiali, Februari 2009)

RAHASIA SUMBER INAYAH 2 (Keberkahan Membawa Berkah)

Posted in Hikam, ilmu thoriqoh, takdir dengan kaitan (tags) , , on 10 Februari 2009 by malfiali

Rahasia Sumber Inayah

Rahasia Sumber Inayah 2

Allah SWT. Tuhan Semesta Alam Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah dan Yang Mempunyai Karunia yang Besar, sejak zaman azali telah menghendaki dan telah menentukan, bahwa “Rahmat Utama” itu telah dianugerahkan secara khusus hanya kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. Nabi akhir zaman yang sekaligus sebagai penutup para Nabi sebelumnya, sebagai “Rahmatan Lil ‘Alamin”, untuk supaya disampaikan kepada seluruh makhluk di seluruh alam semesta. Maka sejak itu sampai hari kiyamat dan bahkan di hari akhirat nanti, manusia mendatanginya dengan berbondong-bondong dari segala penjuru belahan bumi, mengulurkan tangannya untuk menggapai limpahan rahmat dan syafaat dari Baginda Nabi saw. Mereka itu bagaikan laron-laron mengerumuni lampu di kegelapan malam untuk mencari jalan kehidupan.

Dengan itu maka Allah Ta’ala telah menentukan pula bahwa ketaatan kepadanya (Rasul saw). adalah identik dengan ketaatan kepada Allah SWT., artinya hanya dengan mengikuti baginda Nabi saw. kepada jalan yang sudah ditempuhnya, maka disitulah letak jalan kepada Allah yang sebenarnya yaitu: ”Jalan yang lurus, – jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang yang telah Allah anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang tersesat”. Allah SWT. telah menegaskan dengan firman-Nya:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. QS:4/80.

Jika selama ini orang belum pernah mengetahui, sehingga tidak mengenali “jalan lurus” yang telah siapkan Allah Ta’ala baginya di balik rahasia ayat-ayat di atas, maka sejak sekarang, bagi yang ingin mengetahuinya, curahkan segala perhatian dengan bersungguh-sungguh kepadanya dan dengan berusaha mengadakan penelitian dan latihan yang mendalam, supaya sejak sekarang juga mereka dapat menemukan dan mengenali “jalan lurus” itu yang selanjutnya dapat menempuhnya dengan benar pula. Kalau tidak, sehingga selama hidupnya mereka tidak dapat mengenali “jalan lurus” itu dan apabila ketidaktahuan itu kemudian terlanjur dibawa keliang kubur bersama kematiannya, maka mereka tinggal menunggu apa yang akan terjadi dengannya disana, karena Allah Ta’ala telah memberikan peringatan dengan firman-Nya:

يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا(71)وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. – Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). QS17/71-72.

Oleh karena selama hidupnya di dunia mereka telah mengikuti seorang pemimpin zamannya yang dapat membimbing ibadah dan perjalanan ruhaniyahnya kepada Allah Ta’ala, maka di akhirat nanti kembali mereka akan dihidupkan bersama-sama dengan pemimpin mereka yang dahulu diikuti di dunia dahulu. Namun sebaliknya, oleh karena sebagian besar manusia tidak pernah mengenali “jalan lurus” yang harus ditempuh, mereka hanya menggunakan mata dhohir saja untuk melihat akan tetapi mata batinnya buta, hanya memilih mengelola kehidupan duniawi yang sementara dengan melupakan kehidupan ukhrowi yang abadi, maka di akhirat nanti mata itu akan menjadi lebih buta lagi dan mereka akan lebih tersesat dari jalan yang sebenarnya.

Dari pancaran “Rahmat Utama” yang ada di tangan “Manusia Utama” itu kemudian terbentuklah jaringan komunitas persaudaraan antara sesama umat manusia dengan tulus dan ikhlas. Mereka saling mencintai semata-mata hanya karena Allah Ta’ala. Ukhuwah itu telah mengakar kuat dari porosnya, dan sekarang cabang dan rantingnya telah menyebar sampai kepada pelosok belahan bumi yang terpencil sekalipun. Itulah Ukhuwah Islamiyah, semenjak panji-panji pertama telah dengan jerih payah dan bahkan dengan bersimbah darah berhasil dikibarkan oleh para tokoh utamanya di bawah pimpinan langsung oleh seorang Manusia yang paling utama (Rasul saw.), maka sampai sekarang dan bahkan selama-lamanya, selama nafas kehidupan masih dihembuskan di muka bumi, panji-panji itu akan tetap berkibar, bahkan gaungnya semakin besar.

