MENGUAK DUNIA JIN 13 (Dosa Syirik Tidak Diampuni)

dunia jin

Dosa Syirik Tidak Diampuni

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. QS:4/116.

Berharap dan takut kepada selain Allah Ta’ala hukumnya syirik. Itulah hakekat syirik yaitu syirik di dalam aqidah. Orang berbuat syirik dosanya tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Mengapa demikian? Karena tidak ada yang mempunyai kekuatan kecuali hanya Allah Ta’ala, tidak ada yang menghidupkan dan yang mematikan kecuali hanya Allah Ta’ala, maka seseorang tidak boleh menyandarkan harapannya kecuali hanya kepada Allah Ta’ala, tidak boleh memohon pertolongan maupun perlindungan kecuali hanya kepada Allah Ta’ala, tidak boleh takut terkena marabahaya, baik di dunia maupun di akhirat kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Apabila hal tersebut dilakukan, dalam arti  manusia takut kepada selain Allah Ta’ala, berarti orang tersebut berbuat syirik secara aqidah.

Ketika orang mendapat keberhasilan dalam kehidupan misalnya, orang berhasil menggapai keberhasilan yang dicita-citakan kemudian dia merasa bahwa keberhasilan itu hanya dihasilkan sebab ilmu pengetahuannya yang tinggi dan kemampuannya yang prima dalam berusaha, hanya karena dia telah berinfestasi yang benar dan tepat, hanya karena keahliannya dalam menghadapi segala tantangan dan rintangan, orang tersebut tidak pernah merasakan bahwa segala keberhasilan itu semata anugerah yang diturunkan kepadanya, maka berarti dia telah berbuat syirik secara aqidah karena telah mensejajarkan dirinya dengan Allah Ta’ala. Dia mengakui hak Rububiyah Allah Ta’ala sebagai hak pribadinya atau dalam arti telah mensyirikkan Allah Ta’ala dengan dirinya sendiri. Inilah hakikat syirik secara aqidah, yang berarti pula bahwa dia telah merasa menjadi Tuhan. Allah Ta’ala memberikan contoh dengan firman-Nya:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo`a kepada Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) menyekutukan (Allah). QS:29/25.

Dikatakan menyekutukan Allah Ta’ala karena orang-orang yang naik kapal itu ketika diselamatkan dari badai laut yang sedang mengancam, begitu mereka sampai di darat, saat itu juga yang diingat bukan Allah Ta’ala yang menyelamatkan, tetapi angin topan yang berbelok arah, dan mereka berkata: “Untung angin itu berbelok kekanan seandainya terus kita semua pasti binasa”. Itulah hakikat syirik secara aqidah, karena saat itu mereka menyekutukan Allah Ta’ala dengan angin topan dalam dua hal, yaitu angin topan itu mampu menghidupkan dan mematikan dirinya. Padahal sebelum itu mereka tidak berdo’a kepada angin topan, tapi berdoa kepada Allah Ta’ala.

Orang-orang yang berdoa’ kepada Allah Ta’ala supaya mendapatkan rizki yang baik, kemudian ketika Allah Ta’ala mengabulkan do’anya dan dia benar-benar telah mendapatkan rizki yang baik, walau datangnya rizki itu melalui usahanya. Ketika saat itu dia hanya mengakui usahanya saja, dia punya anggapan seandainya tidak bersekolah yang tinggi dan tidak berusaha maka mana mungkin dia mendapatkan rizki yang baik itu, maka yang demikian itulah hakikat syirik di dalam aqidah. Dosa syirik tersebut tidak akan diampuni untuk selama-lamanya.

Maka syirik aqidah itu tidak hanya dilakukan dengan bepergian jauh mencari kuburan-kuburan yang keramat kemudian minta berkah kepada kuburan itu atau mencari dukun-dukun sakti yang dapat membuatkan jimat-jimat supaya hidupnya mendapatkan keselamatan dari jimat-jimat itu, akan tetapi syirik aqibah itu bahkan banyak dilakukan oleh manusia justru hanya dengan tinggal diam di rumah. Dia menganggap dirinya sebagai tuhan karena merasa bahwa ilmu pengetahuan dan usahanya telah menjadikannya sebagai orang yang sukses dan bahagia serta mulia. Seandainya orang seperti itu mempunyai kekuasaan yang kuat, boleh jadi di dunia ini dia menjadi Fir’aun yang berikutnya. Allah Ta’ala telah menegaskan lagi dengan firman-Nya:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? QS:25/43.

