Arsip untuk November, 2008

INDONESIAKU SAYANG INDONESIAKU MALANG

Posted in cerita, puisi dengan kaitan (tags) , on 28 November 2008 by malfiali

Aku Sayang Kamu

Kepada siapakah aku titipkan INDONESIAKU…….?

Apakah kepada REFORMASI ?
Siapakah dia itu ? Apakah sang pendatang yang telah mampu memenggal tangan-tangan besi sang penguasa yang sudah terlalu lama membungkam setiap suara dengan kursi dan rupiah, kadang juga dengan peluru dan penjara.
Ataukah kepada sang pembaru yang suka membuka suara dengan rupiah untuk sebuah kursi kuasa.

Apakah dia REFORMASI, ketika aku melihat rahasia yang bukan rahasia. Ketika di mana-mana bahkan membudaya, ada rupiah berbicara di kursi-kursi yang mulia melalui tangan-tangan rahasia untuk membangun tahta sang calon penguasa.
Tapi ternyata masih juga sama, aku tidak mampu berbuat apa-apa meski lima ribu suara setiap hari menjerit di jalan raya.

Oh Indonesiaku, pernah aku mencoba menitipkan kamu di sekolah dan madrasah agar anak didik tidak turun lagi di jalan raya.
Di bangku tingkat dasar, kepada guru-guru yang setia, aku mencari lagu Indonesia Raya, ternyata yang kutemui irama bendera hasil produk nusantara.

Adakah rupiah juga berbicara kepada guru-guru mulia dan kepala sekolah? Mengapa ada Pepsodent, mengapa ada Milo, membuka pasar dadakan di bangku sekolah, sehingga sang pahlawan tanpa jasa itu ternyata menjadi juragan pasar musiman dan bahkan agen-agen rahasia penerbit buku dan percetakan .

Adakah yang harus lebih dulu dibersihkan selain bangku sekolah, kalau tingkat dasar saja sudah menjadi cidera. Maka jangan kamu tanya lagi, ketika di jalan raya suara peluit petugas kadang di situ juga urusan selesai dengan rupiah.
Juga di rumah sakit dan kamar dokter, orang masuk sakit di dada keluar menjadi sakit kepala, karena harga obat mencekit leher dan menghimpit isi kepala.

Apalagi di kantor-kantor pemerintah, dimana uang siluman konon beredar di mana-mana, menjadi pelicin agar peluang kerja terbuka. Bahkan meski sang koruptor sudah difonis di pengadilan bersalah, namun mereka masih bebas ngantor kapan saja.

Oh Indonesiaku, betapa malang potret wajahmu, saat orang lain di luar sana menyebutmu Negara koruptor terbesar di dunia.

Tapi aku percaya masih ada anak negri ini orang yang tetap peduli dan setia, walau dia hanya sorang diri dan tidak punya kuasa.

Apakah kepada suara Gus Dur yang sementara kursinya sedang tersungkur ataukah Akbar Tanjung yang suaranya masih kabur. Atau kepada yang hanya mau bicara, walau dimana, asal ada rupiah. Apakah kepada yang suka beryanyi dan hura-hura, pamer budaya di hari merdeka, sehingga orang-orang lupa persoalan yang tengah mendera Bangsa.

Atau kepada wajah-wajah baru yang bermunculan bagai cendawan di musin hujan, mendongkrak citra diri dengan biaya tinggi, layaknya orang bermimpi menjadi pahlawan di siang hari, padahal belum tentu mengerti mau dibawa kemana negri tercinta ini.

Atau kepada serombongan partai yang baru dilahirkan, meski oleh induk semang yang sama tujuan, seperti orang bangun kesiangan, mengusap mata yang rabun dibuai harapan, bagaikan bis mencari penumpang dan sekaligus sopirnya di pinggir jalan, tidak peduli siapa asal punya uang.

Apakah kepada para Kiai yang mulia dan kharismatik, bak artis dan selebritis, marak gambarnya dipajang dimana-mana, dimanfaatkan mantan santri untuk mendulang suara menggapai tahta dan ambisi pribadi.

Atau kepada amuk massa yang suka membakar dan membantai maling jalanan, yang tertangkap basah sekedar nyopet uang recehan. Atau kepada revolusi sosial agar rumput-rumput nakal tercabut seakar-akarnya, meski kemudian kita juga ikut binasa ditelan masa.

Kadang aku ingin menitipkanmu kepada Tuhan. Tetapi aku juga ragu, apakah lonceng gereja atau beduk masjid dan musolla mampu tinggikan suara menyampaikan hasratnya.

Haruskah lewat istighotsah dan mujahadah yang terkadang juga masih berbau bendera. Kepentingan partai politik dan ambisi pribadi menjadi tujuan utama.
Atau dengan tangan lemah menengadah sendiri Panjatkan do’a

Wahai anak-anak negri tercinta
Jangan engkau terlena
Dimabuk harapan untuk menjadi penguasa
Lupa teman lupa lawan meski tidak punya sarana
Hingga sikut-sikutan menjadi tradisi dalam keluarga

Kita harus tetap waspada
Meski keadaan dalam kondisi ramah
Bisa jadi mata teroris mengintai menunggu cela
Menebus nyawa yang pergi meninggalkan duka

Ya Allah, Tuhan alam semesta…
Berikanlah hamba-hamba-Mu hidayah
Harus kepada siapa
Kami titipkan INDONESIAKU yang sedang dirundung duka

2002 – 2008

(malfiali, Nofember 2008)

RENUNGAN AKHIR ZAMAN (Karena Ada Yang Dilupakan)

Posted in cerita dengan kaitan (tags) on 24 November 2008 by malfiali

RENUNGAN AKHIR ZAMAN (Karena Ada Yang Dilupakan)
renungan

Ketika pelita menampakkan sinarnya di malam kelam, maka laron-laron berdatangan mencari jalan kehidupan. Mereka menitipkan pesan, agar jalan yang ditempuh mendapatkan kelapangan. Laron-laron itu merupakan contoh komunitas awam. Di dalam kegelapan isi dada, mereka datang mencari jalan penerang kepada orang-orang pilihan, agar jalan yang ditempuh mendapatkan tuntunan.

Para Ulama zamannya, baik yang tinggal di pesantren maupun di tengah komunitas manusia, mereka itu bagaikan pelita-pelita yang memancarkan sinar di pinggir jalan. Mereka menunjukkan jalan, agar kehidupan laron-laron itu tidak tersesat di tengah jalan.

Demikianlah fenomena, maka cahaya Ilahiyah yang menerangi ufuk dada sang pelita tersebut tidak diputus di tengah jalan. Datang silih berganti sepanjang zaman dari rencana tarbiyah azali yang dirahasiakan. Supaya langkah laron-laron yang kenyang menyerap sinar pelita yang menjadi ikutan, tidak menjadi kehilangan arah lagi dan kebingungan.

Namun demikian, ketika pelita-pelita itu sudah waktunya harus dipadamkan, karena masa tugasnya memang harus bergantian, maka laron-laron itu hendaknya terbang menyebar, membawa seberkas sinar yang sudah didapatkan, menjadi kunang-kunang yang terbang riang, agar laron-laron lain ikut dalam rombongan.

Itulah sinar kehidupan, ketika matahari dan bulan sedang malas menampakkan senyuman, maka gemerlap bintang pun dapat mewujudkan impian. Jika tidak demikian, maka hantu malam akan menelan pandangan, hingga laron-laron menjadi kebingungan, jalan ke depan dihantui bayang-bayang.

Terlebih ketika kunang-kunang hanya sibuk mencari makanan, ketika sudah duduk di kursi mapan bersama rekanan mencari peluang, menjelma menjadi laba-laba membangun jaringan, menunggu mangsa yang datang sekedar untuk mengenyangkan perut yang sebenarnya sudah kenyang. Mereka lupakan ukuran yang harus dimakan dan lupa memberikan kepedulian, meski kepada teman-teman dalam perjuangan, yang telah bersama-sama berkeringat mengusung keberhasilan.

Maka setan dan peri malam datang bergentayangan, keluar masuk rumah dan penginapan, mencari orang-orang yang suka dimabuk harapan, merasuk sukma membangkitkan impian, hingga kunang-kunang menjadi lupa daratan. Lupa milik teman lupa milik lawan, asal dapat dimakan, seketika habis dalam sekali telan.

Namun demikian, ternyata akhirnya kunang-kunang nakal itu malah menjadi pesakitan, duduk di kursi yang tidak aman, tidur di kasur berselimut bayangan, pikiran menerawang menunggu keputusan, meronta tidak kuasa, pasrah tidak mampu membayangkan, karena pukulan palu pengadilan mengancam diri akan akhiri perjalanan dalam penderitaan.

Dalam keadaan demikian, dimana-mana muncul setan bergentayangan, memanfaatkan kondisi yang tidak menguntungkan, terang-terangan menuntut pengembalian uang yang sudah hangus ditelan zaman, berkasak kusuk minta harga jaminan, agar menjadi pelicin di dalam perjalanan, kalau tidak, maka kunang-kunang nakal akan dimasukkan kurungan.

Sedangkan laron-laron yang berterbangan, dengan sorot mata yang kosong, sebagian besar hanya dapat menonton dalam kebodohan, tidak mengerti mengapa kunang-kunang yang dihormati itu kini menjadi pesakitan.

Sementara itu, ada juga golongan yang kecewa dan marah tidak ketulungan, hingga dimana-mana mereka mengeraskan suara, menggerakkan masa yang seirama, karena merasa ditinggalkan kunang-kunang idaman, yang selama ini sebenarnya menjadi sumber harapan, namun ternyata telah terlebih dahulu melupakan kesepakatan, hingga harapan tinggal menjadi harapan dan kenyataan tidak kunjung datang.

Itulah potret kehidupan, seandainya kunang-kunang tidak lupa kesepakatan, selalu ingat kepada kawan yang dahulu menghantarkan perjalanan dan selalu memegang pesan yang disampaikan sang pelita yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kehidupan, sehingga pemerataan menjadi kenyataan, maka barangkali tidak ada kekecewaan yang berakibat penyesalan.

Namun itulah kenyataan, tinggal masing-masing hati pandai-pandai mengambil pelajaran, mencari mutiara hikmah yang tersembunyi sebagai pelajara, yang kadang-kadang diselipkan di balik kesusahan.

