MENYINGKAP ALAM GHAIB 2
MENYINGKAP ALAM GHAIB 2
3. Seorang hamba dengan Ilmu dan Kehendak Allah s.w.t berpotensi dapat melihat dan mengetahui alam gaib.
Ketika Nabi s.a.w bermi’roj dengan dikawal malaikat Jibril, Beliau dipertontonkan oleh Allah s.w.t kepada alam gaib. Yakni keadaan di surga, di neraka dan keadaan-keadaan yang akan menimpa umatnya di masa yang akan datang. Dengan ini menunjukkan bahwa yang dimaksud alam gaib itu bukan alam Jin atau alam Malaikat dan bahkan alam Ruh (ruhaniah), semua itu sesungguhnya merupakan alam yang masih berada di dalam dimensi alam Syahadah walau berada pada dimensi yang berbeda dari bagian dimensi yang ada di dunia. Yang dimaksud dengan alam gaib adalah masa yang belum terjadi atau alam yang akan datang.
Surga dan Neraka dikatakan gaib karena keberadaannya setelah hari kiamat. Mati dikatakan gaib karena datangnya pada waktu yang akan datang. Jadi, hikmah terbesar dari perjalanan ruhani manusia dengan mengadakan pengembaraan ruhaniah (bertawasul) untuk berisro’ mi’roj kepada Allah s.w.t dengan ruhaninya, adalah terbukanya hijab-hijab basyariah sehingga dengan matahatinya atau firasatnya yang tajam manusia dapat mengetahui alam gaib atau apa-apa yang akan terjadi pada dirinya.
Kejadian-kejadian yang terjadi pada masa dahulu dan yang akan datang dikatakan gaib. Alam barzah dan alam akherat, tentang neraka, tentang shiroth, semuanya dikatakan gaib karena kejadiannya pada masa yang akan datang. Demikian pula sejarah-sejarah para Nabi terdahulu dikatakan gaib, karena terjadi pada masa lampau. Allah s.w.t telah menyatakan dengan firman-Nya:
ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ
“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad) padahal kamu tidak hadir beserta mereka” . (QS. Ali Imran; 3/44)
Tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah s.w.t. Kalau ada seseorang ingin mengetahuinya, maka jalannya hanya satu yaitu dengan mengimani apa-apa yang sudah disampaikan oleh Wahyu Allah s.w.t, kemudian ditindaklanjuti dengan amal ibadah (mujahadah dan riyadhah). Selanjutnya, apabila Allah s.w.t menghendaki, maka orang tersebut akan dibukakan matahatinya. Allah s.w.t telah mengisyaratkan demikian dengan firman-Nya:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
“Dan pada sisi Allahlah Kunci-kunci semua yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah”. (QS. al-An’am; 6/59)
Apa yang akan terjadi dalam waktu satu jam mendatang dikatakan gaib. Karena tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali hanya Allah s.w.t. Kalau ada seseorang yang mempunyai firasat tajam kemudian dia seakan-akan mengetahui apa-apa yang akan terjadi, hal itu bisa terjadi, karena yang demikian itu dia melihat dengan “Nur Allah”. Demikianlah yang disebutkan di dalam sabda Rasulullah s.a.w, yang artinya:”Takutlah kamu akan firasatnya orang-orang yang beriman, karena sesungguhnya dia melihat dengan Nur Allah”.
Kadang-kadang hanya dengan kekuatan cinta, firasat seseorang bisa menjadi tajam kepada orang yang dicintainya. Seorang ibu misalnya, yang sedang jauh dengan anaknya, kadang-kadang tanpa sebab, ibu itu mengalami perasaan yang gundah-gulana, ketika dia mencoba menghubungi anaknya, ternyata anaknya sedang sakit. Kalau kekuatan cinta antara sesama makhluk saja—bahkan kadang terjadi dalam kondisi yang masih haram misalnya, mampu menjadikan tajamnya firasat, apalagi cinta seorang hamba terhadap Tuhannya.
Seorang hamba yang selalu bertafakkur, memikirkan Kekuasaan dan Kebesaran Allah s.w.t hal tersebut semata-mata terbit dari dorongan rasa cinta dan rindunya, hatinya akan menjadi bersih dari kotoran-kotoran yang menempel, bersih dari hijab-hijab yang menutupi dinding penyekat alam batinnya sehingga pada gilirannya matahatinya akan menjadi cemerlang dan tembus pandang. Demikian itu telah ditegaskan Allah s.w.t dengan firman-Nya:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjuki kepada mereka jalan-jalan Kami”. (QS. al-Ankabut; 29/69)
Apa saja yang terjadi di waktu yang akan datang, dari urusan rizki, urusan jodoh, urusan mati dan sebagainya, baik penderitaan ataupun kebahagiaan, yang terjadi di dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akherat, semua itu dikatakan hal yang gaib, karena tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Adapun Jin dan Malaikat dan bahkan Ruh atau ruhaniah tidaklah termasuk dari golongan Alam Gaib dalam arti yang disebut Metafisika akan tetapi termasuk dari golongan Alam Syahadah atau yang disebut Alam Fisika, hanya saja fisiknya berbeda dengan fisik manusia. Bau harum misalnya, walau tidak tampak fisiknya, tidak termasuk Alam Gaib tapi Alam Syahadah, atau alam yang bisa dirasakan, hanya saja untuk merasakannya membutuhkan alat, dan alat itu ialah indera penciuman.
