Arsip untuk Januari, 2009

MENYINGKAP ALAM GHAIB 4 (Menembus Alam Ruhaniah)

Posted in alam ghaib, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 30 Januari 2009 by malfiali

alam ghaib

MENEMBUS ALAM RUHANIAH

Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A di dalam kitabnya al-Ghunyah; 1/101, menyebutkan: “Di dalam hati manusia terdapat dua ajakan: Pertama ajakan malaikat. Ajakan malaikat itu mengajak kepada kebaikan dan membenarkan kepada yang benar (haq); dan kedua, ajakan musuh. Ajakan musuh itu mengajak kepada kejahatan, mengingkari kebenaran dan melarang kepada kebajikan”. Yang demikian telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud R.A.

Al-Hasan al-Bashri R.A berkata: “Sesungguhnya kedua ajakan itu adalah kemauan yang selalu mengitari hati manusia, kemauan dari Allah dan dari musuh, hanya dengan sebab Rahmat Allah, seorang hamba mampu mengontrol kemauan-kemauannya tersebut. Oleh karena itu, apa-apa yang datang dari Allah hendaknya dipegang oleh manusia dengan erat-erat dan apa yang datang dari musuh, dilawannya kuat-kuat “.

Mujahid R.A berkata;  Firman Allah s.w.t:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

“Dari kejahatan bisikan setan yang biasa bersembunyi”.   (QS. an-Nas; 114/4)

Bisikan itu mencengkram hati manusia, apabila manusia berdzikir kepada Allah, maka setan itu akan melepaskan cengkramannya namun apabila manusia kembali lupa, maka setan itu akan kembali mencengkram hatinya. Muqotil R.A berkata: “Dia adalah setan yang berbentuk babi hutan yang mulutnya selalu menempel di hati manusia, dia masuk melalui jalan darah untuk menguasai manusia lewat hatinya. Apabila manusia melupakan Allah Ta’ala, dia menguasai hatinya dan apabila manusia sedang berdzikir kepada Allah dia melepaskan dan keluar dari jasad manusia itu“.

Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A berkata, bahwa di dalam hati ada enam bisikan (khotir): (1) Bisikan nafsu syahwat; (2) Bisikan setan; (3) Bisikan ruh; (4) Bisikan malaikat; (5) Bisikan akal; dan (6) Bisikan keyakinan.

1.    Bisikan Nafsu Syahwat
Bisikan nafsu syahwat adalah bisikan yang secara qudroti tercipta untuk memerintah manusia mengerjakan kejelekan dan memperturutkan hawa nafsu.

2.    Bisikan Setan
Bisikan setan itu adalah perintah agar manusia menjadi kafir dan musyrik (menyekutukan Allah), berkeluh-kesah, ragu terhadap janji Allah s.w.t cenderung berbuat maksiat, menunda-nunda taubat dan apa saja yang menyebabkan kehidupan manusia menjadi hancur baik di dunia maupun di akherat. Ajakan setan ini adalah ajakan paling tercela dari jenis ajakan jelek tersebut.

3.    Bisikan Ruh
Bisikan ruh adalah bisikan yang mengajak manusia mengikuti kebenaran dan ketaatan kepada Allah s.w.t dan juga kepada apa saja yang bersesuaian dengan ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan keselamatan dan kemuliaan manusia, baik di dunia maupun di akherat. Ajakan ini adalah dari jenis ajakan yang baik dan terpuji.

4.    Bisikan Malaikat
Bisikan malaikat sama seperti bisikan ruh, mengajak manusia mengikuti kebenaran dan ketaatan kepada Allah s.w.t dan segala yang bersesuaian dengan ilmu pengetahuan dan juga kepada apa saja yang menyebabkan keselamatan dan kemuliaan.

5.    Bisikan Akal
Bisikan akal adalah bisikan yang cenderung mengarahkan pada ajakan bisikan ruh dan malaikat. Dengan bisikan akal tersebut sekali waktu manusia mengikuti nafsu dan setan, maka manusia terjerumus kepada perbuatan maksiat dan mendapatkan dosa. Sekali waktu manusia mengikuti bisikan ruh dan malaikat, maka manusia beramal sholeh dan mendapatkan pahala. Itulah hikmah yang dikehendaki Allah s.w.t terhadap kehidupan manusia. Dengan akalnya, supaya manusia mempunyai kebebasan untuk memilih jalan hidup yang dikehendaki namun kemudian manusia juga harus mampu mempertanggungjawabkan atas kesalahan dan kejahatan dengan siksa dan neraka dan menerima balasan dari amal sholeh dengan pahala dan surga.

6.    Bisikan Keyakinan
Bisikan yakin adalah Nur Iman dan buah ilmu dan amal yang datangnya dari Allah s.w.t dan dipilihkan oleh Allah s.w.t. Ia diberikan khusus hanya kepada para kekasih-Nya dari para Nabi, ash-Shiddiq, asy-Shuhada’ dan para Wali-wali-Nya. Bisikan yakin itu berupa ajakan yang selalu terbit dari dalam hati untuk mengikuti kebenaran walau seorang hamba itu sedang dalam lemah wiridnya. Bisikan yakin itu tidak akan sampai kepada siapapun, kecuali terlebih dahulu manusia menguasai tiga hal; (1) Ilmu Laduni; (2) Ahbārul Ghuyūb (khabar dari yang gaib); (3) Asrōrul Umur  (rahasia segala urusan).

Bisikan yakin itu hanya diberikan oleh Allah Ta’ala kepada orang-orang yang dicintai-Nya, dikehendaki-Nya dan dipilih-Nya.  Yaitu orang-orang yang telah mampu fana di hadapan-Nya. Yang telah mampu gaib dari lahirnya. Yang telah berhasil memindahkan ibadah lahir menjadi ibadah batin, baik terhadap ibadah fardhu maupun ibadah sunnah. Orang-orang yang telah berhasil menjaga batinnya untuk selama-lamanya. Allah s.w.t yang mentarbiyah mereka. Sebagaimana yang telah dinyatakan dengan firman-Nya:

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِي

“Sesungguhnya Waliku adalah Allah, dan Dia mentarbiyah (memberikan Walayah) kepada orang-orang yang sholeh”. (QS. al-A’raaf; 7/196)

Orang tersebut dipelihara dan dicukupi dengan sebab-sebab yang dapat menyampaikan kepada keridlaan-Nya dan dijaga serta dilindungi dari sebab-sebab yang dapat menjebak kepada kemurkaan-Nya. Orang yang setiap saat ilmunya selalu bertambah. Yaitu ketika terjadi pengosongan alam fikir, maka yang masuk ke dalam bilik akalnya hanya yang datangnya dari Allah s.w.t. Seorang hamba yang ma’rifatnya semakin hari semakin kuat. Nurnya semakin memancar. Orang yang selalu dekat dengan yang dicintainya dan yang disembahnya. Dia berada di dalam kenikmatan yang tiada henti. Di dalam kesenangan yang tiada putus dan kebahagiaan tiada habis. Surga baginya adalah apa yang ada di dalam hatinya.

