PINTU SURGA DAN NERAKA DARI DUNIA

Posted: 5 September 2008 in Ramadhan
Tag:
al-fithrah-pintu-surga-dan-neraka-11

PINTU SURGA DAN PINTU NERAKA DARI DUNIA

Diriwayatkan, di antara sebab-sebab mengapa ibadah puasa disyari’atkan kepada manusia ialah: Ketika suatu saat Allah s.w.t menciptakan akal, dan Allah s.w.t berfirman: “Menghadaplah”, maka akal menghadap kepada-Nya, kemudian difirmankan lagi: “Berpalinglah” maka akal berpaling dari-Nya. Lalu ditanyakan lagi kepadanya: “Siapa kamu dan siapa Aku?”. Akal menjawab: “Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu yang lemah. Maka Allah s.w.t berfirman kepada akal: “Hai akal, aku tidak pernah menciptakan suatu yang lebih utama dari kamu”. Lalu Allah menciptakan nafsu, dan Allah berfirman: “Menghadaplah”, nafsu tidak mau menghadap, difirmankan lagi kepadanya: “Siapakah kamu dan siapakah Aku?”, nafsu menjawab: “Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau”. Nafsu kemudian disiksa di neraka jahanam selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan, Allah berfirman lagi kepadanya: “Siapa kamu dan siapa Aku?”, nafsu tetap menjawab seperti jawaban pertama. Kemudian Allah menjadikan lapar kepada nafsu di neraka jahanam selama seratus tahun lagi. Setelah itu ditanyakan lagi kepadanya, barulah nafsu mau berikrar kepada Allah, bahwa sesungguhnya ia adalah hamba dan Allah s.w.t adalah Tuhannya. Oleh karena itu, maka Allah mewajibkan kepada manusia melaksanakan ibadah puasa (DN-Misykat).

Akal adalah makhluk yang utama, namun itu manakala dengan akal itu manusia mengenali jati dirinya dan mengenal Tuhannya. Oleh karena itu, akal harus diisi ilmu dan iman sehingga manusia menjadi orang yang tawadhu’ dan rendah hati. Hal itu bisa terjadi, karena saat itu manusia sudah mengenal siapa dirinya dan siapa Tuhannya. Meskipun akal dan ilmu merupakan makhluk utama yang dapat membuka pintu iman sehingga menghantarkan manusia menuju jalan kebajikan, namun demikian, sesungguhnya akal dan ilmu juga dapat menjadi penyebab terbukanya pintu kafir di dalam hati manusia. Apabila akal dan ilmu menjadikan manusia dapat mengenal dirinya dan Tuhannya, berarti keduanya menjadi penyebab terbukanya pintu iman. Namun apabila sebaliknya, akal dan ilmu tersebut malah membawa manusia semakin jauh untuk mengenal dirinya dan Tuhannya, berarti akal dan ilmu itu menjadi penyebab terbukanya pintu kafir bagi manusia.

Di dalam sebuah hadits Baginda Nabi s.a.w mengisyaratkan hal tersebut dengan sabdanya:

حَدِيثُ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ فِي إِثْرِ السَّمَاءِ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ قَالَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

Diriwayatkan dari Zaid bin Khalid al-Juhaniy r.a berkata: Rasulullah s.a.w mendirikan shalat bersama kami di Hudaibiyah, sehabis hujan turun pada malam tersebut. Setelah selesai shalat, Baginda s.a.w menghadap kepada kaum muslimin, lalu bersabda: “Tahukah kamu apa yang telah diFirman kan oleh Tuhan kamu?”, para kaum muslimin menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, lalu Baginda Nabi s.a.w bersabda: “Allah berfirman : “Di antara hamba-hamba-Ku, ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barangsiapa menyatakan: “Hujan diturunkan kepada kita dengan anugerah dan rahmat Allah”, orang itu berarti beriman kepada-Ku dan tidak beriman terhadap bintang-bintang. Sebaliknya orang yang berkata : “Hujan diturunkan kepada kita oleh bintang ini atau bintang itu”, maka orang tersebut berarti kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang-bintang“ (HR. Bukhari Muslim)