Mutiara hikmah itu adalah realita. Apapun bentuknya, apabila menjadikan orang susah dan menderita, maka itu berarti musibah dan siksa, namun apabila menjadikan orang sadar, menyesal terus kemudian taubat dengan taubatan nasuha, sehingga orang menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya, maka itu berarti hakikatnya adalah rahmat. Sebab, dengan kejadian itu orang akan mendapatkan pengalaman yang mahal yang akan mampu menancapkan keyakinan.

Yang terpenting. Agar kekecewaan tidak terulang sepanjang zaman, maka harapan harus dikondisikan. Sebab, arak kehidupan memang selalu memabukkan. (05-2006)

renungan

Bait-bait puisi diatas adalah sebuah potret kehidupan masa kini. Merupakan hasil renungan hati orang tua yang sedang kebingungan. Dimana antara yang benar dan yang salah sudah membaur di dalam satu kemasan, hingga para awam sulit membedakan. Masing-masing orang mengaku menjadi pahlawan, namun anehnya, ternyata mereka malah melakukan perampokan. Bahkan lebih jahat lagi, perampokan itu dilakukan di atas meja kantor sendiri, dilakukan secara sistematis dan terencana. Yang lebih parah lagi, ternyata hal itu jauh-jauh sudah dilegalkan dengan SK Raja yang sedang berkuasa.

Apakah manusia sudah kehilangan hati nurani, sehingga dengan perbuatan seperti itu mereka tetap saja merasa tidak bersalah, padahal jelas-jelas ada yang dirugikan, uang rakyat, uang mereka sendiri yang seharusnya mereka jaga, dan dengan tugas itu mereka mendapatkan kepercayaan dan bayaran dari rakyat pula. Apakah masing-masing kita memang harus berfungsi sebagai “pagar makan tanaman”..? Seandainya masing-masing kita mau merasa bersalah saja, barangkali keadaan negara dan bangsa ini masih memungkinkan dapat diharapkan menjadi baik, kalau tidak, entahlah apa yang akan terjadi nanti.

Demikian itu bisa terjadi, barangkali karena masing-masing manusia sudah jauh dari sinar kehidupan yang hakiki. Ilmu yang dimiliki hanya ilmu yang di luaran saja. Hanya hasil olah akal yang kadang-kadang sempat dikolaborasikan dengan dorongan hawa nafsu dan setan. Akibatnya, maka hukum rimba berlaku dimana-mana. Siapa yang kuat dan berkuasa, merekalah yang akan memenangkan perkara, sedangkan yang tidak punya apa-apa harus siap menderita, meringkuk di dalam sel penjara dalam waktu yang lama, meski mereka meronta bakal tiada guna, karena memang harus ada kambing hitam yang dikorbankan, sebagai “tumbal balak”, supaya yang masih punya kesempatan bisa menambah kepuasan. Jauh-jauh Rasulullah saw. telah memberikan peringatan dengan sabdanya:

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : سَيَأْتِى زَمَانٌ عَلى أُمَّتِى يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَآءِ وَ الْفُقَهَاءِ . فَيَبْتَلِيْهِمُ الهُُ تَعَالى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ . أَوَّلُهَا يُرْفَعُ الْبَرَكَةُ مِنْ كَسْبِهِمْ . وَالثَّانِيَةُ يُسَِلّطُ الهُُ تَعَالى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا . وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ إِيْمَانٍ

“Akan datang suatu zaman atas umatku, mereka meninggalkan para Ulama’ dan para Bijak, maka Allah akan menimpakan ujian kepada mereka dengan tiga ujian. pertama: Dicabut barokah dari kasabnya. kedua : Dikuasakan kepada mereka penguasa yang dholim. ketiga : Mati dengan tidak membawa iman”.

Oleh karena terlebih dahulu mereka telah lari dari hidayah kehidupan, maka di setiap ada kesempatan, setan segera datang menerkam, hingga hidup mereka tidak membawa keberkahan, selalu diliputi kesusahan, karena mereka mendapatkan penguasa yang dholim yang tidak berprikemanusiaan dan akhirnya mati di dalam kehinaan, baik di dunia mapun di akhirat dalam kesengsaraan. Dewasa ini, komunitas manusia menjadi tidak ada bedanya dengan kumpulan serigala, siapa perbuatan salahnya kelihatan akan dimangsa bersama, tidak peduli itu siapa dia, walau pimpinan yang dahulu telah berjasa. Wal ‘iyaadzu billah.

Ketidakadilan telah merata dimana-mana, itulah yang memang dikehendaki oleh sebagian manusia. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya ketikadadilan itu telah dibudayakan, bahkan sejak kehidupan murid masih di bangku sekolahan tingkat dasar. Murid-murid itu bahkan dijadikan ajang pasar dadakan, setiap perusahaan bisa menawarkan barang dagangan di sekolahan, asal para guru dan kepala sekolah mendapatkan bagian keuntungan. Bahkan pejabat pemerintahan telah berkonspirasi untuk melakukan korupsi, bersama pemilik penerbit buku dan percetakan, memanfaatkan pergantian tahun ajaran, mereka bersama-sama menjual buku pelajaran dengan sistem paksaan yang sengaja dibudayakan.

Sebagian besar manusia hanya mementingkan diri sendiri, diperbudak oleh kehidupan duniawi, maka harta benda adalah tuhannya yang hakiki. Oleh karena itu, kalau sudah terjadi persaingan, baik di dunia bisnis maupun politik, tidak peduli lagi walau yang menjadi saingan adalah mertua sendiri, asal disitu orang memenangkan kesempatan, bahkan orang tuapun tetap dilahap dan dihabisi oleh ambisi pribadi.

Supaya ilmu yang dimiliki tidak menjadi jauh dari hidayah Allah Ta’ala, maka hadits Nabi saw. dibawah ini memberikan jalan keluar dan penyelesaian.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْفَظَ الْعِلْمَ فَعَلَيْهِ أَنْ يُلاَزِمَ خَمْسَ خِصَالٍ : اَلاُوْلى صَلاَةُ اللَّيْلِ وَلَوْ رَكْعَتَيْنِ . وَالثَّانِيَةُ دَوَامُ الْوُضُوْءِ . وَالثَّالِثَةُ إتقوى فِى السِّرِّ وَالْعَلاَنِيَّةِ . وَالرَّابِعَةُ أَنْ يَأْكُلَ لِلتَّقْوى وَلاَ لِلشَّهَوَاتِ. وَالْخَامِسَةُ اَلسِّوَاكُ .

Rasulullah saw. bersabda: “ Barang siapa yang ingin menjaga ilmu yang ada pada dirinya, ia harus melaksanaan lima kebiasaan : Satu : Sholat malam walaupun hanya dua raka’at. Dua : Dawaamul wudhu’ (menjaga kesucian). Tiga : Takut kepada Allah baik dalam kondisi sepi maupun ramai. Empat : Makan hanya untuk kepentingan takwa, bukan menuruti nafsu syahwat. Lima : Bersiwak”.

Bukan ilmu itu saja yang harus dijaga dengan pemeliharaan yang baik, namun juga hidayah Allah yang menyertai ilmu itu. Hidayah itu harus dijaga dengan pendekatan diri kepada yang memberikan hidayah, Allah Subhanallahu Ta’ala.

Maka orang harus dekat kepada para Ulama sejati, karena disana ada pencerahan hakiki, baik melalui tutur kata maupun do’a-do’a yang dipanjatkan setiap hari, menjadi penyejuk hati dan pengingat diri, agar hawa nafsu dapat terkendali dan setan tidak memperdaya diri. Seperti filter yang menyaring kotoran, sehingga hati selalu dalam penjagaan dan pemeliharaan, karena Allah Ta’ala telah menurunkan pertolongan. Demikianlah sabda Nabi saw. menegaskan:

جُلُوْسُ سَاعَةٍ عِنْدَ الْعُلَمَآءِ أَحَبُّ إِلى اللهِ مِنْ عِبَادَةِ اَلْفِ سَنَةٍ

“Duduk sesaat di tengah-tengah para Ulama’ lebih disukai oleh Allah dari pada ibadah sendiri seribu tahun”.

Ketika Ulama sudah waktunya harus kembali mendatangi panggilan Ilahi, seperti lampu yang telah dipadamkan pada malam hari, maka alam kehidupan akan menjadi gelap gulita kembali. Akibatnya, ketidakadilan terjadi dimana-mana karena orang tidak dapat mempergunakan mata, kemudian manusia menjadi semakin liar karena orang takut tidak mendapatkan bagian. Hingga akhirnya orang saling berusaha membunuh kawan, jika tidak demikian, takut terbunuh duluan. Kalau sudah demikian, berarti ambang kehancuran sudah berada di pintu gerbang. Contoh akibat ketikadadilan, maka kantor dan pendopo Bupati Tuban, yang dibangun dengan uang rakyat telah menjadi korban kebrutalan, dibakar amuk masa karena rakyat merasa dikecewakan oleh penguasa yang sedang berjaya.

مَوْتُ الْعَالِمِ مَوْتُ الْعَالَمِ
“Matinya Ulama’ adalah matinya alam”.

Oleh karena itu, orang harus punya rasa penyesalan, mengapa mereka selama ini jauh dari kebaikan, lupa diri sehingga meninggalkan Ulama yang telah menjadi panutan. Karena penyesalan itu bisa menjadi penawar, bagaikan angin yang mengusir awan mendung yang bergantungan, ketika ulama-ulama itu memang harus pergi duluan, dengan penyesalan itu supaya orang menjadi ingat kepada apa yang sudah ditinggalkan.

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يخزن يموت عَالِمٍ إِلاَّ كَتَبَ اللهُ تَعَالى لَهُ ثَوَابَ اَلْفِ عَالِمٍ وَاَلْفِ شَهِيْدٍ

” Barang siapa merasa bersedih dengan matinya Ulama’, akan ditetapkan baginya pahala seribu Ulama’ dan seribu Syuhada’”.

** Hadits-hadits Nabi saw. diambil dari kitab Durrotun Nasihin **

(malfiali, Nofember 2008)

CERFIK (cerita fiktif) ‘Balada Orang Tidak Punya Dosa’

Posted in cerita dengan kaitan (tags) on 15 November 2008 by malfiali

Cerita Fiktif

CERFIK (cerita fiktif) ‘Balada Orang Tidak Punya Dosa’

Konon…Gus Fat (Muhammad Fathul ‘Alam). adalah seorang anak yang sejak kecil hidup di lingkungan Pondok Pesantren Salaf. Karena Gus Fat adalah anak bungsu Kyai Imam (Imamuddin) Pengasuh Ponpes “Nurul Ulum” yang ada di Desa terpencil di pinggiran kota di Jawa Tengah.

