Arsip untuk Desember, 2008

MENGUAK DUNIA JIN 11 (Mengapa Orang diruqyah Kesurupan Jin?)

Posted in dunia jin, ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) , on 27 Desember 2008 by malfiali

JIN

Mengapa Orang diruqyah Bisa Kesurupan Jin?

1. Sihir Jin Yang Ditiupkan

Firman Allah Ta’ala Qur’an Surat al-Hijr/42. Qur’an Surat Shod/85. Qur’an Surat an-Nahl/ 100

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat”. QS:15/42.

Jika yang dikatakan Ruqyah itu merupakan bentuk ibadah yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang beriman, bukan perbuatan mengikuti setan Jin sehingga menjadi sesat sebagaimana yang dinyatakan Allah Ta’ala dengan firman-Nya di atas, dan bukan pula syirik seperti yang dinyatakan pelakunya sebelum “Ruqyah” itu dimulai dengan atraksi mengumpulkan jimat-jimat kemudian dibakar, maka dengan pernyataan Allah di atas seharusnya orang yang diruqyah itu tidak kesurupan jin. Jika ternyata demikian, maka barangkali bacaan ayat-ayat suci yang dibaca dalam pekerjaan “Ruqyah” itu sudah disusupi sihir setan Jin, sebagaimana yang telah dinyatakan Allah Ta’ala di dalam firman-Nya (surat al-Hajj ayat 52) “melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu”, seperti tukang sihir membacakan mantranya, ketika ayat-ayat suci itu dibaca, maka para pendengar yang khusu’ tersebut seketika bergelimpangan tidak sadarkan diri.

Bukankah keadaan itu sama dengan keadaan para pemain kuda lumping..?. setelah dibacakan mantra-mantra oleh pimpinan rombongannya kemudian para pemain itu seketika kesurupan jin dan tidak sadarkan diri. Namun bedanya, jika kuda lumping adalah tontonan yang mengasyikkan sedangkan pelaksanaan “Ruqyah” adalah tontonan yang mengerikan dan menjijikkan.

Dan di dalam firman-Nya yang lain Allah Ta’ala telah menegaskan pula. Allah SWT. berfirman:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ(82)إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِين َ

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, – kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. QS:82/85.

Iblis bersumpah di hadapan Allah Ta’ala akan menyesatkan anak Adam secara keseluruhan kecuali hamba-hamba Allah yang beribadah dengan ikhlas, kepada mereka itu kekuatan setan Jin tidak dapat menembus benteng pertahanan yang melindungi. Demikian tersebut dinyatakan Iblis sendiri di hadapan Allah Ta’ala yang telah diabadikan dengan firman-Nya di atas. Artinya, yang menunjukkan suatu kehebatan dari bentuk pelaksanaan amal ibadah manakala ibadah tersebut mendapat perlindungan Allah Ta’ala dari gangguan setan Jin, tidak malah sebaliknya. Dan lebih tegas lagi Allah Ta’ala menyatakan dengan firman-Nya:

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin (beryatawalla) dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah QS:16/100.

Penegasan Allah Ta’ala itu artinya: hanya kepada sekelompok orang yang telah mengambil setan Jin sebagai wasilah atau jalan mendekat (beryatawalla) untuk mencapai tujuan dan orang-orang yang telah berbuat syirik saja, maka setan Jin dapat memperdaya mereka sehingga kesadaran mereka dapat dikuasai walau hanya sebentar.

Barangkali seperti keadaan itulah apa yang terjadi di dalam pelaksanaan “Ruqyah”, ketika orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim itu sambil pikirannya menerawang memikirkan Jin – apakah di dalam tubuhnya ada jin atau tidak – sambil memaksakan diri untuk berbuat khusu’, tanpa disadari ternyata justru melaksanakan apa yang dimaksud oleh ayat tersebut, yakni “beryatawalla” kepada setan Jin. Jika memang demikian, maka pantas saja, hingga sedemikian mudahnya Jin dapat menusuk dan menguasai kesadaran orang yang diruqyah tersebut. hal itu bisa terjadi, karena sesungguhnya setan Jin telah dipersilahkan sendiri untuk datang dan menusuk wilayah kesadaran itu. Buktinya walau dengan masih merasakan sakit dan lemas akibat kesurupan jin, tetap saja mereka merasa bangga, bahwa yang demikian itu adalah yang terbaik baginya dan bukan perbuatan syirik.

Sesungguhnya perbuatan tersebut merupakan syirik di dalam amal perbuatan “asy Syirku Fil Amali”. Dan yang demikian itu adalah identik dengan perbuatan setan Jin yang memang selalu bersyirik ria dengan manusia sebagaimana yang telah ditegaskan Allah Ta’ala dengan firman-Nya:

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَولَادِ

“Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak”. QS:17/64.

Yang pasti, hendaklah manusia waspada dan berhati-hati ketika perbuatan yang mereka lakukan – apapun bentuknya, lebih-lebih yang bernuansakan ibadah – nyata-nyata bersingguan dengan dimensi jin, seperti pelaksanaan ruqyah tersebut, seandainya Allah Ta’ala tidak melindungi hamba-Nya maka tidak seorangpun dapat selamat dari terkaman jin, dengan satu alasan saja; “Karena jin dapat melihat manusia, manusia tidak dapat melihat jin”.

2. Beramal Tanpa Bimbingan Guru

Firman Allah SWT. Surat al-A’raaf ayat 201:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya QS:7/201.

“Thoo-ifum minasy-Syaithon” atau was-was dari setan, dari ayat di atas, bentuk wujudnya terkadang berupa bisikan dalam hati manusia padahal bukan terbit dari kemuannya sendiri. Bisikan tersebut terkadang lebih dominan dari kemauan (Irodah atau Khotir) hatinya sendiri. Contoh misal: dengan sadar orang melihat seseorang yang ada di hadapannya adalah orang baik, baik pekerjaan maupun pembicaraan, akan tetapi bisikan itu mengatakan sebaliknya, orang tersebut orang jahat, demikian juga ketika melihat orang yang menurut kesadarannya jelek, bisikan itu malah mengatakan baik. Akibatnya, orang tersebut dibuat bingung oleh suara-suara yang ada di hatinya sendiri itu, karena akalnya mengatakan begini sedangkan dalam dadanya mengatakan yang lain. Semakin lama menjadi membingungkan dan akhirnya menjadi lupa diri dan klimaksnya bahkan menjadi gila.

Tanda-tanda awal penyakit gila tersebut, adanya perubahan yang mencolok dalam prilaku hidup orang tersebut. Asalnya periang mendadak menjadi pendiam, menjadi tidak suka bicara dan bergaul dengan orang lain, sering mengurung diri di dalam kamar dan berbicara sendiri, tidak banyak suka dengan apa yang diperbuat orang lain karena menurutnya perbuatan tersebut salah. Kadang-kadang mengaku didatangi ruh waliyullah dan bahkan mendapat ilmu langsung dari para wali dan para Nabi, mereka itu datang sendiri di kamarnya. Ada juga yang mengaku sebagai malaikat Jibril, yang lebih parah lagi, ada yang mengaku bertemu langsung dengan Allah Ta’ala, mendapat wahyu sebagaimana para Nabi as, sehingga mengaku sebagai nabi. Ketika penyakit itu sudah semakin parah, maka meninggalkan seluruh pemilikannya bahkan keluarganya yang dahulu sangat dicintai.

Banyak fenomena seperti ini kita temui di masyarakat, eronisnya kebanyakan orang yang terkena penyakit seperti itu justru dari golongan ahli ibadah dan ahli mujahadah. Mengapa demikian..? karena sesungguhnya ibadah dan mujahadah yang ditekuninya itu tanpa mendapat bimbingan seorang guru yang ahli, yakni guru-guru ruhaniyah yang dapat mentarbiyah ruhaniyah murid-muridnya. Akibatnya, ibadah dan mujahadah itu hanya dipancarkan oleh kemauan emosional dan rasional belaka tetapi gersang dari pancaran spiritual yang sesungguhnya. Itulah pertanda, sesungguhnya pembimbing ibadah tersebut adalah setan Jin yang telah memanfaatkan keadaan dan peluang.

Konkritnya, ketika dorongan emosional telah mendesak kekuatan rasional sehingga pertahanan rasional menjadi lemah sehingga kesadaran menusia menjadi eror, menjadi antara sadar dan tidak sadar. Saat-saat seperti itulah yang sangat ditunggu-tunggu oleh setan Jin untuk memasukkan sulthon jin (tehnologi jin) di dalam wilayah kesadaran manusia, manakala kesadaran itu menjadi terluka akibat dorongan emosional tersebut. Kemudian dengan tehnologi itu setan jin dapat meremot atau memancarkan perintahnya kepada manusia dari jarak jauh.

Keadaan tersebut seperti yang dimaksudkan oleh sebuah ungkapan Ulama’ yang artinya: “Barang siapa beramal tanpa guru maka gurunya adalah setan”. Ini merupakan masalah yang sangat penting bagi orang yang tekun menjalankan ibadah dan mujahadah yang tidak banyak diketahui dan dimengerti oleh kalangan awam.