Ketika ketetapan ajal kematiaannya tiba, disebabkan karena masa baktinya di dunia fana telah purna, maka untuk dipindahkan ke dunia baqo’, mereka akan diberangkatkan dengan sebaik-baik perjalanan. Seperti perjalanan seorang pengantin dari kamar yang sempit ke rumah yang luas. Dari kehinaan kepada kemuliaan. Dunia baginya adalah surga dan akherat adalah cita-cita. Selama-lamanya mereka akan memandang wajah-Nya yang Mulia, secara langsung tanpa penghalang yang merintangi. Allah s.w.t menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu, berada di taman-taman dan sungai-sungai – Di tempat yang disenangi di sisi Tuhannya yangMaha Kuasa” .
(QS. al-Qomar; 54/54)

Dan firman Allah s.w.t:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahan “. (QS. Yunus; 10/26)

Firman Allah s.w.t di atas: “Ahsanuu”, artinya berbuat baik dengan menta’ati Allah s.w.t dan Rasul-Nya, serta selalu mensucikan hatinya dengan meninggalkan amal ibadah yang selain untuk-Nya. Allah s.w.t akan membalasnya di akherat dengan surga dan kemuliaan. Diberi kenikmatan dan keselamatan. Ditambahi dengan pemberian yang abadi. Yaitu selama-lamanya memandang kepada wajah-Nya yang Mulia.

“Nafsu dan Ruh” adalah dua tempat bagi setan dan malaikat. Keadaannya seperti pesawat penerima yang setiap saat siap menerima signal yang dipancarkan oleh dua makhluk tersebut. Malaikat menyampaikan dorongan ketakwaan di dalam ruh dan setan menyampaikan ajakan kefujuran di dalam nafsu. Oleh karena itu, nafsu selalu mengajak hati manusia untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan fujur.

Di antara keduanya ada Akal dan Hawa. Dengan keduanya supaya terjadi proses hikmah dari rahasia kehendak dan keputusan Allah yang azaliah. Yaitu supaya ada pertolongan bagi manusia untuk berbuat kebaikan dan dorongan untuk berbuat kejelekan. Kemudian akal menjalankan fungsinya, memilih menindaklanjuti pertolongan dan menghindari ajakan kejelekan, dengan itu supaya tidak terbuka peluang bagi hawa untuk menindaklanjuti kehendak nafsu dan setan.  Sedangkan di dalam hati ada dua pancaran Nur, “Nur Ilmu dan Nur Iman”. itulah yang dinamakan  yakin. Kesemuanya indera tersebut merupakan alat-alat atau anggauta masyarakat hati. Hati bagaikan seorang raja terhadap bala tentaranya, maka hati harus selalu mampu mengaturnya dengan aturan yang sebaik-baiknya. (Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani, “Al-Ghunyah”; 1/101)

Walhasil, yang dimaksud alam ruhaniah itu bukan alam jin atau alam ghaib, tetapi alam-alam batin yang ada dalam jiwa manusia. Alam batin yang menyertai alam lahir manusia secara manusiawi. Dengan alam batin, manakala indera-indera yang ada di dalam alam batin itu hidup, maka manusia bisa mengadakan interaksi dengan makhluk batin dengan segala rahasia kehidupan yang ada di dalamnya sebagaimana dengan alam lahir manusia dapat mengadakan komunikasi dengan makhluk lahir dengan segala urusannya.

Untuk menghidupkan indera-indera yang ada di alam batin tersebut, manusia harus mampu mencapainya dengan jalan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah. Mengharapkan terbukanya matahati (futuh) dengan menempuh jalan ibadah (thoriqoh) dengan bimbingan seorang guru mursyid sejati. Perjalanan tersebut bukan menuju suatu tempat yang tersembunyi,  melainkan menembus pembatas dua alam yang di dalamnya penuh mesteri. Dengan itu supaya ia mencapai suatu keadaan yang ada dalam jiwa yang dilindungi, supaya dengan keadaan itu ia dapat menemukan rahasia jati diri yang terkadang orang harus mencari setengah mati. Itulah perjalanan tahap awal yang harus dicapai seorang salik dengan sungguh hati. Lalu, dengan mengenal jati diri itu, dengan izin Allah selanjutnya sang pengembara sejati dapat menemukan tujuan akhir yang hakiki, yakni menuju keridhoan Ilahai Rabbi.  (malfiali, Januari 2009)

MENYINGKAP ALAM GHAIB 3 (Menembus Gugusan Langit dan Gugusan bumi)

Posted in alam ghaib, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 30 Januari 2009 by malfiali

alam ghaib

MENEMBUS GUGUSAN LANGIT DAN GUGUSAN BUMI

Allah s.w.t menantang masyarakat jin dan manusia supaya mereka mau dan mampu bergerak maju dan berkarya. Mereka tidak boleh tinggal diam hanya berpangku tangan tetapi mengharapkan keberuntungan. Mereka bahkan ditantang untuk menembus gugusan langit dan gugusan bumi. Diundang untuk datang ke Istana-Nya, dipersilahkan memasuki haribaan-Nya, menikmati hidangan yang tersedia, namun itu dengan syarat, terlebih dahulu mereka harus mampu menguasai ilmu dan teknologi yang berkaitan dengannya atau dengan istilah Qur’ani disebut “sulthon”. Allah s.w.t berfirman:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

“Hai masyarakat jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus gugusan langit dan gugusan bumi, maka tembuslah, kalian tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan “Sulthon” (QS. ar-Rahman; 55/33)

“Sulthon” dari kata sallatho artinya menguasai, kalau dikaitkan dengan ayat di atas berarti penguasaan. Kadang-kadang Sulthon juga berarti Penguasa atau Raja. Maka maksud ayat ialah: “Kalian tidak akan mampu menembus gugusan langit dan gugusan bumi, sebelum kalian terlebih dahulu mampu menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologinya”. Sedangkan lafad “aqthor” adalah kata jamak dari lafad qithrun, artinya gugusan. Jadi “aqthor”, artinya beberapa gugusan. Sedangkan tantangan yang dimaksud adalah menembus gugusan langit dan gugusan bumi yang ada di alam semesta.

Kalau orang mencari makna ‘gugusan langit’ dalam ayat di atas, barangkali mereka masih berpikir untuk menafsirkan ayat tersebut dengan langit bumi yang ada di atas kepala. Langit yang bisa dilihat dengan mata, yang ada mataharinya, ada bulan dan bintangnya. Coba kalau ayat tersebut dikaji lebih luas dan lebih dalam lagi. Di manakah letak gugusan bumi itu? Padahal bumi yang kita pijak hanya satu dan terdiri dari tanah dan batu. Kalau demikian: Bagaimana cara orang bisa menembusnya? Dengan alat apa orang mampu menggali lubang tembus itu? Siapa pula yang pernah berhasil melakukannya?

Padahal Allah s.w.t juga berfirman di dalam QS. ath-Thalaq Ayat 12, bahwa Allah s.w.t menciptakan tujuh langit dan bumi sepertinya. Oleh karena itu, pasti yang dimaksud gugusan langit dan gugusan bumi di dalam ayat tersebut bukan langit dan bumi yang lahir saja, akan tetapi juga gugusan-gugusan langit dan bumi batin yang terletak di dalam keajaiban-keajaiban ciptaan Tuhan yang ada dalam jiwa manusia. Allah s.w.t berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آَيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (Kekuasaan Allah) bagi  orang  yang telah yakin -Dan juga pada jiwamu, apakah  kamu tidak melihat?”.
(QS. Adz-Dzariyaat; 51/20-21)

Jika orang sudah memaklumi bahwa penguasaan ilmu dan teknologi menjadikan syarat utama bagi terwujudnya kemudahan-kemudahan hidup di dunia, maka demikian pula untuk kehidupan manusia di alam ruhaniah. Tidak bisa tidak, seorang hamba harus menguasainya pula untuk memenuhi tantangan Tuhannya bagi pengembaraan ruhaniahnya. Dalam arti menembus belenggu hawa nafsu, mendobrak barak-barak setan yang ada di dalam hati, mencuci hati dan menyepuh ruhani dengan jalan melaksanakan ibadah dan pengabdian di jalan Allah.