Setelah menginjak usai remaja, bersama saudara yang lain, Gus Fat harus hidup di Pondok Pesantren tetangga kota, yang dulu juga pondoknya Kyai Imam, guna membekali diri dengan ilmu agama yang cukup, supaya nantinya menjadi orang yang mumpuni. Demikianlah tradisi para anak Kyai.

Setelah menyelesaikan masa belajar yang dibutuhkan. Kitab kuning yang ada semua sudah dikuasai di luar kepala. Gus Fat kemudian hidup lagi di Ponpes di rumahnya karena harus meneruskan tugas orang tua yang sudah keburu di panggil menghadap Allah Ta’ala. Mengajar para santri bersama saudara-saudara yang dahulu tinggal satu asrama.

Praktis Gus Fat dan saudara-saudaranya merupakan orang-orang suci, seperti malaikat yang terjaga dari kotoran basyariyah. Karena selama hidupnya tidak pernah berbuat dosa dan maksiat. Bahkan tersentuh hiruk pikuk kehidupan kotapun tidak. Memang mereka adalah orang-orang yang alim dan tekun beribadah. Kalau sedang bepergian ke luar kota misalnya, paling-paling hanya bersilaturrahim ke rumah sesama teman satu pondok yang sudah sama-sama menjadi Kyai, atau zairah ke makam para Wali.

Sopping ke Mall pun rasanya “wagu”, masak ke Mall kok pakik sarung. Memang Gus Fat tidak pernah pakai celana. Setiap hari, baik di Ponpes maupun ke luar rumah selalu memakai sarung dan pecis. Bahkan kadang-kadang memakai jubah dan serban seperti Kyai Imam dahulu. Terlebih ketika sedang mengasuh pengajian yang diikuti orang ribuan.

Setelah menjadi seorang Kyai yang Alim dan ternama, Guf Fat dengan saudara-saudaranya disamping menjadi pimpinan Ponpes, juga diharapkan menjadi pimpinan Umat yang mampu menggalang Ukhuwah Islamiyah. Meneruskan kepemimpinan Abahnya dahulu, yang juga ikut memikirkan kehidupan Umat melalui jalur politik praktis. Menjadi sesepuh partai politik yang cukup besar di Tanah Air Tercinta.

Namun, akhir-akhir ini keadaan Gus Fat dan saudaranya malah menjadi sumber penyebab perpecahan di lingkungang keluarga besar Ponpes “Nurul Ulum”. Pasalnya, mereka mulai menampakkan berebut kekuasaan di dalam mengelola aset Ponpes peninggalan orang tua itu. Karena sesama saudara ingin menjadi yang paling berkuasa.

Akibatnya, ketika para pengurus dan para santri menjadi bingun melihat pertikaian antara para pengasuh muda yang sama dihormat itu tidak juga berkesudahan, akhirnya mereka menjadi bubar. Masing-masing santri memilih boyong atau pindah pondok lain dengan membawa penyesalan yang mendalam. Padahal sebenarnya mereka masih kerasan menimba ilmu Agama di Ponpes “Nurul Ulum” itu, namun mereka jadi ndak enak. Pasalnya, kalau ikut ngaji ke Gus Fat, saudara yang lain menjadi marah, demikian pula sebaliknya. Sehingga akhirnya, pengajian yang diadakan di Ponpes itu menjadi sepi. Semua santri takut ikut mengaji, karena masing-masing takut kepada Kyai muda yang sama-sama disegani.

Terakhir, Ponpes yang dahulu dibangun dengan jerih payah orang tua bersama masyarakat Desa dengan kucuran keringat dan darah itu, kini menjadi sepi. Seperti rumah hantu di pinggir kali, karena ditinggal para penghuni melarikan diri.

Tanpa Dosa

Tidak hanya sampai disitu saja. Ketika para orang suci itu sudah menjadi pimpinan umat. Menjadi sesepuh organisasi politik yang dibanggakan masyarakat. Ilmu agama yang ditekuni selama hidup itu ternyata tidak juga mampu menguasai hawa nafsu yang sudah terbiasa mendorong semangat. Sehingga, ketika mereka saling berebut pengaruh dan kekusaan lagi, seperti dahulu di lingkungan Ponpes yang sudah ditinggal penghuni, bahkan sekarang lebih meluas karena saingan sesama Kyai semakin memanas. Yang satu memihak ke kanan yang satunya lagi memihak ke kiri, padahal kanan dan kiri adalah sama-sama mantan santri. Maka masyarakat awam menjadi kebingungan. Pimpinan yang mana yang harus diikuti, karena yang ke kanan dan yang ke kiri sama-sama Kyai yang harus dihormati. Hasilnya, disamping persatuan jama’ah menjadi terpecah belah, hingga kaca kantor yang tidak ikut bersalah menjadi sasaran amuk masa, juga di dalam organisasi masa yang dibangun orang-orang suci itu ternyata paling rentan terjadi kemunafikan dan ajang adu domba.

Barangkali karena orang-orang suci itu tidak pernah merasa mempunyai dosa sehingga tidak pernah merasakan pahitnya penyesalan hati karena dirundung duka, maka kemuliaan hakiki yang selama ini menerangi hidup seakan tidak ada harga. Kehormatan silsilah dipertaruhkan hanya untuk berebut pengaruh dan mencari kekuasaan dunia. Mereka lupa diri, juga kepada sanak saudara dan teman-teman di pesantren yang dahulu satu gotaan(kamar). Bahkan kepada mantan santri yang dahulu pernah dididik, ketika kini sama-sama saling berebut kekuasaan, mereka tidak perduli, semua disikat habis karena dianggap menjadi lawan saingan. Mereka masing-masing mengatasnamakan kepentingan persatuan dan persaudaraan, padahal hasilnya ternyata malah mencabik-cabik keutuhan umat yang dahulu dibangun oleh nenek moyang.

Jika sekiranya mereka pernah merasakan sakitnya penderitaan hidup. Terpelosok di jurang kehinaan karena harus menebus dosa yang pernah dihirup. Di malam-malam sepi menyungkurkan kepala dengan muka tertelungkup. Bersujud di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa, malu dan menyesal karena takut mendapatkan murka sehingga pintu surga ditutup. Maka barangkali mereka lebih mampu berhati-hati. Menahan diri dari pengaruh hawa nafsu yang selalu menggerogoti hati. Yang dapat menjadikan lupa diri sehingga hati kembali menjadi mati. Mereka seharusnya mampu menasehati para santri yang selalu ingin bersembunyi di balik jubah Kyai. Membimbing orang-orang yang suka memanfaatkan kharisma Ulama dan Kyai hanya karena nunut kamukten dan mencari kedudukan pribadi.

Orang Tidak Punya Dosa

Seharusnya orang-orang suci itu mampu menjadi panutan. Meredam gejolak hawa nafsu mantan santri yang terkadang memang cenderung kebablasan. Memberikan contoh bagaimana cara mengalahkan saingan dengan cara yang cantik dan menawan. Tidak malah ikut berperang di lapangan, saling gonto-gontoan di Pengadilan sehingga menjadi sumbu perpecahan. Lupa teman seperjuangan yang sekarang sedang menjadi pesakitan. Yang bisanya hanya menonton di rumah sambil menunggu surat panggilan dengan hati degdegan.

Namun ironisnya, masih ada saja yang malah memamerkan kemunafikan yang terlanjur menjadi tradisi. Mengumbar statemen yang berkesan membabi buta dan tidak tahu diri. Katanya mau mendirikan Negara tandingan padahal sudah tidak mempunyai mentri.
Akhirnya, musuh bebuyutan yang ada di luar pagar hatinya senang tidak ketulungan. Memanfaatkan kesempatan untuk menebarkan jaring menampung laron-laron malang yang lari kesana kemari karena kehilangan induk semang. Sambil bersiul mereka membatalkan semangat kebangkitan. Dengan menjatuhkan palu keputusan di meja makan, mengadu sang domba yang sedang berebut makanan. Sehingga orang-orang suci itu ikut menjadi barang murahan. Dimanfaatkan setiap kepentingan, diajak makan barang haram. Menjual umat dengan iming-iming jabatan. Menjadi calon wakil pejabat Negri karena orang suci itu mempunyai umat ribuan. Namun, ketika tidak jadi terpilih, maka sekarang mereka tinggal gigit jari tangan.

Itulah yang sedang marak.
Menjadi tradisi yang membingungkan orang awam.
Dimana-mana para anak orang suci itu berlomba mencalonkan diri jadi calon wakil pahlawan. Mereka lupa siapa kawan siapa lawan meski tidak punya uang.

Maka Fenomena mengirim peringatan. Barangkali karena masing-masing manusia tidak juga merasa mempunyai dosa, maka gunung dan laut ikut ambil bicara, juga bumi Sidoarjo yang asalnya ramah ikut menyuarakan isi dada. Menyatakan duka dengan lahar, gempa dan lumpur yang berbahaya. Agar manusia ingat asalnya dan kembali kepada Tuhannya.

*) Ini hanyalah cerita fiktif, sekedar ilustrasi untuk menghibur hati yang sedang sedih. Jika di dalamnya terdapat nama yang sama dengan nama seseorang, maka itu hanya terjadi secara kebetulan. (malfiali, Nofember 2008-11-13)

RAHASIA SUMBER INAYAH 1 (Figur Sang Kholifah)

Posted in cerita dengan kaitan (tags) on 15 November 2008 by malfiali

Sumber Inayah

RAHASIA SUMBER INAYAH 1 (Figur Sang Kholifah)

Berangkat dari pemikiran bahwa manusia adalah seorang “kholifah bumi”. Pengganti Allah di muka bumi, baik untuk melaksanakan ketetapan dan siksa maupun menebarkan rahmat kepada seluruh makhluk yang ada di alam semesta, kunci-kunci rahasia keberhasilan bumi itu sejatinya sudah berada di tangan para kholifah bumi zamannya tersebut.