Dikatakan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya karena yang diutamakan dalam hidupnya hanyalah kemauan hawa nafsu belaka, bahkan di saat berdo’a kepada Allah Ta’ala pun sesungguhnya hanya dengan maksud supaya Allah Ta’ala mengabulkan kemauan hawa nafsunya itu.

Syirik itu terkadang tidak dalam kontek aqidah saja, tetapi juga dalam kontek amal dan tujuan meski yang demikan itu kadar syiriknya lebih ringan daripada syirik di dalam aqidah akan tetapi juga dapat menciderai kesucian aqidah dan mengeruhkan kejernihan tauhid serta dosanya juga tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Orang yang berbuat syirik amal dan syirik tujuan, berarti kehidupannya akan jauh dari perlindungan dan pertolongan Allah Ta’ala, dengan arti yang lain berarti dia telah merusak sistem penjagaan yang telah dibangun oleh Allah Ta’ala untuk dirinya.

Ada juga yang dinamakan syirik di dalam wujud atau di dalam kejadian. Seperti orang yang kesadarannya sudah dikuasai penuh oleh jin berarti saat itu jin telah berbuat syirik di dalam wujud dengan orang tersebut. Juga sebaliknya, yaitu ketika manusia sudah benar-benar menyatu dengan jin sehingga jasadnya sudah menjadi satu dengan jasad jin, maka itu juga dikatakan syirik dalam kejadian. Seperti kejadian dalam permainan “tenaga dalam”, ketika orang dipukul dari jarak jauh bisa terpental, yang terpukul itu sesungguhnya jin yang sudah berisyrok dalam tubuh manusia itu, hal tersebut bisa terjadi, karena manusia sudah syirik dalam wujud dengan jin. Buktinya, kekuatan tenaga dalam tersebut tidak bisa berreaksi kepada orang sadar. Allah Ta’ala telah mengabarkan keadaan orang-orang yang berbuat syirik tersebut dengan firman-Nya:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. QS:22/31.

Dosa syirik itu tidak diampuni artinya, orang yang berbuat dosa itu akan segera mendapat balasan, di dunia dengan rusaknya sistem pertahanan yang ada dalam jasad mereka sehingga kesurupan jin misalnya, di akhirat dengan siksa neraka. Namun demikian, manakala manusia mau bertaubat di jalan Alloh, dia kembali sadar di dalam jalan yang lurus, meskipun terkadang harus menyelesaikan masa hukuman sebagai kafarot atau penebusan dosa-dosa dengan siksa dan musibah di dunia, namun dengan izin Allah Ta’ala Yang Maha Pengampun, orang yang kerusupan jin tersebut dibebaskan lagi dari cengkraman mahluk halus itu. Jika dosanya tidak terhapuskan dengan penderitaannya maka berarti selamanya jasad orang tersebut akan dikuasai oleh setan jin. Itulah sunnatullah yang sejak diciptakan-Nya, sedikitpun tidak akan ada perubahan lagi untuk selama-lamanya.

Bukan manusia dapat mengalahkan sunnah itu ketika dia berbuat syirik kemudiaan mereka tidak segera menerima ganjaran syiriknya, akan tetapi Allah Maha Pengampun mengampuni bayak hal walau yang diampuni kadang-kadang tidak sadar sehingga tetap saja berbuat syirik kepada-Nya bahkan dengan berulang-ulang. Allah Ta’ala mengisyaratkan yang demikian dengan firman-Nya:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ(30)وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). – Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah. QS:42/30-31.