Ilmu pengetahuannya adalah mutiara-mutiara wahyu yang teruntai di dalam al-Qur’an maupun al-Hadits Nabi sedangkan teknologinya adalah sunnatullah yang sudah tersedia dalam jiwa manusia itu sendiri. Manusia tinggal menghidupkan kembali teknologi itu dengan melaksanakan pengembaraan ruhaniah yang terbimbing. Pertama adalah usaha yang kuat dan tepat dari seorang hamba untuk menolong di jalan Allah, selanjutnya adalah datangnya pertolongan Allah s.w.t —sebagai buah ibadah yang dijalani itu, guna terpenuhi segala maksud dan segala kebutuhan yang diharapkan.

Yang di luar adalah alam besar dan yang di dalam jiwa manusia adalah alam kecil. Masing-masing alam tersebut penuh dengan rahasia dan misteri. Manakala seorang hamba bermaksud mencari Tuhannya, mengadakan pengembaraan ruhaniah untuk wushul dengan Allah s.w.t. Pencarian itu tidaklah harus dilakukan di alam yang luar, tapi di alam yang dalam. Yaitu dengan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah s.w.t. Merontokkan hijab-hijab basyariah yang menyelimuti hati dengan dzikir dan fikir kepada Tuhannya. Mengekang kendali hawa nafsu dengan kendali ibadah supaya setan tidak mampu memanfaatkannya untuk membelokkan arah perjalanan.

Adapun pelaksanaan tawasul secara ruhaniah di dalam  pelaksanaan ibadah tersebut berfungsi untuk mencari penerang jalan yang dilalui. Seperti ketika purnama sedang menampakkan mukanya yang rupawan, ke mana saja sang musafir melangkahkan kaki, dengan senang hati bulan dan bintang selalu mengiringi perjalanan. Seperti itulah gambaran orang bertawasul kepada guru ruhaniah, rahasia ‘nur tawasul’ itu akan setia mengiringi perjalanan sehingga seorang musafir selalu mendapat bimbingan. Sang salik  akan selamat sampai tujuan meski  setan selalu menghadang dengan segala jebakan di tengah jalan.

(malfiali, Januari 2009)

MENYINGKAP ALAM GHAIB 2

Posted in alam ghaib, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 14 Januari 2009 by malfiali

alam ghaib

MENYINGKAP ALAM GHAIB 2

3.    Seorang hamba dengan Ilmu dan Kehendak Allah s.w.t berpotensi dapat melihat dan mengetahui alam gaib.

Ketika  Nabi s.a.w bermi’roj dengan dikawal malaikat Jibril, Beliau dipertontonkan oleh Allah s.w.t kepada alam gaib. Yakni keadaan di surga, di neraka dan keadaan-keadaan yang akan menimpa umatnya di masa yang akan datang. Dengan ini menunjukkan bahwa yang dimaksud alam gaib itu bukan alam Jin atau alam Malaikat dan bahkan alam Ruh (ruhaniah), semua itu sesungguhnya merupakan alam yang masih berada di dalam dimensi alam Syahadah walau berada pada dimensi yang berbeda dari bagian dimensi yang ada di dunia. Yang dimaksud dengan alam gaib adalah masa yang belum terjadi atau alam yang akan datang.

Surga dan Neraka dikatakan gaib karena keberadaannya setelah hari kiamat. Mati dikatakan gaib karena datangnya pada waktu yang akan datang. Jadi, hikmah terbesar dari perjalanan ruhani manusia dengan mengadakan pengembaraan ruhaniah (bertawasul) untuk berisro’ mi’roj kepada Allah s.w.t dengan ruhaninya, adalah terbukanya hijab-hijab basyariah sehingga dengan matahatinya atau firasatnya yang tajam manusia dapat mengetahui alam gaib atau apa-apa yang akan terjadi pada dirinya.

Kejadian-kejadian yang terjadi pada masa dahulu dan yang akan datang dikatakan gaib. Alam barzah dan alam akherat, tentang neraka, tentang shiroth, semuanya dikatakan gaib karena kejadiannya pada masa yang akan datang. Demikian pula sejarah-sejarah para Nabi terdahulu dikatakan gaib, karena terjadi pada masa lampau. Allah s.w.t telah menyatakan dengan firman-Nya:

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ

“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang kami wahyukan kepada kamu (Ya Muhammad) padahal kamu tidak hadir beserta mereka” . (QS. Ali Imran; 3/44)

Tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah s.w.t. Kalau ada seseorang ingin mengetahuinya, maka jalannya hanya satu yaitu dengan mengimani apa-apa yang sudah disampaikan oleh Wahyu Allah s.w.t, kemudian ditindaklanjuti dengan amal ibadah (mujahadah dan riyadhah). Selanjutnya, apabila Allah s.w.t menghendaki, maka orang tersebut akan dibukakan matahatinya. Allah s.w.t telah mengisyaratkan demikian dengan firman-Nya:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Dan pada sisi Allahlah Kunci-kunci semua yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah”. (QS. al-An’am;  6/59)

Apa yang akan terjadi dalam waktu satu jam mendatang dikatakan gaib. Karena tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali hanya Allah s.w.t. Kalau ada seseorang yang mempunyai firasat tajam kemudian dia seakan-akan mengetahui apa-apa yang akan terjadi, hal itu bisa terjadi, karena yang demikian itu dia melihat dengan “Nur Allah”. Demikianlah yang disebutkan di dalam sabda Rasulullah s.a.w, yang artinya:”Takutlah kamu akan firasatnya orang-orang yang beriman, karena sesungguhnya dia melihat dengan Nur Allah”.

Kadang-kadang hanya dengan kekuatan cinta, firasat seseorang bisa menjadi tajam kepada orang yang dicintainya. Seorang ibu misalnya, yang sedang jauh dengan anaknya, kadang-kadang tanpa sebab, ibu itu mengalami perasaan yang gundah-gulana, ketika dia mencoba menghubungi anaknya, ternyata anaknya sedang sakit. Kalau kekuatan cinta antara sesama makhluk saja—bahkan kadang terjadi dalam kondisi yang masih haram misalnya, mampu menjadikan tajamnya firasat, apalagi cinta seorang hamba terhadap Tuhannya.

Seorang hamba yang selalu bertafakkur, memikirkan Kekuasaan dan Kebesaran Allah s.w.t hal tersebut semata-mata terbit dari dorongan rasa cinta dan rindunya, hatinya akan menjadi bersih dari kotoran-kotoran yang menempel, bersih dari hijab-hijab yang menutupi dinding penyekat alam batinnya sehingga pada gilirannya matahatinya akan menjadi cemerlang dan tembus pandang. Demikian itu telah ditegaskan Allah s.w.t dengan firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjuki kepada mereka jalan-jalan Kami”. (QS. al-Ankabut; 29/69)

Apa saja yang terjadi di waktu yang akan datang, dari urusan rizki, urusan jodoh, urusan mati dan sebagainya, baik penderitaan ataupun kebahagiaan, yang terjadi di dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akherat, semua itu dikatakan hal yang gaib, karena tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Adapun Jin dan Malaikat dan bahkan Ruh atau ruhaniah tidaklah termasuk dari golongan Alam Gaib dalam arti yang disebut Metafisika akan tetapi termasuk dari golongan Alam Syahadah atau yang disebut Alam Fisika, hanya saja fisiknya berbeda dengan fisik manusia. Bau harum misalnya, walau tidak tampak fisiknya, tidak termasuk Alam Gaib tapi Alam Syahadah, atau alam yang bisa dirasakan, hanya saja untuk merasakannya membutuhkan alat, dan alat itu ialah indera penciuman.