Itulah manusia-manusia pilihan yang “fungi kekholifaannya” sudah berjalan sempurna. Merekalah sumber inayah bumi itu, mereka bertugas membagikan kunci rahasia keberhasilan bumi itu kepada para ahlinya. Mereka membagi ‘rahmat azaliah’ tersebut melalui dzikir maupun mujahadah yang mereka lakukan, terlebih melalui do’a-do’a yang setiap hari setiap malam mereka panjatkan kehadirat Rabbul Izzah. Do’a-do’a tersebut mereka pancarkan semata-mata sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang  kepada umat manusia.

Ibadah khusus yang mereka lakukan itu, bukan hanya untuk memikirkan kepentingan hidup mereka sendiri bersama keluarganya saja, namun juga sebagai bentuk kepedulian hati kepada umatnya, baik yang berkaitan urusan dunia, terlebih urusan akhirat, yang kadang kala bahkan sampai melupakan kebutuhan mereka sendiri.

kyai-sepuh-dan-kyai-muda

Tidak hanya itu saja, mereka bahkan tidak pernah melangkahkan kaki untuk bepergian ke suatu tempat, kecuali dalam rangkah melaksanakan kepedulian tersebut. Seakan-akan mereka tidak mempunyai rasa capek, lima hari dalam satu minggu keliling antar kota dan antar profensi bahkan pergi ke Negara tetangga, sekedar di tempat-tempat itu ribuan umatnya sudah menunggu kucuran rahmat Allah Ta’ala yang akan dikucurkan melalui majlis-majlis dzikir dan do’a yang mereka selenggarakan bersama.

Setiap mereka datang di suatu tempat, puluhan ribu bahkan ratusan ribu manusia tumpah ruah membanjiri majlis dzikir yang mereka selenggarakan. Baik dari kalangan masyarakat awam, para ilmuwan, para pengusaha, para pejabat bahkan para ulama dan haba’ib, serentak mereka turut hadir dalam acara tersebut. Ajang pertemuan manusia yang mereka selenggarakan dimana-mana itu, bukan untuk melaksanakan demontrasi kepada pemerintah terlebih untuk berbuat anarkis, namun semata-mata untuk berdzikir bersama dan munajat kepada Allah Ta’ala. Dengan yang demikian itu, maka tempat yang asalnya tandus dan kering dari aqidah islamiyah dan ajaran agama, dalam waktu relatif singkat kemudian menjadi subur makmur dengan penuh keimanan dan kedamaian. Sejarah telah mencatat keberadaan mereka.

Mereka itu adalah para guru mursyid sejati yang suci lagi mulai yang sepanjang usianya hanya dimakmurkan di dalam pengabdian yang hakiki kepada Tuhannya. Dari zaman dahulu sampai sekarang, mereka telah mampu memberikan contoh dan suri teladan yang baik kepada sejarah perkembangan umat manusia di bumi tercinta ini, Indonesia. Rahasia ‘kunci ijabah’ Allah itu tampak nyata di dalam keseharian hidup mereka. Hal itu ditandai, dari segala penjuru tempat orang-orang datang untuk tabarrukan kepada mereka. Masing-masing mencurahkan kesusahan hati. Bahkan hanya sekedar mau memberi nama kepada anaknya yang baru lahir saja, jauh-jauh mereka datang minta dicarikan nama yang baik untuk anaknya. Semua yang datang itu ingin urusan hidupnya segera mendapatkan jalan keluar dan pertolongan dari Allah Ta’ala. Namun, sebagian besar orang-orang yang susah itu terkadang tidak pernah mempedulikan kesusahan hati mereka.

mawar

Meskipun demikian, para orang suci itu tetap meladeni umatnya dengan tulus dan penuh kasih sayang. Bahkan pernah suatu ketika di saat sang mursyid yang mulia itu sedang sakit cukup parah, sehingga dalam beberapa hari beliau tidak kuat untuk berdiri. Namun jarum infus yang menancap ditangannya dicabuti sendiri, sekedar karena puluhan ribu manusia saat itu sudah menunggu di majlis Khoul yang harus beliau pimpin. Dengan menahan sakit yang teramat sangat sehingga harus berjalan dengan kursi roda, beliau tidak memperdulikan diri, tetap memaksakan diri untuk hadir di tengah-tangah umat yang dicintainya itu.

Oleh karena hati yang suci itu sudah sekian lama dihadapkan kepada Allah Ta’ala untuk memikirkan kepentingan umatnya, maka ketika tangannya menengada kelangit untuk mendo’akan umatnya itu, seperti gemuruh air hujan yang diturunkan dari langit, segera saja Allah menurunkan ijabah bagi do’a-do’a suci tersebut. Hal itu bisa terjadi, karena kunci rahasia ijabah itu sudah lama tinggal di dalam hati yang mulia itu. Di dalam hamparan isi dada yang  air samuderanya tidak pernah keruh walau setiap hari diaduk oleh hiruk pikuk kehidupan. Tidak pernah tercemar meski setiap hari menampung najisnya keberadaban. Tidak pernah basi meski setiap  saat dikerubuti laron-laron dan kupu-kupu zaman. Hati yang tidak pernah kaku dan sombong meski setiap hari duduk di atas permadani kehormatan. Tidak pernah layu meski selalu ditimpah fitnah dan ujian.

Allah Ta’ala yang menurunkan mereka dari langit kamuliaan. Menggantikan pendahulu mereka yang sudah selesai bertugas di dunia fana kemudian meneruskan tugas walayah di alam kelanggengan. Di muka bumi, hati orang suci itu seperti bumi, siap menampung segala kotoran, tapi yang keluar dari hatinya hanyalah kemanfaatan. Dengan mendapat tarbiyah azaliyah sejak usia bayi, bahkan sejak di dalam kandungan ibundah tercinta. Demikian pula ketika mereka telah menginjak usia dewasa.

Namun, tarbiyah azaliyah di usia dewasa itu terkadang wujudnya berupa fitnah-fitnah yang ditebarkan oleh orang-orang yang mereka kenal. Orang-orang yang berada dalam satu pagar halaman. Karena hanya orang-orang tersebut yang berani melakukannya. Adapun orang yang berada di luar pagar halaman merasa takut berbuat jelek kepada mereka, bahkan sekedar menggerakkan perasaan buruk dalam hati. Hal itu bukan karena takut kepada kekuatan dan kekuasaan mereka, tapi kepada kebaikan dan kemuliaan hati yang sudah tampak nyata di tengah kehidupan sehari-hari.

Tulip Kembar

Di saat kesucian hati sang mutiara pilihan itu telah memancarkan sinar yang terang benderang di ufuk zaman. Sehingga dari segala penjuru negri orang datang berbondong-bondong “ngalap berkah” kepadanya. Seperti laron-laron yang mencari kehidupan di sekeliling lampu taman, sehingga dimana-mana akhirnya orang mengetahui keberadaan sang kholifah zamannya itu. Namun demikian, masih saja ada orang yang mengingkari kesucian hati yang mulia itu. Tetap saja orang-orang yang hatinya sudah terlanjur tidak menyukainya itu belum juga mampu mengakui anurgerah azaliyah yang tiada duanya itu. Jika demikian keadaannya, meski orang yang hatinya ingkar itu setiap hari dekat dan bahkan berkumpul dengan sumber inayah tersebut, namun boleh jadi yang mereka dapatkan hanyalah kerugian belaka.

Barangkali orang-orang yang hatinya terlanjur benci itu mengira, bahwa karomah yang demikian besar itu datang dari kemampuan diri pribadi, sehingga mereka menjadi hasud karenanya. Karomah yang didatangkan kepada mereka itu tidak demikian. Bukan sekedar orang punya ilmu yang luas dan pondok pesantren yang besar kemudian mesti memiliki karomah kuat. Tidak demikian. Karomah besar itu hanya didatangkan oleh Allah Ta’ala kepada seorang hamba yang dikehendaki-Nya, semata-mata buah kepedulian hati mereka yang telah mampu diwujudkan dengan pelaksanaan akhlak yang mulia. Seperti siang hari ketika ufuk bumi menjadi terang benderang, itu bukan karena bumi memancarkan sinar, namun saat itu matahari sedang menampakkan senyuman. Oleh karena itu, orang yang membenci sang mursyid itu hakekatnya bukan membenci manusia, tapi membenci Allah Ta’ala atas anugerah yang diberikan-Nya kepada selain dirinya.

Melalui majlis dzikir yang mereka selenggarakan, “sumber inayah” itu akan diturunkan Allah Ta’ala seperti air hujan. Namun demikian, meski hujan itu diturunkan tanpa pilih sasaran, seandainya tangan-tangan tidak ikut menengadah menampung curahan, sampai kapanpun orang tidak akan mendapat bagian. Demikian pula dengan orang-orang yang hatinya telah ingkar itu,  meski setiap hari telingah dan dada mereka digetarkan oleh khotbah yang disampaikan dan dzkir serta do’a-do’a yang dipanjatkan, bahkan mendapatkan bagian kehidupan duniawi karena mereka hidup di bawah naungan kemuliaan hakiki, oleh karena hati terlebih dahulu tidak kenal diri, maka sedikitpun kebajikan hakiki itu tidak menambahkan apa-apa bagi mereka kecuali hanya kerugian yang tidak pernah disadari. Allah Ta’ala menegaskan hal tersebut dengan firmannya yang artinya:

Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian(82)Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.(QS.alIsro’/82-83)

Tidak ada kata yang dapat menggambarkan hakekat mereka
Sang kholifah yang menjadi pelita
Jika sebagian terbaca
Itu hanya yang ada di permukaan kaca
Adapun yang tersimpan dalam hamparan hati mereka
Adalah samudera yang tidak dapat diterka oleh siapa saja
Oleh karena terdapat rahasia tarbiyah azaliyah
Maka hanya Allah yang mampu membaca
Bahkan orangnya sendiri
Terkadang hanya menjalankan titah rahasia
Itulah kekasih yang dikasihi
Tanpa mereka bumi menjadi mati

(malfiali, Nofemben 2008-11-13)

RAHASIA SUMBER INAYAH 2 (Rahmat Allah Di Dekat Orang Ihsan)

Posted in cerita dengan kaitan (tags) on 15 November 2008 by malfiali

Sumber Inayah

RAHASIA SUMBER INAYAH 2 (Rahmat Allah Di Dekat Orang Ihsan)

Dalam kaitan sumber inayah ini, kita akan mengikuti konsep asy-Syeikh Al-Imam Al-Arif Billah, Abi Fadil Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah Al-Assakandary Radliyallaahu ‘Anhu. Di dalam kitab Hikamnya Beliau  berkata:

عَلِمَ اَنَّ العِبَادَ يَتَشَوّفُوْنَ اِلَى ظُهُوْرِ سِرِّ العِنَايَةِ فَقَالَ: “يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشآءُ” وَعَلِمَ اَنَّهُ لَوْ خَلَّاهُمْ وَذَلِكَ لَتَرَكُوْا العَمَلَ اِعْتِمَادًا عَلَى الأَزَلِ, فَقَالَ: اِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ المُحْسِنِيْنَ . اِلَى المَشِيْئَةِ يَسْتَنِدُ كُلُّ شَىْءٍ وَلَا تَسْتَنِدُ هِىَ اِلَى شَىْءِ

Allah mengetahui bahwa sesungguhnya seorang hamba sangat ingin mengetahui tetang kenyataan rahasia “Inayah”, maka Allah berfirman: “Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. QS:3/74. dan Allah mengetahui apabila mereka dibiarkan begitu saja dengan apa yang sudah difahami, mereka akan meninggalkan amal dan bergantung kepada kehendak azali, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”. QS:7/56. Kepada “Kehendak” segala sesuatu itu bersandar dan bukan kepada segala sesuatu “Kehendak” itu bersandar.