Lebih terperinci lagi tentang syirik dalam amal perbuatan ini ialah apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. di dalam sebuah haditsnya:

حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ ( أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ ) قَالَ كَانَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ أَسْلَمُوا وَكَانُوا يُعْبَدُونَ فَبَقِيَ الَّذِينَ كَانُوا يَعْبُدُونَ عَلَى عِبَادَتِهِمْ وَقَدْ أَسْلَمَ النَّفَرُ مِنَ الْجِنِّ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a: Mengenai firman Allah swt:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

Yang artinya: Itulah mereka yang mengaku bahwa mereka mencari jalan penghubung kepada tuhannya. Siapakah di kalangan mereka yang paling dekat dengan tuhan mereka dengan katanya: Ada sekelompok jin yang telah memeluk Islam, dan sebelum ini mereka disembah oleh manusia, maka orang-orang yang menyembah itu tetap saja menyembah mereka, yaitu jin walaupun mereka itu adalah jin yang telah memeluk Islam

•    Riwayat Bukhori di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an hadits nomor 4345, 4346.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Tafsir hadits nomor 5356.

Menyembah jin artinya memperturutkan kemauan jin untuk supaya jin dapat berisyrok (bekerja sama) dengan manusia, meski jin itu telah memeluk islam. Demikian itulah memang sifat jin, karena banyak hal yang tidak bisa didapatkan oleh jin kecuali melalui bekerja sama dengan manusia. Dan manakala seorang manusia telah bekerjasama dengan seorang jin maka seorang jin itu pasti akan menambah-nambah kesesatan belaka walaupun seorang jin itu sudah memeluk agama islam. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. QS:72/6.

Adapun syirik di dalam tujuan artinya, tujuan amal ibadah itu tidak semata untuk mengabdi kepada Allah Ta’ala. Banyak contoh yang dapat disampaikan di sini. Salah satunya beribadah sambil berdagang, apalagi ibadah itu ternyata hanya dijadikan sarana atau media untuk mengatur srategi politik organisasi. Maka betapun dia adalah seorang hamba yang telah dapat beribadah dengan ikhlas yang semestinya sedikitpun jin tidak mempunyai peluang untuk menguasai kesadarannya, akan tetapi keikhlasan hatinya itulah yang dijadikan sasaran pertama oleh syaitan jin, supaya keikhlasan itu terlebih dahulu memudar selanjutnya supaya usaha jin dapat terfasilitasi untuk melancarkan serangan fajarnya. Simak ceritanya Sholeh VS Raja Jin dalam Mengauk Dunia Jin 12. (malfiali, Januari 2009)

8 Tanggapan ke “MENGUAK DUNIA JIN 13 (Dosa Syirik Tidak Diampuni)”

  1. Assalamualaikum Pak. Kyai dan semua pembaca web

    Maaf sebelum bertanya saya cerita dulu.
    Saya punya gelang tetanium yang mengandung bio Magnetik yang banyak orang pakai untuk kesehatan. Fungsi dari gelang tersebut diantaranya untuk menyeimbangkan ion positif dan negatif dalam tubuh. Manfaat dari gelang ini diantaranya dapat menambah kekuatan sampai 40 % dari tenaga pemakai. dan masih banyak lagi manfaatnya dengan tujuan untuk menyehatkan pemakai.

    Pertanyaanya untuk Pak Hikam dan Pak Kyai
    Ada orang yg punya ( Jimat ) berupa cincin dengan mata batu2 tertentu yang menurut mereka ada kekuata tertentu .
    1. Sebenarnya itu sugesti dari orang tersebut karena sudah yakin bahwa cincin itu ada kekuatan apa memang ada jinnya yg bersekutu dengan manusia ?
    2. Apa sebenarnya batu2 tersebut sebenarnya secara ilmiah memang mengandung suatu zat yg bisa menambah kekuatan tertentu ?

    3. Apa saya juga termasuk syirik Pak Kyai karena memakai gelang tetanium tersebut ? :)

    Terima kasih sebelumnya, Semoga bermanfaat untuk semua pembaca
    Salam
    Totok

  2. Muhammad Hikam Berkata

    Saya akan menjawab dengan lugas saja. Saya belum pernah punya pengalaman atau melihat gelang bio-magnetik sehingga secara akademik seharusnya saya tidak punya hak untuk membahas atau mengulas, ini adalah etika akademisi untuk tidak mengatakan hal-hal yang dia tidak ketahui.