Seandainya ada seseorang yang tidak mempunyai indera penciuman atau indera penciumannya sedang rusak misalnya. Walaupun orang lain dapat merasakan bau harum, dia tidak, yang demikian itu bukan karena bau harum itu tidak ada, tapi karena indera penciuman orang tersebut sedang tidak berfungsi. Demikian juga terhadap suara, akan tetapi untuk merasakan suara membutuhkan alat yang berbeda. Kalau merasakan bebauan dengan alat hidung, maka merasakan suara dengan alat telinga. Orang tidak bisa merasakan bau harum dengan telinga dan suara dengan hidung, masing-masing harus dirasakan dengan alat yang sudah dipersiapkan Allah s.w.t menurut kebutuhan kejadiannya. Seperti itu pulalah keadaan yang ada pada dimensi yang lain, dimensi jin, dimensi malaikat dan bahkan dimensi ruhaniah.

Jin dan malaikat misalnya, sebenarnya mereka juga adalah makhluk fisik, bukan metafisika. Asal kejadian fisik jin diciptakan dari api, sedang fisik malaikat diciptakan dari cahaya. Sebagaimana manusia yang asal kejadiannya diciptakan dari tanah, bentuk kejadian selanjutnya tidaklah tanah lagi, melainkan terdiri dari tulang dan daging, maka demikian juga yang terjadi terhadap makhluk jin dan malaikat.

Meskipun fisik jin diciptakan dari api dan malaikat diciptakan dari cahaya, kejadian selanjutnya tidaklah api dan cahaya lagi, tapi dalam bentuk fisik tertentu yang oleh Allah s.w.t telah ditetapkan tidak bisa dirasakan dengan indera mata manusia. Namun demikian, bentuk fisik jin dan malaikat itu boleh jadi bisa dirasakan oleh manusia dengan indera yang lain selain indera mata. Indera tersebut bisa disebut dengan nama atau istilah apa saja, indera keenam misalnya, atau dengan istilah-istilah atau nama – nama yang lain.

Semisal suara telah ditetapkan oleh Allah s.w.t tidak bisa dirasakan oleh hidung, tapi harus didengar oleh telinga, maka telinga atau hidung hanyalah istilah-istilah yang ditetapkan bagi alat perasa yang dimaksud supaya manusia dapat dengan mudah memahami atau mengenal terhadap alat perasa tersebut. Allah s.w.t berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia (setan jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu, dari dimensi yang kamu tidak bisa melihatnya “. (QS. 7; 27)

Bukan berarti manusia tidak dapat mengobservasi atau berinteraksi dengan jin karena jin berada pada dimensi yang di atasnya, akan tetapi hanya saja untuk mengobserfasi atau berinteraksi dengan jin itu manusia tidak bisa dengan mempergunakan indera mata. Sebagaimana berinteraksi dengan suara tidak bisa mempergunakan indera hidung, akan tetapi harus mempergunakan alat perasa yang lain yang sesuai menurut kebutuhannya.

Allah s.w.t menghendaki manusia tidak dapat melihat jin, karena sesungguhnya matanya sedang tertutup oleh hijab-hijab basyariah. Ketika penutup mata itu dibuka, maka penglihatan manusia akan menjadi tajam. Artinya mempunyai kekuatan untuk tembus pandang sehingga saat itu manusia dapat merasakan alam-alam yang ada di sekitarnya. Allah s.w.t telah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:

فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

“Maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu   pada hari itu menjadi amat tajam “. (QS.Qaaf.; 50/22).

Istilah yang dipergunakan Allah s.w.t untuk membuka penutup penglihatan manusia di dalam ayat di atas adalah firman-Nya: فكشفنا عنك غطاءك   “Fakasyafnaa ‘anka ghithooaka” Kami singkapkan darimu penutup matamu, atau penutupnya dihilangi, atau hijabnya dibuka. Ketika manusia tidak dapat berinteraksi dengan dimensi yang lain berarti karena penglihatannya sedang ada penutupnya. Oleh karena itu ketika penutup itu dibuka, maka penglihatannya menjadi tajam atau tembus pandang. Ini adalah rahasia besar yang telah menguak sebuah misteri tentang alam-alam yang ada di sekitar alam manusia.

Bahwa jalan untuk menjadikan mata manusia menjadi tembus pandang supaya kemudian manusia mampu berinteraksi dengan dimensi yang lain,—dengan istilah melihat jin misalnya, adalah hanya dengan mengikuti tata cara yang berkaitan dengan istilah di atas. Tata cara itu ialah dengan jalan melaksanakan mujahadah di jalan Allah. Sebagaimana yang telah disampaikan Allah s.w.t dalam firman-Nya di atas, QS. 29/69 yang artinya: “Dan orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjuki kepada mereka jalan-jalan Kami”.( QS. 29; 69)

Allah s.w.t yang menciptakan Hukum Alam secara keseluruhan. Maka hanya Allah s.w.t pula yang mampu merubahnya. Seandainya seorang hamba menginginkan terjadi perubahan terhadap hukum-hukum tersebut, maka tidak ada cara lain, dia harus tunduk dan mengikuti hukum-hukum yang sudah ditetapkan pula, meskipun perubahan yang dimaksud tersebut, juga merupakan sunnah yang sudah ditetapkan.

“Mujahadah di jalan Allah”, adalah suatu istilah untuk menyebutkan sesuatu yang dimaksud. Atau nama dari suatu tata cara bentuk sarana untuk mendapatkan petunjuk dari Allah s.w.t. Supaya dengan itu penutup mata manusia dibuka sehingga penglihatannya menjadi tajam. Sedangkan hakekat mujahadah sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah s.w.t, hanya Allah s.w.t yang mengetahuinya. Oleh karena itu, kewajiban seorang hamba yang menginginkan terjadinya perubahan-perubahan atas dirinya supaya usahanya dapat berhasil dengan baik, yang harus dikerjakan ialah, terlebih dahulu dia harus mengetahui dan mengenal dengan benar terhadap apa yang dimaksud dengan istilah mujahadah itu.

Oleh karena yang dinamakan mujahadah tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek ilmu pengetahuan saja, melainkan juga amal atau pekerjaan, bahkan mujahadah adalah ibarat kendaraan yang akan dikendarai manusia untuk menyampaikannya kepada tujuan, maka cara mengenalnya, lebih-lebih cara mengendarainya, seseorang harus melalui tahapan praktek dan latihan. Untuk kebutuhan ini—seorang hamba yang akan melaksanakan mujahadah harus dibimbing seorang guru ahlinya. Allohu A’lam.