Tugas pokok kekholifaan itu ialah, bahwa keberadaan manusia di muka bumi ini harus mampu menjadi sebab sampainya rahmat Allah Ta’ala kepada makhluk lain. Mereka harus mampu menyampaikan sifat rahman – rahim Allah Ta’ala kepada manusia melalui sifat dan karakter yang diterapkan dalam amal pengabdian dan perjuangan hidup yang dijalaninya.

Hadrotusy Syekh RKH Utsman al Ishaqy r.a

Oleh karena itu, tugas seorang kholifah bumi merupakan tugas yang universal. Mereka harus memancarkan Nur Allah Ta’ala melalui pantulan sinar wajah yang sejuk dari cerminan kesucian dan kebersihan lubuk hati. Membangun dan menebarkan sendi-sendi kehidupan di alam persada melalui amal bakti dan akhlakul karimah. Menyampaikan inayah Allah Ta’ala kepada yang berhak menerima melalui inayah yang telah didapatkan dari-Nya. Menyampaikan pertolongan Allah Ta’ala kepada pemiliknya melalui pertolongan yang telah diturunkan kepadanya. Bahkan mengirimkan inspirasi dan ilham kepada hati para pengikut dan anak asuhnya melalui sumber inspirasi dan ilham yang didapatkan dari urusan Rabnya.

Dengan itu, akhirnya seorang kholifah bumi tersebut, dengan izin Allah Ta’ala mampu mendatangkan dan menurunkan hajat kebutuhan umat manusia dari perbendaharaan ghaib yang tersimpan disisi-Nya—baik hajad kebutuhan yang dhohir maupun yang batin—melalui do’a-do’a dan munajat yang dipanjatkan kepada Tuhannya. Untuk itulah Rasulullah Muhammad saw diutus dimuka bumi, melalui pelaksanaan akhlakul-karimah yang terpancarkan oleh prilaku hidup, rahmat Allah Ta’ala kemudian menyebar keseluruh alam semesta.

Tugas risalah itu bukan hanya sekedar membawa agama baru kemudian supaya orang kafir mengikuti agama itu. Tidak demikian. Bahkan jauh lebih dari itu. Yaitu, mengemas agama baru itu dengan kasih sayang dan akhlak yang mulia, supaya dengan itu kehidupan makhluk di muka bumi ini menjadi aman, makmur dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat nanti. Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ – الأنبياء:21/107

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. QS.al-Anbiya’.21/107

Itulah rahasia fungsi kekholifaan khusus yang dikhususkan hanya untuk baginda Nabi saw. Melalui nubuwah dan risalah yang diemban, beliau terbukti berhasil menebarkan rahmat Allah Ta’ala kepada alam semesta, baik rahmat dhohir maupun rahmat batin, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan tidak hanya kepada alam manusia saja, tapi juga kepada alam Jin dan alam Malaikat.

Hal tersebut disebabkan, oleh karena manusia merupakan sumber tenaga pengelola potensi bumi, maka dengan agama yang dibawa itu manusia harus menjadi baik. Baik perangai maupun amal perbuatan, supaya kehidupan secara keseluruhan di muka bumi menjadi baik pula. Sebab, apabila manusia jelek maka kehidupan juga akan menjadi jelek dan rusak. Allah Ta’ala menjelaskan dengan firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ – الرم:30/41

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS.ar-Rum.30/41.

Supaya di muka bumi tidak terjadi kerusakan lagi, supaya manusia tidak menanggung akibat kerusakan yang diperbuat itu, maka manusia terlebih dahulu harus dibuat menjadi baik, terutama hatinya. Untuk itulah agama diturunkan dan seorang Nabi, baik sebagai pemimpin (qudwah) maupun sebagai panutan (uswah) diutus ditengah-tengah manusia. Apabila hati manusia telah menjadi baik maka seluruh angota tubuhnya akan menjadi baik yang selanjutnya kehidupan di muka bumi akan ikut menjadi baik pula.

Mawar

Sejak terutusnya baginda Nabi saw. sampai sekarang, sejarah telah membuktikan, dari tanah yang tandus dan gersang itu menyebar kemakmuran ke segenap pelosok dunia. Bahkan kehidupan manusia di seluruh belahan bumi ini, hampir-hampir bergantung kepada benda yang dihasilkan oleh perut bumi dimana saat itu baginda Nabi saw menjalankan aktifitas hidup dan perjuangan. Itulah sunnah yang ada, bahwa keberkahan Allah Ta’ala yang tersimpan di dalam perbendaharan ghaib mampu tergali dan terpancarkan kepada alam lahir melalui rahasia keberkahan hati dan prilaku yang tersimpan di dalam akhlakul karimah yang agung itu. Hanya Rasulullah Muhammad saw. yang dapat berbuat demikian karena baginda Nabi saw. adalah seorang kholifah bumi sepanjang zaman. Beliau bukan hanya diutus untuk suku bangsanya sendiri sebagaimana para rasul dan para Nabi terdahulu, akan tetapi juga untuk umat manusia secara keseluruhan.

Bahkan sebelum lahir beliau saw. sudah dijadikan wasilah di dalam do’a-do’a yang dipanjatkan oleh orang-orang yang menunggu kedatangannya. Namun demikian, ketika beliau telah hidup dan berada ditengah-tengah kehidupan masyarakat, sebagian besar orang yang menunggu kedatangan Beliau itu ternyata ada yang mengingkari tugas dan fungsi Nubuwah tersebut, bahkan sampai sekarang. Mengapa hal tersebut bisa terjadi, karena hanya sedikit orang yang benar-benar mengerti tentang fungsi kekholifaan itu, hingga jarang sekali dari mereka dapat memanfaatkan kakholifaan itu untuk kepentingan hidup dan kehidupan mereka sendiri.

Kebesaran dan kekhususan fungsi keholifaan itu tergambar dari pernyataan Allah Ta’ala dengan firman-Nya, yakni Allah SWT. mencurahkan rahmat dan keselamatan kepada beliau dan selanjutnya para malaikat-Nya, kemudian orang-orang beriman diperintah untuk menggapai rahmat itu dengan membaca sholawat kepada  Beliau. Allah SWT. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا – الأحزاب:33/56

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. QS.al-Ahzab.33/56.

mawar

Adakah rahmat yang lebih besar dari itu ?. Satu-satunya pernyataan Allah Rabbul Alamin yang tidak pernah diberikan-Nya kepada siapapun selain beliau, bahkan sekalipun kepada para malaikat-Nya. Hanya Rasululllah Muhammad saw. satu-satunya manusia yang dipilih oleh Allah Ta’ala untuk menyebarkan rahmat-Nya kepada alam semesta ini. Bahkan bukan di alam dunia saja, namun juga di alam akhirat nanti. Hanya baginda Nabi s.a.w satu-satunya manusia yang mendapatkan hak untuk memberikan syafa’at kepada umat manusia secara keseluruhan. Syafa’at tersebut merupakan rahmat Allah Ta’ala terbesar dan terakhir setelah hari kiyamat sebelum manusia ditempat di neraka atau di surga. Dengan syafa’at ditangan tersebut, baginda Nabi saw. menyelamatkan bayak orang—yang berhak menerima—dari siksa neraka jahanam di hari kiyamat nanti.

Bahkan ditengah-tengah umat yang mengingkari kenabiannya, semasa hidupnya keberadaan beliau mampu menjadi sebab tertahannya siksa Allah Ta’ala yang semestinya ditimpahkan kepada orang-orang yang berbuat dosa. Siksa tersebut tidak jadi diturunkan di dunia semata-mata karena orang yang seharusnya mendapat siksa itu hidup dalam satu zaman dengan Baginda Nabi s.a.w. Demikian yang dinyatakan di dalam hadits Nabi saw.:

حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ أَبُو جَهْلٍ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ فَنَزَلَتْ ( وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ) إِلَى آخِرِ الْآيَةِ *

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a berkata: Abu Jahal berdoa: Wahai tuhanku sekiranya al-Quran ini benar datang dari sisi-Mu, maka turunkanlah hujan batu dari langit atau timpakan kepada kami siksaan yang pedih. Lalu turunlah ayat

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Yang artinya: Dan Allah tidak sekali-kali akan menyiksa mereka, sedangkan engkau wahai Muhammad ada di antara mereka dan mengapa mereka tidak patut disiksa oleh Allah sedangkan mereka menghalang-halangi orang-orang Islam dari Masjidil Haram. hingga akhir ayat.

•    Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an hadits nomor 4281. •    Riwayat Muslim di dalam Kitab Suasana Hari Kiyamat, Surga Dan Neraka hadits nomor 5004.

Abu Jahal dan orang-orang kafir Qurais yang suka menghalangi orang mu’min beribadah di masjidil haram, dengan dosa-dosa mereka perbuat, mestinya pantas mendapatkan siksa di dunia. Namun, oleh karena masa hidup mereka dalam satu zaman dengan Rasulullah saw. siksa tersebut tidak diturunkan. Hal itu menunjukkan demikian besarnya fungsi kekholifahan Rasulullah saw., padahal orang-orang yang diselamatkan dari siksa itu sama sekali tidak pernah menyadari. Demikian pula ketika fungsi kekholifahan itu diwariskan kepada pewaris-pewarisnya, maka salah satu fungsi kholifah bumi zamannya tersebut juga demikian. Yakni menjadikan tertahannya siksa dan musibah di dunia. Hal tersebut semata karena Allah Ta’ala mencintai para kekasihnya. Memberi kesempatan kepada mereka untuk berbuat benah-benah dan mengajak umatnya untuk kembali bertaubat kapada-Nya.