Terbukti dengan semakin besarnya minat anggotanya untuk menenggak kesejukan minuman yang disajikan oleh ukhuwah itu lewat ibadah haji di Haramain (Makah Madinah) – dari sumber poros yang tidak henti-henti berputar, dimana panji-panji yang pertama telah berhasil dikibarkan oleh sang tokoh utama – pada setiap tahunnya. Meski sejak dahulu sampai sekarang pula, disana sini ukhuwah itu tetap menghadapi tantangan dan halangan yang tidak ringan dari orang yang hatinya tidak senang akan keberadaannya, baik dari kalangan yang tidak percaya atau orang kafir maupun orang yang pura-pura percaya padahal sesungguhnya tidak percaya yaitu orang munafik.

Asy-Syekh Ibnu Athaillah ra. meneruskan dan berkata: [dan Allah mengetahui apabila mereka dibiarkan begitu saja dengan apa yang sudah dipahami, mereka akan meninggalkan amal dan bergantung kepada kehendak azali, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56].

Kalau manusia dibiarkan saja dengan paham azaliyah, bahwa khoirihi wa syarrihi minallah, (baiknya dan jeleknya dari Allah) maka mereka cenderung berbuat malas dan meninggalkan amal usaha, hanya menggantungkan diri kepada kehendak Allah yang azali, dan bahkan kadang-kadang dengan dalih bertawakkal kepada Allah Ta’ala sebagai alasan untuk meninggalkan ikhtiar padahal sesungguhnya adalah pelampiasan rasa malas dan putus asa. Akibatnya, bisa-bisa kehidupan di muka bumi menjadi lumpuh total, karena masing-masing manusia tidak mempunyai inisiatif untuk bekerja dan berusaha. Mereka hanya menunggu terhadap apa-apa yang bisa didatangkan baginya dari langit, maka Allah Ta’ala telah membuka salah satu pintu lagi terhadap apa yang ada di balik rahasia qada’ dan qadar-Nya dengan firman-Nya:

وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik. QS:7/56.

Menusia tidak sekedar diperintah untuk berdo’a saja, akan tetapi maksudnya, dengan do’a-do’a yang dipanjatkan itu haruslah dijadikan dasar pijakan hati bagi apa yang dicari dan diusahakan secara dhohir serta mengharapkan datangnya petunjuk dan hidayah sebagai isyarat atau ilham dari Allah Ta’ala yang selanjutnya untuk supaya dapat ditindaklanjuti dengan usaha, maka dengan inayah Allah Ta’ala usaha seorang hamba akan mengarah kepada sasaran yang diharapkan dengan benar, yaitu anugerah-anugerah yang sudah disiapkan sejak azali.

Kemudian ditegaskan pula bahwa sesungguhnya rahmat Allah Ta’ala amatlah dekat dari orang-orang yang berbuat baik (al-Muhsinin), yaitu orang yang selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala dengan rasa takut dan harap, baik dengan sendirian maupun secara berjama’ah, baik di rumah maupun di majlis-majlis dzikir dan mujahadah yang diadakan. Maka disitulah letak sasaran yang diharapkan, karena dari tempat seperti itu sumber rahmat akan terus-menerus memancar sehingga usaha seorang hamba akan mendapatkan hidayah dan kemudahan-kemudahan dari Allah Ta’ala berkat do’a-do’a mereka. Karena keberadaan mereka (al-Muhsinin) di suatu tempat, seakan-akan memang telah ditetapkan menjadi sumber kehidupan dan keberkahan dari Allah Ta’ala bagi daerah sekelilingnya. Itulah Ulama’ sejati, para kekasih Alloh yang hatinya penuh kasih kepada sesama.

Dari do’a-do’a yang setiap pagi dan petang mereka panjatkan sebagai bentuk keprihatinan hati untuk ummatnya, menjadi sebab tersampaikannya rahmat Allah Ta’ala kepada orang-orang yang dido’akan, selanjutnya menjadikan sebab terbentangnya keberkahan bagi daerah sekitarnya. Demikianlah yang terjadi, dimana-mana, di tempat yang tinggali para Waliyulloh itu, daerah yang asalnya sepi dan mati, ketika manusia sudah mengetahui keberadaan mereka beserta kelebihan-kelebihan yang ada di tangan mereka sebagai anugerah dan buah pengabdian yang hakiki, maka daerah itu kemudian menjadi hidup dan bergairah. Orang-orang berdatangan dari segala penjuru negeri untuk mengambil berkah dari mereka, mencari obat kesembuhan bagi penyakit-penyaki yang diderita, baik penyakit dhohir maupun penyakit batin, baik penyakit ruhani maupun penyakit ekonomi.