Adapun maksud ayat di atas: “Orang yang bertakwa kepada Allah Ta’ala apabila sedang mengalami keadaan demikian, maka berdzikirlah!!” Berdzikir tersebut boleh dengan sholat, boleh dengan membaca kalimah thoyyibah atau boleh dengan membaca ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim – dengan itu supaya dia menjadi melihat atau menjadi sadar serta mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya. Artinya: seharusnya dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim dalam rangka berdzikir kepada Allah Ta’ala, orang-orang yang tidak sadar atau orang yang sedang hilang ingatannya, menjadi sadar, tidak malah sebaliknya. Yakni orang yang sehat wal afiat dan sadar, dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim menjadi hilang ingatannya atau gila walau sebentar, bahkan muntah-muntah dan kencing di masjid.

Ada contoh lagi: Ada orang yang lahirnya kelihatan segar-bugar dan sewat wal afiat, akan tetapi dia mengaku sakit. Bukan di dalam jiwanya bukan di dalam kesadarannya, tetapi di saat-saat tertentu di dalam dadanya didatangi tamu yang tidak diundang. Ceritanya, akhir-akhir ini dia dibuat bingung oleh bisikan yang bersumber dari rongga dadanya sendiri. Awalnya ada bisikan kalimah dzikir dengan kalimah “Lailaha illallah”, dzikir itu berbunyi sendiri di luar kemauannya. Awalnya dia senang, betapa tidak, kalimat dzikir itu seakan-akan pengingat dari Allah Ta’ala supaya dia selalu berdzikir kepada-Nya, karena dia memang orang yang ahli mujahadah bahkan kadang-kadang dengan jalan melaksanakan kholwat di tempat-tempat yang sepi. Maka kehadiran dzikir ghaib tersebut disambutnya dengan positif dan diikuti dengan khusu’. Akan tetapi lama-kelamaan bisikan dzikir itu ritmenya semakin meningkat bahkan akhirnya hampir-hampir mendominasi seluruh waktu hidupnya sehingga kehidupannya menjadi terganggu, bahkan terakhir setiap hari dia hampir tidak dapat tidur, meski sekedar memejamkan mata. Karena setiap mata dipejamkan, ritme dzikir ghaib itu semakin meningkat

Saat itulah dia mulai sadar bahwa datangnya dzikir ghaib itu ternyata bukan obat tetapi penyakit, meskipun dengan adanya dzikir ghaib itu dia telah banyak mendapat kelebihan yang dapat digunakan membantu dan menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Sayangnya kesadaran itu sudah terlambat, hidupnya sudah terlanjur dikuasai oleh bisikan tersebut. Akan tetapi alhamdulillah berkat kemauannya yang kuat untuk mengobati dirinya sendiri dan pertolongan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang sadar dan mau bertaubat, dengan terapi latihan panjang, akhirnya dia terbebas dari bisikan kalimah dzikir yang telah menyiksa hidupnya itu.

Mengapa ada kejadian seperti itu…? Sesungguhnya penyebabnya sama, orang tersebut senang beramal dengan amalan yang khusus (wirid-wirid khusus) akan tetapi tanpa bimbingan guru ahlinya. Jadi, tidak menjadi jaminan, dzikir dengan kalimat “Lailaha illallah“ sekalipun atau bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an al-Karim, dapat menjadi obat bagi manusia, manakala cara membacanya tidak dibimbing oleh guru ahlinya.

Seperti sepeda motor misalnya, yang seharusnya menjadi sarana untuk membantu mempermudah hidup manusia, manakala dikendarai oleh orang yang belum ahli mengendarai kendaraan, maka yang seharusnya membantu kehidupan itu kadang-kadang malah menjadi penyebab mempercepat kematian.

Jadi, mestinya seperti orang-orang tersebut itulah yang seharusnyan diruqyah supaya penyakit yang ada dalam rongga dada mereka menjadi sembuh. Orang kesurupan menjadi sadar, orang yang terkena penyakit jin menjadi sembuh, orang yang mengaku malaikat jibril dan nabi tidak mencicipi penderitaan hidup di penjara. Memang untuk itulah – sejak dahulu sampai sekarang – ruqyah itu dilakukan oleh para ahlinya. Ruqyah bukan untuk melukai kesadaran orang sehat menjadi gila walau sebantar, tetapi melepaskan kesadaran manusia dari cengkraman setan jin untuk selama-lamanya. (malfiali, Desember 2008)

MENGUAK DUNIA JIN 10 (Serba Serbi Dunia Jin VS Ruqyah)

Posted in dunia jin dengan kaitan (tags) on 25 Desember 2008 by malfiali

jin

Serba Serbi Dunia Jin VS Ruqyah

1. SENTUHAN SETAN JIN PADA SEORANG BAYI SAAT DILAHIRKAN.

Menurut ilmu medis, seorang anak manusia yang baru dilahirkan harus menangis, kalau tidak berarti tidak sehat. Begitulah kira-kira karena penulis tidak mengetahui ilmunya. Akan tetapi menurut sabda Rasulullah saw. di bawah ini ternyata saat itu (saat bayi menangis itu) karena dia mendapat tusukan dari setan jin. Rasulullah saw. bersabda:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ إِلَّا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak ada seorang bayipun yang dilahirkan oleh ibunya kecuali telah disentuh setan. Sehingga Bayi itu segera menangis dan menjerit karena sentuhan setan tersebut kecuali Putera Mariam dan Mariam

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Permulaan kejadian hadits nomor 3044.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Kelebihan hadits nomor 4363.

Barangkali seorang jin sedang memberikan aba-aba kepada manusia yang menjadi tanggungannya bahwa sejak saat itu genderang perang terbuka di dunia luar sudah dikumandangkan, makanya manusia harus waspada, jangan sampai mereka dibuat muntah-muntah dan kencing di dalam masjid dan di musholla-musholla gara-gara di Ruqyah.

2. TIGA IKATAN SETAN DI KEPALA ORANG TIDUR.

Seringkali kita menyiapkan alarm disamping tempat tidur supaya pada saat yang sudah direncanakan bisa bangun tengah malam dan melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi seringkali pula yang terjadi tidak sesuai rencana, bahkan niat tinggal niat dan tidur tetap berjalan cepat. Ketika alarm berbunyi dengan tepat, segera kitapun menindaklanjuti dengan cepat, namun bukan untuk bangun dan sholat, melainkan mematikan alarm dan mimpi berlanjut maka shubuhpun menjadi terlewat. Mengapa bisa seperti itu…?, ternyata di saat bantal merapat setan jin mengikat kepala dengan tiga kawat. Rasulluh saw. bersabda:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ثَلَاثَ عُقَدٍ إِذَا نَامَ بِكُلِّ عُقْدَةٍ يَضْرِبُ عَلَيْكَ لَيْلًا طَوِيلًا فَإِذَا اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِذَا تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عَنْهُ عُقْدَتَانِ فَإِذَا صَلَّى انْحَلَّتِ الْعُقَدُ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Sesungguhnya Nabi s.a.w bersabda: setan akan mengikat ujung kepala seseorang yang sedang tidur dengan tiga ikatan, sehingga menyebabkan kamu tertidur dengan pulas dan lama. Apabila seseorang di antara kamu itu terbangun serta menyebut nama Allah, maka ikatan partama akan terlepas. Apabila dia berwuduk maka akan terbukalah ikatan yang kedua. Apabila dia sembahyang maka akan terbukalah ikatan semuanya. Dia juga akan merasakan suatu kesegaran dan ketenangan hati, jika tidak dia akan merasa malas dan tidak bergairah

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Jum’at hadits nomor 1074.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Qiyamul Lail hadits nomor 1295.
• Riwayat Nasa’i di dalam Kitab Sholat Orang Musyafir Dan Mengkoshornya hadits nomor 1589.

Barangkali setiap siang dan malam kita harus diruqyah, supaya di saat kita tidur, setan jin tidak sempat mengikat kepala kita dengan tiga kawat….?

3. SETAN LARI MENDENGAR ADZAN DAN QOMAT

Rasulullah saw. bersabda:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ أَحَالَ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ صَوْتَهُ فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ فَإِذَا سَمِعَ الْإِقَامَةَ ذَهَبَ حَتَّى لَا يَسْمَعَ صَوْتَهُ فَإِذَا سَكَتَ رَجَعَ فَوَسْوَسَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Nabi s.a.w bersabda: Apabila setan mendengar azan, dia lari berhamburan sehingga tidak mendengarnya lagi suaranya. Setelah azan selesai, dia kembali lagi untuk menggoda (manusia). Begitu juga apabila mendengar iqamat. Dia lari lagi sehingga tidak mendegar suaranya lagi dan begitu iqamat selesai dibacakan, segera dia kembali sekali lagi untuk menggoda manusia.

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Azan hadits nomor 573.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Sholat hadits nomor 583.
• Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Sholat hadist nomor 363.
• Riwayat Nasa’i di dalam Kitab Azan hadits nomor 664.
• Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Sholat hadits nomor 433, 869.

Setan memang takut kepada suara adzan, tapi anehnya malah terkadang tidak takut kepada orang yang menyuarakan adzan. Karena banyak adzan dikumandangkan bukan untuk memanggil orang untuk sholat melainkan sekedar pamer suara dan irama lagu bahkan diperlombakan agar panitia memberikan hadiah kepada sang juara azan.