Seandainya ada seseorang yang tidak mempunyai indera penciuman atau indera penciumannya sedang rusak misalnya. Walaupun orang lain dapat merasakan bau harum, dia tidak, yang demikian itu bukan karena bau harum itu tidak ada, tapi karena indera penciuman orang tersebut sedang tidak berfungsi. Demikian juga terhadap suara, akan tetapi untuk merasakan suara membutuhkan alat yang berbeda. Kalau merasakan bebauan dengan alat hidung, maka merasakan suara dengan alat telinga. Orang tidak bisa merasakan bau harum dengan telinga dan suara dengan hidung, masing-masing harus dirasakan dengan alat yang sudah dipersiapkan Allah s.w.t menurut kebutuhan kejadiannya. Seperti itu pulalah keadaan yang ada pada dimensi yang lain, dimensi jin, dimensi malaikat dan bahkan dimensi ruhaniah.
Jin dan malaikat misalnya, sebenarnya mereka juga adalah makhluk fisik, bukan metafisika. Asal kejadian fisik jin diciptakan dari api, sedang fisik malaikat diciptakan dari cahaya. Sebagaimana manusia yang asal kejadiannya diciptakan dari tanah, bentuk kejadian selanjutnya tidaklah tanah lagi, melainkan terdiri dari tulang dan daging, maka demikian juga yang terjadi terhadap makhluk jin dan malaikat.
Meskipun fisik jin diciptakan dari api dan malaikat diciptakan dari cahaya, kejadian selanjutnya tidaklah api dan cahaya lagi, tapi dalam bentuk fisik tertentu yang oleh Allah s.w.t telah ditetapkan tidak bisa dirasakan dengan indera mata manusia. Namun demikian, bentuk fisik jin dan malaikat itu boleh jadi bisa dirasakan oleh manusia dengan indera yang lain selain indera mata. Indera tersebut bisa disebut dengan nama atau istilah apa saja, indera keenam misalnya, atau dengan istilah-istilah atau nama – nama yang lain.
Semisal suara telah ditetapkan oleh Allah s.w.t tidak bisa dirasakan oleh hidung, tapi harus didengar oleh telinga, maka telinga atau hidung hanyalah istilah-istilah yang ditetapkan bagi alat perasa yang dimaksud supaya manusia dapat dengan mudah memahami atau mengenal terhadap alat perasa tersebut. Allah s.w.t berfirman:
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ
“Sesungguhnya ia (setan jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu, dari dimensi yang kamu tidak bisa melihatnya “. (QS. 7; 27)
Bukan berarti manusia tidak dapat mengobservasi atau berinteraksi dengan jin karena jin berada pada dimensi yang di atasnya, akan tetapi hanya saja untuk mengobserfasi atau berinteraksi dengan jin itu manusia tidak bisa dengan mempergunakan indera mata. Sebagaimana berinteraksi dengan suara tidak bisa mempergunakan indera hidung, akan tetapi harus mempergunakan alat perasa yang lain yang sesuai menurut kebutuhannya.
Allah s.w.t menghendaki manusia tidak dapat melihat jin, karena sesungguhnya matanya sedang tertutup oleh hijab-hijab basyariah. Ketika penutup mata itu dibuka, maka penglihatan manusia akan menjadi tajam. Artinya mempunyai kekuatan untuk tembus pandang sehingga saat itu manusia dapat merasakan alam-alam yang ada di sekitarnya. Allah s.w.t telah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:
فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
“Maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu menjadi amat tajam “. (QS.Qaaf.; 50/22).
Istilah yang dipergunakan Allah s.w.t untuk membuka penutup penglihatan manusia di dalam ayat di atas adalah firman-Nya: فكشفنا عنك غطاءك “Fakasyafnaa ‘anka ghithooaka” Kami singkapkan darimu penutup matamu, atau penutupnya dihilangi, atau hijabnya dibuka. Ketika manusia tidak dapat berinteraksi dengan dimensi yang lain berarti karena penglihatannya sedang ada penutupnya. Oleh karena itu ketika penutup itu dibuka, maka penglihatannya menjadi tajam atau tembus pandang. Ini adalah rahasia besar yang telah menguak sebuah misteri tentang alam-alam yang ada di sekitar alam manusia.