Itulah kenyataan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai dengan sesudah matinya. Oleh karena setiap saat banyak orang berziarah ke makam orang-orang yang hatinya suci itu, maka ekonomi di daerah itu menjadi bangkit dan hidup bahkan mampu menjadikan sebab kemakmuran bagi daerah sekitarnya. Demikianlah kenyataan kasat mata yang tidak bisa dipungkiri – bahwa keberkahan Allah Ta’ala telah mampu menghidupi orang hidup melalui kehidupan orang yang sudah mati – walau dimana-mana masih banyak orang yang mengingkari jasa-jasa mereka. Bahkan mensyirikkan orang yang berziarah ke makam mereka.

Sebagian orang mengatakan para peziarah itu berbuat syirik sekedar karena bertabarukan kepada para Wali itu. Jika sekedar minta kepada kuburan……! Minta kepada batu mati yang menancap di atas sesonggok tanah kering, siapa yang tidak mengerti bahwa hal itu merupakan perbuatan syirik…..?, kalau memang benar bahwa orang yang setiap hari datang kekuburan para waliyullah itu berbuat syirik..?, sekarang ada pertanyaan; “sekiranya yang ditanam di bawah seonggok tanah kering yang ditancapi batu mati itu adalah jasad kasar kita, maukah orang-orang tersebut menziarai kuburan kita…?”, kalau ternyata tidak mau, apa bedanya jasad kita dengan jasad para waliyullah itu…? Ada apa di dalam jasad kita dan ada apa pula di dalam jasad mereka, padahal sama-sama jasad yang sudah mati….?. mengapa jasad mereka dapat menarik hati orang sekian banyak sehingga setiap hari datang dari tempat yang jauh sekedar ziarah atau tabarrukan sedang jasad kita tidak…?

Maka barangkali ada sudut pandang yang agak berbeda sehingga hati yang mulia telah menjadi salah sangka. Kalau orang bertanya : “Mengapa orang banyak itu jauh-jauh dengan bersusah payah mau datang kekuburan orang yang sudah mati…?”. Maka jawabannya gampang sekali, yaitu karena mereka itu adalah orang-orang bodoh sehingga mampu berbuat yang tidak masuk akal. Masak orang sudah mati kok kuburannya sampai didatangi dari jauh-jauh. Akan tetapi coba pertanyaannya agak dirubah sedikit: “Ada apa di kuburan orang itu…?, mengapa setiap hari orang-orang dari tempat yang jauh didatangkan oleh Allah Ta’ala kesana…? mengapa tidak didatangkan ke kuburan kita….?. Maka jawabannya agak sulit karena itu membutuhkan ilmu yang luas dan penelitian yang panjang kecuali bagi orang-orang yang hatinya ada Inayah dari Allah Ta’ala sehingga nur imannya mampu menyinari perbendaharaan ilmu yang ada di bilik akalnya.

Ini ada pertanyaan yang paling mudah dijawab. Bukankah semua orang tahu bahwa apa saja yang terjadi di alam ini pasti terjadi atas dasar kehendak dan takdir Allah Ta’ala?? Sekarang pertanyaannya; mengapa orang banyak itu setiap hari dari jauh-jauh ditakdirkan Allah Ta’ala datang di kuburan para waliyullah itu dan tidak ditakdirkan datang ke kuburan kita..? Ada rahasia apa di balik  kehendak dan takdir tersebut…?. Jika semacam itu pertanyaan yang dilontarkan, barangkali siapapun dapat menemukan jawabannya asal dilontarkan dengan hati yang selamat. Jika tidak, berarti memang hati kita yang perlu diteliti, barangkali di dalamnya sudah tercemar oleh penyakit hati yang dimasukkan oleh setan jin.