    Nah saya akan mengatakan yang saya ketahui saja. Dasar bacaan saya adalah iklan-iklan tentang gelang bio-magnetik. Dari iklan-iklan tersebut saya mendapati banyak testimoni (kesaksian) bahwa gelang bio-magnet mempunyai khasiat untuk kesehatan. Namun saya tidak mendapati (setidaknya sejauh yang saya baca) apakah pernah ada uji klinis yang menunjukkan bahwa gelang bio-magnet itu bermanfaat atau tidak.

    Jadi posisi saya adalah: so-so, tidak mendukung dan tidak pula menentang.

    Secara fisika memang benar bahwa gelang bio-magnetik dapat mempengaruhi tubuh, dan kita kenal di Fisika memang ada interaksi antara medan magnetik dan benda-benda bermuatan seperti ion positif dan ion negatif. Apakah hal ini menyehatkan? wallahu a’lam bissawab.

    Baik dari latar belakang tersebut sekarang saya jawab satu-satu:

    1. Sebenarnya itu sugesti dari orang tersebut karena sudah yakin bahwa cincin itu ada kekuatan apa memang ada jinnya yg bersekutu dengan manusia ?

    –>
    Di Fisika kita tidak mengenal jin. Kalau kekuatan suggesti jelas pasti ada. Suggesti memang bisa menyehatkan (sudah ada uji klinis-nya).

    2. Apa sebenarnya batu2 tersebut sebenarnya secara ilmiah memang mengandung suatu zat yg bisa menambah kekuatan tertentu ?

    –>
    Tidak ada yang aneh-aneh, beberapa komposisi batu-batuan memang dapat menghasilkan medan magnet dan dapat berinteraksi dengan manusia. Secara spekulatif apabila terjadi suatu alignment tertentu maka akan menjadi suatu kekuatan. Ini peristiwa fisika biasa saja.

    3. Apa saya juga termasuk syirik Pak Kyai karena memakai gelang tetanium tersebut ?

    –>
    (Jawaban saya bisa sangat jail, he he he: Fisika netral tidak berhubungan dengan kemusyrikan. Serupa dengan energi nuklir: bisa digunakan untuk tatacara damai seperti untuk pembangkit tenaga listrik, pengobatan kanker, pemuliaan tanaman dll., bisa juga digunakan untuk pembunuh massal)
    Tentu yang bisa menjawab dengan tepat adalah Pak Yai sendiri.

    Ngapunten apabila ada kesalahan.