4. SETAN KENCING DI TELINGA MANUSIA.

Rasulullah saw. bersabda:

حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : ذُكِرَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ نَامَ لَيْلَةً حَتَّى أَصْبَحَ قَالَ ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنَيْهِ أَوْ قَالَ فِي أُذُنِهِ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a berkata: Diceritakan kepada Rasulullah s.a.w mengenai seorang yang tidur pada waktu malam hingga pagi. Baginda bersabda: Itulah orang yang kedua belah telinganya telah dikencingi setan atau sabda baginda: Sebelah telinganya saja

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Jum’at hadits nomor 1076.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Sholat Orang Musafir Dan Mengqoshornya hadits nomor 1293.
• Riwayat Nasa’i di dalam Kitab Qiyamul Lail hadits nomor 1590.

Barangkali itu zaman dulu, orang semalaman tertidur pulas sehingga tidak sempat tahajjud dan berdzikir malam, karena telinganya dikencingi setan yang tidak tahu adat. Kalau sekarang tidak begitu, bahkan setan-setan itu membuat manusia lupa adat, hingga suka kencing di mesjid-mesjid dan di musholla tanpa takut kuwalat, karena para tukang ruqyah sedang adakan pesta ruwat ???.

5. MENGUAP ADALAH BAGIAN GANGGUAN JIN KEPADA MANUSIA

Rasulullah saw. telah menyatakan dengan sabdanya:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ التَّثَاؤُبُ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Menguap (dengan mulut terbuka) adalah merupakan gangguan dari setan. Apabila ada di antara kamu yang menguap maka hendaklah dia menutup mulutnya sekuat mungkin

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Permulaan Kejadian hadits nomor 3046.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Zuhud dan Lemah Lembut hadits nomor 5310.
• Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Etika hadist nomor 2670, 2671.
• Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Etika hadits nomor 4373.

Ini merukapan tanda-tanda yang paling nyata akan kebersamaan makhluk jin di dalam hidup manusia. Hampir semua manusia pernah menguap dan hanya orang-orang khusus yang mendapat penjagaan khusus yang tidak pernah menguap seumur hidup, tetapi barangkali kita sulit untuk ditemukan orang tersebut. Kalau orang menguap – karena itu merupakan bagian dari gangguan jin yang harus diruqyah, betapa orang harus susah-susah keliling dunia untuk meruqyah orang yang menguap, karena hampir semua manusia pasti pernah menguap, lebih-lebih ketika mereka sedang ibadah atau sedang berada di dalam majlis-majlis pengajian dan dzikir. Bahkan sedang meruqyah sekalipun…?

6. DISAAT MANUSIA TIDUR JIN JUGA TIDUR DI DALAM LUBANG HIDUNG

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيَاشِيمِهِ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Nabi s.a.w telah bersabda: Apabila seseorang dari kamu bangun dari tidur, maka hendaklah dia memasukkan air ke dalam hidung dan menghembusnya keluar sebanyak tiga kali karena sesungguhnya setan bermalam di dalam lubang hidungnya di saat manusia tidur .

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Permulaan Kejadian hadits nomor 3052.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Bersuci hadits nomor 351.
• Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Bersuci hadist nomor 89.

Disaat kita tidur, ternyata lubang hidung kita menjadi hotelnya setan jin, padahal kita tidak pernah menyadarinya. Jika memang orang yang tubuhnya dimasuki jin harus diruqyah, apakah setiap akan tidur kita harus diruqyah….? supaya jin tidak tidur di hotelnya lagi ?

7. JIN MASUK KE DALAM TUBUH MANUSIA MELALUI JALAN DARAH

حَدِيثُ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ لِأَنْقَلِبَ فَقَامَ مَعِيَ لِيَقْلِبَنِي وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ ابْنِ زَيْدٍ فَمَرَّ رَجُلَانِ مِنَ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَرًّا أَوْ قَالَ شَيْئًا

Diriwayatkan dari Sofiah binti Huyai r.a berkata: Pada suatu malam ketika Nabi s.a.w sedang beriktikaf aku datang menghampiri baginda. Setelah puas berbincang-bincang dengan baginda, akupun berdiri untuk pulang. Rasulullah s.a.w ikut berdiri untuk mengantarku. Tempat tinggal Sofiah adalah di rumah Usamah bin Zaid. Tiba-tiba datang dua orang Ansar. Ketika mereka melihat Nabi saw mereka mempercepatkan langkahnya. Lalu Nabi saw bersabda: Perlahankanlah langkahmu. Sesungguhnya ini adalah Sofiah binti Huyai. Kedua orang ansor itu berkata Maha suci Allah, wahai Rasulullah. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya setan itu berjalan pada aliran darah manusia”. Sebenarnya aku khawatir ada tuduhan buruk atau yang tidak baik dalam hati kamu berdua

1. Riwayat Bukhori di dalam Kitab I’tikaf hadits nomor 1894, 1897, 1898. – Etika hadits nomor 5751.
2. Riwayat Muslim di dalam Kitab Salam hadits nomor 4041.
3. Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Etika hadits nomor 4342.
4. Riwayat Ibnu Majah di dalam Kitab Puasa hadits nomor 1769.

Ini lebih mengerikan lagi. Ternyata jin bisa keluar masuk dalam tubuh kita dengan sekehendak hati mereka. Mereka bisa tinggal di mana saja dalam jaringan urat darah kita yang mereka kehendaki, padahal kita tidak pernah merasakan keberadaan mereka. Barangkali kita semua memang harus diruqyah, supaya jin yang tinggal dalam urat darah kita itu tidak membelokkan aqidah Islamiyah kita, sehingga kita terhindar dari perbuatan syirik dan bid’ah, tidak terkecuali orang-orang yang ahli meruqyah ???.

(malfiali, Desember 2008)

KHOLIFAH BUMI 2 (Kelahiran Kedua)

Posted in ilmu thoriqoh, puisi dengan kaitan (tags) , on 20 Desember 2008 by malfiali

kholifah bumi 2

KELAHIRAN KEDUA

Supaya manusia menjadi Insan Kamil, menjadi manusia sempurna baik lahir maupun batin, sehingga mampu menduduki maqom Kholifah Bumi, maka manusia harus terlebih dahulu pernah mengalami kelahiran kedua. Kelahiran pertama merupakan kelahiran jasmani sedangkan kelahiran kedua adalah kelahiran ruhani. Yakni terbukanya matahati untuk menerima pancaran ‘nur makrifatullah’ sehingga manusia bisa terlepas dari kejumudan hatinya sendiri. Kelahiran kedua tersebut dalam arti, hakekat manusia yang disebut nismatul ‘adamiyah yang dibungkus dengan jismul mahsusah atau jasad kasar telah mendapatkan rahasia hidayah Alloh yang dipancarkan dari tempat perbendaharaannya. Itulah “Nur di atas Nur” yang disebut “nismatul ‘ubudiyah”. Dengan kelahiran kedua ini, maka ilmu dan iman manusia telah mampu menyinari perilakunya sendiri.

Itulah buah ibadah pertama yang dihasilkan oleh seorang salik di jalan Allah. Yaitu orang-orang berilmu dan beriman yang dengan kemauan sendiri selalu berusaha mencari tahu tentang jati dirinya dan Tuhannya. Apabila perjalanan tersebut mendapatkan petunjuk dan bimbingan yang benar, maka tahap pertama yang akan dihasilkan adalah mendapatkan futuh atau terbukanya matahati sehingga hatinya terbebas dari tipudaya nafsu dan keraguan pikir.

*******

Rongga dada orang berilmu dan beriman yang terkadang sempat menjadi sempit di saat menghadapi kesulitan hidup yang sedang menghimpit. Disebabkan karena ilmunya baru bisa dipakai berargumentasi dan mengajari orang untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan. Ilmu dan iman tersebut belum mampu menyinari hatinya sendiri, sehingga terkadang sempat menjadi bingung kehilangan pegangan, bahkan membutuhkan orang lain untuk menemukan solusi permasalahan hidup yang sedang membelenggu angan. Dengan kelahiran kedua ini mereka mampu menempuh jalan, memohon petunjuk kepada Allah untuk terbukanya pintu penyelesaian. Karena dengan kelahiran kedua tersebut berarti manusia telah menemukan sumber rahasia hidayah yang didatangkan dari alam kelanggengan. Pintu ghaib dalam hatinya sudah pernah terbuka meski hanya sekejap, namun dengan itu,—dengan izin Tuhanya, suatu saat orang tersebut dapat membukan kembali ketika membutuhkan.

kholifah

Terbukanya pintu ghaib dalam hati itu merupakan potensi hati yang harus digali oleh orang yang berilmu dan beriman. Merupakan sarana hubungan secara pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Orang berilmu dan beriman yang mendapatkan ‘futuh ilahiyat’ tersebut, sehingga setelah itu mereka mampu mengusir keraguan yang seringkali datang membelenggu hatinya sendiri, mereka itu berarti telah mengalami kelahiran kedua.

Ketika kelahiran kedua itu sudah dicapai, berarti orang tersebut bagaikan telah mendapatkan bibit unggul dalam hatinya sendiri. Selanjutnya mereka tidak boleh berdiam diri hanya sampai disitu saja. Mereka tidak boleh membiarkan bibit itu kembali menjadi mati, mereka harus menanam bibit itu dalam hatinya sendiri pula dengan melanjutkan perjalanan tiada henti.