Jawabannya ialah: sesungguhnya yang demikian itu merupakan buah ibadah. Para waliyullah itu sekarang sudah menuai bibit yang dahulu mereka tanam, yaitu berupa kasih sayang kepada umat yang dikemas di balik perjuangan dan do’a-do’a. Karena keprihatinan hati kepada keselamatan orang lain yang notabene bukan apa-apa mereka telah membuahkan hasil, orang-orang yang dido’akan itu telah mendapatkan hidayah dan inayah dari-Nya, maka sekarang mereka telah menuai buahnya, yakni didoakan kembali oleh manusia-manusia yang berterima kasih terhadap jasa-jasa mereka. Kuburan kereka didatangi dan dido’akan oleh orang-orang yang telah merasakan kenikmatan iman yang ada di dalam hati hasil jerih payah yang dahulu telah mereka kerjakan. Hal itu terjadi semata merupakan bentuk dzikir Allah Ta’ala kepada mereka karena mereka dahulu telah berdzikir kepada Allah Ta’ala melalui keperihatinan hati kepada umat manusia sepanjang hidupnya. Yang demikian itu hanyalah bentuk pelaksanaan janji Allah Ta’ala yang tidak akan pernah diingkari, bahwa Allah telah berfirman yang artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat)–Ku”. QS: al-Baqoroh 2/152.

Oleh karena itu, jika kita ingin mendapat kegembiraan seperti itu – yaitu di saat keluarga kita saja terkadang melupakan jasad mati kita, orang lain didatangkan oleh Allah Ta’ala dari segala penjuru tempat sekedar untuk memberikan kegembiraan kepada kehidupan yang ada di balik jasad yang sudah mati itu – maka sejak sekarang kita harus menggembirakan hati orang lain, supaya kelak ketika hati kita sedang sepi di dalam penantian yang panjang di alam kubur, Allah Ta’ala menghibur dengan datangnya orang lain menziarai kuburan kita.

Ketika kejelekan-kejelekan karakter duniawi yang keluar masuk di dalam hati orang-orang yang beriman itu sudah tidak sempat lagi membekaskan kejelekan disana, ketika fitnah-fitnah yang semestinya membakar telinga malah menyejukkan di hati mereka, maka itulah pertanda hati orang yang suka berbuat ihsan (al-Muhsinin), karena yang terlihat oleh matahati dari realita yang dihadapi hanyalah Allah Ta’ala dengan segala qada’ dan qadar-Nya, hanya irodah dan takdir-Nya, yaitu hanya kehendak-Nya yang azaliyah untuk mentarbiyah seorang hamba yang dicintai-Nya. Maka dada mereka bagaikan hamparan bumi, apa saja boleh masuk, boleh kotoran boleh penyakit, akan tetapi yang keluar hanyalah kebaikan dan obat. Layaknya seperti seorang dokter, sungguhpun setiap saat mereka harus bergulat dengan penyakit dan orang sakit, tapi dokter yang sejati itu selamanya tidak akan tertular oleh penyakit orang sakit. Kalau ada orang mengaku dokter, tetapi dia masih dapat tertular dengan penyakit orang sakit, berarti dia adalah dokter yang berpenyakitan. Maka jauhilah segera, jangan-jangan malah dia adalah sumber penyakit itu.

Keberadaan seorang “Muhsinin” yang sejati, dimana-mana akan menjadi bagaikan tambang kebaikan, karena setiap tarikan nafas serta detak jantungnya hanya dimuati pengabdian hakiki. Mereka menyelesaikan permasalahan umat sampai terkadang melupakan urusan pribadi. Kebanyakan orang datang kepadanya untuk sekedar mengadu dan mencari solusi, bahkan tidak peduli walau dia sendiri sedang bersedih. Maka semakin banyak orang yang mengenalnya semakin banyak pula masalah yang harus dihadapinya, akibatnya, semakin lama dadanya menjadi bagaikan bak sampah, karena hanya dipenuhi kesusahan dan kesedihan orang-orang yang mengelilingi. Itulah dokter-dokter ummat, dengan amanat yang ada dalam pundak, mendorongnya untuk menghidupkan dzikir dan mujahadah malam, dan ketika do’a-do’a yang ikhlas itu mendapatkan ijabah dari-Nya, maka jadilah ijabah itu sebagai sebab Allah Ta’ala membukakan pintu rahmat-Nya kepada umat. Bahkan dari sebab linangan air mata yang meleleh di pipinya karena menangisi kesedihan umat, kadang-kadang menjadikan sebab Allah Ta’ala menurunkan air hujan di daerah yang ditangisi itu, bahkan konon, apabila di Baitullah Makkah al-Mukarromah, selama tujuh hari saja mereka absen tidak melakukan thowaf disana, berarti hari kiyamat segera akan datang.