Orang tidak bisa mengetahui rahasia turunnya hujan dari langit, kecuali dengan ilmu pengetahuan. Namun, apabila ilmu yang dikuasai itu ternyata hanya mengenalkan manusia kepada sebab-sebab, dan melupakan “yang menyebabkan sebab-sebab”, berarti ilmu tersebut menutup pintu iman di dalam hati, dengan itu berarti manusia menutup pintu surga bagi dirinya sendiri. Barangsiapa menutup pintu surga dengan ilmunya, berarti dengan segera orang tersebut akan membuka pintu neraka, hal itu disebabkan, karena dengan ilmunya dia telah membuka pintu kafir dalam hatinya.

Contoh: Orang datang ke dokter untuk berobat misalnya. Setelah menjalani pengobatan ternyata penyakitnya menjadi sembuh. Apabila hati orang itu menjadi senang semata-mata karena dokter dan obat, dan dia berkata: “Dokter itu benar-benar hebat dan obat ini sungguh sangat mujarab”, maka berarti orang tersebut iman kepada dokter dan obat, tapi kafir kepada Allah. Namun jika ia berkata: “Dengan rahmat dan anugerah-Nya, Allah telah menyembuhkanku melalui dokter itu dan obat ini”. Maka berarti ia beriman kepada Allah dan kafir kepada dokter dan obat itu. Meskipun orang yang sakit itu berobat kepada Kyai misalnya, dan ketika tubuhnya yang sakit itu ditiup atau diludahi kemudian menjadi sembuh, apabila hati orang tersebut gembira semata-mata karena Kyai, bukan kepada Allah, berarti orang tersebut bahkan menyekutukan Allah dengan Kyai itu, atau kafir kepada Allah dan iman kepada Kyai.

Contoh lagi: Orang sedang mengendarai mobil misalnya. Ketika ia melewati pertigaan jalan, tiba-tiba ada sepeda motor nyelonong, secara mendadak ia menginjak rem dengan sekuat tenaga sehingga mobilnya tidak menabrak. Kalau kemudian orang itu hatinya gembira dan berkata: “Untung Allah masih menyelamatkan aku melalui rem ini“, berarti dia iman kepada Allah dan kafir kepada rem itu. Tapi apabila dia berkata: “Untung remku ini buatan Jepang seandainya buatan lokal pasti aku sudah menginap di penjara”, maka berarti dia iman kepada rem dan kafir kepada Allah.

Masih banyak lagi contoh kejadian di dalam kehidupan kita. Kita sesungguhnya sudah beribadah dengan taat kepada Allah, baik dengan shalat maupun puasa, namun ternyata tanpa sadar setiap hari dan setiap saat kita juga berbuat kafir kepada Allah bahkan dengan kafir yang hakiki, yakni manakala ilmu kita hanya mengenalkan hati kita kepada sebab dan membelokkan hati kita kepada Allah yang menyebabkan sebab-sebab. Apabila penyebab kafir itu adalah ilmu pengetahuan yang kita miliki, maka berarti ilmu pengetahuan itu telah menutup pintu surga dan membuka pintu neraka bagi kita.

Oleh karena itu tidak seharusnya orang menyalahkan hawa nafsu dan setan saja ketika ia terpeleset berbuat maksiat, dia harus meneliti ilmunya sendiri, apakah ilmu yang sudah dimiliki itu mampu menjadikan akalnya sebagai makhluk yang mulia atau tidak, jika ternyata ilmunya yang tidak benar, berarti ilmu itulah sesungguhnya yang mengundang setan untuk menguasai hawa nafsunya. Adapun sesuai fitrahnya, nafsu memang selalu mengajak manusia kepada perbuatan jelek. Nafsu cenderung membangkang dan kafir kepada Allah. Hal itu disebabkan, karena nafsu tercipta dalam keadaan tidak mengenal siapa dirinya dan siapa Tuhannya. Oleh karena itu, sejak saat penciptaannya, nafsu harus menjalani proses pendewasaan dengan siksa selama duaratus tahun di neraka yang seratus tahunnya dalam keadaan lapar.