(malfiali, Januari 2009)

MENYINGKAP ALAM GHAIB 1

Posted in alam ghaib, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 14 Januari 2009 by malfiali

ALAM GHAIB

MENYINGKAP ALAM GHAIB 1

Kejadian-kejadian luar biasa yang ditampilkan Allah s.w.t di dalam peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Besar Muhammad s.a.w yang sekaligus menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya yang wajib diimani oleh setiap pribadi  muslim, di antaranya ada tiga kejadian:

1.    Dengan Ilmu dan urusan Allah Seorang hamba berpotensi berdialog langsung dengan Tuhannya.

Itulah kejadian yang paling besar dan paling luar biasa dari apa yang terjadi di dalam peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Besar Muhammad s.a.w. Bahwa Baginda Nabi s.a.w adalah satu-satunya manusia sepanjang sejarah kehidupan manusia yang ada, di waktu masih hidup Beliau pernah berdialog langsung dengan Allah s.w.t di suatu dimensi yang lain dari dimensi yang ada di dunia ini dengan tanpa hijab dan tanpa perantara. Setelah pertemuan itu Beliau dapat kembali lagi ke dimensi dunia ini dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, bahkan dengan membawa ilmu pengetahuan yang luar biasa. Demikian itu sesuai dengan apa yang diisyaratkan Allah s.w.t dengan firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”. (QS. asy-Syuraa; 42/51)

Peristiwa itu adalah peristiwa yang sangat luar biasa. Karena sepulang dari perjalanan itu, beliau membawa pengalaman pribadi dan ilmu pengetahuan yang sangat luar biasa pula. Ilmu pengetahuan yang telah mampu membuka tabir rahasia kehidupan yang sebelumnya belum pernah diketahui oleh siapapun. Dengan peristiwa itu kebesaran Allah s.w.t dengan segala ciptaan-Nya yang ada di dimensi lain dari dimensi dunia telah terkuak dengan nyata.

Keadaan yang ada di alam barzah dan alam akherat telah dipertontonkan kepada manusia yang paling dapat dipercaya itu, sehingga ketika peristiwa tersebut harus diceritakan kembali kepada manusia, cerita-cerita itu tidak akan disertai dengan kebohongan-kebohongan manusia, baik yang disengaja maupun tidak. Dalam kaitan itu, seharusnya manusia yang hidup di zaman sesudahnya wajib bersyukur, lebih-lebih bagi umatnya yang beriman. Karena dengan peristiwa itu mereka menjadi tahu serta mengenal jalan-jalan yang harus ditempuh di dalam hidupnya. Yaitu bahwa tujuan akhir dari pengabdian yang dijalani adalah; Manakala seorang hamba telah sampai kepada Tuhannya. Mereka dapat wushul kepada-Nya sehingga dapat mengenal (ma’rifat) kepada-Nya.

Perjalanan Isra’ dan Mi’raj itu merupakan mu’jizat Nabi s.a.w yang terbesar selain mu’jizat besar lainnya. Perjalanan yang tidak dapat masuk di akal manusia. Betapa seorang manusia dengan dimensi manusiawinya mampu memasuki relung dimensi lain sehingga dapat mengetahui dan melihat dengan mata kepala keadaan-keadaan yang ada di dalam dimensi itu. Adapun nilai terbesar dari peristiwa itu adalah; Setelah seorang hamba terlebih dahulu diperlihatkan kepada keajaiban-keajaiban yang ada di dalamnya, di akhir perjalanan itu dia dipertemukan kepada Sang Pencipta Yang Maha perkasa yang telah memperjalankannya.

Mu’jizat besar Nabi akhir zaman itu ternyata bukan dengan memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga Beliau selalu dapat mengalahkan musuh-musuh utamanya—seperti mu’jizat Nabi Musa a.s yang dengan kekuatan dari Allah s.w.t, dapat mengalahkan Fir’aun dengan seluruh kekuatannya. Mu’jizat besar itu ialah; Dengan ilmu pengetahuan yang sudah di dapat dari pengalaman hidup yang dijalani, menjadikan seorang hamba mengenal (ma’rifat) kepada Tuhannya. Dengan ma’rifat itu menjadikannya mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki kepada-Nya.

Inilah gambaran ‘tujuan akhir’ dari sebuah perjalanan ibadah. Jalan thoriqoh yang ditempuh para salik dalam kehidupan beragama. Tujuan akhir itu bukan supaya manusia menjadi kaya raya, bukan supaya manusia menjadi pimpinan partai politik sebagai jenjang awal kemudian bisa menjadi seorang penguasa Negara atau Daerah, bukan supaya manusia mempunyai karomah-karomah sehingga menjadi orang khowas atau waliyullah, bukan untuk mendapatkan harta karun yang diyakini oleh sebagian orang tersimpan di kuburan-kuburan kuno, bukan supaya orang mendapatkan khodam-khodam dari bacaan yang diwiridkan supaya orang bisa menolong kesulitan orang lain, bukan untuk menjadi tabib-tabib supaya manusia bisa mengobati orang yang sedang sakit, bukan supaya menjadi orang kuat agar bisa menanggulangi orang yang kesurupan. Akan tetapi, dengan perjalanan ibadah itu supaya seorang hamba dapat berbakti kepada Tuhannya dengan pengabdian yang sempurna.

2.    Seorang hamba yang masih hidup dengan Ilmu dan Kehendak Allah s.w.t berpotensi untuk bersama-sama melaksanakan satu pekerjaan dalam waktu yang sama dengan orang lain yang sudah mati.

Di dalam peristiwa Isro’, Baginda Nabi s.a.w melaksanakan shalat berjama’ah bersama-sama para Nabi yang sudah meninggal dunia dan ketika bermi’roj Beliau s.a.w juga bertemu dan berdialog dengan mereka, untuk bersama-sama membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan umat manusia di masa mendatang.

Itulah pertemuan antara dua manusia yang sudah berada pada dimensi yang berbeda, yang satu manusia dengan dimensi basyariah dan yang satunya segolongan manusia dengan dimensi barzahiah atau yang hidup pada dimensi alam barzah. Dengan peristiwa ini menujukkan bahwa manusia yang masih hidup, dengan ilmu Allah s.w.t dan izin-Nya dapat bertemu dan bersama-sama dalam satu pekerjaan dengan orang-orang yang sudah meninggal dunia.

Untuk memahami rahasia yang terkandung di dalam peristiwa tersebut, ada satu pertanyaan; “Manusia yang masih hidup di dunia memasuki dimensi alam barzah ataukah manusia yang sudah meninggal dunia kembali memasuki dimensi alam dunia…?” Kalau kita sudah sepakat bahwa orang mati tidak dapat hidup lagi, maka berarti, di dalam peristiwa isro’ mi’roj itu orang yang masih hidup di dunia dengan dimensi dunianya, berhasil menembus lapisan alam sehingga dapat memasuki dimensi alam barzah.

Sungguh peristiwa ini telah membuka tabir teka-teki dan sekaligus menjadi bukti bahwa orang yang sudah meninggal dunia masih dapat saling memberi kemanfaatan kepada saudaranya yang masih hidup di dunia, dan Rasulullah s.a.w adalah pelopor perjalanan itu. Dengan syafa’at beliau yang sudah ada di tangan serta ilmu Allah dan izinnya, semestinya umat penerus perjuangan Beliau atau Ulama’ pewarisnya dapat mengikuti perjalanan itu walau tentunya  di dalam keadaan dan kondisi yang berbeda.

Dalam keadaan sadar mereka mengadakan perjalanan ruhaniah untuk menembus dimensi alam barzah dengan melaksanakan interaksi ruhaniah atau tawasul kepada guru-guru ruhani, yaitu para Nabi, ash-Shiddiq, asy-Syuhada’ dan ash-sholihin yang telah mendahului menghadap kepada Allah s.w.t. Dengan itu seorang hamba mampu merasakan keberadaan mereka di saat bersama-sama dalam pengembaraan tersebut untuk sampai atau wushul kepada Tuhannya.