Sebagian mereka bagaikan pelita-pelita bumi, walau di siang hari keberadaannya tidak tampak karena kesibukan dhohir untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, akan tetapi di malam hari, bersama gemerlap bintang di langit, mereka sanggup menjadi penerang jalan bagi sang musafir yang sedang bersedih hati. Maka…., wahai laron-laron liar yang ingin mencari penerang jalan, segeralah mendekat kesana, mencari dimana mereka menyembunyikan mutiara, supaya sang laron yang nakal dan tidak tahu diri itu dapat menemukan anugerah Allah Ta’ala yang sudah disiapkan baginya. Sungguh benar Allah dengan firman-Nya: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56.

Asy-Syekh Ibnu Athaillah ra. meneruskan konsepnya dan berkata: [Kepada “Kehendak”, segala sesuatu itu bersandar dan bukan kepada segala sesuatu, “Kehendak” itu bersandar].

Apabila akal sedang buntu untuk dapat memahami apa yang sedang terjadi di depan mata, orang tidak mampu membedakan mana yang kehendak Allah Ta’ala dan mana yang kehendak manusia secara basyariyah, dia tidak mampu membedakan mana yang irodah azaliyah dan mana yang irodah hadits miliknya, maka hati hendaklah segera berlari kepada Allah Ta’ala sedangkan Al-Qur’an dan hadits adalah penerang jalannya. Oleh karena Allah Ta’ala yang menciptakan manusia, maka hanya Allah-lah yang paling mengetahui segala yang ada di dalam jiwanya. Allah SWT. berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُور

(dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. QS:24/40.

Yang pasti, datangnya inayah itu hanya dari kehendak-Nya, barang siapa tidak dikehendaki untuk mendapatkannya maka sedikitpun dia tidak akan memiliki inayah di dalam hidupnya. Maksudnya, seorang hamba boleh berusaha dan berdo’a, bahkan hendaknya berusaha dan berdo’a dengan sekuat tenaga, akan tetapi mereka tidak boleh hanya bersandar kepada usaha dan do’a itu saja, melainkan harus kepada kehendak-Nya, maka usaha dan do’a seorang hamba tidak akan sia-sia karena usaha dan do’a itu merupakan ibadah.

(malfiali, Februari 2009)

SUMBER RAHASIA INAYAH 1 (Rahmat Utama untuk Manusia Utama)

Posted in Hikam, ilmu thoriqoh, takdir dengan kaitan (tags) , , on 10 Februari 2009 by malfiali

Rahasia Sumber Inayah

Rahasia Sumber Inayah 1

Kenikmatan terbesar bagi kaum mu’minin adalah “Inayah Azaliyah”. Bahwasanya sejak zaman azali kita telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala menjadi orang yang beriman. Sungguh ketetapan tersebut bukan sebab amal ibadah yang kita lakukan dan bukan pula sebab keilkhlasan, karena saat itu belum ada-apa, yang ada semata-mata hanya anugerah yang utama. Maka inayah azaliyah itu merupakan anugerah Allah Ta’ala kepada seorang hamba yang dikehendaki-Nya.

Asy-Syeikh Al-Imam Al-Arif Billah, Abi Fadil Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah Al-Assakandary Radliyallaahu ‘Anhu berkata:

Allah mengetahui bahwa sesungguhnya seorang hamba sangat ingin mengetahui tetang kenyataan rahasia “Inayah”, maka Allah berfirman: “Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS:3/74. dan Allah mengetahui apabila mereka dibiarkan begitu saja dengan apa yang sudah dipahami, mereka akan meninggalkan amal dan bergantung kepada kehendak azali, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56. Kepada “Kehendak” segala sesuatu itu bersandar dan bukan kepada segala sesuatu “Kehendak” itu bersandar.