Merupakan keseimbangan yang diharuskan dalam sistem kehidupan alam, sebagai sunnahtullah yang tidak pernah ada perobahan untuk selamanya, manakala kebajikan masih mampu mengimbangi kemungkaran, meski kemungkaran tersebut terang-terangan dilakukan orang, menunjukkan bahwa kehidupan bumi belum waktunya harus dihancurkan. Namun ketika kemungkaran sudah tidak dapat diimbangi oleh kebajikan, maka tanpa dihancurkan sekalipun bumi itu akan hancur dengan sendirinya.

berdoaOleh karena itu, kebaikan hakiki itu harus ada di muka bumi. Yakni berupa keikhlasan hati yang selalu memancarkan rahmat melalui do’a-do’a malam yang didawamkan. Apabila di suatu tempat telah ditinggalkan oleh manusia utama itu, sehingga pelita malam yang memancar dari misykat hati tersebut menjadi padam, maka tanah di tempat itu seketika menjadi tandus dan gersang, karena langit enggan munurukan hujan. Itulah bagian dari fungsi seorang kholifah bumi zamannya. Manusia utama itu tidak lain adalah guru-guru mursyid yang suci lagi mulia dan para kekasih Allah yang dirahasiakan. Meski tampa diminta, dimana saja mereka berada selalu menjadi penyeimbang kehidupan. Siksa dan musibah yang semestinya diturunkan akibat dosa-dosa yang dilakukan manusia, menjadi tertahan karena kesucian hati yang selalu implementasikan dalam pengabdian.

Kalau toh ternyata bagian kecil dari siksa itu diturunkan juga di muka bumi, berupa musibah gempah bumi atau tsumani misalnya, itu sejatinya hanya sekedar peringatan bagi orang yang beriman. Supaya orang yang berbuat dosa itu mau bertaubat kepada Allah Ta’ala. Namun, apabila dengan peringatan itu tetap saja manusia tidak mau sadar, dan ketika kelompok manusia di satu negri tersebut sudah pantas menerima siksa di dunia, maka tanpa kecuali, semua manusia ikut merasakan akibatnya. Oleh karena itu, amar ma’ruf nahi mungkar harus selalu ditegakkan, jika tidak, maka jangan diharap bumi akan bertahan dalam kemakmuran. (malfiali, Nofember 2008-11-13)

HAKEKAT TAWASUL (Interaksi Ruhaniah)

Posted in ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 10 November 2008 by malfiali

HAKEKAT TAWASUL ATAU INTERAKSI RUHANIAH

Tawasul

Ketika sebagian kalangan mengartikan ‘mati’ dalam arti batas perpisahan antara dua alam, alam kehidupan (alam hayat) dan alam kematian (alam maut), yang satu hidup di dunia dan satunya mati dan kembali menjadi tanah, maka sejak saat itu berarti kedua alam tersebut dianggap tidak ada hubungan lagi. Berarti pula makhluk  yang ada di dua alam tersebut tidak bisa saling memberikan kemanfaatan, tidak bisa saling berucap salam sehingga ucapan sholawat dan salam kepada baginda Nabi s.a.w dianggap sia-sia. Mendo’akan orang mati yang bukan orang tuanya dianggap batal dan tidak sampai. Tawasul dan ziarah kubur dianggap syirik, maka barangkali seperti itulah pemahaman orang-orang yang ingkar akan hari kebangkitan ketika mereka melahirkan isi hati kepada Tuhannya. Allah mengabadikan pertanyaan itu dengan firmanNya:

وَقَالُوا أَئِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَئِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ

“Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?”. Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Tuhannya”. (QS. as-Sajadah: 32/10)

Ayat di atas menyatakan, orang yang tidak percaya setelah mati ada kehidupan baru berarti  mengingkari perjumpaan dengan Tuhannya. Sebagian dari gambaran ‘kehidupan baru’ tersebut dinyatakan Allah Ta’ala dalam sebuah ayat: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki(169)Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal(hidup) di belakang yang belum menyusul mereka”. (QS. Ali Imran/169-170) Orang yang mati di dunia, di alam barzah ternyata ada yang hidup. Mereka mendapat rizki dan bahkan bergirang hati terhadap orang yang masih belum mati. Yang dimaksud bergirang hati itu adalah saling memberi kegembiraan. Orang hidup dapat memberi kegembiraan kepada orang mati, demikian pula sebaliknya. (lihat tafsir Fahrur Rozi).

Sebagian teman se-agama mengira, setelah orang mati tidak ada lagi hubungan dengan orang hidup,… selesai dan bahkan orang mati itu tidak dapat dido’akan kecuali oleh anaknya sendiri. Sedangkan orang lain, sejak saat itu tidak dapat berbuat apa-apa untuk saudaranya yang mati, sehingga kematian itu dianggap sebagai batas kemanfaatan hidup. Orang tersebut memahami dari Hadits Nabi s.a.w yang artinya: “Apabila anak Adam mati maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga hal, yaitu shodaqoh jariyah atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang sholeh yang mendo’akan kepadanya”. Barangkali karena mengartikan hadits ini dengan tujuan yang berlebihan, bahkan untuk melampiaskan kebencian kepada orang lain, maka mereka terjebak kepada pemahaman yang salah fatal.

Di dalam hadits tersebut, Rasulullah s.a.w menyatakan “terputus amalnya” (In qotho’a ‘amaluhu) bukan “terputus kemanfaatannya” (In qotho’a Naf’’uhu). Seandainya Nabi s.a.w mengatakan terputus kemanfaatannya, maka benar, orang mati tidak ada hubungan lagi dengan orang hidup, sehingga apapun yang dikerjakan orang hidup tidak sampai kepada orang mati. Rasul s.a.w tidak mengatakan demikian, tetapi mengatakan “terputus amalnya”. Artinya, sejak itu orang mati itu tidak dapat beribadah lagi. Mereka tidak dapat mencari pahala sebagaimana saat masih hidup di dunia.(dipetik dari pengajian minggu ke 2 yang disampaikan oleh Hadrotusy Syekh Romo KH Ahmad Asrory al Ishaqy r.a)

Jika teman-teman itu mau mencermati makna yang terkandung dalam hadits tersebut dengan hati yang selamat, sesungguhnya maksud hadits itu sebagai berikut; Dengan hadits itu justru Nabi s.a.w menganjurkan supaya orang hidup mau mendo’akan orang mati, karena sejak saat itu temannya itu sudah tidak dapat mencari pahala untuk dirinya sendiri, kecuali dari tiga hal  tersebut, itu pun jika mereka memiliki ketiganya. Apabila tidak, maka hanya do’a-do’a dari temannya itulah yang sangat mereka butuhkan. Di alam kubur itu keadaan mereka seperti orang di penjara menunggu kiriman dari keluarganya. Seperti pasien yang mondok di rumah sakit merindukan temannya menjenguk.

Allah s.w.t memerintahkan agar seseorang mendo’akan orang lain dengan firman-Nya:

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
(QS. at-Taubah: 9/103)

Ayat di atas menyatakan bahwa mendo’akan orang lain, baik kepada orang hidup maupun orang mati pasti sampai, yaitu berupa ketenangan di dalam batin orang yang dido’akan itu. Bahkan sudah dimaklumi, termasuk syarat syahnya shalat Jum’at, khotib wajib memohon ampunan bagi saudaranya seiman, baik yang hidup maupun yang mati. Ini menunjukkan bahwa mendo’akan orang beriman yang sudah meninggal dunia itu merupakan perintah agama.

Bahkan di dalam firman-Nya Allah menyatakan bahwa pahala orang mati dapat berkurang dan bertambah. Berkurang karena perbuatan jeleknya diikuti orang lain, bertambah karena perbuatan baiknya diikuti orang lain serta dari do’a yang dipanjatkan orang lain kepadanya. Bahkan dosa dan pahala itu tidak berhenti bertambah dan berkurang sampai hari kiamat datang. Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS. Ali Imran: 3/185)

Hakekat tawasul atau interaksi ruhaniah adalah tercapainya sembung rasa antara ‘manusia personal’ dengan ‘manusia karakter’ yang dikondisikan dalam pelaksanaan ibadah kepada Allah s.w.t. Yang dimaksud ‘manusia personal’ adalah manusia lahir sedangkan yang dimaksud ‘manusia karakter’ adalah manusia batin. “Manusia personal” diciptakan dari debu, berbentuk jasad kasar yang terdiri dari tulang dibungkus daging, masa hidupnya terbatas, yakni sebatas usianya di dunia. Ketika ajal kematiannya tiba, sedikitpun tidak dapat dimajukan ataupun dimundurkan. Setelah  matinya, kembali menjadi tanah. Adapun “manusia karakter”, ia akan hidup untuk selama-lamanya. Sejak dikeluarkan dari sulbi Nabi Adam as. di alam ruh kemudian dimasukkan di dalam janin di dalam rahim seorang ibu lalu dilahirkan di dunia. ‘Manusia karakter’ dibentuk oleh lingkungannya menjadi orang mulia atau hina. Sejak hidupnya di alam ruh, ia akan hidup selama-lamanya.

Semasa hidupnya di dunia, manusia harus merubah karakternya menjadi lebih baik. Dengan ilmu dan amal, mereka harus membentuk karakter itu menjadi mulia. Sebagai ash-shiddiq, asy-Syuhada’ atau ash-Sholihin sebagaimana yang telah digambarkan Allah s.w.t dengan firman-Nya; “Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi kenikmatan dari Allah, yaitu para Nabi, Shiddiqin, para Syuhada’ dan para Sholihin. Dan mereka itulah teman yang baik “.  (QS. 4; Ayat 69)

Setelah matinya, manusia batin itu akan dihidupkan lagi, sejak di alam barzah sampai di akherat nanti. Manakala ia mati sebagai seorang Syuhada’ atau mati syahid, maka sejak di alam barzah akan hidup merdeka di kebun-kebun surga dan mendapatkan rizki dari Tuhannya dan di alam akherat dimasukkan ke surga bahagia untuk selama-lamanya. Kalau ia mati sebagai orang kafir, maka kehidupannya akan tertahan di penjara untuk selama-lamanya.