Mereka harus meningkatkan mujahadah dan riyadhloh di jalan Allah, baik dengan dzikir maupun fikir, baik secara vertikal maupun horizontal. Dalam arti mampu meredam kehendak emosional dan rasional supaya kehendak spiritual dominan menyinari kehidupannya. Mujahadah dan riyadloh itu bahkan harus dilakukan terus-menerus sampai keraguan hati yang seringkali masih singgah dalam hati benar-benar telah menjelma menjadi keyakinan yang kuat. Allah memberikan sinyaleman hal tersebut dengan firmanNya:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ(62)الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ(63)لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (QS.Yunus;10/62-64)

kholifah 2

Jika kelahiran pertama untuk memulai kehidupan jasmani, maka kelahiran kedua adalah untuk memulai kehidupan ruhani. Sebagaimana awal kehidupan jasmani, manusia harus mengalami kelahiran yang kemudian dengan proses panjang menuju kedewasaan usia, maka seperti itu pula yang terjadi di dalam kehidupan ruhani. Untuk mencapai kematangan ruhani itu, disamping manusia harus mengalami proses kelahiran ruhani, juga mampu ditindaklanjuti dengan mujahadah dan riyadloh secara istiqomah sehingga matahati seorang hamba menjadi cemerlang dan tembus pandang atau firasatnya tajam.

Jika proses kelahiran yang pertama mengikuti sistem(sunnah) yang sudah diatur mutlak oleh kehendak Allah, kelahiran kedua tidaklah demikian. Kelahiran kedua ini harus diupayakan sendiri oleh manusia, yaitu dengan jalan memadukan ilmu, iman dan amal di dalam pelaksanaan jalan ibadah atau thoriqoh yang terbimbing oleh guru mursyid yang sejati. Orang beriman harus mampu mencapai kelahiran kedua tersebut, karena tanpa pernah dilahirkan dua kali di dunia, maka mereka belum dapat disebutkan sebagai manusia sempurna (Insan Kamil). Yang hidup hanya jasmani dengan segala instrumennya tapi matahatinya masih dalam keadaan buta: “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS.al-Hajj; 46).

Allah s.w.t telah menegaskan kelahiran kedua itu dengan firman-Nya:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan bukankah orang yang mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”.
(QS. al-An’am (6); 122).

Maksud dari “Orang yang mati” dalam ayat di atas adalah orang yang mati ruhaninya, bukan jasmaninya. Alasannya, karena ayat ini ditutup dengan kata-kata “kafir”: “Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”. Adapun sebab kematian ruhani itu karena nismatul adamiyah belum mendapatkan pancaran ruh nismatul ubudiyah sehingga matahati manusia masih dalam keadaan buta.

Ketika hati manusia sudah benar-benar dipancari nur iman, sehingga tidak ada lagi keraguan di dalamnya, maka hati yang asalnya mati itu menjadi hidup. Adapun awal dari kehidupan ruhani itulah yang dimaksudkan kelahiran yang kedua di alam dunia. Artinya, sejak saat itu berarti hati orang tersebut telah mendapatkan tambang “Nur Hidayah” dari Allah. Selanjutnya orang itu mendapat tugas untuk menyampaikan hidayah Allah tersebut kepada manusia yang lain – “Yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia”(QS (6); 122).

kkkk

Seperti saat kelahirannya jasad, proses kelahiran manusia itu harus dibidani oleh seorang bidan, kelahirannya ruhani itu juga demikian. Hal itu betujuan supaya proses kelahiran tersebut berjalan dengan sempurna. Maka yang dimaksudkan dengan tambahan “Nur Hidayah Dari Allah” itulah bidan yang membidani kelahiran kedua itu, yaitu nur rahasia (sirr) ibadah dari rahasia hasil bimbingan para guru-guru mursyid yang ditawasuli dan diikuti.

Maka tidak bisa tidak, jika manusia menghendaki jati dirinya hidup dan selanjutnya mendapatkan pancaran nur nismatul ubudiyah, nur tersebut harus mampu mereka dapatkan dari rahasia bimbingan seorang guru Mursyid sejati, kalau tidak maka yang akan menjadi bidan bagi kelahiran kedua tersebut adalah setan jin yang selalu mendampingi perjalanan. Hal tersebut sebagaimana yang terkandung dalam ungkapan Ulama ahlinya: “Barang siapa beramal tanpa guru maka gurunya adalah setan”.

Sebelum manusia dilahirkan untuk yang kedua kalinya di alam dunia, setiap manusia sejatinya sama, yaitu sama-sama terbelenggu di dalam kegelapan rongga dadanya: “Serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya”(QS (6); 122). Maksudnya, orang yang belum mengalami kelahiran kedua itu berarti matahatinya belum dapat digunakan untuk melihat dengan sempurna sehingga seringkali mereka tidak mampu menyikapi dan mencari jalan keluar dari permasalahan hidup yang sedang dihadapi dengan baik dan benar.

Kemanfaatan ilmu dan iman yang dimiliki hanya dapat digunakan untuk menyelesaikan urusan yang lahir saja tetapi tidak mampu menembus urusan yang batin. Hanya melihat keadaan tapi tidak mampu mempersiapkan kemungkinan. Hanya melihat sebab tanpa pernah memikirkan akibat. Hanya mampu melihat secara rasional tapi tidak mampu merasakan secara spiritual. Hanya melihat yang duniawi tapi tidak tembus kepada urusan yang ukhrowi. Hal itu bisa terjadi, karena mereka itu sesungguhnya hanya melihat dengan mata kepala (rasional) tapi matahatinya (spiritual) masih dalam keadaan buta: “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS. al-Hajj; 6).

Walhasil, barang siapa ingin mendapatkan kesempurnaan hidup, baik untuk di dunia maupun akhirat, maka jalan satu-satunya harus melaksanakan amaliyah yang istiqomah atau mengikuti jalan ibadah (thoriqoh) yang dibimbing oleh seorang guru mursyid sejati. Jika tidak, maka kita harus puas dengan keadaan yang kita alami seperti sekarang ini. Terbelenggu dalam kegelapan hati sendiri sehingga tidak mampu keluar untuk mencari solusi dan menemukan jalan penyelesaian, meski dari kesulitan hidup yang diakibatkan oleh perbuatan kita sendiri. (malfiali, Desember 2008)

KHOLIFAH BUMI 3 (Proses Kelahiran Kedua)

Posted in ilmu thoriqoh, puisi dengan kaitan (tags) , on 20 Desember 2008 by malfiali

kholifah 3

PROSES KELAHIRAN KEDUA

Datangnya kelahiran kedua ini diawali dengan klimaks di dalam perasaan seorang hamba yang tengah melaksanakan perjalanan ibadah yang diistiqomahkan. Antara sadar dan tidak sadar tetapi sadar:[(Ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputi - Penglihatan tidak berpaling dari yang dilihat dan tidak (pula) melampauinya - Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar (QS.an-Najm/16-18)], klimaks tersebut terjadi ketika intensitas dzikir dan fikir sedang berada pada puncak pencapaian. Pengembaraan ruhani sedang mencapai batas pendakian untuk memasuki tahapan maqom yang ada di depan sehingga perasaan menjadi lupa kepada alam dan keadaan. Disaat hati sedang pecah di hadapan yang dicari sehingga tidak ingat apa-apa lagi selain pertemuan yang diharapkan. Disaat seperti itu…., hampir-hampir putus asa karena sang salik sadar atas ketidakmampuan diri untuk melanjutkan perjalanan, menjadikan perasaan suka melayang seperti sampan yang terapung di tengah hempasan ombak lautan sehingga tidak lagi mengetahui ke arah yang mana perjalanan itu harus dilanjutkan.

Lalu perasaan seakan menemukan dataran yang hampa waktu tapi bukan udara. Bumi yang asalnya terang kini menjadi gelap gulita. Seakan matahari berganti sehingga yang semula siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Menjadi sendiri di dalam kesepian padahal sejatinya berada dalam kebersamaan. Selanjutnya, seketika ufuk hidup berangsur kembali terang karena fajar baru mulai menampakkan senyuman, maka hamparan kehidupan menunjukkan keaslian sehingga usia yang terlewati seakan telah menipu diri dalam perjalanan. Akhirnya, hati ingin menghentikan perjalanan, asa enggan meneruskan pengembaraan, karena takut mendapatkan kekecewaan yang bakal terulang.

kholifah

Dalam kondisi demikian, jika perjalanan seorang salik dilakukan sendiri dengan tanpa ada guru pembimbing yang menuntun tangan. Tidak mau mengulurkan tangan untuk memohon syafa’at sehingga tidak ada tangan yang menarik melepaskan diri dari pusaran. Maka seorang salik tidak mudah kembali ke alam sadar karena jalan telah tertutup dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Akibatnya, selamanya akan tenggelam di dalam ketidaktahuan. Seperti orang mabuk yang tidak kunjung sadar karena terlalu banyak minuman keras yang terlanjur tertelan di tenggorokan. Orang lain mengira dia gila karena kehidupan yang dijalani setelah itu menjadi tidak seimbang. Memang saat itu dia sedang gila, tapi bukan lantaran dunia, melainkan karena sedang kasmaran kepada yang dirindukan.