Termasuk bagian dari fungsi kekholifahan manusia adalah, bahwa keberadaannya di muka bumi haruslah menjadi sebab ditebarkannya rahmat Allah Ta’ala kepada makhluk yang ada di sekelilingnya. Yaitu: menyampaikan sifat rahman – rahim Allah Ta’ala kepada manusia melalui sifat dan karakter serta pengabdian dan perjuangan hidup yang mereka jalani, memancarkan Nur Allah Ta’ala melalui pantulan nur yang memancar dari sinar wajah yang sejuk cerminan kesucian dan kebersihan yang terbit dari lubuk hati, membangun dan menebarkan sendi-sendi kehidupan di alam persada melalui amal bakti dan akhlakul karimah, menyampaikan inayah Allah Ta’ala kepada yang berhak menerima melalui inayah yang telah didapatkan dari-Nya, menyampaikan pertolongan Allah Ta’ala kepada yang berhak melalui pertolongan yang telah diturunkan kepadanya, bahkan mengirimkan inspirasi dan ilham kepada hati manusia melalui inspirasi dan ilham yang didapatkan dari Rabnya, akhirnya mendatangkan dan menurunkan hajat kebutuhan umat, baik yang dhohir maupun yang batin dari perbendaharaan ghaib yang tersimpan di sisi-Nya melalui do’a dan munajat yang dipanjatkan kepada Tuhannya. Untuk itulah Rasulullah Muhammad saw diutus di muka bumi, maka melalui akhlakul karimah yang terpancarkan dari prilaku hidupnya, rahmat Allah Ta’ala kemudian menyebar keseluruh alam semesta.

Rasulullah Muhammad SAW diutus di muka bumi bukan sekedar untuk membawa agama baru, akan tetapi dengan agama baru itu beliau harus mengemas kasih sayangnya kepada umat. Supaya kehidupan makhluk di muka bumi menjadi aman, makmur dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat nanti. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. QS:21107

Itulah rahasia fungsi kekholifahan khusus yang dikhususkan bagi baginda Nabi SAW. yaitu melalui nubuwah dan risalah yang diembannya, beliau telah menebarkan rahmat Allah Ta’ala kepada alam semesta, baik rahmat dhohir maupun rahmat batin, baik di dunia maupun di akhirat. Dan tidak hanya kepada alam manusia saja akan tetapi juga meliputi alam Jin dan bahkan alam Malaikat.

Oleh karena manusia merupakan sumber tenaga dan sebagai pengelola sumber potensi kehidupan di muka bumi, maka dengan agama yang dibawa itu manusia harus menjadi baik. Baik perangai maupun perbuatan, supaya kehidupan secara keseluruhan di muka bumi akan menjadi baik pula. Apabila manusia menjadi jelek maka kehidupan juga akan menjadi jelek dan rusak. Allah Ta’ala menjelaskan dengan firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). QS:30/41.

Supaya di muka bumi tidak terjadi kerusakan lagi, dan juga supaya manusia tidak menanggung akibat kerusakan yang diperbuat, maka manusia terlebih dahulu harus dibuat menjadi baik, terutama hatinya. Untuk itulah agama diturunkan dan seorang Nabi, baik sebagai pemimpin (qudwah) maupun sebagai panutan (uswah) diutus di tengah-tengah manusia. Apabila manusia hatinya telah menjadi baik maka seluruh angota tubuhnya akan menjadi baik yang selanjutnya supaya kehidupan di muka bumi akan ikut menjadi baik pula.

Sejak terutusnya baginda Nabi saw. sampai sekarang, sejarah telah membuktikan, bahwa dari tanah yang tandus dan gersang di mana manusia utama itu dilahirkan, kemakmuran telah menyebar ke segenap pelosok dunia, baik kemakmuran aspek jasmani maupun ruhani, dan bahkan kehidupan manusia di seluruh belahan bumi ini, secara jasmani dan dhohir, hampir-hampir bergantung dengan apa yang dihasilkan oleh perut bumi dimana saat itu baginda Nabi saw menjalankan aktifitas hidup dan kehidupan. Itulah sunnah yang ada, bahwa keberkahan Allah Ta’ala yang tersimpan di dalam perbendaharan ghaib-Nya telah mampu digali dan dipancarkan kepada alam dhohir melalui rahasia keberkahan hati dan prilaku yang tersimpan di dalam akhlakul karimah yang agung.

Hanya Rasulullah Muhammad saw. yang mampu berbuat demikian karena baginda Nabi saw. adalah seorang kholifah bumi sepanjang masa. Beliau tidak hanya diutus untuk suku bangsanya sendiri sebagaimana para rasul dan para Nabi terdahulu, akan tetapi untuk manusia secara keseluruhan. Oleh karenanya, bahkan sebelum kelahirannya, beliau saw. telah dijadikan wasilah di dalam do’a-do’a yang dipanjatkan oleh orang-orang yang menunggu kedatangannya, meskipun ketika beliau telah berada di tengah-tengah kehidupan mereka, sebagian besar mereka mengingkari tugas dan fungsinya, bahkan sampai sekarang. Oleh karena hanya sedikit orang yang benar-benar mengetahui fungsi kekholifahan itu, maka jarang sekali yang dapat memanfaatkannya untuk kepentingan hidup dan kehidupan.