Allah s.w.t telah mengisyaratkan peristiwa itu dengan firman-Nya:

إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آَيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

“Ketika “Sidrah” diliputi oleh sesuatu yang meliputinya . Penglihatan (manusia) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya . Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. QS.an-Najm; 53/16-18

Dengan uraian di atas menyimpulkan; Bahwa orang yang tidak percaya dengan kemanfaatan pelaksanaan tawasul secara ruhaniah berarti telah menafikan arti yang terkandung di dalam hikmah perjalanan Isro’-Mi’roj nabi besar Muhammad s.a.w. Peristiwa besar sepanjang sejarah manusia yang semestinya dapat dipergunakan sebagai acuan serta dasar pijakan bagi perjalanan ruhaniah yang dilaksanakan oleh orang-orang yang mengaku umat Muhammad s.a.w. Bersambung. (malfiali, Januari 2009)

MENGUAK DUNIA JIN 13 (Dosa Syirik Tidak Diampuni)

Posted in dunia jin, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 11 Januari 2009 by malfiali

dunia jin

Dosa Syirik Tidak Diampuni

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. QS:4/116.

Berharap dan takut kepada selain Allah Ta’ala hukumnya syirik. Itulah hakekat syirik yaitu syirik di dalam aqidah. Orang berbuat syirik dosanya tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Mengapa demikian? Karena tidak ada yang mempunyai kekuatan kecuali hanya Allah Ta’ala, tidak ada yang menghidupkan dan yang mematikan kecuali hanya Allah Ta’ala, maka seseorang tidak boleh menyandarkan harapannya kecuali hanya kepada Allah Ta’ala, tidak boleh memohon pertolongan maupun perlindungan kecuali hanya kepada Allah Ta’ala, tidak boleh takut terkena marabahaya, baik di dunia maupun di akhirat kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Apabila hal tersebut dilakukan, dalam arti  manusia takut kepada selain Allah Ta’ala, berarti orang tersebut berbuat syirik secara aqidah.

Ketika orang mendapat keberhasilan dalam kehidupan misalnya, orang berhasil menggapai keberhasilan yang dicita-citakan kemudian dia merasa bahwa keberhasilan itu hanya dihasilkan sebab ilmu pengetahuannya yang tinggi dan kemampuannya yang prima dalam berusaha, hanya karena dia telah berinfestasi yang benar dan tepat, hanya karena keahliannya dalam menghadapi segala tantangan dan rintangan, orang tersebut tidak pernah merasakan bahwa segala keberhasilan itu semata anugerah yang diturunkan kepadanya, maka berarti dia telah berbuat syirik secara aqidah karena telah mensejajarkan dirinya dengan Allah Ta’ala. Dia mengakui hak Rububiyah Allah Ta’ala sebagai hak pribadinya atau dalam arti telah mensyirikkan Allah Ta’ala dengan dirinya sendiri. Inilah hakikat syirik secara aqidah, yang berarti pula bahwa dia telah merasa menjadi Tuhan. Allah Ta’ala memberikan contoh dengan firman-Nya:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo`a kepada Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) menyekutukan (Allah). QS:29/25.

Dikatakan menyekutukan Allah Ta’ala karena orang-orang yang naik kapal itu ketika diselamatkan dari badai laut yang sedang mengancam, begitu mereka sampai di darat, saat itu juga yang diingat bukan Allah Ta’ala yang menyelamatkan, tetapi angin topan yang berbelok arah, dan mereka berkata: “Untung angin itu berbelok kekanan seandainya terus kita semua pasti binasa”. Itulah hakikat syirik secara aqidah, karena saat itu mereka menyekutukan Allah Ta’ala dengan angin topan dalam dua hal, yaitu angin topan itu mampu menghidupkan dan mematikan dirinya. Padahal sebelum itu mereka tidak berdo’a kepada angin topan, tapi berdoa kepada Allah Ta’ala.

Orang-orang yang berdoa’ kepada Allah Ta’ala supaya mendapatkan rizki yang baik, kemudian ketika Allah Ta’ala mengabulkan do’anya dan dia benar-benar telah mendapatkan rizki yang baik, walau datangnya rizki itu melalui usahanya. Ketika saat itu dia hanya mengakui usahanya saja, dia punya anggapan seandainya tidak bersekolah yang tinggi dan tidak berusaha maka mana mungkin dia mendapatkan rizki yang baik itu, maka yang demikian itulah hakikat syirik di dalam aqidah. Dosa syirik tersebut tidak akan diampuni untuk selama-lamanya.

Maka syirik aqidah itu tidak hanya dilakukan dengan bepergian jauh mencari kuburan-kuburan yang keramat kemudian minta berkah kepada kuburan itu atau mencari dukun-dukun sakti yang dapat membuatkan jimat-jimat supaya hidupnya mendapatkan keselamatan dari jimat-jimat itu, akan tetapi syirik aqibah itu bahkan banyak dilakukan oleh manusia justru hanya dengan tinggal diam di rumah. Dia menganggap dirinya sebagai tuhan karena merasa bahwa ilmu pengetahuan dan usahanya telah menjadikannya sebagai orang yang sukses dan bahagia serta mulia. Seandainya orang seperti itu mempunyai kekuasaan yang kuat, boleh jadi di dunia ini dia menjadi Fir’aun yang berikutnya. Allah Ta’ala telah menegaskan lagi dengan firman-Nya:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? QS:25/43.

Dikatakan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya karena yang diutamakan dalam hidupnya hanyalah kemauan hawa nafsu belaka, bahkan di saat berdo’a kepada Allah Ta’ala pun sesungguhnya hanya dengan maksud supaya Allah Ta’ala mengabulkan kemauan hawa nafsunya itu.

Syirik itu terkadang tidak dalam kontek aqidah saja, tetapi juga dalam kontek amal dan tujuan meski yang demikan itu kadar syiriknya lebih ringan daripada syirik di dalam aqidah akan tetapi juga dapat menciderai kesucian aqidah dan mengeruhkan kejernihan tauhid serta dosanya juga tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Orang yang berbuat syirik amal dan syirik tujuan, berarti kehidupannya akan jauh dari perlindungan dan pertolongan Allah Ta’ala, dengan arti yang lain berarti dia telah merusak sistem penjagaan yang telah dibangun oleh Allah Ta’ala untuk dirinya.

Ada juga yang dinamakan syirik di dalam wujud atau di dalam kejadian. Seperti orang yang kesadarannya sudah dikuasai penuh oleh jin berarti saat itu jin telah berbuat syirik di dalam wujud dengan orang tersebut. Juga sebaliknya, yaitu ketika manusia sudah benar-benar menyatu dengan jin sehingga jasadnya sudah menjadi satu dengan jasad jin, maka itu juga dikatakan syirik dalam kejadian. Seperti kejadian dalam permainan “tenaga dalam”, ketika orang dipukul dari jarak jauh bisa terpental, yang terpukul itu sesungguhnya jin yang sudah berisyrok dalam tubuh manusia itu, hal tersebut bisa terjadi, karena manusia sudah syirik dalam wujud dengan jin. Buktinya, kekuatan tenaga dalam tersebut tidak bisa berreaksi kepada orang sadar. Allah Ta’ala telah mengabarkan keadaan orang-orang yang berbuat syirik tersebut dengan firman-Nya:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. QS:22/31.