Terlebih ketika setan yang menjadi kawan karena perjalanan kosong dari penjagaan. Setan mendapatkan kemudahan masuk ke rongga dada manusia karena saat klimaks itu hati sedang tidak terjaga oleh rahasia bimbingan guru yang menempa. Setan kemudian suka meniupkan bisikan, yang benar dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar. Padahal manusia sadar bahwa datangnya bisikan itu dari setan, tetapi dirinya tidak kuasa lepas dari cengkraman, sehingga yang sedang bingung itu akhirnya semakin kehilangan pegangan. Kalau saat itu tidak ketulungan, setan jin yang menguasai isi dada tidak cepat-cepat dikeluarkan, maka bisa jadi orang tersebut menjadi gila beneran.

kholbunc2

Ketika hati dan pikiran telah diselamatkan dari kebingungan panjang, karena saat jiwa sedang terseret arus, ada tangan yang menarik melepaskan dari pusaran, maka matahari kembali memancarkan sinar karena kabut mendung telah tersingkapkan. Ketika matahari malam berangsur-angsur kembali berganti dengan matahari siang karena kesadaran yang seakan hilang itu kini muncul menyinari angan, maka perasaan bagaikan dilahirkan kembali di alam dunia. Itulah kelahiran kedua, kelahiran kehidupan ruhaniyah, sehingga di dalam hati saat itu terasa ada yang berbeda.

Adapun tangan yang menarik diri dari pusaran, itulah sirr (rahasia) yang membidani kelahiran. Adalah rahasia syafa’at yang didatangkan dari alam ghaib yang diturunkan di alam kenyataan, karena sang musafir jauh-jauh telah mengkondisikan, bertawassul kepada guru ruhaniyah selama dalam perjalanan sehingga perjalanan malam yang semestinya sepi terasa menggembirakan.

Hasilnya, kalau sebelumnya yang ada dalam harapan hanya keuntungan duniawi sehingga hidup terasa sempit tidak dapat dikembangkan. Kenikmatan hidup hanya mampu dinikmati sampai batas kematian yang ketika ajalnya datang tidak lagi dapat dimundurkan. Namun sekarang hidup menjadi terasa panjang, kenikmatan lebih terasa nyaman karena setelah kematian ada yang perlu dipersiapkan. Hati menjadi bergairah karena di alam barzah masih ada yang bisa diharapkan. Yaitu pertemuan hakiki yang diidamkan dengan para guru ruhaniyah karena pertemuan di alam dunia hanya terjadi dalam perasaan.

kholbunc3

Ketika dua matahari yang berbeda telah menyatu di dalam perasaan. Yang satu matahari akal dan yang satunya matahari hati sehingga yang asalnya bodoh menjadi mengerti dan faham, maka tumbuh pemahaman hati yang menyinari pandangan sehingga sinar mata mampu melipat kehidupan. Meski dunia memang selalu mengecewakan tapi hati mengerti itulah kenyataan. Karena kalau tidak demikian orang beriman enggan lagi meninggalkan yang melalaikan, sehingga angan tenggelam di dalam alam kefana’an yang mudah menjerumuskan orang ke dalam jurang kehancuran.

Itulah matahari keyakinan, ketika nurnya telah memancar di dalam rongga dada maka keraguan tidak lagi mendapatkan tempat untuk ambil bagian. Selanjutnya, meski hidup tidak pernah lepas dari rintangan dan tantangan, tapi hati tidak lagi ada kehawatiran dan ketakutan. Itulah hati orang yang mendapat hidayah sehingga iman mampu menumbuhkan keyakinan. Oleh karena di dalam rongga dada telah terbebas dari belenggu penyakit bawaan, maka matahati menjadi cemerlang dan tembus pandang. Sadar akan kelemahan diri dan kealpaan karena matahari hakiki telah memancarkan sinar kehidupan. Seperti dibangkitkan dalam kehidupan baru padahal di dunia lama karena matahari ruhani telah memancarkan sinar keabadian. (malfiali, Desember 2008)

MENGUAK DUNIA JIN 9 (Pendidikan Anak Islami)

Posted in dunia jin dengan kaitan (tags) on 17 Desember 2008 by malfiali

pedidikan anak

Pendidikan Anak Secara Islami

Akal sebagai tempat perbendaharaan Ilmu pengetahuan bagi manusia, maka akal akan mendapat masukan ilmu pengetahuan yang datangnya dari tiga sumber: pertama dari pendengaran, kedua dari penglihatan dan ketiga terbit di dalam hati. Manusia bisa memasukkan ilmu pengetahuan bagi akalnya dari tiga sumber tersebut, yakni dengan membaca, mendengarkan dan melaksanakan ibadah atau mujahadah di jalan Alloh sebagai pelaksanaan takwallah. Jalan yang ketiga inilah yang akan menjadi fokus pembicaraan dalam paparan ini. Allah Ta’ala telah menegaskannya dengan firman-Nya:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS:2/282.

*********

Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. QS:16/78.

Manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, hal itu disebabkan karena saat itu alat-alat mekanik yang nantinya berfungsi sebagai indera-inderanya belum berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga belum ada signal yang dikirimkan oleh indera-indera tersebut ke dalam bilik akal. Adapun indera yang pertama berfungsi adalah pendengaran kemudian baru penglihatan. Seandainya kedua alat mekanik tersebut tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka selamanya manusia akan tidak mengetahui apa-apa.

Semisal orang yang tuli sejak lahir, maka dia hanya dapat mengerti dari apa-apa yang dilihat oleh matanya tapi tidak dapat mengatakan melalui kata-kata, hal itu karena dia tidak pernah mendengarkan suara. Meski akalnya mampu memancarkan perintah supaya dia berbicara, namun alat bicara itu tidak dapat melaksanakan perintah tersebut karena sedikitpun alat itu tidak pernah dilatih untuk berbicara. Adapun orang yang buta sejak kecil tapi pendengarannya sempurna, terkadang dia malah menjadi lebih pintar dan lebih cerdas daripada orang yang dapat melihat, hanya saja dia tidak dapat menulis karena sama sekali tidak pernah kenal dengan tulisan.

Dari dua sumber tersebut ilmu pengetahuan kemudian masuk ke dalam bilik akal dan direkam di dalam memori akal, itulah yang disebut ilmu lahir atau ilmu rasional. Sedangkan ilmu yang masuknya ke dalam bilik akal melalui hati atau perasaan disebut dengan ilmu batin atau ilmu spiritual, atau dengan istilah apa saja dan juga ada yang mengatakan ilmu laduni.

Ketika anak manusia masih berupa janin yang ada dalam kandungan seorang ibu, keadaan batin seorang ibu tersebut sangat berpengaruh bagi pertumbuhan jiwa maupun raga anak yang ada di dalam kandungan, maka seorang ibu yang sedang mengandung hendaknya menjaga kestabilan batinnya, meningkatkan kemampuan spiritual dengan amal ibadah yang ikhlas, baik secara vertikal maupun horizontal, supaya emosional dan rasional selalu dapat terkontrol dan terkondisi dengan baik, sehingga dapat memberikan pengaruh positif kepada perkembangan janin yang sedang dikandungnya tersebut.

Adapun yang dimaksud dengan pendidikan anak secara islami ialah; Oleh karena jin selalu bekerjasama(bersekutu) dengan manusia di dalam urusan harta benda dan anak-anak, Allah Ta’ala mengabarkan hal tersebut dengan firman-Nya:

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَولَادِ

“Dan berserikatlah dengan mereka pada (urusan) harta dan (urusan) anak-anak.

Maka untuk mempersiapkan anak yang pandai dan cerdas serta sehat wal afiat – baik ruhani maupun jasmani – secara islami, persiapan tersebut tidaklah hanya dilakukan saat anak manusia itu berada di dalam kandungan ibunya saja, karena saat itu boleh jadi janin tersebut sudah terkontaminasi dengan anasir jin—hal itu akibat persetubuhan yang tidak dimulai dengan membaca do’a—akan tetapi seharusnya disiapkan sejak pertama kali seorang suami berhubungan dengan istrinya. Yakni dimulai dengan berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan membaca basmallah dan do’a sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Hubungan suami istri tersebut tidak dilakukan sekedar sebagai pelampiasan nafsu syahwat belaka.

Sesungguhnya saat itu adalah saat-saat yang sangat menentukan bagi kemurnian fithrah calon anak manusia tersebut. Supaya apabila dari hubungan itu terjadi pembuahan, maka sejak itu calon anak manusia itu mendapat perlindungan Allah Ta’ala dari segala upaya syaitan jin, supaya hasil hubungan itu benar-benar bersih sesuai dengan fithrah yang telah dikehendaki Allah Ta’ala baginya, bukan sebagai fithrah yang sudah terkontaminasi oleh anasir jin.