Kebesaran dan kekhususan itu tergambar dengan apa yang terkandung dari pernyataan Allah Ta’ala, bahwa Allah SWT. terlebih dahulu telah mencurahkan rahmat dan keselamatan kepada beliau dan kemudian para malaikat-Nya, selanjutnya orang-orang yang beriman diperintah untuk menggapainya melalui apa yang sudah ada itu dengan membaca sholawat kepadanya. Allah SWT. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. QS:33/56.

Adakah yang lebih besar lagi dari itu??? Itulah satu-satunya pernyataan dari Allah Rabbul Alamin yang tidak pernah diberikan kepada siapapun, bahkan sekalipun kepada para malaikat-Nya. Rasul Muhammad saw. adalah satu-satunya manusia yang dipilih oleh Allah Ta’ala untuk menyebarkan rahmat-Nya secara universal kepada alam semesta ini, bahkan juga di alam akhirat nanti, hanya baginda Nabi satu-satunya manusia yang mendapatkan hak memberikan syafaat kepada umat manusia secara keseluruhan. Itulah rahmat Allah Ta’ala terbesar dan yang terakhir setelah hari kiyamat sebelum masing-masing ahlinya ditempatkan di neraka atau di surga.

Dengan syafa’at di tangan baginda Nabi saw. akan menyelamatkan banyak orang – bagi yang berhak menerima syafaatnya – dari siksa neraka jahanam di hari kiyamat nanti. Rasulullah saw. telah menegaskan dengan sabdanya:

حَدِيثُ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي كَانَ كُلُّ نَبِيٍّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى كُلِّ أَحْمَرَ وَأَسْوَدَ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَلَمْ تُحَلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَيِّبَةً طَهُورًا وَمَسْجِدًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ بَيْنَ يَدَيْ مَسِيرَةِ شَهْرٍ وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ *
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Aku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelumku. Semua Nabi sebelumku hanya diutus khusus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada manusia yang berkulit merah dan hitam yaitu seluruh manusia. Dihalalkan untukku harta rampasan perang, sedangkan tidak pernah dihalalkan kepada seorang Nabipun sebelumku. Disediakan untukku bumi yang subur lagi suci sebagai tempat untuk sujud yaitu sembahyang. Maka barang siapa apabila tiba waktu sembahyang walau dimanapun dia berada hendaklah dia mengerjakan sembahyang. Aku juga diberikan pertolongan dapat membuat musuh merasa takut dari jarak perjalanan selama satu bulan. Aku juga diberikan hak untuk memberi syafaat.

•    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tayamum hadits nomor 419 – Lima Solat Fardu hadits nomor 2890.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Masjid Dan Tempat Solat hadits nomor 810.
•    Riwayat Nasa’i di dalam Kitab Mandi Dan Tayamum hadist nomor 429 – Masjid 718.
•    Riwayat Ahmad Ibnu Hambal di dalam Kitab Juzuk 3 Muka Surat 304.
•    Riwayat Ad-Darimi di dalam Kitab Sholat hadits nomor 1353.

Bahkan di tengah-tengah umat yang mengingkarinya, keberadaan beliau semasa hidupnya telah mampu menjadi sebab tertahannya siksa Allah Ta’ala yang semestinya harus diturunkan kepada orang yang berbuat dosa. Demikian yang dinyatakan di dalam hadits Nabi saw.:

حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ أَبُو جَهْلٍ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ فَنَزَلَتْ ( وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ) إِلَى آخِرِ الْآيَةِ *
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a berkata: Abu Jahal berdoa: Wahai tuhanku sekiranya al-Quran ini benar datang dari sisi-Mu, maka turunkanlah hujan batu dari langit atau timpakan kepada kami siksaan yang pedih. Lalu turunlah ayat
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَام
Yang artinya: Dan Allah tidak sekali-kali akan menyiksa mereka, sedangkan engkau wahai Muhammad ada di antara mereka dan mengapa mereka tidak patut disiksa oleh Allah sedangkan mereka menghalang-halangi orang-orang Islam dari Masjidil Haram. hingga akhir ayat.

•    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an hadits nomor 4281.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Suasana Hari Kiyamat, Surga Dan Neraka hadits nomor 5004.