  3. ALHAMDULILLAH

    TERIMA KASIH ATAS SEMUA PENJELANNYA PAK HIKAM.
    TINGGAL TUNGGU JAWABAN DARI PAK KYAI NIH

    TERIMA KASIH
    TOTOK

  4. Yth, Mas Totok
    He he he, gantian saya urun rembuk. Tapi bukan sebagai Kyai, karena masalah yang akan saya sampaikan ini bukan kaitan Ilmu Kyai kecuali yang soal Syirik, tetapi kaitan ilmunya SarKub(sarjana kuburan). Soal hukum memakai gelang tetanium tersebut syirik atau tidak? Urusan itu biar Kyai aja yang kasih dawuh soalnya itu masuk wilayah Fiqh.
    Sebelumnya saya mau tanya Mas Totok dulu. Tentang manfaat dari gelang tersebut diantaranya dapat menambah kekuatan sampai 40 % dari tenaga pemakai. Kalau dipakai untuk seorang suami apa juga bisa ya…… wah ini barangkali saya dan Pak Hikam tertarik, he he he
    Pertanyaan 1 sudah dijawab Pak Hikam, saya juga sependapat dengan Beliau, jika orang yang sakit itu, atau keluarganya sudah memiliki sugesti sembuh, itu merupakan 80% kesembuhan. Jadi tinggal 20%nya yang harus diupayakan oleh para ahli yang membantu penyembuhan itu.
    Pertanyaan 2 juga sudah dijawab Guru Fisika kita. Namun saya akan tambahkan sedikit saja. Dalam surat al-Hadid ayat 25 Alloh berfirman yang artinya: “Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”(QS.al-Hadid/25). Dengan ayat ini kita mendapat kejelasan, memang dari beberapa jenis besi itu mengandung kemanfaatan bagi manusia, baik lahir maupun batin. Secara lahir mungkin diantaranya seperti gelang tetanium tersebut.
    Tapi ini ada cerita sedikit. Saya punya teman yang memakai gelang tetanium itu, dia sekarang tidak mampu melepas gelang tersebut, soalnya, katanya, kalau dilepas badannya menjadi sakit-sakitan. Kalau dipake memang terasa nyaman di badan. Dari cerita ini saya menyimpulkan, berarti kemanfaat apa saja, jika cara makainya tidak beraturan maka bisa menimbulkan dampak negatif bagi pemakainya. Kalau sampai seperti itu kan tidak ada bedanya dengan narkoba???.
    Jika kemanfaatan besi itu kita kaitkan dengan hal yang ghaib, saya bisa tambahkan firman Alloh disini. Dalam surat Luqman ayat 20 Alloh berfirman yang artinya:” Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin.(QS.Luqman/20). Dalam ayat ini Alloh menegaskan, apa saja yang dilangit dan di bumi ditundukkan untuk manusia, artinya mereka itu berpotensi dijinakkan dan dimanfaatkan oleh manusia. Bararti, jin juga berpotensi dijinakan dan dimanfaatkan oleh manusia.
    Manusia sebagai kholifah bumi, dengan ilmu Alloh juga, mereka memadukan dua kemanfaatan besar tersebut. Besi atau batu akik yang didalamnya mengandung unsure besi yang bisa interaksi secara lahir dengan manusia dipadukan dengan makhluk ghaib, baik jin ataupun makhuk ghaib yang lain yang bisa berinteraksi secara batin dengan manusia. Makhluk ghaib tersebut dijinakkan dan dimasukkan di dalam batu akik, maka jadilah batu akik bertua. Dan jika dimasukkan dalam jenis-jenis besi tertentu, maka jadilah keris pusaka. Hal tersebut terjadi karena memang memungkinkan bisa terjadi, sebagai bagian dari sunnatulloh yang tidak ada perubahan untuk selamanya. Maka kita melihat fenomena, ada akik bertua dan keris pusaka.
    Menurut saya yang awam ini, dalam dua benda tersebut memang ada kekuatan. Dari mana saja kekuatan tersebut, tetapi secara hakekat juga datang dari Alloh, hal itu karena para ahli tersebut bekerja atas dasar ilmu Alloh dan juga menggunakan ilmu-Nya. Alloh menegaskan hal ini dengan firman-Nya yang artinya: ”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Sesuatu yang di dalamnya ada KEKUATAN PENOLONG, kekuatan penolong itu terjadi atas izin Alloh.(QS.al-Baqoroh/255)
    Soal syirik atau tidak, itu bukan tergantung akik maupun kerisnya, tapi tergantung sandaran hati pemakainya. Jika orang percaya, bahwa dalam dua benda tersebut ada kekuatan, baik lahir maupun batin, tapi dia yakin bahwa itu kekuatan Alloh, maka dia tidak syirik untuk memakainya. Jadi benda bertua tersebut ndak usah dibakar atau dilarungkan ke laut, kalau ndak mau kasih aku saja he he he. Dijual mahal lo itu Pak Hikan….
    Namun demikian, jika perasaan orang tersebut saat memakai berbeda dengan saat tidak memakai. Saat membawa kiris dan cincin itu hatinya tenang dan PD tetapi saat tidak menggunakan hatinya kecil dan takut, maka itu berarti mBahnya Syirik he he he
    Jadi selama sandaran hati seseorang teguh hanya kepada Alloh dan mengerti ilmunya, maka dalam menggunakan dua benda bertua tersebut insya Alloh terhindar dari syirik. Fenomene membuktikan, dalam perjungan Islam tanah Jawa, para Waliyulloh yang berjuang saat itu tidak lepas dari benda pusaka tersebut. Alloh A’lam.