Dosa syirik itu tidak diampuni artinya, orang yang berbuat dosa itu akan segera mendapat balasan, di dunia dengan rusaknya sistem pertahanan yang ada dalam jasad mereka sehingga kesurupan jin misalnya, di akhirat dengan siksa neraka. Namun demikian, manakala manusia mau bertaubat di jalan Alloh, dia kembali sadar di dalam jalan yang lurus, meskipun terkadang harus menyelesaikan masa hukuman sebagai kafarot atau penebusan dosa-dosa dengan siksa dan musibah di dunia, namun dengan izin Allah Ta’ala Yang Maha Pengampun, orang yang kerusupan jin tersebut dibebaskan lagi dari cengkraman mahluk halus itu. Jika dosanya tidak terhapuskan dengan penderitaannya maka berarti selamanya jasad orang tersebut akan dikuasai oleh setan jin. Itulah sunnatullah yang sejak diciptakan-Nya, sedikitpun tidak akan ada perubahan lagi untuk selama-lamanya.

Bukan manusia dapat mengalahkan sunnah itu ketika dia berbuat syirik kemudiaan mereka tidak segera menerima ganjaran syiriknya, akan tetapi Allah Maha Pengampun mengampuni bayak hal walau yang diampuni kadang-kadang tidak sadar sehingga tetap saja berbuat syirik kepada-Nya bahkan dengan berulang-ulang. Allah Ta’ala mengisyaratkan yang demikian dengan firman-Nya:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ(30)وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). – Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah. QS:42/30-31.

Lebih terperinci lagi tentang syirik dalam amal perbuatan ini ialah apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. di dalam sebuah haditsnya:

حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ ( أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ ) قَالَ كَانَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ أَسْلَمُوا وَكَانُوا يُعْبَدُونَ فَبَقِيَ الَّذِينَ كَانُوا يَعْبُدُونَ عَلَى عِبَادَتِهِمْ وَقَدْ أَسْلَمَ النَّفَرُ مِنَ الْجِنِّ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a: Mengenai firman Allah swt:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

Yang artinya: Itulah mereka yang mengaku bahwa mereka mencari jalan penghubung kepada tuhannya. Siapakah di kalangan mereka yang paling dekat dengan tuhan mereka dengan katanya: Ada sekelompok jin yang telah memeluk Islam, dan sebelum ini mereka disembah oleh manusia, maka orang-orang yang menyembah itu tetap saja menyembah mereka, yaitu jin walaupun mereka itu adalah jin yang telah memeluk Islam

•    Riwayat Bukhori di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an hadits nomor 4345, 4346.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Tafsir hadits nomor 5356.

Menyembah jin artinya memperturutkan kemauan jin untuk supaya jin dapat berisyrok (bekerja sama) dengan manusia, meski jin itu telah memeluk islam. Demikian itulah memang sifat jin, karena banyak hal yang tidak bisa didapatkan oleh jin kecuali melalui bekerja sama dengan manusia. Dan manakala seorang manusia telah bekerjasama dengan seorang jin maka seorang jin itu pasti akan menambah-nambah kesesatan belaka walaupun seorang jin itu sudah memeluk agama islam. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. QS:72/6.

Adapun syirik di dalam tujuan artinya, tujuan amal ibadah itu tidak semata untuk mengabdi kepada Allah Ta’ala. Banyak contoh yang dapat disampaikan di sini. Salah satunya beribadah sambil berdagang, apalagi ibadah itu ternyata hanya dijadikan sarana atau media untuk mengatur srategi politik organisasi. Maka betapun dia adalah seorang hamba yang telah dapat beribadah dengan ikhlas yang semestinya sedikitpun jin tidak mempunyai peluang untuk menguasai kesadarannya, akan tetapi keikhlasan hatinya itulah yang dijadikan sasaran pertama oleh syaitan jin, supaya keikhlasan itu terlebih dahulu memudar selanjutnya supaya usaha jin dapat terfasilitasi untuk melancarkan serangan fajarnya. Simak ceritanya Sholeh VS Raja Jin dalam Mengauk Dunia Jin 12. (malfiali, Januari 2009)

MENGUAK DUNIA JIN 12 – CERFIK (Sholeh Melawan Raja Jin)

Posted in cerita, dunia jin dengan kaitan (tags) , on 10 Januari 2009 by malfiali

dunia jin

CERFIK (Sholeh Melawan Raja Jin Yang Perkasa)

Al-kisah : Konon pada zaman dahulu ada seorang bernama Sholeh. Dia dipanggil Sholeh si Sholeh karena termasuk orang yang paling sholeh di kampungnya. Hal itu disebabkan, karena ada lagi orang kampung yang bernama sholeh tetapi perilakunya tidak sholeh.

Ceritanya diawali, karena di ujung kampung rumah Sholeh si Sholeh itu ada sarang kemusyrikan, yaitu ada pohon beringin besar yang tumbuh di pinggir jalan yang setiap hari dijadikan tempat sesembahan oleh warga kampong itu. Orang-orang musyrik itu setiap siang dan malam membakar kemenyan dan meletakkan sesajen di bawah pohon tersebut, mereka minta berkah kepada penunggu pohon beringan tua itu supaya hidupnya selamat dan kecukupan. Lebih-lebih saat malam selasa dan malam jum’ah kliwon, pada malam yang keramat itu, orang yang tidak beriman kepada Alloh dan rasul-Nya itu terkadang bahkan menyertakan ingkung ayam sebagai sesajen.

Melihat tradisi syirik yang sudah turun-temurun itu hati Sholeh si Sholeh tidak bisa tinggal diam, suatu saat dia betekat untuk berjihat fi sabilillah. Dia ingin memperbaiki keimanan warganya supaya tradisi syirik tersebut hilang untuk selama-lamanya. Melaksanakan amar ma’ruf dan nahi anil mungkar, dia bertekat membumihanguskan segala bentuk kesyirikan dari kampung halamannya. Bahkan bila perlu, dia ingin mendapatkan tiket surga dengan sebilah kampaknya untuk menebang pohon yang diyakini keramat tersebut. Dia tidak peduli, meski katanya pohon beringin tua itu dijaga Raja Jin yang perkasa. Sholeh si Sholeh mengasah kampaknya itu tajam-tajam, dan esoknya dia dengan membawa kampak yang sudah tajam itu berangkat seorang diri untuk menebang pohon keramat itu. Namun sayangnya informasi gerakan sholeh itu terlebih dahulu terdeteksi oleh Raja Jin penjaga pohon kramat itu, maka di tengah jalan Sholeh dihadang oleh Raja Jin itu dengan bala tentaranya.