Dan hanya malalui gengaman tangan suci Syafi’ina Muhammad Rasulullah saw. “Rahmat Nubuwah” itu dari sumber rahasia yang azali kemudian dilimpahkan ke alam semesta sebagai “Rahmat Lil ‘Alamin” yang selanjutnya menyebar serta memasuki setiap lini kehidupan umat manusia di berbagai pelosok belahan bumi melalui uluran tangan Ulama-ulama pewaris dan penerus perjuangan yang sekaligus adalah Ahli Bait Beliau saw. Sebagai kholifah bumi zamannya. Maka para Ahli Baitinnabi ra. tersebut telah meneruskan tongkat estafet perjuangan para pendahulunya, menyampaikan “rahmat nubuwah” yang diterima dari tangan sang datuk menjadi “rahmat walayah” di tangan mereka untuk disampaikan kepada umat sebagai “inayah” dari Allah Ta’ala, supaya masing-masing hati yang selamat menerima Nur Tauhid Dan Nur Iman serta hidayah dari-Nya.

Mereka tidak henti-hentinya berpindah dari satu tempat ketempat lain sambil berdagang menyeru manusia kepada jalan Allah Ta’ala, baik melalui dakwah maupun dzikirnya, baik melalui perjuangan maupun do’a-do’anya, silih berganti sambung menyambung sampai saat hari kiyamat datang nanti. Dengan upaya yang seperti itu menyebabkan banyak orang hatinya menjadi simpatik dan memeluk agama islam, bahkan sebagian dari mereka ada yang dijadikan menantu oleh raja-raja setempat yang akhirnya berdirilah kerajaan islam disana-sini, sejarah telah membuktikannya pula. Bahwa di tanah jawa yang dahulu penduduknya bukan penganut agama islam, berkat kegigihan perjuangan dan kekuasaan serta akhlakul karimah yang mereka pancarkan – dari sembilan Wali Songo delapannya adalah dzurriyatur rasul ra. – bersama-sama penduduk negeri sebagai pembela dan pengikut yang setia, dengan inayah Allah Ta’ala yang ada di tangan, mereka telah berhasil memberantas sarang-sarang kemusyrikan dan kezaliman, sarang-sarang kemungkaran dan kemunafikan serta menancapkan sendi-sendi tauhid dan islam dengan penuh rahmatan lil ‘alamin sehingga mayoritas penduduknya menjadi muslimin yang penuh dengan persaudaraan dan kedamaian, bahkan sampai sekarang, alhamdulillah, masih di tangan mereka pula panji-panji islam semakin hari semakin menancap di dalam hati mayoritas penduduknya.

Sejak dahulu sampai sekarang, dimanapun mereka berada, para ahli bait Nabi itu tidak henti-hentinya mengajak manusia di jalan Allah Ta’ala, ada yang melalui dakwah dan tulisan-tulisannya, ada yang melaui dzikir dan mujahadahnya, ada yang melalui dzikir maulid dan dzikir manaqibnya. Sebagaimana yang telah dilakukan Sang Datuk dahulu, semuanya itu hanyalah dijadikan sarana bagaimana supaya manusia berbondong-bondong mendatangi panggilan Tuhannya. Maka dimana-mana, diseluruh pelosok dunia, asal mereka disitu berada, manusia yang selamat hatinya berbondong-bondong mengerumuni mereka pula, mengulurkan tangan menyambut uluran tangan mereka, untuk mengharapkan dan mencari syafa’at dan keberkahan Allah Ta’ala yang sudah dilimpahkan kepada mereka, menggapai rahmat khusus yang diberikan secara khusus oleh Allah Ta’ala kepada mereka. Sejarah telah membuktikannya.

Asy-Syekh Ibnu Athoillah ra. berkata: [Allah mengetahui bahwa sesungguhnya seorang hamba sangat ingin mengetahui tentang kenyataan rahasia “Inayah”, maka Allah berfirman: “Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS:3/74.]

Barang siapa ingin mengetahui tentang kenyataan rahasia “Inayah” atau rahmat Allah Ta’ala yang paling utama itu, maka demikianlah sunnah yang telah terjadi, baik orang-orang kafir dan orang yang membencinya mengakui ataupun tidak, realita tidak memperdulikan lagi dengan mereka, karena sejarah telah membuktikan terhadap apa yang telah dinyatakan Allah Ta’ala dengan firman-Nya:

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar. QS:3/74.

(malfiali, Februari 2009)