Bahwa jalan untuk menjadikan mata manusia menjadi tembus pandang supaya kemudian manusia mampu berinteraksi dengan dimensi yang lain,—dengan istilah melihat jin misalnya, adalah hanya dengan mengikuti tata cara yang berkaitan dengan istilah di atas. Tata cara itu ialah dengan jalan melaksanakan mujahadah di jalan Allah. Sebagaimana yang telah disampaikan Allah s.w.t dalam firman-Nya di atas, QS. 29/69 yang artinya: “Dan orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjuki kepada mereka jalan-jalan Kami”.( QS. 29; 69)
Allah s.w.t yang menciptakan Hukum Alam secara keseluruhan. Maka hanya Allah s.w.t pula yang mampu merubahnya. Seandainya seorang hamba menginginkan terjadi perubahan terhadap hukum-hukum tersebut, maka tidak ada cara lain, dia harus tunduk dan mengikuti hukum-hukum yang sudah ditetapkan pula, meskipun perubahan yang dimaksud tersebut, juga merupakan sunnah yang sudah ditetapkan.
“Mujahadah di jalan Allah”, adalah suatu istilah untuk menyebutkan sesuatu yang dimaksud. Atau nama dari suatu tata cara bentuk sarana untuk mendapatkan petunjuk dari Allah s.w.t. Supaya dengan itu penutup mata manusia dibuka sehingga penglihatannya menjadi tajam. Sedangkan hakekat mujahadah sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah s.w.t, hanya Allah s.w.t yang mengetahuinya. Oleh karena itu, kewajiban seorang hamba yang menginginkan terjadinya perubahan-perubahan atas dirinya supaya usahanya dapat berhasil dengan baik, yang harus dikerjakan ialah, terlebih dahulu dia harus mengetahui dan mengenal dengan benar terhadap apa yang dimaksud dengan istilah mujahadah itu.
Oleh karena yang dinamakan mujahadah tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek ilmu pengetahuan saja, melainkan juga amal atau pekerjaan, bahkan mujahadah adalah ibarat kendaraan yang akan dikendarai manusia untuk menyampaikannya kepada tujuan, maka cara mengenalnya, lebih-lebih cara mengendarainya, seseorang harus melalui tahapan praktek dan latihan. Untuk kebutuhan ini—seorang hamba yang akan melaksanakan mujahadah harus dibimbing seorang guru ahlinya. Allohu A’lam.
(malfiali, Januari 2009)

14 Januari 2009 pada 06:30
Thanks Pak Yai atas pencerahan ini.
18 Januari 2009 pada 17:39
Subhaanallah,
Yai sungguh amat sangat memberikan pencerahan yang sangat baik
jazzakumullah…
salam hormat
—————————–
Alhamdulillah …….., terima kasih atas kunjungan dan do’anya
Salam hormat juga dari kami yang ada disini
23 Januari 2009 pada 16:28
luar biasa…..bagaimana jadinya jika kita dapat atau mendapat mukzizat itu atau ilmu itu….kuatkah saya jika dibuka mata batinnya untuk memandang alam gaip itu(misalnya)….atas nama dan kekuasaan allah…sangat berat sekali rasanya untuk menembus alam itu jika tidak rochmatullah…dan mestinya sangat panjang proses perjalanannya… memang kita sering mengalami kontak-kontak batin dng orang-orang yang kita cintai tanpa kita sadari….itu memang terjadi luar biasa…pencerahan pagi ini….walaupun pengalaman ini sangat kecil tetapi ini sudah merupakan hal yang luar biasa dan cocok sekali dng pencerahan diatas….sesuai dengan getaran hati yang makin dalam…jika terjadi kontak seakan ada maknit dan hati bisa bicara tanpa bisa di kendalikan yang kadang-kadang kita gak percaya sehingga kadang kita biarkan kata hati itu berlalu begitu saja…..ternyata itu betul-betul terjadi….rasa sesal dan kecewa hal itu berlalu….ini yang sulit untuk membedakan hal-hal mana itu bisikan jin dan kata hati yang dalam berdasarkan rochmat allah….terimakasih atas siraman rohaninya yang luar biasa ini…khusus buat pribadi saya.
28 Januari 2009 pada 22:31
Makasih Pak Yai. Tapi Pak Yai saya kok belum paham tentang alam Syahadah dan Basyariah. Pak Yai mohon dijelasin? Atas jiwa yang Rahman dan Rahimnya, semoga saya mendapat penjelasan dari pak Yai. Kalau ada salah mohon dimaafkan. Maturnuwun.
———————————————
Alam syahadah itu alam lahir, lawannya adalah alam malakut atau alam batin. Adapun basyariyah adalah potensi manusia secara manusiawi baik lahir maupun batin, lawannya adalah nubuwah atau walayah, yakni rahasia urusan Ilahiyah yang diberikan Alloh kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.