Baru setelah itu, seorang ibu yang mengandung hendaknya selalu mengkondisikan lahir dan batinnya untuk mempersiapkan akhlak anak yang dikandung itu menjadi akhlak yang mulia dengan pelaksanaan akhlak yang mulia pula. Tidak hanya sekedar ilmu dan amal saja, dan hendaknya bapak dan ibunya jangan terjebak melaksanakan wirid-wirid khusus yang kadang-kadang justru akan mewariskan karakter – bagi anaknya – yang tidak diinginkan sebagai dampak pelaksanaan amalan tersebut ketika pelaksanaan amalan tersebut karena cenderung hanya memperturutkan kemauan nafsu syahwat belaka. Maka jika hendak mengamalkan wirid-wirid, hendaknya dibimbing oleh guru ahlinya. Anak kita adalah amanat yang terbesar dari-Nya, maka jangan sampai hidupnya kelak menjadi sia-sia. Hanya Allah Ta’ala yang mampu mentarbiyah hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala telah menegaskan dari sabda Rasulullah saw prihal rahasia pendidikan anak secara batin ini dengan firman-Nya:

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya Pentarbiyahku adalah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia yang akan mentarbiyah orang-orang yang saleh”. QS:7/196.

Jika fithrah janin itu terlanjur terkontaminasi anasir jin, maka sejak saat itu berarti yang akan ikut andil menjadi guru calon anak tersebut adalah jin yang sudah menguasainya, dengan cara mengirimkan perintah berupa signal-signal yang dipancarkan setiap saat kepada janin itu. Akibatnya, apa saja yang dapat diupayakan oleh seorang ibu yang sedang mengandung tersebut tidak dapat membuahkan hasil yang optimal karena sejak itu setan jin sudah ikut andil dalam pembentukan kepribadian serta karakter dari calon anak yang ada di dalam kandungan tersebut. Selanjutnya, setelah anak itu dilahirkan oleh ibunya ia akan terlahir menjadi anak yang mempunyai kelainan-kelainan pembawaan yang negatif, yang kadang-kadang sulit dapat dipulihkan kembali.

Anak manusia yang terlahir dengan fithrah yang sudah tidak murni ini, ketika sudah mulai menginjak usia balita, biasanya muncul tanda-tanda yang dapat dibaca dari prilaku keseharianya. Adapun tanda-tanda yang umum adalah seperti apa yang diduga oleh banyak orang dengan istilah hipper aktif. Anak tersebut terkadang memang mempunyai kepandaian agak menonjol dibanding dengan teman sebayanya, akan tetapi dia sulit diatur oleh orang lain. Dia suka bertindak semaunya sendiri sehingga banyak merepotkan orang yang ada di sekitarnya.

Memang keberadaan anak tersebut tidak sebagaimana mestinya pada usia anak sebayanya, kadang-kadang mempunyai inisiatif dan kreatif yang berlebihan dan bahkan mampu berbuat jauh melebihi usia anak yang lebih tua darinya. Maka yang dikatakan hipper aktif itu terkadang memang karena fithrah anak tersebut telah terkontaminasi oleh anasir jin sejak dalam kandungan ibunya, berarti sejak itu anak tersebut sesungguhnya dalam keadaan sakit akibat gangguan jin. Kalau sudah demikian keadaannya, sebagai bagian dari pelaksanaan pendidikan secara islami adalah pelaksanaan aqiqoh oleh kedua orang tuanya. Oleh karena anak tersebut terlahir dalam kondisi sakit, maka aqiqoh untuk tujuan pengobatan ini harus dilakukan oleh orang yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang tersebut.

Walhasil, pendidikan anak secara Islami tersebut bukan hanya dilakukan oleh seorang ibunya saat mengandung anaknya, tatapi jauh sebelum itu. Yaitu saat suami istri sedang melaksanakan tugas khsusnya. Tugas bersama itu harus dimulai dengan membaca do’a-do’a sebagaimana yang diajarkan oleh Baginda nabi s.a.w. Do’a tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w dalam sabdanya berikut ini:

حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا *

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a berkata: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: apabila seseorang diantara kamu ingin bersetubuh dengan isterinya hendaklah dia membaca:

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Artinya: Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Wahai Tuhanku! jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami.

Sekiranya hubungan antara suami istri itu ditakdirkan mendapat seorang anak, maka anak tersebut tidak akan diganggu oleh setan untuk selamanya.

• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Nikah hadits nomor 4767.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Nikah hadits nomor 2591.
• Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Nikah hadist nomor 1012.
• Riwayat Abu Dawud di dalam Kitab Nikah hadits nomor 1846.

Pengalaman penulis dalam menangani dan melaksanakan usaha penyembuhan bagi orang sakit akibat gangguan jin, baik penyakit yang menyerang kesadaran seperti orang kesurupan jin, maupun yang menyerang jasad sebagaimana yang diduga oleh para orang pintar atau paranormal dan dukun sebagai akibat terkena santet atau sihir, semuanya itu hampir dapat dipastikan penyebab awalnya karena orang yang sakit itu belum di-aqiqohi oleh kedua orang tuanya.

Setelah aqiqoh tersebut dilaksanakan, dengan izin Alloh pekerjaan penyembuhan mendapat kemudahan sehingga orang yang sakit juga mendapat kesembuhan dari-Nya. Itulah hikmah syari’at, yang terkadang orang yang melakukannya tidak memahami rahasia yang tersimpan di dalamnya. Ternyata tujuan syari’at tersebut hanya untuk kepentingan orang yang melaksanakannya. (malfiali, Desember 2008)

PUISI – KEBANGKITAN HATI

Posted in puisi dengan kaitan (tags) on 15 Desember 2008 by malfiali

puisi

KEBANGKITAN HATI

Ada malam seribu bulan
Seperti malam Qadr

Seorang budak muda
Berlumuran dosa
Bagai pungguk rindukan bulan
Merindukan malam seribu bulan

Hanya bekal semangat
Tanpa ilmu tanpa amal
Menyusuri angan
Mengikuti kata hati

Ada desa dilewati
Ada kota dimasuki
Tidak tahu apa yang dicari

Adakah panasnya lapar
Adakah sakitnya haus
Ketika badan sendiri
Renungi diri
Angan sedang membayangkan
Putus asa atau mati

Tiba-tiba menjelma seberkas sinar
Mengajak pergi
Untuk temukan harapan
Si pungguk dapatkan bulan

Adakah malaikat yang datang
Atau peri yang baik hati
Ketika di dalam surau kecil
Bersama segelintir santri
Di pesantren terpencil
Di tengah hutan jati
Di malam-malam buta
Lewat mujahadah dan riyadloh
Dengan bimbingan Sang Kyai
Si budak muda
Telah bersandar dan temukan diri

Adakah hidayah atau ikhtiyari
Yang mampu menyuci
Asalnya najis manjadi bersih

Adakah dipilih atau memilih
Yang mampu merubah
Asalnya bodoh
Menjadi mengerti

2001

(malfiali, Desember 2008)

KHOLIFAH BUMI 1 (Keutamaan Manusia)

Posted in ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 14 Desember 2008 by malfiali

kholifah bumi 1

KEUTAMAAN MANUSIA

Keutamaan manusia yang paling utama ialah Allah menjadikan manusia sebagai ‘kholifah bumi’, artinya sebagai pengganti Allah s.w.t di muka bumi. Maksudnya, manusia merupakan sumber daya untuk melaksanakan segala kehendak-Nya agar terwujud suatu sebab dan akibat di muka bumi, atau dengan kata lain sebagai pelaksana terjadinya proses rahasia takdir yang sudah ditentukan Allah sejak zaman azali. Sebagai Penguasa Tunggal yang hakiki, Allah s.w.t telah memberikan mandat kepada manusia sejak zaman azali. Allah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُون

َ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (kholifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.(QS.Baqoroh (2); 30).

kholifah 1

Manusia sebagai kholifah bumi, juga mengindikasikan bahwa manusia dengan segala kemampuan yang dimiliki dijadikan oleh Allah s.w.t sebagai penguasa di muka bumi, atau menjadi sumber daya dan pengendali seluruh potensi bumi. Itulah keutamaan dan anugerah terbesar yang diberikan Allah s.w.t hanya kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lain.

Potensi pengendali bumi tersebut berupa suatu sistem (sunnatullah) yang letaknya berada di dalam jiwa manusia, merupakan kelebihan pribadi sebagai buah ibadah dan pengabdian hakiki yang datangnya semata-mata karena kehendak Allah. Barang siapa mampu mendapatkan dan mempergunakan sistem itu dengan baik dan benar, maka sesuai kapasitas kemampuan yang sudah dimiliki, seorang hamba yang sholeh berpotensi dapat mengaplikasikan sistem-sistem kehidupan yang beterbaran di alam semesta. Potensi sistem pengendali itu terdiri dari beberapa aspek:

1. Allah Menjadikan Malaikat Berpotensi Mengabdi Kepada Manusia.

Allah SWT. berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (QS. (2); 34)

Malaikat merupakan makhluk yang tidak membutuhkan makan dan minum, tidak seperti makhluk lain, bahkan merupakan makhluk yang sangat tunduk kepada perintah Allah. Allah s.w.t menyatakan dengan firman-Nya: “Penjaganya (neraka) adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS.at-Tahrim; 6)

Dinyatakan dalam firman-Nya di atas (QS. (2) 34), makhluk yang tidak butuh makan-minum itu ternyata diciptakan Allah s.w.t sebagai pendamping hidup bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Oleh karena itu, bagi orang-orang beriman dan beramal sholeh, sadar ataupun tidak, sesungguhnya romantika kehidupan mereka sedikitpun tidak terlepas dari fungsi keberadaan malaikat ini. Sedangkan bagi para hamba yang `arifin, hamba Allah yang hatinya selalu dekat dengan sistem pemeliharaan dan tarbiyah azaliyah itu, keberadaan fungsi malaikat ini dijadikan sebagai bagian hidup yang sedikitpun tidak pernah ditinggalkan.