Keadaan tersebut seharusnya mampu menjadi pelajaran bagi manusia, bahwa penderitaan lapar ataupun penderitaan-penderitaan yang lain, ternyata hal tersebut merupakan obat bagi nafsu supaya dapat dikendalikan manusia. Semisal orang yang sepanjang hidupnya selalu mendapatkan kecukupan dan kenikmatan, terkadang orang tersebut malah sering lupa diri, angkuh dan sombong. Namun ketika ia mengalami jatuh pailit, sehingga mendapatkan penderitaan panjang, baru menjadikan hatinya sadar dan mau memperbaiki diri. Untuk hikmah itulah puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan diwajibkan kepada orang-orang beriman. Ibadah utama itu dijadikan sebagai sarana latihan yang efektif atau obat yang sangat mujarab bagi nafsu, supaya manusia dapat merubah karakter jeleknya menjadi sifat yang terpuji, yakni bertakwa kepada Allah s.w.t.

Namun demikian, meskipun nafsu syahwat cenderung mengajak manusia berbuat jahat, apabila dengan akal dan ilmu, manusia berhasil mengalahkan dan mensiasati ajakannya, bahkan mampu menjadikan nafsu sebagai alat latihan dalam pelaksanaan mujahadah di jalan Allah, dengan mujahadah itu menjadikan manusia mendapatkan meningkatkan derajatnya di sisi Allah, maka berarti nafsu itu bermanfaat bagi hidup manusia. Hal itu disebabkan, karena dengan nafsu itu manusia mempunyai potensi untuk menggapai derajat tinggi di sisi Allah melebihi derajat malaikat. Al-Imam Athoillah r.a dalam kitabnya “Al Hikam” berkata: “Seandainya tidak ada nafsu maka seorang hamba tidak akan pernah mengetahui jarak perjalanannya kepada Allah”. Jadi, ilmu pengetahuan ternyata bisa menjelma menjadi pintu neraka dan juga menjadi pintu surga.

Cuplikan dari buku berjudul ‘Lailatul Qadr Di Luar Bulan Ramadhan’ terbitan penerbit ABSHOR Hidmah dan IbadaH bekerja sama dengan Pondok Pesantren as Salafi AL FITHRAH, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.
Untuk mendapatkan buku tersebut silahkan anda kunjungi situs Abshor di:

http://indonetwork.co.id/abshor/profil

atau pesan melalui Tlp. (024) 70799949 atau SMS 081575624914 atau
E mail: malfi_ali@yahoo.com

Komentar
  1. abdul hamid mengatakan:

    terima kasih atas artikelnya, saya senang membaca semoga dapat berguna dan anda mendapat kebaikan yang melimpah, salam kenal

    ——————

    terima kasih balik dan juga salam kenal balik, …. semoga yang mendo’aakan mendapatkan lebih utama dari yang dido’akan

  2. mike hanafi mengatakan:

    Mohon izin share buat ilmunya yang bermanfaat ya..
    afwan

  3. nanda mengatakan:

    lebih baik Qt percayakan smwnya kpd yang maha kuasa,,
    dan qt smw yakin kalau Allah itu maha adil dlam smwa hal,,baik dunia maupun akhirat…

  4. niar chaeriah mengatakan:

    Terimah kasih atas artikelnya dengan ini semoga kesadaran dan kebaikan akan senantiasa untuk terus melimpah, salam kenal

  5. niar chaeriah mengatakan:

    Terima kasih atas artikelnya dengan ini semoga kesadaran dan kebaikan akan senantiasa untuk terus melimpah, salam kenal

  6. Rayfana agastiya mengatakan:

    alhamdullillah,,,, akhirnya saya ngerti juga dan terimakasih atas artikelnya

  7. imam mengatakan:

    saya suks dengan makalah ini namun apakah hadstnya sahih ?,
    apakah ini bukan dari orang taswuf ? maaf karena saya masih belum banyak mengenal hadist 2
    kalau boleh tanya di al Qur .AN adakah ayat yang menunjang hadist ini ? wassalam mu alaikum wr.wb . (imam boxer )

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s