Secara basyariyah/manusiawi setiap manusia sama, menjadi berbeda karena adanya nubuwuh atau walayah.
Nubuwah diberikan kepada seorang Nabi atau Rasul sebagai mu’jizat sedangkan walayah diberikan kepada seorang hamba yang sholeh sebagai koromah atau ma’unah.
29 Januari 2009 pada 15:34
Ass. Wr. Wb.
Kalo mao belajar di pesantren dimana alamatnya ya? suami saya berminat banget untuk belajar, hanya saja tidak tahu alamatnya. Please infonya..
wassalam,
wied
———————————
Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah (Gunungpati)
Jl. Ungaran – Gunungpati KM 4
Desa Sumurrejo, Kecamatan Gunungpati, Kodya Semarang, Jawa Tengah
Tlp. (024) 70799949
27 Mei 2009 pada 16:07
ini menambah khasanah ilmu kebaikan ,tentu sangat bermanfaat untuk urusan dunia dan akhirat dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kepada sang kholik. terimakasih kyai…..assalamualaikum wr wb
27 Mei 2009 pada 16:16
kyai….bahwa Alloh SWT pernah berkata kepada nabi “suatu saat sebahagian umatmu muhammad akan mendapat kan nikmat nikmat yang kamu peroleh ” saya mohon kyai menjelaskan keterangan tsb.terimakasih. wassalam
14 Juni 2009 pada 05:50
semoga saya bisa mengetahui alam gaib bro….
28 Agustus 2009 pada 08:26
Alam ghaib itu misteri.
28 Agustus 2009 pada 08:28
Jangan pernah menyangka, bahwa alam ghaib itu tidak ada. Alam ghaib lebih dulu ada dari alam bumi.
4 November 2009 pada 00:28
Pak Kyai dapatkah saya belajar dari Kyai tentang “menyingkap alam ghaib”
tanpa saya harus datang ke Pondok Pesantren ?
Trus adakah syarat2 khusus untuk dapat mempelajarinya?
soalnya untuk mempelajari ilmu ini saya sudah pernah baca disalah satu
…. pakai biaya jutaan rupiah.
—————————–
mohon maaf Mas/Pak Bambang, tidak semua orang yang ngerti teori bisa praktek
saya juga masih belajar, kalau mau belajar bareng dengan kami yang di pesantren ya harus mondok di pesantren
yang pasti tidak ada biaya yang jutaan itu ….. hehehe
5 November 2009 pada 14:20
Terima kasih atas pencerahannya Pak kyai.Saya ingin sekali belajar dan
tinggal di Pondok Pesantren,tapi rasanya berat sekali meninggalkan
keluarga dan pekerjaan saya.
Mungkin saya rasa belum waktunya kali ya ?
Saya hanya bisa berdo’a dan berharap semoga Pak Kyai berhasil dan selalu dalam lindungan dan bimbingan Nya.
Amin.
———
aamiin ya Rabbal Alamiin, … matur suwun atas do’anya Mas Bambang
14 November 2009 pada 17:22
as5′_makcih banyak bwt kterangn sama di cantumkannya dalil” Al- qur’an,,Insya Alloh sya ingn mmplajari lebih dalam tntang Al-qur’an,khusyusnya dalam hal ne,,sya blum brani menanyakan ke guru sy,mungkin belum waktux dikasi tw,cara penggunaan ilmux yg kalo d teknologi scara manual,,yg saya rasakan ap yg beliau kasih itu automatis,tidak semau sya di gunainnya,,mg dg artikel Bapak kyai selanjutnya,bisa lebih menekankan terhadap fungsi dalil naqlinya jika d amalkan dengan beberapa syarat tertentu,,as5′
14 November 2009 pada 19:48
saya telah lama menjadi murid ilmu laduni.bagaimanakah caranya untuk saya dapat melihat dengan jelas akan makhluk di alam ghaib.apakah lagi amalan yang perlu saya amalkan.
16 November 2009 pada 21:19
ass kyai..untuk bljr mnygkp alam gaib ini kt hrs mondok brp lama?trus biaya mondoknya brp?apa selama ini sdh ada yang bisa mlht alam gaib?trm ksh mhn blsnnya..semoga kyai dan murid2 selalu dlm lndungan ALLAH,dan smg kyai bkn termasuk kyai uang gambar pak karno…wassalam
21 November 2009 pada 13:41
subhanalloh wabihamdih,maha suci alloh yg mncptakan 2 alam skaligus di semesta ini agar kita semua bs merenungi kekuasaan2 alloh,smga dgn tulisan bapak yai kita smua mnjadi smkin bertakwa.amin.slam takzim saya
rizal dari jakarta.