2. Allah Menciptakan Alam Semesta Berpotensi Dijinakkan Manusia

Potensi sumberdaya manusia sebagai pengendali kehidupan bumi itu tidak hanya dengan dijadikan-Nya malaikat tunduk kepada komando hati mereka saja, namun juga, bahkan langit dan bumi dengan segala isinya juga tercipta berpotensi untuk dijinakkan manusia.

Langit dan bumi serta segala kandungan di dalamnya, tercipta bagaikan rangkaian alat mekanik yang bertebaran di seluruh alam, ternyata dikendalikan oleh sistem (sunnah) pengendali dari pusatnya, hal itu sebagaimana yang ditegaskan Allah s.w.t dalam kandungan firman-Nya:

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (QS.Fush-Shilat (41); 11)

kholifah 2

Ayat di atas telah mengungkap rahasia besar yang tersimpan di dalam kehidupan alam semesta, urusan Ilahiyah yang sudah ditetapkan sejak zaman azali, bahwa sejak langit dan bumi menjawab panggilan Allah Yang Maha Kuasa: “Kami datang dengan suka hati” (QS (41); 11). Maka sejak itu dan bahkan untuk selamanya sesuai dengan kehendak-Nya, seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi itu terkendali dengan satu sistem komando. Hanya dengan Urusan dan Ilmu Allah Yang Maha Perkasa, ketika Allah s.w.t memberikan komando dari sistem tersebut, maka seluruh perangkat yang ada itu, baik yang di bumi maupun yang di langit niscaya dengan serta merta menjalankan masing-masing fungsinya.

Sistem pusat komando itulah hati seorang kholifah bumi, dengan izin-Nya seorang kholifah bumi berpotensi menjinakkan potensi langit dan bumi itu. Allah s.w.t telah menyatakan dengan firman-Nya:

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”
(QS. Al-Jaatsiah; 13)

Dengan dua potensi besar tersebut, maka berarti seluruh makhluk yang ada di alam raya ini berpotensi ditundukkan oleh manusia, kecuali makhluk jin, yang jin memang tercipta sebagai musuh manusia. Namun demikian, sesungguhnya manusia tetap berpotensi dapat menundukkan musuh utamanya itu. Hanya saja, untuk dapat menundukkan jin tersebut manusia terlebih dahulu harus memiliki “sulthonan nashiiro” atau kekuatan penolong yang didatangkan Allah s.w.t kepada manusia. Tanpa kekuatan penolong tersebut justru manusia rentan dikuasai jin, terlebih bagi mereka yang sering bekerja sama dengan jin.

Diriwayatkan dalam sabda Nabi s.a.w, ketika Allah menyatakan cinta-Nya kepada seorang hamba, maka dengan serta merta seluruh makhluk yang ada ikut mencintai hamba tersebut. Dengan kecintaan tersebut, secara otomatis mampu menciptakan peluang yang lebih besar lagi bagi orang yang dicintai-Nya itu untuk mengomando sistem yang sudah tersedia baginya.

Potensi kecintaan seluruh makhluk kepada seorang hamba yang dicintai Allah s.w.t itu telah dinyatakan oleh sebuah Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ إِنِّي أُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضْهُ قَالَ فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضُوهُ قَالَ فَيُبْغِضُونَهُ ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي الْأَرْضِ *

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila Allah s.w.t mencintai seorang hamba niscaya memanggil Jibril a.s dan berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai Fulan, oleh karena itu cintailah dia. Baginda Nabi s.a.w bersabda: Lalu Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru ahli langit dengan berkata: Allah telah mencintai Fulan, maka cintailah dia, sehingga semua ahli langit mencintainya. Baginda Nabi s.a.w bersabda: Kemudian orang tersebut diterima oleh semua golongan yang berada di muka bumi. Apabila Allah s.w.t memurkai seorang hamba, niscaya Dia juga akan memanggil Jibril a.s dan berfirman: Sesungguhnya Aku benci orang tersebut, oleh karena itu bencilah dia. Baginda Nabi s.a.w bersabda: Lalu Jibril membencinya. Kemudian Jibril menyeru ahli langit dengan berkata: Allah telah membenci orang tersebut, maka kamu semua membencilah kepadanya, sehingga semua ahli langit membencinya. Kemudian dia dibenci oleh semua penghuni bumi. (HR Bukhari dan Muslim)

kholifah 3

Pernyataan dalam Hadis itu sejatinya adalah bahasa kias, di mana dengan perlambang itu manusia dapat membayangkan sendiri, betapa ketika seorang hamba dicintai Allah s.w.t maka Malaikat Jibril a.s dan seluruh makhluk, baik di bumi maupun di langit akan mencintainya. Dengan kecintaan tersebut berarti tumbuh semangat pengabdian. Bagaikan tentara-tentara yang setia, maka seluruh makhluk tersebut akan menjaga kekasihnya melebihi menjaga dirinya sendiri, sehingga dinyatakan oleh Allah di dalam firman-Nya: “Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik” (QS.az-Zumar; 34).

Seperti itulah keadaannya, ketika Allah s.w.t menghendaki Nabi Dawud a.s dijadikan sebagai kholifah bumi zamannya, maka Allah s.w.t berfirman:

يَادَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu kholifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil”. (QS.Shood (38); 26)

Untuk mengatur kehidupan bumi, menggali dan mengendalikan segala potensinya, menegakkan keadilannya serta memberantas kezaliman dan keangkaramurkaan yang ada di atasnya, maka tugas pertama yang dilaksanakan Dawud a.s adalah membunuh Jalut yang perkasa, sebagaimana telah diabadikan Allah s.w.t dengan firman-Nya:

فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَءَاتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya”.(QS. al-Baqoroh (2); 251)

Dalam sebuah riwayat, ketika Dawud a.s memutuskan untuk ikut bergabung menjadi tentara Tholut. Dalam perjalanan Dawud a.s bersama rombongannya ke medan perang, di tengah perjalanan ada tiga buah batu menyapa Dawud: “Hai Dawud, apakah engkau akan berperang melawan Jalut?, bawalah aku dan bunuhlah Jalut denganku”, maka diambillah ketiga buah batu itu oleh Dawud dan diletakkan di dalam ketapelnya. Dawud a.s merupakan orang yang terkenal sangat ahli menggunakan ketapel sebagai senjata.

kholifah 4

Singkat cerita ketika masing-masing tentara sudah berhadapan di medan laga, ternyata Dawud a.s benar-benar berhasil membunuh Jalut dengan batu yang dibawanya itu, padahal Jalut adalah seorang raja yang sangat perkasa dan selalu dapat kemenangan di setiap peperangan yang dihadapinya. Jadi, tiga batu yang dibawa Dawud a.s tersebut adalah awal sebuah skenario dari sistem yang terkendali oleh rahasia perintah tersembunyi. Perintah Allah s.w.t Yang Maha Kuasa dengan Segala Kehendak-Nya. Ketika Dawud a.s dengan izin-Nya dapat membunuh Jalut, maka selanjutnya, “Allah memberikan kepadanya pemerintahan dan hikmah, serta mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya”(QS. (2); 251).

Walhasil, keutamaan manusia itu tidak hanya karena manusia mempunyai akal saja, sebagaimana yang difahami banyak kalangan, namun jauh lebih dari itu. Dengan akal dan ilmunya manusia sesungguhnya berpotensi menjinakkan sistem-sistem yang bertebaran di mukan bumi, bahkan di seluruh alam semesta ini. Di sini ada rahasia besar yang harus dikuak, sehingga manusia dapat memperoleh jatahnya itu. Siapa saja dapat mencapai kedudukan yang utama itu, asal mereka mengetahui ilmunya. Maka anda jangan heran jika anda menemukan seseorang bisa merubah batu menjadi emas atau tanah menjadi burung, hal itu karena terjadi atas ilmu dan izin Allah s.w.t. Allah yang menciptakan alam beserta hukum-hukumnya, maka hanya Allah pula yang mampu merubah keadaan ciptaanya tersebut. (malfiali, Desember 2008)

IDUL ADHA 1429 H

Posted in info dengan kaitan (tags) on 7 Desember 2008 by malfiali

IDUL ADHA

Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Gunungpati & Penerbit ABSHOR (Hidmah dan IbadaH) mengucapkan

Selamat Idul Adha 1429 H

Kepekaan dan kepedulian akan keadaan sesama orang beriman yang telah menumbuhkan semangat berkorban, semoga menghilangkan rasa permusuhan antara sesama kita.

idul adha 1

Aku mau dibawa kemana mas? apa ke Surga? pisaunya yang tajam ya mas….

idul adha 2

Ternyata ndak sakit kok mas, soale aku dijemput Bidadari dari Surga kok. Makasih ya mas, kamu pilihkan aku jalan ke surga

idul adha 4

Mas, kalau mbagi dagingku yang adil ya…., jangan korupsi lo… Gara-gara kamu aku masuk surga, jika kamu korupsi dagingku, bisa jadi malah kamu nanti yang masuk neraka lo. Itu, itu lo…. hatiku jangan kau simpan di belakangmu…

idul adha 5

Bener Pak Syak, santri-santri itu memang harus diawasi, kalau tidak nanti curi dagingku untuk liwetan….

idul adha 3

Semoga setiap kucuran darah yang tertumpah di bumi, sekerat daging yang melegakan hati, butiran keringat yang membasahi diri, menjadi upaya yang tidak sia-sia. Alloh Maha Menerima amal ibadah hamba-Nya, tetapi bukan darahnya, bukan dagingnya, melainkan ketakwaan yang menyinari rongga dada. Alloh juga berkuasa melipatgandakan pahalanya.