Jadi yang dimaksud “Interaksi Ruhaniah” adalah pertemuan yang dilakukan oleh “manusia personal” dengan “manusia karakter”, pertemuan itu dirasakan secara ruhaniah. Atau dengan istilah hubungan timbal-balik atau interkoneksi antara dua orang yang berbeda dimensi, antara al-Mu’minun yang masih hidup dengan ash-shiddiq, asy-Syuhada dan ash-Sholihin yang sudah mati, pertemuan tersebut diaplikasikan dalam pelaksanaan ibadah dan mujahadah di jalan Allah. Hubungan dua alam yang berbeda itu bisa dilakukan, karena ruh orang hidup memang berpotensi bertemu secara ruhaniah dengan ruh orang lain, baik orang hidup (di alam mimpi maupun di alam jaga) maupun dengan ruh orang mati (di alam barzah). Allah menyatakan hal itu dengan firmanNya:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan memegang jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya, maka Dia tahanlah jiwa yang Dia telah tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (QS.az-Zumar: 39/42)

Ketika jasmani manusia dan aktifitasnya sedang lemah karena sedang tidur, maka secara otomatis aktifitas Ruh menjadi kuat. Ruh orang tidur itu naik memasuki dimensi di atasnya, dengan izin Allah s.w.t kemudian menembus pembatas (hijab). Ruh itu menembus dua samudera yang dibatasi barzah sebagaimana yang digambarkan Allah dalam firman-Nya: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu – antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing”. (QS: 55; 19-20).

Ruh orang tidur itu kemudian bertemu dengan ruh orang mati. Selanjutnya terjadilah kejadian sesuai kehendak Allah s.w.t. Kejadian tersebut kemudian direkam oleh akal, ketika orang tersebut bangun dari tidurnya, peristiwa ghaib itu terbaca lagi dalam alam sadar. Kejadian itulah yang disebut mimpi, hanya saja oleh karena peristiwa ghaib ini dialami dalam keadaan tidur, maka   untuk memahaminya membutuhkan penta’wilan atau pemaknaan dari para ahlinya. Adapun seorang hamba yang ruhaninya telah hidup pada derajat tertentu (manusia karakter), ketika pengembaraan ruhaniah yang mereka lakukan telah melewati batas-batas yang telah ditentukan, dengan izin Allah s.w.t mereka dibukakan hijab-hijab yang menutupi rongga dadanya, sehingga matahatinya dapat merasakan secara langsung kejadian tersebut. Manakala pengkondisian tersebut dilakukan sebagai ibadah dan mujahadah di jalan Allah dengan melaksanakan tawasul kepada guru-guru ruhaniah yang sudah wafat, kemudian terjadi arus dzikir timbal balik antara orang yang tawasul dan yang ditawasuli, maka itulah yang dimaksud ‘Hakekat Tawasul atau ‘Interaksi Ruhaniah’.  Allahu  A’lam bi ash-Shawab.(malfiali, 9 Nofember 2008)

KEBERSAMAAN DALAM DUA ALAM

Posted in ilmu thoriqoh dengan kaitan (tags) on 10 November 2008 by malfiali

MA’IYAH FI DAARID DUNYA
(Kebersamaan di Rumah Dunia)

Kebersamaan

Ketika tawasul yang dilakukan murid-murid kepada guru mursyidnya membuahkan hasil, karena jalan ibadah dilakukan mengikuti aturan. Disamping bisa merontokkan hijab-hijab basyariah dan membuka tabir penutup mata sehingga pertemuan secara ruhaniah mendapat kemudahan, juga seorang murid sedikit-demi sedikit akan mengenali karakter (khususiah) guru-guru ruhaninya. Pertalian rasa yang dilakukan terus-menerus tersebut, meski dilakukan di tempat yang berbeda, jika landasan niatnya benar, maka seorang murid akan mendapatkan pencerahan dari rahasia kepedualin hati guru mursyidnya. Oleh karena itu, meskipun kebersamaan tersebut dilakukan di dalam dua dimensi yang berbeda, oleh karena dilakukan oleh hati yang sama, maka interaksi kasih itu akan membuahkan kenikmatan hakiki yang tiada terkira.

Itulah perjalanan ruhaniah, kenikmatan hakiki yang didapat semakin lama akan menumbuhkan rindu dan cinta. Pertama kepada guru-guru Mursyid yang suci sebagai orang tua asuh sejati, kemudian kepada sang maha Guru yang mulia, yaitu Nabi akhir zaman. Penghulu Nabi yang syafa’atnya ketika diturunkan di dunia menjadi minuman ruhani yang ditegukkan oleh para guru Mursyid kepada anak asuh yang sedang kehausan dalam perjalanan, akan menumbuhkan rasa cinta dan ma’rifat kepada Yang dicari sebagai tujuan yang paling utama, yaitu Ilahi Rabbi Sang Maha Pengasih.

Cinta hakiki, ketika telah semakin mematri di dalam hamparan isi hati, maka kerinduan seorang hamba kepada Sang Junjungan akan selalu muncul di dalam sanubari. Rindu yang mampu membangkitkan semangat pengabdian dan pengorbanan yang menggelora, maka halangan yang terpampang di depan menjadi tantangan yang harus ditundukkan. Kesulitan yang membelit menjadi latihan yang tidak sulit, musibah yang datang menjadi ujian yang dibutuhkan, bahkan kematian menjadi pintu pertemuan. Sebagai buah cinta yang dapat dipetik, maka perjalanan panjang di dalam pengembaraan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Sebabnya, kenikmatan surgawi yang selalu terbayang di dalam harapan di saat pertemuan dan kebersamaan terkondisikan, seakan-akan terjadi di dalam kenyataan.

Kebersamaan di dalam kehidupan dunia tersebut dibagi dua bagian:

1.    Ma’iyah bil Maknawiah, artinya: Apa saja yang dilakukan murid, baik ilmu pengetahuan, amal ibadah maupun akhlak karimah, adalah sesuatu yang diwariskan oleh para pendahulunya, yaitu para Sholihin, para Syuhada’, para Shiddiqqin dan para Nabiyyin. Semuanya itu diamalkan, baik di dalam pelaksanaan pengabdian secara vertikal maupun horizontal, mengikuti apa yang sudah dicontohkan oleh mereka. Itulah yang disebut oleh para ulama’ ahli thoriqoh dengan istilah “Robithotul A’mal”.

2.    Ma’iyah bil Hissiyah atau kebersamaan di dalam rasa (Interaksi Ruhaniah). Artinya:  pelaksanaan amaliah murid dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan dengan mengerjakan ibadah yang dihiasi dengan akhlak karimah, dilaksanakan dengan upaya menghadirkan guru-guru yang mulia di dalam rasa ruhaniah. Seakan-akan guru-guru itu datang mendampingi ibadah, baik sebagai teman yang baik, sebagai pembimbing ataupun sebagai saksi atas amalan yang sedang dikerjakan. Pendampingan itu layaknya sedang belajar secara berkesinambungan, dari para Sholihin, para Syuhada’, dan para Shiddiqqin sampai dengan kepada Rasulullah s.a.w yang demikian itu disebut dengan istilah “Robithotul Mursyid”.

Hal tersebut dilakukan, merupakan pelaksanaan perintah yang termaktub dari sebuah ayat. Sungguh benar Allah dengan segala firman-Nya yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama dengan orang yang shiddiq”. (QS. at-Taubah/9; 119)

Maksud ayat, bahwa “Kebersamaan” orang-orang beriman dengan “ash-Shiddiq” di setiap kali mereka melaksanakan ibadah dan mujahadah di jalan Allah merupakan perwujudan pelaksanaan takwa dan sekaligus implementasi tawasul seorang hamba kepadaNya. Tawasul seperti yang dimaksud, tidak hanya dilaksanakan secara lahir saja, tetapi juga lahir dan batin, jasmaniah dan ruhaniah, maknawiah dan hissiyah.
Seorang penyair berucap;

Hijab ketika telah sirna
Maka dimensi zaman
dan dimensi ruang tidak berguna
Selanjutnya
Dua hati selalu bersama-sama

batul atik

MA’IYAH FI DAARIL AKHIRAT
(Kebersaman di Rumah Akhirat)

Setelah sekian lama dalam kebersamaan di dunia fana, meski di dalam dua ‘ruang’ yang berbeda, maka sejak di alam barzah, kebersamaan itu menjadi nyata. Itulah kebersamaan yang sesungguhnya, merupakan buah ibadah yang dilakukan di dunia. Meski tidak dalam derajat yang sama, di alam baru (barzah) itu, seorang hamba tidak hidup sendirian selamanya. Di awal kedatangan di alam barzah, warga baru itu bahkan dijemput teman-teman di perbatasan dua alam, ditunggu sebagai tamu yang dihormati, maka setiap kebutuhan hidup sudah disediakan saat itu juga. Apakah orang mengira saat itu dia mati? Mati itu hanyalah pandangan orang hidup, karena mereka melihat daging dan tulang yang sudah tidak berdaya. Jasad kaku yang harus dimandikan, dikafani, dishalati dan dikubur. Mereka lupa bahwa setelah itu orang tersebut akan dihidupkan lagi, dipindahkan ke dalam alam lain, baik dengan derita di neraka atau dengan bahagia di surga.

Jika sebelum itu dia berjalan seorang diri, tidak mau bertawasul kepada para pendahulunya, tidak pernah ingat kepada Rasul dan para pengikutnya, tidak tabarrukan kepada para Auliya’ Allah, tidak mengharapkan syafa’at Nabinya, tidak mengakui jerih payah orang yang telah mempunyai kepedulian agamanya, maka setelah dihidupkan lagi di alam kubur itu, dia akan sendirian dengan siksa kubur yang sudah disiapkan baginya.