  5. TERIMA KASIH PAK KYAI PENCERAHANNYA.

    ALHAMDULILLAH JADI GAMBLANG,

    TERIMA KASIH P KYAI,PAK HIKAM
    TOTOK

  6. Assalamu’alaikum… Abah..salam hormat dari saya…izinkan saya bisa belajar sama Abah…

    Abah….saya mau tanya

    1. Bagaimana dengan para pejuang kemerdekaan yang memakai ilmu kekebalan, keris untuk melawan para penjajah???apakah termasuk sirik???

    2. Orang-orang yang bisa diberi kemampuan mengalahkan jin, apa tidak menyalahi doa Nabi Sulaiman yang mana Nabi Sulaiman berdoa meminta diberikan kemampuan yang mana para Hamba Allah tidak mempunyai kemampuan itu (alias hanya Nabi Sulaiman yang punya) ?

    sekian itu dulu Abah…

    Terima Kasih banyak…semoga Abah diberikan kesehatan oleh Allah…

    ——————————————
    Mas Dika Yth, terima kasih atas do’anya. Alhamdulillah abah sehat-sehat saja kok.

    1. Pertanyaan pertama sudah dijawab Mas……., ya tapi ndak ada salahnya tak ulangi sedikit: Soal syirik atau tidak, itu bukan tergantung kerisnya, tapi bagaimana sandaran hati pemakainya. Jika orang membawa keris itu percaya bahwa dalam benda tersebut ada kekuatan, baik lahir maupun batin, tapi dia yakin bahwa itu kekuatan Alloh, maka dia tidak syirik untuk memakainya. Namun demikian, jika perasaan orang tersebut saat memakai kiris itu hatinya tenang dan PD tetapi saat tidak memakai menjadi takut dan tidak Percaya Diri lagi maka itu berarti saat memakai keris itu syirik.

    2. Do’a Nabi Sulaiman a.s tersebut dinyatakan Alloh dalam ayat berikut ini: “Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi” * Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya * dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam * dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu * Inilah anugerah Kami, maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab(QS.Shood/35-39)

    Kesimpulan ayat tersebut sebagai berikut:
    a). Yang dimaksud kerajaan dalam ayat diatas adalah kemampuan dalam menjinakkan alam baik alam lahir maupun alam batin. Alam lahir dalam arti kemampuan menjinakkan angin dan alam batin dengan kemampuan menjinakkan makhluk jin.
    b). Kemampuan itu sebagai anugerah yang diberikan Alloh kepada nabi-Nya yang dapat diwariskan kepada orang lain atau kepada para Ulama dari umat Rasul Muhammad s.a.w.
    c). Kemampuan tersebut tidak akan diberikan Alloh kepada selain Nabi Sulaiman a.s. kecuali melalui jalan yang diwariskan oleh Beliau: maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab(QS.Shood/39)
    d.) Maka artinya, orang yang diberi kemampuan mengalahkan jin itu berarti tidak menyalahi doa Nabi Sulaiman, karena sesungguhnya orang tersebut tidak akan mendapatkannya kecuali melalui rahasia kemampuan yang diberikan oleh Alloh kepada Nabi Sulaiman. Oleh karena itu maka Ulama’ adalah pewaris nabi, demikian yang disebutkan oleh baginda Nabi s.a.w dalam salah satu haditsnya.

  7. o inggih..terima kasih pak Kyai…pertanyaan ini sangat mengganjal di hati saya..Tentang Nabi Sulaiman ini..dari dulu saya merasa bahwa apa yang diberikan kepada para Ulama menyalahi doa Nabi Sulaiman…Ternyata benar ungkapan dalam belajar ilmu Al-Qur’an, jangan ambil secara potongan, tapi ambillah dengan kaffah dan berkelanjutan..

    sekarang sudah plong..

    Mugi2 Pak Kyai diberikan sgala kemudahan oleh Allah..amin

    ————————————-
    Amin….. he he he….. kita memang harus belajar terus ya Mas…….. sampai mati

  8. Assalamualaikum,,,
    Yang saya tahu tidak selamanya kekuatan yg berbau supranatural ada unsur jin nya,,,
    Bahkan kekuatan batin manusia bisa melakukan sesuatu di luar logika,,,

Tinggalkan Balasan