SYARAH HIKAM BAB 7 (Terbukanya Matahati Menuju Ma’rifatullah)

Posted in Hikam dengan kaitan (tags) on 2 Desember 2008 by malfiali

TERBUKANYA MATAHATI MENUJU MA’RIFATULLAH

اِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَلِ مَعَهَا اِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَاِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ اِلَّا وَهُوَ يُرِيْدُ اَنْ يَتَعَرَّفَ اِلَيْكَ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَالأَعْمَالُ اَنْتَ مُهْدِيْهَا اِلَيْهِ , وَاَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ اِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ .

Apabila Allah berkehendak membukakan wijhah hatimu untuk menerima ma’rifat, maka tidak peduli lagi walau amalmu sedikit. Karena bila Allah membuka hatimu semata-mata karena berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepadamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya ma’rifat itu didatangkan untukmu dan amalmu adalah persembahan untuk-Nya, mana yang lebih tinggi nilainya bagimu, apa yang datang darimu atau apa yang didatangkan kepadamu?.

Hikam

Wijhah merupakan anugerah Allah s.w.t kepada seorang hamba yang letaknya di dalam hati sanubari. Meski didatangkan sebagai buah ibadah, namun datangnya wijjah tersebut semata-mata kehendak azaliah bukan karena ibadah yang dilakukan itu. Dengan wijhah, seorang hamba dapat melaksanakan tawajjuh (menghadap dan wushul) kepada Allah s.w.t. dengan benar. Yang dimaksud tawajjuh sebagaimana yang dinyatakan Allah s.w.t dalam firman-Nya berikut ini:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan hadapanku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan tidak menoleh kepada yang selain-Nya (hanifa) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan”. (QS. al-An’am; 6/79)

Dengan wijhah itu pula seorang hamba mendapatkan kemuliaan dan kedekatan di sisi Tuhannya: “Seorang terkemuka (mempunyai wijhah) di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran; 45) Namun hal tersebut bisa terjadi manakala pintu wijhah itu sudah dibuka (di dalam hati), atau seorang hamba telah mendapatkan futuh dari Tuhannya, dengan itu maka dia akan berma’rifat dengan-Nya.

Ma’rifat artinya mengenal dan yang dimaksud adalah mengenal Allah s.w.t (ma’rifatullah). Orang yang ma’rifatullah adalah orang yang kenal kepada Allah s.w.t. Kenal kepada nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, kekuasaan dan pengaturan-Nya, akhlak dan perbuatan-Nya. Kenal, baik secara rasional (teori ilmiah) maupun secara spiritual (perasaan dalam hati). Namun yang dimaksud ma’rifatullah adalah kenal secara spiritual.

Seorang hamba yang ma’rifat adalah seorang hamba yang bertakwa kepada Tuhannya. Seorang hamba yang ma’rifat adalah seorang hamba sanggup berbuat benar (shiddiq) dan tidak salah di hadapan Tuhannya. Yang demikian itu, karena ia tahu apa yang dikehendaki Allah s.w.t untuk dirinya.

Semakin seorang hamba berma’rifat kepada Allah s.w.t, maka ia akan menjadi semakin mencintai-Nya karena ia semakin mengetahui dan semakin merasakan, bahwa Allah s.w.t sudah berbuat kebaikan yang sangat banyak kepada dirinya: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”. (QS. Al- Qoshosh; 77)

Semakin seorang hamba mencintai Tuhannya, semakin itu pula ia mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki. Sebab, hanya kepada yang dicintai, seseorang akan mampu melaksanakan pengabdian yang benar. Demikian juga, semakin seorang hamba mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki kapada Tuhannya berarti derajatnya di sisi Allah s.w.t akan menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, orang yang paling berma’rifat dan paling bertakwa dan paling mulia di sisi Allah s.w.t adalah Rasulullah s.a.w. Hal itu karena Beliau paling mencintai dan paling dicintai oleh Allah s.w.t.

Untuk mencapai ma’rifatullah. Secara teori, seorang hamba akan diperjalankan oleh tarbiyah Allah s.w.t dengan dua cara:

1. Kehendak yang datangnya dari atas ke bawah. Artinya, semata-mata wijhah yang ada di dalam hati—yang asalnya tertutup—dibuka oleh Allah s.w.t. Hijab-hijab matahati dihapuskan. Penutup pintu rahasia dibukakan. Seperti orang menyalakan lampu, maka yang asalnya gelap menjadi terang, yang asalnya tidak kenal kemudian menjadi kenal. Bagaikan mendung ketika sirna, matahari kemudian berada di atas kepala. Hal itu karena Allah s.w.t memang berkehendak mengenalkan diri kepada hamba-Nya, tidak dengan sebab yang lain, tidak dengan sebab amal ibadah yang sudah dikerjakan. Yakni, seorang hamba menjadi mengenal kepada-Nya semata-mata karena Allah s.w.t adalah Dzat Yang Maujud:

قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

“Katakanlah : “Allah-lah” kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. al-An’am; 6/91).

2. Kehendak dari bawah kemudian ke atas. Artinya terlebih dahulu seorang hamba dikenalkan kepada makhluk-makhluk-Nya baru kemudian dikenalkan kepada Al-Khalik (penciptanya), Sebagaimana firman Allah s.w.t:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (QS. 2; 164)

subhanalloh
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali Imran/191)

Perhatian dan penelitian seorang hamba terhadap semua itu menghasilkan suatu kesimpulan bahwa betapa Allah s.w.t telah banyak berbuat baik kepada umat manusia dan betapa sangat banyak manusia yang tidak mengetahui dan tidak menyadarinya dan bahkan kafir kepada-Nya. Pemahaman tersebut kemudian menjadikan tumbuhnya rasa kecintaan yang mendalam kepada-Nya. Hasilnya, mendorong dirinya untuk bertaubat dengan taubatan nasuha dan meningkatkan diri dalam melaksanakan pengabdian kepada Allah s.w.t.

Ma’rifat yang pertama adalah ma’rifat yang langsung memancar dari hati dan ruh (spiritual) yang kemudian dipancarkan lagi di dalam akal dan fikir (rasional ilmiah) yang selanjutnya dapat teraktualisasikan melalui akhlak dan perbuatan. Itu bisa terjadi karena seorang hamba memang telah terlebih dahulu dicintai Allah kemudian ia mencintainya. Ma’rifat yang pertama ini lebih kuat daripada ma’rifat yang kedua karena ia lebih hakiki adanya dan karena sesungguhnya letak ma’rifat itu adalah di dalam hati.

Ulul Albab

Ulul Albab

Ma’rifat yang kedua adalah ma’rifat hati (spiritual) juga, akan tetapi masuknya terlebih dahulu melalui akal dan fikir (rasional). Yakni pengenalan seorang hamba kepada kejadian-kejadian yang ada di bumi dan di langit menjadikannya mengenal kepada Sang Pencipta. Seperti orang yang mengenal buah karya tulis, ketika semakin dalam pengenalannya akhirnya ia ingin mengenal penulisnya.

Walau jalan masuknya ma’rifat yang kedua ini melalui rasional, akan tetapi ketika masuk ke dalam spiritual (hati), masuknya ma’rifat itu semata kehendak Allah. Hanya saja kehendak itu telah didahului oleh kehendak-kehendak yang sebelumnya—sebagai sebab-sebab yang tersusun tertib untuk mendapatkan akibat yang baik,—yaitu pahala dari amal ibadah yang sudah dilakukan.

Bukan karena semata-mata amal ibadah yang dapat menjadikan seorang hamba berma’rifat kepada Allah s.w.t, akan tetapi sesungguhnya amal ibadah tersebut terlebih dahulu dijadikan sebab-sebab untuk bisa terpenuhi suatu proses pematangan ilmu pengetahuan secara rasional. Yakni supaya sampai kepada suatu akibat yang baik, yaitu pendewasaan ilmu dan akhlak secara spiritual.

Amal ibadah adalah persembahan seorang hamba kepada Tuhannya sedangkan ma’rifat adalah pemberian Allah kepada hamba-Nya, manakah yang lebih tinggi nilainya? Oleh karena itu, apabila Allah s.w.t berkehendak membukakan pintu wijhah hati seorang hamba untuk menerima Nur Ma’rifat, tidak peduli walau hamba-Nya itu sedang lemah dan sedikit amal ibadahnya. (malfiali, Desember 2008)