Adapun orang-orang yang mau bertawasul kepada Nabi dan kepada para wali, kepada guru-guru mursyid yang telah membimbing perjalanan ruhaninya. Sebagai buah ibadah itu, sejak di alam barzah dia menuai apa yang selama ini ditanam di dunia. Oleh karena selama hidupnya di dunia selalu bersama-sama dengan mereka, maka sejak itu sampai dengan di akherat, akan kembali bersama-sama pula. Firman Allah dalam QS. an-Nisa’ ayat 69 yang artinya: “Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi kenikmatan dari Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiq…,(sampai akhir ayat)“

Namun demikian, kebersamaan di akherat tersebut, tidaklah pada tingkat derajat yang sama—karena yang dimaksudkan dengan an-Nabiyyin, ash-Shiddiqqin, asy-Syuhada’ dan ash-Sholihin, adalah tingkat derajat seorang hamba di hadapan Tuhannya. Mereka masing-masing akan mendapat fasilitas untuk bisa saling bertemu dan berkomunikasi.

Berkaitan firman Allah di atas (an Nisa’/69): ومن يطع الله والرسول.الآية  para sahabat bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “Bagaimana keadaan mereka ketika berkumpul di surga dan saling bertemu dan berkomunikasi? Rasulullah s.a.w bersabda:

“إِنَّ الأَعْلِيِّنَ يَنْحَدِرُوْنَ إِلى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْهُمْ فَيَجْتَمِعُوْنَ فِى رِيَاضٍ فَيَذْكُرُوْنَ مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَيَثْنَوْنَ عَلَيْهِ”

“Sungguh orang yang mempunyai tingkat derajat yang lebih tinggi turun kepada mereka yang berada di bawah derajatnya dan berkumpul di kebun-kebun saling bercerita tentang kenikmatan Allah yang sudah diberikan kepada mereka dan mereka saling memuji”. (Tafsir Ibnu katsir)

Semoga kita semua dimatikan sebagai Muslim dan dikumpulkan dalam golongan orang-orang Sholeh (QS.Yusuf/101). Amin Ya Rabbal Alamiin. (malfiali, 9 Nofember 2008)

PUISI – PERJALANAN SANG MUSAFIR

Posted in puisi dengan kaitan (tags) on 7 November 2008 by malfiali

sang musafir

PERJALANAN SANG MUSAFIR

Di depan ada sinar
Remang-remang aku ikuti
Kian hari semakin terang
Akhirnya aku menjadi tenggelam
Bahkan berlari kencang
Maka kutinggal jauh di belakang
Semua yang ada dalam genggaman tangan

Bumiku berganti
Matahariku redup
Tapi rembulanku memancar terang
Menembus mendung dan kabut
Semakin sepi malamku
Semakin aku temukan
Antara aku dan hatiku
Ternyata ada kasih dan Pengaturan

Kehendak-Mu memaksa
Kepada takdir-Mu
Langkahku yang lemah
Kadang tidak terarah
Tapi sorot mata-Mu yang tajam
Menyulut pelita di misykatku
Menggugah semangat
Menerbangkan impian

Kehendak-Mu memaksa
Kepada takdir-Mu
Matahariku yang redup
Berselubung duka
Tapi sorot mata-Mu yang tajam
Mencambuk tengkukku
Membakar tirai penutup Kebesaran

Kehendak-Mu memaksa
Kepada takdir-Mu
Telingaku yang tuli
Mataku yang buta
Tapi sorot mata-Mu yang tajam
Mencairkan kebekuan akal
Di tengah kesendirian
Kutemui kasih yang disediakan

Kini aku sendiri
Membaca signal
Kecil di dalam Besar-Mu
Fakir di dalam kaya-Mu
Mambawa obor
Menyulut lampu
Supaya laron-laron
Pulang ke kampung halaman

Ya Allah, Matahariku
Di sini
Di hati ini
Engkau penyulut tunggal
Agar obor itu tidak padam
Dengan sorot mata-Mu yang tajam
Pancarkanlah sumber minyaknya
Karena minyak itu juga minyak-Mu

1997
(malfiali, 7 Nofember 2008)

SYARAH HIKAM BAB 6 (Jangan Putus Asa Kepada Allah)

Posted in Hikam dengan kaitan (tags) on 7 November 2008 by malfiali

BAB 6
JANGAN PUTUS ASA KEPADA ALLAH

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ اَمَدِ العَطَاءِ مَعَ الاِلْحَاحِ فِى الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لك الاِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَفِى الوَقْتِ الَّذِى يُرِدُ لَا فِى الوَقْتِ الَّذِى تُرِيْدُ

“Tertundanya pemberian setelah do’a itu dipanjatkan dengan berulang-ulang, hal itu jangan menimbulkan putus asamu kepada Allah. Sebab, Allah telah menjamin diterimanya do’a, akan tetapi mengikuti pilihan Allah untukmu bukan mengikuti pilihanmu untuk dirimu dan di dalam waktu yang dikehendaki Allah bukan di dalam waktu yang engkau kehendaki”.

Jangan Putus Asa

Berdo’a adalah salah satu kewajiban seorang hamba kepada Tuhannya. Allah s.w.t berjanji akan mengabulkan do’a-do’a tersebut sebagaimana firmanNya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombong-kan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. al Mu’min(40)60)

Ketika seorang hamba berdo’a kepada Allah s.w.t dengan sungguh-sungguh, terlebih lagi do’a itu dilaksanakan dengan istiqamah (terus-menerus), maka do’a tersebut akan dikabulkan. Demikian itu karena Allah s.w.t sudah berjanji, maka sedikitpun Allah s.w.t tidak akan mengingkari janji-janji-Nya.

Namun demikian, do’a-do’a yang dipanjatkan itu harus memenuhi syarat sebagai do’a yang dikabulkan. Rasulullah s.a.w telah menegaskan dengan sabdanya: “Setiap do’a yang dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Allah s.w.t asal tidak tercampur dengan dosa dan memutuskan tali silaturrahmi, do’a itu akan dikabulkan dalam tiga pilihan:(1) Diturunkan seketika di dunia dalam bentuk pemberian sesuai dengan permintaan; (2) Dijadikan simpanan di akhirat sebagai kafarat dari dosa-dosanya; (3) Digantikan sebagai ganti musibah yang tidak jadi diturunkan demi keselamatannya.” (atau yang searti dengannya).( Disampaikan oleh Hadrotusy Syekh Romo KH. Ahmad Asrory Al Ishaqy r.a dalam pengajian rutin minggu 2 di Ponpes Assalafi Al Fithrah Kedinding Surabaya)

Oleh karena itu, setelah do’a-do’a tersebut dipanjatkan, hendaknya seorang hamba yakin bahwa do’a-do’anya akan dikabulkan, walau ijabah itu dalam tiga pilihan yang masih dirahasiakan tersebut. Hanya Allah s.w.t yang Memilih, Menghendaki dan Mengetahuinya. Allah s.w.t berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. al-Baqoroh; 2/186)

Asy-Syekh Ibnu Athaillah r.a meneruskan:

لَا يُشَكِّكَنَّكَ فِى الوَعْدِ عَدَمَ وُقُوْعِ المَوْعُوْدِ وَاِنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ لِئَلّاَ يَكُوْنَ ذَلِكَ قَدْحًا فِى بَصِيْرَتِكَ وَاِخْمَادًا لِنُوْرِ سَرِيْرَتِكَ

“Jangan sekali-kali meragukan janji Allah karena belum terpenuhinya janji itu walau batas pelaksanaannya sudah sangat dekat, supaya yang demikian itu tidak menjadikan redupnya sinar mata hatimu dan memadamkan cahaya rahasia batinmu”.

Allah s.w.t Lebih Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya, baik urusan dunia, agama maupun akhirat. Terlebih urusan rizki, karena dengan urusan rizki-rizki itu manusia bisa menjadi selamat atau tidak. Allah s.w.t tidak mengingkari janji-Nya bahwa setiap hamba-Nya yang berdo’a dengan benar pasti akan dikabulkan-Nya. Janji Allah tersebut ditegaskan dengan firman-Nya:

وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“(sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”. (QS.ar Rum(30)6)

Namun demikian, bagi hamba-hamba yang beriman—berkat kasih sayang-Nya yang dalam kepada mereka—apa saja yang diberikan kepadanya haruslah yang menjadikan mereka lebih baik. Dalam hal ini Allah s.w.t adalah yang lebih mengetahuinya. Allah s.w.t menegaskan dengan firman-Nya : “Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat”. (QS. 42; 27)

Oleh karena itu, jika ada janji Allah s.w.t yang seakan-akan belum terpenuhi, padahal menurut pengetahuan dan perasaan seorang hamba yang sedang terdesak, seharusnya saat terpenuhinya janji itu sudah sangat mendesak, bahkan sudah tidak ada waktu lagi untuk tertunda. Dalam hal yang demikian itu, janganlah menjadikan hati seorang hamba ragu-ragu kepada Allah s.w.t.

Siap Menerima Kenyataan

Bagaimanapun keadaan yang akan dan sedang terjadi, hati seorang hamba yang beriman hendaknya tetap yakin serta siap menghadapi, bahwa apa saja yang dikehendaki Allah s.w.t pastilah yang terbaik untuk dirinya. Yang demikian itu, supaya matahati dan cahaya rahasia batin tidak menjadi redup dan padam. Sebab, ketika ujian-ujian hidup itu sudah cukup menurut pandangan Allah, dan ketika seorang hamba telah melewatinya dengan nilai yang baik, maka problematika kehidupan dan bahkan konflik-konflik horizontal yang telah berlalu, sesungguhnya itu merupakan proses masuknya ilmu pengetahuan dalam hati yang tinggi nilainya. Itulah ilmu rasa, ilmu pengetahuan yang dapat mematangkan jiwa manusia. Ilmu pengetahuan yang mampu menebalkan keyakinan, membakar lapisan kabut hati sehingga menjadikan matahati seorang hamba semakin cemerlang dengan Nur Ma’rifat  kepada Allah.

Hanya dengan cara seperti itulah Allah s.w.t memperjalankan kehidupan para hamba pilihan-Nya dan bahkan para nabi dan rasul-Nya. Mereka itu semua diperjalankan dalam realita kehidupan yang sesungguhnya. Mereka harus menghadapi kesulitan dan tantangan serta goncangan-goncangan hidup yang tidak ringan:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. al Baqoroh; 214)

Ketika keadaan mereka itu benar-benar telah terdesak baru pertolongan-Nya diturunkan, karena sungguh sedikitpun Allah s.w.t tidak akan mengingkari janji-Nya. Untuk menyikapi hal tersebut, menyangka baik adalah kuncinya. Orang yang mampu berhusnudz dzan kepada Tuhannya berarti telah mencapai 90% keberhasilan hidupnya. (malfiali,  7 Nofember 2008)