Raja Jin itu menyapa Sholeh: “Hai sholeh, mau kemana kamu, pagi-pagi buta dengan memikul kampak yang sudah kamu asah tajam itu..?”. Sholeh menjawab: “Aku mau berjihat di jalan Allah”. Raja Jin bertanya lagi: “Berjihat dengan apa wahai sholeh yang sholeh…?. Aku akan menghancurkan sarang kemusyrikan yang ada di ujung jalan ini. Aku akan menebang pohon beringin di pojok jalan itu yang menjadi sarang kemusyrikat masyarakat kampung. Maka Raja jin segera memperkenalkan diri dan berkata: “Hai sholeh aku adalah Raja Jin penguasa pohon itu kalau engkau mau menebangnya, tebanglah sekarang, asal kamu mampu memotong leherku terlebih dahulu”. Singkat cerita, maka terjadilah pertarungan yang dahsyat antara si Sholeh yang sholeh dengan Raja Jin penguasa pohon beserta bala tentaranya. Di dalam pertempuran itu ternyata Sholeh lebih unggul, jurusnya lebih ampuh ketimbang jurus Raja jin itu sehingga banyak tentara raja jin itu dibuat tidak berdaya, bahkan ada yang muntah-muntah dan kencing di tempat.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu si Raja Jin mempunyai pikiran lain seraya menawarkan perdamaian bersyarat kepada sholeh. Maka dengan argumentasi yang menarik dan masuk akal, setelah diadakan gencatan senjata, Raja jin itu mulai menyampaikan rayuannya: “Hai Sholeh yang sholeh bukankah musholla tempat jama’ahmu berkumpul dan berdzikir itu juga adalah tempat yang penting, seandainya engkau bisa membangunnya dengan bangunan yang lebih baik, bukankah orang yang beribadah di sana akan dapat beribadah dengan lebih nyaman, apakah engkau tidak berfikir bahwa dengan membangunnya juga merupakan jihat di jalan Allah Ta’ala. Daripada engkau harus menebang pohon itu yang boleh jadi kamu nanti mendapatkan banyak musuh dari orang yang berbuat syirik di sana, maka biarkanlah mereka berbuat syirik, dan jama’ahmu juga dapat beribadah dengan nyaman. Kita sama-sama jalan dengan damai, kuatkanlah jama’ahmu dengan memberikan pelayanan yang lebih baik lagi, maka bangunlah musholla itu, dan aku akan bantu kamu untuk mencarikan dananya.

Sejenak Sholeh berfikir, katanya dalam hati: benar juga kamu, maka sholeh balik bertanya: Terus bagaimana cara kamu bisa membantu aku mencarikan dana? Raja jin itu menjawab : Asal kamu tidak menebang pohon itu setiap hari kamu akan aku kirimi uang. Setiap habis sholat subuh ambillah uang itu di bawah bantalmu, engkau akan mendapatkan uang itu disana. Maka terjadilah kata sepakat, selama Raja Jin itu setiap hari mengirimkan uang di bawah bantalnya, sholeh tidak diperbolehkan menebang pohon itu, kecuali apabila raja jin itu telah melanggar kesepakatan tersebut, maka sholeh yang sholeh boleh sesuka hati menebang pohon besar itu. Seteleh kesepakatan diputuskan, masing-masing pihak membubuhkan tanda tangan bermatrei, maka pulanglah Sholeh dengan membawa kemenangan yang gemilang.

Keesokan harinya sehabis sholat subuh, benar, sholeh menemukan setumpuk uang di bawah bantalnya, besoknya juga demikian dan juga besoknya, maka sholeh yang sholeh sudah bersiap-siap untuk melaksanakan rencana mulianya itu, membangun musholla dengan bangunan yang seindah-indahnya. Maka dibentuklah kepanitiaan pendirian musholla sekaligus dengan kepanitiaan pembangunan pondok pesantren di samping mushollanya. Para pemuka masyarakat diundang dalam rapat itu, dan Sholeh yang sholeh mengatakan kepada para hadirin, dia tidak membutuhkan donatur dari luar, dirinya sendirilah yang akan menjadi donatur tunggal.

Orang-orang yang hadir menjadi heran dari mana Sholeh mendapatkan uang untuk melaksanakan rencana besarnya itu, padahal sebelum itu hidupnya dalam keadaan pas-pasan saja. Kadang bisa makan kadang tidak, bahkan untuk beli garam dan kecap saja pernah berhutang kepada tetangganya. Menghadapi kebingungan orang banyak itu sholeh mensikapinya dengan biasa-biasa saja. Sholeh merahasiakan sumber dana itu yang sebenarnya. Dengan penuh keyakinan dia segera dapat mewujudkan rencananya itu.

Setelah malam itu kepanitiaan sudah terbentuk dan rencana kerja segera akan dimulai, besok paginya ketika sholeh membuka bantalnya ternyata tidak ada tumpukan uang sebagaimana hari-hari kemarin. Besoknya juga dan besoknya lagi juga demikian. Sholeh marah besar, menurutnya, Raja Jin itu telah mengkhiyanati komitmen yang sudah disepakati bersama dan berarti pula Sholeh berhak menebang pohon beringin tua itu. Maka Sholeh kembali mengasah kampaknya untuk segera menebang pohon yang menjadi sumber kemaksiatan tersebut.

Pagi-pagi buta dengan kepercayaan yang penuh Sholeh yang sholeh berangkat dengan memikul kampaknya untuk menebang pohon besar itu dan di tengah jalan dia dihadang lagi oleh Raja jin yang telah mengkhiyanati komitmen itu. Namun kali ada yang berbeda, jika pertemuan yang pertama Raja Jin datang dengan segala kekuatannya, kali ini datang sendirian bahkan tanpa membawa senjata. Sholehpun buru-buru menegurnya dan menanyakan pengkhiyanatan yang dilakukan oleh raja jin tersebut. Si Raja jin menjawab dengan santai: “Kalau kamu mampu memotongnya maka potonglah akan tetapi sebelum itu lawanlah aku terlebih dahulu”. Langsung saja sholeh menyerang Raja jin itu dengan jurus sebagaimana pertama kali ia mengalahkannya dahulu, akan tetapi dalam pertempuran kali ini sholeh ternyata benar-benar dibuat KO dan tidak berdaya. Tidak sebagaimana pada pertempuran yang pertama dan bahkan kali ini justru sholeh yang dibuat muntah-muntah dan kencing di tempat. Akhirnya sholeh menyerah kalah dan sepakat untuk berdamai akan tetapi untuk selamanya Sholeh tidak boleh memotong pohon besar itu.

Sebelum Sholeh dilepas pulang, Sholeh bertanya kepada Raja Jin itu : “Hai Raja Jin yang perkasa, pada pertemuan kita yang pertama kamu dapat aku kalahkan dengan mudah akan tetapi mengapa sekarang malah sebaliknya dan justru engkau malah dapat mempermainkan aku dengan seenakmu?” Raja Jin itu menjawab: “Sebenarnya jurusmu tetap ampuh seperti dulu, akan tetapi marahmu yang berbeda. Jika dahulu kamu marah karena Allah Ta’ala, maka kamu dapat mengalahkan aku dengan mudah, namun sekarang marahmu karena uang dan kehormatan, maka ganti aku yang dapat mengalahkanmu dengan mudah. Maka sunggun benar firman Allah Ta’ala:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ(82)إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, – kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. QS:82/85.

Ketika Jihad Sholeh si sholeh yang pertama didasari niat yang ikhlas, yaitu semata-mata hanya berjuang di jalan Allah Ta’ala, maka Sholeh dapat mengalahkan Raja Jin yang perkasa itu, akan tetapi niat yang kedua berbeda. Niat yang kedua itu campur dengan niat-niat yang lain walau sesungguhnya saat itu sholeh juga tetap dalam rangka menjalankan ibadah. Niat yang kedua ini sudah isyrok atau bersekutu dengan tujuan yang lain, maka sedikitpun sholeh tidak dapat mengalahkan Raja Jin itu bahkan Sholeh dijadikan mainan oleh Raja Jin tersebut.

Cerita ini boleh jadi fiktif belaka, namun itulah sebuah ilustrasi, tinggal bagaimana hati yang selamat mengambil hikmah darinya. Kalau seandainya ayat-ayat suci al-Qur’an yang dibaca saat pelaksanaan Ruqyah itu niatnya benar-benar ihlas semata-mata beribadah kepada Alloh, maka para pendengar yang khusu’ itu tidak mungkin kesurupan jin. (malfiali, januari 2009. Dari buku lama yang terlupakan)